[2min] Dearest Part 9 end


Foreword:

Hai semuanya…kekeke..pasti pada menanti yang satu ini*IYA!!!BAWAGOLOK*
Mianhe jeongmal … habisnya aku lagi suka nongkrong seharian di Organisasi, ditambah gue GAK YAKIN bisa selesain semua FF gue, sekarang kegiatan gue nambah, ada penelitian keluar kota segala, doain aja semoga kuliah gue tambah lancar yah?

DAN GUE HABIS SHOCK TERUS MENERUS, GO PUBLIC SHINEE COUPLE MAKIN BANYAK,
PERTAMA JKS, OKS, DAN BARUSAN AJA 2MS asdfghjkl must see it on you tube !!!

BIG THANKS FOR ALL SUUNDERS AND SR FOR COMMENT AND LIKE … ILYSM GUYS ❤

NO SR, NO BASHING, NO PLAGIARISM

JUST LEAVE A COMMENT, B’COZ COMMENTS ARE ❤

(Bantu cek dimanapun, jika nggak ada kredit dari gue tentang cerita yang sama dimanapun, berarti itu PENJIPLAKAN!)

by : Sanniiew^^

.

.

Minho melihat sosok itu dengan sangat-sangat-sangat jelas didepannya, ia mengatupkan mulutnya dengan rapat, ia tidak bisa bernafas mungkin, bahkan ia lupa caranya bernafas jika melihat sosok yang selama ini mengganggu pikirannya, dan dengan segala keegoisannya untuk tidak lagi mencarinya… ia lupa, ia lupa caranya bicara didepan sosok ini.

“M-minho …”, sosok itu menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

Minho terdiam..suara itu..ia tidak akan pernah lupa..tidak akan pernah, entah siapa yang memulai, jarak mereka sudah sangat dekat, Minho telah sadar bahwa mereka sekarang berhadapan satu sama lain. Ia tatap terus wajah didepannya, ia menelan ludah, tangannya…tangannya bergerak sendiri meraih pipinya,walau sosok itu mundur terus kebelakang, ia gemetar menerima sentuhan Minho, namun disisi lain…Minho tidak bisa menahan lagi.

“Taemin…”, bisiknya menjajarkan wajah mereka, Taemin memejamkan mata merasakan kehangatan nafas Minho menerpa wajahnya, tangannya yang mencengkram baju seragamnya menguat. Jantungnya rasanya ingin meledak.

“Taemin …”, panggil Minho lagi, kali ini dengan berani Taemin membuka matanya, menatap bola mata besar Minho. Jarak pandang mereka sangat dekat, namun sontak ia terkejut ketika Minho mendekatkan wajahnya kearahnya, ia ingin…

“M-minho…s-stop…”, perintahnya menahan wajah Minho, Minho membuka matanya, ia menatap Taemin dengan sinis.

“Wae?”, tanyanya merasa direndahkan. Taemin bergidik mendengar nadanya

“A-apanya…”, tanyanya polos,

Tangan Minho menyentuh leher Taemin, menngelusnya dan bertengger dipundaknya yang ramping.
“K-kenapa kau bisa dis—“

“Kenapa kau pergi?”

Taemin tidak menjawab, ia menalan ludahnya menghindari tatapan mata Minho.
“A-aku…”

“Kenapa kau meninggalkanku?”

“Kenapa kau meminta cerai?”

“Kenapa kau seenaknya?”

“Kenapa kau tidak —kau…”, Minho kehabisan seluruh kata-katanya, Taemin meringis kesakitan.

“M-minho..kau menyakitiku…”, katanya meringis, hampir ada air mata yang keluar, tubuhnya yang kecil sudah menghimpit loker baju. Minho diam saja, ia terus menekan bahu Taemin, ia merasa marah, bingung, dan juga ..entahlah, ia merasa lega dan tenang.

“M-minho…h-hyung..sakiitt…”, kata Taemin kali ini dengan mata berair, Minho sadar akan perbuatannya , ia melepaskan Taemin yang langsung jatuh ke lantai. Menyentuh bahu kirinya yang terasa ngilu.

Minho menggigit bibirnya, ia tidak sadar akan perbuatannya
“Mi–“

“Mianhe…minhae…mianhe…”, Taemin telah memotong Minho,ia menunduk, badannya bergetar dan tidak berani menatap Minho, hanya kaki Minho yang ia lihat,
“Mianhe…”, katanya tersedu.

Minho tidak tahu harus berkata apa, kenapa? kenapa tangis itu selalu membuatnya tercekat, hatinya menangis seribu kali jika ia dengar tangisan sosok didepannya.

“Kau … bisa jelaskan padaku?”, tanya Minho, Taemin diam
“Katakan padaku Taemin, bisa tidak kau jelaskan padaku atas tindakan mu?”, Taemin tetap diam.

Minho mengepalkan tangannya kencang, “Taemin! kau bisa jelaskan tidak padaku kalau kau benar-benar membuat ku gila karena menunggu mu kembali ?!!!”, BANG!! Minho meninju loker didekat Taemin

Taemin terkejut, ia semakin mengeratkan tangannya dibahunya…takut…ia tidak tahu sosok siapa didepannya sekarang, Minho tidak pernah semarah ini…

Minho perlahan terduduk disamping Taemin, ia menarik nafasnya, memejamkan matanya kuat-kuat, ia menekuk lututnya dan menenggelamkan kepalanya disana, ia bisa dengar dengan jelas suara isakan Taemin, ia menyesal, kenapa ia tidak bisa mengontrol sedikit emosinya …

“Mianhe…Taemin ah~…”, kata Minho akhirnya. Taemin tidak bersuara, membuat Minho tambah bingung harus bagaimana?

“A-aku…aku akan jelaskan semuanya…a-aku akan jelaskan…”, isak Taemin, merapatkan badannya, Minho melihat ke arahnya, ia menatapnya dengan sedih, menarik nafasnya dan berdiri.

“Aku tidak pernah ingin mencari mu selama ini… aku tidak pernah mau mencoba untuk mencarimu …” kata Minho kesal, ia menarik nafas dalam dan melihat ke arah Taemin.
“Aku tunggu diluar..”, katanya dan keluar dari kamar ganti itu,

Taemin menatap pintu itu dengan mata sembab, apa…apa yang harus ia lakukan? lari? atau menemui Minho?

.

.

Taemin membuka pintu kamar ganti, dan benar…ia tidak bisa kemanapun kali ini, habis sudah, mau tidak mau ia harus hadapi ini, Minho berdiri bersilang tangan didepan dada dan menunduk, sibuk bermain dengan lantai dan sepatunya.

“M-minho..”, panggil Taemin.

Minho mendongak, “Kajja.”, katanya langsung menarik tangan Taemin keluar dari club.

Taemin tidak ada pilihan lain, ia hanya mengikuti kemana Minho akan pergi.

Minho menarik Taemin kedalam mobil dan langsung memacu mobilnya entah kemana, Taemin hanya diam dan tidak berkata. Tidak ada pembicaraan apapun dari mulut mereka, sesekali Taemin melihat ke arah Minho yang wajahnya serius, ia tambah takut untuk memulai apa lagi bertanya.

“Katakan saja apa yang mau kau katakan.”, kata Minho

“H-hah? o-oh…ng…”, Taemin tidak tahu harus bicara apa, Minho berdecak.

“Kalau kau bingung, kau bisa mulai dari kenapa kau meninggalkanku?”, tanya Minho melihat ke arahnya sejenak, Taemin terkejut, ia membuang mukanya dan tidak menoleh. “Bisakan mulai dari situ?”, tanyanya,

Taemin menelan ludah, dammit…dia mengutuk dirinya sendiri, kenapa harus bertemu sekarang? ia belum siap.
“B-bisakah kita berhenti ?”, tanya Taemin.

“Untuk apa?”, tanya Minho dingin.

“B-bahaya …lebih baik kita bicara sambil duduk..b-bukan di jalan seperti ini…”, kata Taemin,

Minho mengerang dan berjalan memutar ke arah taman kota, ia buka pintunya dan segera berlari ke arah Taemin, ia buka pintunya dengan rasa takut Taemin berjalan keluar dan mengikuti Minho yang berjalan di depannya. Minho duduk salah satu bangku dan melihat ke arah Taemin yang masih diam terpaku.
“Kau mau duduk atau kita bicara sambil berdiri saja?”, tanya Minho berdiri.

Taemin mengigit bibirnya, ia menarik nafas dan duduk di samping Minho, agak mengambil sedikit jarak walau bangkunya sudah sangat kecil. Minho meliriknya sekilas, ia mengurut keningnya.
“Kau…kemana saja?”,

Sunyi… apa yang harus dijawab,”Aku … hanya disekitar Seoul saja…”

“Kenapa kau pergi? apa sebenarnya yang terjadi, kau tidak pernah ceritakan sedikit pun padaku Taemin…”

Minho kali ini memutar badannya dan berhadapan dengan Taemin, Taemin meremas tangannya,
“A-aku…”

“Apa karena Taesun?”, potong Minho, Taemin mendongak, ia ingin berkata sesuatu namun tidak keluar.

“Tidak…bukan itu.”

“Karena keluargamu yang di Incheon?”,

“B-bukan…”

“Terus saja kau berbohong padaku mengatakan bukan Taemin ah~ sampai kapan kau keras kepala seperti ini?”, bentak Minho, Taemin mengernyitkan dahinya,

“M-mianhe…” Taemin semakin menjauh.

Minho mengurut keningnya lagi, ia menarik nafas dan menarik bahu Taemin menghadap ke arahnya. Taemin merasa ada yang berbeda lagi sekarang, entah tatapan apa itu, tatapan yang sangat ia kenal, tatapan lembut yang selalu Minho berikan padanya,

“Aku tahu semuanya, aku tahu kenapa kau pergi, aku tahu kenapa kau tiba-tiba meninggalkanku…aku tahu semuanya Taemin…”, bisiknya, Minho menunduk, Taemin mulutnya kelu, Minho  tahu? bagiamana bisa?

“K-kau tahu?”, tanya Taemin menatap Minho, Minho berdiam diri.

“Bisakah kau kembali?”, kali ini, untuk kesekian kalinya, Minho mencoba untuk mendapatkan nya kembali, Taemin terpaku, kembali? dirinya? bersama Minho? mereka?

Taemin berdiri, ia menatap Minho, “B-buat apa? kau sudah tahu kan? k-kau tidak benci padaku? kau seharusnya benci padaku, bukan ini yang harus kau lakukan padaku, aku—‘

“LALU APA YANG HARUS AKU LAKUKAN? BISA KAU KATAKAN BAGAIMANA CARANYA SUPAYA KAU BISA HILANG DARI PIKIRANKU? JIKA KAU PUNYA CARA UNTUK INI, KAU KATAKAN SEKARANG?!!”,bentak Minho.

Taemin memundurkan badannya, “A-aku tidak tahu…”

“KALAU KAU TIDAK TAHU TIDAK USAH MENYURUH KU MEMBENCI MU APALAGI MELUPAKANMU!!”, bentak nya lagi kali ini berdiri tepat didepan Taemin, Taemin kali ini menundukkan kepalanya, ia menutup telinganya, tangannya bergetar, Minho melihat itu.

“M-mianhe…mianhee…”, Taemin terduduk dilantai, “Mianhe…M-minho hyung…kau seharusnya membenci ku…aku tidak pantas…aku tidak bisa bersamamu…kita berbeda kan…kau tahu itu…” kata Taemin menangis kali ini, Minho menarik nafas.

Minho menarik nafasnya , “Setidaknya…kembalilah…bukan untukku, tapi untuk yang lain, untuk seseorang yang juga lebih membutuhkan sosok mu dibandingkan aku…”,

Taemin mendongak, “Pergila ke SD Chungdam…kau tunggu disana tepat pukul 3 sore..kau akan tahu…setidaknya bukan untuk aku, tapi untuk dia…”, katanya, Taemin tidak mengerti.Dengan itu Minho pergi , meninggalkan beribu pertanyaan di benak Taemin, tidak tahu apa yang terjadi, dan entah apa yang terjadi, ia tidak mengerti.

.

.

“MWOO?!!!”, teriak Jonghyun , Onew berdecak, dan Minho menutup telinganya.

“Berisik.”, celetuk Minho,

“YAH! KENAPA KAU TIDAK CEPAT HUBUNGI AKU?”, teriak Jonghyun, Minho menatapnya kesal.

“Kenapa? kau mau menemuinya lagi? kau masih penasaran dengannya?”, tanya Minho meliriknya, Jonghyun salah tingkah.

“Aniooo~~ aku hanya terkejut, kenapa kau menemukannya tidak beritahu kami? kau tahu kan kami ini semua berperan dalam pencarian istrimu itu..well, istri kontrakmu..”

“Dia istriku!”, celetuk Minho kesal.

“Jjong, cukup…sudahlah, lalu Minho, apa yang akan kau lakukan?”, tanya Onew kali ini, Minho menatap gelasnya.

“Entahlah, aku bingung…dia tidak pernah menunjukkan rasanya padaku, rasa ku tidak pernah berubah Hyung, tapi dia…dia yang melepaskanku tanpa ada kata apapun kan? aku tidak tahu perasannnya padaku sampai sekarang.”, jelas Minho menarik nafas.

“Kau sudah beritahu kabar tentang Hyugnnya dan keluarganya?”, tanya Onew. Minho mendongak,

“Belum…kami hanya berdebat satu sama lain, dan…”, Minho menceritakan semuanya pada Onew dan Jonghyun.

.

.

Taemin memakai syalnya , dia berusaha menutupi wajahnya, untuk apa? ia juga tidak mengerti apa yang ia lakukan di depan SD Chungdam, SD yang dikatakan oleh Minho kemarin, dan buat apa dia terkesan menyamar? takut bertemu siapa?

Tidak lama bel terdengar berbunyi, ia merapat ke balik pohon, memperhatikan seluruh siswa yang keluar dari sana, apa maksud Minho, apa yang bisa liat disini? tidak ada apapun…Taemin berbalik, tidak ada gunanya, buat apa dia dengarkan kata Minho?

“Yoogeun gun! tunggu disini dulu…”,

Taemin membeku ditempatnya, ia berbalik dengan cepat, ia edarkan pandangnnya.

“Yoogeun gun…sini…appa mu belum datang…kau tunggu disini dulu neh?”,

Jantung Taemin seakan berhenti berdetak, sosok itu, sosok bermabut jamur yang berlari menuju gurunya itu, ia kenal sosok itu.
“Yoogeun?”, lirihnya , betapa ia rindu melihat anak itu, anak yang pertama kali ia lihat terbaring lemah karena tidak mempunyai keluarga, anak yang kesepian layak dirinya, ditinggal oleh orang-orang tersayangnya, dan terbaring dengan penyakitnya, apa bedanya sekarang Taemin dengan keluarga Yoogeun yang meninggalkannya begitu saja?

.

Taemin terus berdiri dibalik pohon, ia terus menatap Yoogeun yang masih berdiri diloby menunggu seseorang, kaki kecilnya menendang kesana kemari tidak jelas, bosan…
Taemin mulai resah, apa tidak ada yang menjemputnya? kemana orang tuanya? oh tidak..ia tidak punya orang tua, lalu apa yang ia tunggu?

“Yooegun gun? appa mu belum datang?”

“Ah, belum…mungkin sedang sibuk…”, katanya cemberut.

“Nah, tidak apa-apa, biar Ibu antar kamu yah? gimana?”, tanya guru itu, Yoogeun tersenyum, namun wajahnya sendu, Taemin mengigit bibirnya.

Ia ikuti langkah kaki mereka meninggalkan sekolah, perlahan terus ia ikuti langkah anak itu bersama gurunya.
“Bu, aku mau mampir ke toko es krim dulu boleh?”, tanya Yoogeun.

“Oh neh …”

Taemin mengikuti langkah Yoogeun terus ke arah mereka membeli eskrim, bahkan ia membeli eskrim yang sama yang ia sukai, Taemin tersenyum tangannya menggapai ke jendela toko, ia menangis, kenapa ia begitu jahat, kenapa begitu tega meninggalkan nya sendirian, padahal ia dulu sudah berjanji akan menjaga Yoogeun, namun semua itu rasanya hanya omongan angin lalu saja, tidak bisa…jika ia memilih untuk kembali, semuanya sudah terlambat kan? benar-benar terlambat, Minho tidak bisa bersamanya, ia bukanlah orang yang cocok untuknya…

Taemin berbalik, ia tidak bisa muncul dihadapan Yoogeun, lebih baik pergi dan lanjutkan hidupnya, Taemin menyebrangi jalan, ia tidak tahu bahwa sebentar lagi lampu merah akan berbuah menjadi hijau.
“Taeminnie ummaaa~~!!”,

Taemin terpaku, ia menoleh, melihat Yoogeun berteriak ditepi jalan,
“Taeminnie ummaa~~~~!!!”, teriaknya lagi, kali ini Taemin berjalan pelan menuju Yoogeun, Yoogeun menangis berlari, namun ketika itu Taemin melihat ke arah lain,

Mobil itu, bagaikan slow motion yang berjalan ke arah Yoogeun dengan kecepatan tinggi dan terlintas dibenak Taemin.
“Yoogeunnnn!!!!”, teriak Taemin, BUUK!!!

Taemin melihat kesekelilingnya, ia menghirup bau manis, bau yang ia sangat kenal, bau aroma eskrim kesukaannya, dan sebuah tangan kecil melingar di tubuhnya, ia tersenyum, hangat tubuh itu menyamankan tubuhnya,
“…maa…ummmaa..”, samar-samar ia dengar suara itu, ia terawangkan pandangannya melihat ke sumber suara, ia lihat Yoogeun dipelukannya, syukurlah…ia baik -baik saja..

“Ummaaa~~~”, teriaknya, Taemin tersenyum.

“Neh Yoogeunnie…gwencana?”, tanya Taemin membelai kepala Yoogeun,

“Umma…umma gwencana?”, tanya nya menangis memeluk Taemin, Taemin tersenyum,

“Gwencana sayang…”, dan semua terasa gelap.

.

.

Minho berlari ke arah dimana ia harus berlari, nafasnya tercekat ketika ia baru saja kelar memeriksa pasien lain dan Jonghyun berlari ke arahnya mengatakan bahwa Yoogeun dan…Taemin kecelakaan, nafasnya sesak, jantungnya miris, ia hanya berharap tidak terjadi apapun di antara keduanya,

“YOOGEUN!!!”teriak Minho berlari ke arah nya, Yoogeun menoleh dan memeluk Minho dengan erat.

“Appaaa~ …u-u-ummaa…y-yoogeun melukai umma appaaa~…maafkan Yoogeun~~”, tangisnya pecah dipelukan Minho , Minho menggendongnya dan mengusap punggungnya untuk sedikit tenang, Minho menatap ruangan UGD lampu masih menyala.

“Minho!!”, teriak ummanya, Heechul.

“Umma…”

“Benarkah yang umma terima kabarnya? kalau itu..itu Taemin?”, tanya nya, Minho mengangguk dan terus menepuk punggung Yoogeun yang terus menangis,

“Apa dia akan baik-baik saja?”tanya Ummanya, Minho memejamkan mata.

“N-neh umma…”, katanya, Heechul melihat Minho bergetar, ia lihat ia berusaha kuat demi Yoogeun. Heechul maju selangkah dan memeluk anaknya.

“Kau yang tabah…”, katanya , Minho hanya mengangguk, dan menunggu.

.

.

“Dokter Choi…”, panggil seorang dokter,

“Neh, bagaimana keadaannya?”, tanya nya, Dokter bernama Park itu, melihat ke arah Yoogeun dan Heechul sejenak

“Kita bicara sebentar di ruangan ku neh?”, tanya, Minho tercekat, ia tahu apa artinya ini, bicara? kenapa harus rahasia? jangan biarkan terjadi apapun.

.

Minho keluar dari dalam ruangan, tangannya gemetar mengepal kuat, ia dokter, ia tidak suka menyampaikan pesan buru kepada keluarga, ia tahu itu rasanya buruk, dan sekarang…ia sangat amat tahu rasanya.

[Maaf Dokter Choi … kami sudah berusaha sebaik mungkin, lukanya memang tidak terlalu berat, hanya gegar otak sangat ringan, namun …kondisinya entah kenapa memburuk, ia mungkin akan koma beberapa hari, dan ..kami tidak tahu sampai kapan…jadi tetaplah bicara padanya …]

“Minho?”, Ummanya memanggilnya, Minho menatap ummanya dengan tatapan kosong.
“Gwencana?”

“Umma…aku tahu ternyata menerima berita dari dokter itu memang tidak enak rasanya…”, Minho tersenyum hambar. Heechul melihat Minho tubuhnya bergetar, ia peluk anaknya itu dengan erat.

“Menangislah nak… umma tahu kau juga cemas padanya…”, kata ummanya, “Umma paham, menangislah…keluarkan semuanya …”, perintahnya, Minho tidak butuh banyak kata lagi. Ia memeluk Ummanya  erat , dan ia rebahkan kepalanya di pundak Heechul, menangis dengan seluruh hatinya, kekhawatirannya semuanya ia keluarkan. Taeminnya, kenapa harus Taeminnya? seandainya tadi ia jemput Yoogeun, jika ia bersama Yoogeun, jika …dan hanya jika…semua terlambat.

“Kau harus kuat … kau temani dia …dia membutuhkanmu…”, kata Ummanya menangkup wajah Minho, Minho mengangguk, dan berjalan ke ruang ICU, dimana Taemin berada, Heechul menghapus air matanya, ia melihat bahwa anaknya benar mencintainya.

.

.

Minho berjalan masuk, melihat sosok Taemin terbaring lemah, tubuhnya yang kurus, dan kulitnya yang pucat kini terlihat lebih puat lagi, selang infus mengalir ditangannya, alat bantu pernapasan terpasang, dan kepalanya diperban. Tidak ada yang salah, dia hanya tidur,Minho berjalan mendekat, ia sentuh pipi Taemin, ia belai pipinya, berharap semburat merah yang dulu pernah ia alami bersama timbul lagi, ia berharap tangannya yang lembut itu mengelus kepala Minho ketika ia tidur dipangkuannya, namun semuanya terlihat lemah tak berdaya, Minho mendekatkan mulutnya ditelinganya,
“Bangunlah sayang…aku masih mencintaimu…bangunlah…aku menunggu…”

Tidak ada reaksi apapun, hanya kekakuan yang ada, Minho duduk dan menggenggam tangannya, ia elus tangan mungil yang mendingin dna pucat itu. Ia terus menatap wajah Taemin yang melemah,
“Kau tahu … aku minta maaf karena tidak pernah memberikanmu kesempatan …tapi ketahuilah, aku serius bahwa aku mencintaimu…aku terima kau apa adanya…”,

“Kau ingat ketika pertama kali kita bertemu? saat itu kau kedinginan ditepi jalan, dan jatuh pingsan, kemudian semua ini berawal, lucu sekali pertemuan kita kan Taemin? “

“Entah apa yang membuat mu menarik dimata ku, ketulusanmu, senyummu, semangatmu, semuanya…membuat ku semangat dipagi hari, bekal mu…aku rindu itu semua, aku rindu sup miso mu yang keasinan itu…”, tawa Minho lirih, ia menutup mulutnya, menahan tangisnya, ia terlihat cengeng,Choi Minho si ice prince terlihat cengeng karena ini.

“Teh madu buatanmu ketika aku pulang kantor  aku juga mau minum itu lagi…”,Minho menaruh kepalanya di tangan Taemin, menatap tangan mereka bersatu.

“Kalau tidak aku yang lakukan ini, kalau aku yang tidak memulai ini, kalau aku lebih berani untuk serius padamu menjalani dengan sungguh pernikahan kita…ini tidak akan terjadi kan?”

“Kembali lah Taemin…aku mohon…”, bisiknya, mencium tangan itu, dan memejamkan mata, ia lelah…ia ingin saat bangun nanti akan ada keajaiban. Entah setengah mimpinya atau tidak, seperti ada sesuatu digenggamannya, sebuah aliran elektrik yang tidak bisa di katakan.

.

.

“Minho … kau harus bangkit dari situ…ini sudah 3 hari kau terus menerus ada dikursi..bersihkanlah badanmu sejenak.”, suruh Onew. Minho hanya menggeleng dan menatap Taemin yang sudah 3 hari tidak bergerak dan diam membisu, ia tidak mau bangun.

“Kau tidak kasian dengan Taemin? pasti dia kebauan…”, kata Jonghyun yang langsung disikut oleh pacarnya Jino, ya…Jino tahu ketika ia tidak bisa temukan Taemin, dan Jonghyun memberi tahukannya semuanya.

“Setidaknya kau harus makan dulu…”, kata Key membawakan makanan ke arah Minho.

“Aku bisa makan disini…”, kata Minho lirih, ia gunakan tangan kanannya yang bebas mengambil makanan, menaruhnya dipangkuannya dan menyuapnya dengan tangan kanan.

“Dilihat dari cara makanmu, baguslah kau masih doyan makan…”, ledek Jjong lagi.

“Taemin ah~ bangunlah, lihat ini suami mu, dia jadi orang bodoh dan jorok yang tidak mau mandi…”, kata Onew, “Apa kau tidak merasa bau?”, ledek Key memeluk pinggang Onew. Minho diam saja, ia eratkan tangannya digenggaman Taemin, entah mengapa setiap sekitarnya berbicara ia merasakan gerakan di tangan Taemin.

“Kau tidak lapar? aku sih lapar..”, kata Jino kali ini.

“Kemana Yoogeun?’, kali ini Minho berbicara.

Key dan Onew tersenyum, “Tidak usah khawatir, ia bersama umma mu sementara, sesekali kami yang menjemputnya disekolah, ya kan yeobo?”, kata Key,

“Neh, sekalian belajar mengurus anak.”, ledek Onew, Jjong dan Jino berdecak, Minho hanya diam dan melihat ke arah Taemin, kau dengar kan sayang? Yoogeun juga menunggu mu bangun…bangunlah…

.

Sudha 5 hari, dan entah apa yang membuat Taemin juga tidak mau bangun dari tidurnya , semakin buruk, Minho tidak mau beranjak dari sana, ia terus menggenggam tangan Taemin , melepasnya hanya jika kekamar mandi dan makan. Pekerjaannya pun terlantar, untung ia dokter senior, ia mempass semua tugasnya pada Jonghyun dan Onew yang bersedia menangani pasiennya.

“Minho…”, Minho mengangkat kepalanya.

“T-taemin?”

“Kenapa kau terus disini?”

“K-kau sudah bangun?”

“Bangun apa? aku memang selalu bangun dan memperhatikanmu…”

“A-apa?”

“Ck, apa yang kau lakukan? kemana Minho ku yang rajin bekerja? apa yang aku bilang? FIGHTING kan? ayolah Minho hyung…ini bukan dirimu…”

“T-tapi kau…”

“Tidak ada tapi, aku benci melihatmu lemah, ini bukan Minho hyung, Minho hyung itu selalu bekerja keras dan terus melakukan yang terbaik, tenang saja, aku akan baik-baik saja…selama kau berbicara padaku… aku akan mendengarmu…”

“K-kau mau kemana?”

“Aku disini saja…”

“Dimana?”

“Disini…didekatmu…teruslah bicara padaku…aku akan bangun ..tunggu saja…”

“Taemin…”

“Tunggu saja…”

“TAEMINNN!!!”

“TAEMIN!!!!”,

Minho terbangun, ia meneriaki nama Taemin dan melihat kesekitar,
“Minho…kenapa?”, tanya Key mengusap matanya, ia menginap juga malam itu memastikan Minho dan Taemin baik-baik saja, ia takut akan tambah satu pasien lagi, yaitu Minho.

“Hei Minho…”, Key berdiri dan beranjak ke arah Minho diujung ranjang Taemin.

“Kau pasti bangunkan? kau sayang padaku kan? jadi cepatlah bangun sayang..”, bisik Taemin mencium bibir Taemin dan naik ke atas kasurnya, Key ingin melarang, namun percuma, sepertinya temannya itu sudah gila dan tidak bisa dinasehati.

Ia kembali ke sofa , melihat Minho yang memejamkan mata disamping Taemin, ia menarik nafas, Taemin…cepatlah bangun, teman ku ini sudah mulai gila..

.

.

Minho memeras lap basah itu,dengan telaten ia membasuhnya ke tangan Taemin, kejari-jarinya yang kecil dan imut, membasuh keseluruh badan Taemin, badan yang putih dan mulus… ia tersenyum, ia bersenandung lagu rivers flow in you, sudah 7 hari dan tidak ada tanda Taemin membuka matanya.

“Kalau kau bangun, aku akan lamar kau lagi…” bisik Minho. “Kita akan menikah sungguhan, dan hidup bersama Yoogeun, itu yang dulu pernah kau katakan kan?” Minho membelai wajah Taemin dan mencium keningnya.
“Get well soon…”, katanya , setelah selesai ia pakaikan baju bersih ia duduk lagi dikursi yang selama seminggu ia duduki. Ia elus tangan Taemin, dan ia kecup punggung tangannya, ia rebahkan kembali kepalanya menatap tangan didepannya itu.

“Kau akan bangun, karena kau mencintaiku…aku tahu itu, bangunlah, dan katakan kau juga mencintaiku…katakanlah padaku…”,
Minho tersenyum, dan memejamkan matanya.

.

[Taemin of view]

“Kau akan bangun, karena kau mencintaiku…aku tahu itu, bangunlah, dan katakan kau juga mencintaiku…katakanlah padaku…”,

Hangat tangan ini, tangan yang sama yang selalu ia rasakan selama ini, ia tahu tangan itu milik siapa, tapi ia entah mengapa tidak membuka matanya, ia takut…takut apa? entahlah…ia takut akan kejujurannya, ia takut ditinggalkan kah? ia takut segalanya, takut bahwa Minho akan berbohong padanya, dan pada akhirnya ia akan ditinggalkan, sama seperti dulu, kenyataan memang pahit, ketika ia tahu ia tidak diinginkan oleh orang tuanya, kemudian ia hidup tidak layak, semua rasa tidak percaya diri, dan merasa tidak diingkan terus memenjarakan hatinya yang beku, ia takut untuk percaya, ia takut untuk mencoba,tapi tangan ini…tangan ini entah kenapa cukup memberikannya harapan, harapan untuk mencoba sekali lagi percaya, bahwa cinta untuknya masih ada.

.

.

“…min…min…tae…min…”

Suara itu terdengar samar-samar, silau …rasanya silau, ia tidak bisa lihat apapun, ia eratkan tangannya, tangan itu, tangan yang sama yang selama ini ia sentuh dan ia rasakan kehangatannya,
“Taemin…Taemin!!!”,

Suara itu …suara yang familiar…ia tidak bisa melihat dengan jelas, namun cukup terdengar.
“M-minho…h-h-hyung…”, serak suara Taemin terdengar serak.

“TAEMIN!!”, teriak sosok itu, dan Taemin merasakan pelukan erat ditubuhnya, tidak apa-apa…ia tidak keberatan akan hal itu, entahlah, ia merasa nyaman,

“Syukurlah…syukurlah kau bangun…kau bangun Taemin…”, sosok itu memeluknya dan menyembunyikan wajahnya di lehernya, basah…menangiskah? dengan lemah Taemin ulurkan tangannya.

“Pabo…aku bilang aku akan bangun Hyung…”,lirihnya tersenyum  dan memejamkan matanya, masih lemah, namun cukup sadar untuk tahu siapa sosok itu.

Minho melepas pelukannya, ia menatap wajah Taemin mengusap pipinya dan mencium keningnya,
“Mianhe…”, bisik Minho di telinganya dan mencium pipinya, Taemin tersenyum, air matanya jatuh.

“Minho…”, panggilnya.

Minho mendongak, air matanya mengambang di pelupuk matanya, Taemin mengusapnya dan menyentuh pipinya.
“Nado saranghae…mianhe…jeongmal mianhe telah menyakitimu…”, lirihnya,Minho tersenyum lebar, ia menggeleng dan memeluknya lagi, ia naik ke atas kasurnya dan memeluk Taemin erat.

“Terima kasih…”, bisik Minho, Taemin tersenyum, ia elus kepala Minho yang merebahkan kepalanya di dada Taemin.

“Kau lelah?”, bisik Minho.

“Hmm…”

“Aku juga…”

“Kalau begitu kita tidur…”

“Jangan tinggalakan aku lagi?”, Minho memeluk Taemin, Taemin tersenyum.

“Neh Hyung…”

“Gomawo…”

Taemin memejamkan matanya lagi, tangannya terus membelai kepala Minho, Minho yang selama ini merasa lelah dan tidak pernah bisa tertidur lelap setiap malam, untuk pertama kalinya tidur dengan nyenyak, merasakan bunyi yang indah dari balik dada Taemin, suara debaran jantung yang indah dan nafas yang teratur.

“Taemin saranghae…”, lirihnya terakhir kali.

Tidak ada jawaban, Taemin terus membelai rambut Minho, Minho sedikit khwatir, tapi matanya berat, ia sungguh lelah.
“Nado saranghae…”, dibatas lelapnya ia dengar itu.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

Taemin membuka matanya, matahari menyinari wajahnya dari balik jendela.
“Hyung?”,

Taemin memanggil Minho nya, ia menarik nafas , tentu tidak ada dia sepagi ini? kenapa dia pabo sekali? sudah 2 hari semenjak ia sadar, segala test kesehatan sudah dijalani, dan hari ini adalah hari dimana ia boleh pulang, pulang? kemana ia akan pulang? Taemin bangun dari tidurnya dan berjalan ke depan jendela, ia buka jendela itu, ia tatap awan yang berarak di atas sana , indah sekali…ia suka matahari.

[“Nado saranghae…”]

Taemin menutup wajahnya, apa itu nyata? itu lah pilihannya? apa ia benar ingin memulainya dari awal? bersama Minho…dan Yoogeun? Yoogeun…ia rindu anak itu, semenjak ia sadar, ia tidak pernah bertemu Yoogeun, apakah Yoogeun baik-baik saja?

“Sedang apa kau berdiri disini pagi sekali? kau bisa kedinginan terkena anginnya.”, bisik sebuah suara gentle dan lembut berbisik ditelinganya, seraya tanganya yang besar memeluk pinggangnya, menyelimuti tubuh mereka jadi satu dengan selimut. Taemin tersenyum,

“Morning…”, bisik Minho merebahkan dagunya di pundak Taemin dan menggoyangkannya seirama, Taemin tersenyum, ia usap kepala Minho.

“Pagi…”, balas Taemin. “Kau pagi sekali?”, Taemin berbalik.

“Neh..aku yang antarkan sarapanmu..”,

“Kau? ada apa dengan suster jaga?”, tanya Taemin, Minho berdecak, ia tarik tangan Minho.

“Mereka? biasa …gosip dipagi hari semakin sip kan?”, ledek Minho dan menduduk kan Taemin di sofa. Taemin terkekeh, Minho mengambil nampan makan dan duduk di hadapan Taemin.

“Kau makan, setelah itu cek kesehatan mu, baru kita bisa pulang…” kata Minho menyodorkan sendok kemulutnya.

“Jinjja?”

“Jinjja…”, balasnya tersenyum.

“Yoogeun tidak jemput aku?”, tanya Taemin menyuap makanannya.

“Hm..dia bersama umma…dia menunggu dirumah…”, kata Minho.

Taemin terdiam, Minho menyadarinya, “Wae?”, tanya Minho.

“Rumah? rumah siapa?”

“Rumah kita…”

“Maksudmu..aku..dan kau…”

Minho mengerti arah pembicaraan ini, ia letakan nampan sarapan Taemin, meraih tangan Taemin kegenggamannya,
“Kau mungkin bingung apa hubungan kita kali ini?”,

Taemin terdiam, “Jika kau mau tahu, aku masih suami sah mu…”

“A-apa?”

“Aku marah padamu Taemin, aku tidak mencarimu karena aku kecewa kau pergi meninggalkanku begitu saja tanpa menjawab pernyataan ku, kemudian kau tinggalkan surat cerai itu, bsia saja saat itu aku tanda tangani karena aku marah padamu…namun… “, Taemin menunduk, Minho meraih dagunya, “Itu tidak aku lakukan..karena aku masih mencintaimu sampai sekarang…”

Taemin menatap Minho dengan terkejut, “B-benarkah?”,

“Apa aku terlihat berbohong padamu dari awal?”

“Ani…”, jelas Taemin, “Akulah yang berbohong padamu…”, tambahnya, Minho menarik nafas.

“Setidaknya, kata-katamu saat kau terbangun itu bukan bohong kan?”,

Taemin melihat ke mata Minho, ia menunduk dan mengangguk, Minho tersenyu senang, ia raih dagu Taemin dan membelai pipinya, mata mereka menatap satu sama lain. Dan siapa yang memulai , setidaknya itu berawal dari hal yang sangat mereka yakini benar adanya mereka ingin lakukan.
“Bibir mu kering..”

“Neh…”, wajah Taemin memerah ketika wajah Minho semakin dekat.

Dan tanpa memerlurkan waktu lama bibir mereka bertemu, sangat lembut, seakan bibir mereka sudah ditakdirkan bersama, tidak ada lumatan penuh nafsu, hanya kecupan sayang dan terasa sangat cocok.

“Saranghae Choi Taemin…”

Taemin meremas jas dokter Minho. “Na..do…Choi Minho…”,

Minho tersenyum, ia peluk istirnya itu, dan mencium pucuk kepalanya.

TBC~~~

YAH!!! dikomen dulu lah…kekekekeke

so…go to epilogue cuee~~~

Advertisements

145 thoughts on “[2min] Dearest Part 9 end

  1. Oni gomawoooo akhirnya bisa baca prt akhirnya setelah nunggu 3 bulan dan ketemu onni langsung di swc xD /lol/ Aku suka banget sama penjabaran ceritanya ;_______; aaaagh akhirnya taemin mau sama minho. Taemin maunjujur aaaah syukur banget. lanjut epiloguenyaaaa

  2. awal2 berasa gemas ma tae,, lari-lari melulu padahal dia juga suka ma ming,, lagian kan ming udah tau tntng keluarganya masih aja mau lari,,
    bersyukur bangat dia kecelakaan karna klw ngga pasti udah lari lagi,
    yoegun akhirnya bisa sama2 ma ummanya lagi…
    nunggu momentnya 2min

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s