[2min/One Shoot/Transgender/Angst] Because of You…


nb : ini sebelumnya pernah di pots sama vienna unn tp ditarik lgy karna ada yang maw kuedit, miaaaaan

Foreword :

Haaaahhh, balik lagi sama genre angst….

Ini bukan cerita nya aku, tapi ide nya murni dari dongsaeng ku tersayang (ce’ileeehhh) sekaligus author kita yang lagi hiatus tapi ga balik-balik itu, si cita-cita ku ingin jadi presiden (Sita a.k.a.Rinhyon). Entah dia kesambet apa tiba-tiba sms gue minta bikinin ff ini. Comeback lagi deh gue ke jalur angst! Selama ini bikinnya smuut gaje gitu, jadi yaa maaf kalo kehilangan feel angst nya!! Ide dia sih TOTALLY ANGST, tapi ga tau di  tangan gue ini hasilnya cerita kaya apa!! Jadi, kalo ga kuat (?), ga usah baca yaa. Efek samping tidak ditanggung penulis. Minta tanggung jawab noh sama nama yang tertulis di atas. Ahahaa.

MAKANYA JANGAN KEBANYAKAN DENGERIN LAGU MEMORIES NYA SUPER JUNIOR!! DENGERIN LAGU YANG SIMPEL-SIMPEL AJA DOOONG!! (padahal sendirinya gue dengerin tiap hari. Tapi gue lebih suka SuperMan siiihh. THE LAST MAN STANDING…. Kya kya kyaaa)

Sitaaa, yap, ini request kamu say. Maaf yaa kalo jelek. Kalo emang ga suka, ga usah dibaca deh, daripada protes!!! *canda*. Dan maaf juga kalo ternyata beda sama apa yang kamu minta. Gue nulis ga pernah pake preparation!! Sumpeee. Makanya ini ending nya gimana atau jalan ceritanya kaya apa gue juga ga tau. Suka-suka jari aja mau ngetik apaan.

Don’t like, don’t read, don’t bash me, okey?

Hope you likey…

Cue…

By : TaeminhoShouldBeReal

Taemin Side…

Nama ku Lee Taemin, seorang yeoja berumur 22 tahun. Well, sebetulnya nama itu yang kupakai sejak kecil sampai setahun yang lalu.Yap, margaku berubah sejak satu tahun yang lalu menjadi Choi. Jadi sekarang, namaku Choi Taemin. Seorang fresh graduate dariKonkukUniversity. Sebetulnya, aku lulus sejak setahun yang lalu, tapi tak apakankalau aku masih menganggap diriku fresh graduate? J

Pekerjaan ku saat ini sebagai seorang wartawan dari sebuah tayangan acara berita terkenal di salah satu stasiun televisi terbesar diSeoul. Yah, kalian mungkin heran dengan statusku yang fresh graduate, tapi aku sudah mendapatkan pekerjaan yang amat lumayan menurut banyak orang.

Hmmm. aku termasuk mahasiswi berprestasi semenjak tahun pertama di kampus. Aku menyelesaikan kuliah dengan beasiswa, dan sungguh aku merasa sangat beruntung akan hal itu. Kedua orang tua ku telah bahagia di sisi Tuhan sekarang, dan aku lakukan semua ini demi mereka, agar mereka tersenyum di atassanakarena bangga kepadaku. Aku percaya mereka masih mengawasiku hingga kini, iyakan?

Karena prestasi itu lah, pekerjaan ini telah kudapat bahkan sebelum aku lulus. Menjadi wartawan adalah mimpiku! Aneh? Mungkin iya. Jarang ada perempuan yang mau menjadi wartawan berita sepertiku. Jam kerja yang tidak teratur, terlalu banyak bekerja lapangan membuat kulit tak lagi cerah, terlalu lelah dan butuh banyak tenaga, dan berbagai alasan lain yang sering kudengar. Kalau pun mereka ingin bekerja di dunia jurnalistik, mereka lebih memilih pekerjaan di balik meja seperti mengetik naskah atau mengedit gambar dan menyajikannya sampai tayang ke hadapan wargaSeoul. Belum lagi, dengan background pendidikan ku yang kuliah di jurusan International Relation atau Hubungan Internasional, disaat semua teman-teman sekelas ku memilih menjadi duta besar, pekerjaan mudah, bergengsi dengan gaji sangat besar, tapi entah kenapa aku sama sekali tidak tertarik dengan itu. Kuliah formal ku memang itu, tetapi di luar itu, aku banyak mengikuti kegiatan-kegiatan yang terkait dengan jurnalistik, dan aku mendapatkan pekerjaan ini pun atas tawaran dari berbagai kegiatan dan pelatihan dari kampus yang aku ikuti. Mereka bilang aku punya bakat. Entahlah! Aku hanya mengerjakan semuanya dengan hati, karena aku suka. Titik. Ya.. aku berbeda…

Flashback…

“JINJJA TAEMIN??”, seru seorang yeoja cantik di sampingku saat ini. Dia Kim Kibum yang akrab kupanggil Key. Teman sekelas sekaligus sahabat terbaik ku. Bahkan banyak yang bilang wajah kami mirip. Hahaha, aku hanya tertawa kalau ada yang mengatakan begitu. Mungkin dari wajah, yaaa bisa dibilang kami mirip. Wajah cantik, putih mulus, dan berbentuk oval, walau pipi Key agak tirus dan aku sedikit chubby. Ah, dan mata. Dia punya mata kucing yang indah, sedangkan mataku bulat oval. Tapi overall, wajah kami memang mirip. Tapi dari segi kelakuan, urgh, sama sekali tidak! Seperti sekarang! Dia orang yang sangat ekspresif, dan juga kreatif! Karena itu lah, dia memilih menjadi designer pakaian. Ya, kami dua mahasiswi yang bisa dibilang ‘berkhianat’ dengan jurusan kami sendiri. Key punya bakat yang luar biasa. Hanya tinggal tunggu waktu sampai sahabat ku ini mendapatkan cap designer muda paling berbakat diSeoul.

“sstt. Kau ini…”, aku memelototinya marah. Kami saat ini ada di perpustakaan, tempat favorit ku di kampus. Aku sangat suka membaca. Dengan buku, aku seperti melewati sebuah petualangan imajinasi yang tidak ada habis nya. Aku seolah terbawa ke berbagai tempat di dunia, bertemu dengan orang-orang hebat yang bahkan aku tidak kenal. Ya, jatuh cinta dengan buku yang mengawali ku jatuh cinta dengan dunia jurnalis. Pekerjaan sebagai wartawan dapat membuat orang datang ke tempat-tempat yang tidak pernah di kunjungi, bertemu dengan banyak orang-orang hebat. Seperti bukukan? Key selalu menganggap alasan ku bodoh dan tidak masuk akal. Aku yakin ia juga berpikiran aku orang yang membosankan. Key tidak pernah suka perpustakaan. Kalau detik ini ia ada disini, itu berarti ada hal penting yang ia ingin bicarakan langsung dengan ku. Ia lebih suka berada di Club atau tempat-tempat yang membuat wajah cantik nya di puja banyak orang. Ia suka keramaian dan pujian!! Sangat jauh berbeda dengan ku yang lebih menyukai ketenangan.

“kau serius mendapatkan pekerjaan diUSAtapi lebih memilih pekerjaan wartawan itu?”, Key merendahkan suaranya.

Aku menoleh ke samping, melihat mata kucing it membulat tidak percaya.

“memangnya kenapa?”, tanya ku malas sambil terus melanjutkan menulis summary dari buku yang kubaca.

“kau ini…..bodoh atau….aneh?”

Aku menutup buku yang kubaca dan membereskan notes yang sejak tadi kutulis.

“kau yang aneh. Majalah yang kau baca itu terbalik”, ujar ku santai sambil mengembalikan buku dan keluar.

“TAEMIN, TUNGGU…”

“sssstttttttt”, ia mendapat pandangan tajam dari seluruh penghuni perpustakaan.

“maaf”, ia tersenyum sekedarnya, menaruh asal majalah yang tidak ia baca dan menyusulku keluar.

“Tae, jujur pada ku. Kau melepas pekerjaan itu karena kesukaanmu yang tidak masuk akal dengan dunia jurnalistik itu atau…..”, ia menggantungkan ucapannya.

Aku melirik nya.

“karenaMinho?”, ia melanjutkan ucapannya sambil menatapku lekat.

Hhhhh, aku menghela nafas panjang, selalu begini.

“keduanya”, aku berjalan semakin cepat meninggalkannya.

Ya, jurnalis adalah matahari ku, danMinhoadalah bintang ku…

Manusia tak bisa hidup tanpa siang atau malamkan? Jadi, bagaimana mungkin aku melepas salah satu nya?

End Flashback…

Minho… Choi Minho, orang yang menjadi suami ku kini. Seorang namja luar biasa tampan yang berani melamar ku selulus kuliah. Umur kami terpaut 5 tahun. Pekerjaan kami pun sangat berbeda. Ia seorang enterpreneur. Semenjak lulus kuliah, ia dan tiga orang temannya membuka sebuah Cafe dengan konsep yang sangat hommy dan cocok untuk tempat anak mudaSeoulmenghabiskan hari selepas kuliah atau kerja. Tidak heran, usaha nya cukup sukses dan ia menjadi enterpreneur muda sehingga berani melamar ku.

Kami memang sudah menjalin hubungan sejak 3 tahun yang lalu. Seperti biasa, Key yang mengajakku ke ‘dunia nya’ dan disitulah aku mengenalMinho.

Flashback…

“Taeeee, ayo temani aku kesana”, Key terus menarik tangan ku untuk masuk

“apa sih Key? Aku banyak tugas”

“kerjakan malam harikanbisa. Kau ini jadi mahasiswi tidak usah terlalu rajin, kenapa sih? Nikmati hidup sebentar. Itu restoran yang terkenal enak dan cozy tempatnya. Yang punya kakak kelas kita. And the most important thing is….he still available”, Key merendahkan ucapannya untuk tiga kata terakhir.

Aku hanya memutar bola mata. Peduli apa aku?

“ayolaaahh, aku yang traktir!! Oke?”

Aku masih tidak bergeming…

“disana ada hotspot dan tempat baca”

“oke”, aku segera masuk ke mobil nya.

“ish. Dasar kutu buku”

Sesampainya disana..

“Taeee, aku serius. Choi Minho oh-damn-so-hot melihatmu terus”, Key memajukan badannya dan berbisik pada ku.

Aku hanya meliriknya. Tampan!! Tapi buku jauh terlihat lebih menarik di mata ku.

“demi Tuhan Lee Taemin, dia mendekat. Ottohkeee?”, ia heboh sendiri.

Aku masih tidak bergeming…

“selamat siang, nona-nona”, ia menyapa ramah.

Aku merasa tidak perlu repot-repot membalas sapaannya atau mengajak bicara, karena teman cantik ku satu ini sudah seperti petasan banting begituMinhomendekat dan mengajak bicara.

Aku masih bertahan membaca buku.

“nona, boleh ku tau nama mu siapa?”

Hening…

Key menyikut ku…

“apa sih? Sakit, Key”

“dia berbicara dengan mu Lee Taemin”, ia berbisik sambil terus tersenyum pada namja tampan di depan kami.

Aku mendongak, menatap nya.

“Taemin”

“Minho”, ia mengulurkan tangan.

Aneh, padahal aku tidak mengulurkan tangan. Tapi untuk etos kesopanan, aku sambut tangannya. Besar, hangat!!

End Flashback…

 

Hanya sebuah perkenalan ringan seperti itu, hubungan kami berlanjut. Tanpa ku tau, ia meminta nomor hp ku pada Key dan ia pun dengan senang hati memberikannya. Ternyata sejak awal memang ada niat tersembunyi dari Key untuk menjodohkan ku dengan selain buku. Bicara tentang Key, dalam waktu hanya seminggu sejak kedatangan kami ke Cafe itu, ia sudah mendapatkan pacar baru. Tidak heran sih mengingat ia yang memang selalu tampil ‘gorgeous’ kemanapun. Belum lagi sifatnya yang supel dan wajah cantik nya membuatnya tidak sulit untuk dekat dengan siapapun. Ia Lee Jinki, atau biasa dipanggil Onew oleh teman-temannya. Ia salah satu pemilik Cafe itu selainMinho. Cafe itu merupakan project bersama dari 4 pendiri (Godric Gryffindor, Helga Hufflepuf, Rowena Ravenclaw, Salazar Slytherin, LOL). Mereka satu angkatan lulusan Faculty of Economic Konkuk University, tiga namja yaitu Choi Minho, Kim Jonghyun, Lee Jinki, dan satu yeoja bernama Cho Jino.

Seminggu Key sudah mendapatkan pacar, sementara aku? Dalam waktu seminggu,Minhobaru memberanikan diri untuk mengirim sms, ‘selamat pagi, Taemin’ = =a

Progress hubungan kami memang tidak secepat Key, namun kenyataannya kini, aku justru sudah menikah denganMinhosementara Key masih meneruskan untuk berpacaran dengan Onew. Entah lah, mereka masih belum berani untuk mengikat hubungan itu ke arah yang lebih serius. Padahal keduanya cocok menurutku. Mereka saling melengkapi, dan yaaahh, keduanya sempurna. Tidak seperti hubungan ku denganMinho. Kami…. tidak sempurna.

Flashback…

Saat ini aku sedang duduk di sebuah ayunan di taman dekat Café Minho. Pikiran ku campur aduk mendengar kenyataan yang baru sajaMinhosampaikan pada ku.

“kau menyesal mengetahui semua ini?”, ia berkata pelan dengan suara bass yang khas. Suara yang mengisi hari-hari ku selama hampir 2 tahun ini.

Aku masih tidak bergeming. Menyesal? Entahlah, tapi perasaan di dalam sini sepertinya bukan perasaan penyesalan. Hanya…..mungkin rasa sakit karena telah dibohongi. Mungkin bukan dibohongi juga.Minhohanya mencari waktu yang tepat untuk memberitahu aku tentang dirinya secara lebih jauh. Aku cukup mengerti. Ya, hidup ku selama ini memang MENGHARUSKAN aku untuk mengerti setiap takdir yang menyapa. Tuhan sudah melatih ku sifat pengertian dengan cara Nya sendiri sedari dulu.

“Taemiin”, suara nya melembut.

Ia berlutut di hadapan ku sambil menangkupkan kedua tangannya yang hangat di wajah mungil ku, memaksaku untuk menatapnya, mencari sebuah ekspresi yang bahkan aku tidak tau apa namanya.

“katakan apa yang kau pikirkan?”

Kami berdua memang sama-sama tidak pernah banyak bicara. Bahkan orang-orang pun bingung hubungan yang dijalani oleh dua orang yang sama-sama dingin dan pendiam seperti kami bisa tahan sampai sejauh ini. Hubungan kami hanya diisi dengan jalan berdua, mengunjungi tempat-tempat ramai dan baru bagi kami, saling menggenggam, kadang ia mencium kening ku tapi tidak pernah lebih.Minhoorang yang sangat menghargai perempuan. Wajahnya terlihat dingin, namun sebetulnya ia sangat baik dan pintar. Ia selalu mendukung ku dalam menjalani kuliah dan hobby ku di bidang jurnalis. Aku selalu mendapatkan perasaan nyaman dan merasa dilindungi jika disampingnya. Ia tidak pernah berbuat tidak sopan, kata-katanya selalu halus dan tidak pernah marah. Kami saling mengenal dengan cara kami sendiri, melalui perilaku. Yah, bisa dibilang kami seorang observer!!Minhotau segala hal dari ku dengan cara mengamati apa yang kulakukan, begitupun cara aku mengenal nya. Memang sedari awal hubungan ini aneh, tapi justru keanehan itu lah mungkin yang menjadi tonggak penyangga terkuat dalam hubungan kami. Saling jujur, saling mendukung, menerima apa ada nya, dan mengerti sifat masing-masing, karena tanpa disadari, sifat kami sebetulnya sama. Pendiam, dingin, introvert, namun sebetulnya saling peduli.

“aku hanya berpikir, kenapa oppa baru memberitahukan hal ini setelah hampir 2 tahun?”

Hei, bahkan itu termasuk kalimat panjang yang pernah ku ucapkan padanya. Dan mengenai hal yangMinhoberitahukan padaku, kau mau tau apa itu? Ia baru saja jujur, bahwa ia adalah seorang penderita rabun senja.

“aku yakin kau mengerti alasannya Taemin”

Hhh, aku menarik nafas panjang. Kelihatan sangat sepele, aku pernah beberapa kali membaca artikel mengenai penyakit ini, and you know what? Sampai sekarang belum ada cara agar si penderita sembuh. Hanya ada cara untuk memperlambat penyakit semakin parah.

“apa penyebab nya?”

“keturunan. Keluarga kakek ku menderita penyakit yang sama, namun ternyata appa ku tidak. Jadi semua orang berfikir, lingkaran penyakit ini sudah terputus, tapi mereka salah”

Aku yakin jika ini bukan hal yang mau tidak mau harus di jelaskan,Minhotidak akan berkata sepanjang tadi.

“jadi setelah tau kenyataannya, kau akan meninggalkan ku?”

“jadi selama ini oppa menganggap ku orang yang seperti itu?”

Minhotersenyum. Ya, percakapan kami memang selalu seperti ini. Dingin, pendek, bahkan terkesan menggantung dan tidak ada suatu kepastian. Tapi menurut kami, jawaban tidak harus diungkapkan lewat ucapankan? Inti dari komunikasi adalah kedua pihak mengerti dan pesan nya tersampaikan dengan baik dan benar. Lalu jika menurut kami, pesan itu sudah tersampaikan dengan tanpa ucapan, lalu kenapa harus terucap?

Hubungan ini berlanjut. Ya, dengan segala kekurangan yang ada pada diri kami. Hei, aku pun bukan orang yang sempurna! Memang tidak ada penyakit aneh, tapi ketidak sempurnaan bukan hadir hanya dalam bentuk penyakitkan? Aku sendirian, tidak punya orang tua, belum lagi sifat ku yang seperti ini, itu juga sebuah kekurangankan? Jika aku saja punya banyak kekurangan, pantas kah aku untuk meminta pada Tuhan seseorang yang sempurna? Aku yakin, aku sanggup untuk menghadapi nya.

Hingga akhirnya…

“mau kemana oppa?”

“ikut saja yaa”, sahutnya tersenyum sambil menyampirkan jaket tebal nya padaku.

Di sebuah puncak bukit yang jauh dari riuh pikukkotaSeoul, saat matahari, pepohonan, bahkan alunan angin menjadi saksi keberanian seorang pria untuk melangkah lebih jauh, BERDUA. Ya, berlandaskan keterbatasan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Disini, detik ini, semesta mengiyakan, bahwa bintang tak mungkin ada tanpa langit yang menopang nya…

Sambil memandangi cincin bintang yangMinhoberikan pada ku pagi tadi, aku mengeluarkan ponsel dan menelfon seseorang… Sahabatku, yang mungkin tanpa keusilannya, ini semua tidak akan terjadi…

“CHUKKAAAEEEE TAEMIIIIINNNN”

Aku menjauhkan ponsel itu dari telinga. Biasanya ketika dia berteriak tidak lazim begitu pasti aku marahi, tapi berhubung keadaan hati ku sedang senang sekarang, teriakannya tidak mampu menghapus senyuman dari wajah ku. Detik ini, aku merasa Tuhan luar biasa baik pada ku. Aku lulus kuliah dengan predikat cumlaude, aku mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan sebagai seorang wartawan lapangan, dan yang terpenting, aku mendapatkan bintangku…

“LALU KAPAN? AIGOO, APA YANG BISA AKU BANTU PERSIAPKAN? WAAHH, AKU BENAR-BENAR MASIH TIDAK PERCAYA. AKU DILANGKAHI….KAU?? APA KATA ORANG-ORANG NANTI……..”, ia masih terus mengoceh dengan heboh. Itu lah sahabatku. Ia yang tidak pernah berubah meskipun ratusan kali aku menegurnya. Sebetulnya, kami berdua sama-sama keras kepala dan bertahan dengan keunikan masing-masing. Ratusan kali pula Key menegur sifatku yang kadang seperti batu berjalan. Tidak asik!!

Namun malam hari nya…

“yoboseyo”, aku mengangkat ponsel ku yang bergetar. Saat itu, aku sedang membuat daftar siapa tamu yang akan kami undang, untuk keperluan banyak nya undangan yang perlu kami buat. Untuk masalah baju, sepenuhnya aku serahkan pada designer muda paling berbakat diSeoul, siapa lagi kalau bukan Kim Kibum, sahabat ku.

“Taemin, emmm, bagaimana yaa”, ia terdengar bingung. Aku menghentikan kegiatan menulis ku. Tidak biasa-biasanya Key bicara bingung begini.

“ada apa?”

“kau yakin?”

“apa nya?”, aku semakin bingung.

“untuk menikah?”

Aku hanya tertawa.

“aku serius Taemin”

“ya aku juga serius untuk menikah Key”

“tidak denganMinho!”

Apa itu? Sebuah pernyataan atau malah perintah?

“lalu dengan siapa? Jinki?”, aku tersenyum menggodanya.

“Lee Taemin!! Jangan bicara macam-macam!! Kau…kau tau kalau ia…”, ucapannya lagi-lagi menggantung.

Aku hanya diam, menunggu sampai ia menemukan kata-kata yang tepat.

“ia….memiliki….kekurangan?”

Ah, jadi masalah itu? Pasti ia tau dari Jinki.

“ia manusia, bukan malaikat. Tentu saja punya kekurangan”, aku masih menggodanya.

“jadi kau belum tau?”

“tau apa?”

“ish. Kenapa susah sekali mengajak mu bicara panjang lebar. Kau ini wanita atau bukan sih? Sudah berulang kali kuajari kalau jadi wanita itu harus banyak bicara!!”

“oya? Emm, aku baru tau”

Aku tau Key mulai emosi.

“aku tau ia menderita penyakit”, sahut ku enteng.

“jinjja? Kau tau apa penyakit nya? Lalu bagaimana? Kau masih mau mengambil resiko ini? Kau yakin tidak? Tau tidak apa resikonya?”

“aku tau”

HENING…

“tanggapan mu hanya itu? Pertanyaan ku yang sebanyak itu kau hanya jawab dengan dua kata? Ergh, susah memang ngajak bicara batu! Kau….ergh, bagaimana harus memberitahumu sih? Otak mu pintar hanya dalam kuliah, tapi untuk urusan begini kau nol besar, tau tidak!! Dengarkanaku…”

Ia mengambil nafas panjang.

“sulit Taemin mempunyai seorang suami yang memiliki penyakit seperti itu! Kau tau,Minhotidak bisa melihat mulai dari jam 4 sore!! dan itu…. maaf saja tapi itu menyusahkan. Beruntung Minho adalah pemilik Café, dan dia tidak sendiri. Masih ada tiga temannya yang membantu, jadi ia bisa pulang sebelum jam 4 sore. Tapi kehidupan pernikahan? Itu berbeda. Ia tidak dibantu siapapun! Apalagi kau berprofesi sebagai wartawan lapangan! Jam kerja nya tidak teratur, kau harus sering keluar rumah, lalu bagaimana denganMinho? Kau mau menyewa baby sitter?”

“aku mengerti”

“ya Tuhan Taemin, sungguh aku serius!! Aku benar-benar mencemaskan hubungan kalian berdua nanti nya!! Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dimainkan Taemin!! Itu sebuah janji bukan kepada manusia, tapi langsung kepada Tuhan!! Kau tau kenapa aku masih belum berani menikah hingga saat ini, padahal Jinki sudah berulang kali melamar ku? Itu karena aku merasa kalau aku belum bisa mempertanggung jawabkan hubungan ini dengan baik pada Tuhan, karena itu aku belum mau mengambil resiko. Aku dan Jinki yang banyak orang bilang kalau kami serasi dan minimal, tidak ada kekurangan yang menyulitkan saja belum berani mengambil langkah sejauh itu, apalagi kalian yang begitu banyak orang mengatakan hubungan kalian aneh!! Jangan main-main….”

“kau daritadi berpikir aku bermain-main?”, aku memotong ucapannya. Nada ku berubah dingin. Key tau kalau aku mulai serius bahkan marah. Ia terdiam.

“sekarang kau yang dengarkanaku!!”

“aku mengerti Key!! Sungguh, aku mengerti!! Aku tau kau sulit untuk percaya! Tapi kau sudah lama mengenalkukan? Pernahkah kau melihatku untuk menjalankan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak yakin? Pernahkah Key? Aku sendirian sejak dulu, tanpa orang tua yang bisa memberikan saran apalagi semangat, dan kau tau aku terbiasa memutuskan segala sesuatu juga sendirian!! Segala resiko yang terjadi akan langsung aku rasakan, sendirian!! Tapi pernahkah itu menjadikan ku untuk takut mengambil keputusan? Keputusan harus tetap diambil, dan tidak ada keputusan tanpa resiko, Key, kau tau itu! Dengan siapapun aku menikah nanti, selama masih dengan manusia, pasti akan menemui kekurangan nya. Lalu aku harus menunggu sampai ada malaikat menyamar lalu menikahinya, begitu? Mustahilkan!! Jadi aku mohon, kau selama ini selalu mendukung ku, apapun keputusan yang aku ambil meskipun sering pada awalnya kau mati-matian mengomeliku dan mengatakan aku bodoh! Tapi toh semuanya baik-baik sajakan? Rintangan tetap dan pasti ada sampai kapan pun, tapi sampai saat ini, bukti nya aku masih bertahan. Jadi, untuk sekali ini Key, aku hanya butuh dukungan mu! Aku tau ini akan berat ke depannya, sungguh aku mengerti semua resiko nya!! Tapi keputusan sudah kuambil dan detik itu pula berarti aku harus berani untuk menghadapi resikonya!! Dan jawabannya, YA, AKU BERANI!!”

HENING…

“wow, belasan tahun aku menjadi sahabat mu, ini adalah pertama kali nya kau bisa berbicara sepanjang itu!!Minhobenar-benar membawa banyak perubahan pada sahabat batu ku ini”

Aku hanya tersenyum. Ya, sepanjang hidup ku memang itu adalah kalimat terpanjang yang pernah aku ucapkan pada orang lain.

“anyway, sepertinya aku melupakan satu hal krusial, bahwa apapun yang kukatakan pada batu, itu tidak akan merubah keputusan mu. Ratusan kali aku mengomeli segala keputusan bodoh yang kau ambil tapi ratusan kali pula kau menganggap omongan ku seperti angin dan kau keras kepala untuk tetap maju. Jadi, untuk kali ini, sepertinya sama saja,kan? Lagi-lagi omongan ku kau anggap angin meskipun aku cukup berterima kasih karena setidaknya omelan ku tidak kau tanggapi dengan satu atau dua kata seperti biasa. Aku jadi terharu”

“berlebihan!!”

“ahahaha, oke Lee Taemin yang sebentar lagi akan berubah nama menjadi Choi Taemin, go ahead!! Anything what you want, just do it!! Tapi sungguh aku berharap kau diberikan kebesaran hati dan kesabaran untuk menghadapi segala resiko nya. Kau sudah diberikan otak pintar yang sangat luar biasa keras kepala, jadi aku harap itu bisa membantumu untuk bertahan, sekuat apapun cobaan dalam rumah tangga kalian nanti. Satu hal yang perlu kau ingat, sampai kapan pun, Kim Kibum akan selalu menjadi sahabat Lee Taemin, dan sampai kapan pun juga, Lee Taemin akan selalu menjadi sahabat yang aku banggakan!! Jangan pernah merasa sendirian karena kau punya aku. Aku tidak mau lagi mendengar kalau selama ini kau merasa sendirian, karena itu artinya kau mengecilkan arti kehadiran omelan ku selama ini, dan aku tersinggung akan hal itu. Kau kira mengomel itu tidak cape? Kau….”

“jadi kau mendukungku?”, aku memotong ocehannya. Seorang Kim Kibum jika sudah berbicara harus di hentikan orang lain karena ia tidak punya kemampuan untuk menghentikannya sendiri.

Hhhhhhh, ia menghela nafas. Aku tau ini masih berat karena sesering apapun Key mengomeliku, satu hal yang ku tau, jika aku disuruh menyebutkan nama orang yang paling peduli dan mencemaskan aku, maka Kim Kibum orangnya.

“baik baik. Aku mendukung mu!! Tapi ingat, TAKE YOUR OWN RISK!! Aku tidak mau mendengar di tengah perjalanan kau tiba-tiba menyesal dan mencoba untuk mundur. Itu sama sekali bukan Lee Taemin yang ku kenal, arra?!”

End Flashback…

 

Ya… Take your own risk!! Itu yang sangat Key tekankanpadaku, dan saat ini, memang aku sedang melakukan itu!!

“yoboseyo, oppa”

“Taemin, kau dimana? Bisa kau pulang sekarang?”

Aku melihat jam tangan yang melingkar di tangan mungil ku, hhh, hampir jam 4 sore. Wajar kalauMinhomenelfon. Jam 4 sore adalah batas ketikaMinhobisa melihat segalanya. Selewat dari itu, ia buta total!

“mianhae oppa, aku sedang…”

“sedang bekerja? Bisakah kau izin sebentar? Jujur saja aku takut sendirian”

Hhhh, lagi-lagi aku menghela nafas panjang. Pernikahan kami baru berjalan sebulan, dan hampir setiap hari aku meminta izin pada bos untuk pulang kurang dari jam 4 sore, bahkan aku sudah diberikan peringatan karena hal itu.

Aku berfikir, apa meminta tolong Key? Ah, tapi aku sudah banyak menyusahkannya dan ia mulai memberikan tatapan ‘benarkanapa yang kubilang sejak awal? Nikmati saja kekeras kepalaanmu saat ini’ padaku setiap kali bertemu. Aku memang kadang ‘menitipkan’ Minho untuk lebih lama di Café bersama Jinki atau siapapun teman yang masih ada di sana sampai aku pulang, dan biasanya Key memang yang mengantar Minho untuk ke Café. Tapi sering kali pulaMinhotidak mau dan hanya mau di rumah bersamaku. Entah kenapa, semenjak ia menikah ia luar biasa manja dan ketergantungan pada ku. Padahal, puluhan tahun ia hidup sendiri, ia bisa meng handle semuanya. Tapi kenapa sekarang jadi berbeda?

“nee, oppa, sebentar aku pulang”, aku segera membelokkan mobil ku untuk pulang. Sepertinya Minho harus kubawa.

Drrrtttt drrrtttt…

“Taemin kau dimana”

Telfon dari bos di kantor.

“emmm, di perjalanan”

“perjalanan pulang atau mencari berita?”

Ya, sejak diberi teguran itu, bos menjadi luar biasa curiga pada ku, apalagi jika sudah sore seperti ini. Ditambah teman-teman seprofesi di kantor yang semakin memanaskan situasi, karena aku, si anak yang baru lulus kuliah, sudah diberikan kepercayaan untuk memegang berita-berita penting!!

“perjalanan pulang, tapi…”

“kau ini mau kupecat yaa? Berani sekali kau menyelewengkan pekerjaan seenakmu sendiri seperti itu?”

“bukan begitu. Aku…aku akan pulang ke rumah sebentar lalu kembali bekerja lagi. Aku…aku janji…”

“kau tau yang akan kau temui siapa? Tidak banyak reporter yang bisa mewawancarainya secara eksklusif lalu kau seenaknya membuang kesempatan ini demi suami mu itu?”

“sungguh aku mengerti”, tangan dan dahi ku semakin berkeringat. Aku gugup. Ini sudah jam 4.15 danMinhosendirian di rumah, tapi pekerjaan ku juga sangat penting.

“aku berjanji akan tepat waktu! Aku hanya pulang sebentar saja”

“kalau sampai kau kehilangan kesempatan ini, maaf Taemin, batas toleransi ku benar-benar habis!”

Telfon dimatikan.

Ya Tuhaaaannnn….

10 menit kemudian aku sampai di rumah.Minhoyang mendengar suara mobil, langsung bergegas keluar.

“Taemin, kau kah itu?”, ia berpegangan pada pintu depan.

“nee, oppa ini aku. Gwaenchana?”, aku menatap nya cemas. Wajah tampannya terlihat pucat.

“kenapa kau lama sekali?”, ia sedikit membentak.

“aku…bekerja”

Hhhh, alasan yang sudah bribu kali kuucapkan dan beribu kali pula ia dengar sampai kami berdua bosan.

Ia membuang muka. Aku tauMinhomarah. Tapi bagaimana? Aku juga punya tanggung jawab yang juga penting terhadap pekerjaan ku.

“oppa, ikut lah dengan ku, mau kah? Aku ingin menemui narasumber yang penting. Kalau ini gagal, aku bisa dipecat”, kupegang tangannya erat, menandakan aku serius atas ucapan ku dan aku serius tidak ingin kehilangan pekerjaan ini, sungguh! Jurnalis adalah hidupku!

“kau pulang bukannya membuatkan makanan tapi malah bekerja lagi?”, nada nya kecewa.

“kau punya kewajiban sebagai istri Taemin. Kumohon jangan lupakan itu!”

DEG…

Sungguh jika bisa berteriak, aku ingin berteriak bahwa sedetik pun aku tidak pernah lupa kewajiban ku sebagai istri. Tapi, lagi-lagi, entah kenapa mulut ini terkunci ketika sudah berbicara dengannya.

“kumohon”, aku hanya berkata itu pada nya. Aku sendiri tidak tau kenapa aku yang harus selalu mengalah, tapi hanya satu yang aku tau, bahwa memang ketika kami memutuskan untuk berjalan berdua ke depan, aku akan menjadi pihak yang harus lebih banyak berkorban!

Aku memperhatikan air wajahnya. Dingin, tapi tidak biasa. Pikiran ku berkecamuk. Aku masih memegang erat tangannya, tapi tak berani berkata apa-apa.

Kumohon Tuhan…

“baiklah”

Aku mendongak.

Iya kah? Aku kah yang menang?Minhoyang mengalah?

“tapi aku kecewa pada mu”

Ia melepaskan pegangan tangan ku, dan berjalan dengan meraba-raba menuju mobil.

Air mata ku menetes, tanpa suara, untuk kesekian kalinya.

Key, sungguh ternyata ini lebih berat dari apa yang ku bayangkan…

^^

Kali ini aku selamat…

Narasumber ku juga ternyata datang terlambat dan beruntungnya, aku sampai lebih dulu.

Aku meninggalkanMinhodi mobil. Entah lah apa yang akan ia katakan pada ku di rumah. Atau lebih mungkin ia tidak akan berkata apa-apa.

Sesampainya di rumah, hari sudah malam.Minholangsung masuk ke kamar, lagi-lagi tanpa bantuan ku. Aku hanya bisa menatap punggung nya yang pergi menjauh. Seiring dengan menjauhnya rasa cinta yang dulu sempat ada dan kini semakin menghilang entah kemana.

Rumah kami sederhana. Hanya satu lantai karena aku tidak mauMinhokesulitan di rumahnya sendiri jika tanpa aku. Ini rumah memangMinhoyang membelikannya, meskipun tetap atas nama ku. Begitu pula mobil, itu sebetulnya milikMinhoyang ia belikan untuk ku. Uang ku masih belum cukup untuk membeli barang-barang seperti ini danMinhojuga marah kalau aku yang membiayai perlengkapan rumah tangga. Ia mengatakan aku tidak menghargainya, atau lebih kasar, bahkan meremehkannya sebagai kepala rumah tangga, padahal sedikit pun tidak pernah terlintas di pikiranku tentang hal itu. Aku hanya ingin membantunya, sungguh hanya itu! Tapi Minho tidak pernah bisa terima, hingga seluruh penghasilanku sebagai wartawan, hanya aku tabung atau hanya untuk membeli pengeluaran pribadi, sebagai wanita. Ia seorang suami yang bertanggung jawab, sekaligus memiliki gengsi yang sangat besar!

Aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri duluan, lalu menyiapkan air hangat untuk mandiMinho.

Saat aku ke kamar, kulihat ia sedang berbaring. Aku berjalan mendekat, dan duduk di tepian tempat tidur sambil memegang bahu nya pelan.

“oppa, air mandinya sudah kusiapkan. Mandi lah dulu, aku akan menyiapkan sarapan. Oppa mau makan apa?”, aku bertanya lembut. Matanya terpejam tapi aku tau ia tidak tidur.

“terserah”, ia menjawab dingin sambil perlahan bangun dan menyingkirkan tangan ku dari bahunya.

Aku memegang tangannya untuk menuntunnya ke kamar mandi.

“aku bisa sendiri. Jangan selalu merendahkan ku Lee Taemin”

Ya… jelasMinhosangat marah ketika ia sudah memanggilku dengan lengkap dan nama asli, dengan marga Lee, bukan Choi. Bukankah itu bisa diartikan ia tidak lagi menganggap aku istri nya?

Hati ku tercekat. Entah kenapa ini bahkan terlalu sakit sampai air mata ku tidak juga keluar. Aku mengambil sebuah pigura foto yang dua buah foto. Foto saat kami masih berpacaran dan foto saat kami menikah. Keduanya tersenyum, BAHAGIA.

Aku meletakkan foto itu lagi, lalu berjalan menuju cermin.

Kembali mengulang senyum yang sama namun kenapa begitu terasa berbeda?

^^

Saat makan malam, kami sama-sama terdiam. Hanya terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring, tidak ada suara lain!

Sedari tadi aku hanya bisa menunduk, bahkan memandang wajahMinhopun aku tidka sanggup.

Terdengar derit kursi digeser, aku mendongak.

Nasi di piringnya masih ada setengah namun ia sudah berjalan kembali ke kamar, tanpa bicara!

Aku menatap nasi di piring ku yang bahkan masih tersisa tiga perempat nya. Rasanya seperti menelan batu. Perut dan tenggorokan ku tidak menerimanya.

Aku selesai. Bereskan piring lalu duduk di sofa, mengambil notebook yang kubeli atas kerja keras ku sendiri, tanpaMinhotau. Di rumah sudah ada komputer danMinhopasti akan tersinggung kalau aku masih membeli notebook, jadi aku memilih untuk merahasiakannya.

Rencana ku adalah aku ingin membuat laporan atas wawancara tadi, namun entah kenapa pikiran ku beku. Jangankanmenulis hasilnya, aku bahkan lupa apa yang aku bicarakan tadi dengan narasumber itu.

Aku memang mengetik, tapi hasilnya berbeda, bahkan mungkin aku tidak sadar apa yang aku tulis.

Aku tau manusia diberikan ujian untuk meningkatkan level dirinya. Dan mungkin, inikah bentuk ujian yang Kau berikan? Lalu, bagaimana hasil nya? Atau justru, ujian ini baru dimulai?

 

Untuk : Kim Kibum, Key, Sahabat ku.

 

Hai Key, aku tidak mengerti kenapa aku menuliskan ini. Harusnya aku tinggal mengangkat telfon, bercerita, dan mendengarmu mengomel seperti biasa. Tapi kali ini, bolehkah jika aku saja yang bercerita tanpa adanya omelan atau tanggapan dari mu?

 

Pertama, aku ingin berterima kasih, selama ini kau bahkan sudah menjadi Umma, Appa dan saudara untuk ku. Mengomel ketika aku salah tapi sangat melindungi ku seperti seorang Appa, menyeka air mata ku ketika aku menangis seperti seorang Umma, berbagi cerita seperti kakak, bahkan bermanja ketika sifat childish dan egois mu datang seperti seorang adik. Ya, aku merasa hidup ku lengkap karena seluruh sifat dari suatu keluarga yang utuh, ada pada mu.

 

Kini, aku sudah menikah. Ingat kah kau betapa kau mengomeli ku habis-habisan ketika kau tau tentang penyakit Minho? Dan ingat kah kau ketika pertama kalinya aku membantah mu dengan kalimat terpanjang yang pernah kau dengar keluar dari mulut ku sampai akhirnya kau luluh? Kau selalu menganggap kalau omongan mu kuanggap hanya seperti angin, tapi sungguh kau salah! Semua omelan mu selama belasan tahun terekam jelas dan tersimpan disini, di hati ku, Key.    

 

Sekarang aku mengerti kenapa kau selalu mengomel atas segala hal yang aku putuskan tapi salah dimata mu. Karena kau tidak mau aku terluka ya? Kau adalah orang yang paling mengerti sifatku. Introvert yang bodoh!! Itu kan yang selalu kau katakan? Kau paling mengerti kalau seseorang yang introvert itu tidak mudah untuk menceritakan perihal dirinya pada orang lain, bahkan kau, sahabat ku sendiri. Makanya kau selalu mengomel untuk melindungiku sebelum masalah datang dan aku tidak bisa cerita pada siapapun. Dan sekarang, aku minta maaf karena aku mengabaikan omelan mu hari itu Key.

 

Masalah itu sekarang sudah datang. Aku sudah tau sejak awal memang kalau ini akan berat, tapi yang tidak aku sangka adalah ini akan menjadi semakin berat tiap hari nya.

 

AKU LELAH…

 

Aku berhenti mengetik sejenak. Keyboard notebook ku sudah ada dua tetesan air yang aku tau pasti itu dari mana.

 

Key, entah bagaimana bisa tapi aku merasa Minho semakin tidak mencintaiku. Ia selalu merasa apapun yang kuperbuat itu menunjukkan kalau aku meremehkan dan merendahkannya. Padahal demi Tuhan, sedikit pun tidak pernah terlintas di pikiran ku kalau kedudukan ku lebih tinggi. Aku seorang istri dan apapun keadaannya ia adalah suamiku. Yang kulakukan selama ini murni untuk mendukung nya, membuat nya merasakan kalau aku tidak melihatnya berdasarkan apa kekurangannya, tapi jusru aku ingin menunjukkan kalau kita sudah berjanji menjalani semua hal ke depannya berdua, karena itu, aku ada untuk melengkapi kekurangannya, membuat nya merasa sempurna. Mataku ada untuk menjadi matanya!

 

Aku masih berharap masih ada sisa sedikit ruang di hatinya untuk menuliskan nama ku. Aku hanya minta sedikit saja, karena aku tau aku sama sekali bukan istri yang sempurna untuknya. Tapi bolehkah aku berharap Key? Bolehkah aku meminta hal itu pada suami ku sendiri? Karena di hatiku, tidak satu inchi pun ruang ini berkurang untuk nya.

 

Kalau aku menceritakan ini padamu, aku yakin kau hanya mengomeliku bodoh, tanggung jawab pada keputusan mu sendiri, dan tinggal bacakan saja surat ini di hadapannya, iya kan?

 

Entah lah Key, aku takut! Tap takut pada apa, aku sendiri tidak mengerti. Mungkinkah aku takut kehilangannya?

 

Woman was created from the ribs of a man.

Not from his head to be above him.

Nor from his feet to be walk upon him.                          

But from his side to be equal.

Near to his arm to be protected.

And close to his heart to be loved.

[gue lebih suka mengartikannya begini…]

Untuk perempuan…

Bukan dari tulang ubun ia dicipta.

Sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja.

Tidak juga dari tulang kaki.

Sebab nista membiarkannya diinjak dan dihina.

Tetapi dari rusuk kiri.

Dekat di tangan untuk dilindungi.

Dan dekat di hati untuk dicintai.

Hhhhh, aku menarik nafas panjang. Kuhapus dua aliran sungai bening yang menjadi saksi tumpahan emosi yang kupendam selama perkawinan ku denganMinho. Yah, janji di hadapan Tuhan yang pada awal nya aku berharap untuk merasakan kasih sayang Tuhan melalui guardian angel nya yang menjadi suami ku, tapi pada kenyataannya…

Memandang ke atas, menahan air mata ku untuk turun lagi.

Dalam hati aku hanya berdoa,

Tuhan, Kau yang tau niat kami, Kau yang memberikan rasa cinta itu pada kami, Kau yang merestui janji kami, dan Kau yang melihat kehidupan kami, jadi aku mohon, kalau memang ini bagian dari rencana Mu, berikan aku tambahan rasa sabar untuk menjalani semua ini. Rasa cintaku padaMinho, sudah kuserahkan pada Mu, karena aku yakin Kau akan kekal untuk menjaganya. Aku hanya takut, ketika rasa itu Kau titipkan pada ku hingga kini, semakin lama akan semakin berkurang seiring berkurangnya rasa sabar ku, karena itu biarlah Kau yang memberinya, dan kini ku kembalikan itu pada Mu lagi, agar Kau yang menjaganya.

^^

6 bulan sudah perkawinan ini kami jalani.Minhomasih belum berubah, tetap manja, cepat tersinggung, namun cepat pula keadaannya membaik. Sungguh,Minhosangat orang yang moody, dan aku berusaha untuk semakin lama, semakin mengerti akan hal itu.

Namun, tetap ada satu perubahan yang sangat aku rasakan…

Flashback…

BRAAKK…

Aku hanya bisa menunduk.

“kau tau ini sangat penting bagi perusahaan?”

Aku mengangguk pasrah.

Ya, kali ini aku yang salah.Minhotertahan di Café hingga jam 5 sore sementara Café saat itu sedang sangat penuh. Tidak ada yang bisa mengantarMinhopulang, tapi di sanapun tidak ada yang bisa ia lakukan karena batas penglihatannya adalah jam 4 sore. Ia menelfon ku untuk meminta jemput sementara aku sedang bersiap dari kantor untuk meliput sebuah kasus korupsi uang untuk lembaga LSM yang sedang ramai dibicarakan karena dilakukan oleh para salah satu petinggi Korsel. Tadi nya aku menolak, karena memang waktunya memang tidak memungkinkan. Tapi lagi-lagi aku kalah dengan suaraMinhoyang dingin namun seperti tidak berdaya. Aku mencoba mengerti situasi nya, dan sungguh au mengerti. Ia pasti merasa tidak berguna dan diacuhkan disana. Disaat semua teman-temannya sibuk melayani pelanggan, ia hanya terdiam di kantor. Gelap. Sendiri. Dan itu pasti menyesakkan.

Akhirnya pikiran itu yang menang. Aku kabur! Ya, aku kabur dari tugas ku karena jika aku meminta izin, sudah pasti tidak diizinkan dan yang ada aku malah akan dihardik oleh atasan.

Aku menjemput Minho di Café dan membawanya ke kantor ku. Tapi begitu sampai kantor, semuanya terlambat. Rombongan ku sudah berangkat. Pekerjaan ku sudah digantikan oleh wartawan lain dan aku langsung mendapat gebrakan di meja oleh atasan ku.

“aku sangat mengakui kemampuan mu, sungguh. Kau anak yang sangat berbakat. Natural born journalist!! Tapi kau benar-benar tidak mempunyai kredibilitas dalam bekerja dan itu jadi menenggelamkan semua kecemerlangan mu, kemampuan dan prestasi mu. Aku menyesal Taemin. Tapi kantor, dan aku secara pribadi, sudah cukup bersabar dan terlalu banyak untuk memberikan toleransi pada mu. Jadi, maaf”

Ia memberikan selembarsuratdi hadapanku.

Tanpa aku baca, aku tau itusuratapa. Dan sepertinya memang tidak akan kubaca. Aku tidak bergeming. Membiarkansuratitu tergeletak di meja kaca yang dingin, dan aku masih menunduk.

Hhhhh, bos ku menarik nafas panjang.

“itu surat pemecatan mu. Maaf aku tidak lagi bisa mempertahankan mu lebih jauh dari ini. Aku mengerti keadaan mu. Kau begini karena suami mukan? Dan aku turut prihatin. Aku hanya bisa membantumu untuk memberikan rekomendasi baik disuratitu. Seharusnya, dengan apa yang kau lakukan hari ini, meninggalkan tanggung jawab mu begitu saja tanpa permisi, kau selayaknya mendapatkansuratpemecatan dengan tidak hormat. Tapi karena kau adalah anak yang sangat berbakat dan aku tau kau melakukan semua ini karena terpaksa, jadi aku hanya bisa membantumu sejauh ini, tidak lebih”

Aku terdiam sejenak.

Bangkit, lalu membungkuk.

“terima kasih atas segala nya”

Aku keluar.

Tanpa mengambilsuratputih itu. Atau lebih tepat, karena tidak sanggup untuk mengambilnya.

Sesampainya di mobil, aku mengeratkan pegangan pada kemudi. Mata ku berair, aku emosi!! Sungguh!! Tapi kaca itu tidak pernah meleleh membentuk sungai. Tidak karena hatiku tidak mengizinkannya.

“gwaenchana?”

Minhomerasakan atmosfer nya berubah.

Aku menoleh ke samping. Mata itu bulat jernih. Sangat indah. Namun yang ia lihat hanya kegelapan. Seperti apa, oppa? Seperti apa rasanya tidak lagi bisa melihat cahaya? Seperti apa rasanya, ketika keindahan dunia di batasi Tuhan untuk kau lihat?

Aku memegang tangannya. Aku tau, di segala kedinginannya bersikap untukku, ia sangat kesakitan! Tidak secara fisik mungkin, namun hati nya pasti sakit! Sakit yang ia tutupi dengan sifat nya, karena entah harus ia tutupi dengan apa. Aku merasakan cinta itu masih ada. Ya, detik ini, di mata jernih itu, aku melihat setitik cinta untukku yang tidak berubah sejak dulu.

Aku tersenyum, meski tak bisa ia lihat. Senyum yang diiringi lelehan kristal kaca yang sekarang aku bersyukur tak dapat ia lihat. Choi Minho, aku mencintaimu. Ku eratkan pegangan ku padanya, masih tidak dengan kata yang terucap, hanya melalu sensor sentuhan aku berharap rasa itu sampai ke hatinya.

“Taemin”, ia kembali memanggil nama ku.

“nee?”

“gwaenchana?”

“neee, hehe. Maaf sudah menunggu lama, oppa. Kau mau kubuatkan makan malam apa?”

Ia masih menatap ku. Menatap ke arah ku lebih tepat nya. Matanya menampilkan berbagai pertanyaan yang tak terucap.

“apapun”, ia kembali menghadap ke depan.

Kami pulang…

End Flashback…

^^

Malam hari, aku kembali menulis…

 

Matahari ku meredup, namun semangat ku tidak!

 

Aku masih punya bintang ku. Bintang yang walaupun cahanya nya terlihat kecil, namun selalu ada, setia untuk menemani langitnya.

 

Untuk : Kim Kibum, Key, Sahabat ku…

 

Hai Key, lagi-lagi aku terlalu pengecut untuk memberitahukan hal ini pada mu. Terlalu pengecut untuk meng iya kan bahwa ucapan mu benar. Terlalu pengecut untuk kembali mendengar kan omelanmu. Ya, kau punya sahabat seorang pengecut sekarang.

 

Aku dipecat, Key.

 

Bukan, bukan karena Minho. Sungguh ini karena kesalahan ku sendiri. Tapi tidak ada gunanya menyalahkan keadaan kan? Siapa menyalahkan siapa. Toh semua sudah terjadi.

 

Key, sejujur nya aku merindukanmu. Sangat!! Aku menulis ini sambil menangis. Aku merindukan semua tingkah gila mu. Merindukan masa kuliah kita, perpustakaan itu, yang tiap kau ingin mengatakan sesuatu pada ku, kau pasti mengikuti ku kesana, pura-pura membaca dan bukunya selalu saja terbalik. Kau paling tidak suka membaca, kan? Bagaimana hubungan mu dengan Jinki, baik-baik saja kah? Jangan terlalu sering cuek dan galak padanya. Kapan kalian menikah? Aku yakin kau pasti menjadi pengantin wanita paling cantik!

 

Key, aku ingin bercerita, kalau aku masih melihat setitik cinta di mata Minho. Ya, cinta untukku. Aku tau ia masih mencintaiku, dan sungguh aku sudah cukup lega dengan itu.

 

Key, maaf selama ini aku seperti menjauh dari mu. Semua sms dan telfon mu, aku jawab seadanya. Setiap kau tanya bagaimana kabar ku, selalu kubilang baik-baik saja, dan detik itu pun kau menganggap aku pembohong. Hei, aku tidak bohong. Aku baik-baik saja sekarang. Buktinya aku tidak di rumah sakit kan? J

 

Key, aku menyayangimu, bahkan mungkin lebih besar dari sayang dan perhatian mu pada ku.   

^^

Semenjak itu, aku dirumah dan mengurusMinhodengan lebih baik. Ia sempat curiga, namun aku hanya mengatakan bahwa aku mendapatsuratperingatan dan pekerjaan ku dipindah menjadi pembuat naskah berita sehingga itu bisa dikerjakan di rumah, dan akhir nya, ia pun percaya.

Aku mencoba melamar pekerjaan, namun tentu saja tidak semudah itu.

Selama aku di rumah,Minhomenjadi jauh lebih manja. Ia memintaku mengantar nya ke Café, kadang-kadang bahkan meminta menemani nya, menjemputnya sepulang kerja, dan membuatkan makan siang. Ya, ia jadi tidak mau memakan makanan di Café untuk makan siang seperti biasa.

Entah kenapa, segala kemanjaan itu, semakin hari semakin membuat ku depresi.

Awalnya karena semua lamaran ku tidak di approve. Dunia jurnalis, hingga detik ini masih kuanggap sebagai matahariku. Dan aku mulai merasa lemas tanpa matahari.

Aku tetap melakukan berbagai rutinitas seperti biasa, namun seperti tanpa nyawa. Seonggok daging yang bergerak dan bernyawa namun tanpa jiwa.

Hingga suatu hari…

“hueeeekkkk”, aku lari dari tempat tidur menuju wastafel.

Minhomasih belum bangun.

Aku merasa sangat pusing, mual. Sepertinya masuk angin. Aku memijat tengkuk ku pelan.

Keringat dingin membanjir. Aku benar-benar tidak enak badan. Wajah ku pucat.

Minhomelihat wajah pucat ku. Ini pagi hari, jadi penglihatannya masih berfungsi.

Aku meyakinkannya aku baik-baik saja. Ia ingin mengantar ku ke dokter, namun aku menolak. Ia harus bekerja, dan aku sepertinyaa tidak kuat jiak harus ke dokter dengan keadaan lemas begini. Akhirnya aku memutuskan pulang.

Di jalan, aku mendapat sms dari Key…

Aku tau kau dipecat! Dan meskipun aku tidak tau detail nya , tapi aku yakin 100% kalau ini karena Minho. Satu hal yang aku sangat kecewa pada mu, Lee Taemin, kau sudah tidak menganggap ku sahabat, sampai tega-teganya menyembunyikan hal ini padaku? Aku tadinya ingin menelfon, bahkan menemuimu langsung, tapi aku takut akan lepas kendali, jadi aku hanya mengirimkan sms ini. Selama kau masih tidak menganggap ku sahabat, jangan harap aku juga akan menganggap mu sahabat!!

Kepala ku semakin pusing. Kecepatan mobil aku tambah agar aku sampai di rumah.

Di dalam kamar, ketika sedang istirahat, aku sepertinya teringat sesuatu. Bulan ini, aku belum menstruasi. Ku cek kalender agar lebih meyakinkan, ternyata benar, aku memang belum menstruasi. Bulan ini, aku belum menandai tanggal.

Tiba-tiba aku merinding. Bagaimana jika aku hamil?

Apa yang harus kulakukan?

Mengurus Minho saja aku sudah kelimpungan, apalagi dengan adanya bayi ini? Aku menggeleng tidak percaya.

Terhuyung aku keluar, dan mengambil kunci mobil, cepat melaju ke rumah sakit.

^^

Gelap…

Sesak…

Mati…

Aku meremas kertas putih, sebuah kertas yang aku tidak berani buka sejak tadi. Putusan ‘kematian’ yang aku rasakan. Bukan, bukan untuk seseorang di dalam sana. Tapi untukku. Yang aku tidak mengerti, bagaimana bisa? Bukan bagaimana bisa anak ini hadir, tapi bagaimana bisa aku mengurus mereka berdua.

Aku hanya bisa berharap dan berdoa kepada Tuhan, semoga aku menjadi jauh lebih kuat untuk menghadapi semua resiko yang sudah dengan berani kuambil dari awal.

Awal-awal kehamilanku terasa berat, karna kondisiku yang juga sedikit melemah, ditambah mual, kurang nafsu makan dan juga kelelahan mengurus kemanjaan Minho yang entah bagaimana aku tak sanggup untuk menjabarkannya. Bukan salahnya juga jika ia bersikap manja karna mempunyai kekurangan, tapi.. bukan salahku juga jika aku ingin istirahat sejenak kan?

Bulan demi bulan berhasil kulewati, bulan kedua.. nafsu makanku mulai hilang karna mualku yang semakin menjadi, dan minho mulai curiga. Aku hanya berdalih mungkin maagku kambuh.

Bulan ketiga .. mualku berkurang, dan makanku semakin sedikit.

Hingga akhirnya bulan keempat..

Aku belum memberitahukan hal ini pada Minho. Tidak ada yang tahu, bahkan Key sekalipun karena memang kandungan ku kecil dan ditambah…..ada suatu keanehan yang terjadi.

Malam hari aku mencoba mengelus perutku. Melihat kalender…

“sudah bulan ke empat. Tapi kenapa?”

Aku tau ada yang tidak beres. Selama hamil, aku terlalu lelah. Melamar pekerjaan kesana kemari, belum lagi semakin lama, jujur saja Minho semakin manja dan itu mengesalkan.

Hingga suatu hari…

“maaf, bayi anda mengalami malnutrisi, nona. Perkembangannya tidak normal. Mungkin karena ibunya yang terlalu lelah dan stress, benar kah saya?”, dokter berbaju putih dan berwajah teduh menatap ku dari balik kaca mata nya.

Aku hanya menunduk…

Benarkah ini?

Cobaan apa lagi…belum cukup kah semuanya….belum puas kah Kau bermain dengan ku Tuhan…

Aku pulang ke rumah, membuka notebook ku, kemudian menulis…

Aku sudah kehilangan matahari, dan hingga detik ini, langit ku masih gelap…

Gelap…

Dan semakin gelap karena adanya dua bintang…

Kau pasti bertanya kenapa bintangku bertambah tapi langit ku menggelap…

Sungguh, aku pun tidak tau…

Aku hanya tau, bahwa dengan adanya bintangku, matahariku tidak dapat kembali…

Bolehkah bintangku kuredupkan supaya matahariku kembali, Tuhan?

Untuk : Kim Kibum, Choi Minho, dan bintang kecil ku…

Key, mau kah kau menjaga Minho selama aku tidak ada?

Minho, tau kah kau seberapa besar usaha ku untuk mengerti segala sikap mu? Saat ini, bolehkah untuk membiarkanku beristirahat sejenak, hanya sebentar, hanya untuk meminta pada Tuhan cintaku padamu yang kutitipkan pada Nya. Bolehkah? Karena saat ini, aku perlu banyak cinta agar aku tidak menyerah.

Bintang kecil ku, bintang ku yang terakhir…

Hai, ini Umma. Nama ku Lee Taemin, dan ayah mu bernama Choi Minho.

Apa kabar mu di dalam sana? Kenapa tidak pernah menyapa Umma? Marah kah kau karena menyembunyikan ini dari Appa mu? Suatu saat, entah kapan, kau pasti akan mengerti kenapa Umma berbuat begini.

Sayang, Umma mencintaimu.

Tapi maaf……

Ia mengirim sebuah message pada Key…

Untuk kali ini, hanya kali ini, aku mohon datang lah ke rumah, buka notebook ku, dan bacalah apa yang ada di dalamnya.

Password : TaeminMencintaiMinho…Selamanya

END

‘unnie.. apa unnie ingat kisah kerang mutiara?’

‘yang ahjumma sering cerita untukku yaa?’

‘ne! sekarang aku sudah bisa baca loh unniee mau kuceritakan lagi?’

‘jeongmalyeoo? Waah kkaja ceritakan untuk unnie!’

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

 

“Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu.”

 

Si ibu terdiam sejenak, “Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.

 

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengilap, dan berharga mahal dan terbentuk dengan sempurna.

 

Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

 

Air mata Taemin mengalir, Demi Apa.. cerita ini..

‘unniee gwaenchanayoo??’

Tuhaaan, aku ingat.. dulu, saat kedua orang tuaku meninggal aku berusaha bangkit menjadi kerang mutiara. Dan sekarang.. apakah aku seorang kerang mutiara yang gagal?

Yaakksss, SITA MAAAAAFFFF…

Udah ah ga bisa ngomong apa-apa lagi. Ini jelek banget.

Ga usah RCL juga gpp kok…

Tha_tha Babaiii…

.

.

Makasi banyak banget buat fitunn aku suka ini T_________T

 Note from me : it’s your choice, and I know you’ll get trough it all. Don’t look at back, just facing everything in front of you at this moment.

I know this is hard, how many times you fall, I knew it. And I also knew how many times you tried to rise.

Accept all that has happened now. Like when you taking all at beginning.

From your lovely sista, have to you know, ILYSM :’)

 

   

80 thoughts on “[2min/One Shoot/Transgender/Angst] Because of You…

  1. Aku udh prnah komen belum ya thor ? -_-a lupaaaaaa
    NANGIS ttp aja NANGIS TT_TT
    Bagus thorr ceritanya (Y)
    Sumpah ini udh nangis thorrrr tnggung jwb thor T_T

  2. Ahhh sumpah nyesekk..
    Ksian taemin,kasian minhoo jg..

    Bru tw tntang pnykit rabun senja??bg2kah pnykitnya…
    Miris
    U,u

  3. Ceritanya terlalu menyedihkan… Tp aku suka. Aku nangis thor… Ceritanya hampir mirip sama aku… Tp bedanya, aku d tinggal pacarku yg berbohong. Dia bilang, dia gk pny hubungan apa2 sm orng lain. Tp nyatanya? Dia pny tunangan… T,T. Blm ada orng yg bisa menghibur aku…*curhat* kok jd curhat ya? Salah author… Bikin ff menyedihkan bngt… Dan parahnya aku baca -___-

  4. baru pertama kali aku baca yg transgender kayak gini T.T
    ceritanya sedih bgt, aku nangis sampe rumahku jadi banjir (?) T^T

  5. AA…… daebak thor
    kata katanya bikin terharu apalagi puisinya yang ada disana…. JLEP…. gak bisa ngomong apa apa lagi. harunya jlep jlep jlep…. Taemin kasian thor T^T. Gimana ini gimana taemin…taeminnnnn!!!!!!aaaaaaaaa…….
    TISUUUEEE…. nangis

  6. huksssss T_________T kenapa hidupnya emin berat banget deh?? mesti nanggung semua kepedihan sendirian gituu.. knapa dia bodoh banget?? ga mau cerita ke siapapun kl dia hamil??? bukan sepenuhnya salah minho, tapi salah emin krn gamau terbuka ><

    tbh, i don't get the ed part ._. gw ga ngerti sm endingnyaaaa..sumfaaaahh

  7. huuu kata-katanya keren bikin nangis dah T__T
    kasian taemin😦
    kenapa sih dia bodoh banget? kenapa dia ga mau cerita kesiapapun??
    aarrgghh gue kesal ama lo taem!! >_<

  8. sumpah ceritanya bkin mewek…..
    huweeeeeeeeeeeeeeeeeee T_T
    tapi q penasaran sama endingnya…..q g ngerti..
    taemin pergi ninggalin minho demi anaknya ke suatu tempat apa dia meninggal????
    bkin sequelnya dong…..

  9. ide ny bguz, cantik bgt… Keren deh… Awal” ny kirain crita ny biasa aja,. Mulai mantep wktu penderitaan taemin lha…
    Eh, eh, tp… Taem kan uda sthun nikah, yg dy hmil blm nyampe sthun kan?? Truzz… Gimana keadaan ny skrnk..? Bayi ny? Ak kira taem bnuh dri krn key d.minta ke rmh ny n bca smwa yg dy tulis, tp,. Dy crita uda sthun brarti baik” z kn? Apa ak yg slah tangkap? Ahh… Ak bingung…

    Nb :: Puisi ny keren..🙂

  10. thor kok sedih sih T-T taemin kayak terlalu tabah, terus kenapa hamil ga bilang ke Minho, terus Minho kenapa manja banget, terus kenapa taemin ga curhat ke key, terus kenapa Minho ga nyoba ngerti taemin T-T cukstaw

  11. Daebak…..ni ff bener2 daebak…..ttg kesabaran istri yg melakukan tugas dan lebih mementingkan suaminya……tpi walau bgt taemin punya batas kemampuan…..ni ff bikin nyesek

  12. berat banget yang dijalanin taemin.

    sedikit kesal sama kelakuan si minho, seharusnya dia bisa dewasa dikit..

    overall.. ini keren

  13. Apa-apaan ni ff ka saniiiew? Jinjiaaaaa TT_______TT aku nahan nafas selama baca ini (?) Tragis bgt kaaaa *bukan kan saaniiiew bgt* hehehe.
    Suka suka ka aku suka. Hihkhikhikkkssss *ngelap ingus😦

  14. sedih banget .. mau nangis tapi lagi di resto masa ia mewek — endnya masih ada yg ganjel(?) Tae itu apa banget ga cerita ama orang tentang keadaannya TT

  15. Ini endingnya rada ga nyambung di aku…..
    Taemin akhirnya hidup, dan tetep kerja di journalis?
    Terus minho gmana?? Anak mereka gmana?? Selamatkah??
    Sebenernya ceritanya bagus.. bagus banget malah.
    Sayang endingnya ga di perjelas, jd kesannya malah ngegantung gmana gt..
    Dan itu yg ngebuat ga dapet feelnya🙂
    Macem roller coster, pas udah diajak naik banget sampe ke puncak, akhirnya harus diajak turun ke bawah dengan kecepatan tinggi..
    Itu menurut aku ajasih ^^ hehe

    But overall semuanya oke kok😉
    Dan……… sebenernya rada gmana gt sama sifat taemin di sini.
    Kenapa dia ga coba ngungkapin apa yg dia rasain ke minho? Biar sama” ngerti aja gt..
    Dan minho…….. kenapa dia ga paham sama semua usaha dan rasa sakit yg di alami sama taemin?
    Oke dia punya kekurangan yg fatal, tp apa emang gabisa buat ngerti perasaan masing”? Eum?

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s