[ONKEY’s LOVE] Would You be My Ex-girlfriend?


Title : OnKey’s Love ~would you be my ex-girlfriend?~
Author : Keysha Mahaz
Pairing : Onew (Jinki), Key (Kibum)
Genre : Crack romance comedy?
Length : Serial~
.
.
Bel istirahat baru saja berbunyi lima menit yang lalu, para siswa sudah berhamburan keluar kelas. Tak sabar menanti jam makan siang dimana perut mereka sudah meraung minta diisi. Tak berbeda jauh dengan namja cantik bername tag ‘Kim Kibum’ yang masih duduk di bangkunya, memandang kosong keluar jendela dimana langit terlihat agak mendung sekarang. Jujur saja, sesungguhnya cacing-cacing dalam perutnya juga sudah berdemo meminta makanan. Tapi apalah daya ketika gengsi-lah yang memenangkan dirinya untuk tak pergi ke kantin.

“Hyung, kau tak ke kantin lagi?” sebuah suara datang menyapa telinganya, mengalihkan fokus kibum dari sekedar memandang tak tentu keluar jendela. Menghela nafas panjang melihat sosok namja cantik berambut blonde sebahu, tak jauh berbeda dengan dirinya.

“Apa kakakmu ada disana?” tanya kibum skeptis, matanya menyiratkan kejengahan tak terkira. Membuat si namja cantik tertawa kecil lalu duduk di depan kibum.

“Oh yeah..tentu saja, sedang menikmati ayamnya sembari menunggumu turun..hehe” menyengir lebar kearah kibum, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih tanpa noda (?). Kibum mendengus, mengacak rambutnya frustasi seraya mengerang pelan.

 

“Aish..namja itu..Taemin, bisa kau bilang pada kakakmu lagi untuk tidak mempermalukanku lagi eoh?” seru kibum, kali ini memainkan jemari lentiknya di atas meja, mengetuk-ngetuknya menciptakan irama tak jelas dari sana. Namja cantik bernama taemin itu Cuma terkekeh pelan, mengeluarkan sesuatu dari dalam saku blazernya. Sebuah amplop pink dengan harum parfum yang sama seperti surat-surat sebelumnya. Meletakkan di atas meja lalu menyodorkannya kearah kibum. Kibum menaikkan sebelah alisnya melihat amplop pink itu dan menatap taemin jengkel.

“Lagi?” pendek kibum, meraih amplop pink itu dan membuka isinya. Bola matanya bergerak membaca huruf perhuruf yang tertera di sana. Tulisan tangan yang tergolong rapi untuk ukuran seorang namja, miring dan ramping.

“Kau tahu sendiri kalau kakakku itu pantang menyerah. Itu motto keluarga kami!” seru taemin berapi-api, mengangkat sebelah tangannya meninju udara lalu tertawa lebar. Aigoo..dasar, kakak beradik yang aneh~ pikir kibum. Ck, dosa apa namja cantik ini bisa bertemu dengan si lee brother?

“Bilang pada kakakmu, berhenti bertingkah aneh padaku. Ok?” memutar bola matanya ke kanan, mengalihkan penglihatan dari taemin yang masih saja terkekeh tak jelas. Taemin mengelus tengkuk belakangnya pelan, merogoh kembali saku blazernya dan menyerahkan sebungkus roti pada kibum. Membuat namja cantik yang tadinya hendak kembali memandangi langit mendung langsung melebarkan mata. Menatap bungkusan roti di tangan taemin dengan tatapan lapar, dan jika di teliti lebih dalam lagi kalian akan melihat bintang-bintang tergambar di manik mata berbingkai mata kucing itu. Buru-buru menyambar roti tadi dan membukanya secara brutal. Taemin berdecak pelan melihat tingkah kakak kelasnya. Terkadang kibum bisa bersikap di luar dugaan, ckck. Walau kibum terkenal sebagai promadona yang dingin, tapi jika sudah berurusan dengan perut…hanya taemin dan Tuhan yang tahu apa yang terjadi selanjutnya. =,=a

“Kibum, ternyata kau disini~”

“Eh?” seolah dihantam godam puluhan kali, kibum langsung merasa pusing, membeku di tempat. Tak jadi memasukkan roti strawberry itu kedalam mulutnya setelah melihat siapa yang datang. Seorang namja tampan dengan tampang bodohnya, tersenyum pada kibum sambil melambai di ambang pintu kelas.

“Oh god, jinki..please, jangan mendekat~” desis kibum, lebih terdengar berbicara pada dirinya sendiri..atau berdoa pada Tuhan yang maha esa? Memohon perlindungan atas makhluk satu ini.
.
.
Raut kejengkelan tak bisa dihindarkan dari wajah cantik itu, di tekuk sepanjang hari setelah bertemu jinki –trouble maker- saat istirahat makan siang tadi. Benar-benar mengurungkan niat untuk memakan apapun karena nafsu makannya hilang secara tiba-tiba. Padahal perutnya sudah meraung-raung minta diisi, berkali mengeluarkan bunyi sebagai tanda protes. Cuma membolak-balik halaman buku biologinya tanpa mendengarkan ocehan mr.jung di depan kelas. Sama sekali tak perduli dan tak bisa mencerna apa yang namja tua itu katakan. Mengetuk-ngetuk meja lalu melirik untuk kesekian kali pada jam tangan digital pink yang melingkar manis di pergelangan. Merasa tak sabar untuk segera keluar dan pulang ke rumah, membenamkan diri dalam kasur pink dan boneka-boneka super besarnya di kamar. Huh. Manic matanya masih saja lekat pada benda digital itu, tiga puluh detik menuju bel pulang. Good! Dalam hati ikut menghitung mundur, sementara bibir tipisnya terkembang sempurna. Tiga..dua..satu..

KRING!

Sip, buru-buru berkemas memasukkan buku-buku kedalam tas selagi menunggu mr.jung keluar dari kelas. Berlari kecil keluar dan tersenyum lebar-lebar sebelum tergantikan dengan picingan mata kearah namja-namja genit yang menyapanya sepanjang koridor. Bagus, sang primadona tengah menjadi pusat perhatian seperti biasa. Berjalan penuh percaya diri walau rasanya jengkel di tatap sedemikian rupa oleh siswa lain, antara kagum, kesal, yeah..banyak. Seolah berjalan diatas catwalk, semua yang berada di jalannya menyingkir dan membiarkan sang namja cantik untuk lewat.

“KIBUM~”

DEG!

Mempercepat langkahnya setelah suara yang begitu familiar menubruk pendengarannya. Cepat-cepat-cepat..bahkan berlari begitu namja yang memanggilnya tadi sibuk menerobos kerumunan untuk menemuinya. Beruntung koridor sebentar lagi usai, tergantikan dengan lobi sekolah yang luas. Kibum mempercepat larinya, sama sekali tak perduli dengan para siswa yang menyapanya dengan sumringah. Buru-buru mencari sebuah mobil sedan silver yang biasa terparkir di depan gerbang.

“KIBUM, CHAMKAMAN!” lagi-lagi suara itu terdengar, kibum menoleh ke belakang. Mendapati jinki masih mengejarnya lengkap dengan senyum bodohnya. Mengacung-acungkan setangkai mawar merah yang mulai layu. Apa dia memetik dari kebun tetangga? Uuh..sungguh tak bermodal. =,=a

“KI~”

“Cepat jalan!” tak sempat jinki memanggil nama namja cantik itu, kibum langsung menyerobot masuk kedalam mobil. Menyuruh sang supir melesat pergi meninggalkan tempat ini. Kibum menyandarkan punggungnya kebelakang, bernafas lega dengan dada yang naik turun akibat terengah sesudah berlari. Hah, ia memang payah dalam hal berlari. Tapi semenjak namja bernama lee jinki itu datang kedalam kehidupannya..ia jadi harus terus-terusan lari dari kejaran cinta namja maniak itu. Ckck.

“Kibum~”

“Eoh?” sial! Apa dia salah masuk mobil?! Supirnya kemana? Kenapa yang sekarang ada di balik kemudi malah..KIM JONGHYUN?! Namja maniak peringkat dua setelah jinki. tersenyum mesum pada kibum hingga namja cantik itu mendelik jijik.

“Sedang apa di mobilku?!” pekik kibum, beringsut ke dekat pintu takut sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Jonghyun tertawa keras, melihat reaksi kibum yang menurutnya berlebihan. Jonghyun memelankan laju mobilnya, tersenyum pada kibum lalu meniup poni cokelatnya keatas.

“Kau sendiri yang masuk kedalam mobilku” sahut jonghyun santai. Kibum terpaku di tempat, jadi..maksudnya? yang salah dia? Eoh? Kibum yakin betul kalau ia masuk kedalam mobil yang benar. Sedan silver yang amat ia kenali. Tapi..tapi..kenapa malah mobil jonghyun?

“Jadi..apa sekarang kau dengan senang hati berkencan denganku?” suara jonghyun memecah lamunannya, membuat kibum langsung kembali memasang jarak aman atas mereka berdua.

“Jangan berani macam-macam..atau aku akan lompat keluar!” kecam kibum, meraih kenop di sampingnya. Jonghyun tertawa lalu menunjuk kearah kuncinya. Terkunci! Kibum membuka kenop dengan panic, sial! Sial! Hari ini kenapa ia begitu sial? Setelah selamat dari kejaran harimau sekarang malah masuk kedalam mulut buaya? Tamat sudah riwayatnya.
.
.
“HYAAAAAH~” berteriak kencang sepuasnya, tapi siapa yang peduli? Beruntung saja kamarnya yang serba pink ini kedap suara. Menusuk-nusukkan sendok ke gunungan ice cream vanilla ukuran jumbo di atas meja belajar dengan btural. Tengah sibuk meratapi hari-harinya sebagai seorang diva, aigoo..apa hidup sebagai seorang diva begitu beratnya? Dikejar para namja maniak, genit, dan ya ampuuunnn~
Kenapa semua begitu tergila-gila padanya sih? Setelah sore tadi salah masuk mobil akibat jonghyun sengaja membeli mobil yang sama persis dengan milik kibum dan memarkirnya di tempat supir kibum biasa menjemput. Membuat sang supir dengan terpaksa mencari tempat parkir lain. Hahh..kibum memutuskan membeli mobil baru, mungkin berwarna pink ngejreng agar tak ada namja tampan yang mau menyamai mobilnya lagi? siapa juga namja gila yang akan sudi membeli mobil pink ngejreng?!

Tok..tok..tok..

“Kibum hyung, ini aku taemin” suara dari sebuah layar kecil di dekat pintu. Menampakkan wajah taemin yang sumringah disana. Kibum berdecak, beranjak dengan malas dari duduknya lalu membuka pintu.

“Hai taem~” sapa kibum lesu, mundur selangkah mempersilahkan taemin masuk dan langsung melompat ke kasur pink di tengah ruangan. Kibum mendesah pelan, hahh..seperti biasa, taemin memang anak kecil.

“Hyung, aku membawa ini~” menunjukkan sebuah kotak berukuran sedang yang ada di lantai, terlempar saat taemin melompat ke kasur kibum. Sebuah kotak yang di bungkus kertas kado berwarna pink. Kibum menautkan alisnya bingung, menghampiri kotak tersebut dan mulai membukanya.

“Itu dari jinki hyung..”

“Apa?” menghentikan acara buka kado-nya, menatap skeptic pada taemin yang sekarang tengkurap memperhatikan kibum membuka hadiah dari jinki.

“ini bukan bom kan?”

“Oh..aku tidak tahu kalau kakakku pintar merakit bom? Hahaha~” canda taemin, diikuti kekehan garing dari kibum. Melanjutkan membuka kotak tersebut lalu menemukan sebuah boneka kelinci berwarna baby blue dengan sebuah kartu ucapan dari kain yang tergantung di telinga kanannya.

‘Nae Kibum, peluk saja boneka ini kalau kau rindu padaku’

“Jinki babo~” decak kibum, membereskan sobekan kertas kado di lantai lalu melempar masuk kedalam tong sampah. Meletakkan begitu saja boneka kelinci biru di atas lantai. Sama sekali tak berniat menyentuhnya.

“Boneka yang lucu” taemin berkomentar, mengambil boneka kelinci kibum di lantai lalu memainkan dua telinganya yang panjang sebelum Membaca apa yang jinki tulis di sana.

“Kau boleh memilikinya kalau kau mau taeminnie” sahut kibum dari arah meja belajar, mengambil ice cream vanilla yang tertinggal disana lalu kembali ke hadapan taemin. Menarik sebuah kursi kecil warna pink ke kaki kasur untuk berbincang dengan taemin. Kembali menyuap sesendok ice cream ked alam mulutnya, membiarkan makanan setengah padat itu meleleh dalam rongga mulutnya.

“Ya, tentu saja akan kubawa pulang kalau tidak ada nama Kibum disini” menunjuk kain bertuliskan tulisan tangan jinki disana. Kibum berdecak, memautar bola matanya malas sebelum kembali sibuk dengan ice cream di pangkuannya.

“Kudengar dari Jinki hyung, kau tadi pulang bersama jonghyun begitu?” mulai membuka percakapan. Melirik kearah kibum dimana namja cantik itu bergidik mengingat apa yang menimpanya sore tadi.

“Aku tidak pulang dengannya..hanya saja~” memotong ucapannya, enggan meneruskan dan menghela nafas panjang. Membuat taemin mengerut penasaran, memainkan alisnya memaksa kibum.

“Hanya apa?”

“Hanya saja..dino babo itu sengaja menjebakku masuk kedalam mobilnya yang kukira mobilku,,uuh~”
.
.
“KIBUM!” aisshh…jinjjaaa. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menahan malu disaat puluhan pasang mata menatap padanya dan seorang namja yang membawa sebuket besar mawar pink di tangannya. Berjalan penuh percaya diri ke meja dimana kibum tengah makan siang bersama taemin.

“Hyung..dia mendekat” bisik taemin, menyenggol tangan kibum lalu menunjuk jinki yang tinggal berjarak beberapa langkah dari meja mereka.

“Iya, aku tau..uhh~” mendesis kesal, masih menangkup wajahnya di dalam telapak tangan. Ckck, malu..malu..malu! Terlebih ketika bisik-bisik dan kekehan tawa mulai terdengar samar-samar di telinganya. Sumpah, demi apapun kibum merutuk namja yang masih bertahan dengan senyuman bodohnya. Lagipula kenapa semua orang malah menyaksikan ini? kenapa kantin yang semula ramai tak terkira menjadi hening tak bersuara? Mengintip jinki dari celah-celah jemari lentiknya.

SRET~

“Eoh?”

“KIM KIBUM, MAUKAH KAU MENJADI KEKASIHKU?!” apa?! Apa?! Apa-apaan semua ini? Saat jinki dengan tiba-tiba berlutut di hadapanya, menyodorkan buket besar mawar pink yang di bawanya. Tersenyum sambil menatap kibum penuh harap. Kibum melirik pada taemin yang tengah bersusah payah tak menyemburkan tawa. Jauh berbeda dengan para siswa lain, terlebih namja tampan yang mulai berkerubung di kantin. Menatap kibum penuh cemas, bahkan sembari menggigiti ujung-ujung kukunya. Berdoa dalam hati agar mereka masih mempunyai kesempatan bersama sang diva.

“Kibum? Please..” jinki tersenyum, masih bertahan dalam posisi berlutut seperti ini. Kibum menurunkan tangannya dari wajah, menatap jinki tak nyaman lalu tersenyum kecut. Uhh,,ini jauh lebih memalukan dari pernyataan jinki kemarin di lapangan bola, membawa banner yang panjangnya nyaris dua meter bertuliskan ‘KIM KIBUM SARANGHAE <3’ sambil menunjukkannya penuh percaya diri pada setiap orang yang lewat.

“Jinki” panggil kibum pelan, jinki tersenyum makin lebar. Berharap keajaiban akan terjadi saat ini, menatap kibum yang mngambil buket bunga di tangannya. Membuat jantungnya berpacu makin cepat untuk menunggu jawaban kibum selanjutnya.

“Apa kau menerimaku?” tanya jinki, melebarkan mata sipit itu saat kibum tersenyum kecut.

“Berhentilah bersikap berlebihan padaku. Oke?” namja cantik itu memudarkan senyumnya, meletakkan begitu saja buket bunga mawar pink di atas meja sebelum berlalu pergi meninggalkan jinki yang masih saja berlutut di tempat, menatap kepergian kibum dengan pilu.
.
.
“Hyung..buka pintunya” taemin merengut kesal, menyandarkan tubuhnya pada pintu putih dimana tergantung sebuah papan bertuliskan ‘JinKibum <3’ dengan cat warna-warni. Namja cantik itu agak jengah juga mendapati dirinya tak di gubris oleh sang kakak di dalam. Masih mengurung diri semenjak pulang sekolah.

“Jinki hyung..kau belum makan. Ppaliya!” mengetuk sekali lagi, tapi reaksinya masih sama. Tak ada jawaban atau suara dari dalam. Taemin mendengus lelah, memelintir rambut blondenya yang semakin memanjang sebelum menjentikkan jari di udara. Merasa ide ini brilian dan akan berhasil dalam sekejap mata.

“Jinki hyung..ada kibum hyung di bawah!” taemin sengaja berteriak dari jauh, berjalan kearah tangga turun sambil melihat pintu kamar jinki.

GRADAK GRUDUK!

“Mana?!” tak butuh waktu lama karena kepala jinki langsung menyembul dari dalam kamar. Taemin berdecak, menunjuk ke lantai bawah berpura ada seorang yang di nantikan sang kakak disana. Melihat sang kakak langsung melesat menyerobot tangga turun tanpa perduli bahwa sekarang penampilannya begitu berantakan. Taemin tersenyum simpul mendapati tingkah sang kakak. Sebegitunya kah?

“TAEMIN! MANA KIBUMNYAA?!”
.
.
Sudah tiga hari kibum tak lagi di ganggu oleh maniak peringkat pertamanya, jinki. Tak ada lagi yang mengejarnya saat pulang sekolah, atau menghampirinya ketika makan siang untuk sekedar memberikan sekotak susu strawberry yang sudah di tempeli note kecil pink bertuliskan ‘Saranghae’. Atau tak ada lagi yang pergi ke kelasnya pagi-pagi dan mengucapkan selamat pagi. Benar-benar tenang, hari tanpa seorang lee jinki benar-benar tenang untuk kibum. Walau tak sepenuhnya tenang, karena sekarang gentian si maniak peringkat dua, jonghyun yang mulai rajin menggombalinya sepanjang hari. Mengirimkan tangkai-tangkai mawar merah ke kelas bahkan ke rumah.
Kibum memainkan jemari lentiknya pada poni blonde yang menjuntai menutupi dahinya. Merogoh sebuah cermin kecil dari dalam saku lalu mematut wajahnya disana. Tersenyum simpul.

“Hari yang tenang kibum~” berbisik pada dirinya sendiri, merapikan rambutnya sebelum mengeluarkan sebuah eyeliner dari dalam kotak pensil, menambahkan cairan hitam pekat itu di mata kucingnya. Cantik.
.
.
“Uh~” kibum mendengus, mengeluh bosan sejak pagi tadi. Genap seminggu sudah jinki tak menemuinya, begitupun sang adik, taemin. Tak mengganggunya atau sekedar menyapa. Ckck, memutuskan mengemas barang-barangnya dan pergi keluar kelas. Mungkin ke kelas taemin untuk menanyakan anak itu? Menapaki anak tangga sekolah satu persatu dengan gontai, tak lagi menghiraukan sapaan para namja tampan sepanjang perjalanan atau mengambil mawar merah yang disodorkan jonghyun padanya tadi.

“Hey, apa yang terjadi dengan nae baby eum?” jonghyun berjalan di sebelah kibum, membuat si cantik mendelik padanya sambil mengambil jarak di antara mereka berdua.

“Stop baby-ing me..” protes kibum pelan, berbelok ke koridor kanan dimana kelas taemin berada.

“Oke, baiklah. Lalu kenapa kau lesu begitu sayang?” memainkan alisnya yang tebal seraya memalang jalan kibum dengan cara merentangkan tangan ke samping kanan dan kiri.

“Aish..awas, aku mau lewat!” kibum menepuk tangan jonghyun, sedikit mendorong dan kembali menyambung langkah. Kelas taemin tnggal sebentar lagi, masih terlihat ramai walau bel pulang sudah berbunyi sedari tadi.

“Permisi~” kibum berseru pada seorang namja cantik mungil yang berdiri paling dekat dengan pintu, sedang asyik bercanda dengan temannya yang langsung masuk begitu melihat kibum.

“N-ne sunbae?” mengkerut takut, menggigi bibir bawahnya tak berani menatap langsung mata kucing kibum. Namja cantik itu tertawa pelan, mengelus rambut si hoobae yang terlihat gemetar di depannya.

“Gwaenchana, tak perlu takut” pelan kibum.

“Aku hanya ingin bertanya, apa taemin tidak masuk sekolah?” sambungnya, menatap si adik kelas dengan sabar.

“Uh, itu..iya, taemin tidak masuk sudah seminggu” sahutnya pelan, memelintir ujung blazernya dengan pandangan kearah lantai. Kibum tertawa pelan, mata kucingnya tertuju pada name tag sang adik kelas ‘Cho Jino’.

“Oh.. thanks jino-ssi” melambai dan berlalu, diikuti jonghyun di belakangnya.

“dah jino” jonghyun mengedipkan sebelah matanya, membuat namja bernama jino itu menganga kaget.
.
.
Mata kucing itu tak hentinya menatap boneka kelinci biru –satu satunya warna selain pink dalam kamarnya- di atas kasur. Menghampiri boneka tersebut lalu membaca kembali tulisan ramping jinki di kain pada telinga panjangnya. Entah kenapa kibum baru menyadari kalau boneka ini terlihat lucu? Atau mungkin karena waktu itu ia sama sekali tak berminat pada boneka biru? Tersenyum lesu, memainkan dua telinga panjang si kelinci. Merenung kenapa ia merasa bahwa ia rindu pada lee brother itu? Terlebih pada tingkah gila jinki? aish.. apa dia juga ikut-ikutan gila merindukan namja itu eoh?
Memeluk boneka kelicni biru itu, membawanya berguling di kasur sambil terus memainkan telinga panjangnya.

“Aish..aku pasti sudah gila!” berdecak, bangun dari tidurnya dan menghampiri lemari. Mungkin bertandang sejenak ke kediaman lee bukan pilihan yang buruk? Lagipula ini belum terlalu malam untuk sekedar bertamu dan mungkin berbincang sebentar? Ya kan? Meraih sweater kuning muda dan skinny putih untuk di kenakan. Terlihat cocok dengan rambut blondenya.

“Huft..ya ya ya..aku benar-benar gila” bermonolog ria di depan cermin, melirik si boneka kelinci biru di kasur.

“Tunggu sebentar disini ne.. aku akan pergi menemui majikanmu~”
.
.
Ting..Tong
menekan bel di depan pagar hitam bermodel minimalis, kibum menyilangkan tangan di depan dada. Menunggu seseorang membukakan gerbang untuknya, melirk pada mobil warna pink ngejreng yang baru ia beli sekitar dua minggu lalu, sejak kejadian salah masuk mobil itu. Ckck.

“Kibum hyung?” kepala taemin terjulur keluar pagar, memanggil nama kibum membuat namja cantik itu tersenyum lebar.

“malam taemin” sahut kibum tersenyum manis, nyaris terjatuh begitu taemin menghambur memeluk lehernya dengan erat.

“Whoaaa~ aku merindukanmu hyung. Jeongmaaalll~” bergelayut di leher kibum menciptakan kekehan dari sang empunya.

“Ya, aku juga merindukanmu taeminnie-ku sayang” mengelus rambut blonde taemin. Taemin menggandeng lengan kibum, membawanya masuk kedalam rumah yang sedikit lebih kecil dari milik kibum, oke..sedikit, hanya sedikit. Melewati pekarangan rumah lee brother, dimana tertanam banyak sekali bunga mawar dengan berbagai macam warna. Ck, kibum jadi ragu dengan pemikiran bahwa jinki memetik bunga layu dari kebun tetangga =,=a
Taemin mempersilahkan kibum duduk di sebuah sofa panjang warna kuning berbentuk pisang raksasa, ck, kibum yakin kalau taemin lah yang memilihnya. Tak lupa sebuah meja bundar berbentuk apel merah disana dan beberapa perabot berbentuk buah raksasa. Aish..kibum jadi merasa kecil disini.

“Hyung mau minum apa? Mau kupanggilkan jinki hyung agar menemanimu disini?” taemin tersenyum jahil, melirik pintu kamar jinki di lantai dua. Kibum mengikuti arah pandang taemin sebelum tersenyum kecut dan mengangguk mengiyakan. Entahlah, mungkin ia memang benar-benar rindu pada namja maniak yang aneh itu?

“Tunggu sebentar ne~” taemin berlari kecil kearah tangga, menaikinya lalu mengetuk pintu kamar jinki penuh semangat. Lebih terlihat seperti akan mendobrak pintu di banding mengetuk. Dapat kibum lihat dengan jelas dari bawah sini, rumah yang luas dengan tak banyak sekat membuatnya leluasa.

“Hyung, ada kibum di bawah” seru taemin begitu pintu terbuka menampilkan jinki dengan rambut awut-awutan, muka suntuk dan terbalut singlet belang hitam putih.

“Jangan bohong lagi padaku” sahut jinki malas, mengucek mata sipitnya yang semakin sipit bahkan nyaris terpejam.

“Kali ini aku tidak bohong, lihat saja kebawah” telunjuk taemin mengarah pada kibum. Kibum yang merasa sedang si tunjuk melambai pelan pada jinki dan taemin di lantai dua, membuat mata sipit jinki yang tadi terkantuk-kantuk langsung membelalak. Buru-buru masuk kedalam kamarnya dengan sempat tersandung karpet kamar. Aish..benar-benar.
Taemin berbalik kearah kibum, mengacungkan jempolnya lalu turun untuk mengambilkan kibum minuman.

Tak lama menunggu, kibum mendapati jinki turun dari kamarnya. Kali ini tak lagi berbalutkan singket, melainkan kemeja putih polos yang di kancing sampai kepaling atas. Nyaris saja kibum menyemburkan tawanya melihat penampilan jinki, wajah itu terlihat tegang menemui kibum, sama sekali tak muncul senyum bodoh yang biasa ia tunjukkan.

“Err..h-hai kibum~” menyapa dengan canggung, duduk di sofa brebntuk nanas di depan kibum. Namja cantik itu tersenyum simpul, mengamati jinki dari ujung kaki sampai kepala.

“Kemana saja kau eoh? Kenapa tak menggangguku lagi?” tanya kibum, menyilangkan kaki dan menumpuknya jadi satu. Tersenyum manis kearah si namja yang sekarang tersenyum kikuk, tak tahu harus menjawab apa?

“A-aku..itu..eum..kupikir kau terganggu dengan kehadiranku. Jadi..uhh~”

“Jadi, apa tawaranmu masih berlaku padaku?” kibum memotong ucapan jinki, membuat si namja tampan mengangkat wajahnya yang sedari tadi menatap lantai.

“Ma-maksudnya..kau mau menerima cintaku?” bertanya dengan tampang sedemikian rupa. Uh, sama sekali tak perduli kalau ia akan terlihat seperti orang dungu di depan kibum.

“Ehm..ya, uh..begitulah~” kibum jadi ikut-ikutan merasa canggung, mengelus tengkuk belakangnya dan tersenyum gugup.

“Jadi..kita sekarang pacaran?”

END

67 thoughts on “[ONKEY’s LOVE] Would You be My Ex-girlfriend?

  1. Ffnya bagus tapi sayang akhirnya gantung thor.. Andai ada lanjutannya. Pasti lebih seru lagi.

  2. huwaaa key dikejar jongyu kkk~~
    parah jjong sampe ganti mobil kkk~~
    beneran konyol.. ngakak dari pertama baca haha
    omo key akhirnya kau merindukan jinki kan😄
    speechless sangat liat deskripsi rumah lee brother haha
    segala macam perabot bentuk buah ckck
    daebakkk (y)
    lee jinki chu❤❤❤

  3. loh terus kenapa itu lee brothers gak masuk seminggu? emang kenapa? kentang niiiiiih padahal ceritanya lumayan bagus di awal

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s