[2min] Dearest part 7 of ?


Foreword:

Aigooo~ annyeong… huhu, aku berusaha untuk meneruskan semua FF disini, maaf yah gue sibuk banget sama organisasi gue, jadia gak lalai sedikit, tp jgn khawatir, gue bakal nerusin semuanya kok,buat Info aja, yang Our LOVE life itu feat gue sama echa, jadi next partnya gue yang tulis, sabar aja yah? hahahha >///<

GOMAWO YANG SUDAH KOMEN DAN LIKE THIS FF SEBELUMNYA, OMOONAA~
71 KOMEN AND 4 LIKE THIS!! >////<*bow90degrees* GOMAWO :*

Dan bahkan ada teman kita dari malaysia dia juga baca FF gue, ya allah~ jungkir balik nih seneng banget deh pokonya🙂

Oke deh, so

Read enjoy and Leave a comments❤

NO BASHING, NO SR, NO PALGIARIM!
(Bantu cek dimanapun, jika nggak ada kredit dari gue tentang cerita yang sama dimanapun, berarti itu PENJIPLAKAN!)

Omo…aku suka moment piccu ini T_T

by: Pervy^Sanniiew

.

.

“J-jangan…jangan tinggalkan aku…”, bisik Taemin, Minho tidak mengerti, namun ia memeluk tubuh kecil yang bergetar itu dengan lembut. Taemin mendongak dan menarik baju Minho.

“M-minho…kumohon…j-jangan tinggalkan aku…kumohon…kumohon… aku tidak mau lagi sendiri…”, katanya, dengan itu Minho memeluknya lagi dengan erat, ia cium pucuk kepala Taemin sayang, ia tidak tahu ada apa? tapi ia mencium sesuatu yang buruk, ia usap punggungnya sayang dan mencium pucuk kepalanya berkali-kali.

“Tidak akan…aku akan terus denganmu, jangan takut…aku disini…”, kata Minho… Taemin terus menangis, dna memeluk Minho dengan kuat.

” …jangan menangis…aku akan disini…”, katanya mengusap pipi Taemin dari air matanya, Taemin menatapnya sayu dan terisak, “…uljima, karena…”, Taemin terkejut, “…aku mencintaimu…”, sebelum bibir itu menyentuh bibir Taemin dengan lembut, Taemin hanya bisa terpaku.

Semua rasanya terjadi begitu saja, entah apa yang dipikirkan Minho, tidak bisa…ia tidak perduli lagi dengan kontrak yang ia buat sendiri, persetan dengan kepura-puraan mereka, toh Ummanya sudah setuju, bahkan seluruh keluarganya, tidak ada alasan suatu saat ia harus mengakhiri ini, tidak…dia tidak akan pernah akhiri ini semua, Taemin akan tetap menjadi miliknya, egoiskah? ya…itulah Minho.

Minho melepas ciumannya, ia sedikit menelan kekecewaan karena Taemin tidak membalas ciumannya, ia menatap sosok mungil itu, shock..mungkin itu satu kata yang cukup bisa digambarkan olehnya sekarang.

Minho meraih tubuh Taemin dengan lembut, melingkarkan tangannya yang kekar dipinggangnya dan tangannya membelai manja rambutnya, ia benamkan wajahnya di kepala Taemin, harum…dia suka bau ini…
“Taemin… Saranghae…”, bisiknya lagi.

Tubuh Taemin kaku, ia sesak, bukan karena pelukan Minho yang kencang, tapi karena ia lupa bagaiamana caranya bernafas, entah apakah ia harus senang atau ia harus takut. Minho yang tidak mendapat respon apapun mulai takut, takut jika yang lebih muda merasa tidak suka atas perlakuannya.

“Taemin …”, ia menangkup wajah nya, Taemin menatap wajah Minho bingung. Minho menarik nafas dan membelai wajahnya lembut, “Katakan apa saja…aku ingin mendengar suaramu, katakan apapun kumohon…”, tambah Minho lagi.

“K-kenapa…”, Taemin bergetar, ia memegang bibirnya sendiri. “K-kenapa…a-aku pikir kau…kau…aku…”, Taemin mulai bingung, matanya kearah manapun, tidak ke mata Minho, Minho menangkup wajahnya.

“Taemin…”,panggilnya, Taemin masih tidak fokus, ia bingung, apa ini mimpi? ini tidak benar, Minho tidak mungkin menyukainya…bahkan mencintainya…
“Tidak mungkin…”, desisnya, Minho menarik nafas.

“Taemin…”, panggilnya lagi.

“Tidak mungkin..aku bukan istrimu…ini tidak boleh…”

“Taemin…”,

“KAU KENAPA? JANGAN PERMAINKAN AKU!! AKU INI HANYA DIBAWAR…KENAPA—“

Taemin tidak bisa bicara lagi, Minho sudah membungkam mulutnya dengan bibirnya , Taemin terus berontak namun Minho menahan kedua tangannya dengan satu tangan, dan yang lainnya memeluk pinggul Taemin agar terus mendekat dengannya.

“Nggh…hmmm…” desah Taemin, Minho menjilat bibirnya, Taemin masih ingin menyangkal…namun hell no, ia tidak bisa berbohong, its feels so…right and…nice…and…good…
Ia perlahan mengendur, ia menangis, namun ia membuka mulutnya, membiarkan Minho mengusainya, membiarkan lidahnya yang lembut menjelajahi setiap inci bibirnya, menjilat giginya, dan menghisap lidahnya.

“Nghh…nghh…hmm..M-minh…hmm..ooh..”, desahnya ketika Minho melepas ciumannya dan mencium rahangnya, menjalar ke telinganya dan menghisapanya.
“Minho…”, desah Taemin berusaha mendorong tubuh Minho.

Minho tidak bisa berhenti, ia merasa ini benar…dan ia ingin semua ini, ia lebih intens karena mendengar Taemin memanggil namanya.
“Minho…h-hentikan…hiks..hentikan..hiks..”,

SNAP!
Minho berhenti seketika ketika tubuh Taemin bergetar dan ia …menangis.
“T-taemin…?”, panggilnya, Taemin terkulai dilantai. Minho menangkap tubuhnya, Taemin menangis dengan kencang.

“Hei…uljima…ulijma…please…stop crying Taemin ah~ im sorry…”, bisik Minho menjauh.

Taemin memeluk dengkulnya, entah kenapa ia takut, bukan karena ia tidak mau melakukan itu, tapi ia takut ini hanya mimpi, ia takut Minho akan tahu siapa dia nantinya, dan pasti ia akan ditinggalkan.

Minho meremas kepalanya, apa yang telah ia lakuakn, meski mereka resmi menikah, tapi selama ini ciuman saja tidak pernah, ia seharusnya lebih lembut dan tidak memaksakan dirinya.

“M-maaf…”, kata Minho lagi. “Maaf… aku harus berbuat apa supaya kau maafkan aku Taemin?’, lirih Minho. Untuk pertama kalinya, Minho…namja dingin dan oh so perfect merasa dirinya tidak berguna, ia bingung apa yang harus ia lakukan, ia lipat lututnya dengan menggunakan tangannya dan menunduk dalam-dalam. Tangis Taemin terus terdengar, membuatnya ingin meninju dirinya sendiri.

.

.

Minho membuka matanya, ia merenggangkan tubuhnya, ia usap mata kantuknya untuk mendapatkan penglihatan yang jernih, kemudian ia menatap langit-langit kamarnya. Sudah pagi…jam berapa? ia melihat ke jam dinding, pukul 10 pagi. Ia bangkit terduduk di ujung kasurnya, kepalanya rasanya pusing, entah kenapa? mungkin karena kepikiran apa yang terjadi semalam…

Bicara semalam…mereka duduk dihadapan masing-masing, Taemin menangis didepannya dna ia tidak bisa berbuat apapun padanya, dan ia tidak bertanya apapun tentang semuanya, yang ia tahu…ia hanya salah langkah , ia memaksakan kehendak nya pada Taemin, tanpa berpikir apakah namja itu suka atau tidak dengannya, mencintainya atau tidak, bahkan mau atau tidak jika diperlakukan begitu? jika memikirkan itu kepalanya tambah pusing. Sampai akhirnya ia sadar membopong sosok Taemin kekamarnya, ia lelah menangis, dan ia memutuskan untuk tidur.

Ia harus cek keadaan Taemin, setidaknya minta maaf dan jelaskan semuanya…ya semuanya, ia harus jujur juga atas perasaannya. Dengan cepat Minho membuka pintu dan menuju kamar Taemin. Tapi kamar itu sudah rapih, dengan cepat ia turun kebawah.

Namun ia juga tidak melihat dimana Taemin, dapurnya kosong, ruang tamu, dan taman belakang juga ia tidak ada.

“Taemin?’, panggilnya.

Sampai matanya menangkap hidangan pagi dimeja makan … dan sebuah note.

To : Choi Minho

Hyung, jika kau baca note ini mungkin aku sudah tidak lagi disini bersamamu.
Jeongmal mianhe Minho hyung aku pergi dan tanpa ijin darimu…aku melakukan ini karena demi kebaikan mu dan juga keluargamu.
Kenapa? aku telah banyak menerima kebaikan kalian semua Hyung, Umma…appa..dan kau…aku cukup menerima banyak cinta dari kalian tanpa bisa membalasnya.
Aku mohon maafkan semua sikapku, aku hanya tidak mau jadi beban kalian…aku berhenti dengan semua skrip yang kita jalani Hyung, aku tidak mau membohongi keluargamu dan juga orang lain…
Aku tidak pantas terus berada disana, kau orang yang baik Hyung, aku sudah tanda tangani cerai yang pernah kita siapkan jika itu dibutuhkan… dan aku sudah ambil semua uang di tabungan ku , terima kasih atas semuanya …
Aku harap kau bisa hidup dengan baik Hyung, makanlah makanan yang bergizi dan yang banyak, jangan terlalu keras dalam bekerja, banyak lah istirahat…
Sampaikan salam ku untuk keluargamu, terutama Umma…

Semoga kalian bisa memaafkanku, memaafkan Taemin yang jahat ini … aku menyayangi kalian, aku juga sangat sangat menyayangimu Minho Hyung…maaf aku tidak bisa membalasnya lebih dari ini … kau berhak menerima yang lebih dari ini …

From : Lee Taemin.

Minho meremas kertas kecil itu di tangannya, nafasnya memburu, ia memejamkan matanya, ia tatap map coklat disana yang tertinggal, ia yakin itu surat cerai yang mereka katakan sebelumnya, tanpa melihatnya Minho menyobeknya dan membuangnya.

“SHIT!! SHITT!! FUCKING SHITT!!”, teriak Minho menedang counter dapur, ia tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, bahkan dia ..menangis sekarang.

“SHITT! LEE TAEMIN!! KAU YANG BILANG JANGAN TINGGALKAN DIRIMU, TAPI…AAKH…”, Minho menendang counter dapur lagi dengan keras, ia terus melampiaskan amarahnya dengan meninju tembok, air matanya mengalir..kenapa Tuhan, kenapa rasanya sakit sekali? sebegitu kau buat berhargakah Taemin dihatinya?

Minho lemas, ia terududuk di kursi makan, ia tatap makanan yang tersaji disana… makanan yang sama yang pertama kali Taemin buat untuknya. Ia ambil sendok dan ia suap kedalam mulutnya, benar..perutnya lapar, namun ia bahkan tidak bisa rasakan apa itu rasanya, ia pejamkan matanya, hanya untuk membayangkan bahwa Taemin didekatnya, namun percuma, ia terus memakannya, namun air matanya juga mengalir, ia tidak mengerti kenapa Taemin meninggalkannya? begitu berefek kah Taemin untuknya, sehingga sang dokter ice prince dan kharismatik ini bisa terlihat sangat menyedihkan?

.

.

Taemin memandang wajah angelic disampingnya, ia masih tertidur dengan pulas, ia rapatkan selimut menutupi tubuh mungilnya. Betapa ia sangat ingin terus menjaganya, terus menemuinya, memberikannya semangat untuk terus berjuang demi kesehatannya, ia hanya ingin menjadi sebuah kekuatan yang lain yang diberikan banyak orang untuk sosok mungil disampingnya.

“Mianhe Yoogeun ah~ , Umma mu ini tidak bisa bertemu dengamu dan main lagi dengamu..”, bisiknya sambil tersenyum, ia merasa geli menyebut dirinya Umma, namun ia tidak masalah sekarang. Mungkin untuk pertama dan terkahir kalinya.

“Umma janji, umma akan selalu berdoa untuk kesembuhanmu, umma harap kau baik-baik saja, jangan lupa minum obat dan makan teratur, oh,patuhi Dokter Dino yah ..”, katanya lagi dengan pelan, ia tidak mampu lagi, ia usap air matanya, namun ia tersenyum. Janjinya, ia akan melupakan juga janjinya pada Yooguen, namun tidak ada cara lain…

Setelah beberapa lama ia pandangi wajahnya, ia menunduk dan ia cium keningnya, pipinya, hidungnya, dan bibir Yoogeun dengan pelan , lembut, dan juga rasa sayang. Ia tersenyum.

“Sampai jumpa Yooegunnie..”, katanya berdiri dan berjalan keluar.

“Mau kemana kau?”, tanya sebuah suara. Ia terkejut.

“J-jonghyun hyung…?”,

.

.

Heechul turun dari mobilnya, ia melihat ke tumpukan berkas yang ada dijok sampingnya, ia mengambilnya dan menarik nafas, kemudian memandang ke rumah besar yang nyaman didepannya. Akhirnya ia turun dan sejurus kemudian ia jalan kedalam rumah.

“Haloo…im comming…Taeminnie…”, teriaknya, ia mengerutkan alisnya, ia masuk begitu saja dan melihat kesekeliling rumahnya karena tidak ada jawaban.
“Taeminnieee…”, panggilnya lagi kali ini, “Kenapa tidak ada jawaban? dan apa ini? kenapa berantakan sekali meja makannya? tidak dibereskan? tumben sekali…?”, gumamnya sendiri.

Ia berjalan keruang tamu, tapi tidak ada siapaun, dan juga di taman,
“Hmm…kemana dia? kalau pergi pintunya pasti dikunci tapi in—”
BRUUK!
“OMO!”, Heechul terkejut dan melihat ke arah lantai atas rumah.

“Taemin? itu kau? ini aku Heechul umma…”, teriaknya, namun tidak ada jawaban sama sekali, akhirya dengan segera ia naik ke atas untuk mengecek. Ia melihat ke arah kamar Taemin, tidak ada…kamarnya rapih. Dengan cepat ia kekamar Minho, dan…

“OMO MINHOOO!!”, teriak Heechul.

.

.

“Kau … mau kemana memangnya? pindah?”, tanya Jonghyun lagi setelah mereka diam beberapa lama di cafe itu.

Taemin menggeleng dan menyeruput kopinya, ia menatap ke luar jendela, bertindak melihat sesuatu , tapi tidak ada, dia hanya ingin mencari jawaban yang tepat.
“Aku mau pergi sebentar, refreshing …”, jawab Taemin terkekeh.

“Bersama Minho?”, tanya Jonghyun lagi.

Taemin menoleh dan menunduk, menatap cangkir kopinya, memainkan jari mungilnya itu diatasnya.
“Tidak…aku hanya ingin berkunjung sebentar kefamily ku, sudah lama sekali rasanya, dan lagi pula sebentar lagi kan ada seleksi rekomendasi pindah tugas kan? jadi Minho pasti sibuk…”, katanya tersenyum,

“Kenapa…kau bisa tahu?’, tanyanya, Taemin terkejut, ia keceplosan, ia tertawa dan menghisap kopinya.

“Aku..tahu dari para suster di RS, kau lupa kalau mereka itu infotaiment berjalan Hyung?”, ledeknya dengan tawa yang menurut Jonghyun dipaksakan

Jonghyun memang tidak kenal lama dengannya, namun ia cukup tahu dan paham ekspresi Taemin, ia bisa dengan mudah menebak apakah orang didepannya ini berbohong, menutupi sesuatu, atau tidak berbohong sama sekali, Taemin terlalu polos dalam hal itu.

“Lalu… kemana kau akan pergi?’, tanya Jonghyun meneliti,
Taemin hanya tersenyum lagi dan melihat keluar.

“Aku akan pergi ke Daejeon-gu … “, katanya lagi dengan asal.

Jonghyun mengangguk, “Boleh aku minta nomer mu? well, sewaktu-waktu aku akan telpon jika Yoogeun ingin bicara ya kan?’, alasanya, Taemin sempatkeberatan namun akhirnya ia berikan nomernya, tentu saja nomernya yang  baru.

“Ng…Taemin …”

“Ya?”

“Boleh aku tanya sesuatu?”,

Taemin mengangguk, “Kau… akan segera kembali kan? maksudku, ayolah Taemin…aku tidak punya teman disini yang bisa mengurus Yoogeun dengan baik, tidak ada yang sebaik kau…aku bisa stress lama-lama jika bersamanya dan susah diatur begitu…”, kata Jonghyun.

Taemin terkekeh, “Kan sudah kubilang,pakai instingmu Hyung… gunakan perasaan, anak kecil tidak suka dilawan,dan kau juga tidak boleh egois..”, kata Taemin menepuk pundak Jonghyun. Jonghyun berdecak.

“Kalau ku telpon diangkat yah?”, kata Jonghyun, Taemin hanya mengangguk.

“Ah, sudah waktunya, aku ada kereta jam 1 siang ini… aku titip Yoogeun sementara, oh ya sementara aku tidak ada, kau harus bisa urus dirimu sendiri Hyung, jangan makan roti terus untuk makan siang, beli lah makanan yang bergizi, aish heran, masa dokter harus dinasehati?”, decak Taemin.

“Iya-iya bawell…”, Jonghyun mengacak rambut temannya itu, “Ng Taemin, aku antar ya?”, tanya Jonghyun.

Taemin diam saja dan melihat keluar, “Boleh, tapi sampai batas pemeriksaan tiket saja yah?’, balasnya, Jonghyun tediam sejenak dan akhirnya mengangguk.

“Kajja…”, kata Taemin tersenyum dan menarik tas kopernya.

“Biar aku saja..” , kata Jonghyun dan mereka berjalan keluar cafe dan masuk kedalam mobil Jonghyun.

.

“Tuh kan aku lihat lagi mereka bersamaan?”,

“Nuguya yeobo?”,

“Itu Jonghyun dan Taemin , kau ingatkan Taeminkan, Key? istri Minho…”, tanya Onew mengandeng calon istirnya itu keluar dari cafe diseberang jalan,

“Mana?’, tanya Key.

Onew menunjuk keseberang jalan dan melihatnya dengan seksama.”AKh benar, itu rasanya Taemin, aku pernah melihatnya di koran, dia benar manis yah? lalu…apa salahnya jika ia bersama Jonghyun ?”, tanya Key lagi.

“Anio , hanya saja…sudahlah…akh, aku tidak mau ikut campur.”, kata Onew dan menggeret Key ke mobil mereka, Key cemberut.

“Yeobo , orang yang sedari kemarin memerperhatikan mereka itu kamu, kenapa jadi kamu yang pusing sendiri?”, tanya Key, Onew hanya terkekeh.

Namun di otaknya masih tidak mengerti dan mencoba menangkap apa yang terjadi, apa hubungan Jonghyun dan Taemin sebenarnya? kenapa secara kebetulan ia selalu melihat mereka bersamaan? entahlah..

.

.

“Minho…”,

“Ughh..Umma…”, Minh mendesis, ia mengusap matanya karena kepalanya yang pusing.

“Gwencana? kau kenapa?”, tanya ummanya khawatir.

Minho berusaha berdiri dan bersandar di kasurnya, ia menarik nafas dan menatap Ummanya, “Aku hanya pusing tadi, karena tidakkuat malah aku pingsan di lantai tadi, maaf merepotkan,kenapa umma kesini?’, tanyanya,

Ummanya mengerutkan alisnya, “Umma mau bertemu dengan mu dan Taemin…ada yang ingin umma bicarakan dengan kalian , kau sudah makan?”, tanya Ummanya bangkit, “Akan umma buatkan makanan..”,

“Umma, tidak usah,aku sudah makan, Taemin sudah buatkan sarapan tadi untukku..”, kata Minho lemas. Ummanya berhenti dan menoleh ke arah anaknya yang kembali berbaring dan membelakanginya. Ummanya mencium sesuatu yang aneh dari anaknya, ia duduk dibelakang Minho.

“Minho ah~ ada yang kau ingin ceritakan pada Umma? Umma tahu kau menyembunyikan sesuatu pada Umma…”, katanya pelan.

Minho terdiam dan menarik nafasnya, “Umma…”,

Hmm, hanya dengunangan yang ummanya berikan, sambil terus tangannya mengusap punggung anaknya itu.

“Kalau Umma tahu yang sebenarnya tentang hubungan kami, aku harap Umma memaafkan ku, jangan salahkan Taemin, tapi aku…”, kata Minho. Ummanya mengerutkan alisnya.

“Umma…ada yang ingin aku katakan…ini…masalah pernikahan ku dengan Taemin, kami tidak benar menikah, kami…”, Minho duduk di kasur dan menatap ummanya lurus. Ia mulai bercerita dan Heechul mendengarkannya dengan baik.

.

.

“Sudah sampai sini saja Hyung…gomawo…”, kata Taemin, Jonghyun mengangguk dan memberikan tasnya pada Taemin.

“Kau harus hati-hati dijalan, aku akan hubungi mu jika aku lenggang, haha..”, ledek Jonghyun.

Taemin hanya mengangguk lagi, benar ditebak, ada yang aneh, Taemin yang Jonghyun kenal tidaklah seperti ini, dia banyak diam, jika tidak ditanya maka tidak akan menjawabnya.
“Hyung..terima kasih sudah jadi temanku dan pendengar yang baik selama ini…aku janji akan membalas sms atau menjawab telpon darimu..”, kata Taemin tersenyum, Jonghyun berdecak, ia mengelus kepala dongsaengnya itu. Yah, mungkin ini bukanlah cinta , ia hanya merasa bahwa semua ini hanyalah rasa kagum dan mungkin rasa peduli pada Taemin, dia tidak pernah dekat dengan orang seperti halnya ia berteman dengan Taemin sebelumnya.

“Neh…kau ini berlebihan akh, seperti mau pergi jauh saja..”, kata Jonghyun tertawa, Taemin hanya tersenyum. Jonghyun tidak berkata apapun, dia memajukan langkahnya dan memeluk Taemin dengan erat.

“H-hyung?”,Taemin terkejut dengan apa yang dilakukan Jonghyun. Jonghyun tersenyum , menepuk punggung Taemin dengan lembut.

“Aku tahu kau mungkin sedang ada masalah, tapi aku yakin, kau pasti cukup bijak untuk mengambil keputusan, ingat, kau harus hubungi aku, aku sia kapanpun untuk menemani mu sebagai teman ngobrol misalnya…”, ledeknya, Taemin memeluknya dan mengangguk, ia menghapus air matanya yang ingin jatuh.

“Ya…tenang saja… aku juga akan kembali…”, ..mungkin..sambungnya dalam hati.

Kemudian mereka melepas pelukannya, karena Taemin harus segera ke koridor kereta. Jonghyun melambaikan tangannya, dan Taemin berbalik, dia tidak mau berbalik, karena dia tidak mau menoleh kebelakang, dia menangis, ia ingin meninggalkan semuanya, semua kenangannya di sana, Jonghyun , Yoogeun, Heechul umma, bahkan Minho…hanya satu dan ia selalu bawa, hanya itu yang ia bawa bersamanya.

“Minho hyung…nado saranghae..aku akan terus mengingatmu..”, katanya memegang erat foto pernikahan nya dan Minho didadanya.

.

Jonghyun berlari ke pemeriksaan tiket, ia berselisih pada penjaga tiket bahwa ia hanya ingin masuk sebentar, setelah lama berdebat kurang lebih 5 menit, ia memberikan uang yang besar padanya, dan berjanji dia akan kembali, syukur penjaga itu memberikannya ijin, dia berlari layaknya orang kesetanan, ia cari dimana Taemin dan memasuki koridor mana.

“SHitt…dimana kau Taemin…”, gumamnya seraya matanya terus menyusuri koridor kereta.

[Kereta jurusan Daegu akan berangkat, diharapkan para penumpang untuk segera masuk kedalam kereta]

Jonghyun menoleh ke kereta sebelahnya, dia maish terus mencari sosok Taemin.
“Permisi, kereta tujuan Gwangjing-gu apa sudah berangkat?’, tanyanya pada seorang satpam.

“Hah? kereta itu tidak ada jam segini, kereta itu sudah berangkat pukul 11 tadi..”, katanya,

Jonghyun terbengong, dia terus menoleh kesana kemari, namun ketika kereta di dekatnya berjalan matanya menangkap sosok yang ia kenal , sosok itu membelakanginya, namun ia cukup tahu itu siapa.

“Kemana tujuan kereta ini?’, tanya nya lagi,

“Ini? ke Daegu…”, balas satpam itu cepat. “Kenapa? kau ketinggalan kereta atau mencari orang?’, tanyanya.

Jonghyun hanya menggeleng dan terus menatap sosok itu, pada akhirnya dia berbalik dan benar, namun percuma, bersamaan itu kereta yang membawa Taemin pergi menjauh dan meninggalkannya bingung ditempatnya,
“Kenapa? dan ada apa sebenarnya?’tanya Jonghyun bingung.

.

.

Minho terdiam dan menunduk ia tekah selesaikan semua ceritanya, semuanya, ia telah buka semuanya. Begitu juga surat yang ia terima pagi ini ia ceritakan, jadi Ummanya tahu kenapa hari ini dia tidak bisa melihat Taemin tidak ada lagi dirumahnya.

“Umma sudah duga..”, kata nya, Minho mendongak.

“Maksud Umma?”,

Ummanya mendekat dan membelai pipi Minho, “Kau anak umma, lahir dari rahim Umma, jadi umma tahu kalau kau berbohong ata menutupi sesuatu dari Umma..”, katanya, Minho menatap Ummanya tidak percaya.

“Tidak mungkin, kau bercanda…kau selalu seperti itu Umma..”, cecar Minho berdecak dan berdiri didepan jendela.

“Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba dia menghilang? aku tidak mengerti alasannya? tidak masuk akal, apa yang ia sembunyikan?”, tanya Minho.

“Hei , kau mau lihat apa yang Umma temukan?’, tanya Ummanya, Minho berbalik.

Ummanya memperlihatkan map coklat ditangannya, “Apa itu?”, tanya Minho.

Ummanya menyerahkannya pada Minho dan Minho dengan cepat membukanya, ia tidak mengerti, biodata Taemin, nama sebuah panti asuhan, foto Taemin dengan seragam sekolah, foto sebuah keluarga yang terdiri dari ayah , ibu, seorang namja…tunggu, ini…Taesun dan dimana Taemin?

“Umma..apa ini maksudnya?”, tanya Minho bingung.

“Umma yang cerita sekarang…”, katanya, Minho menatap Ummanya heran.

“Kemarin, Umma kerumahmu, umma iseng ingin melihat kamar kalian, tapi Umma benar terkejut, kenapa kamar yang umma pernah tempati itu sangat bau khas Taemin, setelah Umma selidiki, ternyata benar itu kamarnya, saat itu Umma tidak sadar karena mengantuk, kemudian Umma menemukan buku harianya , disana tertulis, semua hal kenapa ia bisa bertemu dengamu…sampai pernikahan kontrak kalian…”, katanya, Minho terbelalak.

“Umma sedikit kecewa, karena anak Umma membohongi Umma, namun…disisi lain, Umma tidak bisa membenci Taemin, Umma sudah anggap dia anak Umma…”, heechul menghela nafas. “Akhirnya , Umma mencari tahu siapa Taemin setelah Umma menemukan surat diselipan diarynya, yaitu surat berupa adopsi anak, dan yah…atas nama Lee Taemin…”

Ummanya menjelaskan, bahwa Taemin diambil dari panti asuhan  ketika masih berumur 4 bulan, ia ditinggalkan begitu saja didepan panti asuhan dalam umur 2 bulan, sampai akhirnya sebuah keluarga mengambilnya yaitu jeluarga Lee.

Keluarga itu tinggal di Incheon, namun kabarnya, keluargnya tidak melakukan Taemin dengan baik, anak itu bahkan tidak sempat lulus SMA karena pergi begitu saja, ibunya sayang padanya, namun Ayah dan Hyungnya tidak, kabarnya Taemin dipaksa ikut memeras orang kaya untuk membantu Hyungnya mendapatkan banyak uang, Hyungnya sudah sering keluar masuk penjara, namun ia tidak pernah menyerah , sedangkan ayahnya, ia selalu memukul Taemin, dan Ibunya, tidak bisa berbuat apapun, karena dia akan menerima perlakuan yang sama dengannya dari ayah dan Hyugnnya.

Kemudian dikabarkan Taemin menghilang semenjak Hyugnnya juga pergi entah kemana selama 2 bulan,tanpa mengatakan pada siapapun, ia pergi meninggalkan keluarganya.

“Umma…yakin?’,tanya Minho ketika ia mendengar semuanya.

“Umma yakin nak…ini info dari Mr. Jung dan Mr.Park…mereka membantu Umma, kau tahu kan mereka punya info yang akurat akan sesuatu? dan Umma ingin membicarakan ini pada kalian tadinya bukan bermaksud ingin menghakimi kalian, Umma hanya ingin melindungi Taemin …”, kata Ummanya.

Minho mengehempasan dirinya ke sofa terdekat, “Percuma Umma..bahkan aku tidak tahu dia dimana? aku kehilangannya…”, kata Minho menatap lantai nanar.

Ummanya menarik nafas dan bangkit memeluk anaknya itu, “Tenang sayang…Umma akan bantu cari…”, katanya , Minho diam saja, ia meremas dadanya, sesak…dia benar ingin bertemu Taemin ..

“Kau mencintainya yah?’, tanya Ummanya membelai kepala Minho, Minho hanya diam dan mengangguk, kemudian menangis dalam diam.

“Kajjima…”, lirihnya.

.

.

Minho menyeruput kopi hitamnya pagi itu di cafe yang biasa ia datangi ketika senggang, ia sedang menunggu seseorang,

“Hai Minho sshi…maaf lama menunggu yah?’,

Minho mendongak, dan tersenyum simpul ia letakan kopinya dan memepersilahkan namja didepannya duduk.
“Tidak juga, mau pesan apa?”, tanya Minho seraya memanggil pelayan.

“Apa saja..”, kata nya tersenyum cokky. Minho tersenyum dan mengorder hot capuccino dan menu sarapan pagi berupa croisants dan pastry.

“So… maaf menghubungi terlalu cepat, aku sebenarnya ingin bertemu dengan Taemin, kemana dia? kau tidak katakan aku ingin bertemu dengannya?’, tanyanya,

Minho tersenyum ,”Mianhe Taesun Hyung…Taemin sedang sakit sekarang, dia ada dirumah keluargaku, kita bicara berdua saja..kau tidak keberatan kan?’, tanya Minho menatap lurus Taesun, yang Taesun tidak tahu tangan Minho sudah mengepal di bawah meja, sosok didepannya lah yang telah merusak Taeminnya, memeras Taeminnya dan menggunakan akal bulusnya serta kekerasan untuk membuat Taemin patuh padanya.

“Hmm … begitu rupanya, oke…tidak apa-apa..”, katanya, mengamati gelagat Minho, Taesun menyembunyikan senyum sinisnya…

“Lalu apa yang mau kau bicarakan?”, tanya Minho.

“Bagaimana kabar Taemin adikku? apa dia mengurusmu dengan baik, maafkan dia jika dia terkadang suka menyusahkan…”, katanya terkekeh, Minho hanya tersenyum.

“Well, terkadang dia suka manja dan salah melakukan apapun, but its fine…”, jawab Minho.

“Yeah… dia memang begitu, aku saja dulu susah sekali memberikannya perngertian, dia itu benar-benar menyusahkan, dia pergi begitu saja tanpa memberi tahu ku, dia tidak tahu bahwa umma dan appa mengkhawatirkannya, tidak tahu—“

“..berapa?”,

Taesun terdiam, “Hah? …apa?”,

“Berapa yang kau butuhkan?”, tanya Minho melihat ke arah Taesun dari sudut matanya yang tertutup cangkir kopi, “…kau butuh uang kan? berapa yang harus aku berikan padamu? aku akan berikan untukmu, tapi jangan kau ganggu istri ku lagi.”, jelas Minho dingin, Taesun terdiam sesaat , namun kemudian ia tertawa, sangat keras dan terpingkal-pingkal, sekeliling Minho melihat mereka, namun Minho memasang tampang dingin, meletakan tangannya di dengkulnya dengan tenang.

Namun tawa Taesun akhirnya berhenti, “Kau berusaha menyogok ku ? apa maksudnya? memang apa yang kulakukan sehingga kau pikir bahwa aku mengganggu istrimu yang notabene adikku sendiri?”, tanya nya terkekeh dan memutar bola matanya,

Minho tersenyum dan mengeluarkan berkas dari tasnnya,melemparnya didepan Taesun, menatap sosok itu dengan tatapan dingin dan memintanya untuk segera membukanya, Taesun dengan ragu-ragu ia buka. Ketika semuanya terbuka, matanya terpana, ia melihat ke arah Minho bergantian dengan berkas ditangannya, Minho hanya diam dan menyeruput kopinya.

“Jangan kau pikir aku ini tidak tahu apapun … “, kata Minho tenang, Taesun menatap Minho dengan geram,

“Kau mau memerasku hah?”, tanya nya, Minho berdecak.

“Bukan sebaliknya? kau mau memanfaatkan Taemin sebagai umpan, dan kemudian kau akan merampas uang dari ku dengan cara lembut, menggunakan istriku? pfh, cara yang cetek.”, jawab Minho tenang, Taesun menggertakan gigi.

“Kau … kau bohong bahwa Taemin bersama keluarga mu kan?”, tanya Taesun kali ini merasa menang.

Minho tubuhnya langsung kaku, namun dia berusaha tenang dan melihat lurus ke mata Taesun, “Kau berusaha membohongiku? apa maksudmu memberikan semua data ini padaku? menakutiku? ingin memenjarakanku? kau bercanda Choi Minho… kau jangan main-main denganku..”, katanya berdecak, Minho tetap tenang namun tangannya mengepal dengan kencang.

“Aku tahu dia pergi kan? dia pergi dari rumahmu? meninggalkanmu?”, tanyanya, Minho terdiam, “Yaampun Choi Minho, kau ini bodoh atau apa? kami sering melakukan permainan ini … dan sekarang dia pergi dari mu setelah mendapat semuanya…”, katanya terkekeh, Minho mulai menggertakan giginya.

“Percuma kau memerasku, tidak ada gunanya, dia lebih licik dari aku, mungkin aku dengan cara kasar, tapi dia, aku rasa dia paling berbahaya dengan wajah angelicnya itu, dan—” BUUK!!

Minho tidak bisa lagi menahan emosinya, ia bangkit dari duduknya dan meninju telak Taesun hingga terjengkang, Taesun menyengir lebar dan tertawa seraya mengelap darah dari ujung bibir dan hidungnya.
“Kenapa? benar ya kataku dia pergi? “, tanyanya.

“Dimana…”, desis Minho meraih kerah bajunya Taesun masih tetap terkekeh, “Dimana Taemin?”, tanyanya lagi.

“Taemin? kenapa tanya aku? bukannya kau suaminya? bukannya dia bersama keluargamu?’, ledeknya, Minho meninjunya lagi dan terjengkang, security mulai datang namun Minho melihat sinis ke arah mereka, seolah berkata dengan matanya, get-off-or-else-look.

Taesun berdecak dan menepis tangan Minho dari kerahnya,”Dengarkan aku, aku pikir ini tidak cepat terjadi, dia ternyata tangkap juga dengan kedatanganku, dia harus segera pergi, dia takut kau mencium niat kami dan kau membuatnya tidak bisa memperoleh apapun dari mu.”, katanya, Minho memejamkan matanya sejenak, ia tidak boleh termakan emosi, bisikan setan sangat berbahaya.

“Jadi…mau mu apa?”, tanya Minho, Taesun berdecak.

“Mau ku?”, tanya Taesun, ia berdiri dan berbisik pada Minho. “Kau tidak keberatan kan kalau berita pemukulan ini disebarkan, dan gossip tentang pernikahan mu yang hancur ini di publish? oh please… a little bit gossip make your life feels so fun, right?”

Minho meliiriknya sinis dan tersenyum, ia mengeluarkan cek kosong dan meletakannya dimeja, “Try me.”, bisik Minho dan pergi,

Minho mengeluarkna ponselnya dan menelpon seseorang,
“Perhatikan dan  bereskan Lee Taesun …”, katanya,

“…”

“Oh,dengan cara bersih tentunya, dia benar-benar berpengaruh buruk terhadap kebaikan dunia.”, kata Minho dna menutup telponnya.

Namun bukan segera ia menyalakan mobil ia terpaku ditempatnya, ia keluarkan dompetnya, dan ada foto pernikahan mereka disitu, entah sejak kapan ia menyimpannya, tidak…dia tidak pernah tunjukkan yang satu ini pada siapapun. Ia sangat merindukan Taemin, entah jadi apa selama 2 hari hidupnya ini, mungkin ia terlihat wajar saja, tapi malamnya ia habiskan dengan begadang memikirkan apa yang benar dan yang salah, terlebih apa yang barusan dikatakan Taesun, membuatnya ingin mencari Taemin lebih besar, ingin dengar dari mulutnya sendiri, meski pahit, dia akan lega nantinya.

“Yoboseyo …?”

“…”

“Onew hyung? mworago?”,

“…”

“Jinjja? oke, omw… just a hour…gomawo…” Minho mematikan ponselnya dan menatap jalanan, now what? Onew Hyung, Jonghyun, dan…Umma? mau apa mereka padanya?

CUT~~

Well, thats it! dikit kan? haha..lagi gak mood, biasa lagi krisis mood dan juga PD😦

Sorry if theres many wrong typo, im such a lazy ass.

Hope you likey, 2 part left.

COMMENTS ARE LOVE❤

SEE YA

160 thoughts on “[2min] Dearest part 7 of ?

  1. wahhhhh kirain rahasia extrim trnyata gara2pnya kk yng jahat jd pergi tetem…. thor ada kata2 yng ilangg….. kata”surat kontrak”yng ktulis cma kontraknya doankk xixixi +,^

  2. huft… malangx nasibmu Taeby, untuk merasa dicintai aj susahx mnt ampun.
    aish ini smw krn kau Taesun*asah golok* HATE U

  3. Fighting mino ya.. temukan taem dan bawa pulang… taem kenapa pergi.. jelas jelas minho udah cinta kamu kamu juga cinta dia kan.. kenapa pergi..

  4. taesun kakak angkatnya gitu?
    tapi kenapa kyknua dia benci emaknua sendiri? apa karna dia cowok? -.-
    taemin~ where are you? taemin mau kemana? :3

  5. Lho… Kenapa Taemin g jawab pernyataan Minho.
    Taemin kan cinta juga sama Minho.
    Kenapa malah pergi tinggalin Minho.
    Kasihan Minho.
    Pasti sedih banget ditinggalin Taemin.
    Taemin sayang … Kamu kemana?

  6. Untung taemin ninggalin jejak kemana dia pergi ke jonghyun!
    Ya taeminnya jg klewat polos sih, mau kabur malah ninggalin jejak -,-

  7. jnja taesun nyebelin bangat..
    beruntung jjong ngantarin tae, jadi dia bsa lapor ke minho.
    onkey kayaknya pada mikir yg macam2 ma hubungannya jongtae.

  8. Kenapa taemin milih pergi sih kan bisa diomongin baik” tih minhonya jugak udah mulai sukak dan janji ga bakaln ninggalin taemin, taesunnya kasik kopi sianida ajah deh biar ga ganggu” idup taemin

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s