[SHINee + Jino] STALKER Chap 2


annyeoooong^^

Cepet kaan, cepet kaan? Hahaha ini kmrn banyak yang ngeluh susah komen, kyknya wp error =3= yang pasti makasiiiii😀

Yaah ceritanya lumayan rumit, dengan tokoh yang banyak jadi maaf klo agak pusing hehehe

Yah sudahlaah here!

[SHINee + Jino] STALKER Chap 2

Original story by : Aya Haruka

.

.

Taemin berjalan masuk bersama Minho.  mereka mendapati seorang namja cantik terduduk dengan novel di depannya.  Taemin tersenyum lalu menghampiri tempat tidurnya bersama Minho. namja itu  menyelipkan pembatas buku pada halaman yang dibacanya dan balas menatap mereka.

“Annyeonghasseo, kami dari kepolisian Seoul.” Sapa Taemin sambil menunjukkan lencananya dan memasukkan kembali lencananya ke dalam saku.  Minho dengan malas-malasan mengikuti gerakan yang sama.  “Aku Lee Taemin, dan ini rekanku Choi Minho.”

“Annyeonghasseo, Kim Kibum imnida.” Jawab Key gugup.

“Ah, tidak perlu begitu.  Agar lebih mudah lebih baik aku memanggilmu Key hyung.  Ada beberapa pertanyaan yang ingin kami ajukan.” Ujar Taemin.

“Oh, silahkan.”

Taemin pun duduk untuk melakukan introgasi sedangkan Minho duduk santai di sofa memperhatikan Taemin diam-diam.  Taemin mengeluarkan buku catatan kecilnya dari dalam saku dan membukanya.  Ia memulai pertanyaannya dengan hati-hati.

“Bisakah kau menceritakan apa yang terjadi padamu sebelum kau terapung di sungai Han?” tanyanya.

Key menundukkan kepalanya dan mulai mengingat-ngingat kejadian malam itu.  “Ketika malam itu, aku pulang dari kantorku.  Saat itu aku menunggu taksi untuk pulang, namun tak satu pun taksi lewat malam itu.” jawabnya.

“Kau pulang pada pukul berapa?” Tanya Minho tiba-tiba.  Taemin tersentak kaget.

Key menoleh padanya.  “Sekitar jam 11.30.” jawab Key.

“Baiklah, lanjutkan!”

“Lalu tiba-tiba hujan deras, aku kemudian memutuskan untuk  pergi ke kafe terdekat untuk minum kopi, tapi kemudian ……”  Key terdiam.  Air matanya mulai menggenang di matanya.

“Key hyung, aku tahu ini sulit bagimu.  Tapi, kami butuh keterangan darimu untuk menangkap pelakunya.  Kau ingin dia diadili kan atas perlakuannya padamu, kan?”  kata Taemin lembut.  Key mengangguk sambil memeluk  lututnya gemetaran.

“Lalu, tiba-tiba ketika aku tengah berlari, seseorang menarikku ke sebuah gang gelap dan sempit.  Dia kemudian mencekikku dan mencoba menikamku dengan pisaunya.”  Kata Key pahit.  Ia menelan ludahnya lalu kembali bercerita.  “Aku memberontak sekuat tenaga hingga aku terlepas dan berlari.”  Key pun menceritakan kronologis kejadian itu sampai ia memilih untuk terjun ke Sungai Han.

Minho yang dari tadi duduk kemudian berdiri menghampiri mereka.  “Dari ceritamu, apakah kau melihat wajah si pelaku?” Tanya Minho.

Key menggeleng sedih.  “Tidak.  Saat itu gelap sekali.”

“Bisakah kau mendeskripsikan pria itu?” Tanya  Minho  keras, lalu kemudian memutuskan untuk duduk dan memperhatikan Taemin diam-diam..lagi.

Key berpikir dan berkata lambat-lambat, “Dia tinggi dan agak kurus.  Dia memakai topi hitam, jaket hitam, celana hitam… semuanya serba hitam.”

Minho terdiam menatap keluar jendela dengan pandangan menerawang sedangkan Taemin sibuk mencatat.  “Pekerjaanmu?” Tanya Minho  tiba-tiba.

“Aku penyiar radio di KBS World.” Jawabnya.

“Apa benar jika kau adalah penulis novel ‘Tears for Love’?” tanyanya.  Taemin kaget mendengar pertanyaan Minho yang tak terduga itu.

“Y….Ya.”

“Dan dari keterangan Dokter  Kim Jaejoong kemarin kau mendapatkan teror selama sebulan ini?”

“Ya.”

“Teror apa saja yang kau dapatkan selama sebulan ini?” Tanya Minho tajam.

Key menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering dan menjawab, “Aku selalu di kirimi pesan singkat aneh dan telepon dari seorang pria dengan suara mendesah.  Dan beberapa kali aku dikirimi foto-foto diriku yang di potret tanpa sepengetahuanku.  Dan itu membuatku merasa di awasi.” Jawabnya panjang lebar.

“Apakah kau masih menyimpannya?” Tanya Taemin.

“I ….. iya.”

“Baiklah, kami akan periksa barang bukti itu.”  Jawab Minho dengan sikapnya yang cool seperti biasa.  Taemin  agak sedikit jengkel dengan gayanya mengintrogasi orang.

Taemin menatap Key yang masih gemetaran dan mencoba menenangkannya.  “Tenanglah, kami akan berusaha menangkap pelakunya.  Terima kasih telah memberikan keteranganmu hyung.”

Key mengangguk dan menyalami mereka.  Mereka keluar dari kamar rawat itu dan berjalan dengan pikiran melayang.  Taemin membaca kembali catatannya dan berpikir.  Sedangkan Minho mencari-cari sesuatu yang tidak ada di sakunya.

“Taemin-ah, kau harus mengganti rokokku!” tuntutnya.

“MWO?  Enak saja.  Pakai uangmu sendiri.”

“AISH! Kau yang menginjak rokokku tadi, kau yang harus menggantinya.”

“Tidak mau.  Salah sendiri merokok didepanku.”

“Taemin, kau ini benar-benar menjengkelkan, jika bukan …”

“APA?” Tanya Taemin sambil menantang.

“Kau selalu saja mengganggu kesenanganku tahu!” kata Minho menutupi omongannya yang hampir terlepas.

“Enak saja, kau itu yang selalu cari masalah denganku.” Bantah Taemin.

“Masalah apa?  Aku kan tidak pernah mencari masalah denganmu.”

“Ya! Kau ini yang menjeng…”

“Sudahlah, sepasang kekasih tidak baik bertengkar di pingggir jalan seperti ini.” Suara seorang pria menghentikan perang mulut mereka.

“Lee teuk hyung?, Kangin hyung?” Minho menyapa mereka.  Mereka adalah ahli Forensik di bagian kepolisian.  “Kalian sedang istirahat?”

“Ya begitulah.  Jadi kami mencoba mencari kedai restoran yang murah untuk kami, tapi yang kami temukan hanya sepasang kekasih yang sedang bertengkar mempermasalahkan rokok di tepi jalan.”  Ejek Eeteuk.

“Enak saja.  Dia bukan kekasihku!” elak Taemin yang benar-benar kesal digosipkan dengan pria ‘Urakan’ di sampingnya ini.

“Ya, dan aku juga tidak suka namja pemarah seperti dia.  Dia jauh dari tipeku.”

“Hah?  Pria sepertimu punya tipe?  Yang benar saja?”

“Apa maksudmu ‘Pria sepertimu’?”

“Ya, mana ada namja yeoja yang mau dengan pria sepertimu.”

“Apa kau pikir ada pria yang mau deng…”

“STOOOOOP!” seru Kangin dan eeteuk bersamaan.

“Kalian bisa tidak sih tidak berteriak-teriak?” kata Kangin kesal.

“Ya, benar. Apa kalian tidak malu?  Kalian sudah dilirik banyak orang dari tadi.” Tambah Eeteuk.

“Maaf!” Ucap Minho dan Taemin sambil menunduk malu.

“Tapi, walaupun kalian bukan sepasang kekasih kalian cocok juga.” Celetuk Kangin.

“APAAAAAA? HIIIIII…” seru mereka berdua sambil saling membelakangi dan bergidik ngeri mengusap-ngusap lengan mereka masing-masing.  Sedangkan, Kangin dan Eeteuk tertawa keras.

.

.

Heehul terdiam menatap Jino yang tengah duduk sambil merobek beberapa berita tentang kematian Kwon Yuri yang belum mencapai titik terangnya dari surat kabar yang Heechul bawa.    Heechul menghela nafas.  Ia membiarkan namja itu sibuk dengan  korannya.   Ia pun menghampiri white board di kamar itu dan membaca beberapa berita yang di tempelkan Jino  di sana.

Ia iseng membaca beberapa berita itu.  Ada berita tentang terbunuhnya jurnalis wanita, lalu seorang guru wanita, bahkan model wanita.  Semua wanita yang di bunuh itu mempunyai luka yang sama yaitu di leher.  Namun ada satu berita yang menarik perhatian Heechul, yaitu berita tentang bunuh dirinya seorang gadis SMA.

“Han Taeyoon, 18 tahun?” gumamnya. *bayangin taem di school of rock XD*

Dari semua artikel tentang para gadis yang di bunuh dalam lima tahun itu, hanya satu artikel yang memberitakan tentang bunuh dirinya seorang gadis SMA.  Heechul baru saja akan membacanya ketika pintu tiba-tiba terbuka.

“Heechul, bagaimana?” tanyanya.

“Ah, Hangeng.  Kemarilah, ada sesuatu yang aneh.” Ujar Heechul bersemangat.  Hangeng menghampirinya sebelum ia menghampiri Jino yang masih sibuk membaca Koran.

“Ada apa Chul?” tanyanya heran.

“Lihatlah ini semua.” Kata Heechul.  Hangeng mengernyit lalu balas menatap Heechul.

“Ini kan, artikel kematian para gadis yang di bunuh selama lima tahun ini?”

“Ya, dan ada satu artikel yang membuatku heran.”

“Apa?”

“Ini.” Heechul menunjukkan sebuah artikel yang dari tadi ia baca.  Saat melihat potongan artikel Koran itu wajah Hangeng memucat seketika.  Ia dengan gemetaran mengambil artikel itu dan menatap foto gadis itu dengan pandangan nanar.

“Hangeng, kau kenapa?” Tanya Heechul heran dengan perubahan ekspresi wajah pria itu.

“Chul, tolong tinggalkan kami berdua.” Perintahnya.

“Apa?”

“Tinggalkan kami berdua.” Katanya lagi.

“Uhm… baiklah.”  Heechul keluar dari ruangan itu.  Hangeng kemudian menarik kursi dan duduk di hadapan Jino yang masih serius membaca Koran.

“Jino, aku ingin bicara denganmu.” Katanya.  Jino mengangkat kepalanya dan melipat Koran itu.

“Apa?” tanyanya dingin.  Hangeng menyodorkan artikel itu.

“Apa hubungannya adikku dengan gadis-gadis yang terbunuh itu?”

“Untuk apa kau menanyai orang gila sepertiku?”

“Aku tanya sekali lagi.  Apa hubungannya adikku dengan gadis-gadis itu?” tanyanya tegas.

“Keluarkan aku dari sini.  Aku tidak gila.” Jawab Jino datar.

“Tidak bisa.  Jika aku mengeluarkanmu dari sini, itu namanya melanggar hukum.  Kau adalah terpidana percobaan pembunuhan dan jika tidak karena aku kau mungkin akan dipenjara seumur hidup.”

“Cih… penjara lebih baik dari pada tempat ini.” Katanya sambil tertawa senang.

“Lalu kenapa dulu kau mau berpura-pura menjadi orang gila?” ejek Hangeng.

“Yah, itulah orang yang di mabuk cinta.” Balasnya sambil terkikik geli.  Namun tiba-tiba ia memukul meja dengan kedua telapak tangannya dan berkata dalam bisikan geram, “Keluarkan aku dari sini!”

“Tidak bisa.  Aku sudah berjanji pada Jinki untuk tidak membiarkanmu keluar dari sini.” Tolak Hangeng.  Jino menunjukkan artikel yang paling kecil dan berada di kolom paling bawah.  “Kau tahu Dokter Han?  Dia adalah korban yang selamat.  Dia yang akan membantuku bertemu orang yang telah membunuh adikmu.”

“CHO JINO! ADIKKU BUNUH DIRI!” elak Hangeng dengan suara keras.

“Di matamu adikmu bunuh diri, tapi bagiku itu adalah pembunuhan.” Bantahnya keras.

“Dia bunuh diri, tidak bisakah kau menerima itu?”

“Dia di bunuh! Dokter Han, kau adalah psikiater.  Aku yakin kau tahu itu.”

“CUKUP!” gertak Hangeng lalu berdiri, Jino ikut berdiri dengan amarah yang meluap-luap.  Tubuh Hangeng kini sudah dipenuhi peluh.  Mereka terdiam dengan mata terbelalak.  Hangeng kemudian melunak dan berkata pada namja itu, “Kau beristirahatlah.  Aku harus pergi.”

Jino terdiam.  Sedangkan Hangeng keluar dan kembali ke kantornya.  Para perawat yang bertemu dengannya mengangguk menyapanya, namun ia sama sekali tidak membalas anggukan ataupun sapaan mereka.  Ia masuk ke dalam kantornya dan melepas jas putihnya lalu melonggarkan dasinya.

Ia sambil menggulung lengan kemeja cokelatnya masuk ke kamar mandi dan mencuci mukanya dengan ganas.  Ia menatap wajahnya yang tengah keruh dan kacau.  Ia balas menatap bayangan matanya yang kini berair.

“Taeyoon, apa yang harus kulakukan?” bisiknya pada cermin.

.

.

Key yang tengah tertidur di atas ranjang rumah sakit tidak menyadari seseorang masuk ke dalam kamarnya yang gelap sambil menyeringai menatapnya.  Pria itu mendekatinya sambil membawa pisau perak di tangan kirinya.  Ia mendekati Key dan tersenyum senang.

“Manis, saatnya kita bersenang-senang.” Bisiknya lembut sambil mengelus pipi Key dengan pisau peraknya yang dingin.  Key yang merasakan dinginnya pisau itu dipipinya terbangun.

Pria itu dengan cepat membekap mulut Key untuk meredam suara Key.  Mata Key terbelalak lebar.  Ia meronta dengan sekuat tenaga.  Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Key dan berbisik menyeramkan, “Malam ini aku akan membunuhmu.” Katanya sambil tertawa senang.  Pisau perak itu kini menelusuri leher Key.

Dan tiba-tiba pintu menjeblak terbuka membuat seberkas cahaya dari lorong masuk ke dalam kamar itu.  “Ya, siapa itu?” terdengar suara seorang pria di ambang pintu menatap mereka.

“Ya, apa yang kau lakukan di sana?”

Pria yang membekap mulut Key berbalik menatap pria yang berdiri di ambang pintu.  Ia menghentikan kegiatannya dan dengan cepat meraih kursi yang berada di samping tempat tidur dan memecahkan kaca jendela dengan cepat.  Pria yang berada di depan pintu mengambil tindakan untuk mengejar pria itu, namun pria itu sudah pergi dengan melompati jendela.

Key beranjak dari tempat tidurnya dengan ketakutan dan melepas jarum infusnya lalu berlari untuk menyalakan lampu.  Dilihatnya seorang pria menatapnya dengan pandangan bertanya.  Ya, pria itu adalah Jung Yunho.  Dengan jas putih dokternya, ia mematung menatap Key dengan pandangan penuh tanya.

“Key, siapa orang tadi?” tanyanya heran.

“Di… dia… orang yang ….men…coba….. mem..bunuhku.”

.

.

Shindong beserta Jinki, Taemin, Minho, Jungmo dan beberapa petugas keamanan sedang memeriksa TKP, dimana Key malam ini di serang.  Key yang gemetaran ditemani Jaejoong yang malam itu tidak jadi pulang karena mendapat berita tidak menyenangkan itu.

Shindong menghampiri Key yang masih gemetaran.  Ia tersenyum hangat padanya.  “Selamat malam Kibum-ssi, aku Kepala polisi Shin.  Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu.” Ucapnya lembut.  Ia lalu mengangguk hormat pada Jaejoong, dan Jaejoong pun pergi menghampiri Yunho yang sedang ditanyai.

“Te….tentu saja.” Jawabnya terbata-bata.

“Tadi kami sudah menanyai Dokter Jung Yunho tentang hal itu.  Dokter Jung mengatakan bahwa ia sama sekali tidak dapat melihat wajah si pelaku.  Apa kau dapat melihatnya Kibum-ssi?”

“T..tidak.”

“Maaf?”

Key menggeleng, “Kamar sangat gelap sekali.  Dan dia mencoba membunuhku malam ini.” Katanya dengan mata berkaca-kaca.  Shindong yang merasa kasus ini menjadi semakin rumit menghela nafas lelah. “Baiklah, kami akan menyiapkan seseorang untuk menjagamu mulai saat ini.”  Key pun akhirnya dipindahkan ke ruangan lain yang lebih nyaman dengan ditemani Jaejoong.

Shindong bangkit dan menghampiri Taemin dan Minho yang masih menanyai Yunho, sedangkan Jinki dan Jungmo masih saja memeriksa TKP secara teliti.  Shindong pun akhirnya meminta mereka berkumpul.

“Aku ada tugas untuk kalian.  Aku mohon secepatnya kalian selidiki kasus ini sebelum jatuh banyak korban.” Katanya pada Minho dan Taemin.  Mereka mengangguk tegas.  Jinki  dan Jungmo yang baru saja kembali menggeleng karena tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan di TKP.

“Jinki, aku punya tugas untukmu.  Kau untuk saat ini kutugaskan untuk menjaga Kibum  sampai pelaku tertangkap.  Arasseo?”

“Hah? Aku?” Jinki menatap Shindong heran.

“Iya kau.  Kau ini kan Detektif  Kepolisian.  Aku yakin kau lebih jeli dalam melindungi target daripada polisi lainnya.”

“Tapi, kenapa aku?  Kenapa tidak Jungmo saja?” kata Jinki separo kesal di beri tugas yang baginya sangat membosankan itu.

“Tidak.  Tidak.  Jungmo sudah aku tempatkan di tempat yang khusus.” Jawabnya enteng.  “Jungmo, ayo kemari!” perintahnya pada Jungmo.  Jungmo mengangguk dan mengikuti Shindong ke tempat yang agak jauh dari jangkauan pendengaran mereka.

“Ya Pak?” tanya Jungmo.

“Aku sudah memutuskan.  Kau akan aku tempatkan untuk menyelidiki kasus percobaan pembunuhan lima tahun lalu, yang sempat menggemparkan Seoul.”

“MWO?” Jungmo  menatap Shindong tak percaya.  Ia tak percaya pria itu akan memberikannya tugas ini padanya.

.

.

Jino terdiam menatap foto Taeyoon di artikel itu.  Ia meremas artikel itu.  Air matanya jatuh.  Ia merasakan kepalanya terasa sakit sekali.  Ia menggigit bibirnya untuk  meredakan isakkannya . “Taeyoon~ah, aku berjanji aku akan balas dendam!” ucapnya lirih.

~flashback~

Bagi Jino dan Taeyoon Facebook sesuatu yang menyenagkan ketimbang Cyworld yang sering dipakai remaja Korea, karena pengguna Facebook tidak harus menggunakan nama asli, alamat yang lengkap ataupun nomor ID.  Selain karena keuntungan itu, mereka lebih sering ngobrol dengan teman-teman di luar Korea.

Dan Jino kini sedang asyik chatting dengan teman jauhnya lewat facebook. Dua jam sudah berlalu dengan obrolan yang bisa di katakan tidak terlalu penting.  Yah, namanya juga teman dunia maya, dan ketika Jino kembali membuka Beranda Facebook-nya muncul satu permintaan quiz dari Taeyoon.

‘Cara Bunuh Diri yang Cocok untuk Anda’

Bagi Jino ini agak mengerikan, dan ia melihat kabar terbaru bahwa Taeyoon mengikuti quiz tersebut dengan hasil:

‘Sayat Urat Nadi atau Leher

Buktikan anda bukan pengecut! Lakukan cara bunuh diri yang paling menyakitkan! Buktikan anda berani! Bayangkan betapa keras teriakan orang yang melihat mayat anda di ruangan penuh percikan darah.’

Jino bergidik ngeri, ia membaca tanggapan Taeyoon:

‘Hmmph boleh di coba. Rasakanlah STALKER! Aku tunggu teriakanmu melihat mayatku. Hahahaha!’

Jino kembali bergidik ngeri dan pulang ke rumah, ia ketika sampai langsung tertidur tanpa makan malam.

Ketika tengah tertidur pulas, ponselnya berdering nyaring.

“Halo! Jino! Ini Hangeng!” Suaranya terdengar agak panik.

“Oh,ada apa?” tanya Jino berusaha untuk sadar sepenuhnya.

“Taeyoon belum pulang ke rumah.”

“Apa? Taeyoon belum pulang? Sekarang jam berapa?” Mendengar itu Jino kini sadar sepenuhnya.

“Jam 2 pagi. Bisakah kamu membantu kami?”

Akhirnya,  Jino pagi-pagi sekali berangkat ke sekolah. Ia mencemaskan Taeyoon yang kemarin ia tinggalkan di lab komputer sendirian. Jino membuka pintu. Tidak ada siapa pun.

Ia pun mencoba menghubungi gadis itu melalui ponsel, ponselnya aktif, namun tidak di angkat. Jino terus saja menelusuri lorong-lorong kelas, hingga ia mendengar ringtone ponsel Taeyoon dari ruang seni rupa.

Ia membuka pintu, dan ketika ia melihat kanvas-kanvas yang penuh bercak merah itu ia terpekik. Dan pekikan kecil itu menjadi jeritan histeris ketika ia melihat seorang gadis terbaring dengan bersimbah darah.  Jeritan Jino terpantul pada dinding-dinding ruang seni yang penuh dengan darah itu.  ia mendekati tubuh sahabatnya.  Ia mengguncang-guncangkan tubuh gadis itu sambil menangis.

“Taeyoon, bangun! Banguuuun!” isaknya.  “Taeyooooonn!”

~end of flashback~

.

.

Hangeng malam itu diam di bangku taman yang sering di jadikan tempat Taeyoon menunggunya saat gadis itu mengantarkan makan siang untuknya.  Taman itu gelap.  Hanya tempat inilah yang mendapat sedikit penerangan.  Hangeng meneguk Pepsi Blue-nya *iklan mode on* sambil merenungi perkataan Jino tadi siang.

“Hangeng.” Suara seorang namja yang lembut membuat Hangeng menoleh padanya. Heechul.  Hanya Heechul-lah yang tidak pernah memanggilnya ‘Dokter’.  Padahal dia baru setahun bekerja di rumah sakit itu.

“Chullie-ah.” Balasnya.

“Ngapain kau disini?  Sudah malam, kenapa kau tidak pulang?”

“Kemarilah!” pinta Hangeng tanpa menggubris pertanyaan Heechul.  Heechul pun menghampirinya dan duduk di kursi itu.

“Kau sepertinya lelah.” Ucap Heechul.

“Ya, aku sangat lelah chullie.” Katanya lirih.  “chullie~ah, bolehkah aku bersandar di bahumu?” tanyanya.

Heechul tersentak dan kemudian ia mengangguk.  “Ten… tentu saja.”  Jawabnya agak tergagap.  Hangeng bersandar di bahu gadis itu.  Ia merasa nyaman bersandar pada Heechul.  Beban yang selama ini ditanggungnya seakan terangkat perlahan-lahan.

“Hangeng, boleh aku bertanya?”

“Ya?”

“Siapa gadis yang bunuh diri itu?” tanyanya.  “Yang ada di artikel itu.”

Hangeng terdiam, air mata kini menggenang di matanya.  Ia menjawab dengan lirih, “Dia adikku.  Adikku yang bunuh diri lima tahun yang lalu.” Jawab Hangeng.

Heechul yang mendengarnya jadi merasa tidak enak.  “Maaf Hangeng.  Aku benar-benar tidak bermaksud apa-apa.  Aku tidak tahu bahwa…”

“Tidak apa-apa!” potong Hangeng.  Heechul terdiam.  Mereka terdiam cukup lama.  Heechul nyaris saja tertidur  jika Hangeng tidak mengangkat kepalanya dan menatapnya dengan air mata yang berlinang.

“Chullie-ah, kumohon jangan tinggalkan aku!” katanya dengan pandangan memohon.

“What the…?” gumam Heechul tak percaya.  Ia meyakinkan dirinya bahwa ia salah dengar.  Hangeng mendekatinya.  Heechul mundur perlahan di kursinya.  Hangeng meraih wajah Heechul dan mendekatkan wajahnya ke wajah Heechul, lalu berkata lirih, “Chullie-ah, saranghaeyo!  Jeongmal saranghaeyo!” dan ia pun mencium Heechul di kursi itu.

.

.

Sore yang dingin itu datang dengan cepat.  Hangeng membawa Jino dengan kursi rodanya manuju taman setelah Jino di suntik dengan obat penenang.   Jino duduk memandang sekitarnya dari balik geraian rambutnya.

“Hangeng, ada telepon untuk Jino.” Kata Heechul lantang.  Hangeng heran, tidak biasanya ada telepon untuk Jino.  terakhir kali orang yang menelepon Jino adalah Kyuhyun.  Mantan Dokter di sini.  Kyuhyun pindah ke Jepang setelah ia menikah dengan Sungmin, kakak Jino.  Hangeng memutar arah kursi roda Jino dan membawa gadis itu ke ruang kerja para Perawat.  Di rumah sakit ini hanya Jino yang menerima fasilitas telepon.

Hangeng mengambil gagang telepon dan memberikannya pada Jino dan keluar dari ruangan itu untuk memberi sedikit privasi.  “Annyeong, Jino!” sapa suara seorang namja lembut.  “Ini Sungmin!” jantung Jino seperti berhenti berdetak mendengar suara itu.  “Apa kabarmu?”

“Baik.” Jawab Jino serak.  Air mata sudah menggenang di matanya.

“Baguslah.” Jawab Sungmin.  “Kyuhyun masih mencemaskanmu.  Kau belum keluar dari tempat itu?” Kini air matanya sudah jatuh tak tertahankan.

Jino menggeleng, namun disadarinya Sungmin tidak dapat melihatnya.  “Belum hyung.” Jawabnya.  “Bagaimana kabar Eomma dan Otosan?” tanyanya *Jino blasteran Korea-Jepang*.  Sungmin terdiam.

“Mereka baik.” Jawab Sungmin setelah terdiam cukup lama.

“Baguslah.” Jawab Jino sambil mencoba menghapus air matanya.  Ia teringat betapa Ayahnya malu sekali padanya.  Ayahnya adalah seorang bussinessman yang sangat tersohor di Jepang dan Korea, namun karena kasus anaknya, ia jadi mem‘buang’ Jino, dan membawa Eomma yang asli orang Korea dan juga Kyuhyun kakaknya beserta Istrinya.

“Oya, Eomma mencemaskanmu.” Katanya.  “Sudah lima tahun ia tak berjumpa denganmu.”

“Oh sampaikan salam kangenku pada Eomma!  Sayonara niisaan!”  Tanpa menunggu balasan Sungmin, Jino menutup telepon itu dan menjalankan kursi rodanya dengan perlahan-lahan.  Di pintu ia berpapasan dengan Hangeng.  Dan Hangeng pun membawanya ke taman.

Jino perlahan bangkit dari kursinya dan berbaring di atas rumput hijau itu.  Hangeng pun mengawasinya dari jauh, membiarkannya sendirian.  Jino memiringkan tubuhnya dan bergulung seperti embrio yang masih dalam kandungan.  Ia memejamkan matanya.

“Sungmin hyung, kenapa harus kakakku?  Kenapa harus dia?” isaknya.

.

.

“Dia berbaring di sana.” Jawab Hangeng pada seorang pria.  Pria itu mengangguk dan menghampiri namja yang tengah terbaring di atas rumput itu.  Ia mengguncangkan tubuh namja itu pelan.  namja itu pun bangun dari tidurnya dan menghapus air matanya.

“Jino, kau baik-baik saja?” tanya pria itu cemas.

Mata Aya terbelalak tak percaya, “Choi Siwon?”

***

Taemin pagi itu membuka kotak suratnya untuk mengambil surat kabar harian.  Ia pun mengambil beberapa surat yang ada di kotak surat itu.  Sambil minum teh ia menyimpan koran itu dan melihat beberapa surat dan satu amplop cokelat besar.

To: Lee Taemin

Taemin mengernyit.  Ia membalikkan amplop itu.

From: STALKER

Tidak ada alamat pengirim.  Hanya nama pengirim saja yang tertera.  Ia membuka amplop itu dan melihat isinya.  Matanya terbelalak lebar ketika ia melihat isi dari amplop itu.  Seluruh tubuhnya gemetar hebat hingga ia melepas cangkir tehnya dari genggaman lalu jatuh dan hancur.

To be continue….

Benang merahnya udah keliatan belum?? Haha belum yah? Yaaah wait ajadeh 8D Jong juga belum muncul, hihi hayo siapa plakunyaaaa, makasi yah yang udah komen🙂 maaf klo ada kesalahan ngedit aku juga manusia (?) yang bisa salah kkeke

Karna ini ff punya orang aku reply komen yang rancu aja yah?

Nita : mungkin kamu baca di note fb aku? Ini emang udah pernah aku publish disana tp galanjut 8D

LianMvpLockets : bukan maksud nyari ff bagus untuk di post disini, ini ff emang punya neechanku yang sengaja dia buat untuk aku, dan castnya itu aku sebnernya. yah kebetulan kmrn aku nemu lgy di folderku, aku minta izin sama penulisnya. Jadi bukan sengaja nyari ff bagus buat di post disini.

Makasi komennya semuaaaa ^^

36 thoughts on “[SHINee + Jino] STALKER Chap 2

  1. AKHIRNYA,,,,!!
    Dilanjut juga!
    Dikiranya, ga bkal dlnjut!!

    Eist!!
    Tae korban slnjutnyakah??

    Oh ya,
    itu tae sllu mndngin tae diem2,, karna suka, ato ada hal lain??

  2. Ternyata jino gak gila toh *mangguk-mangguk gak jelas*

    aku penasaran siapa sich pelakunya… Terus kapan 2min jadian *hehehehe*

    next chap cepat ya…

    Hwaiting

  3. orang yg mau nyerang key tinggi, agak kurus. berarti bkn taemin dan jonghyun. yg tinggi agak kurus, minho ? dia kan polisi. jino ? kemungkinan iyaa. atau hankyung ? heechul ? waduhh ak blm nemu >< *stres sndri

  4. mgkn jg kali ya aq baca di fb author..hehe..saya lupa..yg pasti aq cmn baca part 1 wkt itu..

    ya udaaahhhh…pokoknya ini cepetan dilanjutin yaaaa??? suka saya ama ini ff..cmn agak bingung jg krn cast nya bejibun aji gile… *ditabok author*

  5. penasaran sama pelakunya …!!!taemin jangan-jangan diancam kaya key lgi ?cieeee onew suruh jagain key..ha..ha..2min juga taemin jangan gitu kamu nanti suka loh sama minho/…:)

  6. sitong sitoooooong,, onni langsung komen part2 aja yahh, part 1 nya udah di fb kayanknya duluuu,,, wkakaka XDD

    AHHH AKU DEMEN TUMIN PARTNER’AN GITU HUEEE LUCU GITU YAAAHH A-AKU GUEMES PISAAAAAANN, xDDD

    yang lainnya belom bisa komen , abis masih ribet ceritanya,, ahahaha, *pabo* ta-tapi roman2nya ntaran si onkey kedebug cintrong (?) deh si jinki di suruh ngejagain ngkey (?),, HAUAHAHAAHAHA ;3

  7. arggght~~~penasaran bgt
    siapa itu pelakunya…..???
    sumpah ini ff bikin penasaran bgtt…

    iya jjong kok belom muncul ya?????
    omo minho n Taemin emang jodoh
    bertengkar jja keliatannya sweet bgt…hahah

    ditunggu lanjutannya chingu…..

  8. wah muncul lagi ini pemeran baru, haha,, anak suju ngumpul ya disnii,,
    benang merahnyaa yaa?? udah mulai keliatan sihh,,antara kasus taeyon ama key pasti ada apa2 nya tuhh,,
    masih mikirin si pelakunya, pasti ada diantara orang yang diceritain diatas tuhh,,
    ihiw onkeynya mulai keliatan itu deket2 nyaaa, suit wiww,,

    nah lho taem itu kenapa ama suratnyaaa..
    lanjuttt..

  9. Pingback: [SHINee + Jino] STALKER Chap 3 « suunSHINee YAOI Fanfics

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s