(Onkey) Love Song – Part 5 of ?


Annyeong,

Aku datang dengan membawa lanjutan ff saya yang selama ini di post sama Sanniew eoni.mohon dibaca. aku tidak tahu mau ngomong apa? ya dah deh liat aja. apapun komentar kalian aku terima dengan senag hati, karena itulah sifat ilmiah seseorang.

NO BASHING AND NO SILENT READER.

Tittle    : Love Song

Author : Isnaeni

Genre  : Romance, Angst

Pairing : OnKey, mungkin ada yang lain

Cast    : Onew, Key, Jonghyun and other.

 

Minggu pagi, rasa cemasku akan keadaan Key masih ada. Memang sih, dia sudah dirawat oleh ahlinya, tapi tetap saja hati ini masih saja tidak tenang. Aku ikut Leeteuk hyung ke rumah pengobatan Key lagi. Aku ingin sekali melihat keadaannya.

 

“Kemarin Key kenapa?” tanya Leeteuk hyung sambil menyetir.

 

“Ceritanya panjang, dan aku malas membahasnya saat ini” jawabku malas.

 

“Pasti terjadi sesuatu, yak an?”

 

“Memang terjadi sesuatu…” sahutku malas.

 

“Jjinja? Apa yang terjadi di antara kalian?”

 

“Ne, sesuatu..”

 

Leeteuk hyng menyengir. “Aku sudah mengira sejak lama!!” reaksinya. “Maka hadirin sekalian saya nyatakan Lee Jinki dan Kim Keybum menjadi pasangan baru kita!!” katanya sambil bertepuk tangan riang saat kami sampai di lampu merah.

 

Aku menyengir kesal.

 

“Baiklah kalau begitu, mohon di gunting pita peresmiannya…tuan muda” tambahku. Leeteuk hyung tertawa.

 

“Oke, bunyi drumnya?” aku menggaeleng.

 

Mobil menepi di parkiran rumah pengobatan Chungdam tempat Key dirawat. Leeteuk hyung berpaling menatapku.

 

“Kenapa aku ingin mencium dongsaeng yang aku cintai ini ya?”

 

“Mwo? hyung mencium Kangin hyung saja jangan aku, sebaiknya aku pergi sebelum tertular virus gilamu itu, Hyung” kataku sambil membuka pintu mobil dan turun meninggalkan Leeteuk hyung yang sedang cekikikan. Dasar, dia selalu puas menjahiliku.

 

Akhirnya aku menulusuri koridor di samping taman rumah pengobatan itu. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan Key yang berlari dari dalam ruangan.

 

“Waeyo Key?” tanyaku cemas. Key melihatku lalu terjatuh.

 

Tak lama kemudian ada seorang namja yang juga berlari keluar dari ruangan yang sama dengan Key tadi. Melihat hal itu aku segera berlari ke arah Key. Aku mensejajar tubuhku dengan Key yang sedang terduduk di lantai dengan badan bergetar.

 

“Wa…” kata-kataku berhenti ketika Key tiba-tiba memelukku erat seakan ia minta perlindungan dariku.

 

Disaat yang sama aku menatap namja itu. Siapa dia? Kenapa dia mengejar Key? Aku membelai rambut Key, tapi tiba-tiba pelukannya tak terasa lagi. Rasanya Key menopang kepalanya padaku. Bukannya aku merasa tak nyaman, namun ada yang membuatku khawatir.

 

“Key?”

 

Key tak menjawab  dan juga tidak bergerak. Ada apa? Ku lepas tangannya yang melingkar di tubuhku lalu menatap matanya. Matanya terpejam. Ia lemas, tak begerak. Segera ku angkat tubuh Key dank u bawa ia ke dalam ruang perawatannya, lalu menghubungi suster lewat telepon yang ada dalam ruangan agar dokter segera datang. Setelah itu aku mentap wajah pucat Key. Aku membelai dahi sampai kepala Key. Di waktu itu aku mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa namja itu? Tiba-tiba dokter dan suster datang. Mereka segera menangani Key, sedangkan aku berjalan keluar.

 

Di luar, ada namja tampan yang tadi keluar dari ruangan yang sama dengan Key. Dia berdiri tepat di depanku. Menatap mataku tajam.

 

“Siapa kau?” tanyaku tegas.

 

“Harusnya aku yang tanya, mau apa kau disini? Dan kenapa kau pakai pelukan segala dengan key?” bentak namja tampan itu.

 

“Aku punya hak kesini, kenapa kau yang sewot?” balasku mengimbanginya.

 

“percaya diri sekali kau, kau pikir kamu itu siapa?”

 

Aku heran . kenapa namja ini marah-marah padaku? Ada apa memangya? Dia itu siapanya Key? Teman? Saudara? Mantan?  Atau mungkin pacar?

 

“Kenapa diam? Pergi sana!! Jangan temui Key lagi!!” serunya. Dahiku mengerut, kurasa dugaanku salah sepertinya dia orang gila yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa.

 

“Ya, jangan seenaknya ya? Aku lebih berhak ada disini. Lagi pula siapa kau? Aku tak peernah melihatmu?” balasku.

 

“Hampir setiap hari aku ada disini tahu!! Makanya buka matamu lebih lebar, sipit!!”

Amarahku mulai memuncak. Seandainya kalau aku tidak ingat kalau ini tempat pengobatan bisa aku tonjok dia “Kau…”

 

Tiba-tiba appa Key datang dari belokan koridor. “Eh…Onew?” katanya sambil tersenyum. Aku dan namja itu menoleh. Appa Key berpaling menatap namja asing di hadapanku, dan perkataan appa Key terputus.

 

“Cih,,,tidak ada yang menyenangkan disini” keluh namja itu lalu pegi begitu saja.

 

Aku menoleh ke arah appa Key. “Ada apa ahjussi?” tanyaku. Dia tersenyum.

 

“Saya berhasil mendapat pekerjaan,,,semoga dengan ini saya bisa membiayai pengobatan Key dengan baik” jelasnya.

 

Aku ikut tersenyum mendengar kabar gembira tersebut.

 

“Wah, chukuhae kalau begitu…saya ikut senang mendengarnya” kataku. Kami sama-sama diam lalu aku mencoba untuk bertanya tentang namja itu.

 

“Ahjussi, boleh aku bertanya?” kataku hati-hati. Appa Key menatapku lalu mengangguk.

 

“Siapa namja tadi?” tanyaku. Beliau terdiam sambil menatap kea rah lain.

 

“Ahjussi? Kenapa diam? Siapa namja asing itu?” ulangku.

 

Blakk…

 

Dokter keluar dari ruangan Key. Dia menatapku dan appa Key dengan miris.

 

“Bagaimana, Dok?” tanyaku.

 

Dokter itu menghela nafas sambil menunduk. Aku jadi semakin takut untuk mendengar kabar yang tidak-tidak tentang kondisi Key. Namun, lama-lama dokter itu tersenyum dan berkata.

 

“Key tidak apa-apa yang ada malah sebuah keajaiban,” appa Key menatap dokter itu.

 

“Keajaiban apa?” tanyanya.

 

“Kondisinya sudah mulai membaik,,, tinggal melatih gerak ototnya saja setelah itu dia boleh ke sekolah, tapi tidak boleh terlalu lelah dulu,,, saya permisi kalau begitu, Annyeong” jelasnya lalu pergi bersama suster di belakangnya.

 

Pandanganku tertuju pada appa Key yang akan masuk ke ruangan Key, tapi segera aku halangi.

 

“Ahjussi, aku mohon beritahu aku siapa namja tampan yang bertemu dengan Key tadi?” pintaku.

 

“Arraseo, dia itu Jonghyun” beritahu Key.

 

“Jonghyun?” ulangku.

 

“Ne, dia adalah namja yang menyukai, aniya, mungkin lebih tepat dikatan kalau dia adalah namja yang menggilai Key sejak lama, tapi Key tidak menyukainya sama sekali,” kilahnya berusaha tenang.

 

“Sampai sekarang mereka tidak ada ikatan di antara mereka. Kami sekeluarga pun tidak begitu menyukainya yang memaksa” lanjutnya.

 

“Kenapa Jonghyun menggilai Key?”

 

“Aku juga kurang mengerti akan hal itu, tapi saat Jonghyun bertemu dengan Key di sekolah dasar sepeertinya ia mulai terpesona akan Key”

 

“Lalu, apa ahjussi setuju Jonghyun mendekati Key?” Ayah Key menggeleng.

 

“Kalau tidak setuju kenapa ahjussi memperbolehkan Jongyun menemui Key?” tanyaku.

 

“Karena Jonghyun yang membiayai perawatan Key” jawab appa Key pasrah. “Biaya disini lumayan mahal. Uang bantuan dari sekolah kalian tidak cukup untuk membayarnya. Tidak ada jalan lain, selain menerima bantuan yang ditawarkan Jonghyun”

 

“Kalau saja, ahjussi beritahu sejak awal aku pasti membantu tanpa syarat apapun” kataku menyesal. Appa Key menghela nafas.

 

“Ne, saya juga menyesal karena itu. Lagi pula tempat ini sudah menagih pembayarannya, mau bagaimana lagi? Jonghyun itu anak dari pengusaha terkenal di Korea”

 

Mataku melebar ketika mendengarnya. Apa yang harus aku lakukan untuk membebaskan Key dari pengaruh Jonghyun? Aku menghela nafas panjang.

 

“Saya tidak akan tinggal diam. Saya akan berusaha untuk membantu…” kataku.

 

“Kasahamnida,,,tolong jaga namja cantikku ya?” ucap appa Key tulus.

 

***

“Ayolah hyung,,, Bantu aku” kataku pada Leeteuk hyung.

 

“Tidak bisa Onew, dongsaengku yang manis,,,, uang itu terlau besar dan pendapatan hyung di butik juga tidak begitu besar, lagipula kerja sama dengan tempat pengobatan itupun terancam gagal” tolak Leeteuk hyung sambil duduk di sofa.

 

“Lalu bagaimana aku bisa membantu keluarga Key?” tanyaku. Leeteuk hyung menghela nafas.

 

“Hah, Entahlah aku juga tidak tahu,,, aku sudah pusing dengan butikku, jangan menambahnya lagi Onew.”

 

“Kalau begitu aku akan kerja saja,” kataku. Dan membuat Leeteuk hyung kaget.

 

“Mwo? kau mau bekerja? Kau masih sekolah, pikirkan baik-baik,” protes Leeteuk hyung.

 

“Tak ada jalan lain hyung?” sahutku pasrah.

 

“Terserah, kau memang keras kepala seperti appa,” ucap Leeteuk hyung sambil mengambil majalh dan membacanya.

 

Aku kesal sekali. Selama ini hyung tak pernah secuek ini padaku, tapi sekarang berbeda ya? Ya sudahlah, aku harus mandiri dan bisa mengerjakan semua sendiri tak ada cara lain. Eits, tunggu kerja? Tapi kerja apa? Aigoo,,, ternyata pusing juga memikirkan ini. Kalau aku menyerah aku tidak akan bisa melepaskan Key dari Jonghyun? AAAARGH, sangat memusingkan. Fifhting Onew.

 

***

Hari ini aku mau menjenguk Key di rumah pengobatan Chungdam. Hatiku sedang senang apalagi setelah mendengar perkataan dokter kemarin yang mengatakan Key baik-baik saja. Namun, langkahku terhenti di depan ruangan Key dan melihatnya berbaring tak sadarkan diri di atas kasur dengan Infus yang terpasang di tangannya. Apa perkataan dokter itu salah?

 

“Annyeong,” sapaku. Umma dan appa Key tersenyum padaku.

 

“Ayo masuklah Onew, mungkin setelah mendengar suaramu Key akan sadar” kata appa Key sambil menepuk bahuku.

 

Aku melangkah ke samping Key. Ku pandangi wajahnya yang yeppo. Wajah yang selalu menghiasi hari-hariku, tapi kini kenapa wajah itu tak bergerak. Kenapa tak ada senyum disana?

 

“Key, ayo bangun…aku disini” bisikku sambil menahan gejolak di dalam hatiku. Jujur saja aku tek kuat melihat keadaan Key seperti ini.

 

“Buka matamu…dan lihatlah aku disini” lanjutku. Kulihat tangan Key bergerak. Umma dan appa Key berdiri di sisi lain kasur Key. Namun, tangan Key menutupi wajahnya. Dia gelisah sepertinya ia mimpi buruk.

 

“Andwae!! Pergi!! Onew…Onew… tolong aku!!” teriak Key. Ku genggam tangannya berusaha meyakinkan kalau aku ada di sampingnya dan tak lama kemudian Key membuka mata. Lalu dia memandangku sebentar kemudian memelukku.

 

“Key?” tanyaku bingung.

 

“Aku nggak mau ketemu Jonghyun!!” pelukannya sangat erat. Membuatku kehilangan kata-kata. “Aku mau dia pergi…”

Kini aku merasakan aura aneh padaku. Senang, kaget, cemas bercampur jadi satu dan kini merasa sangat getir. Membuat jantungku berdetak kencang. Key memelukku dengan erat.

 

“Aku tidak mau bertemu dengan Jonghyun lagi, Onew” katanya.

Kubelai rambutnya agar dia tenang “Tenang, Key. Jonghyun tidak akan datang lagi” uajarku gugup. Key melepas pelukannya dan menatapku.

 

“Percayalah padaku” kataku sambil tersenyum. Rasanya aku ingin berteriak girang melihat senyum Key yang mengembang. Senyumannya menambah kecantikannya. Neomu yeppo.

 

Sejak kejadian itu hubungan kami semakin dekat. Aku dan Key selalu bersama di tempat pengobatan itu. Aku selalu memberinya semangat agar ia sembuh dan menghiburnya supaya dia tidak terlalu sedih.

 

Namun tidak untuk hari ini. Karena kami bertemu Jonghyun di koridor di samping taman tempat pengobatan itu. Sontak Key langsung bersembunyi di belakangku.

 

“Mengapa kau kesini? Pergi!!” reaksi Key. Aku menatap Jonghyun.

 

“Kau dengar? Key menyuruhmu pergi.”

 

“Aniya!! Aku nggak akn nyerah. Memang kau siapa? Sok jagoan disini? Key itu milikku” bentak Jonghyun.

 

Spontan darahku langsung naik. Siapa yang tidak marah kalau Jonghyun mengatakan kalau Key adalah miliknya? Padahal jelas-jelas siapa yang cintanya di tolak mentah-mantah oleh Key.

 

“Pergi dari sini!!tinggalkan aku!” seru Key ketakutan.

 

“Key…” Jonghyun mencoba mendekati Key. Namun segera ku halangi. “Minggir!!”

 

“Sirheo!! Selama aku ada. Kau tidak akan bisa menyentuh Key seujung jaripun!!” jelasku.

 

“Kurang ajar!” balas Jonhyun tak terima. Ada seorang perawat lewat.

 

“Ada apa inii?” tanyanya.

 

“Ini, Sus, Orang ini telah membuat pasien iini ketakutan” ceritaku sambil menggandeng Key.

 

“Bohong! Saya hanya ingin menjeng…” sergah Jonghyun.

 

“Pergi!! Jangan pernah kembali lagi!” teriak Key sambil mengeratkan genggamannya padaku.

 

“Lihat Sus. Orang ini membuat pasien takut”

 

“Sebaiknya anda pergi tuan, anda telah mengganggu kenyamanan pasien” kata perawat itu sambil mengusir Jonghyun. dengan kesal ia pergi dari situ.

 

“Kamsahmnida, Suster” ucapku. Perawat itu tersenyum lalu pergi. Aku beralih kepada Key.

 

“Jonghyun sudah pergi, Key..” ucapku sambil mengangkat dagu Key. Dia menatapku berbinar. Berangsur-angsur ia menunjukkan senyum tipis. Aku merasa kelembutan Key yang menghilang pun kembali. Ku tatap matanya lalu kumajukan sedikit wajahku. Ku lihat Key memejamkan mata, aku tersenyum melihatnya seperti itu. Kemudian ku cium pipi tirusnya.

 

“Kenapa matamu tertutup? Berharap lebih, eoh?” ejekku lalu mendapat jitakan dari Key.

 

***

Esoknya waktu istirahat. Aku menghabiskan waktu dengan mondar-mandir di  perpustakaan. Aku memikirkan tentang pekerjaan apa yang akan ku ambil nantinya. Di depan rak ada seseorang yang dulu ku sukai yaitu Taemin. Dia membaca buku tebal disana.

 

“Kenapa hyung mondar-mandir seperti itu? Apa yang hyung cari?” tanya Taemin yang mulai terusik karena aku terus mondar-mandir tak jelas.

 

“Anu…emm…Taemin…aku..se..sedang mencari lo…lowongan kerja” jawabku tergagap.

 

“Kalau mau mencari tahu lowongan pekerjaan ya jangan kesini,,, tuh, di depan ada Koran…kenapa hyung tidak membaca Koran disana saja?” sahut Taemin. Oh iya ya? Kenapa tidak mencari lowongan pekerjaan di Koran saja ya? Ah,,, Lee Jinki pabo.

 

“Gomapta, Taemin” kataku sambil berlari menuju Koran yang terpampang di depan perpustakaan.

 

Aku langsung membaca dengan seksama di bagian lowongan kerja. ‘Di butuhkan ahli marketing di perusahaan xxx, pekerja minimal lulus S1’. S1? Lulus SMA saja belum apalagi S1? ‘Di butuhkan pelayan di restaurant Jepang, syarat minimal pelajar lulus SMA’. ‘Dibutuhkan karyawan. Syrt. Min. lulus SMA’. Aku mengacak rambutku. Mengapa semuanya minimal harus minimal lulus SMA sih?

 

Tiba-tiba tuyul muncul dan mengagetkanku “Hwa, sedang apa?”

 

“Omo, ya ampun. Jaejoong kau mengagetkanku saja…untung jantung ini tidak copot” kagetku karena dikageti oleh si tuyul, Jaejoong.

 

“Tumben baca Koran…ada angin apa nih seorang Onew membaca Koran?” sinsirnya.

 

“Oh, aku sedang mencari pekerjaan,” jaejoong tertawa.

 

“Hoy, ibu-ibu bapak-bapak,,, lihatlah,,,seorang Lee Jinki mencari pekerjaan,” aku menyengir kesal.

 

“Ne-ne, bapak-bapak ibu-ibu adakah yang berminat untuk memberi saya pekerjaan? Saya butuh uang..” Jaejoong menatapku heran.

 

“Kau serius sedang cari kerja?” aku menatapnya sinis.

 

“Menurutmu? Kau bisa Bantu tidak?” Jaejoong berpikir.

 

“Memang pekerjaan seperti apa?”

 

“Pekerjaan yang gajinya menjanjikan”

 

“Oh ne, ada-ada!”

 

“Kau tidak bercandakan?”

 

“Aniya, aku tidak bercanda. Kakak sepupuku bekerja di majalah dan disana sedang di butuhkan seorang penulis untuk halaman tambahan. Sepertinya kau cocok bekerja disana,” jelasnya

 

“Jjinja?” Jaejoong mengangguk. “Gomawo,,,jeongmal gomawo…kadang-kadang kau bisa jadi malaikat,” kataku kegirangan sambil memeluk Jaejoong.

 

“Kau ini apa-apaan? Nanti kalau Yunho tahu kau bisa dicincang lho,” kata Jaejoong mendorongku.

 

“Janji ya? Nanti kau antar aku kesana?” ujarku.

 

“Gak janji.”

 

“Harus!”

 

“Maksa banget lho…”

 

“Biarin”

 

***

 

“Jadi, kau bersikeras menemuiku?” tanya pria paruuh baya yang ada di kursi kerjanya. Aku mengangguk.

 

“Ne, saya mau melamar kerja disini”

 

“Melamar kerja? Kau masih SMA” katanya meremehkanku.

 

“Katanya, ada lowongan pekerjaan di kantor ini…di bagian penulis”

 

“Oh, ne-ne-ne, memang kau bisa?” responnya. Sebelum aku bekata sudah di dahului oleh Jaejoong.

 

“Benar pak, teman saya ini namanya Onew,,, dia sangat pintar menulis di sekolah, walaupun tulisannya aneh” cerocos

Jaejoong. Pabo, kenapa mengatakan kelemahanku?

 

“Aneh?”

 

“Ne, aneh, justru karena aneh itulah yang membuat tuliannya bagus dan membuat orang-orang penasaran,” lanjut Jaejoong, membuatku kaget.

 

“Tidak usah meragukan kemampuannya pak…walau masih SMA, tapi dia sangat berbakat”

 

“Kemampuan tinggi? Kau yakin?”

 

“95 % yakin pak”

 

Bapak itu menghela nafas. “Kantor saya memang membutuhkan penulis handal, tapi kami tidak mempekerjakan murid SMA”

 

“Saya mohon pak, saya sangat membutuhkan uang,,,, dan hanya pekerjaan inilah yang saya mampu, jebal”

 

“Tapi…”

 

“Saya janji pak, jika saya sampai gagal silahkan berhentikan saya tanpa gaji sedikitpun, untuk sekarang tolong beri saya kesempatan” pintaku. Jaejoong mengangguk.

 

“Ne, Bantu teman saya yang kesusahan ini pak”

 

Bapak itu melepas kacamatanya dan menaruhnya di atas meja. Lalu dia menjelaskan kalau bekerja di majalah sangat beresiko, sedikit membuat kesalahan maka akan habis semua. Aku mengangguk paham. Tiba-tiba Jaejoong berkata.

 

“Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?”

 

“Kesepakatan?”

 

“Ne, kesepakatan. Izinkan Onew membuat sebuah karangan…”

 

“Hmm,,, boleh juga, bagaimana kalau temanya cinta? Kau setujukan? Onew-ssi?”

 

“Saya akan berusaha semaksimal mungkin” kataku dengan semangat. Ini demi Key, aku akan berusaha. Bapak itu mengangguk setuju.

 

“Arraseo, saya akan menunggu karyamu 2 hari lagi. Kau bisa kan?” aku mengangguk pasti.

 

“Ne, saya akan kembali 2 hari lagi”

 

“Kalau boleh tahu, siapa namamu?”

 

“Nama asliku Lee Jinki, tuan”

 

“Lee Jinki?” ulangnya sambil mengamatiku seraya tersenyum lebih ramah. Entah dia sedang berpikir tentang apa…

 

“Permisi” pamitku. Jaejoong mengangguk lalu kami keluar.

 

Aku langsung melompat di luar. “Yes!!” aku berlari menuju lift dengan melompat-lompat riang. Sedangkan Jaejoong hanya geleng kepala melihat tingkahku. Dalam lift Senyumanku masih terukir.

 

“Optimis, aku pasti diterima” ucapku.

 

“Sok tahu”

 

“Kita harus optimis, ini demi cinta…” kataku. Lalu pintu lift terbuka. Kami langsung berjalan keluar dari kantor majalah SM Town.

 

“Cinta? Oh,,,ternyata Onew tahu cinta juga”

 

“Memangnya kau pikir aku tidak tahu? I know it”

 

“Arraseo, kalau begitu aku duluan ya?” pamit Jaejoong lalu melangkah menjauh.

 

Aku tersenyum melihat kepergian Jaejoong, kau beruntung Key, punya teman sebaik dan seasyik Jaejoong. Tak heran kalau Yunho sangat mencintainya. Tiba-tiba taksi melintas tak jauh dariku. Aku menyetopnya dan naik taksi tersebut menuju tempat pengobatan Chungdam.

 

***

Saat sampai disana aku berjalan menuju tempat dimana Key sedang melatih gerakkannya. Sambil menunggu ku keluarkan alat tulisku. Aku terus menulis sambil melihat ke arah Key yang sedang berlatih untuk kembali berjalan.

 

“Aigoo…” pekik Key saat dia terjatuh. Aku bangkit dan hendak menolongnya, tapi ada dua orang suster yang sudah menolong Key. Aku duduk kembali sambil melanjutkan tulisanku.

 

Cinta. Sebuah kata yang biasa kita dengar, kit abaca, kita rasakan, tapi apa kau tahu maknanya?

 

Cinta adalah kesenangan saat bersama dan kesedihan saat berpisah.

Cinta bisa nembuat kita tersenyum sepanjang hari.

Namun, juga bisa membuat kita menangis sepanjang waktu.

 

Cinta memberikan kita kesejukandan memberikan kita penderitaan.

Cinta itu mengerti apa yang tidak dikatakan dan cinta mengarti apa yang tidak diucapkan.

Cinta itu indah, tapi yang indah belum tentu cinta.

 

Cinta tetaplah cinta

Dimanapun, kapanpun, bagaimanapun kita tetap buttuh cinta. Jadi tutup mata hatimu dari kebencian cinta dan sambutlah kebahagiaan cinta.

 

Karena…

 

“Aku butuh kau karena aku cinta kamu”

Aniya…”Aku cinta kamu karena aku membutuhkanmu.”

 

aku menghela nafas sambil mengibaskan tanganku mengurangi rasa capek yang ada di tangan akibat menulis tadi. Kemudian ku lanjutkan tulisanku…

aku datang untukmu

aku hidup karenamu

aku pergi demi kebahagianmu

dan aku mati dengan cintamu

 

cinta adalah rasa di hati

rindu adalah cerminan hati

aku adalah pria sejati

dan engkaulah pujaan hatiku

 

aku mencintaimu

walaupun kau membenciku

aku menyayangimu

meskipun kau melupakanku

 

aku adalah cahayamu

kau adalah terangku

aku adalah cintamu

dan…kau adalah hatiku

 

jadilah pecinta

“Hiduplah untuk cinta…”

Jadilah ksatria

“Matilah demi dia…”

 

Aku memandang Key yang juga memandangku. Aku meletakkan alat tulisku di sebelah lalu berjalan mendekatinya,

 

“Key..”

 

Key menoleh, lalu tersenyum nakal. “DOR,,, Ayo kejar aku Onew” katanya sambil berlari

 

“Key, nanti kau jatuh”

 

“Tidak akan,,, aku hanya lari kok. Lagipula ini cocok untuk melatih gerakanku dan tidak lelah. Kkaja Onew kejar aku” Aku tersenyum.

 

“Arraseo” kataku sambil mengejar Key yang mulai berlari jauh. Tiba-tiba

 

Bruukk.

 

Aku berhenti. Ku dapati Key terduduk di lantai koridor. Aku menghamirinya. Key menatapku lalu tersenyum.

 

“Gwenchana! Aku kurang hati-hati” ujar Key.

 

Aku membelai rambut Key, “Kau yakin? Tidak ada yang sakit? Kamu capek kan?” tanyaku bertubi-tubi. Key bangkit.

 

“Gwenchana! Trust me. I am fine… Onew” aku ikut bangkit.

 

“Tap…” Key memutus ucapanku dengan meletakkan jarinya di depan mulutku.

 

“Bagaimana kalau kita mengobrol?” Aku menatapnya heran.

 

“Mengobrol?” Key mengangguk.

 

“Berbicara sesuatu!” Ia melirik bangku yang ku duduki tadi.

 

“Kulihat kau sedang menulis sesuatu tadi. Aku mau melihatnya.”

 

Kelopak mataku naik. “Mwo?”

 

Key tersenyum nakal “Kamu nulis apa sih?” katanya sambil berlari menuju bangkuku tadi.

 

“Andwe!!” kataku membututinya.

 

“Wae?” tanyanya bingung ketika ku rebut buku yang aku tulis tadi.

 

“Ini rahasia sayang,” kataku mencubit hidungnya.

 

“Pelit!” ucapnya memukul lenganku.

 

“Biarin week :p” kataku sambil memasukkan buku itu ke dalam tas. Aku tertawa saat melihat wajah Key yang cemberut.

 

Sepertinya Nae Key sudah mulai kembali seperti dulu.

 

***

“Mwo? kau melamar pekerjaan di majalah? Astaga Tuhan!!! Anak ini sungguh sudah siap untuk mati” kata Leeteuk hyung saat kuceritakan kejadian tadi.

 

“Eh! Aku tak akan mati ya?” protesku sambil bersandar di kursi yang ada di balik meja kerja Leeteuk hyung di butik.

 

“Kau baru berumur 16 tahun Onewku sayang…”

 

“Wae? Itu bukan hal yang sulit kan?” aku bangkit dan bergerak menuju jendela kaca ruang kerja Leeteuk hyung. Di luar sedang turun hujan. Kaca-kaca jendela mulai dibasahi ritikan air itu. Aura dingin juga mulai menyelimuti ruangan besar itu.

 

“Tidakkah hyung tahu rasanya jatuh cinta?”

 

“Ini bukan cinta, Onew. Tapi ini ambisi”

 

“Ini bukan ambisi hyung. Aku yakin ini cinta… aku baru pertama kali merasakan hal seperti ini” kataku sambil menempakan tanganku di kaca yang dingin.

 

“Terserah kau saja…” kata Leeteuk hyung pasrah.

 

Aku tersenyum melihatnya seperti itu. Tunggulah Key. Aku akan membebaskanmu dari Jonghyun.

 

TBC

14 thoughts on “(Onkey) Love Song – Part 5 of ?

  1. karanganny so sweet bgt… jd hub key ma onew pa? dah jadian?? knp key takut ma jonghyun? pa gara2 jjong pemaksa?? ditunggu kelanjutanny author.. ayo onew semangat…

  2. ouw……..onew daebak,dmi key dy brjuang….moga akhrx happy end ya author……😄

  3. Kayak nya ini part yg sebelum nya ya yg d publish ?
    Ini kan uda d publish !
    Lagian kan onew uda dpt kerjaan , ni ko masi nyari kerja ?
    Pusing de pala gua ==”

  4. Semangat Onew Oppa……..Fighting!!!!!……………

    namun, sepertinya hub. onkey harus di perjelas dech, coz waktu cahaya muncul di antara awan mendungkan key tiba2 pingsan…..

    di tunggu dengan segera next part na ya

    ~ Gomawo Chingu ~

  5. Onew FIGHTING…..
    A-yo,,km pasti bisa bantu key lepas dr jjong…
    huft,,jjong knapa gk pernah bhenti ganggu hub onkey c??
    dy kan udah ad jino jdi biarkan onkey seperti biasa…
    *JKS mianhe*

  6. apakah key akan sembuh????%
    hal yg penuh dgn misteri sampai part 5 jg blm tau key sakit apa….
    Hebatttttttttttt

  7. Yaahh.. Sttus onew ama kibum belum diresmikan
    #kecewa#

    Koq tiba” ad jjong??
    Hwaaa..
    Pliss jjong, relakan key buat onew,,
    Penasaran kelanjutan’a..

    Ditunggu chapt 6’a
    Author Hwaitting!
    ^^

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s