[2min/transgender/one shoot] Love Never End…


jujur aku belum baca ini, ga ga gakuat HUAHAHAHA mana aku disalahin lgy ah ao ah yuuk xD *plak

 

oiyah, GWS admin tercinta /ceilah/  sannie unn sm vie unn nee ^^v maap aku baru ol jd baru tau kalau kalian sakit :(( syafakillah😀

Foreword :

Maap yak, gue bilang nya hiatus ujung-ujung nya nulis juga. Tapi sumpah ini bakal pendek karena gue nulisnya di kampus, ditengah kesibukan *gayyaaa*. Ini ff tercipta gara-gara si sita-sita ku ingin jadi presiden tuh bikin gue galau, zzzzzzz… trus di mobil dengerin lagu pinkan mambo yang entah judul nya apa bahkan gue ga tau, ahahaha. Tambah lah jadi nya otak gue bekerja….

Hei kamuuuu Sita D.A, TANGGUNG JAWAB!!!!!

Gimana tawaran gueee?? Yuk yuk *kedip-kedip mata*

Ini eeeeemmm…oke deh gue kasitaau aja ini angst! Lanjutan dari 2minkey pokoknya. Yaah, begitulah… tapi TaeKey yoeja yaa ceritanya…

Hope you likeeeeyyy…

 

Cue…

By : TaeminhoShouldBeReal

Cinta tak kan pernah usai…

Meski cinta dalam derita…

Saat harapan yang gelap kan memudar…

Cinta tetap ada walau didera…

 

Taemin POV…

 

Drrrttt…drrrtttt…

 

Ponsel ku bergetar.

 

Kututup sebentar diktat kuliah menyebalkan berbahasa planet yang sedang kubaca.

 

Key Umma…

 

Namanya terlihat di layar. Nama seorang yeoja cantik yang sudah bertahun-tahun menjadi Umma ku. Ya, Umma. Kehadirannya di hidup ku sudah kuanggap seperti itu. Ia bahkan lebih dari sahabat ku. Yeoja cantik, dengan senyuman yang manis dan mata teduh dibalik kacamata bening nya. Ia sebuah paket lengkap di kehidupan ku dan sungguh aku bersyukur mengenal nya. Hei, aku tak akan menyerahkan sumber kebahagiaan ku sendiri pada orang yang sekedar berstatus sebagai ‘sahabat’kan?

 

“yoboseyo, Ummaa”, sahutku ceria.

 

“Taeeee, aku menganggu mu?”, suara lembut nya terdengar. Sungguh ia wanita paling keibuan yang pernah aku temui. Ia bahkan belum menikah apalagi punya anak, tapi kenapa suaranya bisa membuat ku merasa hangat?

 

“aniyo. Aku hanya sedang membaca seperti biasa. Waeyo?”

 

Terdengar suara seseorang. Seseorang yang sudah aku kenal. Ani, lebih dari aku kenal. Seseorang yang bahkan menjadi bagian dari keseluruhan hidup ku. Ya, seseorang yang membangun seluruh nya!! SELURUHNYA yang membuat Taemin seperti sekarang. Keyakinan pada Tuhan bahwa Dia selalu sayang pada umat Nya apapun yang terjadi pada hidup ku sampai saat ini, keyakinan pada diri sendiri bahwa aku mampu melakukan berbagai hal, keyakinan untuk aku bertahan. Orang yang mengajarkan ku banyak hal!! Tentang manfaat membaca sampai aku menjadi seorang kutu buku sepertinya dan akhirnya berhasil masuk di universitas ku yang sekarang. Mengajarkan kalau manusia diciptakan Tuhan untuk hidup bukan hanya untuk dirinya tapi juga harus bermanfaat untuk orang lain. Ia yang mengenalkan dua buah kata, sabar dan ikhlas untuk selalu aku genggam. Orang yang mengenalkan dua buah keadaan dalam hidup ku yang mungkin akan singkat, pelangi dan badai dalam waktu bersamaan. Dan satu hal, bahwa dengan bersamanya, aku mengerti seperti apa namja yang seharusnya, “wanita itu seperti gelas kristal bening. Indah dilihat, tapi rentan untuk disentuh. Seorang pria yang baik, harus menjaga wanita yang ia sayangi karena wanita itu adalah hadiah dari Tuhan. Hadiah itu harus dijaga dengan hati-hati, karena jika Tuhan menghendaki mu untuk tidak menjadi pemilik nya, kau harus memastikan ia tetap ‘terbungkus’ rapi dan cantik sampai ia berada di tangan pemilik yang sebenarnya, yang berhak untuk membuka hadiah itu”. Ya, namja luar biasa bernama Choi Minho [itu kalimat beneran diucapin seseorang dan bikin yang ngedenger ga bisa tidur sampe 2 hari gara-gara ngebayangin terus :p].

 

Aku terdiam sejenak. Mereka sedang membicarakan sesuatu. Tak terasa, genggaman ku di buku itu meng erat.

 

“Tae, maaf, kau masih disana?”

 

“ndee Umma. Waeyo?”

 

“emmm, bisakah meminta bantuan mu? Tapi kau sedang sibuk yaa?”

 

“bantuan apa? Kenapa harus meminta tolong, seperti baru mengenal ku saja, hehe. Akan kuusahakan.Adaapa?”

 

Suara di seberang tiba-tiba terdiam…

 

“tentang pertunangan kalian?”, aku mencoba mempermudah.

 

Ya, Kim Kibum dan Choi Minho, dua orang yang berharga dalam kehidupan ku, akan meresmikan hubungan mereka dalam suatu hubungan pertunangan.

 

Aku…

Aku kan disini…

Kenyataan harus kulalui…

Tak akan ku lari walau memang pahit…

Walau ku menangis…

Tetap ku berdiri…

 

Flashback…

 

“Tae, bagaimana?”

 

“Tae, masalah keuangan bagaimana?”

 

“Tae, pihak sponsor mau proposal yang mereka minta segera dikirim”

 

Hari itu aku sedang di kampus,SeoulUniversity. Aku sedang mengerjakan sebuah project sosial yang cukup membingungkan jujur saja, karena project ini merupakan project perdana. Meladeni beberapa pertanyaan teman-teman satu kepanitiaan dengan seadanya karena aku lebih suka banyak bekerja dibanding berbicara. Ya, seorang Lee Taemin yang super manja dituntut untuk menjadi yeoja dewasa di kampus, bahkan mungkin cenderung dingin dan pendiam.

 

Hanya mengenakan sebuah kaus putih panjang dan rok, memegang beberapa berkas dan ponsel, penampilan ku cukup feminim. Tapi…

 

“Noona, maaf aku boleh tanya?”

 

Aku menoleh. Seorang namja sedang memegang buku dan ada yeoja di sampingnya. Jelas kutau mereka anak baru karena wajah nya baru ku lihat.

 

“tanya apa?”, sahutku dingin.

 

“emm. Bagaimana menyelesaikan ini yaa?”, ia menunjukkan buku nya. Sebuah soal akuntansi yang menurut ku mudah.

 

“siapa dosen mu?”

 

Ia menyebut sebuah nama. Salah satu dosen terbaik yang pernah mengajar ku. Dan jujur saja, bodoh kalau kau tidak mengerti apa yang diajarkan!! Penampilan modis, tapi cih, bodoh!! Kampus ini tidak butuh orang-orang ber kantong tebal tapi ber otak kosong!!  Aku sudah muak melihat orang-orang seperti itu selama 2 tahun!!

 

“itu perpustakaan, dan itu ruang dosen”, aku menunjuk dua bangunan yang berdekatan

 

“ini bukan SMA. Terlalu telat dan berharap banyak kalau kalian membayangkan akan terus ‘disuapi’ disini. Sekarang waktunya untuk mandiri. Kehidupan kuliah itu keras!”, lalu aku pergi, sedikit berlari karena aku sedang sibuk!!

 

Teman-teman ku hanya menggelengkan kepala. Ya, mereka sudah mengerti siapa Lee Taemin! Seseorang yang perfeksionis, cenderung dingin dan galak terutama untuk orang-orang yang baru dikenal nya yang ia tidak suka, namun berubah sangat hangat bahkan cerewet jika sudah bersama atau menjadi tutor teman-temannya.

 

Tiba-tiba…

 

Bruk…

 

“YAK!”, aku ditabrak seseorang dan berkas yang kupegang jatuh semua.

 

“maaf. Lho, Taemin?”

 

“Minho?”, ia membantuku berdiri dan…

 

“bodoh! Berani menabrak ku? Aku sedang buru-buru, minggir!”, hari ini siang, udara panas, dengan keadaan belum makan siang, aku sedang terburu-buru, lalu ditabrak? Asdfggjklpejrajnfkhiaew!!!!!!!!!!!

 

“Tae, tunggu aku mau bicara”, tangan ku ditahan.

 

Aku melepaskan tangan yang ditahannya dan melirik jam tangan yang kupakai, “satu menit”.

 

“yaampun, jahat nya. Aku juga sedang sibuk, tapi aku menyempatkan kesini mencari mu. Masa cuma diberi waktu satu menit?”

 

Minhomemang sama seperti ku. Ia sedang tergabung dalam kepanitiaan sosial lain dan dilihat dari gesture dan nametag yang dipakai….ia pasti sedang kabur!!

 

“50 detik sisa waktu mu”, wajah ku masih datar.

 

Ia memutar bola mata, “aku mau bertunangan”, ucap nya cepat. Ia tau dalam keadaan begini, ucapan ku tidak pernah main-main.

 

“lho, bukannya sudah?”, tanya ku heran. Lah, memang sudahkan? Cincin itu sudah tersemat di jari mereka. Lalu tunangan apalagi?

 

“maksudku…peresmiannya”

 

“oh…”, aku mengamatinya lekat.

 

“ide Umma ya?”

 

“kau tau?”

 

Kini aku yang memutar bola mata, “aku agak terganggu dengan pertanyaan ‘kau tau?’”, ucap ku menirukan sempurna ekspresinya. Ia tersenyum.

 

“kau lupa sedang bicara dengan siapa? Aku sudah mengenal mu bahkan sebelum kau bisa bicara apalagi berjalan dan berhitung! Jadi apa masih perlu pertanyaan ‘kau tau?’. Uh,Minhobodoh!”.

 

Ia mengacak rambutku sambil masih tersenyum. Ia tau kalau aku begitu mengenalnya. Ia paling tidak suka acara-acara seperti itu. Ia sama sepertiku, lebih suka tempat yang sepi dan tenang dibanding perayaan seperti itu walau ia yang menjadi ‘bintang utamanya’. Bahkan sejak kecil, ulang tahunnya tidak pernah dirayakan. Ia takut badut!! = =”

 

“kau ingin meminta tolong padaku untuk mengontrol Umma supaya tida berlebihan dalam mempersiapkan acara ini? Kau sebenarnya lebih ingin acara ini tidak usah diadakan saja, tapi tidak tau bagaimana bicara dengan Umma dan tidak mau membuatnya salah paham apalagi sedih sampai akhirnya kau mengalah tapi memintaku untuk mengontrol nya supaya acara ini berlangsung sederhana saja?”.

 

Ia terdiam dan menatap ku lekat….

 

“kau tidak mau juga yaa mengatakan darimana kau belajar untuk punya kekuatan membaca pikiran ku? Tidak taukah berapa lama aku memikirkan kalimat yang kau ucapkan barusan hanya dalam beberapa detik? Hampir seminggu, Tae”.

 

“kau juga tidak pernah mengatakan bagaimana caranya kau selalu bisa menjadi ‘alarm kebakaran ku’ padahal aku tidak pernah cerita apapun kalau aku sedang ada masalah”.

 

“aku bukan tidak mau menjawab, tapi aku memang tidak tau apa jawabannya”

 

“yaa jawaban yang sama untuk pertanyaan mu tadi. Sudah ah, aku buru-buru. Tenang saja, Umma biar aku yang tangani. Jadi aku diundang nih di pertunangan kalian?”, aku menggodanya.

 

“kau keluarga. Kau anak Umma ku, dan kau anak Key. Keluarga bukan diundang Tae, keluarga itu diberitahu. Aku butuh doamu”.

 

“doa ku? Doa ku mahalMinho, hehe. Aku tidak mau undangan secara tidak langsung yaa. Temui aku langsung di rumah, oke. Kutunggu kabar bahagiamu. Ohya, dan chukkae! Itu baru laki-laki!! Pembuktian dengan tindakan jauh lebih berharga dibanding hanya sekedar ucapan. Fighting kepanitiaan mu!! ByeMinho”, aku melanjutkan berjalan, tapi baru beberapa langkah…

 

“Tae…”

 

“apaaaa?”, aku menoleh malas.

 

“terima kasih”

 

“untuk?”

 

“menjadi sahabat, keluarga, dan adik paling manis yang selalu bisa kuandalkan sejak dulu!”

 

“so chessy. Aku terharu”, ucap ku dengan wajah datar dan ia tertawa.

 

End Flashback…

 

“tentang pertunangan kalian?”, aku mencoba mempermudah.

 

“kau tau?”

 

Haaahh, lagi-lagi pertanyaan itu.

 

“calon tunangan mu yang memberitahuku di kampus Umma. Mau meminta bantuan ku apa? Bicara saja”

 

“emmm…bisa bantu aku memilihkan baju…dan…emm, buat kue untuk perunangan kami. Maaf Tae maksudku…”

 

“Ummaaa”, aku memotong ucapannya.

 

“tidak apa-apa! Aku mengerti. Jujur saja pada ku. Bantu memilihkan pakaian? Kapan?”

 

“kau mau?”

 

Aku menatap boneka yang kuletakkan disamping laptop ku. Ya, boneka beruang kesayangan ku, pemberian orang tuaMinho. Apa aku siap? Aku bahkan tidak tau! Mulutku berbicara tanpa diperintah sepertinya

 

“aku sepertinya juga sedang butuh shopping Umma, hehe”.

 

“jinjjayooo? Tae kau memang yang terbaik. Gomawo sayang!”

 

“ndee Umma, gwaenchana”, aku mencoba tersenyum. Apa yang melatar belakangi keputusan ku untuk membantu nya? Entahlah. Mungkin aku hanya ingin…menghancurkan hati ku sendiri. Toh luka itu sudah tidak bisa diobati, jadi kenapa tidak dihancurkan sekalian?

 

“lalu kue nya? Maukah?”

 

“Umma yakin? Tidak beli saja?”

 

“kau tidak mau yaa?”, nada suaranya sedih.

 

“bukan itu maksudku”, entah kenapa aku selalu tidak tega padanya.

 

“aku takut…kue yang kubuat tidak enak. Hari itu hari spesial kalian. Aku tidak mau itu hari itu menjadi buruk hanya karena alasan bodoh seperti kue. Kue kukanbiasa saja Umma”

 

“tidak tidak!! Kue mu enak!! Dan Minho menyetujuinya. Jangan merendah, sayang. Maukan? Kumohon!”

 

“nde. I’ll try my best”, sudah kuduga akhirnya akan begini! Sulit sekali menolak permintaannya!

 

Saat belanja…

 

Kami sudah masuk beberapa butik, tapi belum ada yang sesuai dengan kemauan Umma ku ini.

 

Ini sudah butik ke empat, dan hari sudah mulai sore.

 

Ia sedang memilih beberapa gaun.

 

“Tae, biru atau pink?”, ia menunjukkan dua gaun dengan warna berbeda.

 

“biru” pilihanku jatuh pada long dress selutut berwarna baby blue. Potongan simple nya terlihat manis. Pasti cantik jika ia pakai.

 

“jinjja? Kenapa kau sama saja sepertiMinho, fanatik warna biru. Aku lebih suka yang pink!”, ia merujuk pada gaun panjang sampai mata kaki berwarna pink cerah. Terlihat elegan memang, tapi aku lebih suka biru!

 

“terserah Umma saja. Pink juga cantik”, aku tersenyum meyakinkannya.

 

“jinjja? Baiklah, pink saja yaa”, ia menyerahkan gaun itu pada penjaga toko.

 

“lalu untukMinho…”, ia berjalan ke arah pakaian formal pria.

 

“ini. Otte?”, sebuah kemeja putih dengan jas hitam. Formal sekali!

 

Aku meringis membayangkan wajahMinhojika ia disuruh memakai baju itu.

 

“itu bukan selera berpakaianMinho, Umma”, aku melangkah ke arahnya dan ikut memilih.

 

“ia suka pakaian simpel dan akan lebih baik jika dibelikan kemeja saja”, aku menunjukkan sebuah kemeja panjang putih polos. Tidak ada yang istimewa, hanya aku suka bahannya. Sangat lembut dan nyaman di kulit.Minholebih mementingkan kenyamanan bahan pakaian dibanding model, warna, atau apapun. Aku hafal kebiasaannya.

 

“hanya kemeja? Apa tidak terlalu…sederhana?”, Umma sangsi akan pilihanku.

 

“emmm, memang semua pakaian Minho selama ini sederhanakanUmma? Ia bahkan tidak memakai jas di acara kelulusan SMA. Ia tidak suka pakaian seformal itu! Percaya padaku. Aku mengenalMinho”.

 

Wajahnya berubah. Terlihat sendu, dan memberi isyarat untuk penjaga toko itu mengambil kemeja yang kupegang.

 

“kau memang jauh lebih mengenalnya dibanding aku!”, ia berkata pelan sambil berjalan ke arah kasir.

 

Dan aku hanya bisa menunduk.

 

Meski hancurnya hatiku…

Meski berat beban ini…

Namun ku tak sendiri…

Karena cinta setiaku…

 

Meski harus kulewati…

Seribu jalan yang berliku…

Namun ku tau pasti…

Dalam hidup ku…

Cinta tak kan usai…

 

Di malam hari…

 

Keesokan harinya adalah hari pertunangan itu. Aku sudah membuat kue nya, tapi belum menghiasnya. Aku tau aku harus menuliskan nama mempelai di kue itu, dan aku merasa belum sanggup. Kulihat ponsel ku, seseorang di seberangsanajustru membuat pikiran ku jauh lebih berat dengan keadaannya, sikapnya yang tiba-tiba berubah total padaku. Hhhh, aku menghela nafas sambil membanting ponsel itu ke tempat tidur. Andai kau tau keadaan ku saat ini…

 

Kuambil boneka beruang kesayangan ku lalu berjalan ke arah balkon…

 

Langit malam ini…entah kenapa terasa berbeda.

 

Bintang nya tidak terlihat.

 

Aku tersenyum. Tuhan ingin bermain dengan mu, Tae. Yaa, bermain. Suatu ungkapan yang kudapat dari seorang teman ketika takdir menyapa manusia dengan wajah muram. Bahwa saat itu, Tuhan ingin bermain dengan nya.

 

Aku mengalihkan pandangan ku ke bawah.

 

Dan kulihat sosok itu yang tersenyum ke arah ku.

 

Hhhh, alarm kebakaran ku berbunyi dan sampai di hatinya, membuatnya bergerak untuk berjalan kesini. Entah keajaiban apa yang membuat hubungan kami bisa sampai pada tahap seperti ini, aku dan dia sama-sama tidak mengerti.

 

“hei, pooh”

 

Aku tidak menatapnya yang berada tepat disampingku. Aku kembali menatap keatas sambil tersenyum. Pooh, panggilanMinhopada ku sejak kecil. Da sepertinya aku merindukan panggilan itu. Sudah lama ia hanya memanggilku ‘Tae’. Entah kenapa malam ini ia ingat lagi untuk memanggil ku pooh.

 

“kau tidak bertanya bagaimana perasaan ku malam ini?”, ia memulai pembicaraan.

 

“bagaimana perasaan mu malam ini?”, aku mengulangi perkataannya. Bertanya dengan nada datar yang membuatnya tertawa dan kembali mengusap rambut ku.

 

“tak perlu ku katakan, bukannya kau sudah tau. Kaukanbisa membaca pikiran”

 

“kalau sudah tau kenapa masih menyuruh ku bertanya”

 

Pembicaraan kami selalu seperti ini. Singkat, terkesan tajam dan to the point. Kami tidak pernah cerita panjang lebar jika hanya berdua. Kami lebih sering menghabiskan waktu dengan diam dan pembicaraan annoying seperti ini. Tapi yang masih aku tidak habis pikir adalah, bagaimana mungkinMinhotau setiap aku sedang sedih atau terluka dan butuh sandaran? Ya, ia hanya sandaran ketika aku sedang lelah. Setauku, teman ada untuk berbagi cerita,kan? Tapi justru aku tidak pernah cerita apapun padanya. Ia datang hanya untuk menopang ku dengan caranya sendiri, dengan diam nya, dengan aura ketenangan yang ia bawa. Ia tidak pernah menenangkan ku ketika menangis, ia tidak pernah mengelus ku untuk meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak pernah! Yang ia lakukan hanya duduk disampingku, memunggungiku, dan diam. Aku pernah sekali bertanya kenapa ia selalu memunggungi ku ketika aku menangis, ia hanya menjawab singkat, “aku tidak suka melihat kau menangis, dan punggung jauh lebih lebar dibanding bahu, kan?”. Jawaban bodoh! Ia sering bertingkah bodoh tapi dengan wajah serius dihadapan ku. Bagaimana aku bisa tidak tertawa di samping orang seperti itu?

 

Pernahkah aku berharap ketika aku menangis, ia memelukku? Sangat! Jujur saja, aku sungguh berharap bagaimana rasanya dipeluk seorang namja tanpa ada nafsu. Hanya ingin minta ditenangkan. Tapi, ia selalu kembali dengan jawaban yang sama, jawaban yang membuat ku buruk karena sudah memikirkan itu, wanita itu seperti gelas kristal bening. Indah dilihat, tapi rentan untuk disentuh. Seorang pria yang baik, harus menjaga wanita yang ia sayangi karena wanita itu adalah hadiah dari Tuhan. Hadiah itu harus dijaga dengan hati-hati, karena jika Tuhan menghendaki mu untuk tidak menjadi pemilik nya, kau harus memastikan ia tetap ‘terbungkus’ rapi dan cantik sampai ia berada di tangan pemilik yang sebenarnya, yang berhak untuk membuka hadiah itu”.

 

Malam ini, aku tidak menangis. Mungkin lelah. Atau hati ku mati rasa aku tidak tau. Aku tidak bisa mendeskripsikan dengan baik apa yang kurasakan. Aku menyerahkanMinhopada Umma ku, lalu sekarang aku menyesal? Bodoh bukan? Puluhan orang mengatakan begitu! Tapi aku hanya ingin, seorang namja yang paling aku sayang, mendapatkan wanita yang bisa menyayanginya, lebih dari aku.

 

Malam itu, adalah malam kesekian, dimana alarm ku berbunyi dan ia datang lalu kami diam. Ya, hanya diam seperti biasa. Hanya yang aku tidak tau adalah, itu adalah malam terakhir dimana dia menjadi alarm kebakaran ku. Setelah malam ini, ia akan menjadi alarm kebakaran untuk orang lain, langit untuk menopang bintang yang baru.

 

Ya, kukuatkan hati untuk menuliskan dua buah nama diatas kue tart yang aku buat.

 

Choi Minho…

 

Kim Kibum…

 

Lalu sampai pada hari nya…

 

Aku sudah di rumah Key sejak pagi. Ia hanya mengundang beberapa keluarga dan teman dekat.

 

Begitu aku datang, Umma Minho memeluk ku, jauh lebih erat dan lama dari biasanya. Ia menangkupkan kedua tangannya di wajah ku, “gwaenchana, Taemin?”.

 

Aku hanya tersenyum menenangkannya, menenangkan Umma yang sudah menganggap ku sebagai anaknya, bahkan berulang kaliMinhomengatakan bahwa Umma nya lebih sayang padaku dibanding anaknya sendiri.

 

“aku bahagia jika Minho bahagia, Umma. Seperti waktu kecil,Minhoselalu menjaga ku. Kini, ia punya orang lain yang harus ia jaga seperti menjaga ku dulu”.

 

“lalu…bagaimana dengan mu?”

 

“aku? Aku baik-baik saja. Uma jangan khawatir”

 

“adakah yang bisa menggantikanMinhodihati mu, sayang?”

 

“entahlah Umma, aku tidak tau.Minhoada untuk menopang bintang nya yang baru, dan aku yakin Tuhan mentakdirkan seseorang untuk menopangku di langit yang baru”

 

“marahkah kau padaMinho?”

 

“hanya orang bodoh yang bisa membenci malaikat sebaik anak mu, Umma”

 

Ya, guardian angel ku kini harus menjaga seseorang yang baru. Seseorang yang lebih baik dari ku, seseorang yang lebih baik untuk nya.

 

Aku menyadari sesuatu, bahwa dibalik kehadirannya yang tak bisa lagi kujangkau kini, saat penopangku sudah tidak ada saat aku lelah, saat alarm kebakaran itu tak pernah lagi berbunyi, aku meyakini bahwaMinhomasih menjagaku dengan caranya sendiri. Dengan segala pesannya, dengan segala kenangan akan kehadirannya. Terima kasih…untuk segalanya…sampai detik ini, langit ku…

 

END…

 

Guajeeeeeee beneerrr yak ini cerita kaga ada angst2nya, ahahahaha. Cuma gue ketik satu setengah jam. Maap yak buru-buru.

 

Tha_tha…

 

45 thoughts on “[2min/transgender/one shoot] Love Never End…

  1. Masih belum mengerti jalan critanya

    Tapi kenapa tetem harus ngalah

    (۳˘̶̩̩̩́☐˘̶̩̩̩̀)۳

  2. Setiap baca bait per bait kalimat aku berharap pertunangan minkey batal atau gmn.. ternyata mereka benar2 tdk bersama Sampe akhir..
    Ini menyakitkan.. tp tae bgtu tenang menghadapi ini.. tae sdh dewasa :’)

  3. Noooooooooooooo!!!!!! BIG NO!!
    kenapa hatus sama key? Kenapa ga sama taemin?
    Kenapa minho ga sadar kalo taemin cinta sama dia?
    Ohh, atau minho sadar, tp pura” gatau????????
    Atau pikiran mereka berdua sama saja? ‘Aku hanya ingin dia mendapatkan yg lebih dariku’
    Hah.. basi!!!!!!
    Hey, kalo emang sama” cinta, sama” sayang, kenapa tidak bersama? Kalian itu yg terbaik untuk satu sama lain……

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s