[2min/YAOI/MPREG/Part 6 END] OUR PRECIOUS ONE… (A of B)


[2min/YAOI/MPREG/Part 6 END] OUR PRECIOUS ONE…

 

Foreword :

Annyeong, maaf lama banget update nya yaaahhh. Entahlah, gue agak takut nerusin ff ini. Pertama karena ini sequel nya You’re my Precious nya Sani, dan siapa yang ga tau ff itu? Kedua, yaaah gue lagi mengalami krisis kepercayaan diri nulis ff smuutt sumpah.

DAN SESUAI JUDUL, IT’S THE END…

Lagi-lagi ga tau ceritanya kaya apa karena gue nulisnya ga pake mikir. Hehe. Gue bikin sebenernya lebih ke gara-gara buanyak banget yang nagih ff ini, ampun deh.

Maaf banget kalo hasilnya ga sesuai yang kalian harapin… hauuuhh, sumpah deh entah kenapa gue udah ga bisa nulis smuutt lagi kayanya.

Disini kayanya bakalan terjadi perubahan karakter dari Taeminnya yaa.

Special thanks to Aristyasanniie Putri yang udah bolehin gue nerusin YMP. Ga tau yaa ini bakal kaya apaa, aigooo.. moga suka deeh..

Hope you likey..

Cue..

By : TaeminhoShouldBeReal..

“kenapa kau bersikap seakan mengacuhkan ku? Kau masih marah karena yeoja itu? Mau kuantar ke rumahnya agar kalau perlu ia berlutut meminta maaf padamu?”, suara Minho mulai meninggi. Ia tidak suka Taemin yang mengacuhkannya.

Ssshhhh, tangan Taemin tiba-tiba memegang perutnya, sakit!

Tapi Minho seolah tidak melihat itu…

Andai Minho hyung tau. Aku malu bersanding dengan mu hyung!! Ingin kuteriak kan kata-kata itu padanya.

Aegya nya semakin bereaksi.

Minho masih terus menatap istrinya, lekat, seakan ingin mencari penjelasan kenapa ia bersikap aneh hari ini padanya. Bukan seperti Taemin yang biasa.

“kau tau kalau aku mencintaimu dan hanya kamu kan Taemin?”

AKU TAU HYUNG!! Ya sebuah jawaban yang tak terucap karena pikiran namja cantik itu saat ini terkonsentrasi pada aegya nya yang entah sedang apa dan kenapa di dalam sana.

“sudah sejauh ini, kumohon jangan buat aku  untuk memulai dari pertama untuk meyakinkan mu Taemin, ku mohon!!”, Minho memeluk tubuh mungil itu erat.

Namun tiba-tiba…

“Taemiiinnn”

Tubuh di pelukannya merosot ke bawah, pingsan!! Dan perlahan, sebuah aliran merah mengalir di kaki mulusnya. Ia sedang menggunakan celana panjang berwarna putih, sehingga warna itu sangat kontras terlihat di sana. Minho tercekat!! Tuhan…

Membopong Taemin dengan bridal style. Cairan merah itu menetes di sepanjang lantai putih marmer rumah mewah mereka. Wajahnya pucat!! Tapi suaminya, wajah seorang ice prince Choi Minho bahkan lebih pucat dari istrinya. Ia benar-benar tidak tau apa yang terjadi saat ini!! Tuhaaaannn, demi nama Mu aku benar-benar meminta satu hal, selamatkan Taemin dan aegya kami!! Hanya itu!! Ia sadar selama ini ia bukan orang yang dekat dengan Tuhannya, tapi sungguh doa kali ini adalah doa paling sepenuh hati yang pernah ia pinta!! Rumah itu kosong, karena jika malam, asisten rumah tangga yang Minho pekerjakan untuk membantu Taemin sudah pulang. Ketika malam, Minho lah yang menggantikan pekerjaannya. Suatu bentuk rasa cinta yang Minho lakukan hanya demi Taemin.

Mendudukkan Taemin di kursi penumpang dan sedikit merebahkannya ke belakang. Tangannya mendingin. Entah tangan siapa karena tangan mereka bersatu. Minho menjalan mobil dengan kecepatan tidak normal, hanya dengan satu tangan sementara tangan lainnya terus menggenggam tangan mungil itu. Sebentar lagi sayang!! Lalu lintas kota Seoul di malam hari cukup lengang. Pikirannya serasa hancur!! Ia tidak tau harus memikirkan apa saat ini. Tidak tau harus berbuat apa. Bahkan ia tidak tau apa yang terjadi dan kenapa ini bisa terjadi. Keringat dingin mulai hadir di dahi namja tampan itu. Dirinya seakan mau meledak dari dalam karena kencangnya jantung bekerja memompa darah saat ini. Dadanya bahkan sampai sakit. Genggaman itu semakin erat. Ia tidak tau bagaimana cara menghentikan darah itu. Darah itu muncul dari mana saja ia tidak sanggup membayangkannya.

“Taemiin, sayang, kumohon jawablah, kau mendengar ku kan?”, ia tak henti-hentinya berbicara pada sosok yang terlihat sedang tidur dengan wajah pucatnya. Tidak ada jawaban.

“Taemiiiiinnn, kumohon jangan bercanda untuk hal semacam ini. Kau hanya sedang bermain dengan ku kan? Kau hanya tertidur kan?”, otak nya semakin tidak bisa berpikir. Sosok cantik di samping nya masih terdiam, matanya tertutup.

“TAEMIIIIIINNNN, KUMOHON TUNJUKKAN PERGERAKAN APA SAJA, SEDIKIT SAJA, YANG MENUNJUKKAN KALAU KAU MENDENGAR KU!!”, tanpa sadar ia berteriak. Hati, otak, mulut, tangan, apapun di tubuhnya saat ini bekerja tanpa diperintah, bahkan Minho tidak tau saat ini masih ada apa di dalam tubuhnya. Semuanya serasa tertinggal di suatu tempat, entah dimana karena mereka terlalu takut untuk menghadapi kejadian yang terjadi saat ini. Bahkan ia tak tau kejadian ini nyata atau mimpi buruknya saja!! Kalau ini hanya mimpi, ia akan lakukan apapun untuk secepatnya terbangun. Tapi kalau sampai kejadian ini nyata………

@ Seoul Hospital…

Minho terduduk, bukan di kursi melainkan ia merosot di lantai di depan ruang ICU. Taemin sudah di dalam dan DAMN ia tidak boleh menemaninya. Kalau ia masih punya tenaga saat ini, demi apapun ia akan memaksa untuk masuk ke dalam. Tapi sayangnya ia terlalu lelah untuk hanya sekedar menjawab apalagi berdebat. Seluruh tenaganya seakan hilang, seiring tubuh istri nya yang juga hilang, masuk ke ruangan itu entah untuk diapakan. Pandangannya kosong. Ia seperti tidak berpikir apapun. Bukan, lebih tepatnya ia memang sedang tidak bisa berpikir apapun saat ini. Sebelah kakinya menekuk, dan wajah tampan itu ia sembunyikan dalam satu tangan yang bertumpu pada kaki itu. Ia masih sangat bersyukur karena Dokter Krystal, dokter kandungan yang sejak awal memeriksa Taemin masih ada di tempat.

CESS..

Reflek ia menoleh ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Seorang anak perempuan berusia sekitar 10 atau 11 tahun menggunakan tongkat penyangga di kedua sisi tubuhnya, sedang tersenyum menatap Minho sambil menyodorkan sebatang coklat dingin.

“untuk mu ahjussi, sepertinya kau lebih memerlukannya dibanding aku”, tangannya tetap terulur sambil memegang bungkusan panjang berwarna emas.

Minho masih bergeming. Kali ini apa lagi? Otaknya masih tidak dapat berpikir.

“kata Umma ku, mengabaikan pemberian orang lain itu perbuatan yang tidak sopan”, ia melanjutkan ucapannya namun tetap dengan wajah tersenyum.

Dengan ragu, Minho mengambilnya. Tapi ia masih tidak mengerti. Ia siapa? Kenapa tiba-tiba ada disini dan memberikan coklat padanya?

Ketika coklat itu sudah berpindah tangan, anak manis itu malah mengulurkan tangannya, “Minzy”.

HAH?

Otak nya masih belum bekerja secara sempurna. Bahkan Minho tidak yakin ia masih punya otak di dalam sana. Daritadi pikirannya kosong, tidak ada pikiran apapun yang hadir disana. Jangan-jangan ia memang sudah tidak punya otak?

“tck. Ahjussi, aku mengajakmu berkenalan. Namaku Minzy”, ia memajukan wajahnya, menatap aneh namja tampan yang terduduk lemas di lantai. Apa ia orang bukan orang Korea dan tidak mengerti bahasa kami yaa? Atau jangan-jangan orang ini tidak waras? Tapi sepertinya tidak mungkin, gadis kecil itu sibuk dengan pikirannya.

Tangan kekar Minho menyambut tangan mungil nya, “Minho”.

“ini….untuk ku?”, Minho mengacungkan makanan yang baru saja diberikan kepadanya.

Ia tersenyum lega. Ternyata ia masih bisa mengerti bahasa ku. Agak repot kalau ternyata harus mengajak bicara orang asing.

“eung. Ahjussi sepertinya lebih membutuhkan coklat itu dibanding aku, hehe. Kau pernah nonton film Harry Potter? Pasti kan? Siapa manusia di dunia ini yang tidak mengenal film tentang penyihir itu? Aku teringat film Harry Potter yang ke empat, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, saat di kereta menuju Hogwarts, Harry pingsan karena melihat Dementor, monster ‘pemakan’ rasa bahagia masuk ke dalam kereta dan diperintahkan oleh kementerian sihir untuk mencari Sirius Black, tawanan pertama yang berhasil kabur dari penjara sihir Azkaban. Lalu setelah ia sadar, Professor R. J. Lupin, guru pertahanan ilmu hitam Hogwarts yang baru, memberikannya coklat padanya untuk memulihkan tenaga. Begitu pula saat adegan Harry diajari untuk bisa melawan tiruan dementor dengan mantra patronus, ‘expecto patronum’ dan menghasilkan patronus berupa rusa jantan, setiap akhir dari sesi latihan, ia juga diberikan coklat oleh Prefessor Lupin. Jadi, aku menganggap, coklat itu punya efek menenangkan dan rasa manisnya bisa membuat orang menjadi bertenaga. Jadi, kau lebih membutuhkannya dibanding aku”, jelasnya panjang lebar.

Minho tidak terlalu mengerti apa yang diomongkan gadis ceria di hadapannya ini. Ia tidak terlalu mengikuti salah satu film Hollywood box office itu. Ia tau, tapi tidak pernah mengikuti jalan ceritanya dalam novel apalagi menonton film nya. Kesibukannya sebagai CEO di salah satu perusahaan terbesar di Korea tidak mengizinkannya untuk membuang waktu di bioskop atau tempat-tempat hiburan lain. Ribuan nyawa bergantung dengan keputusannya menjalankan perusahaan, dan harapan besar sang Appa mewajibkan si anak sulung ini tidak mengecewakannya sedikitpun!!

Tapi ia tersenyum. Anak ini bercerita dengan penuh semangat. Apalagi ketika ia mengucapkan mantra…apa tadi? Patro…entahlah. Wajahnya sangat penuh semangat dan ceria. Keceriaan yang tanpa ia sadari ternyata bisa menular, bukan hanya dengan coklat yang ia berikan, tapi justru dengan ekspresi wajahnya.

“ahjussi, bisakah kita mengobrol sambil duduk di bangku saja. Maaf, tapi aku cepat lelah kalau harus berdiri lama-lama, hehe”, ia menggaruk kening nya, malu. Matanya menatap ke bawah, ke arah dua tongkat yang menyangga sisi kanan kiri tubuhnya.

Minho tercekat. Otaknya baru bisa merespon pemandangan di depannya. Sedari tadi ia masih terduduk di lantai dan anak ini berdiri di depannya. Pasti ia lelah. Minho secepatnya berdiri dan bermaksud membantu anak itu untuk berjalan menuju bangku terdekat, tapi…

“gwaenchana ahjussi, aku bisa sendiri kok”, ia tersenyum manis berusaha menolak secara halus bantuanku untuk menuntunnya berjalan.

Aku melepaskan tangan dari bahu nya, membiarkan nya berjalan duluan di depan.

“haaah”, ia menghela nafas lega saat duduk di deretan kursi panjang berwarna merah di depan ruang ICU. Lorong itu kosong. Hanya ada kami berdua dan seorang namja paruh baya yang tertidur di ujung kursi. Helaan nafasnya teratur, sepertinya sangat lelah dan ia tertidur pulas.

Ia mengikuti arah pandang ku, “dia Appa ku”, sahutnya sambil lagi-lagi tersenyum. Entah kenapa senyum yeoja satu ini begitu mengingatkanku pada Taemin.

Ah, aku menunduk. Hati ku mencelos begitu otakku menampilkan namanya.

“orang di dalam sana…pasti orang yang sangat berarti untukmu yaa ahjussi?”

Aku menoleh. Kami baru kenal tadi tapi kenapa ia begitu mudahnya terlihat akrab dan ingin tau keadaanku, ingin memastikan aku baik-baik saja. Bukan aku tidak suka, sungguh aku justru begitu bersyukur di saat seperti ini aku tidak dibiarkan sendirian. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku sendirian, bisa-bisa otakku mengirimkan perintah macam-macam. Tapi, aku hanya….heran. Aku tidak banyak bertemu orang-orang yang mudah akrab dan berwajah setulus anak ini. Hidupku selalu dikelilingi workaholic yang juga menyeretku ke dunia yang sama dengan mereka. Hanya Taemin yang mampu menarik ku dari sana hingga saat ini. Hanya Taemin yang bahkan membuatku rela melepas segalanya hanya untuk nya. Hanya Taemin dan memang selamanya untuk Taemin. Yeoja ini….begitu mirip dengannya.

Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaannya, “sangat. Dia hidup ku”, aku menjawab lirih.

Ia tersenyum sambil menunduk. Wajahnya berubah sendu namun bibir itu tetap menampilkan senyuman nya. Ia mendadak diam.

“kau kenapa?”, aku tidak tahan untuk bertanya. Mungkin lebih tepatnya, saat ini aku sedang tidak tahan melihat orang lain juga berwajah sendu seperti itu. Entahlah, tapi ekspresi seperti itu mempengaruhi keadaan hati ku semakin memburuk saja.

“aniyo, ahjussi. Hanya aku sedang mengingat rasanya”, ia berbicara sambil tetap menunduk.

Aku mengerutkan kening, “rasa apa?”

Ia menoleh padaku sambil memiringkan kepalanya imut. Aku tau ia sedang menahan untuk menangis. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Tapi berkaca dari ekspresi Taemin yang selama ini kuamati dan kupelajari, ekspresi seperti itu adalah ekspresi seseorang menahan tangisnya, meski gadis kecil ini menampilkannya dalam bentuk yang lebih terlihat dewasa.

“rasa seperti di dalam situ”, ia menunjuk hatiku.

“rasa ketika aku merasakan perasaan yang sama. Saat hidupku pergi meninggalkanku. Ibuku akhirnya meninggalkanku dan Appa demi laki-laki lain setelah kami hidup bersama selama bertahun-tahun. Entah karena apa. Mungkin karena laki-laki itu lebih kaya dan berkuasa dibanding Appa ku yang hanya seorang guru dan menghidupi kami berdua dengan sederhana. Tidak kekurangan memang. Tapi hanya cukup, tidak mewah seperti yang dapat diberikan laki-laki baru Umma”, ia tersenyum miris.

Aku tercekat. Entah harus berbicara apa. Aku hanya ingin mendengarkan ceritanya. Ingin menghapus ekspresi sendu itu seiring kelegaan yang ia dapatkan karena membagi bebannya pada orang lain.

“Umma ku sangat cantik dan lembut. Ia seperti boneka barbie di mataku. Kata Appa, ia adalah langganan juara pemilihan Ulzzang saat ia masih sekolah. Dan ahjussi tau kan secantik apa para Ulzzang itu? Ahjussi tau SNSD Yoona Unnie? Yeoja paling terkenal di SNSD karena kecantikannya? Umma ku bahkan lebih cantik dari itu”, ia melepaskan kalung berbandul liontin berbentuk lingkaran yang dipakainya.

KLIK, ia membuka lingkaran itu, dan didalamnya, ada dua buah foto.

“ini foto Appa dan Umma ku”, ia memberikan liontin itu.

Aku mengamatinya…

Hanya dua kata, LUAR BIASA. Tidak bisa dipungkiri anak ini sama sekali tidak melebih-lebih kan cerita tentang Umma nya. Tanpa disadari, Minho malah menatap Minzy. Bagaimana ia bisa tidak sadar kalau anak di depannya ini adalah seorang putri yang sangat cantik? Ia benar-benar mewarisi 90% kecantikan sang Umma. Ia yakin, orang di dalam foto ini ketika kecil, pasti mempunyai wajah seperti Minzy saat ini. Dan itu artinya, gadis ceria di depannya akan tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Matanya bulat besar, hidung mancung sempurna, rambutnya hitam pekat lurus tapi dengan sedikit ikal menggantung alami di bawahnya. Wajahnya oval dengan dagu menggantung, putih mulus dengan pipi yang sedikit chubby kemerahan. Dihiasi bibir tipis berwarna pink yang selalu tersenyum manis dan lesung pipi di kedua sisi nya. Anak ini begitu cantik dan manis di saat yang sama, persis Umma nya. Bahkan lesung pipi itu, hal yang sama yang dimiliki ibunya karena ia sedang tersenyum di foto ini.

“cantik kan ahjussi?”

Aku mengangguk sambil menutup liontin itu dan memberikan padanya.

“dan ketika besar kau pasti juga akan tumbuh secantik Umma mu. Kalian begitu mirip”

Ia menggeleng, “mungkin dari wajah, kami berdua mirip. Tapi ketika besar kelak, aku tidak mau menjadi seperti Umma. Aku suka quote di dalam sebuah buku yang pernah kubaca, kesetiaan adalah satu-satunya mahkota yang merupakan anugerah dari Tuhan kepada setiap wanita untuk menjadikannya ratu dihadapan orang yang paling dicintai dan mencintainya. Namun, ketika mahkota itu jatuh atau bahkan hilang, seorang wanita langsung jatuh pada level terendah seorang manusia, karena ratu yang kehilangan mahkotanya, sama seperti rakyat biasa yang bukan siapa-siapa dan tidak dianggap”, ia berkata mantap.

Aku mengelus kepalanya sayang, “aku yakin kau membaca buku yang tidak sesuai dengan umur mu yaa?”

“aniiii”, ia menggembungkan pipinya. Baru kali ini ia terlihat seperti anak kecil di mataku.

“aku dan Appa sama-sama suka membaca dan kami punya perpustakaan sendiri di rumah. Entah kenapa salah satu buku Appa terselip di lemari buku ku, jadi yaa salahkan Appa kalau aku membaca buku nya. Kan itu ada di lemari buku ku, jadi aku berhak membaca apapun yang ada di situ. Lagipula aku tidak suka semua orang selalu menganggap ku anak kecil. Well, aku memang masih kecil. Dua bulan lagi umur ku baru 11 tahun, tapi kedewasaan seseorang bukan dilihat dari umur kan? Umur hanya deretan angka, tidak berarti apa-apa untukku. Apa yang kualami dan kurasakan sudah menempaku untuk bukan waktunya lagi bersikap rapuh seperti anak-anak, karena kalau aku rapuh, aku tidak akan sanggup bertahan sampai saat ini”, suaranya sedikit bergetar, tapi mati-matian ia sembunyikan itu. Memang keadaan menuntutnya untuk berpikir dan bersikap jauh melebihi anak seusianya, tapi jauh di dalam sana, tidak bisa dibohongi, jiwa itu masih jiwa seorang anak perempuan kecil yang sudah retak namun ia rekatkan kembali sebisanya. Yah, seperti katanya, hanya sekedar untuk membuatnya bisa bertahan menjalani hari-hari nya sampai sekarang, tanpa Umma nya.

Ia memalingkan pandangannya dari ku, menoleh ke arah yang lain, ke arah namja yang masih mirip dengan foto yang ada di liontin itu. Mungkin foto itu belum lama diambil. Tapi ada perbedaan jelas dari foto yang Minzy tunjukkan pada ku. Di hadapan ku saat ini, namja yang sedang tertidur pulas itu, wajahnya memang masih tampan seperti di dalam foto, tapi kini wajah itu sudah dihiasi gurat-gurat kelelahan yang sepertinya membuat umurnya lebih tua beberapa tahun dibanding umur yang sebenarnya. Wajar memang dengan segala masalah yang ada di kehidupannya.

“kata Umma dulu, Appa adalah seseorang yang hebat. Ia sangat penyayang dan berkharisma. Karena itu, ditengah banyak namja yang menyukai Umma, ia justru memilih gurunya sendiri”

“gurunya sendiri?”

Ia kembali menatapku, “emm. Appa ku adalah guru dari Umma saat ia masih sekolah. Tapi umur mereka hanya berbeda 5 tahun. Banyak yang mengatakan aku adalah anak dari hasil hubungan tidak resmi. Anak haram, begitu mereka menyebutnya. Aku selalu ingat perlakuan orang-orang pada ku sejak kecil. Mereka menganggap ku aneh. Aku tak pernah punya teman karena tidak ada orang tua yang mau membiarkan anaknya main dengan ku. Karena itu aku jadi penyendiri dan hanya berteman dengan buku. Tapi bahkan hingga detik ini, aku masih bisa merasakan belaian tangan Umma, disini, di rambutku”, ia menunjuk kepalanya sendiri.

“setiap ada orang yang memperlakukan ku begitu, Umma selalu menyemangati dan bilang bahwa itu tidak benar. Appa dan Umma melakukan segalanya atas dasar cinta, dan anak yang lahir atas dasar cinta, terlalu kejam untuk disebut seperti apa yang mereka selalu bilang padaku”, tess. Akhirnya pertahanin nya runtuh. Segala emosi yang sejak tadi ia tahan akhirnya memaksa untuk diungkapkan keluar.

“Umma ku orang yang sangat lembut. Persis seperti kata Appa, ia bukan hanya cantik secara fisik, tapi hatinya juga sangat baik. Entah *hiks* apa yang *hiks* membuatnya sekarang menjadi seperti ini”, ia menutup mulutnya untuk menahan isakan nya terdengar keluar. Melirik ke ujung tempat Appa nya berada, mungkin tidak mau isakan ini didengar oleh Appa nya.

Aku ingin memeluknya, menenangkannya, tapi kalau Appa nya bangun dan melihat anak perempuan kecil nya di peluk pria tak dikenal, aku bisa dibunuh.

Aku hanya mengelus-elus tangannya, tidak tau harus berbicara apa karena otakku sudah sangat kacau. Kacau karena keadaan Taemin, semakin kacau dengan cerita miris anak manis ini.

Ia segera menghapus air matanya perlahan, menepuk-nepuk pipi nya pelan untuk mengembalikan ekspresi nya seperti biasa, dan ia kembali tersenyum, “maaf ahjussi, aku jadi malah menceritakan kisah ku, hehe. Sebetulnya aku tidak tahan begitu ahjussi melewati kamar ku dengan wajah….mengenaskan”

Aku tersenyum. Wajahku memang mengenaskan sejak tadi. Ia benar.

“aku hanya ingin mengatakan jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. After hurricane comes a rainbow, right?”, ia mengutip sebuah lirik lagu, fireworks.

CKLEK, kamar ruang ICU terbuka dan keluarlah dokter Krystal sambil melepas masker nya, terlihat lelah.

Aku segera berlari menghampirinya, terlalu bersemangat sampai ia harus mundur selangkah ke belakang agar tidak bertabrakan dengan ku, ”bagaimana Taemin?”, tanya ku cepat.

“hhhh”, ia menghela nafas panjang seolah bingung menyampaikan sesuatu.

Ia melihat seorang anak kecil yang akhirnya menyusul dan berdiri di sampingku, “oh hai Minzy, bagaimana keadaan mu? Sudah malam kenapa malah jalan-jalan?”, aku tau Krystal hanya mengulur-ulur waktu.

“aku bosan di kamar dok. Lagipula kapan aku bisa melepas tongkat ini kalau aku tidak pernah berlatih jalan dan hanya duduk diam di kamar?”

Ia mengelus kepala Minzy sambil tersenyum, “terserah kau saja. Jangan terlalu lelah, arra?”

Ia menoleh pada ku, “kita berbicara di ruangan ku. Kau sudah kenal Minho?”, ia menundukkan badannya dan berbicara pada yeoja manis disebelahku.

“emm. Kami berbincang banyak, hehe”

“kalau begitu kupinjam Minho sebentar yaa?”

Ia mengangguk dan Krystal berjalan menuju ruangannya.

Aku berjalan di belakang mengikutinya, lalu “Minho oppa”

Aku menoleh.

“jangan lupa makan coklatnya, nee. Harganya mahal. Aku marah kalau kau tidak memakannya”, ia tersenyum menampilkan lesung pipinya.

Aku hanya mengangguk.

“Minho oppaa”, ia memanggil ku lagi baru selangkah aku berjalan.

Ia berjalan mendekat secepat yang ia bisa menggunakan tongkat itu.

“aku mendoakan semoga hidup mu yang di dalam sana”, ia menoleh ke ruang ICU, “cepat kembali pada mu lagi. Tetap semangat dan tersenyum!! Karena senyuman itu memberikan energi positif untuk lebih banyak orang yang membutuhkannya”

Aku mengelus kepalanya, “doa yang sama untuk mu juga yaa. Tetap tersenyum!! Kau sangat cantik jika tersenyum”, aku kembali berjalan, namun beberapa langkah aku berbalik, “Minzy, gomawo”, ucap ku sambil melambaikan coklat pemberiannya.

Ia tersenyum, “no problem oppaaa”…

@ Dr. Jung Krystal’s Room…

“apa yang mau dokter sampaikan? Kenapa harus di ruangan?”, aku menatapnya lekat. Tanpa ku ketahui, ada sesuatu yang berdesir di dalam hati dokter cantik itu. Ia menunduk. Calm down, Krys!! Jangan berpikir macam-macam!!

“aku hanya tidak mau omongan seperti ini didengar anak sekecil Minzy dan aku tidak tega untuk menyuruhnya pergi, jadi lebih baik bicara disini”, ia menjelaskan cepat. Hatinya masih aneh begitu melihat tatapan Minho padanya tadi.

“hhhhh”, ia kembali menghela nafas panjang. Sulit sekali mengatakan sesuatu. Sebetulnya ia sedang sulit mengendalikan perasaannya saat ini. Tenang Krystal!! Profesional lah seperti biasanya!!

Ia mengangkat kepalanya, menatap ku tajam, meskipun aku melihat ada sedikit rona kemerahan di pipi putihnya, “kau lupa apa yang kubilang padamu sejak awal? Sejak aku mengatakan Taemin hamil? Ini kasus langka. Bukan tidak pernah terjadi, tapi masih sangat langka, dan istrimu”, suara nya agak bergetar ketika mengucapkan itu.

“adalah salah satu orang istimewa yang dipilih Tuhan untuk menerima anugerah bisa mengandung seorang bayi. Kuulangi, ia istimewa, karena itu kau harus menjaganya dengan penjagaan yang istimewa pula, dan kau sangat yakin bisa menjaganya sejak awal!! Tapi apa buktinya? Usia kandungan Taemin baru 5 bulan”, ia menggunakan kata ganti untuk kata ‘istri’.

“usia kandungan yang masih begitu muda dan rentan bahkan untuk kandungan normal sekalipun. Apalagi kandungan yang seperti Taemin rasakan? Dan mana penjagaan yang kau janjikan dulu? Masih ada 4 bulan ke depan, waktu yang cukup lama, tapi bahkan kau sudah lengah di awal start!! Taemin mengalami pendarahan, yang untuuuungnya kau sigap membawanya kesini sehingga Tuhan masih menyayangi nya dan sang bayi. Mereka masih bisa selamat, SEKARANG!! Kami perlu pemeriksaan lebih lanjut tentang apakah kejadian ini akan mempengaruhi sang Umma dan aegya nya beberapa bulan ke depan bahkan sampai proses melahirkan. Kalau memang ada indikasi ke arah sana, maka maaf dengan terpaksa Taemin harus melahirkan sebelum waktunya”

“prematur?”, aku berucap sangat lirih. Kau tau rasanya? Seperti melayang jatuh tanpa ada alat bantu, seluruh organ-organ di dalam tubuhmu mencelos ke bawah.

Ia mengangguk, “tapi itu perlu pemeriksaan lebih lanjut dan pengontrollan secara teratur. Satu yang bisa kusimpulkan sekarang, kandungan Taemin menjadi semakin jauh lebih lemah. Kandungannya memang sudah lemah sejak awal, tapi dengan kejadian seperti ini, semakin memperparah keadaan yang memang sudah sangat rentan”

Suara dokter itu semakin terdengar kecil. Bukan karena ia memelankan suaranya, tapi entahlah, aku seperti melayang menjauh. Entah sensasi apa itu. Aku mencengkeram meja agar tidak jatuh.

“kami sudah memberikan segala yang kami mampu lakukan. Tapi apakah itu akan berefek pada tubuhnya atau tidak, kami tidak tau. Obat-obatan dalam keadaan seperti ini, dirancang untuk seorang wanita. Tapi jika pria yang meminumnya, kami belum tau apa menimbulkan efek yang sama atau justru malah tidak berefek apa-apa. Karena itu, sangat diperlukan waktu untuk bisa menjawab semua pertanyaan itu”, ia menggigit bibirnya. Kode etik kedokteran membolehkan seorang dokter merahasiakan keadaan yang sebenarnya pada pasien jika dirasa dengan mengatakan hal yang sebenarnya, pasien malah akan putus asa. Tapi sebaliknya, dokter dituntut untuk harus selalu mengatakan hal yang sebenarnya pada keluarga pasien. Tapi kalau malah dengan ini Minho akan putus asa, apa bukannya justru akan semakin memburuk keadaan?

“apa….ada harapan?”, Demi Tuhan aku butuh apapun untuk menguatkan ku sekarang!! APAPUN!!! Bahkan kalaupun dokter ini memberitahukan ku harapan kosong pun sekalipun sungguh akan kusyukuri itu.

harapan akan selalu ada untuk orang yang mempercayainya”, ia tersenyum.

“kami selalu mengusahakan yang terbaik untuk setiap pasien kami. Apalagi ini menyangkut dua nyawa sekaligus. Banyak berdoa Tuan Choi. Kami, para dokter hanyalah manusia biasa yang diberi pengetahuan untuk bisa berusaha lebih dari yang bisa dilakukan orang lain. But final answer still and never can be changed, in God’s hand”

Aku menunduk…

Dua tetesan air bening jatuh, tanpa suara, tanpa aba-aba. Air yang aku tak tau apakah dari mata atau hati ku.

Tuhan…

Marahkah Kau pada ku kali ini…

Krystal tercekat. Omooo, Minho menangis? Sepertinya aku harus memberitahukan ini sekarang.

Tiba-tiba…senyuman lembut hadir di wajah wanita cantik berbaju putih di depan ku ini…

“Tuan Choi, mau kuberitahu sesuatu yang…….menarik?”

Aku mengangkat kepalaku, menatapnya…

Lagi-lagi ada desiran aneh dihatiku ketika mata kami bertemu. Krystaaaalll, jangan gilaaaa!!!!

“tadi kubilang kalau Taemin istimewa kan? Kau tau kenapa aku mengatakan hal itu? Karena ia istimewa bukan hanya ia bisa mengandung padahal mempunyai fisik seorang laki-laki, tapi ia istimewa….juga karena aku menduga kuat ia sedang mengandung…2 bayi saat ini”

HENING…

DIAM…

PUTIH…

@ kediaman keluarga Lee..

Lee Jinki, namja tampan pewaris utama bisnis keluarga Lee, seperti biasa sedang berkutat dengan laptop dan tumpukan berkas-berkas di meja.

CKLEK…

“Jinki”, suara bass yang lembut terdengar memanggil namanya. Ia mengangkat kepalanya lalu tersenyum.

“nee Appaa”, seorang namja yang sudah terlihat tua namun masih tampan dan kharismatik itu masuk ke dalam ruang kerja putra angkatnya.

“sedang apa? Sudah malam, belum tidur?”, ia menarik bangku di depan Jinki kemudian duduk.

Namja tampan itu menampilkan senyuman gigi kelincinya, “sebentar lagi Appa. Hanya memeriksa beberapa laporan tagihan dari para supplier. Appa tidurlah duluan”

“beberapa? Kelihatannya tidak begitu”, ia menunjuk tumpukan tinggi map di meja krja mewah itu.

Jinki hanya tersenyum, “itu tidak sebanyak yang Appa pikirkan. Ini semua sudah dikerjakan staff ku. Aku hanya memeriksa nya saja. Ini persoalan tagihan, jadi semua harus lebih berhati-hati dan tidak boleh ada kesalahan karena menyangkut perputaran keuangan perusahaan”.

Ya, putra kebanggaannya ini memang orang yang begitu workaholic dan perfeksionis. Tuan besar Lee sudah menganggap dirinya terlalu tua untuk mengurusi semua bisnis ini. Perusahaan Lee bukan perusahaan kecil, karena itu ia hanya mempercayakan tampuk kepemimpinan dipegang oleh orang-orang yang sangat capable di bidangnya dan ia percaya, Jinki salah satunya. Dan pilihannya tidak salah. Saat kursi teratas ia serahkan pada Jinki, perusahaan mereka justru semakin besar sehingga memasukkan nama Jinki sebagai salah satu pengusaha muda paling cemerlang di Seoul, bahkan untuk kawasan Asia. Berbarengan dengan nama Jonghyun, suami Key, Minho dan Changmin, menantu dan calon menantunya. Ah, mengenai Changmin…

“Jinki, bagaimana hubungan mu dengan Changmin?”

Namja tampan itu tertegun sambil tetap menunduk. Gerakan pena nya yang sedari tadi ia coret-coretkan di atas kertas tiba-tiba berhenti. Tidak biasa-biasanya Appa nya ini menanyakan hal begitu pada nya. Biasanya pembicaraan antara mereka hanya seputar bisnis dan Taemin, putra bungsu sekaligus putra kesayangan keluarga Lee yang luar biasa manja itu. Tuan besar Lee dan Tuan muda Lee mempunyai sifat yang sama. Pendiam, hanya berbicara seperlunya, hal-hal yang mereka anggap penting untuk dibicarakan. Tangan mereka lebih banyak berbuat dibanding mulut yang berbicara. Apalagi pembicaraan mengenai hal sensitif begini, sangat jarang dilakukan.

Ia tersenyum, “tumben Appa menanyakan itu. Kami baik-baik saja, Appa”

Suasananya tiba-tiba canggung. Jinki kembali menulis, sementara Appa nya mengelus tengkuk nya. Haaah, ayah dan anak ini memang tidak ‘dirancang’ untuk melakukan pembicaraan seperti ini.

“lalu kapan?”, Appa nya kembali bertanya. Sengaja menggantungkan ucapannya karena ia yakin Jinki mengerti.

Terdiam sejenak. Ia berusaha memikirkan jawabannya, “mollayo. Kami masih sama-sama sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing Appa”, ia mengatakan itu sambil tetap menulis, dan sesekali matanya menatap ke arah layar laptop nya.

“Lee Jinki”, namja tampan itu berhenti menulis. Jika Appa nya sudah memanggil dengan nama lengkap, maka itu berarti ada sesuatu serius yang ingin dia bicarakan. Ia mengangkat kepalanya, menatap sang Appa serius.

“kau tidak menganggap tanggung jawab atas perusahaan Lee yang kuserahkan padamu itu menghambat kehidupan pribadi mu kan, nak?”

Ia menggeleng kuat, “kenapa Appa berpikiran seperti itu? Keluarga ini sudah terlalu baik pada ku, hanya dengan seperti ini, hanya melakukan ini, aku berusaha untuk bisa membalas kebaikan Appa dan Taemin padaku sejak dulu, walau tentu saja belum sebanding dan mungkin tidak akan pernah sebanding”

“kau tau kan Appa tidak pernah suka kau menyebut keluarga mu sendiri dengan kata ganti ‘keluarga ini’. Sejak kau menjadi bagian dari keluarga Lee, aku dan pasti juga Taemin, satu kalipun kami tidak pernah menganggap kau adalah orang lain. Jangan pernah melakukan sesuatu atas dasar balas budi, Jinki. Karena memang tidak ada hal apapun yang perlu kau balas”, ia memundurkan kursi nya dan berdiri.

“sebetulnya Appa kesini karena ingin mengobrol lebih jauh dengan mu, tapi kita berdua sepertinya memang tidak bisa banyak berbicara yaa”, ia tersenyum.

“tidurlah. Jangan terlalu lelah. Selamat malam, Jinki”

“malam, Appa”

Pintu tertutup.

Hhhhh, Jinki meletakkan pena nya dan menyender ke kursi kerja mewahnya. Selalu saja berakhir begini. Jinki dan Appa nya hanya bisa ‘mengobrol normal’ kalau ada si kecil Taemin. Sebetulnya sama seperti Appa nya, ia juga ingin mengobrol banyak seperti layaknya ayah dan anak, tapi… sifat mereka berdua entah kenapa sangat sulit mengizinkan mereka untuk bisa melakukan itu.

Melihat ke arah telfon, menghubungi seseorang yang dirindukannya.

Beberapa kali nada tunggu, tidak juga diangkat. Menelfon ke ponsel suaminya…hasilnya sama, tidak juga diangkat. Menelfon rumahnya, tetap nihil. Ia memang tau kalau malam begini, di rumah adiknya itu tidak ada asisten rumah tangga. Tapi mereka pasti selalu ada di rumah kecuali jika ada urusan mendesak, karena Minho pasti tidak mungkin memperbolehkan Taemin keluar malam-malam.

Bangun dari duduknya, merapihkan berkas dan menutup laptop. Entah kenapa perasaannya aneh. Ia mengambil jaket yang tersampir di sandaran kursi dan kunci mobil, kemudian keluar.

Melewati ruang tengah, ia berhenti. Pemandangan disana yang membuatnya berhenti.

Appa nya sedang duduk di kursi piano. Matanya memandangi foto yang ada di sana. Jinki tau benar foto siapa itu. Foto Umma nya, orang yang belum pernah ia lihat secara langsung karena ketika ia dibawa ke rumah ini, wanita cantik itu sudah tiada. Malam ini, Appa nya pasti kesepian. Karena itu ia tiba-tiba datang ke ruang kerja nya dan mengajaknya bicara. Ia pasti merindukan sosok yang selalu Taemin banggakan. Sosok lembut, cantik, dan sangat keibuan. Ia melangkah masuk. Ia semakin ingin ‘meminjam’ Taemin sehari di rumah ini. Ia matahari, dan kehadirannya mampu mencairkan apa saja, termasuk keadaan di rumahnya saat ini. Hanya Taemin yang mampu mengobati air mata itu, karena sosok nya yang begitu menyerupai sang Umma. Karena Taemin lah, Appa nya bertahan untuk tetap sendiri, menjaga kesetiaan itu sampai akhir, sampai Tuhan yang akan mempertemukan mereka disana, kelak.

“Appa”, memanggilnya pelan.

Lelaki yang dipanggil itu menoleh.

“nee?”, ia sedikit heran melihat ku.

“kau mau kemana malam-malam begini?”

“ke rumah Taemin. Aku merindukannya”, Jinki tersenyum.

Ia mengangguk, “sampaikan salam ku untuk adik mu itu yaa. Appa juga merindukannya. Kau nasihatilah dia, suruh ia mengurangi sifat manja dan childish nya itu. Kasihan Minho, Appa yang tidak tega melihatnya terus menerus berkorban karena kemanjaan adikmu itu”

Jinki tertawa, “anak itu sudah terbiasa dimanjakan setiap orang, Appa. Selepas dari kita, ia begitu dimanjakan Minho, jadi selama suaminya itu tidak tega untuk membuatnya lebih dewasa, Taemin akan terus seperti itu. Tapi pasti akan kucoba, biar bagaimanapun, anak itu sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Minho bisa menjaga dua bayi jika istrinya terus bersikap seperti itu”.

See, pembicaraan tentang si manja itu selalu berhasil memancing suasana akrab dan sama sekali tidak canggung diantara mereka.

Appa nya mengangguk, “memang sedari awal salah kita karena terlalu memanjakannya. Sampaikan salam Appa untuk Minho yaa. Kau hati-hatilah di jalan”

Jinki tersenyum dan keluar. Kehadiran Taemin pasti akan membahagiakan Appa nya malam ini. Biar bagaimanapun, ia harus mampu membujuk Minho untuk membawa Taemin menginap di rumah ini, malam ini juga!!

Sesampainya di rumah Minho dan Taemin…

Pintu gerbang terbuka otomatis. Pintu mereka dilengkapi sensor yang hanya akan membuka pada mobil Minho, Jinki, Key, Jonghyun, orang tua Minho dan Appa Taemin. Selain orang-orang itu, mobil tidak dapat masuk ke dalam kecuali atas izin pemilik rumah.

Jinki keluar dan melihat keadaan. Sepi. Bahkan lampu di teras dan taman belum dinyalakan.

Ia melangkah masuk. Memencet bel, tidak ada yang keluar membukakan pintu. Ini semakin aneh di pikirannya. Kemana mereka?

Mencoba meraih handle pintu, terbuka. Jinki tercekat. Pintu tidak terkunci sementara rumah seperti ditinggal penghuni nya. Perasaannya semakin tidak enak. Apa ada yang terjadi?

Ia melangkah masuk, dan detik itu juga ia langsung mundur selangkah.

Di lantai putih marmer mereka, ada banyak tetesan darah. Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?

“TAEMIIIINNN”, Jinki berteriak sambil berlari masuk ke dalam rumah. Mengikuti arah tetesan darah tersebut, dan sampai di dapur. Tapi tidak ada siapapun. Ia melihat ponsel Minho tergeletak di meja makan. Berlari kembali memasuki setiap ruangan bahkan kamar mandi di dua lantai rumah mereka. Tidak ada siapapun.

SHIT!! Ia menjambak rambutnya sendiri, frustasi!! Apa yang sebenarnya terjadi?!

Ia mengeluarkan ponsel dan menelfon seseorang.

“Key, kau bersama Taemin atau Minho?”, ucapnya begitu terdengar suara di seberang sana.

Key mengerenyit heran, kenapa ayam satu ini? Bahkan telfonnya tanpa kata ‘yoboseyo’.

“anii, hyung, aku bersama Jonghyun sedang makan malam. Waeyo? Kenapa suaramu begitu? Kau habis olahraga malam-malam begini?”

Tanpa sadar Jinki mengepalkan tangan. Kalau bukan dengan Key atau Jonghyun, lalu dimana mereka?

“kau…kau punya…”, ia kebingungan mencari kata yang tepat. Kalau Key sudah ‘bergabung’ dalam kasus ini, semuanya pasti akan tambah repot. Tapi Key adalah orang yang paling mengenal Taemin, kan? Siapa tau ia punya informasi. Tapi bagaimana caranya mengetahui itu tanpa membuatnya curiga ada sesuatu yang terjadi? Otak nya berputar cepat.

“kau tau tidak mereka pergi kemana? Atau apa ada tempat yang biasa mereka datangi?”

Di seberang sana, Key semakin heran tentang pertanyaan hyung nya satu ini. Memangnya ada apa sih?

“Key, kau mendengarkan ku?”, Jinki bertanya begitu orang yang sedang ditanya serius malah diam.

“a-ah, nee hyung. Memangnya ada apa?”

Akhirnya pertanyaan ini keluar juga!!

“eemmm, tidak ada apa-apa, jangan khawatir”, tenang Jinki!! Buat dia percaya!!

“aku hanya rindu adik ku tapi rumahnya kosong. Memang malam-malam begini Taemin diperbolehkan keluar?”

“rumahnya kosong? Kodok jelek itu tidak mungkin membiarkan istri tersayang nya keluar malam-malam begini…yah, kecuali kalau ada urusan yang memang benar-benar penting. Memeriksa kandungan misalnya”

GOTCHA!! BODOH JINKI!!! Kenapa tidak kepikiran?? Kalau memang darah ini berasal dari *okei jangan pikirkan itu*, mungkin Minho membawanya ke rumah sakit, kan? Apalagi dia sampai lupa membawa ponsel nya? Orang yang lupa membawa benda pribadi seperti ponsel, biasanya karena ia sedang sangat terburu-buru…

“kau tau dimana rumah sakit tempat Taemin biasa memeriksakan kandungannya?”, pertanyaan basa-basi sebetulnya karena tentu saja Key pasti tau!! Jika Minho tidak bisa mengantar Taemin untuk periksa, ia pasti akan menyerahkan tanggung jawab itu pada sang Umma, Kim Keybum.

“Seoul Hospital, bersama Dokter Krystal. Kau tidak tau? Makanya jangan sibuk mengurusi bisnis mu, heiiii….”

Telfon diputus…

Ayam kurang ajar!!!

Ia segera keluar menuju mobilnya dan melaju menuju rumah sakit.

@ Seoul Hospital…

PUTIH…

Ini dimana?

“ahjussi, Minho ahjussi, kau sudah sadar?”, perlahan kudengar suara mungil memanggil nama ku. Apa aku sudah mati?

Perlahan kubuka mata.

Terlihat…bidadari kecil dengan wajah cemas menatap ku…

Apa benar aku sudah mati?

“ahjussi”, bidadari kecil itu menggerak-gerakkan tangannya di depan mataku.

“kau sudah sadar?”, ia mengulangi pertanyaannya.

“ini”, ia menyodorkan sesuatu. Sesuatu yang familiar di mataku. Coklat?

“Minzy?”, aku mencoba duduk.

Hhhh, ia menghela nafas lega dan membantuku untuk duduk.

“jinjjayo kau ini memalukan, ahjussi. Badan mu kekar, tapi jatuh pingsan sampai dokter Krystal kebingungan memanggil para perawat. Aku saja yang wanita dan masih kecil tidak pernah pingsan”, ia menyipitkan mata, meremehkan.

“aku…pingsan?”, mana mungkin?

“ini dimana?”, aku berusaha mengingat-ingat. Terakhir kali, aku ada di ruangan dokter dan ia memberitahuku…

“ruang perawatan. Kau dipindahkan kesini, sekamar dengan…”

Omoooo…

“Taemin”, reflek aku memanggil namanya dan melihat sekeliling.

“kenapa ia bisa dipindahkan kesini? Memang keadaannya sudah bisa dipindahkan dari ruang ICU?”, aku bertanya pada Minzy.

“aku tidak tau, tapi kata Dokter Krystal keadaannya sudah membaik”

Mengamati wajahnya. Wajah nya memang sudah tidak pucat. Ia lebih terlihat seperti orang yang tertidur tenang. Dua selang infus masih mensuplai kehidupannya. Untuk makanan dan obat, serta satu selang yang menghubungkan dengan kantong infus yang berisi cairan merah untuk menggantikan cairan di dalam tubuh karena pendarahannya.

“jadi, kakak cantik itu, namanya Taemin?”

Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

Aku memegang tangannya, masih sehangat dulu. Tidak pernah berubah. Mendekatkan wajahku, mata ku terpusat pada bibir plum itu, namun…

“ahjussi”, ah, aku lupa ada anak di bawah umur di ruangan ini. Aku menoleh…

“ia…sedang mengandung yaa?”, Minzy bertanya sambil mendekati kami.

Aku hanya mengangguk dan kembali memandang wajah angelic di hadapanku.

“hebat sekali. Padahal ia sama seperti mu kan?”, sama sepertimu? Oke aku mengerti maksud frase itu.

“ia pasti orang yang istimewa sampai Tuhan memberikan keistimewaan sebesar itu padanya”, ia berkata lembut sambil tetap memandang Taemin.

Aku menoleh menatap anak kecil di sebelah ku, “istimewa? Kau tidak menganggap nya…aneh?”, aku teringat kejadian di reunian ku waktu itu.

T               B                 C 

 

Gaaahhhh, 34 page bos!!! Gelaaaa, ini ff panjang banget yaaaakkk!!!!

 

Sekali lagi, kalo pendek, berarti dipotong!!!!

 

RCL yaaa..

 

Tengkyuuu so maaacchhhh, ma’acih udah setia nunggu nii ff.

 

Semoga sukaaaa…

 

Tha_tha Babaiiii…

PS : vienasoma yang potong…………… hohoho 

next chapt bakal  SERUUUUUU…………. KEREEEENNNNNNNNNNNNNNN….. DAEBAK POKOKX… ADAGERJFFDHERHRDFRE………… AMPE SAYA GK BISA MENJELASKANNYA DENGAN KATA2…. MINHO SUAMI IDAMAN… SI KEY YANG ASTAGA MENYIKSA ONJONGHO KARENA TETEM MW LAHIRAN…

KOMEN BNYK LGSG SAYA POST NTAR MALAM LANJUTANNYA…. 60 KOMEN.. REQ AUTHORNYA…

BUBYE….. *LAMBAI KOLOR 2MIN* 

123 thoughts on “[2min/YAOI/MPREG/Part 6 END] OUR PRECIOUS ONE… (A of B)

  1. tbc? TBC? T. B. C. ? Aaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrgggggggggghhhhhhhhhh aku mau Pasword please, balas pesanku neeeeeeee. 085773xxx310 please😥

  2. ciii yang anaknya kembar..
    itu minzy pertamanya manggil oppa trua udah berubah jadi ajushi..
    onew pintar juga ngga ngasih tau key kalau ngga semuanya bisa berabe..
    tae kpan bangunnya kangen ma manja-manjany dia..

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s