[2Min] When The Love Fall’s


Foreword : anyone miss me?/plakk

Hahaha aku kaaangeeen map yah aku gamuncul *gaada yang kangen woy!! xD* maklum aku tipe org yang angin2an kkk~

Akhir-akhir ini aku sibuk ngurusin masuk SMA, jadi kayaknya bakal jarang post juga, tp aku tetep usahain untuk bikin😀

Oh iyah sebelumnya maw minta map nih, aku bikinnya pair 2min terus, habis klo pair lain aku gaada feel ._. mian mian *bow tp nanti aku coba bikin pair lain😀

Dan ini sangat gajee haha aku pengen bikin switcgender tp kenapa tangan ini selalu nulis ‘hyung’ bukan ‘oppa’. Kenapa tulis ‘taemin’ bukan ‘taeyeon’ dan kenapa sulit sekali untk menulis ‘yeoja cantik’ dan jadi ‘namja cantik’ arrggghhhh karna semua kepaboan saya mungkinff ini jadi aneh bin gaje, mohon dimaklum, *bowed

Ff ini terinspirasi setelah ngobrol sama temen di angkot, jd jelas aja klo ini ga jelas (?) haha check this lah

Here!

By : Rinhyon

 

When The Love Fall’s

.

AKU menatap pria  paruhbaya dihadapanku dengan tertunduk takut, dengan segala sesuatu yang berkecamuk di dalam pikiranku & perasaan yang campur aduk di dalam hatiku. Tapi aku sudah memutuskannya, ini.. pilihanku.

“apa yang bisa kau berikan untuk taemin..”

Pertanyaan klise yang biasa dilontarkan oleh seorang calon mertua kan? Ck~ kulihat disebelahku, taemin hanya menunduk menutupi wajah merahnya, membuatku sedikit terhibur dan tanpa sadar sebuah senyuman melengkung di bibirku membentuk sebuah keberanian baru.

“aku.. mencintainya aboenim, aku bisa mengusahakan apa yan—“ kata-kataku terhenti ketika merasakan sebuah benda menghantam wajahku

“KAU PIKIR KALIAN BISA HIDUP HANYA DENGAN CINTA?!” aku mengusap ujung bibirku yang berdarah, tetap menunduk, dengan taemin di sebelahku yang berusaha merangkulku. Aku menenggakkan kepalaku dan menatap pria bermata sipit dihadapanku itu dengan sungguh-sungguh, aku berharap dia mengerti tatapan mataku. Aku serius dengan perkataanku & aku siap bertanggung jawab!

“taemin, masuk ke kemarmu nak. Dan kau minho sebaiknya kau keluar, aku terlalu kaget untuk menerima semua ini” namja paruhbaya dihadapanku itu telihat merengkuh dadanya kesakitan, masih dengan nafas yang tersengal-sengal menahan amarah, dengan istrinya yang daritadi berusaha menenangkannya “sudahlah yeobo..”

“aku serius dengan perkataanku tadi, tuan Lee. Tentang taemin, dan anakku..” aku beranjak bangun dan menatap namja paruhbaya dihadapanku yang menatapku dengan wajah memerah karna geram  “aku akan kembali besok” aku membalikkan badanku dan pergi meninggalkannya yang masi menggerutu di belakang.

“YAA ! KAU ! AISSH~–“

.

~When The Love Fall’s ~

.

AKU Choi Minho, duapuluh tahun. Mahasiswa semester 4 Konkuk University Dan namja yang tengah kuperjuangkan tadi namjachinguku, Lee Taemin, delapanbelas tahun. Murid tingkat akhir Cheongdam High School. Satu yang sedang kuperjuangkan saat ini adalah restu dari orang tuanya.

Mungkin yang ada di pandangan mereka saat ini tentangku hanyalah seorang mahasiswa pedo brengsek yang telah menghamili anaknya. Yah sekilas memang terlihat bahwa aku sangat brengsek kan? Tapi aku melakukan semuanya tanpa paksaan dan berlandaskan pada satu perasaan, aku mencintainya.

“gwaenchanayo hyung?” aku menggenggam tangannya yang ada di pipiku dan tersenyum manis, errgh Lee Taeminku..

Setelah adu mulut yang lumayan sengit tadi aku memutuskan untuk keluar, sebelum melangkah lebih jauh taemin memanggilku dari jendela kamarnya yang memang berada di lantai satu. Dan tanpa sepengetahuan orangtuanya kini aku berdiri di hadapan taemin dengan windowsiil sebagai penghalang.

“gwaenchanayo..” aku mengusap pipinya yang memerah karna kedinginan, seoul sudah masuk musim salju saat ini. kulihat dia tersenyum dan menatapku lekat.

“kau terlihat lebih tampan hyung!” senyumnya mengembang dengan tangannya yang menyusuri wajahku, aku hanya tersenyum memejamkan mataku menikmati belaian tangannya di wajahku.

“tentu saja.. aku kan mau jadi appa” ucapku sedikit menggodanya dan bingo! Wajahnya memerah

Memang, tampilanku dulu sedikit err—berantakan, dengan rambut panjang berwarna coklat dan baju asal, tapi kini berbalik 180derajat, aku memotong rambutku dan mulai memperbaiki penampilanku yah.. ini semua demi mendapat restu dari orangtua Lee Taemin, menunjukan bahwa aku serius terhadap anaknya. Dan membentuk citra baik dihadapan mereka. Menunjukan bahwa aku sudah berubah dan bisa serius. Aku bukanlah seorang mahasiswa pedo perv brengsek yang tidak bertanggung jawab.

“kau masuklah.. disini dingin, pakai baju yang tebal, aku tidak mau kau ataupun uri aegya kenapa-napa” aku mengusap rambutnya menyuruhnya untuk masuk, dia menatapku sebentar lalu tersenyum manis mengangguk dan berjalan masuk mengambil sesuatu kemudian menyerahkannya padaku.

“hyung juga gunakan ini.. hyung juga tidak boleh sakit~” ucapnya sambil menyerahkan jacket berwarna hitam miliku yang tempo hari kupinjamkan padanya.

Aku tersenyum menerimanya dan mengacak-acak rambutnya “uri Minnie sudah kelihatan seperti umma eoh? haha”

“hyuuung~!” wajahnya memerah, dia menangkupkan kedua tangannya di wajahnya, aku menarik kedua tangannya dan menariknya mendekat mencium keningnya “jaga uri aegya ne? besok aku pasti kembali lagi” ucapku sambil menempelkan kening kami

“eung ! hyung hati-hati nee” ucapnya mencium keningku,, bergantian.

Aku mengangguk tersenyum lalu berjalan keluar dari rumahnya, meraih sepeda motorku, aku menengok ke arahnya yang masi terdiam di jendela kamarnya dengan jaket dan selimut tebal di tubuhnya sambil sesekali mengelus perutnya dan menengok ke arahku. hah rasanya tak ingin aku meninggalkan mereka berdua disana.

.

~^^~

.

NAMAKU Lee Taemin. Delapanbelas tahun. Siswa tingkat akhir Cheongdam High School. Dan namja tampan tadi itu.. namjachinguku, namanya Choi Minho, duapuluh tahun. Mahasiswa semester empat di Konkuk University. Dan yang sedang kami perjuangkan saat ini adalah mendapat restu dari orang tuaku.

Jujur saja, awalnya aku mengira dia hanyalah seorang mahasiswa pedo perv brengsek yang tidak bertanggung jawab.Yah, tidak sepenuhnya brengsek sih, karna aku melakukannya tanpa paksaan. Dan sialnya, aku mencintainya. Bahkan aku masih ingat bagaimana dulu reaksinya saat kuberitahu suatu hal yang penting dalam hubungan kami berdua.

Saat itu aku mengajaknya bertemu di café dekat sekolahku, dan aku memutuskan untuk memberitahunya sesuatu..

“aku.. hamil hyung” aku tertunduk dihadapannya, Minho. Entahlah aku tidak mau melihat ekspresinya saat ini, aku seolah tidak siap.. aku tidak siap untuk ditolak.

Hening.. tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua, kulihat dia mulai beranjak bangun dan pergi. Berlari sejauh mungkin.

Sudah kuduga.. dia memang namja brengsek. Aku menatap kosong gelas dihadapanku, dan tanpa kusadari air mataku jatuh

1jam..

2jam..

Aku menunggunya, berharap dia kembali mengucapkan sepatah kata untukku, berharap ia meminta maaf padaku, bilang bahwa ia akan bertanggung jawab, tapi kelihatannya sia-sia, aku membuang banyak waktuku.

Dengan cepat aku menyambar tas yang ada di sampingku dan bangun, dengan perasaan sakit luar biasa aku meninggalkan café itu. sebelum aku sempat keluar ruangan aku dikejutkan dengan sebuket bunga dihadapanku

“chukkae~ hah chukkae Lee Taemin-ssi” aku menyingkirkan bucket bunga itu dari hadapanku melihat wajahnya yang penuh keringat dan nafas tersengal-sengal, dengan senyum yang sangat lebar. Tersirat jelas kebahagiaan dari ekspresinya. aku menenggakkan wajahku menahan air mataku jatuh, dia kemudian memelukku erat.

 kudengar samar-samar dia mengucapkan ‘gomawo’ di telingaku. Refleks aku menangis, entah tangis bahagia, kesal ataupun takut, yah.. aku takut ditinggalkan namja ini.

“kupikir hyung pergi meninggalkanku, kupikir hyung tidak akan kembali” aku memukul mukul pelan tubuhnya yang merengkuhku erat

“mianhae taemin~ah” dia mengelus perlahan rambutku, tidak peduli kini semua orang yang ada di café memandang kami kemudian mencium bibirku sekilas “aku hanya terlalu senang.. hingga bingung apa yang harus aku lakukan” dia menempelkan hidung kami, bisa kurasakan deru nafasnya yang menyapu pori-pori kulit wajahku

“tentu saja aku senang, taemin.. tadi aku mencari kado yang pas untukmu, tapi aku tidak menemukannya, hingga akhirnya aku membelikanmu ini..” ucapnya mengangkat sebuket bunga lily putih sambil menggaruk tengkuknya kikuk, aku hanya tersenyum simpul

“pabo..”

Kisah cinta yang bodoh eum?

Dua orang namja polos yang baru merasakan cinta.

.

~^^~

.

Hari ini Minho janji untuk menjemput Taemin di sekolahnya, Ya, meskipun Taemin sudah lulus dia masi harus menyiapkan beberapa berkas untuk masuk Universitas. Mereka berencana membujuk orang tua Taemin sekali lagi. dan jika tidak direstui juga maka..

“jadi kau yang bernama taemin eh?” seorang yeoja cantik dengan seragam yang berbeda mendatangi Taemin yang sedang terdiam menunggu Minho di gerbang sekolah. Tanpa menunggu jawaban Taemin yeoja itu menarik lengan taemin menuju belakang sekolah, menyeretnya kasar.

“siapa kau? Apa maumu hah lepaskan!” taemin berusaha memberontak melepaskan genggaman kuat yeoja cantik dihadapannya dengan kasar

“ck~ aku tidak menyangka setelah dicampakkan olehku selera minho menjadi buruk seperti ini” yeoja cantik itu mengangkat dagu taemin dan menelisik setiap inci wajah taemin

“lepas!” taemin menyingkirikan tangan yeoja itu kasar. Taemin hendak pergi. Ia sedang malas berkelahi hari ini. “kau berani denganku ?” yeoja cantik itu mendorong taemin kasar hingga taemin jatuh kebawah dengan posisi tengkurap. Yeoja cantik itu mulai menjambak rambut taemin dan menampar pipi taemin. bisa taemin rasakan perutnya sakit, entahlah tamparan itu bahkan tidak seberapa dengan rasa sakit yang ada di perutnya.

“APA YANG KAU LAKUKAN HAH?!” suara berat seorang namja menghentikan aktifitas yeoja cantik-yang bisa dibilang- psyco itu.

“kau sudah datang eoh..” yeoja cantik itu melepaskan tangannya dari taemin dan berjalan menghampiri minho, sementara taemin masih meringkuk kesakitan memeluk perutnya dan kini darah sudah mengalir dibawahnya.

Minho tidak memperdulikan yeoja cantik yang mengaku-sebagai mantannya itu, dia langsung menghampiri taemin dan memeluknya erat “selamat bersenang-senang minho-ssi, namjachingumu begitu lemah cih~” yeoja cantik itu pergi sambil tertawa-seperti seorang psyco- meninggalkan minho yang memeluk taemin erat dan menatapnya geram. Minho langsung mengalihkan perhatiannya pada taemin yang menggenggam lengannya kuat, menahan sakit di perutnya.

“gwaenchanayo taemin? taemin!!” minho menepuk-nepuk pipi Taemin yang mulai menutup matanya

Sepertinya, taemin sudah tidak bisa menahan rasa sakit di perutnya..

.

~^^~

.

“taemin..”

“irreona..”

“taemin..”

Sayup-sayup kudengar suara orang-orang yang memanggilku, perlahan aku membuka mataku menatap ruangan putih dengan bau obat yang menusuk hidung, aku melihat beberapa orang melihatku dengan wajah khawatir

Umma?

Appa?

“taemin~aah akhirnya kamu bangun sayaang” umma memelukku erat, dengan berurai air mata sementara appa kulihat mulai menangis, sebenarnya ada apa ini? ah! Aku teringat sesuatu uri aegya..

“umma, dimana minho hyung?” tanyaku langsung, kulihat umma menggelengkan kepalanya dan appa memalingkan wajahnya

“dia sudah appa masukan penjara tenang saja” appa berbicara dengan dingin menatap ke arahku

“apa maksud appa? Minho hyung ah aegya, uri aegya” entah apa yang merasukiku aku mulai meracau tidak jelas, pandanganku mengabur karna air mata yang menggenang di pelupuk mataku, aku mengusap perutku kasar seolah mencari dimana keberadaan anakku, aku seperti orang bodoh.

“umma mohon lupakan dia taemin.. dia hanya namja brengsek yang sudah menghamilimu & membunuh anaknya!”ucapan umma membuatku tersentak, apa? Membunuh? Aegya.. uri aegya.. bukan, bukan minho hyung yang membunuhnya, tapi yeoja cantik anii yeoja psyco itu

“umma aku ingin bertemu minho hyung..” aku beranjak bangun dan melepas infusanku paksa, umma berlari mencegahku, namun aku tak peduli dan terus berlari meskipun sedikit rasa sakit masi kurasakan di sekitar perutku, tapi aku tidak peduli.

Aku menyetop taksi dan segera masuk, meminta tolong pada supir taksi itu mempercepat lajunya, ia sedikit terheran melihatku yang masi menggunakan baju rumah sakit. Pikiranku berputar, pandanganku mengabur & perasaanku campur aduk, minho hyung.. aku berusaha menahan tangisanku hingga akhirnya taksi itu berenti. Dengan secepat kilat aku berlari keluar, masuk ke kantor polisi dan mencari sesosok jangkung yang sangat kukenali. Minho hyung..

Aku mengedarkan pandanganku dan terhenti ketika melihatnya sedang duduk tertunduk dihadapan petugas kepolisian yang sedang menginterogasinya.

Aku berlari menghampirinya dan berlutut dihadapannya, bisa kulihat wajahnya yang menegang

“mianhae.. mianhae minho hyung, mianhae..” aku sudah tidak bisa lagi menahan air mataku, aku menangis memeluk kakinya, dia yang kaget langsung turun dari kursinya dan memelukku

“taemin.. uljjima.. waeyo? Kau sudah tidak apa-apa?” Minho hyung memelukku erat

“ageya hyung.. aegya.. anak kita..” aku menangis terisak mengeluarkan seluruh emosiku sambil menggenggam lengannya kuat-kuat

“uljjima Taemin.. uljjima..” minho hyung berusaha menenangkanku meski aku tahu dia juga tidak tenang, suaranya bergetar dan kurasakan pundakku basah

“anak kita hyung.. aegya.. dia sudah tidak ada di perutku lagi.. dia.. dia.. dia sudah pergi meninggalkan kita!” ada rasa sakit disini, rasanya mencelos, bahkan lebih sakit dari yang kurasakan di perutku saat ini.

Aku ingin berlari, minho hyung, bawa aku lari, bawa aku meninggalkan kehidupan yang seperti ini..

.

~^^~

.

Aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukan pukul 01.30a.m sambil sesekali melirik ke lorong stasiun yang sepi. Terlambat setengah jam. Apa ia akan datang?

Usai kejadian tempo hari Taemin menangis memintaku membawanya lari. Aku tidak yakin dengan permintaanya. Sebisa mungkin aku ingin melewati jalan yang baik.  Tapi melihatnya yang menangis dan begitu menderita membuatku tidak tega. Akhirnya kamipun memilih jalan terlarang.

“hyung!” lenguhan manja itu menyadarkanku, aku menengok mendapati dirinya tengah berlari sambil membawa tas besar  di lengannya. Dengan nafas tersengal-sengal dia tersenyum menghampiriku “mianhae aku telat!” jawabnya penuh semangat. Aku tersenyum mengacak rambutnya “gwaenchanayo~ kkajja!” aku menarik lengannya menuju kereta malam yang akan membawa kami pergi.

“kita mau kemana hyung..?” taemin menyandarkan kepalanya di bahuku saat kami sudah berada di dalam kereta, dia menggenggam lenganku erat, seolah takut aku akan menghilang.

“ke busan..” ucapku sambil mengecup keningnya, aku melihat ke arah jendela yang menampakan suasana malam yang gelap. Pikiranku melayang “apa kau yakin taemin?” tanyaku sambil mengelus rambutnya. Hanya dengungan yang menandakan ia yakin. “tapi nanti kau tidak bisa hidup seenak di seoul.. gwaenchana?” aku menyejajarkan wajahku menatap manic matanya yang berbinar

“gwaenchana.. asal dengan hyung gwaenchana” ucapnya kembali merebahkan kepalanya di bahuku.

“tidak bisa nonton tv?”

“gwaenchana..”

“tidak ada AC?”

“gwaenchana”

“tidak bisa minum susu pisang?

“hyuuung~!”

“ahahahah ne ne untuk yang terakhir aku bercanda chagiii~” aku mengacak rambutnya, ah~ memang dasar uri taeminniee!

“selama hyung ada di sampingku aku siap melewati semuanya” taemin menatap wajahku serius, aku mengangguk & tersenyum memeluknya dan menyandarkan kepalanya untuk tertidur di bahuku.

Masih ada 4jam perjalanan menuju Busan.

~

KULANGKAHKAN kakiku ke sebuah gedung yang tinggi kokoh disana, taemin mengerjapkan matanya tidak mengerti, aku menggenggam tangannya dan membawa masuk ke dalam. Only one. Me, You & the Priest.

Sumpah janji setia kami ikrarkan, ini yang menjadi titik awal, dari semua aral melintang kehidupan baru kami yang akan kami hadapi..

.

~^^~

.

“kenapa harus sembunyi taemin~ah?” tanya minho hyung saat aku sedang ganti baju di balik lemari, maklum rumah baruku ini sangat sederhana.hanya terdiri dari dapur, ruang tengah, satu kamar tidur dan kamar mandi.

“jangan lihat atau hyung kupukul” ancamku sambil mempercepat mengenakan piyamaku, errgh aku malu! Sebnarnya bisa saja aku kembali ke kamar mandi tapi aku lupa bawa baju tadi. Terlebih minho hyung tidak henti-henti bolak-balik di rumah ini ._.

“kenapa harus malu sih? Kita kan sudah sering mel—“

“aaaaa jangan ucapkan!” aku menutup telingaku lalu berlari menjatuhkan diriku di tempat tidur.

“k-kita seperti pengantin baru yah” minho tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wajahku memerah, hah Minho hyung!!

“eum yah err ah sudah ah hyung aku mau tidur” aku mencoba mengalihkan perhatiannya dan memejamkan, mata aku gugup!! menghindari lagi kontak mata dengan si namja tampan bermata besar ini.

Tubuhku menegang saat kurasakan sebuah tangan melingkar di pinggangku dan deru nafas hangat kurasakan di tengkukku.

“chagia~”

“mm”

“saranghae”

Aku membuka mataku dan membalikan tubuhku menatap namja tampan yang kini sedang mendekapku sambil memejamkan matanya “na do hyung” aku mengecup bibirnya sekilas. hihi berusaha kau tutupi pun aku bisa melihat senyummu hyung!

“jumuseyo”

.

~^^~

.

KURAPIHKAN kerah bajuku dan menatap kaca di hadapanku, setelah rapi aku berjalan keluar kamar. Di ruang tengah aku melihat taemin sudah siap dengan sarapan paginya. Aku tersenyum menatapnya dan ia hanya tertunduk malu. Inikah rasanya pengantin baru?

“aku makan nee” aku mengambil sendok di tangan kananku dan mulai makan. Eum ini enak, haha aku tidak menyangka seorang Lee Taemin bisa memasak.

“otte hyung?” taemin mengerjapkan matanya menunggu respon dariku

“mashitta chagii” jawabku jujur, wajahnya memerah, memang benar anaeku ini. aku suka, yah dari semua sifatnya aku paling suka saat dia sudah menunjukan rona merahnya.

“hati-hati ne..” taemin mengantarkanku ke depan pintu. Ya, rencananya hari ini aku akan mencari kerja, kemana saja, yang penting aku sudah punya pegangan untuk hidup kaluarga baruku ini.

“hati-hati dirumah yeobo~” aku mendekap wajahnya dan mencium keningnya sekilas. uurgh rasanya sedikit tidak rela meninggalkannya sendirian disini.

.

~^^~

.

KULANGKAHKAN kakiku lebih cepat untuk pulang. Bosan dengan kesendirian aku berjalan keluar memulai sosialisasi dengan warga sekitar. Beruntungnya aku memiliki sifat yang supel, hingga tak menyulitkanku untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Aku sampai lupa waktu saking asiknya, hehe.

“darimana saja tae?” baru saja aku menutup pintu suara berat itu menginterupsiku, Minho hyung? Sudah pulang rupanya.

Aku duduk membelakanginya melepas sepatuku *maksudnya duduk di lawang pintu gituh aduh susah jelasin >< *

“aku berkenalan dengan beberapa tetangga kita hyung, hingga lupa waktu, hehe Maaf aku pulang ter—“ omonganku terhenti ketika tiba-tiba kurasakan minho hyung merengkuhku erat.

“eh? Wae—“

“kukira kau pergi chagi.. aku takut kau ragu dan memutuskan untuk pulang” suara minho hyung bergetar dan tangannya merengkuhku sangat erat. Hey~ itu tak mungkin kan?

“hyung kau kenapa eh?” aku membalikkan tubuhku ingin melihat wajahnya, tapi sepertinya ia enggan memperlihatkan wajahnya sekarang. Dia terus membenamkan wajahnya di leherku.

“uljjima.. aku tidak mungkin meninggalkanmu hyung..” aku mengelus punggungnya sambil menciumi puncak kepalanya.

“ulljima ne? belive me hyung.. I promise”

.

~^^~

.

AKU menatap kebawah melihat gerak-gerik tangan taemin yang sedang membasuh kakiku dengan air hangat. Wajahnya begitu serius, tangannya begitu lembut memijat kakiku, anae yang pengertian eum? Kurasakan wajahku sedikit memanas karna malu. Kulihat Taemin hanya tersenyum.

“hyung pasti lelah nee” ucapnya sambil mengeringkan kakiku dengan handuk yang ada di pangkuannya. Ia begitu perhatian padaku. Kenapa aku bisa berpikiran menyimpang seperti tadi?

Dia.. membuatku merasa dihargai sebagai seorang suami.

“aniyo.. gwaenchana, yang penting aku sudah dapat keja sekarang” aku menatap punggungnya yang sedang membuang air  di wastafel.

“jinjjayo? Wah uri nampyeon hebat nee! Pekerjaan apa hyung?” tanyanya antusias, tapi tetap di dapur. Darisini aku bisa mencium wangi makanan, dia sedang memasak eoh?

“administrasi pabrik Cheonsang. Ah iya tadi aku juga bertemu dengan seorang sunbae baik hati yang membantuku” aku mulai antusias cerita sambil mengganti bajuku sementara taemin masih memasak di dapur

“siapa hyung?” tanyanya sambil membawa beberapa makanan yang ada di tangannya ke meja makan.

“Jinki hyung, dia manager perusahaan Cheonsang” ucapku sambil duduk di hadapan meja makan bersiap untuk makan dengan taemin dihadapanku.

“eh? Jinki hyung? Suaminya key hyung kan?” taemin mengerutkan alisnya lalu tersenyum senang “key hyung? Siapa dia chagi?” tanyaku pnasaran. Wajahnya begitu berbinar senang.

“ah! Ternyata dunia begitu sempit hyung” dia terkekeh sendiri sambil tersenyum “key hyung tetangga yang barusan aku kunjungi, orangnya baik hyung, dia memiliki dua anak hyung aah~ anak-anaknya lucu sekali, ..”

Aku menatap raut wajahnya yang terlihat begitu berbinar membicarakan aegya. Wajahnya begitu antusias. Mungkinkah?

“iya hyung! Benar-benar nakal, key hyung hingga mengeluh berkali kali, dia juga..”

Aku terus menatapnya yang masih asik bercerita di pinggiran kamar, sementara aku menggelar kasur untuk kami tidur. Sejak kapan anaeku jadi cerewet begini eh?

“anaknya sangat hiperaktif hyung! sung—“

“yeobo~”

“eh iya hyung?” matanya menatapku lembut, sepertinya moodnya memang sedang bagus saat ini.

“apa kau tak mau punya sendiri eh?” tanyaku duduk dihadapannya, raut wajahnya berubah. Entahlah, suram.

“a-aku masi takut hyung..” taemin menundukkan kepalanya sambil menggenggam piyamaku kuat

“gwaenchanayo..” aku merengkuhnya erat yah, aku bisa mengerti perasaanya. “tapi tidak ada salahnya mencoba kan?” aku menggerling nakal dan menggendongnya dengan gaya bridal

“e-eh hyuu hmmmpppp” aku mencium bibirnya lembut, membuatnya mengalungkan lengannya dileherku sekarang. Aku membuat gerakan-gerakan lembut, hanya kekehan kecil yang menimbulkan kecapan kecapan pelan dari ciuman kami. Taemin mulai berani membalas ciumanku, aku merapatkan tubuhnya kedinding hingga ia melingkarkan kakinya di pinggangku. tanpa melepas ciumanku aku mulai membuka bajunya perlahan aku mendorong kepalanya kebahuku dan mulai mencium halus leher anaeku ini. kemudian berpindah ke lengan kecilnya dan beralih lagi ke lehernya. Taemin Cuma menggerakkan rangkulan tangannya dileherku sambil sesekali memukul bahuku jika dirasanya ciumanku terlalu kasar dan sakit. Aku hanya terkekeh pelan. Melihat leher dan lengannya yang penuh tanda merah yang berhasil kubuat dalam hitungan detik. Aku menggendongnya menuju kasur disampingku dan menidurkannya pelan

“emm..” taemin memiringkan kepalanya sedikit ketika aku salah memasukkan lidahku, aku terkekeh pelan anaeku sudah pintar rupanya. pelahan dalam hitungan detik air liur menetes dikedua leher kami, menetes pelan dengan diiringi kecapan-kecapan ringan yang berubah cepat. Aku melepaskan ciumanku dan mulai menatap taemin yang mulai kesulitan bernafas. Aku menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahnya dan mencium keningnya

“saranghae..”

.

~^^~

.

KUKAITKAN rambut almondku kebelakang telinga, memicingkan mataku pada alat yang kini ada di genggamanku. Dadaku sesak, air mata yang menggenang di pelupuk mulai mengaburkan pandanganku, ANIYO ! ini salah, ini tidak mungkin, mataku yang merabun pasti, aku tidak percaya.. ini tidak mungkin. Ragu, akupun mengambil tester pack yang lain dan menyentuhkannya pada air seniku. Hasilnya sama “POSITIF”

Dadaku sesak, nafasku terengah engah menahan tangis, ini nyata? Aku terlalu bahagia untuk menerima kenyataan ini.

Aku menambil semua tester pack yang ada di porselen dan membuangnya. Aku hanya membawa satu dan menggenggamnya erat di tanganku mencari sosoknya. Yah, minho hyung.

Ini sudah dua bulan sejak pernikahan kami. Selama seminggu ini aku mual-mual dan merasa aneh pada tubuhku. Aku yang tidak ingin minho hyung khawatir meminta saran pada key hyung, dan dia memberiku, ini.

Aku memandang minho hyung yang masi sibuk mengunyah makanannya di hadapanku, aku terus tertunduk dengan wajah yang memanas. Aku takut menatap wajahnya.

“hyung..” aku menatapnya takut-takut. Hey kenapa aku ini?

“eum..?” minho hyung hanya mendengung tanpa melihat wajahku, ASTAEMIN! Kenapa aku begitu gugup ._.

“aku.. siap untuk jadi yang kedua..”

“eh?” minho hyung menghentikan aktifitasnya dan menatapku lekat “apa maksudmu chagia?”

“yah.. aku siap jika harus jadi yang kedua untukmu hyung..” aku sedikit swt, wajahku pucat. Aigoo~

“apa maksudmu taemin? aku hanya mencintaimu!” rahang minho hyung mengeras, dia menatapku tajam, aku meremas ujung kaosku dan menatapnya

“tapi hyung juga harus siap menjadi yang kedua untukku..” minho hyung semakin menautkan alisnya bingung.ekspresinya berubah begitu melihatku menggenggam sesuatu di tanganku

“aku positif..” ucapku dengan wajah yang memanas dan aku yakin rona merah sudah tidak bisa kututupi. Aku memberanikan menatap wajahnya dan melihat ekspresinya yang kulihat dulu. Saat pertama kali aku hamil.

Kulihat dia mulai beranjak bangun dari duduknya, aku memejamkan mataku, apa ia mau lari lagi?

HUP~

Aku membuka mataku saat minho hyung sudah menggendongku dengan gaya bridal

“AKU AKAN JADI APPA! AKU BERHASIL! MINHO APPA! TAEMIN UMMA!” minho hyung berteriak sambil memutar-mutar tubuhku, wajahnya begitu excited

“hyuung~! Sudah ah nappeun!” aku menyembunyikan wajahku dibahunya karna malu, dia berhenti berputar dan mengusap rambutku pelan

“saranghae..”

.

~^^~

.

PANDANGANKU tak pernah beralih dari dia sekarang –memang dari dulu juga tidak pernah teralih sih :p- aku menggelar kasur untuk kami tidur, sementara ia duduk disampingku sambil mengusap perlahan perutnya yang masih datar. Tatapn matanya begitu berbinar bahagia. Aku tak bisa menyembunyikan perasaanku. Senyum tidak pernah berhenti terkembang dari wajahku.

“bahagia eum?” aku memeluk tubuhnya dari belakang, membuatnya menyandarkan kepalanya di dada bidangku.

“neomu.. neomu neomu neomu haengbokhae!” jawab taemin semangat, na do chagia~ na do haengbokhae.

“kkaja, kita tidur nee” aku menarik lengannya untuk bangun dan tidur.

Malam ini sangat panas. Jujur saja, aku sempat tidur tadi, aku terbangun karna taemin yang tidak berhenti berguling-guling tidak nyaman di belakangku, aku membalikkan badanku dan melihat ia memejamkan matanya pura-pura tidur, aku menjepit hidungnya gemas

“apa yang bisa aku lakukan agar kau bisa tidur eum?” taemin terus memejamkan matanya pura-pura tertidur, aku tersenyum lalu bangun dan berjalan mengambil beberapa kertas.

“tidurlah taeminku sayang!” aku mengibaskan beberapa lembar kertas yang tadi kuambil dan sesekali menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya. Aku tersenyum melihat wajahnya yang memerah, aigoo~ nemu yeppoh! Sambil mendengungkan sebuah lagu, yah lagu kesukaanku dan taemin. River Flows In You.

.

~^^~

.

“YAA! CHOI MINHO! BERHENTI MAIN GAME ATAU LAPTOPMU KUBUANG!” aissh~! Anaeku ini cerewet! Aku mematikan  laptop dihadapanku dan beranjak turun dari kamar kami dan menghampirinya yang tengah memasak di dapur & memeluknya dari belakang.

Lima tahun sudah berlalu semenjak kami kabur dari rumah. Kehidupan kami membaik, bahkan aku bisa dibilang berhasil hidup mandiri dan menunjukan bahwa aku mampu menghidupi Taemin dan anak-anakku. Aku bisa mematahkan argumentasi bumonim Taemin mengenai kehidupan masa depan kami. Ya, ini semua tidak lepas dari keuletan dan kesabaran Taemin yang terus menemaniku, tak peduli susah dan senang. Aku bahagia..

“hyung aah~” taemin menggeliat kegelian saat aku menyesap lehernya pelan, hah aku selalu suka aroma ini

“dimana yoogeun & minji eh?” tanyaku tetap tak berhenti menciumi tengkuknya, hei kulit anaeku begitu sensitive, beberapa tanda merah sudah terukir cantik di tengkuknya.

“sedang bermain dirumah key hyuung-ngh” taemin menjawab sambil melenguh pelan karna aku tak kunjung melepaskan ciumanku meski ia sudah menaik-turunkan bahunya berkali-kali mencoba melepaskan ciumanku.

Choi Yoogeun & Choi Minji, dua anakku, buah cinta kami, Yoogeun menuruni perawakan dan sifatku sementara Minji menuruni perawakan Taemin dan sifatnya. Aku bahagia. Yah, entah apa yang terjadi jika saat itu aku membiarkan taemin terus tersiksa dengan keadaan itu. mungkin aku tidak akan menemukan kebahagian ini.

“bagaimana kalau kita menambah satu lagi?” aku menghentikan ciumanku dan menatap taemin yang mengerjapkan matanya yeppoh!

“eh? Hyuuung~!”

.

~The End~

Okee, tamat yang sangat gaje, hahaha bingung banget da ah akhir-akhir ini mood gabalik yaaloh :[ ini ff selingan aja untuk series aku lgy namatin dlu, soalnya khawatir ga beres hehe seperti di awal dibilang ini behind the scene on angkot (?) jadinya gaje gimana dan ini NC gagal aku gakuat ._. hahaha ini ff terpanjangku loh *tumpengan/slaps

Kritik & saran tetep ditunggu =)

RCL gomawoo~ :*

48 thoughts on “[2Min] When The Love Fall’s

  1. Huwaaaa ini manis ini manis >..< dan berterima kasih karena ff ini yaoi😀

    Tapi ada scen yg gag asing… ada part tertentu yg mirip dorama jepang????

  2. yaak kodok. dua anak lebih baik wkwkwk iklan banget gw..

    wah gw bahagia liat mereka berhasil.

    rada keki gw, bapaknya tetem menjarain minho, kan bukan minho yang salah –a

  3. Ini bagus!!! Sumpah ><
    Gmana perjuangan minho ngebahagiain taemin..
    Gmana dengan sabarnya taemin selalu menemani minho.
    Uuuhhhh suka suka❤

  4. Eth dah minong demen banget bikin anak yaa 😁coba ff nya di lanjutin pasti bakal seru bgt itu haha😅BTW keren thor 10 jempol daah 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s