[SHINee + Jino] STALKER Chap 3


Foreword:

Anyeeeeoooooonnnngggg!!! Lulu here~~!!! Bingung kenapa aku ada disini??? Sama dong klo gitu :lol:/plaaak/tabok.

Oke sebenernya aku cuma bantuin Sita aka. Rinhyo untuk ngedit dan ngepost ff ini. Soalnya dia kan udah mulai sekolah, jadi dia sibuk banget. So aku memaksa menawarkan biar aku aja yang ngedit ni ff!!! Tapi berhubung kemaren-kemaren aku males sibuk, jadi baru hari ini aku sempet ngepostnya. Miaaaaannnn~~~~!!!😀 Buat yang udah lupa-lupa ama ceritanya bisa liat disini: chap1 & chap2

Dan kenapa aku ga pake akun ku sendiri tapi malah bajak akunnya Sita, soalnya aku lupa PW akun WP aku!!!😛 So apa boleh buat!!!😀

Dan satu lagi, Sita titip pesen. Dia minta maaf soal ff yang dia post kemarin katanya banyak kesalahan, dan dia masih belum sempat untuk ngeditnya karena dia sibuk dan modemnya lagi abis pulsa katanya *beli atuh taaa~~ :P*, dan dia juga minta maaf karena kayaknya dia bakalan lama buat update ff karena dia sibuk banget dengan sekolahnya.

Please bare with her, my beloved Suunders!!! ^-^

Okelah, daripada ni foreword lebih panjang dari ff mendingan langsung dibaca aja!!! Here we go~~~!!!

***

STALKER Chap 3

Original Story by Aya Haruka

——

Taemin menatap foto-foto itu.  Itu adalah foto dirinya bersama Minho ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tangan Taemin bertopang pada meja makan. Dirasakannya kepalanya sakit. Ia dengan cepat memasukkan kembali foto-foto itu ke dalam amplop ketika Jinki muncul dari dalam kamarnya sambil menguap. Cepat-cepat Temin menyembunyikan amplop itu di balik t-shirt putihnya.

“Taemin-ah, sudah bangun?” Tanya Jinki sambil mengambil segelas susu yang diletakkan Taemin di atas meja dan meminumnya.

“Ne hyung!” jawabnya salah tingkah.

“Kau ini kenapa?  Pagi-pagi wajahmu sudah pucat seperti hantu.” Katanya.

“Tidak apa-apa, hyung.” Jawabnya sambil berusaha nyengir, namun ia menjadi seperti meringis.

“Kau sakit?  Jika sakit aku akan melaporkannya pada Pak Shindong agar dia memberimu izin untuk tidak masuk hari ini.” Katanya sambil memakan sandwichnya.

“Tidak perlu hyung, aku baik-baik saja.” Jawabnya dengan cepat.

“Oya Taemin, mulai besok aku mungkin tidak akan pulang, aku harus menjaga Key untuk sementara waktu.” Ucapnya. Taemin mengangguk mengerti. Padahal dalam hati dia cemas bukan main. Ia buru-buru masuk ke kamarnya sebelum Jinki curiga padanya.

“Taemin~ ini cuma foto biasa.  Kau polisi.  Ingat itu Tae!” ucapnya pada diri sendiri.

 

So I pray for you

Oh so I, so I promise you

Oh so I ………

 

Ponsel Taemin berdering nyaring.  Ia menatap layar ponselnya.

Hidden ID

“Yoboseo~” sapa Taemin.

“Sudah mendapat kiriman dariku?” suara berat itu bertanya padanya.

“Eh?”

Tut.  Tut.  Tut.

Sambungan terputus.

*STALKER*

“Choi Siwon?” Seru Jino tak percaya. Siwon merentangkan tangannya dan memeluk namja manis itu.

“Apa kabar Jino?” tanyanya ramah.

“Buruk.” Jawabnya sambil melepaskan pelukan Siwon. “Ada apa kau kemari?”

“Lho? Memangnya aku tidak boleh menjenguk sahabatku?”

“Aku tidak menyangka kau masih menganggapku sahabat setelah apa yang kulakukan.” Ucapnya sambil menghapus air mata harunya.

“Apa pun yang kau lakukan kau tetap sahabatku.” Ucapnya.

“Terima kasih Siwon.” Ucapnya.  Siwon hanya tersenyum, ia menengadahkan kepalanya ke langit.

“Sudah lima tahun ya kita tidak berkumpul lagi.” Katanya.  Jino ikut menengadahkan kepalanya menatap langit. Jino mengambil selembar  foto dari dalam saku jaketnya. Dan menatapnya lama.  Siwon ikut melihat foto itu.

Di dalam foto itu Siwon melihat dirinya bersaama Jino, Kyuhyun, Taeyoon, dan Jinki. Ya, dulu mereka bersahabat.  Mereka berfoto di sebuah jembatan.  Di foto itu Siwon merangkul Jino. Jino tersenyum sambil menunjukkan tanda ‘V’ dengan jarinya. Kyuhyun berpose dengan gaya yang sama dengan kedua jarinya. Taeyoon dengan rambut panjangnya mengedipkan mata sambil menggigit lidah dengan tangan bertopang di bahu Kyuhyun, Jinki tertawa lebar dengan jari membentuk huruf ‘V’ juga.

Mereka berlima adalah user Facebook yang tergabung dalam grup Agatha Christie Lovers.  Karena kecintaan mereka pada novel Agatha Christie mereka semua berjanji untuk berkumpul dan saling bertukar pinjam novel hingga akhirnya mereka berlima bersahabat. Pertama kali mereka bertemu Jino dan Taeyoon yang bersahabat dari kecil agak canggung juga menghadapi tiga cowok yang salah satunya kuliah di jurusan psikologi, yang satunya lagi mahasiswa Bussiness and Management dan calon Polisi. Walaupun mereka bertiga lebih tua dari pada mereka berdua. Jino tidak pernah menyebut mereka ‘Hyung’ kecuali Taeyoon yang memanggil mereka oppa.

Setiap minggu mereka pasti selalu janjian bertemu untuk saling mendiskusikan novel. Awalnya novel, hingga saking seringnya mereka tiap minggu berkumpul masalah pribadi pun ikut terbawa dan masing-masing membantu yang lain untuk memecahkan masalah.

“Jinki sering datang kemari?” Tanya Siwon membuyarkan lamunan Jino. Jino mengangguk.

“Ya, dia selalu datang tiap minggu.”

“Kyuhyun?”

Jino menggeleng sedih. “Dia pindah ke Jepang bersama kakakku.  Kadang-kadang mantan pacar Taeyoon akan kemari untuk menjengukku.” Jawabnya. Mereka sama-sama terdiam.

“Oya, kau sudah bertemu sepupuku?” tanyanya.

“Hah? Sepupumu? Yang mana?”

“Kau belum dijenguknya?” Tanya Siwon lagi.  Jino mengernyit tak mengerti. Melihat wajah Jino yang penuh tanda tanya ia mengusap rambut namja manis itu dan tersenyum. “Sebentar lagi dia akan datang.”

“Siwon, apa maksudmu?”

“Dia akan datang. Kau tenang saja.” Jawab Siwon nyengir sambil berbaring di atas rumput.

*STALKER*

Sudah seminggu ini Key kemana-mana ditemani Lee Jinki, Detektif kepolisian yang bisa di bilang agak menyebalkan bagi Key.  Bahkan bisa dikatakan mereka seperti sepasang suami-istri *amiiin* saking protektifnya Jinki menjaga Key.

Mereka sedang berdiri di samping rel kereta yang mereka tunggu. Di sana banyak sekali orang yang menunggu kereta. Key agak kesal juga menunggu kereta datang. Ia paling tidak suka menunggu. Kakinya sudah pegal karena dari tadi berdiri.

Ponsel Jinki berdering. Ia mengangkat telepon dan memunggungi Key. Key berdiri diam menunggu kereta.  Ia bernafas lega karena kereta sudah muncul di tikungan dan hanya dalam hitungan menit kereta itu berhenti.

Kereta api terasa berjalan perlahan walaupun sebenarnya kereta itu berjalan dengan sangat cepat. Entah kenapa Key merasakan dorongan keras dari belakangnya. Dan tiba-tiba saja dia ambruk ke rel kereta api. Key merasakan sikunya sakit sekali. Ia mengerang dan berdiri. Ia tidak tahu apa yang terjadi ketika semua orang yang sedang menunggu kereta api berteriak-teriak histeris sambil menunjuk-nunjuk dirinya.

Key menoleh, matanya terbelalak lebar. Tubuhnya membeku seketika ketika ia melihat moncong kereta api bawah tanah itu sudah berada beberapa meter darinya. Dan entah apa yang terjadi selanjutnya Key menutup matanya. Ia merasakan seseorang memeluknya dengan hangat dan menarik tubuhnya hingga terjatuh.

Teriakan dan pekikan menggema di tempat itu, suara rem kereta api yang berdesing terdengar nyaring. Key merasakan hangat tubuh seseorang mendekapnya. Ia mencoba membuka matanya.  Ia melihat Lee Jinki mendekapnya dengan erat.

“Key, kau tidak apa-apa?” tanyanya cemas. Jinki membantu Key bangkit, orang-orang berjalan mendekat untuk memastikan bahwa Key tidak terluka. Key yang masih gemetaran akhirnya di bawa Jinki untuk naik taksi. Mereka membatalkan rencana pulang dengan alat transportasi biasa.

“Kau kenapa bisa ada di rel itu?  Di sana sangat berbahaya.” Kata Jinki agak cemas. Mereka kini menaiki taksi yang sedang melaju ke rumah Key.

“Aku tidak tahu Jinki, aku merasa… aku di dorong.” Jawab Key.

“Kau melihat siapa orang yang mendorongmu?”

“Tidak. Aku tidak melihatnya.” Jawab Key.

Jinki menghela nafas. Kasus kali ini di rasa menyita semua pikiran dan tenaganya. Bahkan adiknya yang tidak tahu apa-apa pun sampai terbawa-bawa dalam kasus ini. Kasus yang berawal dari lima tahun lalu, lima tahun yang penuh dengan kenangan buruk.

*STALKER*

“Kau sudah siap bertemu dengannya?” Tanya Hangeng tak yakin. Jungmo menghela nafas dan mengangkat bahu. “Dia sama sekali tidak ramah.” Tambah Hangeng. “Tapi, dia tidak berbahaya.” Ucap Hangeng buru-buru.

“Terima kasih Dokter.”

“Jika ada apa-apa, cepat panggil kami.”

Jungmo mengangguk dan masuk ke dalam kamar serba putih itu. Ia melihat seorang namja dengan pakaian putih terusan dengan lengan pendek khusus untuk pasien rumah sakit itu. Namja itu berdiri sambil melipat tangannya didepan dada, di sebelah White Board yang di tempeli dengan artikel-artikel dari surat kabar.

“Annyeonghasseo, Choi Jungmo imnida.” Sapa Jungmo tanpa senyum.

Namja itu menatap Jungmo dingin. “Cho Jino.” Balasnya dingin.

“Baiklah. Tuan Jino, aku dari kepolisian Seoul.” Ia menunjukkan lencananya dan menyimpannya kembali. “Boleh aku duduk?” tanyanya kali ini dengan senyum.

Jino menunjuk kursi dekat meja dengan dagunya. Jungmo menarik kursi itu dan duduk. “Ada beberapa pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu Tuan Jino. Tapi, kurasa lebih baik aku memanggilmu Jino saja.” Katanya dengan ekspresi cool yang sudah pasti membuat kaum para yeoja dan namja-namja cantik meleleh. Namun ekspresi itu tidak mempan untuk Jino.

“Terserahmu saja.” Katanya masih tetap berdiri.

“Baiklah, aku minta kau untuk duduk!”

“Apa hakmu menyuruh-nyuruhku di kamarku?” katanya dingin. Mereka terdiam, namun akhirnya Jungmo mengalah.

“Baiklah, langsung saja pertanyaannya.  Kenapa kau berniat membunuh lima tahun yang lalu?”

“Karena aku ingin membunuhnya.” Jawabnya dingin.

“Kenapa kau ingin membunuhnya?”

“Karena aku ingin membunuhnya Choi Jungmo. Apa kau tidak dengar itu?” katanya meledak marah.

“Baiklah-baiklah. Aku mengerti. Untuk siapa kau membunuhnya?”

“Aku membunuhnya untuk diriku sendiri. Untuk kehilanganku, untuk kesedihanku, untukku.  Untukku Jungmo! KARENA DIA AKU KEHILANGAN SEGALANYA!” teriak namja itu dengan tubuh gemetaran dan air mata.

Jungmo mendekati Jino yang berdiri dengan tangan mengepal di samping tubuhnya. Nafasnya memburu.  Jungmo berdiri dan mengangkat dagu gadis pucat itu.  Jungmo menatap mata gadis itu yang berair. Jungmo mendekati wajahnya ke wajah gadis itu.

Cklek.

Jungmo dan Jino menatap ke arah pintu yang terbuka. Hangeng dan Heechul mematung di pintu itu. Jungmo menyingkirkan tangannya dari wajah namja itu dan Jino melangkah menuju ke pintu.

“Ah, maaf jika kami mengganggu.” Kata Heechul tidak enak.

“Ah tidak apa-apa Hyung.” Kata Jino datar. “Aku sudah minum obat hyung.” Katanya.

“Oh bukan itu sayang.”

“Lalu?” Tanya Jino masih dengan suara datar.

“Kami akan segera menikah.” Ucap Hangeng senang.

Heechul tersipu malu.

“Oh jadi itu kenpa kalian kemari??” Kata Jungmo agak sedikit gusar. Hangeng tersenyum nakal.

“Ah, kami kemari karena kami mendengar teriakan Jino, kami pikir ada apa-apa.” Kata Heechul cepat-cepat.

“Ah tidak juga. Oya, seminggu lagi kami akan menikah.”

“Baguslah jika kalian akan segera menikah.  Selamat.  Aku yakin Taeyoon akan senang.” Ucap Jino datar.

“Kami mengharapkan kehadiranmu.” Tambah Hangeng.

“APA?” Aya yakin ia salah dengar. Masa orang gila seperti dirinya dibiarkan berkeliaran di pesta pernikahan orang lain.

“Ya, Taeyoon memintaku untuk mengundangmu jika aku menikah nanti, dan aku tidak akan melanggar janjiku untuknya.” Ucap Hangeng datar.

“Kalian tidak takut aku kabur?” Tanyanya penasaran.

“Tenang saja, masih ada aku kok yang akan menghalangimu.” Kata Heechul dengan nada riang seperti biasanya.

“Ya, dan ada aku.” Ucap Jungmo. Hangeng tersenyum dengan penuh terima kasih padanya. Sedangkan Aya berdiri dengan agak tertohok.

*STALKER*

Temin membaca data-data tentang beberapa gadis yang di bunuh itu. Dan kali ini ada satu korban lagi dengan luka tusukan di lehernya dan begitu bagian-bagian yang lain. Taemin yang menemani Leeteuk untuk memeriksa mayat itu bersama Lee Hyukjae mantan rekannya itu, sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu.

“Seperti mayat Jung Soeyeon kemarin.” Kata Leeteuk.

“Lalu siapa gadis ini?” Tanya Taemin.

“Hwang Miyoung, 20 tahun pelatih baseball Chongdam High School.” Jawab Hyukjae. “Ditemukan di apartemennya.” Kata Hyukjae yang membaca laporan penyelidikan yang di bawa Minho tadi. “Dan ditemukan beberapa foto yang di ambil secara diam-diam ku kira. Dan di ponselnya pesan singkat aneh-aneh tertera. Sepertinya dia di terror seseorang.”

“Lihatlah, di sisi perutnya ada luka goresan pisau.  Aku yakin dia pasti mencoba menghindar dari serangan itu.”  kata Leeteuk menunjuk perut Miyoung yang ada luka goresan itu. Leeteuk kembali menutupi mayat itu dengan kain putih.

“Leeteuk, luka di sebelah mana yang menyebabkan dia meninggal?”

“Urat nadi leher. Si pelaku mengiris urat nadi leher korban.” Jawab Leeteuk. Dan pandangan Taemin tiba-tiba memburam.  Ia ambruk ke lantai bersamaan dengan terbukanya pintu ruangan itu.

*STALKER*

“Taemin! Taemin!”  Minho mengguncang-guncangkan tubuh Taemin dipangkuannya. Ia baru saja membuka pintu ruangan itu dan tiba-tiba Taemin pingsan. Leeteuk dan Hyukjae yang tidak tahu apa-apa kaget sekali.

Leeteuk dengan cepat melepas sarung tangan karetnya dan menghampiri mereka.  “Kenapa dia?” Tanya Leeteuk.

“Lha? Bukankah aku yang seharusnya bertanya itu pada kalian?”  balas Minho cemas. Hyukjae menggeleng, akhirnya Minho membawa Taemin ke ruangan mereka dan membaringkan namja cantuk itu di sofa. Hyukjae dengan cepat menelepon Dokter untuk Taemin. Minho yang cemas dengan keadaan namja itu terus saja berada disampingnya.

Jaejoong pun memeriksa Taemin. Setelah ia memeriksa Taemin ia pun harus menghadapi berbagai pertanyaan dari mulut-mulut yang cemas akan keadaan rekan mereka. Jaejoong hanya tersenyum.

“Dia baik-baik saja.  Dia hanya kelelahan, dia harus beristirahat.” Ucap Jaejoong tenang. Minho bernafas lega.

“Ah syukurlah, aku kira dia kenapa-kenapa.” Celetuk Hyukjae. Leeteuk cekikikan melihat wajah lega Minho.

“Terima kasih Dokter Kim.” Ucap Minho sopan. Setelah itu pun Jaejoong pun pamit. Ia berjalan kembali menuju rumah sakit.  Ponselnya berdering nyaring.

“Yoboseo~”

“Boo, kau lama sekali.” Keluh suara pria di seberang.

“Ya ampun Yunho, kau ini tidak sabaran sekali.” Keluh Jaejoong.

“Lihat ke depan, jangan terus menundukkan kepala seperti itu!” tegur Yunho. Jaejoong mengangkat kepalanya dan melihat Yunho melambaikan tangan padanya. Jaejoong menutup teleponnya dan berjalan menuju Yunho.

Neoreul gidaryeo ongeoya aju oraen shigandongan

nareul kkok dalmeun sarangeul wihae

weroweottteon shiganmankeum neo-ege da jugo shipeun

my endless moment, pray for you

Jaejoong menatap layar ponselnya heran.

Hidden ID

 

Jaejoong mengangkat ponselnya dan berkata, “Yoboseo~”

“Sudah membaca e-mail dariku?” Tanya suara pria itu.

“Apa?” Jaejoong mengernyitkan dahinya.

Tut.  Tut.  Tut.

“Boo, ada apa?” Yunho menghampirinya cemas.

“Ah tidak apa-apa Yunho.” Jawab Jaejoong tenang. Ia pun berjalan berdampingan dengan Yunho  dan berusaha melupakan telepon aneh  itu.

*STALKER*

Sudah seminggu ini Jinki tinggal di rumah Key. Sejak kejadian di stasiun kereta Jinki makin memperketat penjagaannya. Key sangat jengkel sekali, bahkan Jinki sempat meminta Key untuk berhenti bekerja dulu dan tinggal di rumah untuk sementara waktu, dan ide itu di tolak mentah-mentah oleh Key.

“Ah baiklah, hari minggu ini? …..  Jino akan ikut? …..  Baiklah….  Aku mengerti……..  ya, aku akan datang…..  annyeong!”  Jinki menutup teleponnya dari Hangeng. Key dengan wajah cemberut menaruh cangkir teh di meja untuk Jinki.

“Temanmu?” Tanya Key masih cemberut.

“Ya, oya kau mau tidak datang bersamaku ke pesta pernikahan temanku?”  Tanya Jinki ragu.  Key menatapnya dengan pandangan yang sulit sekali di tebak Jinki. “Ah kau harus ikut. Tidak ada orang yang akan…. menggantikanku menjagamu.” Kata Jinki cepat sebelum Key menolaknya.

“Terserahmu saja.” Jawab Key sambil melengos ke dapur untuk memasak makan malam untuk mereka. Langit sore sudah gelap. Key yang sedang memotong-motong sayuran tiba-tiba merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Key berhenti melakukan aktivitasnya.

“Jangan berhenti!” bisik orang itu yang ternyata adalah Jinki.

“Jinki, nanti tetangga lihat. Lepaskan aku!” perintahnya tegas. Ya, mereka memunggungi jendela dapur yang menghadap ke kebun lalu jalan yang biasa dilewati orang-orang.

“Lakukan yang seperti biasa, dia ada di sini!” bisik Jinki sambil mempertegas pelukannya. Wajah Key memucat. Tangannya menjadi dingin dan tubuhnya gemetaran hebat.  “Kau tenang saja, ada aku yang akan melindungimu.” Bisik Jinki sungguh-sungguh.

Key terdiam. Tanpa di sangka air matanya jatuh ke pipinya. Dan tiba-tiba Jinki menarik Key ke bawah hingga mereka terbaring di lantai.  Terdengar denting kaca yang pecah dan sesuatu yang melesat dan menancap di meja kayu tempat Key memotong-motong sayuran.

Suara sesuatu yang melesat tadi adalah suatu panah yang kini menancap di meja. Panah itu menancap dengan sebuah foto dan pesan. Mereka bangkit, Jinki menatap arah tempat ia merasa si pelaku terdiam di sana. Si pelaku sudah pergi.

Pandangan Jinki beralih pada kedua benda itu. Selembar foto Key dan sebuah pesan yang berbunyi: ‘U’RE MINE’ dengan cat merah darah.

Key berdiri dengan gemetaran. Jinki yang menyadari ketakutan Key merangkul gadis itu ke dalam pelukannya. Dirasakannya jantungnya berdetak tak karuan merasakan tubuh Key yang bergetar dalam dekapannya.

*STALKER*

Semua orang memakai pakaian pesta. Tapi, tidak untuk Jino. Dia menghadiri pernikahan Hangeng bersama Jungmo dengan pakaian biasa. Ia menolak mentah-mentah untuk mengenakan jas, maka dari itu ia menggunakan t-shirt biasa dan celana jeans biru dengan jaket blue-jeans seperti Jungmo. Sedikitpun Jungmo tidak berniat membiarkan gadis itu jauh darinya. Dan itu membuat ia ke-gerah-an.

“Jino!” sapa seseorang yang menepuk bahunya. Jino menoleh, dilihatnya Jinki berdiri sambil menggenggam tangan seorang namja sangat cantik yang memakai jas putih Armani, senada dengan Jinki yang mengenakan jas hitam, membuat pesona Detektif itu meningkat sedemikian rupa di hadapan para yeoja dan namja cantik yang sedari tadi mencuri pandang ke arahnya.

Jungsoo memeluk Jino singkat lalu merangkul Key dengan mesra dan membuat wajah Key memerah seketika. “Jino, perkenalkan ini Key.”

“Annyeong, aku Kim Kibum.  Panggil saja aku Key.” Ucapnya ramah. Mendengar nama namja itu Jino tercengang dan kemudian tersenyum menyambut sapaan Key.  Dan itu membuat Jinki dan Jungmo saling tatap heran. Karena baru kali ini mereka melihat Jino tersenyum.

“Ah Key, aku Cho Jino. Kau cukup memanggilku Jino. Senang berkenalan denganmu.”

“Ne, chomaneyo.”  Katanya membuat Jino tersenyum puas. Tidak di sangka ia akan bertemu sorang yang sangat ingin ia temui di tempat seperti ini.

“Ayo, acaranya sudah mulai.” Kata Jungmo memecah obrolan Jino dan Key tentang pernikahan ini. Mereka terduduk untuk menyaksikan Hangeng dan Heechul mengikat  janji di tempat itu.  Hangeng sudah berdiri di depan altar menunggu Heechul yang berjalan dengan didampingi ayahnya dan upacara pun berlangsung.

*STALKER*

Untuk pesta resepsi mereka menadakannya di halaman Gereja.  Semua mengucapkan selamat pada Hangeng dan Heechul. Jino menghampiri mereka bersama Jungmo. “Koko Han,” sapa Jino. Hangeng tidak biasanya mendengar Jino memanggilnya dengan embel-embel ‘Koko’. Ia jadi teringat Taeyoon, adiknya.  “Jaga Heechul ya?” ucapnya.

Hangeng melihat Jino jadi seperti melihat Taeyoon, ia memeluk namja itu. “Terima kasih Jino.” Ucapnya. Heechul pun memeluk Jino. Lalu  Jinki dan Key menyapa kedua pengantin itu.  Setelah itu mereka berkumpul dengan kedua pengantin itu di satu meja.

“Jae hyung?” Key tidak menyangka bertemu dengan temannya di sini.

“Lho? Key, kamu kenal Chullie juga toh?” kata namja itu ketika duduk di samping Yunho.

“Hah?  Emang ini Chullie yang kamu ceritain itu?” kata Key tak percaya. “Kepala perawat rumah sakit jiwa itu?”

“Iya.” Kata Jaejoong mengangguk.

“Waaah aku nggak nyangka lho bisa ketemu kamu di sini Chullie.” Kata Key senang.

“Oooh ini Key toh yang sering aku teleponin buat curhat.” Semua tidak menyangka mereka saling kenal, dan Minho pun bergabung dengan mereka bersama Taemin.

“Lho? Taem? Kamu datang juga?” kata Jinki heran sekaligus senang melihat adiknya masih mengenakan pakaiannya yang biasa untuk bekerja.

“Dia ini nih.” Kata Taemin nunjuk-nunjuk kearah Minho. “Aku di paksa buat ke sini. Tapi, nggak apa-apa deh, yang penting ada makan gratis.” Mereka tertawa mendengar lelucon Taemin.

Alhasil meja bundar itu dipenuhi oleh sepasang pengantin hari itu yaitu Hangeng dan Heechul, lalu Jino dan Jungmo, Jinki dan Key, Jaejoong dan Yunho, serta Minho dan Taemin. Mereka saling berbincang dalam satu meja. Semuanya penuh dengan tawa bahagia.

Kelima couple itu tidak tahu bahwa seseorang mengawasi hiruk-pikuk di sana sambil tersenyum senang.  Ia memotret Taemin, Jaejoong, dan Key. Ia tidak menyangka ketiga calon korban yang akan dibunuhnya itu berada di tempat yang sama. Ia tidak mempedulikan pengantin wanita, yang ia pedulikan adalah ketiga calon korbannya yang dalam hitungan minggu akan dibunuhnya.

*STALKER*

Jungmo memberikan i-pod-nya pada Jino dan menyumpalkan headset pada namja yang sedang melamun menikmati suasana yang penuh dengan orang-orang yang tertawa dan ngobrol.  Ditambah dengan suara sound system yang memperdengarkan lagu Marry U. Jino terperangah menatapnya.  Lagu itu bagus dan enak di denganya suara Lena Katina mengalun lembut.  Ya, lagu yang tahun 2005 booming di Amerika oleh dua penyanyi asal Rusia itu dalam album t.A.T.u. Dangerous and Moving terdengar di headset i-pod.

It’s all about us

All about (All about us)

It’s all about, all about us, all about

There’s a thing that they can’t  touch cause you know  aaaa…

“Lagu itu bagiku menceritakan mengenai kita semua.” Ucap Jungmo lirih. Jino menyukai lagu itu. Sudah lima tahun ia tidak mendengarkan suara kedua wanita Rusia itu lewat ponselnya. “Itu untukmu!” bisik Jungmo sambil tersenyum penuh arti.

“Trims Jungmo.” Ucapnya sambil menyelipkan headsetnya ke dalam pakaiannya dan memutar ulang lagu yang berjudul All About Us  milik Lena Katina dan Yulia Volkova.

Para tamu lajang berkumpul semua untuk menangkap bunga yang akan dilemparkan Heechul.  Taemin dan Key duduk di samping Jino. Mereka  tidak tertarik dengan acara melempar bunga.

“Ya, kenapa kalian diam?  Ayo ikut sana!” kata Jinki.

“TIDAK!” ketiga namja cantik itu menjawab kompak. Dan itu membuat Jinki dan Minho tertawa kecil. Sementara Jungmo nyengir lalu pergi mengambil minuman. Jinki duduk di sebelah Jino yang tadi ditempati Jungmo.  Mereka menonton dan entah ada angin apa, bunga itu tiba-tiba jatuh dipangkuan Key. Key tidak menyangka bunga yang dilempar Heechul akan jatuh ke tangannya.

“Ya, ayo berfoto!” kata Hangeng. Jino yang ogah-ogahan ditarik oleh Jinki dan Minho. Seperti biasa sepasang pengantin berdiri di tengah-tengah. Di samping Hangeng berdirilah Jinki yang merangkul Key yang masih membawa bunga itu. Di samping Key ada Jino yang masih tidak melepaskan headset i-pod, lalu di samping Heechul ada Jaejoong dan Yunho lalu Minho dan Taemin. Semuanya tertawa lebar, termasuk Jino yang pemurung.

Ketika mereka di foto untuk satu jepretan lagi mata Jino mengkap sosok yang ia kenal lama sekali. Matanya terbelalak lebar mengingat orang itu. Setelah  selesai ia berlari. Ini kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.

They don’t know

They can’t see

Who we are…

Fear is the enemy

Hold on thight hold, on to me…. Cause to night…

It’s all about us!

 

 “For us.” Bisik Jino seperti terpengaruh dengan lagu yang didengarnya. Jino berlari ke arah meja dan mengambil pisau dan kembali berlari tanpa menghiraukan suara orang-orang yang memanggil namanya.

TeBeCe…

——

Okeeee, sekian dululah. Lanjutannya ntar yah kalo aku ga males sibuk lagi!!!😛

Dan please don’t forget for RCL please. Emang bukan aku yang nulis ni ff, tapi seenggaknya bisa kan kasih komentar, siapa tau aja author aslinya liat!!!😀 And thanks for reading!!! Anyeooooonnnggg!!!😀

21 thoughts on “[SHINee + Jino] STALKER Chap 3

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s