[Onkey] WTF part 6 of ?


Foreword:

Ada yang tauk ini FF udah berapa lama hiatusnya? Muahahaha… gue udah sering diteror, terlebih dengan YUAWANDIRA eonni! Kalau dia punya bom yang bisa dilempar langsung kerumah gue, mungkin itu udah dilakukan!
Dan ada yang tanya gue suka ngutang FF? Jawabannya, YA!! sangat suka!!
Dan gue duga kalian udah lupa sama FF ini … gue saranin, baca aja dari awal, *kalau mau* kalau nggak, baca ending”nya aja… wkwkwkwkw~
Gue aja yang bikin lupa, sampe 5 kali baca berulang kali, dengan lemah otak gue ini!

MASIH BERHARAP!
KOMEN , GAK CUKUP PUJIAN, MAKIAN YANG BERMANFAAT SAYA BUTUHKAN!

By: Sanniiewkey~

PREVIOUS PART >> CONTINUE READING~

Ruangan putih itu mengeluarkan bau yang tidak sedap baginya, mual rasanya malah tambah tidak enak … kepalanya yang pening dari tadi malah terasa tambah sakit …
“Jinki …”, panggilnya, namun tidak ada sautan sama sekali dari sana, perlahan ia buka mata kucingnya dan melihat sekelilingnya putih, setelah ia sadar, ia tahu kalau itu hanya sebuah klinik.

“Jinki …”, panggilnya lagi,

Merasa tidak ada jawaban ia bangkit dengan memegangi kepalanya, kenapa ia bisa ada disini? Dan kemana Jinki? Perlahan ia turunkan kakinya, merasakan dingin menyeruak ke telapak kakinya yang hanya tersisa kaos kaki saja.
Grek~
Ia menoleh mendengar suara pintu terbuka, “Jinki?”,
“Kibum?!”, Jinki memekik ketika ia dengar suara itu, berlari menghampiri sang cantik yang mengulurkan tangannya, Jinki menyambutnya dan menarik nafas, memeluk sosok itu erat sambil mencium pucuknya. “Gwencana? Kenapa bangun ? tidur dulu … “, Jinki merebahkan Kibum lagi dan mengelus pipinya.

“Kenapa aku bisa disini?”, tanya Kibum, Jinki mengerutkan alisnya.

“Kau tidak ingat?”, tanya Jinki, Kibum terdiam sesaat, ia memutar memori otaknya lagi.
“Itu—hmpfh…”, Kibum memegang mulutnya, mendadak rasa mual lagi karena ia berhasil mengingat apa yang membuatnya ada di klinik ini. Jinki dengan panik mengelus punggung Kibum dengan perlahan. Dan mengambil pispot yang disediakan perawat klinik sekolahnya tadi untuk berjaga-jaga jika Kibum muntah.

“Uggh~~’, Kibum merebahkan tubuhnya lagi dan memandang lesu kelangit-langit. “Memikirkannya saja aku mual …”, Kibum mengepalkan tangannya dan mengurut dadanya sendiri.

Jinki tidak berkata apa-apa, ia diam saja, mengambil tisu dan mengelap sisa muntahan di ujung bibir Kibum tanpa jijik, dan memberikannya segelas teh madu yang ia baru saja bawa. Kibum merasa namjanya itu berubah, ia jadi tidak banyak omong.
“Gwecana …”, ucap Kibum untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja, namun namjanya itu mengerutkan alisnya dan ia bisa liat kalau Jinki mengencangkan kepalan tangannya.

“Siapa yang berani lakukan itu padamu?”, tanya Jinki tidak percaya, ia melihat ke arah Kibum, “Siapa orangnya? Kenapa ia lakukan itu padamu? Apa motifnya??”, tanya Jinki menatap Kibum dan menggenggam tangan Kibum erat, ia bisa merasa bahwa sedikit sakit, namun ia diam saja, dan mengulurkan tangannya menyentuh dada Jinki.

“Lihat, kau berdebar sekali …”, ucap Kibum, Jinki mengerutkan alis, Kibum tersenyum padanya dan bangkit dari tidurnya, memeluk Jinki dengan merebahkan kepalanya di dada bidang Jinki, “Jantungmu berdebar cepat saat kau marah.”, Kibum menepuk pelan dada Jinki dengan maksud membuatnya meredakan emosinya.

“Aku serius Kibum …”, ucap Jinki, “Aku akan temukan orang yang melakukan ini padamu …”, ucap Jinki menarik wajah Kibum dan menatap matanya,

Kibum menarik nafas dan memegang tangan namjanya itu , “Aku juga serius kalau aku katakan aku baik-baik saja.”, jawab Kibum, “Biarkan sajalah … mungkin hanya orang sirik … kau hanya buang-buang waktu kalau kau tanggapi ini. Aku lebih peduli dengan aegya kita, dia tidak boleh stress … dan itu dimulai dari ku!”, ucap Kibum mantab.

Kibum menatap Jinki lekat, ia tahu namja nya itu masih terlihat marah, ia tarik wajahnya menatap Kibum dan tersenyum padanya.
“Gwencana … trust me!”, ucap Kibum dan mencium bibir Jinki lembut, memejamkan matanya, Kibum sendiri merasa marah, dan merasa kesal, siapa yang melakukan itu semua, namun ia sadar, jika ia marah sekarang, maka tentu orang itu akan senang, ia akan main bersih, ia akan bersabar, sampai orang itu memperlihatkan batang hidungnya sendiri …

“Aku tidak percaya, aku rasa tempramenmu sedikit berubah semenjak hamil.”, ucap Jinki yang sudah mulai tenang, dan matanya sudah teduh kembali,

“Bawaan bayi.”, ucap Kibum singkat dan menerima pelukan dari Jinki. Meski begitu, Jinki menambah catatan tersangka dalam otaknya, bukan berarti dengan kata ‘Gwencana’ dari Kibum ia akan diam saja…
.
.
“Lepaskan! Apa-apaan ini? Lepaskan!!!’, Teriak seorang namja pada kedua bodyguard yang mencengkram kedua lengannya dengan kuat. Ia dibawa masuk kedalam sebuah mention yang sangat luas dan megah. Terlihat beberapa bodyguard lain berjaga disebuah pintu besar yang sedang ia tuju.

“Lepaskan!!”, teriaknya sekali lagi.
BRUK

Tubuhnya terjerembab ketanah, ia segera berdiri dan ingin berteriak pada orang-orang tidak sopan itu, namun terhenti ketika sebuah suara memanggilnya.
“Kim Jonghyun!”,

Namja berperawakan kekar itu menoleh kesumber suara, ia terkejut melihat sosok yang duduk dibalik kursi besar didepannya.
“A-appa …?”, sapanya pelan. “Kapan kau pulang dar—‘
“Oh, lihat siapa yang datang … hai brother! Duh~ belum sempat ganti pakaian yah?”, sapa yeoja cantik dari balik kamar lain didalam ruangan itu, “Hai, Appa … i miss you.”, ia kecup pria paruh baya yang duduk disana dan mengambil minuman lalu duduk di sofa dekat pria itu.

Jonghyun menatap dingin ke arahnya, dan kemudian balik ke pria tua itu, “Ada apa ini, Appa?”, tanya Jonghyun bingung. Menatap yeoja yang tersenyum padanya dan menyengir merendahkannya.

“Kau pura-pura bodoh akh Oppa … tentu saja membicarakan rencana kita …”, jelasnya. Jonghyun meliriknya kesal.
“Apa aku terlihat bertanya padamu barusan?” jawabnya sinis, dan dibalas tatapan sinis dari yeoja itu.

“Cukup. Kau duduklah dulu …”, pria itu menunjuk kursi dekatnya , memintanya duduk disana. Jonghyun menuruti perintahnya dan menatap penasaran ke arah Appanya, ia tidak mau bertatapan dengan yeoja menyebalkan didepannya itu.

“Aku kesini untuk mengetahui seberapa besar rencanamu Jonghyun?”, tanya nya. Jonghyun menatap dingin dan menatap ke arah yeoja didepannya.
“Seberapa besar yah? Tepatnya, seberapa jauhnya … dan jika kau tanya, aku tidak lakukan apapun.”, jawabnya beralih ke pria itu. Pria itu kesan pertama mendengarnya tenang dan kemudian mendongak menatap dingin Jonghyun.
“Aku tidak akan lakukan apapun, sebelum kau beritahu padaku, dimana dia …”, jelas Jonghyun. “Kau berjanji padaku, kalau aku lakukan apa yang kau minta, kau akan pertemukan aku dengannya.”, jelas Jonghyun mengingatkan lagi perjanjian awal mereka.

“Oh come on Jonghyun Oppa … kau seharusnya tahu apa yang harus kau lakukan dulu, baru kau dapat imbalannya, kau saja tidak becus , malah aku yang harus turun tangan.”, cemooh yeoja itu.
“Diam kau! Kau lebih baik tutup mulutmu itu sebelum kurobek!”
“YAH! Kau!! Apa hak mu bicara begitu padaku?! Kau sadar tidak kalau kau sia—“
“Cukup!”, bentak pria itu menatap sinis ke arah Jonghyun.

Jonghyun menatap yeoja itu sekali lagi sebelum kembali pada pria didepannya, “Aku sudah tahu keberadaannya … jadi kau tenang saja, aku akan pertemukanmu dengannya.”,
Mendengar itu Jonghyun merasa seang sekali, air mukanya jadi bahagia, benarkah? Benarkah ia sudah menemukannya? “Dimana dia?” tanya Jonghyun semangat.
“Disini … di Seoul, Korea …”, jawab pria itu berdecak.
“Benarkah?” tanya Jonghyun tidak percaya.

“Tentu saja …”, jawab Pria itu, “Tapi kau tahu kan apa yang harus kau lakukan sekarang, Jonghyun? Sebagai namja kau harus bisa tepati janjimu padaku …” jelas nya lagi.
Kali ini air muka Jonghyun berubah menjadi asam lagi, “Apa yang kau mau lagi?” tanyanya.

Appanya itu memberitahukan semua rencana yang harus dilakukan Jonghyun, Jonghyun sendiri hampir tidak percaya dengan pendengarannya, bagaimana ia bisa melakukan itu? Memikirkannya saja dia tidak mau …
“Ingat, kalau sampai ini tidak berhasil … jangan harap kau bisa bertemu dengannya.”, jelas pria itu.

Jonghyun terdiam sesaat, apapun … apapun akan ia lakukan untuk bertemu dengannya! “Tenang saja.”, jawabnya singkat mencengkram lengannya sendiri. Kemudian ia bangkit dari duduknya ,

“Jonghyun, ini semua demi keluargamu, kau sudah dibuang olehnya , aku heran kenapa kau masih mau mencarinya? Seharusnya kau dengan senang hati membantu keluargamu, bukan hanya mencari orang yang sudah menyia-nyiakanmu!”, ucap Pria itu dan ditanggapi kekehan dari yeoja menjijikan didepannya.

Jonghyun mengepalkan tangannya menahan emosi, ia berbalik dan menatap dingin ke arah pria itu, “Aku bahkan tidak pernah tahu ini yang namanya ‘keluarga’.”, Jonghyun menoleh ke yeoja itu dengan geram. “Terlebih aku juga tidak pernah tahu kenapa aku bisa jadi anak mu, dan mempunyai saudara macam dia.”,

“YAH!” pekik yeoja itu.
“Jonghyun, jaga ucapanmu!” ucap Appanya. “Kalau kau setuju, aku akan benar-benar membawamu bertemu dengannya.”, jelasnya.

Jonghyun terdiam dan menatapnya dingin , pergi begitu saja dari ruangan itu, langkahnya cepat dan tidak perduli ia harus naik apa dan berada dimana, ia hanya perlu pergi jauh dari sana … Sesampainya di tepi jalan ia berhenti, nafasnya tersengal, ia cengkram dadanya yang terasa sakit … apa lagi sekarang yang bisa diharapkan?

Ia hidup bersama keluarga yang hanya gila harta dan kekuasaan, cintanya pupus begitu saja ditengah jalan karena Jinki sudah mempunyai Kibum, dan ditambah … ia tidak tahu, anak siapa ia sebenarnya …
“Umma…”, isaknya, kenapa harus ia yang dibuang?
.
.
Malam itu semua terasa sangat menyenangkan, karena kali ini Lee corps –tempat dimana Jinki meneruskan dan membantu bisnis keluarganya sedang mencapai penjualan tertinggi, dan berhasil dalam bisnisnya karena bantuan dari ide cemerlang Jinki, semua orang salut padanya, meksi dengan umurnya yang masih muda, dan juga di lihat dari statusnya yang masih sekolah, ia merupakan anak yang cerdas, sehingga bisa membuat kemajuan yang sangat signifikan di perusahaan keluarganya sendiri.

Untuk itu, malam itu di kediaman Lee, diadakan sebuah pesta ‘sederhana’ untuk mencapaian tersebut, seluruh kolega datang menghadirinya. Dan juga teman-teman terdekat.
“Kau jangan kemana-mana … kau disini saja neh?”, Jinki mengelus pundak Kibum yang duduk disebelahnya, Kibum yang asik meminum cocktail buah mengerutkan alis.

“Menurutmu, selain aku duduk disini, dan nanti melihatmu berpidato didepan ada yang lebih menarik dan bisa kulakukan dari ini?”, tanya Kibum sewot.

Jinki menarik nafas, ternyata ‘istrinya’ itu masih ngambek karena persoalan beberapa jam lalu. Kibum badmood karena ia tidak tahu baju apa yang harus ia pakai, ia menggerutu karena bajunya banyak yang sudah tidak muat, dan ia sempat marah karena ia terlihat gendut, dan tidak terlihat bagus dalam berpakaian malam itu. Namun setelah bersungut sana-sini ia luluh juga dengan bujukan Ummanya … Jinki saat itu lebih baik diam dari pada kena pukul olehnya.
“Iya… iya, mianhe …”, ucapnya mengelus rambutnya, Kibum hanya meliriknya dan meneruskan makannya. “Umma, aku titip Kibum, yah? Aku harus kesana … Appa sudah memanggil …”, ucap Jinki pada Umma Kibum yang juga datang. Ummanya itu hanya mengangguk dan menyuruhnya segera pergi.

Jinki berdiri sebelum mencium pucuk kepala Kibum dan mengelus kepalanya kemudian pergi kesisi pangggung dimana Appanya berada. Sesekali ia melihat ke arah Kibum dan tersenyum, Kibum hanya memerongkan lidahnya karena kesal dengan suaminya yang tidak peka akan moodnya.
“Kibum … Umma mau ke toilet … kau jangan kemana-mana neh?”, tanya Ummanya, Kibum hanya mengangguk dan membiarkan Ummanya pergi, sementara ia asik menikmati minumannya sesekali menjelajari matanya ke setiap tamu.

“Oh, Oppa … annyeong.”, Kibum menengok mendengar sapaan seseorang, ia melihat Krystal berdiri di dekatnya, mengenakan gaun yang sangat cantik. Ia terkejut, kenapa ia bisa disini?

“Annyeong.”, jawab Kibum tersenyum. “Silahkan duduk … kau .. sendirian? Atau … kenapa kau bisa disini? Kau kenal keluarga Jinki?”, tanya Kibum beruntun, seingatnya sewaktu disekolah ia baru saja berkenalan dengan Jinki?

Krystal terkekeh, “Aku juga terkejut ternyata pesta ini punya Jinki Oppa, aku kesini bersama Appaku, dia kolega perusahaan ini.”,

Kibum mengangguk, dan tersenyum padanya, entah kenapa ia merasa ada perasaan canggung dengannya, entahlah … ia sempat menduga bahwa.
“Oppa, boleh aku tanya sesuatu?”, tanya nya, Kibum mengangkat alisnya. Ia hanya mengangguk. “Erm … aku sempat dengar desas desus disekolah … apa kau … hamil?”,

Kibum tersedak dan terbatuk, ia menepuk dadanya dan menatap Krystal terkejut, “M-mwo?”
“Mianhe Oppa … aku hanya tanya saja … aku dengar begitu, aku dengar ada yang pernah melihatmu dari rumah sakit khusus ibu dan anak bersama Jinki Oppa …”,
Kibum menelan ludahnya, masa iya? Padahal mereka selalu janji malam hari untuk checkup. “Itu—“
“Baby—oh Kau!”, Kibum menoleh, melihat Jinki sudah di sampingnya.

“Annyeong Jinki Oppa…”, sapa Krystal lembut. Kibum menggigit bibirnya dan menoleh ke arah Krystal.
“Apa yang sedang kalian bicarakan? … dan Oh, kenapa kau disini?”, tanya Jinki duduk disebelah Kibum.
“Ani … hanya bicara saja. Aku kesini datang dengan Appaku … dia kolega bisnis Appa mu…”, jawabnya.
“Oh ya? siapa nama Appamu?” tanya Jinki.
“Oh, aku harus pergi … nanti akan kukenalkan secara personal … maaf yah …”, katanya yang setelah melihat ponsel dan pergi dari hadapan Jinki dan Kibum.

Jinki dan Kibum hanya saling bertatapan bingung, tidak mengerti apa maunya anak itu.
“Jinki.”
“Hm?”
“Kau tahu … tadi Krystal bertanya sesuatu padaku.”, cerita Kibum, Jinki mengerutkan alisnya. “Dan … ini tentang kita …”,
.
.
Jonghyun sudah bosan dengan pesta macam seperti ini, diantara mereka hanya membanggakan diri mereka satu sama lain, apa yang sudah dicapai, sebarapa besar pencapaian itu , dan yang terpenting, apakah ia lebih tinggi dari orang lain? Terlebih lagi ia melihat Kibum dan Jinki yang terlihat sangat bahagia. Meski ia sadar ia tidak bisa masuk kedalam hati Jinki, teman … begitu katanya, selama ini ia hanya harapan kosong, berpikir bahwa Jinki mencintainya juga … di Amerika ia selalu berpikir begitu …

BRUK
“Ah!”,
“Ah, mianhe … mianhe …”, Jonghyun membungkuk tidak sengaja ketika air minum ditangannya tumpah, dan mengenai orang yang baru saja berbelok dari jalan menuju balkon gedung.
“Tidak apa …”, jawab yeoja didepannya. Jonghyun mendongak, melihat seorang yeoja paruh baya tersenyum manis padanya. “Tidak kena gaunku kok, aman anak muda …” tambahnya ramah.

Jonghyun terkejut melihat sikapnya, ia membungkuk lagi meminta maaf padanya lagi, “Mianhe Nyonya … saya tidak sengaja, anda yakin tidak apa?”, tanya Jonghyun lagi, ia mengeluarkan sapu tangan dari dalam kantungnya dan menyerahkannya ke yeoja itu.

Yeoja itu melihat sapu tangan itu dan mengambilnya, mengangguk terima kasih dan membersihkan noda dibajunya, “Sepertinya aku harus kembali lagi kekamar mandi …”, jelasnya, Jonghyun mengangguk tidak enak dan melihat yeoja itu berlalu, entah kenapa? Ia bukanlah seseorang yang mudah suka dengan orang lain , namun entahlah … melihat yeoja paruh baya itu mengingatkannya pada seseorang …
“Ehm , anak muda …”,

Jonghyun menoleh, melihat yeoja itu sudah berdiri didepannya, Jonghyun menegakan tubuhnya dari sandaran balkon, menatap wanita itu dengan gugup, mata wanita itu teduh dan juga ia bisa lihat bahwa pasti saat muda dulu ia sangat cantik.
“Iya Nyonya?”, tanya Jonghyun.

“Terima kasih saputangannya , tapi sepertinya ini tidak bisa kukembalikan … karena sudah kotor.”. jelasnya.
“Oh, tidak apa-apa … justru saya minta maaf karena mengotori baju anda, anggap saja itu sebagai permintaan maaf saya …” jawab Jonghyun membungkuk lagi.
“Terima kasih …”, jawab wanita itu, “Oh, kau kenapa tidak masuk dan malah disini? Kau salah satu kolega keluarga Lee? Kelihatannya umurmu masih sangat muda?”, tanyanya.
“Anio … aku anak dari salah satu koleganya, dan kebetulan aku teman Jinki.”
“Oh, benarkah?”, Jonghyun berpikir wanita ini sangat ramah sekali. “Kalau begitu kau juga teman anakku …”, jelasnya. “Berapa umurmu nak?”,
“Aku seumuran dengan Jinki … hanya beda beberapa  bulan saja…”, jelasnya. “Dan kalau boleh tahu, siapa anak nyonya? Mungkin aku kenal?”,
“Kau tahu—“
“Umma!”,

Jonghyun dan wanita itu menoleh ke arah suara, Jonghyun terkejut melihat siapa yang memanggil wanita didepannya ini sebutan Umma, dan ketika sosok yang mencari Ummanya itu melihat Jonghyun hal yang sama juga terjadi.
“Jonghyun?”,
“Oh, kalian sudah kenal?”, tanya wanita itu. Kibum mengerutkan alis dan berdiri disamping Ummanya. “Nah, ini anak ku , Kim Kibum … dia—“
“Umma, aku dan Jonghyun saling kenal, kami satu sekolah.”, jelas Kibum , Ummanya itu menatap Jonghyun dan meminta penjelasan.
“Benar Nyonya …”, Jonghyun tersenyum padanya.

“Hmm … aku sepertinya harus masuk Nyonya, mungkin Appa ku mencariku … aku permisi dahulu … sekali lagi aku sangat minta maaf mengotori gaun mu…”, Jonghyun membungkuk lagi , “Kibum, aku duluan neh?” ucapnya sebelum melewati mereka.

“Anak yang baik … dan sopan … “, Kibum menoleh ke arah Ummanya. Ummanya yang dilihat seperti itu jadi mengerutkan alisnya. “Yah~ wae Bummie ah~?”, tanya Ummanya.
Kibum mengerutkan alisnya, “Umma, kau tidak berpikir untuk berflirting dengan Jonghyun kan? dia seumuran Jinki Umma ~~ aku tidak mau punya Appa yang seharusnya jadi abangku.”, ucap Kibum asal.

Ummanya itu terbelalak dan tertawa, “Ahahahaha … kau ini, mana mungkin? Lagi pula dia mana tertarik sama Umma yang bahkan sudah mau punya cucu! Lagi pula ada apa kau mencari Umma?”
“Jinki dan aku mau pulang, Umma akan kuantar dulu …”, jelas Kibum sambil membawa Ummanya masuk kedalam ballroom itu lagi.
Saat masuk Ummanya masih bisa melihat Jonghyun dari kejauhan, namja itu menunduk padanya sopan, dan ia tersenyum.
.
.
Kibum keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk ditangannya, rasanya segar saat kau berendam air hangat untuk menghilangkan rasa capekmu. Ia berjalan masuk kekamarnya, tersenyum ketika melihat sosok namja yang sedang tengkurap di atas kasur.
“Jinki …”, panggilnya. Tidak ada jawaban, perlahan ia duduk disisi dekat namja itu dan mengelua punggungnya perlahan. “Jinki … bangun … ganti baju mu dulu, setidaknya bersihkan badanmu …”, ucap Kibum berbisik di telinganya.

“Aku ngantuk …”, gumam Jinki, Kibum berdecak, ia mengelus kepala Jinki dan merunduk, berbisik padanya.
“Meski aku akan bukakan baju mu? Dan aku yang membersihkan badanmu?”, tanya Kibum, Jinki membuka matanya dan langsung bertemu dengan wajah Kibum yang tepat didepannya. Tersenyum nakal padanya, membuat cengiran yang Kibum tahu ia sengaja lakukan itu …
“Dasar! Ayo cepat bangun! Sebelum air rendamannya dingin …”, Kibum menepuk pundak Jinki. “Argh…”,

“Hehehehe ….”, Jinki terkekeh dan menarik tangan Kibum , memutar tubuhnya dengan ahli sehingga Kibum berada di atas kasur, dengan segera Jinki menaiki tubuhnya tepat diatas Kibum.

“Hmm…Jinki …”, Kibum tersenyum menerima ciuman dilehernya, ia mengelus kepala Jinki dengan lembut, membiarkan suaminya itu menciumi sisi lehernya, ia tidak perduli, Jinki sendiri sangat menikmatinya, seakan itu kegiatan paling wajib bagi dirinya sendiri. Tangan nya tidak berhenti begitu saja, ia telusuri sisi tubuh Kibum, dan menelusupkannya kedalam bajunya, mengelus sisi tubuh Kibum dari dalam, ciumannya turun ke tulang dada Kibum, menciuminya disana tanpa meninggalkan bekas.

Kibum menepuk pundaknya untuk berhenti, Jinki mendongak dengan mulut di poutedkan, merasa tidak suka karena Kibum menolaknya, Kibum berdecak, ia tangkupkan kedua tangannya di wajah Jinki, mencium bibir suaminya itu lama, Jinki seaka tidak mau menghentikannya, namun terpaksa karena Kibum yang menyudahinya.
“Kau sebaiknya mandi, aku sudah mengantuk …”, ucap Kibum manja.
Jinki menarik nafas, ‘Baiklah … “, katanya mencium pipi Kibum dan berlari kekamar mandi, ia tahu istrinya itu terkadang tidak bisa tidur sendiri.
.
.
Hari itu hari sabtu, meski weekand Kibum harus menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa bersama Jinki, Jinki harus menghadiri rapat dengan klien untuk menggantikan Appanya. Padahal hari ini harus jadwal cek ke dokter untuk kehamilannya, dengan sabar ia menunggu Ummanya sampai di rumahnya untuk menjemputnya.

Ring Ding Dong
Kibum menoleh ke arah pintu, ia berpikir Ummanya sudah datang, ia buka pintu itu dan ia terkejut siapa yang muncul disana, tanpa diduga …
“Appa?”, Kibum memundurkan langkah, membuka pintu untuk Appa Jinki yang tiba-tiba datang mengunjunginya, “Silahkan masuk Appa …”, ucapnya, pria itu tersenyum dan masuk kedalam.

Kibum mengerutkan alisnya, melihat Appa Jinki masuk, melihat sekitar rumah mereka dan duduk di sofa, “Kenapa kau berdiri saja? ayo duduk …”, ucap Appanya.
Kibum mengangguk, merasa canggung, jujur saja, selama ia menikah dengan Jinki, ia jarang berbicara dengan Appanya itu, ia bicara jika bersama Jinki, dan tentu saja mereka jarang bertemu karena Appa Jinki sangat sibuk dan jarang dirumah.
“Appa bukannya keluarga negeri? Kenapa ada disini?”, tanya Kibum bingung.

Appa Jinki melihat ke arahnya dan tersenyum, “Itu hanya alasanku saja, sebenarnya rencana ku adalah ingin mengunjungi mu saat ini …”, ucapnya, Kibum menelan ludah, ia gugup setengah mati, “Aku hanya ingin menyempatkan waktu ku untuk bicara padamu saja –tanpa Jinki tentunya …”,

Bicara? Oke … take a breath Kibum … ini hanya Appa dari suamimu …
“Baiklah … aku ambilkan minum dahulu , baru kita bicara yah Appa…”, Appanya itu tersenyum, Kibum masuk kedapur, membuat teh herbal dan snack untuk ia sajikan didepan Mr.Lee.

“Appa kesini hanya ingin meminta maaf padamu karena Appa tidak pernah tahu perkembangan hubungan kalian …” Kibum terbelalak.
“Appa jangan bicara begitu …”
“Tidak tidak … aku serius …”, pria itu menarik nafas, “Jinki yang kulihat sekarang kembali menjadi Jinki 9 tahun yang lalu …”, Kibum menatap Mr.Lee tidak mengerti, Mr.Lee seperti tahu akan tatapan penasaran Kibum.

Kebenaran yang ia dapatkan di hari itu adalah, 9 tahun yang lalu Jinki merupakan anak yang penurut, ia anak yang baik karena memang berasal dari keluarga yang mendidiknya untuk jadi anak yang baik –kalian tahu, pintar, ramah, dan tentunya siap menjadi penerus keluarga karena ia anak satu-satunya. Namun, semua itu berubah ketika saat itu, ia mengalami masa diaman pencarian jati diri sebenarnya sirna, ketika Ummanya meninggal karena sakit kanker lambung.

Jinki kecil tahu akan penyakit itu, itulah kenapa ia terus menjadi anak yang baik, belajar lebih giat dibanding anak seumurannya yang memang masih ingin main dan main … kenyataan pahit dan takdir pun menghampiri keluarganya, termasuk menghampiri sebagian kehidupan Jinki. Ummanya itu meninggal ketika ia berumur 11 tahun –hal itu membuatnya terpukul, ia menyalahkan dirinya sendiri, ia sudah berusaha menjadi anak baik, ia berdoa pada Tuhan agar Ummanya selamat, ia percaya jika ia jadi anak baik, doanya akan dikabul,namun tidak …

Jinki kecil lama kelamaan berubah menjadi anak yang membangkang, meski ia tidak pernah ambil masalah disekolah, namun ia jadi tidak pernah mendengar ucapan Appanya. Ia menolak bicara dengan Appanya selama 1 tahun kematian Ummanya, kemudian setelah itu ia berubah menjadi anak yang bebas dan tidak mau menjadi penerus keluarga …
“Untuk apa aku meneruskan bisnis ini , kalau karena ini aku kehilangan Umma, … dan kehilangan Appa…”, ucap Mr.Lee. “Itu yang ia katakan padaku …’, tambah Mr.Lee

Kibum mendengar semua itu dengan terkejut, Jinki menyalahkan semua itu kepada Appanya, karena Appanya yang sibuk ia seperti membuang Jinki dan juga Ummanya. Itulah kenapa Jinki yang berumur 16 tahun saat itu memutuskan untuk keluar dari rumah dan memilih untuk boarding school, dan kemudian pindah ke sekolah yang sekarang.
“Entahlah, aku tidak pernah bertanya pada Jinki kenapa ia tiba-tiba ingin meneruskan bisnis ku saat ia membawamu bersamanya menemuiku …”, Mr.Lee tersenyum pada Kibum yang diam seribu bahasa.

“Tapi … setelah aku lihat kesungguhannya … dan aku lihat perubahan sikapnya, serta tanggung jawab atas perkataannya padaku itu …”, Mr.Lee berdiri dan duduk disamping Kibum, meraih tangan Kibum kegenggamannya … Kibum menatap bingung. “Saat itu aku tahu, kau sangat berarti untuknya Kibum …”, ucapnya menepuk tangan Kibum.

Kibum speechless, ia membuka mulutnya namun tak ada kata yang keluar, “Mungkin kau malaikat pelindung Jinki yang dikirimkan istriku …’, Kibum bisa melihat air mata Mr.Lee, “Aku harap aku bisa menebus salahku pada Jinki, jadi kumohon … jaga Jinki baik-baik … dan juga jaga malaikat kecil ini baik-baik …”, ucap Mr.Lee mengelus perut Kibum.

Kibum terbelalak, Appanya …”A-appa kau—“
Mr.Lee mengangguk, “Ya… aku tahu Kibum, Umma mu mengatakannya padaku …”, Kibum kali ini tidak bisa membendung tangisnya, “Oleh karena itu aku kesini untuk sekali saja menggantikan Jinki dan Ummamu checkup kedokter… kau mau?”, tanya nya sambil menghapus air mata Kibum.

“Ya… ya Appa…”, angguknya tersenyum senang, terima kasih Tuhan …
.
.
“Uhuk …uhuk…Jinj—“, Jinki terbatuk ketika mendengar cerita Kibum, matanya terbelalak menatap namja cantik didepannya yang sibuk menepuk punggungnya.
“Jinjjayo?”, tanya Jinki akhirnya setelah meneguk air minumnya, Kibum menarik nafas dan mengangguk.
“Jinjja!”
“Kenapa kau tidak katakan padaku? Kenapa kau baru bilang sekarang? Dia tidak berbuat aneh-aneh dan tanya macam-macam pada dokter kan?”
Kibum melirik ke arah Jinki, “Memangnya kau pikir dia kau? Aku yang mengandung kau yang bawel …”, sungut Kibum.

Jinki menganga, oh my god … tidak bisa dipercaya, sekarang dia malah meledek, dan membandingkannya dengan Appanya yang baru saja menemaninya sekali? Benar-benar Kim Kibum ini …
“Jinki kau tidak—“ Kibum terhenti menghabiskan makan siangnya dan menoleh pada Jinki yang sudah mendekatinya, ‘Mau apa kau?”
“Kenapa kau membandingkanku dengan Appamu?”, tanya Jinki yang mulai menarik dagu Kibum dan berusaha menciumnya, namun disanggah oleh tangan Kibum.
“Ap-apa sih? Masa begitu saja cemburu? Itu Appamu Jinki ah~ for God’s sake … aah~ JINKI!!”
“Katakan! Kau dikasih apa sama Appa?! Aku cemburu, memangnya kenapa?”
“J-jinkii~~ hentikan… aa~aaah~~ Jinki~~”, Kibum menggeliyat karena Jinki mengelitikinya. Jinki tidak berhenti sampai ia melihat Kibum mulai ingin kehabisan nafas karena tertawa.

Jinki menarik Kibum kepelukannya, memeluknya dari belakang, merebahkan dagunya di bahu ramping Kibum, menatap langit siang hari di atap gedung sekolah itu, diam-diam itu menjadi tempat kencan makan siang yang bagus untuk mereka.
“Jinki …”
“Hm?”
Kibum mengigit bibirnya, “Aku … mendengar soal Umma mu dari Appa…”, Kibum bisa merasakan pelukan Jinki mengendur , tubuhnya menjadi kaku dipelukan Kibum. Kibum berbalik, dan menatap Jinki yang enggan menatapnya.

“Appa … berkata apa saja?” tanya Jinki dingin.
“Semuanya …”, Kibum menunduk, memegang dada bidang Jinki, mengelusnya perlahan, “Appa cerita semua tentangmu padaku … aku harap kau jangan marah padanya, aku ingin tahu semua tentangmu Jinki … kita memulai semua ini dengan cepat, aku bahkan selalu berpikir, aku masih kurang mengenal siapa suami ku yang aku cintai ini … tapi, dengan adanya Appa bercerita , aku jadi tahu … bahwa Jinki ku ini memang namja hebat …” jelas Kibum.

Kibum menarik wajah Jinki untuk bertatapan dengannya, “Kau bisa bercerita apapun padaku, aku terima kau apa adanya, aku ingin tahu semuanya, sedetail apapun namja yang aku cintai ini …”, ucap Kibum, Jinki mengelus pipi Kibum, memeluk tubuhnya erat sekali .

Kibum mengelus punggung namja itu lembut, “Gomawo … maaf kalau selama ini aku tidak cerita apapun …” Jinki mencium pundak Kibum
“Jinki … bawa aku sekali ke makam Umma mu, aku ingin memberi salam padanya …’,

Jinki melepas pelukan itu dan mengangguk, “Pasti Kibum … pasti …”, ia mencium bibir Kibum dengan lembut, mengelus sisi pipi Kibum, merengkuh leher ramping itu, menekan tengkuknya …
.
.
Seorang namja tampan memegang map dan bersiap keluar untuk segera pulang dari rumah, ia merutuk kehidupannya, hell … ia sudah tingkat akhir disekolah, seharusnya ia bisa belajar dengan tenang agar lulus, ia malah berkutat dengan urusan kantor Appanya yang egois itu.
Bruk~
Jonghyun terkejut, dengan cepat ia memungut semua berkas di lantai dan meminta maaf pada orang yang ia tabrak itu.
“Kau—Jonghyun?”

Jonghyun mendongak, melihat yeoja paruh baya didepannya, ia terkejut,
“Omo, Mrs.Kim?!”, pekiknya tidak percaya, ia bertemu dengan Umma Kibum didepannya, “Annyeong haseyo …”, ucapnya sopan membungkuk padanya.
“Annyeong …”, balas nya, “Sedang apa kau disini? Bukannya kau seharusnya sekolah?”, tanya wanita itu.
“Aku? Aku membantu hadiri rapat karena Appa sedang tugas luar … kenapa anda disini?”,
“Aku kerja disini …”

Sebelum Jonghyun berbicara lagi, asistennya sudah memanggil, memaksanya untuk segera pergi. “Mianhe Mrs.Kim … aku jadi menghancurkan isi map mu …”, bungkuk Jonghyun.
“Tidak apa anak muda …”, jawab nya, “Kau sebaiknya jaga kesehatanmu  … kau harus ujian juga kan? lain kali mampirlah untuk makan malam bersama kami … oke?”
“Tentu Mrs,Kim … Gamsahabnida .. annyeong…”
Dengan itu Jonghyun pergi sebelum membungkuk dan tersenyum pada Umma Kibum, entah kenapa Umma Kibum selalu merasa senang melihat Jonghyun, ia suka anak yang sopan …
“Oh, apa ini—“ matanya terbelalak membaca sederetan kata di map yang tertinggal di lantai, ia menatap ke arah dimana Jonghyun pergi dengan panik, tangannya gemetar …mungkinkah?
.
.
Semua mata menatap ke arah dimana dua namja yang baru saja memasuki gerbang sekolah bersamaan, bergandengan tangan seperti biasa –well, sang nampyeon yang memaksa saling bergandengan tangan … Kibum melihat kesetiap siswa yang menatap mereka dengan berbisik, namun segera menghentikannya ketika ia dan Jinki melewati mereka.
“Apa sih?”, gumam Kibum mengerutkan alisnya, Jinki menoleh ke arah aneanya dan mengangkat bahunya, tidak menghiraukan sama sekali pandangan sekitar.

Kibum dan Jinki masuk kedalam lobi, semua orang yang heboh langsung diam ketika mereka masuk. Jinki benar-benar tidak tahan, memangnya ada apa diwajah mereka? Seperti melihat hantu saja?

“Aku rasa ada yang aneh …”, ucap Kibum ketika mereka sampai di lokernya, Jinki bersandar di samping loker Kibum, menatap sang anaenya yang sibuk menge-pack buku untuk mata pelajaran pertama. Ia usap kepala istirnya dan menyelipkan rambut ke sisi telinganya. “Jinki, aku serius … aku melihat ada yang tidak beres pagi ini …”, ucap Kibum menutup loker dan sekali lagi melihat kesekeliling.

Jinki melihat ke arah lain, dan sontak semua siswa menghindari tatapanya, seakan tahu bermasalah dengan siapa jika menatap mereka seperti itu. “Tidak usah perduli … mereka masih iri karena aku menikahimu …”

Kibum menatap Jinki tidak percaya, menaikan satu alisnya, “Oh yah? Wuah … kau bangga sekali Mr.Lee?”, Kibum berdecak, “Seharusnya mereka iri kenapa aku bisa menakhlukan apa itu sebutan untukmu– The charismatic’s evil? Pfh …”, Kibum menutup mulutnya, julukan pertama kali tentang Jinki ketika ia menjadi anak baru, dan dia tidak lupa sebutan konyol itu.

Jinki cemberut, ia merangkul Kibum dan mencium pipinya, yang kemudian direspon dengan pukulan di tangan yang cukup keras, ia bisa lihat meski siswa melihat mereka dengan tatapan aneh tadi, tapi mereka akui, tatapan iri dan cemburu masih tergambar jelas dari para pemuja masing-masing.

“Umma!!’, Kibum menoleh, melihat Taemin berlari menarik Minho disampingnya, mereka berhenti tersengal tepat di kedua pasangan itu, menatap dengan tatapan panik …

“Minnie ah~ gwencana? Kenapa pagi-pagi kau sudah maraton?”, tanya Jinki. Kibum menyikut perutnya dan mengambil tisu dari tas, mengelap keringat Taemin.

“Umma … ada yang ingin kami tanyakan … dan …”, Taemin melirik ke arah Minho, Kibum dan Jinki mengerutkan alis, saling bertatapan dan bertanya-tanya. “ … ini mengenai …”

Taemin belum selesai bicara sebelum ia melihat semua orang berbisik disekitarnya, ia baru sadar sedari  tadi semuanya menatap mereka aneh dan melihat kedalam kertas digenggaman mereka. Jinki dengan sigap merebut kertas di salah satu siswa yang ada disana dan terbelalak, begitu juga Kibum yang kemudian mengetahui apa isi kertas itu..

Mereka saling bertatapan, “Ini—“ Kibum berbisik, Jinki menatap Kibum dengan cemas.
“Appa … ini pasti ulah Appa …” ucapnya,
“Tidak mungkin …”, bisik Kibum.

“Umma … Jinki Hyung?”, panggil Taemin,
“Apa … isi kertas itu benar?”, tanya Minho kali ini. Kibum dan Jinki hanya terdiam, seluruh siswa yang berada didekat mereka dikoridor itu diam,menunggu jawaban yang keluar dari mulut Kibum dan Jinki terhadap pernyataan isi kertas itu. Sebuah kertas dimana terdapat foto Jinki dan Kibum keluar dari RS Ibu dan Anak, foto Kibum dan Ummanya dari tempat yang sama, dan juga Appa Jinki dan Kibum, serta … sebuah hasil USG dari rumah sakit tercetak jelas , yang menyatakan bahwa Kibum telah hamil …

“Itu—“Kibum menelan ludahnya, Minho dan Taemin memang belum tahu, namun siapa yang lakukan ini? Apa motifnya? Apa benar ini ulah Appa Jinki? “Jinki—“ Kibum menarik lengan Jinki yang masih terdiam menatap kesekeliling.
“Ini …” semua mata tertuju pada Jinki yang mulai bicara. Jinki merangkul pundak Kibum dan mengeratkan pelukannya, “Semua berita ini … memang benar.”, Kibum terbelalak. Ia bisa dengar sekitarnya banyak yang terkejut, mungkin beberapa ada yang berlebihan shock menerima berita itu dan pingsan? “Benar … Kibum sedang hamil, lalu kenapa?”, tanya Jinki santai.

Tanpa babibu lagi … Jinki membawa Kibum pergi dari sana, keluar dari lingkungan sekolah, dan tidak perduli banyak siswa yang masih shock, dan bahkan mulai untuk menyebarkan gosip lain …

Tapi yang jelas … sepasang mata melihat mereka, dan tersenyum bangga akan kerjanya …

CUT~

Nyahahahaha~ Oh yess! Udah akh begini aja updatenya, kayaknya gak jadi end cepet nih! Wkwkw~ sabar sabar yah nagih FF ini sama saya…
Sedih FF saya udah gak ada yang komen kalau gitu terserah deh… kembali ke basic lagi, menulis untuk menyenangkan hati… suka gak suka komen aja . annyeong!!
Gomawo!!

NEXT CHAPTER >> CONTINUE READING~

119 thoughts on “[Onkey] WTF part 6 of ?

  1. haahhh, jong kesian juga ya.. jong anak pungut ya? jangan-jangan saudaraan lagi sama kibum hiing~..

    appa nya jinki baik banget ya ternyata, dikirain ga suka ama key.. pasti bukan appanya jinki yang nyebarin foto-foto sama hasil usg hamilnya key, pasti itu krystal..!!!

    kan, kan ketahuan key jadi dibenci ama temen-temennya dulu aja muja-muja udah gitu mau dikeluarin dari sekolah lagii, iisshh kesel

  2. Hoho..jangan2 key sama jonghyun saudaraan lagi..

    Kira2 siapa yg ngebocorin kalau key lagi hamil yah..appanya jinki gk mungkin atau krystal sama jonghyun yah…
    Penasarannnnnnnnnnn

  3. Anjir sebenernya siapa sih yg ngelakuin ini semua ? Appa Jinki ? Jjong atau siapa ??

    Mungkinkah Jjong yg melakukan ini ,
    Jjong please berhenti .

  4. Akhirnya ketahuan juga yaaaa.
    Tp aku brani taruhan itu bukan appa jinki.
    Tp ‘makhluk’ wtf dan appa wtf itu..
    Huhh sebel dehh

  5. eum…sepertinya sudah kecium,bau adik kaka’y nih.
    jangan bilang orang yang pengen.Jonghyun temui itu Ibu’y,dan jangan bilang juga umma’y Kibum itu umma’y Jjonghyun juga??? iya kan iya kan????

    dan yang nyebarin fto Kibum masuk klinik orang hamil itu pasti kristal.errrrrrr
    next ah,bikin penasaran -.-

  6. eum, jong abang.a bum kan? hehe oh itu toh alasan appa jin nerima hubungan onkey dengan mudah… heum, harm0nis.a keluarga onkey,… nah, to pasti krystal yang nyebari fot, tapi tak masalah toh ma onkey, emang apa masalah.a mereka udah kawin juga punya anak to hak mereka kenapa pada kepo. aduh2… -_-

  7. dikira appanya jinki bakal jd jahat..
    soalnya pas jinki ngenalin kibum,dr cara ngomongnya kaya gimana gitu..
    ga tau nya di baik😀 baik bgt malah perhatian ama kibum..

    ck itu mah pasti ulahnya si krystal.. soalnya dia aja yg bisikin rahasia kibum yg abis pulang dr rs..
    gimana ya ntar reaksi kibum pas tau kalo dia ama jonghyun itu sodaraan

  8. ohhh oh oh.. aku inget.. kale ga salah Ibunya Kibum itu ibunya Jonghyun juga..

    heum… trnyata ini udah lama banget aku baca.. udah beberapa tahun yg lalu

  9. Jjong kayaknya tertekan banget deh sama keluarganya, ternyata itu alesan keluarga jinki nerima key krena key berhasil ngembalikiin jink jadi anak yg baik toh, pasti yg nyebarin kertas pengumuman itu kalok ga jjong yah kriatal

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s