[One shoot] I never told you


Foreword:

Annyeonggg… lagi ini gue post disela FF serial gue yang numpuk dan belum sempet di update, hayooo siapa yang nonton 2pm kemarin acungkan kaki… senangnya… selamat yah? seru gak? sayangnya saya ini orang miskin, gak mampu beli BB jadinya gak bisa nntn 2pm deh… jadi gak bisa liat my chansung😦 tapi gpp, Key janji besok bakal temenin aku langsung ketemu mereka*author sinting. Oke cukup sambutan gajenya, here it is Suunders!

Pairing :

Kim Kibum as Gwiboon (Jadi cewek)

Lee Jinki as Jinki

Lee Taemin as Taeyeon (Jadi cewek)

its gonna be:

Onkey vs Ontae kekekek~

READ, ENJOY, AND LEAVE A COMMENT IF YA LIKEEEY🙂, NO BASHING🙂

by : Sanniiew

.

Sudah berapa lama bagiku sekolah tidak menyenangkan? entahlah…mungkin dari awal aku tidak suka sekolahan, tapi hei.. aku populer, kenapa? aku cantik, dan aku disukai banyak namja, dan diam-diam dikagumi banyak yeoja, bukan nya sombong, tapi itu kenyataan, buat apa aku menutupi sebuah fakta? siapa yang tidak tahu Kim Gwiboon disekolah ini, iris kupingku. Kenapa aku tidak suka sekolah, karena semuanya yang ada disekolah seperti topeng, termasuk diriku, aku benci diriku seperti ini, untuk diterima disekolah, dan untuk tidak dibenci, aku memilih jalan ini, baik terhadap orang lain itu tidak ada salahnya ya kan? Tapi, tidak jika aku bertemu dengan makhluk ciptaan tuhan yang terindah seperti dia, dia yang sekarang berada didepan mataku …

“Lihat eonni, dia itu Onew… kau ingat? kabarnya dia kembali lagi karena baru saja pulang dari pertukaran pelajar tahun lalu…”, aku melihat ke arah ujung hallway dimana seorang pria dengan senyuman clumsynya berjalan ke arah kami, aku memperhatikannya dengan seksama, rambutnya yang berwarna coklat kemerahan, senyumnya yang lucu, dan juga pipinya yang chubby dan putih seperti… tofu.

“Hai, gwibonnieee~… lama tidak bertemu?”, sapanya tepat didepanku mengelus kepalaku dengan lembut. Jantungku berdebar cepat, aku rasa aku akan berkeringat, semua orang melihat ke arahku, tentu semua kaget, terlebih para namja, mereka sudah menatap pria didepanku dengan geram dan siap membunuhnya jika ia melakukan hal yang lebih dari ini padaku.

“Hai, Jinki… sudah lama yah? apa kabar?”, kataku tersenyum setelah berhasil mengontrol emosiku,dia tersenyum lebih lebar, dammit, kenapa dia bisa terlihat se charming ini? dan sejak kapan?

“Baik dong… btw, aku ada kabar baik untukmu…”, katanya, aku menaikkan satu alisku.

“Apa?”

“Mulai hari ini aku akan tinggal dirumahmu…”, dia menaikkan tangannya dan menunjukkan bentuk V(Peace) padaku.

Aku menganga lebar, dan begitu juga seluruh isi sekolah yang berada di hallway semua terkesiap dan menganga lebar.

“Mwoooo?”, hanya itu yang bisa keluar dari mulutku, omo, hari ku akan semakin buruk, please… sudah cukup aku bertemu dengannya disekolah dan membuat ku terkena serangan jantung, tapi ini… dia akan tinggal bersamaku? satu rumah? diapartemenku yang sederhana? yang benar saja…?

.

“Aku pulang … Gwiboniiieeee~….”, gubrak gabruk… Aku keluar dari dapur dengan cepat, melihat apa yang terjadi pada Jinki kali ini.

“Kau ngapain sih?”, aku bertolak pinggang didepan nya yang sedang tengkurap dilantai, dia mendongak dan terkekeh.

“aaa…ahhahah… aku kepeleset Gwibonieee~… bisa tolong aku…?”,ia tertawa garing dan mengulurkan tangannya padaku, aku mendengus kesal dan membantunya berdiri.

“Hmmm… bau masakan! apakah ayam?”, tanyanya semangat ketika berhasil berdiri dari jatuhnya, aku mengangguk datar dan berjalan kedapur.

“Yeiy…. thats my Gwibonieee~~… gomawoooo….”, dia berlari dan memelukku dari belakang, aku berhenti dan menepis tangannya.

“Yah!a-apa yang kau lakukan ?”, kataku gugup, jantungku berdegup cepat ketika ia merangkulku tadi, dia hanya terkekeh dan berjalan menuju dapur lalu duduk di meja makan dengan melihat semua yang kusediakan dan selesai ku masak, ketika tangannya mau menggapai makanan aku cepat-cepat menepisnya dan menatapnya geram.

“Auw…”, dia cemberut padaku.

“Cuci tanganmu dulu baru boleh makan, kalau tidak aku tidak akan memberika ayam ini padamu…”, aku dengan cepat mengambil piring penuh dengan ayam asam manis yang kubuat, dia cemberut dan merengek padaku.

“Noooo Gwibonieee~ jangan ayamku…”, katanya memohon menggelayut di tanganku, aku melotot dan menunjuk arah kamar mandi dengan dagu ku untuk menyuruhnya lekas-kau-cuci-tangan-mu.

Dia berdiri sambil cemberut sebelumnya menoleh lagi ke piring ayam ditanganku dan memelas sebelum ia berjalan ke kamar mandi, aku menarik nafas, chicken holic yang satu ini tidak akan pernah berubah, dubu ku tidak akan pernah berubah sampai kapan pun… dari dulu, ketika kami pertama bertemu dan sebagai tetangga baru, aku ingat ketika umma dan Jonghyun hyung mengajakku pindah ke apartemen ini saat aku sedang memasukkan barang dia berdiri didepan pintu dan menarik rambut ku yang dikepang 2, aku menjerit karena ketakutan, tapi ternyata dia hanya ingin memberikan sepotong ayam padaku, kata ummanya dia tidak mau pernah berbagi ayam pada siapapun, tapi hari itu pertama kalinya dia membaginya dan hanya untukku, salam perkenalan yang aneh, tapi aku menyukainya dan akan selalu mengingatnya.

“Gwibonieee~ boleh aku memakan ayamku sekarang…?”, tanyanya mengagetkanku dan wajahnya sudah berada didepanku. Aku memundurkan wajahku dan menoleh, jantungku berdegup cepat.

“Yah… kenapa? kau sakit Gwiboniee? kenapa wajah mu memerah?”, dia menyentuh kening ku dengan tangannya yang hangat dan sambil tersenyum lebar, aku diam saja menerima perlakuannya, aku biarkan tangannya berada di keningku, aku menarik nafas, seandainya waktu berhenti sejenak dan tetap seperti ini.

“Aku tidak apa-apa Jinki… ini ayammu…”, aku memberikan sepiring ayam penuh padanya, sengaja aku memasak ini untuknya sebagai makan malam menyambut dia menjadi penghuni rumahku, awalnya aku gugup dia akan tinggal bersama, tapi… aku meliriknya yang sudah mulai melahap ayam dengan cengiran lebar dan mimiknya yang lucu, aku tersenyum melihatnya, dia sangat lucu.

“Khenafha…? ayho makhfan Gwfhibhonieee~…”, katanya dengan mulut penuh ayam, aku berdecak kesal dan mengambil serbet mengelap ujung bibirnya dengan reflek, dia terkejut dan menyentuh tanganku , aku membelalakan mata karena ia melihat ku dengan kedua mata sipitnya dan tangannya yang menyentuhku, dan tangannya menggerakkan jariku yang ada serpihan ayam dan memasukkannya ke mulutnya, dia tersenyum padaku, tapi aku… karena perbutannya kali ini membuatku ingin pingsan karena serangan jantung.

“Hmm, masakanmu enak.. aku tidak pernah tahu kau pintar masak, aku suka perempuan yang pintar masak.”, katanya tersenyum lebar. “…mengingatkan ku akan Umma…”, sambungnya dengan senyum miris, aku tereksiap dan menatapnya sedih, aku tahu, sudah 2 tahun ini bibi meninggal karena sakit, sehingga ia harus tinggal sendirian bermodal uang warisan dan asuransi orangtuanya, ia harus hidup mandiri ketika ayahnya juga sudah lama meninggal, dan sekarang.. karena usul Umma, ia tinggal bersama kami.

“Gwibonieee? kenapa…?”, katanya menyadarkan ku yang terus memandangnya.

“A-ah…t-tidak apa-apa…”, kataku gugup dan memakan makananku.

“Dari tadi kau melamun… ada masalah? cerita saja padaku…”, katanya, aku mendongak menggeleng sambil tersenyum, aku tidak ada masalah Jinki.. hanya masalah bagaimana aku bisa membuat mu bahagia?

“Jinki…”, panggilku, dia bergumam dan tersenyum padaku.

“Kau… apa kau kesepian? maksudku … jika kau merasa kesepian kau bisa memintaku untuk menemani mu mengobrol atau apa saja.. itu juga kalau kau tidak keberatan…”, kataku menunduk tidak berani menatapnya. Tanpa kusadari dia sudah bergesek duduknya kesampingku dan mengelus kepala ku dengan lembut.

“Gwibonie, kau ini bicara apa? aku tidak kesepian sama sekali, aku kan punya kau, Jonghyun Hyung, dan bibi … justru kau yang kesepiankan karena bibi pergi keluar kota dan Hyungmu jarang berada dirumah, gunanya aku disini adalah untuk menemani mu dan menghiburmu.”, katanya tersenyum lebar dan kali ini merangkul pundakku, aku menatapnya dengan wajah memerah dan mengangguk, apakah aku harus menyatakan padanya kali ini.. apakah harus sekarang?

“J-jinki..ada yang—“

Ring ding dong ring ding dong…

“Yoboseyo?”, Jinki menjawab ponsel dari sakunya. “Oh, ne … Taeyeoniie… “, dia berhenti sebentar dan melirik ku “Jakkaman Gwibonie…”, katanya tersenyum dan berjalan menajuh menerima telpon dari seorang wanita bernama Taeyeon, siapa dia? sepertinya aku pernah mendengar namanya…

Aku memandanginya dari jarak jauh , dia tertawa ditelpon dan sesekali bersemu merah, apakah itu perempuan yang ia sukai, aku kesal sekali, aku tidak suka caranya berkata lembut dan mengucapkan lelucon garing pada orang lain, aku tidak suka dia bersikap lembut pada orang lain, jangan tertawa dan bersikap lembut pada orang lain. Aku mengepalkan tanganku kencang-kencang, dan aku merasa mata ku panas karena aku ingin sekali menangis.

“Sorry Gwibonieee…tadi kau mau bicara apa?”, katanya duduk disebelahku, aku mengalihkan pandanganku untuk mengontrol emosiku.

“Hmm.. tidak.. itu hanya…lupakan, aku sudah lupa…”, kataku tersenyum kecut, dia cemberut dan menyerah tidak bertanya apapun padaku.

“Gwibonie, kau…punya orang yang kau sukai?”,tanyanya tiba-tiba, aku menoleh dan mengalihkan padanganku.

“Tentu saja … kau pikir aku tidak punya?”, Tentu aku punya, itu kau Jinki.

“Hahahah.. jangan marah, aku cuma bertanya, habis, kau selalu dipuja-puja banyak laki-laki, apa salah satu diantara mereka?”, tanyanya. Aku menggeleng.

“Lalu, siapa dia?”dia bertanya sangat penasaran, aku menoleh.

“Kenapa, kau mau tahu?”, dia mengangguk semangat. Aku terdiam menatapnya yang tersenyum semangat, aku menarik nafas dan memandang keluar jendela.

“Dia… berbeda dari yang lain, dia tidak pernah memandangku sebagai properti yang bisa dinikmati dengan mata lapar mereka melihat fisikku… dia lembut, menyenangkan, pintar, dan …ceroboh, namun juga… tidak peka.” kataku menarik nafas.

“Oh ya? wah… jangan-jangan dia tidak tahu kalau kau suka padanya? kenapa tidak kau katakan?”tanyanya, aku menoleh menatapnya dan menunduk malu, aku menggeleng sedih. Aku takut.

“Aku takut semua berubah, aku tidak mau merusak persahabatan kami…”, kataku parau.

“Dia..sahabatmu? apa aku mengenalnya…?” tanyanya, aku menoleh lagi menarik nafas.

“Ya… mungkin kau mengenalnya…”, kau sangat mengenalnya, karena orang itu kau Jinki, tapi aku takut untuk mengatakannya padamu.

“Aaahhh… Gwiboniee… jangan sedih ya? tenang saja, jika aku tahu siapa dia, aku akan membantumu… oke? kita sama-sama berjuang!Hwaiting!”, katanya mengepalkan tangannya kedepan mukaku, aku tersenyum miris, berjuang yah.. itu berarti dia juga sedang menyukai seseorang.

“Ngomong-ngomong…”, dia melirik ke piringku, aku mengerutkan alisku. “Apa?”kataku.

“Kalau kau tidak makan ayamnya…INI BUATKU SAJA!”, kataknya merebut ayamku dan langsung melahapnya.

“YAH! Jinki!!!!”, aku berlari mengejarnya yang berlari keliling apartemen. Setidaknya aku suka berada didekatnya, tapi suatu saat aku harus mengatakannya, harus.

.

6 bulan tidak terasa sama sekali, masa-masa SMA ku sebentar lagi akan berakhir, aku bohong kalau aku tidak sedih, walau aku pernah mengatakan kalau aku tidak suka sekolahan. Aku pasti akan merindukannya, merindukan semuanya, dan juga merindukan melihat Jinki disekolah, walau aku selalu melihatnya dirumahku, tapi semua terkesan berbeda.

Sekarang aku berdiri di sini, dihalaman sekolah, semua bersuka cita akan kelulusan mereka, termasuk diriku, aku senang akan terlepas dari masa sekolah, dan menghadapi dunia baru lagi, dunia orang dewasa, dimana semua orang akan berusaha untuk mencari jati dirinya lebih lanjut dan menjalankan hidupnya sesuai dengan yang mereka mau, aku .. aku pun telah memutuskan kemana aku akan pergi setelah ini.

“Gwiboniieee~~~”, aku menoleh memicingkan mataku, aku menyinngkirkan rambutku yang menutupi sebagian wajahku, aku dapat melihat dengan jelas perlahan siluet yang sangat familiar mendekat padaku. Aku tersenyum lebar, Jinki…batinku.

“Hai… aku mencarimu kemana-mana…ternyata kau disini… “, katanya tersenyum lebar.

“Ya… disana padat, aku gerah …” kataku tersenyum, dia hanya terkekeh.

“Oh, kau bawa kamera, ayo kita ambil poto untuk kenang-kenangan…”, katanya mengambil kamera digital ditanganku dengan cepat ia merangkul pundakku mendekat padanya, aku terkejut, dengan kuberanikan diri aku merangkul pinggangnya, dia sempat terkejut, namun ia tersenyum lebar.

“Say Cheeeseeee….”, katanya tersenyum lebar.

“Jinki oppa…”, kami menoleh ke sumber suara, senyumku langsung menghilang siapa yang berdiri disana, seorang perempuan dengan rambut bob yang lucu, badan yang mungil dan senyuman nya yang manis tersenyum padaku dan Jinki.

“Taeyeonniee~… maaf lama menunggu ya?”, Jinki langsung berlari kearanya dan merangkul pinggangnya dengan mesra, hatiku sakit.

“Tidak apa-apa oppa … annyoeng, Gwiboon eonnie…”, dia menunduk dengan sopan, aku tersenyum ramah, aku tidak bisa bersikap benci padanya, bagaimanapun dia anak yang sopan dan dia… kekasih Jinki. Jika kau mengingat ini hatiku sakit berkeping-keping, aku ingin menangis sejadinya, 2 bulan yang lalu ia mengatakan padaku dia mulai berkencan dengan seorang perempuan dan ia junior kami, dan namanya Taeyeon, dia jatuh cinta dari ujung kaki sampai kepala padanya, dia mengatakan bahwa Taeyeon sangat manis. Apa yang bisa kulakukan saat itu? aku hanya bisa menangis dalam diam.

“Gwibonnie.. hari ini aku akan pergi dengan Taeyeon, kau tidak apa-apakan sendirian dirumah?”, kata Jinki sembari merangkul pundak Taeyeon.

“Eonni ikut saja yuk..”, ajak Taeyeon.

“Ah, tidak usah Taeyeon shi .. aku juga sudah janji dengan temanku…”, kataku berbohong, tentu aku tidak punya janji dengan siapapun, aku terlalu malas untuk mengikuti acara perpisahan yang dilaksanakan oleh teman-temanku.

“Kau yakin? tidak apa-apa kok kalau kau ikut, biar seru, ya kan Taeyeonnie?”, tanya Jinki merangkul lebih erat pundak Taeyeon, dia hanya mengangguk dan bersemu merah.

“Ya… pergilah…”, kataku tersenyum lebar. Setelah mereka yakin tidak berhasil mengajakku mereka pergi dengan bergandengan tangan, sesekali Jinki mengelus rambut Taeyeon dengan mesra, air mataku mengalir deras dipipiku dalam diam menatap sosok mereka menjauh dari jangkauanku.

.

.

3 tahun kemudian

Aku berjalan keluar dari perusahaan yang menerima ku sebagai design grafis utama diperusahaan ini sebagai editor majalah fashion terkenal, inilah passionku sejak dulu, design grafis dan juga hal berbau fashion. Aku bahagis menerima pekerjaan ini, banyak bertemu banyak orang yang mempunyai kemampuan yang beragam dan menambah ilmu untukku , untuk belajar lebih giat dan meningkatkan skill ku.

“Yoboseyo?” aku mengangkat telpon ku.

“Ne … sebentar lagi, im on my way oke…?”, kataku tersenyum dan masuk ke dalam mobil hyundai pink ku, aku mematikan ponsel ku dan menarik nafas lagi, sekarang atau tidak sama sekali, kau pasti bisa Gwiboon.. semua akan baik-baik saja.

Aku memberhentikan mobil ku tepat di depan cafe yang cukup besar, aku tersenyum melihat cafe didepanku, tempat yang nyaman dan cozzy, aku menyukai tempat ini, semoga apa yang ada didalamnya membuatku lebih suka dan akan menyenangkan, semoga…

“Gwiboon?”, aku menoleh.

“Victoria ?…Victoria!”, aku berjalan menghampirinya dan memeluknya, bercipika cipiki padanya.

“Kau cantik sekali, tidak pernah berubah, malah bertambah cantik…”, pujinya, i know… aku tidak akan membiarkan diriku terlihat jelek, tidak ketika kau bekerja di majalah fashion terkenal.

“Gomawoo.. kau juga …”, balikku memuji sambil tersenyum.

Kemudian kami memasuki cafe yang ada didepan kami, ya… aku disini, menghadiri reunian sekolah kami, aku memutuskan untuk datang ketika aku tahu bahwa Jinki akan datang, jujur saja, setelah kelulusan aku sudah susah menemuinya,walau sesekali ia mengirimi ku email maupun sesekali menghubungi ku bertanya akan kabarku, mengingat aku kuliah di jepang dan dia pindah dari rumahku ke apartemennya sendiri.

“Disini…”, panggil temanku, aku dan Victoria berjalan menghampiri beberapa teman yang tidak asing, kami saling menyapa dan bersenda gurau, saling bertanya kabar masing-masing, dan juga apa yang terjadi pada kami satu sama lain, namun… sejauh ini aku tidak melihat keberadaan nya, Jinki.

“Jinki… apa dia datang?”, tanya ku pada Dongwoon yang duduk disebelahku.

“Jinki? mungkin sebentar lagi … aku sudah mengubunginya tadi…”, katanya tersenyum, aku mengangguk.

“Ng… Dongwoon, aku ingin menanyakan sesuatu padamu…”, kataku, dia menoleh dan tersenyum.

“Apa… Jinki masih bersama Taeyeon?”, aku munafik jika selama 3 tahun ini aku tidak berpikir sedikit pun tentang hubungan mereka, dan aku juga tidak pernah bisa melupakan perasaan ku yang tidak tersampaikan padanya meskipun aku sudah mencoba untuk berpacaran dengan seseorang di saat kuliah dulu, namun tidak berguna.

“Hmmm… iya, dia masih mesra seperti biasa, tidak bisa dipisahkan, Jinki terus memuji bahwa Taeyeon adalah wanita idamannya dan mengatakan bahwa ia lembut seperti malaikat yang membuatnya nyaman… terkadang dia terlihat menjijikkan ketika membanggakan Taeyeon didepanku.”, katanya jijik, aku tersenyum mengingat bahwa mereka kuliah ditempat yang sama.

“Hai, Jinki… kemari…”, aku menoleh terkejut, aku belum bisa melihat dengan jelas wajahnya, namun aku tahu itu dia… aku kenal caranya berjalan, aku kenal siluetnya dari jarak jauh… aku tahu itu dia yang sedang berjalan ke arah kami.

“Hai semua…”, sapanya dengan senyumannya yang khas, jantungku berdegup cepat, senyum itu selalu sama dan selalu membuat jantung ku berdegup cepat. Kemudian ia menoleh, ia menyadari keberadaanku, dia tersenyum dan mengarah ke depanku, ia membuka topinya dan tersenyum manis, rambutnya sekarang panjang dan ikal, terlihat fresh (Onew Julliete)

“Hai, gwibonnieee~… lama tidak bertemu?”,sapanya, sapaan yang sama ketika itu.

“Hai, Jinki … apa kabar?”, kataku tersenyum.

“Baik… aku rasa aku tidak perlu bertanya kabarmu, kau… tetap cantik seperti dulu…” katanya tersenyum usil, aku tersenyum, wajahku memerah, aku tahu itu hanya gombalannya saja, tapi itu membuat ku… senang.

“Truth or dare! truth or dare! truth or dare!”, semua berseru senang. Jinki terlihat semangat ingin ikut game ini, game yang bodoh menurutku, kita akan memutar botol diantara kami, dan jika kita terpilih, kita diminta memilih, mengatakan kebenaran atau tantangan. Jinki menoleh kepadaku, aku menggeleng menolaknya, namun ia menarik tanganku dan memohon dengan puppy eyes nya, ini yang membuat ku terlihat lemah padanya, aku mengutuk diriku sendiri menurutinya, akhirnya kami berjalan menghampiri sekumpulan anak-anak gila yang akan memulai game ini.

Jantungku berputar cepat ketika botol terus berputar satu sama lain, semua tertawa riang menikmati game ini, aku… aku panik,berharap besar tidak mendapat giliran. Dan…

“WAH, aku!!”, teriak Jinki disebelahku, aku menoleh gugup, apa yang akan dia pilih kira-kira?

“Truth or dare?”, seru yang lain, dia tersenyum lebar melirik ku, aku mengerutkan alis.

“Dare!”, katanya gembira, semuanya bersorai riang, hell no… semua berbisik menentukan apa yang akan dilakukan Jinki.

“Nah, ambil pokky ini dan makan disetiap ujungnya sampai habis dengan memilih orang disebelahmu.”, kata salah satu dari jubir mereka, aku terekesiap, tidak mungkin…

“YAH! tantangan apa itu?”, kataku geram. Yang lain tidak menghiraukan hanya tertawa senang, aku menoleh ke arah Jinki menatapnya berharap ia menolak saran itu, namun … percuma! Jinki sudah siap dengan pokky ditangannya. Kemudian dia menoleh ke kirinya, disana Jiseun berada, ia bergidik ngeri.. dan dia sekarang menoleh kearahku, aku memundurkan badanku … dan menggeleng padanya, memohon untuk tidak melakukan itu.

“Come on… its just a game.. aku tidak akan memakannya sampai habis, kau yang makan sisanya, aku jamin, bibir mu akan tetap perawan, dan aku tidak akan merebutnya dari mu…”, bisiknya usil dan tersenyum mengangguk padaku. Aku hanya menelan ludah dan memulai semuanya, ia meletakkan ujung pokky di mulutnya dan kemudian perlahan mengarahkannya ke wajahku, semua bersorak semangat untuk memulainya. Aku menelan ludah kemudian kuberanikan diri mendekatkan mulutku diujung pokky yang lain.

Mata kami saling bertatapan, jantungku berdegup cepat, semakin lama semakin dekat jarak diantara kami, aku memejamkan mataku tidak berani melihat apa yang akan terjadi selanjutnya, ketika aku dapat merasakan nafasnya diwajahku aku tahu semakin lama semakin jelas jarak kami, dan…

“Finish!”, teriaknya, aku membuka mata, benar katanya, dia akan berhenti tepat ketika Pokky itu sudah tinggal sedikit, aku mengunyah sisa pokky dimulutku dan melihat ke arah lain, sementara yang lain protes karena Jinki tidak memberikan pertunjukkan yang menarik.

“Setidaknya kau katakan padanya, jangan sampai kau menyesal…”, bisik seseorang padaku, aku menoleh, dia … Minho, dia temanku ketika kelas 1 sma.

“Sok tauk, apa sih maksudmu?”, kataku kesal, dia berdecak.

“Jinki, aku tahu kau menyukainya, ayo semangat!”, teriaknya mengelus kepalaku dan berjalan menuju keramaian dimana semua sedang menari gembira di lantai dansa. Aku mengedarkan pandanganku ke arah lain mencari dimana Jinki, dan aku menemukannya sedang duduk disudut ruangan sendri tersenyum melihat ke lantai dansa dimana teman-teman kami berada.

“Jinki, boleh aku duduk?”, kataku tersenyum menghampirinya.

“Ya, tentu saja… ayo sini…”, dia menepuk tempat duduk disebelahnya, aku tersenyum dan menatap kedepan ke lantai dansa.

“Bagaimana… apa kau sudah mencapai semua cita-cita mu?”, tanya membuka pembicaraan.

“Hampir…sedikit lagi, masih ada yang tertinggal…”, kataku, ya… tertinggal, dan itu dirimu.. perasaanku yang belum tersampaikan.

“Oh.. apa itu?”, katanya semangat. “Aku ingin tahu… ayolah, kau selalu bercerita apapun padaku.”, katanya lagi, aku menoleh menatapnya dengan serius, perlahan senyumnya menghilang dan menatap ku juga dengan serius, entah setan apa yang merasuki ku aku mendekat perlahan.

“Yang tertinggal adalah … aku menyukaimu, Jinki.”, kataku kemudian mencium bibirnya sambil menarik lehernya untuk tidak melepaskan ciumanku, aku dapat merasakan tubuhnya menegang, dan aku melepasnya setelah merasa cukup lama, dia terkejut dengan menunjuk ke bibirnya dan tidak berkata apapun, aku menoleh ke arah lain dengan wajah memerah, dari kejauhan aku melihay Minho mengacungkan jempolnya padaku dan tersenyum lebar seakan berkata ‘Good Job!’ aku hanya bisa tersenyum padanya.

.

4 bulan kemudian

“Gwibonnniieeeeee ummmaaaaa~….”, teriak seorang suara anak kecil yang sangat nyaring, aku mendongak dan melihat seorang anak berumur 4 tahun berdiri dibalkon apartemen kecilnya dengan rambut potongan jamur.

“Jangan panggil aku Umma, aku bukan Umma mu Taemin …”, kataku kesal namun kemudian tersenyum melambai padanya.

“Hati-hati Ummaaaaaaa…”, katanya lagi melambai padaku, aku tersenyum lebar.

“Gwiboonie, hati-hati yah… makan lah dirumah, arra?”, teriak seorang wanita, yang kukenal bernama Se kyung, dia istri kakak ku Jonghyun Hyung dan tadi, dia Taemin, keponakanku. Aku mengangguk dan melambai terakhir kali sebelum masuk kedalam mobil.

Aku menaruh tasku di jok penumpang sebelumnya mataku tertuju ke undangan yang sudah 2 hari kuterima lewat pos, aku mengambilnya dan tersenyum .

Wedding invitation!

Lee Jinki & Jung Taeyeon

23 Februari 2010.

Dan dibalik amplop itu terdapat foto mereka berdua tersenyum bahagia dengan anjing yang lucu ditengah mereka, aku kesal setiap melihat foto ini, bukan karena melihat Jinki dan Taeyeon, tapi karena anjing itu, di leher anjing itu terdapat kalung dan bertuliskan

‘Gwibooniee ~<3’

“Yosh, hwaiting Gwiboon!”, teriakku mengepalkan tangan kedepan dada dan menyalakan mesin mobil ku, memulai semuanya dengan hari yang indah…dan baru, sehingga aku percaya, suatu saat nanti aku akan menemukan cinta yang lain.

 

END

P/S

AUUUUWWWW……

Gimana menurut kalian Suunders, kasian yah Gwiboon… aku sedih banget pas nulis ini, bayangin kalau aku ini dia😦

Leave a comment if ya likeeey🙂

62 thoughts on “[One shoot] I never told you

  1. aigooo~
    complicated banget kisah cinta mereka..dan gwibon,,kau sungguh wanita hebat! kuat menahan rasa sakit karena cinta jinki bukan utkmu *bahasa gw gaje bangeeet* *cipok gwibon(??)*

  2. ini sumpah..ini sedihhh…ini gilaaa
    cerita apa ini? apa ini cerita?
    ya Allah hampir nangis…
    ceritanya menyeret saya dan hati saya kejurang kesedihan *iya lebay tau kok tau
    mana si ontae jahat bgd…masa namain anjing mrk jd namanya si gwiboon…huhuuhuhu

    bagus thor ceritanya..tp cukup ini aja ya…jgn ada lagi hiksss *maksaa

  3. kyaaaaaa
    g trima nihh😦
    jinboon harus bersatu😮
    bikin emosiku memuncakk
    tp ffnya baguss daebak pokokny *ciyus🙂

  4. Nyesekkk.. sekk.. sekk.. sekian dan terima kasih..
    Pen pulanggg~ Eomma huaaaa T^T #NangisAyam

    Knpa Jinki gak milih Gwe ajja ??
    WAEEE ????? #SakitAti
    Dikirain pas abis ciuman, si Jinki bkl ada perasaan ma Gwe..
    Eh ternyata udh d’sodorin ajje ma undangan pernikahan.a OnTae TT-TT

  5. klau ga gra2 onew naru nma gwiboon d lher anjing.
    udah aku pastiin aku bkal nangis. nyesek bngeud. keren eonni. certa nya ga ketbak, biasanya bkal nyatu psngannya. eonni niat bnget buat gwiboon mnderita..
    like it.

  6. agak gk ngerti sama ending nya ‘-‘a jd gwe sama jinki gk bersatu gt? terus abis dia menyatakan perasaan nya sama jinki apa yg jinki lakukan? .-.

  7. sediihhh gweboon endingnya gwiboon jomblo aiishh pengen jinboon bersatu
    tapi ga apa2 nunggu jintae cerai wkwkwk
    atau ga gwi sma minho aja napa cocok kok

  8. Aaahhh~
    Kenapa ga bikin jinki gweboon bersama sihhh 😭😭😭
    Sedih gw, huaaaaaa 😭😭😭 *nagisBarengGweboon

  9. Widiiiiiiiiiiwwwwww not as expected nih!
    Anti mainstream cuuuuuyyyy~~
    Sihiiiiiiyyyyy

    Kirain jg waktu abis kissing terus jinki berubah pikiran.
    Eh ternyata masih sama si anu aja.. hihi

    Yaudah sih gwee yg sabar yes.
    Masih ada onew kok ntar yg bakal dateng ke hidupmu 😘 *eh /lah/

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s