[2min-Onkey/PW ask sanni &viena] Forbidden Love of A Geisha PART 4 of ?


[Onkey-2min] Forbidden Love of a Geisha

Foreword:

Sanniewkey~ ]> Auw, gomawo yang udah komen, dan gomawo juga yang udah baca tapi gak baca 2minnya, mau ngakak banget deh bacanya …cekakak xD kocak aja.LOL
Ah, coba, gue bingung dan galau mau bikin floag, makin berat cuy~ free for comments, free yang juga yang gak suka 2min boleh gak baca… byeee~~
Oh, enjoy dont forget…

Vienasoma ]> ==” adoh… saya di sodorin doraemon terus jadi kgk bisa buat ne floag buru2.. klu buat cerita yang berat gene butuh keadaan diri yang galau.. hahahaha… sudahlah.. ini saya persembahkan ada apanya… special  thanks buat selingkuhan saya Keiminnie… untuk bahasa jepangnya.. (di injek sanni. Di bakar yua)… lalalalalalalala… ready action..

 by: Sanniiewkey~ & Vienasoma

~floag

Taemin duduk di depan kaca kamarnya yang besar itu, menatap wajahnya yang memerah karena baru saja ia berendam dengan air hangat dan campuran bunga aster. Ia sentuh wajahnya dan tersenyum, wajah itu benar sudah berubah, sekarang … semuanya juga sudah berubah, hal yang selama ini ia inginkan akhirnya tercapai, setidaknya, Kibum akan bangga padanya…ia bahagia ketika melihat senyum Okaa san nya itu saat debut beberapa jam lalu.

Ini kah yang ia inginkan? Hidup ini jalan yang ia pilih? Maka dari itu, ia harus berusaha lagi.

Grekkk~

Taemin terkejut, ia memegang ujung meja riasnya dan melihat ke jendelanya, menelan ludahnya dan berdiri perlahan. Ia nyalakan lilin tambahan untuk menambah penerangan.

Greek~~

Ia semakin panik, ia mengambil sebuah tongkat kecil yang biasa ia gunakan untuk memijat punggungnya , berjalan perlahan ke arah jendela.

“S-siapa…?”, tanyanya, perlahan mendekat dan membuka kain yang menjadi penutupnya perlahan. Dan dengan pelan ia membuka jendela itu dengan lebar, kemudian terpampanglah hamparan taman belakang yang luas dan sepi…tidak ada siapapun, sunyi … ia mengerutkan alisnya, merapatkan kimono tipis untuk tidurnya dan menyibak rambut panjangnya yang masih panjang kedepan. Kemudian karena tidak tahu ada apa,ia menutupnya lagi.

Greeek~~

Lagi, decitan bunyi lantai kayu terdengar lagi, ia menoleh kali ini ke pintu balkon, mencengkram kayu itu dengan kuat dan siap melawan, ia ingin mengabaikannya, namun apa boleh di buat …dia orang yang penasaran.

Perlahan ia membuka pintu itu dan lagi …tidak ada siapapun, yang ada, ia disambut oleh angin yang cukup membuatnya gemetar kedinginan dengan baju tipis itu.

“Siapa disana …ada orang?”, tanyanya, namun tidak ada jawaban. Ia berjalan keluar sampai ke batas balkon luar, melihat ke ujung taman, kesekitar , namun percuma, mungkin kucing atau angin ? mana mungkin ada orang iseng di Okiya ini? Selama ini pun tidak ada?

Taemin akhirnya berjalan mundur sambil matanya terus menerawang kesegala arah, ketika sudah sampai diambang pintu, ia menghela nafas, ‘mungkin Cuma perasaanku saja…’, gumamnya.

Kemudian ia pegang handle pintu, namun sebelum ia menutupnya.

“Konbanwa Taemin san…”,

Taemin sontak menoleh, “Kyaaa—hmpfhhh?!!”

“sssshhhh…tenang,tenang … ini aku, Minho…aku Minho…”, kata Minho menarik Taemin masuk dan membekap mulutnya perlahan menahannya untuk berteriak dan menimbulkan keributan.

Ketika Minho bisa lihat mata terkejut dan nafas Taemin itu bisa teratur, perlahan ia buka mulut Taemin. “K-kau Minho sama? Kenapa kau bisa ada disini?”, tanya Taemin menarik baju kimononya dengan rapat, rambut basahnya yang panjang hampir sepinggang, dan masih sedikit basah itu ikut ketarik. Merapatkan tubuhnya ke pintu melihat Minho yang berdiri didepannya.

“Gomenasai Taemin san … aku hanya ingin bertemu denganmu …”, katanya melembut dan menatap Taemin lekat, mendekat ke arahnya membuat tubuh Taemin kaku dibuatnya.

“Kau masuk dari mana? Kenapa kau bisa ada disini? Apa yang mau kau lakukan?”, tanya Taemin detail. Minho menarik nafas dan mendekat, membuat Taemin tambah terpojok di pintu.

“Tanyalah pelan-pelan Taemin san, aku datang dengan melompat pagar, aku disini karena aku menyelinap, dan itu aku lakukan untuk bertemu denganmu…”, jelas Minho tersenyum hangat, menatap mata mungil coklat itu dengan lekat. Wajah Taemin semakin memerah, namun tetap tidak menunjukan reaksi apapun.

“Wajah mu memerah, kau sakit?”, tanya Minho ingin menyentuh wajah Taemin, namun Taemin menolehkan kepalanya dan menatap Minho dingin.

“Maaf, tapi kumohon, jangan menyentuh ku…”, kata Taemin. Minho terkejut melihat perubahan sikap Taemin.

“Kenapa?”, tanya Minho, Taemin menatapnya sekilas.

“Karena itu dilarang … kau tidak boleh menyentuh kami sedikit pun Minho sama … “, jelas Taemin, “Terlebih kau menyelinap kesini, dan itu sangat terlarang …”, Taemin kali ini menatap mata Minho, “Apa kau tahu, hal ini sama sekali tidak sopan , kau tidak boleh begitu saja masuk kedalam kamar ku … “, Taemin menatap Minho lekat,

Minho memundurkan badannya, ia melihat sosok Taemin yang lebih segar saat ini, entahlah, mungkin libidonya, tapi ia merasa Taemin sangatlah cantik dari saat pertama bertemu dan saat debut tadi.

“Minho sama, sudah kukatakan, jangan tatap aku seperti itu …”, Taemin berjalan ke ujung kamar dan mengambil selimut , melilitkan ketubuhnya. Ketika ia berbalik Minho sudah ada dibelakangnya,

“Taemin san …”

Taemin terkejut, “A-apa mau mu?”, tanya Taemin, Minho semakin mendekat

“Jangan bergerak …”, kata Minho menatap Taemin,

“A-apaa??”,

“Ssshhh…”, Minho perlahan mengulurkan tangannya, dan …. “Ini … kau takut serangga kan? Kenapa kamarmu banyak serangga? Ini ada kumbang …”, kata Minho kemudian melepas ke luar pintu. Taemin terdiam terpaku, kumbang … melihatnya didepan mata saja ia takut, terlebih ia tidak tahu bahwa tadi menempel dikepalanya.

“Kamarmu indah dan harum, masih sama ketika terakhir aku kesini, padahal sudah 3 hari yang lalu yah? Aku tidak akan bosan kesini …”, katanya melihat kesekeliling.

“Minho sama…maaf, apa sebenarnya yang aku mau? Ini sudah malam, tolong keluar, aku tidak mau Kibum san melihat mu …”, kata Taemin, Minho menoleh dan berjalan ke arah Taemin.

“Kau tidak suka aku disni?”, tanya Minho.

“Apa? Aku bukannya tidak suka, hanya saja ini sudah malam, jika kau ingin bertemu denganku, kau bisa datang besok saja …”jelas Taemin membuka pintu lebih lebar. Minho menatapnya diam.

“Tidak bisa …”, jelas Minho. “Aku tidak akan bisa tidur jika aku tidak bertemu denganmu saat ini? Aku bisa gila jika menahan bertemu denganmu sampai besok, jangan buat aku menderita begitu dengan melarangku saat ini Taemin san…” Minho tersenyum dan menatap lembut Taemin, Taemin menarik nafas berusaha tenang, ia tidak boleh emosi, harus membujukanya dengan baik.

“Kau harus mengerti, ini sangat beresiko, aku akan dihukum oleh Kibum san … kau sendiri, kau akan dihakimi penjaga jika kau tahu kau sembarangan masuk Okiya…”

“Mereka tidak akan tahu…”

“Tapi mereka akan segera tahu jika kau tidak cepat pergi dar—“

“Ssshh…” Minho maju dengan cepat dan menaruh telunjuknya hampir dibibir Taemin, ketika ia menarik tangannya tidak sengaja ia rasakan lembut bibir itu. Jantung berdegup cepat, dan darahnya mengalir deras.

Wajah mereka hanya beberapa centi dan saling menatap sesaat sebelum Taemin melihat ke arah lain dengan cuek. “Pulanglah …”, Taemin bergeser menunjukkan jalan keluar. Minho diam saja.

“Keluar dari sini, dan pulang lah Minho sama…”, Taemin melihat sekilas dan memberi jalan lebih lebar lagi.

“Aku mau disini, aku mau kau menemani ku…”, Taemin terbelalak, ia menatap Minho tidak percaya.

“Maaf? Apa katamu Minho sa—‘

“Aku ingin bersamamu, disini, ditemani olehmu, hanya kau dan kita berdua saja…bolehkan?”,tanya Minho mendekat, Taemin mengacungkan tangannya untuk mundur.

“Kuperingatkan Minho sama, sebelum ini terdengar dan terjadi keributan, kumohon pulanglah … kau tidak bisa disini, aku juga tidak bisa bersamamu …”, jelas Taemin, “Kumohon pulanglah…”, katanya.

“Kau tega denganku? Aku hanya ingin—‘

“Minho sama…kumohon…”, Taemin kali ini membungkuk dengan sangat hormat , Minho menarik nafas, mencengkram tangannya ketika melihat tengkuk itu lagi yang sedang membungkuk indah didepannya.

“kalau begitu, aku akan benar pulang jika kau antar aku keluar dari sini, aku tidak mau memanjat pohon itu lagi.”, tunjuk Minho ke pohon sakura.

Taemin menarik nafas, “Baiklah, tunggu diluar sebentar …”, kata Taemin,

“Nanti kau tidak keluar, kalau kau lakukan itu, aku akan te—“

“Aku akan keluar Minho sama…jadi tunggu diluar sebentar.”, kata Taemin, Minho tersenyum dan mengangguk kemudian keluar dari kamar Taemin.

Tidak lama Taemin keluar dengan kimono sederhana bergambar burung kenari yang indah, dengan rambut panjang yang sudah mulai mengering dan tergerai indah kedepan. Minho tersenyum, kemudian mereka berjalan kesisi pondok dan menuju taman samping, perlahan mereka susuri jalan setapak, sesekali Minho menawarkan uluran tangannya, namun Taemin hanya menggeleng dan berjalan sendiri, Minho hanya bisa menjaganya dari samping atau dari belakang.

“Kau pulanglah …”, Taemin berbisik dan sesekali melihat ke pintu utama pondok Kibum,

“Penjaga sudah aku suap, jadi kau tidak usah khawatir  ketahuan…”, Taemin terbelalak, “Bohong, mana mungkin mereka bisa disuap, Okaa san mu itu mengerikankan? Jika ia tahu anak buahnya di suap untuk seorang penyelinap , dia akan murka…”, jelas Minho, jujur, Taemin selalu ingin tersenyum mendengar lelucon Minho.

“Baiklah, aku akan kembali kedalam …kau hati-hati…”,

“Tunggu!”,

Taemin menarik nafas, “Apa Minho sama?”, Minho tersenyum mendengar nada lembut yang terlihat dipaksakan, mungkin Taemin nya itu sudah marah.

“Ini …”, Minho menyerahkan sebuah kotak panjang, dan Taemin dengan bingung menerimanya.

“Apa ini?”,

“Bukalah, itu khusus kubelikan untukmu …”

“Untukku? Tapi ini—‘

“Atau kau tidak mau kupulang sebelum kau menerimanya dan membukanya…?”,

Taemin menarik nafas, ia buka kotak berwarna merah marun itu, dan ketika ia  buka, ia melihat tusuk konde rambut dengan aksen bungan yang indah berwarna merah dengan kain brokat indah.
“Itu mungkin tidak seberapa, tapi itu kurasa cocok dengan rambutmu …aku ingin kau memakainya…”, jelas Minho.

Taemin memandangi tusuk konde itu, indah…dan lucu. Ia meatap Minho sekilas dan menggeleng.

“Aku tidak berhal terima ini, kenapa kau harus membelikan ini?”

“Kau berhak, kau akan cantik jika menggunakan itu.”

“Aku tidak —“

“Sudah yah, aku pulang, jangan lupa dipakai …konbanwa …”, Minho tersenyum lebar dan pergi, Taemin masih melihat ke ujung jalan ketika Minho pergi, kemudian matanya menuju ke tusuk konde itu. Ia ambil dan ia tersenyum simpul, ia taruh lagi dan masuk kedalam, ia tidak tahu, ada sepasang mata yang merasa bahagia dibalik sana melihatnya.

~Floag

Bangun dengan wajah yang terlihat sedih. Mengangkat tubuh yang lemah dengan menopang tangan pada alas kayu kamar. Jinki memperhatikan sekeliling. Memfokuskan mata yang mengabur. Tangan kirinya memijit pelipisnya perlahan.

“akh…?”

Merasa pusing. Merasa jika mata sabitnya sulit untuk terbuka. Sinar mentari yang masuk dari sela – sela kamar membuatnya harus menyipitkan matanya kembali. Jinki menoleh keujung ruangan melihat meja yang sudah tersediakan sebuah mangkuk berisikan air bersih dan sebuah kain penyerap.

Menyeret tubuhnya mendekat kearah meja. menaikan tanganya. Dan mulai membasuh wajah. Menyiramkan berkali – kali. Kemudian mengambil kain tersebut mengelapkannya pada wajah tampan dia.

Keheningan panjang di pagi hari yang terlihat suram untuknya. Walau kicau burung yang terdengar sangat ceria mencicit dengan merdu dan bernada, bunyi angin yang menyapu berbagai macam benda yang bisa di goyangkanya. Sapuan gerak pohon yang berkresek yang biasanya membawa aroma hijau pada indra penciumannya tidak ada yang berhasil. Tidak ada yang bisa menghilangkan sedu sedan didalam hati seorang hwangsason (pangeran pewaris imperial korea)  seperti dia.

Meremas dadanya. Kembali merasakan sesak yang dia rasa akhir – akhir ini. tusukan kasat mata yang menghujam hati seorang lee jinki. Sungguh miris. Sungguh terlihat menyedihkan.

Meremas rambutnya. Berusaha mengeluarkan sesak itu. Berusaha sedikit saja. walau hanya sedikit mengeluarkannya dari hatinya. Beri dia waktu untuk bernafas.

“HAH?”

GREK

Pintu terbuka. Menampilkan seorang wanita indah yang terlihat menatapnya dingin. Lengkap memakai kimono furisode berwarna merah dengan motif burung jenjang. Wajah yang memang pada dasarnya cantik dan berkilau dengan warna bibir yang di merahkan. Lengkap membuat penampilannya sempurna.

“anda sudah bangun pangeran Lee?” Tanya kibum sopan membungkuk tetap berada di ambang pintu.

“saya sudah menyediakan seorang maiko untuk melayani anda. Silahkan bunyikan saja lonceng yang berada di atas meja jika anda membutuhkan sesuatu?” lanjutnya menarik kembali pintu untuk menutupnya kembali

“apa tidak ada yang bisa kau katakan selain itu? Seperti tidak ada yang terjadi semalam. Seperti sebuah rangkaian drama dari para actor yang bersandiwara kau menganggapnya angin lalu. Itu kah obat yang bisa kau berikan padaku? Sebuah pengabaian? Sebuah penolakan? Arigato.. dommo arigato… kau berhasil menghancurkan hatiku alih – alih mengobatinya kibum san?”

“saya hanya mengatakan hal yang seharusnya saya katakan pangeran Lee. Apa yang anda harapkan dari seorang geisha seperti saya?”

Jinki mengusap wajahnya. Menghirup udara sebanyak dia bisa. Kemudian berdiri mendekat kearah kibum. Perlahan. Tanganya terangkat dan wanita itu mundur kebelakang.

“aku mengharap sebuah perasaan. Aku mengharap sebuah kasih. Aku mengarapkan sebuah sayang. Aku mengharapkan CINTA…. Terlalu tinggikah pengharapan yang ku ajukan?”

Mengunci kibum dengan menaruh kedua telapak tangan merapat pada dinding. Hingga wanita itu tidak bisa bergerak kemanapun. Menilik gerak wanita yang kini terkesan gugup. Meremas obi yang berada dipinggang. Memilih menunduk dan tetap mengacuhkan tatapan mata bulan sabit jinki.

“gommen… saya harus pergi pangeran lee.. tolong jangan menghalangi saya?”

Sesak.

“tidak bisa menjawab apa yang ku katakan??”

“saya harus pergi pangeran Lee.. Jjong – sama telah menunggu?”

Deg

Serasa terhujam panah panas dari arah depan. Tepat menghunus jantung.

Dugh

Jatuh tubuh itu. Menatap sebuah tangan yang kini tergenggam dengan erat di depan tubuhnya. Harus kah dia menjelaskan betapa hatinya hancur. Betapa perih luka yang dia rasa?

“jangan pergi…. Kumohon jangan pergi…?” lirihnya pelan menangkup wajahnya. Berat sekali membayangkan seorang terkasih pergi terbang menjauh dari jangkauan tangan. Perih sekali membayangkan jika seorang terkasih berada dalam pelukan orang lain. Jangan pergi. Jangan berlari dari sisi jinki yang kini gila akan sosokmu. Jangan pergi membawa hatinya dan membandingkan dengan hati yang lain.

“gommen pangeran lee.. saya harus pergi?”

Dan pada akhirnya dia pergi

Meninggalkanku dengan derita tiada tara

Mengacuhkan cinta yang terjerat lara

“jangan pergi…. Jebal… saranghae….. kibum san…….?”

~Floag

“kibum…”jjong menaruhkan kepalanya dibahu kibum. Melingkarkan lenganya di pinggang wanita cantiknya. Menatap kepada hamparan ilalang yang sengaja dia tanam dalam perkarangan rumah bergaya eropa miliknya. Menikmati saat terakhir sebelum dia pergi kembali ke bagian timur jepang demi sebuah tugas.

“kenapa jjong-sama!” Tanya kibum tetap melihat kearah depan

“jangan pernah meninggalkanku! Berjanjilah?” jjong membenamkan wajahnya.

“saya berjanji jjong – sama!”

Pelan kibum bersuara. Hatinya berkecamuk hebat. Biasanya kata – kata itu akan dengan sangat yakin dia ucapkan. Tanpa perlu berpikir panjang dia akan bisa menjawab pertanyaan jjong dengan lancar. Jangan pernah pergi dari sisi pria rapuh itu. Itu yang sudah dia tanamkan dalam otak dan sanubarinya, dan sekarang. Mengucapkannya membuat hatinya merasa berdenyut sakit. Sakit sekali.

“kau tahu aku tidak mencintai wanita itu! Wanita yang bermain dibelakangku! Aku membencinya kibum! Aku membenci seluruh keluargaku dan hidupku” serak dan menderita. Suara jjong terdengar pilu. kibum merasa aliran air hangat yang kini menetes dipundaknya. Memejamkan mata. Mencoba untuk memberikan reaksi terbaik untuk seorang pria yang telah terlalu baik kepadanya.

“saya mengerti jjong-sama, ”

“kenapa hidupku harus seperti ini? Diatur dan di perbudak???” lanjutnya.

“kenapa kibum? Keluarga yang aneh. Keluarga yang selalu menuntutku untuk terlihat sempurna. Menikahkanku padahal tahu penyakitku! Dan wanita itu.. wanita itu bermain dibelakangku. Dan mengaku – ngaku jika anak haram itu adalah hasil perbuatanku.  Padahal kau tahu itu tidak mungkin.. itu.. huks.. tidak mungkin…”

Kibum berbalik dan mengelap airmata lelaki yang selalu keliatan tegar dan mandiri. Yang dihormati. Kepala pasukan sinkeiren yang memiliki berpuluh ribu anggota. Kini.. saat ini menangis bagai anak kecil dihadapan seorang wanita.

“saya mengerti jjong – sama.. saya mengerti” kibum melingkarkan lenganya keleher lelaki miris dihadapanya, menenangkannya dan berusaha menjauhkan derita dari hidupnya.

Aku tersesat dalam dua arah

Tidak dapat memilih untuk maju atau memundurkan langkah

Hanya bisa berjalan di tempat bagai raga tak berjiwa

Tanganku ingin menggapaimu

Sedangkan jemariku telah di lekat olehnya

 

Bagaimana aku harus bersikap

Memilih cintaku atau mengabaikan cintanya yang besar terhadapku?

 

~floag

Minho berlari ke luar rumahnya ketika ia baru saja mendengar apa yang Jonghyun bicarakan di telpon, bahkan ia meninggalkan jamuan minum malam dengan keluarganya. Dia berlari sekuat tenaga menuju distrik yang ia hapal.

[Cepatlah ke Okiya. Kibum sudah membuka pelelangan Mizuage untuk Taemin, dan sungguh aku tidak bohong, penawaran ini akan sangat berat, banyak yang ingin memiliknya.]

Itu yang terngiang. Kenapa? Kenapa cepat sekali? Seindah itu juga kah Taeminnya dimata orang? Tidak. Tidak ada yang boleh mengira hal itu sama sepertinya, Taemin hanya untuknya, hanya dia yang boleh menikmati keindahannya.

Ketika ia sampai, suasana sepi , hanya ada 1 orang yang baru saja keluar dan menabraknya , mengutuk tidak jelas , yang pasti ia sempat menyebut nama Kibum dan menjelek-jelekannya.

“Oh, Minho sama?”,

Minho menoleh dan melihat Suzu, “Kau juga ingin …”

“Siapa? Siapa yang memenangkan mizuage Taemin?”, tanya nya, Suzu sempat bingung, namun kemudian menggeleng.

“Sulit Minho sama … sampai saat ini Okaa san tidak menerima siapapun…aku tidak tahu menahu lag—Minho sama!”, Suzu memanggil Minho yang hendak masuk.

“Kenapa? Aku ingin melakukan hal yang sama, memberikan penawaran pada Kibum san …”, jelas Minho, “Aku akan bawa Taemin jadi milliku…”, kata Minho, tanpa bisa dibalas Suzu, Minho sudah masuk kedalam Okiya.

~floag

Minho duduk membungkuk didepan yeoja angkuh didepannya. Sebisa mungkin melakukannya dengan sopan.

“Kau…apa yang kau katakan barusan adalah, bahwa kau ingin menjadi Danna Taemin,benar begitu Minho sama?” kibum bertanya, melirik kepada namja yang pada akhirnya mendongak kepadanya.

“Yah… aku ingin menawarkan  diri sebagai “Danna” nya! Apa sudah ada yang mencalonkan diri selainku?” tanyanya takut. Memicingkan matanya kepada yeoja indah yang tak lekat memandangnya.

“Tentu saja Minho sama. Apa kau pikir Lee taemin kami tidak terkenal? Bahkan baru saja ada puluhan lelaki yang datang sebelum dirimu” angkuh Kibum, menarik senyum dibibirnya. Bangga, bangga kepadaTaeminnya yang menggemparkan Kyoto dengan debut dan hasil mizuagenya. Dan karena itu dia harus ektra selektif dalam mencari Danna.

“Apa yang mereka tawarkan?” minho menggenggam erat kedua tanganya di atas pahanya. Menahan gejolak yang timbul didadanya. Marah. Ani. Kesal. Ani. Sedih. Dia sedih.. Taeminnya. Kenapa harus hidup dalam dunia seperti ini?

“Semuanya…harta… kekayaan yang berlimpah. Rumah. Perhiasan. Dan kebebasan” ucap Kibum sadis. Dan kemudian tertawa kecil. Menutup mulutnya dengan tanganya saat tawa itu semakin terlihat geli.

Minho terdiam. Memejam matanya. Menghembuskan nafasnya berat.

“Jadi. Apa yang ingin kau tawarkan kepadaku Minho-sama agar aku memilihmu alih – alih yang lain?” lanjut Kibum ketika kembali tenang.

“CINTA… aku hanya bisa menawarkan cinta  Kibum – san! Apa ada yang menawarkan itu kepadamu?” Kibum menghilangkan ekpresi menjadi datar. Meresap kembali informasi yang baru saja di beritahukan Minho

“Harta. Kekayaan, rumah, perhiasan. Benda – benda apa pun juga bisa kutawarkan. Tetapi bukan itu yang kuinginkan. Aku menginginkan hatinya. Bukan tubuhnya. Aku tidak ingin membelinya namun memilikinya. Karena itu aku hanya bisa menawarkan cinta kepadanya. Aku hanya bisa menawarkan hatiku kepadanya” Minho menjelaskan dengan tenang namun tegas.

“Cnta? Kau yakin? Kami tidak boleh mencintai minho – sama. Kami di takdirkan untuk melayani. Bagi kami cinta itu sangat terlarang… dan kami hanya melayani Danna yang merawat dan mengurus kami! Kau tahu itu kan?’

“Aku akan mencoba mematahkan tradisi itu Kibum – san. Karena itu aku…” Minho membungkuk dalam “Tolong pilih aku! Aku berjanji akan membahagiakannya…”, Minho membungkuk sangat dalam.

Tidak ada reaksi dari Kibum sedikit pun, Minho terus menunduk, ketika ia lirik dari sudut matanya Kibum malah berdiri dan hendak pergi.

“Kumohon, aku mohon padamu Kim Kibum-san, pilih aku jadi Danna untuk Taemin, kumohon.”, namun tetap langkah itu menjauh, Minho dengan kesal menarik tegak badannya, meremas tangannya dipahanya, menunduk dalam.

Sebelum pintu kebuka lagi, “Minho sama…angkat wajahmu…”, tegas Kibum, Minho dengan berat mengangkat wajahnya yang kusut, bingung, dan frustasi. Namun seketika ia lihat sosok yang perlahan muncul dibelakang Kibum, wajahnya sontak sumringah dan jantungnya berdegup cepat, melihat sosok Taemin yang berdiri denagn balutan kimono bunga lily putih disekitar bahunya dengan paduan warna emas.

“Kau kuterima sebagai danna nya…”,

“Mohon bimbinganmu …Minho sama…”, Taemin membungkuk sopan didepan Minho , Minho hanya terpaku dan tidak percaya.

~Floag

Brak

Seorang maiko masuk membawa nampan yang berisi sebuah gumpalan besar benda dan sebuah surat yang terlampir diatasnya. Memandang geisha dengan wajah tirus nan putih yang sedang asik memainkan Shamisen. tangan kanannya memegang sebuah bachi (pick) yang tengah memetik bergantian tiga senar yang ada.

Kibum menghentikan permainannya dan menatap kepada Suzu.

“ada apa?”

“gommen okaa – san, saya mengantarkan surat dan beberapa hadiah dari Pangeran Lee Jinki..?”

Suzu mengangkat nampan tersebut dan menaruhnya di meja disamping kibum.

“lagi??”

“Hai.. kalau begitu saya permisi okaa – san?” Suzu beranjak pergi

Kibum melirik dari sudut mata tajam miliknya. Menaruh shamisen menyandarkannya pada dinding kertas didekat dawai lain yang biasa dia mainkan. Tanganya terangkat dan mengambil surat coklat yang terlipat rapi berbentuk burung tak bernama. Melihat bungkusan yang terdiri dari dua bagian. Besar dan kecil.

Kibum mengambil bungkusan kecil. Membukanya perlahan dan menemukan sebuah Kanzashi (hiasan rambut seperti tusuk konde yang disisipkan ke rambut sewaktu memakai kimono) berwarna biru langit. Cantik dan indah. Terlihat sangat lelah…. Kibum menaruhnya disamping. Dan kembali melanjutkan membuka surat tersebut dengan perlahan.

Kepada wanita langit yang ku cintai kim kibum

Ku titahkan rasa terima kasih terlebih dulu untukmu yang sudi  membuka lembaran tulisan jemariku.

Kuhadiahkan sebuah Kanzashi dan kimono biru langit untukmu yang kini merajai hati duniaku. Kulambangkan mereka sebagai dirimu yang terbayangkan dalam pejaman mata yang selalu menampilkan siluetmu.

Kau bagai langit yang ingin kugapai. Tinggi dan tak terjangkau.

Tangan ini terlalu jauh untuk menggapaimu yang jauh dari alas hidupku. Terlalu rendah untuk dirimu yang berharga.

Hanya angin yang bisa menyampaikan sedu sedanku kepadamu. Hanya suara hati yang mungkin bisa membisikkan kalimat rintihanku kepadamu.

Aku selalu memandang langit. Selalu menatapnya lama. Karena disanalah dengan leluasa aku bisa menatapmu… langit biruku…. Wanita langitku.. kim kibum….

Aku…. sengaja kutulis surat ini untukmu yang mengacuhkanku. Untukmu yang mengabaikanku. Tidak menahu dan tidak mengerti lagi, hingga batas mana dirimu ingin membuatku menderita, ingin membakarku dengan kobaran mata yang tidak melirikku.

Kepada wanita oasis yang menemani dunia gersangku kim kibum

Aku merindukanmu..,, sangat merindukanmu….

Semenjak Oasisku menghilang, memilih mengacuhkanku yang memujanya. Memilih untuk menghindar dari uluran tangan yang ingin merasai keteduhan dari rasa dahaga yang kurasa. Aku bagai mayat yang tak bernyawa. Aku bagai hidup tak bernafas. aku hidup bagai mati. Hanya dentuman jantung yang masih menyadarkanku jika diriku ini… seorang pria yang selalu berharap akan cinta ini masih hidup….

Aku ingin melihatmu.. ingin mata ini membiaskan sosok dirimu… tolong… sekali saja… sekali ini saja…

Kepada wanita langit yang telah merebut separuh jiwaku

Ku berlutut dihadapanmu… ku acuhkan harga diri yang menelungkup diriku sebagai seorang pria…. Hilangkan sesak dalam dada ini… hilangkan gumpalan kabut dalam indra penglihat ini…

Kepada wanita langit yang telah menarik seluruh hatiku

Ku runtuhkan tiang kehormatan yang menjadi tanda lahirku sebagai seorang bangsawan dari sebuah Negara asing… aku menunggumu…. Aku akan menunggumu hingga ragamu terlampir dalam bola mataku….

Kepada mu kim kibum

Aku menunggumu di bawah langit yang menggelap  bertemankan cahaya rembulan…. Di sebuah okiya yang kau banggakan…. Di tempat dimana bibir ini melantunkan bait kata cinta pertama kali untukmu……

Kepadamu kim kibum

Aku… lee jinki… hanya seorang lee jinki.. hanya seorang pria biasa

Mencintaimu………..

Tes

Tes

Tes

Dan pada akhirnya bulir air mata itu jatuh. Membasahi tatami, membasahi seluruh hati dari seorang wanita yang kini menyembunyikan wajah dengan telapak tanganya.

“hiks… hiks…..”

Membungkuk. Merebahkan tubuhnya. Menangis dalam diam… menyembunyikan isakan kecil dan rintihan sakit yang ingin keluar dari tenggorokannya.

“hiks… hiks…”

~floag

Minho membuka pintu rumah bernuansa tradisional , dengan pintu yang besar berkayu, kemudian saatia membawa Taemin masuk langsung disambut oleh taman yang luas dengan banyak bunga, dan air kolam dengan air terjun buatan.

Minho menghampit kedua pundak sempit Taemin dengan lembut, dan matanya tidak lepas menatap dari samping wajah indah itu. Ia tidak hentinya tersenyum melihat mata Taemin yang lincah melihat kesekitar dengan tertarik.

“Kau suka Taemin?”, Tanya Minho, Taemin menoleh dan mengangguk.

“Ya , aku sangat suka, tempat ini indah, sama seperti Okiya …”, kata Taemin, Minho menarik nafas.

“Tapi tempat ini akan menjadi tempat mu selamanya bersamaku …”, balas Minho, Taemin mengangguk

“Ya Minho sama … aku akan melayani anda sepenuh hatiku …”, balasnya tersenyum, Minho berdebar cepat mendengar perkataan itu dari mulut Taemin, bukan … bukan itu maksudnya …

“Minho sama?”,

Minho menatap wajah Taemin, “Ya?”, Taemin menatapnya khawatir,

“Apa kau baik-baik saja?’, Tanya Taemin cemas, “Kau kelihatan tidak focus? Apa kau lelah?” , Tanya Taemin, ya mereka baru saja melaksanakan acara pengangkatan Danna , dan malam itu mereka baru kembali dari acara tersebut, Minho tidak lelah sama sekali, dia justru sangat bahagia dak tidak sabar untuk berdua saja dengan Taemin.

“Nah … aku tidak lelah, bisa kita masuk sekarang?” , Tanya Minho merangkul pundak Taemin lagi.

Taemin mengangguk dan berjalan masuk kedalam rumah tersebut,kemudian menyusuri rumah megah itu.

~floag

Minho duduk di atas lantai kayu beralaskan karpet menatap keluar jendela kamar sambil meminum sake yang baru saja disugukan oleh Taemin untuknya, dan ia tahu siapa yang sekarang bersamanya, ia berkali-kali mengigit bibirnya, menahan degupan jantungnya, paniknya, dan juga gugupnya menjalani malam pertamanya dengan Taemin, ia berpikir keras, apa yang seharusnya ia lakukan?

Sebelum ia bisa menguasai perasaannya, ia bisa melihat siluet seorang gadis yang sangat cantik muncul dari balik lorong. Dengan balutan kimono sederhana dengan hiasan burung phoenix di bagian dadanya berjalan masuk dengan anggun.

“Selamat malam Minho sama … apa perlu aku buatkan makanan untukmu?”Tanya Taemin ketika ia melihat siapa yang ada didalam ruangan. Minho diam saja, masih terkagum melihat sosok didepannya, cantik , bahkan tanpa polesan make up, rambutnya yang hitam legam ,matanya yang besar dan coklat , pipinya yang memerah karena sapuhan air hangat, dan juga bibirnya yang merah semerah darah, sempurna … bagi Minho , semuanya sempurna.

“Tidak perlu Taemin … aku sudah cukup kenyang …”, Minho tersenyum, Taemin perlahan menghampirinya, dan berdiri gugup.

Minho menarik nafas, ia bergeser sedikit , “Duduklah disini … kau tidak mau berdiri saja dan kaki mu pegal kan?”, Tanya Minho. Taemin tersenyum dan perlahan duduk disamping Minho.

Mereka melihat keluar jendela dan saling terdiam, bingung menngangkat topic apa.

“Taemin …”

“Hm ?”,

“Terima kasih …”, Minho menoleh, Taemin memiringkan kepalanya, “ Terima kasih karena kau mau menjadi kan ku Danna mu … “, Minho mengangkat tangannya dan mengelus pipi Minho, tidak ada ekspresi apapun dari Taemin, hanya senyum simpul yang ia berikan.

“Kau tidak usah berterima kasih padaku, karena aku yang seharusnya begitu, kau telah membawaku kedunia yang sedikit berbeda, suasana baru ini … aku menyukainya.”, Taemin memiringkan kepalanya kearah tangan Minho, Minho menahan nafasnya, degup jantungnya semakin kencang.

“Taemin … aku mencintaimu …”,  meraih tangan Taemin , mencium telapak tangannya dan menaruhnya di pipinya sendiri, merasakan kehangatan tangan mungil itu.

Taemin terpaku, cinta? Dia mencintainya? Apa itu …cinta?

Namun satu yang bisa Taemin simpulkan, “Minho sama … izinkan aku melayani anda malam ini…”, kata Taemin berdiri dan membungkuk perlahan , menaruh tangannya di atas ubin kayu dengan sopan. “Biarkan aku serahkan semuanya untukmu  malam ini… mohon bimbingannya…”,

Taemin berdiri dan  mulai membuka kimono bagian luar perlahan serta bagian dalamnya, Minho bisa lihat dengan jelas punggung Taemin yang terekpos dengan indah , punggung yang pertama kali membuatnya jatuh cinta. Taemin menoleh seduktif pada Minho. Dan melepas gulungan rambut dengan tusuk konde pemberian Minho itu.

Minho terpaku sesaat, namun kemudian ia menoleh kearah lain, ketika tubuh Taemin yang sudah polos dan hanya dibagian atas itu terbaring di atas futon beralaskan tatami, hanya sebagian kimono yang tertinggal menutupi daerah kewanitaannya.

Minho … tetap mengalihkan pandangannya … Benar, Memang dia telah memenangkan pelelangan. Namun ada yang kurang. Ada yang kosong. Dan itu cinta. Dia ingin memenangkan hati wanita cantik yang tengah menawarkan tubuhnya. Dia ingin hatinya… cintanya….

Aku mencintaimu lebih dari ragamu

Aku mencintaimu lebih dari jiwamu

Aku membutuhkan hatimu

Aku menginginkan cintamu.

Hanya itu. Tidak lebih.

Namun, Minho tahu, ia tidak bisa berbuat lain … hanya ini yang bisa ia lakukan, ia akan jadikan Taemin hanya miliknya … Minho bangkit berdiri dan berlutut didepan Taemin, meraih wajahnya dengan kedua tangannya, menatapnya lekat dan mengelusnya dengan jarin-jarinya.

“Taemin … aku mencintaimu …”, ia akan terus katakana itu, meski ia tahu, Taemin tidak akan pernah membalasnya.

Taemin hanya meraih tangan Minho dan menariknya, mata mereka mengunci satu sama lain, dan akhirnya bibir mereka menyatu dengan lembut, darah Minho berdesir, hanya bibir yang menempel saja membuatnya gila , ia membuka matanya, menatap mata Taemin dan merebahkan tubuh mungilnya perlahan.

“Taemin, aku sangat mencitaimu …”, tidak ada balasan, hanya ciuman yang mereka lakukan lagi, kali ini lebih dari sebuah kecupan, bibir mereka terbuka lebar, saling menghisap , merasakan sentuhan kenyal dari bibir mereka, Minho menurunkan dagu Taemin dan mulai menghisapnya, tangannya turun keleher Taemin dan beralih ke pundaknya.

Tangan kecil Taemin tidak tinggal diam , membuka pengait kimono Minho dan membukanya, memampangkan tubuh yang atletis itu, dan ketika lidah mereka saling menyatu dengan panas, tubuh mereka yang polos sudah menyatu, memberikan desiran birahi yang tak terbendung lagi.

“Taemin … aku mencintaimu …”, lagi, Minho berbisik ke telinga Taemin, membuat Taemin bergidik geli , lebih ketika Minho menciun leher Taemin dan turun kepundaknya, tangannya yang terus mengelus tangan Taemin menjalar ke buah dada Taemin sebelah kanan.

Meremasnya pelan, dan memaikan nipplenya dengan ujung jarinya, “N—ngggh …Mmm-minho samaa~ …”, Taemin menutup mulutnya dengan telapak tangannya, Minho melirik kea rah Taemin yang wajahnya memerah dan menunduk geli menahan permainan lidah Minho di ujung belahan payudaranya.

“Aaaah….mmmh…” , Taemin mendesah bagaikan music bagi Minho, ketika ia menghisap belahan dadanya dan meninggalkan bercak disana. “Minho sama…”, Taemin menjambak rambut Minho ketika Minho sudah mencium nipple kiri Taemin,

Minho melihat kearah Taemin, ia jilat ujung nipplenya, Taemin melenguh membusungkan dadanya, kepalanya mendongak nikmat seraya mulutnya terbuka lebar mengeluarkan desahan tertahan. Tangan Minho memainkan payudara kanan Taemin, menjempitnya di antara jempol dan jari telunjuknya.

Ketika telah puas bermain dipayudara Taemin, menghisap, menjilat, mengigit, bahkan mengulumnya, ia menurunkan ciumannya ke perut rata Taemin, ia buka kaitan kimono Taemin yang tersisa dan bertengger dipusarnya, menjilatnya dengan memutar.

“-aaah…mmh…nngh…Mi-mminho sama…”, Taemin mendesah ketika belahan vaginanya di elus Minho.

Minho terkejut, sudah sangat basah, ia melirik ke arah bawah, dan membuka kaki Taemin dengan kedua tangannya. Minho terkejut melihat vagina Taemin yang rapih dan tercium kewanitaan yang harum, Taemin ternyata juga telaten mengurus kebersihan miss V nya.

Ia tarik kaki Taemin ke pundaknya, menopangnya , kemudian ia mencium paha Taemin , menghisapnya dengan lembut kemudian ciumannya turun ke selengkangannya, ia lihat ke arah Taemin yang menatapnya dengan lesu, meremas ujung futon dan mengatur nafasnya.

Minho menurunkan kepalanya dan mencium ujung belahan vagina Taemin, “Ahhhshhh…”, Taemin memejamkan matanya dengan kuat. Tersengal menahan nafasnya.

Minho mencium belahan vagina Taemin, kemudian mengangkangkan pahanya lebih lebar, melihat klitoris Taemin yang memerah, ia menjulurkan lidahnya dan menjilatnya perlahan, membuat Taemin melenguh kencang.

“Mmmh…mmaaa.hhh…”, Minho terus menjilatnya dan menghisapnya, tidak jarang menariknya kedalam mulutnya, membuat pinggul Taemin terangkat dan membuat kepalanya dijambak dengan kencang. Lidah Minho terus bergeleriya menjilatnya hingga kebelahan senggamanya yang basah akan cairan cintanya itu.

“M-minhoo sam..mmmahh…a-akkuh…ngghhh…”,

Minho menghisap habis cairan itu tanpa jijik, dan melihat kea rah Taemin yang tersengal , kemudian bangkit dan menciumnya, membiarkan ia merasakan cairan itu darinya.

“Mau kuteruskan?”, Minho mengusap peluh di kening Taemin dan menciumnya. Taemin menggeleng dan mencium leher Minho.

“Teruskan saja Minho sama … aku milikmu…”, katanya , Minho memejamkan matanya, debaran jantungnya makin cepat. Ia mengangguk dan mencium Taemin lagi, sebelum ia menyentuh membernya sendiri, terkejutnya, tangan mungil Taemin membantunya, membuatnya melenguh diciuman mereka.

“Tahan sedikit, dan tenang …”, bisik Minho, ia mencium leher Taemin, menarik kedua kakinya ke punggungnya , memegang membernya sendiri, mengocoknya peerlahan dan menuntun kebibir vagina Taemin, menggeseknya perlahan, melakukan petting pertama kali …

Ia menatap Taemin yang memejamkan mata , mengigit bibirnya menahan geli. “Aku masukan Taemin … usahakan tenangkan dirimu … aku akan pelan-pelan …”, Taemin hanya mengangguk.

Perlahan Minho memasukan ujungnya, menarik nafasnya mencari lobang vagina Taemin, sedikit meleset, namun ia coba lagi, “A-aaahhh…ngghh…”, Taemin melenguh , ia meremas ujung sprei dan air mata mengalir, Minho menariknya lagi dengan panic ia mencium Taemin.

“Gomenasai …gomenasai …”, katanya, Taemin hanya menggeleng.

“Sekali lagi, perlahan …”, katanya, Minho sempat ragu, namun ia mengikutinya.

Ia menarik nafas dan memposisikannya sebaik mungkin, kemudian kali ini ujungna berhasil masuk, Taemin meringis , ia merasa nyeri … darah mengalir dari vaginanya. Kemudian perlahan ia mulai menenangkan tubuhnya, menyambut ciuman Minho, perlahan Minho memajukan lagi penetrasinya, dan semuanya akhirnya masuk kedalam lobang vagina Taemin.

“Taemin …a-aku mencintaimu …”, lirih Minho, Taemin diam saja, ia memeluk punggung Minho ketika tubuh mereka bergerak seirama, perlahan namun semakin cepat, Minho meraih tangan Taemin dan menggenggamnya, menghimpitnya di samping kepala Taemin, mereka berciuman sambil terus bergerak dengan cepat, membuat futon yang menjadi alas berantakan .

Minho merebahkan dirinya di samping kiri Taemin tanpa melepas membernya, dan memiringkan tubuh Taemin sehingga membelakanginya, kemudian kaki Taemin dinangkat ke atas , dan mulai menghujamnya dari belakang tubuhnya. Menciptkan desahan yang memenuhi ruangan, dan suara tubuh mereka.

“Mmmm-minhooo..s-sammmaah…a-akku…”,

Minho mempercepat gerakannya, dan tidak lama ia merasa dinding disekitar membernya berkedut dan mengencang, ia berdesis dan merasakan bahwa akhirnya ada semburan yang mengalir dari vagina Taemin. Dan ia mempercepat hujamannya, hingga ia meneriaki nama Taemin dan sampai pada klimaksnya didalam vagina Taemin.

Minho mencium pundak Taemin yang sudah tidak bergetar dan menarik membernya keluar, menarik selimut dan menarik pinggang Taemin kedekapannya, mencium pundaknya berulang kali.

Ia lihat Taemin sudah terlelap, ia balikan tubuh Taemin perlahan, membuatnya rebahan didadanya , dan mencium keningnya, menatap wajah malaikat nya itu terlelap kelelahan.

“Selamat malam Taemin, aku mencintaimu …”, meski kau tidak pernah membalasnya … dan Minho hanya bisa bersyukur saat itu, ia tersenyum ketika ia rasakan tubuh Taemin merapat ke arahnya, dan ia hanya perlu mendekapnya dengan erat.

~Floag

Menatap wanita cantik yang tetap memandangnya secara angkuh, dia hanya tersenyum. Melengkungkan bibirnya. Menilik dari ujung kepala hingga tumit yang terbungkus dari dalam kimono biru yang kibum gunakan.

Jinki memejamkan matanya perlahan. Sama.. sama seperti yang dia bayangkan dalam lamunan ketika memilih kimono dan kanzashi tersebut. Kibum akan terlihat cantik. Sempurna. Dirinya memang di takdirkan dalam kesempurnaan yang menakutkan dan sekaligus menenangkan.

“sudah kukatakan ratusan kali pangeran Lee! Aku tidak bisa memberikan apapun yang kau inginkan.. aku tidak bisa memberikan pengharapanmu yang terlalu tinggi terhadapku… lagi pula… Aku sudah memiliki Danna, bisakah kita hentikan semua ini? !” kibum menatap frustasi kepada lelaki tampan di hadapannya. Memulai percakapan yang tidak kunjung mereka mulai karena pemuda tampan bermata sabit itu memilih untuk diam, diam dalam dunia dan hatinya.

“tidak bisa kibum – san?? Aku tidak bisa menghentikannya, sama seperti aku yang bertanya kembali padamu. Apa kau bisa berhenti untuk bernafas??

Jinki membuka matanya, lekat memandang mata runcing milik kibum. Teduh dan sayu. Ingin menyampaikan ketulusan yang selama ini dia coba perlihatkan kepada wanita itu.

“apa kau bisa melakukannya kibum – san? Jika seseorang menyuruhmu untuk berhenti melakukan hal dasar yang menjadi penopang dirimu untuk hidup. Jika kau menyuruhku menghentikan semua ini.. sama saja kau menyuruhku untuk mati, aku mencintaimu… sungguh mencintaimu… kenapa sulit sekali kau menerimanya… apa karena jjong? Sudah kukatakan kibum – san,, aku tidak perduli. Aku akan merebutmu… itu batasku sebagai pria yang terlalu mencintaimu… aku tidak bisa jika tidak bersamamu… tidak bisa…?” semakin pelan suara yang jinki keluarkan di tiap kalimatnya.

Membeku dalam ketiadaan, meremas tangannya yang tiba – tiba basah oleh keringat, kibum memilih untuk tetap bersikeras pada prinsipnya.

“aku tidak percaya! Bukankah kau seorang pangeran? Kenapa bisa memilih wanita kotor yang ternoda sepertiku!!” kibum memalingkan wajahnya

“kau lebih suci dari wanita yang memuja tuhan dan merelakan raganya. Kau lebih putih dari sekedar kain yang belum di tuangkan dalam ribuan warna. Kau.. wanita terpolos yang pernah kutemui. Kau terlalu suci untuk berada disini kibum-san”

DEG

Hati berdesir tiada henti, menyerap tiap kata pemujaan yang begitu indah untuk wanita seperti dia yang sejak kecil tidak menerima cinta tulus dari siapapun. Nasib ini kenapa begitu tega mempermainkannya. Tidak sudi untuk memberikanya sedikit bahagia dari semua derita yang pada akhirnya membuatnya harus merasakan cinta yang terlarang. Tidak bisa.. tidak bisa… harus bisa mengendalikan perasaan hati.. dia seorang geisha…. Dia tidak boleh mencintai..

“kau tidak mengerti pangeran Lee! Aku sudah memiliki Danna! Aku sudah tidak suci!  Karena itu pergilah! Jangan lagi berharap kepadaku!~!” aku kibum berbohong. Tidak suci? Jangan bercanda. Bahkan jjong hanya sekali menyentuh bibirmu.

“aku akan merebutmu kalau begitu!! Sudah kukatakan aku tidak perduli dengan jonghyun.. aku akan merebutmu darinya kibum san! Aku tidak bisa jika tidak memilikimu! Aku bisa gila!” jinki menjambak rambutnya frustasi.

Kibum mencari akal lain, mencari sesuatu untuk menyangkal dan menghentikan kekeras kepalaan jinki. Merasa sedikit sakit melihat pemudah di depanya yang terlihat frustasi, sama seperti dia yang telah lelah menerima pemujaan. Jinki lelah menerima penolakan.

“benarkah itu cinta? Benarkah itu pangeran Lee? Apa kau tidak salah menafsirkannya? Apa kau tidak bisa membedakan cinta dan nafsu?”  kibum menyipitkan matanya yang indah. Berusaha mengembalikan sikap dinginya yang sempat menghilang

Jinki menatap mata kibum. Ah. Sakit sekali ketika cintamu dianggap remeh, apalagi dari pusat cinta yang kita tuju. Wajah jinki pias, tersirat sakit dan kecewa.

Jinki menarik sebuah belati dari ikat pinggangnya. Menunduk dalam beberapa detik dan kemudian kembali pada wajah yang terlihat sempurna.

“apa kau percaya jika kukatakan ini adalah cinta dengan mengukir namamu diragaku”

jinki memamerkan belati tajamnya yang telah terlepas dari sarung tempat belati itu bernaung. Kemudian perlahan dari kerah atas membuka kancing bajunya satu persatu. Menyibakan baju tersebut sehingga memamerkan permukaan dada dan perutnya yang berbentuk sempurna tanpa celah. Mulus dan berisi, putih nan bersih.  Menaruh ujung belati pada dada polosnya. Meringis sedikit, mengigit bibir bawahnya ketika ujung belati menusuk dan mulai merobek kulitnya.

Darah merembes dari ukiran yang dia buat dipermukaan dadanya. Sebuah ukiran dan pahatan yang menarik tulisan membentuk sebuah nama… hanya sebuah nama

K… I….B… U…. M….

kibum tanpa terputus melihat belati itu menari dengan indah diatas dada bidang jinki yang kekar. Merangkai kata menjadi sebuah nama… namanya…

“apa kau ingin belati ini merobek dadaku sehingga aku bisa mengambil jantungku dan kuserahkan kepadamu sebagai bukti jika aku benar – benar mencintaimu?” ucap jinki kembali mulai menusuk dadanya. Tangan kibum yang bergetar berusaha menahannya.

“ apa kau gila pangeran lee?” Tanya kibum melempar belati sembarangan.

Tes

Tes

Air mata jatuh dari sudut mata jinki dan dia menunduk, membiarkan luka ukiran itu terus menitikan darah dari dadanya.

“yah.. aku gila kibum.. gila karena mu!! Hiks… kau telah mencuri hatiku dan kini..ketika aku ingin memintanya kembali kau malah menyuruhku untuk pergi tanpa sedikitpun mengembalikan hatiku pada tempatnya?”

Lagi…. Lagi….menangis bagai anak kecil, tidak memperdulikan kibum yang merobek kimono birunya untuk membersihkan  luka jinki

“apa ini kurang? Apa aku harus membunuh diriku sendiri baru setelah itu kau mengembalikan hatiku?” ucap jinki mengenggam tangan kibum sehingga wanita itu berhenti membersihkan noda darah dari tubuhnya.

“jangan bodoh pangeran Lee! Apa kau tidak sadar jika posisi kita sangat berbeda! Kau seorang pangeran sedangkan aku hanya seorang penghibur!”

tangan jinki menggenggam lengan kibum dengan erat

“jadi karena statusku kau menolakku mati – matian?” tanyanya

“tentu saja… itu salah satunya! Tapi itu hanya satu dari beribu alasan pangeran Lee!! Kau tahu aku memiliki Danna! Dan itu sahabatmu sendiri?” jelas kibum…kini menempelkan lengan kimononya kepada luka jinki, berusaha menahan aliran darah yang menyeruak.

“aku tidak perduli.. sudah kukatakan jika aku akan merebutmu!” tegas jinki “aku hanya ingin mengetahui perasaanmu kibum-san! Apa aku sama sekali tidak bisa memasuki hatimu, apa aku sama sekali belum bisa mendapati posisi tertinggi di hidupmu?”

Kibum diam. Menghentikan kegiatannya membersihkan luka jinki. Menjauhkan tubuhnya dari pemuda tampan itu. Meremas kedua tangan, menggeleng pelan.

“tidak boleh pangeran Lee! Aku Tidak pantas dan tidak bisa! Kau terlalu jauh untuk ku jangkau! Dan aku masih terikat dengan jjong – sama! Ini tidak boleh! Dan terlebih lagi sebagai geisha aku tidak boleh di kuasai oleh perasaan yang dinamakan cinta”

“jadi… karena itu kau tidak membalas perasaanku?” jinki memajukan tubuhnya sehingga posisinya kini berada diatas kibum karena dia menarik kibum untuk berbaring dibawahnya. Mencari bola mata kibum yang berusaha menutup dan bergerak cepat.

“tatap mataku kibum – san, katakan jika kau sama sekali tidak memiliki perasaan terhadapku.. bisakah sekali saja acuhkan semuanya dan selami hatimu.. cari arti diriku disana.. dan kemudian katakan padaku jika aku tidak berarti apa – apa?”

Kibum memalingkan wajahnya, dia tahu jawabnya. Dia tahu…dia ingin berteriak…DIA TAHU….sudah lama mengetahuinya… kenapa mendesaknya.. dia tidak boleh… AKH… INGIN MENANGIS…NAMUN DIA HARUS MENAHANYA… hiks..  haruskah kali ini dia jujur dengan perasaanya? Bolehkah?

“cinta itu terlarang bagi seorang geisha sepertiku pangeran Lee..” aku kibum letih.

Tes

Tes

Kibum merasakan airmata yang jatuh dari atas wajahnya.. melihat buliran air mata dari sudut mata sabit pemuda yang menindih tubuhnya, mengalir dan akhirnya mengenai permukaan pipinya…

Pangeran Lee Menangis lagikah?

“jika cinta itu terlarang buat statusmu sebagai geisha. Bisakah kau keluar dan meninggalkan pekerjaan itu! Bisakah kau hanya berada disampingku dan menjadi istri sahku…..” masih tampak bulir air mata dari sudut mata jinki. Hingga pemuda itu menurunkan tubuhnya membenamkan wajahnya di atas lekukan tengkuk kibum kemudian dengan suara yang lirih namun tegas dia mengucapkan

kibum – san boku no sobani ite kureru?” (kibum san, hiduplah denganku….)

“kibum – san boku to issyoni kekkon shitemo ii desuka?” (kibum – san Menikahlah denganku….)

Menikah?

“jangan mempermainkanku pangeran Lee? Kami tidak bisa menikah dan menjadi istri sah. Kami hanya simpanan!” gelagap kibum. Jinki kembali mengangkat wajahnya, menatap wanita itu lekat.

“jangan berkata seperti itu! Wanita seindah dirimu tidak pantas untuk menjadi seorang simpanan! Menikahlah denganku kibum!! Aku berjanji akan membahagiakanmu? Aku berjanji… joengmal.. joengmal saranghae”

Keduanya saling menatap. Air mata masih saja jatuh dari namja tampan itu. Kali dia benar – benar sudah kehilangan harga dirinya atau apa pun itu. Dia hanya ingin cintanya menjadi miliknya . tidak menjadi milik orang lain. Dia hanya ingin meredakan lantunan nyanyian dari suara hatinya yang selalu menggema dalam hati agar dia segera memiliki cinta kibum.. harus tidak bisa jika bukan wanita itu…

Jinki memajukan wajahnya dan dengan lembut mencium wanita yang berada di bawah tubuhnya… menautkan sepasang bibir yang saling menempel, saling merasakan cinta yang tersalur dari sebuah raga

Bulir demi bulir air mata menghiasi kedua mata mereka. jinki dan kibum dua manusia yang memiliki jiwa. Dua manusia yang merasa cinta. Kini hanya bisa menangisi keadaan diri karena sebuah adat yang menyiksa.

Menangis bersama. Dengan tautan tubuh yang saling merapat

“aku mencintaimu…” Lantun jinki penuh kasih. Memeluk tubuh kibum yang sekarang mencengkram erat tubuhnya.

Hanya bisa menangis dan tidak menjawab. Hanya bisa menyembunyikan wajah dan mengangguk ketika hatinya berteriak kepadanya. Jika mereka ingin kejujuran. Jika mereka ingin kibum sekali saja mengutarakanya jika dia mencintai jinki

“aku juga mencintamu pangeran Lee?”

Bagai di berikan suatu anugerah yang besar kedua mata sabitnya membulat, dan dia terisak kecil.

“aishiteru… nado saranghae…….. hikss….?”

Kibum membelai punggung jinki dan menerima saja ketika bibir pemuda itu kembali menyapukan bibirnya. Membelainya dengan lidahnya dan membukanya, memasukan kedalam mulutnya.

Biarkan seperti ini.. entah akan sampai mana.. entah akan berakhir bagaimana.. mereka hanya ingin mengecap kebahagian.. mereka hanya ingin menyalurkan cinta yang di anggap orang salah…..

Saling merapatkan tubuh dan saling membelai. Menjangkau tiap bagian dari raga yang bisa mereka rasa.

TBC~ kekekekek

Quete vienasoma :
tidak ada yang salah dari sepasang jiwa yang saling mencintai. Tidak ada yang salah dari sepasang hati yang saling ingin memiliki. Jika benar – benar mencintai. PERTAHANKANLAH… PERJUANGKANLAH.. karena pada dasarnya mencintai itu suatu rasa yang tak bisa di sangkal.. tidak bisa dilarang… tidak ada cinta terlarang dalam dunia manapun.. jika ada… maka tuhan lebih baik tidak menciptakan manusia denga hati.. cukup raga berjalan yang di atur oleh sebuah peraturan bukan perasaan…. Lalalalalala *keren yah kata2 gue…. *

Sanniiewkey~
Begitulah…saya no comments, gue sama yeobo udah gila, nulis ini sampe 20 page, dan gue harap, kalian bisa komen…kekekek~

Nb… koment di atas 70 bru di lanjut.. lalalalalallala

Advertisements

187 thoughts on “[2min-Onkey/PW ask sanni &viena] Forbidden Love of A Geisha PART 4 of ?

  1. ayoooo key udah ngaku nih tinggal taemin daeh kapan sadarnya. tapi hati” key, cinta itu terlarang untuk geisha. eotteokhae? aku masih penasaran sama penyakit jjong!
    lanjut! part 5 cue!

  2. Aaa ffnya bener” keren…. Akhirnya taemin udah punyak minho tapi kok taemin masoh ga mau jawab pertanyaan minho yah kan minho udah jadi dananya dan akhirnya onkey bersatu yey… Tapi jjong gimana??

  3. Hyasa. Tetem memang flaming charisma. Baru debut tapi udah menggemparkan banyak yang pingin jd danna nya tetem.. . Untung aja kibum menerima Minho yg jd danna nya tetem.. .. Minho udah cinta mati ya. Tapi tetem belom nyadar juga kalo dia sebenarnya ada hati sama minho.. ..

    Jinki juga cinta mati ama kibum Dan sebaliknya kibum juga sepertinya ada hati sama jinki. Tapi jjong giaman???
    Next!! !!

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s