[2min-Onkey/PW ask sanni &viena] Forbidden Love of A Geisha PART 7 of 8


[Onkey-2min] Forbidden love of a Geisha part 7 of 8

Foreword:

Syalalaa.. gue sibuk kerja.. = =”. Ini yeobo gue kasian di tagih.. dan yah gue selesaikan dalam waktu beberapa jam saat libur kerja! Ini panjang banget. Rekor pokoknya. Sama aja ini 2 chapter. Hohoho.. jangan heran banyak kata puitis. Jiwa gue lagi berubah menjadi pujangga. Hohoho… thanks to sista gue atherion Vienna buat kosakata jepangnya. Dan yah selamat menikmati. Doakan saya huks…

~vienasoma~

Annyeong, sumpah, ini gue ketik ulang! Gue nangis” ngadu ke yeobo gara” tulisan sebelumnya belum ke save dan word gue yang stupid menghapus semuanya disaat sudah mau selesai , jadi tulisan kali ini dengan mood yang berbeda. Semoga suka T^T
ps: thnx to Kei eon atas kamus berjalannya :p

Feel free to comments and like
~sanniiewkey~

Pemuda berwibawa terduduk lemas dengan wajah yang dia tangkup dengan kedua tangan. Jemari tangannya mengusap permukaan wajahnya. Memberikan sedikit saja rasa nyaman yang tidak dia dapatkan beberapa hari belakangan. Ada kesedihan dalam lekuk wajahnya. Ada sebening air mata yang hinggap di sudut matanya. Dia mendongak dan melihat langit kamar besar yang dia tempati. Sendiri. Dia mengulurkan tangan kesamping tubuh dan tidak ada yang bisa dia rasakan selain kehampaan.

Tidak ada lagi wanita yang bisa menjadi sandarannya. Tidak ada lagi wanita yang bisa memeluknya memberikan kehangatan dan secercah rasa bahagia.

Matanya memejam pelan. Memberi peluang untuk air mata yang menetes mengalir jatuh membasahi pipinya. Tanganya terangkat menggapai sebuah pigura coklat indah yang berada tak jauh dari sisi kiri tubuhnya. meraihnya dan berusaha menampik rasa yang langsung mengerogoti hatinya hingga berdarah

Sebuah gambar dari wanita yang baru saja mengkhianatinya. Didalam sana tercetak dengan bahagia ketiga wajah manusia yang saling bersahabat. Dia yang melingkarkan tangannya di pinggang wanita tersebut, dia berada di tengah diapit cintanya dan sahabatnya. Jinki dan Kibum. Keduanya tersenyum dan dia juga tersenyum

Jonghyun berusaha menarik bibirnya melengkung membuat sebuah senyuman yang sama persis dengan gambar dirinya yang berada didalam pigura.

“ah…”

Ngilu dan sedikit nyeri. Jemarinya memijit kedua sisi pipinya. Meredam sakit dari usahanya yang membuat bibirnya tersenyum.

“Bahkan senyumpun sekarang aku tak bisa. Kalian terlalu menyakitiku. Merusak rasa bahagiaku. Menghilangkannya bagai angin yang tak lagi dapat ku lihat dan kujangkau. Kalian… kalian adalah sumber dari rasa bahagiaku. Kini setelah kalian juga merusak hatiku, menyakitiku. Aku menjadi tidak mengerti. Aku kembali tidak paham. Apa arti dari kata bahagia… apa artinya… aku tak tahu.. tak tahu.. aku sudah tidak mengerti,..”

Menaruh pigura tersebut dan merebahkan dirinya sendiri. Menikmati kembali kesendirian yang dia rasa. Lama dalam keheninganya yang dalam. Entah sudah berapa hari berlalu dia pun tak ingat. Semenjak kejadian memilukan itu dia menutup diri dalam kamarnya dan mengindahkan semua aspek luar yang menghubunginya. Dia butuh waktu. Butuh memperbaiki retakan dalam jiwanya.

“Kau terlihat sangat menyedihkan Tuan Kim!”

Suara lirih dari seorang wanita. Semakin mendekat kearah jonghyun. Wanita itu menaruh baki yang berisi beberapa makanan di atas sebuah meja besar yang terdapat dalam kamar luar seorang jenderal kim jonghyun.

Menyampirkan kimono tangannya dan memperbaiki letak rambut dan kanzashinya. Wanita itu cantik namun wajahnya muram dan tampak kesal. Memandang jonghyun dengan wajah arogan dan melecehkan.

“Sampai berapa lama kau menjadi sampah seperti ini? kau tidak kembali menangani tugasmu?”

“Bukan urusanmu!”

“Cih.. tentu saja ini urusanku Tuan kim.. aku istrimu dan otoo-sama (ayah) terus menanyakan keadaanmu padaku. Membuat ku harus mengarang cerita!”

“Katakan padanya jika aku sakit.. itu sudah cukup..”

Lelah. Demi apa dia lelah. Semua menghimpitnya dengan kuat, bahkan beristirahat sejenak saja dia tidak di perbolehkan.

“Aku sudah mengatakan seperti itu padanya. Namun seperti biasa tua bangka itu tetap saja menanyakanmu..”

“Dia pasti panik karena anaknya tidak menangani tugas dengan baik. Takut pangkat jenderalku di tarik.. hahahha…..”

Dia mengerti akan hal itu. sudah terbiasa mungkin. Ayahnya hanya perduli dengan keluarga KIM, nama besar yang mereka sandang. Pangkat yang keluarga mereka miliki. Anak pertamanya yang seorang Dokter. Dan dia anak kedua seorang Jenderal besar. Apa yang paling dia perdulikan jika bukan takut salah seorang anaknya kehilangan pangkat? Itu Bisa mencemari nama Kim.

“Kau sangat mengenal si tua bangka itu.. kalian memang punya hubungan darah.. ckckck…”

“Diamlah.. tutup mulutmu. Pergilah sekarang, aku butuh sendiri!”

“Tanpa kau suruhpun aku ingin pergi. Aku hanya ingin memberitahumu jika assitenmu datang dan ingin bertemu denganmu”

“Minho?”

“Bukan.. Aku tidak mengenalnya. Cho jino. Itu namanya! apa dia assisten baru di tempatmu bertugas sekarang?”

“Yah.. seperti yang kau duga! Suruh dia masuk!”

“Cih.. aku bukan pelayanmu Tuan Kim… dan yah…  satu lagi…Aku sudah mentandatangani Surat perceraian yang kau ajukan! Aku sangat berterima kasih padamu. Akhirnya aku bebas tanpa perlu menjadi yang di salahkan. Ini pertemuan terakhir kita Tuan kim jonghyun. sayonara!”

Tersenyum lebar dan penuh kemenangan wanita itu melangkah pergi. Membetulkan letak kimono putihnya. Menggeser pintu terbuka dan mempersilahkan seorang masuk kedalam kamar Jonghyun. Pemuda tampan yang masih kelihatan sangat muda dan wajahnya yang tak lazim untuk seorang pria. Terlalu cantik dan manis.

Pemuda itu membungkuk di depan pintu dan masuk dengan gugup, dia memperhatikan ketika kim jonghyun berdiri dari ranjangnya dan menuju sofa yang berada ditengah ruangan tersebut. Kamar mewah besar dan antik. Kamar yang di dominasi dengan warna coklat.

Jonghyun mendudukan dirinya dengan sopan, wajahnya telah berubah menjadi berwibawa dan tegas. Air mata yang menggenanginya telah hilang. Kini di wajah itu terpampamg topeng tegar dirinya yang lain. Dirinya yang selalu berpura – pura kuat.

“Jadi sepertinya aku harus segera kembali?” tuturnya pelan. Menggeser baki yang sama sekali tidak menarik  selera makannya.

“Tidak Kim – sama! Saya di tugaskan untuk mengecek keadaan anda! Semua orang mengkhawatirkan kesehatan anda. Karena itu saya di kirim kesini..”

Membungkuk lagi dan kini memainkan jemari tangan di balik punggung tubuhnya, dia gugup. Tentu saja dia gugup, berhadapan dengan seorang jenderal besar. Walau selama ini dia sering menemuinya karena dia adalah assisten jonghyun, namun kali ini mereka hanya berdua saja. dia menjadi ciut dan merasa tidak pantas.

“Ah.. begitu kah? Mereka mengkhawatirkanku? Hahahhaa…. Kelihatannya sangat mustahil Jino.. apa kau berbohong.. hmm?”

Matanya menatap pemuda kecil itu. meminta penjelasan karena dia merasa janggal. Tidak mungkin jika bawahannya mengkhawatirkan dia. Yah. Mungkin kecuali Minho. Namun assitennnya itu di tugaskan disini. Tidak menemani dia pergi ke bagian barat jepang.

“Kau berbohong Jino? Aku sama sekali tidak suka siapapun berbohong kepadaku”

Bugh

Pemuda itu berlutut dengan cepat. Membungkuk beberapa kali

“Gomen… Gomen Kim-Sama.. saya.. saya… seharusnya saya tidak datang kesini..”

“Eh… Aku tidak mengerti Jino.. untuk apa kau datang kesini dan berbohong seperti ini. aku ingin mendengar penjelasan yang jujur kali ini..”

Er. Diam dan gelagapan bingung, jino menunduk menyembunyikan wajahnya dan mendongak. Ketika matanya melihat mata jonghyun lagi kepalanya menunduk.

“Gomen.. saya mengkhawatirkan anda Kim-Sama.. gomen!! Saya meminta izin untuk menjenguk anda, berbohong kepada Masumi – Sama mengatakan jika ada berkas yang sangat penting untuk anda Lihat.. Hontou ni gomenasai!”

Kening jonghyun berkerut bingung, pemuda ini sangat membuat dia bingung. Untuk apa dia melakukan itu semua. Sungguh tidak bisa jonghyun percaya jika jino melakukan itu hanya karena rasa khawatir. Itu telalu berlebihan

“Kau mengkhawatirkanku?”

“Hai..(yah)… Gomen Kim-Sama”

“Ah.. tidak apa – apa! Tapi aku hanya bingung kenapa kau begitu terhadapku. Kau baru menjadi assitenku sekitar 2 bulan ini, dan sepertinya kau sangat berlebihan Jino”

“Gomen Kim-Sama… saya benar – benar murni mengkhawatirkan anda”

Melihat kesungguhan dari mata pemuda itu. sedikit merasa hangat di hatinya. Setidaknya ada seorang yang memikirkannya. Yang tulus kepadanya. Namun, yah dia tidak mau berharap terlalu jauh. Dia baru saja merasakan di khianati oleh sahabatnya sendiri.

“Arigato Jino.. itu sangat berarti untukku”

Tersenyum.. yah dia tersenyum. Walau masih terasa ngilu karena wajahnya terasa kaku. Sangat kaku.

“Apa anda baik – baik saja Kim-Sama..”

Eh?

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Senyum anda… senyum anda terlihat sangat sedih..”

Terdiam. Benarkah terlihat jelas? Bukankah dia sedang memakai topeng kebanggaannya? Kenapa bisa ada celah yang bisa membuat orang lain sadar.

“hahaha.. kau pintar sekali bercanda jino.. tentu saja aku baik – baik saja. tidak ada senyum yang sedih.. semua senyum itu pertanda bahagia”

Berusaha tertawa pelan, berusaha berpura – pura. Yah seperti itulah dia. Pemuda yang tidak suka menebar luka di dalam hidupnya.

Jino beranjak berdiri dan pelan melangkah kearah jonghyun, pemuda itu memposisikan diri berada disamping jonghyun, kemudian membungkuk. Jemari kecilnya meraih sudut kiri mata jonghyun. Dan mengusap pelan setitik airmata yang singgah.

“tidak ada senyum yang sedih. Semua senyum itu pertanda bahagia. Jika seperti itu Apa airmata ini juga adalah pertanda anda bahagia karena anda sedang tertawa Kim-Sama?? Tapi kenapa terlihat jika tawa ini seperti teriakan kepedihan dari bibir anda”

Dan kesedihan itu akhirnya menyeruak keluar

Dan Air mata itu akhirnya menampakan diri… mengadu pada sebuah uluran tangan

Merintih pada sesosok yang mengerti

 

Ingin bersandar ketika menemukannya

Ingin merebahkan diri sejenak ketika berhadapan dengannya

 

Kau…

Telah hadir dari ratusan hari yang kutunggu

Kau..

Telah menghampiriku yang telah menunggumu…

“Kim – Sama.. apa yang membuat anda begitu sedih? Apa yang membuat anda begitu menderita?

“Kenapa kau bisa mengetahuinya?”

“Karena aku merasa kita sama Kim – Sama.. saya bisa melihat kesedihan di mata anda karena saya pernah merasakannya. Saya melihat penderitaan anda. Saya bisa melihat semuanya.. anda mengingatkan diri saya ketika saya masih berada di panti asuhan… Kim – Sama.. anda tidak kesepian…. Saya ada untuk menemani anda… berhentilah memperlihat kesedihan anda. Itu menyiksa saya. Dan itu yang membuat saya khawatir”

Aku hanya ingin di cintai tidak lagi di hina

Aku hanya ingin di sayangi tidak lagi di cerca

Aku hanya seonggok raga yang berjalan di antara lautan masa yang tidak mengaggapku ada

Aku hanya sebuah jiwa yang bergerak diantara sekumpulan raga yang tidak menganggapku ada

Masih berharap ada sebuah  tangan yang meraih tanganku

Masih berdoa ada sebuah sosok yang memelukku

Membisikan kalimat terindah yang kuimpikan

 

“kau tidak kesepian”

Jonghyun menarik tubuh mungil pemuda itu. seperti anak kecil yang menemukan ibunya. Dia menangis pelan dan menyembunyikan wajahnya di pundak jino. Perasaan hangat yang menjalar disetiap saraf tubuhnya.

Ada seorang pemuda yang mengkhawatirkannya, yang mengerti tentangnya. Karena mereka sama. Karena mereka mengalami hal sulit tersebut.

Ada seorang pemuda yang melihat dia apa adanya. Yang menerima segala kekurangannya.

Ada seorang pemuda yang membisikkannya. Kalimat indah, kalimat yang dia nantikan dari bibir seseorang jika dia tidak kesepian.

“Saya sangat kagum kepada anda. Saya menyanjung anda. Saya menyayangi anda. Karena itu lah saya kemari. Saya ingin menghilangkan kesedihan anda, saya ingin melenyapkan penderitaan anda Kim- Sama”

Saat pertama kali mata ini memandangmu.

Saat pertama kali sosokmu terlihat bola mataku.

 

Hati ini terjatuh pada kesesatan yang membimbangkan.

Jiwa ini terjatuh pada dosa yang terlarang

 

Mencintai seorang yang tidak boleh di cintai

 

Aku kehilangan akal

Aku kehilangan kewarasan

 

Aku telah di butakan rasa cinta dan sayang

Tidak perduli jika di cerca olehmu

Tidak perduli jka di hina olehmu

 

Aku hanya ingin membisikanmu

Meneriakan rasaku.

 

Aku mencintaimu

Aku ada disisimu

 ~~ FLOAG ~~

“Kau dari mana Minho –sama?”, Minho menoleh, melihat Yuri –sang istrinya, berdiri diambang pintu kamar, dengan kimono tipis dan rambut terurai.

Minho melanjutkan melepas baju seragamnya dan mengacuhkannya, “Aku dari tugas ke luar kota …”, jawabnya singkat. Yuri menatapnya sinis dan berjalan mendekat.

“Tugas …?”, sindirnya, “ … atau kau bertemu dengan wanita penghibur lebih tepatnya, Minho –sama?”, Minho terhenti ketika mendengar hal itu, ia berbalik dan menatap Yuri sekilas.

“Apa maksudmu?”, tanya Minho. Yuri berdecak menyadari akan permainan ‘pura-pura’ bodoh Minho.

“Siapa nama wanita itu? Geisha yang telah membuat mu berbohong padaku dan keluarga hah?”, tanya Yuri, Minho melirik ke arahnya, “Atau tepatnya, siapa nama wanita penghibur semua pria itu, untuk kau supaya lebih —aah!”, Minho menabrak tubuh Yuri begitu saja, tidak perduli dan tidak ingat ia tersulut emosi.

“Jangan sekali-sekali kau bicara yang jelek tentangnya, atau aku—“

“ATAU KAU MAU APA?!”, teriak Yuri menarik lengan Minho dan mendorongnya ke tembok, Minho terkejut akan kekuatannya, “Kau … kau tahu bahwa aku mencintaimu kan Minho –sama?”, jelas Yuri menghimpit tubuh Minho.

“Hentikan …”, jelas Minho menoleh ke arah lain, enggan melihat Yuri, wanita itu merasa direndahkan, tidak sedikit pun, tidak pernah sekali pun Minho menatapnya, dan itu membuat sakit hatinya, kenapa Minho tak mau menatapnya sebentar saja?

“Apa lebih nya dia dariku? Dia hanya wanita jalang yang kau cintai, begitu?”, Minho menoleh, berhasil, hanya itu yang membuatnya menatap Yuri, air mata Yuri sudah menggenang karena kesal, sakit hati, dan juga merasa terbuang.

Minho menoleh ke arah lain lagi, tidak ia rasakan sedikit pun menyesal ketika melihat wanita didepannya menangis, tidak ketika ia jika melihat Taemin yang seperti itu, “Taemin … namanya Taemin.”, jelas Minho, dan Yuri bisa melihat wajah Minho berseri, bahkan hanya menyebut namanya saja, muak rasanya, ia muak pada Minho. “Dan dia bukan wanita jalang …”, Minho melirik tajam ke arahnya.

Yuri menggertakan giginya, ia mencengkram kerah Minho, memaksanya menghadapnya dan dengan paksa ia cium bibir Minho, Minho mendorong bahu Yuri paksa, ia tidak mau membuat wanita tersakiti, maka ia sebisa mungkin menahan emosinya.

“Apa yang kau lakukan?”, tanya Minho dingin, Yuri menarik bajunya dan mencium leher Minho, tidak ia rasakan apapun, ia tahu kenapa Yuri seperti ini , jelas ini karena ia tidak pernah menyentuhnya…

“Kenapa? Jelas aku ingin disentuh oleh mu Minho –sama…”, lirih Yuri, wanita ia beralih tangannya ke belt celana Minho, seraya ia menghimpit tubuh Minho dan merangsangnya dengan ciuman di leher Minho, namun tangan itu segera ditangkap oleh Minho…

“Aku akan lakukan apapun Minho –sama …”, Yuri membuka kimononya, mempertontonkan bagian atas tubuhnya, namun Minho seakan tidak perduli ia menatap ke tembok disampignya dengan datar. “Sentuh aku Minho –sama…” Yuri menggerakan tangan Minho dan membawanya menyentuh payudaranya. Minho menoleh , dingin …

“Berhenti kataku, aku tidak bisa …” jelas Minho dingin, bahkan sudah seperti ini ia tidak merasakan apapun, harus apa Yuri? Telanjang bulat dan menari atau apa, hingga membuat Minho ingin menyentuhnya?. Ia menggertakan giginya.

“KENAPA?!!”, teriak Yuri, “AKU MENCINTAI MU MINHO –SAMA, JUNGKIR BALIK AKU CINTA PADAMU … TAPI …HIKS…TAPI KENAPA KAU MALAH MEMILIH SELALU PERGI KEPELUKAN WANITA JALA—“

BUK!

Yuri terkejut, tubuhnya di balikkan ketembok, dan Minho mencengkram kedua bahunya, menatapnya lekat, terbesit rasa takut pada Yuri karena baru kali itu ia melihat Minho begitu emosi, karena wanita itu kah? Cih … membuat Yuri tambah muak!

“Jangan pernah … kudengar kau berkata buruk tentangnya!”, desis Minho. “Aku pernah katakan padamu, aku TIDAK pernah mencintaimu, aku bahkan TIDAK mau menikah denganmu, seharusnya kau tahu apa konsekuensinya saat kau tetap setuju meneruskan ini. Jelas kau tahu, aku TIDAK menginginkanmu…”, jelas Minho ketus, terlihat rasa sakit hati dimata Yuri, tapi Minho menepis semua rasa simpatiknya, ia tahu jelas itu hanya acting, ia tahu seperti apa Yuri sebenarnya, dia dan keluarganya, hanya perlu status terhormat yang dimiliki keluarga Minho, dan juga …harta Minho.

Minho menjauh dan menarik naik kimono Yuri ke atas tubuhnya, itulah manner yang dimiliki seorang Minho. Kemudian ia mengambil jasnya dan berjalan keluar.

“Tidak!”, rengek Yuri, ia tahan kaki Minho untuk beranjak pergi. “J-jangan … kumohon … jangan pergi Minho –sama …kumohon …jangan pergi lagi …”, lirihnya menangis tersedu memohon dan meminta , Minho masih tidak bergeming, “Kumohon Minho –sama …hiks … aku rela lakukan apapun asal kau bersamaku …hiks … ak-aku mencintaimu …”, lirihnya,

Minho berbalik dan menatap Yuri kasihan, “Kalau begitu, aku minta lepaskan aku, gomenasai Yuri –san, aku tidak bisa mencintaimu, dan biarkan aku pergi bersama Taemin , aku akan jelaskan ini pada orang tua kita …”,

Yuri terbelalak, permintaan macam apa itu? Bukan, bukan seperti itu!! “TIDAK!”, teriak Yuri, “AKU TIDAK AKAN BIARKAN KAU PERGI UNTUKNYA!! Hiks… T-tidak Minho –sama, apapun , asal jangan pergi menemuinya…hiks…”, isak Yuri.

Minho menarik nafas, ia melepas paksa tangan Yuri dan membuat wanita itu menangis sejadinya, “Aku mohon, lepaskan aku Yuri –san, aku mencintai Taemin , aku tidak bisa terus bersamamu, jika ini terus kau lakukan, ini akan lebih menyakitimu…”jelas Yuri.

“Minho –sama!!”, teriak Yuri ketika Minho sudah pergi keluar, meninggalkannya terduduk dilantai, tidak kembali, bahkan tidak berekspresi sedikitpun. Yuri menghapus air matanya, dan menatap geram ke arah pintu, ia mengepal tangannya di kimononya , hingga terlihat buku tangannya menjadi putih.

“Tidak akan kubiarkan …”, desisnya , “Kau akan menyesal Minho –sama, jika aku tidak bisa memilikimu, maka kau juga tidak akan bisa memilikinya…”, desisnya dan berdiri, mengahancurkan ornamen didekatnya, mengamuk sejadinya, harga dirinya tetasa diinjak hanya karena seorang wanita jalang penghibur semua wanita!

~~ FLOAG ~~

“Taemin –san, mau kemana?”, tanya Yuki melihat Taemin memakai kooto(mantel) dan bersiap untuk pergi, Taemin tersenyum dan membereskan penampilannya.

“Aku akan kembali ke rumah, kalau Kibum –san bertanya tolong katakan aku ada disana yah?”,

“Oh, apa perlu aku panggil kan jinriki sanrisha(red:becak Jepang) ? ini sudah malam Taemin –san …”, Yuki berlari dan bersiap mendahuluinya, namun Taemin menggeleng dan menyuruhnya masuk lagi kedalam Okiya.

“Tidak usah, kau istirahatlah, kau harus bangun pagi dan ikut latihan kan? Aku akan jalan kaki saja, jangan khawatir, ini baru jam 10 malam kan?”, tanya Taemin tersenyum, siapa yang bisa menolak senyum itu, Yuki sebagai perempuan bahkan ikut tersipu melihat betapa cantiknya Taemin dibandingkan dengannya.

“Baiklah Taemin –san, hati-hati dijalan.”, Yuki membukakan pintu untuknya, Taemin mengangguk dan menepuk kepalanya sayang, kemudian pergi. Yuki menarik nafas, betapa ia iri pada Taemin, dalam arti positif –ia ingin menjadi Geisha hebat sepertinya dan juga Kibum –san. Dan yang membuatnya beryukur adalah, entah Taemin –san sadar atau tidak, tapi dimata Yuki ia sudah banyak berubah, Taemin yang sekarang lebih sering tersenyum dan senyum itu lebih tulus.

.

.

Taemin mempercepat langkahnya, entah apa yang membuatnya terasa terburu-buru, ia hanya ingin segera menuju rumahnya , sepertinya perasaannya tidak enak. Hanya tinggal satu tikungan lagi rasanya tiba di rumah nya itu. Taemin menggenggam kanzashi ditangannya, kanzashi(tusuk konde) itu ia dapat pertama kali kado dari seseorang, dan itu dari Minho.

Ia tatap itu lama sekali dan tersenyum menggenggamnya erat didadanya, entah kenapa ia berpikir ia ingin sekali bertemu Minho. Ia terkejut ia bisa berpikir seperti itu, mengerutkan alisnya dan menarik nafasnya .. ada apa sebenarnya dengan nya? Kenapa memikirkan Minho bisa membuatnya merasa gugup dan sesak?

Ketika ia mendongak, ia melihat sosok yang sama berdiri tidak jauh dari hadapannya, berjalan ke arah yang sama sepertinya, Taemin terkejut, dan begitu juga sosok didepannya itu, mata mereka bertemu, hawa dingin menghembus disekitar mereka, namun perasaan hangat mengalir seketika. Tatapan mata mereka seakan menggambarkan sesuatu … langkah Taemin perlahan semakin cepat, ia mengangkat kimononya, dan sosok didepannya itu berjalan cepat menujunya, sampai mereka berhenti tepat didepan masing-masing.

“M-minho –sama…”, lirih Taemin, Minho menarik bahu Taemin mendekat, jantung mereka berdegup cepat, hangat dan nyaman … Minho seperti tercekat nafasnya menatap wajah Taemin, ia belai wajah imut itu. Kemudian memeluknya, menarik pinggulnya ke arahnya, meletakan tangan besarnya melingkar di tubuh mungil Taemin.

“Taemin …”, bisiknya, mencium rambut harum nya, bau daun teh menyeruak ke sanubarinya. Bau yang membuatnya nyaman dan tergila-gila. “Taemin … jangan tinggalkan aku…”, lirih Minho mengeratkan pelukannya , wanita itu mengerutkan alis, apa maksudnya? Taemin mulai sesak karena pelukan Minho, namun ia tidak berusaha melepasnya juga.

“Minho –sama—“

“Kumohon … hiduplah denganku … kumohon … aku tidak tahan … aku mau bersamamu saja…”, jantung Taemin berdegup, bersamanya?

“Kumohon … “, ia meletakan keningnya didahi Taemin, menatap dalam kematanya, “Tetaplah bersamaku …”, ia memejamkan matanya, Taemin lemas rasanya, ia ulurkan tangannya dan menarik baju depan Minho. Tidak ada kata yang terucap, hanya memeluknya saja … mereka tidak butuh jawaban.

.

.

Minho membopong tubuh Taemin dengan bridal style, masuk kedalam bilik kamar mereka yang luas, tempat dimana setiap malam Taemin berada jika Minho tidak ada disisinya, sering rasanya ia merasa tempat ini bagaikan rumah sendiri baginya, meski Okiya adalah tempat terakhirnya jika ia suatu saat harus berpisah dengan Minho. Mengingat hal itu, hati Taemin terasa sakit dan sesak, ia eratkan pelukannya di bahu Minho, membenamkan wajahnya ke dada bidang Minho.

Minho letakan perlahan tubuh Taemin di atas kasur, membuat sang geisha cantik itu berdiri dan terduduk. Sedangkan Minho berlutut dihadapannya, memegang kedua tangannya dengan tatapan sendu, mencium tangan itu lembut dan menaruhnya di kedua pipinya.

“Aku mencintaimu Lee Taemin …”, Taemin mengedipkan matanya, mencerna ‘lagi’ kata cinta itu, ia menelan ludahnya ketika merasa Minho semakin dekat ke wajahnya. Minho memindahkan kedua tangan itu untuk melingkar di lehernya, sedangkan ia naik ke atas kasur dan menahan berat tubuhnya di atas tubuh Taemin diantara pinggulnya. Ia tatap mata Taemin, menelan habis kecantikan didepannya, kedua mata yang bisa membuatnya hilang akal dan kedua pipi chubby dengan warna pink yang terbias dari pipinya.

Taemin merasa pipinya memanas ketika ia rasakan Minho bernafas di bibirnya. Ia menahan kedua wajah Taemin kemudian menempelkan bibirnya dengan lembut. Ia menarik ciumannya sesaat sebelum mencium bagian rahang Taemin dan menenggelamkan wajahnya kedalam leher Taemin, meninggalkan bekas disana … malam itu, untuk kesekian kalinya mereka bercinta … dan Taemin tahu , apa yang ia rasakan, hanya tidak bisa ia ungkapkan …

.

.

Taemin membuka matanya merasakan angin berhembus masuk kedalam celah jendela, ia merinding, musim gugur berhembus di tubuhnya, ia rapatkan tubuhnya kebelakang, dan membuatnya terkejut adalah, ia rasakan hangat menembus tengkuknya.

Ia menunduk, tubuhnya polos, dan ia rasakan tangan kekar memeluknya dari belakang, debaran jantungnya mulai lagi, dengan gemetar ia letakan tangannya di atas tangan kekar itu dan menelusupkan jari jemarinya disana… senyum, ia tersenyum …

“Selamat pagi …”, ia terkejut ketika ciuman mendarat di lehernya, tangan kokoh itu membalikan tubuhnya, dan membenamkan kepala mungilnya ke dada bidang nya.

“P-pagi Minho –sama …” jawab Taemin. Minho tersenyum dan mencium pipi Taemin seraya tangannya mengusap kedua pipi nya.

Jika aku bisa meminta satu permintaan …
aku berharap untuk bangun di pagi hari karena nafas mu di leherku…
kehangatan bibir mu menyentuh pipiku…
sentuhan jarimu di kulitku…
dan merasakan debaran jantungmu …untukku…
mengetahui bahwa aku tidak akan pernah merasakan hal ini bukan dari orang lain, tapi hanya darimu…

~~ FLOAG ~~

“Sayuki?”

Jinki duduk di kelilingi ayah dan ibunya. Raja dan ratu korea dan seorang wanita yang merupakan adiknya. Semua kepala yang berada disana menanti lanjutan perkataanya. Sedangkan dia hanya bingung dan melihat satu persatu – satu dari keluarganya. Dia baru saja di kejutkan dengan berita baru. Dia akan di jodohkan dengan Putri Jepang.

Pihak kerajaan jepang telah bertemu sebelumnya dengan pihak kerajaan korea di belakangnya,  mereka semua telah menetapkan rencana untuk mengatur pernikahan mereka. Pernikahan terhebat sepanjang sejarah. Dua kerjaan dari dua Negara.

“Bagaimana bisa kalian melakukan ini dibelakangku?” tuturnya

Kini mereka mengadakan pertemuan keluarga. Tidak perlu berbicara formal. Menggunakan bahasa yang biasa dan bebas. Pria tua perawakan tampan seperti jinki mengambil cangkir yang berada di meja, menghirup aroma teh tersebut dan kemudian meneguknya. Pelan pria itu menaruh kembali cangkir, dan kini menatap kepada putranya.

“Apa kau tidak setuju Jinki? Bukankah Putri Sayuki sangat cantik dan sempurna?”

“Arrayo… Tapi.. aku tidak mencintainya appa!”

“Jinki – ah. Alasanmu menolak selalu saja karena cinta! Appa sudah bosan mendengarnya. Kali ini ikuti saja! semua sudah di atur oleh dewan. Dan kau hanya bisa menunggu”

“Shieroo… mianhe appa! Tapi aku benar – benar tidak bisa menikahinya.. aku mencintai wanita lain. Dan alasan itu juga mengapa aku memanggil kalian kesini. Ingin mengenalkannya!”

Hening. Wanita kecil yang berada disana berdiri dan duduk disamping jinki. Mengalungkan tangan di leher pemuda itu memelukanya erat.

“Akhirnya Oppa jatuh cinta juga!! Nugu? Siapa wanita beruntung itu?”

Melepaskan pelukannya dan mencari – cari mata sabit sang kakak yang kini malu. Keduanya pipinya memerah dan mata sabitnya menyipit tak bisa menyembunyikan senyum lebarnya.

“Aih… jinja.. siapa dia Oppa?”

“Dia-

“Tidak Boleh Jinki.. sampai mati pun umma tidak memperbolehkannya”

Eh?

“Apa maksud umma?”

“Siwon telah bercerita banyak! GEISHA? Apa kau tidak gila?”

Aura bahagia itu menghilang. Adik jinki menatap ummanya dengan heran. Menatap bergantian dari sang umma dan jinki.

“Aku tidak mengerti umma!”

“Dia geisha jinki!! Apa kau tidak mengerti arti itu? Pela-

“UMMA!!!!”

Berdiri. Menggeram marah, tangan mengepal disamping tubuh. Keluarganya menatap heran sikap anarkis yang baru saja dia lakukan. Meneriaki ummanya sendiri? Ini pertama kali sang pangeran seperti itu.

“K-kau.. berani meneriaki umma?”

“Mianhe…”

Kembali terduduk, wajah piasnya dia sembunyikan..

“Mianhe.. tapi tolong jangan menghinanya. Aku tidak akan membiarkannya bahkan jika itu umma..

“ha? Jinki-ah.. kau.. ommo… kau.. kenapa bisa menjadi seperti ini? apa karena wanita itu?”

“Dia punya nama umma! Kim Kibum.. dia wanita yang kucintai dan akan kunikahi..”

“TIDAK BISA! Kau akan menikahi sayuki.. itu final Jinki – ah”

“Appa.. anda pasti mengerti perasaanku..”

Pria itu hanya diam dan mendengarkan. Tentu saja dia mengerti. Bagaimana rasanya jatuh cinta, bagaimana mencintai.

“Kita tidak ditakdirkan memilih dengan siapa kita akan menikah jinki – ah.. dulu kau bisa menolak. Tapi sekarang dengan usiamu yang sekang kau hanya bisa menurutinya.”

“Aku hanya akan menikahi Kibum..”

“JINKI…”

“Itu keputusanku…”

Berdiri dan berbalik arah, membuka pintu dan keluar dengan berlari kecil. Dia ingin bertemu dengan cintanya. Dia ingin bertemu dengan kibum.

Mengambil jasnya yang tergantung di depan pintu, memakainya. Dan membuka pintu masuk dengan lebar.

“Anda tidak boleh keluar Pangeran Lee”

“Pergi dari jalanku”

“Maaf kami tidak bisa”

Jinki mencoba menerobos beberapa orang yang tengah menghalanginya. Tanganya di piting kebelakang dan dia disudutkan. Mencoba meronta namun tetap saja itu semua percuma. Kekuatanya tidak sebanding dengan beberapa orang yang menahannya.

“Akh… lepas…”

Lagi meronta. Sial. Tenaganya bahkan tidak ada apa – apanya dengan mereka semua. Kibum. Dia ingin bertemu dengan kibumnya. Dia ingin bertemu

“Kibum…

~~FLOAG~~

Taemin tersenyum pada siapa saja yang menyapanya, dan Minho yang memang sangat posesif mengapit tangan Taemin erat, seakan memancarkan dari matanya bahwa sosok cantik disampingnya hanya miliknya seorang.

Langit musim gugur sangat cerah sore itu, udara dingin menerpa rambut Taemin, membuatnya terlihat cantik, daun momiji berguguran.

“Kita mau kemana?”, tanya Minho, Taemin menoleh dan tersenyum.

“Kita akan ke festival aki matsuri … aku akan menghadiri pejamuan minum teh disana ..”, jelsa Taemin, Minho tersenyum.

“Benarkah? Pantas kau terlihat sangat cantik malam ini …”, Minho mencubit pelan pipi Taemin, sang wanita menunduk dan menutup bibirnya saat tersenyum. Kemudian matanya melihat ke arah depan, Minho menangkap apa yang Taemin lihat disana … ia menarik tangan mungil itu dan membuat mereka berjalan ke sana.

“Kau mau?”, tanya Minho,

“Hah?”, Taemin mengedipkan matanya,

“Harum manis, kau mau beli? Akan kubelikan…”, Taemin terkejut, sejak kapan ia tidak makan itu? Lupa rasanya, jadi ingat saat kecil dulu ia sering membelinya, sebelum ia…

“Taemin?”, ia menoleh, melihat Minho menatapnya khawatir, Taemin menunduk dan menggeleng, ia menarik tangan Minho untuk pergi dari sana, Minho merasa ada yang berubah dari tatapan Taemin, namun ia tidak menanyakannya.

.

.

Minho duduk bersila, meneguk tehnya dengan perlahan dan matanya menatap tajam ke arah Taemin yang dengan anggunnya memberikan pertunjukan upacara teh dengan baik. Berbeda memang jika kau berada dari didikan Geisha ternama …

Disisi lain, Taemin tahu ia menjadi pusat perhatian, namun satu yang membuat ia tiba-tiba merasa gugup dari sekian banyak orang yang menatapnya, mata bulat penuh dan tajam itu membuat tengkuknya merinding seketika. Ia mendongak, dan menatap mata Minho, mata mereka bertemu, saling menatap sesaat, sebelum Minho tersenyum dan Taemin memutuskan untuk berkonsentrasi lagi.

“Teh buatan mu enak, sama seperti dulu …”, jelas Minho duduk disampingnya, menatap bukit didepan mereka. “Kau kedinginan?”, tanya Minho, Taemin menggeleng , namun ia membuka jas besarnya dan mendekat ke arah Taemin.

“M-minho –sama..j-jangan…nanti kau kedingin—“, Minho menutup bibir Taemin dengan jarinya, dan yang membuat Taemin terkejut adalah Minho menunjukan harum manis didepan wajah Taemin, membuat sang wanita terbelalak.

“Jika kau mau, kau cukup katakan padaku …”, jelas Minho. Taemin mengangguk dan menerima harum manis itu.

“Arigatou gozaimasu…”, bisik Taemin, dan perlahan memakannya, manis … ia sangat suka rasanya, Minho berdecak melihat pipi Taemin tersipu hanya karena memakan manisan itu.

Saat Minho serius menatap wajah itu, mereka dikejutkan dengan bunyi kembang api di depan mereka, menandakan puncak perayaan festival, kembang api indah sebanyak 30.000 buah bertebaran.

“Cantiknya …”, Taemin bergumam, Minho menoleh, seakan tahu ia ditatap seperti itu oleh Minho , Taemin menatap Minho …

Tatapan Minho turun ke hidung, dan bibir plum Taemin, mengulurkan tangannya disana dan mengambil serpihan manisan dengan jarinya, sebelum memasukannya ke mulutnya sendiri. Hal itu membuat Taemin malu …

“Kau lebih cantik …”, puji Minho, perlahan jarak mereka tertutup , seakan semuanya sepi, Taemin tidak bisa mendengar suara apapun, hanya suara debaran jantungnya yang terdengar, mulut itu tidak bisa berkata apapun meski ingin … perlahan ia memejamkan matanya dan memiringkan sedikit wajahnya, menyambut ciuman lembut Minho.

.

.

Mata mereka saling bertemu, dan membuang wajah mereka karena malu, layaknya baru bertemu mereka terlihat sangat kekanakan. Minho mengusapkan jarinya di permukaan tangan Taemin , merasakan hangat menerpa kulit mereka ditengah cuaca malam itu.

Namun, langkah Taemin membuatnya berhenti seketika, ia melihat perubahan mimik di wajah Taemin.

“Kenapa?”, tanya Minho membelai wajahnya, Taemin tidak menjawab, ia melepas tangan Minho dan mengangkat kimononya ke atas, berlari ke depan rumah mereka. Minho terkejut, dengan cekatan ia berlari setelah Taemin.

“Taemin apa—“, wajahnya mungkin sama terkejutnya dengan wajah Taemin sekarang.

“I-ini …”, Minho menangkap tubuh Taemin yang terhuyung kebelakang karena shock. Matanya melihat kesekitar, pintu depan rumah mereka hancur, halaman rumah mereka berantakan.

Taemin berlari masuk, disusul dengan Minho, semuanya hancur , perabotan pecah belah, pintu kayu, serta segala barang telah rusak berhamburan, dapur, semuanya … Minho mengepalkan tangannya, siapa yang berani melakukan nya? Ia melihat Taemin masuk kedalam kamar mereka, ia menyusulnya, keadaan disana sama parahnya, bahkan seluruh isi shikibuton terurai semua kapasnya.

“Taemin …?”, ia melihat Taemin terduduk dilantai, memungguninya.

“S-siapa … siapa yang tega berbuat seperti ini?”, lirihnya, Minho bergidik, jangan menangis, ia mohon, semoga Taemin jangan menangis, ia tidak tahan melihatnya.

“Taemin, sudahlah … kita akan membereskannya…”

“T-tidak bisa …”, lirih Taemin, menoleh ke arah Minho , “Kenapa ada yang tega … ini semua pemberianmu Minho –sama…”, Taemin menunduk, dan ketika Minho melihat apa yang ia genggam, Minho terkesiap. Kanzashi, itu kanzashi pertama pemberiaan Minho, dan Taemin masih menyimpannya, bahkan, sekarang ia menangisi barang yang bahkan sederhana itu.

“Sssht … Taemin … daijoubu … kita akan perbaiki semuanya, tenanglah…”, Minho menarik Taemin kepangkuannya dan memeluknya, ia menangis sambil terus mencengkram kanzashi itu dengan erat di dadanya , Minho meraih tangannya dan terus memeluknya, mencium pucuk kepalanya,sambil matanya menerawang kesemua sudut rumah, siapa yang berani seperti ini? Mungkinkah …

~~FLOAG~~

BRAK!!!

Minho masuk dengan tergesa-gesa dan penuh emosi, ia masuk begitu saja melewati para pelayan yang mencegahnya masuk.

“Jangan Minho –sama … Yuri –san sedang sakit…”, pinta pelayannya,

“MINGGIR!!!”, teriak Minho dan cukup berpengaruh untuk membuatnya menyingkir. Ia membuka pintu kamar dengan kasar dan masuk kedalam, melihat Yuri yang sedang menyisir rambutnya terkejut.

“Minho –sama?”, ia terbangun senang, namun Minho menatapnya sengit. “Kau pulang? Aku merindu—“

“Apa yang kau lakukan?!”, Minho memundurkan badannya, Yuri menatapnya tidak mengerti.

“A-apa?’, tanya Yuri bingung, ia maju selangkah, “Minho –sama? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti ..?”, ia berjalan lagi , namun Minho memundurkan badannya. “Minho –sama? Kenapa kau menghindariku? Kau tidak mau kusentuh? Kau tidak kasihan padaku? Aku sudah  menunggumu untuk kembali, tapi begini perlakuanmu?” tanya Yuri meremas dadanya.

“Kau jangan pura-pura Yuri –san, aku bertanya padamu, apa kau yang lakukan semua itu?”, tanya Minho. “Kau kah yang menyuruh orang menghabiskan rumahku dan Taemin?”,

Wajah Yuri berubah , jadi begini, jadi itu maksudnya Minho datang, hanya perduli dengan semua itu? “Tidak.”, jelasnya. Minho mendengus. “Tidak! Aku tidak lakukan itu, kenapa kau tega sekali? Seharusnya kau percaya padaku …” jelas yuri mendekat. Minho menatapnya singit menyuruhnya mundur.

“Benarkah? Kalau begitu ikut aku.”, jelas Minho. Yuri masih diam ditempatnya, “IKUT AKU!”bentak Minho. Yuri terkejut, dan berjalan dibelakang Minho.

Dan ketika mereka sampai didepan pintu rumah, Yuri terkejut, menatap horror pada sosok yang terduduk dan biru lebam disekujur wajahnya.

“Katakan, apa kau kenal dengannya?”, jelas Minho bertanya pada pria didepannya dan menunjuk ke arah Yuri. Yuri menatap pria itu singit,seakan ingin menelannya. Minho yang tahu akan eye contact itu menoleh, ia menatap Yuri sejenak.

“Katakan … atau kau tahu apa akibatnya jika kau berbohong padaku..”, jelas Minho, pria itu terbelalak.

“J-jangan Minho –sama! K-kumohon jangan!!”, jelasnya, Minho menatapnya dingin. “S-saya … “, pria itu menunduk dan kemudian membungkuk maaf. “Maaf Minho –sama…saya hanya disuruh, tolong ampuni saya … saya hanya menuruti kemauan Yuri –san, k-kalau tidak keluarga saya akan susah, t-tolong saya Minho –sama, jangan hukum saya, kasihan keluarga saja, anak saya masih kecil …”, jelasnya sang supir Yuri dan Minho itu.

Minho melihat ke arah Yuri, wajah Yuri sekarang pucat, ia menatap ke arah pria itu dengan geram, tangannya mengepal kencang, ketahuan semuanya. Minho menarik nafas.

“Pergilah …”, jelas Minho dingin pada pria itu, “Bangun dan pergilah…”, pria itu menatap Minho bingung. “Jangan khawatir , keluarga mu aman di atas jaminanku.”, ia melihat ke arah Yuri menyindirnya.

Kemudian hening di antara mereka, “Kau …”, Yuri bergidik mendengar suara Minho.

“Gomenasai Minho –sama…gomenasai…”, ia berlutut memeluk kaki Minho, meletakan pipinya di kaki Minho, menangis kencang. “J-jangan marah, a-aku khilaf … ak-aku tidak akan lakukan ini lagi, jadi kumohon, jangan pergi dariku, aku janji, aku tidak akan mengganggu Taemin jika kau tetap berada disisiku…”, isaknya. Minho menatap dingin ke arah Yuri.

“Tidak bisa.”, tegasnya, Yuri menatapnya bingung. ‘Aku akan katakan pada Ayah dan Ibuku, kalau aku ingin mengakhiri pernikahan ini denganmu…”, jelas Minho.

“Mi-Minho –sama!”, pekik Yuri.

“Apa?!”, teriak Minho . “Sudah jelas rasanya, kau berani berbuat kejahatan, kau telah melanggar aturan privacy seseorang, kau tahu? Itu bukan rumahku, itu rumah Taemin! Dan kau beraninya berbuat begitu karena rasa cemburumu?!!” jelas Minho.

“Dengarkan aku Yuri –san. Aku tidak mau kau terus tersakiti oleh ku,karena jelas aku ingin hidup dengan Taemin, dan kau tahu aku mencintainya, bukan mencintaimu. Jadi, aku tidak mau kau terus seperti ini, lebih baik, kita sudahi saja pernikahan kita…”, jelas Minho. Yuri menggeleng dan menangis, namun Minho seakan tidak perduli.

FLOAG~

Taemin menarik nafas, setidaknya rumahnya sudah rapih setelah menerima bantuan dari pelayan yang dimintai tolong oleh Minho. Taemin melirik kepintu masuk rumah mereka, kenapa Minho belum kembali juga? Ia melihat jam didinding, sudah pukul 6 malam, dan seharusnya Minho sudah kembali dari kantornya?

Ia mengangkat bahunya dan memutuskan untuk memasak makan malam, jika Minho kembali, maka ia bisa langsung makan. Ia ingat pagi itu ia terbangun dan berada dipelukan Minho, semalaman Minho menenangkannya, dan semalaman pula ia tertidur di pangkuan Minho dalam keadaan duduk. Oleh karena itu, ia ingin menyiapkan makanan lezat untuk Minho sebagai ucapan terima kasihnya …

Ketika ia sedang asik memasak, ia mendengar pintu depan terbuka, dengan tersenyum ia mematikan kompornya dan berjalan kedepan. Namun ketika sampai didepan ia tidak melihat siapapun, meski ia dengar dengan jelas ada orang yang masuk. Ia melihat ke luar jalanan, tidak ada siapapun … mengerutkan alisnya dan kembali masuk.

BRAK!!

“Kyaaa~~!!”, Taemin terkejut ketika kerah belakang kimononya di tarik kebelakang, membuat ia terjengkang dan membentur tembok.

“Kau…!!”, teriak sebuah suara, ia membuka matanya dan terkejut, gemetar ia rasakan menatap takut ke wajah didepannya.

“Dasar wanita jalang!! Pelacur sialan!! Apa yang bisa membuatmu jauh lebih unggul dariku dimatanya? Apa? Kau melakukan apa sampai dia sama sekali tidak meliriku? Sampai tidak mau memandangku”, wanita berkimono biru indah dengan ukiran elang disepanjangnya. Memojokan taemin dengan tanganya yang mengacungkan sebuah samurai panjang.

“S –s –saya tidak mengerti n –n –nyonya!!” Taemin mendorong  tubuhnya hingga ke dinding dibelakangnya, menatap takut pada ujung samurai itu, dan pada wajah perempuan didepannya!.

“Kau… kau telah merampasnya dariku! Dia.. dia selalu menyebut namamu dalam tidurnya, selalu memimpikanmu. Dan mengacuhkanku!” sengitnya , Taemin masih tidak mengerti, keringatnya menetes karena takut.

Taemin hanya diam. Berusaha menyeret tubuhnya kesamping. Hanya satu tujuannya. Pintu yang bisa membuatnya melarikan diri.

“Semenjak pernikahan kami dia tidak pernah memandangku dan selalu membelakangiku. Dan…” menjambak rambutnya. Membuat beberapa permata yang menghiasi rambut Taemin terjatuh. “Dan kau bisa bayangkan. Dia sama sekali tidak pernah menyentuhku.. SAMA SEKALI TIDAK PERNAH!!!” gelegarnya penuh amarah.

Taemin menciut takut.

“KAU TAHU? DIA BAHKAN MAU MENCERAIKANKU HANYA KARENA WANITA JALANG SEPERTI MU!!!”, bentaknya menarik lebih kuat rambut Taemin, serasa ingin tertarik sampai akarnya, Taemin meringis dan menangis kesakitan …

“JANGAN MENANGIS!!” BRUK

Taemin beringsut ditempatnya, menutup mulutnya menahan tangis, “Kau pikir jika kau menangis, dia akan datang padamu?begitu?”, desis wanita itu menatapnya dari jaraknya dengan geram, melihat mata Taemin yang bening itu ia jijik, melihat tubuh mungil yang gemetaran itu ia muak, jadi … wanita seperti ini yang Minho suka? Wanita ini yang ia rela lakukan apapun? Bahkan ia rela dianggap rendah karena rela menikahi seorang Geisha?. Semua itu membuat Yuri muak dan geram …

“KAU….!!”, Yuri berteriak. “AKU AKAN MEMBUNUHMU… AKU AKAN MEMBUNUHMU KARENA MEMBUATKU MENDERITA SEPERTI INI?!!!” wanita itu mengangkat samurainya tinggi. Mengarahkannya pada tubuh taemin yang bergetar takut …

“K-kyaaaa~~~!!

SRET

Darah menetes dengan deras … Taemin tidak rasakan apapun ketika ia dengar tebasan samurai itu menggema …

BUGH

Sebuah tubuh terjerembab jatuh … tepat didepannya, di depan tubuhnya… Taemin tidak percaya akan penglihatannya, sosok pria itu melindunginya, dengan gemetar ia menahan sosok itu…

“A-aaakkhhh…..” Wanita itu berteriak dan berlari keluar.

“M –m –minho –sama …” Taemin meraih tubuhnya , ia bergetar takut. Mengapai tubuh Minho yang bermandikan darah, keluar dari punggungnya …

“K -kau tidak apa – apa? A –apa dia menyakitimu?” tanyanya berusaha tenang. Masih sempat kawatir dengan Taemin? Sedangkan tubuhnya luka dan kesadaranya hampir hilang. Jantung Taemin berdebar cepat … tidak …jangan begini akhirnya …

“Dia tidak sempat melakukan apa – apa kepadaku Minho – sama! Tapi anda… luka anda harus segera diobati! Saya akan memanggil orang!” Taemin ingin beranjak dari duduknya namun gerakanya terhenti ketika dia merasakan kimono depannya nya di tarik untuk kembali pada duduknya yang semula.

“S -sudahlah tidak perlu! Uhuk….” Darah segar keluar dari bibir minho “T -tetaplah disini… temani aku…” Minho menarik baju depan Taemin, darah sudah merembes basah kepaha kimono Taemin

“Tidak boleh… anda harus bertahan. Izinkan saya pergi sebentar.. saya mohon Minho- sama?”

Khawatirkah? Benarkah? Setelah sekian lama kau memperlihatkan kepedulianmu pada lelaki yang mati – matian mengharapkan cintamu.

Hangat. Dan menyenangkan ketika rasa bahagia itu menelusup masuk dalam rongga hati Minho. Sudah ada cintakah untuknya?

Tanganya mengangkat. Dan membelai wajah wanita yang menatapnya.

“Aku tidak pernah sebahagia ini! Tidak saat aku diangkat menjadi tangan kanan jenderal, tidak saat aku berhasil memenangkan perang! Ini jauh lebih membahagiakan dari apapun yang pernah kurasakan!”, Minho menarik wajah Taemin mendekat.

“Melihatmu yang akhirnya memperdulikanku dan mengkhawatirkanku! Apa aku bodoh jika sekarang aku mengatakan jika aku sangat bahagia dan bersyukur walau kutahu aku menerimanya ketika harus merelakan nyawaku untukmu?”  semakin banyak darah yang keluar dari mulut dan tubuhnya …

“Aku sangat mencintaimu lee taemin.. taeminku yang malang. Taemin yang selalu sedih..  aku sangat mencintaimu!” Minho menarik wajah Taemin, Taemin memejamkan matanya, tangisnya keluar, ketika ia menciu bibir Minho yang semakin dingin itu …

Minho menatap Taemin yang menangis, menghapusnya dengan jarinya. Ia menggeleng lemah sambil tersenyum. “M-minho sama …”, tangan Minho melemas, Taemin menahannya dengan tangannya untuk tetap berada di pipinya. “MINHO –SAMA!!”, teriak Taemin, ia memeluk tubuh Minho. “A-aku …aku …”, kenapa sulit sekali Tuhan? “A-aku …jangan …kumohon …aku …men—cintaimu …” PLUK. Taemin terkejut , tangan itu terjatuh di pangkuannya,

“M –Minho –sama … Minho –sama …”, Taemin menggucang tubuh minho dengan kasar beharap dia ada sedikit pergerakan “MINHO –SAMA … AKH… HUKS… HIKSS… JANGAN PERGI… HIKS… MINHO –SAMA !!”

Ketika cinta itu telah pergi
Ketika cinta itu telah tiada
Dan ketika cinta itu meninggalkanmu
Saat itu barulah hati ini tersadar

Saat itu barulah jiwa ini terbuka
Ternyata kau juga mecintainya….

 

~~FLOAG~~

 

Wanita berkimono biru dengan ukiran ukiran sakura merah muda menatap langit dibelakang taman Okiya. Matanya tertutup tajam. Telinganya mendengar. Suara hembusan angin hilir mudik. Menyapu segala benda yang di lewati di padu dengan suara shimasen dan canda tawa di dalam okiya. Nafasnya menarik udara dengan berat.

Kibum membuka mata, sinar mentari sore sedikit membuatnya silau. Menamengi dengan tangan kiri. Matanya terpejam lagi. Memundurkan langkah demi langkah. Dan membuka mata.

Angin tolong sampaikan rasa rinduku padanya

Bisikkan jika aku ingin bertemu dengannya

Teriakan jika aku ingin melihatnya

 

Aku seperti mayat berjalan

Aku seperti boneka buatan

 

Tubuh ini tak lagi merasa apapun

Raga ini bergerak sesuai naluri

 

Aku tak tak bisa tanpanya

Aku bisa mati tanpanya

“Jinki… jinki… jinki… jinki…..”

Sudah 3 hari semenjak kejadian dengan Kim jonghyun. Dan 5 hari setelah itu dia tidak bertemu dengan jinki lagi. Pemuda itu berjanji akan membawanya bertemu dengan kedua orang tuanya 7 hari yang lalu, namun kini kabar pun dia tak tahu. Kemana jinki, apa yang dia lakukan, kenapa tidak pernah datang ke Okiya seperti biasanya

Memeluk tubuh dengan tanganya sendiri, membayangkan kehangatan jinki yang biasa dia rasakan. Rindu. Rindu dan rindu. Tak tahu kah jika wanita ini menghabiskan malamnya dengan menangis haru. Dia selalu memimpikian sosok jinki. Menyebut namanya dalam tidurnya. Dia lemah tanpa pria itu, dia tidak ada apa – apanya

“Oka-san…”

Menoleh kebelakang menatap seorang maiko kecil membungkuk kepadanya

“Nani (Apa) ??”

“Ada Tamu yang ingin bertemu dengan anda!”

“Siapa?”

“Saya juga tidak mengenal mereka Oka-san. Tapi aku mendengar jika mereka dari Kerajaan Korea”

.

.

.

Terlihat gugup. Kibum memandangi sesosok wanita anggun dengan baju kebangsaan ratu Korea HWANGWONSAM merah dengan warna biru dan kuning yang menyertainya. Disampingnya duduk gadis mungil dengan hanbok putih dan rambutnya yang terhiasi Binyeo (tusuk konde). Keduanya mengamati kibum dengan lekat. Dari kepala hingga bagian ujung kakinya yang tertutup.

Kibum berusaha sebisa mungkin memunculkan jiwa Geisha yang selalu di banggakannya. Aura seorang wanita seni yang terhormat. Dia tidak akan sudi untuk di lecehkan.

Seorang pria berbicara kepada ratu tersebut dan mereka menggunakan bahasa korea yang tidak di mengerti oleh kibum. Jadi fungsi pria itu adalah penerjemah

“Ratu mengatakan apa anda yang bernama Kibum?”

“Hai.. saya Kibum”

Pria tersebut memberitahunya. Dan wanita itu kembali melihat terperangah. Mungkin dia sedikit mengerti kenapa putranya begitu tergila – gila dengan sosok ini. cantik dan mempesona. Wajah mungil dengan mata tajam. Bibir merah tanpa pemerah. Kulit putih dan bersih bahkan bercahaya. Dia bahkan sebagai seorang wanita merasa ciut akan kecantikannya

“Neomo Yeopoh…” celetuk wanita manis di samping ratu. Kibum mengerti, karena kata – kata itu sering di ucapkan jinki kepadanya

“Kamsahamnida…” Ucap kibum

“Anda bisa berbahasa korea?” sahutnya lagi..

Kibum diam dan melirik kepada pria penerjemah. “Dia mengatakan apa anda bisa berbahasa korea?”

“Tidak.. saya hanya mengerti apa yang dia katakan sebelumnya dan tahu harus membalasnya seperti apa!”

Pria itu berbicara lagi. Kini tampak serius dan sedikit fokus.

“Ratu mengatakan jika kedatangannya kesini untuk memperingati anda agar menjauhi putranya. Tidak lagi menggodanya dan menyesatkanya. Dan…

Membeku dalam duduknya. Jadi ini reaksi orang tua jinki terhadapanya? Hah. tentu saja. dia sudah bisa menduganya. Harapan itu ternyata benar sia – sia . Dia terlalu menjadi pemimpi ulung yang tidak tahu diri. Kibum menatap pria itu dan menuntut kelanjutan kata – kata ratu.

“Dan?”

“Dan tolong berkaca siapa anda dan siapa Pangeran Lee. Anda hanya seorang rakyat biasa dan terlebih lagi penghibur. Anda tidak pantas untuk putranya. Jangan bermimpi untuk menjadi bagian keluarga kerajaan. Anda sama sekali tidak di terima… seperti itulah yang ratu katakan. Maafkan saya, saya tidak bermaksud menyinggung anda Kibum – san. Ini murni dari ratu.”

Hah. menahan air mata yang ingin tumpah. Menahan rasa sakit hati yang kini dia rasa. Tangannya mengepal dan mengenggam ujung kimono dengan erat. Sakit.

“Hanya itu?”

“Ratu ingin anda tidak menemui pangeran Lee lagi. Tolong jangan terima Pangeran dalam okiya ini. itu bisa merusak citranya. Ini semua demi kebaikan anda dan pangeran”

“Lalu bagaiman jika aku menolak??”

Pria itu berbicara lagi kepada ratu. Kemudian setelah selesai wanita paruh baya itu melotot. Dia mengebrak meja yang ada dihadapannya, membuat cangkir dan mangkok berbunyi nyaring dan beberapa air tehnya tumpah. Selanjutnya ratu meneriaki kibum dengan kata – kata yang sama sekali tidak di mengertinya.

“apa yang ratu katakan?”

“Dia…”

“Katakan padaku..”

“Kau.. pelacur sialan. Wanita murahan. Wanita penggoda, berani sekali. Kau tidak tahu berbicara dengan siapa.. kau hanya akan merusak hidup pangeran, apa kau tahu apa yang dilakukan rakyat korea jika tahu pangeran mereka menikahi seroang Geisha? Pangeran akan di hina dan di cerca, pangkatnya akan di hilangkan dan dia akan di asingkan. Itu yang kau inginkan?”

Menunduk. Benarkah seperti itu? di hina? Di cerca? Pangkatnya di hilangkan dan di asingkan? Sebegitu besar akibat dari cinta mereka?

Tak ada air mata disana. Tak ada karena dia begitu terdidik untuk menyembunyikan kesedihannya. Dia hanya memandangi ratu dengan tenang. Biarkan saja  dihatinya ada badai. Bergemuruh dengan dasyat.

“Saya mengerti..”

.

.

.

.

“Minggir jika kalian tidak ingin mati?”

Menodongkan sebuah pistol kepada semua pengawal yang menjaganya. Jinki bergerak pelan menuju pintu keluar. Semua merapat dan menyingkir dari ujung pelatuk yang di todongkan oleh jinki. Pemuda itu membawa tas besar di belakang tubuhnya.

BLAK

Pintu terbuka dan jinki segera belari keluar.

Pengawal tersebut langsung bergerak mengikuti jinki. Pemuda itu berlari di jalan lapang yang sunyi, entah ini sudah pukul berapa. Jalan begitu tampak lenggang. Dia bersembunyi di balik sebuah stand takoyaki. Menunggu pengawalnya lewat dan kemudian begitu pengawal tersebut berlari di arah yang salah jinki  berbelok. Berlari kencang lagi dengan nafas yang hampir habis.

Kakinya melangkah besar. Tas yang dia bawa lumayan memberikan beban padanya. Tas yang berisikan beberapa pakaian yang bisa dia kenakan. Mungkin terdengar pengecut. Tapi dia berniat membawa lari kibum. Tidak perduli dengan semua keluarga kerajaan. Persetan dengan itu semua. Dia ingin hidup bersama dengan kibum.

DOK

DOK

DOK

Mengetuk dengan kuat. Menunggu hingga seorang maiko datang dan membuka pintu untuknya. Jinki memaksa masuk dan menerobos, sempat menyenggol pundak maiko mungil itu hingga meringis

“Gomen” lirihnya buru – buru.

Kemudian berjalan cepat di sepanjang jalan menuju kamar kibum. Nafasnya memburu dan tak henti – hentinya dia menarik naik tas yang beberapa kali melorot dari pundaknya.

Kamar yang masih terang benderang. Kibum belum tidur. Jinki membuka pintu dan mendapati wanita cantik dengan rambur tergerai terduduk didepan sebuah meja rias. Kibum menoleh.

“Kemasi barangmu dan kita pergi dari sini”

Jinki mendekati laci tempat di mana kimono – kimono kibum di simpan. Mengambil sebuah kain sutra besar dan menaruhnya di lantai kemudian mengambil satu – persatu kimono milik wanita yang dia cintai.

“Bantu aku Kibum,, kita harus bergerak cepat”

Jinki mendongak dan kegiatannya terhenti. Kibum membungkuk di hadapannya. Bersujud dan menangis.

“Ada apa?”

“Cukup… Cukup sampai disini saja. lebih baik anda segera kembali. Saya tidak ingin ada keributan didalam okiya”

“Apa maksudmu kibum? Apa kau marah karena aku baru datang kepadamu sekarang? Maafkan aku. Aku di kurung dan tidak boleh keluar. Mereka memenjarakanku.. dan akhirnya hari ini aku berhasil melarikan diri, dan aku berniat membawamu lari bersamaku. Kita akan pergi jauh. Pergi disuatu tempat yang tidak bisa mereka raih.. karena itu kumohon.. kumohon bergerak lah cepat. Kita tidak punya banyak waktu”

Menggeleng kuat dengan airmata yang berurai. Wanita itu telah berniat. Yah. Semua akan dia akhiri sekarang. Cukup rasa bahagia yang dia kecap beberapa bulan belakangan ini, itu sudah cukup untuk menjadi kenangan berharga seumur hidupnya. Dia akan melepaskan jinki sekarang. Di hina? Di cerca? Pangkat di hilangkan dan terlebih lagi akan diasingkan. Apa dia akan bersikap egois? Tidak akan! Dia tidak mungkin membiarkan jinki di perlakukan seperti itu. seluruh rakyatnya akan menuliskannya dalam sejarah jika pangeran mereka menikahi  geisha. Kibum tidak ingin seperti itu. dia ingin jinki hidup dengan baik. Hidup dengan sempurna. Tidak ada derita bagi pria itu, tidak boleh ada.

“Saya tidak akan ikut dengan anda! Terserah anda jika ingin pergi, tapi saya akan tetap berada disini.”

Eh?

“Apa maksudmu Kibum? Aku tidak mengerti??”

“Kita akhiri saja jinki. Cukup sampai disini.. saya tidak bisa lagi berada disisi anda!”

“jangan bercanda Kibum..”

“Tidak!!! saya tidak bercanda.. silahkan pergi dari sini.. mulai hari ini anda tidak di terima lagi oleh Okiya ini Pangeran Lee”

Terperangah. Meyakinkan diri jika telinganya baru saja mendengar jika wanita itu telah memanggilnya dengan embel – embel pangeran

“Pangeran Lee? Kau memanggilku seperti itu Kibum?

“Yah.. ada yang salah? Anda seorang pangeran dan saya seorang rakyat biasa. Sudah seharusnya saya memanggil anda seperti itu”

Ada yang salah. Kenapa semua tiba – tiba berubah. Bukankah mereka sudah mensepakatinya.

“Apa ada yang kulewatkan selama aku di kurung. Apa Keluargaku menemuimu? Kibum.. kumohon.. jangan perdulikan mereka.. bukankah kau mencintaiku?”

Menunduk menyembunyikan wajahnya dan linangan airmatanya. “Saya.. saya.. tidak mencintai anda.. itu hanya perasaan sesaat.. tolong lupakan saya…”

Mengigit bibir bawahnya hingga perih. Tetap menundukan wajahnya. Dia tidak ingin jinki melihat pias wajahnya.

“Kumohon jangan bercanda kibum..”

“saya.. sa- saya tidak bercanda Pangeran Lee..”

Aku lebih memilih menderita dari pada melihatmu menderita

Aku lebih memilih menangis dari pada harus melihat tangismu

 

Jalanku

Ini jalanku untuk mencintaimu

 

Caraku

Ini caraku untuk menjagamu..

 

“Katakan sekali lagi kau tidak mencintaiku dan tatap mataku”

Suara tegas yang menyayat hati. Suara pilu terdengar merintih. Jinki menjatuhkan tas yang dia sandang, mendekati kibum dan menarik wajah wanita itu agar menatapnya

“Katakan jika kau tidak mencintaiku?”

Sanggupkah? Apa dia sanggup mengatakan di dalam bola mata sabit yang kini menatapnya?

“Sa- saya… saya tidak men-

“Umpphh….”

Mencium bibir kibum, merasakan rasa asin dari air mata yang mendominasi wajah wanita cantik itu. jinki menangkup wajahnya dan merapatkan tubuh mereka. Ada yang janggal ketika wanita itu hanya diam tak membalas. Seperti mencium sebuah patung yang tak bernyawa.

“Tolong.. tolong jangan seperti ini..” rintih jinki membungkuk di hadapan Kibum. Kepalanya dia rebahkan diatas paha wanita itu. dan membiarkan bulir air matanya jatuh setelah sekian lama semenjak dia mengejar Kibum.

“Segeralah kembali Pangeran Lee, anda di butuhkan oleh keluarga anda!”

Mendongak. Memegang bahu Kibum dan mengguncangnya frustasi.

“Hentikan candamu..”

“Saya Serius Pangeran Lee.. saya mohon kepada anda untuk segera pergi dari sini”

Menunduk hormat sebagaimana seorang Geisha yang menghargai tamu mereka, jinki mundur beberapa jauh dari Kibum. Menatapnya tidak percaya. Memukul dadanya kasar. Bernafas berat. Pasokan udaranya semakin menipis dan dia merasa ngilu di sekujur tubuhnya. apakah hanya seperti ini saja. semua yang dia lakukan dari awal ternyata sia – sia. Hanya seperti ini saja kisah cintanya.

Menjambak rambutnya frustasi. Membiarkan begitu saja ketika airmatanya jatuh membasahi tatami. Sesekali menatap kibum yang menahan isaknya.

Jinki meraih tas yang tak berada jauh dari sisinya. Membukanya dan mengambil sebuah benda yang dia sodorkan kepada kibum

“Tolong Bunuh aku” pintanya mantap.

Kibum melihat pistol yang berada sejengkal dari jemari tangannya. Jinki meraih tangannya dan menaruh pistol tersebut dalam genggamannya. Mengarahkan ujung pelatuk tepat di jantungnya.

“Tolong bunuh aku….”

“Jangan bercanda Pangeran Lee?” berusaha menarik tangannya namun kekuatan pemuda itu terlalu kuat. Ujung pelatuk masih mengarah kearah jantung jinki. Pelatuk siap ditarik dan peluru siap untuk dilepaskan.

“Apa aku pernah bercanda?”

Ingatkan dia tentang belati yang pernah dia toreh didadanya. Ingin merobek jantungnya sendiri dan memberikannya kepada Kibum demi meyakinkan wanita itu jika dia tulus.

“Tolong… kembalilah Pangeran Lee” pias wajah yang berlinang air mata, memohon dengan sangat. “Tempat anda bukan disini.. anda dan saya terlalu berbeda.. tolong… tolong.. kali ini saja… pergilah.. hikss”

Isakan itu akhirnya terdengar ketika dia berusaha meredamnya. Tangis pilunya sudah tidak bisa tersembunyikan. Kibum… dia..

“Hiks.. sudah tidak bisa… hiks.. kembalilah Pangeran Lee.. hikss..”

“Kembali kemana Kibum? Bukankah sudah ku katakan kepadamu. Tempatku hanya berada disisimu.. dan begitu sebaliknya… tempatmu disisiku.. dan kini.. begitu kau mengusirku.. ke mana lagi arah yang harus kutuju?”

Menggeleng.. “Anda masih memiliki keluarga anda.. disana lah tempat anda pangeran Lee”

Masih bersikeras. Jinki memejamkan matanya. “Aku sudah tidak memiliki tempat selain disisimu ketika memutuskan mencintaimu…. Karena itu aku tanyakan kembali Kibum.. apa kau tidak mencintaiku?”

Akh.. dia ingin berteriak. Dia ingin mati. kenapa semua mendesaknya.

“saya… hiks.. saya tidak… sa-.. saya tidak mencintai anda”

DOR

Mendongak melihat tanganya yang sama sekali tidak bergerak, hanya menyentuh permukan pistol. Melihat jinki yang tersenyum dengan air mata yang menetes di sudut mata sabitnya. Pelatuknya telah dia lepas dengan tanganya sendiri. Dia lebih memilih mati

“AKH………….. JINKI…… HIKSS….. JINKI…..”

BUGH

Dan tubuh itu terjatuh bersimbah darah. Dengan wajah sang pemilik yang tersenyum. Bahagia ketika terakhir kali menatap wajah kekasihnya yang menangis dan berteriak memanggilnya. Bahagia ketika dia pergi tangannya menggengam tangan wanita yang dia cintai. Bahagia karena di dalam hidupnya dia pernah merasakan cinta.. cinta kepada seorang wanita hingga membuatnya mengerti akan arti menyayangi dan mengasihi

Tanpamu…

Tanpamu aku hanya sebuah jiwa yang kosong..

Tanpamu aku hanya sebuah raga yang hampa..

 

 

Aku tak akan pernah sanggup membuka mata ketika tak melihatmu

Aku tak akan pernah bisa bernafas jika tak merasakanmu disisiku

 

Merindukanmu

Merindukanmu

 

Menjeritkan namamu

Mencarimu dalam duniaku…

 

Aku akan menjadi mayat dalam tubuhku sendiri….

Semua perlahan akan menyiksaku

 

Aku memilih mati.

Aku memilih pergi

 

Ini jalan terakhirku untuk menghilangkan penderitaan dan menyimpan bahagia karena mencintaimu..

 

 

 TBC

Advertisements

111 thoughts on “[2min-Onkey/PW ask sanni &viena] Forbidden Love of A Geisha PART 7 of 8

  1. YAOLOH INI KENAPA PADA MATI??????????
    BAGAIMANA INI??????

    SHOCK!!!! *KYAAAAAAAAA GUE LEMAH :””(

  2. Hikksss jangan mati plisss
    Sumpah miris banget sih ming sama jinki
    Emang salah apa cinta mereka???

  3. ciaaatttt dasar YURI TOMKET!!!!!!

    mau lu jungkir balik 1000x juga tetep minong punya taem seorang :p
    2min nya sweeet dan menyentuh thor 😛 *fly*

    hadeuuhh ngomong apa lagi itu emak nya jinki -_-

    *lari ke part selanjutnya*

  4. Andwaeeeeeeeeeee oooooo jaebal,,,minho mati jinki mati,jomblo donk dua2nya ayolaaaaahhh minho aja deh jangan mati tiba2 idup lagi,huweee ayolah thorrr,,

  5. WHAT?! kenapa jadi gini?

    TALKLESS….
    SPEECHLESS….
    NERVEOUS baca part selanjutnya….
    SOULLESS pas baca bagian minho sama onew….

    anjiiiiirrrrr kaya nonton drama, bro!
    lanjut lah….

  6. Kok mati semua?? Ini enak banget yah istrinya minho abis ngebacok minho dia kabur kasian taeminnya haduh… Ini jinki jugak kenapa musti selalu gegabah kan bisa makek cara lain, nangis lagi deh dipart ini goodjob thor… Ffnya keren

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s