[onkey]I’M YOUR LOVE DOCTOR-chap 6


 baiklah.. dengan beberapa usulan dari readers.. akhirnya saya post ini.. ehhe..
sebenernya pengen banget ngepost bareng antara yang di fb sama yang di blog.. tapi suka tiba-tiba males.. haha
mianhae.. ya udah.. maaf yah.. *bow*

title : I’M YOUR LOVE DOCTOR

Author : Keysha feat maitsa’
Cast : Onkey

Length: sequel

 P.S’; don’t like don’t read

========================================================================

“Key!”

Jinwoon berlari ke arah Key yang sudah terlebih dahulu ambruk di atas trotoar. Nampaknya begitu sakit, terlihat dari cara Key memegangi dada sebelah kirinya, dan ujung-ujung matanya yang terpejam sedikit mengeluarkan setetes cairan bening.

“Key, Key! Kau tidak apa?” Menahan degupan jantung yang semakin labil saat Jinwoon mengguncang-guncangkan tubuhnya. Key sulit untuk menjawab. Rasanya sesak, sesak sekali. Hanya bisa meringis kesakitan sambil terus memegang dadanya. Air muka Jinwoon terlihat semakin cemas.

Namja berambut coklat kemerahan itu mengangkat tubuh kurus Key, mengalungkan lengan kiri Key pada pundaknya, berusaha  membantu Key berjalan. Namun, itu sangat sulit. Key kehabisan tenaga, dan malah hampir terjatuh kembali.

“O.. on.. new..” sebuah nama terucap dari bibir tipis Key. Membuat namja itu terdiam sesaat. Sudah sebutuh itukah Key pada namja yang baru saja dikenalnya? Sakit.. Yeah, Jinwoon merasakannya. Saat namja cantik yang ia cintai tak lagi memanggil namanya.

“Jebal.. jangan terjadi apa apa padamu Key. Bertahanlah..” Jinwoon segera tersadar, kemudian mengambil satu langkah darurat, menggendong tubuh Key yang begitu lemas, tak sanggup untuk berjalan.

TRAK!

Tiba-tiba sebuah benda kotak berwarna pink terjatuh dari tas selempang Key yang resletingnya terbuka. Jinwoon menutup resleting tersebut, sejurus kemudian beralih memperhatikan benda yang jatuh itu.

Ponsel!

Namja tampan itu sedikit membungkuk untuk menggapai benda itu. Memasukkannya ke dalam saku celana panjang putih itu. Kemudian kembali berdiri dengan susah payah, terang saja, ada sedikit beban di punggungnya.

Untunglah, di dekat situ ada sebuah rumah sakit besar dengan peralatan yang cukup lengkap. Tak berpikir panjang, Jinwoon semakin memperlebar langkahnya. Semakin cepat ketika ia mulai memasuki kawasan rumah sakit. Mengedarkan pandangan ke sekeliling, berharap menemui seorang suster atau dokter.

“Suster, tolong, teman saya ini penyakit jantungnya kambuh. Tolong segera beri dia perawatan yang terbaik!”

Jinwoon menyerahkan Key pada suster-suster itu. Sementara Key di dalam ruangan, Jinwoon menunggu cemas di bangku panjang yang dikhususkan untuk menunggu pasien. Menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Bergumam lirih, mendoakan Key. Bagaimana pun, dalam kasus ini ia merasa bersalah telah membiarkan Key mengejar dirinya. Padahal ia tahu.. Ia tahu bahwa namja cantik itu tak akan mampu terlampau lelah.

Jinwoon mengacak rambutnya, dan bersandar pada sandaran bangku. Berkali-kali ia merutuki dirinya sendiri dalam hati.

Namun sedetik kemudian, terlintas pikiran untuk menggunakan ponsel Key yang terjatuh tadi. Merogoh saku celananya dan sesaat kemudian, ponsel pink itu telah berada dalam genggamannya. Ia mulai mengutak-atik kontak yang ada, berusaha menemukan name list seseorang.

Ah, ini dia! Raut wajahnya menjadi sedikit lebih cerah. Lalu, pik. Menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinga.

“Yobosseo.” Seseorang di line sebrang sana telah mengangkat teleponnya. Syukurlah..

“Apa benar ini Onew hyung?” sedikit menyunggingkan seulas senyum ketika orang di seberang sana mengiyakan pertanyaannya.

“Onew hyung, bisakah kau ke rumah sakit dekat restoran tempat makanmu tadi?”

“Mm.. Key kambuh.. Bisakah segera?”

“Ne, gomawo..” Pik. Menutup ponsel itu. Hah.. Rasanya bisa sedikit bernafas lega. Hanya ada sedikit rasa yang mengganjal. Onew hyung. Karena ia yang akan datang.

Hufth.. Membuang napas beratnya, dan berusaha untuk tidak berpikiran negative. Demi Key!

==================================================================

Pik. Onew memutuskan line.

“Kajja! Kita harus cepat!” Onew menoleh pada Taemin dan Minho, setengah berteriak. Parasnya terlihat begitu panic.

“Ada apa hyung? Kenapa kau terlihat panic begitu?” Sahut Taemin heran, diiyakan dengan anggukan dari Minho.

Hh.. Agak tidak enak sebenarnya jika mengatakan hal yang membuatnya panic itu. Err.. Gengsi? Maybe..

“Ah! Pokoknya kalian harus ikut denganku! Sekarang!” Onew mulai menyeret tangan Taemin dan Minho.

“Hyung, jangan terlalu seperti itu. Lihat! Orang-orang di sekitar kita memperhatikan.” Bisik Minho. Eh, benar juga.. Ah, tidak penting! Yang penting sekarang adalah orang itu.. Key.

Segera Onew berlari menuju rumah sakit. Otomatis Taemin dan Minho pun melakukan hal yang serupa. Hanya bisa merutuki nasib karena tidak membawa kendaraan.

“Jinwoon!” seru Onew ketika mendapati namja tampan itu sedang duduk termangu di bangku tunggu. Jinwoon menoleh, kemudian tersenyum tipis.

“Onew hyung..”

“Hei, dimana Key?” menyisir poni coklatnya seraya menatap tajam ke arah namja tampan di hadapan.

“Hh.. di ruangan itu hyung. Sedang dicoba untuk ditangani.” Menunjuk ke ruangan tempat Key masuk tadi.

Onew kini mencoba duduk di samping Jinwoon.

“Memangnya, ada apa dengan Key hyung?” suara halus Taemin angkat bicara. Ia mengerti, rupanya karena Key hyung-nya jadi panic begitu. Jinwoon menghela napas, berat.

“Ya.. tadi ia mengejarku, saat aku keluar dari restoran itu. Dan.. dia ambruk di tengah jalan, karena aku sama sekali tidak menengok sewaktu ia panggil. Jantungnya kambuh..” menunduk dalam-dalam. Penyesalan itu datang lagi.

Onew tak menatap Jinwoon sama sekali, hanya memandang lurus ke depan. Ya.. Sekarang ia tahu. Sementara Taemin dan Minho memasang raut muka cemas dan duduk di bangku panjang di seberang hyung mereka.

“Permisi.. adakah di sini saudara dari pasien yang baru saja masuk, karena penyakit jantung?” Seseorang dengan jas putih melekat di tubuhnya, dan stetoskop terkalung di lehernya, keluar dari ruangan.

Serentak mereka berempat berdiri.

“Bagaimana jadinya dok? Key tidak apa bukan?” Jinwoon langsung menyahut dan mendekati dokter tesebut. Dalam hatinya, doa mengalir terlantun.

Dokter itu tersenyum, “Apa anda keluarga dekatnya?” Jinwoon baru hendak mengiyakan, tiba tiba..

“Ani.. dok, saya keluarga dekatnya, sekaligus orang yang bertugas menjaga kesehatannya. Jadi, tolong jika ada apa-apa, lebih baik obrolkan dengan saya.” Potong Onew yang serentak disambut tatapan heran dari ketiga lainnya. Namja tampan itu hanya memandang lurus ke arah dokter, tidak berekspresi apapun. Namun jauh di dalam hatinya, rasa khawatir itu rupanya tersirat begitu besar.

“Ah? Dokter Jinki? Baiklah, saya ingin mengobrol sedikit dengan anda. Tentang pasien itu.” Onew mengangguk, kemudian mengikuti langkah tegap sang dokter yang memasuki sebuah ruangan.

“Ya, Taeminnie, mengapa dokter itu kenal dengan Onew hyung?” namja tampan jangkung itu terlihat bingung. Taemin menatapnya aneh, sedetik kemudian berkata.

“Ne, tentu saja. Ini kan rumah sakit tempat hyung bekerja, kau tidak tahu? Pabo!” Taemin menjitak kecil namja di sampingnya, yang kini terkekeh pelan. Diam-diam Jinwoon melirik pada mereka. Yang pada akhirnya mengangguk-angguk sendiri.

“Jadi, bagaimana dokter?” kekhawatiran itu mulai tampak di raut wajahnya. Tangannya mengepal di atas meja. Menatap tegas sang dokter yang sibuk membolak-balik sebuah map.

“Hmm.. Dokter Jinki, benarkah kau bertugas merawat pasien ini?” selidik dokter itu tanpa memperhatikan Onew.

“Ne, dia Key. Aku ditugasi keluarganya yang ada di Australia untuk menjaganya selama dia di Seoul.”

“Lain kali, jangan ceroboh lagi, ne?” Kini dokter itu memandang Onew, lekat.

“Kau seharusnya tahu, pasien tadi, siapa? Key, dia memiliki kekuatan fisik yang lemah. Apalagi setelah kuperiksa tadi, nampaknya dia sudah lama mengidap penyakit ini bukan?” Onew serius memperhatikan sambil sesekali mengangguk kecil, membiarkan dokter itu memberinya petuah panjang lebar.

“Jangan membiarkan dia mengerjakan kegiatan yang melelahkan, tapi juga jangan membebaninya dengan pikiran yang berat. Memang sakit jantungnya tak begitu parah, tetapi seseorang dengan fisik yang lemah seperti itu akan lebih mudah kambuh kembali. Selama di Seoul, dimana dia tinggal?”

“Di apartemen yang disewa oleh keluarganya..”

“Nah, alangkah baiknya jika dia menginap di rumahmu. Eottoke?” Pertanyaan itu sukses membuat Onew ternganga.

“Aish.. mengapa harus di rumahku dok? Tinggal kuberi nasihat-nasihat kecil, dan dia harus mematuhinya selama berada di dalam apartemen.” Sergah Onew, masih tak yakin untuk membiarkan Key tinggal satu rumah dengannya. Eottoke? Eottoke?

“Keundae, jika di rumahmu semua kegiatan yang ia lakukan bisa lebih terkontrol dan teratasi. Lagipula bila sewaktu-waktu ia kambuh, kau bisa langsung menanganinya bukan?” Haah.. Onew tertunduk. Dilema. Ia tak ingin menghabiskan waktu hanya untuk bertengkar dengan Key, namun di sisi lain… Molla.. rasanya.. pilihan ini bagus juga.

“Eottoke, Dokter Jinki? Kau harus cepat bertindak.” Paksa dokter itu sembari tersenyum.

“Haah, ne, arasseo dok.. Nanti akan kubicarakan dengan Key dan dongsaengku.” Dokter di hadapannya mengangguk-angguk setuju.

“Key hyung!” Seru Taemin girang ketika Key keluar dari ruangan pengobatan. Key tersenyum lemah, dan sedikit terkejut ketika sebuah tangan besar memegangi pundaknya.

“J.. jinwoon?” Blush.. ada semburat merah di wajahnya mendapati Jinwoon tengah tersenyum padanya.

“Ne. Key.. Mianhae.. Jeongmal mianhae..” memegangi kedua pundak Key seraya tertunduk. Melihat itu, Taemin mengurungkan niatnya untuk menghampiri  Key.

“Gwenchana..” Key tersenyum dan berkata, lirih.

“Ya! Key!” Tiba-tiba sebuah suara besar memanggil namanya. Onew hyung?

Onew menghampiri Key dan menarik tangan Key cepat untuk menjauhi Jinwoon. Tak peduli pada senyum Jinwoon yang kini lenyap. Key tak kuasa menolak, tenaganya kalah jauh dibandingkan dengan namja itu.

“Apa sih? Seenaknya kau menarik-narik tangan orang!” Ucap Key cukup keras. Menciptakan kekehan kecil Onew.

“Wow, calm down.. This is a hospital. Ara?” Key menyilangkan tangan di depan dada dan mengerucutkan bibirnya. Onew sedikit menyeringai.

“Dan kau, Minnie, ke sini sebentar..” Taemin datang sesuai perintah hyung-nya.

“Apa pendapatmu jika Key serumah dengan kita?” Tanya Onew santai.

“MWO?!” Key kaget bukan buatan. What the hell? Aargh! Onew tersenyum semakin lebar, sukses membuat namja cantik yang satu ini panic.

“Ah, usul yang bagus hyung! Key hyung bisa menemaniku di rumah nanti.” Sahut Taemin bersemangat. Key mendelik kesal. Dan Jinwoon.. Hmm… Ekspresi yang sulit diartikan.

“Ini usulan dokter, supaya kau lebih mudah diawasi, dan jika kau kambuh, kau juga bisa cepat teratasi. Baiklah, sekarang, mari kita pulang!” Ujar Onew sembari menarik tangan Key.

“Ya! Key!” Panggil Jinwoon kencang. Key menoleh dan seketika menahan tangan Onew untuk menariknya.

“Ne, ada apa?” Jinwoon berlari ke arahnya dan mengacungkan ponsel pink, yang sangat dikenali Key. Seperti biasa, mata kucingnya membulat senang.

“Ah! Ponselku!” Key melepaskan pegangan tangannya pada Onew, dan menghampiri namja tampan itu.

“Dan, ini tasmu. Oh ya, mianhae lagi.. Tadi ponselmu kugunakan menelepon Onew hyung.” Jinwoon sedapat mungkin tersenyum di hadapan Key, meski hatinya sedikit kecewa mendengar kenyataan bahwa Key harus tinggal bersama Onew.

“Ne, gwenchana.. Oh ya.. gomawo sudah menolongku.. tadi..” Hoh.. Bernapas lega, lalu tersenyum dan mengangguk. Rupanya Key ingat bahwa dia yang menggendongnya tadi. Tapi.. Tetap saja, yang ia panggil bukanlah namanya, hanya namja itu!

Yeah, sedikit kesal.. Or.. jealous, maybe? Molla..

“Err.. Kalau begitu, aku duluan ya. Kurasa, lebih baik kita mengobrol nanti. Sekarang aku harus mengikuti namja gila itu.” Key berbisik saat mengatakan kata ‘namja gila’.

“Ooh.. Ne, arasseo.. Sampai jumpa Key.” Memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku, dan melambaikan tangannya yang sebelah lagi pada Key. Key balas melambai. Namun sesegera mungkin ditarik oleh tangan besar yang mencekalnya.

Jinwoon menarik napas lesu, dan berjalan gontai sepanjang koridor rumah sakit.

“Ya! Onew hyung! Kita hendak kemana eoh?” Protes Key setengah berteriak.

“Tentu saja ke rumahku pabo!” Balas Onew yang juga berteriak. Haish.. sulit sekali sih bekerjasama dengan orang semacam ini. Berbicara saja harus berteriak. Huh… menyebalkan.

Taemin dan Minho mengikuti dari belakang, saling menggenggam tangan erat.

“Kau tahu, Minnie?” Minho menatap lurus pada Taemin.

“Mwo?” Taemin balik menatap tak mengerti.

“Tampaknya mereka akan jadi pasangan yang serasi, bagaimana menurutmu?” Kali ini Minho menarik seulas senyum, sambil menatap akan kedua hyung-nya di depan yang masih terus saja mengoceh.

“Haha.. Maybe.. Tapi tampaknya rumah akan jadi semakin ramai jika mereka disatu tempatkan.” Taemin terkekeh membayangkan keadaan nanti. Ya, Onew yang dingin itu akan segera berubah menjadi seorang hyung yang pandai bicara. Ckck..

“Key, kamarmu di sana. Di sebelah kamarku.” Onew mengarahkan Key tentang letak ruangan-ruangan dalam kamarnya. Key mengangguk-angguk mengerti.

“Ya! Tapi bagaimana dengan barang-barangku di apartemen?”

“Tenanglah, aku sudah mengaturnya. Dan.. sekarang lebih baik kau beristirahat. Ara? Aku tak mau kau seperti tadi lagi.” Kini Onew menatap Key serius. Membuat Key agak gugup.

Deg.. deg..

Hah, detakan itu. Lagi-lagi.. Mengapa harus setiap dekat dengan orang ini sih? Ck..

“Ya, kenapa? Jantungmu sakit lagi?” Onew semakin mendekat, saat melihat Key menatap dengan pandangan kosong.

Namja tampan itu memegangi sebelah pundak Key, sedangkan tangan kanannya mencoba menyentuh dada Key.

Deg.. deg.. deg..

Aiiish.. Debaran itu semakin bertambah! Dan.. blush.. seketika rona merah telah menghiasi wajah cantik itu.

“Hm, mengapa debarannya sangat kencang Key? Tapi ini sepertinya bukan sakit..” teliti Onew. Diam-diam Key menatap Onew. Memang bukan karena sakit, pabo! Tapi.. ah.. molla..

“Atau jangan-jangan, kau nervous berada di dekatku ya? Haha..” Yap! Tebakan jitu. Muka Key semakin merah padam.

“A.. a.. anii.. Enak saja.” Tanpa sedetik pun mampu menatap namja di depannya ini. Tiba-tiba Onew menatapnya tajam, sejurus kemudian mencengkeram kedua pundak Key.

Trep, tanpa diduga Onew mendorongnya ke dinding terdekat. A.. a.. andwae! Mau apa orang ini?

Key memejamkan matanya, begitu merasa wajah Onew yang semakin mendekat. Aish..

“Yy.. Ya! Apa yang mau kau lakukan?!” Sergah Key. Ingin rasanya melawan, tapi.. aargh.. cengkeramannya terlalu kuat! Sementara Onew tersenyum, err.. lebih tepatnya menyeringai. Membuat degupan jantungnya semakin tak karuan.

“Kau mau.. aku.. hm?” Kini hanya tersisa jarak sekian inchi dari wajah Key. Semakin erat Key memejamkan mata kucingnya itu. Merasakan nafasnya yang semakin tersengal. Apakah namja ini benar Onew? Ke.. kenapa dia jadi seperti ini?

Deg.. Deg..

“Ya! Kalian!” Kedua namja itu serempak menoleh kaget.

TBCyeah… mari RCL!!!

72 thoughts on “[onkey]I’M YOUR LOVE DOCTOR-chap 6

  1. bhahahaha onew berubah yah,,tadinya dingin sekarang jd sering cengengesan walaupun juteknya masih ada kekekk
    hayooo mau ngapain lg itu??

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s