[2min-Onkey] Forbidden Love of a Geisha PART 8 A of 8 B


Forbidden Love of a Geisha part 8 A

Foreword:
Anneyong, ini perwakilan aja … finally, sampai pada part terakhir, setelah bersemedi dari tahun lalu, akhirnya author duo super sibuk dan pinter ngeles ini meluncurkan FF nistanya. Yak, semoga kalian ‘terhibur’ dengan part terakhir ini!

SORRY ADA RE-EDIT TADI, JADI DI REMOVE POSTAN YANG TADI!
Enjoy , and Feel free to comment! Anythink! Good or Bad! We appreciated that!
-Sanniiewkey~ & Vienasoma –

Tangan Taemin bergetar hebat ketika tubuh Minho tergeletak begitu saja di atas pahanya, darah merembes kekimononya yang indah, air mata membasahi pipinya, ia peluk tubuh Minho ke tubuhnya, tidak perduli darah membasahi tubunya.

“Tolongg…”, lirihnya, meski ia tahu tidak ada yang datang, ia melihat memohon ke arah pintu rumah mereka, terbuka, namun tidak ada yang datang. “Tolong … tolong …”, lirihnya,

Jantung Minho masih berdetak, ia masih bisa merasakan itu, namun sampai kapan itu akan berdetak ia tidak tahu, ia bahkan tidak mau berpikir kapan itu berhenti … ia gapai tangan Minho, ia tatap wajah itu, bibirnya memucat dan kulitnya mendingin, ia kecup bibir Minho dengan bibirnya.

“Kumohon … jangan pergi …kumohon …”, bisik Taemin.

Taemin melihat ke arah pintu sekali lagi, siapapun, tolong …

“Taemin –san, aku—akh!!”, seorang Maiko tiba-tiba datang, Yuki menutup tangannya gemetar, ia maju selangkah, kemudian mundur kembali bingung apa yang harus ia lakukan. “Apa yang—oh tidak—apa yang terjadi—Taemin-san—apa yang—“

“Panggil bantuan…”, lirih Taemin masih memeluk Minho, tubuhnya semakin dingin… Yuki masih berdiri disana shock.

“PANGGIL BANTUAN!!”, teriak Taemin, Yuki sontak gelagapan, ia mundur dan berlari keluar, tentu ia kaget, ia bermaksud ingin mengunjungi Taemin karena ia merasa khawatir, dan kejadian seperti itu membuatnya terkejut.

“CEPAT, DISINI!!”, Taemin mendongak, matanya rabun karena air mata yang membasahi wajahnya, satu orang laki-laki datang, dan kemudian ia bisa lihat orang datang menghampiri mereka.

Ia tidak bisa dengar, yang ia bisa lihat adalah semakin banyaknya orang, kemudian ambulan datang dan membawa sosok Minho kedalam sana, dengan tergopoh ia mengikuti Minho, duduk disampingnya , menggenggam tangan itu erat, jangan mati … jangan pernah mati … jangan pernah tinggalkan nya sendiri … semuanya tidak akan  berakhir sampai disini, ia bahkan belum buktikan pada Minho kalau dia ingin sekali berterima kasih karena mengajarkan rasa cinta itu pada nya, memberikan perasaan nyaman yang tidak pernah ia rasakan …
.
.

“MINHO!!!”, teriak sebuah suara, “DIMANA MINHO?!!!”, Yuki menoleh, melihat seorang wanita berkimono indah, dan seorang laki-laki paruh baya berjalan mendekati ruangan UGD, diikuti perawat serta penjaga keamanan untuk tetap tenang.

“BIARKAN AKU MASUK! AKU INGIN BERTEMU ANAKKU! KEMANA MINHO?!!”, teriak wanita itu, Yuki membungkuk, menarik tubuh Taemin yang masih lemas dan hilang dalam dunianya sendiri.

“Tenanglah, perawat bilang ia sedang diberi pertolongan…”, ucap laki-laki itu memeluknya.

“Nyonya tenanglah, ini rumah sakit, dokter sedang berusaha memberikan pertolongan yang terbaik untuknya…”, bujuk sang perawat.

“APA MAKSUDMU TENANG,HAH? INI NYAWA ANAKKU, DIA ANAKKU SATU-SATUNYA…DIA BARU SAJA DITUSUK OL—“ wanita itu terdiam, menangkap dua sosok wanita di ujung ruangan, yang satu dengan kimono berwarna putih , tubuh kecilnya berusaha menahan sosok yang sedang berdiri lemas dan juga terlihat sangat pucat dengan kimono yang penuh dengan bercak darah.

Yuki melihat wanita dan laki paruh baya itu menatap mereka horor, Yuki menarik Taemin lebih dekat melingdunginya.

“KAU!!”, wanita itu berjalan menuju mereka. Yuki menarik Taemin mendekat, takut akan sosok didepannya.

PLAK

“Taemin –san!!”, teriak Yuki menahan tubuh Taemin yang hampir terjatuh, Taemin mendongak perlahan, matanya kosong dan kemudian menunduk lagi, air mata membasahi wajahnya, dan dari sudut bibirnya keluar darah karena tamparan wanita itu sangat kuat.

“Nyonya, apa yang nyonya lakukan?”, teriak Yuki.

“KAU! KAU JANGAN IKUT CAMPUR!!”, teriak wanita itu ingin memukul Taemin lagi, namun berhasil dihalau oleh laki paruh baya itu yang sepertinya suaminya. “LEPASKAN! AKAN KUBERI PELAJARAN PADA WANITA JALANG INI, INI SEMUA KARENA MU, WANITA SAMPAH, PENJUAL HARGA DIRI!! KAU TELAH MEMBUAT ANAKKU CELAKA!!! WANITA SAMPAAAAAAH!!!”, teriaknya gemas,

“Cukup…ini rumah sakit…”, laki itu mencegah.

“AKU TIDAK PERDULI! KARENA WANITA INI MINHO JADI BEGINI! KALAU SAJA DIA TIDAK KENAL DENGAN MINHO … KALAU SAJA IA TIDAK MASUK DALAM KEHIDUPANNYA!! KATAKAN, KAU YANG MELAKUKANNYA KAN? KATAKAN!!! MINHO JADI MEMBANGKANG KARENAMU!! MINHO MEMBUANG KELUARGANYA KARENA MU! ”, teriak wanita itu, Taemin mendongak, ia hanya bisa menggeleng dan menangis lagi … bukan… bukan aku…
PLAK

“NYONYA!! HENTIKAN!!’, teriak Yuki menangis, “Hentikan nyonya … Taemin –san kami tidak bersalah … aku percaya ia tidak lakukan ini … jangan sakiti dia … dia juga terluka nyonya…”, mohon Yuki memeluk kaki wanita itu.

“JANGAN SENTUH AKU, KAU SAMA SAJA, KAU JUGA SAMA SEPERTINYA, WANITA SAMPAH!!” BRUK

“Akh!”, Yuki terjerembab kebelakang karena kaki wanita itu menendangnya, Taemin dengan gemetar menarik Yuki.

“G-g-g-gomenasai … a-aku..tidak—lakukan itu…”, isak Taemin , “A-aku tidak—lakukan—“ Taemin menatap kosong ke arah wanita itu, air matanya terus keluar.

“Polisi, bawa mereka.”, pinta suaminya,

“JANGAN! JANGAN BAWA KAMI! TAEMIN –SAN TIDAK BERSALAH!!! JANGAN!!”, teriak Yuki menahan tangan Taemin yang sudah ditarik paksa oleh polisi dan diborgolnya, dirinya pun ikut diseret ikut serta.

Taemin melihat ke arah pintu UGD terus menerus,. Air matanya terus mengalir … “Minho –sama…”, lirihnya, “Gomenasai…”

.
.

Saat pertama kali mata ini memandangmu.
Saat pertama kali sosokmu terlihat bola mataku.

Hati ini terjatuh pada kesesatan yang membimbangkan.
Jiwa ini terjatuh pada dosa yang terlarang

Mencintai seorang yang tidak boleh di cintai

Aku kehilangan akal
Aku kehilangan kewarasan

Aku telah di butakan rasa cinta dan sayang
Tidak perduli jika di cerca olehmu
Tidak perduli jka di hina olehmu

Aku hanya ingin membisikanmu
Meneriakan rasaku.

Aku mencintaimu
Aku ada disisimu

Jonghyun tertidur beralaskan paha Jino. Matanya terpejam dengan gurat wajah tenang. Ekspresi yang sangat jarang dia perlihatkan. Jenderal tersebut tengah menikmati kedamaian setelah beberapa lama tersesat dalam goa gelap menyiksa. Tangan pemuda itu menyapu pelan kening Jonghyun dan menyibak poninya.

Senyum terlukis di wajah manisnya namun beberapa detik kemudian berubah menjadi kelam. Dia mendongak. Menghembuskan nafas lelah.

Betulkah apa yang dia lakukan? Apa sudah benar tindakannya yang menemui atasannya dan memberitahukan perihal perasaan cinta yang dia pendam sejak pertama kali mereka bertemu. Perasaan yang setengah mati dia kubur karena dia tahu perasaan itu salah. Apa yang akan di pikirkan orang lain ketika tahu jika mereka….

“Kim – sama.. maafkan saya yang telah menjerat anda.”

Jino mencium kening pria tampan yang tertidur. Cinta ini meledak – ledak dalam Hatinya. Ketidaknormalan bagi mata mereka yang menganggap jika hidup mereka telah sempurna memang sejak awal membuat Jino takut. Pemuda itu takut jika hubungan dia dan Jonghyun malah menimbulkan malapetaka bagi jendralnya.

Menggelengkan kepala. Tidak ada yang salah. Cinta adalah cinta. Cinta datang bukan dari lingkungan yang mendesak. Cinta datang dari hatimu. Kenyamanan  bersama belahan jiwamu, debaran ketika berada di sisi kekasihmu. Itu cinta.

“Seandainya saya seorang Wanita. Seandainya saja Kim – sama. Cinta kita tak akan di anggap terlarang”

Pengandaian manis selalu diinginkan setiap makhluk didunia. Selalu tidak puas ketika kebahagiaan hidup tak bisa di raih karena kondisi dan lingkungan yang tak mendukung untuk meraihnya.  Seperti yang di alami Jino. Cinta miliknya dianggap terlarang karena dia terlahir sama seperti pujaan hatinya. Tiap pasang mata akan melirik dirinya dengan jijik. Akan menghina dan mencekamnya. Itu adalah hukum dunia tidak tertulis. Dimana setiap manusia di ciptakan saling berpasangan pria dan wanita. Bukan pria dan pria.
“Kim – sama.. saya sangat mengagumi anda”

“Eungh..”

Jino menyeka air mata di sudut matanya. Jonghyun telah bergerak. Mata pemuda dewasa itu mengerjap perlahan. Dan ketika matanya terbuka dia melihat Jino yang tengah menatapnya tersenyum, tangannya terangkat. Dia membelai pipi pemuda manis itu.

“Selamat Sore… atau malam?” Ucap Jonghyun mulai mendudukkan diri disamping Jino. Tangannya meraih tubuh kecil disampingnya membawa dalam dekapannya. Jonghyun menaruh kepala Jino dipundaknya. Dia.. dia merasa nyaman dengan melakukan semua ini. hangat. Dan merasa di terima.

Jino melingkarkan tangannya pada pinggang Jonghyun. Berbagi kehangatan kebersamaan.
“Tidur anda nyenyak Kim – sama”

“Tidak pernah senyenyak ini seumur hidupku” Jonghyun mencium puncak kepala Jino “Terima kasih…”

“Saya yang harus berterima kasih. Karena anda mau menerima saya Kim – sama”

Jonghyun terkekeh pelan. Dia mendorong tubuh Jino agar berhadapan dengan dia. “Jika kita membahasnya tidak akan pernah habis. Cukup sampai disini ucapan terima kasih dan maaf. Hmm..”

Jonghyun menangkup wajah manis Jino. Matanya fokus pada bibir pemuda itu yang membuka hendak bicara.

Lumatan kecil. ciuman lembut. Jonghyun menarik tengkuk Jino lebih mendekat kepadanya.

Tubuh Jino telah berada di atas Jonghyun. Mengalungkan tangan kecilnya di leher jendralnya. Memperdalam ciuman mereka.

Hanya sekedar ciuman basah. Hanya seperti itu yang mereka lakukan. Jonghyun yang selama ini tidak pernah melakukan hubungan fisik lebih jauh merasa sedikit aneh ketika merasakan sesuatu dalam tubuhnya menegang. Dia merasa jika nafsu yang selama ini tidak pernah datang. Tidak pernah bereaksi pada dirinya muncul menampakan diri.

“Akh..”

Jonghyun merebahkan Jino di sofa besar putih di dalam kamarnya.

“Aku tidak mengerti bagaimana ini bermula.. hanya saja aku menginginkanmu Jino..”

Jonghyun memperhatikan perubahan wajah Jino dari terlonjak kaget hingga malu dengan wajahnya memerah.

“Aku terkena penyakit impotensi Jino – ah.. tapi kenapa aku bereaksi kepadamu”

Bingung dan tidak mengerti tentang kondisi dirinya sendiri. Jonghyun hanya sabar menanti perkataan Jino menjawab perkataannya.

“Apa saya salah jika menyimpulkan jika anda mencintai saya melebihi cinta – cinta anda sebelum ini Kim – sama?”

Melebihi cinta sebelumnya? cinta dia kepada Kibum? Dia memang mencintai wanita itu tapi hanya sekedar cinta tempat dia merasa nyaman dan di terima. Dia merasa sakit hati ketika dia dikhianati oleh Kibum dan terpuruk, namun dia masih bisa mencoba untuk menghadapinya. Tapi… bayangkan jika itu Jino.. PERIH…. Dia.. dia tidak akan sanggup untuk merasakan sakitnya jika pemuda manis itu mengkhinatinya. Dia tidak akan sanggup lagi untuk membuka mata. Dia akan mati.

Satu penjelasan yang mencerahkan keraguan dalam bilik hatinya “Jadi seperti itu.. walau pertemuan kita singkat tapi aku sudah sangat mencintaimu.. aku bahkan mencintaimu hingga seperti ini..”

“Saya lebih mencintai anda Kim – sama”

Begini saja cukup. Mungkin dia terlihat tidak perduli lagi dengan pandangan dunia luar terhadap mereka. Dia seorang Kim yang jatuh cinta, tidak sangat jatuh cinta kepada Cho Jino pemuda asistennya dalam bekerja. Tidak bisa dia pungkiri jika semakin hari cinta mereka semakin kuat.

“Aishiteru..”

Jonghyun kembali melumat bibir Jino. Lidahnya menjilati bibir luar dan memaksa masuk.

“Ungh..”

.

.

Taemin terus muntah , ia tidak bisa makan makanan yang disajikan oleh penjara. Jika ia paksakan hanya untuk mengisi perutnya dan menjaga agar ia tetap sehat untuk menghadapi penyelidikan, maka itu percuma, beberapa saat kemudian ia akan muntah lagi, dan ia merasa tidak enak badan …

Terlebih bebannya bertambah rasanya, ia dengar desas desus yang berdedar, seorang pangeran dari Korea menembak dirinya sendiri di Okiya nya, siapa lagi kalau bukan Jinki –sama, ia khawatir dengan Kibum –san, ia tidak tahu apa yang sedang menimpa mereka, ia merasa bersalah juga karena tidak bisa membantu Kibum –san, dan menambah masalah di Okiya mereka … kenapa, kenapa harus ia dan Kibum –san yang terluka dari sebuah cinta begini?

“Taemin –sama, silahkan ikut keruang persidangan …”, Taemin berdiri, tubuhnya limbung, ia pegang tembok disekitarnya.

Taemin dan Yuki menerima kabar gembira, palu dipukul, mereka diputuskan tidak bersalah, Hiroshi Yuji, seorang pria yang pernah Taemin temui di kantor Minho, adalah kunci dari semua kasus nya. Pria itu mengatakan semua bukti-bukti atas kejahatan Yuri berikut keluarganya, karena selama ini ia diminta oleh Minho untuk melakukan penyelidikan atas istri yang dinikahinya.

Apa yang dilakukan Yuji sangat besar, ia membeberkan semua mulai dari berkas penyelundupan surat tanah keluarga Minho, membawa saksi kejahatan pembakaran rumah Taemin dan Minho beberapa saat lalu yang mengakui mereka utusan Yuri … dan … juga saksi yang sangat membuat Yuri tidak bisa berkutik. Ayah Yuri sendiri, Yuri menangis meraung melihat ayahnya sendiri membeberkan kejahatannya, ia berteriak bahwa ia dijebak, keluarganya juga dijebak.

“Kita bebas Taemin-san …”, Yuki memeluk Taemin erat dan menangis, Taemin tersenyum, akhirnya … pada akhirnya ia bisa bertemu Minho. Ia edarkan pandangannya ke arah lain, melihat kedua orang tua Minho …

“APA?!”, pekik Ibu Minho, Taemin terkejut, sedetik kemudian kedua orang tua Minho melesat pergi. Taemin tahu satu firasat, ada yang tidak beres… Mungkinkah … Tidak … tidak mungkin … tidak akan terjadi apapun …
.
.
Lenguhan dari kecapan mereka. Jonghyun memejam mata menikmati. Rasa basah dan lembut bibir mereka bersatu kian dalam.

Jonghyun memiringkan wajahnya. Meraup celah kosong di bibir Jino dan kembali melumat kemudian menghisapnya kuat. Mereka berciuman hingga kehabisan nafas.

BRAK

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?”

Sang kepala keluarga Kim masuk mendobrak pintu. Matanya membesar  seakan dapat keluar kapan saja dari tempatnya. Urat – urat kemarahannya terlihat di keningnya. Nafasnya memburu. Wajahnya memerah.

Anaknya. Anak keduanya tengah bergumul dengan sesama pria dihadapannya. Cukup. Sudah berapa kali anak tidak berguna itu menyusahkannya. Impoten? Bercerai? Dan kini menjalin hubungan yang menjijikan.

“KAU BENAR – BENAR ANAK TIDAK BERGUNA!”

Lelaki tua itu meraup kerah baju Jonghyun dan melemparkannya bagai sampah ke lemari besar.

BRUG

PRANK

Kaca lemari tersebut pecah setelah tertimpa tubuh Jonghyun. Beberapa benda didalamnya terjatuh dan menimpa jendral itu.

“KIM – SAMA!”  Jino berteriak khawatir. Dia hendak berdiri mendekati Jonghyun namun sebuah samurai tersajikan siap menyayat lehernya

“JANGAN SAKITI DIA…” erang Jonghyun berusaha menjauhkan benda – benda yang menimpanya.

“AKH…….” Rintihnya. Sebuah kaca tertembus di sekitar pinggangnya. Dia mencoba menariknya. “SShhhh aKHhh”

“Kim – sama”

Jonghyun hanya menatapnya dengan raut wajah menenangkan namun pada kenyataan dia kehabisan nafas menahan sakit di sekitar pinggangnya. Darah bersimbah di sekitarnya. Jino semakin khawatir dan gelisah di tempat duduknya

“Kenapa tidak sekalian benda itu menembus jantungmu anak sialan hingga kau bisa mati tanpa mempermalukan keluarga ini. Aku sudah menaruh curiga terhadap kalian.. dan ternyata benar seperti ini. sial. Kenapa kau tidak mati saja! ”

“Hahaha. Sepertinya tuhan masih menyayangiku Oba- san.”

“Jangan memanggilku seperti itu, kau bukan anakku lagi”

“Cih.. Aku melakukannya karena terpaksa”

“KAU……..”

Lelaki tua itu mendekati Jonghyun siap dengan samurainya. Jino menarik kakinya membuat kepala keluarga Kim meliriknya dengan pandangan jijik “Lepaskan tanganmu manusia menjijikan”

Jino menggeleng dan tetap menahan Kaki ayah Jonghyun. Lelaki tua itu tampak marah dia menendang – nendang tubuh Jino yang meringkih kesakitan.

“Lepas Jino.. kumohon..” seru Jonghyun

“Tidak Kim – Sama. Dia bisa membunuh anda”

“Pemuda bodoh. Aku akan membunuhmu terlebih dahulu”

“TIDAK………..”

Dan semuanya terlambat, samurai itu telah berhasil menyayat leher Jino. Tak sempat mengucapkan kata apapun. Pemuda itu telah jatuh bersimbah darah dengan mata terbuka teraliri air mata.

“JINO………….”

Jonghyun berusaha bergerak. Namun lukanya sangat parah. Dia bisa merasakan perih dari sekitar tubuh belakangnya. Dan darah di pinggangnya juga tak berhenti mengalir.

“Akh…” erangnya ketika menyeret tubuh mendekati Jino. Setiap langkah yang dia ambil merupakan kesakitan terdalam dari tusukan ribuan samurai, sekujur tubuhnya merasa perih, lecet dan dia dapat merasakan jika  darah tak hentinya merembes. Tangannya meraih tangan pemuda yang beberapa hari ini mulai dia cintai. Tak ada air mata di mata teduhnya. Mungkin telah habis. Telah mengering. Tak ada gunanya karena dia tahu pemuda itu tidak suka jika dia menangis.

Dia menatap Jino dan hanya bisa  tersenyum seperti orang gila. Memang mungkin takdir mereka akan seperti ini. dia tidak ingin melawan. Dia pasrah. Dia memejamkan mata. Kesedihan yang tak berujung. Kemudian kebahagiaan sesaat. Sepertinya dunia yang dia miliki hanya seperti itu. mungkin dia memang harus pergi dari dunia ini. Dia harus meninggalkan semua penderitaannya disini. Jinonya. Jinonya telah menunggunya.

“Kenapa kau tersenyum anak sialan?”

“Hidup itu ternyata indah..”

“Cih..”

“Bunuh aku secepatnya.. bukankah kau takut jika aku kembali mempermalukan keluargamu..”

“Tentu saja kau akan kuhabisi seperti pasangan menjijikanmu itu. seharusnya aku membunuhmu sejak dulu. Pantas saja kau tidak bereaksi terhadap wanita. Ternyata kau seorang yang tidak normal. Kau memang anak pembawa bencana”

“Hahahah.. sayang sekali anak pembawa bencana ini ternyata adalah darah dagingmu”

Lelaki tua itu mengarahkan ujung samurai tepat kearah jantung Jonghyun.

“Apa kau sama sekali tidak memiliki rasa sayang untukku? Apa aku hanya sekedar alat untukmu?”

Jonghyun menatap ayahnya pilu.

“Kau hanya alat untukku”

Jonghyun menangkap samurai dengan tangan kanannya. Dia hanya membiarkan ketika bagian tajamnya kembali menyayat telapak tangannya. “Kalau begitu aku benar – benar tidak di harapkan untuk berada di dunia ini Oba- san”

JLEB

Ujung samurai dia arahkan tepat mengenai jantungnya. Darahnya mengucur deras dari tempat dia menusukannya. Tak sampai disitu, jonghyun tersedak mengeluarkan darah. Dia terjungkal kedepan hingga tubuhnya menindih Jino.

“Tunggu aku Jino.. tunggu aku dimana cinta kita tidak di larang”

Bisikkan terakhir. Lirihan teramat lirih. Samar matanya mulai tertutup. Nafasnya mulai melambat. Dan pada akhirnya dia pergi, meninggalkan penderitaannya.

jika ketiadaan adalah tempat terakhir untuk cinta kita
maka tak ada gunanya berada di lautan keramaian
jika kehampaan adalah tempat mulia untuk cinta kita
maka aku akan menghilang dari dunia yang penuh pesta pora

tempat abadi dimana kita tak di kekang
bisa mencurahkan apa yang ada dihati
menjelaskan kepada siapapun
meneriakannya kepada yang mau mendengar

hey…. Kami.. yah kami.. adalah sepasang kekasih
kami saling mencintai,,,

dan cinta kami tidak salah……

.

.

Lautan pelayat berdiri mengelilingi sebuah lubang dimana disampingnya ada peti mati mahal berbingkai logam – logam indah. Didalam sana. di dalam peti mati itu telah tertidur seorang pemuda yang merupakan pujaan daru ratusan ribu manusia di korea. seorang pangeran yang seharusnya menjadi Raja masa depan, seharusnya bisa menjadi sebuah acuan dari rakyatnya. Namun kini. Dia hanya bisa terbaring kaku disana. Dia telah pergi dalam kedamaian.

Matanya terpejam. Wajahnya pucat pasi. Dia mengenakan pakaian kebangsaannya. Pakaian yang melambangkan jika di adalah seorang pewaris Imperial Korea. HWANGSASON.

Tak tampak sama sekali jika dia telah tiada. Dia terlihat seakan tertidur, terlelap dalam tidur panjang yang suatu waktu akan terbangun.

Wajahnya masih terlihat tampan
Mata sabit yang terukir
Bibir bulan purnama yang penuh
Kedua pipi yang bagai bulan di malam hari
Dia pusat dunia yang indah
Dia adalah segala rotasi dari perputaran sebagian manusia yang mencintainya.

Lee Jinki..
Pangeran Korea yang Sempurna

“Oppa… hikss…..” Gadis muda memakai hanbok putih menangis didalam pelukan ibunya. Dia melihat dengan takut ketika peti mati kakaknya di angkat dan di masukkan kedalam liang lahat yang nanti akan mengebumikan seluruh jasadnya

“AKH….. OPPA….ANDWE…..….”

Perlu beberapa manusia berpakaian hitam selayaknya bodyguard untuk menenangkan gadis itu. dia di bawa menjauh dari sana. dibawa pergi dari pemandangan menyayat hati. Disana ratusan manusia menangis. meratap pilu kepergian pemuda baik hati itu.

“INI SALAHMU UMMA… INI SALAH KALIAN… KENAPA TIDAK MENGIZINKANNYA BAHAGIA.. KALIAN TELAH MEMBUNUHNYA…”

Gadis itu meraung histeris, memukul – mukulkan kepalan tangannya kepada para bodyguard yang mencoba menenangkannya. Ibunya hanya bisa diam membatu dengan air mata tak henti mengalir. Merasa terluka. Matanya yang berbingkai sabit sama seperti anak lelakinya terpejam. Tanganya mengepal didada. Dia melihat jauh kearah langit, mengabaikan teriakan – teriakan menyalahkan dari anak keduanya.

“Jinki… Lee Jinki..” bergumam lirih. Wanita itu tak dapat menyaksikan lagi ketika peti mati sudah hampir tertutup oleh tanah.

“Maaf…”

.
.
Kibum bersenandung pelan. Rambutnya acak – acakan. Kimononya berantakan. Noda darah mengering di beberapa bagian di obinya. Tangannya yang tergeletak disisi kiri tubuh hanya terkulai dengan telapak yang bersimbah darah. Baru saja belati tajam itu menyayat pergelangan tangannya.

Matanya terpejam damai. Tangan yang memegang belati menyusuri bagian leher dan pundaknya. Dia menambah luka sayatan disekujur tubuhnya dengan sengaja. Kibum hanya ingin mengalihkan rasa sakit, perih. Kosong dan hampa di hatinya.

“Oka – san..”

Yuki memekik pelan berlari mendekati kibum. “Apa yang anda lakukan? Kenapa anda menyakiti diri anda?”

Yuki membuka laci baju Kibum, meraih kain yang bisa menyerap dengan cepat. Lalu kembali duduk disamping Kibum. Gemetar, tangan mungilnya menyapu darah yang mengalir dari pergelangan tangan. Leher dan pundak.

Tak tampak jika Kibum meringis atau merasa sakit. Dia mati rasa. Matanya tetap terpejam dan dia tetap bersenandung menyanyikan sebuah lagu.

“Oka – san.. anda harus segera menemui dokter.. luka – luka anda tidak bisa di biarkan. Nanti meninggalkan bekas” Yuki membebat luka di pergelangan tangan Kibum. Dia terisak kecil. oka – sannya selama beberapa hari ini. terhitung semenjak insiden bunuh diri Pangeran Lee berdiam diri seperti patung. Tidak makan. Tidak mau melakukan apapun. Dia tidak beranjak sedikitpun dari duduknya. Dan hari ini. dia melukai diri sendiri.

“Oka – san.. hiks.. saya mohon.. Oka – san, kembalilah menjadi Oka –san seperti biasanya.. hiks..”

Yuki menunduk sembari menarik – narik kimono Kibum agar tersadar. Wanita cantik itu tengah berada di dimensi lain. di dunia yang tak mengijinkan siapapun mengganggunya. Tak berselang lama. Tangannya yang telah dibebat meraih pipi Yuki. Kibum tersenyum, menghapus air mata maiko yang telah mengabdi kepadanya selama beberapa tahun.

“Kenapa menangis Yuki – chan?”

“Oka – san.. anda… anda telah sadar?”

“Apa maksudmu? Aku tidak pernah merasa pingsan atau tertidur”

“Tapi anda tidak ..”

“Bisa ambilkan Kimono biruku itu Yuki? Dan tolong bawa meja riasku kesini”

“Apa yang ingin anda lakukan Oka – san?”

“Berdandan tentu saja!”

“Tapi anda harus kerumah sakit terlebih dahulu”

“Tidak bisa Yuki. Aku harus segera menemui Jinki. Aku tidak ingin dia menunggu lama..”

“TIDAK… anda tidak boleh Oka – san”

“Kau ingin membantahku?”

Yuki terdiam. Kibum mengeluarkan tatapan mautnya seperti biasa jika dia merasa maiko tidak menuruti kemauannya. Yuki melangkah berat dengan menangis pelan. Dia berusaha menghapus air matanya.

“huhuhu.. hikss…”

Mengambil Kimono biru di gantungan di dekat lemari – lemari kayu lainnya. Dia beralih ke dekat pintu, disana ada sebuak kotak besar berwarna coklat. Yuki mengangkatnya.

Dengan Kimono dan kotak tersebut Yuki menaruhnya di depan kibum “Ini yang anda hiks..anda butuhkan Oka – san”

Kibum membuka kotak tersebut. Tutupnya merupakan sebuah kaca dimana dia bisa bercermin. Didalamnya ada rentetan alat riasan wajah yang terdiri dari bedak, perona wajah dan bibir. Kibum mengambil sebuah sisir kayu bergerigi rapat. Mulai dari atas kepala hingga ujung rambutnya. Dia menyisir pelan tak lupa untuk bersenandung. Dia mengambil sebuah Kanzhasi biru. Menatapnya terdahulu dengan raut  penuh rindu. Lalu dia mulai menyanggul rambutnya dan menyematkanya dengan manis.

“Yuki.. Bantu aku memakai kimono dan berhentilah menangis.”

“Baik Oka – san”

Yuki menahan tangisnya dengan nafas sesak. Dia memakaikan kimono dalam berwarna putih dan kemudian memakaikan kimono luar berwarna biru ketubuh kibum. Mengambil obi berwarna Putih dan melilitkan di sepanjang perut Kibum, airmata tak hentinya menetes dari kedua matanya. dia menangis tanpa bersuara karena Kibum telah memerintah dia agar tidak menangis. Tapi. Dia terlalu sedih akan apa yang telah di lakukan oka – sannya. Oka – sannya berniat menyusul Jinki.

“Bagaimana? Apa aku terlihat Cantik?”

Kibum membalikan badannya tepat kehadapan Yuki “Sudah kukatakan jangan menangis Yuki – chan”

“Maafkan saya Oka – san”

Yuki menghapus air matanya

“Baiklah.. antarkan aku  ke tempat Jinki…”

“Tapi… saya mohon Oka – san.. anda jangan-

“Yuki.. aku tidak suka di bantah!! Aku tidak ingin membuat Jinki menunggu…”

Kibum menatap langit biru. Dia tersenyum bahagia. Sesuatu membuncah dalam hatinya. Kesempatan yang akhirnya dia dapatkan. Kibum sebentar lagi akan menemui Jinki. dia dapat merasakannya jauh didalam lubuk hatinya.
.
.
Belum kering rasanya air mata yang kemarin turun di pipinya, dan rasanya belum sembuh juga rasa sakit hatinya, bahkan belum sempat juga ia katakan bahwa ia benar mencintai nya … sungguh dalam hatinya ia mencintai Minho, ingin rasanya ia teriakan itu, seandainya waktu bisa diputar, dan ia bisa berikan apapun pada Tuhan untuk mengulang satu hari –tidak, satu menit saja, dia akan mengatakan itu pada Minho …

Berdiri dengan anggun dengan kimono terbaiknya, berdiri tegak, setegak mungkin dan membiarkan air mata mengalir dipipinya, bau dupa menyengat, hilir mudik orang melewatinya, namun kakinya tetap berdiri didepan pintu masuk rumah besar itu, menggenggam o-koden* di tangannya …

“konodabi wa goshusho sama desu* (turut berduka cita)” lirihnya pelan sekali, kemudian membungkuk dalam, ia terisak … mengigit bibirnya dengan kuat, ia sudah tidak kuat … perlahan kakinya melemas, terjatuh di tanah, bersimpuh di depan peti yang ada dihadapannya.

“Hiks ….hikss ….hukkss…”, mencengkram kimononya sendiri,

“A-apa kau bilang Yuji-sama?”
“Itu benar Yuki, saat sidang selesai, kondisi Minho –sama memburuk … dan sempat mengalami koma selama 2 hari …lalu …”
“Bohong! Dia hanya …tidak mungkin…kenapa?”
“Lukanya menyerang rusuknya, ada saraf ke otak yang kena … maka dari itu …”
“Ap-apa…kenapa Minho –sama?”
“T-taemin san?”
“Ada apa dengan Minho –sama?! KATAKAN ADA APA?!”
“…”
“….dia …meninggal subuh ini…”

[“Kau … siapa namamu?”, tanya Minho.
“Taemin… Lee Taemin…”, katanya, Minho tersenyum.
“Taemin…nama yang bagus, dan …coba kau dengar ini, Taeminho…bukankah menurutmu itu terdengar bagus? Kita cocok…”, kata Minho asal]
.
[“Kau suka Taemin?”, Tanya Minho, Taemin menoleh dan mengangguk.
“Ya , aku sangat suka, tempat ini indah, sama seperti Okiya …”, kata Taemin, Minho menarik nafas.
“Tapi tempat ini akan menjadi tempat mu selamanya bersamaku …”, balas Minho, Taemin mengangguk
“Ya Minho sama … aku akan melayani anda sepenuh hatiku …”,]
.
[“Taemin … aku mencintaimu…”, desah Minho mencium leher Taemin seiring desahan nya, Taemin melingkarkan tangannya ke pundak Minho. Membenamkan kepalanya disana.
“M-minho –sama… a-aku…”]

Semua rasanya sudah terlambat, kata itu mengambang begitu saja, kata cinta yang mudah seharusnya bisa ia katakan, bukan saat dimana Minho tidak dengar ketika ia katakan sebelum semua ini terjadi …
Ia peluk tubuhnya sendiri, masih terasa rasanya pelukan Minho saat itu, masih terasa kecupannya di lehernya, masih terasa ciumannya di bibirnya, dan masih berasa deru nafas di telinganya … dan masih terasa tangan dingin itu perlahan turun melemas dari genggamannya …
Ia menangis … dan terus seperti itu …

Hati ini telah pergi mencari tempatnya berarti
Hati ini telah berlari dariku dimana dia bisa berguna
Menyembunyikan dirinya dariku sebagai penguasa.
Tidak lagi ingin menjadi seluruh hidupku
Hati ini memilih terbagi. Memilih memisahkan diri
Berada di separuh jiwaku, berada di separuh jiwamu

Aku tersesat dalam dua arah
Tidak dapat memilih untuk maju atau memundurkan langkah
Hanya bisa berjalan di tempat bagai raga tak berjiwa
Tanganku ingin menggapaimu
Sedangkan jemariku telah di lekat olehnya

Bagaimana aku harus bersikap
Memilih cintaku atau mengabaikan cintanya yang besar terhadapku?

TBC~

PART 8 B coming soon~ Please RCL.
We really love that!

Sorry for mistake n miss typo … kita buat ini berdua dengan bahasa sendiri-sendiri, dan dijadikan satu! jadi maaf kalau ada perbedaan gaya bahasa dan masih banyak miss dalam koreksi tulisan!Annyeong~
-Vienasoma Newmoon & Sanniiewkey~-

164 thoughts on “[2min-Onkey] Forbidden Love of a Geisha PART 8 A of 8 B

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s