[onkey]I’M YOUR LOVE DOCTOR-chap 1


oke..mungkin ada yang bosan dengan kehadiran saya disini..but i’m sorry okey? hmm..
haha..saya ini author onkey.. so..please,, hargain hasil saya ini.. jadi kalo ada yang bosen dengan hasil saya, ga usah di baca juga gapapa deh =,=

PS: don’t like don’t read

Title                 : I’m Your Love Doctor
Author             : Keysha feat Maitsa’
Cast                 : Onkey
Genre               : Romance
Rate                 : PG-15
Length             : sequel

========================================================================

Tap..tap..tap..
suara derap sepatu kets yang membentur-bentur lantai berbunyi, tak terlalu bergema malahan terdengar begitu samar karena ia sekarang berlari di tengah keramaian airport. Menyeret koper putih yang ada pada tangan kanan seraya terengah saat sebuah tangan besar menyeret lengannya untuk berlari lebih cepat lagi.

“Ya! Kim jonghyun! Kau mau membuatku mati kehabisan nafas eoh?!” menepis kasar tangan besar itu dari lengan kurusnya. Mata kucingnya menatap wajah seorang namja tampan berambut jabrik yang menyengir begitu lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya pada si namja cantik yang asik merengut tak jelas.

“mian key..aku hanya tak ingin kau terlambat..” menepuk-nepuk rambut legam berhighlight merah sang dongsaeng.

“Tapi ini masih jam setengah delapan hyung. Pesawatnya masih berangkat lima belas menit lagi..” semakin mengerucutkan bibir tipis itu setelah melirik sekilas pada jam tangan monol putih yang melingkar pada pergelangan tangan kiri.

“Itu bagus kan..berarti kau masih ada waktu untuk berpisah denganku dongsaeng-ah!” mencubit pipi tirus yang menggembung imut. Yeppeo! Dengan balutan kemeja kotak-kotak merah dan jeans biru dongker.

“Nee..tapi kan tak perlu menyeretku dari tempat parkir seperti itu hyung. Dasar namja pabo!” dengan seenaknya menoyor jidat jonghyun, membuat namja itu agak terjungkal kebelakang.

“Woahh..dongsaeng-ah! Kau sangat tidak sopan pada hyung-mu, dasar dongsaeng durhaka..” mengacak rambut legam itu hingga bentuknya menjadi tak beraturan. Key hanya meringis tak jelas, berusaha menghindar dari telapak tangan jonghyun yang siap meluluhlantakkan tatanan rambut yang sudah ia atur sedemikian rupa.

“Ya! Ya! Dasar namja gila! Stop it hyung..kau membuat rambutku berantakan! Aarrghh..” memundurkan badannya selangkah demi selangkah menghindari jonghyun yang tertawa keras berusaha mengacak rambut legam itu.
BRUK

“yah..stupid, don’t kidding in the airport! Errgh..” DEG! Umpatan yang begitu jelas terdengar di telinga kedua namja yang baru saja menghentikan aksinya. Key yang menabrak bahu namja itu langsung berbalik dan membungkuk berkali-kali.

“I’m sorry sir, I’m not purpose.. once again, I’m sorry..” membungkukkan lagi badannya pada si namja berjas abu semi formal yang menatapnya jengkel. Mata sabitnya di bingkai kacamata berframe putih, membuatnya terlihat..tampan. yeahh..tampan dan dingin.

“Sial..sebentar lagi waktu berangkat..” kembali mengumpat namun kali ini dalam bahasa korea. Key yang mendengar itu agak terlihat sumringah.

“Are you Korean people?” bertanya hati-hati mengingat namja ini begitu dingin dan sedikit err..apa yah? menyeramkan bagi key.

“yes I am..” menjawab singkat tanpa menolehkan pandangannya kearah key, kemudian dengan datarnya menyeret koper hitam yang ia bawa meninggalkan kakak-beradik kim tersebut.

“namja yang aneh..” gumam jonghyun mendekat pada key.

“Dan menyeramkan..” sambung key masih menatap punggung lebar itu semakin melesak kedalam kerumunan.

“Ck, sudahlah.. dongsaeng-ah..kau harus berangkat sekarang. Sampai nanti ne? semoga kau cepat sembuh. Kabari aku jika sudah sampai di korea ne??” menepuk sekali lagi kepala key, membuat namja cantik itu meringis pelan kemudian menyisir poninya yang agak tak beraturan.

“yeah my bro.. huuftt.. aku berangkat ne? bye..” melambai singkat sebelum ia menyeret koper putihnya menjauh.

“Nee..hati-hati..jangan lupa kabari aku key!” sedikit berteriak setelah key agak jauh beberapa meter darinya. Tapi key hanya berdecak dan melambai tinggi-tinggi tanpa membalikkan badannya untuk menatap sang hyung.

========================================================================

Key melongokkan kepalanya ke kanan dan kekiri, berusaha menemukan nomor tempat duduknya. Sedikit lama sih mengingat begitu banyak orang yang ada di dalam sini. Berjalan menyusuri barisan tempat duduk dan melihat nomor yang tertera.

“Gotcha..!” menepuk pelan sandaran kursi bernomor K9669. Menghela nafas lega begitu memastikan nomor kursinya dengan yang tertera pada tiket sama, hendak menghempaskan diri duduk disana namun sebuah tangan besar menepuk pundaknya.

“Sorry, I think this is my chair right?” eoh? Suara yang terdengar sama dengan namja menyebalkan yang ia tabrak beberapa saat yang lalu. Key mendongakkan kepalanya, menatap siapa yang menepuk bahunya barusan.

“yah! Do!” membulatkan kedua mata kucingnya saat mendapati namja menyebalkan yang ia tabrak di airport tadi. Namja itu melengos pelan, menatap kesal pada key yang ikut membentuk bibirnya menjadi sebuah ‘O’ besar.

“Nee..sudahlah..sebaiknya kau menyingkir dari sini karena ini kursiku..” mengibaskan tangannya pelan seolah mengusir key dari sana. Key memicing tajam pada namja itu.

“What?! This is my chair ara?!” agak memelankan nada bentakannya pada si namja begitu merasakan puluhan pasang mata menatap mereka berdua sekarang.

“Ini kursiku dan lebih baik kau mencari kursimu sendiri karena sekarang semua orang menatap kearah kita..” mendesis tajam pada key yang semakin geram.

“Ani..ini kursiku namja gila..” ikut mendesis di bantu sorot mata yang memang tajam dan dibingkai eyeliner hitam.

“Ini kursiku!” agak sedikit mendorong bahu key hingga namja cantik itu semakin memicing.

“Ya! Ini kursiku. Kau gila atau kenapa sih?! Kajja! Kajja! Pergi kau namja gila..” menoyor jidat sang namja membuat kacamatnya agak turun dari hidung bangir itu. Yeahh..kebiasaan buruk yang agak sulit untuk di hilangkan dari key, menoyor jidat orang lain sembarangan.

“aigoo! Kau yang gila..ini kursiku dan sebaiknya kau pergi dari sini se-ka-rang-ju-ga!” menekankan per-suku kata pada kata ‘sekarang juga’ . ikut memicingkan mata sabitnya menatap sengit kedalam mata kucing key.

“Eum..excuse me sir..can I help you?” seorang pramugari tiba-tiba saja datang di tengah-tengah konflik kecil dari kedua namja ini. Key menghela nafas sejenak, masih tak melepaskan picingannya dari mata sabit itu.

“yes,,he said this is his chair, but  I think he was mad because I’m sure this is my chair..”  memelankan suaranya, agak menanggung malu sih karena puluhan pasang mata masih menatap mereka berdua.

“Oh yeahh?? This is my chair ara?! Go away and let me sit in here..” tak ingin kalah namja itu ikut mengeluarkan suaranya dengan berdesis. Menarik ujung kacamatanya ke tempat semula.

“Ehmm..ok, sir can I look your ticket please, I wanna check your chair number please..” tersenyum tipis pada namja itu. Key ikut menatap si namja yang sekarang merogoh saku jasnya dan mengeluarkan selembar tiket tipis. Sang pramugari memperhatikan sejenak tiket di tangannya kemudian beralih pada nomor tempat duduk yang ada di sebelahnya.

“ok, I’m sorry sir, but your chair number is K9699, not K9669.” Menyerahkan kembali tiketnya pada si namja yang membulatkan mata sabitnya sementara key terkekeh, tersenyum penuh kemenangan seolah meledek. Namja itu memperhatikan nomor tempat duduknya dan sekilas mencocokkan pada nomor kursi key. Yah..memang benar karena sekarang namja itu melengos agak keras.

“Ok, mianhae..aku yang salah..” berucap dingin tanpa menatap key, malah asik membenarkan letak kerah jasnya yang agakberantakan.  Key mencibir meremehkan, menatap jengkel pada si namja.

“Can I show your chair sir?” memecah ketegangan antara key dan si namja. Si namja hanya berdehem pelan kemudian mengangguk, dan tanpa basa-basi lagi langsung pergi manjauh dari key yang melengos.

“Bodoh..” bergumam pelan seraya menjatuhkan diri pada kursi, menyandarkan punggung sempitnya dan menarik nafas panjang. Memakai sabuk pengaman karena pesawat akan lepas landas sebentar lagi. Menumpuk kaki kanannya dengan kaki kiri kemudian mengeluarkan sebuah i-pod pink dari dalam saku kemeja. Menyumpal kedua telinganya untuk mendengarkan lagu yang di putar dan terhubung dengan kabel tipis itu.

========================================================================

“Hyung!” seorang namja cilik berpipi gembul dengan perut buncit yang bergoyang karena berlari kecil pada seorang namja cantik berambut almond panjang sebahu. Namja cantik itu tersenyum tipis, berjongkok dan merentangkan kedua tangannya siap menyambut si namja cilik yang lari kearahnya. Kemeja putihnya agak mengkerut dengan name tag bertuliskan huruf capital ‘LEE TAEMIN’.
Hup.
memeluk tubuh mungil nan gempal yang berlari ke arahnya. Mengelus pipi chubby itu sejenak sebelum menatap manik matanya yang berkilat jenaka.

“Hyung..apa onew hyung akan pulang sekalang?” menangkup pipi tirus taemin dan mencubitnya pelan, memainkan jemari mungil itu pada permukaan pori kulitnya yang halus.

“Nee yoogeun-ah..” mengangguk cepat, mengecup ppi gembil yang bergiyang tak jelas itu.

“Hahaha..apa onew hyung akan mengajakku bermain kuda-kudaan lagi??” terkikik kecil saat jemari kurus taemin menggelitik perut buncitnya, wajah yang begitu menggemaskan!

“Nee yoogeun-ah..” seperti di-replay perkataan sang namja cantik yang mengucapkan kalimat dan nada yang sama seperti sebelumnya.

“Kapan onew hyung akan sampai? Aku ingin cepat bertemu dengannya hyung!!” membulatkan kedua mata indah itu, menciptakan puppy eyes yang begitu imut. Membuat namja cantik di depannya tak tahan untuk tidak mencubit hidung bangir si namja cilik bernama yoogeun.

“setelah nae dongsaengie pergi makan dan tidur siang..otte??” mengelus rambut hitam lembut milik yoogeun yang hanya tertawa kecil. Menyengir lebar memeperlihatkan gigi susu putih kecil yang masih jarang. Mengangguk cepat kemudian mengecup ujung hidung mancung taemin sebelum akhirnya berlari kecil kedalam rumah. Meninggalkan taemin yang terkekeh kecil menatap adik bungsunya itu bertingkah begitu manis dan menggemaskan. Bangkit dari jongkok memainkan jemari kurusnya untuk menyisir poni almond yang agak turun menutupi sebelah matanya, menarik ujung-ujung bibir tipis itu membentuk seulas senyum. Sebentar mematut diri pada kaca jendela halaman belakang yang memantulkan banyangan dirinya. Yeppeo!

Drrttt..drrtt…
Merasakan ponselnya bergetar, menghentikan sejenak langkahnya dan merogoh saku skin tight jeans yang ia kenakan. Mengeluarkan sebuah ponsel merah metalik dengan layar berkedip menampilkan sebuah nama yang berhasil membuat namja cantik itu tersenyum begitu lebar. Pik. Menekan tombol virtual hijau pada layarnya dan sejurus kemudian benda itu telah bertengger manis menempel pada telinga taemin.

“ne hyung?” menyandarkan punggung sempitnya pada tembok terdekat yang ada di sekitarnya. Menahan tubuh kurus itu untuk tetap berdiri selagi menetrima telepon dari suara bass di seberang line sana.

“Anneyong Minnie..” suara bass yang begitu membuat namja cantik ini semakin sumringah dan melebarkan senyumnya. Membuat deretan gigi putih yang rapi itu terlihat sedikit.

“Anneyong minho hyung..” sedikit terengah karena entah sejak kapan namja cantik ini menahan nafasnya. Err..aneh, selalu seperti itu dengan debaran tak menentu dari dalam rongga dadanya.

“Emm..bagaimana kabarmu?” oh..ayolah! dan hanya sebuah kalimat apa kabar yang keluar dan terdengar dari speaker itu? Hanya kalimat itu setelah dua jam yang lalu mereka bertemu di namsan? Bukankah itu pertanyaan konyol yang pasti ia tahu sendiri apa jawabannya.

“kau konyol hyung..tentu saja aku baik, kita kan baru bertemu dua jam lalu di namsan. Masa kau lupa kalau aku sehat-sehat saja? Haha” terkekeh kecil, menutup bibir mungil itu dengan punggung tangannya. Apakah itu jawaban yang bagus untuk menjawab pertanyaan macam tadi?

“Yeah..haha..who knows Minnie-ah..” ikut terkekeh di seberang sana, membuat bibir tipi situ mengerucut kedepan.

“Jadi maksudmu kau ingin aku sakit begitu hyung?” menyipitkan matanya dalam diam, menunggu suara di line telepon kembali terdengar.

“Ani.ani..tidak begitu Minnie-ah. Aku kan hanya bertanya, kau itu sensitive sekali sih..hufftt”

“yah..kau tak suka kalau aku sensitife begitu? Sudahlah, sebaiknya jangan merusak moodku yang sedang bagus karena kedatangan onew hyung..” menempatkan sebelah tangannya didepan dada seraya menghela nafas panjang.

“Eh? Maksudmu onew hyung yang waktu itu??”

“nee..onew hyung yang waktu itu memukulmu karena kau mengambil lollipopku..haha..” tertawa kecil kemudian melanjutkan langkahnya menuju meja makan dan membuka kulkas. Mengeluarkan sebotol besar susu pisang dingin dari dalam kulkas kemudian menunangkannya kedalam mug bergambar kodok.

“Omona! Kau tahu..aku takut sekali saat hyungmu itu memukulku. Aku tak pernah bertemu namja macam dia. Haha..”

“Haha..sekarang hyung-ku akan pulang untuk menemui pasiennya..” mengenggak susu pisang dalam gelas hingga tinggal tersisa setengah.

“Ohh..tak pernah kusangka preman seperti dia bisa menjadi seorang dokter spesialis jantung..haha..baiklah, apa mau membuat pesat penyambutan?” menawarkan dengan sedikit nada terkekeh. Taemin tersenyum tipis, agak mendorong gelasnya ke tengah meja kemudian duduk bersandar pada kursi makan.

“Nee..kau datang saja kerumahku sejam lagi.. kita siapkan semuanya otte??” mengetukkan jemarinya pada pinggiran meja makan sebelum kembali sumringah setelah mendapat kata ‘ne’ dari line di seberang sana.

“Good..kalau begitu sampai jumpa sejam lagi hyung.. anneyong..” pik. Memutus sambungan teleponnya dan menaruh begitu saja ponsel tipisnya di atas meja makan. Tersenyum begitu lebar saat merasakan jantungnya kembali bergemuruh tak jelas. Sesuatu yang membuatnya merasa lebih baik dengan keadaan seperti ini.

=======================================================================

tuk..tuk..tuk..
Mengetukkan ujung-ujung jemari lentik itu pada sandaran tangan, agak sedikit membenarkan letak selimut yang melapisi separuh tubuh rampingnya. Kepalanya bergoyang pelan kekanan dan kekiri, mengikuti irama yang masih asik berdengung di kedua telinganya. Poni panjangnya di jepit ke atas membuat wajah cantik itu semakin terlihat jelas. Melayangkan tatapan kucingnya keluar jendela, mengamati gumpalan-gumpalan awan putih tipis yang tengah ia lewati sekarang. Err..sedikit membayangkan kalau itu adalah gula kapas yang sering ia konsumsi sepulang kuliah. Yeah..manis. berusaha memejamkan kedua mata kucingnya untuk menutup sejenak.

“ergghh..” mengerang pelan saat merasakan ada sesuatu yang memukul-mukul rongga dadanya.
DEG..DEG..DEG..

“aarrgghh..” meremas kemeja bagian depannya. Wajahnya mengkerut, bahkan peluh mulai bermunculan dari pori kulitnya. Menekan bagian dadanya berusaha melenyapkan sakit yang semakin menjadi.

DEG..DEG..DEG…
Berpacu cepat seolah itu akan meledakkan dirinya sekarang juga. Buru-buru merogoh dalam-dalam tas selempang putih yang tergelatak di sampingnya. Mengacak semua yang ada di dalamnya sehingga sedikit menjadi tidak beraturan.

DEG..DEG..DEG..
masih terus bergemuruh keras, memukul-mukul dinding rongga dadanya.

“Aarghh..shit! kemana sih obat sialan itu?!” berdesis dengan selingan rintihan yang semakin keluar dari bibir tipis soft pink itu. Menumpahkan semua isi tasnya ke bangku sebelah, berharap apa yang ia cari itu ada.

“Errgghh..tak ada..aahh..appo..” semakin menekan dadanya saat apa yang ia cari itu tak ada. Apa harapan hidupnya akan hilang?

“uhh..umma..appoyo..” meringis dengan nada yang bergetar karena sekarang bulir-bulir air matanya mulai berjatuhan dari ekor mata kucing yang terpejam. Terkatup rapat-rapat seolah itu membantunya menghilangkan sakit yang semakin menjadi.

“Eh..sir, are you ok?” seorang pramugari menepuk pelan bahu sempit yang bergetar hebat. Key kembali meringis seraya mengangguk cepat. Pramugari itu tampak begitu cemas karena key semakin mengerang dan merintih kesakitan. Terlihat raut wajahnya yang begitu panic dan sejurus kemudian berlari kecil ke kabin lain.

DEG..DEG..DEG..

“Uhh..appo..huks..” bahkan untuk mneyeka ir mata yang jatuh pun tak kuat. Hanya bisa mengeluarkan rintihan-rintihan itu dan menekan kuat dadanya.

Tap..

sesuatu yang hangat menyentuh bahu sempit itu. Bukan tangan milik pramugari tadi. Hanya sebuah tangan besar milik namja tampan dengan jas abu semi formal yang memasang raut serius.

“I need one room now..” berkata datar pada si pramugari yang mengangguk, membiarkan si namja membopong tubuh ramping itu dan mengikuti langkah pramugari menuju ruangan apapun yang kosong yang bisa ia jadikan tempat untuk mengobati sakit itu.

=====================================================================

“Eunghh..” mengerang pelan, perlahan membuka mata kucingnya yang beberapa waktu lalu tertutup. Mengerjap pelan berusaha menjernihkan penglihatannya yang agak berkunang. Menyentuh pelan kepalanya yang terasa sedikit pusing. Deg..deg..deg.. sudah berdebar normal. Apa ia masih hidup? Merasakan sesuatu menancap pada punggung tangannya. Menolehkan pandang sebentar dan samar-samar melihat jarum infuse yang sekarang mengalirkan cairan being kedalam tubuhnya.

“Eh?” mengedarkan pandang kesekeliling dengan penuh keheranan.

“Sudah bangun eoh?” suara yang begitu dingin dan datar terdengar menghampiri gendang telinga key. Key menolehkan pandangannya cepat ke ambang pintu. Aigoo! Itu..namja aneh menyebalkan yang ia temui tadi di pesawat. Lalu? Lalu? Apa yang ia lakukan disini? Kenapa ia terbaring di sofa? Kenapa hanya ada mereka berdua di ruangan ini? Kenapa? Kenapa? Dan hanya sebuah kata Tanya kenapa yang berputar memenuhi isi kepalanya.

“Kau? Apa yang kau lakukan disini eoh?” sedikit meninggikan nada bicaranya walaupun itu terdengar serak.

“Mengobatimu tentunya..” berkata datar tanpa memandang key barang sekali. Sibuk menuangkan air mineral kedalam gelas. Berjalan mendekati key kemudian duduk di sampingnya.

“Uh..kenapa harus kau yang menolongku..” berkata ketus, memalingkan wajah dari si namja yang menatapnya dingin.

“Sudah bagus aku mau menolongmu namja aneh.. ck, lebih baik kau minum sekarang kemudian segera bersiap karena sebentar lagi kita akan sampai..” meletakkan gelas berisi air mineral itu di atas meja kecil di sisi sofa. Hendak beranjak berdiri namun tangan kurus key mencegahnya.

“Eh?” menatap heran dengan mata sabit yang membulat tertuju pada lengannya sendiri yang di pegang oleh tangan kurus key.

“Gomawo..err..”

“Onew..” menyebutkan namanya seraya menepis halus tangan key dari lengannya.

“Gomawo onew-ssi..” bergumam pelan walapun namja bernama onew itu sekarang berbalik, berjalan menjauh kemudian menghilang di balik pintu.

TBC

80 thoughts on “[onkey]I’M YOUR LOVE DOCTOR-chap 1

  1. ih si jinki jutek betul
    jinki dokter,key ntar jadi pasien nya.. Kalau gitu key punya penyakit jantung donk

    jonghyun ngapain pake nyeret2 key,ngacak2 rambutnya lagi udh tau key ga suka di gituin..

  2. Jinki dokter dan Key pasiennya,,,, kayaknya seru nieh hehhehehhehehhhe ^_^
    Jinki~ah,,, aku juga sakit jantung nieh… ^_^
    Jantungq selalu berdegub kencang saat melihatmu hehhehhehehhehhehehehhe

  3. dohh pertemuan pertama yg kurang berkesan hahaha, gimana selanjutnya? :O dohh knp onew nya dingin bgt

  4. key punya punya penyakit jantung yahh O.o
    dan jinki dokter spesialis jantung huwaaaaaa
    feeling dah ga enak neh.

  5. waduh gue paling suka klo udah ke gni berantem berantem dan berantem yehaaaaaaaa….
    key sakit jantung kah?? aigoooo
    onew jadi pria dingin lg yeeeeeyyyyyy

  6. Pertemuan yg aneh -_-
    Si Key kenapa thor ?
    Sakit apah ?
    Jangan bilang nanti Onew bakaln jadi dokternya si Key .

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s