[2min-Onkey] Forbidden Love of a Geisha PART 8 B end


Forbidden Love of a Geisha PART 8 B end

Foreword:

Annyeong … akhirnya sampai juga di part terakhir ini… maaf yah kalau musti ditunda, semoga hasilnya kali ini memuaskan … sekali lagi makasih sama yang udah komen dari part pertama sampai saat ini, banyak kasih support dan juga likenya!

Enjoy , and Feel free to comment! Anythink! Good or Bad! We appreciated that!

-Sanniiewkey~ & Vienasoma –

Taemin berjalan dengan tenang, sebuah kanzashi kuning bergoyang indah di kepalanya, bertulisakan kanji ‘Taeminho’. Sebuah kanzashi yang ia dapat dari ibu Minho di acara pemakaman, sebuah benda yang menjadi peninggalan satu-satunya yang ditemukan di kamar Minho.

“Silahkan …”

“Terima kasih Yuji –sama…”, ucap Taemin dan duduk di bangku yang disediakan.

Tak lama sesosok wanita masuk kedalam ruangan, dan ia menatap wanita itu, yang sontak melihat Taemin dengan terkejut, namun mungkin karena hatinya sudah dirasuki iblis, wanita itu tidak gentar meski ditatap sadis oleh Taemin.

“Mau apa kau kesini?” tanyanya, Taemin diam saja, ia terus menatap sosok itu lekat. Sosok itu akhirnya mendongak dan balas menatap Taemin, namun perlahan ia tolehkan kepalanya, berpikir dalam hati, sejak kapan Taemin bisa bermata seperti itu? Seroang Geisha tidak pernha bermata sekejam itu, pikirnya…

“Aku ingin berikan ini.”, jelas Taemin meletakan kotak diatas meja dan menyodorkannya pada sosok itu. “Kau tidak akan pernah bisa tahu seberapa tulus orang lain padamu, karena kau juga tidak pernah tulus pada mereka …”, ucap Taemin, wanita itu mendongak tak mengerti.

“Apa maksudmu?”

“Kau hanya berkutat pada keegoisan dan juga ambisi mu saja … kau bahkan tidak perduli berapa orang yang terluka karena mu …”,

Sosok itu menatap bingung, melihat Taemin menatapnya dingin, sedingin es, dan diam-diam ia takut … ia takut dengan mata itu …

“Kau beruntung, ia memaafkanmu sebelum akhirnya ia sudah tidak ada didunia ini … dan ini yang tersisa…”

Dan tanpa berkata lagi, Taemin bangkit berdiri, meliriknya sesaat dan keluar dari ruangan itu, berjalan tegak menuju keluar.

“Taemin san sudah?” tanya Yuji. Taemin hanya mengangguk, memegang perutnya, mengelusnya sesaat dan berjalan dengan anggun.
.
.
Ini permohonan terakhirku, aku tidak pernah mencintaimu … tapi bukan berarti aku tidak menyukaimu, aku mencintai Taemin, dan aku menyukaimu … sebagai temanku … aku berikan ini karena aku rasa aku perlu lakukan tugasku sebagai suamimu. Setelah ini, aku mohon padamu … lepaskan aku, aku tidak mau menyakitimu, meski aku tahu kau sangat keterlaluan … bukan salahmu karena kita menikah karena harta dan tahta … dan karena ini aku jadi membencimu … tapi sungguh …lepaskan lah aku, biarkan aku bahagia bersama Taemin, dan ku harap kau bisa bahagia juga …
-Minho-

Tangan wanita itu gemetar, mengeluarkan sebuah kimono indah berwarna biru yang dibawa bersama surat itu. Ia genggam baju itu, ia ciumi baunya, masih baru, namun baginya baju itu tercium bau tubuh pria itu.

“T-tidak …aku tidak bisa melepaskanmu … tidak … tidak …tidak bisa …”, gumamnya menggeleng, menangis tersedu dan menciumi baju itu, kenapa tidak ia katakan? Kenapa pria itu tidak katakan dari dulu?

“Tidak … kau tidak bisa begini Minho-sama…tidak …tidak…TIDAK!!!’, teriaknya,

“Yuri-san!”, seorang sipir penjaga masuk, menenangkan emosi yang tiba-tiba timbul dari wanita itu …
.
.
Taemin berjalan ke sebuah pusara yang belum kering tanahnya, tanah itu masih basah, masih harum bau bunga yang tercium disana. Ia tatap nisan itu dengan lekat, tidak seperti dulu, tidak ada lagi air mata yang keluar dari sana, tidak ada lagi tangis yang pecah karena kehilangan. Apa karena ia sudah merelakannya? Tidak … dia hanya tidak bisa menangis lagi, air matanya mungkin sudah kering, ia terjatuh ketanah, seperti tidak ada lagi tenaga yang tersisa dari tubuhnya … ia sudah tidak tidur semalaman … dan mungkin sudah memperburuk kondisinya…

“Minho-sama … “, bisiknya, “Kau dengar aku?” tidak ada jawaban, tentu saja…

“Apa yang bisa aku lakukan sekarang tanpamu? Apa yang bisa aku lakukan dengan anak didalam perutku ini? Apa yang bisa kukatakan padanya nanti?”

Angin berhembus menerpa rambutnya yang tergurai indah, sanggulan nya tidak utuh lagi …
“Minho –sama … haruskah aku ceritakan padanya nanti tentang kita?”,

Salah , air mata itu mengucur lagi … tidak ada isakan, namun itu terlihat menyedihkan saat ia tersenyum disela tangisnya …
“A-aku tidak bisa … kenapa kau begitu jahat padaku?”, lirihnya mencengkram tanah didepannya, “K-kenapa kau begitu tega datang padaku … kemudian kau pergi begitu saja?? A-apa yang kau lakukan? Kau jahat sekali … jahat sekali…”, Taemin meraung, menangis memegang dadanya yang sesak.

“Untuk apa aku disini …?”, ia mendongak menatap nisan itu, kemudian ia tertawa, “Oh, bayi ini yah? Iyakan?”, ucapnya mencengkram perutnya, “BAYI INI KAN?! UNTUK ITULAH AKU DISINI? IYAKAN?!!”, teriaknya,

Taemin mencengkram tangannya kesal, gemeletuk giginya terasa di pipinya, ia pukul pelan perutnya, sekali … dua kali, dan semakin kencang berkali-kali,
“Bayi ini…” BUKK! “Bayi ini yang mengharuskann ku disini …”, BUKK! Ia terus pukul perutnya, menyesali kondisinya… karena bayi itu ia harus hidup, ia harus pertahankan bayi itu, bayi Minho …

Nafasnya sesak, ia ingin mati saja, biarkan ia pukul terus tubuhnya … ia tahu bayi itu tidak salah, ia tidak pernah salah … namun ia tidak bisa, tidak bisa bertahan tanpa Minho, merengkuh tubuhnya, berkata semua akan baik-baik saja …

“A-aah…”, ia meringis, namun ia terus memukul perutnya dalam tempo pelan. “M-minho …”, ia menangis, namun sesaat kemudian ia rasakan angin sangat kencang menerpa tubuhnya…

Dan ia rasakan pelukan di tubuhnya, melingkar sebuah tangan dari belakangnya, menyentuh kedua tangan nya di perutnya. Ia tersenyum, hangat tangan itu …
“Jangan …”

Taemin terdiam, air matanya mengalir … suara ini … hangat tubuh ini, dan juga lembutnya sentuhan ini …
“M-Minho –sama … ini kau ?”, Taemin ingin menoleh, ia rasakan sebuah beban berat menompang di bahunya, mencium sisi kepalanya dan mencium pundaknya dengan lembut …

“Jangan lakukan ini sayang …”, suara itu menggema di telinganya.

Ia menggeleng, tidak bisa … ia tidak tahan lagi. Ia mohon, ia ingin bersama Minho … ia menoleh, melihat sosok Minho yang sangat tampan, sama seperti ia pertama melihat sosok gagah itu, tersenyum indah padanya. Taemin menangis … ia tersedu menatap sosok itu …
Jangan lakukan itu demi aku … “, ia mengusap wajah Taemin, mencium keningnya. “Bahagialah … bertahanlah Taemin, selama ini kau bisa lakukan itu , kumohon … bertahanlah sampai nanti …”, ucapnya.

Taemin menggeleng, tidak mau … tidak bisa …
“Bisa … kau pasti bisa … kau Taemin ku yang hebat …”, ucap Minho. Membelai pipi Taemin, dan tangan itu membelai perut Taemin, menundukkan sosoknya, kemudian mencium perut Taemin.
“Kau bisa …”,

“Bagaimana aku bisa?”, sosok itu tersenyum, “Aku bisa apa tanpamu?”, tanyanya,
‘Kau bisa… karena aku akan selalu disini …” ucap sosok itu menyentuh hati Taemin dari balik kimononya. “Bertahanlah sampai nanti … aku mencintaimu …”

Taemin memejamkan matanya ketika sosok itu mencium bibirnya, hanya terasa sapuan yang begitu hangat, dan lembut ia rasakan … air mata mengalir dipipinya … ketika ia buka mata, yang ia lihat hanyalah kekosongan, hanya angin yang berhembus menerpa wajahnya …
“Taemin … aishiteru …”
.
.
“Tinggalkan aku sendiri Yuki.. dan taruh semua alat itu disamping”

Yuki menaruh sebuah keranjang lengkap dengan alat  – alat minum dan makan. Gadis itu mengeluarkan semua peralatan dan menatanya disamping makam Jinki. dia mengeluarkan sebotol  kecil sake dan beberapa mochi.

“Saya permisi Oka – san… saya… hiks.. saya sangat menyayangi anda dan.. terima kasih..”

Kibum hanya tersenyum, dia membelai rambut Yuki yang tergerai bebas. Dia hanya menatapnya dan berpesan singkat “Lanjutkan hidupmu dan berbahagialah..”

Kibum mendorong tubuh Yuki menjauh darinya lalu mendudukan diri disamping nisan Jinki.

“Jinki….”

Angin berhembus lembut meniup helaian rambutnya yang jatuh beberapa helai di telinga dan lehernya. Kibum menikmatinya. Menikmati semua yang berada disana. Dia merasakan kehangantan tak lama datang dari belakang tubuhnya

“Seharusnya aku tahu jika kau datang.”

“Kibum…”

Suara gaungan yang terdenganr sangat jauh berbisik pelan disamping telinga Kibum. Wanita itu masih memejamkan mata.

“Apa telah tiba waktunya aku ikut bersamamu?”

Hening berkepanjangan. Bunyi gemerisik daun – daun yang tertiup angin. Pohon – pohon yang menjatuhkan dahan – dahan keringnya. Kibum tetap memejamkan mata.

“Jinki….”

“Yah Kibum…”

“Kau datang menjemputku?”

“Yah.. aku menjemputmu seperti yang kau inginkan”

“Terima kasih…. Aku sangat lelah Jinki..”

“Tidurlah Kibum… aku akan menjagamu..”

“Kau benar.. sepertinya aku sudah tidak tertidur selama bertahun – tahun… tapi bagaimana dengan hidangan yang kubawa… aku mengira kau ingin ku layani terlebih dahulu..”

“Nanti setelah kau terlelap dan terbangun kita akan mulai menyantap hidangan yang kau siapkan untukku.. bagaimana?”

Angin bertiup semakin kencang. Awan – awan menghitam. Terdengar beberapa bunyi gelegar Guntur. Perlahan rintikan hujan jatuh menyentuh tanah dan setiap benda di bumi.

“Sepertinya itu keputusan terbaik.. aku akan tertidur sebentar. Tetap lah disisiku. Temani aku.. jangan pergi lagi. Kumohon Jinki… jangan pergi lagi…”

“Aku berjanji Kibum.. selamanya… selamanya kita akan selalu bersama!”

Kibum merebahkan kepalanya pada tanah basah di atas makam Jinki. kimono birunya basah dan kotor akibat rintikan hujan dan tanah basah. Lengan kirinya berada di atas undakan makam Jinki seakan tengah memeluk tubuh pemuda itu. pada pergelangan tangannya yang terbebat oleh kain putih tampak darah yang merembes tercampur air hujan. Darah mengucur deras dari sana.  Luka – luka sayat yang tertutup kimononya membuka. Lehernya. Pundaknya. Terlihat merah sepanjang sayatan yang dia buat. Mata runcingnya tertutup tanpa pernah terbuka. Entah dia menangis atau tidak. Karena dia dibawah rintikan hujan sehingga tidak ada yang bisa menjelaskan apa air yang mengalir di sudut matanya adalah air matanya atau hanya sebuah air dari rintikan hujan.

“Jinki…” lantunnya sebelum nafasnya benar – benar telah meninggalkan jasadnya.
.
.
Cinta itu tidak lah penuh dengan kata derita
Hanya awal… hanya permulaan…
Itu adalah suatu pembuktian jika cinta mu harus di perjuangkan
Dan kini…
Cinta itu tidaklah penuh dengan kata kesedihan
Kini.. cinta itu memberi bahagia. Memberi harapan
Hadiah dari suatu perjuangan.. perjuanganmu dalam memilikinya
Cinta hanya meminta sedikit dari airmata kesedihanmu
Cinta hanya membuatmu sedikit rapuh dari sekian kerapuhanmu
Karena pada akhirnya cinta memberikanmu airmata bahagia
Karena pada akhirnya cinta Memberikanmu kekuatan berkali lipat atas usahamu dalam meraihnya
.
.
Tanpamu…
Tanpamu aku hanya sebuah jiwa yang kosong..
Tanpamu aku hanya sebuah raga yang hampa..

Aku tak akan pernah sanggup membuka mata ketika tak melihatmu
Aku tak akan pernah bisa bernafas jika tak merasakanmu disisiku

Merindukanmu
Merindukanmu

Menjeritkan namamu
Mencarimu dalam duniaku…

Aku akan menjadi mayat dalam tubuhku sendiri….
Semua perlahan akan menyiksaku

Aku memilih mati.
Aku memilih pergi

Ini jalan terakhirku untuk menghilangkan penderitaan dan menyimpan bahagia karena mencintaimu..
.
.
Di sebuah ruangan putih tanpa ujung. Seorang pemuda terduduk menatap kakinya. Mata sabitnya terpejam. Dia terlelap setelah sekian lama. Dia mendongak dengan mencoba membiasakan mata dengan warna putih yang menyengat. Dia melirik  pada tangannya. Tampak terkejut. Tubuhnya bercahaya dan sejak kapan dia mengenakan baju putih? Dia bukankah….

“Jinki…?”

Dia menoleh. “Jong…?”

Keningnya berkerut bingung. Jinki melihat Jonghyun berpakaian sama seperti dia. Serba putih. Ekor matanya menangkap sosok tubuh lain yang terlihat lebih kecil dan … manis.. tangan kedua pemuda itu tergenggam saling mengait.

“Kenapa kau berada disini Jinki?”

Jonghyun bertanya ketika jarak di antara mereka semakin dekat. Jinki melihatnya dengan masih pandangan bertanya. Bukan kah mereka telah sepakat jika mereka tidak saling mengenal? Apakah Jonghyun telah memaafkannya?

“Akh.. Jinki ini Jino… dia… belahan jiwaku..”

Jinki memfokuskan pandangan matanya kearah Jino. Sekarang dia mengerti mengapa Jonghyun bersikap biasa saja kepada dia. Pemuda tegas itu telah menemukan pengobat hatinya. Luka itu telah tertutup. Dia telah menemukan seseorang yang dia cintai sepenuh hati.

“Salam kenal Jino!”

“Salam kenal Jinki – sama”

Pemuda kecil itu membungkuk hormat. Jonghyun mengacak rambutnya. Dan meraihnya kedalam dekapanya.

“Syukurlah kau terlihat bahagia Jjong”

Jonghyun memutar tubuh “Apa kau meninggalkan Kibum? Kalian berpisah?”

“Tidak.. sebentar lagi dia akan datang…”

Tersenyum menyentuh dadanya yang berdebar? Masih bisa kah merasakan detak jantungnya yang telah berhenti di dunia sana. Dan dimanakah sekarang mereka? di dunia tanpa akhir? Tanpa batas?

Seorang pemuda berjalan perlahan mendekat. Jonghyun memicingkan matanya. dia berlari mendekati pemuda itu. meninggalkan Jino sebelumnya terlebih dahulu mengelus pipi Jino.

“Minho..” serunya menebak.

“Kim – sama?”

“Kau juga berada disini?”

Minho mengangguk. Dia melihat jika bukan hanya Jonghyun disini. Ada seseorang yang dia kenal sebagai salah satu Pangeran dari korea dan seseorang yang sangat asing.

“Kita berada di mana Kim – sama”

Jonghyun menggeleng “Kami semua menanyakan hal yang sama!”

Semua terdiam. Sibuk dengan pikiran masing – masing. 4 pasang mata itu sibuk mengamati ruang putih yang mereka tempati. Tak ada ujung. Tak ada apa – apa disana selain ruang hampa tanpa batas.

Jinki berjalan tanpa arah secara tiba – tiba. Ketiga yang lain membiarkannya.

Pemuda bermata sabit itu berdiri menunggu di salah satu pusat yang bercahaya. Dia merasakan kehangatan yang tiba – tiba datang.

“Kibum…” panggilnya menatap siluet wanita berkimono biru…. Biru? Tidak sama seperti mereka berempat. Wanita itu menatapnya sendu. Wajahnya yang berbingkai indah. Mata bersudut tajam. Bibir ranum yang cerah. Kedua pipi yang merona.

Jinki mengulurkan tangan dan Kibum menyambutnya.

“Selamat Datang…”

“Aku pulang Jinki….”

Mereka berpandangan lalu berpelukan erat. Mereka sempat terpisah sejenak. Hanya dalam hitungan hari namun terasa seperti bertahun – tahun lamanya “Aishiteru…”

“Nado saranghae Jinki..”

Mengacuhkan tempat sebenarnya mereka berada. Masing – masing sibuk dengan kebahagiaan yang tak bisa mereka kecap saat berada dunia sana. Apa disini surga? Apa disini tempat dimana ketaatan dan peraturan tidak berlangsung? Tak ada cinta terlarang?

“Minho…?” Jjong menatap kepada pemuda itu yang kini menengok kebawah kakinya

“Dia bahagia Kim – sama..  Kibum – san… Taemin dia memiliki penggantiku yang akan mencintainya sama sepertiku yang mencintainya, anak kami…” mata bulatnya membesar penuh bahagia. Dia melihat lagi kearah bawa. Tangannya ingin menggapai namun jarak itu terlalu lebar.

“Berbahagialah Taemin…. disini aku akan menunggumu”

Yah.. disini.. di ruang hampa tanpa ujung mereka akan hidup tanpa batas. Tanpa aturan. Tanpa larangan. Tidak perduli jika itu adalah neraka atau surga. Kebersamaan cinta mereka adalah hal yang utama. Cinta mereka pada akhirnya memiliki ruang dan tempat di mana bisa bebas lepas tanpa ada penghalang. Disana. Yah disana. Tak ada cinta yang terlarang. Disana mereka bebas dengan cinta mereka. tempat yang mereka raih melewati satu kata KEMATIAN.
.
.
Taemin menatap kedua pusara didepannya, pusara itu sudah sangat lama, tanahanya sudah tidak gembur lagi, namun masih segar karena selalu giat di rawat agar selalu bersih … dua pusara yang sangat ia kagumi akan kesetiaan kisah dibaliknya.

“Taemin –san … kita harus kembali sekarang …”, Yuki, berdiri dibelakangnya, Taemin menoleh dan mengangguk. Meninggalkan makam itu.

“Tunggu apa lagi , cepatlah, banyak yang harus kau lakukan juga …”, jelas Taemin menoleh pada Yuki yang malah berdiam didepan pusara itu, ia lihat Yuki menghapus air matanya, namun Taemin tidak menggubrisnya.

“Sampai jumpa Kibum –san … Jinki –sama…”, ucap Yuki, Taemin tidak bergeming, ia tetap jalan dan meninggalkan makan itu.
.
.
“Okaa –san …”, Taemin mendongak, melihat seorang gadis berumur 10 tahun berdiri didepannya, “A-apa aku sudah boleh duduk … ?”, tanyanya,

Taemin mendongak dari kegiatannya memainkan samizen, “Apa aku sudah bilang kalau kau sudah baik dalam melakukannya, Minji?” tanya Taemin dingin. Minji menunduk, dan menggeleng.

“Belum Okaa –san …”, jawabnya. Taemin berdiri an melihat ke arahnya.

“Lakukan 5 kali lagi, sampai kau bisa .”, jelas Taemin dan keluar, meninggalkan remaja itu dan meliriknya untuk mulai menari lagi.

Ia berjalan dengan tegak melewati banyak Geisha dan Maiko yang menunduk melihatnya, banyak pasang mata kagum padanya, banyak juga yang merasa iba padanya. Ya, Taemin … seorang pemilik Okiya ternama di Distrik Gion, sosok yang dahulu terkenal dengan wajah malaikatnya, membuat semua pria bertekuk lutut padanya … namun kini , semua itu tidak lagi terlihat , tidak di mata teman – teman seperjuangannya yang lain, tidak juga Yuki, orang kepercayaannya …

Semua itu terasa pergi begitu saja, wajah malaikat dan lembut langsung terhapus dari nya ketika semua peristiwa 10 tahun lalu menghapusnya begitu saja … membuat wajah itu enggan tersenyum lagi, hati nya menjadi dingin, dan tega … bahkan dengan anaknya sendiri … Minji.

Taemin membuka pintu kamarnya, perlahan tubuhnya lemas dan terduduk di tatami, ia pegang kepalanya yang pusing, menarik nafasnya dalam dan memandang keluar, perlahan ia rasakan hangat dari hidungnya … ia usap dengan serbet ditangannya itu … tersenyum getir melihat darah merembes dari sana…

“Taemin –san …”, Taemin menoleh , melihat Yuki berdiri diambang pintu.

“Apa?”,

“Aku bawakan obatmu , sudah saatnya minum obat …”, ucapnya membawa senampan minuman dan obat-obatan disana.

“Aku capek minum obat …”, ucap Taemin namun tetap menelannya, Yuki hanya tersenyum.

“Kau harus sembuh, kalau kau tidak minum obat bagaimana kau bisa sembuh dan memimpin Okiya ini?”, tanyanya, Taemin tersenyum.

“Benar.’, jawabnya singkat.
.
.
Seorang pria duduk membungkuk didepan wanita didepannya. Sebisa mungkin melakukannya dengan sopan.

“Kau berkata tadi bahwa kau ingin … menjadi Danna Yuki? Benar katamu?”, Taemin bertanya, melirik pada pria yang mendongak padanya.

“Yah… aku ingin menawarkan  diri sebagai “Danna” nya! Apa sudah ada yang mencalonkan diri selainku?” tanyanya. Kata-kata ini …

“Tentu saja Yuji –sama. Kau pikir Yuki kami tidak seterkenal yang kau pikir?”, jawabnya dingin.

“Apa yang mereka tawarkan?” dan kata-kata ini…

“Semuanya…harta… kekayaan yang berlimpah. Rumah. Perhiasan. Dan kebebasan” ucap Taemin persis sama seperti dulu yang pernah ia dengar.

“Jadi. Apa yang ingin kau tawarkan kepadaku Yuji-sama agar aku memilihmu alih – alih yang lain?” tanya Taemin tersenyum sinis.

Pria itu tampak diam, kemudia melihat ke arah Yuki yang diam seribu bahasa, “Cintaku … aku taruhkan cintaku padanya … belum ada yang menawarkan itu bukan?”

Taemin menaikan alisnya, ia melihat ke arah Yuki yang menatap pria didepannya dengan terkejut, kemudian menunduk dalam …

“Cinta ya? seberapa besar cintamu padanya? “

Pria itu terkejut, mendongak pada sosok didepannya, sosok yang ia tak kenal lagi sejak dulu, mengerikan. “Aku—“

“Kau bisa keluarkan jantungmu sekarang dan berikan itu pada Yuki? Sebagai bukti apakah janutung itu terus berdetak untuknya??”, tanya Taemin dingin.
“Tidak kan?”, tanyanya menatap kasian kearah Yuji yang menatapnya sinis.
“Kami tidak boleh mencintai Yuji – sama. Kami di takdirkan untuk melayani. Bagi kami cinta itu sangat terlarang… dan kami hanya melayani Danna yang merawat dan mengurus kami! Kau tahu itu kan?” tanya Taemin.

Pria itu menatap wajah Taemin lekat, geram akan sifatnya, “Yuki …”, panggil Taemin.

“H-hai Okaa –san …”, jawabnya getir.

“Kuterima kau Yuji –sama sebagai Dannanya … namun.”, Taemin melihat ke arah mata Yuki lekat. “Kau harus tahu batasan yang mengatur ini semua … tidak ada satu pun yang bisa melawan tradisi ini … kau sangat tahu akan hal itu kan Yuki?” tanya Taemin,

Yuki menatap terkejut, kemudian mengangguk, melihat ke arah Yuji dengan pandangan sedih. Taemin bukannya tidak sadar akan hal itu, namun ia berusaha menepisnya … ia keluar begitu saja dari ruangan itu setelah ia meminta pelayan yang lain untuk segera menyiapkan upacara pengangkatan Danna bagi Yuki.

.

.

 

“Aku akan mencoba mematahkan tradisi itu Kibum – san. Karena itu aku…” Minho membungkuk dalam “Tolong pilih aku! Aku berjanji akan membahagiakannya…”, Minho membungkuk sangat dalam.
Tidak ada yang bisa mematahkan tradisi …
Tradisi bukan untuk dirubah …
Tradisi ada untuk di pertahankan …
Jika tradisi berubah, itu artinya ada norma yang dilanggar …
Dan itu berarti … harus ada pula kepentingan yang di pertaruhkan …
Termasuk cinta …

Taemin bersandar di kursi dipan di luar kamarnya, memandang air yang mengalir dari kolam didepannya, hembusan angin menerpa wajahnya, dan guguran bunga sakura yang indah, kicauan burung menentramkan hatinya …

Ia pejamkan matanya sekali lagi … merasakan nyaman … sesuatu merembes dari hidungnya, namun ia tidak perduli, ia usap dengan lembut menggunakan tangannya … lelah sekali … badannya begitu lemas … kanker otak dikepalanya ia rasa sudah sangat parah saat ini…

‘Taemin …’
Suara itu, sudah sejak dua hari lalu ia sering mendengarnya … ia benar-benar merindukan sosok itu lebih dari biasanya … ia genggam erat kanzashi kuning di tangannya …
‘Taemin … buka matamu …’

Perlahan ia buka matanya, menangkap secara samar sosok didepannya … nafasnya tercekat, namun degup jantungnya tidak hentinya berdentum …
“Minho –sama …”, lirihnya.
Sosok itu tersenyum, dan perlahan maju, berlutut didepannya , menyentuh pipi Taemin dengan lembut … Rasa rindu itu tidak terbendung lagi, Taemin peluk sosok itu dengan erat…

“Minho –sama … aku merindukanmu …”
Hanya belaian di pungunggnya, entah bagaimana tubuhnya ringan, Minho membopongnya dan tersenyum padanya.
‘Kau mau ikut aku?’
Taemin tersenyum, mengangguk senang, merebahkan kepalanya di antara pundak dan leher Minho.
“Ya … bawa aku bersamamu …” ucap Taemin, “Aku mencintaimu …”
‘Aku juga mencintaimu…’

Tubuh itu tergolek tidak berada dengan senyum terukir di bibirnya. Senyum yang telah lama menghilang. Senyum yang hanya dia berikan untuk cintanya. Dia tertidur setelah bertahan demi darah daging yang dia dinginkan. Dia terlelap… tidak ada keletihan dan penderitaan. Kini dia pergi di tempatnya berarti.
.
.

 

Dua manusia berdiri di depan sebuah makam yang masih basah. Tampak seorang wanita dewasa mengenakan kimono hitam bercorak mawar merah. Didepannya berdiri seorang gadis berusia 10 tahun dengan mata sembab dan bibir menahan isakan kecilnya.

 

Dia memandangi makam itu dengan pilu, setelah tidak pernah bertemu dengan ayahnya, sekarang dia di tinggalkan sendiri. Betapa jahat keduanya. Betapa mereka tidak memperdulikan perasaannya.

 

MARAH? BENCI?

 

Tidak.. Dia tidak pernah merasakan hal itu kepada ibunya. Dia mengerti, di usianya yang masih belia dia dapat mengerti tentang sorot mata teduh ibunya yang tidak bersinar. Seakan mati. dia tahu jika ibunya sangat merindukan ayahnya. Dia bisa merasakan cinta keduanya walau selama ini dia tidak mengenal mereka.

 

Ibunya yang kejam kepadanya, bersikap dingin, tidak pernah menganggap dia sebagai anak. Dia… mengerti walau dengan hati yang tersayat. Dia menyayangi ibunya lebih dari apapun.
”Minji – chan” Ucap wanita dibelakangnya. Dia menepuk bahu gadis itu dengan pelan. Menatap matanya ketika Minji menoleh.

 

Jemari tanganya mengapus jejak air mata yang menghiasi kedua sisi pipi Minji. “Apa Oka – san bahagia disana”

 

Dia memandangi makam ibunya yang berada tepat disamping makam ayahnya. Yuki meraih dagu Minji. Dia tersenyum menenangkan “Tentu saja dia bahagia Minji – chan. Apa kau tidak melihat wajah ibumu ketika pergi?”

 

Dia mengangguk, tangisan sendunya berubah cerah. Berbinar matanya menatap Yuki. Tanganya memegang tangkupan Yuki pada wajahnya “Oka – san Tersenyum. Dia tersenyum… Pertama kali aku melihatnya. Oka – san sangat cantik”

 

Yuki meraih tubuh Minji kedalam pelukannya, membelai punggung gadis tersebut. Dia mengeratkan dekapannya ketika merasa guncangan kecil, isakan tersamar yang di rendam Minji.

 

“Taemin – san sangat bahagia sekarang Minji – chan. Dia telah bertemu dengan orang – orang yang dia sayang”

 

Gadis itu mengangguk. Semakin membekap mulutnya kuat. Ibunya.. Ibunya sudah tak dapat dia lihat. Sudah tak dapat dia rasa… semua kini hanya tinggal kenangan yang tertinggal dalam ingatan samarnya.

 

“Oka- san..”

 

END

Afterword

Vienasoma : cinta terlarang… cinta yang tidak dapat di terima oleh aturan kasat mata di dunia. Cinta yang tidak di perbolehkan oleh Aturan tak tertulis pada secarik kertas tak terlihat. Cinta yang merusak keseimbang pola dari dunia yang memiliki banyak penghuni egois.

Jika cinta di katakan terlarang maka tak ada yang bisa dilakukan selain berjuang. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menentang.. tak ada… walau pada akhirnya cinta itu akan kalah oleh aturan yang membelenggu jaman. Kalah oleh ratusan penghuni dunia yang tak terhitung jumlahnya.

 Jika cinta terlarang… jika cinta itu sudah mencapai batas perjuangan… maka hanya ada satu cara menggapainya. Cara menyedihkan yang bertentang kembali oleh aturan. Cara yang menyakitkan serta memilukan. Dimana cinta itu harus merelakan hidupnya. Merelakan nafasnya. Pergi.. meninggalkan dunia yang menyiksanya. Mencari tempat yang entah ada atau tidak….. pergi… meninggalkan raganya membebaskan jiwanya melewati kematian….

 Dan apakah cinta itu akan diterima setelah semuanya? Tak ada lagi yang mencercanya? Tak ada yang memojokkanya? Tanyakan pada hatimu.. pejamkan matamu.. apakah setelah kematian… setelah pergi dari dunia yang kejam karena merenggut cintamu… apa kah ada kelegaan? Apakah ada kebebasan????

 Kebahagian dan penderitaan, Semua berada dalam genggaman sang pencinta…. Semua berada dalam keteguhan hatimu..

 

Sanniewkey : Nah … sekian cerita dari kita berdua, semoga dapet kesan dan pesan yang bagus dari cerita ini yah … sekali lagi makasih karena udah dukung kita berdua, makasih segalanya deh … mulai dari like, komen, dan juga mungkin kalian promo ke temen-temen yang lain, haha … senang bisa berbagi cerita ini …
Annyeong …. We love you suunders!

-Vienasoma & Sanniiewkey~

 

Advertisements

111 thoughts on “[2min-Onkey] Forbidden Love of a Geisha PART 8 B end

  1. Sanniiieee….. vienaaaa…
    Huweeeee……
    Gw mewek…
    Walaupun g separah yg dulu2..
    Akhirnyaaa
    Mereka bersatuuuuu…..
    Walau haru dgn kematian ㅠ.ㅠ
    Minji pengertian bgt ih jadi anak..
    Senyum oka san hilang mulai dr awal dia ada..
    Huweeee ㅠ.ㅠ
    Jongno pun bersatuuuuu
    Semua bersatuuuuu dalam satu kata KEMATIAN…

  2. aku nangiiiisssss….TT_TT
    sebenernya ini happy ending kan ya? tapi kenapa sedih banget? mati semuaaaaaaa….

    author bedua ini DAEBAK lah. kata”nya itu lho. disetiap syair yg tertulis. indaaaaaaahhhh banget!

    DRAMA abis nih ff. bikin versi drama atau filmnya lah, pasti laku nih di pasaran!

    author JJANG!
    FIGHTING!

  3. Banjiiir airmata ya ampuuuun ;_; ga nyangka aku u.u …. Tisu basah. keren banget! aku sukaa. spechless sama ceritanya u_u kereeeen! ini ini huuuuu u____u

  4. Yah nangis lagi deh… Ini ffnya keren banget maksih thor daebak…
    Kasian minjinya dia ditinggal sendirian tapi semoga yuki bisa ngejaga dia, dan akhirnya semua bisa berkumpul tanpa ada larangan lagi aaa 2min onkey jongno

  5. 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
    Akhirnya tetem bisa kumpul lg dg minho dan org2 yg dia sayangi. Meski di dunia lain.. .

  6. Please kakak author harus tanggung jawab…
    Aq mewek gak udah” ni….
    Sedih dan tragis bgt kisah cintanya.

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s