[2min] My First Love Story Part 6


Holla, hellooooo,

Author Ria balik lagi,,,, Akhirnya semua UH hampir selesai kecuali Matematika dan Fisika. Semoga UH ku nilainya bagus. amin. aduuh, habis stress bikin KTI sekarang UH bertubi-tubi. wow, semoga saja Karya tulisku masuk tahap presentasi? Nah lho, kok curhat?

Mianhe kalau misalnya reader banyak yang gak tega baca ff ni. aku lagi pengen ff yang sadis dan beberapa hari yang lalu aku baru aja liat kecelakaan, walaupun aku gak tahu gimana kejadiannya, tapi melihat korbannya membuatku merinding sampai sekarang. semoga aja mereka selamat. udah ya curhatnya. sekarang waktunya reader baca dan ninggalin jejak dengan comment and don’t bashing me, ok? so cek it out. seperti biasa.

NO COMMENT NO NEXT AND NO SILENT READER

title      : My First Love Story

Author : Ria and Chaeyoung

Pairing  : 2MinJoon

Cast     : Taemin as yeoja

              Minho as namja

             Joon MBLAQ as namja

             and other cast.

genre   : Romance, and Angst? jangan peduliin yang Angst

Minho melihat hasil foto dan video yang baru saja ia ambil. Ada sedikit rasa kecewa dan marah dibenaknya. Gara-gara melihat video tersebut. Bagaimana tidak? Jelas-jelas Taemin adalah korban, tapi kenapa dia dituduuh sebagai pembunuh? Ini tidak bisa dibiarkan. Dia teringat akan kata-kata Joon ketika mereka selesai melihat masa lalu Joon dan Taemin.

“Mianhe, aku tidak bisa memperlihatkan padamu kejadian setelah ini, karena itu melanggar perjanjianku….coba tanyakan pada Onew-hyung?” kata-kata Joon ini terus terekam di benaknya.

“Apa aku hubungi Onew-hyung sekarang?”gumamnya sambil memandang iphone yang terletak di atas meja.

“Hubungi saja daripada nanti kau tidak tenang?” saran Joon yang tiba-tiba berada di depan Minho.

“Arraseo,” sahutnya lalu meraih iphone yang ada di meja tadi. Lalu menghubungi Onew.

Terdengar nada sambung yang digunakan oleh sang empunya nomer. Tak lama kemudian terdengar suara Onew.

“Yeoboseyo…” ujar Onew ketika mengangkat telepon.

“Yeoboseyo, Onew hyung…. bisakah kita bertemu? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu…ini PENTING!” kata Minho to the point.

“Ok, aku tunggu di kafe dekat sekolahmu,,,,sepulang kau sekolah tentunya,” sahutnya.

“Ne, Kamshamnida,” ucapnya sambil membungkuk Sembilan puluh derajat walaupun orang yang ada diseberang sana tidak tahu.

Taemin, tunggulah sebentar lagi kau pasti tidak akan dihina oleh nenek sihir tadi. Pikirnya seraya meremas iphone ditangannya. Minho memandangi kamera yang ada disebelah laptopnya dengan tatapan penuh dengan keyakinan. Joon yang melihatnya pun langsung tersenyum.

“Gomawo sudah membantuku, Choi Minho,” gumamnya lalu menghilang.

***

Seorang yeoja tengah berjalan di koridor sekolah dengan membawa 4 kayu berbagai ukuran dan satu buah kawat ia kalungkan di lehernya. Di samping yeoja itu ada temannya yang membawa besi, kasa kawat, triplek, serta paku dan palu, juga peralatan yang lain. Mereka berjalan menuju halaman sekolah untuk mengerjakan penelitiannya. Buat apa alat-alat itu? Karena mereka ingin membuat suatu alat atau penemuan baru untuk lomba karya ilmiah yang mereka ikuti.

Di halaman sekolah, 2 yeoja tersebut telah ditunggu oleh guru pembimbing yang akan membimbing mereka nanti. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata sedang memerhatikan gerak-gerik yeoja tersebut dengan tatapan bingung. Tidak mau ambil pusing, akhirnya pemilik sepasang mata tersebut pergi dari tempat tersebut karena ia harus mengikuti latihan basket untuk pertandingan yang akan digelar.

2 yeoja yang ada di halaman sekolah tersebut terlihat sangat sibuk. Salah satu dari mereka ada yang menggarisi kayu-kayu dan yeoja berkacamata yang termasuk salah satu dari mereka itu sedang memotong kayu-kayu itu dengan gergaji. Tak menyangka bukan? Yeoja yang selalu di bully di sekolahnya ini sangat pintar menggergaji sesuatu. Yeoja yang sedang menggergaji itu bernama Lee Taemin. Sedangkan yeoja yang satunya bernama Cho Jino. Mereka satu tim untuk lomba karya ilmiah yang akan mereka kerjakan.

Waktu berlalu sangat cepat hingga tak terasa bel pulang sekolah berbunyi dan mereka di kerumuni oleh siswa-siswi yang penasaran akan apa yang 2 yeoja itu kerjakan. Tiba-tiba

“Hya, Kwon Yuri, kembalikan paluku!” bentak Jino pada Yuri yang mengambil palu yang sedang digunakannya untuk menyambungkan kayu-kayu yang dipotongi Taemin tadi.

“Wow, mau jadi super girl? Kamu kan yeoja, masa mau bekerja seperti ini? aku sih iuuuuh,” ejek Yuri seraya membuang palu tersebut dengan jijik.

Taemin yang sudah lelah dan kalau yeoja ini lelah dia bisa membanting siapa saja yang telah mengganggunya. Pernah dulu, ketika ia lelah, dan di rumah ia digodain sama Onew oppanya. Karena Taemin stress stadium akhir akhirnya ia membanting sang oppa hingga yang dibanting mengeluh kesakitan. Seperti yang terjadi saat ini, dengan tatapan dingin Taemin mendekati Yuri. Memandangnya sesaat, sedikit melewati yeoja centil itu. Tanpa mereka sadari kaki Taemin meraih kaki Yuri sedangkan tangannya telah ia letakkan di tangan yeoja itu. Kemudian.

Blumm

“Kyaaa,”

Taemin membanting Yuri *kebiasaan author kalau stress*  lalu beranjak sambil menyeret Jino dengan ekspresi dinginnya. Sedangkan yang dibanting itu sedang meraung-raung dan menyumpahi orang yang membantingnya. Siswa-siswi yang ikut berkerumun memandang heran pada yeoja yang sering mereka pandang rendah. Tanpa mereka sadari sesosok namja tampan berpakaian serba putih sedang tersenyum melihat pemandangan di depannya.

“Bagus Taemin, kau gunakan jurusmu itu pada nenek lampir yang selalu menghinamu selama ini,” gumam sosok tersebut,sebelum menghilang bersama angin.

“DASAR PEMBUNUH!” teriak Yuri. Dan

Plaak

Sebuah tamparan mendarat di pipinya. Ia melihat siapa orang yang berani menamparnya. Namun, Yuri langsung terdiam begitu melihat siapa yang menamparnya barusan. Orang menampar pipinya itu menatap geram padanya. Yah, orang itu adalah Choi Minho.

“Sekali lagi berkata seperti itu, aku akan membuangmu ke laut!” ancamnya.

“Aku memang berbicara yang sebenarnya kok!” sanggah Yuri.

“Memang kau pumya bukti kalau Taemin pembunuh?” tantang Minho. Yuri salah tingkah. Dia tidak bingung harus menjawab apa?

“Tidak punya kan? Makanya jangan asal menuduh seseorang, jaga mulut besarmu yang seperti ember itu,” kata Minho ketika Yuri terdiam cukup lama. Dia meninggalkan kerumunan dan berjalan menuju kafe tempatnya dan Onew ketemuan.

Di lain tempat tepatnya di lantai paling atas sekolah itu, berdirilah dua yeoja cantik yang sedang memandang lurus ke depan. salah satu dari mereka menangis dalam diam, sedangkan yang satunya lagi bertanya-tanya mengapa temannya seperti tadi? Namun, hal itu ia urungkan karena melihat temannya sedang menangis.

“AAAAAAAAH,,,,,KENAPA TIDAK ADA YANG MAU MENGERTI AKU, WAE, WAE,WAE?” teriak Taemin yeoja yang menagis tadi. Jino mendekatinya, lalu memeluknya dari samping bermaksud untuk menenangkan temannya tersebut.

“Uljima Taemin, aku kan ada disini? Aku akan menjadi teman yang selalu ada untukmu,” kata Jino menenangkannya.

“Kenapa harus akan? Kenapa nggak sekarang saja?” tanyanya. Jino tersenyum mendengar pertanyaannya.

“Iya ya, kenapa harus akan, kalau sekarang sampai seterusnya aku selalu ada untuk sahabatku ini,” jawabnya. Taemin tersenyum mendengar jawabannya.

“Gomawo, Jino-ah,” sahut Taemin membalas pelukan Jino.

***

Di pojok kafe terlihat seorang namja tampan sedang menyesap capucinonya. Mata namja tampan tersebut tak lepas dari pintu dan jam tangannya, seperti menunggu seseorang. Tak lama kemudian sosok yang ia tunggu itu datang.

Seorang namja jangkung memasuki kafe. Matanya ia edarkan ke seluruh penjuru kafe itu. Akhirnya ia menemukan sosok yang dicarinya itu. Segera ia melangkah ke tempat orang yang menunggunya.

“Mianhe hyung, tadi di sekolah ada sedikit masalah,” katanya minta maaf atas keterlambatannya.

“Gwenchana, kalau boleh tahu ada masalah apa?” tanya namja tampan yang tadi menunggunya.

“Baru saja Taemin membanting Yuri, tapi Yuri malah menghinanya sebagai pembunuh, untung saja Taemin segera pergi dan tak mendengar makian nenek lampir itu,” ceritanya. Onew namja tampan yang mendengar cerita namja jangkung itu hanya tersenyum.

“Akhirnya ia menggunakan kemampuan bela dirinya,” sahutnya.

“Memang Taemin belajar bela diri? Kenapa ia tidak menggunakannya?” tanya namja jangkung tersebut.

“Pabo Minho, mana aku tahu tentang itu, pasti ia mempunyai alasan tersendiri,,,”celetuknya. Sedangkan Minho namja jangkung itu hanya terkekeh.

“BTW, apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Onew.

Minho menghela nafas, mempersiapkan apa yang ingin ia katakan. Menatap mata Onew sebentar, lalu mengambil note kecil yang ada di dalam tas.

“Hyung masih ingat kecelakaan yang di alami Joon dan Taemin?” tanyanya hati-hati.

“Ne,,,wae?”

“Bisakah hyung menjelaskan tentang kronologisnya?”

Onew memandang Minho sejenak untuk mencari keseriusan dalam dirinya. Setelah itu ia menghela nafas.

“Aku tidak tahu bagaimana kronologisnya, tapi setelah kecelakaan itu Taemin dituduh oleh ibunya Joon, bahkan ummanya Joon masih menganggap Taemin sebagai pembunuh anaknya,”ceritanya. Terlihat setetes air bening jatuh melalui mata bulan sabitnya itu.

“Kalau aku boleh tahu setelah kecelakaan itu, bagaiman keadaan Taemin?” tanya Minho sedikit hati-hati takut kalau Onew tidak sanggup menceritakan hal tersebut. Namun, siapa sangka kalau Onew menatap Minho sebentar lalu ia menghela nafas.

***

Flashback

Dua orang dilarikan ke rumah sakit. Keduanya mengalami luka yang sangat parah. Darah terus keluar dari tubuh mereka. Keduanya memasuki ruang operasi. Polisi yang menyelidiki kasus kecelekaan yang di alami orang tersebut segera menghubungi keluarganya.

Tak lama kemudian keluarga korban datang. Yaitu sama-sama marga, tapi mereka dari keluarga yang berbeda. Dua keluarga menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. Selang beberapa jam pintu operasi terbuka dan keluarlah dua orang dokter yang menangani sang korban.

“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya mereka bersamaan.

Kedua dokter memandang mereka satu persatu. Mimik wajah mereka terlihat sendu dan pucat.

“Mianhe, kami sudah berusaha sebisa mungkin, tapi pasien yang bernama Lee Joon mengalami luka yang sangat parah. Darahnya terlalu banyak yang keluar dan tidak bisa di hentikan, Mianhe, saya turut berduka atas ini,” ujar dokter yang menangani Lee Joon.

Sontak keluarga Lee Joon langsung teriak histeris terlebih umma dari Lee Joon. Dia sampai pingsan begitu melihat jasad anaknya yang ditutupi selimut putih bercampur bercak merah darah.

“Pasien bernama Lee Taemin sudah melewati masa kritisnya, tapi dia masih koma, karena kondisinya pun hampir sama dengan pasien bernama Lee Joon, saya harap anda sekalian berdoa agar anak anda cepat sadar,” pernyataan dokter yang menangnani Taemin. Mendengar hal itu ibu Lee Joon langsung menuju ruang I.C.U tempat Taemin dirawat.

Dia tak menghiraukan teriakan susuter. Mencabut alat bantu pernafasannya dan membuat sang pasien mulai terengah-engah membutuhkan udara.

“Rasakan, lebih baik kau mati saja daripada kau hidup!” ujar umma Lee Joon. Melihat hal itu keluarga Taemin tidak terima, untung suster yang ada disana menyuntikkan obat penenang pada ibunya Lee Joon dan mulai memasang alat bantu pernafasan pada Taemin.

***

Beberapa hari kemudian kondisi Taemin mulai membaik dia sadar dari tidur panjangnya.

“Umma, appa mana Joon oppa?” tanyanya membuat bumonimnya itu saling bertatapan tak tahu harus menjawab apa.

“Umma…” panggilnya.

“Joon telah pergi ke surga sayang, dia pergi dan tak akan kembali…” sahut sang umma membuat Taemin diam sejenak mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan ummanya.

Tes

Setetes air bening jatuh dari mata indahnya. Taemin menangis dalam diam. Nama Joon terus ia gumamkan walau tanpa suara. Umma Taemin mendekat dan memeluk aegyanya itu untuk menenangkannya. Mengucapkan kalau Taemin menangis nanti Joon ikut menangis. Dengan begitu Taemin langsung diam, tapi masih terlihat sesenggukkan.

Satu minggu Taemin dirawat di rumah sakit setelah ia sadar. Akhirnya ia diperbolehkan pulang oleh dokter. Sebelum pulang ke rumah, ia ingin ke makamnya Lee Joon sebentar.

Di area pemakaman, Taemin terduduk lemas melihat gundukan tanah yang di atasnya terdapat nisan bertuliskan nama Lee Joon. Dia menangis.

“Oppa, mianhe, mianhe, mianhe,,,,ini salahku,,,hiks mianhe jeongmal,” kataya disela-sela tangisannya. Tiba-tiba

Plakk

Satu tamparan mendarat di pipi mulusnya. Taemin terkejut tiba-tiba ada yang menamparnya. Siapa lagi kalau bukan Heechul ummanya Lee Joon.

“Ne, kau memang salah, kalau saja anakku tak menuruti kata-katamu pasti ia masih hidup sampai sekarang,,,”makinya. Melihat hal itu, Jaejoong maju membela anaknya yang masih menangis.

“Kalau memang Taemin yang membunuh anakmu, kenapa ia sampai koma, eoh?” belanya.

“Boo tenang,” tenang Yunho appa Taemin. Onew menghampiri dongsaengnya dan mengajaknya pergi dari situ.

“Mau kemana kau pembunuh?” kata Heechul menarik Taemin hingga yeoja itu jatuh tersungkur.

Jaejoong yang melihatnya kembali murka, “Enak sekali kau memperlakukan anakku seperti itu? Memang hanya anakmu saja yang paling berharga? Taemin sangat berharga bagiku,”

“Dia yang membunuh anakku!” bentaknya.

“Polisi masih menyelidikinya, jangan asal menuduh orang sembarangan, Annyeong, aku akan membawa Taemin pergi darimu,” ujar Jaejoong lalu membawa Taemin pergi dari tempat itu, meninggalkan Heechul yang memandangnya tak terima.

Sejak kejadian itu Taemin sempat sekolah beberapa hari sebelum ia pindah sekolah. Namun, selama ia sekolah temannya mengejeknya sebagai pembunuh, terutama si nenek lampir Yuri dkk. Mereka mempelakukan Taemin tambah parah dari sebelumnya ketika Joon masih ada. Menghindari Taemin, mengejeknya, dan menyiksanya. Beruntung Yunho mengetahui hal tersebut ketika ia berniat untuk menjemput aegyanya. Saat ia menjemput, Taemin dalam keadaan pucat dan lemas. Satpam sekolah menceritakan apa yang terjadi pada Taemin ke Yunho. Akhirnya ia memutuskan untuk menyekolahkan Taemin ke Jepang. Kebetulan Yunho punya klien yang akan ditemuinya untuk bekerja sama dengan perusahaan miliknya yang ada di Jepang.

Flashback END

***

Minho mendengarkan dengan seksama cerita dari Onew. Dari cerita tersebut, dia menarik kesimpulan kalau Taemin memang tidak bersalah dan ia jadi mengerti kenapa Joon tidak mau memperlihatkan kejadian tersebut padanya karena itu akan membuat emosinya labil.

“Setelah itu, apa yang dilakukan polisi? Apa pelakunya sudah ditemukan?” tanyanya.

“Belum, karena saat itu jalanan sedang sepi dan tak ada saksi mata yang melihat kejadian tersebut, jadi sampai sekarang perseteruan antara dua keluarga Lee tak dapat diselesaikan,” jawab Onew. Minho berfikir sejenak. Dia memantapkan hatinya ingin membicarakan apa yang akan ia ucapkan.

“Bagaiman kalau aku membantumu hyung? Kita akan menyelesaikan perseteruan yang terjadi dan membantu ketenangan dalam hidup Taemin?” tawarnya.

Onew menatap Minho heran, “Bagaimana kau melakukannya? Apa itu tidak sulit?”

“Justru itu aku meminta bantuanmu hyung,” mantap Minho. Onew berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, ini untuk nae dongsaeng,” sahutnya membuat Minho senang.

Tiba-tiba ada yang menepuk bahu kedua namja tersebut. Sontak keduanya menoleh untuk melihat siapa yang menepuk bahunya. Orang itu tersenyum penuh arti,membuat kedua namja tampan itu menatap heran orang tersebut.

“Bolehkah aku ikut membantu masalah kalian ini? Taemin sudah aku anggap sebagai dongsaengku sendiri,” ujarnya.

Kedua namja itu tersenyum, lalu mengangguk, membuat orang yang tadi menepuk bahu mereka tersenyum semakin lebar.

“Jjong, Minho gomawo atas bantuan kalian,” kata Onew tulus.

“Gwenchana, BTW kita mulai dari mana?” tanya Jonghyun sembari duduk di sebelah Minho.

Minho mengeluarkan foto dan kamera videonya. Dua namja yang lain menatap Minho heran.

“Aku mendapat ini dari seseorang, bagaiman kalau kita mencari mobil yang ada di gambar ini?” usulnya. Onew menatap heran Minho.

“Bukankah tidak ada saksi mata?” tanyanya heran.

“Aku tak tahu, seseorang member foto dan video ini,,,hyung ingin melihatnya?” tawarnya.

Onew dan Jonghyun mengambil kamera video di tangan Minho lalu melihat video yang Minho rekam saat kecelakaan berlangsung, sementara itu Minho mencari foto plat nomor mobil yang menabrak Taemin dan Joon.

Setelah melihat video tersebut, Minho menyodorkan foto yang ada plat nomor mobil yang menabrak JoonTae. Kemudian Jonghyun menghubungi kenalannya yang merupakan seorang detektif. Tanpa mereka sadari sesosok namja berpakaian serba putih dari tadi mengamatinya. Dia tersenyum.

“Gomawo, tapi aku masih belum tenang sebelum masalah ini selesai,” gumamnyam lalu menghilang bersama angin. Minho menoleh ke belakang, sepertinya ia mendengar suara Joon? Mungkin ia sudah pergi.

“Minho, kau kenapa?” tanya Jonghyun.

“Aniya,” jawabnya. Lalu melanjutkan acara diskusinya.

***

Di lain tempat Taemin berjalan di koridor. Tangannya penuh dengan kertas-kertas hasil penelitiannya. Sesekali ia membetulkan kacamata minusnya yang merosot. Ketika ia sampai di lantai dasar, tiba-tiba

Cklek

Lampu di belakangnya mati lalu diikuti lampu-lampu yang ada di depannya. Melihat hal itu, ia merasa takut, tapi ia memberanikan diri untuk melangkah. Dia merasa diikuti oleh seseorang.

“Siapa itu?” tanyanya. Taemin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

“Siapmmmm,,,,” kata-katanya terputus karena seseorang telah membungkam mulutnya. Semua kertas yang dibawanya itu jatuh berserakan di lantai.

Taemin ditarik ke ruangan yang sangat gelap. Bisa ia rasakan tangannya diikat. Lalu seseorang menyiram seluruh tubuhnya dengan air.

“Emmmm,,,,” erangnya ketika merasakan seseorang telah menyayat kakinya. Air mata telah menggenang di matanya yang indah.

Seseorang menarik rambutnya dan yang lainnya menyayati tubuh Taemin dengan pisau. Darah segar keluar dari tubuhnya yang tersayat. Tak lama kemudian lampu kembali menyala dan Taemin jatuh pingsan karena darah yang keluar terlalu banyak. Orang yang tadi menyiksanya tersenyum senang atas apa yang dilakukannya.

“Rasakan, ini yang pantas kau terima,,,, PEMBUNUH” gumamnya. Lalu meninggalkan Taemin dan menguncinya di gudang yang gelap.

Di apartemen, Minho merasakan sesuatu hal yang tidak enak. Dia merasa gundah. Tidur, dia bangun lagi. Merasa ada sesuatu yang tidak enak. Tiba-tiba Joon muncul dihadapannya dengan wajah yang gusar. Dia memandang hantu dengan tatapan bertanya.

“Taemin….” ujar Joon dengan muka yang khawatir. Sontak Minho langsung mengambil jaket dan berlari keluar dari apartemennya. Wajahnya terlihat khawatir.

TBC

Gj ya? ya kan? aku kok gini sih? hancur gak? kependekan gak? atau kecepetan alurnya? mianhe deh, aku ngetiknya antara sadar dan tak sadar, juga di tengah-tengah kegalauanku. ayo kasih commentnya supaya author bisa nulis lanjutannya, mumpung belum UTS dan hiatus selama sebulan buat konsen sama UTS dan mungkin mencoba ikut olimpiade sains? please a comment *narik dasi Minho di jadiin tempat buang ingus* gomawo dah mau baca

 

 

24 thoughts on “[2min] My First Love Story Part 6

  1. aku g kebayang wktu taem kaitin kakinya ke yuri n narik lengannya, coz aku g tau kebiasaan buruk aythornya,,,*plakk
    itu sblumnya kan taem, yuri n joon satu skul?
    tpi stlah kecelakaan taem pindah skul kan? tpi ada yuri lagi….? bingung
    aduhh ga kuat baca akhir part ini….iiiiiiihhhhh….kasian taem T^T

  2. ais….yeoja sialan…
    sayat diri sendiri jangan sayat orang lain…(#-_-)
    minta di lempar nih orang…
    next chap

  3. Taem pinter….
    Biar tau rasa s yuri….
    Huh dasar nenek lampir….
    Hehehhe

    Kasian taem moga cepet selesai masalahnya…
    Lanjut lanjut….

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s