[2min-Onkey/PW ask sanni &viena] Forbidden Love of A Geisha PART 6 of ?


[2min-Onkey] Forbidden Love of a Geisha part 6 of ?

PREV PART: PART 5

Foreword:

Halooooo.. halooooo *cipok doraemon… tidak menyangka jika FF ini sangat laku keras dipasaran… *goyang kayang…

Mianhe sangat lama lanjutannya. Ini dikarena kolaborasi jadi harus mennggu hingga keduanya bisa mengetik.. yeobo gue lagi sibuk…. Harap di maklumi.. dan gue untung aja ini SG.. jadi cepat kelar.. jiwa YAOI gue lagi hilang.. huks… *nangis beneran…

Baca aja dah… silahkan di koment… hohohohoho
Vienasoma

Ohayo! Ada yang kangen sama gue? gue gak usah tanya pada kangen sama FF ini apa nggak, kalian sering banget tanya kapan ini pecah telurnya, so sorry~ gue gak bisa nulis beberapa lama ini, sibuk sama urusan kuliah dll… im so sorry neh suunders L

So, hope you likey. Dan makasih yang sebelumnya udah komen dan juga like, thnx to yeobo yang udah ngurusin blog ini dan setia menunggu ku untuk kembali, asek! LOL. Pokoknya mau suunders mau yeobo gue, i lope you pull lah. Poppo :*
~Sanniiewkey~

FLOAG~

Setelah pernikahan Minho, entah berapa lama Taemin merasa Minho berbeda dengannya, ya Minho terkadang tetap menemuinya di rumah mereka, namun sesekali Minho tidak kembali, membuat Taemin menunggunya, menunggu? Sejak kapan? Dan untuk apa? Ia pun tidak mengerti, yang ia tahu, ia hanya ingin melakukan itu, dan ia perlu melakukannya … Minho dannanya, dan Taemin rasa pantas jika ia menunggu dannanya …

Seperti malam itu, sudah larut malam, mungkin sudah hampir pagi, pintu depan gerbang kayu terbuka, Taemin yang masih terduduk menghirup teh melati ditangannya sontak berdiri dan berjalan ke depan untuk menyambut siapa yang datang, dan benar , ia bisa melihat Minho datang dengan wajah lesu, kusut, dan buruk … yang membuatnya tidak mengerti adalah, kali ini Minho terlihat mabuk…

“Minho –sama?”, Taemin berlari dan menyambut Minho yang berjalan sempoyongan, sebelum tubuh itu jatuh, Taemin berhasil menahannya dengan tubuhnya yang kecil, menopang dada Minho dengan tangannya, membuatnya bergidik sedikit karena bau alkohol yang menyengat, berapa banyak yang Minho minum?

“Minho –sama, kau dari mana saja? Berapa banyak yang kau minum?”, tanya Taemin berusaha membopongnya kedalam, Minho tetap tidak bergeming…

Taemin menjatuhkan tubuh Minho ke sofa, dengan cepat ia kedapur mengambil air putih dan kembali dengan sapu tangan bersih untuk menyeka keringat Minho. Berjalan mendekat dan menarik nafasnya, Minho tidak pernah seperti ini, bahkan yang ia tahu Minho tidak pernah sekalipun meneguk sake berlebihan.

“Minho –sama …”, Taemin berbisik, perlahan mata Minho melihat ke arahnya, Taemin tidak tahu apa arti tatapan itu, namun ia tidak bodoh, ia bisa melihat Minho seperti menahan tangis, apakah ada masalah?

Taemin tidak banyak bertanya, ia berlutut, melepas sepatu Minho, kemudian beralih ke jas yang Minho kenakan. Taemin tidak tahu Minho dari mana menggunakan pakaian formal seperti itu, ia hanya tahu Minho pergi ke rumah keluarganya… atau mungkin pergi dengan istrinya…

 “ …tidak bisakah?”, Taemin mendongak dan kegiatannya melepas jas Minho, Minho membuka matanya dan menarik tangan Taemin erat, membuat perempuan itu meringis sakit.

“M-minho –sama?”, takut, Taemin tiba-tiba takut, melihat perubahan sikap Minho padanya, Minho tidak pernah berbuat kasar padanya, terlebih menatapnya seperti sekarang …

“Ti-tidak bisakah kau… untuk …menahanku?”, desis Minho menarik tubuh Taemin ke atas, memeluk pinggangnya dan menutup jarak mereka, “K-katakan padaku … apa yang bisa ku lakukan untuk mu…”, Minho memandang Taemin intens.

“Ap-apa… aku tidak mengerti maksud anda Minho –sa..”

“KATAKAN!!”, teriak Minho tiba-tiba membuat Taemin menciut, tubuhnya bergetar menahan takut, “KATAKAN PADAKU SEKARANG, APA YANG BISA KULAKUKAN UNTUK MEMBUAT MU JATUH CINTA PADAKU?!!” teriaknya , kali ini tubuh Taemin ia hempaskan ke lantai kayu didepan mereka, menahan tangan Taemin dengan kencang, menindih tubuh Taemin seakan tidak ingin ia pergi kemanapun, membuat sebagian kimonon Taemin terangkat hingga ke bagian paha.

“M-minho –sama…s-sakit …”, Taemin meringis, namun Minho seakan gelap mata, Minho menatapnya dingin, nafasnya memburu, sebelum Taemin bisa berbicara dan bertanya ada apa dengan Minho.

“Kalau kau tidak mengatakan cinta padaku …”, jelas Minho, mengambil dasi yang ada di jangkauannya dan mengikat tangan Taemin, membuat Taemin panik, air mata sudah dipelupuknya.

“M-minho –sama… kumohon…a-ada apa…”,

“Biar ku buat tubuh ini yang mengatakannya padaku.”, Minho membuat jalan tangannya menyibak kimono Taemin ke atas pinggulnya, Taemin bernafas tertahan ketika Minho mulai mencium bibirnya dengan ganas, tangan satunya menahan tangannya yang terikat, bau alkohol menyeruak kedalam mulut Taemin, tangan Minho masuk kedalam kimono Taemin, membelai sisi paha dalam Taemin dengan tangannya yang besar dan hangat, membuat Taemin melenguh dan berusaha menghindar, takut … itu bukan Minho yang selalu lembut padanya.

“M-minho –sama…”, Taemin berusaha bicara, namun Minho tidak mendengarnya, “Jangan…”, Taemin berbisik, jantungnya berdebar cepat, takut, ia ingin Minho berhenti melakukan itu padanya,

Minho semakin akan kesadarannya, ia mulai membuka kimono atas Taemin, mencium leher Taemin dan memberikan bercak merah disana, menghisapnya sehingg amembuat Taemin melenguh, ‘hentikan’ Minho bisa dengar itu, namun sepertinya telinganya sudah ditutup oleh setan yang menyuruhnya melakukan itu, ‘lakukan saja, selama ia masih menjadi milikmu, lakukan saja…’, itu yang ada di pikirannya.

Minho menelusupkan tangannya kebalik kimono dalam Taemin, dan tak lama ia bertemu dengan dinding samping paha dalam Taemin, mengelusnya disana, membuat Taemin merapatkan kakinya tanda penolakan, Minho membuka kasar kaki Taemin dengan dengkulnya, sambil mulutnya bekerja di bagian tulang dada Taemin, menghisapnya dengan kuat, meninggalkan beberapa bercak merah menyala disana.

“M-minho –sama… t-tolong berhenti…”, Taemin benar takut, ia mulia menangis, matanya menerawang ke langit, tidak bisa bergerak, terlalu lemah untuk berontak, satu sisi ia takut Minho akan menyakitinya jika ia bertindak lain, maka ia pasrah saja, namun sisi hatinya yang lain menolak untuk diperlakukan tidak hormat, ia bukan pelacur, ia geisha, dan geisha bukan pelacur, namun wanita pekerja seni yang terhormat …

Minho mengelus bagian luar vagina Taemin, terasa basah dari luar, Taemin melenguh berusaha berontak dari cengkraman tangan Minho. Ciuman Minho turun ke bahu Taemin, mengigit kimonon itu turun memampangkan sebagian dari dada Taemin, hampir memperlihatkan payudara Taemin yang ada.

“H-hentikan…”, isak Taemin, Minho tidak juga bergeming, tangan nya yang sudah masuk kebalik kimono Taemin menjalar ke ujung celana dalam Taemin , menelusupkan tangannya disana, mencari gundukan surgawi Taemin.

“M-minho –sama!! H-hiks…hen—tikan…”, isak Taemin kencang, takut, ia takut seperti dulu, ia ingat saat itu, saat ia kabur untuk lepas dari jeratan laki jalang saat ia kecil, ia tidak kenal Minho , ia lebih melihat Minho sama seperti pria itu sekarang …

“M-minho –sama!”, Minho mencium payudara Taemin dari luar, “MINHO-SAMA!!!”,

Minho mendongak, semua gerakannya terhenti, ketika mendengar teriakan namanya disebut dari mulut mungil itu. Mata gelap Minho perlahan menangkap keadaan didepannya, ia berada di atas Taemin, menahan tangannya yang terikat, nafas Taemin tersengal, matanya terpejam kuat dan air mata merembes di pipinya , mata Minho turun ke tubuh Taemin di bawahnya, ia lihat kimono yang berantakan, dan …

“A-aaaahhh!!!”, Minho teriak dan memundurkan tubuhnya cepat, gemetar, memandang tangannya yang sebelumnya berada di selangkangan Taemin, dan juga tangannya yang lain menahan sosok itu.

“T-taem—“, Minho meremas kepalanya yang pusing, apa … apa yang ia lakukan? Gemetaran ia pandangi Taemin yang meringkuk didepannya, menangis dalam diam dan ia bisa lihat Taemin sangat takut dan merasa tertekan.

“J-jangan Minho –sama…”, isakan itu memiriskan hati Minho. Minho menyadari apa yang ia lakukan pada Taemin, jijik, Minho merasa jijik pada dirinya, ia tega membuat orang yang paling ia cintai setengah mati menangis, ia membuat janjinya pupus begitu saja.

“T-taemin…g-gomenasai…”, Minho merangkak kesisi Taemin, namun Taemin merangsut menjauh, Minho seperti dihujam ribuan pisau . Taeminnya , sekarang ia bahkan tidak mau melihat Minho.

“K-kumohon … jangan pergi …”, Minho mendekat, menangis, takut Taeminnya akan pergi, “Maafkan aku … hukum aku … tapi kumohon, jangan tinggalkan aku…”, kali ini Minho menangis layaknya anak kecil yang bersujud minta maaf pada Taemin, ia menangis sejadinya … berharap Taemin tidak menghindarinya.

“Maafkan aku…jangan tinggalkan aku Taemin, maafkan aku…”, Minho meraih tangan Taemin dan menelungkupkan di keningnya, tersungkur menangis bersama Taemin. Sesak Tuhan, setan apa yang kau kirim masuk ketubuhnya sehingga membuatnya menjadi iblis paling kejam, berani menodai wanita tercinta tanpa kelembutan ?

“M-maaf Taemin … maafkan aku…”, Minho berbaring disamping Taemin memejamkan matanya , menaruh tangan itu di wajahnya, Taemin diam disana, dihadapan Minho, melihat sosok Minho yang tersedu meminta maaf, tegakah ia melihat Minho seperti itu?

Sosok yang lembut selama ini membuatnya merasa berbeda, membuatnya belajar banyak, termasuk dilayani oleh orang lain, diperlakukan istimewa oleh orang lain, dan membuatnya merasa dihargai tidak hanya sebagai Geisha yang berfungsi sebagai pekerja seni.

Ia tatap wajah Minho yang kini sudah tertidur dengan mata bengkak dan air mata yang belum kering. Taemin berusaha menarik tangannya untuk membetulkan letak kimononya, namun tangan itu terlalu kuat menggenggamnya, semakin ia tarik, semakin erat genggaman tangan Minho.

Perlahan Taemin menyerah, dan ia memilih berbaring disana, merasakan udara dingin yang berhembus, tidak … kenapa ? kenapa ia merasakan hangat disekitarnya? Apakah Minho? Ia tidak tahu, yang ia juga tidak pernah tahu, ia tidak hentinya menatap wajah Minho yang tertidur,dan satu yang membuatnya terkejut, tangannya terjulur, mengelus pipi Minho, menghapus air mata itu dari pipinya, bangkit dari tidurnya, dan memajukan wajahnya seinci … sedetik kemudian, ia terduduk, dengan terkejut menutup mulutnya sendiri dengan tangannya yang gemetar, apa yang dia lakukan?

Taemin berdiri dan berlari kekamar mandi, menyalakan shower dan meringkuk disana,barusan … apa itu? Kenapa tubuhnya bergerak sendiri? Apa yang ia lakukan pada Minho? Lancang sekali ia … kenapa ia bisa mencium pipi Minho? …kenapa?

FLOAG~

“Kau kembali?”, tanya Kibum ketika melihat Taemin sudah pagi sekali datang ke Okiya. Taemin hanya mengangguk dan tersenyum.

“Kau sudah bertemu dengan Minho –sama?”, tanyanya lagi, Taemin terdiam ketika mendengar nama itu disebut, dan Kibum menyadari ada perubahan sikap darinya.

“Ada apa?”, tanya Kibum menghampiri Taemin, Taemin menggeleng, “Kau jangan bohong, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dari ku, katakan…”,suruh Kibum lembut, Taemin hendak bungkam , namun ia butuh bicara pada Kibum tentang hal ini.

“Minho –sama…dia…”, Kibum meneliti raut wajah Taemin,

“Kenapa? Dia menyakitimu?”, tanya Kibum panik,Taemin menggeleng cepat.

“B-bukan… semalam, dia … pulang kerumah.”, Kibum mengerutkan alis, kalau pulang ke rumah itu bukannya hal biasa?

“Lalu kenapa? Itu kan rumah kalian? Kau bahkan sudah ada disana selama 2 hari menunggunya kembali kan?”, tanya Kibum, ya Kibum tahu, Taemin disana, entah Taemin mengerti atau tidak, tapi Kibum bisa melihat bahwa Taemin memperlihatkan sisi perdulinya untuk Minho yang jelas ia tahu melangsungkna pernikahan dengan wanita lain.

“Dia hampir memperkosa ku dengan paksa … lalu aku menangis dan berteriak padanya.”, kata Taemin, kemudian ia berdiri dan menarik tinggi kimononya ke atas betisnya dan berbalik, “Hukum aku Kibum –san, aku telah melanggar kewajiban ku sebagai seorang geisha pada dannanya, aku telah menolak untuk di setubuhinya.”, jelas Taemin, Kibum terhenyak, apa hanya itu dipikiran Taemin?

“Apa dia melakukannya padamu?”,

“Tidak, dia menangis dan meminta maaf padaku …”, Taemin menunduk, “Aku telah berbuat salah Kibum –san, tidak seharusnya aku menolak ketika ia meminta kami melakukannya.”, jelas Taemin.

Kibum mengerti sekarang, ia menarik tangan Taemin dan menyuruhnya duduk, ia tatapa wajah perempuan yang sangat cantik dan hampir tidak ada celah keburukan atau jelek dan cacat dari wajahnya, tapi kenapa? Dibalik wajah cantik ini ia tidak bisa mengerti akan artinya suci sebuah cinta?

“Kau tidak perlu minta maaf, dan tidak perlu kau ku hukum, Minho –sama mungkin sedang dalam keadaan bingung saat itu, jadi dia berlaku seperti itu padamu, kau menolak karena kau takut bukan? Bukan karena kau memang tidak mau? Ya kan?”

Taemin terdiam, “Ya… seperti itu maksudku…”, jawab Taemin pelan. “A-aku hanya berpikir, saat itu aku tidak kenal Minho –sama, ia tidak lembut padaku, aku hanya ingin bicara padanya setelah pernikahannya, aku senang saat itu ia pulang, tapi aku terkejut ketika ia melakukan itu padaku…”, jelas Taemin.

“Boleh aku tanya padamu?”

“Ya?”

“Kau…tidak sedih ketika Minho –sama tidak bersamamu semenjak ia menikah?”

Taemin berpikir, sedih? Ia bahkan tidak pernah menangis, “Tidak …” jawabnya, namun di sudut hatinya ia merasa lain, namun ia buang rasa itu, karena menurutnya itu mengganggu.

“Kau tidak kesepian?”

Sepi …? kesepian? Ia sudah hapal kata itu, dan tentu ia tahu rasanya, Taemin tidak menjawab, dan Kibum tidak perlu jawaban.

FLOAG~

Kibum duduk diantara Maiko yang dia asuh. Memperhatikan setiap gerak yang mereka lakukan dalam memainkan shimasen. Didampingi dengan Taemin yang selalu diam disampingnya. Miris. Wanita cantik itu masih tidak sadar dengan hatinya sendiri. Masih tidak mau mengakui dan mengabaikan rasa yang dia dapat semenjak bertemu dengan Minho. Cinta. Rasa asing yang menghantuinya namun dia tepis. Mungkin karena Taemin masih tidak mengerti dan tidak paham dengan semua rasa aneh yang serentak menelusup dalam hatinya.

Menepuk tangannya hingga menghentikan semua melodi yang terdengar, semua maiko memandang Kibum. Pandangan memuja yang selalu mereka layangkan tiap kali melihat Geisha tertinggi itu. Kibum menyuruh Taemin untuk mengambil shimasen yang terletak disamping tubuh wanita mungil itu. Dan mulai memainkan sebuah lagu merdu dan indah. Membuat bungkam seluruh penghuni disana. Suzu lekat memandang tangan Kibum yang bergerak dengan lincah tanpa celah. Mengikutinya dan menghapalnya. Terasa berbeda ketika mereka yang memainkannya. kenapa? Saat Kibum yang memainkannya semua terasa nyata. Seakan perasaan ini terbawa oleh melodinya. Saat memainkan lagu sendu. Tak sadar air mata ini akan menitik. Saat lagu ceria yang bersemangat semua tersenyum sumringah dan merasa bahagia. Aneh. Apa ini perbedaaan antara seorang yang sempurna dengan seorang yang masih biasa saja?

“Saat memainkannya. Tangan kalian harus mengikuti alunannya. Jangan asal membunyikannya. Gunakan perasaan. Mengerti?”

“HAI” Serentak semua maiko menjawab dan membungkuk hormat kepada Kibum. Kemudian selang beberapa detik semua kembali melanjutkan permainan masing – masing. Kibum memejam mata meneliti setiap melodi yang mengalun. Mencari – cari letak nada yang membuat harmoni menjadi tidak indah.

FLOAG~

 “menunggu lama kah?” Kibum menyapa seorang pemuda tampan yang menyambutnya dengan senyum cerah dan menghanyutkan. Jinki meraih tangan Kibum kemudian menciumnya lama. Sudah merasa rindu, merasa jika dia ingin masuk keruang latihan dan menculik Kibum kemudian menyembunyikan wanita itu di tempat persembunyian yang hanya dia tahu.

Menggeleng pelan dan menarik kibum agar duduk di sampingnya, memainkan helaian rambut yang berada di sekitar telinga indah kibum.

“Bogoshipoo…”

“Hmm…” Kibum memiringkan kepalanya dan melihat Jinki dengan pandangan tanya. Bogoshipoo.. nani? (apa). Jinki mengelus tengkuk belakang lehernya dan memeluk kibum, menaruh wajahnya tepat berada di pundak wanita itu dan menciumnya mesra

“Rindu.. Artinya aku merindukanmu… hehehe”

Mengeratkan pelukannya dan sengaja menarik tubuh mereka agar semakin merapat. Terkekeh geli ketika merasakan Kibum mulai melingkarkan tangannya pada pinggangnya Dan balas memeluknya. Ini terasa indah bukan. Membagi dan menyalurkan perasaan cinta kepada sang terkasih.

“Nado…”

Membalas dengan bahasa sama yang Kibum tahu artinya untuk membalas “Aku juga”. Membuat pemuda itu semakin kencang memeluk tubuh rampingnya. Sangat bahagia merasakan semuanya. Mengalihkan semua rasa yang mungkin akan timbul jika dia merasa sendiri.

“Eh..” Jinki merasa jika tangan Kibum yang melingkarinya semakin mengerat. Perubahan yang membuat Jinki kawatir karena merasakan wanita itu sedikit bergetar.

“Ada apa Kibum.. hmm”

Mendongakan wajah kibum menghadapi wajahnya. Jinki masuk kedalam bola mata tajam yang selalu menusuk hatinya. Tidak sakit seperti dulu. Kini rasa itu tergantikan dengan rasa lain yang lebih instens. Lebih dari rasa hangat mungkin.

“Hanya memikirkan tentang nasib – nasib yang akan terluka karena kita Jinki”

Menghembuskan nafas, mencium kening Kibum mencoba membuat wanita itu tenang. Dia akan mengurus semuanya. Bahkan jika dia harus melepaskan semua gelarnya atau di benci keluarga atau dibenci oleh siapa saja didunia ini karena dia mencintai seorang Kim Kibum dia RELA. Jinki rela menukarkan apapun demi berada disisi wanita ini. Wanita yang menjadi ratu dalam hatinya.

“Jangan memikirkannya Kibum. Bukankah aku telah mengatakan sebelumnya  jika aku yang akan mengurus semuanya, hmmm! Tugasmu hanyalah…

“Terus berada disisimu dan mencintaimu.. aku mengerti Jinki”

“Yah. Itu lah tugasmu Kibum, sangat mudahkan? Teruslah berada disisiku dan mencintaiku. Menjadi kekuatan untukku. Aku akan mempertahankan cinta kita sampai kapanpun. Berjanjilah.. berjanjilah tidak akan meninggalkanku walau apapun yang terjadi dimasa mendatang”

dua pasang mata yang saling menatap. Menyalurkan rasa cinta yang tersemat jauh didalam sanubari. Percakapan non – verbal yang mereka lakukan. Berbicara dari hati – ke hati. Kibum mengangguk mengerti dan membenamkan wajahnya jauh dalam dekapan tubuh Jinki yang menyambutnya dengan suka cita

membelai rambut kibum yang masih tersanggul memakai kanzhasi biru yang dia berikan dulu. Menariknya hingga rambut itu tergerai dan panjangnya menyentuh tatami. Wangi dan lembut. Membiarkan wajahnya tenggelam disana. Sangat nyaman. Dan tentram.

Jinki membelai punggung Kibum, bibirnya mencium rambut hitam yang tergerai. Dengan tangan kanannya yang menyibak rambut panjang yang menutupi belakang leher wanita itu. Melihat jenjang leher belakang Kibum dengan mata penuh kekaguman. Pahatan indah yang mendebarkan. Memajukan wajah mendekatkan bibirnya dan menyapunya pelan. Menciuminya, dan menjelejah hingga kebalik telinga Kibum.

Pelukan yang semakin erat. Merapatkan tubuh keduanya. Memaksa untuk saling memiliki. Lenguhan demi lenguhan yang terdengar ketika tangan saling membelai tubuh pasangan.

“Aku mencintaimu”

lantun Pangeran Lee  dari negara korea itu di permukaan telinga Kibum. Menarikan bibirnya yang ranum pada pundak yang kini telah terlihat dengan sedikit kimono yang masih tersampir. Tanganya menarik obi yang tersemat, membukanya perlahan. Kimono luar yang kemudian di sibak hingga menyisakan kimono dalam dengan warna putih salju berbahan sutra. Tipis, sangat tipis dan halus. Membiaskan lekuk – lekuk tubuh yang di tutupinya. Perut dan dada yang tercetak dalam wadah paling sempurna. Di terangi cahaya remang  rembulan yang masuk mengintip dari sela – sela ventilasi. Pemandangan menakjubkan untuk mata sabitnya.

Membaringkan tubuh Kibum dengan dirinya berada diatas menindih. Menyampirkan kimono terakhir yang masih tersisa hingga lekuk tubuh itu terlihat sempurna.

“Aku tak pernah bosan merasa bersyukur karena memiliki bidadari sepertimu dalam hidupku..”

pipi itu merona merah. Menyembunyikan wajah cantik dengan jemari tangan. Jinki menariknya. Ingin melihat wajah itu tanpa halangan apapun. Tak pernah puas. Tak akan pernah. Mata yang bersudut tajam. Bibir merah yang tipis. Garis wajah yang demi apa menambah kesempurnaan pada parasnya.

“Aku sa-“

“Aku tahu Jinki… hmm”

memberikan senyuman terbaiknya. Membelai kedua sisi pipi kiri pemuda tampan yang berada diatasnya. Kibum melingkarkan tanganya pada leher Jinki. Menariknya hingga mendekat dengan jarak yang sangat dekat.

“Aku tahu kau mencintaiku Jinki..”

sudut bibir pemuda itu melengkung membuat senyum salah tingkah yang manis, menjatuhkan wajahnya pada pundak yang putih. Kibum mengacak rambut belakang Jinki. Membiarkannya mengecup – ngecup pundak dan lehernya. Menerima saja ketika kakinya di buka pelan, menikmati sentuhan – sentuhan tangan kokoh Jinki.

“akh……..”

desahan ringan dan pelan. Satu persatu jinki melepas pakaiannya sendiri. Membiarkannya tergeletak bersamaan dengan kimono Kibum yang sudah berada disana. Mulai menautkan bibir dan mengecap masing – masing rasa dari bibir yang berbeda. Menghisap – hisap kecil dan bergumul atas nama cinta. Mempersatukan tubuh keduanya menjadi satu. Peluh keringat yang menetes. Deru nafas yang berirama serta melodi desahan dan erangan tercipta dalam bilik yang mereka tempati. Menambah suasana aneh yang mendebarkan. Menciptakan keeratan hubungan yang saling membutuhkan dan dalam.

FLOAG~

 “Anda selalu pergi ke okiya Pangeran Lee. Hamba mohon kurang itu. Nama anda bisa rusak karena sering menghabis-

“Aku yang mengatur apa yang harus kulakukan Siwon Ahjussi.. kemana aku pergi dan semuanya. Jangan mencampurinya..” memberikan pandangan angkuh yang jarang dia perlihatkan. Pandangan tajam yang membuat dia terlihat sebagai seorang bangsawan. Siwon membungkuk dalam dan sedikit gemetar.

“Maafkan kelancangan saya Pangeran Lee!” tuturnya dan melangkah pergi membiarkan Jinki masuk kedalam ruangannya.

“Tunggu sebentar Siwon ahjusi.. kapan Raja dan Ratu akan datang?” Tanya Jinki membalikkan  badannya di hadapan siwon tepat ketika dia berada di ambang pintu

“5 Hari lagi Yang Mulia akan datang Pangeran Lee” jawab pria paruh baya tampan itu. Jinki mengangguk mengerti dan membuka pintu di hadapannya, masuk kedalam kamar yang indah tertata dengan mewah. Kemewahan yang sangat tidak di sukainya. Dia lebih senang kesederhanaan.

Jinki mendekati sebuah telfon antik berwarna hitam yang berada tak jauh dari samping ranjangnya. Duduk menunduk. Kemudian mendongak menatap langit – langit kamar. Jemari tanganya menangkup wajah. Mengusapnya perlahan. Dan beralih pada gagang telfon dan tangan yang lain memutar angka – angka agar dia bisa terambung dengan seseorang yang jauh disana

“Moshi – moshi.. bisa sambungkan kepada Jenderal Kim Jonghyun?

“…..”

“Saya Pangeran Lee Jinki… akh. Tidak apa – apa. Jangan meminta maaf. Tolong panggilkan saja Jendral Kim”

menunggu beberapa menit dengan tangan yang mengepal. Semuanya harus dia selesaikan. Jinki tidak ingin menyakiti sahabatnya lebih dari ini. Dia harus jujur. Benar kata Kibum memikirkan semua yang mereka sakiti karena cinta mereka Itu membuat sesak. Jonghyun. Sahabat karibnya. Ini..

“Jinki… moshi – moshi.. jinki?” sahut suara indah milik jonghyun.

Tersadar dengan lamunan melankolisnya. Jinki mengusap peluh keringat di keningnya.

“Jjong..”

“Yah.. kenapa tiba – tiba menelpon dan mencariku? Apa ada sesuatu yang penting hmm?”

Suara yang bersahabat. Yang ramah. Menusuk hati jinki dengan telak.

“Gomen… gomen jjong… mianhamnida… joengmal… mianhe…”

“Eh.. ada apa jinki? Jangan berbahasa korea seperti itu.. aku tidak begitu memahaminya”

“jjong… kembalilah.. aku ingin berbicara denganmu”

“kembali? Tidak bisakah bicara lewat telfon?”

“tidak bisa.. kita harus bertemu..”

“tapi..”

“Aku akan meminta izin kepada atasanmu. Gampang jika aku menggunakan gelarku. Ku mohon jjong..”

Lama berselang. 30 detik 1 menit dan akhirnya suara itu menyetujui keputusan Jinki “ Baiklah Jinki, aku segera kembali. Beruntung hari ini ada kapal terbang yang akan bertolak kesana. Aku akan datang kurang lebih 3 hari dari sekarang”

“baiklah jjong.. arigato… dan gomen!!”

Menutup telfon dan menjatuhkan tubuhnya keranjang. Menutup mata dengan punggung tanganya. Jauh di dasar hati dia ingin memaki diri sendiri. Jauh dilubuk hati dia ingin membunuh dirinya sendiri.

Sahabat lama yang sangat disayanginya sebagai saudara kandung. Pria baik hati yang terlihat sepi. Bagaimana dia bisa tega merebut satu – satunya kebahagian yang di miliki jonghyun. Dari Kibum Jinki mengetahui penyakit pria itu. Dan itu membuatnya semakin merasa hina.

Kibum. Kibum. Cinta. Cinta. Demi dua hal itu dia rela. Dia rela melepas apapun. tidak apa – apa jika setelah ini dia akan di benci oleh jonghyun. Tidak apa – apa walau itu terlihat sangat menyedihkan dan sakit.

“Mianhe jjong!!! Jeongmal”

FLOAG~

Sudah sekitar 3 hari setelah itu, Taemin sama sekali tidak tahu keberadaan Minho, ketika ia kembali ke Okiya, pelayan rumah mengatakan Minho kembali sebentar hanya untuk berganti baju dan kemudian pergi bekerja, Taemin merasa tidak enak akan hal itu, karena seharunya ia berada disana untuk membantu Minho.

Dan sekarang, entah apa yang membawanya, ia berjalan menyusuri distrik dengan pakain seadanya, terlepas dari dandanannya sebagai geisha, hanya kimono yang masih terkesan indah karena sosoknya yang membedakan ia dari sekerumunan orang berpakaian biasa.

Sore itu, ia datang ke sebuah distrik yang tidak jauh dari tempat Okiyanya, dan ia tahu itu tempat siapa. Ia berdiri didepan sebuah rumah tradisional  yang tidak kalah bagusnya dengan rumah yang diberikan Minho untuk mereka.

Ia bersembunyi jauh di dekat pertokoan, berdiri selama 2 jama lamanya, memandang ke arah pintu kayu yang tertutup itu, ia eggan mendekat, berharap ia bisa saja kesana, mengetuknya, kemudian bertanya, apakah ia bisa bertemu dengan Minho?

Ya Minho, karena ia sudah tidak pernah bertemu dengannya, entah kenapa setelah kejadian itu, ia ingin bertemu Minho. Ia tidak tahu, tapi ia merasa ia harus bertemu Minho, kalau ia tidak ingin rasa tidak nyaman di hatinya terus membuatnya tidak tenang dan mengganggunya.

Ia hampir menyerah saja, lebih baik ia pulang dan kembali menunggu di rumahnya, kemudian jika belum datang juga, ia kembali ke Okiya, Kibum –san pasti lebih membutuhkannya untuk menghibur para tamu yang datang. Ketika ia ingin beranjak, sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu itu, dan ia berbalik, melihat seorang supir turun dari pintu depan dan membuka pintu penumpang, keluarlah Minho dengan setelan jas hitam yang sangat indah.

Tanpa Taemin sadar, wajahnya sumringah ketika melihat Minho, ia mengambil langkah maju, saat ingin memanggil nama dannanya itu ia tidak teruskan, karena selanjutnya yang ia lihat adalah, seorang wanita berpakaian kimono biru keemasan dan tinggi semampai keluar dari sana, menyambut uluran tangan Minho , kemudian mengalungkannya di lengan kekarnya dengan manja.

Taemin tertegun, ia tahu itu siapa … dan lagi, perasaan tidak nyamannya membuatnya memundurkan langkahnya dan bersembunyi dibalik kios kosong. Menggerakan mata bulat kecilnya kesana kemari, bingung, meremas jari tangannya, dan menyentuh dadanya, mengelusnya perlahan, sakit … sesak … apa itu? Ia tidak mengerti sama sekali… kenapa selalu saja rasa tidak nyaman itu timbul jika ia ingat Minho?

.

.

“Ada apa Minho –sama?” tanya wanita yang bergelayut manja ketika suaminya itu terhenti ditempatnya.

Minho menoleh kebelakangnya, melihat gang didepannya, menajamkan pandangannya ke sana, menatap lekat setiap sudut gang itu. Tadi rasanya…

“Minho –sama? Ada apa??”, tanya wanita itu lagi, Minho meliriknya dan melepas tangan wanita itu kasar.

“Bukan urusanmu…”, jelas Minho. “Dan … sudah kukatakan, aku tidak suka kau pakai kimono itu, kau tidak pantas menggunakannya.”, …karena Kimono itu bukan untukmu.

“Kenapa…?”, tanyanya sedih, “Bukankah ini untukku? Aku menemukannya tergeletak di atas kasur kita, kau memang menyiapkan hadiah ini untukku kan?”

Minho menatapnya sengit, “Sebaiknya kau tanya itu milik siapa dan untuk siapa? Bukan mengambil milik orang yang bukan hak mu.”, Minho meninggalkan wanita yang ia nikahi sebagai ‘istrinya’ itu begitu saja. Sebelum ia masuk, ia melihat sekali lagi kebelakang, ke arah gang didepannya.

FLOAG~

“Minho –sama…”, seorang temannya menghampirinya dan memberikan sebuah bungkusan yang cukup besar ditangannya, kemudian memberikannya pada Minho dengan senyum terkembang.

“Ini untukmu.”, katanya, Minho menatap bungkusan di tangannya dengan bingung.

“Untukku? Dari siapa?”, temannya itu tersenyum malu.

“Kau tahu Minho –sama, kau beruntung, wanita ini membawakan bento untukmu , dan meminta ku untuk mengantarkannya langsung padamu.”, Minho mengerutkan alisnya.

“Dari Yuri?”, tanya Minho dingin.

“Bukannn….bukan istrimu…”, temannya mengibaskan tangannya “ Kau mulai nakal hah, dikunjungi wanita selain istrimu? Aku tidak tanya namanya, yang pasti dia bertubuh kecil dan bermata indah, dan memakai kimono yang sangat cantik.”

Minho terdiam, ia membuka bekal itu, dan menemukan surat didalamnya.

Kepada Minho – sama

Maaf sebelumnya dengan secara tidak hormat mengirimkanmu sebuah bekal.

Aku hanya ingin melayanimu. Aku hanya ingin berguna untukmu

Minho – sama

Maafkan saya jika telah berbuat salah.

Maafkan saya jika telah menyakiti anda

Minho – sama

Saya menunggu anda

Menunggu anda kembali ditempat dimana kita bersama

 

“lee taemin”

Minho melempar surat itu kemudian ia berlari keluar ruangan kantornya menuju ke jalan luar, melihat kesekeliling mencari sosok malaikat hatinya itu, nafasnya menderu, jantungnya berdebar, ingin rasanya bertemu … setelah ia baca surat itu sungguh ia ingin bertemu, sejak itu sudah sering ia menahan hasratnya untuk tidak pergi dan berusaha membenci nya, namun tidak bisa, dan itu menyiksanya … Minho menutup mulutnya, menahan tangisnya… matanya terus mencari, tapi nihil, jalan begitu lapang, namun sosok itu tidak tahu kemana…

Yang ia tidak tahu, sebuah mata mungil memandanginya dikejauhan, menunduk dan berjalan pergi … menatap datar pada kakinya sendiri, lagi, rasa tidak nyaman itu timbul lagi , dan ia tidak suka jika selalu mengganggunya…

FLOAG~

Minho enggan keluar dari dalam mobilnya, sudah hampir 1 jam ia didalam mobil dan tidak keluar, ia hanya duduk dan menatap rumah yang sangat ia suka ketika ia membelinya dan menghadiahkannya untuk sosok yang paling ia cintai itu. Hujan deras diluar mengguyur kaca mobilnya, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam saat itu, namun ia nekat menunggu disana terlebih untuk pulang dan istirahat setelah kerja seharian penuh.

Matanya tiba-tiba terbelalak melihat sosok yang berjalan dengan langkah cepat menggunakan payung menuju rumah nya. Minho menegakan badannya, berusaha menajamkan pandangannya, ia terkejut, Taemin …

“Oh, Minho –sama … Taemin –san sedang tidak ada, ia baru saja kembali ke Okiya, aku panggilkan dulu yah? Dia mungkin belum jauh.”

“Tidak, tidak usah… aku hanya ingin berganti pakaian saja…”

“kau yakin? Taemin –san meminta ku untuk memanggilnya segera jika kau pulang…”

“Tidak usah …”

“Baiklah …”, …, “Tapi Minho –sama, Taemin –san sering menunggu disini setiap malam, ia selalu kembali dari Okiya hanya untuk tidur disini … aku rasa ia ingin bertemu denganmu.”

“Apa?”

“Hmm … dia selalu kembali malam hari, kemudian akan pergi sore hari untuk ke Okiya, dan kembali lagi kesini hingga pagi…”, …” ah, maaf Minho –sama aku banyak bicara, aku hanya khawatir terkadang aku sedang tidak disini untuk membantunya beres-beres … tapi dia bilang tidak apa…”

“Begitukah?”

“Ya Minho –sama.”

Taemin masuk kedalam ketika ia masuk semua gelap dan tidak ada pelayan dirumah itu, tidak apa… ia memang sudah meminta semua pelayan untuk pergi saja, toh tidak ada yang bisa mereka kerjakan, karena kondisinya sudah rapih , Taemin selalu membersihkan nya pula.

Ia tanggalkan jas nya dan mengibaskan air dari kimononya , membungkuk mengambil korek dan menyalakan lilin untuk penerangan remang saja. Kemudian ia melihat kesekelilin gnya, menarik nafasnya, menanggalkan kimono luarannya dan berbaring di shikibuton menatap ke arah remang lilin didepannya.

Untuk apa ia disini? Selalu menunggu Minho kah? Taemin tidak mengerti, “Kau tidak kesepian?” pertanyaan itu terngiang. Taemin memejamkan matanya, meremas kakebuton, sepi …

Sebuah tangan memeluknya, hangat … seperti kehangatan yang pernah ia rasakan sebelumnya, dan membuat perasaannya nyaman dan juga tentram. Taemin terperanjat ketika ia merasakan hembusan nafas di tengkuknya, tubuhnya menegang dan matanya terbuka.

“M-minho…-s –sama?”, bisiknya, ketika nama itu ia sebut, pelukan ditubuhnya mengerat, ia melirik ke bawah, kemana tangan itu melingkar di pinggulnya.

“Taemin …”, dan benar, ia lebih terkejut ketika sebuah kecupan ditengkuk ia terima, bibir itu terasa dingin, namun ia tahu itu suara siapa dan siapa yang sedang memeluknya.

Taemin hanya diam, ia tidak tahu harus berkata apa? Mimpikah? Benarkah itu Minho  -sama nya?

“Kenapa kau masih disini …?”

Taemin berbalik, menatap Minho dari dadanya dan beralih kematanya, benar, mata itu, dan deru nafas itu , jantung Taemin berdegup, perutnya terasa seperti ada yang menggelitik tidak nyaman.
“Minho –sama…”, hanya itu yang keluar. “Kau … kenapa disini?” tanyanya pelan, “Bukankah seharusnya ka—“

Minho menutup bibir Taemin dengan tangannya, “Kau menungguku?”, tanya Minho, Taemin diam. “Kau merindukanku sehingga kau harus kesini setiap malam sendirian?” tanyanya lagi. Taemin menatap mata Minho, mulutnya terbuka, namun tidak ada yang keluar dari bibirnya. Yang ia lakukan malah membuang mukanya dan melihat ke arah lain.

Minho mengelus pipi itu dan bangkit menumpu berat tubuhnya dengan sikunya menempatkan posisinya berada di atas Taemin. Mengecup keningnya dan mencium bibirnya.

“Aku mencintaimu…” bisik Minho menatap mata Taemin, Taemin merasa ada yang aneh dihatinya, hangat …

“Minho –sama…”, Taemin menarik baju depan Minho sebelum bibir mereka bersentuhan, sangat lembut dan mesra. Membiarkan insting mereka bekerja seiring setiap inci tubuh mereka menyatu tanpa sehelai benangpun. Malam itu, Minho sangat lembut, meski ia tidak pernah kasar, saat pertama atau saat itu, Taemin merasa spesial , lebih spesial di pelukan Minho, karena ia merasa nyaman ketika Minho menggerakan tubuhnya dengan cepat didalam tubuh Taemin, membuat Taemin merasa di awang-awang. Perasaan nyaman apa itu? Cinta? Minho mengatakan itu terus padanya, dan ia mencerna setiap kata itu dengan baik, dan merasakannya dengan tubuhnya.

“Taemin … aku mencintaimu…”, desah Minho mencium leher Taemin seiring desahan nya, Taemin melingkarkan tangannya ke pundak Minho. Membenamkan kepalanya disana.

“M-minho –sama… a-aku…”

“Ssshht ….”, Minho membuat Taemin diam, menatap dalam mata itu dan mencium keningnya dengan lembut,

“Kau kesepian? kau menunggu ku hm? “

Taemin diam sesaat dan merasakan hangat di dalam hatinya, apa itu? “Kau ingin aku memelukmu seperti ini? malam ini? dan seterusnya?” bisik Minho ditelinga Taemin dan mengulum daun telinganya, membuat Taemin mendesah, kenapa… kenapa begitu terasa nyaman? Taemin mengeratkan pelukannya pada pundak Minho, membenamkan kepalanya di leher Minho.

“Minho -sama… peluk aku…”, hanya itu yang bisa Taemin katakan … Minho mendongak, mencari keseriusan di mata Taemin. “P-epluk aku … aku ingin kau memelukku, lakukan dengan lembut, jangan buat aku merasa kau membenci ku… ku mohon, jangan pernah pergi dan tidak kembali padaku…”,

Minho terperanjat, jantungnya berdegup cepat, Taemin, kau benar tidak tahu apa yang Minho rasakan, kau salah telah berkata begitu, kau tidak tahu, jika kau berkata begitu, Minho tidak akan melepasmu, bagaimanapun caranya.

“Taemin … Watashi wa hontōni anata o aishite” (aku benar-benar mencintaimu), Minho menurunkan tubuhnya, menarik turun kerah depan kimono dalam Taemin yang sudah tersingkap, ia cium tulang dada Taemin sambil matanya menatap sayu ke arah Taemin yang memejamkan mata,

“Minho -sama … i-ini… nyaman sekali…nggh…”, Minho tersenyum, ia peluk tubuh Taemin dengan erat dan ia kulum payudaranya, membuat Taemin mendesah dan sering meneriaki nama mereka, seiring hubungan tubuh itu terjadi,nyaman … hangat … dan membuat Taemin gila, melayang … apa aku mencintainya? perasaan apa ini? aku hanya tidak ingin ia pergi dariku… -gumam Taemin-.

.

.

“Kita kembali …”

“Nona yakin?”,

“Menurutmu aku bercanda? kita lihat, sejauh mana ia berani lakukan ini padaku, demi perempuan rendah budak semua pria itu…”, lirik wanita berkimono perak ke kaca spion depan.

“B-baik Yuri -san …”,

“Kau akan tahu akibatnya jika kau berani mengkhianati ku Minho … dan kau juga, perempuan hina.”, wanita bernama Yuri itu mengepalkan tangannya di ujung kimononya, membuat buku tangannya terasa putih dan ingin meremasnya hingga keluar darah.

 FLOAG~

Pria tampan dengan balutan seragam seorang jendral, rambut yang memanjang di bagian poninya, bibir yang sensual, pundak tegak dengan punggung yang terkesan maskulin. Kim jonghyun. Seorang jendral dari berpuluh ribu bawahan melangkah masuk dan langsung di sambut seorang pelayan  tua nan tegas.

“Selamat datang Kim Jonghyun – sama!” membungkuk hormat, mundur beberapa langkah agar pria tampan itu bisa masuk ke ruangan tamu.

“Sudah lama tidak bertemu Siwon Ahjusi!” tutur jonghyun masuk dan mendudukan dirinya di sebuah sofa biru. Membetulkan kerah bajunya yang agak sedikit membuatnya sesak. Mengitari  matanya melihat ruangan  dengan gaya barat.

“Dimana Jinki. Bukankah dia ingin bicara denganku?”

“Anda ingin bertemu dengan Pangeran Lee sekarang Jonghyun – sama? Jika seperti itu, Silahkan ikuti saya”

“Eh, tidak disini?”

“Pangeran Lee menyuruh saya mengantar anda ke ruangannya setelah anda mengistirahatkan diri disini!”

“Akh.. begitu. Baiklah antarkan aku ketempatnya. Rasa penasaranku jauh lebih besar alih – alih rasa lelah”

Jonghyun berdiri dan mengikuti langkah pelan Siwon. Sesekali tanganya menyapu poni yang ada di keningnya. Mungkin setelah dari sini dia akan memotongnya. Tidak baik bagi seorang jendral seperti dia dengan potongan rambut panjang. Melirik pada lukisan – lukisan yang sangat dia yakini adalah hasil karya dari tangan seorang jinki sahabatnya. Lukisan indah dengan tekstur cat yang khas. Tangan jonghyun berhenti pada sebuah lukisan seorang wanita dengan hanbok seorang bangsawan. Wanita yang memiliki garis wajah manis dan lucu. Mungkin lukisan ini diambil ketika wanita yang menjadi objeknya berusia belasan tahun. Terlihat kekanakan namun mengesankan.

“Kim jonghyun – sama silahkan lewat sini” siwon menegur jonghyun yang asik melihat lukisan. Mengelus bagian belakang lehernya dan kemudian ikut berjalan di belokan yang di lewati siwon namun sebelumnya terlebih dahulu  melirik lagi lukisan tersebut.

“Hah…”

Jonghyun di bawa melewati lorong panjang yang terbuat dari kayu ulin sebagai tiang – tiangnya. Aroma mawar dan berbagai bunga  lain menyambut indra penciumanya ketika halaman luas taman yang tepat berada disamping kamar jinki tersambut matanya.

“Saya permisi Kim jonghyun – sama”

Siwon memilih pergi dan meninggalkan jonghyun sendiri. Bingung. Seharusnya siwon ahjusi mengetuk kamar jinki dan memberitahu kedatangannya. Namun sekarang dia ditinggal sendiri?”

“eng…..”

Menggaruk belakang kepalanya dan menghadap pada pintu kayu dengan ukiran ukiran rumit. Mengetuknya dan tidak ada jawaban.

“Tidak sopan jika langsung masuk?”

Mengabaikan kesopanan karena rasa penasarannya. Jonghyun memutar handle pintu kuno itu dan tampak sumringah ketika mengahuinya tidak di kunci.

“Jinki…”

Memanggil pelan dan masuk. Matanya di hadapkan pada tirai – tirai yang menutup langkah untuk masuk jauh kedalam. Sebuah ruang lain berada didepanya dengan pintu geser dengan bahan kertas. Mendekat hingga terdengar sebuah suara. Jinki. Jonghyun menggeser pelan hingga tak terdengar bunyi apapun. bermaksud mengejutkan jinki seperti yang sering mereka lakukan

“Jadi kau tidak mencintainya? Jjong maksudku”

Suara lembut menghanyutkan yang jonghyun ketahui sebagai suara jinki

“yah aku Tidak mencintainya jinki. Rasaku terhadapnya lebih kepada rasa hormat dan kagum. Tidak ada cinta. Jjong – sama adalah penyelamatku.. dia lelaki yang telah membebaskanku dari lilitan hutang ketika aku masih seorang maiko… dia sangat baik.. tapi…”

Membeku di tempatnya berdiri. Bingung dengan kondisi yang tengah dia hadapi. Apa ini? Melihat kedua orang itu dibalik pintu geser yang terbuka setengah. jonghyun dapat melihat keduanya tengah saling berpelukan dan menghadap kedepan sehingga tidak melihat keberadaannya.

“Selama ini aku berusaha untuk mencintainya.. aku sudah berusaha keras, namun tetap saja rasa kagum dan hormat lebih dominan. Aku menyayanginya jinki. Tapi tidak mencintainya.. kau mengerti? aku sangat yakin setelah bertemu denganmu.. rasaku untukmu dan untuknya berbeda. Aku mencintaimu.. dan aku menyayangi jonghyun karena dia baik terhadapku

Jinki membelai punggung kibum dan mencium kening wanita itu. Menyayat hati seorang kim jonghyun yang sekarang tengah meremas dadanya. Tangan kiri mengepal dengan erat. Buku – buku tanganya nampak terlihat. Memutih dan pucat. Nafasnya tertahan di  tenggorakan. Sulit sekali menghirup udara yang tiba – tiba menghilang di sekitarnya.

Kedua pasangan itu masih saling terlelap dalam cinta mereka. Masih terlalu fokus pada perasaan cinta mereka.

Ingin berteriak marah tapi bahkan bergerak pun jonghyun tidak bisa. Hanya terpaku ditempat dengan tangan yang mengepal di dada dan disamping tubuh.

“Kibum… kimitachi wa hidosugitayo ne………..(Kibum… kalian sungguh tega sekali kepadaku” lirih dan bergetar.

Menunduk pada lantai yang lebih setia dari pada wanita yang dia anggap segalanya. Yang dia anggap paling mengerti tentang dirinya.

“Jong – sama”

Kibum  berusaha berdiri namun tangan jinki menariknya untuk menempel pada sisi tubuhnya. Jinki mengalungkan tanganya pada pinggang Kibum dan berjalan bersamaan kehadapan jonghyun. Kibum meronta dalam pelukan jinki bermaksud untuk segera berlari dan menjelaskan secara benar kepada jonghyun. Namun pemuda itu semakin menempelkan tubuh mereka erat dan berjalan pelan

“Jadi ini hal penting yang ingin kau bicarakan denganku? Hal yang penting hingga kau rela menggunakan gelar yang kau benci? Menusukku dari belakang?”

“jong – sama.. ini.. aku akan menjelaskan…”

“Seperti yang kau lihat jjong.. ini satu – satunya cara yang kupikrikan untuk memberitahumu jika kami saling mencintai.. maaf”

Mendongak dan melihat mata jonghyun yang terluka. Tentu saja terluka. Dua orang yang paling dia sayang. Yang paling dia banggakan karena menerima dia apa adanya. Keduanya secara serentak menghancurkan kepercayaannya. Keduanya menghancurkan rasa bahagia yang sangat sedikit dia rasakan

“Apa kau sudah lelah menemaniku karena penyakitku Kibum? Aku pikir kau mengerti? aku pi..”

Sesak ketika airmata itu mendesak keluar. Jonghyun mendongak menatap langit kamar. Menahan airmata yang ingin jatuh. Bibir bawahnya terluka dan lecet ketika dia terlalu mengigitnya kuat. Salah satu cara untuk mengalihkan rasa sakit di hatinya

“Tidak jong – sama. Bukan karena penyakit anda.. saya.. saya mengerti tentang hal itu.. ini tidak seperti yang anda pikirkan..”

“Kami saling mencintai jjong.. itu alasan yang membuat kami seperti ini.. gomen!!! Honto ni gomenasai”

Berlutut dan membungkuk hingga wajahnya menyentuh lantai. Jinki merendahkan dirinya. Merendahkan diri demi cinta dan sahabat yang ingin dia pertahankan. Sudut – sudut mata bulan sabitnya tengah teraliri tetesan airmata yang menyeruak keluar. Sangat memohon jika cinta dan sahabatnya bisa dia dapatkan kembali. Sangat berharap jika tidak ada yang pergi. Tidak cintanya atau sahabatnya.

“Maaf jjong… aku mencintainya.. tidak bisa jika tidak bersamanya.. aku mohon mengertilah…”

Kibum berdiri di tengah dua orang pemuda yang saling memancarkan aura kelam. Bingung harus mengarahkan kaki pada siapa? Ingin menjelaskan kepada jonghyun. Ingin ikut bersimpuh dengan jinki

“KALIAN KETERLALUAN”

BRAT

Mengambil senapan yang berada di pinggang dan mengarahkannya tepat kepada jinki. Kibum segera berlari kehadapannya. Memposisikan mata senapan pada perutnya. Menggeleng kuat dengan airmata yang merembes keluar.

“Tidak jong – sama.. tidak boleh dia.. anda boleh menembakku tapi tidak jinki.. saya mohon”

Terluka. Mata jonghyun menyiratkan luka terdalam. Wanita ini. Wanita yang dia kira mencintainya. Wanita yang dia kira satu – satunya harta yang dia miliki, kini di depannya rela menukarkan nyawanya demi pria lain. Pria yang bukan dirinya.

“Kenapa Kibum? Kenapa kau tega kepadaku? Kau.. kenapa harus kau juga sama seperti mereka?” lihat genangan airmata yang berada di sekitar bola matanya. Air mata yang selama ini hanya dia perlihatkan kepada kibum. Air mata yang selalu dia tahan jika dihadapan orang – orang yang menyakitinya.

“Kenapa?”

“Maafkan saya hikss.. jong – sama.. hikss..”

Jinki tetap berada dipoisisnya. Bersimpuh pasrah. Menyadari jika senapan baru saja mengarah padanya. Dan masih tidak bergerak ketika kekasihnya membelanya. Keyakinan yang timbul karena dia dan jjong memilik hal yang sama. Sama – sama memiliki cinta untuk wanita yang mereka perebutkan. Jonghyun Tidak akan bisa melukai kibum sedikitpun. Tidak akan.

“Jjong.. maaf… aku tidak tahu harus berkata apa – apa lagi.. aku hanya minta maaf…”

Melihat kearah jinki dengan posisi yang sama. Kembali melihat kibum dengan posisi yang sama.

‘AKH……………….”

Berteriak marah. Mundur kebelakang. dan membiarkan airmatanya jatuh. Mencoba menghapusnya dengan tangan secara kasar namun tidak ada bedanya karena airmata itu terus mengalir.

“Persahabatan ini kuanggap tidak pernah ada. Kuanggap kita tidak saling mengenal. Aku tidak mengenalmu jinki… dan” memandangi kibum terakhir kalinya “kita tidak pernah bertemu Kibum!”

“hiks….. jong – sama.. hiks..”

Meninggalkan keduanya dengan luka yang berdarah, masih bisa melihat dari sudut matanya ketika jinki bangkit dan memeluk Kibum yang mulai meraung dan menangis. Menenangkannnya. Geisha ternama itu bahkan tidak bisa menepis rasa bersalahnya.

Berlari dengan langkah – langkah besar. Tidak menghiraukan panggilan siwon ketika tak sengaja bertemu.

Jonghyun keluar dari rumah mewah itu dan berlari. Berlari kemana saja dimana dia bisa mencurahkan rasa sakit hatinya.

Semua sama saja. Keluarganya. Istrinya. Bahkan kini sahabat dan wanita yang di cintainya. Semua sangat suka menyakiti hatinya yang rapuh.

Dia hanya seorang pemuda kesepian yang mengarapkan sebuah rasa bahagia. Dia hanya seorang pria terlantar yang selalu tertekan dan butuh sandaran serta tempat mengadu. Dia.. dia Kim jonghyun. Dia seorang pria dengan banyak luka di hatinya.

Masih berlari dengan rasa lelah yang sudah menghinggapi. Masuk kedalam kekebelatan hutan. Tidak perduli beberapa ranting merobek baju dan kulitnya. Dia mati rasa. Semua memori yang dia simpan dan kunci dalam lubuk hatinya satu – persatu menampakan diri. Semuanya.

FLOAG~

“Ingat jonghyun.. kau harus menjadi nomor satu karena kau seorang KIM”

.

.

PLAK

“Ini kau sebut sebagai nilai? 99? Cih.. sudah kukatakan kepadamu seorang KIM harus memiliki nilai sempurna!”

“Gomen”

PLAK

“coba kau contoh kakakmu.. dia tidak pernah mempermalukan keluarga KIM.. anak tak berguna”

“Gomen”

“jangan datang kepadaku sebelum kau menjadi sempurna”

“aku mengerti”

.

.

“lihat dia? Menjadi jendral dalam usia muda? Cih. Pasti ini semua karena marganya! Keluar Kim memang selalu seperti itu kan.. cih.. nista sekali”

“Seharusnya dia tidur saja dirumahnya dan menghabiskan harta yang mereka pendam”

“melihat mukanya membuatku muak!”

“sepertinya urat malunya tidak ada”

.

.

“Positif?”

“yah positif Tuan kim! Menurut pemeriksaan fisik dan darah. Anda positif mengidap erectile dysfunctin (disfungsi ereksi/impoten).

“anda berbohong…”

“Tidak.. dalam kasus anda penyebabnya adalah karena masalah psikis. Seperti pada pemeriksaan pertama anda mengatakan jika selama ini anda sering mengalami depresi dan kecemasan akan sesuatu hal, dan  setelah melakukan pengecekan darah anda memiliki kelainan pembuluh darah. Agar bisa berdiri tegak, penis memerlukan aliran darah yang cukup, karena itu penyakit pembuluh darah bisa menyebabkan impotensi”

.

.

BUGH

“anak tidak berguna.. kau mempermalukan keluarga KIM.. bisa – bisanya kau terkena penyakit seperti ini?”

“gomen!”

BUGH

“Akh.. cepat pergi dari hadapanku.. aku akan mencari cara agar masalah ini tidak berdampak pada keluarga KIM”

.

.

“Kau akan menikah dengannya”

“Tapi?”

“Tidak boleh membantah..

.

.

“Istrimu akan segera melahirkan kenapa kau terlihat santai?”

“kalian tahu itu bukan anakku.. kalian tahu jika wanita itu selingkuh di belakangku? Kenapa bisa kalian membiarkannya?”

“Cih.. Wanita mana yang tahan tidak di sentuh.. kau seharusnya bersyukur dia mencoba menyembunyikan penyakit memalukanmu,  adik bodoh!!”

.

.

“Jjong.. terima kasih atas bantuanmu!! Lihat sekarang aku bisa berbahasa jepang dengan lancar. Kau memang guru yang handal!!”

“Kau terlalu berlebihan jinki.. kau nya saja yang terlalu pintar!!”

“ckck.. kau terlalau merendah.. tapi itu yang kukagumi darimu jjong!”

.

.

“kibum…”

“kenapa jjong-sama!”

“jangan pernah meninggalkanku! Berjanjilah?”

“saya berjanji jjong – sama!”

.

.

“Kami saling mencintai jjong.. itu alasan yang membuat kami seperti ini.. gomen!!! Honto ni gomenasai”

“Tidak jong – sama.. tidak boleh dia.. anda boleh menembakku tapi tidak jinki.. saya mohon”

“AKH…. HENTIKAN…….SUDAH CUKUP……AKU MENGERTI…”

Menutup kedua telinganya dengan tangan. Melihat sekitarnya yang asing. Entah dia berada didalam hutan sejauh apa. Kakinya membawanya jauh hingga dia tidak mengenali lagi daerah sekitarnya.

Bugh

Jatuh kedua lututnya bertemu dengan tanah basah yang membuat celananya kotor. Meremas rambutya dan membiarkan semua kenangan itu merusak hati dan jiwanya. Luka itu kembali terkuak, kembali berdarah.

Selalu saja. Selalu saja dia menjadi pihak yang tersakiti. Apa salahnya? Apa yang dia lakukan hingga semua orang menyakitinya.

Apa yang dia tidak lakukan demi keluarganya. Demi keluarga KIM yang dia sandang, apa yang tidak dia berikan? Dia rela di perbudak. Dia rela dianggap alat yang menjadi kebanggan keluarga, dia rela di jadikan boneka yang siap diperintah. Harus menjadi sempurna. Membiarkan semuanya memperlakukan dia seenaknya. Dia rela.

Tidak  berguna? Dia sudah berusaha untuk menjadi orang yang berguna. Kerja keras yang dia lakukan membuat dia menjadi jendral dalam usia muda. Itu semua KERJA KERASNYA BUKAN CAMPUR TANGAN KELURGA YANG MEMBUANGNYA DEMI SEBUAH KEHORMATAN.

“cukup… hentikan menyiksaku… aku lelah…”

Dia hanya ingin dicintai dan mengecap kebahagian sedikit saja. Hanya sedikit. Dan itu semua apa terlalu berat untuk di kabulkan? Dua orang yang paling dia sayang bahkan tega menusuknya? Semua sama saja. Tidak ada yang benar – benar mengulurkan tangan kepadanya. Tidak ada yang benar – benar bisa menerima dia.

Aku hanya ingin di cintai tidak lagi di hina

Aku hanya ingin di sayangi tidak lagi di cerca

Aku hanya seonggok raga yang berjalan di antara lautan masa yang tidak mengaggapku ada

Aku hanya sebuah jiwa yang bergerak diantara sekumpulan raga yang tidak menganggapku ada

Masih berharap ada sebuah  tangan yang meraih tanganku

Masih berdoa ada sebuah sosok yang memelukku

Membisikan kalimat terindah yang kuimpikan

 

“kau tidak kesepian”

 

TBC

Qoute vienasoma

Bahagia dan menderita adalah sebuah pilihan. Bahagia karena cintamu. Menderita karena cintamu.. keduanya adalah sebuah pilihan yang harus di pilih oleh tangan sendiri. Tidak ada yang salah dengan saling mencintai di atas penderitaa orang lain. Karena itu sebuah pilihan. Kalian memllih cinta dan orang tersebut memilih menderita karena cinta kalian

Quote Sanniiewkey~

True love is not about the hugs and kisses, the ‘I love you’s’ or the ‘I miss you’s’, but about the chills that hit every part of your spine when you think about him.
(Cinta sejati bukan tentang pelukan dan ciuman, tentang  ‘aku mencintaimu’ atau ‘aku merindukanmu’, tapi tentang desiran disetiap tulang rusuk mu ketika kau memikirkannya.)

Advertisements

175 thoughts on “[2min-Onkey/PW ask sanni &viena] Forbidden Love of A Geisha PART 6 of ?

  1. Sumpah sumpah suka sama kata2nya keren bgt,ngena bgt di ati,kalo dipikir2 onkey tega bgt ama jonghyun tp kalo ga ngaku langsung juga gimana?

    Ayolah taemin sadar donk jeng,,,uda cinta ama minho kan,,,abis ini ama si yuki diapa2in deh taemin.

  2. oh jadi jjong impoten to. wah pasti gara” dia ga melihara ikan dirumahnya (ga nyambung!).
    sakit…. sakit…. jadi jjong. bersabarlah bang….
    si yuri mau ngapain itu? rasanya pengen jakbak tu orang deh. ganggu 2min aja nih orang.

    next part cue!

  3. oh jadi jjong impoten to. wah pasti gara” dia ga melihara ikan dirumahnya (ga nyambung!).
    sakit…. sakit…. jadi jjong. bersabarlah bang…..
    si yuri mau ngapain itu? rasanya pengen jakbak tu orang deh. ganggu 2min aja nih orang.

    next part cue!

  4. Part ini mengharu biru, taemin yg mulai berani nunjukin rasanya keminho tapi itu istrinya minho mau ngapain taemin, haduh… Ini sijinki gegabah banget deh itu ga ada cara yg lebih halus lagi buat bilang ke jjongnya kasian jjongnya jan sampek jjong bunuh diri

  5. Aa… Part ini mengharu biru banget liat taemin yg udah mulai berani nunjukin rasa sayangnya dia keminho tapi itu istrinya minho mau ngapain taemin sih ganggu 2minnya ajah, ih… Jinki mah gebagah banget emang ga ada cara yg lebih halus gitu buat ngomong kejjongnya kan kasian jjong dia terpuruk banget yah semoga jjong dapet pengantinya kibum

  6. Akhirnya tetem mulai sadar kalu dia ada rasa saam minho.. .. Semoga aja mereka hidup bahagia dan tdk diganggu sama istrinya minho.. ..
    Baca kisah hidupnya jjong pengen nangis… Kasihan banget dia dari kecil tertekan bahkan udah dewasa oun belom bisa menemukan kebahagiaan nya. Dan pasti sangat sakit karena di tusuk dari belakang Oleh sahabat sendiri.. ..

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s