[2min/mpreg] Take me in your arms – part 7end + Epilogue


Foreword:

Annyeong, ini dia … part terakhir+epilog yang gue janjiin sama kalian semua, nggak kerasa FF nista ini banyak yang suka juga, kekekek~semoga suka

COMMENT AND LIKE ARE LOVE!

By: Sanniiewkey~

Minho dengan tergopoh turun dari kasur, tidak perduli ia hanya memakai piyamanya saja, dengan segera ia mengambil selimut yang ia gunakan dan menggendongnya keluar kamar mereka, ketika sudah diluar ia ingat ia tidak mempunyai kendaraan sama sekali, ia rasakan sesuatu membasahi tangannya , wajahnya berubah menjadi horor ketika ia melihat darah merembes dari bagian bawah Taemin.

“SHITT!!!”, teriaknya, tidak perduli ia berlari ke ujung jalan, menuju jalan besar, berharap tengah malam masih ada taxi yang lewat.

Dengan nafas tersengal ia memeluk tubuh Taemin erat, “Please … bertahanlah … kumohon…”, Minho menciumi pucuk kepala Taemin, melirik ke wajahnya yang memucat, terus berlari ke ujung jalan, tidak banyak mobil yang lewat, ia berusaha memberhentikan mobil siapa saja yang lewat , namun percuma, tidak ada yang perduli.

Minho melihat kesekeliling, apapun,puskesmas atau apapun, ia tidak ingat ada dokter 24 jam disekitarnya …

“Shitt! Kemana semua mobil?!!!”, teriaknya frustasi,

“Ngggh….*hiks…a –appo…”, Minho melihat ke arah Taemin yang meringis kesakitan, menarik ujung kaosnya dengan mata tertutup dan air mata yang merembes dari sana.

Tidak ada pilihan lain, ia melihat mobil sedan dari kejauhan, ia mungkin gila, dan bisa saja tertabrak, tapi tidak ada pilihan lain, ia melambai dan berteriak …

“STOP!! TOLONG KAMI!!!’, teriaknya, namun mobil itu tidak melambat , Minho menggeram, ia memeluk Taemin erat dan berjalan ketengah jalan, melihat mobil itu menuju ke arah mereka … berhenti … kumohon …berhentilah, tolong kami…
.
.
“MINHO!”

Minho mendongak, melihat kedua orang tuanya datang dengan wajah panik, Minho yang duduk dibangku ruang tunggu hanya bisa menatap mereka berdua dengan wajah lesu dan kusut.

“Oh sayang … gwencana, semua akan baik-baik saja…percaya pada umma…”, ucap Heechul memeluk anaknya itu, mengusap punggungnya,, menghilangkan rasa gelisah dihatinya. Minho tidak bergeming, ia hanya menopang kepalanya di pundak Heechul.

“Aku takut umma … dia …terlihat sangat kesakitan … aku tidak bisa berbuat apapun …”, Minho meremas rambutnya frustasi, jangan … jangan biarkan ia terluka, jangan biarkan ia menderita Tuhan , dia hidupku … dia segalanya bagiku, jika terjadi sesuatu padanya, maka kau juga harus lakukan sesuatu padaku … biarkan aku saja yang menderita …

“Gwencana Minho … kau berdoa saja, semua akan baik-baik saja, percayalah …”, Siwon mengelus kepala Minho dengan sayang.

“Minho!”, teriak sebuah suara, “Minho, dimana Taemin? Bagaimana keadaan my baby? Katakan padaku …”, Key yang datang bersama Onew sudah mulai panik, ia menangis, Minho tidak menjawabnya, ia memilih diam dan menatap ruang operasi.

“Mereka sedang mencoba memberikan pertolongan …”, jelas Siwon yang duduk memeluk Heechul yang masih menenangkan Minho.

Semua wajah terlihat khawatir, Minho tidak ada hentinya menatap pintu UGD, berdiri disana dengan selimut yang ia gunakan untuk menyelimuti Taemin tadi.

“Kalau nanti anak kita lahir, kau mau ia seorang namja atau yeoja, Hyung?”
“Hmm… aku maunya yeoja saja …biar ia bisa secantik ummanya, aku mau ia punya mata seperti mu, aku tidak pernah bosan melihat matamu yang selalu menatapku…”
“Gees~ Hyung gombal … aku maunya namja saja, kalau yeoja, pasti kau lebih sayang dia nanti dari pada aku … aku tidak mau jadi yang kedua …”
“Hahahaha … kau ini aish~ tentu saja tidak …dia ada karena aku mencintai ummanya kan? Kan kita buatnya sama-sama…?”
“YAH! Apa-apaan sih…!”, Taemin mempoutedkan bibirnya.
“Kalau anak kita namja sama saja kan? Nanti kau lebih cinta dia kalau dia lebih tampan dariku?”
“Hahaha…mungkin saja…”
“Hei~~”
“Lalu nama nya Hyung? Apa kau sudah pikirkan nama mereka?”
“Ng … sudah terpikirkan sih …kalau namja akan kuberi nama Choi Minhwa dan kalau yeoja Choi Minji?”
“Hmm…itu bagus Hyung, aku suka!!”
“Jeongmal? Saranghae …”
“Nado Hyung…nado…”

Minho mengingat kenangan itu saat mereka berdua membicarakan hak itu, ia tersenyum menyentuh kaca pintu ruang operasi. Kau berjanji padaku Taemin …kau berjanji … bertahanlah …
.
.
Beberapa lama kemudian seorang dokter keluar dari balik ruang UGD, wajahnya tampak lelah dan kelihatan sedih, Minho tidak menunggu lama, ia segera berlari ke arahnya diikuti oleh kedua orang tuanya dan Key serta Onew yang menunggu berita darinya.

“A-apa yang terjadi? Bagaimana keadaan Taemin?”, tanya Minho tidak hentinya, dokter itu melihta ke arah Minho dan kemudian ke yang lain.

“Apa kalian … semua keluarganya? Aku butuh bicara dengan keluarganya…”, jelas nya,

“Kami semua keluarganya, katakan saja pada kami …”, jelas Heechul tidak sabaran. Dokter itu mengangguk dan membuka pintu kamar rawat Taemin. Semua segera masuk, melihat Taemin terbaring di atas kasur, menatap ke arah Minho dengan lesu, dengan segera ia berlari ke sisinya, menggenggam tangan itu erat dan mencium keningnya.

“Baiklah, begini …”, semua mulai menatap wajah dokter yang terlihat pucat, “ … Taemin, Minho … bayi kalian, bayi kalian lemah, seperti yang sudah kalian ketahui kondisi Taemin disini juga riskan dengan kehamilan yang beresiko karena ada miom … dan …’, dokter itu menjilat bibirnya, “ … maaf, saya dengan menyesal harus mengatakan ini, saya takut kalau ini akan membahayakan anda Taemin shi, kamu takut tidak bisa menyelamatkan anda, kau tetap mengalami pendarahan, dan sebagai dokter … kami …”

“Kenapa lama sekali? Cepat katakan apa yang terjadi?!!’, pekik Heechul yang mulai emosi, Siwon disampingnya membiarkannya diam, Minho merasakan pegangan tangan Taemin mengerat, ia menoleh menatap Taemin yang lurus menatap dokter dan bersiap mendengar yang terburuk.

“K-katakan … dokter …”, lirih Taemin, Minho mencium tangan Taemin dan menatapnya, berharap ia akan tegar, namun Taemin tidak menangis,ia menatap dokter itu lekat.

“ … kami, kami berkesimpulan bahwa … kami hanya bisa menyelamatkan salah satu dari anda Taemin shi, bayi anda … atau anda sendiri …”,

Semua sunyi, hal itu seperti pukulan yang sangat keras bagi mereka, Minho membeku ditempatnya, ia bisa dengar Key dan Heechul menangis, ia tatap Taemin yang meremas tangan Minho, Minho bangkit dan memeluk tubuhnya, perlahan pertahanan Taemin runtuh, ia rengkuh tubuh Minho dengan erat dan mulai menangis kencang, meraung … Minho memeluknya dengan erat, bagaimana … apa yang harus dia lakukan ??

“M-maafkan kami …”, ucap dokter itu, Taemin menatap ke arah dokter itu, mengusap air matanya dan melepas pelukannya dari Minho.

Minho menatapnya heran, “Selamatkan bayi ini!’, ucap Taemin disela isaknya, Minho terbelalak.
“ANDWE!!”, pekik Minho berdiri menatap Taemin tidak percaya, namun Taemin tidak menatapnya, “Selamatkan Taemin!”, ucap Minho melihat ke arah dokter.
“Selamatkan bayi ini, kumohon…”, balas Taemin.
“TAEMIN!’, teriak Minho, Taemin tidak menggubris, “Taemin … please, jangan bercanda …aku tidak bisa hidup tanpamu …”, Minho berlutut di sisi kasur dan mencium tangannya, “Please biarkan bayi ini pergi … “ tidak ada jawaban dari Taemin.

“Selamatkan bayi ini … kumohon padamu dokter…”
“TAEMIN!! AKU BILANG AKU TIDAK BISA HIDUP TANPAMU!!”
“TAPI KITA MENCINTAI BAYI INI!!” teriak Taemin menangis
“AKU LEBIH MENCINTAIMU DARI APAPUN JUGA!!!”, teriak Minho, Taemin terdiam, dan tanpa mereka tahu dokter dan yang lain sudah berada di luar kamar, membiarkan mereka berdua disana.
.
.
“Selamatkan mereka berdua!”, Onew maju kedepan menatap serius pada dokter itu, Key disampingnya tetap menangis namun matanya ikut menatap dokter itu.

“Kami tidak bisa—‘
“SELAMATKAN MEREKA!!”, teriak Heechul, “Kumohon … selamatkan mereka, mereka orang terpenting dalam hidup kami, kau dokter kan? kau disini untuk menyelamatkan pasien kan? kau harus menolong mereka, kau tidak bisa berkata seperti ini, sebelum kau mencobanya!!!”, teriak Heechul, Siwon mencium sisi kepalanya dan menariknya kepelukannya.

Dokter itu terlihat sangat bingung, namun semua menatap berharap padanya, ia menarik nafas dan mengangguk kemudian pergi, namun Siwon sempat menarik tangannya lagi,
“Selamatkan keduanya, aku mohon!”, tatapnya
“Akan kami usahakan!”, katanya.
.
.
Hampir setiap malam Siwon mengunjungi Taemin disela kesibukannya, ditemani Heechul yang setia mendampingi Minho untuk menjaga Taemin. Minho tidak banyak bicara, ia dan Taemin tidak mau mendebati semua hal yang mengharuskan mereka memilih, antara bayi itu atau Taemin…

Mendekati hari kelahiran Taemin, keadaan semakin parah, ia terus meringis kesakitan, tubuhnya menjadi lemah dan fisiknya semakin mengkhawatirkan. Minho disisi lain tidak ada hentinya berdoa dalam hati dan berharap tidak terjadi apapun terhadap Taemin.

Mereka semua berlari menjuju ruang operasi , Taemin meremas tangan Minho dengan kencang , air matanya membasahi pipinya, matanya sayu menatap Minho, Minho menatapnya dalam, ia  berkali-kali berbisik padanya, ‘Gwencana … i love you Taemin … gwencana…’
“Maaf, semua nya hanya bisa sampai disini …”, ucap suster menahan Minho.
“Sebentar…sebentar! kumohon !!’, pekik Minho, ia mendekat ke arah Taemin, mencium bibir itu lama sekali, meski Taemin meringis namun ia masih bisa tersenyum. ‘Kumohon … kuatkan dirimu , kumohon Taemin … demi aku, saranghae …”, ucap Minho.

Perlahan Minho melepaskan tangannya, ia bisa lihat wajah Taemin lama kelamaan menghilang dari balik pintu, ia bisa melihat ia tersenyum padanya, dan entah kenapa Minho merasa Taemin sangat cantik saat itu, benar-benar cantik …
.
.

“Kau sedang apa disini Hyung? Kau tidak dingin?” tangan mungil menyampirkan sebuah selimut besar kepundak Minho dan tersenyum manis, Minho menatap wajah itu dengan bingung.

“Kau ini, kenapa tatap aku seperti itu?! Aku tidak suka caramu menatapku! Matamu itu menyeramkan tahu?”, Taeminc cemberut dan mempoutedkan bibirnya, Minho masih terus menatapnya aneh, perlahan ia menggapai tubuh Taemin yang berdiri didepannya, ia memeluk tubuh itu dengan erat sekali, menimbulkan suara desisan dari bibir namja didepannya, namun namja yang dipeluk itu tidak menolak jika Minho mulai mengeratkannya lagi.

“Taemin … Taemin …”, ucap Minho, ia menangis, namja cantik didepannya menunduk, tersenyum pada sosok itu,

“Hyung … kenapa menangis?”, Taemin mengelus kepala nya sayang, dan mencium pucuk kepalanya, “Jangan menangis Hyung … aku disini kok…”

“A-aku … kau Taemin … kau …”
Taemin meraih wajah Minho dan menatapnya, mencium kening itu dan tersenyum lebar, ‘Hyung, kau kenapa? Jangan menangis, kenapa jadi cengeng? Kan aku yang sering menangis?”, ledek Taemin, Minho diam saja, ia meraih pipi Taemin dan mencium bibirnya,

“Aku bermimpi …”, bisiknya disela ciuman mereka,

“Ehm? Mimpi apa?”, Minho menarik Taemin dan duduk dipangkuannya, memeluk tubuh mungil itu dan merebahkan kepalanya di dada Taemin.

“Aku mimpi … mimpi tidak menyenangkan … kau jatuh didepan kamar, meringis kesakitan, kemudian kau masuk ruang operasi untuk menyelamatkan nyawamu dan juga bayimu … itu .. itu membuat ku takut.”, jelas Minho, Taemin berdecak. Ia tersenyum dan mencium bibir Minho .

“Kau hanya bermimpi …”, jelasnya berdiri dan melihat ke arah langit, tersenyum pada langit dan merentangkan tangannya lebar-lebar. Minho melihat semua itu, wajah Taemin sangat cantik, bahkan sangat sangat cantik … namun bukannya ia tersenyum ketika melihat semua itu, bukannya ia senang melihat Taemin baik-baik saja .. seharusnya ia beryukur, tapi tidak, dia malah takut.

“Taemin …”, Taemin hanya melihat ke arahnya, dan lagi-lagi tersenyum.

“Gwencana Minho …”, jelasnya, Minho berdiri berusaha menggapainya, namun ia semakin menjauh, ia menjadi takut sekali, ia kejar Taemin , matanya berair,

“TAEMIN …TAEMIN…TAEMIN!!!”
.
.
“MINHO!!!”,
“…TAEM—“ Minho terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan matanya, melihat Onew berdiri didepannya, nafasnya tersengal, keringat bercucuran … ia sadar ia hanya baru saja bermimpi

“TAEMIN!! Mana Taemin?! Aku mau menemuinya!”, teriak Minho

“Minho tenanglah , kau hanya tertidur …’, ucap Onew, Minho terhenyak, bagaimana ia bsia tidur disaat begini? Ia mengusap wajahnya kesal dan menatap ruang UGD yang masih menyala.

“Taemin ?” tanya Minho.
Onew menarik nafas, “Kau duduklah yang tenang, Taemin belum juga keluar dari sana, aku juga cukup khawatir, ini sudah 1 jam …”, jelas Onew cemas.

Minho berdiri, ia melihat ke arah ruangan UGD sekali lagi, kemudian melihat Appanya yang tidak hentinya bergumama, mungkin sedang berdoa, sedangkan Heechul yang diam saja di sampingnya. Dan juga Key yang duduk terdiam, ia terlihat berdoa juga, Minho perlahan menangkupkan kedua tangannya, menunduk sebentar…
Tuhan … aku tahu kau maha pengabul segala permintaan hambanya , Tuhan, berikan lah jalan yang terbaik, selamatkanlah Taemin … dia segalanya untukku … dan … jika kau berkenan, biarkanlah aku juga memohon padamu … selamatkanlah bayi kami … aku mohon…

“Minho!”, panggil Onew, Minho mendongak, tersadar dari kekhusyuk-annya berdoa, ia melihat Onew menunjuk ke arah UGD, ia berdiri … ia mendengar suara bayi menangis, mendadak ia menjadi senang setengah mati, ia berlari kedepan pintu, namun sedetik kemudian ia tersadar …

Tubuhnya membeku, kalau ada suara tangis bayi itu artinya …
“T-Taemin …”, nafasnya tercekat, air mata mulai menggenang di pelupuknya, tubuhnya gemetar, terhuyung kebelakang dan membuatnya terduduk di bangku, cemas … Onew dan Key maju dan siap menerima kabar dari sana.

Tak lama seorang dokter keluar, wajahnya tampak lelah, namun …
“Minho shi?!”, panggilnya, Minho mendongak dan maju mendekat,
“Taemin! Bagaimana keadaannya, katakan padaku! Katakan kalau kau selamatkan dia!! Katakan!”, teriak Minho mencengkram baju dokter itu,
“Minho! Tenanglah!’, Onew menarik mundur Minho,

Dokter itu menarik nafas dan menatap seluruh keluarga, kemudian dengan senyum lelah namun pasti ia menyampaikan sebuah kalimat yang membuat semua orang memberikan harapan tinggi.
“Semuanya … ini adalah keajaiban…”, ucapnya. ‘Selamat Minho shi … ibu dan anak nya selamat …”, tambahnya , dan itu membuat tangis Key dan Heechul pecah, tangis bahagia mereka, Minho nafasnya tercekat, ia lemas dan tersenyum , air matanya mengalir, mencengkram dadanya yang sesak entah karena terharu atau sangat bahagia …

“Awalnya bayi anda tidak menangis, dan kami pikir ia tidak selamat, maka kami hanya konsentrasi pada istri anda karena anda minta selamatkan ibunya, namun semua benar-benar keajaiban, anak anda menangis setelah salah satu suster menepuk pantatnya dan seiring kondisi Taemin membaik karena pendarahan …”, jelas nya panjang lebar.

“B-benarkah?”, tanya Minho.
“Ya Minho shi … selamat, bayi anda sehat, hanya menunggu kondisi istri anda pulih …”, ucapnya dan pergi meninggalkan mereka.
.
.
Ia buka bilik kamar itu, perlahan ia injakan kakinya disana, melihat sosok yang masih terlihat pucat terbaring tidak jauh dari tempatnya berdiri, sosok itu masih terlihat cantik meski ia tertidur karena pasca operasinya yang tentu membuatnya berat … ia berterima kasih pada Tuhan, karena dengan kondisi miom yang tertanam di rahim Taemin ia bisa selamat …

“Umma …”, lirih Minho, terdengar cheesy mungkin, tapi ia sungguh-sungguh memanggil sosok didepannya itu dengan sebutan ‘umma’, ia pantas dapatkan itu, ia pantas karena telah mempertaruhkan nyawanya hanya untuk membuat malaikat kecil mereka melihat dunia.

Minho duduk di tepian kasurnya, menggenggam tangan kurus itu, mengecupnya perlahan dan menatap wajah tidurnya, ia bungkukkan tubuhnya dan ia cium bibirnya, lama ia rasakan, ia rindu bibir itu.

“Umma … ironaa … kau tidak mau lihat uri aegya, hmm?”, bisiknya di telinga Taemin, dan mencium pipinya sekilas dan memandang wajahnya, kenapa ia tidak bangun?
“Kau tidak mau lihat aku juga? Aku kangen padamu … aku juga mau dipeluk …”, lirih Minho, tetap tidak ada tanggapan … Perlahan Minho naik ke atas kasur, memposisikan dirinya disebelah Taemin, berusaha tidak menyentuh luka diperutnya, memeluk sosok itu, merebahkan kepalanya di dada mungilnya, mendengarkan degup jantung yang ia anggap musik terindah dan lullaby bagi aegyanya nanti saat tidur dipelukannya nanti.
.
.
Aku kangen padamu … aku juga mau dipeluk …
Hangat, nyaman, dan membuat tentram hatinya, perlahan ia buka matanya, merasakan sinar yang begitu menyilaukan menerpa matanya, ketika ia mulai terbiasa, hanya putih yang ia lihat, dan perlahan ia rasakan geli di sekitar lehernya. Ia tolehkan kekanan, ia cerna sosok yang ada disampingnya, tersenyum kemudian …

Dengan tangan lemas ia gapai pipinya itu, kenapa kurus? Apa namja didepannya itu begitu mengkhawatirkannya sehingga ia menjadi seperti ini?

Perlahan ia daratkan tangannya ke bibir tebal itu, ia pandangi bibir itu lama, selama ia tidur dan tak sadarkan diri, ia bermimpi, sebuah bibir yang selalu mengecupnya … apakah bibirnya?

“Mmhhmm …”, gumam namja itu, ia hanya bisa tersenyum, dan perlahan ia perhatikan namja itu membuka matanya, dan perlahan mata mereka bertemu, seperti baru pertama bisa melihat mereka saling menatap satu sama lain, ia ingin sekali tertawa dan sekaligus berteriak, karena jika dilihat dari dekat, mata coklat besar itu terlihat menakutkan jika dari dekat.

“Kau lupa wajahku hingga kau memandangi ku lama?”, bisik nya, dan kali ini ia benar-benar takut, karena mata itu membulat dan membesar 3 kali lipat dari biasanya.

“T-taem—“ BRUK!!

Taemin terkejut, melihat namja tak lain Minho itu jatuh terjengkang, ia benar tidak bisa menahan tawanya, namun ia usahakn tidak berlebihan, karena ia rasa nyeri di perutnya.

“Kau … apa sih yang kau lakukan? Aku kan bukan hantu …”, rengek Taemin dengan pelan, Minho, dengan gesit berdiri dan menunjuk Taemin.

“K-kau!”, Taemin berdecak

“Ternyata otakmu bisa rusak walau jatuh begitu saja. Aku Taemin … annyeong!”, sapa Taemin pelan. Minho berangsut maju, menatap sosok itu yang sedang terkekeh, tanpa bisa berkutik Minho sudah mencium Taemin paksa, membuat Taemin memukul pundak Minho.

“Kau gila! Aku baru siuman!”, desis Taemin, namun tidak ada jawaban, ketika ia perhatikan Minho sedang menatapnya, menyentuh wajahnya lembut dan …menangis?

“Minho?”, Taemin meraih wajahnya. Minho menyambut tangan itu, dan mengecupnya lama …

“Syukurlah … syukurlah …” , ia peluk Taemin dan ia cium pundak rampingnya itu, membenamkannya disana, “Terima kasih … syukurlah …”, gumam Minho lagi, Taemin menarik nafas, ia tersenyum dan mengulurkan tangan memeluk pundak Minho, mencium sisi kepalanya …

“Ya … aku baik-baik saja … saranghae Minho ..”

Minho mendongak dan menatap mata itu lama, Taemin berdecak , menghapus air mata Minho, “Nado saranghae …nado …nado …”, ucap Minho. Taemin menarik kerah Minho dan memejamkan matanya, dengan lembut Minho mencium bibir Taemin, merasakan kelembutan ciuman yang sudah lama ia rindukan … terima kasih kau bawa kebahagiaan ini Tuhan …
EPILOGUE~
Aku berlari dengan tergopoh menuju kamar uri aegya berada, kamar tepat disamping kami, sengaja pintu kamar terkoneksi langsung dari kamar kami … aku mendengarnya menangis, mungkin ia ingin susu tengah malam, atau mungkin popoknya yang sudah penuh dan ia sudah tidak tahan minta diganti …

Dengan tubuh lelah aku menghampirinya, ia terus menangis, aku berika susu ia tetap menangis, aku sudah tidak habis pikir harus apa … aku lihat Minho tidur nyenyak sekali. Ia pasti lelah seharian kuliah dan juga harus bekerja di kantor Siwon Appa, aku tidak akan biarkan ia mengurus Minhwa jika bukan hari libur.

“Ssshh … Minbaby diam ya sayang … umma disini …”, kataku terus menimangnya, namun tangisnya terus pecah, aku sudah panik, satu sisi aku kasian pada Minhwa, satu sisi aku tidak mau menganggu Minho tengah malam.

“Ssshh … kenapa baby? Kau lapar ?kau …”, aku terdiam ketika aku elus kepalanya, tanganku terhenti, panik mendera ku sekarang sungguh! Aku cek sekali lagi, panas! Badan Minhwa panas, dan panas sekali! Sontak aku berlari ke arah Minho.

“Minho! Minho! Bangun!!Minhooo!!!”, teriakku panik, maaf Minho aku harus lakukan ini , ia susah untuk bangun, tapi kali ini maafkan aku menganggu tidurmu…

“Mmmh … apaa Minnie? Kenapa Minhwa menangis teruss?”, tanyanya dengan mata tertutup, aku menimang Minhwa ditanganku, air mataku sudah mau keluar,

“God Minho! Irona! Minhwa demam!!”, Teriak ku,

Minho sontak membuka matanya dan berdiri menghampiriku, aku menatapnya dengan mata basah, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan? Kenapa Minhwa bisa sakit? Kami sangat perhatikan kesehatannya, bahkan umurnya masih 4 bulan saat ini …

“Kajja kita kerumah sakit, ia akan baik-baik saja, jangan menangis …”, Minho berlari memakai training seadanya dan t-shirt, mengambil jaket untuk nya, untukku, dan selimut tebal untuk Minhwa, mengggiring kami ke luar rumah dan naik mobil.

Puk! Aku menoleh, melihat Minho tersenyum ketika ia menyelimutiku dengan selimut dan duduk disebelahku. Menggenggam tangan ku yang sedang menggenggam tangan Minhwa yang terbaring di atas kasur dengan selang infus.

“Kenapa aku tidak sadar ia sakit?”, aku mulai menyalahkan diriku lagi, umma macam apa yang tidak mengamati kesehatan putranya?

“Sudahlah … ia sudah tidak apa … dokter bilang kita bawa ia tepat waktu … panasnya juga sudah mulai turun …”, bisik Minho memeluk pundakku
“Ya … tepat waktu, apa jadinya kalau tidak? Aku —Minhwa…”

“Sssht … kau ini, aku sudah bilang gwencana … kau tahu, anak dan ibu itu terkoneksi jadi satu,dia akan tahu jika ibunya sedih, dan ia akan menangis juga, mood dan kondisi bergantung pada ummanya … “, jelas Minho, ‘Jadi kontrol dirimu … kau mau ia baik-baik saja kan? Kalau ya, kondisikan yang baik untuk dirimu sendiri …”, ia kecup sisi kepalaku. Kenapa kata-katanya bisa membuatku tenang.

Aku menggengga tangan mungilnya dan menatapnya lekat, aku khawatir setengah mati, dokter bilang sakit demam pada bayi itu terkadang berbahaya, untung ia tidak terkena step, kalau tidak ia bisa tidak selamat, memikirkannya atau membayangkanya saja aku tidak mau. Tanpa kusadar air mata mengalir lagi, aku benci sifatku yang cengeng, sebelum bertemu dengan Minho aku tidak seperti ini, aku ini umma … kenapa aku cengeng sekali?

“Gwencana … dia akan baik-baik saja…”, aku rasakan tangan Minho memeluk tubuhku, aku tolehkan kepalaku dan mengangguk padanya, ia berdecak dan menghapus air mataku,

“Umma jelek kalau menangis … “, ia mencium keningku dan mengusapkan kepalaku sayang, menatap Minhwa yang terlelap, cepatlah sembuh …
.
.
Taemin membuka pintu ruang kerja Minho, melihat sosok yang sangat ia cintai itu masih duduk dibalik mejanya, berkutik dengan notebook serta beberapa berkas di atas meja, ia menarik nafas, ini sudah pukul 1 malam, dan namja tampan itu belum tidur juga? Apa ia tidak lelah?

“Permisi … aku bawakan teh untukmu Tuan…”, ucap Taemin layaknya butler yang sedang melayani majikannya.

Tanpa menoleh Minho hanya berdecak dan tersenyum, ‘Oh, makasih Butler Taemin, kau taruh saja di situ …”, ucap Minho sambil menunjuk ujung meja denga dagunya, Taemin mencibir , menaruh secangkir teh dan kudapan malam kemudian berjalan ke sisi Minho, melirik apa yang dikerjakannya dari balik pundak Minho.

“Kau tidak tidur? Kau tidak lelah mengurus Minhwa seharian … butler Taemin?”, tanya Minho masih mengikuti adegan drama malam mereka,

“Hm … lelah sih, tangan kaki dan juga tubuh ku pegal …”, ucap Taemin berdiri disisi meja Minho, “Tuan sendiri, tidak lelah?’, Taemin duduk di atas meja dan menumpu satu kakinya di atas pahanya, dan merendahkan tubuh nya sedikit kebelalakang dengan satu tangan,

Minho berdecak pelan, ia tahu istrinya itu sedang mencoba menggodanya, “Tidak … aku masih banyak pekerjaan, kau mau tidur duluan saja …”, jelasnya,
“Hm .. kau yakin Tuan?”, tanya Taemin berbisik di telinga Minho, Minho menjauhkan wajahnya pura-pura menolak, ia menoleh ke arah Taemin yang cemberut menatapnya,
“Ada apa denganmu ? cepat sana istirahat, aku sedang sibuk …”, ucap Minho dingin dan mengusir Taemin dengan kibasan tangannya, dari sudut matanya ia bisa lihat Taemin menganga, dan cemberut setengah mati, dalam hatinya ia tertawa, manis sekali istrinya itu.
“Kau tidak seru Tuan …”, bisik Taemin sekali lagi, Taemin turun dari meja, Minho pikir ia akan pergi begitu saja? hell no … sebenarnya Taemin ingin  …sesuatu, sejak kelahiran Minhwa mereka sibuk , kesempatan berdua berkurang, meski ciuman selamat pagi, atau bicara sebelum tidur tengah malam masih mereka lakukan, hanya saja tidak terlalu lama, karena Minho pasti lelah bekerja dan ia harus berangkat pagi untuk kuliah dan bekerja membantu Appanya, sedangkan Taemin mengurus Minhwa dan ikut kursus di sore hari untuk keterampilannya saja karena tidak lagi melanjutkan kuliah. Dan hal itu membuat ia menjadi kangen dengan Minho … dan tahulah … suami dan istri …

“Aku tadinya mau memijitimu … tapi sepertinya kau tidak mau menerim kehadiranku disini …”, ucap Taemin berdiri dibelakang Minho. Minho berhenti sejenak dan menoleh,
“Benarkah?”
“Kalau kau mau aku bisa lakukan …”, jawab Taemin santai.
“Lakukan kalau begitu!’, ucap Minho berbalik, Taemin cemberut, kenapa memintanya dengan cara seperti itu? “Ayo cepat … ‘, ucap Minho menepuk pundaknya sendiri.

Perlahan Taemin memegang pundak Minho, meremasnya pelan, membuat Minho melenguh pelan, “Yang kencang … ini tidak kerasa sama sekali …”, ucap Minho usil, Taemin tambah cemberut, ia kencangkan remasannya, dan membuat Minho bergumam seakan ia senang menerima perlakuan begitu.

Lama-lama Taemin kesal, seharusnya ia yang menerima service ini, ia juga lelah, menjaga Minhwa dan itu tidak mudah baginya … ia kesal sekali, ia perhatikan Minho dari belakang, dan ia menyengir ketika mendapatkan ide …
Krauk
“AH!!”, pekik Minho, Minho berbalik, memegang telinga kirinya dan menatap Taemin terkejut. “A-apa?”, Minho tidak percaya , ia lihat Taemin menatapnya tanpa rasa bersalah karena ia sudah mengigit telinga Minho.

“K-kenapa? Kenapa kau gigit aku?”, tanya Minho heran,
“Kenapa? Aku kesal saja, saking kesalnya mau mengigit orang, karena Cuma ada kamu, ya aku gigit kamu saja, tidak boleh?!”, ucap Taemin lebih galak.
“Yah~ kesal kenapa …?”, tanya Minho, ia melihat Taemin diam saja, “Oh …o-oh …omo…yaampun …”, Minho sadar akan sesuatu, Taemin menarik nafas, ia tersenyum, ia tarik tangan anaenya itu perlahan mendekat, awalnya ditepis, namun Minho menarik pinggangnya mendekat, “Kau ngambek karena aku tidak perduli padamu?”, tanya Minho mendongak menatap Taemin, Taemin diam saja

“Katakan …”,
“Ah!’, Taemin terkesiap ketika Minho mengelitiki pinggangnya, “Kau! Aish …” Taemin berusaha melepaskan tangan Minho, namun yang terjadi malah ia ditarik dan duduk dipangkuan Minho,
“Katakan … kau ingin aku perhatian padamu kan?”, tanya Minho, Taemin tetap diam saja. “Oh baiklah … kau yang memilih aku lakukan .. ini…”
“Ah…kyaaa..ah-ah…hahaha…Minho…ah, stop! a-ahhhh…”, Taemin lemas, ia bertahan di leher Minho karena geli setengah mati, “Minho ! stop! N-nanti M-minhwa bangun!”

Sontak Minho berhenti dan memeluk tubuh Taemin yang hampir berangsut dari tempatnya, Taemin membenarkan posisi duduknya dan melingkarkan tangannya ke leher Minho.
“Saranghae …”, bisiknya pada Minho.
Minho tersenyum, ia goyangkan hidungnya ke hidung bangir Taemin, dan mencium hidung itu, membuat bibir Taemin cemberut, dan membuatnya terkekeh.
“Nado saranghae …”, ucap Minho mengecup sekilas bibir Taemin. Namun rasanya belum cukup kalau hanya sekilas, ia usap rambut Taemin dan ia peluk erat tubuhnya, tidak pernah rasanya ia bosan untuk menatap sosok cantik didepannya itu, sosok yang membuat hidupnya bahagia , ia merasa lengkap rasanya, tidak pernah ia bayangkan akan sebahagia ini memiliki Taemin di pelukannya.

Ia kecup mata Taemin, ia cium pipinya lama dan ia melihat ke bibir plum pink itu, ia belai tengkuk Taemin perlahan memejamkan matanya, merasakan perlahan bibir itu menyapu bibir tebalnya. Ia hisap bibir bawah Taemin, ia kulum perlahan dengan lembut, membuat wajah mereka saling beradu, nafas mereka bertemu, hisapan-hisapan kecil yang membuat ketagihan …
“Mmmhm …”, desah Taemin ketika lidah Minho memasuki rongga mulutnya dan menghisap dan bermain dengan lidahnya,

Minho berdiri, mencari sela kaki Taemin, menggendongnya layaknya baby koala dan mengangkatnya menuju sofa kecil disudut ruangan. Membaringkannya disana, melepas ciuam mereka dan menatap Taemin yang menatap malu padanya, ia tahu apa maksud tatapan itu , perlahan ia naik ke atas tubuh Taemin, menarik tubuh kecil itu lebih dekat dengannya, ia cium bibir itu lagi dan turun ke dagunya, menelusuri rahangnya dan mencium jakunnya.
“M-minho ….”, Taemin sudah mengacak rambut Minho, jantungnya berdegup cepat, seperti pertama kali mereka lakukan itu, nafasnya memburu, ia benar-benar menginginkan Minho, tangannya tidak hentinya mengelus punggung Minho.

“Hhhh…”, nafasnya tercekat ketika udara dingin bercampur dengan tangan Minho yang menelusup ke balik bajunya, meraba sisi tubuhnya dan menuju nipplenya, Taemin tidak tinggal diam, ia tarik baju Minho ke atas, meraba sisi tubuh Minho yang bisa ia gapai. Ciuman Minho tidak henti, ia menghisap leher Taemin, mencium sisi sensitifnya yang bisa ia temukan.
“M-minho …aku ingin—‘

h-huwwwaaaa…hwaaaa…..hwaaaa….
Minho terhenti, begitu juga Taemin, Minho menjatuhkan kepalanya disisi leher Taemin, dammit! Minho meringis, oh tidak … Minhwaaa…
“M-minhwa …dia …” Taemin  mendorong perlahan tubuh Minho, Minho mengangguk dan menyingkir dari tubuh Taemin, “A-aku akan lihat dia sebentar …”
Minho melihat Taemin dan tersenyum, ‘Ya … aku tunggu disini saja …”, kata Minho menyengir maksa . Taemin menarik nafas dan berlari keluar, menuju kamar Minhwa, sambil perlahan bersungut, ia tidak bisa apa-apa … ini Minhwa … dan Minho … disisi lain.
“Ahh … sabar ya Tuhan … sabar …”, ucap Minho mengusap wajahnya frustasi.

Taemin kembali ke ruangan kerja Minho setelah selama 30 menit ia mengurus Minhwa yang popoknya basah dan memberikannya susu agar tidur kembali, namun nyatanya Minho sudah tidak disana, ia menarik nafas, dan berjalan menuju kamar mereka, ia dapati Minho sudah ada di atas kasur … ia tatap wajahnya yang sudah tertidur, ia tidak bisa apa-apa sekarang …

Perlahan ia naiki kasur, menelusup kebalik selimut, menatap Minho sejenak mengelus rambutnya yang menghalangi wajah tampannya, ia tahu Minho pasti lelah, berperan sebagai kepala keluarga itu juga tidak mudah, tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, pada Taemin,d an terlebih pada malaikat mereka.
Chu~ ia kecup keningnya
“Jumuseyo yeobo …”, ucap Taemin yang baru kali ini memanggilnya begitu. Ia matikan lampu kamar dan mengambil posisi tidur, sebelum ia bisa memejamkan mata, dari belakang ia rasakan tangan memeluknya.

“Kau tidak mau kita tidur begitu saja kan?”, bisik Minho ditelinganya, Taemin terkejut, sebelum ia bisa protes Minho sudah membalikkannya dan menumpu tubuhnya di atas tubuh Taemin.

“K-kau … kau besok harus kerja kan—hmpfh …”, tanpa bisa bicara banyak bibir itu sudah di lumat oleh Minho. Ah~ tidak perduli, ia juga menginginkan ini …
.
.
Taemin berlari keluar taxi dan masuk kedalam lobi sebuah sekolah SD, ia tergesa-gesa ketika kepala sekolah dari sekolah itu menghubunginya.

“Permisi!” ia mengetuk pintu itu dan masuk ketika dari dalam sudah menjawabnya. “A-annyeonghaseyo … saya Choi Taemin, orang tua dari Choi Minhwa…”, ucapnya membungkuk pada kepala sekolah , seorang wanita paruh baya yang tersenyum padanya.
“Annyeonghaseyo Taemin shi … silahkan …”,

Taemin melihat Minhwa duduk di sofa dan meringsut disana, ia lihat tubuhnya kotor, bajunya kusut, rambutnya berantakan dan luka di wajahnya, namun kemudian ia melihat anak lain yang duduk di jarak berbeda, menangis tersedu dengan seorang wanita di sampingnya, menatapnya dengan emosi…

“Apa yang terjadi?”, tanya Taemin menatap kepala sekolah dan menatap Minhwa yang duduk terdiam. Anak berumur 8 tahun itu tidak mau menatap Taemin.

“Begini … seperti yang tadi saya sampaikan di telepon, kalau anak anda terlibat perkelahian dengan Kang Jinsuu, menurut guru yang melerainya ia menghampiri Jinsuu dan memukulnya berkali-kali.”, ucapnya.

Taemin menganga , berkali-kali? Ia melihat ke arah Minhwa tidak percaya, Minhwa tidak alah anak seperti itu, ia bahkan anak yang manis, ia tidak pernah marah, ia sama tenangnya dengan Minho. Tapi kenapa …
“Lalu ia tutup mulut. Tidak mau meminta maaf, tidak juga mengatakan alasannya kenapa ia berbuat seperti ini pada temannya.”, jelas kepala sekolah itu lagi.

Taemin menarik nafas, ie menatap lekat pada Minhwa , tidak mungkin, ia tidak mungkin berlaku demikian kalau tidak ada sebabnya kan?
“Minhwa …”, panggilnya, Minhwa diam saja, membuang mukanya lebih jauh. “Minhwa … umma bertanya ada apa denganmu?”. Tanya Taemin, ia tidak bergeming. “Apa yang terjadi?”, anak itu tetap diam saja.

Taemin melihat ke arah kepala sekolah meminta maaf, dan menatap orang tua murid yang satunya masih menatapnya sinis. “Minh—“
“Minta maaf!”, akhirnya Minhwa buka suara, namun Taemin terkejut, mata anaknya itu menatap ke arah Jinsuu dengan dingin.
“Kalau kau minta maaf padaku … aku akan lupakan perbuatanmu padaku selama ini …”, tambahnya dingin.

“A-aku tidak melakukan apapun!! Kenapa aku harus minta maaf padamu?!!”, pekik Jinsuu.
“Yah! Apa maksudmu hah? Kan kamu yang memukulnya?! Kenapa harus Jinsuu yang meminta maaf?!!”, teriak Umma Jinsuu, Taemin terkejut,

“Aku tidak salah!!! Jinsuu yang salah!! Jinsuu yang menyebarkan gosip tidak enak tentang Umma ku!! Dia yang menjelek-jelekan keluargaku, dia yang menghinaku!!!*hiks* “, Taemin terkejut, ia menatap Minhwa yang berdiri geram menatap Jinsuu. “Jinsuu yang salah!! Jinsuu menghina Ummaku!! Aku tidak terima!!!”, teriaknya, Taemin berdiri, ia hampir menangis melihat anaknya.
“Minta maaf! Kalau kau tidak minta maaf akan kubalas perbuatanmu!!pasti akan kubalas!’, teriak Minhwa kesal.
“Minhwa!!’, pekik Taemin memeluk anaknya itu, Ya Tuhan … kenapa harus seperti ini?
.
.
Makan malam terasa sangat canggung, Taemin menatap ke arah Minho meminta bantuan, melihat putra semata wayang mereka terlihat sangat menyeramkan, mungkin ini mengikuti sifat bawaan Taemin yang kalau sudah marah sangat seram, meski seharinya ia terlihat menggemaskan.

Setelah selesai makan Minhwa langsung naik ke atas, mengunci dirinya dikamar. Taemin melihat sikap anaknya itu dan mendekati Minho.
“Bisakah kau bicara padanya?”, tanya Taemin, “Aku … tidak bisa bicara padanya … aku bingung mengtakan apa …”, ucap Taemin lesu, ia terduduk, berusaha menahan air matanya ketika ia tahu masalah apa yang terjadi.
Minho tersenyum kecut, ia mendekati Taemin dan mencium pucuk kepalanya dan memberikan pelukan sesaat, “Neh, aku akan bicara padanya …”, Minho mengelus pipi Taemin, tersenyum padanya dan beranjak naik menuju kamar Minhwa dilantai atas.

“Minhwaa…”, Minho mengetuk pintu Minhwa , namun tidak ada jawaban dari sana, “Minhwa … Appa mau bicara, bisakah kita bicara sesama namja?”, tanya Minho. Tetap tidak ada jawaban.
Minho menarik nafas, “Minhwa, baiklah kalau tidak mau bicara pada Appa. Tapi jangan diam saja, Umma kasihan … dia khawatir padamu, kau tidak mau melihat Umma sedih kan?”, tanya Minho. Tidak ada jawaban.
“Minhwa. Appa pernah bilang kan padamu, namja yang sebenarnya adalah namja yang bisa menghormati Ummanya. Dan—‘
Cklek
Minho menunduk, melihat anaknya itu berdiri didepannya , ia tersenyum, namun anaknya itu tidak menatapnya. “Appa.”, panggilnya.
“Hmm?” Minho menunduk sejajar dengannya.

Minhwa terdiam sejenak seperti enggan bertanya atau setidaknya bicara, Minho menarik nafas, ia menarik Minhwa masuk kedalam kamar dan menutup pintu kamarnya.
“Katakan … kita sudah berdua saja, Umma tidak mungkin dengar kalau kau tidak mau ia dengar , ini rahasia namja.”, ucap Minho mantab.
Anaknya itu menatap ke arah Minho sejenak dan menunduk, “Appa … kenapa keluarga kita berbeda?” Minho memiringkan kepalanya, “Apa aku ini anak Appa dan Umma?”, Minho terkejut, “Kalau iya, kenapa aku bisa lahir dari seorang namja?”, tanya Minhwa. Dan pertanyaan itu membuat Minho terkejut sesaat, kemudian ia tersenyum, mengelus kepala anaknya itu sayang.

“Simple. Karena keluarga kita special, kau special … dan kau lahir dari seorang Umma yang special, kau ciptaan Tuhan yang paling special dari seorang Umma yang luar biasa, dan kau merupakan keajaiban bagi kami dari Tuhan …”, ucap Minho. Minhwa menatap Minho lekat, mungkin sudah saatnya ia ceritakan semuanya pada anaknya itu …
.
.
Pagi ini Taemin tidak melihat Minho dan Minhwa di meja makan, ia terbangun dan dikejutkan kalau kedua namja itu sudah pergi pagi sekali. Ia hanya ditinggalkan pesan disecarik kertas yang diletakan di atas meja dan sudah ada semangkuk bubur abalon yang tersedia. Sedikit aneh memang, kenapa mereka pagi sekali? Jam berapa mereka pergi meninggalkan rumah? Padahal jam masih menunjukkan jam 7 pagi, masih satu jam lagi dari biasanya mereka bersama.

Yeobo, ini ada bubur, makanlah … aku dan Minhwa duluan, aku ada rapat pagi, dan Minhwa ingin sarapan di McD … bolehkan? Jadi nikmatilah, ini kami berdua yang buat …*instan sih* selamat makan nom~nom~nom~
Oh, HAPPY BIRTHDAY! *kissu
Love you , 2min (Minho&Minhwa) ^^;;;

Taemin terkekeh, Happy Birthday?? Ia melihat kekalender didekatnya, yaampun, ia lupa dengan ultahnya sendiri, mungkin karena ia terlalu lelah. Ia buka tutup mangkuk bubur didepannya, meski instan , sepertinya rasanya enak … ia sendok bubur itu, ia tersenyum, seperti buatan sendiri … ada bagusnya, ia jadi punya waktu untuk membereskan rumah, kemudian berangkat kuliah dan bisa datang ketempat les lebih awal. (Taemin kuliah lagi setelah Minhwa SD)
.
.
Taemin mencoba menghubungi Minho namun ponselnya tidak aktif, ia menggerutu sepanjang hari, ia hanya ingin tahu apakah ia mengantarkan Minhwa kesekolah tepat waktu atau tidak? Dan yang membuatnya bingung adalah Minhwa yang biasanya ia jemput pulang sekolah, ia sudah tidak ada di tempat, penjaga sekolah bilang kalau Minhwa sudah pulang dijemput dengan seorang namja cantik bermobil sport pink… itu Key, ia jelas tahu itu pasti Key.

Namun yang membuat ia tambah kesal adalah Key juga tidak bisa dihubungi, ia sudah berusaha menghubungi Onew bahkan Umma dan Appa Minho, namu seperti semua operator noona saling bekerja sama untuk mengucapkan ‘maaf, telpon yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan hubungi beberapa saat lagi’ padanya.

“Baiklah, lebih baik aku tunggu di rumah saja.”, ia hentikan sebuah taxi dijalan dan melaju kerumahnya.
.
.
Taemin membuka pintu rumah, sudah pukul 7 malam, dan semuanya belum pulang. Bahkan ia hampir kesal setengah mati karena Minhwa belum juga ada kabar, ia sempat sedih mengingat itu , karena sejak kemarin mereka tidak bertemu, meski Minho sudah mengatakan bahwa ia sudah bicara dengan Minhwa.

Taemin masuk kedalam rumah, ia mengerutkan alisnya, taman di luar sana terang sekali, ia jatuhkan tasnya sembarangan dan berjalan ke arah taman belakang. Ketika ia buka ia disambut oleh hiasan lilin yang banyak, dan meja disudut taman dengan candlelight dinner yang indah, dikelilingi oleh mawar putih yang ditebarkan disekitar meja.
“Waw… “, hanya itu yang ia ucapkan. Takjub akan sebuah surprise didepannya, ia tahu, ini pasti Minho. “Jinjjayo Minho … ck.”, ia mengacak rambutnya kesal.

“Minho~~”, teriak Taemin, namun suasana tetap hening. “Minho~~ ini tidak lucu, cepat keluar … sudah cukup kejutannya…” , jelas Taemin.

“Umma~”, Taemin terkejut, ia berbalik dan melihat Minhwa berdiri tidak jauh dibelakangnya, berdiri dengan setelan jeans dan juga kemeja serta sepatu fantofel hitam mengkilat, ia terlihat seperti Minho dalam tubuh kecil. Dan yang membuat Taemin terkejut adalah potongan rambutnya sama dengan Minho saat ini.
“Saengil Chukae Umma …”, ucapnya maju sambil membawa sebuah cupcake kecil dan ada miniatur sosok Taemin di atas cupcake itu dengan satu lilin kecil.
“Umma … aku …”, Minhwa terdiam, menatap cupcake itu, Taemin terdiam, tersenyum padanya , “ … Aku minta maaf karena kenakalanku kemarin … aku hanya tidak mau Umma dijelek-jelekan didepan temanku … aku juga minta maaf karena aku … aku tidak –‘

‘Umma mengerti …”, ucap Taemin berjongkok didepan Minhwa. “Umma tahu perasaan mu, umma tahu kau akan menanyakan ini pada Umma … “, jelas Taemin.
“Benarkah? Umma memaafkanku?”,
“Minhwa tidak salah, kenapa Umma harus memaafkan mu?”
“Itu—“
“Umma mau make a wish!”, ucap Taemin senang, ia menangkupkan tangannya, “Ya Tuhan, aku mohon maafkan lah segala dosa ku dan dosa orang yang ku sayang, panjangkanlah umurku, biarkan aku melihat anakku tumbuh dewasa dan menjadi anak yang dapat berguna bagi dirinya sendiri , orang tua, dan juga orang lain … “, ucap Taemin membuka matanya, “…kabulkanlah doaku, karen akau sayang padanya , pada Minhwa ku satu-satunya … milikku yang berharga…”, Taemin mengedipkan matanya pada Minhwa dan meniup lilinya.
“Umma~~*hiks*”, Taemin berdecak.
“Peluk Umma dong!”, ucap Taemin cemberut merentangkan tangan,
“Umma!”, Minhwa memeluknya “Aku sayang umma!”
“Umma lebih sayang padamu!”, Taemin mengecup kepala Minhwa.

“Ah, Umma … kajja … kita harus makan malam.”, jelas Minhwa menggandeng tangan Taemin menuju meja makan.

Yang membuat Taemin terkejut adalah Minhwa berjalan kesisinya, menarik kursinya dan menyuruhnya duduk. Ia berdecak, pasti Minho yang mengajarkan ini padanya.
“Kau mau makan apa Umma?” tanya Minhwa tersenyum,
“Hm … apa saja …”
“Baiklah …”, ucap Minhwa senang. “Butler bawakan makanannya…”, ucap nya kencang, Taemin terbelalak, ia melihat kedalam rumah, dan membuatnya ingin tertawa adalah Minho yang keluar dari sana , membawa nampan berisi makanan.

Taemin tertawa , kenapa ini? Switch position?
“Silahkan menikmati Tuan dan Nyonya Choi …”, ucap Minho, mengedip ke arah Taemin, Taemin berdecak.
“Terima kasih pelayan tampan!’, ucapnya.
“Omo, Nyonya mencoba merayu saya Tuan Choi …”, ucap Minho pada Minhwa yang sudah melahap lasagna didepanya ,
“Hm?”, Minhwa hanya jawab itu saja dan meneruskan makannya, anaknya itu mungkin sudah sangat lapar. “Appa! Aku sudahan akh mainnya, aku tidak bisa seperti mu.” Jelas Minhwa cemberut, Taemin terkekeh, Minho mengacak rambut anaknya dan segera dibereskan oleh anaknya itu. Mirip Taemin …

Minho melihat ke arah Taemin, menarik dagunya dan berbisik, “Saranghae Taemin …”, Taemin tersenyum, mengalungkan tangannya di lehernya dan berciuman dengan Minho.
“Ewww Appa Umma~ aku kan sedang makan …”, rengek Minhwa. Minho dan Taemin hanya tertawa.
.
.
Taemin membuka matanya, matahari mengintip dari fentilasi dan langsung menembus menerpa mata kantuknya, menyipitkannya sejenak dan menarik nafas. Merenggangkan tubuhnya sejenak dan merasa kan sentuhan hangat di sekitar tubuhnya, ia menoleh, melihat Minho yang tertidur pulas di sampingnya, tangannya melingkar indah di tubuh nya. Tubuh polos mereka karena aktivitas semalam membuat jantungnya berdebar, sudah berapa lama dengan sekarang hm? 17 tahun? Tidak terasa, senang dan sedih mereka bagi bersama, bahkan sama-sama menyaksikan anak mereka tumbuh remaja.

Taemin bangkit sejenak, menumpu tubuhnya dengan kedua sikunya, tengkurap menghadap ke arah Minho. Ia tatap namja yang sudah hidup bersamanya kini, ya Tuhan … entah cara apa yang kau gunakan sehingga kau bisa bawa ia kedalam pelukan namja ini, kau bawa ia kedalam rengkuhan nya, kau bawa ia masuk kedalam cinta seorang Minho … andai ia bisa menghentikan waktu, ia ingin sekali, ia ingin terus bersama Minho, dan Minhwa tentunya … tidak membiarkan mereka menjadi tua dan pada akhirnya akan berpisah nantinya … meski ia tidak mau memikirkan hal itu, tapi yang namanya manusia, pasti akan tiba pada waktu itu…nantinya …

“Aku tampan sekali yah sampai kau betah melihatku?”. Ucap Minho , dan membuka sebelah matanya menatap Taemin. Taemin berdecak.
“Yah! Kalau sudah bangun kenapa pura-pura tidur? Dasar!”, Taemin memukul dada bidang Minho, namun tangan itu ditarik dan dengan sigap ia peluk tubuh Taemin.
“Ahh~~”, Taemin melenguh ketika Minho membalikan tubuhnya dan menimpa tepat di atasnya. “Apa yang mau kau lakukan?”
“Kelihatannya?” Minho menyengir.
“Oh shirro! Semalam kau sudah berapa kali …?”,
“Kan kita mau bikin adik buat Minhwa ?”
Taemin menganga, ya ampun Minho …

Minho menundukan kepalanya ketika ia melihat tidak ada perlawanan dari Taemin, Taemin memang pasrah, untung ia masih punya tenaga pagi ini, dan semoga Minhwa tidak mendengar kegiatan mereka … lagi. Namun sebelum Minho meneruskan kerjanya, didalam perut Taemin seperti terasa ada … kupu- kup—ani. Kali nini besar, ada naga! Dan naga itu naik kekerongkoangnnya, ia tarik nafas, yang ia bisa hirup hanyalah minyak wangi ditubuh Minho … dan itu membuatnya mual … entahlah.
Bruk

Taemin mendorong tubuh Minho, membuatnya terjengkang kebelakang, Minho terkejut melihat Taemin melesat kekamar mandi.
“Taemin?”
Sunyi …
“TAEMIN!!”, Minho teriak dan melesat ke kamar mandi, mendengar Taemin muntah. Ia berjongkok didepannya dan menepuk punggungnya.

“…bilkan …*uhuk*…taste*uhuk*pack…”,
“Hah?”, Minho berusaha mencerna ucapan Taemin.
“Tastepack! Ambilkan taste pack!”, ucap Taemin, dengan cepat Minho ambilkan barang itu di kotak obat didekatnya. Taemin segera masuk kedalam closet, Minho mengigit bibirnya … jangan bilang…

“APPA!”, Minho terkejut, melihat Minhwa berdiri dibelakangnya dan menatap ke…
“Argh!!”, Minho menutup area selangkangannya dan mengambil handuk, Minhwa berdecak, tidak usah berlebihan, ia sudah dewasa dan ia tahu … ia tidak sepolos kelihatannya…
“Kenapa umma?”. Tanya nya duduk dikasur orang tuanya,
“Molla … ia sedang didalam dan—“
Cklek.

Minho dan Minhwa melihat ke arah Ummanya yang berdiri disana mematung, Minho segera berlari menutupi tubuh Taemin yang tidak tertutupi sehelai benangpun karena aktivitas mereka yang tertunda tadi …
“Umma … ?gwencana?”, tanya Minhwa mendekat,
Minho menatap Taemin bingung, Taemin menatap ke arah Minhwa dan Minho bergantian sebelum dengan gemetar ia menunjukan barang di tangannya. Minho mengambilnya dan Minhwa melihatnya bersama-sama. Sedetik kemudian keduanya terkejut dan menatap Taemin.

“Umma ini …”, Minhwa menganga.
“Yeobo … jadi …”, Minho menaruh tangannya di perut Taemin.

Taemin mengangguk dan memeluk mereka berdua, entah harus senang, panik, atau … apa, yang pasti ia merasa komplit, benar-benar komplit, memeluk kedua namja yang ia sayangi didepannya kini, dan ditambah … calon keluarga baru mereka yang akan segera hadir …
“Minho … aku rasa kita harus ekstra hati-hati lagi kali ini…” Taemin mencium bibir Minho.
“Dan Minhwa … kau harus jadi contoh Hyung atau Oppa yang baik untuk dongsaengmu nanti …”, Taemin mencium pipi Minhwa.

Ya, semua rasanya benar-benar komplit, ketika kau memiliki orang-orang yang kau sayang di tanganmu.

END!!

Sekian lamaaaa kalian menunggguu~~*dangdut mode on* begini lah akhir cerita mpreg nista saya! Nggak ada yang boleh protes dan NGGAK ADA yang minta SEQUEL!! Kalian udah baca kan kalau Mpreg saya itu GATOT!! Kekekeke~
So, komen! Udah lama nih FF nya, pake bertapa!
Tapi, komen jangan Cuma dikit! Gue kesel! Mau komen yang panjang, tapi jangan muji doang! Aku butuh dikritik! Maki kalau perlu! Hahahahaha…
Annyeong! OH, makasih yah buat Yuri dan Kei eon yang udah setia nagih! Wkwkwk~ makasih buat semuanya yang udah dukung FF nista ini! Bye!

Advertisements

89 thoughts on “[2min/mpreg] Take me in your arms – part 7end + Epilogue

  1. Happy ending!!!!!!! Berawal dr minho yng ketus sm taemin. taemin yg frustasi di tinggal jonghyun… taemin yang mulai ketergantungan minho. Minho jatuh cnta sama taemin. Taemin hamil. Dan mereka memperjuangkan segalanya walaupun minho di jepang dan Ldr. Tapi tapi akhirnya taemin melahirkan selamat. walaupun smpat kritis…. dan hamil lagi. dan minwanya gemeees pengen cubiiiiit♡ aaa suka onn♡

  2. yeeayy lengkap semuanya…
    taemin hamil lagi
    usaha minho berhasil (?)
    nyesek pas denger alesan minhwa..
    tp untung si kodok pinter ngomong sama anaknua

  3. akhir yang sangat sangat memuaskan :’) sempet tegang pas taemin mau lahiran 😥 tapi syukurlah Tae ama Minhwa selamat .. kasian minhwa diejek di sekolah .. minta digampar tu yang ngejek minhwa .. tapi untung ada minho appa yang bijak ㅋㅋ
    taemin hamil lagi ♥ selamat yah 2min XD

  4. Yey happy and… Dan anggota keluarga bertambah, kasian liat anaknya taemin yg dibully cuman karena mereka spessial dan berbeda dengan yg lain

  5. Perasaan ko jd ikut tegang y wkt taemin lahiran (ikut skt prut😆) n akhirnya slamat jg.
    Minhwa mirip minho care bgt ama taemin n akhirnya bakal punya dd kcl lg hahahaha aseeekkk… moga lahiran adenya nnti lancar ya hhihihi

  6. Komplit paket yaa yeahh
    Fully happy 😊😀😁😄 sukaaa ide critnyaa
    Tmpaknya minhwa lbh dewasa dbndg ortunya wakwkwk syukur bgt taemin selamat jg baby.. nambha ya hahahaha
    Bang loe mang kerja keras ya wkwkw psti sneng bgt heenim dengernya. Selamat ya. Aaaa thnkyou so #twominYeah 😎 !

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s