[2min-Onkey] Not just about love, But also the fate part 1 of 2


[2min-Onkey] Not just about love, But also the fate part 1 of 2

Foreword:

Annyeong…kekeke ~ mau nulis nc tp udh bosyeen bgt dh sumpah!mau bkin pluff gk bisa…jadi gk tauk dh ini kyak apa! Sorry bgt ada wrong typo atau spasi gk bener.nulis dr hape soalnya.LOL

Dan ini gue buat 2 versi, siapa lagi, cast favorit kita, gak lain gak bukan…
2min dan Onkey!
Tapi kali ini, 2min dulu yang gue keluarin.

So,read,enjoy,and feel free 2 comment❤ love u suunders xD

By: sanniiewkey~

Ada sebuah kepercayaan atau biasa disebut sebuah fairytale atau tahayul,atau apapun itu pada sebuah benda… Nah,ini mungkin salah satunya, disebuah kuil Meondang (sebut saja ini),bagi siapa saja yang ingin menemukan cinta sejatinya,bisa datang kesana,ada sebuah pohon mahoni berdampingan,konon kedua pohon itu merupakan pasangan yang dulu kala dikutuk,kemudian tumbuh bersama saling menopang satu sama lain,akar menjadi satu,bahkan ranting mereka bersentuhan layaknya tangan-tangan yang saling menggenggam memberikan kekuatan untuk berdiri kokoh,tetap bersama tumbuh indah.

Kemudian cerita ini berlanjut,yang harus kalian lakukan adalah menaruh secarik kertas yang ada dikuil itu bertuliskan nama kalian,dan permohonan kalian untuk pasangan anda ke depan,kemudian menggantungkannya dipohon itu,namun ada syaratnya,jika kalian namja maka gantungkan di pohon sebelah kanan-kiri anda- dan jika yeoja gantungkan dipohon sebelah kiri -kanan anda-. Dipohon sebelah kanan terdapat angka 13 dan dipohon sebelah kiri ada angka 14.

Kalian tahu apa artinya kedua angka itu?

Menurut kepercayaan orang Cina -yang juga diyakini- ilmunya oleh para penganut agama di Korea. Arti dari angka 13 & 14 itu adalah…

1314 dalam bahasa China (yi 一 san 三 yi 一si 四 –terdengar seperti ‘yi 一sheng 生yi 一shi世) dan ini berarti… ALWAYS and FOREVER

credit:rabbitfox

Maka,apa yang membuat tahayul itu dipercaya?

Konon,jika suatu hari ada angin dr timur berhembus,dan akan menjatuhkan satu dari masing-masing kertas yang ada dipohon kiri dan kanan,maka cinta mereka akan abadi.

2min~

“Minhoo hyuunggg~…” namja cantik berambut blonde mengejar seorang namja tampan yg tinggi,berjalan cepat didepannya. Tangan kanannya memegang ice cream dan yang kiri membawa majalah yang baru saja ia baca.

“ng?” hanya itu,jengah menghadapi namja cantik yang seharian mengikutinya kemanapun,merengek sana sini,berisik,cekikikan,dan tidak hentinya jahil padanya.

“hyung,baca ini,kita harus cobaa..ayo hyuung…” rengeknya menggelayut di tangan Minho,yang ditepis halus karena ia merasa berat krn sudah membawa tas sportnya.

“hah? .”

“biar kubacakan ya?”

Minho menarik nafas,mengeluarkan ipodnya dan memasang earphone,ketika namja cantik itu sudah membacakan artikel yang menurutnya menarik itu.

“kau dengar kan …hyung?”kepalanya mendongak,tersenyum lebar,tp ketika ia lihat yang lebih tua malah asik sendiri ia berdesis menarik earphone itu dengan paksa,membuat minho terkejut dan beralih pandang ke wajah yang sedang menatapnya kesal.

“kau ini hyung!aku sdg bicara padamu! Kau dengar tidak?artikel ini mengatakan tentang keajaiban pohon mahoni itu hyung. Kita harus coba?kau mau kan?” tanyanya tanpa terputus.

Minho menatapnya datar dan berjalan lagi,”Shiro,aku tidak mau melakukannya.”.

“waee~?please,sekali saja …aku mau mencobanyaaa~”merengek lagi. Minho mengerang dan berhenti,membuat namja cantik itu menabrak punggung kekarnya.

” aku tidak mau. Cukup mengikutiku,kita pisah disini. Sana pulang!”

“h-hyung t-tunggu!” ia menarik tangan minho. “aku ..aku ingin kita pergi kesana,berduaa… Aku janji,aku tidak akan minta macam-macam lagi padamu nanti.” ia mengeluarkan jurus puppy eyesnya,yang ia anggap bisa membuat semua orang luluh.

Namun tdk dgn minho, “untuk apa?aku bahkan tidak tahu apa yang mau kau lakukan disana?”

“kan tadi aku sudah bilang ada kisa—“

“cukup!kau terima atau HARUS terima keputusanku!” menepis tangan kecil itu.

“kau kenapa begitu jahat sih?aku kan hanya ingin mencobanya…”

“ya coba sendiri.”

“tapikan aku mau bersamamu…”merengek lagi.

“hentikan itu! Jangan seperti anak kecil,kau tidak pantas terus merengek untuk dapat sesuatu.” Minho menunduk mengacuhkan tatapan nya “dan hentikan bersikap aegyo,itu tidak mempan padaku!” ia mulai memasang earphonenya. “dan berhenti mengikutiku,itu mengganggu.” Minho berkata pelan,namun cukup terdengar oleh namja didepannya.

Tanpa kata ia berjalan ke arah berlawanan untuk pulang,namun baru beberapa langkah…Bruk!

Minho terkejut,sebuah buku telak mendarat di belakang kepalanya, “Ya—“

“kalau tidak mau ya sudah!aku akan pergi sendiri seperti yang kau bilang!!” namja itu berteriak pada Minho. “t-tapi,jangan bilang aku pengganggu!!” Minho sesaat melihat air mata di matanya. “dan aku bukan anak kecil!” katanya dan berlari meninggalkan Minho yang kaku ditempatnya.

Minho ingin membuka suara tapi terhenti,ia melirik majalah ditanah. Menatapnya sebentar dan memungutnya. Berperang pada dirinya untuk membaca lebih jelas apa yang dimaksud namja tadi.

Well,actually,ia sudah dengar dengan jelas,bohong jika tidak,karena sedari awal ia tidak mem’play ipodnya.

Ia buka artikel yang ada,membacanya sejenak,dan wajahnya mengerut. “Pabo Taemin!” decaknya. Ia menggulung majalah itu dan berjalan,tersenyum simpul mengingat kepolosan Taemin,dan ya,sekaligus penasaran,harapan apa yang ingin ia sampaikan?dan siapa jodoh yang ia inginkan?? Mengingat itu Minho jadi merasa terganggu,dan lagi,perasaan itu membuatnya gelisah.

2min~

Taemin merapatkan mantelnya dan bermain dengan ujung kakinya sendiri , menunggu bisa yang ia tunggu datang, tangannya melihat ke arah jam tangannya, pukul 10 pagi, ia meniup poninya, baru kali ini ia pergi sendirian, biasanya ia bersama Hyungnya, Jinki, namun ia sedang sibuk kuliah, jadi tidak mungkin, lagi pula orang yang ingin ia ajak adalah Minho, tapi seperti kejadian kemarin, sudah jelas, dia tidak akan mau diantar setelah apa yang dikatakan Minho.

Minho so mean, itu menurutnya, dari pertama bertemu hingga saat ini, Minho selalu dingin padanya, dan itu yang membuat Taemin sedih, kenapa ia tidak bisa seperti yang lain, tertawa, atau bercanda bersama Minho?

Sejak pertama kenal dan mereka bertemu dipenerimaan siswa baru, sosok Minho seperti magnet baru bagi Taemin, ia melihat sosok Hyung yang berbeda , tidak seperti Jinki, ia punya kharisma sendiri, meski ia terlihat dingin, Taemin tahu Minho orang yang baik.

Pertama bertemu ketika ia ingin ikut ujian masuk, saat itu musim hujan, dan ia berniat tidak ikut ujian Chungdam highschool karena ia sudah yakin ia tidak akan bisa masuk sekolah unggulan itu, bahkan kakaknya merupakan alumni peringkat 1 selama 3 tahun berturut-turut.

Saat itu ia menggengam secarik kertas ujian ditangannya, menatapnya lekat, akankah ia buang atau sebaiknya ia ikuti saja tes itu, meski ia tahu ia tidak akan pernah masuk, dan lebih baik memilih sekolah lain saja, masih ada 3 hari untuk merubah keputusannya.

Tanpa ia tahu, kakinya tersandung, dan alhasil membuatnya jatuh telak tersungkur, bajunya basah, mukanya kotor, dan … kertas ujiannya basah dan kotor. Hal itu mungkin memalukan, tapi baginya, saat itu adalah keberuntungan yang diselipi oleh kekonyolan, baguslah … ia tidak akan ujian dengan alasan bahwa kertasnya basah dan kotor, kemudian tidak bisa ikut ujian, bagus sekali…

“Hei, bangun, gwencana?”, sebuah tangan menarik lengan kanannya, Taemin memicingkan mata, mencoba melihat sosok dibalik payung biru itu.

“Kau suka sekali tiduran di tanah? Ini hujan, lakukan lain kali, kau tidak malu?”, tanyanya, Taemin berlutut, dan akhirnya ia bisa lihat dengan jelas siapa sosok itu, sosok yang mempunyai mata yang besar, bulat, dan membuat jantungnya langsung berhenti berdetak. Tangan yang kekar, garis rahang yang indah, hidung mancung, dan rambut coklat ikal.

“Y-ya…biar kulakukan nanti…”, jawaban bodoh dari Taemin, namja itu melepas tangan Taemin dan menatap nya dari atas sampai bawah.

“Kalau mau bunuh diri jangan disini.”, katanya, membungkuk dan mengambil kertas ujian Taemin, “Putus asa karena tidak percaya diri untuk ujian?”, tanya nya menyerahkan secarik kertas itu pada Taemin.

Taemin terkejut, ia mengedipkan mata berkali-kali, “H-hah?” … “a-anioo… bukan begitu…”,

Namja itu berdecak dan mengambil sapu tangan dari kantongnya, kemudian menyerahkannya pada Taemin, “Masih ada waktu 3 hari, berjuanglah, kalau kau menyerah, kau pengecut.”, katanya dan berlalu,

“Dan jangan bunuh diri disini, tidak keren.”, kemudian pergi, Taemin ingin mengucapkan sesuatu, tapi mulutnya kelu, dan namja itu sudah keburu menyebrang jalan. Namun ia menangkap sesuatu, jaket yang dipakai namja itu, jaket yang sama dan berasal dari sekolah dimana ia akan tuju, dengan senyum lima jari ia pulang, kemudian, voila, 3 hari berikutnya, ia hadapai ujian itu, dan dengan keberuntungan, ia diterima.

Namun siapa sangka, belajar dan ikuti ujian masuk itu lebih mudah rasanya dibanding untuk mendapatkan hati Minho, yang selama 2 tahun itu Taemin perjuangkan.

2min~

“Taemin? … dia hari ini tidak masuk, entahlah, aku tidak tahu Hyung.”,

“Tidak masuk? … kemana? Sakit?”, tanya Minho pada Juniornya –akhirnya- setelah selama seharian ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan makhluk penguntitnya itu.

“Tidak tahu Hyung, ku hubungi ponselnya juga tidak dijawab … coba kau kerumahnya saja Hyung.”, jelas Dongho. Minho mengangguk dan pergi setelah mengucapkan terima kasih.

Entah kenapa ada yang hilang, setiap hari disambut dengan senyum manis , seperti matahari yang tidak berhenti bersinar, akan mengikuti Minho sampai dikelas, dan mengucapkan fighting, lalu pergi ke kelasnya yang membuatnya turun 3 lantai dan 50 meter. Kemudian jika makan siang tiba, ia sudah menunggu didepan kelas Minho , membawa sekaleng kopi dingin, dan mengikuti Minho kemanapun.

“Aish! Kenapa tidak diangkat sih?!”, kesalnya memarahi ponselnya sendiri, ketika melihat wallpaper ponselnya yang tidak pernah ia ganti, atau mungkin sengaja, foto yang diambil bersama –secara paksa- oleh Taemin ketika Minho sedang berulang tahun yang ke 17. Minho tersenyum melihatnya, entah kenapa ia tidak sadar ia menyimpan itu semua, tanpa Taemin tahu.

“Kau mulai gila…”, Minho terkejut melihat Jonghyun berdiri disampingnya dan mencoba melihat ke ponselnya yang buru-buru Minho sembunyikan.

“Ck, tidak usah disembunyikan, aku sudah tahu…”, ledek Jonghyun, “Kemana puppy minnie mu itu?” katanya terkekeh, Minho meliriknya kesal.

“Tidak masuk, entahlah …”

Jonghyun terkekeh, “Bertengkar lagi?”, Minho diam saja

“Kau ini … mau sampai kapan kalian begitu? Kalian ini terlalu bodoh atau memang munafik? Sudah jelas sering bersama, aku bisa lihat kau menyukainya, kau saja tidak mau mengakuinya.”, ledek Jonghyun.

Minho meliriknya kesal, “Aku apa katamu? Tidak …”

“Akui saja kenapa sih Minho? Sebelum ia diambil namja lain.”, ledek Jonghyun, dan itu berhasil mempengaruhi Minho , Jonghyun meliriknya dan terkekeh.

“Memangnya kau tidak bisa lihat? “, tanya Jonghyun, “Duh Minho, jangan kau pikir Taemin tidak populer disini, semua namja dari junior, sengakatan, dan bahkan senior sudah lama menaruh mata padanya, karena terhalang olehmu saja mereka tidak bertindak, asal kau tahu, Taemin itu banyak berubah, tidakkah kau sadar bahwa ia lebih dewasa dan terlihat lebih matang sekarang? “, tanya Jonghyun.

Dan sungguh, jika bukan teman, Jonghyun ingin memukul kepala Minho dengan linggis, “Akh, sudahlah, kau ini terlalu bodoh untuk peka terhadap hal itu, kuperingatkan Minho, ia sudah selama 2 tahun ini bersamamu, tapi kau tidak pernah menunjukan rasa care mu padanya, tapi dia tetap setia padamu, kalau bukan ia suka dan mungkin ia cinta padamu, lalu apa lagi namanya , tinggal kalian saja yang menyadari secepatnya.”, jelas Jonghyun lalu pergi.

Minho, dia terpaku ditempatnya , apa iya? Siapa? Taemin? Dia menyukai Minho?. Minho wajahnya memerah dan menggenggam dadanya sendiri, mengetahui hal itu ia menjadi gugup dan merasa gelisah lagi.

2min~

Taemin turun dari bis, jam sudah menunjukan pukul 2 siang, gara-gara traficjam dan juga bis yang ia tumpangi mogok, maka ia harus menunggu bisa pengganti selama 1 jam.

Ia tarik nafas dalam-dalam dan ia hembuskan perlahan, hawa perbukitan itu terasa sangat asri, berbeda ditempat tinggalnya, walau masih ada penghijauan, tapi tetap saja polusi masih tinggi.

Ia telusuri jalanan yang disekelilingi pohon pinus dan juga hamparan perumahan yang terlihat di atas bukit itu, ia harus berjalan sekitar 1km jauhnya dari terminal bus. Tidak apa, sekalian menikmati pemandangan disekitarnya, banyak terdapat kuil kecil, dan juga rumah tradisional , tidak ada kendaraan kesana, karena wilayah itu sudah dikelilingi oleh lingkungan bebas polusi.

“Hei, mau bareng?”, tanya seorang namja berambut blonde sama sepertinya, hanya saja badannya lebih kurus, dengan mata kucing serta rahang yang tirus, namun tidak menghilangkan raut cantiknya.

“Eung…”, Taemin berpikir, ia tidak boleh sembarangan menerima tawaran orang tidak dikenal.

“Tenang saja, aku bukan orang jahat kok, apa aku ada wajah jahat? Aku kan cantik begini, kau tidak kagum padaku?”, tanyanya cemberut, Taemin terkekeh.

“Mianhe… aku bukan bermaksud begitu, tapi ini kan jalan menanjak, kalau aku ikut, kau akan berat mengayuh sepedanya…”,

Namja itu membulatkan mulutnya, “Kau benar juga!”, kemudian ia turun dari sepedanya, “Kalau begitu aku turun saja, kita jalan bersama.”,

“Eh?”

“Tidak apa-apa… aku bosan sendirian, kau mau kemana?”

“Kekuil Meondang, kau?”

“OMO, kita samaaa~~ aku juga mau kesana, kau ingin mencari jodoh yah?”. Ledeknya, Taemin menunduk dan tertawa malu, yang menurut namja itu sangat lucu.

“Aku tidak percaya akan hal seperti itu.”, kata namja itu, Taemin menoleh.

“Lalu, mau apa kau kesana?”,

Namja itu menoleh, “Mencobanya saja, aku ingin tahu, apakah itu berlaku padaku, itu sangat kekanak-kanakan memang, coba bayangkan, dari sekian banyak kertas disana, kita tidak akan tahu kertas mana yang akan jatuh bersamaan dengan punya kita kan?”, ia memulai hipotesanya, “Ya kalau yang jatuh itu seorang yeoja cantik,muda, dan seumuran kita? Kalau dia tua, peot, dan juga jelek gimana? Terlebih kalau yang jatuh sesama dari pohon namja? . Tapi tetap saja, ini takdir yang bicara.”, katanya dengan wajah meremehkan,

Taemin terdiam dan mengangguk, “Kau benar juga… aku tidak pernah berpikir seperti itu.”, … “Mungkin itulah kenapa ia tidak mau ikut denganku kesini, dan mengatakan bahwa aku anak kecil dan  …pengganggu…”, gumam Taemin pelan.

“Aigooo~ mianhe, bukannya ingin mematahkan harapanmu, aku hanya mencoba menggunakan logika ku… buktinya aku juga datang kesini, kita sama-sama mencoba peruntungan…”, katanya menepuk punggung Taemin.

Taemin menoleh dan mengangguk, tidak lama mereka sampai disana. Takjub melihat pohon mahoni itu benar berdiri kokoh disana, indah, menjulang tinggi dan kertas-kertas berwarna-warni mengibar layaknya hiasan natal.

“Indah …”, gumam mereka bersamaan, kemudian terkekeh dan menghampiri pohon itu, yang mereka tidak tahu adalah , ternyata disamping pohon itu terdapat papan panjang dan kertas yang tertempel disana, banyak kata-kata yang membuat kisah itu seperti nyata, banyak yang mengucapkan terima kasih karena telah dipertemukan dengan jodohnya.

Mereka mulai beranjak ke arah kertas dan menuliskan harapan mereka, Taemin melirik ke arah namja blonde itu, ia sudah menggantungkannya disana, namun ia masih diam menatap kertas itu, bingung apa yang ia harapkan…

“Kenapa aku letakan itu di bagian yeoja? Kau kan namja?” tanya Taemin heran, namja itu menoleh dan terkekeh.

“Simple, karena aku gay, dan aku suka namja dari pada yeoja … kan aku sudah bilang, ini masalah takdir.”, katanya santai, Taemin suka caranya berpikir simple.

“Omo, aku harus pergi, aku ada janji … aku duluan kau tidak keberatan?atau aku tunggu kau sampai menulis gimana?”, tanyanya, Taemin menggeleng.

“Gwencana… kau duluan saja, aku masih mau menikmati suasana disini…”

“Kau yakin? Aku bisa menunggu kok…”

“Jeongmal … kau duluan saja …”, namja itu tersenyum dan mencubit pipi Taemin.

“Yaampun~~ sudak kuduga, kau sangat lembut, aku senang bertemu denganmu, semoga nanti kita bisa bertemu lagi, oh, aku Key.” Katanya mengulurkan tangan,

“Aku Taemin , senang bertemu denganmu juga.”

2min~

Ting tong …

Ting tong …

“Neh~~”, seorang namja bermata sipit keluar dan tersenyum ketika melihat sosok Minho berdiri diluar.

“Hai Jinki Hyung …”,

“Hai Minho…” sapanya cengengesan, Minho terpaksa tersenyum, adik dan kakak sama saja, suka tersenyum dan membuat orang sekitar enggan untuk tidak membalasnya. “Ayo masuk … ada apa kau hujan-hujan kesini?”, tanyanya,

“Oh neh …aku hanya ingin tanya , apa Taemin ada?”, tanyanya, Jinki mengerutkan alis.

“Loh, dia kan sekolah, memangnya kalian tidak bersama?”tanyanya lagi bingung, Minho mengerutkan alisnya.

“Sekolah? Aku tidak bertemu dengannya seharian ini , maka dari itu aku kesini… kupikir dia sakit?”,

“Tidak, dia baik-baik saja, bahkan saat pagi ia semangat sekali, hanya kemarin saja saat pulang sekolah ia marah dan mengunci pintunya…”,

Minho bungkam, “…kalian bertengkar ?”, tanya Jinki kali ini, Minho diam dan menggaruk lehernya,

“Hanya adu argumen saja Hyung … maaf kalau membuat mu khawatir.”,

“Nah Minho tenang saja, kau sudah hubungi ponselnya?”

“Sudah, tapi tidak dijawab.”, Minho mulai panik, Jinki memutar otaknya, ia menuju kamar Taemin dan kembali membawa ponsel Taemin.

“Jelas saja, dia tidak membawanya…”, jelas Jinki, Minho benar khawatir kali ini, masalahnya, hari sudah mulai sore, diluar hujan lebat, kemana dia kalau tidak sekolah?

Minho melihat ke arah majalah di meja tamu, kemudian sebuah tempat terbesit, “Hyung, aku pulang ya? aku coba cari Taemin, tapi katakan padaku kalau ia sudah pulang duluan. Annyeong!”, secepat kilat Minho keluar, meninggalkan Jinki yang terpaku melihat gelagat doangsaengya itu, sekaligus khawatir dimana adiknya Taemin.

2min~

Minho berlari ditengah hujan dengan payungnya, menuju terminal bis , melihat jadwal terakhir bis dari tampatnya menuju Meondang, berakhir pukul 10, namun dari Meondang berakhir pukul 8. Sekarang sudah jam 5, seharusnya Taemin naik bisa jam 4 ,tapi kenapa tidak juga datang?

Hanya feelingnya saja, ia memutuskan kesana, tidak perduli jika mereka berselisih jalan, Minho hanya ingin pastikan Taemin baik-baik saja. Taeminnya , bahkan ia tidak pernah pulang sekolah selain bersama Minho, dan bahkan ia sering tertidur di bis, kalau sampai ia tertidur dan terlewat ditempatnya ia harus berhenti, itu bisa gawat.

Tidak lama bis yang ingin ditumpangi Minho datang, dengan cepat ia naik dan berharap Taemin baik-baik saja, ssemoga saja.

2min~

“A-apa? Apa kau bilang tadi ahjussi?”, tanya Taemin panik.

“Iya, aku bilang rute didepan sedang terputus karena ada pohon tumbang, jadi bis tidak bisa sampai kesini, kalau kau mau, kau harus berjalan 3 km dulu dari sini untuk menuju terminal selanjutnya.”,

Taemin menganga, tidak mungkin, sekarang sudah jam 7 dan itu artinya tinggal satu jam lagi bisa terakhir dari Meondang. Menyesal, kalau saja ia tidak asik berjalan-jalan dan menikmati sekitar hingga lupa waktu, ia tidak akan kesorean, itu artinya, mau tidak mau ia harus cari penginapan sementara, tapi dimana?

“Ng..ahjusi, apa disini ada penginapan murah?”, tanya Taemin pada penjaga terminal itu.

“Ada, kau lihat kedai itu?’, tunjuknya pada kedai teh berjarak 20 meter darinya, “Disana tersedia penginapan permalamnya 10.000 won.”, Taemin menelan ludah, 10.000? duitnya tersisa 15.000 won saja, ia mulai panik, terlebih ketika ia sadari beberapa menit lalu, ia lupa membawa ponselnya, dan sayangnya , di tempat itu telpon umum menjadi buruk ditengah hujam deras itu. Sungguh sial rasanya…

Perlahan ia berjalan kekedai teh itu, menunduk menatap jalanan yang basah, sekelilingnya terlihat sepi, takut … ia percepat langkahnya, dan masuk kedalam kedai itu, sepi …

“Annyeong …”, seorang ahjuma mengejutkan Taemin,

“A-anyeong…”, Taemin membungkuk, “B-bisakah anda memberikan tempat menginap malam ini? Aku terjebak tidak bisa pulang karena ada pohon tumbang disana…”, tunjuk Taemin,

“Tentu saja,silahkan duduk dulu, kau kedinginan, sebaiknya minum teh dulu…”, katanya  , Taemin mengangguk dan mengambil posisi duduk, tempat yang nyaman dan tentram.

“Ini, kau sedang apa kesini? Kenapa pulang malam sekali?”, tanyanya, Taemin mengucapkan terima kasih dan menyeruput tehnya.

“Aku sedang jalan-jalan dan melihat kuil Meondang, karena asik sendiri jadi lupa waktu…”, katanya, ahjuma itu terkekeh.

“Ternyata kau masih percaya hal seperti itu yah?” tanyanya, “Ini tidak nyata mungkin, itu hanya kesenangan semata, jadi jangan terlalu berharap nak…”, katanya,

“Teman yang aku temui tadi juga berkata begitu …”, jelas Taemin, ahjuma itu tertawa.

“Teman mu menggunakan logiknya yah? Tapi tidak apa, kau berhak berharap, siapa tahu itu sebuah permohonan dari mu? Sebenarnya yang membuat mereka bersatu bukan karena kisah itu, tapi karena doa disetiap kertas itu…”

Taemin mengangguk setuju.

“Nah, kalau sudah, kau bisa naik kelantai 2 , kamar paling pertama, ada jazuzi di ujung lorongnya kalau kau mau mandi.”, katanya tersenyum, Taemin berdiri dan mengucapkan terima kasih.

2min~

Minho mengerang, ia menatap pohon yang menghalang rute mereka, hanya ia dan 3 orang lian yang ingin menuju ke Meondang, dan ia harus berjalan sekitar 3km jika mau kesana.

“Kau mau ikut tidak anak muda?”, tanya seorang ahjusi, Minho berpikir sebentar, ia mengangguk dan ikut berjalan, entah kenapa ia merasa cemas , namun ia yakin Taemin masih diMeondang dan ia baik-baik saja.

“Kau mau kemana?”, tanya ahjusi itu.

“Meondang, mencari …temanku, dia belum kembali ketika ia bilang mau ke sini hari ini.”,

“Oh, kalau ia ternyata sudah pulang gimana?”

“Maka aku akan kembali.”, jawab Minho singkat, tak apa, ia tidak akan tenang sebelum menemukan Taemin.

Serasa jauh sekali, apa yang terlihat terburu-buru maka terasa sangat lama. Ia baru saja melewati terminal bis dan berhenti didepan seorang petugas terminal.

“Anneyong, apa anda tadi lihat namja berambut pirang dengan seragam sekolah disini?”, tanyanya,

“Seragam sekolah? Aku rasa tidak, tapi kalau berambut pirang iya, tapi ia sudah pulang dari tadi siang, rambutnya ikal kan?”, tanyanya,

Minho menganga, ‘Bukan, rambutnya lurus…”,

“Oh, aku tidak tahu… maaf…”, Minho menarik nafas, ia mengeluarkan ponselnya ketika mendapat sms dari Jinki mengatakan bahwa Taemin belum juga pulang, dan Jinki sedang mencoba mencari ke teman-temannya.

“Tapi kalau kau mencari namja yang seumuranmu, kau bisa pergi kekedai teh disana, tadi ada namja yang mau pulang, tapi karena aku katakan ada gangguan rute jalan, ia tidak jadi pulang, akhirnya ia kesana tadi…”, kata ahjusi itu, tanpa pikir dua kali, Minho lagi berlari kesana, tidak perduli badannya sudah basah kuyup dan nafasnya tersengal, ia hanya mohon jika itu Taemin biarkan ia tetap disana.

2min~

Minho masuk kedalam kedai itu dan langsung disambut oleh ahjuma pemilik kedai, ia tersenyum dan mempersilahkan Minho duduk.

“Apa …apa ada namja sekitar 16 tahun  datang kesini? Rambutnya pirang dan lurus. Kemudian ia memakai baju sekolah.”, tanya Minho sekali nafas, ahjuma itu mengerutkan alis mendengar pertanyaan Minho yang cepat.

“Ng … aku rasa tidak … “, Minho segera berdiri dan berlari keluar, mengecek dikedai lain, namun sebelum ia bisa berjalan jauh ia mendengar seseorang berteriak, ia tidak yakin, ia terus berjalan cepat.

“..ho…MINHO HYUNGG!!”, Minho berhenti, melihat Taemin didepan kedai itu memegang payung dan berteriak padanya, Minho seperti menemukan titik matahari ditengah hujan malam itu, sosok itu semakin dekat, dan berlari ke arahnya, sebelum berhenti dan memayungkan Minho dari hujan,

“Minho hyung…!! k-kenapa kau disini? Bagiamana bisa kau tahu aku disini?”, tanya Taemin panik memberikan mantel ditangannya pada tubuh Minho yang basah kuyup. “Kau seharusnya tidak berlari ditengah hujan deras, kau bisa sakit …” Taemin terus sibuk mencoba menghangatkan tubuh Minho yang sudah mengigil.

“Taemin…”, Minho memegang pipi Taemin yang hangat, Taemin terkejut,

“H-hy—“, Taemin terkejut ketika Minho sudah memeluknya ,membuat Taemin terkejut menjatuhkan payungnya , merasakan hangat tubuh Minho dipelukannya, Minho memeluknya, Minho yang selama ini hanya bisa ia pandangi dari jauh atau dia duluan yang menggelayut di tangan Minho, kali ini berbalik, Minho memeluknya!

“Taemin …syukurlah…”, Minho mencium sisi kepala Taemin dan membenamkan kepalanya di pundak Taemin, membuat sosok mungil itu terangkat. Wajah Taemin memerah, jantungnya berdegup cepat, ia takut Minho akan mendengarnya, ia raih tangannya dan memeluk Minho.

“Hyung…mainhee… membuat mu khawatir…” Taemin menahan air matanya, “Mianhe neh Hyung ah~”, kali ini ia merasa malu, andai ia dengarkan Minho, andai ia tidak egois, maka ia tidak akan membuat Minho susah, dari awal bertemu sampai sekarang, ia lah yang membuat Minho selalu merasa terganggu, ia sedih karena ia takut Minho akan membencinya setelah ini, karena membuatnya dalam masalah. “M-m-mianhe..hiks…h-hyung..hiks…”, isaknya, takut … ia hanya mohon, tidak apa jika Minho tidak pernah membalas cintanya, namun, jika Minho tetap bersamanya itu sudah cukup.

Minho melepas pelukannya dan menatap Taemin yang menunduk menangis, ‘Pabo…”, kata Minho, Taemin semakin menunduk, habis sudah … mungkin Taemin harus mulai terbiasa melepas Minho, sudah cukup selama 2 tahun, mungkin Minho juga jengah padanya. “Pabo Taemin ah~ aku tidak bilang aku tidak mau pergi kan?”, Minho mengangkat dagu Taemin.

“M-mwo?’,

“Aku bilang aku tidak mau melakukan hal bodoh itu …” Minho melihat ke arah lain, “Aku tidak perlu hal begitu…”, jelasnya,

“L-lalu untuk apa kau kesini?’, tanya Taemin, Minho meliriknya kesal,

“Aku kesini untuk memastikan apakah kau sudah dapat jodoh hayalan mu itu.”, Minho berbalik namun Taemin mengejarnya.

“H-hyung.”, Taemin berlari dan menghalang Minho.

“K-katakan … kau kesini karena ingin mencari ku kan?”, tanyanya,

“Ani.”

“K-kau khawatir padaku kan? Ya kan Hyung?”

“…”

“Tidak mungkin kau jauh-jauh kesini hanya untuk memastikan apa ak—“

Taemin tidak bisa meneruskan kata-katanya sebelum mulutnya dibungkam oleh bibir tebal Minho, seperti hujan mereda sesaat, dan diganti dengan kicauan burung, bibir tebal dan dingin itu menyentuh dengan lembut di bibir tipis yang manis itu, tangan kekar Minho melingkar dipinggang Taemin, dan yang lainnya menahan kepala mungil itu, Taemin terkejut, matanya terbuka lebar, mimpi? Kalau iya, jangan biarkan tebangun, apa ini sebuah hari bahagia atau buruknya, Minho datang …memeluknya, dan menciumnya… oh god~

Taemin menarik nafas dan menatap Minho yang sudah melepas ciumannya, clueless … speechless … campur aduk di perasaan Taemin. Minho melirik bibir Taemin kemudian ke matanya, membelai rambut Taemin sayang.

“Aku tidak mau lakukan itu karena aku tidak perlu mencari jodohku, atau yang cocok untukku, aku tidak butuh keajaiban seperti itu, karena didepanku sudah ada, sejak dulu ..sampai sekarang…”, Minho baru kali ini bicara panjang lebar, Taemin memegang mulutnya, tidak percaya, menangis lagi…

“M-minho hyung…hiks…”, Minho berdecak,

“Sudah kubilang, kau anak kecil, kau tidak tahu kalau aku sudah lama menyukaimu …”, jelas Minho, Taemin terisak,

“J-jeongmal? T-tapi kau bilang aku …hiks…p-pengganggu…?”,

Minho berdecak, “Itu karena …”, … “Kalau kau didekatku, aku tidak nyaman … aku merasa aneh, aku selalu ingin memelukmu, dan…”,Minho menoleh ke arah Taemin, membelai pipi yang basah bercampur dengan rintik hujam yang mereda itu.

“…aku ingin katakan, Saranghae Taemin…”, Minho tersenyum, senyum yang sangat manis, dan hangat, mengahangatkan suhu tubuh Taemin. Taemin tersedak air matanya sendiri, Minho menghapusnya dengan punggung tangannya. “Kau …mencintaiku?’, tanya Minho,

Taemin terdiam dan mengangguk , menggapai tangannya yang langsung disambut oleh pelukan dari Minho,Minho memeluknya erat dan mencium sisi kepalanya berkali-kali, “N-n-na-…hiks…”

“Sssh… aku tahu…”, Minho menepuk punggung Taemin, ia melepaskan pelukannya dan menatap mata coklat itu lurus, mata yang selama ini hanya menatap Minho , tidak berpaling sedikit pun meski Minho sudah sering menyakitinya…

Namun mata itu, mata yang selalu menatap kejelekan Minho sebagai sebuah sisi baik Minho, menatap kekurangan pada dirinya sebagai kelebihan Minho, menatap kesempurnaan Minho dibalik ketidak sempurnaannya … dan menatap Minho sebagai orang yang paling dicintainya… ia lah Lee Taemin yang selalu djadikan Minho sebagai mataharinya…

“Saranghae Taemin ah~ …”, sebelum bibir itu kembali bertemu, dengan lembut, saling merasakan debaran masing-masing.

2min~

Angin timut berhembus disore itu, ketika sesosok namja cantik meninggalkan tempatnya, namun tidak ada kertas lain yang terbang dari sana, hanya secarik kertas itu dan jatuh di tanah.

Hanya satu pintaku, buatlah Minho mencintaiku, jika tidak, buatlah ia bahagia selalu…dan selamanya…
-Taemin sayang Minho-

END!

Tae hee hee~ gila, ini gue ketik dikampus, sampe baterai hp gue abis, alhasil gue edit dikit, tapi gitu deh, masih banyak wrong typo, so sorry guys…

Oke, next part Onkey yah!
so, please leave a comment and like

See ya~ poppo from 2min

65 thoughts on “[2min-Onkey] Not just about love, But also the fate part 1 of 2

  1. Sumpah ya aku pikir ceritanya kayak fairytale gitu aku ga ngerti kalo itu hahaha ternyata seruuuuuuuu banget😀

    Jeng2 udah kebaca nih pertemuan Onkey haha fighting !! ^^

  2. huaaaaaaa keren….bener2 deh si taemin…beruntung sangat…onkey ny kapan???penasaran sm onkey nya…..

  3. mana OnKeyx?! kau pembohong Taemkey san~ author. smpai 2014 gk ad dpublish yg bagian OnKeyT.T

    2min1314 manis66x
    suka:)

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s