[2min/2Shoot/Transgender] Rainbow and Storm, We Learned It Together…part 1 of 2


Foreword :

 Anyyeong haseyooo, maaf lama ga balik-balik yaa. Balik lagi ke genre smuut. YAP, INI SMUUTTT!!! Gue mencoba untuk nulis ini. BASED ON TRUE STORY. True story nya siapa? Siapa aja boyeeeehhh. Mau tau aja ciii kamuuu, hehehehehe. Maaf yaa buat adminnya, gue lagi seneng nulis transgender.

 Disini nyeritain 2min masii keciiilll, imut-imut gitu pokoknya. Sampe mereka dewasa dan yaah seperti judulnya, saat mereka hanya baru mengenal apa itu awan putih, hingga kini mereka mulai belajar mengenai pelangi dan badai bersama-sama.

 Sebenernya terinspirasi dari salah satu ff nya Cendooolll judulnya ‘married’ (ciee yang sebentar lagi bakal pergi ehhmm kesana *?*, gue minta oleh-oleh singa idup aja deh pokoknya yaa :p )

 Tenang aja kok ceritanya ga sama, ini kan kisah nyata. Yaa, lagi mengingat-ingat masa kecil aja sih. Lagi menggalau.

 Maybeee, ff ini bakal jadi ff terakhir yang gue buat dalam waktu yang agak lama. SERIUS ini. Setelah dipikir-pikir entahlah, gue akan sibuk kalau udah masuk kuliah nanti. Gue ngambil 23 sks, dan zzzzz gue bunuh diri memang dengan ngambil segitu, huehehe. Apalagi matkul nya juga, errrr, males bahas. Belom acara kampus juga lagi jalan. Ini itu. Dan…hhhhhh *menghela nafas*.

 Jadiiii, AKU RESIGN YAAAAA!!!!! :p

 Kalo gaa, ya hiatus setaun :p

 Admin nya udah ngizinin kok, hehe.

 Abis gue kalo cape suka ga jalan otaknya *dongdong emang*

 Specially For You : M.Alrasha Ramadhan… Thanks for everything…

 Nb : disini ceritanya 2min seumur yaa..

 Hope you likeeeeyyy…

 Cue…

By : TaeminhoShouldBeReal

.

.

 Taemin Side…

 “Ummaaa”, teriak ku dari teras rumah. Aku sedang duduk di bangku depan, melihat kesal pemandangan di depan sambil memeluk sebuah boneka beruang kesayangan ku. Kaki ku menggantung di kursi, belum sampai di lantai. Sesekali mengeratkan pelukan ku karena udara agak sedikit dingin pagi ini.

 “apa sayang?”, umma ku menjawab tapi tak juga keluar. Masih sibuk di dalam rumah, entah sedang apa.

 Aku mulai kesal panggilannya tak ditanggapi.

 “Ummaaa siniiiiiiii”, aku mengulangi teriakan ku, kali ini lebih keras. Urgh, aku BENCI diabaikan!! Sangat!!

 “apa Taemiiiiiinnnn? Umma sibuk, nak”, Umma kembali menjawab namun tak juga menghampiriku.

 Aku kesal!! Turun dari bangku, lalu mulai masuk ke dalam rumah.

 “Ummaaa, eodigaaa?”, aku kembali berteriak sambil mencari-cari Umma ku. Dimana sih? Kok tidak ada di ruang tengah?

 “ada apa sih Taemiiin?”, sang Umma muncul dari dapur dengan apron seperti biasa nya. Bersabar menghadapi si anak manjanya yang entah kenapa sedang bad mood hari ini sejak bangun tidur tadi pagi.

 Begitu melihatnya, aku merentangkan tangan dilengkapi ekspresi manja yang biasa ku tampilkan ketika sedang merajuk. Sang Umma hanya tertawa kecil melihat tingkah putri super manja nya itu dan mulai mengangkatnya, menggendong ke pelukannya.

 “ada apa sayang?”, rambut lurus hitam sebahu ku dielus lembut oleh Umma.

 “hujjjaaaannn”, ia menunjuk ke arah luar dengan muka ditekuk. Sang umma mengikuti arah pandang putri nya. Memang sedang turun hujan cukup deras diluar.

 “lalu kenapa?”, Umma bertanya heran atas pertanyaanku tadi.

 “huuuhh”, si mungil mengggembungkan pipi menimbulkan lengkungan senyuman siapapun yang melihatnya. Kenapa masih bertanya juga sih? Kan tau jelas aku tidak pernah suka hujan!!

 “Ummmaaaaa, kalau hujan, Minho jadi tak bisaa maiiinnn kesiniiiii”, jawaban ku polos menundukkan kepala. Pertanyaan itu harusnya tidak usah ditanya lagi kan? Itu kan hal yang sebetulnya sudah sangat Umma nya mengerti. Siapa lagi yang biasa membuat putri nya ini uring-uringan seharian, selain namja mungil nan tampan itu. Hujan memang turun sejak dini hari tadi dan belum berhenti hingga saat ini, jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, waktunya 2 anak ini biasa bermain. Memang begitu ia bangun dan mendengar suara gemericik hujan, ia segera turun dan menghambur berlari keluar. Putri nya ini sudah mulai marah-marah dan semakin memburuk ketika hingga tiba waktunya ia bermain, hujan itu masih belum berhenti juga.

 Ah, belum memperkenalkan diri, nee? Lee Taemin, seorang yeoja mungil berumur hampir 4 tahun. Dan yang sering orang bilang ‘namjanya’ adalah Choi Minho. Kami seumur, hanya lebih tua sang namja beberapa bulan. Daerah tempat kami tinggal ditempati oleh orang-orang yang sibuk bekerja. Sangat jarang ada anak-anak disana apalagi yang masih kecil seperti kami. Kalaupun ada anak-anak, semuanya sudah bersekolah, dan hanya menyisakan kami berdua yang belum sekolah dan dirumah sepanjang waktu. Rumah kami berdekatan, mungkin hanya berjarak sekitar 4 rumah. Dan sejak kecil, bahkan sejak bayi, kami memang selalu berdua, hingga pernah ada pembicaraan untuk menjodohkan kami saat besar. Tentu saja saat itu kami belum tau apa itu jodoh, menjodohkan atau apapun perkataan aneh dari para Appa dan Umma. Yang kami tau, atau lebih tepatnya yang aku tau dan aku mau, Minho ada di samping ku, selalu, sampai kapan pun!! Karena Minho itu punya Taemin!!!

 “nanti juga hujannya berhenti. Kalau hujannya sudah berhenti, Minho pasti kesini, arra?”, sang Umma lagi-lagi mengelus kepala ku.

 “kapaaaan?”, aku meminta jawaban kepastian dari yeoja cantik yang tersenyum manis di depanku itu.

 “Umma tidak tau, sayang. Yang menurunkan hujan itu Tuhan, bukan Umma. Jadiii, kalau Taemin ingin hujannya berhenti, Taemin harus minta pada Tuhan“, sang Umma mulai menurunkan aku dari gendongannya.

 “caranyaa?”, aku lagi-lagi bertanya.

 “tinggal bilang saja. Di luar, Tuhan pasti lihat dan dengar”, sang Umma tersenyum sambil merapihkan pakaian hangat yang kupakai.

 “sudah yaa, Umma mau masak lagi. Kau mainlah dulu bersama MouMou mu itu yaa”, ia kembali ke dapur.

 MouMou, nama dari boneka beruang yang sudah menemaniku semenjak kecil. Kata Umma itu hadiah dari Umma Minho ketika aku lahir. Entahlah kenapa kunamakan begitu. Hanya reflek ketika aku sudah mulai bisa berbicara, aku menyebutnya begitu. Keluarga kami memang dekat, mungkin ini disebabkan karena kedekatanku dengan Minho. Bahkan orang tua Minho sudah menganggap ku anaknya sendiri.

 MouMou sendiri boneka favorit ku yang ku bawa kemanapun. Bukan karena itu boneka ku satu-satunya atau yang paling besar. Boneka itu hanya boneka beruang biasa berukuran normal, tapi entah kenapa aku paling senang dengan boneka itu, mungkin karena sejak bayi aku sudah terbiasa melihat nya. Aku punya banyak boneka, dan koleksi kesayanganku adalah boneka beruang berperut gembul Winnie the Pooh. Bukan hanya boneka, beberapa barang-barang yang ku punya pun bergambar beruang madu itu. Bahkan sampai Minho kadang memanggil ku Pooh. Ya, mungkin bisa dibilang itu panggilan kesayangan Minho pada ku. Kami belum mengenal apa itu panggilan kesayangan saat itu,. Ia memanggil ku begitu hanya karena Minho terlalu banyak melihat barang-barang bergambar beruang lucu itu di rumah ku, jadi reflek ia memanggil ku begitu.

 Aku segera berlari ke teras rumah lagi. Hujan masih belum berhenti. Aku menatap ke atas, reflek, karena setauku Tuhan itu adanya di langit kan?

 “emm, halo Tuhan. Aku Taemin. Kau mengenalku tidaaak?”, aku bertanya polos.

 Tidak ada jawaban…

 Aku menggembungkan pipi lagi. Ergh, sombong! Masa pertanyaanku tidak dijawab?

 Aku melanjutkan…

 “baik kalau Kau tidak mengenalku, tapi bisa kan pertanyaanku dijawab? Kata Umma, kalau orang bertanya itu harus dijawab! Kalau tidak dijawab, namanya tidak sopan tauuu”

 Lagi-lagi tidak ada jawaban…

 “ish. Ummaaaaaa”, aku kembali menghambur ke dalam rumah. Menghentakan kaki, kesal!!

 “ada apa lagi, nak?”, Umma kembali menghampiriku dari dapur.

 “Tuhannya somboooong”

 “HAH?”

 “masa pertanyaanku tidak dijawab? Kan kata Umma kalau ada yang begitu artinya sombooong, tidak sopaaan”, aku berkata dengan ekspresi wajah serius.

 Umma hanya terkekeh pelan.

 Dunia anak-anak begitu putih…polos.

 “Taemin sayang Umma, tidak?”, ia berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan ku.

 “emm, tentu sajaa”

 “Umma juga sayang Taemin. Taemin percaya itu?”, ia mulai menjelaskan pelan-pelan pada ku.

 Aku hanya mengangguk.

 ”nah, kalau Umma sedang sibuk dan Taemin memanggil Umma dan Umma tidak menjawab, bagaimana?”

 “emmmm“, aku berfikir.

 “Taemin kesaaalll”

 “pernah tidak Umma seperti itu? Taemin memanggil dan Umma tidak menjawab?”

 Lagi-lagi aku befikir, mencoba mengingat.

 “sepertinyaa…pernah”

 Umma tersenyum..

 “lalu setelah itu, apa Umma jadi tidak menyayangi Taemin?”

 Aku menggeleng…

 “Umma tidak menjawab karena Umma…..”, ia menggantungkan ucapannya.

 “sedang mengerjakan yang lain”, aku mulai mengerti.

 “pintar”, ia mengusap pucuk kepalaku.

 “jadiii, Tuhan bukannya tidak mendengar dan tidak mau menjawab atau Tuhan sombong. Sama sekali tidak. Tuhan menyayangi Taemin, karena Taemin itu ciptaan Nya. Sama seperti Umma yang menyayangi Taemin karena Taemin itu anak Umma. Tuhan hanya sedang mengerjakan hal lain, tapi ia tetap mendengar kalau Taemin memanggilnya. Jadi, tetap lah berdoa, karena Tuhan bukannya tidak mendengar. Ia mendengar, hanya untuk panggilan mu, akan dijawab nya nanti. Karena bukan cuma Taemin yang memanggil Tuhan, banyak orang memanggilnya dan Dia harus menjawabnya satu persatu. Sibuk kan?”, Umma tersenyum.

 “mulai sekarang, coba tanamkan di dalam sini”, Umma meletakkan tangannya di dada ku.

 “bahwa Tuhan bukan tidak mendengar. Hanya ada waktu nya Dia akan menjawab panggilanmu, arra? Waktunya yang hanya Tuhan yang tau kapan. Jadi Taemin harus sering memanggilnya. Semakin sering Taemin memanggilnya, akan semakin cepat juga Tuhan memperhatikan Taemin”

 “kalau begitu, Taemin harus tetap berdoa walau Tuhan tidak menjawab”

 “walau Tuhan tidak menjawab SEKARANG”, Umma membetulkan kalimatku.

 “iya. Taemin harus sering berdoa agar permintaan mu dikabulkan”

 “kenapa harus sering? Tidak cukup sekali? Tidak praktis”

 “tsk”, Umma menjitak kepalaku pelan.

 “apa mainan bagus dan mahal yang Taemin punya?”

 “emmm”, aku mengedarkan pandangan sekeliling.

 “set rumah barbie lengkap?”

 “dan apa sekali Taemin meminta, Umma langsung membelikan?”

 “huuuaaah. Lamaaa sekaliiii baru dibelikaan”, aku mengingat kejadian itu. Hampir sebulan aku merajuk, bahkan sampai bosan bahkan lupa, baru dibelikan.

 “karena mainan itu harganya mahal. Tapi tetap Umma belikan kan? Dan Taemin juga sudah berlaku baik waktu itu. Jadiiii, kalau Taemin ingin meminta hal yang mahal pada Tuhan dan ingin Tuhan memberikannya, Taemin juga harus berlaku baik dan sering meminta pada Nya. Harus sopan! Lama-lama pasti Tuhan luluh juga. Sama saja kan?”

 “aaahh, Taemin mengerti Umma. Taemin mau berdoa lagiiii”, aku berlari keluar. Hujan masih belum berhenti walau tidak sederas tadi.

 “Tuhan, ini Taemin yang tadi. Ingat tidak?”

 Tidak ada jawaban…

 Huuuh, aku menghela nafas panjang.

 “baik baik, Taemin mengerti Kau sibuuk. Tapi Kau mendengarku kan? Emmm, Taemin ingin minta sesuatu, boleh tidak?

 Lagi-lagi tidak ada jawaban dari atas sana.

 “arrasso, Kau pasti sangat sibuk yaa? Tapi Taemin ingin minta hal ini, karena kata Umma walaupun Kau sibuk tapi Kau tetap mendengar ku kan? Emmm, begini, bisa tidak Kau buat hujannya berhenti? Taemin mau main dengan Minhoooo, Tuhan. Bisa tidak? Tuhaaannn, Tuhan baiiiiikkkk deeh”, aku mengingat sewaktu aku meminta satu set rumah barbie lengkap, aku sering merajuk dengan merayu Umma seperti itu, dan akhirnya aku dibelikan juga. Siapa tau kalau aku merajuk Tuhan dengan cara yang sama, Tuhan akan mengabulkan juga.

 Aku menunggu dengan duduk di bangku teras depan, menunggu hingga hujannya berhenti atau setidaknya mereda. Masih memeluk MouMou, aku terus menatap ke atas. Sampai akhirnya…

 “Taemiiiiinnn”, sebuah suara yang kurindukan akhirnya kudengar dari pintu depan.

 “Minhoooo”, aku hendak menghampirinya tapi hujan masih turun. Kulihat Minho datang dengan memakai jas hujan biru bergambar doraemon, berdiri di depan pagar rumah ku.

 “kenapa kesiniii? Ini masii hujan, nanti Minho sakiiit”, aku masih bertahan berdiri di teras, hanya memandangnya yang berdiri di luar pagar.

 “aku ingin bermain sama Taemin. Memangnya Taemin tidak mau bermain sama Minho?”, suaranya agak bergetar. Mungkin karena kedinginan?

 “tentu saja Taemin mau maiiin, tapiii…”, aku menatapnya yang masih menunggu. Minho pasti kedinginan, tapi kenapa ia masih menunggu disana? Akhirnya aku memberanikan diri untuk berlari menembus hujan hanya untuk membuka kan pintu pagar untuk Minho. Begitu pintu pagarnya terbuka, reflek tangan Minho membentuk payung untuk melindungi kepalaku dari guyuran hujan.

 “Minho tidak mau Taemin sakiiitt”

 Kami berdua berlari masuk ke dalam rumah. Sebetulnya tidak terlalu berguna juga karena rambut dan baju ku tetap basah kuyup. Tangan Minho kan kecil, jadi walau ia melindungi kepalaku, tetap saja tidak berefek banyak. Tapi itulah dia, Choi Minho, ia selalu berusaha untuk menjagaku dengan segala keterbatasannya.

 “yaah, MouMou nya basaaah”, aku menatap boneka beruang itu kasihan sambil berusaha meremas nya sekuat tenaga untuk menghilangkan airnya.

 “kenapa malah memikirkan MouMou, Taemin juga basaaah, nanti Taemin sakit. MouMou nya kan ga bisa sakiiit”, ia melepaskan jas hujannya, melepas jaket birunya, memberikannya padaku [ini beneran nii anak emang lagaknya udah tua dari kecil], lalu mengambil MouMou ku dan meremas nya seperti yang kulakukan tadi.

 “Minho kan laki-laki, jadi tenaganya lebih kuat dari Taemiiin”, ia terus meremas boneka itu. Aku yang melihatnya hanya bisa tersenyum. Minho, semenjak ia kecil, sudah memberikan ku sebuah pandangan khusus tentang ‘what man gotta do!!’.

 Umma ku keluar. Melihat kami berdua.

 “Taemin, ya ampun kau kenapa basah begitu? Minho? Annyyeong. Kapan datang? Ayo masuk”, Umma membimbing kami berdua masuk ke dalam rumah.

 Ia berjalan kebelakang, mengambil handuk dan mulai mengeringkan rambut dan tubuhku.

 “Ummaa”, Minho memanggil Umma ku. Satu lagi kebiasaan kami, ia memanggil Umma ku dan begitu juga sebaliknya dengan sebutan Umma juga. Karena itu aku sudah dianggap keluarga oleh keluarganya, dan Minho sudah dianggap keluarga oleh keluarga ku.

 “ya, Minho?”

 “Minho sudah mencoba membuat MouMou nya kering, tapi tidak kering-kering juga, bagaimana yaa?”, ia menunjukkan boneka ku yang sudah ia remas sejak tadi.

 Umma ku tersenyum.

 “sini, Umma yang keringkan. Kalian duduk dulu disini yaa, nanti Umma buatkan coklat hangat”, Umma membawa MouMou ke belakang.

 Minho melihatku, masih dengan jaketnya yang aku pakai, kemudian mengambil handuk yang Umma ku tinggalkan, dan membantu mengeringkan rambutku.

 “gwaenchana?”, tanya nya sambil terus mengeringkan rambutku.

 “emm. Minho bagaimana? Gwaenchana?”, tanya ku khawatir. Dia juga agak sedikit terkena hujan walau tidak sebasah aku.

 “tentu sajaa. Minho kan namja, kata Appa, namja itu harus kuat. Jadi tentu saja Minho tidak apa-apa”

 Ya, selalu begitu. Jawaban sama dan terus berulang yang paling kuingat dari nya ketika ia sedang menjagaku tapi aku malah mengkhawatirkan keadaannya.

 “ini susu coklatnya. Taemin, Minho, ayo diminum susunya supaya badan kalian hangat”, dua gelas susu coklat kesukaan ku dan Minho diletakkan Umma di depan kami.

 Masih agak panas karena uapnya masih sedikit terlihat. Minho melihat itu lalu mengambil gelas susu ku, kemudian meniupnya untuk menghilangkan uap panasnya.

 “Minho, sinii Taemin bisa tiup sendiri”, aku berusaha merebut gelas susu di tangannya. Sejak kecil, memang Minho terbiasa untuk benar-benar memanjakan ku.

 “sudah tidak apa-apa, Taemin”, ia menjauhkan gelasnya dari jangkauan ku dan kembali meniup nya.

 Aku hanya terdiam melihat namja kecil di samping ku, mengamati wajahnya. Sejak kecil ia sudah begitu tampan ditambah segala sifat protective nya itu menjadikan kehadirannya semakin berharga di hidupku, dan sungguh aku bersyukur bahwa aku dapat mengenalnya. Lebih dari itu, ia begitu menjagaku.

 Tiba-tiba ia menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah ku, “kenapa Taemin menatap Minho begituuu? Minho tampan yaa?”, ia tersenyum jahil.

 Aku tau Minho hanya menggoda ku tapi entah kenapa justru itu sukses untuk membuat ada aliran hangat yang merambat naik ke wajah dan aku tertunduk.

  “aniiii. Emmm…Taemin mau berterima kasih sama Minho karena Minho baik sama Taemin. Kata Umma, kalau ada orang yang baik sama Taemin, Taemin harus berterima kasih”, jelasku sambil memainkan jari-jari tangan. Entah kenapa aku bisa gugup begini padahal hanya dengan Minho, orang yang setiap hari kutemui.

 “Minho begini karena Minho sayang sama Taemin. Kata Appa ku, seorang laki-laki harus melindungi perempuan yang ia sayang. Jadi, Minho akan selalu melindungi Taemin, sama seperti Appa yang selalu melindungi Umma”.

 Afjhaejtalkjg Minhooooooo, ia mengatakan seperti itu di hadapan Umma ku yang hanya tersenyum melihat dan mendengar tingkah polos kami. Melihat Umma ku berwajah seperti itu, aku menunduk semakin dalam. Kenapa sejak kecil namja ini sudah bisa menggombal? Belajar dari mana dia?

 Umma mengelus kepala Minho, sayang, “terima kasih Minho”

 “hah? Terima kasih kenapa Umma?”

 Lagi-lagi Umma tersenyum sambil berdiri dari duduknya, “terima kasih karena sudah menjaga Taemin dengan baik”

 “Umma, Minho janji menjaga Taemin selamanyaa”

 Umma mengangkat alisnya, “selamanya? Seorang namja harus menepat janji lho!! Kau bisa menepati janjimu?”

 “Minho janji”, ia mengangguk yakin.

 Umma ku mengangguk dan masuk ke dalam sambil mengelus kepala kami.

 “ini susunya sudah tidak panas. Minum nya pelan-pelan yaa…..pooh”

 Aku menoleh. Pooh? Minho baru kali ini memanggil ku pooh.

 “pooh?”, aku bertanya heran.

 “emm. Taemin suka pooh kan?”

 Aku mengangguk, “lalu kenapa memanggil ku pooh?”

 Minho menggeleng, “tidak tau. Hanya tiba-tiba saja memanggil begitu, habis Taemin pakai baju pooh”, ia menunjuk kan telunjuk nya pada kaus putih yang kupakai, dan memang bergambar winnie the pooh.

 “Taemin suka Minho panggil pooh?”

 Aku berpikir sebentar. Sepertinya tidak jelek juga.

 “emmm, suka Minho”, tidak sadar apa yang kukatakan.

 “Minho juga suka Taemin”

 WHAT??

TBC~

[a/n: Pervy^Sanniiew]

Nah, udah segini aja, sowwy fit gue potong … kekekek~ biar ada greget nya dulu gitu… ehehehe~
Oke guys, di comments dan like kalau suka, kalau komennya lebih dari 25 gue bakal update cepet! Oke …

Comments and like are love!

50 thoughts on “[2min/2Shoot/Transgender] Rainbow and Storm, We Learned It Together…part 1 of 2

  1. wah taemin beruntung banget udah ada namja yang mau ngejagain dia selamanya dari kecil….
    envy banget sama taemin disini…

  2. sosweet ^^
    kayaknya kalo taemin terlahir sebagai wanita, dia bakalan jadi pasangan yg pas banget deh buat minho😀

  3. Wuaaaaa…..
    2min mash kecil tapi tau yang namnya kasih sayang…..
    Pinter pisan……

    Ff ini daebak….😉

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s