[Req’FF/Onkey] An idiot that i love


Foreword :

Annyeong , ini requestan kedua yang saya buat, sekali lagi, ini berdasarkan permintaan terbanyak, jadi didahulukan, bukannya mendiskriminasikan yang lain yah? tenang aja, aku udah siapin ceritanya kok, cuman tinggal di post aja 🙂
Makasih yang udah pada req, yah … ASAP deh aku bikin 🙂

BTW, MAU INGETIN LAGI, SETIAP REQ YANG DIMINTA BERBENTUK ONESHOOT, DAN DIMOHON DIBACA PERATURANNYA DENGAN JELAS, OH YA … KALAU KALIAN MINTA SATU PAIRING, YA CUMA SATU, JANGAN BERUNTUN, KARENA BIAR MUDAH MEMUTUSKANNYA, KALAU DOUBLE ATAU TRIPLE AKAN GUE JADI BINGUNG MAU AMBIL YANG MANA? OKEH? ARRASO?

Didedikasi untuk :

> Haku RionKeyazawa

> Mrs. Kim keyBum

this is for u all Suunders 🙂

Leave comment, and if you have account wp, please like this :p

Pairing : Onkey ninja! 🙂
Genre : Angst, romance, happy ending 🙂
Rate : NC 21 kekekek~ 🙂

by : Sanniiew

.

.

KEY POV~

“Nghhh… a-ahhh…J-jinki…”,
“Ngghh…aaah…”
“J-jinki im ma…c-cumm…aaahhhh….”,

Berhenti, sudah selesai … 25 menit 35 detik, tidak lebih lama dari yang kemarin, cih, murahan, tidak berguna dan sama sekali tidak ahli, membawa wanita seperti itu ke kamar dan hanya bertahan selama ini? cih, memuakan!

“Honey… aku terima kasih yah? besok kita bertemu lagi?”, seorang wanita keluar dari kamar, dan mencium bibir sang lelaki.
“Hmm… i dunno, nanti aku hubungi..”, jawabnya dingin, dan wanita murahan itu keluar dari apartemen dengan melirik sesaat padaku, aku menatapnya sinis dan kembali ke dapur.

“Aku minta kopi Key…”, aku menoleh, dia Lee Jinki, orang yang paling aku benci didunia, suka bermain dengan perempuan mana pun dan membawanya masuk kedalam apartemen kami, dan dengan sesuka hatinya menggunakan kamar kami untuk melakukan hal bodoh itu dengan perempuan mana saja.

Aku meletakkan kopi creamer didepannya dan kembali ke depan meja dapur untuk menyiapkan sesuatu yang bisa kumakan, tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut kami, entah kapan keadaan ini bermula, aku tidak pernah tahu, tiba-tiba dia jarang bicara padaku, dan bahkan jarang menatapku, dia selalu pulang larut malam, dan pulang awal namun membawa wanita-wanita PSK tida berguna dan tidur di kamar kami, apartemen ini tidak begitu luas, kami hanya mempunyai satu kamar, dan aku sebagai pekajar tentu tidak mampu membayarnya, dan dia pegawai kantoran biasa namun sangat pelit, hidupnya sangat pelit namun tidak jika untuk perempuan bekas seperti mereka.

Aku menaruh semua makanan di atas meja, dan duduk tepat dihadapannya, seperti biasa, makan malam berlangsung dengan sunyi, tidak ada pembicaraan yang dapat kami mulai, dan aku tidak pernah mau memulai, dia yang mengacuhkanku duluan dan jangan salah kan aku jika aku juga melakukan ini padanya.

“Kurang garam.”, katanya, aku meliriknya kesal dan menyerahkan garam padanya, “Kurang lada.”, katanya lagi, aku menyerahkan lada padanya, tanpa melihat ke arahnya, dan kami meneruskan makan kami. Setelah beberapa lama ia selesai dan ia segera masuk ke ruang kerjanya seperti biasa, menyenbunyikan dirinya disana hingga larut malam dan akan kembali pada dini hari untuk tidur di kasur, entah sesibuk apa pekerjaannya hingga membuatnya seperti itu.

“Buatkan aku kopi lagi .”, katanya sebelum berjalan ke kamar mandi, aku dapat mencium aroma menjijikkan itu dari tubuhnya, aku hanya diam dan mengikuti perintahnya, entah apa yang membuat ku terus bertahan disini, entah setan apa yang membuat ku suka padanya, ya benar… aku menyukai pria ini, pria idiot ini. Semua berawal ketika itu..

Flashback~

“Kebakaran! kebakaran!”, semua orang keluar dari apartemen, tepatnya rumah susun, aku baru saja pulang dari sekolah dan sekarang aku melihat rumah ku satu-satunya terbakar habis, tidak ada yang bisa menolongnya, semua barang-barang ku habis terbakar, stupid konsleting, membuat semua yang kupunya habis, fuck to my life, aku hidup sebatang kara, dan sekarang rumah ku satu-satunya terbakar habis beserta isinya.

“Lalu apa yang akan kita perbuat, dan kita akan tinggal dimana?”, seseorang berdiri disebalhku sambil mengunyah ayam, aku tahu dia siapa, dia Lee Jinki, dia tinggal tepat di sebelah kamarku, dia seorang pegawai swasta, hanya itu yang kutahu dan dia orang yang baik dan ramah. Aku tersenyum miris.
“Setidaknya kau punya uang untuk menyewa apartemen,maksudku rumah susun baru…”, sindirku, dia menoleh dan tersenyum.

“Lalu kau?”, tanyanya, aku mengangkat bahu.
“Entahlah, beberapa hari dirumah teman, dan setelah itu mungkin akan hidup dijalan?”, kataku cuek, namun entah mengapa setelah itu ia meminta ku untuk tinggal bersamanya, dia menawarkan ku untuk tinggal sementara dengannya sampai aku bisa menghidupi diriku sendiri, alasannya adalah, duit warisan ku akan semakin habis, dan aku harus cari kerja tambahan yang lebih berat jika aku tidak menerima tawarannya, dan dia adalah orang yang kusuka, hei, aku tinggal selama  tahun di rumah susun ini dan dia, orang pertama yang membuat jantung ku tidak pernah diam ketika pertama kali kami bertemu.

EndFlashback~

Dan disini lah aku sekarang, hidup berdua dengannya, untuk membalas budinya aku selalu membantu segala keperluannya, orang idiot ini tidak bisa mengurus hidupnya dengan baik, aku membantunya untuk hidup lebih baik dan dia ada kemajuan dalam mengurus hidupnya sendiri, setidaknya tidak memakan makanan yang merusak kesehatan, karena aku, selalu memasak untuknya, dan bajunya tidak sekusut dulu, karena ia pasti malas pergi le laundry dan menyetrika dengan asal, dan sekarang aku yang mengurusnya. Waktu dua tahun berubah dengan cepat, awalnya kami senang, aku bahagia hidup bersama dengannya, dia menyenangkan dan membuat ku nyaman, dia memperlakukanku dengan lembut, seperti adiknya sendiri, namun aku tidak suka dianggap seperti itu, sampai akhirnya entah siapa yang memulai, dan entah ada apa, dia berubah, dia bukan lagi Jinki yang kukenal, bukan Jinki yang lembut yang selalu ada jika aku membutuhkannya, dan bukan lagi Jinki yang kucintai.

Aku menangis, lagi… untuk kesekian kalinya, aku menangis untuk manusia idiot sepertinya, dan ia tidak akan pernah tahu perasaan ku ini,tidak akan… karena ia terlalu idiot untuk menyadarinya.

.

Aku memicingkan mataku, aku tahu ini sudah waktu dini hari, pintu kamar terbuka perlahan , dan dia masuk dengan perlahan, aku belum tidur, sengaja kali ini aku tidak pernah tidur, tidak sebelum ia masuk kekamar dan merebahkan dirinya lagi dikasur, lalu… ini terjadi lagi, setiap harinya, entah apa dia hanya duduk ditepi ranjangnya, dan menatap ke arah ku, aku tidak pernah tahu apa yang ia lakukan, aku tidak bisa melihat wajahnya, namun aku tahu dia sedang melihat ke arah ku …

“Mianhe Kibum…mianhe…”, katanya, dan itu hal yang sama selama 4 bulan terakhir ini kudengar, dan selama itu pula yang ia ucapkan sebelum tidur dan selama itu pula kami tidak bicara, aku tidak mengerti, apa yang membuatnya berkata seperti itu? apa ia menyadari perasaanku? apa ia tahu betapa sakitnya aku setiap melihatnya dengan wanita murahannya itu.

Aku hanya bisa menatap sosoknya yang tertidur , aku menatapnya dibalik kegelapan yang menyelimuti kamar kami yang sepi, perlahan aku dapat mendengar nafasnya yang teratur, aku tahu ia sudah tertidur, aku menarik nafas dan air mata ku keluar, aku tidak tahu sampai kapan perasaan ini berakhir, dan sampai kapan keadaan ini dapat bertahan…

“Aku mencintaimu Jinki hyung.”, kataku setengah berbisik sebelum aku memejamkan mata dan berharap ia dapat mendengarnya

.

.

Sudah pukul 12 malam, aku tahu dia tidak akan pulang jam segini, aku sangat tahu kebiasaannya, dan aku tahu dia pasti sedang bersama dengan wanita simpanan yang entah keberapa kali ini , aku hampir tidak bisa menghitung, aku muak menghitung, aku lelah menghitung, aku sakit mendengar setiap suara yang kudengar , aku muak… tapi aku tidak bisa lari, aku tidak pernah mau lari dari sini, ini yang membuat ku menyesal, entah kenapa aku tidak bisa pergi dari sini, bisa saja aku keluar dari rumah ini dan tinggal ditempat lain, meninggalkannya sendiri, namun niat itu selalu kuurungi jika aku melihatnya, dan selalu melihatnya, entah kenapa dia membuat ku gila, hidup ku semakin gila …

BRUK!!

Aku bangkit dari duduk ku memeriksa bunyi apa itu? aku tidak tahu? apa itu Jinki? aku berlari ke pintu masuk, OH MY GOD!

“Jinki! Jinki hyung!”, aku teriak panik, dia jatuh pingsan tepat didepan pintu dengan tubuh berkeringat hebat, dia sakit, badannya panas , dia demam, aku harus cepat membawanya masuk sebelum demamnya semakin tinggi…dammit, dia berat sekali, pleasee Jinki… kuatkan tubuh ku , aku tidak bisa menggendongmu…

“AAH!”, aku menaruhnya diatas kasurnya, aku mengatur nafasku menatap tubuhnya yang terkulai lemah, aku melepas sepatunya, jaket tebalnya, dan membuka beberapa kancing kemeja kantornya, ada bekas lipstik di kerahnya, benar dugaanku, dia habis bersama wanita murahan lagi, rasanya aku ingin sekali meninjunya dalam keadaan seperti ini, ini kesempatan baik ku untuk memberinya pelajaran, namun lagi …niatnya kuurungkan.

“K-key…”, dia bergumam, tangannya menggapai ke langit, aku tidak tahu apa yang ia mimpikan, kenapa namaku ia panggil? aku menyambut tangan itu dan berbisik di telinganya.
“Ya, aku disini Hyung… “, kataku, dia kemudian tertidur lagi, aku menarik nafas, perlahan melepas genggaman tangannya dan berlari kedapur , mengambil air untuk mengkopres keningnya agar demamnya turun, aku juga mengganti pakaiannya yang basah dengan keringat.

Jantung ku berdebar cepat, aku pernah melihat tubuhnya sebelumnya, namun aku tidak pernah melihat secara langsung, aku melihat kulitnya halus dan lembut seperti susu, dada bidangnya, pundak kekarnya, lehernya yang jenjang, perutnya yang sixtpeck, dan lengannya yang kekar, aku menyentuh setiap inci tubuhnya, betapa aku menginginkan tangan dan tubuh ini memeluk ku, bukan perempuan-perempuan itu, tapi diriku.

“Aku mencintai mu Jinki…sangat mencintaimu…”, bisiku dan mencium bibirnya lembut, namun dia bergerak dan membuka matanya.
“K-key…*uhuk*uhuk…”,
“Jinki…hei…”, aku mengelus dadanya pelan, ia batuk dengan hebat, dan menggenggam tanganku dengan kuat, aku memeriksa panasnya, sangat tinggi, kalau begini aku harus memberikanya obat.

“K-key …”, dia menggenggam tanganku mencegah ku pergi
“Sebentar, aku hanya ingin membeli obat untukmu…”, kataku, namun dia menarik tangan ku lebih erat.
“Jangan *uhukuhuk*tetaplah disini… aku *uhuk* mohon… “, katanya dengan wajah memerah dan mata tertutup kemudian batuk dnegan hebat, aku duduk ditepi kasurnya dan mengelus dadanya dengan pelan meredakan batuknya.

“Baiklah.. aku disini…”, kataku membelai kepalanya, aku tahu aku membencinya, namun Jinki yang dingin dan Jinki yang tidak punya hati ini memohon padaku, pada satu-satunya orang bodoh yang mencintai seorang idiot sepertinya.

“Mianhe Kibum…mianhe…”, lagi, dia menggumamkan kata itu, kata yang tidak pernah kumengerti kenapa ia mengucapkan itu padaku. Aku hanya ingin disini sekarang, menemaninya.

.

Surat ini, aku tidak menyangka, apakah aku harus mengatakannya pada Jinki? jika aku mengatakannya apakah ia akan mencegahku? tentu tidak ya kan? tentu bebannya akan hilang, aku tidak usah metepotkannya lagi, aku tidak usah membuatnya susah lagi, dan aku akan hidup mandiri dan belahar untuk hidup tanpanya begitu juga dia, dia harus bisa mengurus dirinya sendiri.

Sebaiknya tidak usah, toh dia juga tidak akan perduli padaku ya kan? ya… begitulah.

“Key, ganti shift, jam kerja mu sudah selesai kan?”, Junsu mengagetkanku, aku menoleh padanya dan tersenyum
“Apa itu?”, katanya, aku menyerahkan surat ditanganku padanya, dia membacanya sejenak, dan tersenyum lebar padaku.

“Wah, kau berhasil Key! kau mendapatkannya? kau hebat!”, teriaknya senang dan memelukku, aku tersenyum, dia teman ku satu-satunya dan sekaligus sahabat ku dikampus, dia tahu bahwa aku akan mendapatkan beasiswa di Universitas Seoul, jadi aku akan pindah dan menetap di asrama
“Tapi… apa kau sudah mengatakannya ini pada Jinki hyung?”, tanya nya, aku mendadak cemberut dan menggeleng. Dia menarik nafas dan menepuk pundakku.
“Kau harus mengatatkannya Key… setidaknya untuk hal ini padanya..”, katanya. Aku hanya diam dan menarik nafas ku, entahlah… aku tidak tahu apakah aku bisa?

“J-jinki hyung?”, tiba-tiba aku terbelalak, aku melihat Jinki hyung ada didepan mata ku, dia sedang bersama wanita di cafe ku, ditempat ku bekerja, dia tidak tahu jika aku bekerja aku disini?.

.

“Hai,Jinki oppa… apa kabar… tidak menyangka kau ada disini…”, seorang wanita menghampirinya, that bitch , i know who she is… dia selalu mondar-mandir di cafe ini dan bermain dengan siapa saja, dan sekarang, oh my… jangan bilang dia juga kenal dengan Jinki, itu kenapa dia memanggil namanya sekarang.

“Oh ,hai…”, kata Jinki hyung menyapanya, perempuan itu yang mendapat respon baik langsung duduk disampignnya, dan merangkul tangan Jinki dengan manja, namun yang mengejutkan ku adalah, Jinki hyung melepas tangannya, dan membuat wanita itu cemberut dan menatapnya heran, aku dapat melihat wajah Jinki hyung sedang tidak mood, apa dia ada masalah?
“Jinki oppa~ kenapaaa~ kau tidak rindu padaku? kita main sebentar~ saja… aku sedang nganggur kok  “, dia berusaha memasang wajah manis sebaik-baiknya, itu membuat ku ingin muntah, sama sekali tidak manis.

“Oh, tidak kali ini… bisakah kau pergi?”, OMO! dia benar -benar aneh, ada apa dengannya kini. Namun wanita itu tidak mau pergi dan sekarang sudah menarik kerah baju Jinki dan menciumnya dengan ganas, namun yang membuat ku terkejut, Jinki menyambut ciumannya, dia menyambutnya, hati ku sakit melihatnya, ciuman mereka menjadi sangat panas, aku tidak mampu lagi melihatnya, sudah cukup , tidak kali ini, tidak didepanku, aku sudah lelah… aku tidak mau lagi seperti ini.

“Kyaaa…”, aku berbalik, perempuan itu berteriak sementara tangannya dicengkram oleh Jinki hyung.
“Aku bilang, jangan sekarang, dan cepat pergi dari ku!”, bentak Jinki hyung sinis, dan membuat wanita itu kabur dari hadapannya, aku tidak mengerti, baru kali ini aku melihat emosi dimatanya, apa yang terjadi, dan aku tidak mengerti.

.

Jinki hyung tidak pulang malam ini, ia juga tidak meninggalkan pesan untukku, oh, aku lupa… dia tidak pernah meninggalkan pesan lagi untukku semenjak 4 bulan lagi dimana kita jarang bicara satu sama lain, dan sekarang sudah waktunya aku pergi, meninggalkan tempat ini.. tempat pertama yang menampungku, semua kenangan terlintas di pikiranku, aku berjalan ke dapur, aku menyentuh apron pink ku, apron pertama yang Jinki belikan untukku, dia bilang dia senang melihat ku memasak dan suka dengan masakanku , maka itu dia membelikan ini untukku.

Aku melihat piring, mug, sendok, garpu, mangkuk, dsb, yang sepasang, kami memang tidak ada hubungan apapun, namun ini hadiah ku untuk kami sebagai tanda persahabatan, sebenarnya sebagai tanda bahwa aku mencintainya, hanya dengan ini aku akan mengingatnya, aku harus menyimpan mug miliknya, setidaknya kenangan tentang nya akan bersamaku mulai saat ini, dan aku berjalan ke kamar kami.

Aku duduk di atas kasurnya, aku merebahkan tubuhku disana, aku mencium bantalnya, bau yang khas yang sering aku cium ketika dulu ia sering memelukku, namun tidak sekarang … ia tidak pernah lagi melakukan itu, aku menangis lagi … aku merindukan dekapannya, aku lupa rasanya, hanya memeluk bantalnya saja bisa membuat ku merasakan kehangatannya. Aku harus cepat, sebelum ia kembali, aku ke kamar mandi, ada sepasang sikat gigi yang kami beli bersama, aku mengambil milikku, dan aku mengambil miliknya, aku mencium pucuknya, berharap itu adalah bibirnya, aku menginnginkannya, sangat.

Aku berdiri di depan ruang tamu, menyapu seluruh ruangan , melihat dengan baik setiap inci ruangan, mengingat semua memori yang kami habiskan bersama di apartemen kecil ini, aku akan sangat merindukannya, namun semua tidak akan sama lagi, jangan kan bersama, dia pun mungkin tidak akan perduli aku akan pergi kemana, ya kan? Aku menarik nafas, mengambil tas ransel ku dan koper yang kubawa.

“Selamat tinggal Jinki Hyung…”, kataku, dan aku keluar dengan menempelkan memo di atas meja dimana makanan telah ku siapka untuknya, semoga ia memakannya, hanya ini yang bisa kuberikan untuknya, aku mencintai mu my idiot Jinki.

> Dua bulan kemudian<

Gawat aku telat, good Key… kau mahasiwa baru dan baru selama 2 bulan, sudah  kali dalam seminggu ini kau telat bangun… oh god~ kemana Key yang dulu? yang selalu tepat waktu? ini semua karena aku terlalu sibuk mengerjakan tugas dan tidur terlalu larut, shitt Minho, dia tidak membangunkanku, yah benar, dia hanya perduli dengan pacarnya Taemin, dia lebih perduli membangunkan Taemin dibanding teman nya sendiri, secara kamar kami bersebelahan dan kami satu kelas, namun dia sama sekali tidak perduli, awas dia nanti… aku akan membalasnya.

Aku terus berlari menuju koridor kampus, smeua yang melihat ku menyapaku, namun aku terus berlari, sorry guys , next time aku akan menyapa kalian balik, tapi tidak kali ini… aku sudha telat~…
“Maaf saya terlamab—-“, WHAT?! kenapa sepi, kemana semuanya? hanya beberpa orang didalam kelas dan termasuk… yah right Lovey dovey sialan ini.
“YAH! MINHO!”, aku menghampirinya yang sedang asik disuapi oleh Taemin, dia menatap ku dengan polos.
“Wae Kibumie?”, tanyanya santai.
“Kemana semuanya? mana dosennya? ada apa ini? apa aku telat? tapi ini baru terlambat 15 menit, ya kan?”, tanya ku panik sambil celingukan, Minho terkekeh , aku meliriknya kesal.
“YAH! good! tertawalah, kau yang membuat ku terlambat! kau tidak membangunkan ku lagi kali ini!”, bentak ku, kali ini Taemin melihat ke arah ku dengan panik, oh my… aku tidak marah padanya, bukan juga bermaksud menyalahkan dia karena Minho lebih memilih membangunkannya dibanding aku.

“Aku sudah mengirim pesan padamu kan Key? kau belum baca? dosen kita keluar kota, jadi kelas diundur hari jum’at nanti.”, jawabnya merangkul Taemin, aku menganga, aku mengeluarkan ponsel ku dan benar ia mengirim text padaku, dammit Minho, aku rasa ia tidak tahu yang namanya penggunaan Hp, selain bisa sms bisa juga telpon. shitt! buat apa aku lari capek-capek, membuat ku berkeringat, dan rambut ku iuwwhhh lepek!

“Hei mau kemana?”, tanya Minho, aku meliriknya kesal,
“Setidaknya tidak menonton Lovey dovey didepanku, membuat pagi ku tambah buruk.”, celetuk ku kesal, hanya diiringi oleh tawa Minho, sialan bocah alien itu, kalau aku tidak melihat ada Taemin si imut itu, sudah kuhabisi pacarnya itu.

.

Aku mengeluarkan buku sketsa ku dan duduk ditepi danau, aku suka tempat ini, tempay satu-satunya yang bisa menjernihkan pikiran ku, aku membuka buku sketsa ku dan lembar pertama terdapat sebuah foto, foto yang sama yang selalu tertempel dengan manis di lembaran ini, foto yang sama selama 2 tahun ketika aku bersama Jinki hyung untuk pertama kalinya kami pergi ke taman bermain, dia memberi ku harum manis, dan kami berfoto dengan maskot taman bermamin itu, dia menggendong ku dipunggungnya sedangkan aku mencubit pipinya, aku tersenyum melihatnya, dan air mata ku ingin mengalir, aku menarik nafas dalam-dalam.

RING DING DONG RING DING DONG

Aku terkejut , telpon ku berbunyi, dan itu dari Junsu? sudah lama dia tidak menghubungi ku, aku senang sekali, lama rasanya dia tidak menghubungiku.
“Yoboseyo, Junsu!”, sapa ku semangat, dia menyapaku dengan semangat juga, namun sedetik kemudian senyum ku menghilang seiring berita yang ia katakan ditelpon dengan ku, hati ku sesak, nafas ku tercekat, aku tidak percaya, dan aku tahu kenapa Junsu sangat membutuhkan ku untuk datang sekarang.

Tanpa pikir panjang, aku berlari, aku tidak perduli dengan sketsa dan apapun, aku hanya butuh kebenaran berita yang kudengar, aku harus cepat, aku harus segera datang kesana… tunggu aku Jinki hyung, ku mohon… dan maaf kan aku.

.

.

Aku keluar dari taxi dan berlari kedalam rumah sakit, dengan cepat aku kebagian informasi, aku bertanya pasien bernama Lee Jinki, dan dengan cepat suster itu memberikan infonya padaku, sebenarnya dengan kupaksa agar dia cepat mengatakannya padaku. Aku berlari menuju lift dan menuju lantai 7, ruang dandelion kamar 745,setelah sampai  aku cepat mencari dimana letaknya itu, god, syukurlah aku melihat…

“JUNSU!”, Junsu menoleh ke arah ku, wajahnya sama paniknya denganku,dan didepannya berdiri seorang dokter.
“Bagaimana keadaannya dok?”, tanya ku langsung, Dokter itu berusaha menenangkanku.

“Tidak apa-apa, dia hanya pingsan kelelahan dan dia terlalu banyak minum, membuat fisiknya semakin buruk, ditambah dia tidak mengkonsumsi makanan dengan baik, jadi fisiknya drop ..dia hanya butuh istirahat, dan kami sudah memberinya vitamin.”, katanya, aku bernafas lega, si idiot itu, tidak bisa kah berbuat sesuatu yang masuk di akal dan tidak menyelakai dirinya sendiri, buat apa dia banyak minum? stress? kenapa?

“Sebaiknya kau masuk melihat keadaannya, aku akan pulang untuk mengambil pakaiannya.”, kata Junsu.
“Tunggu, kau punya kuncinya?”, tanya ku, mengingat dia tidak pernah ke apartemen kami.
“Itu masalah gampang kan? aku tinggal ke kantor lobi meminta kunci duplikatnya?”, aku mengangguk setuju, dan dia mendorong ku untuk masuk kedalam kamar.

Setelah masuk kedalam, aku dapat melihat sosoknya, sosok yang selama 2 bulan ini aku rindukan,dan dia terbaring lemah diatas kasurnya, aku mendekat, dia semakin kurus, kenapa dia menyiksa dirinya sendiri? apakah karena aku pergi dia tidak bisa mengurus dirinya dengan baik?. Aku duduk disampingnya, memperhatikan wajahnya dnegan seksama, wajah yang sama yang selalu aku mimpikan dan aku bayangkan jika aku ingin tertidur.

Aku ulurkan tangan ku menyentuh pipinya, walau terlihat kurus dia masih se chubby dulu, aku mengelusnya dengan lembut, aku bangkit dan berbisik ditelinganya,
“Cepatlah sembuh Jinki … aku disini… aku merindukanmu… cepatlah sembuh.”, kataku dan mencium keningnya, kedua pipinya, hidungnya, dan bibirnya, baru kali ini aku merasakan kehangatan bibirnya, jantung ku berdebar cepat, Jinki pabo .. aku masih mencintaimu. Kau tahu itu? tentu tidak ya kan?. Aku duduk lagi disebelahnya, menggenggam tangannya dan lama-lama aku tertidur pulas.

.

JINKI POV~

Kepala ku pusing, jam berapa sekarang, dan bau apa ini? aku ada dimana? kenapa semuanya putih?? aduuhhh… kepalaku benar-benar pusing, aku tidak mengingat apapun, yang kutahu aku minum di bar, aku juga tidak tahu mulai kapan aku minum? aku tidak tahu sejak kapan aku merasa lapar dan makan makanan yang layak untuk perutku, dan entah kapan aku hidup dengan baik, aku jarang masuk kerja, semua project ku gagal karena aku tidak konsentrasi, beruntung atasanku adalah temanku, dia mengerti akan masalah ku, terima kasih Donghae Hyung.

“Hmmmhh…”, aku terkejut, siapa? aku menoleh kesebelah kananku, jantung ku serasa berhenti berdetak, aku tidak percaya dengan apa yang kulihat, aku masih bingung kenapa sekarang aku terbaring di ruangan ini dan bisa disimpulkan ini adalah rumah sakit, dan ditambah sosok yang tebaring diatas kasurku, kepalaya menoleh kearah lain, tapi aku tahu dia siapa… aku tahu kepala dan rambut ini milik siapa? aku tidak bermimpi kan? dia orang yang sama yang selalu ku tunggu selama 2 bulan, dan selalu kuharapkan kedatangannya, berharap dia kembali padaku, aku menyesali semua yang kulakukan padanya, hidupku hancur ketika ia pergi dariku, dan aku menyesalinya.

Aku membelai rambutnya, nyata… ini nyata, aku tidak bermimpi..dia bergerak, aku menarik tanganku.
“Ehhmmm…”, dia bangkit dan merenggangkan tubuhnya, aku memperhatikannya dengan seksama, matanya yang terpejam sedikit dan tubuhnya yang ramping menggeliyat lucu, aku menrindukannya.

“Key…’, panggil ku, dia terbelalak dan membuka matanya lebar.
“JINKI HYUNG?!”, dia berteriak, aku tersenyum, ya benar… ini bukan mimpi, aku bahkan bisa mendengarnya berteriak padaku, teriakan yang sama yang selalu kurindukan, semenjak kami tidak saling bicara.

“K-kau baik-baik saja?”, tanyanya cemas, aku hanya mengangguk, dia duduk dikursi dan menunduk.
“Ke-kenapa? maksud ku ada apa dengan mu? kenapa kau bisa seperti ini? kau harus hidup dengan baik Hyung…”, kata nya, aku tersenyum miris, tidak tanpa mu Key. Aku mengulurkan tanganku dan berusaha menggapainya, dia mendongak dan dengan ragu-ragu meraih tanganku.
“Key … aku merindukanmu … mianhe Key…mianhe…” aku tidak bisa menahan air mataku, karena ku dia pergi, karena ku dia tidak mau lagi hidup dengan ku, dan tanpanya aku begini, mengabaikan hidupku, tanpanya hidup ku bukan apa-apa.

“Jinki Hyung…”, dia menangis dan meraih tanganku, menggenggamnya dengan erat.
“Jangan berkata maaf lagi Hyung… aku tidak pernah tahu apa maksud mu selalu mengucapkan itu padaku..”, jelasnya,yah, benar, dia tidak pernah tahu apapun, hanya aku yang selalu merasa bersalah, dan itu alasannya kenapa aku tidak mau bicara , memandang, menyentuh, dan bahkan menganggapnya, karena itu membuat ku terlihat menjijikkan.

“Tidak, aku harus minta maaf …”.
“Tidak ,please jelaskan padaku… kenapa kau selalu berkata seperti ini?”, tanyanya memohon dan menangis, aku menutup mataku,menarik nafas, dan membuka mataku lagi, kemudian memulai cerita ku.

Aku berkata padanya, bahwa aku tidak ingin menyakitinya, dia sangat berharga untukku,dia segalanya untukku, maka dari itu aku terlalu takut membuatnya terluka, aku tidak membiarkan pikiran kotorku ini selalu menyelimuti ku saat aku bersamanya, tubuh ku panas jika melihatnya, aku ingi terus menyentuhnya, memeluknya, dan menjadikannya hanya untukku, ego ku mengatakan itu. Setiap melihatnya, bahkan hanya melihat wajahnya membuat ku gila, aku ingin menariknya kedalam pelukanku, menciumnya, dna melakukan hal lebih padanya, dan itu membuat ku jijik, sampai suatu saat aku tidak sadar ketika kami mabuk diacara kelulusan SMAnya, hampir saja aku kehilangan kewarasanku, dan ingin menjadikannya milikku seutuhnya, namun aku bisa mengontrolnya dan tidak terjadi hal itu, sampai akhirnya aku tidak tahan setiap melihatnya, alasan itulah yang membuat ku untuk menjaga jarak dengannya, dan bermain dengan banyak wanita, itu semua kulakukan agar aku tidak mengkorup dirinya, dan itu membuat hubungan kami semakin aneh, namun tidak kusadari, perbuatan ku ini membuat ku lelah dan capek, dan membuatnya semakin jauh dariku.

.

.

“Jinki Hyung… “, aku mendongak, senyumku terkembang lebar, god, aku bosan seharian dirumah sakit, dan syukurlah hari ini ia datang, Key berjalan kearah ku dan membawa sekotak besar.. AYAM!
“Kau tahu apa yang kubawa kali ini?”, tanyanya, aku tersenyum dan menyuruhnya mendekat.
“OMO! AYAM!”, jawab ku sok histeris, dia berdecak melihat tingkah ku, ya… aku Lee Jinki kembali seperti semula,
“ish ish… tapi tidak sekarang, kau harus siap-siap sebentar lagi kita check out dari sini , ya kan?”, katanya. Aku menarik nafas dan bangkit, aku sudah sehat,dan aku harus keluar dari sini karena keadaanku sudah membaik, dengan satu syarat, aku berhenti minum jika tidak mau berkahir lagi dikasur yang membosankan ini.

.

“My home sweet homeeee~…”, teriakku langsung masuk kedalam apartemenku, aku senang kembali,daan tentunya bersama Key disini, aku menoleh, dia sedang menuju dapur menaruh ayam ku. Aku terkekeh dan mengikutinya kedapur. Kami berbaikan, well… setelah aku ceritakan semuanya, dia hanya menangis dna mengatakan bahwa aku idiot, dan dia mencintai idiot seperti ku, aku membalasnya,dan kami berciuman that is, kecewa? aku lebih kecewa. karena aku dalam keadaan sakit saat itu.

“Relax baby…”, kataku memeluk pinggangnya dan mencium tengkuknya, dia menggelinjang dan terkekeh.
“Yah! aku sedang menyiapkan ayammu, chicken calling you baby….”, katanya mendorongku pelan ketika aku ingin mencium bibirnya kali ini, aku cemberut dan menariknya lagi kedalam pelukanku,
“Whatever, mereka bisa menunggu, tapi aku tidak…”, kataku, yap, ini yang kutakuti dari dulu, aku akan memonopolinya, namun ia pernah mengatakan tidak keberatan, so… why not?

Dia menyengir dan memeluk leher ku. “A-ha, your chessy chicken holic.”, katanya, aku tersenyum mendekatkan wajah kami. “What a Mr.tease Key.”, kataku, dan hitungan detik aku mencium bibirnya, aku menjilay bibir bawahnya dan membuatnya membiarkan ku mendominasi ciuman, dia melenguh, aku menarik kakinya dan melingkar di pinggang ku, sementara tangannya menahan tubuh nya sendiri, aku membopongnya ke atas meja makan, dan meletakannya disana, sementara ciuman ku turun ke leher dan setiap inci sensitifnya, dia mencengkram rambut ku meminta ku lebih.

Dan tanpa kami sadari, semua baju yang kami pakai sudah terlepas, hingga menyisakan celana panjang ku saja, dan dia… sudah toples. Aku memperhatikan setiap lekuk tubuhnya, tubuhnya sangat indah, dia menutupi bagian membernya dengan tangannya, wajahnya memerah, aku tersenyum dan mencium bibirnya.
“Dont be shy baby… i’ll be gantle to you…”, kataku seraya menarik tangannya dna meletkannya disamping kepalanya, sementara ciuman ku turun keleher meninggalkan kissmark disana, turun ke pundak, ke nipple nya, berdiam disana sementara dengan menghisapnya, membuatnya mendesah hebat,dan turun ke perutnya dan semakin turun keselakangannya, aku memegang membernya.
“Aaahhh…J-jinki…”, dia memegang kepalaku ketika aku mulai mencium ujung membernya dan cengkraman tangannya semakin erat ketika aku mulai melahap membernya. Aku mengulurkan tangan ku dan ia memasukannya ke mulutnya, seakan tahu bahwa apa yang akan kulakukan padanya.
“aAAHH…j-jinki…hhh..im—ccum…aaahhh…”.dia melenguh dan tubuhnya menegang, dia mencapai klimaks pertamanya, aku menjilatnya dengan bersih dan berjalan naik mencium bibirnya, agar ia merasakan rasa miliknya sendiri.
“Know baby..  i want you so fucking bad..”, katanya menjilat bibir ku, dammit, dia liar. Aku tersenyumd an menurunkan celana ku, aku membungkuk dan membuka kakinya, aku menjilat lobang senggamanya, agak aneh rasanya namun aku abaikan, aku hanya ingin memberikan yang terbaik baginya, dan ini yang pertama untuknya.
“Hhhmmm…aahh…ssshhh… f-faster…f-fuck Jinki!”, katanya, aku menjulurkan lidah ku, dammit, sempit sekali, aku tahu ini akan membuatnya sakit, tapi aku tidak bisa berhenti sekarang kan?

“AAAHHHH….”, dia teriak ketika aku memasukkan jariku, aku bangkit dan mencium bibirnya, menyentuh pinggulnya dengan lembut menghilangkan rasa sakitnya, dan aku memasukkan jari kedua dan ketiga, membuatnya melenguh dan mengeluarkan air mata setiap aku melakukan itu. Namun kemudian pinggulnya bergerak dna aku mengerti, aku menggerakan jariku.

“Baby… ini akan sakit, tapi kau harus tahan , karena nanti sakitnya hilang… okeh?”, kataku membelai pinggulnya, dia tersenyum . Dan kemudian aku menggantinya dengan memberku, ia berteriak kencang, pelan-pelan aku memasukan seutuhnya, dan memeluk tubuhnya.
“I love you idiot man…”, bisiknya, aku tersenyum dan mencium keningnya.” I love you too baby…”, kataku, dia menggerakan pinggulnya, aku mulai menggerakan tubuhku, dan sampai irama kami sama, dan kami melenguh mencapai orgasme masing-masing, dan kami aku koleps disampingnya.

Aku membawanya ke kamar kami dan menarik selimut, ia tertidur pulas, aku memeluknya erat, membelai pipinya dan menciumnya dengan lembut dikeningnya.
“I love you Key … good night.”, bisik ku, aku melihatnya tersenyum namun tidak berkata apapun, dia hanya memelukku dengan erat dan kami tidur, hingga esoknya aku tahu dia akan kembali ke asrama, namun tidak apa, karena ia milikku sekarang.

END

HEHEHEHEHE… gaje yah?

semoga suka semuanya, RCL dont forget!
see ya on next FF req. 🙂

Jangan lupa, peraturannya adalah hanya satu pairing yang diminta, tidak boleh lebih, karena author bingung menentukan yang mana jika kalian menulisnya mau Onkey eh tapi Minkey deh eh tapi… gak boleh kayak gini lain kali yah? thnx you, see ya 🙂

Advertisements

62 thoughts on “[Req’FF/Onkey] An idiot that i love

  1. bener kaya judulnya..
    ini dua orang sama sama idiot..
    bukan cuman jinki doang.. si key juga sih 😀
    pada sama sama ga peka ama perasaan pasangannya :v tapi abis key ninggalin jinki..
    baru pada sadar kan seberapa besar itu cintanya 😀

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s