[2min] Epilogue-NC: Dearest part A of B


Foreword:

Apa yah? brb baca aja lah…saya bingung ngeburu deadline semua sebelum saya died! LOL

BIG THANKS FOR ALL SUUNDERS AND SR FOR COMMENT AND LIKE … ILYSM GUYS❤

NO SR, NO BASHING, NO PLAGIARISM

JUST LEAVE A COMMENT, B’COZ COMMENTS ARE❤

(Bantu cek dimanapun, jika nggak ada kredit dari gue tentang cerita yang sama dimanapun, berarti itu PENJIPLAKAN!)

by : Pervy^Sanniiew

.

.

Sudah hampir 2minggu mereka hidup bersama lagi, bersama Yoogeun, Minho seperti biasa, kembali dengan aktifitasnya , bangun pagi dan menuju kantornya, namun kali ini berbeda, sekarang kerjaannya bertambah, yaitu mengantar Yoogeun kesekolah. Dan Taemin, sama saja, bangun pagi, siapkan sarapan, dan ditambah kerjaan lainnya, membantu Yoogeun kesekolah, menyiapkan bekal, dan …

“Taeminnie~~ dimana dasi ku …”, teriak Minho dari lantai atas.

“Dasi yang mana Hyung?”

“Umma … sepatu ku kotor…bagaimana ini? hari ini aku harus pakai untuk olahraga…”

“Hah? oh…umma lupa mencucinya kemarin, mianhe neh…nanti umma—“

“Minnie ah~~ dimana? aku butuh yang warna biru dongker…”, teriak Minho lagi, Taemin menarik nafas, ia tinggalkan nasi goreng yang ia masak,

“Minum susu dulu yah…nanti umma ambilkan sepatu mu yang lain…appa mu cerewet.”, kata Taemin meletakan segelas susu dengan cepat dan berlari ke atas.

“Mworago? kau cari apa?” tanya Taemin membuka pintu kamar Minho dan…”YAH! KENAPA BERANTAKAN BEGINI?!!”, tanya nya terkejut, melihat semua berantakan dan berserakan tidak benar pada tempatnya. Minho mengacak-acak semuanya,

“Hah? mianhe..aku buru-buru baby…”, Taemin wajahnya langsung memerah, ia tidak jadi marah. Ia menarik nafas dan berjalan ke closet baju di ujung ruangan Minho.

“Kau cari warna apa?”

“Biru..biru dongker …”,

Taemin mengangguk dan membuka laci koleksi dasi Minho.
“Ini…kau carinya bukan di tempat belt dan selampe..sudah cari disini?”. tanya Taemin memberikannya pada Minho.

“Sudah, tadi tidak ada..”, kata Minho cuek, Taemin berdecak, ia lingkarkan dasi itu dileher Minho. Minho terkekeh.

“Mianhe neh?”

Taemin berdecak “Hyung jangan suka selebor sendiri, aku juga harus urus Yoogeun kan?”, Taemin berpouted dan menjijit, Minho berdecak dan menundukan sedikit badannya.

“Mianhe…”, kata Minho mengelus pipi Taemin, wajah Taemin sontak memerah.

“N-neh… sudah …”, kata Taemin menyingkir, namun ketika ia ingin keluar tangannya ditarik Minho.

“W-wae?”, tanya Taemin ketika Minho mendekat, ia menelan ludahnya,

“A-apa yang mau kau lakukan?”

“Wae? morning kiss?” pinta Minho.

Taemin menolehkan kepalanya menolak. Namun tangan Minho segera menangkapnya dan menghadapkan kearahnya. Ketika bibir mereka ingin bertemu.
“Umma…appaa…palli…aku akan telat nanti…”, teriak Yoogeun yang mengangetkan Taemin, Taemin melepas tangannya dari Minho dan berbalik.

“P-palii!!”, katanya gugup dan keluar dari kamar. Minho berdecak, ia menarik nafas, sabar Minho…sabar…
Ia melihat ke arah kasurnya, bahkan meski ia sudah kembali seperti sedia kala, kamar mereka tetap pisah, dan parahnya, Yoogeun selalu tidur dengan Taemin, sebagai lelaki*ehm* maksudnya di posisi seme, ia juga ingin…you know…tapi tidak semudah itu, ia tidak akan lakukan apapun pada Taemin jika ia belum siap.

.

“Umma … nasi gorenganya asin…’, ledek Yoogeun, Taemin menatapnya, ia cemberut.

“Oh yah? mianhe Yoogeunnie… umma lain kali mencicipinya dengan baik. “katanya tersenyum.

“Sudah makan saja, kan sudah dibuatkan umma…kasian kan umma nya?”, kata Minho mengelus kepala Yoogeun.

“Oh.umma appa…”, Yoogeun memandang kedua orang tua angkatnya itu.

“Neh baby?”, tanya Taemin.

“Hmm..ini sebenarnya ingin aku tanyakan pada halmoni..tapi aku diminta bertanya pada kalian sendiri.”, kata Yoogeun, Taemin mengerutkan alis menatap ke arah Minho, Minho hanya mengangkat bahunya.

“Apa?”, tanya Minho.

“Kalian berdua..kenapa tidak sekamar? bukannya kalian sudah menikah kan? itu yang aku heran?”, tanyanya,

Taemin terbatuk tersedak minumnya, Minho terbatuk nasi gorengnya, dan menatap ke arah Yoogeun.
“MWO?!!”, keduannya berteriak.

Yoogeun mengerutkan alis, “Kenapa kalian kaget ? aku benar kan? ini aneh umma, appa…kenapa kalian seakan tidak akrab? lucu sekali aku punya orang tua yang pisah ranjang …”,

Taemin dan Minho menganga, siapa yang mengajarinya bicara begini.
“Ya-yah Yoogeun ah~ siapa yang mengajari mu bicara begini?”, tanya Taemin.

Yoogeun cemberut, “Kenapa? aku kan pernah berkunjung ke rumah Onew ahujssi dan Key ahjumma..mereka tidur sekamar ketika aku menginap disana, padahal masih banyak kamar yang tersisa? tidak seperti kamar kita yang cuma dua kan?”tanya polos, Taemin tidak bisa berkata apa-apa , itu benar…ia memang tidak juga pindah ke kamar Minho, kenapa harus pindah? ia nyaman tidur dikamarnya sendiri? meski sedikit sempit karena Yoogeun juga disana.

Disisi lain Minho hanya diam dan meneruskan makanya, “Umma mu itu tidak bisa tidur dengan appa… appakan tidurnya buruk,”, kata Minho menyela, Taemin mengangguk tanda setuju.

“Appa bohong…aku kan pernah tidur dengan appa, appa kalau tidur tidak bergerak .”, katanya,

Minho hanya diam, “Umma..umma mulai nanti malam tidur dikamar appa saja, aku sudah besar, jadi tidak perlu ditemani.”, kata Yoogeun polos, Taemin ingin berkata lagi, namun percuma ..ia melirik ke arah Minho yang pura-pura tidak dengar. Ia tendang kaki Minho, dan Minho meliriknya, menaikan dagunya bertanda tanya ‘apa?’ Taemin meminta bantuannya namun Minho hanya mengangka bahunya.

.

.

“Umma aku berangkat … nanti aku pulanga ada latihan renang…” kata Yoogeun memeluk Taemin,
“Jangan kelelahan, kau harus jaga jantungmu arra?”, Taemin menepuk dada Yoogeun, Yoogeun mengangguk.
“Tenang umma..aku kuat kok “, ia tersenyum dan berjalan ke dalam mobil.

“Aku mungkin pulang telat, kau jemput Yoogeun tidak apa-apakan?”, tanya Minho keluar dari pintu rumah, Taemin mengangguk.

“Tenang saja…”, kata Taemin menepuk pundak Minho. Minho menarik tangan Taemin dan menariknya kepelukannya.
“Nanti malam jadi tidur bersama dong…”, Taemin kupingnya memerah ia rasakan sampai ke pipi dan lehernya, Taemin memukul lengan Minho.

“Kau aish…”,

Minho berdecak, “Tidak berubah , setidaknya kau ini istriku, bersikaplah selayaknya istriku yang wajar, masih malu-malu saja…”, ledeknya, Taemin cemberut, bagaiamana bisa? tidak mungkin kan? ia selalu gugup dekat Minho.

“Sudah sana, jangan berisik.”, kata Taemin mendorong tubuh Minho, namun dengan sigap Minho berbalik dan

CHU~~

Ciuman mendarat dibibir Taemin, Taemin terkejut, ia menutup mulutnya dan memukul lengan Minho, Minho hanya terkekeh dan masuk kedalam mobil.

“Appa..”,

“Hmm?”

“Kenapa aku tidak pernah dicium seperti itu?”, tanya Yoogeun, Minho berdecak,

“Karena aku bukan istri appa…”, Minho tertawa, Yoogeun cemberut.

“Curang, appa so mean…”,

Minho hanya tertawa dan melambai ke arah Taemin yang wajahnya masih memerah dan melacu mobilnya. Taemin menatap mobil itu pergi menjauh dan kembali masuk kerumahnya. Ia menarik nafas, pekerjaan rumahnya tambah banyak. Setidaknya ia bereskan denagn cepat sebelum ia harus pergi janjian bertemu dengan Jino dan Key.

.

.

“M-mwooo?!!”, teriak Jino dan Key bersamaan, Taemin berusaha menghalau suara mereka dengan menyumbat mulut mereka satu-satu.

“Hussshhht…kenapa sih heboh sekali?”, kata Taemin menunduk. “I-itu kenyataannya…memangnya kenapa?”, teriaknya.

Jino dan Key bertatapan, mereka menatap Taemin tidak percaya,
“Ya ampun Minnie ah~ kau yang terlalu jual mahal, atau apa?”, tanya Jino. Taemin menganga, ia melempar kentang goreng padanya.

“A-anioo…aku belum siap..”

Key berdecak,”Ya ampun, kau belum siap atau aku yang tidak mau melakukannya?”, tebak Key langsung.

“I-itu…”

“Dengar yah, kalau kau menunggu sampai kau siap, mungkin tahun gajah pun kau tidak akan lakukan itu dengannya?”, tanya Jino, Taemin mengigit bibirnya.

“Aduuh…kau ini makhluk dari mana sih? masa begitu saja kau takut? tidak akan terjadi apapun? well..belum terjadi jika kau menyobanya terlebih dahulu kan?”, tanya Key,

“Iya tapi—“

“Pakai tapi segala? apa susahnya sih tinggal kau tidurnya cuma pindah dari kamar mu kekamarnya? lagian kau tidak kasian dengan Yoogeun?”, tanya Jino*gue curiga lo pada mikir yang nggak” dengan dialog sebelumnya*

“Yah…itu…benar juga sih…”

“YA SUDAH !!”, teriak keduanya kesal, Taemin bergidik, Key dan Jino mengerang frustasi.

“Dengar yah? menurut penelitian, hubungan pernikahan itu sebagian besar kelangsungan bertahannya terdapat diranjang…”, jelas Key, Jino memperhatikan Key seksama, Key mengerang.
“Haish, bukan sex saja…kau ini…”, Key menoyor kepala Jino. “Maksudku, obrolan dikasur sebelum tidur, candaan, dan lain-lain itu mempererat hubungan kalian…paham?”,

Jino dan Taemin mengangguk atas penjelasan sang master.
“Nah, kalau urusan sex sih itu hasrat kalian masing-masing, nanti lama-lama juga terjadi, benar kan Taemin?”,

Taemin menelan ludah, ia menundukkan kepalanya,
“Taemin?”, panggil Key

“A-aku tidak tahu…”, jawabnya lirih, Key dan Jino bertatapan.

“T-taemin..jangan bilang kau dan Minho…kalian…” , tanya Key.
Taemin semakin menunduk dan memainkan jarinya.
“Omo, jadi kalian berdua…sampai saat ini belum…”, tanya Jino kali ini.
Taemin mengangguk malu.

Key dan Jino mengerang kesal,ia memukul kepala mereka masing-masing, stress rasanya, Jino merasa prihatin pada temannya yang terlalu polos ini. Bagaimana bisa? hampir satu tahun mereka bersama, tapi belum juga…haissh~~~

.

.

Yoogeun merapihkan meja makan yang sudah di atur oleh nya dan Taemin, malam ini mereka kerja sama akan menyiapkan makannanya, sambil menunggu Minho pulang dari kantor.
“Umma…appa lama sekali yah?”, tanya Yoogeun menopang dagunya dimeja.

“Sebentar lagi juga pulang kok…”, Taemin melihat ke arah jam dinding, ia melihat pukul 7 malam, tumben, Minho tidak menghubunginya?
“Oh, umma lupa beli susu mu, kita keluar sebentar yah kedepan buat beli susu?mau?”, tanya Taemin, Yoogeun dengan semangat berdiri, mengambil mantelnya dan berjalan ke luar, Taemin mengikutinya dan bergandengan menuju supermarket.

.

“Umma…aku mau pokky dan chiki boleh?”, tanya Yoogeun , Taemin mengangguk dan menunggu belanjaannya di hitung, matanya melihat ke luar jendela. Namun ia terkejut ketika ia melihat…
“Minho?”, mobil Minho lewat, ia dengan cepat keluar, ketika ia ingin memanggilnya , mobil Minho berhenti di ujung jalan,ia berhenti dan perhatikan dengan baik. Jantungnya bedegup cepat ketika ia lihat siapa yang keluar dari dalam mobil itu. Dongho…kenapa?Oh, dia ingat..itu memang rumah Dongho, tapi…tapi kenapa bisa bersama?

“Umma…sedang apa?”, teriak Yoogeun, Taemin terkejut, ia kembali kedalam sepermarket dengan senyum palsu dan beribu pertanyaan dibenaknya.

[Jangan begitu…lama-lama dia bisa bosan padamu…hehe, aku bercanda…]

[Tidak begitu juga…setidaknya kau harus tahu kebutuhan suami istri…kau mengerti kan Taemin? aku tahu kau takut …tapi yah mengertilah]

[Tidak berubah , setidaknya kau ini istriku, bersikaplah selayaknya istriku yang wajar, masih malu-malu saja…]

Semua ucapan Key, Jino dan Minho terngiang di pikirannya, benarkah? kenapa ia merasa takut sekarang? takut akan Minho benar akan bosan padanya.
“Umma..uma gwencana?”, tanya Yoogeun menarik ujung mantel Taemin,

“H-ha? n-neh…gwencana Yoogeunnie~”, katanya mengelus kepala Yoogeun dan berjalan ke rumahnya. Apa..apa yang akan ia lakukan?

.

.

“Taemin Yoogeun!! kalian dari mana?!!”, Minho berlari menghampiri mereka,

“APPAA~~!!”, Yoogeun berlari dan memeluknya, Minho tertawa dan mengangkatnya, “Kami dari supermarket didepan, aku dan umma beli susu banana ku yang sudah mau habis… “, katanya.

“Hah? kalian kesupermarket? benar itu Minnie?”,

Taemin menoleh dan tersenyum, “Neh..,”, jawabnya, Minho mengerutkan alisnya dan menghampiri Taemin.

“Aku pikir kalian kemana, makanan sudah siap tapi kalian tidak ada, kenapa tidak hubungi aku saja? aku bisa belikan tadi dijalan…”, kata Minho mendudukan Yoogeun di kursi makan dan ia duduk di sampingnya.

“Tidak usah…aku dan Yoogeun sekalin menghabiskan waktu menunggumu ..”, balas Taemin singkat dan duduk di kursinya sendiri,Minho tambah bingung melihat sikap istrinya.

“Ayo makan…”, kata Taemin menyiapkan semuanya, Yoogeun meraih remote TV dan menyetel acara kartun malam favoritenya.

Sesekali Minho melihat ke arah istrinya, tidak biasanya, kenapa tiba-tiba Taemin terlihat dingin?disisi lain, Taemin merasa galau, ia bingung, apakah harus ia bertanya pada Minho dengan yang ia lihat barusan? jika tidak ia akan jadi orang yang tidak perduli bahwa suaminya bersama orang lain, dan jika ia, ia takut akan membuat keributan diantara mereka.

Ketika Minho ingin bertanya.
Prang!
Taemin dan Minho menoleh ke arah Yoogeun,
“A-aah…tumpah…”, seru Yoogeun .

Taemin melihat sup yang dimakan Yoogeun tumpah ke meja dan membasahi baju anaknya itu sendiri.
“Sudah umma katakan berapa kali, kalau makan tidak usah menonton TV!!’, seru Taemin tiba-tiba membuat Yoogeun terkejut, dan juga Minho. Taemin mengambil remote dan mematikan TVnya.

“Tidak ada TV jika sedang makan!”, bentak Taemin.

“U-umma tapi—“

“Pokoknya tidak ada tapi, lihat saja makanannya jadi tumpah, itu namanya tidak menghormati makanan!”, kata Taemin kesal mengelap supnya.

“U-umma..k-kenapa marah?”,

SNAP!
Taemin terkejut melihat Yoogeun yang wajahnya memerah dan akhirnya menangis.
“A-ah..Y-yoogeunniee~ mianhe…maksud umma bukan begit–“

“Taemin..sudah…”, akhirnya Minho membuka suaranya. Taemin merasa jadi tambah tidak enak, ia terduduk di kursinya, ia merasa bersedih, kenapa ia harus marah pada Yoogeun. Tidak seharunya ia begitu kan?

“Sssht…Yoogeunnie~~ cup cup…sudah jangan menangis, appa pernah bilang apa padamu? laki-laki jangan suka cengeng , kau boleh menangis hanya karena kau benar-benar ingin menangis, kau juga harus lakukan apa yang dikatakan orang yang kau cintaikan? kau cinta umma kan? maka dari itu , lakukan apa yang ia katakan…arrachi?”, tanya Minho.

Taemin terpaku, ia melihat Minho mengelap air mata Yoogeun,”Nah, sekarang minta maaf pada umma, kau tidak akan ulangi lagi…ayo..”, bujuk Minho, Yoogeun melihat ke arah Taemin.

“U-umma…aku minta maaf , lain kali aku tidak akan makan sambil menonton TV..”, katanya, Taemin hanya mengangguk,

“Neh..umma juga minta maaf karena memarahi mu..”

“Good boy..’, kata Minho menepuk kepala Yoogeun, dan melihat ke arah Taemin, tersenyum padanya, Taemin membalas senyumnya dengan sekenannya dan melanjutkan makan mereka.

.

.

“Yoogeun sudah tidur..’, kata Minho mucul didapur, membuka kulkas mengambil air dan duduk di kursi bar melihat Taemin yang asik membereskan cucian piring.

“Neh..”, hanya itu.

“Kau … ada apa denganmu hari ini? kau sakit?” tanya Minho.

“Ani…”

“Lalu kenapa kau tidak bicara padaku? tidak biasanya?”, tanya Minho.

“Memangnya aku biasanya bagaimana?”, decak Taemin.

Minho menarik nafas, “Apa aku melakukan kesalahan padamu?”, tanya Minho kini berdiri di samping Taemin. Minho heran, kenapa Taemin tidak mau menatapnya juga?

“Ani…”, jawabnya setelah lama berdiam. Minho menarik nafas, ia meraih tangan Taemin untuk berhenti dari kegiatannya, dan menghadapkan tubuh mereka menjadi satu.

“Katakan…ada apa? apa karena kau tidak mau sekamar? itu tidak masalah…aku…”

“Bukan ..itu..sungguh bukan masalah kok..”, potong Taemin, Minho tersenyum, ia sedikit senang karena Taemin sebenarnya tidak keberatan akhirnya sekamar dengannya.

“Lalu?”, tanyanya mengangkat dagu Tamein. Taemin menggigit bibirnya.

“Itu…ng…tidak apa-apa kok…”, katanya, “Sudah akh. aku mau beresakan ini semua , kau tidur duluan saja…aku nanti menyusul.”, kata Taemin.

“Tidak mau…biar aku bantu saja…”, kata Minho, Taemin tidak mau menolak, ia biarkan Minho membantunya.

.

.

Taemin masuk kedalam kamar Minho , mengetukanya terlebih dahulu, ketika ia mendapat jawaban dari Minho dan melihat suaminya itu masih duduk membaca buku.
“Sudah ganti bajunya? Yoogeun masih pulas?”, tanya Minho menutup bukunya dan melepas kacamatanya,

“Neh , dia masih pulas…”, Taemin tersenyum, ia canggung setengah mati, ia hanya berdiri ditengah kamar.

“Kenapa berdiri disitu? kau tidak mau tidur? sini…”, Minho menepuk kasur disampingnya. Taemin tersenyum dan menuju ujung kasurnya, ia duduk disana. Perlahan ia naik ke atas kasur dan merebahkan dirinya disana, dia dan Minho menatap langit-langit kamar mereka.

“Lucu yah? dulu…kita pernah juga sekamar, kau ingat? pakai batas guling untuk wilayah tidur kita…”, kata Taemin. Minho berdecak.

“Ya,dan sekarang tidak perlu…”, kata Minho menoleh. Taemin menelan ludahnya.
“Taemin…”, panggil Minho, Taemin diam saja…Minho memiringkan badannya dan menatap wajah Taemin yang memerah dari cahaya kamar.

“N-neh?”

“Kau cantik sekali…”, katanya membelai wajah Taemin, disisi lain jantung Taemin berdebar cepat,

“J-jangan bicara begitu…”, balasnya.

Perlahan Minho bangkit dan ketika ingin bergerak lebih jauh Taemin memalingkan badannya.
“S-sudah malam Hyung, lebih baik kau tidur..besok…kau harus bangun pagi dan kerja…”, katanya, Minho yang merasa ditolak jadi malu setengah mati. Taemin tidur membelakangi tubuhnya , Minho menarik nafas, ia tersenyum dan mengecup pucuk kepala Taemin dari samping.

“Neh , jumuseyo…”, bisik Minho dan ia berbaring sendiri.

Taemin diam saja, ia mencoba untuk tidur, tidak…tidak… hilangkan fikiran itu, Minho tidak akan melakukan apapun kan tadi? tentu tidak…
Tidak lama ia merasa kasur disebelahnya bergerak, ia memejamkan mata, dan tidak lama ia melihat bayangan Minho keluar dari kamar, ia tidak tahu kenapa Minho tiba-tiba pergi, ia meringkuk sendirian dikasurnya, apakah…karena ia menolak Minho?

.

.

Taemin membuka matanya, ia melihat Minho tidak berada disampingnya, kemana dia? apakah sudah bangun? atau …kemana semalaman ia tidur? Dengan cekaran Taemin turun dari kasur dan membawa kakinya turun kelantai bawah.
“Minho hyung…?”, tidak ada jawaban sama sekali.

Ia tidak menemukannya di meja makan, dan dimana pun, kemana? hari ini hari minggu, apa dia pergi ke RS juga?
kringg…kringgg…

Taemin terkejut ketika telpon rumah berbunyi, dengan capet ia mengangkatnya,
“Yoboseyo?”

[Oh, Minnie ah~… ini Heechul umma..]

“Oh neh, wae umma?”

[Kau sudah bangun sayang? umma tadi kerumah pagi sekali dan pergi membawa Yoogeun ke luar kota bersama appa Minho juga..dan tadi Minho yang membawanya, sekarang Minho ada dikantor, ada tugas mendadak, umma suruh telpon kerumah dan mengabari mu…jadi jangan khawatir yah?]

“L-loh…kenapa mendadak sekali ? kenapa umma tidak katakan padaku kalau ingin mengajak Yoogeun pergi?”

[Aduuuh~~ mendadak sayang…sudah yah? nanti umma hubungin lagi, tenang saja..oke? annyeong…]

“Umma—“

PIP

Taemin menatap gagang telpon itu, ia tidak percaya, kenapa Heechul umma selalu seenaknya, persis dengan siapa yah? aish…ini semua karena ia tidak bisa tidur semalam, ia menunggu Minho kembali ke kamar, tapi sepertinya Minho tidur di luar, ia terduduk di sofa, apa ia benar-benar telah salah dan jual mahal? tapi mau bagaimana? ini kan yang pertama…aish…apa yang ia pikirkan sih?

.

.

Taemin berdiri di depan loby RS, ia menimbang-nimbang apakah ia benar akan menemui Minho, mau bagaimana lagi? mungkin ini sebagai ucapan maafnya, tapi maaf untuk apa? ia menenteng bekal makan siang yang ia buat sendiri, ketika kakinya ingin masuk ia melihat Minho berjalan dengan …Dongho? lagi…dia lagi… kenapa ?

Taemin bersembunyi dibalik pilar RS dan melihat Minho berjalan keluar bersama Dongho dari loby, ia melihat Minho masuk kedalam mobilnya diparkiran, mau kemana mereka?. Dengan cepat Taemin meyentop taxi yang ada dan mengikuti mereka, mereka turun disebuah restoran, tidak penting, mereka makan bersama, tapi dengan seseorang yang lain, kemudian mereka pergi dan Taemin terus mengikutinya.

Drrt drrt

[Minho hyung<3]

[[ Taemin, aku akan pulang telat, jadi tidak usah masak makan malam untukku, aku ada rapat dengan klien , oke? ]]

Taemin menutup ponselnya, Klien katanya? apakah klien meetingnya harus ke mall? lucu sekali, enough, ia berhenti mengikuti Minho dan kembali pulang, ia lelah, buat apa…layaknya orang bodoh yang mengikuti suami mu bekerja?lucu sekali.

.

.

Taemin duduk di depan meja makan, ia memandang kotak makan siang yang masih bertengger di depannya sejak siang tadi, tidak dimakan dan mungkin sudah basi. Pikirannya kalut, ia emosi…benar-benar emosi, apanya yang mencintainya? apanya yang meeting? bohong, semua cuma bohong, jelas sudah sekarang, kecurigaannya selama ini dengan Dongho, kabar itu memang selalu segar berhembus dari awal hubungan pernikahan kontrak mereka, dulu…Taemin seakan tidak perduli, hanya anggap angin lalu saja, toh Dongho tidak macam-macam, namun sekarang ia berpikir lain…mungkin Dongho tidak, tapi Minho?

“Aaaahh….”, Taemin mendorong bekal itu hingga jatuh kelantai, Moodnya jelek sekali, kemarin, dan sekarang, cukup baginya menaruh rasa curiga pada Minho. namun ketika ia ingin bertanya rasanya kelu, bibir itu kelu sekali…ia takut Minho marah, dan itu akan berdampak buruk pada suasana rumah, terlebih ditengah-tengah mereka ada Yoogeun, ia hanya tidak mau emosinya ia tumpahkan lagi kepada Yoogeun layaknya semalam.

Drrt…drrt…drrt…

Taemin melihat ke ponselnya , ID Key tertera disana..

“Yoboseyo~~”, jawabnya malas.

[Aish. yah, wae? kenapa kau sepertinya tidak suka terima telpon dari ku?]

Taemin berdecak, “Neh, Key hyung…mworago?”,

[Ck, kau dimana?]

“Dirumah…wae?”

[Ani, hanya bosan, Onew sedang pergi kerumah keluarganya sebentar, dan aku kesepian, aku main kesana boleh?]

“Hah? neh neh…kemarilah…”,

[Jinjja? aku juga mau main dengan Yoogeun, dia ada kan?]

“Tidak ada, dia bersama Heechul umma pergi , aku hanya sendirian…”

[Minho kemana?]

Taemin terdiam, “Minho …sudahlah, kau mau kesini tidak , aku sedang bosan setengah mati, cepat yah?”

[ck, arrasoo~ tunggu 15 menit lagi, arra? annyeong]

“Neh…”

PIP

Taemin berdecak, Key yah…bagus sekali, ia memang sedang butuh teman bicara, dan rasanya jika Key datang itu lebih bagus. Ia melihat ke arah lantai, dammit…setidaknya bersihkan dulu kekacauan yang ia lakukan sendiri.

.

.

“Jinjjayo?”, tanya Key mengunyah apel ditangannya, Taemin mengangguk lemah, Key berdecak, ia menyentil jidat Taemin.

“See…i told you did i?”, kata Key kesal, “Ayolah Taemin, kalian ini sudah menikah, sekamar saja kalian tidak bisa melalukan apapun, mana kemajuan pernikahan kalian?”, tanya Key, Taemin terdiam, ia meremas tangannya.

“Mungkin … Minho akan meninggalkanku?”, lirihnya, Key melihat Taemin yang menunduk, ia dengar suaranya serak. Ia menarik nafas dan memeluk Taemin ,menepuk kepalanya berkali-kali.

“Nah nah…begini yah…aduh…”, Key menegakan tubuh Taemin, “Sekarang aku tanya, bisa kau ingat berapa kali kalian ciuman?” Taemin menggeleng.
“Berapa kali kalian menyatakan cinta satu sama lain?” Taemin menggeleng lagi.
“Siapa yang memulai mencium dan menyatakan cinta?”,

Taemin menunduk, “Minho hyung…dia …dari awal dia yang lakukan padaku…”

“Disitulah!”

Taemin mendongak “Disitulah kesalahanmu!”, Taemin tercekat, kesalahan? kesalahan apa? Key menarik nafas, susah sekali menjelaskan dengan anak polos ini.
“Yang namanya dalam pernikahan, cinta tidak cukup menopang mu, well, kau dan Minho sadar kalian mencintai masing-masing, tapi rasa percaya dan juga saling pengertian itu penting, komunikasi itu lebih penting lagi…”, jelas Key,
“Kalau kau saja bicara dengannya bersama jarang, bagaimana kalian ingin memahami satu sama lain, jadilah pendengar yang baik untuk didengar, jadilah orang yang mencintai untuk lebih dicintai, dan …jadilah Lee Taemin yang akan dicintai Minho…”, jelas Key.

“Kalau kau takut melakukan lebih jauh, itu wajar… tapi ingat Taemin, cepat atau lambat kau harus beranikan dirimu, karena apa? dalam hubungan sejenis seperti kita ini, mereka sebagai seme juga butuh akan…kau tahu maksud ku kan? mungkin selama ini Minho tidak memaksa karena ia takut menyakitimu, tapi…kenapa kau tidak coba melakukan untuknya? seperti yang ia katakan, ‘setidaknya kau ini istriku, bersikaplah selayaknya istriku yang wajar’, ya kan?”,

Taemin terdiam, dia meremas tangannya, benarkah? apa ia harus mencobanya? demi mengembalikan Minho nya? setelah ia pikir-pikir. tidak pernah sedikit pun ia berusaha mendapatkan Minho, mungkin jika itu terus ia lakukan, terus mengira bahwa Minho lah yang harus terus mengejar cintanya, dan Taemin tidak pernah melakukan timbal balik, Taemin akan ditinggalkan…pasti akan ditinggalkan, dan ia tidak mau hal itu terjadi…

“Key…ajarkan aku satu hal…”

Key menoleh dari acara TV,”Tentang?”, tanyanya, Taemin menunduk , ia melihat wajah temannya itu memerah, Key menyeringai.

“Oke… aku punya tips untukmu…”, jelas Key tersenyum.

.

.

Taemin melihat jam didinding, Minho belum juga pulang, sudah jam 11 malam, dia benar akan pulang terlambat rupanya. Ia hanya makan nasi campur yang ia buat sendiri karena Minho bilang ia tidak akan makan dirumah, apakah ia masih bersama Dongho asistennya itu yang selalu saja kemana-mana berdua, ia menggelengkan kepalanya.

[Stop berpikir negatif, dan percayalah padanya]

Taemin mengingat tips pertama itu dari Key, ia berdiri dan mengambil jaketnya, ia berjalan keluar rumah, hanya membawa kakinya untuk mondar mandir disekitar tamannya, sesekali ia lihat ke arah jalanan, tidak ada tanda mobil Minho datang, dan tentu saja, ia harus menunggu beberapa saat lagi, ia memandangi ponsel ditangannya, apakah harus ia hubungi?

Ia ketik sms diponselnya

[Minho hyung… masih lama kah? aku kesepian di rumah sendirian (⌣́_⌣̀)”]

Taemin duduk di tangga depan rumahnya, ia menekuk lututnya hingga sedengkul, tidak lama sebuah pesan masuk ke ponselnya

[Neh sayang…aku sedang dijalan pulang, 20 menit lagi mungkin sampai, jjakkamanayo ( ˘ з(˘⌣˘) ]

[Palli Hyung…sepi sekali disini…kau sendirian menyetirnya?]

Tangan Taemin mengetik sms dengan cepat, ia harus menunggu kira-kira 3 menit untuk menerima balasannya.

[Ani, dengan Dongho… sebentar yah? aku akan cepat pulang, yaksok (ˆ⌣ˆ‎​​​​) ]

Taemin terdiam, bersama Dongho? DONGHO lagi?!!! Taemin berdiri dan menendang pilar balkon depan rumahnya, jinjjayo! habis sudah kesabarannya, apa itu Tips Key, tidak akan dipakai, bersabar dan percaya, cih! enough!!!! Ia masuk kedalam rumah dan tidak perduli lagi apa yang akan terjadi diantara mereka, lelah rasanya cemburu dan tidak tahu sebenarnya ada apa antara Minho dan Dongho?!!

.

.

Minho menutup pintu mobilnya dan tersenyum, ia lihat bawaan yang dibawa olehnya ditangan kanannya, ia tersenyum. Pasti Taemin akan terkejut dengan apa yang ia bawa, semoga saja ia suka akan hadiah dadakan yang akan dibawakannya ini.

“Taeminnie~~ aku pulang~~~”, teriak Minho segera masuk kedalam rumah, ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Taemin, menuju dapur tidak ada siapapun, namun ia mendengar suara TV menyala, ia tersenyum dan berjalan menuju ruang TV, benar, namja cantik berambut blonde sedang asik menonton TV. Perlahan ia berjalan dan memeluk tubuhnya dari belakang melewati pundak rampingnya.

“Halloo~ miss me?”, tanya Minho mencium pipi Taemin, Taemin diam saja dan melepaskan tangan Minho dengan lembut. Ia menoleh dan menatap Minho.

“Kau sudah pulang?”, tanya nya tanpa eksrpesi.

“Neh … aku sudah bilang kan aku akan pulang cepat?”,

Taemin diam saja dan berdiri, “Aku bawakan hadiah untuk—“

“Mau minum teh madu? biar aku siapkan..”, potong Taemin dan berjalan ke dapur.

Minho merasa aneh pada tingkah istrinya itu. Ia berjalan ke arah dapur dan duduk di kursi bar, memperhatikan sosoknya yang sibuk menyeduh teh.
“Bagaimana meetingnya? lancar?”, tanya Taemin meletakan secangkir teh dimeja . Minho tersenyum.

“Neh … kami akan adakan penelitian kesehatan di Jepang, dan aku ditunjuk sebagai pembicaranya.”,

Taemin mengangguk. “Bagus sekali, kesempatan yang bagus yah? berarti kau akan pergi kesana?”, tanya Taemin, Minho mengangguk.

“Sendirian?”,selidiknya. Taemin hanya berharap tidak lagi nama itu yang keluar…ia moho—

“Tidak, aku bersama Dongho, karena ia yang membuat semua laporan penelitian kami.”,

Taemin berhenti menyesap tehnya, ia menarik nafas dan menaruh gelas itu di wastafel.
“Sudah malam, tidurlah…besok kau akan kerja.”, kata Taemin dingin dan berjalan meninggalkan Minho.

Minho mengerutkan alisnya, ia berdiri dan menarik Taemin.
“Wae? mworago?” tanya nya, Taemin menepisnya pelan.

“Ani… memangnya ada apa?”,

Minho mengerutkan alis, “Kau…tampak aneh, kau seperti menutupi sesuatu dariku…?”, selidik Minho. Taemin berdecak, ia menatap Minho,

“Bukan aku , tapi bukannya itu kau?”, tanya Taemin. Minho mengerutkan alisnya.

“A-aku? kenapa memangnya? aku lakukan salah padamu? katakanlah..”, Minho meraih bahu Taemin, Taemin menggeser tubuhnya.

“Kau tidak salah, mungkin aku saja yang berpikiran negatif..sudahlah, kau cpeat ganti baju dan tidur.”, Taemin berbalik, namun dengan cepat Minho menarik Taemin ke arahnya, ia tatap Taemin lekat, Taemin berusaha menghindar dari tatapan matanya.

“Katakan…”

“A-apa?”

“Katakan apa yang membuat mu dingin padaku?”tanya Minho. “Kemarin, kau juga begitu, uring-uringan dan memarahi Yoogeun, kau menolak ku mencium mu, dan sekarang, kau maarh tidak jelas, ada apa sebenarnya dengan mu saat ini Taemin? PMS-ing?”, tanya Minho, Taemin benar-benar merasa tersinggung. Ia menepis tangan Minho.

“Kenapa? KAU TANYA KENAPA PADAKU? AKU YANG TANYA KENAPA PADAMU?!!” teriak Taemin.

“Aku bingung Hyung…apa aku harus bertanya padamu akan hal ini, kau…kau dengan Dongho, apa hubungan kalian sebenarnya?!”, tanya Taemin ia mencengkram ujung bajunya,
“Aku tahu kau partner kerja sejak dulu, dia asistenmu, yess i know ! tapi…tapi apakah harus selalu bersamanya, seperti kemarin kalian pulang bareng, tadi kalian makan siang bersama, kalian—” Taemin menutup mulutnya.

Minho terkejut,
“Makan siang? kau tahu dari mana kami makan siang bersama?”, Minho mendekat,

Taemin matanya kemana-mana mencari alasan, “I-itu…”

“Kau mengikuti ku?”, tanyanya, Taemin terkejut, ia menunduk.

“I-itu aku—“

“Kau cemburu padaku kan? kau mengira aku selingkiuh padanya?”, tanya Minho menarik lengan Taemin mendekat, Taemin semakin salah tingkah, Minho tersenyum.

“Kau jelas cemburu padaku…”, katanya, Taemin diam saja, ia menunduk semakin dalam. Minho menarik dagunya dan berusaha menemukan mata coklat itu untuk ditatapnya.

“Hei…look at me..”, bisik Minho, jarak mereka sangat dekat. Taemin dengan takut melihat ke arah mata Minho.

“Aku tidak akan pernah selingkuh darimu, yang kau lihat itu tidak ada apa-apa , kalau perlu aku tidak akan lakukan itu lagi demi istriku yang pencemburu ini, agar ia tidak marah dan uring-uringan terus, aku akan jaga sikapku, dan terpenting adalah, aku ingin katakan bahwa tidak ada yang menarik selain Choi Taemin, namja tercantik yang jadi istriku.”, katanya dan mencium kening Taemin.

“Kau berusaha berbohong atau menggombal?”, bisik Taemin.

Minho berdecak, namja ini benar-benar…” Kau lebih suka yang mana? aku menggombalimu, atau aku bohongimu?”,

Taemin berdecak dan memukul dada bidang Minho, “Nappeun namja!’, katanya, Minho dengan sigap menangkap tangan Taemin dan menariknya ke arah bungkusan yang tadi ia bawa, Taemin tidak mengerti apa yang akan diberikan Minho,tubuhnya di angkat dan didudukan di meja bar.

“Aku … mungkin tidak punya hadiah yang berarti untuk kuberikan padamu, ini seharusnya jadi hadiah yang akan kuberikan esok, tapi…aku rasa aku tidak bisa menunggunya lagi,”, Minho mengeluarkan sebuah kotak berwarna silver dengan pita emas di atasnya. Kemudian ia menarik tangan kanan Taemin, melepas cincin nikah mereka,

“Y-yah apa yang…”, Taemin terdiam ketika Minho menyuruhnya diam hanya dengan senyumnya.

Kemudian Minho membuka kotak ditangannya itu, Taemin mengerutkan alisnya.
“M-mwo? ige mwoya?”, tanya Taemin.

Ia bingung melihat benda didalamnya, sebuah marsmallow berbentuk kue ultah kecil bertemgger didalam kotak itu.
Minho mengambilnya, ia menyentuh wajah Taemin dan mengelusnya,”Happy birthday Choi Taemin … this is my early birthday gift for you ” katanya , Taemin terkejut, ia berusaha mengingat, birthday? birthday…BIRTHDAY?!!!!! ya benar…pabo pabo pabo…kenapa ia tidak ingat? besok ultahnya , dan sekarang…

“M-minho…kenapa kau bisa tahu?”, tanya Taemin.

Minho berdecak , ia mengelus kepala Taemin, “Aku ini suami mu…tidak ada yang aku tidak tahu tentang istriku sendiri kan?”, tanyanya, Minho mengelus pipi Taemin yang memerah, ia melihat ke arah jam, pas sekali.

“Nah, sudah jam 12 tepat…make a wish…dan makan hadiah ini dari ku.”, katanya, Taemin tersenyum, ia genggam tangan Minho yang ada di pipinya dan ia pejamkan matanya. Setelah beberapa detik ia buka kembali dan ia tatap Minho.

“Nah makanlah…” Minho menyodorkan marsmallow itu , lucu sekali, kado yang unik pikir Taemin.

Namun sekelebat pikiran terlintas dibenaknya.
[kenapa kau tidak coba melakukan untuknya? seperti yang ia katakan, ‘setidaknya kau ini istriku, bersikaplah selayaknya istriku yang wajar’]

Ia ambil marsmallow itu, now or never? pertama dalam hidupnya, ia akan berinisiatif, hanya untuk Minho…dan hanya untuknya.
Ia letakan marsmallow itu diujung mulutnya dan kemudian ia tarik kerah baju Minho,
“T-taemin—“

Minho terdiam dan menyentuh bibir Minho untuk mengikutinya, perlahan dan pasti, Taemin terus mendekat, dan entah apa yang membuatnya berani, ia lakukan itu, inisiatif pertamanya, marsmallow itu perlahan masuk kedalam mulut Minho bersamaan bibir mereka bertemu, lumatan tercipta dengan idnah dan manis seiring rasa marsmallow itu yang semakin mencair.

Minho yang sedikit terkejut merengkuh rambut blonde Taemin, namun Taemin terkejut, ketika meltingan permen itu berakhir, diganti oleh sesuatu yang aneh.
Ia melepas ciumam nya, dan melihat Minho tersenyum. Dan plop…
Taemin membuka mulutnya dan keluarlah sebuah cincin berwarna saphire blue dengan bintang kecil diatasnya.
“M-minho ini…”

Mata Taemin hampir berair…so sweet~~
Minho mengambilnya tanpa rasa jijik karena terdapat air liur Taemin, ia raih jari jemari tangan Taemin dan ia pasangkan cincin itu di jari manis kanan Taemin.
“Choi Taemin, untuk malam ini…maukah kau menjadi istri resmi ku? benar-benar istirku…tidak ada perjanjian, tidak ada kontrak, tidak ada kebohongan publik…kita awali semuanya dari nol..dan aku harap, kau Choi Taemin, bersedia untuk terus menjadi istriku dalam susah maupun senang…forever and ever…”, Minho mencium jari jemari Taemin dan tersenyu m padanya, mengelus pipi yang memerah itu dan telah basah dengan air mata.

Taemin…dia bahagia Tuhan, pertama kali…ini adalah lamaran terindah, tidak seperti dulu…ini adalah malam ulang tahun terindahnya juga…
Taemin meraih tangan Minho kegenggamannya, ia tatap Minh lekat, dengan tangan bergetar dan air mata mengalir ia katakan itu…inisiatif pertamanya yang lain.

“Minho hyung…take me…”, katanya,
“Take me … and make me yours…tonight…”, bisiknya,

Minho terkejut, ia hampir menduga salah mendengar, tapi tidak…ia tidak salah…ia tercekat dan bisikan suara Taemin terdengar indah, yeah membuat Minho juga menjadi bergairah. Tidak bisa lagi…jangan salahkan dia…sudah lama ia tidak bisa menahan ini semua… Minho tersenyum dan menaruh kedua tangan Taemin melingkar di lehernya, ia angkat tubuh Taemin layaknya baby koala, seperti tahu apa yang akan terjadi, Taemin dengan malu melingkarkan kakinya di pinggang Minho, membuat darah mereka berdesir ketika antara bagian terkeras mereka bersentuhan.

Minho mencium kening, hidung, pipi, rahang, dagu dan.. bibir Taemin kemudian berbisik
“My pleasure…”, katanya, sebelum bibir mereka bertemu dan perlahan Minho membawa tubuh mereka naik ke lantai atas dengan hati-hati.

TBC~~~

Ahhh~~ aku suka meledek dan bermain perasaan dengan kalian, aku mau buat epilog malah begini TBC mulu, mau benci gue? silahkan!!! tapi jangan harap kalau kalian nggak komen bakal dapet PW NC part B, kalau sampai komennya dikit dan gak lebih dari 30 , gak bakal ada NC, segini aja juga udah bisa dibilang tamat!! LOL

Oke, see ya.. insyaAllah i’ll update  tomorrow🙂

210 thoughts on “[2min] Epilogue-NC: Dearest part A of B

  1. huffftt susah bangat dapatin pasword.
    jadi bacanya lompat2😦
    cie tae yg cemburu kirain bakalan panjang masalahnya, ngga twnya langsung baikan trus tae ngajakin nc wahahahahahaha… sesuatu bangat tae yg mulai duluan kondisinya pas lagi saat yoegun ngga ada..
    siap2 tae ngga bisa jalan

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s