EPILOG : OUR PRECIOUS ONE…IT’S OUR MOST PRECIOUS TIME… /2MIN/MPREG/YAOI


Chingu, ini keiminnie bawa FF dari Fitri, and buat Fitri mian gue bar pos sekarang… U.U

 

Foreword :

annyeong…apa kabar semuanya? Sehat kah? Hehehe. Lagi pengen bawa ff random lagi setelah beberapa waktu ndak nulis. Sebenernya tadi malem lagi ubek-ubek laptop, ketemu OPO part terakhir, trus entah kenapa kepikiran untuk nulis epilog nya. Pada minta epilog kan? :p

Entah yaa bakal gimana ceritanya. Bakal jadi smutt atau sebaliknya, otak gue meliar trus nulis tiba-tiba anak 2min mati bunuh diri atau ketabrak mobil atau keracunan, hahaha. Seperti biasa gue nulis tanpa ide dasar jadi asal aja nii tangan mau ngetik apa. Entah juga yaa bakal jadi seheboh part-part sebelumnya atau engga maklum gue udah lama ga nulis lagi jadi pasti bakalan beda dari yang dulu. Terserah sii mau di komen atau engga, aku ndak perduli. Hehe. Gue udah mencoba nothing to loose pas nulis, jadi kalian mau meluangkan waktu untuk baca aja gue makacii sekaliii.

Hope you likey…

Cue…

By : TaeminhoShouldBeReal

 

 

 

EPILOG…

“hyung, bayi ini kita mau beri nama siapa?”

“untuk yang wanita, Choi Minzy”, Minho menjawab sambi tersenyum. Keduanya persis Minho dan Taemin. Sang wanita luar biasa cantik. Wajahnya persis Taemin, hanya matanya, jelas itu mata elang Minho. Sementara sang namja, ia luar biasa tampan. Wajahnya persis Minho, hanya perbedaan di matanya, sama seperti adiknya yang mempunyai mata elang Minho di wajah cantiknya, sang kakak mempunyai mata teduh Taemin di wajah tampannya.

“kenapa Minzy?”

“Minzy adalah anak yang…istimewa dengan caranya sendiri. Anak yang begitu cantik dan luar biasa aku ingin, anak ini mempunyai sifat seperti itu. Bukan hanya baik untuk kehidupannya sendiri, tapi juga baik dan membawa keceriaan untuk sesama nya”

“lalu yang laki-laki?”

Minho terdiam. Ia belum tau namanya.

“Min…ho”, Taemin berkata pelan.

Minho melihatnya, “nama ku?”

Taemin mengangguk, lalu mengelus pipi chubby kemerahan sang kakak, “aku ingin anak ini dinamakan sama dengan nama namja paling tampan, baik, sabar, lembut, dan bertanggung jawab yang pernah kukenal selama aku hidup. Aku juga ingin ia mempunyai sifat yang sama sepertimu, hyung. Bertanggung jawab menjaga adik perempuannya, menjaga ku, menjaga orang-orang sekitarnya dengan kekuatannya sekaligus kelembutannya sebagai seorang laki-laki”

^^

“waaaaaaa, kyeoptaaaa pffftttt”, teriak Key histeris begitu melihat ‘pangeran dan putri’ keluarga Choi dan Lee di box bayi rumah sakit dan langsung dihadiahi ‘dekapan cinta’ oleh Jonghyun dan Jinki.

Ya, keluarga hangat itu sekarang masih ada di rumah sakit Seoul. Kamar VVIP yang mereka sewa hanya untuk Taemin dan kedua bayi mungilnya kini penuh dengan keluarga besar Choi, Lee dan tak ketinggalan bahkan keluarga besar Kim, Appa dan Umma Jonghyun serta Key ikut larut dalam kebahagiaan yang entah bagaimana dihadirkan dari kedua sosok mungil yang saat ini tengah tertidur di box bayi yang masing-masing berselimutkan biru dan pink. Mengerumuni kotak kecil tersebut sambil membekap mulut cerewet Key dan mengagumi sosok cantik seperti bidadari dan sosok tampan bagai malaikat yang kini menambah jumlah keluarga mereka. Umma Minho dan Appa Taemin bahkan tak kuasa menahan air mata nya. Sang kakek, yang biasa selalu tampil berwibawa bahkan cenderung dingin sebagai owner sekaligus presiden direktur salah satu perusahaan terbesar di Seoul, kini menanggalkan itu semua dan terlarut mensyukuri keajaiban Tuhan atas dua sosok mungil nan luar biasa yang Dia hadiahkan saat ia masih di dunia. Ya, hidup nya lengkap kini, meski masih ada satu keinginan di hati kecilnya untuk melihat sang kakak, Lee Jinki, menyusul adiknya, tapi tetap tak henti ucap syukur itu tulus datang dari hatinya. Memegang tangan mungil Minzy, yang ternyata, meski sedang tidur, si kecil kuat menahan telunjuk sang kakek untuk ia genggam, sambil tersenyum, reflek Appa Taemin menengadah ke atas, dalam hati ia berbicara, “kau melihat mereka sayang? Aku sudah menjadi kakek, dan kau pasti menjadi nenek tercantik yang pernah ada. Taemin, anak mungil kita sudah menjadi orang tua saat ini. Orang tua dari malaikat tampan dan putri cantik yang Tuhan percayakan untuk menjadi bagian dari keluarga Lee. Waktu berlalu begitu cepat. Dulu, ia masih anak-anak. Anak cantik dan luar biasa walau kadang terlihat lemah, tapi kau dan aku yang paling tau siapa sebenarnya Taemin. Sekarang, waktu-waktu itu sudah lewat dan kini ia sudah mempunyai anak. Kita berdua percaya, Taemin kita akan seluar biasa dulu, iya kan? Andai kau masih ada di sisiku kini, aku bahkan masih bisa membayangkan senyum wajahmu ketika melihat cucu kita”, dan air mata itu menetes, mengalir di pipi tua nya.

Jinki, yang melihat Appa nya menangis dalam diam nya, hanya bisa tersenyum. Ia tau itu tangis kesedihan dan kebahagiaan dalam waktu yang sama. Ya, status Jinki memang hanya anak angkat keluarga Lee. Tapi kasih sayang tulus dari pria hebat itu yang membuatnya merasa bahwa ia sepenuhnya bagian dari keluarga kecil ini. Hanya mereka bertiga. Appa, Taemin, dan dirinya, dan ia sudah merasa keluarga ini lengkap. Appa dapat menjadi sosok tegas seorang Appa dan sosok lembut seorang Umma. Appa bertahan belasan tahun untuk tetap sendiri semenjak kepergian Umma hanya untuk menjaga kesetiaan cintanya. Bahwa laki-laki sejati harus menjaga kesetiaan terhadap hal-hal berharga dalam hidupnya, itu yang selalu Appa ajarkan pada Jinki. Dan kesetiaan seorang Lee Jinki sudah ia berikan pada seorang bernama….Lee Taemin. Salah kah?

Tentu saja salah jika dilihat dari sudut pandang bahwa mereka kakak adik dan Taemin sudah memilih Minho. Tapi bagi nya, makna kesetiaan tidak dibatasi hal seperti itu. Bahkan kematian tidak memudarkan sedikitpun kesetiaan Appa terhadap Umma. Kesetiaan adalah hal paling tulus yang Tuhan anugerahkan untuk datang dari hatimu dan kau tidak punya kekuatan untuk menentukan bahwa kesetiaanmu akan jatuh pada siapa. Hanya sesederhana itu! Taemin sudah memilih lelaki terhebat seperti Minho. Jinki bahkan sadar ia tidak akan bisa sehebat Minho untuk menjaga Taemin, dan sungguh tulus ia bersyukur adik terkasihnya mendapat orang paling luar biasa yang bisa mengerti dirinya. Kini ia pun sudah mencintai orang lain. Tapi kesetiaannya yang paling dalam, paling tulus, dan paling ia jaga agar tetap indah di dalam hatinya yang terdalam, yang tak seorang pun tau kecuali ia dan Tuhan, tetap hingga detik ini, bahkan hingga ia mati, hanya untuk sang adik.

Flashback…

“hei Taemin, apa kau tidak malu punya kakak seperti dia? Hanya anak pungut. Cih, itu memalukan, kau tau! Tidak ada yang tau ia anak siapa! Asal usulnya tidak jelas, dan Appa mu bahkan memberikan marga kalian untuk orang yang tidak jelas berasal dari mana?”

Saat itu mereka masih di sekolah dasar. Jinki dan Taemin bersekolah di salah satu sekolah internasional paling elite di Seoul. Karena itu, para siswa nya juga merupakan orang-orang borjuis dengan titel orang tua mereka sebagai Presiden Direktur X.Corp atau owner jaringan multinasional hypermart Y atau para petinggi pemerintahan Seoul. Begitu tau, Lee Jinki, si anak baru yang seharusnya bernama Xxxx Jinki, si anak pungut yang tidak tau berasal dari keluarga mana, seketika para anak-anak borju langsung membuat ‘border’ tak terlihat bahwa anak seperti itu tidak pantas untuk masuk ke kalangan mereka atau setidaknya berada di jarak pandang mereka. Latar belakang keluarga yang [harus] terpandang adalah syarat mutlak untuk masuk dalam ‘border’ itu.

Jinki kecil, tidak buta, tidak bodoh, dan ia tau diri. Diangkat anak oleh salah satu orang terkaya di Seoul dan rela memberikan marga Lee di depan namanya, bukan tanpa konsekuensi. Dan mungkin ini salah satunya. Ia menjadi anak yang pendiam. Bahkan hampir tidak pernah bicara. Nilai nya memang selalu sempurna. Ia menjelma menjadi anak paling cemerlang sedari kecil. Tapi dengan menjadi anak cemerlang, itu tidak cukup untuknya menembus ‘border’ yang ada di sekelilingnya. Dan Taemin kecil, ia masih terlalu kecil dan takut untuk bisa membantah segala perkataan itu. Sungguh Jinki tak menyalahkannya. Ia justru akan lakukan apapun selama bukan Taemin yang dijauhi, meskipun dengan cara juga menjauhi Taemin dan menjadi Jinki si penyendiri. Hingga suatu hari, semuanya berubah…

“kau anak pungut tidak tau diri! Ternyata dengan menjadi kesayangan para guru di sekolah ini, kau menjadi besar kepala! Apapun yang kau lakukan, tidak akan mengubah status anak pungut yang menempel pada dirimu, kau tau!”, seorang anak angkuh berdiri di depan Jinki sambil mengacungkan jam tangan mewahnya yang entah bagaimana caranya bisa ada di dalam tas Jinki.

“pencuri!! Hanya anak pungut saja kau berani mencuri, apa keluarga Lee kurang memberikan uang padamu!! Kau tidak pernah diajarkan kata ‘berterima kasih dan tau diri’ hah?”

Kalimat itu menggema di seisi ruangan. Mata-mata sinis bahkan muak kini tertuju pada anak kecil tampan yang hanya bisa memasang wajah bingung walau sebenarnya ia ingin sekali menangis! Tapi perintah sang Appa bahwa “laki-laki harus kuat apapun yang terjadi padanya” terus ia pegang erat membuatnya masih bertahan hingga kini dengan segala ejekan yang ia terima bertahun-tahun, bahkan di usia yang masih begitu muda. Ia tidak pernah bercerita apapun pada sang Appa. Ia cukup mengerti bahwa Appa nya seorang yang sibuk mengurusi perusahaan besar dengan ribuan karyawan dan pasti ia sudah lelah dengan semua itu. Jinki pun tak pernah meminta Taemin untuk membelanya karena ia tau konsekuensi yang akan Taemin terima jika membela Jinki adalah pengejekan yang sama seperti dirinya dan Taemin masih terlihat terlalu fragile di mata Jinki untuk menanggung semua itu. Tapi kali ini, sungguh Jinki sakit hati. Ia memang hanya anak panti asuhan. Ia memang tidak tau siapa Appa dan Umma nya karena menurut penuturan orang-orang di panti asuhan tempat Jinki tinggal sebelum dibawa ke rumah mewah keluarga Lee, ia sudah ditinggalkan di panti asuhan semenjak hari pertama ia lahir ke dunia dan tidak ada orang yang tau siapa yang tega meletakkan anak yang baru sehari dilahirkannya di sebuah malam yang dingin di depan pintu suatu panti asuhan kecil. Tapi sungguh, di panti asuhan kecil itu lah ia mengenal apa itu kasih sayang tulus dari sebuah keluarga meski tak diikat hubungan darah. Ia ditanamkan nilai-nilai agama yang baik dan salah satunya mengenai kejujuran. Kejujuran yang Jinki pegang sejak kecil, membuatnya tabu untuk melakukan tindakan mengambil hak orang lain yang bukan miliknya, sebesar apapun keinginannya untuk memiliki barang itu. Tapi justru, sekarang ia dituduh menjadi pencuri?

“Taemin, lihat kelakuan kakak mu!!”, seorang anak laki-laki menoleh ke arah pintu dan segera berteriak begitu melihat putra kandung keluarga Lee ada disitu. Ya, Taemin mendengar ada keributan saat melewati kelas kakaknya. Ia berhenti dan melihat seseorang dikerumuni. Tidak berani masuk, ia hanya berada di depan pintu dan kini wajahnya pucat begitu seseorang menyadari kehadirannya dan kini semua mata menoleh ke arahnya, termasuk anak yang dikerumuni itu. Lee Jinki, kakaknya.

Mata mereka bertemu. Taemin melihat Jinki masih bisa tersenyum ke arahnya dan matanya seolah berkata, ‘jangan khawatir, aku baik-baik saja’. Lee Jinki, kakak yang sebenarnya sangat ia sayang, dan ia sangat yakin ia tidak melakukan seperti apa yang dituduhkan. Taemin memang tidak melihat kejadiannya, hanya ia sangat yakin kakaknya bukan orang yang seperti itu!

Seketika, banyak kelebatan memori yang hadir di otak nya. Saat Jinki selalu ada di sampingnya. Dengan sikap sangtae nya ia berusaha menghibur Taemin yang hancur akibat kepergian sang Umma. Di malam-malam yang selalu Taemin takuti karena mimpi buruk semenjak Umma tidak ada, Jinki selalu menemaninya, memegang tangannya, bahkan terkadang bersenandung merdu untuk menemani sampai ia tertidur. Jinki yang merelakan kotak bekalnya diberikan pada Taemin kalau ia lupa ketinggalan membawa bekalnya. Jinki yang meneruskan mengerjakan tugas sekolahnya jika Taemin tertidur kelelahan di meja belajar. Mata teduh itu, senyum tulus itu, sikap baik itu, apa yang sudah aku lakukan sampai Tuhan memberikan hadiah seindah ini di kehidupannya? Lalu haruskah ia diam saja melihat kakak yang paling ia sayang difitnah seperti itu hanya karena alasan takut? Akhirnya ia mengerti, selama ini ia menakuti hal yang salah. Taemin tidak seharusnya takut kehilangan teman-teman atau ejekan yang biasa mereka lontarkan pada Jinki juga terlontar untuknya. Bukan! Taemin tidak seharusnya takut pada hal itu! Yang seharusnya ia takuti adalah ketika Jinki tidak lagi ada di sisinya. Karena selama Jinki hyung ada di sisi Lee Taemin, semua akan baik-baik saja!

Taemin mulai melangkahkan kakiknya ke kerumunan itu. Sorot matanya berubah. Bukan lagi dipenuhi ketakutan dan ketidak berdayaan seperti Taemin yang biasanya, dan Jinki heran melihat itu. Itu pertama kali ia melihat Taemin punya sorot mata seperti itu.

Ia memegang tangan Jinki, “kakak ku bukan pencuri!”. Ketegasan yang kuat terpancar keluar dari suaranya membuat seisi ruangan terdiam. Seorang Lee Taemin? Anak lemah ini? Berani membela Jinki? Apa kepalanya terbentur tembok saat bangun tidur tadi pagi?

“Taemin”, Jinki memanggil lirih. Kenapa dengan adiknya ini? Tidak biasa-biasanya ia begini. Dan suara tegas itu? Seperti bukan Taemin yang Jinki kenal selama ini.

“hah, kau mulai berani membela anak pungut itu Taemin?”

“ia punya nama, dan namanya bukan anak pungut. Namanya Lee Jinki. Ia kakak ku dan itu artinya ia juga sepenuhnya bagian dari keluarga Lee!! Kalau kalian mengejeknya berarti kalian juga mengejek ku, Appa ku, dan seluruh keluarga Lee!!”, Taemin mengeratkan genggamannya, dan Jinki sudah sepenuhnya tidak mengenal orang yang sedang menggenggam tangannya saat ini.

“Taemin…kau…”

“kenapa? Kenapa aku bisa membelanya? Are you deaf? Karena ia kakak ku! Dan jelas kakak ku bukan pencuri! Kami, keluarga Lee, selalu diajarkan nilai-nilai yang baik dan karena ia sepenuhnya bagian dari keluarga Lee, berarti ia juga orang yang baik dan tidak mungkin mencuri! Apalagi untuk jam tangan…murahan seperti itu!”, Taemin sebetulnya tau itu jam tangan keluaran terbaru bahkan sepertinya limited edition, tapi apa ia perduli?

“kalau Jinki hyung mau, ia bisa minta Appa untuk membelikan jam yang harganya 10x lipat lebih mahal dari itu! Kau pikir hanya keluarga mu satu-satunya yang kaya dan mampu membeli jam seperti itu? Kalau itu yang ada di pikiran mu, kau salah besar! Bahkan aku yakin perusahaan multinasional Lee Corp jauh lebih besar dibanding perusahaan orang tuamu, jadi jangan besar kepala!”.

Skak mat! Anak itu terdiam. Ia tau perkataan Taemin benar! Sepenuhnya benar! Ayahnya memang presiden direktur sebuah perusahaan pertambangan besar di Seoul, tapi ayah Taemin adalah owner dari perusahaan multinasional yang masuk peringkat 20 besar perusahaan terbesar di dunia versi suatu majalah ekonomi internasional. Tidak perlu jenius untuk tau siapa yang unggul disini. Ia bisa saja mengejek Jinki selama ini, tapi sekarang, yang ada di hadapannya adalah putra kandung keluarga Lee. Selama ini, ia kira Taemin juga malu mempunyai kakak dengan status tidak jelas seperti Jinki. Karena itu selama ini ia hanya diam. Tapi hari ini?

“Taemin sudah cukup!”, Jinki memperingatkan adiknya.

“kau bisa kena masalah karena ini, karena aku! Sudah cukup!”

Taemin menoleh ke samping sambil tersenyum, senyuman paling manis yang pernah Taemin perlihatkan di depan Jinki, “kau benar hyung. Sudah cukup! Memang sudah cukup aku bersikap pengecut selama ini. Kau kakak ku! Dan sudah sepantasnya seorang adik membela kakak nya yang hebat dan luar biasa! Aku memang sudah terlambat jika melakukan ini sekarang, tapi aku tidak mau tidak memulainya sama sekali. Kau tidak sendirian hyung. Lee Jinki punya Lee Taemin yang akan selalu ada disampingnya, seperti selama ini Lee Jinki yang selalu ada untuk Lee Taemin”, jelas Taemin lembut sambil menekankan setiap kata ‘Lee’ di tiap ucapannya.

Ya, untaian kalimat dihiasi senyuman manis dan sorot mata tegas dari Taemin saat itu yang membuat Jinki menyerahkan kesetiaannya. Sejak saat itu, mereka selalu berdua. Memang tidak ada lagi yang mengejek Jinki jika Taemin disisinya, tapi konsekuensinya, tidak ada pula yang mau berteman dan dekat dengan Taemin. Itu berlangsung sampai mereka dewasa. Kami selalu sekolah di tempat-tempat berisi anak-anak serupa, dan kelakuan yang kami terima pun sama. Jinki pernah bahkan sering meminta maaf pada Taemin, tapi lagi-lagi reaksinya selalu tertawa dan memukul bahu Jinki pelan lalu berkata, “hyung pabo. Untuk apa meminta maaf? Aku baik-baik saja, sudahlah. Selama hyung disampingku, aku bisa menjalani semuanya dan semuanya memang baik-baik saja kan selama ini? Jadi tidak ada yang perlu aku khawatirkan!”.

Lee Taemin…ku, terima kasih…

End flashback…

Jinki menatap kedua malaikat mungil itu, Minho, si tampan yang mempunyai mata teduh Taemin, dan Minzy, si cantik yang mempunyai mata tegas Minho. Kini pandangannya beralih ke belakang, sejoli yang mungkin adalah orang-orang paling bahagia di ruangan ini. Lee Taemin…ah, ani.. Choi Taemin, dengan muka pucat dan lelah namun tak bisa dipungkiri ekspresi itu adalah ekspresi paling bahagia yang pernah Jinki lihat hadir di wajah cantiknya, walau sudah belasan tahun Jinki bersama Taemin. Ia sedang menyandarkan kepalanya di dada bidang Minho, dan Minho melingkarkan tangannya memeluk Taemin. Pemandangan paling indah di ruangan ini selain melihat wajah malaikat dan bidadari kecil yang sedang tertidur itu. Jnki tersenyum sambil menunduk. Senyum paling tulus nya, sambil lirih berkata, “terima kasih Tuhan”.

^^

Dalam kehangatan pelukan Minho di tubuhku saat ini, tak hentinya ia berucap seraya berbisik terima kasih dan aku mencintaimu, sungguh Tuhan, sejujurnya aku ingin menangis saat ini. Melihat begitu banyak yang menyayangi Minho dan Minzy, malaikat dan bidadari kecil kami yang baru saja hadir setelah penantian panjang dan penjagaan over protective dari mereka semua. Ya, kini semuanya terbayar. Rasa sakit itu, malam-malam yang aku lewati penuh dengan kecemasan hingga insomnia, doa-doa yang tak hentinya aku panjatkan untukmu Tuhan agar membuat segala penjagaan dari mereka terhadap anak-anakku bukan seperti menaruh harapan kosong, semuanya selesai kini. Saat ini, yang terucap hanyalah ucapan syukur belasan orang yang menatap kagum pada anak-anakku. Anak yang sudah menempati setengah hati ku di detik pertama aku melihat wajah mereka yang sebelumnya hanya milik Minho sepenuhnya.

“hyung, kau bahagia?”, reflek aku bertanya pada orang yang kini meletakkan kepalanya untuk disandarkan pada kepalaku.

Aku memang tidak melihat wajahnya, tapi entah bagaimana aku tau bahwa ia tersenyum, “bahagia? Sekarang?”, ia kembali bertanya.

“emm”.

“sejujurnya, aku tidak tau apa yang kurasakan sekarang. Aku pernah merasakan apa itu bahagia saat kita menikah. Aku merasakan tubuhku seperti ingin meledak begitu tau kau hamil. Tapi saat ini? Maaf Taemin, tapi aku sudah benar-benar tidak bisa mendeskripsikan apa nama dari perasaan ini”.

Aku menunduk dan kuyakin wajahku memerah. Ya, Minho hyung benar. Sama sepertinya, aku juga tidak tau apa nama perasaan ini sekarang. Entahlah, mungkin aku hanya begitu bersyukur, terharu, atau entah apa namanya bahwa banyak sekali orang yang begitu mencintai malaikat dan bidadari kecil kami.

“hyung”.

“ada apa Umma?”, ia menjawab lembut. Aku tersenyum. Ah, panggilan ku berubah. Ya, saat ini, aku sudah menjadi Umma, sebuah panggilan baru yang juga disertai tanggung jawab baru pula.

“bolehkah ku minta bantuanmu?”

Aku merasakan kepala Minho bangun dari kepalaku, sedikit menunduk dan memegang wajah ku erat. Raut wajahnya cemas, “kenapa Umma? Kau sakit? Perlu kupanggilkan dokter sekarang?”.

Aku menggeleng sambil memegang tangannya yang ada di wajahku.

“tolong aku untuk bersama-sama menjadi role model orang tua terbaik yang bisa kita tunjukkan untuk mereka ……”, aku berhenti sejenak.

“ya Appa…”

Minho tersenyum lebar menatapku. Aku yakin ia juga merasakan sensasi aneh yang sama yang aku rasakan ketika Minho memanggil ku Umma. Itu sungguh perasaan yang luar biasa, kau tau!

“ehm, maaf mengganggu”, suara Key menginterupsi sensasi yang barusan kami rasakan hanya dengan panggilan Appa dan Umma tadi. Kami memang sudah memanggil begitu sejak aku hamil, namun saat ini….entahlah…rasanya sungguh berbeda.

Minho menegakkan badannya dan satu tangannya melingkar di pundak ku sambil menatap ‘Umma ku’ tersayang itu.

“yeobo sudahlah jangan ganggu……mereka”, Jonghyun memegang tangan Key sambil menelan ludah begitu mendapat tatapan sinis dari sang istri.

“aku cuma ingin bertanya, dari sekian juta nama korea untuk anak laki-laki kenapa kalian, dan terutama kau Taemin, tega memberikan izin untuk memberikan nama *si kodok* Minho pada anakmu yang tampan dan lucu itu?”, ucap Key nyaring (dan memelankan kata ‘si kodok’ tentu saja).

“kenapa kau tidak pernah berdiskusi dengan ku soal nama ini? Aku tersinggung!  Suka atau tidak suka, kalian harus mengakui aku punya peran besar dan banyak selama Taemin mengandung Minho dan Minzy. Ergh, aku tidak rela menyebut nama itu”, ia memutar bola mata.

“anak yang kau protes tentang namanya barusan menurutku sangat mirip Appa nya. Kecuali di bagian mata, itu memang mata Taemin. Tapi untuk wajah, sangat jelas ia mewarisi garis wajah tegas Appa nya. Jadi kalau kau bilang anak ku tampan dan lucu….eemmm…terima kasih. Tak kusangka kau diam-diam mengagumi ku Key, aku terharu. Tapi maaf, aku jelas lebih memilih Taemin. Lagipula kau kan sudah punya Jonghyun. Tapi untuk sekedar tanda tangan atau foto aku rasa Taemin bisa merelakan aku melakukan itu, iya Umma?”.

BLAM!!!

Ucapan Minho sukses membuat mata kucing itu melotot tak percaya atas rangkaian kalimat yang baru saja keluar dari mulut manusia tinggi di depannya. Aku hanya bisa tertawa kecil karena menahan sakit dibagian perut melihat Minho membanggakan diri nya sendiri tapi dengan wajah datar seperti biasa. Sejak kapan nampyeon ku ini jadi narsis dan cerewet begini?

“YAK! KAU….”

“kau bisa diam Ny.Kim?”, suara bass berwibawa Appa ku mulai keluar dan berhasil meredam ‘tembakan’ kata-kata Key berikutnya.

“ini rumah sakit Key, dan ada dua bayi sedang tidur disini. Jangan buat malu Umma karena kelakuanmu yang seperti itu”, bentakan kini datang dari Umma Key sendiri.

“memang Umma mau aku memberi nama apa untuk si kecil?”, aku buru-buru meredakan suasana sebelum ‘Umma’ di depan ku ini meledak lagi.

“tentu saja Kibum!”

“pfffttttt”, seketika seluruh orang di ruangan termasuk aku, bahkan Jonghyun dan orang tua Key sendiri, reflek menutup mulut untuk meredam tawa.

“YAK! WAE???”, wajahnya menyiratkan tersinggung sekaligus bingung melihat reaksi sekelilingnya.

“maaf saja, tapi kami hanya menghindari anak ini punya sifat sama sepertimu. Menghadapi satu orang sepertimu saja kami pusing, apalagi jika ada dua. Aku pasti cepat tua bahkan cepat mati kalau mengurusi satu saja keponakan dengan sifat ajaib sepertimu, Key”, Jinki berkata jujur di sela tawa nya yang di langsung mendapat respon pukulan kecil di kepala dari Appa nya yang padahal juga menahan tawa. Nyonya Kim satu ini memang ajaib. Anak orang lain tapi harus diberi sesuai namanya? Darimana datangnya aturan itu?

“YAK! HYUNG! KAU TIDAK TAU KALAU SETIAP LAKI-LAKI YANG DIBERI NAMA KIBUM ITU PASTI HEBAT DAN TENTU SAJA….FABULOUS?”

“hahahahahahahahahaha“, kali ini tidak ada satu pun yang sanggup menahan tawa karena kalimat Key barusan.

Aku mengusap ujung mata ku yang berair sambil meringis karena sakit. Hasil dari operasi itu meninggalkan bekas sakit luar biasa tapi aku benar-benar tidak sanggup menahan tawa.

“ma~maksudmu Umma?”, aku masih tertawa kecil.

“kau tidak mau anakmu hebat dan tampan sepertiku Minnie? Dan coba kau lihat Kibum yang lain, member Super Junior misalnya? Tampan tidak? Sang killer smile? Kurang tampan apa? Atau setidaknya Kimbum juga tak apa. Tapi kenapa harus……Minho? Aku tersinggung!”

“Ummaaa~”, aku mulai merajuk sambil mengulurkan tangan mengundangnya untuk ke berdiri di dekat ku. Aku tau sejak dulu Key memang tidak akan pernah bisa tahan jika aku sudah mulai merajuk.

“aaaahhh”, Key tau ia akan kalah tapi dia tidak pernah bisa menolak. Perlahan-lahan ia berjalan ke dekatku. Ia berdiri di sisi tempat tidur yang berseberangan dengan Minho.

“maaf kalau aku tidak berdiskusi dulu. Tapi aku dan Minho hyung memang tidak pernah membicarakan masalah nama sejak awal. Lagipula nama Minho memang aku yang memberikannya. Mungkin dengan pertimbangan….”, aku terdiam sejenak.

“karena saat itu, saat ini, dan selamanya, aku terlalu mencintai orang dengan nama yang sama, baik fisik dan terutama sifatnya”, jelasku sambil menoleh ke sisi suami ku berada.

Dan aku tau seluruh orang di ruangan itu tersenyum mengiyakan.

^^

“hyung, sudah bangun?”

“ah, pagi Minho. Jam berapa ini?”, Jinki mengusap mata nya sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.

“belum tepat setengah tujuh”, Minho menjawab sambil bangun mengambil dua gelas kopi hangat yang memang baru saja ia beli di kafe rumah sakit.

“pagi sekali kau bangun. Tidak bisa tidurkah Appa baru ini?”.

Minho tersenyum sambil menyerahkan segelas kopi pada Jinki, “mungkin aku terlalu bersemangat hyung. Besok Taemin sudah boleh pulang, dan aku tidak sabar membawa Minho dan Minzy untuk melihat rumah baru mereka”.

Jinki berhenti sejenak menyeruput kopi nya. Ah, ia bahkan lupa kalau sebentar lagi adalah hari kepulangan Taemin. Dan dengan bodohnya, ia belum menyiapkan apapun untuk dua keponakan barunya. Selama Taemin di rumah sakit, ia sepenuhnya fokus pada pemulihan adik nya dan entah kenapa memang rasanya sangat berat meninggalkan si malaikat dan bidadari kecil itu. Ia jadi jarang pulang ke rumah, karena selepas dari kantor, ia pasti langsung kesini dan menginap semalaman. Ternyata sudah seminggu, dan itu artinya sudah seminggu pula umur kedua keponakannya, Ia harus cepat pergi dan menyiapkan sesuatu sebelum keluarga kecil itu sampai di rumah. Dan memang sudah ada sesuatu yang ingin disiapkan…oleh kami semua.

“hyung…hyung”, Minho menepuk ringan pundak Jinki yang terlihat melamun.

“ah, ne?”

“melamun?”, tanya Minho.

Jinki menggeleng sambil tersenyum, “hanya memikirkan bahwa waktu ternyata berjalan cepat. Tak terasa kedua keponakan ku itu sudah berumur seminggu”.

Kini giliran Minho yang tersenyum lebar. Ya, dan itu artinya pula ia sudah menjadi Appa selama seminggu. Dan yang dirasakannya? Repot! Mengurus satu anak saja ternyata sulit. Dan kini, pasangan yang tergolong masih muda ini dikarunia Tuhan untuk langsung merawat dua makhluk kecil titipanNya. Kerepotan yang dirasakannya juga dua kali lipat. Tapi mungkin karena disini ada para suster yang berjaga 24 jam sehari, ia dan Taemin masih sangat amat terbantu. Belum lagi segala bantuan dari keluarga mereka yang setiap hari datang kesini, juga berpengaruh besar untuk mengurangi kerepotan Minho dan Taemin. Terutama Minho, ia bukan hanya menjaga kedua bayi mungilnya, tapi ia harus juga harus menjaga Taemin yang masih lemah pasca operasi. Dan besok adalah waktunya mereka pulang dan menghadapi kerepotan yang sebenarnya. Sedikit khawatir, tapi sejujurnya ia pribadi sangat bersemangat untuk menjalanakan ‘profesi’ barunya. Mengurusi perusahaan multinasional dengan ribuan karyawan sudah pernah dirasakannya, dan kini, ia ditambahi Tuhan untuk mengurusi dua orang lagi, dan kali ini, dua orang yang…istimewa.

Oeekkkkk…

Suara tangisan datang dari box sebelah kiri. Dan dengan jeda bahkan mungkin kurang dari 30 detik, tangisan yang sama juga datang dari box sebelah nya.

Detik itu pula, reflek Minho dan Jinki meletakkan gelas kopi nya dan segera berjalan ke arah dua box bayi itu. Selalu begini keadaannya. Apapun yang dilakukan oleh satu orang, menangis, bangun, bahkan hingga tertidur, dalam jeda yang sangat dekat pasti bayi satunya melakukan hal yang sama. Sebuah kejadian yang baru sekaligus luar biasa yang bisa keluarga kecil itu saksikan dari si kembar. Suatu perkembangan sedikit demi sedikit yang membuat mereka lebih belajar untuk sebuah hal baru yang menakjubkan. Ya, bayi tampan dan cantik yang mengajari mereka untuk menuju sebuah step baru selanjutnya, menjadi orang tua!

^^

Hari ini Taemin diperbolehkan pulang. Sejak pagi, seluruh keluarga besar itu sibuk menyiapkan semuanya. Kesibukan terutama sangat terasa di rumah cantik mereka. Dua kamar mungil yang sudah dipersiapkan kini penuh dengan orang. Mereka memutuskan memakai dua kamar karena banyaknya barang yang ada untuk kedua tambahan keluarga baru mereka. Terlalu banyak barang yang dibeli membuat rasanya tidak mungkin menempatkan barang-barang itu hanya disatu kamar, dan lebih tidak mungkin lagi jika menempatkan semua barang-barang itu di kamar utama seperti permintaan sang Appa baru. Lantai dua rumah mewah mereka, terutama di bagian kamar utama, yakni kamar Minho dan Taemin direnovasi ulang dengan menambahkan dua pintu di sisi yang berseberangan untuk terhubung langsung dengan kamar si kecil. Kamar si tampan Minho berada di sisi kanan, sementara kamar si cantik Minzy berada di sisi kiri kamar utama. Kedua ruangan itu dibuat memang sengaja menempel dengan kamar orang tuanya sehingga tidak menyulitkan orang tua baru itu jika kedua bayinya menangis tengah malam. Ada beberapa kamar baru pula yang ditambahkan berdekatan dengan kamar Minho dan Minzy karena para orang tua memutuskan ‘pindah rumah’ sementara waktu untuk membantu mengurus si kecil. Taemin dan Umma Minho bahkan Key menolak mentah-mentah untuk memakai baby sitter dan para suami sudah tidak bisa berkata apapun begitu diberikan argumen “aku mau Minho dan Minzy hanya menjadi anak ku, anak keluarga ku, anak kita, anak Taemin dan Minho, bukan anak baby sitter!! Titik!!”, dan hanya bisa dibalas helaan nafas mengalah dari para namja di ruangan itu.

Di rumah keluarga Choi, kerepotan sangat terlihat di lantai dua, terutama 2 kamar yang kini mendapat perhatian khusus. Kamar di sisi kanan dari kamar utama yang nantinya akan di tempati Minho kecil saat ini penuh dengan Jinki, Jonghyun, Appa Minho dan Appa Taemin. Sebaliknya, kamar di sisi kiri yang akan ditempati Minzy kini sibuk mendapat sentuhan Key, Umma Minho, bahkan Umma Key dan Jonghyun juga datang untuk membantu. Dekorasi kamar itu sangat tercermin sesuai orang-orang yang mendekorasinya. Suasana biru teduh dengan segala barang-barang imut namun simpel yang juga berwarna biru mendominasi kamar Minho, sedangkan tentu saja untuk sang adik dominasi kental warna pink dan yang paling khas dari ruangan itu adalah, sebuah tempat tidur ‘tidak biasa’ yang entah bagaimana bisa Key dapatkan. Tempat tidur berbentuk persis seperti kereta labu dalam cerita cinderella, dengan sentuhan kayu untuk sisi luar dan warna pink di dalamnya langsung mencuri hati semua yeoja di ruangan itu. Ditambah wallpaper tembok kamar bergambar cinderella’s castle membuta kamar itu semakin cantik dan feminim.

Kamar Choi Minho

Kamar Choi Minzy

Selesai dengan dekorasi kamar, mereka mulai untuk menyiapkan welcoming party untuk dua penghuni baru rumah ini nantinya. Walau hanya sebuah pesta kecil, dengan rangkaian balon-balon berwarna pink, biru dan putih membentuk tulisan “Welcome To Choi Family, Our Lovely Choi Minho and Choi Minzy”, pita-pita aneka warna yang digantung di semua sudut ruang tamu dan makanan serta tentu saja kue yang dibuat khusus oleh para Umma, tapi mereka hanya ingin menyampaikan kegembiraan luar biasa dan sekaligus memperkenalkan kehangatan baru atas bergabungnya beberapa keluarga yang menjadi satu karena kedatangan para bayi mungil ini. Kehangatan yang tidak hanya ingin dibagi oleh keluarga Choi dan Lee, tetapi juga oleh keluarga Kim, baik Jonghyun maupun Key. Sebuah harapan tak tertulis yang ingin disampaikan pada Tuhan agar kelak menjadikan kedua anak ini sebagai sumber pemberi kehangatan, bukan hanya untuk keluarganya sendiri, tapi juga untuk sesama nya dan skala yang lebih besar lagi yakni alam semesta. Sedini mungkin, anak-anak kecil ini sudah diperlihatkan role model yang baik sehingga dalam memory pertama mereka, yang disimpan disana hanya berisi kata-kata kebaikan, ketulusan, kedamaian, dan kehangatan yang ditampilkan oleh orang-orang baik. Ingatan pertama yang mudah-mudahan menjadikan hal itu tidak akan terhapus selamanya dari memory mereka.

^^

“tumben hari ini tidak ada yang datang yaa Appa?”, aku bertanya sambil berkonsentrasi memberikan susu botol pada si tampan kecil dan sang suami yang juga sedang melakukan hal sama dengan menggendong Minzy. Rutinitas baru mereka setiap pagi.

Minho hanya tersenyum. Sebetulnya ia merasa di rumahnya kini pasti sedang disiapkan sesuatu sampai tidak ada yang datang di hari kepulangan Taemin. Tapi ia memutuskan diam saja. Toh ini hanya perasaannya saja, belum tentu benar.

Melihat Minho hyung hanya tersenyum tanpa menjawab, aku jadi terdiam. Aku sebetulnya berharap mereka tidak datang kesini karena menyiapkan sesuatu untuk menyambut kepulangan kami dan si kecil. Tapi….ah, mungkin semuanya sedang sibuk bekerja hari ini. Aku sudah terbiasa melihat banyak orang mengelilingi kedua byi ini, tapi hari ini ketika hanya kami berdua, aku dan Minho yang ada diruangan ini bersama anak-anak, hanya terasa…tak biasa. Mungkin seperti ini juga lah rasanya ketika kami di rumah kelak. Kehidupan baru yang harus kami jalani berdua atas tanggung jawab dua titipan Tuhan di tangan kami kini.

Drrrtttt..drrrtttt..

Ponsel Taemin bergetar dan nama Jinki hyung tertera di layar. Aku dan Minho hanya berpandangan. Ottohke? Kami berdua sedang sibuk pada si kecil dan tidak mungkin meletakkan mereka sebentar hanya untuk menjawab telepon. Hal baru lagi yang mereka pelajari hari ini. Biasanya selalu ada yang membantu karena memang mereka tidak pernah ditinggal hanya berempat seperti saat ini.

“Appaaa~~”, aku merajuk meminta Minho mengangkat teleponnya.

“aku tidak bisa meletakkan Minzy, Umma”.

Aku menunduk melihat si kecil dalam pelukan ku. Aku juga tidak mungkin meletakkan Minho. Sebentar lagi ia tertidur, dan kalau botol susunya dilepas, pasti jadi menangis. Anak kecil yang mengantuk pasti akan rewel dan tentu saja rewelnya Minho pasti menular pada Minzy. Haaahhh, efeknya pasti panjang hanya karena mengangkat telepon.

“sudah tidak usah diangkat saja”

Drrrttt…drrrtttt..

Ponsel Taemin berhenti bergetar, kali ini giliran ponsel Minho yang bergetar dengan nama yang sama, Jinki hyung.

Minho menatap ku, “kau tidak juga berubah pikiran kalau kita memang membutuhkan baby sitter, Umma?”

Aku menggeleng kuat, “tidak Appa! Minho dan Minzy harus tumbuh dan belajar di tangan ku, tangan mu, dan tangan keluarga kita! Bukan tangan baby sitter! Aku tidak mau itu! Dulu Umma mengurusku juga dengan tangannya sendiri tanpa bantuan baby sitter! Aku juga mau merasakan hal itu, Appa! Mengertilah!”, sifat keras kepala ku mulai muncul.

“aku mengerti! Tapi baby sitter hanya membantu, bukan mengurus sepenuhnya!”

“aku bisa mengurus mereka sepenuhnya. Dan nanti akan ada keluarga ku, keluarga mu, Key Umma dan Jonghyun hyung juga pasti membantu. Kita tidak perlu bantuan baby sitter lagi!”

“mereka tidak selamanya di rumah kita untuk membantu full 7 hari 24 jam mengurus Minho dan Minzy, Umma. Dan kau itu manusia, butuh istirahat. Kau juga pasti punya kegiatan lain. Aku pun harus bekerja nanti nya. Untuk pemikiran jangka panjang, kita tidak bisa memungkiri kalau kita butuh baby sitter!”

“tapi aku tidak mau anak ku mendapat asuhan dari orang lain!”

“mereka juga anakku, jadi aku punya hak disini untuk berpendapat dan menentukan yang terbaik untuk mereka! Dan menurutku yang terbaik adalah kita harus menyewa jasa baby sitter!”

“aku yang mengandung 9 bulan dan kesakitan melahirkan mereka, Appa. Aku punya hak lebih besar untuk menolak anak ku diasuh baby sitter!”

“tapi aku…”

“Choi Minho dan Choi Taemin…cukup!”, suara berwibawa Appa Minho datang dan memotong pertengkaran pelan kami.

Jinki hyung, Appa ku dan Appa Minho masuk ke ruangan sambil menatap tajam pada kami berdua.

“lupa pada apa yang kami ajarkan pertama kali pada kalian ketika menjadi orang tua, Minho, Taemin?”. Appa ku bertanya dengan nada tegas namun tetap rendah menandakan ia sedang sangat serius. Appa tidak pernah berbicara membentak, apalagi pada ku dan Jinki, anak-anaknya. Ia justru akan diam ketika sedang marah. Namun ketika ia ingin menasehati dan HARUS didengar, semakin serius apa yang akan dibicarakannya, semakin rendah nadanya bicara namun entah kenapa justru terdengar semakin tegas dan menakutkan.

“dilarang keras bertengkar sekecil apapun di depan anak-anak”, ucap kami berbarengan.

Tentu saja kami masih ingat, dan sebetulnya tidak perlu diingatkan kembali. Saat Umma ku masih hidup, aku memang tidak pernah melihat orangtua ku bertengkar. Begitu pula di dalam keluarga Minho punya prinsip yang persis sama, sehingga kami pikir, kehidupan pernikahan akan berjalan mulus tanpa hambatan apapun. Namun ternyata salah. Sebelum Minho dan Minzy lahir, hubungan ku dengan Minho hyung memang selalu berjalan baik. Namun ternyata, kehidupan menjadi orang tua memberikan sensasi yang sangat berbeda.

“baru seminggu, dan kalian sudah seperti ini. Bertengkar hanya karena hal sepele, masalah baby sitter. Lalu bagimana kedepannya? Masalah pendidikan mereka, pergaulannya, bahkan hingga pasangan hidup? Kalau hanya persoalan seperti ini sudah bertengkar, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalian menghadapi perbedaan pendapat yang lebih besar dan penting di masa depan nanti!”, kali ini Appa Minho yang meradang.

“bisa kubayangkan jika tak juga belajar, kalian akan menjadi pasangan yang selalu bertengkar hanya karena berbeda pendapat nantinya”

Justru tak terbayangkan oleh kami, bahwa ucapan pelan Jinki hyung di ruangan rumah sakit itu ternyata menjadi kenyataan di masa-masa selanjutnya.

^^

Oeeekkkkkk…

Sudah hampir dua minggu Minho dan Minzy meninggalkan rumah sakit dan menempati kamar baru. Dan sudah hampir dua minggu pula pasangan orang tua baru ini tidak bisa tidur malam dengan tenang seperti biasa. Hal ini sangat terasa luar biasa lelah terutama untuk Minho, karena sudah sejak tiga hari lalu ia masuk kantor seperti biasa. Pekerjaan yang sangat menumpuk sudah tidak memungkinkan untuk ditunda pengerjaannya lebih lama lagi. Taemin sebetulnya mengerti suaminya luar biasa lelah, tapi ia juga tak bisa bohong kalau ia juga sangat lelah. Orang-orang selalu bilang mengurus satu anak saja sudah sangat lelah. Sekarang yang harus dihadapi Taemin adalah dua anak dengan umur sama dan ikatan batin sangat kuat diantara keduanya.

Begitu mendengar ada suara tangisan, sudah menjadi gerak reflek mereka untuk segera bangun. Pintu kamar yang menghubungkan dengan kamar si kecil memang sengaja tidak ditutup agar suara tangisannya langsung terdengar. Tapi justru inilah yang membuat repot…

Dengan sedikit terhuyung bahkan Minho berjalan dengan mata masih terpejam, mereka menuju kamar Minzy.

“sssttttt, ini Umma sayang”, Taemin segera menggendong Minzy keluar dari ‘kereta labu nya’ sementara Minho membuat susu. Mereka dibiasakan untuk selalu meminumkan susu hangat pada anak-anak, karena susu yang sudah dingin takut sudah terkontaminasi kuman-kuman dari udara.

Taemin masih mengganti pampers Minzy agar lebih nyaman, lalu suara tangisan datang dari kamar seberang.

“ssshhhh”, Taemin menoleh melihat Minho mengibaskan tangannya. Ia memutar bola mata, pasti lagi-lagi tangannya terkena tumpahan air hangat…dan selalu begitu.

“Appa cepat kesana, Minho menangis”

“sabar Umma sudah mau selesai”

Tangisan Minho semakin keras dan sekarang malah membuat Minzy yang tadi sudah diam, kembali menangis.

“Apppppppaaaaaaaa cepaaaaattttt sanaaaaaaaaa”, Taemin mulai berteriak tertahan bingung mendiamkan Minzy.

Cklek…

Pintu kamar utama dibuka. Terdengar langkah kaki beberapa orang yang seperti sudah tersistem langsung terbagi dua menuju kamar Minho dan Minzy.

“sedang apa kalian berdua disini? Minho sendirian?”, Jinki dan Umma Minho masuk ke kamar Minzy.

“ergh”, Taemin segera menyerahkan Minzy di gendongannya pada Umma Minho dan berlari ke kamar seberang.

“Taemin! Kenapa Minho bisa sendirian?”, tegur Appa nya keras.

“maaf Appa, aku tadi di kamar Minzy”, ia segera menggendong si kecil yang masih menangis dari pelukan Appa Minho.

“sssstttttt, cup cup…sayang, diam yaa, ini Umma nak”, mengelus-elus punggung si kecil sementara Tn.besar Choi membuat susu.

“kau tidak boleh begitu. Kau tidak boleh terus menerus mengandalkan kami. Kalian harus berbagi peran, jangan pernah meninggalkan salah satu anak sendirian!!”

“baik Appa”, pandangan Taemin mulai berputar. Ia memejamkan mata sejenak. Selalu begini, langsung bangun dari tidur ditambah tangisan anak-anak dan omelan dari para orang tua semakin membuat kepalanya luar biasa pusing.

^^

Hari ini, sebuah masalah baru. Setiap pagi, Minho, Jinki, Appa Minho, dan Appa Taemin memang selalu ke kantor. Tapi selalu ada Umma Minho di rumah untuk membantu mengurus si kembar. Namun tidak untuk hari ini. Umma Minho harus ikut suaminya untuk datang membantu pernikahan adik sepupu Minho dan tidak enak jika tidak datang. Taemin menenangkan bahwa ia dan anak-anak akan baik-baik saja [walau dalam hati cemas juga]. Minho juga ‘dititahkan’ untuk datang ke kantor lebih siang agar membantu Taemin. Key dan Jonghyun juga tidak bisa datang membantu karena mereka ada pekerjaan lain di luar kota sejak seminggu yang lalu. Dan pagi ini, mereka sendirian!

Taemin menoleh ke arah suaminya, “Appa, kau bisa memandikan Minho atau Minzy tidak? Tidak mungkin kan aku memandikan keduanya bersamaan?”

Minho menelan ludah. Akhirnya hari ini datang juga. Selama ini untuk urusan memandikan, selalu oleh Taemin dan Umma nya. Ia menggendong sambil berdiri saja masih gemetar, apalagi untuk memandikan? Entah kenapa kedua anak itu begitu terlihat……’mudah patah’ di mata Minho, LOL.

“harus yaa Umma?”, Minho memelas.

Taemin memutar bola mata sambil mengangkat kedua tangannya.

“tangan ku hanya dua, Appa”

“dimandikan bergantian saja”, Minho masih berargumen.

“YAK! CHOI MINHO! Makanya kalau pagi jangan malah sibuk menyiapkan sarapan atau memanaskan mobil! Anak mu itu kalau dimandikan bergantian, pasti salah satunya menangis. Sudahlah ayo Appaaaaa”, Taemin menyeret Minho menuju kamar mereka.

Di kamar, “Appa, siapkan air hangat dulu, aku mau membangunkan Minho dan Minzy”.

Taemin bergegas ke kamar sang kakak, Minho. Mengangkatnya perlahan dari box bayi biru nya, memandangi wajah malaikat yang kini masih tertidur tenang dan perlahan mendekatkan wajahnya mencium bibir mungil yang sedikit terbuka itu. Masih tidak terbangun, Taemin membawa si kecil ke kamar nya dan ditidurkan di ranjang utama. Selesai dengan sang kakak, ia kini beralih ke kamar dominasi pink milik sang adik, Minzy. Melakukan hal yang sama dan membawanya untuk ditidurkan di sebelah Minho. Ia tak pernah berhenti kagum melihat hasil karya Tuhan memadukan wajah Minho dan Taemin untuk dipahat pada wajah kedua bayi mungil ini. Sebetulnya tak tega mengusik mereka dalam tidur tenangnya, tapi ia diajarkan untuk mengajarkan anak-anaknya sikap disiplin sedini mungkin. Semua kegiatan harus terjadwal. Tidak hanya mandi, tapi juga bangun tidur, makan, bermain, tidur siang, dan bahkan tidur malam, sebisa mungkin dilakukan setiap harinya dalam jadwal yang sama agar mereka terbiasa. Taemin berharap ketika dewasa nanti, mereka terbiasa untuk melakukan segala sesuatunya sesuai aturan dan menerapkan time management sebaik mungkin.

Perlahan Taemin mengelus-elus pipi sang adik. Minzy sangat sensitif. Dibandingkan Minho, ia jauh lebih mudah terbangun. Dan cara paling efektif membangunkan Minho adalah dengan membangunkan adiknya. Entahlah, tapi ini mungkin salah satu perbedaan yang hanya dirasakan oleh anak kembar. Jika satu orang merasakan sesuatu, maka kembarannya pasti juga merasakan hal yang sama, atau setidaknya hal yang membuatnya merasa aneh tapi bukan berasal dari dirinya.

Taemin terus mengelus pipi Minzy dan perlahan mata mungil itu terbuka.

Taemin tersenyum manis, “morning, dear”.

Minzy masih mengerjapkan mata, dan mungkin karena merasa tidurnya terganggu ia langsung menangis. Tentu saja seketika itu juga makhluk mungil di sebelahnya reflek langsung ikut terbangun dan menangis.

“kenapa mereka?”, Minho langsung keluar dari kamar mandi dan menggendong sang kakak.

“cup cup cup, ini Appa sayang. Umma, kenapa mereka? Tadi sedang tidur kan?”

“iya. Tapi sengaja kubangunkan. Mereka mau mandi, tidak mungkin kan mereka mandi sambil tidur?”, ucap Taemin enteng sambil menenangkan sekaligus melepas pakaian Minzy.

“Appaaaa, sudah jangan digendong terus. Baringkan disini lalu buka kan pakaiannya. Nanti airnya keburu dingin!”

Sedikit sulit untuk melepaskan pakaian sang kakak, karena jika menangis, ia jauh lebih agresif dibanding adiknya. Sempat ingin meminta bantuan sang Umma, tapi ia sudah di kamar mandi untuk memandikan Minzy.

“Minho, diam sebentar nak, Appa susah melepas pakaianmu”

“Appaaaaa, cepat kesiniiii”

Minho menoleh ke belakang, “sebentaaaar Ummaaaaa”.

Ia kembali menghadapi ‘sang jagoan’ di hadapannya, “Minhooooo, jangan bergerak teruuusssss”, sang Appa mulai habis kesabaran.

“kau tau kalau kau punya Umma yang sangat keras kepala dan galak, Minho? Sudah Appa bilang sejak dulu harusnya kita mempunyai baby sitter, tapi Umma mu selalu tegas menolak. Sekarang, ia yang kerepotan sendiri” [ini si kodok saking frustasi nya ampe curhat sama anak bayi = =”]

“Appaaaaaaaa”, Taemin lagi-lagi berteriak dari kamar mandi.

“iyaaaaa Ummaaaa sudah selesaaaiii”, Minho menggendong anak lelakinya menuju kamar mandi tetap bergumam, “dulu Umma mu tidak seperti itu. Appa tidak mengerti setelah ada kalian, Umma jadi galak dan cerewet begitu”

Ketika hanpir sampai di kamar mandi, “ini rahasia kita, oke Minho junior! Rahasia antar lelaki!”, sang Appa tersenyum sambil mencium pipi gembul sang kakak :p

^^

Hari ini sedang dilakukan ‘crisis meeting’ di rumah keluarga Choi untuk membahas konsep ulang tahun pertama Minho dan Minzy. Ya, hampir tepat setahun Minho dan Taemin menjadi orang tua dengan segala kerepotan double mereka. Para orang tua berada di rumah ini hanya sampai 6 bulan pertama. Jadi, hampir 6 bulan terakhir Minho dan Taemin mengurus si kembar sendirian tanpa baby sitter. Hanya ada asisten rumah tangga untuk mengurus masalah rumah dan makanan. Tapi untuk anak-anak ini, sepenuhnya berada pada tangan Taemin dan Minho. Akibatnya? Berat badan sang orang tua turun hingga hampir 10 KG yang berbanding terbalik dengan pertumbuhan Minho dan Minzy yang semakin gembul dan sehat saja.

Minzy kini sudah bisa berjalan meski beberapa kali masih terjatuh. Tapi ia sudah bisa berjalan sekitar 20 meter tanpa terjatuh sama sekali. Yang masih kurang adalah ia belum lancar berbicara. Mungkin salah satunya karena faktor ia lebih memilih banyak diam tapi lincah bergerak. Sangat berbeda dengan Minho. Meski ia juga bisa dibilang sudah bisa berjalan, namun hanya 3 sampai 4 langkah lalu langsung terjatuh. Tapi justru kelebihannya, ia mulai bisa berbicara yang dimengerti oleh orang lain [anak ini langsung menjadi kesayangan Key dan mulai sejak saat itulah, Key tak lagi memusingkan soal nama sang kakak]. Sejak bayi memang sudah terlihat Minho jauh lebih ekspresif dan lincah dibanding adiknya yang justru terlihat lebih ‘cool’. Entah bagaimana sifat kedua anak ini bisa tertukar. Kakaknya, Choi Minho menjadi lebih cerewet dibanding sang adik, Choi Minzy yang lebih terlihat kalem dan tenang.

Semua keluarga hadir termasuk Key dan Jonghyun. Anak kembar itu sedang asyik bermain di arena bermain indoor yang khusus disediakan oleh Minho dan Taemin di rumag keluarga [mirip tempat penjagaan anak di mall]. Minzy asyik berjalan-jalan menyentuh apa saja yang bisa disentuh nya, sementara Minho justru asyik mengoceh sendiri membuka lembar demi lembar buku cerita winnie the pooh yang di dalamnya banyak bangunan atau karakter yang dimunculkan secara 3 dimensi.

Perdebatan itu terjadi juga di ruang keluarga sambil mengawasi Minho dan Minzy bermain. Penjagaan intens saat ini terutama untuk Minzy, anak itu pernah ditemukan sedang naik perlahan di tangga rumah mereka menuju lantai dua dan langsung mendapat respon histeris Taemin begitu melihatnya.

Perdebatan seru terjadi karena ini merupakan suatu peristiwa istimewa untuk anak-anak teristimewa mereka. Dua kepribadian dan dua gender melahirkan dua ide yang sepertinya sulit untuk bisa digabungkan.

“princess saja! Minho dijadikan pangeran. Selesai! Buat apa repot? Tambahkan castle, kereta labu, kuda putih, dengan rumput hijau dan taman bunga. Kalau itu yang dijadikan tema ulang tahunnya, aku yang akan mengurus semuanya!”, Key bersikeras atas idenya.

“princess identik dengan pink. Aku pusing melihat warna pink di sekeliling ku”, disambut anggukan para ‘tetua’ dan tentu saja para nampyeon di ruangan itu.

“Bajak laut saja!”

“lalu menurutmu aku merelakan keponakan ku yang lucu itu dipakaikan pakaian aneh dengan tangan palsu dan sebelah penutup mata, yeobo? Never!”

“aku juga tidak setuju! Bajak laut identik dengan kekerasan, aku tidak mau anak ku dikenalkan dengan kekerasan di usia sekecil ini!”

“Taemin, I love you! Nah, kalian dengar apa kata Taemin? Perkataan seorang Umma adalah keputusan akhir! Jadi jelas ide bajak laut ditolak!”

“dalmantians?”, Jinki memberi usul yang disambut lemparan bantal oleh Key, “kau pikir keponakan ku anjing?”

“lalu apa?”

“PRINCESS!!!”

“nanti Key. Pertimbangkan usul yang lain”, Appa Taemin mulai berbicara.

“bagaimana kalau dibuat biasa saja. Seperti ulang tahun anak-anak kebanyakan dengan balon-balon dan pita. Tidak perlu dengan tema tertentu. Yang penting banyak teman yang hadir dan semuanya senang. Kupikir itu sudah lebih dari cukup”, para tetua mengangguk menyetujui usulan Appa Minho sementara para temuda [loh, bener kan? Para golongan tua kan disebutnya tetua, jadi golongan muda disebutnya temuda] terutama Key malah memutar bola mata pura-pura tidak mendengar = =”

“angel and demon”

“kau yang jadi iblisnya!”, usulan aneh Jonghyun disambut pukulan telak di kepala oleh Minho.

Tapi Taemin ternyata punya pikiran lain….

“bagaimana kalau…..”

^^

Set sudah dibuat. Dan semua orang, terutama Taemin dan Minho hanya bisa terdiam memandangi anak mereka saat ini.

Sebuah set luar biasa megah di sebuah ballroom hotel paling elite di Seoul menjadi tempat pilihan Key untuk merayakan ulang tahun pertama si kembar.

Temanya?

Angel in Paradise…

Ya, sebuah ‘miniatur syurga’ dihadirkan oleh ide gila Key di ballroom hotel ini. Dengan wallpaper keseluruhan berwarna biru langit. Ditambah efek cahaya dan kabut di lantai menimbulkan efek awan buatan dan membuat para tamu serasa sedang berjalan di atas awan. Tak lupa miniatur castle barbie berwarna pink dan biru lengkap dengan air mancur dan taman bunga buatan serta kuda-kuda putih ikut dihadirkan secara detail menampilkan sebuah kerajaan di atas awan.

Lalu si kembar yang berulang tahun?

Mereka memakai pakaian?

Minho, sang kakak, memakai pakaian putih lengkap dengan sayap kecil di punggungnya. Sementara sang adik, Minzy, lagi-lagi campur tangan Key yang memakaikan dress panjang berwarna baby pink yang lembut dengan mahkota bunga-bunga berwarna campuran pink dan putih di atas kepalanya menampilkan seorang bidadari kecil yang sangat cantik. Rambut Minzy yang lurus dengan ikal menggantung di ujungnya dibiarkan terurai. Pipi putih gembul dengan semburat kemerahan alami menambah keindahan seorang bidadari yang dihadirkan Tuhan pada keluarga ini.

Dan yang terakhir bisa terucap adalah…

Saengil cukahamnida uri Choi Minho…Choi Taemin…

Semoga doa baik apapun yang dipanjatkan oleh siapapun untuk mu sayang, sampai pada Tuhan dan masuk dalam ‘waiting list’ Nya untuk segera dikabulkan J

^^

“selamat pagi Nyonya Choi. Waahh, lucu nyaaaaaaa”, selalu itu lah yang Taemin dengar begitu masuk di perusahaan ini sejak pintu gerbang hingga ruangan CEO tempat Minho berkantor.

Hari ini memang pertama kali nya Taemin membawa si kembar ke tempat Appa nya bekerja. Ini sudah tahun ketiga sejak Minho dan Minzy lahir. Mereka sudah bisa berjalan dan terutama Minho, semakin cerewet saja mengomentari segala sesuatu yang baru di matanya.

Bukan tanpa alasan Taemin membawa kedua bocah yang sekarang mulai hiperaktif ini kesini. Ia ada keperluan belanja bulanan dan ada beberapa keperluan lain sepulangnya belanja dan akan sangat repot jika membawa anak kecil. Membawa anak yang sedang sangat senang berjalan kesana kemari ke supermarket adalah DISASTER! Jadi ia menitipkan Minho dan Minzy pada Appa nya. Tadinya Appa Taemin bersedia untuk menampung cucu-cucunya di rumah keluarga Lee, tapi Taemin hanya berkata “biar saja sekali-kali Appa nya yang merasakan lelahnya mengurus dua anak”.

Cklek…

“Apppppppaaaaaaaa”, kedua bocah kecil berlari imut menuju namja gagah di belakang meja yang sibuk dengan kertas-kertasnya. Mereka memakai sepatu anak kecil yang setiap kali diinjak menimbulkan bunyi berdecit [wajar yak diperhatiin, menarik perhatian banget nii anak dua!].

“Minho? Minzy? Kalian kesini? Ummaaa, kenapa tak meneleponku jika ingin kesini?”, Minho bangun dari duduknya dan segera menyambut putra-putri nya.

“aigooo, hei jagoan, hei cantiiikk”, Minho menggendong keduanya. Ia bersyukur anak-anaknya tumbuh sehat tanpa gangguan apapun.

“ada apa Umma?”

“aku titip Minho dan Minzy ya Appa”, Taemin mendekati nampyeon nya mencoba merajuk.

“titip? Kau mau kemana memangnya?”

“belanja, hehe”, Taemin tersenyum manis.

“kenapa titip padaku dan kau asyik belanja?”

“kan kau suamiku”, senyum Taemin semakin manis. Minho sangat tau istrinya ini sedang menggodanya. Taemin memang banyak berubah semenjak punya anak. Ia jadi lebih galak, cerewet, over protective terutama segala hal terkait Minho dan Minzy, dan satu lagi, pasti jadi ‘penggoda’ jika butuh sesuatu.

“aku kan sedang bekerja, Umma”

“aku sibuk Appaaa. Kulkas kosong. Aku harus belanja. Kau mau anak-anak mu kelaparan? Sehari ini saja”

Minho memutar bola mata. Umma berlebihan. Sekosong apapun kulkas mereka, Minho dan Minzy tidak mungkin tidak makan!

“baiklah”, Minho mengalah.

“jinjja? Waahh, gomawo Appaaa. Minho, Minzy, hari ini kalian dengan Appa ya. Lpve you, dear”, Taemin mencium bibir kedua anaknya.

“bubyeeee Ummaaaa”

“jangan nakal, arra?”

“neeee”, jawab keduanya kompak.

Bahkan Taemin lupa mencium ku…. Minho menggelengkan kepala.

^^

Kini ia berhadapan dengan kedua bocah kecilnya. Begitu pintu tertutup, sang adik, Minzy mulai mengelilingi ruangan sambil menatap ruangan mewah kantor Appa nya. Ia langsung duduk di kursi besar Appa nya dan mengangkat telepon. Telepon itu langsung tersambung pada Tn.Park, sekretaris pribadi nya.

“selamat pagi Tn.Choi Minho. Ada yang bisa saya bantu?”, terdengar suara dari ujung sambungan.

“ah? Nama ku Minzy, Choi Minzy. Kakaaaakkk, kau dipanggil ahjussi iniiii”.

Orang yang dipanggil langsung menghampiri sang adik di kursi besar Appanya.

“apa ahjusssiiiiii?”

“hei heiiii, tidak boleh bermain telepon”, Minho langsung merebut gagang telepon dari Minho kecil, “tidak Mr.Park, ini anak-anak ku. Maaf mengganggumu”, ia langsung menutup telepon.

“Appa, ahjussi itu ingin belbicala padaku kenapa ditutup!”

“ia asisten Appa, bukan berbicara padamu. Ayo turun anak-anak tampan dan cantik”, ia menurunkan kedua anak-anaknya dari kursi utama.

Minzy mengambil salah satu map yang berisi dokumen dari meja Minho.

“hei Minzy, itu punya Appa sayang”

“Minzy hanya ingin baca Appa”

“kau tidak mengerti sayang. Main dengan kakak mu saja ya”

Begitu Minho melihat ke belakang, sang kakak ternyata sedang memanjat kursi untuk meraih pajangan lumba-lumba mewah berwarna biru di atas rak.

“Minho!”

Sang Appa segera berlari menurunkan anaknya.

“aku mau lihat itu”

“bilang sama Appa nanti Appa ambilkan, jangan ambil sendiri”, Minho mengomel sambil mengambil pajangan itu.

“jangan…..”

BRAK…

“Minzyyyyyyyy”, ia melihat anak perempuannya berusaha mengambil map berwarna pink ditumpukan rak map di meja Minho, dan celakanya, map pink itu berada di tumpukan paling bawah, sehingga jika ditarik, seluruh map di rak itu terjatuh dan berserakan di lantai.

“kau tidak apa-apa?”, ia mengeluarkan anaknya dari tumpukan dokumen dan memindahkan ke tengah ruangan sambil memeriksa sekujur tubuhnya.

“aku cuma mau ambil itu, lalu semuanya jatuh”, ia sudah terlihat hampir menangis.

“sudah sudah, tidak apa-apa. Kau main lah dengan kakak mu yaa”, ia mendudukka Minzy di sebelah Minho yang masih asyik berceloteh dengan lumba-lumbanya.

Ia menoleh ke belakang menghadapi tumpukan dokumen yang sedetik yang lalu masih tersusun rapi. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia mengangkat telepon dan meminta bantuan Mr.Park untuk membantu menyusun dokumen itu lagi.

Sesaat keadaan mulai tenang, lalu tiba-tiba…

“Appa, ini binatang apa?”

“lumba-lumba”

“apa itu lumba-lumba”

“sejenis ikan yang hidup di air”

“kenapa ikan halus hidup di ail?”

“karena ikan hanya bisa bernafas di air. Sama seperti manusia yang hanya bisa bernafas di darat”

“aku pelnah menonton di tv kalau ada manusia bisa belnafas di ail dalam waktu lama”

“ia dibantu alat pernafasan”

“alat apa?”

“tabung oksigen”

“apa itu?”

“yang membantu manusia bisa bernafas di air”

“belalti ikan juga bisa belnafas di dalat jika dibantu alat pelnafasan?”

Minho mulai kehabisan jawaban…

Minho dan Minzy mulai bosan. Minzy hanya diam bermain bantal dan Minho semakin mengajukan pertanyaan aneh.

“Appa, kenapa aku dan Minzy bisa seumul? Kan Minzy adik ku”

“karena kalian kembar”

“apa itu kembal?”

Minho berpikir sejenak, “Umma kalian melahirkan mu dan Minzy di waktu yang sama”

“bagaimana bisa?”

“ya karena kalian kembar”, kesabarannya menipis.

“kenapa kami bisa kembal?”

“Appa tidak tau Minhoooo”, nadanya mulai sedikit meninggi.

“kenapa Appa tidak tau? Kan Appa sudah besal. Kata Umma, olang yang sudah besal lebih pintal dibanding anak-anak. Belalti halusnya Appa tau”

“tanya Umma mu saja kalau begitu”

Lalu Minho bangun dari duduknya dan menghampiri sang Appa. Ia mengulurkan tangan meminta sesuatu.

“apa?”

“katanya aku halus beltanya sama Umma”

“lalu?”

“pinjami aku ponsel untuk menelepon Umma”

Minho sampai tersedak.

“siapa yang mengajari mu hal itu?”

“hal apa?”, ia memiringkan kepalanya, imut.

“meminjam ponsel untuk menghubungi seseorang”

“semua olang sudah tau salah satu alat untuk menelepon olang adalah dengan ponsel. Aku dibelitahu Key Umma”

Ergh, sudah kuduga! Hal apa lagi yang ia cemarkan pada anakku?

^^

“Umma cepaaaaatttt, aku tidak mau telambat di hali peltamaku sekolaaaahhh!!”, Minho dengan suara nyaring [yang semakin hari semakin mirip dengan Key] memanggil Umma nya yang masih sibuk menguncir dua rambut Minzy dengan pita berwarna pink.

“Minhoooo, jangan keluar duluuuu. Appaaaaaa”, Taemin memanggil suaminya.

“iya Ummaaaaaa”

“coba periksa tas Minho apa ada yang ketinggalan? Aku masih sibuk menguncir rambut Minzy”

“sebentaaarrr”, Minho bergegas turun dari atas dengan dasi yang masih menggantung asal di lehernya.

“Minho nya mana?”

“diluar!”

“Minhooooo”

“Appaaaa buka pintu mobil nya cepaaaattt”

“hei nanti dulu jagoan. Sini, Appa mau bicara!”

Minho kecil menghampiri Appa nya dan mereka duduk di tangga teras rumah.

“apa? Aku bulu-bulu” [buru-buru maksudnya]

“Appa mau buat perjanjian dengan mu”

“peljanjian? Apa itu?”

“hal yang harus Minho laksanakan jika ingin menjadi laki-laki seperti Appa. Kau mau?”

“jinjja? Baik!”, ia menjawab tegas dan Minho tersenyum melihat tingkah jagoan kecilnya.

“aku halus belbuat apa?”

“mana jari kelingkingmu?”, Minho menunjukkan jari kelingkingnya, dan ia tautkan pada jari kelingking sang anak.

“ikuti Appa bicara, arra?”

Minho kecil mengangguk.

“Tuhan, Minho berjanji…”

“Tuhan, Minho beljanji…”

“mulai sekarang…”

“mulai sekalang…”

“akan menjaga Minzy…”

“hah?”

“Minhoooo”

“akan menjaga Minzy…”

“sampai kapanpun…”

“sampai kapanpun…”

“dari siapapun…”

“dali siapapun…”

“karena apapun…”

“kalena apapun…”

“dan Minho akan menepati janji ini”

“dan Minho akan menepati janji ini”

Kedua Minho itu melepaskan tautan kelingkingnya.

Sang Appa memegang pundak anak lelakinya, “siapa Minzy?”

“adik ku?”

“kau menyayanginya?”

Minho mengangguk.

“dan kau akan menjaganya? Sebagai seorang laki-laki sekaligus kakak?”

Minho kecil terdiam sejenak…

“sampai kapanpun…dali apapun…kalena siapapun”

“tepati janji mu nak!”, Minho tersenyum.

^^

Saat keluar dari mobil, langkah Minzy sempat terhenti.

Minho menoleh kebelakang dan menghampiri adiknya, “ada apa?”

“Minzy takut”

Wajah cantiknya terlihat sedikit muram.

Tanpa disangka, Minho memegang tangan adiknya erat, dan tersenyum manis. Mata teduh yang diwariskan Taemin mampu menghantarkan kehangatan hanya dengan melihatnya.

“jangan takut. Ada kakak disini yang menjaga Minzy… sampai kapanpun…dali apapun…kalena siapapun”

END…

Yah, that’s all…

Hanya sebuah tulisan random dari seseorang yang sedang meliarkan mimpinya.

Karena manusia tanpa impian hanyalah seonggok daging yang bernama J

 

Semuanya akan baik-baik saja kok..

Tenang saja…

Dan aku harus kuat,

Harus…

(meskipun rasa tenang itu belum sedikitpun ada..sedikit saja..)

66 thoughts on “EPILOG : OUR PRECIOUS ONE…IT’S OUR MOST PRECIOUS TIME… /2MIN/MPREG/YAOI

  1. gak bisa komen apa2 lagi..daebak thoorr..
    gomawo udah bikin cerita semanis dan seindah ini..
    *masihberharapinijadikenyataan

  2. ahh yang terakhr manis~~~~
    kenapa sifatx minho junior mirip key =.=
    mgkin gara2 bxk d racuni sama key
    kekekeke

  3. eeerrrggghhhh ini SO SWEEEEET😄

    Tapi aku belum baca yang part END huhuhuhu minta PW Eonni😥

  4. minho mirip key,,, padahal aku udah berpikir minzy yg bakalan deket ma key. karna dari awal key ngga suka krn nma minho
    minho cerewet bangat bahkan saking cerewetnya bisa buat appany yg super duper sabar mati bosan dengan pertanyaannya dia yg sumpah demi apa amat sangat kritis..

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s