[onkey] Love Song – part 3


Foreword:

 Sorry buat yang nulis FF ini temen gue Isnaeni nurul..gue belum sempet re-post ini karena kemarin masih sibuk*sekarangjuga sih…
Dan guys, ini re-post dari temen gue di FB…ayo dikomeng yah…

Bagi yang lupa…dan gak pernah baca, mending baca dari ulang lagi deh yah…

ini dia…

PART 1 dan PART 2

SO, LEAVE A COMMENTS!! NO BASHING, NO SR, NO PLAGIARISM!

Tittle    : Love Song

Genre  : Romance, Angst

Pairing : OnKey, mungkin ada yang lain

Cast    : Onew, Key,and other.

.

.

Aku mencari Key lagi. Kali ini aku ke pengobatan terapi Soo Won. Awalnya aku senang ada pasien yang bernama Kim Kibum disana, tapi ternyata itu bukan Kibum yang aku cari. Rasa putus asa mulai menghinggapiku. Pikiranku terus mengatakan ‘dimana kau Key?’. Dengan agak malas aku memasuki terapi Chungdam dan bertanya dengan malas juga pertanyaan yang sama saat aku berada di tempat lain “ada pasien bernama Kim Kibum?”.

“Kim Kibum?” kata petugas sambil mengecek buku daftar pasien yang ada disana, lalu ia menatapku. “Kim Kibum biasa atau Kim Keybum?”. Seketika itu mataku melotot? Apa? Memang ada dua? Kim kibum disini?

“Maksud anda?” tanyaku bingung.

“Kim Kibum yang penulisannya biasa atau Kibum yang penulisan pada ‘Ki’nya itu memakai bahasa inggrisnya kunci?”

“Key maksud anda?”

“Ne, jadi yang mana tuan?”

“Yang Ki memakai bahasa Inggrisnya kunci” sahutku semangat.

“Oh, dia ada di lantai dua kamar nomor 24”.

Aku tersenyum senang. Akhirnya aku menemukanmu Key. “Ne, Gomapta” kataku pada petugas disana sebelum meninggalkan tempat dan mulai menuju kamar Key. Aku harus teliti untuk menemukan kamar itu.

Akhirnya aku temukan kamar nomor 24. saat sampai di ambang pintu kamar itu. Tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan Key berlari keluar dengan wajah yang menangis. Apa yang terjadi sebenarnya? Siapa yang membuatnya menangis? Lalu aku kembali menatap kamar itu dan mendapati namja tampan disana, tapi tunggu sepertinya aku pernah melihat orang ini? Dimana ya?

“Bisa-bisanya dia menyuruhku seenaknya. Memangnya siapa dia? Dasar aneh. Kenapa ada keluarga yang mengaku kalau mereka keluargaku!!! Heh, ada-ada saja”

Aku menelan ludahku saat mendengar kata-katanya barusan. Apa maksud dari ucapannya tersebut? Tunggu, apa dia Hyungnya Key? Ah, aku baru ingat dia namja yang keluar dari rumah Key waktu itu. Hyung Key menatapku lalu berkata

“Hey kau, ngapain kamu disini?”

“Aku?”

“Ckckck, memang siapa lagi yang ada disini selain kau? Apa jangan-jangan kau pacarnya Key?”

Aku kaget. “An…”

“Ya, bilang padanya kalau aku bukan hyungnya!!” katanya kasar. Lalu pergi begitu saja.

Dahiku mengerut. Aku terus memandang kepergiannya. Tak lama kemudian aku sadar apa tujuanku kemari. Aku mulai berlari ke arah Key pergi tadi. Ku telusuri koridor untuk mencari Key. Hingga ku temukan dia duduk ditaman tempat pengobatan itu. Ku amati sebentar dia lalu ku beranikan diri untuk mendekatinya.

“Hey,,,”sapaku.

Key menatapku ke arahku. “Kau?”. Buru-buru ia menghapus air matanya.

Aku tetap berdiri di samping bangku taman. Key bangkit. “Untuk apa kau kemari? Sudah kubilang kalau aku tidak mau butuh belas kasihanmu” katanya.

Jujur saja aku kaget mendengar kata-katanya. Emosiku tidak bisa aku tahan lagi. Habis sudah kesabaranku. Key berlari sambil menabrak bahuku. Dia berlari ke koridor. Aku menyusulnya dan berhenti tepat di hadapan Key. Ku tatap matanya.

“Kau memang tak tahu diri ya? Sudah capek-capek aku mencarimu di semua pengobatan terapi di Seoul, tapi apa yang kau lakukan padaku? Kau malah membentakku. Apa sih maumu? Kau pikir aku kemari hanya karena kasihan padamu? Begitu eoh?” kataku penuh dengan kekesalan.

Segera ku ambil map yang dititipkan olehku pada Key. Sejenak ia memandang ke arah map yang kutunjukkan lalu kembali menatapku.

“Ini alasanku kemari. Aku hanya memberimu ini, karena apa? Karena sudah lama ku tidak masuk sekolah!” jelasku melempar map itu ke wajah Key.

“Kau tahu? Sekarang aku menyesal sudah datang kesini dan bertemu dengan namja kasar dan emosian sepertimu. Annyeong” lanjutku ketus, lalu berjalan dan menabrak bahunya, tapi belum jauh aku melangkah. Tiba-tiba

Brukk

Aku berbalik. Kini kudapati Key terduduk di  lantai dengan tangan yang memagang perutnya. Wajahnya pucat dan menahan sakit yang luar biasa. Siapa peduli. Ku lanjutkan langkahku. Namun, baru satu aku melangkah. Aku merasa bersalah dan datang menghampirinya.

“Aku memang tak tahu diri…” katanya dengan susah payah.

“Mianhe Key. Aku tidak punya mak…” kata-kataku terhenti karena Key pingsan di pelukanku.

“Key?” ku guncangkan tubuhnya. Ku tatap wajahnya.

“Key, kau kenapa? Ayo bangun! Key” panikku.

Segera saja ku angkat tubuhnya. Dan mulai mencari dokter. Tak peduli dengan tatapan orang-orang yang ada di sekitar. Aku bertemu dengan suster yang menatapku kaget. Suster tersebut menggiringku ke ruang pemeriksaan. Ku baringkan Key yang tidak sadarkan diri di kasur pasien. Sementara itu suster mencari dokter yang akan menangi Key.

Tak lama kemudian dokter datang dan langsung menangani Key setelah menyuruhku untuk menunggu di luar ruangan. Saat di luar aku bertemu dengan orang tua Key. Mereka sedang membawa sesuatu di tangan dengan gembira, tapi kegembiraan itu lenyap saat melihatku di ruang pemeriksaan dan kebetulan dokter sudah selesai memeriksa keadaannya Key.

Aku mendapatkan caci maki dari appanya Key. Aku memang pantas mendapatkan ini dari kalian. Ini memang salahku. Aku yang membuat Key sakit dan aku sangat menyesal karena telah membentaknya tadi. Mianhae Key, tapi aku mohon kau sembuhlah dari sakitmu itu. Ku gerakkan langkah pelan menjauhi ruangan Key. Hingga sampai di depan map yang tergeletak di lantai, tepatnya tempat dimana Key jatuh tadi.

Ku remas map tersebut dengan penuh amarah. Gara-gara ini, Key jadi seperti tadi. “Map sialan!” kesalku sambil membuang map tersebut ke lantai dan menginjaknya. Ku tinggalkan map tersebut begitu saja dan keuar dari tempat terapi itu.

Di depan aku melihat langit mendung. Ya, langit mendung itu kesukaannya Key. Dia suka memandang langit yang seperti itu daripada memandang langit cerah. Coba kalau aku tidak kesini, pasti Key tidak mengalami kejadian tadi. Aku menyesal.

***

Sepulang sekolah aku mampir ke toko buah untuk membeli strawberry untuk Key. Entah kenapa aku ingin sekali minta maaf padanya. Sejak kejadian itu sampai sekarang aku masih merasa bersalah padanya.

Dalam perjalanan ke pengobatan Chungdam aku terus berdoa agar tidak bertemu dengan orang tuanya Key. Aku malas mendengar caci maki dari mereka. Khususnya appa Key.

Setelah sampai disana aku berpikir kalau Key bakal pindah dari tempat ini, tapi dugaanku salah. Sekarang dia sedang duduk di taman sambil memandangi awan mendung di langit dengan senyum merekah. Ku langkahkan kaki mendekat ke arahnya.

“Annyeong” sapaku. Key menengok ke arahku lalu kembali pada posisinya semula.

“Boleh aku duduk sini?” Key tersenyum lalu menggeser duduknya sedikit untuk member ruang untukku dudukki. Aku

duduk di sampingnya.

“Mianhae” ucap Key tiba-tiba.

“Mwo?” kagetku.

“Ne, aku minta maaf atas kata-kataku tempo lalu. Aku memang aneh ya? Hahaha…. aku terus merasa bersalah dan ku kira kau tidak akan datang kesini lagi”

“Tidak, Key aku yang salah. Seharusnya…”

“Onew cukup!!! Aku tidak mau mendengar kata seharusnya lagi. Aku muak dengan kata itu” Aku terdiam. Key merunduk.

“Aku hanya merasa bersalah” lirihku

“Tidak kok, itu salahku. By the way, gomawo” Ku tatap mata kucingnya yang indah tersebut.

“Ckckck, kau itu lucu sekali kalau seperti itu. Hahaha,,, oh ya, terimakasih atas map mu kemarin. Berkat itu aku jadi ingat sedikit-sedikit tentang pelajaran di sekolah” sambungnya.

Map? Map yang waktu itu? Bukannya sudah aku buang? Dia membacanya? Batinku. Aku jadi merasa sangat bersalah kalau seperti ini. Ku tundukkan kepalaku tidak berani menatap mata kucingnya tersebut.

“Tadi pagi aku memungutnya, tapi jangan salah paham dulu ya? Aku hanya tidak mau usahamu sia-sia saja. Lagipula map itukan isinya ilmu, masak mau dibuang begitu saja?”

Tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Jujur aku ingin melompat dan beteriak ‘berhasil’, tapi aku tetap harus jaga imageku sebagai namja tampan. Hohoho.

“Sepertinya kau sedang senang?” tebakku menatap wajah senangnya.

“Ne,kau tahu? Kemarin Kyuhyun hyung sudah kembali seperti hyungku yang baik. Dia berubah karena melihat keadaanku yang buruk seperti ini, jadi aku sangat senang, Nyu”ceritanya dengan wajah sumringah.

“Sepetinya dia sangat berarti untukmu”

“Jelaslah dia kan saudaraku satu-satu. Dia adalah hyung yang baik dan sangat pengertian, hanya saja dia berubah saat kecelakaan waktu itu. Dia benar-benar hyng yang sesungguhnya”

Spontan aku ikut tersenyum melihatnya cerewet dan ceria seperti dulu. Oh iya aku kan punya strawberry untuknya. Aish, kenapa kau bisa lupa sih! Dasar Onew pabo. Dengan sigap ku keluarkan kotak strawberry dari kantongku.

“Kau suka strawberry?” tanyaku.

“Oh suka sekali” kata Key sambil mengambil strawberry dari tempatnya dan mulai memakannya. Aku menyengir melihat caranya makan.

“Enak banget, segar, manis dan asam….itulah strawberry” pujinya terus memakan strawberry yang kuberikan tadi.

Namun, baru dua yang dia makan. Tiba-tiba ia berhenti dan memegangi perutnya lagi. Sepertinya penyakitnya kambuh lagi. Wajahnya pucat dan lemah.

“Gwenchana?” bodoh, kenapa bertanya seperti itu. Sudah jelas Key merintih kesakitan seperti itu masih sepeerti itu.

“Sa-sakit Nyu….sangat sakit” rintihnya. Tak lama kemudian dia pingsan di sampingku. Tanpa pikir panjang segera ku gendong ala bridal style masuk ke ruangan. Di koridor aku bertemu oleh hyung Key. Segera saja dia memanggil dokter untuk menangani Key.

Saat Key diperiksa. Lagi-lagi pertanyaan yang sama muncul di kepalaku yaitu sebenarnya Key sakit apa? Kenapa terlihat seperti sakit yang parah. Ya? Aku khawatir melihat Key seperti ini. Jujur saja dia bukan Key yang ku kenal. Key yang ku kenal adalah namja cantik yang cerewet dan periang bukan Key yang lemah seperti sekarang ini. Karena rasa penasaranku sangat besar. Aku terus menunggu sampai Kyuhyun hyung keluar dari ruangan. Ku raih bahunya dari belakang.

“Hyung, sebenarnya Key sakit apa?” tanyaku. Dia mengacak rambutnya.

“Kau tak perlu tahu” sahutnya sambil melangkah pergi. Ku halangi langkahnya dengan berdiri di hadapannya.

“Jebal, aku hanya ingin tahu apa Key sakit apa dan aku janji tidak akan mencelakainya lagi” mohonku.

“Baiklah kalau kau memaksa, Key sakit organ dalam” sahutnya.

Tiba-tiba umma dan appa Key datang dan melihatku ada disana.

“Kau apakan lagi anakku?” marah appanya Key.

“Aku hanya memberinya Strawberry”

“Omo” gumam Kyuhyun.

“seharusnya kau tidak usah membawakan Key apa-apa” lirih umma Key.

Aku menjatuhkan diri. Benar, aku sedang berlutut di hadapan keluarga Key.

“Apa yang kau lakuakan?” tanya Kyuhyun kaget.

“Mianhae” ujarku.

“Maaf untuk apa?” tanya Kyuhyun.

“Untuk semua kesalahanku yang telah membuat Key pingsan, intinya atas semua kesalahanku pada Key. Tolong, Ahjussi izinkan aku untuk menjenguk Key terus. Aku janji tidak akan membuat Key sakit lagi. Jebal” mohonku.

“Kau serius?” tanya appa Key.

“Saya tidak akan mengecewakan anda” tegasku.

Appa Key menghela napas lalu berkata

“Ku pegang kata-katamu. Sekang berdirilah, kau membuatku seperti orang yang sangat kejam saja” ujarnya. Rasanya seperti melayang ke udara saja. Menyejukkan.

Aku bangkit. Ayah Key menepuk bahuku. “Kami harap kau menepati janjimu”

Aku tersenyum tipis “pasti”

“Jangan kecewakan kami” kata umma Key.

“Onew, namaku Lee Jinki, tapi sering di panggil Onew” selaku.

“Ya, Onew”

“Pasti ahjumma, saya akan mengingat kata-kataku tadi” jawabku.

***

“Mwo? Butik hyung bekerja sama dengan tempat Key dirawat” kagetku. Leeteuk hyung mengangguk.

“Ne, kau jadi ikut tidak?”

“Tunggu, hyung bekerja sama dalam hal apa?”

“Bisnislah. Ya kayak menyediakan sprei, sarung bantal, guling, korden, dan baju-baju pasien. Apa kau tidak ikut?

Sekalian ketemu dengan orang yang membuatmu jatuh cinta”

“Ne, aku ikut” aku langsung menjawab sebelum Leeteuk hyung terus menggodaku.

Aku duduk di sebelah Leeteuk hyung yang terus tersenyum aneh ke arahku. Sepertinya dia kurang dapat perhatian dari Kangin hyung yang sedang wajib militer ya? Ckckck kasihan. Tanpa sadar aku tertawa di depan hyungku yang sedang menyetir.

“Wae?” tanyanya.

“Mwo?”

“Wae? Kenapa kau tertawa tidak jelas begitu?”

“Habis, aku melihat wajah hyung yang aneh dan tidak jelas sama sekali sih.”

“Dasar, siapa yang aneh?”

“Hyung, apa hyung kangen dengan Kangin hyung?”

“Kangen sih ada, tapi mau bagaimana lagi, dia kan sedang wajib militer?”

“Kasihan, hahaha…..” akhirnya tawaku bisa keluar juga.

Bletak

Leeteuk hyung memukul kepalaku keras dan menghentikan tawaku.

“Kau ini, berhenti menggodaku atau aku turunkan disini. Kau kan sudah besar, seharusnyakau tahu apa itu cinta”

“Mwo? Cinta?”

“Ne, cinta itu sebuah perasaan yang timbul tanpa ada paksaan atau adanya sesuatu yang di buat-buat. Cinta adalah sebuah keinginan untuk memberi tanpa meminta balasan apa-apa”

“Hebat, sejak kapan hyung berubah menjadi puitis seperti itu?” lagi-lagi, Leeteuk hyung memukul kepalaku, lalu berkata.

“Kau kan seorang namja, kamu pasti punya rasa ingin kau lindungi bagaimanapun caranya. Lagi pula cinta itu tidak memaksa dan datang tanpa sebab” jelasnya. Aku terdiam dan berpikir ‘apa yang aku rasakan pada Key itu cinta?’

“Cinta itu saling mencintai, memiliki, pengertian, memenuhi, mengisi, dan yang paling penting itu saling percaya, mungkin karena aku dan Kangin saling percaya yang membuat kami masih bersama sampai sekarang” kata Leeteuk hyung sambil tersenyum.

Tiba-tiba terbayang wajah Key yang sedang tersenyum cerah ke arahku. Aku jadi senyum-senyum tidak jelas. Hah, Key benar-benar….

“Woy, Onew, Lee Jinki. Hello word call you” seru Leeteuk hyung sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke arahku dan menghilangkan wajah Key yang sedang tersenyum ke arahku. Dasar mengganggu saja. Aku memalingkan mukaku.

“Ya, apa yang kau pikirkan? Jangan-jangan kau memikirkan Key ya?” tanya Leeteuk hyung. Cih, apa dia bisa berhenti menggodaku?

Ku tatap keluar jalan. Tiba-tiba mobil melewat toko cokelat yang bagus.

“Berhenti hyung!” teriakku tiba-tiba. Reflek Leeteuk hyung menginjak rem dan membuatku hampir benjol karena terbentur pintu mobil.

“Wae?”

 Aku memandang wajah Leeteuk hyung yang menatapku aneh.

“Hehehe, aku mau membelikan sesuatu untuk Key” jawabku tidak jelas dan langsung keluar dari mobil. Aku melangkah memasuki toko cokelat tersebut.

Disana tersaji berbagai macam dan bentuk cokelat yang sangat cantik. Aku jadi bingung mau memilih yang mana. Pandanganku tertuju pada cokelat berbentuk hati dengan dua lapis warna yaitu atas berwarna pink dan bawahnya berwarna cokelat. Key pasti suka. Seorang penjaga toko menghampiriku.

“Annyeong haseyo,,, mau membeli yang mana?”

Aku menunjuk cokelat itu. “Aku mau cokelat berbentuk hati disana”

Penjaga toko itu memandang cokelat yang aku tunjuk.

“Baiklah, mau kotak berbentuk hati berwarna pink dan pita berwarna pink juga untuk bungkusnya?” tanyanya.

“Hmm, boleh juga” sahutku. Penja tersebut terus tersenyum sambil membungkus cokelat pesananku tadi.

“Ini, silahkan,,, semoga kekasih anda menyukainya dan datang lagi ya? Gamsahamnida” ujarnya. Aku hanya tersenyum dan melagkah pergi meninggalkan toko itu setelah membayar serta membawa cokelat tersebut.

Saat naik mobil Leeteuk hyung terus tersenyum melihat ke arahku. Aku jadi takut melihat senyumannya tersebut. “Aku jadi penasaran seperti apa orang yang bernama Key itu, sepertinya dia perempuan yang sudah bisa mencuri hati adik tercintaku yang sangat menyebalkan, dan berpipi chubby ini” gemasnya sambil mencubit pipiku. Lalu menyalakan mobil.

“Appo, hyung” rengekku. Leeteuk hyung terus tertawa. Aku tak menghiraukannya dan terus menatap cokelat yang ada di pangkuanku. Key pasti suka dengan ini. Aku akan membuatmu seperti dulu Key. Aku janji.

***

Aku dan Leeteuk hyung turun dari mobil. Kami masuk ke dalam rumah pengobatan Chungdam.

“Eh, Leeteuk,,,” sapa seorang namja cantik yang berpakaian rapi seperti bos. Apa mungkin dia bos-Nya ya?

Leeteuk hyung berpaling. “Eh, Kibum”

Aku langsung menatap namja cantik yang sedang menyapanya. Oh, ternyata bukan Kibum yang aku maksud. Syukurlah.

“Ini dongsaeng mu? Tampan sekali” kata Kibum. Hyung tertawa.

“Ne, dia itu idola di sekolahnya dan dia sudah kelas 2 SMA” cerita Leeteuk hyung. Aku hanya tersenyum dan

membungkuk kea rah Kibum.

“Annyeong” sapaku. Mereka tersenyum.

“Hyung, aku ke Key dulu ya?” ijinku.

“Ne, nanti hyung susul” tanggapannya.

Aku mengangguk lalu menuju lantai atas.

Disana aku kebetulan bertemu dengan Key di dekat tangga. Kami bertatapan sebentar dengannya. Sebelum memutuskan untuk mengobrol di taman.

“Kau sedang apa kesini?” tanya Key.

“Aku ikut hyungku kemari sekalian mau menjengukmu” sahutku.

“Kalau tidak salah hyungmu punya butik kan? Apa butiknya bekerja sama dengan rumah pengobatan ini?”

“Ne, hyung bekerja sama dengan tempat ini. Dalam produk semacam sprei, kaepet, sarung bantal, termasuk baju yang

sedang kau pakai itu dari butik hyungku” kataku sambil menunjuk baju yang dikenakannya. Key memandang baju yang di kenakannya dan tersenyum ke arahku.

“Hahaha, bajunya bagus walau warnanya kuning, tapi ada bunga-bunga pinknya, aku suka. By the way, bagaimana kabar teman-teman?”

Aku menunduk mendengar kata-katanya. Apa aku harus berkata jujur atau bohong padanya ya? Kalau aku jujur. Aku takut kalau akan melukai perasaannya jika ku katakana kalau teman-teman sudah tidak mempedulikannya tadi, sedangkan kalau aku berbohong, aku akan merasa sangat bersalah padanya.

“Mereka sudah tidak mempedulikanku lagi ya?” tanya Key dengan kecewa.

“Aniya, mereka peduli padamu. Buktinya mereka mengirimu soal-soal dari sekolahan” sahutku berbohong. Mian Key, aku telah membohongimu.

“Jinja? Syukurlah” katanya dengan senyum yang sangat lebar. Oh iya, tadi aku membeli cokelat kan? Ku keluarkan sekotak cokelat yang baru aku beli tadi dari kantong jaketku.

“Taraaaa…sekotak cokelat untuk Key yang cantik” kataku. Dia tersenyum senang sampai matanya ikut tersenyum juga.

“Kau, hobby banget sih bawain aku makanan?” heran Key.

“Tapi kau suka kan?”

“Ne, aku suka sekali cokelat, apalagi kalau warnanya pink seperti ini”. Aku senang kalau kau senang Key.

Dia memakan cokelat tersebut dengan wajah berserei-seri.

“Hmm,,, sudah lama aku tidak makan cokelat, gomawo” senangnya.

“Jangan terlalu cepat mengucapkan itu, coba lihat langit” sahutku sambil menunjuk langit yang sedang mendung.

Kami memandang awan mendung itu bersama sambil memakan cokelat yang aku berikan pada Key tadi dan saling menyuapi. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari belakang.

“Onew, apa urusanmu sudah selasai?” terdengar suara Leeteuk hyung ke arah kami. Ish, hyung mengganggu saja. Aku dan Key menoleh.

“Ya, bisa tidak mengganggu orang tidak?” tanyaku tidak terima.

“Annyeong” sapa Key sambil membungkuk 90 derajat.

“Wah, apa ini Key yang kau bicarakan? Neomu yeppo” hebohnya.

]“Key, kami pulang dulu ya? Annyeong” pamitku pada Key sambil menyeret Leeteuk hyung keluar dari sana sebelum dia bekata yang tidak-tidak.

***

“Hyung, bisa tidak kalau Key sembuh?” tanyaku ketika kami berada di mobil.

“Bisa kok, asal dia punya semangat hidup, tapi kalau penyakitnya parah bisa juga dengan operasi dan yang paling penting dia yakin kalau dia akan sembuh dari sakitnya tersebut” jelas Leeteuk hyung. Aku mengangguk.

Baiklah, aku akan berusaha meyakinkan Key kalau dia bisa sembuh. Fighting Onew. You can do it. Tiba-tiba di telingaku terdengar lagu u-kiss yang berjudul You Can Do it.

Keesokan harinya aku ikut Leeteuk hyung ke rumah pengobatan itu lagi, tapi kami mampir ke toko bunga dulu. Leeteuk hyung mengobrol dengan boss toko tersebut, sedangkan aku berjalan-jalan melihat bunga-bunga yang ada di toko tersebut. Mungkin akan sangat menyenangkan kalau menyatakan cinta dengan bunga. Tunggu, menyatakan cinta? Boleh juga. Akan aku coba menyatakan cintaku pada Key sekarang. Ayo Onew semangat.

Aku telusuri toko tersebut sambil terus mencari bunga yang cocok untuknya. Pandnganku tertuju pada bunga mawar berwarna pink di antara semua bunga mawar berwarna merah disana. Merasa tertarik, aku mengambil bunga tersebut dan berjalan ke kasir.

Leeteuk hyung memandangku heran.

“Onew, jangan bilang kalau kau suka bunga”

“Ini untuk Key. Hyung,,, doakan aku ya?”

“Akhirnya kau melakukannya juga. Fighting ne”

“Ne,tolong bungkus dengan pita dan plastik yang cantik ne?” kataku pada penjaga kasir.

“Baik tuan” sahut penjaga kasir.

Tak henti-hentinya Leeteuk hyung memberiku semangat. Dia memang hyung yang sangat baik. Memang sedikit menyebalkan dan cerewet sih. Maklumlah, sejak orang tua kami meninggal. Leeteuk hyung lah yang menjadi umma sekaligus appa untukku. Dia enak kalau di ajak bicara. Aku yakin dia menyayangiku seperti aku menyayanginya. Leeteuk hyung memang tiada duanya.

“Ini tuan semuanya 45.ooo” kata penjaga kasir sambil member bunga yang aku pesan tadi. Ku keluarkan uang dari dompetku dan membayarnya.

Baiklah, bunga sudah di tangan tinggal mengungkapkannya pada Key. Fighting. Aku harap Key mempunyai perasaan yang sama padaku. Ayo-ayo Onew kau pasti bisa. Fighting!!!

TBC.~~

bagaimana ff.x? apa tanggapan anda? silahkan RCL. kalau tidak RCL, nanti tidak aku lanjutkan, lho…. A-yo.

22 thoughts on “[onkey] Love Song – part 3

  1. key fighting!! kamu pasti sembuh, mungkin sih?, :’)
    waah si onew mau nyatain cinta ke key!! ayo onew fighting!!

  2. Ondubu hwaitting!
    Finally, Onew sadar jg,,
    Sneng nih akhir’a dy nyatain cinta ke Key
    Tp koq firasat buruk yaa?
    TBC’a pas lg happy moment gini?
    #loncat ke part4#

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s