[2min/mpreg] Take me in your arms – part 4 of ?


Foreword:

Annyeong… wah, gue gak tauk yah gue yg udah jelek banget karyanya, atau emg readers yang kebangetan gak pada mau komen, tp seperti gue selalu berterima kasih sm yang masih mau komen, meski banyak SR juga, gue cinta kalian semua lah~ doain aja semoga gue gak bosen nulis dan masih ngasih yang bagus buat kalian yah xD

Thanks for 8 blog for your like, and thnx 80 suunders for all comments

Comments and like are highest love for me :*

By: Sanniiewkey~

Minho melirik kesebelahnya, Taemin sudah terlelap tidur disampingnya, bersandar pada pundaknya, ia melihat ke wajahnya yang manis, terlihat sangat cantik, ia usap pipinya, dan entah kenapa ada segurat merah yang timbul. Oh god, ia suka saat seperti ini, ia tidak pernah meminta hal lain kecuali diberikan sebanyak ini bersama Taemin, tapi ia berpikir, jika ia pergi ke Jepang nanti, ia akan sangat rindu dengan Taemin, saat ia tidak bisa menemukan Taemin dirumah saja, ia sudah sangat panik, apa lagi jika selama 1 tahun ia harus meninggalkannya, anak ini terlalu rapuh dari kelihatannya, dan Minho ingin melindunginya.

Minho mencium pucuk kepala Taemin dan memeluk pundak rampingnya, merebahkan kepalanya dikepala Taemin, sembari melihat kearah luar, taxi melaju dengan tenang, membelah ramainya jalanan malam.

“Sudah sampai tuan.”, Minho mengangguk dan membayar bill.

“Taemin … bangun, kita sudah sampai…” Minho menggoyangkan tubuh Taemin sedikit, mata Taemin membuka sejenak terlihat sangat lelah.

Taemin mengusap matanya pelan dan menatap Minho dengan mengedip beberapa kali, “Hyungg… aku lelah sekali,bisa kau gendong aku saja~~?”, tanya Taemin merengek, dan itu terlihat sangat menggemaskan bagi Minho, Minho menarik nafas dan tersenyum, mengelus pipi Taemin dan beranjak keluar, menuju sisi pintu satunya dan membopong Taemin dengan bridal style. Dengan mudah tangan Taemin bertengger di leher kekar Minho dan masuk kedalam kamar.

Minho meletakan Taemin dengan hati-hati diatas kasur, dan melihatnya sudah tertidur pulas, ia duduk sementara di tepi kasur dan menatap wajah angelicnya, menyingkirkan helai rambut menutupinya. Ia ingin beranjak pergi namun Taemin menarik tangannya, ketika ia lihat Taemin masih memejamkan mata, hanya bergumam tidak jelas, Minho mengerutkan alisnya…

“Taemin …ssh…hei…Taemin?”, Minho membelai wajahnya, sontak mata Taemin terbuka dan menatap sosok Minho.

“M-minho…!”, Minho terkejut, hampir ia terjungkal kebelakang, namun ia dapat menahannya dan membalas pelukan Taemin tiba-tiba.

“sssh…gwencana, kau mimpi buruk?”, Taemin hanya mendekap erat ke arah Minho, Minho mengelus kepala mungil yang sudah bertengger di pundaknya itu dan menepuk punggungnya.

“…kau…mau aku temani..disini?”, tanya Minho lagi, tidak ada jawaban, yang ada kemudian adalah Taemin mendorong tubuh Minho dan berbalik memunggunginya. Minho merasa ada yang aneh dengan sikap Taemin, ia perlahan melepas jaketnya dan naik ke atas kasur Taemin, merebahkan tubuhnya tepat dibelakangnya dan memeluk Taemin dari belakang, mencium rambut Taemin dan menaruh dagunya di pucuk kepala Taemin, tidak katakan apapun, karena Taemin tidak menolak, ia tetap seperti itu, memeluknya dan merasakan hangat masing-masing tubuh mereka.

“Saranghae…” bisik Minho…

Taemin memejamkan matanya dengan kuat, menahan air mata di pelupuk matanya, Nado…saranghae…hanya itu yang bisa ia ucapkan dalam hati, mencintai Minho? Saat ini? Mungkin…

TMIYA~

Taemin merasa tidak nyaman, ia merasa pusing, dan perutnya bergejolak, seperti ada yang mendorong dari dalam ususnya, ia membuka matanya, dan dengan cepat loncat dari kasur berlari kekamar mandi, hal itu sukses membuat Minho terbangun lalu melihat ke arah kemana Taemin pergi.

“Hoooeekk~~~”, Minho mengerutkan alis, ia terduduk cepat.

“Taemin?”

“Hoooekk…uhuk…uhuk…uugh~~”, Taemin terduduk dilantai dan mencondongkan kepalanya ke closet.

“Taemin-ah?”, Minho berdiri diambang pintu dengan mata kantuk, namun ia segera berlari ke arah Taemin dan berlutut disebelahnya, mengusap punggungnya lembut.

“Uhuk …uhuk…”, Taemin terbatuk hingga mengeluarkan air mata,

“Gwencana?”, Minho menarik tubuh Taemin , menyandarkan di dadanya yang kekar , mengusap peluh di keningnya, Taemin ,mencoba menarik nafas, dan mengangguk lemah.

“N-nan g-gwencana…”, ia memegang kepalanya dan perutnya yang sama-sama terasa aneh. Perlahan ia mengelus perut datarnya, Minho semakin cemas, sudah 2 kali ia dengar hal ini.

“Kau sakit? Sudah berapa kali aku dengar kau muntah, kita kedokter yah?”, tanya Minho , Taemin mendadak duduk dan menggeleng.

“A-andwe…andwee…”, Minho menatap heran. “A-aku tidak suka rumah sakit…s-sungguh, …”, Taemin melihat ke arah lain dengan panik, “A-aku trauma! Y-ya…aku trauma sama rumah sakit.”, ia mengibaskan tangannya didepan wajahnya, Minho tahu Taemin bohong, karena ia banyak tergagap saat bicara, dan tidak mau lihat ke arah Minho.

“Kau yakin?”, Taemin mengangguk, “Kalau begitu tidak usah kekampus hari ini, aku akan telpon Key un—‘

“Ani!!”, cegah Taemin, ia menelan ludahnya, “A-anioo…gwencana… aku mau kekampus, mungkin karena aku kemarin makan sembarangan… aku juga sudah tidak apa-apa…”, Taemin berusaha diri dan menahan tubuhnya di dinding.

Minho berdiri , masih menatap tidak percaya, Taemin berdecak dan mendorong Minho keluar kamar mandi.

“Kau keluar, aku mau mandi, sebaiknya kau juga mandi di kamar mandi bawah kalau tidak mau telat.” Taemin menutup pintu dan duduk dicloset, menyadarkan tubuhnya dan memegang perutnya, ‘please aegya…bertahanlah, umma akan cari cara untuk mu…’ bisiknya dalam hati, dan air mata mengalir di pipinya, menatap pintu kamar mandi yang tertutup.

TMIYA~

“stop..stop..stop!”, perintah dosennya, “Yah Taemin-ah. Kenapa gerakanmu salah terus? Kau lupa kita sebentar lagi mau pentas, kau tidak bisa begini terus … kau terlihat tidak fokus, lebih baik kau istirahat dulu…”, dosen tarinya itu menatapnya bosan.

Taemin mengelap keningnya dan mengangguk, duduk meneguk air sebanyak-banyaknya, ia sebenarnya bisa, namun badannya sedang tidak fit, ia muntah lagi sejak 1 jam yang lalu ketika sampai dikampus, seharusnya ia dengarkan Minho untuk tetap dirumah.

“Kau baik-baik saja? Kau pucat Taemin…”, sapa Kyrstal disampingnya, Taemin tersenyum dan mengangguk, malas berbicara… Ia melihat ke sisi kirinya, benar, wajahnya terlihat lesu.

“Songsaenim..”,

“Neh Taemin?”

“Boleh saya ijin keluar sebentar? Mau ke toilet.”, setelah dapat anggukan ia keluar dan berjalan sempoyongan, menuju lokernya , dan mengeluarkan sebungkus roti dari sana, syukurlah ia selalu bawa roti dan juga banana milk untuk jaga-jaga jika ia tidak sempat makan siang.

“Taemin.”, Taemin menoleh, dan melihat Jonghyun berdiri didepannya, “Kau kenapa disini? Tidak ada kelas? “, tanyanya, Taemin menelan makanannya dan menggeleng.

“Ani, aku mendadak lapar, dan bolos sebentar untuk makan.”, Jonghyun tertawa dan ingin mengelus kepala Taemin, namun reflek Taemin menghindar, Jonghyun sempat terkejut akan sikapnya.

“O-oh,m-maaf Hyung aku…”

“Nah, gwencana…”, Jonghyun mengibaskan tangannya, kemudian menatap Taemin lekat. “Kau apa kabar? Kau hidup dengan baik kan?”,

“Neh, aku baik …”, jangan ajak aku bicara, pikir Taemin,

“Oh, begitu, baguslah …”, Jonghyun terkekeh, “Kau …sakit yah? Kenapa wajah mu pucat?kau tidak apa-apa?”,tanya Jonghyu  tiba-tiba, Taemin menyentuh pipinya dan tersenyum.

“Neh, hanya kelelahan mungkin.”,Taemin mulai merasa tidak enak badannya, ‘Hyung, sudah yah, aku mau balik lagi kekelas, Mr.Jung akan marah jika tahu akau bolos, annyeong.”,

‘Taemin.”

“Neh?”

Jonghyun terdiam sejenak. “Jaga dirimu yah?”, Taemin terdiam sejenak dan mengangguk.

“Neh, gomapta.” Jawabnya singkat dan berjalan pergi, Jonghyun hanya diam menatap punggung namja ramping itu, menarik nafas dalam dan diam-diam menyesali perbuatannya.

TMIYA~

Minho mengunyah sandwichnya dengan pelan, entah kenapa perasaannya tidak enak, dari pegi ia mengkhawatirkan keadaan Taemin. Key dan Onew yang sedang asik saling menyuapi itu meliriknya, saling menyenggol tangan memberikan isyarat satu sama lain, menilai kalau temannya itu memang sedang daydreaming.

“Yah Minho! Jangan makan sambil bengong, mata mu itu menakutkan, kau terlihat seperti monster kodok sedang makan mangsa.”, celetuk Key kesal, Minho melirik kesal dan melanjutkan makannya. Onew berdecak

“Ada yang kau pikirkan?”

Minho mengangguk, “Taemin, dia sedang tidak sehat hari ini.”

“WHAT??!!!”, Minho tersedak mendengar teriakan 100 oktaf -mungkin- dari sampingnya, sempat ia ingin berteriak pada si-empunya suara namun wajah nya lebih seram dari yang Minho duga. “APA YANG KAU KATAKAN KODOK? TAEMIN TIDAK SEHAT DAN KAU BISA-BISANYA MAKAN ENAK DISINI? YAH WTF IS WRONG WITH YOU?!!”, Key mulai gila, mengguncangkan kerah Minho , membuatnya semakin tersedak.

“Y-yah yeobo…yeobo..aish, calm down baby…y-yah, Minho bisa mati!”, Onew berusaha menarik Key, namun —

“BIARKAN, ONEW! AKAN KUBUAT PELAJARAN PADA KODOK INI, AKU SUDAH BILANG JAGA TAEMIN BAIK-BAIK TAPI DIA—HMPFH?!!!”, Onew membalikkan tubuh Key dan menciumnya , “HMPFH…ONEWPFH…Hmpfmmm…mmhmmm…hmmm…”, Key malah menarik Onew kepelukannya dan Minho sungguh ingin muntah melihat Onkey couple itu sudah frenchkiss.

“Tenang baby…’, Onew membelai wajah Key, Key menunduk malu dan memukul pelan bahu Onew, Onew mengedip ke arah Minho, Minho menaikan bahu acuh.

“Jadi, katakan! Ada apa dengan my baby?!” tanya Key sinis.

“He’s not ur baby!”

“HIS MY BABY!!”

“Ehm.”, Onew berdeham, Key memutar bola matanya.

“Oke, aku tanya lagi, ada apa dengan Taemin, apa yang terjadi padanya?”

“Dia muntah pagi ini, well…bukan pagi ini saja, beberapa hari lalu juga, aku sudah ajak kedokter, tapi dia tidak mau…”,

“Yah wae?? Kalau dia sakit parah gimana?!”, Key panik.

“Aku juga sudah bujuk, tapi kau tidak tahu Taemin itu keras kepala, dan dia…dia tidak suka rumah sakit, dia bilang trauma…”,

“Trauma?”, tanya Onkey bersamaan, Minho mengangguk.

“Neh, mungkin karena sepeninggal umma dan appanya.”, kedua namja itu mengangguk mendengar alasan Minho.

“Kau sudah mencoba cari dia siang ini ke tempatnya? Siapa tahu dia butuh kau?” Onew berkata, Key setuju.

“Begitukah?”, tanya Minho bodoh.

“Tidak, tunggu sampai Taemin pingsan kehabisan oksigen. YA SEKARANG, PABO!!”, teriak Key, Minho berdiri dan berdecak acuh.

“Tidak usah berteriak, aku juga dengar, you really such an annoying diva.”

“YAH, CHOI MINHO, COME BACK HERE!!”, sebelum Key bisa marah, Minho berlari ke arah gedung kuliah Taemin berada. Ia bohong jika ia tidak khawatir, ia bahkan berlari menggunakan sekuat tenaganya, bahkan ia bodoh tidak menggunakan motornya untuk kegedung yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya berada.

TMIYA~

Minho baru saja sampai didekat gedung,dan melihat orang ramai keluar dari lobi gedung Taemin, ia berlari mendekat.

“Permisi,beri jalan, ada yang pingsan…”,seru seorang namja jabrik, Jonghyun, namun ketika Minho lihat siapa yang dibawa oleh Jonghyun digendongannya, ia langsung menghampirinya secepat kilat.

“Berikan padaku!”, perintah Minho pada Jonghyun,

“Minho, tapi—‘

“BERIKAN PADAKU!!”, teriaknya, dengan segera Minho mengambil sosok itu dari tangan Jonghyun dan membawanya

“Minho, kau bisa gunakan mobil ku.”, teriak Jonghyun, Minho tidak perduli hanya melihat ke arah Jonghyun sesaat dan berlari kegerbang kampus, bersyukur ada taxi lewat, ia langsung menyetopnya dan membawa sosok dipelukannya itu ke rumah sakit.

“Please…Taemin, bertahanlah…”, Minho dengan wajah panik menyentuh pipi Taemin, mengelus wajah yang berkeringat dan pucat itu, menunduk memberikan ciuman dikening dengan lama. Panik, takut, bingung, dan sedih semua campur aduk, separah apa sakitnnya Taemin hingga Minho sendiri tidak sadar, dan membuatnya sepertin ini, ia merutuk dirinya sendiri tidak bisa pegang janjinya untuk menjaga Taemin.

TMIYA~

Minho meremas tangannya dan menggerakan kakinya tidak tenang, ia berkali-kali melihat keruang periksa dimana Taemin sedang berada. Kenapa lama sekali rasanya? Semakin membuatnya berpikir macam-macam saja…

“Keluarga Lee Taemin?”

“Saya!”, Minho berdiri dan menuju dokter yang keluar dengan senyum, secercah harapan bagi Minho bahwa Taemin pasti tidak apa-apa.

“Bagaimana keadaannya? Apa ada yang parah?”,

Dokter itu mengerutkan alisnya, “Kau ini…siapanya?”, Minho tertegun, melirik kebalik dokter itu, terlihat wajah Taemin yang tertidur.

“Saya pacarnya.”,jawabanya lugas, dokter itu meneliti Minho dari atas sampai bawah, dan Minho mulai merasa terlecehkan.

“Dokter, sebaiknya cepat katakan bagaimana keadaan Taemin, jangan hanya berdiri disini, menatap ku aneh, dan bertanya hal tidak penting.”, Minho mulai emosi, dokter itu menepuk bahu Minho untuk tenang.

“Tenang nak, bisa kita bicara diruanganku sebentar? Ada yang perlu kau ketahui…”

Minho terdiam, wajah dokter itu tidak bisa ditebak ekspresinya, ia hanya mengangguk dan berdoa, berharap bahwa berita nya tidak membuatnya drop.

TMIYA~

Taemin terbangun dimalam hari, ia melihat langit-langit berwarna putih, dan bau obat menyengat, ia tahu ia berada dirumah sakit. Terduduk dan memeriksa keadaannya, pusingnya menghilang, dan tubuhnya terasa enak, mungkin karena ia cukup istirahat. Ia bisa ingat kenapa ia bisa ada disitu, saat sedang berlatih mencoba menyempurnakan gerakan tari berikutnya, ia limbung, dan kemudian tanpa ia sadari ia jatuh kelantai, tidak bisa lagi menahan pening kepalanya, dan setelah itu ia merasa seseorang memanggil namanya dan tidak tahu lagi … namun ia bermimpi, seseorang memeluknya dan mencium keningnya…

“Kau sudah bangun?”,Taemin terkejut melihat Minho masuk dari luar.

“M-minho?!”, Minho berjalan tanpa melihat ke arah Taemin, meletakan se-pitcher air mineral, dan duduk di samping kasur Taemin.

“M-minho … bagaimana aku bisa kesini?”

“Kau pingsan.”,

“B-bukan itu maksud ku, aku tahu hal itu, tapi yang aku ingin tahu, bagaimana aku bisa kesini? Sama siapa? Kau yang membawaku?”

Minho diam saja… Taemin tahu Minho pasti marah karena tiba-tiba ia masuk rumah sakit dan mungkin membuat Minho khawatir dari sebelumnya. “Mianhe…” bisik Taemin.

“Mianhe Minho …a-aku tahu aku salah, mianhe, a-aku hanya tidak mau merepotkanmu … aku merasa baik-baik saja tadi, tapi entahlah…tiba-tiba aku koleps…”, Taemin memainkan tangannya dan menunduk. Tidak ada jawaban dari Minho. Ia melirik Minho yang asik menyeruput kopinya.

Taemin menarik nafas dan beranjak duduk diujung kasurnya sehingga berhadapan dengan Minho.

“Minho…”, tidak menoleh. “Minho, jangan mengacuhkanku…aku sedang bicara…”, perintah Taemin.

Taemin menarik nafas dan menunduk, “Kau … mengkhawatirkanku? Kau marah padaku kan? Aku tahu aku memang pantas diperlakukan seperti ini, tapi jangan acuhkan aku dan bertindak seakan aku tidak ada, aku sudah min—“

BRAK!

Taemin terkejut , ia mendongak dan menatap Minho berdiri dengan entah tatapan apa, kesal dan marah, sedih, ada pancaran khawatir sekaligus.

“Min—hmpfh…”

Taemin tidak bisa berkata apapun, Minho menarik Taemin kepelukannya dan menciunmya paksa, Taemin merasa sesak, namun ia berusah mengendalikannya, mengikuti permainan Minho, menerima ketika lidah Minho masuk kesela rongga mulutnya dan membuat Taemin lemas ketika Minho menghisap lidah Taemin kuat, membuatnya melenguh.

“Mhhhmmmm….”, Taemin menjambak rambut Minho dengan kuat, sementara Minho membawa tubuh Taemin semakin erat dipelukannya.

Ketika mereka rasa butuh oksigen, mereka melepasnya, saling menetap mata satu sama lain, bernafas tersengal, dan menempelkan kening mereka bersamaan. Bibir Taemin masih menyentuh lembut di bibir Minho, nafas mereka berganti antara bibir mereka.

“Menikahlah denganku.”

Taemin terkejut, “M-mwo??!!”, ia mendorong tubuh Minho, namun Minho menangkap tangannya dan menariknya kembali ketubuhnya.

“Aku ingin kau menikah denganku, dan kita besarkan anak ini berdua. Anak kita.”,

Taemin gemetar, Minho tahu …’K-kau bagaimana…?”

Minho menarik pipi Taemin, “Kenapa kau sembunyikan ini sendirian? Kau tidak tahu betapa aku ingin mati rasanya melihat mu lemah seperti itu, dan aku merasa lebih buruk ketika aku tahu kau hamil…dan…dan itu anakku…”

Taemin menggeleng dan mendorong tubuh Minho sekuat tenaga, “Kau salah, aku tidak hamil…kau bercanda, aku kan namja, kau jangan asal bicara.”

“Aku tidak asal bicara, aku tahu jelas, kau pernah periksa sebelumnya disini, dan dokter yang memeriksamu,adalah dokter yang sama saat mengatakan ini padaku.”,

“Kau tidak ada  bukti! Aku tidak hamil!”

“Ini, apa buktinya, ini hasil copy checkup mu, dan jelas disini tertulis!”, Minho memperlihatkan kertas yang sama seperti yang Taemin sembunyikan di jasnya.

Taemin gemetar dan melihat ke arah lain, “B-bisa saja pemeriksaan itu salah, kau tahu, tidak ada namja hamil? Medis itu gila.”

“Dan aku juga cukup gila percaya ini nyata! Kenapa kau tidak akui saja?!”

“APA?!! Apa yang perlu aku akui??!!”

“Kalau kau hamil!!”

“HAMIL? KAU TAHU APA TENTANG ITU, AKU TIDAK HAMIL, AKU TIDAK PERNAH MENGANDUNG ANAK MU, ATAU ANAK SIAPAPUN !! AKU…’

PLAK!

Taemin terhenti bicara, pipinya memerah, tamparan itu mengena langsung kelubuk hatinya, panas, bukan pipinya saja, tapi hati dan otaknya, ia menangis, memegang wajahnya sendiri. Sunyi sesaat … Taemin menunduk dan menangis dalam diam …

“T-taemin …”, Minho berlutut di kaki Taemin,

“…….”

“A-aku … aku mohon Taemin, jangan pernah katakan itu, jangan sakiti dirimu sendiri, aku tahu kau tidak mencitaiku, aku tidak keberatan, aku sudah katakan , aku akan lakukan apapun untukmu…” Minho berlutut dikaki Taemin, “Please Taemin … untuk kali ini aku akan lakukan apapun, aku akan tanggung jawab … demi anak ini…”, Minho memeluk perut Taemin.

Jantung Taemin berdegup, apa … apa namja ini sebenarnya, dan kenapa ia bisa diciptakan begitu baik untuknya? Apa? Apa yang Taemin sudah lakukan untuknya? Tidak …tidak ada.

“Ini … kau tidak bisa yakin ini anakmu…”

Minho mendongak , “Kenapa?”

“Karena aku tidak hanya berhubungan seks denganmu, dan kau tidak bisa pastikan ini anakmu.”, Taemin mendorong tubuh Minho. “Aku dan Jonghyun, pernah melakukan seks sebelumnya .. jadi belum tentu ini anakmu…”

Minho mengepalkan tangannya, “Ini anak Jonghyun?”, Taemin diam saja, bukan…ini bukan anaknya, dan tidak akan pernah jadi anaknya…

“Katakan, ini anaknya?”, Taemin hanya diam. “TAEMIN!!”

“APA?!! KALAU YA MEMANG KENAPA? KAU MAU MARAH? KAU MAU AKU GUGURKAN ANAK INI? LALU KAU MELAKUKAN SEKS LAGI DENGANKU SEHINGGA AKU BISA HAMIL ANAKMU? LALU KAU AKAN PERGI KE JEPANG? IYA? BEGITU?!!”, teriak Taemin dengan mata basah. Minho diam terpaku.

Taemin menggeleng, “Tidak Minho, aku tidak akan membiarkan anak ini mati …”, Taemin menutup wajahnya, “Tapi aku tahu ini sudah berakhir bagi ku, dan akan berakhir bagi masa depanmu juga jika ini terjadi , umma dan appa mu tahu, seluruh kampus akan tahu, ini akan menghancurkan mu…”

“Taemin—“

“Kau … bukan appa anak ini, ini anakku…kau—hmpfh…” Minho mencium Taemin kesekian kalinya, memaksanya, Taemin berusaha mendorongnya sekuat tenaga, kali ini menendangnya namun membuat Minho tidak hilang akal, ia mendorong tubuh Taemin dan menindihnya, mengikat tangannya ke atas kepalanya, menciumnya dengan kuat, menelusupkan lidahnya ke mulut Taemin …

Taemin berusaha mendorong tubuh Minho, namun tidak bisa, ia cukup lemah saat itu, Minho melepas ciumannya dan mencium leher Taemin ,menghisap lehernya dengan kuat, meninggalkan hickey disana.

“M-minho…lepaskan…”

Minho menelusupkan tangannya kebalik baju Taemin dan menariknya ke atas, mencium dada rata Taemin dan menghisap nipplenya, Taemin mengigit bibirnya berusaha untuk tidak mendesah. Salah, ini sangat salah, ini tidak boleh terjadi …jika ia biarkan ini, maka ia tidak akan pernah bisa melepas Minho, tidak , dia tidak bisa egois dan membiarkan masa depan Minho ikut hancur karenanya …

Berhenti … Minho berhenti melakukan itu padanya, Taemin membuka matanya, cengkraman tangan Minho mengendur, hal berikutnya adalah, ia mendapati Minho memeluk tubuhnya dan merebahkan kepalanya di leher Taemin, basah …

“M-minho…”

“Hiks…T-taemin…hiks…Taemin…hiks…”

Taemin menaruh tangannya yang bebas di punggung Minho, namja itu menangis, menangis karenanya, sesenggukan layaknya anak kecil kehilangan ibunya.

“Kumohon…hiks…b-biarkan aku ada dipelukanmu…m-membiarkan mu ada digenggamanku…hiks…k-kumohon…”, isaknya,

Taemin merebahkan kepalanya di kepala Minho, “Maaf …”, bisik Taemin, Taemin memejamkan matanya , Tuhan, kau tahu … ada hal yang paling aku benci didunia ini… dan itu adalah …

Ketika kau buat aku jatuh cinta…

Ketika kau buat aku merasa dicintai …

Ketika kau buat aku bersamanya …

Kenapa aku benci semua itu? Ketika aku jatuh cinta, aku akan egois, ketika aku merasa dicintai aku serakah, dan ketika kau buat ku bersamanya, kau akan membuatnya pergi dariku suatu saat … dari ketiga itu ada hal yang bisa membuat ku bersyukur …

Ketika aku jatuh cinta maka itu adalah dia, dia yang mencintaiku, dan menawarkan seperuh hidupnya bersamaku sampai akhir hayatnya …

Dan jika memang ini dia … maka biarkanlah aku menuangkan rasa syukur ku sekarang …

“Minho …”, Taemin menangkup wajah Minho, menghapus seluruh air matanya dengan tangannya, Minho menggenggam tangan itu dan menciumnya, kemudian meletakkannya kepipinya lagi.

“Please …”, bujuk Minho, Taemin menggeleng dan menarik nafasnya.

Mengangkat kepalanya dan mencium kening Minho. “Mianhe … aku tidak bisa …”, Minho merasa tersakiti lagi, “Tidak bisa jika aku harus menghadapi ini sendirian, aku terlalu takut sendirian, dan aku terlalu takut jika kau tidak bersamaku, maaf kan aku Minho, kumohon … maafkan aku, karena aku tidak mau kau pergi … maaf ….”

Taemin menangis, Minho mencerna sedikit kata-kata Taemin, ia menatap Taemin dan tersedak air matanya sendiri, ia tertawa dan menangkup wajah Taemin.

“Kau … jadi …”

Taemin mengangguk, “Pabo… peluk aku.”, kata Taemin. Minho memeluknya dengan erat dan mengecupi kepala Taemin berkali-kali, membuat Taemin lega, nyaman, dan hangat.

“Saranghae Minho…”

Minho terhenti, Taemin bisa dengar degup jantunganya, Minho melihat ke arahnya, “A-apa?”, Taemin berdecak dan menarik Minho untuk ia cium.

“Nado saranghae Lee Taemin..”, Taemin mendorong Minho, “Itu yang seharusnya kau katakan padaku …” Taemin naik ke atas kasur dan berbaring membelakangi Minho.

Minho tersenyum dan naik ke atas kasur, memeluk namja cantik itu , meraih pinggangnya erat dan menempatkan tangannya di perut rata Taemin.

“Jeongmal saranghae Lee Taemin…”

“Aku tahu …” Taemin mengeratkan tangan Minho dipelukannya, “Minho…”

“Hm?”

“Kuberitahu satu hal…” Taemin berbalik, ia meraih tangan Minho diperutnya, “Aegya ini anakmu…”

Minho terbelalak, “T-tapi…”Taemin menutup mulut Minho dengan tangannya

“Jangan tanya kenapa, feeling ku berkata begitu, dan .. apa kau meragukannya jika aku katakan begini?”, tanya Taemin, Minho terdiam sejenak kemudian menarik Taemin kepelukannya, mencium keningnya.

“Tidak … feeling ku pun mengatakan begitu…”

“Minho…”

“Hm…?”

“Bagaimana kita katakan pada umma dan appa mu?”

“Semua akan baik-baik saja…aku berjanji, asal kau tetap di sampingku semua akan kulakukan…”

“Neh …”

“Sekarang tidurlah…”

“Neh…”

“Nite Taeminnie..”

“…”

.

.

.

“Annyeongggg boyyyysss~~~~~yuhuuuuu umma appa come bacccckkkkk~~~~~”, teriak Heechul membahana seisi rumah.

“Aku bilang, mereka pasti belum bangun, kau jangan teriak –teriak ..”

“Yah! Kenapa sih?! Kau tidak senang kembali kerumah dengan cepat? Aku sudah kangen dengan anak-anak…kemana yah mereka semua?”

“Jangan buat gaduh kasian mereka.”

“I know, kamu bawel deh akh!”, Heechul naik ke lantai atas dan melihat pintu kamar Minho terbuka, namun tidak ada siapapun, ia mengerutkan alisnya, dan melihat pintu kamar Taemin juga kebuka, dan ia melihat berantakan di seluruh atas kasur.

“Kemana mereka pagi-pagi begini? Apa sudah berangkat kekampus? Ini kan baru jam 8? Ooufh… kenapa berantakan? Seharusnya jas ditaruh…” Heechul berhenti bersuara dan membuka kertas yang tidak sengaja jatuh dari kantong jas. Saat ia membacanya badannya kaku, mulutnya terbuka lebar dan tangannya gemetar.

“W-woniie…”, lirihnya, “Wonie?!”, teriaknya memanggil Siwon, suaminya, “W-WONIIE!!”, teriaknya berlari kebawah dan memberikan kertas itu pada suaminya dengan tampang panik, ketika suaminya yang masih terserang jetleg itu membacanya, ia menimbulkan ekspresi yang sama, dan Heechul menutup mulutnya.

“H-hubungi Taemin dan Minho…”, perintah Siwon. Heechul hanya mengangguk.

CUT~

Tae hee hee hee~ jajajajajaja boo boo… im cliff hanger again, akh , saya semakin pesimis ini, apakah kemampuan nulis gue yang jelek atau emg SR gak pd tahu diri? Awas aja, next part klo ada NC gak bakal gue bagi pwnya, mau diubah akh, chachachachachacha~~

Btw, sorry many wriong typo, semoga kalian cerdas menangkap maksud nya, gue males re-edit & re-read, LOL

Dan sorry banget kali ini hanya dikit updatenya, kayaknya beberapa part lagi tamat nih :p part depan NC man*serius!!!…yang gak komen gak dapet PW…chachachachacha~~

So, come on SR, feel free to comments and gimme ur likey!

Ps: im sorry, wp gak bisa diganti tampilannya lewat HP, BT BT akh>:D

See ya!

164 thoughts on “[2min/mpreg] Take me in your arms – part 4 of ?

  1. Ye… Akhirnya taemin ngakuin jugak.kalok dia bener” sayang sama minho, haduh semoga itu heechul eomma ama siwon aboji mau nikahin 2min…

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s