Standard

[2minjjong] A LIE – part 3 of ?


PART 3

FOREWORD:

Wah ni FF kalau bisa di bilang udah ada sarang laba-labanya banyak nih … hehehehe

So, happy reading!

if you respect all fanfics in here, just read n comment … im really apreciate that guys! Gomawo…

By: Sanniiewkey~

PART 2 > CONTINUE READING

 

Taemin mengigit bibirnya, ia terpaku dengan ucapan Kai beberapa hari lalu, setelah curhatnya yang terakhir, ia mendengarkan pendapat Kai ‘lagi’ yang lain, dan itu terus terngiang di telinganya. Tangannya meremas jarinya sendiri, cemas akan setiap kata-kata Kai …

“Aku hanya tahu … you can’t be smart and in love at the same time . It explains everythink. Aku bahkan tahu kalau kau enjoy dengan mereka, tapi aku rasa kau juga terganggu akan hal ini kan Tae? Banyak energi serta waktu yang terbuang disini, mulai dari waktu mu untuk bertemu mereka, dan … kebohongan apa lagi yang harus kau rancang untuk Minho?”,

Taemin speechless.

“Jadi, satu-satunya jalan adalah … dengarkan kata hatimu … and the rest …”, Kai menarik nafas, “Whatever will be … will be…” ucap Kai berdiri.

“Tunggu! Benarkah harus begitu?”

Kai menarik nafas, “Sure! But, you shouldnt do anythink if dont want to! Bye Taemin …”,

Taemin mengigit bibirnya, melihat sahabat terbaiknya itu pergi dan ia takut sekarang … ia taku akan pilihan hatinya …

Karena ia takut ia akan memilih Jonghyun.

 

“Hai!”, Taemin terlonjak ketika sebuah suara terngiang di telinganya, dan deru nafas terasa di lehernya, ia menoleh, melihat Jonghyun tersenyum lebar dan duduk di sampingnya, menyeruput orange float milik Taemin. Bagaimana namja ini bisa tenang? Ia tidak tahu bahwa sekarang ada hal penting yang harus dibicarakan …

Dan hal itu adalah tentang bernama … Pilihan kata hati … dan kenapa hatinya cenderung kepada Jonghyun?

 

Mereka duduk disana selama 1 jam akhirnya … tapi sepertinya pembicaraan tidak menemukan titik terang , percuma karena … Jonghyun bukan tipe serius, dia hanya terkekeh dan sesekali melempar joke ringan pada Kai, Luna, dan juga Gikwang yang duduk tidak jauh dari mereka sedang membahas project seninya, dan pura-pura tidak dengar …

“Jonghyun, please … aku serius kali ini…”, rengek Taemin menarik lengan Jonghyun, ‘akhirnya’ jonghyun menoleh dan tersenyum …

“Aku juga serius …”, jelas Jonghyun menatap Taemin lekat, Taemin menarik nafas, ia sama tahu ini akan membuatnya emosi, berbicara dengan Jonghyun sama saja seperti bicara dengan anak umur 4 tahun membaca, sulit sekali … setidaknya, ia perlu pandangan Jonghyun secara objektif –meskipun pasti akan secara subjektif, karena ia terjun didalamnya … ia penyebab ini semua …

“Semua terserah padamu … kau yang punya keputusan ini Taemin …”

Taemin benar-benar sudah habis akal, ia tidak butuh kalimat seperti ini. “Kenapa jadi terserah padaku?!”, pekiknya, ia sadar bahwa jadi bahan pendengaran yang lain, “Kenapa harus aku? Ini bukan hanya ada padaku Jjong … ini masalah aku dan kau … kita berdua! … aku dan Minho…”, ucap Taemin perlahan.

Ada sakit di hati ketika Taemin menyebutkan nama itu yang ada diantara mereka, tanpa ia ingatkan Jonghyun tahu itu. “Kau sayang tidak padaku?”, pertanyaan itu meluncur dari mulut Taemin.

.

.

Kau sayang tidak padaku?

Jonghyun memutar pensil ditangannya berkali-kali … sayang? Apa itu yang ia tanyakan? Jawabannya adalah 95% ia sayang pada Taemin, kemana 5%nya lagi ? itu adalah rasa ketidak yakinannya bahwa ia akan di pilih oleh Taemin …

Jonghyun melirik ke arah Taemin, namja cantik itu sudah mengeluarkan isakan sekarang, ia menghela nafas, melirik ke tiga temannya yang lain melihat ke arah mereka, dan segera menoleh lagi … Jonghyun tahu Taemin pasti bingung, begitu juga dengannya … mereka terlalu jauh saat ini …

“Jangan menangis Taemin … aku tidak punya tisu …”, ucap Jonghyun mencoba untuk tetap lucu, namun Taemin meliriknya kesal.

“Jjong!”, ia menatap Jonghyun dengan mata basah, menarik dengkulnya menyatu dengan dadanya, “Aku bingung … aku harus apa? Kita harus apa?”, tanyanya,

“Aku sayang padamu Tae …”, Taemin menoleh, melihat Jonghyun menatapnya, “Aku tidak bercanda, aku serius sayang padamu … aku tidak bisa jelaskan sebesar apanya …”,

Jonghyun tersenyum, membasuh air mata Taemin dan membelai rambutnya sayang, “Semua ada padamu Tae, pilihan itu kau yang tahu, siapa yang kau pilih, meski aku seharusnya bukan pilihan …”, decaknya, Taemin terdiam.

“Aku … aku tidak tahu … aku tidak bisa …”, Taemin menunduk dalam, ia rasakan usapan di punggungnya, dan sebuah tangan menarik dagunya, menghadapkannya pada Jonghyun yang tersenyum miris saat itu, Taemin bahkan tidak pernah lihat senyum itu sebelumnya, senyum Jonghyun hanya ada dua, tulus dan sombong …

“Aku tahu kau bingung, aku tahu kau sulit ambil keputusan siapa yang kau pilih. Tapi aku akan terima kalau nanti kau tidak memilihku … sungguh, setidaknya, kita bisa berteman …”, teman katanya?

Taemin menarik lengan Jonghyun, “Kau bercanda? Bagaimana aku bisa menganggapmu hanya sebagai teman? Itu—“

“Sshht …”, Jonghyun membelai bibir Taemin, dan menatap dalam matanya, “Kau pasti bisa memilih …”, Jonghyun menggengam tangan mungil itu dan melihat ke luar jendela ruangan studio mereka, “Namun , kalau sampai dimana titik kau tidak bisa putuskan kau pilih siapa …”

Taemin melihat ke arah Jonghyun intens … namja itu tidak memandangnya …

“… aku yang akan ambil keputusan itu.”, tambahnya.

.

.

Sepertinya makin sulit baginya, jangan tanya kenapa ia bisa bingung hanya seorang Jonghyun, jelas ia sudah punya namja perfect CHOI MINHO? Percuma, pertanyaan itu tidak akan pernah terjawab meski dunia terbalik sekalipun …

Cinta memang sulit, atau dia yang telah membuatnya menjadi sesulit ini? Ya, mungkin…

Tapi, ia tahu , waktu semakin lama tidak ada lagi, meski ia dan Jonghyun masih bersama mengerjakan project, tidak satu pun kata dari mereka berdua membahas tentang hal itu, tidak menyinggungnya walau seujung lidah pun …

Kali ini, Taemin merasa urusan yang namanya Pilihan kata hati  itu tidak berguna untuknya, karena sepertinya logikanya lebih jalan dibandingkan dengan hatinya … ia lebih memikirkan mana yang profitable … but, ia berpikir lagi, cinta bukan sebuah barang dagangan … maka ia memilih berpikir rasional …

Ia tidak mau kehilangan dua-duanya, tidak Minho, bahkan tidak Jonghyun, egois? Serakah? Ya, ia sudah jadi orang seperti itu saat ini. Hanya satu … ia harus segera ambil keputusan, dan yang terpenting, bukan Jonghyun yang mengambil keputusan itu …

Harus ia sendiri.

Bukan Jonghyun.

Dan bukan siapapun …

.

.

Thats no more time left …

Jonghyun muncul didepannya, menarik Taemin berdiri dari ruang latihan begitu saja, mengambil semua tas ransel Taemin dan menariknya keluar.

“Semuanya, aku dan Taemin duluan yah? Kita lanjut besok …”

‘T-tunggu! Kita bahkan belum mulai—“

“Wae … bosan! Aku mau refreshing sebentar … kau harus ikut juga … relax kan otot mu dari kegiatan menari!’, ucapnya menarik Taemin keluar gedung kampusnya dan menuju parkiran … kali ini Jonghyun membawa mobilnya, mereka masuk kesana, Taemin tidak banyak bertanya, selain Jonghyun memasangkan sabuk pengaman padanya …

Taemin berhenti di tempat yang sama sekitar beberapa bulan yang lalu, tempat dimana ia mengenal dunia Jonghyun. Sebuah tempat berkumpul rumah sosial musisi jalanan, namun kali ini berbeda, tempat itu di sulap jadi tempat festival sederhana, bisa dibilang underground? Namun tidak se ekstrim bayangan Taemin, tempat itu malah terkesan unik, mungkin karena seluruh penghuninya berdarah seni , jadi tempat itu di sulap begitu artistik …

“Kajja!’, Jonghyun melepaskan seatbelt Taemin dan berlari keluar, membuka pintu Tamein, menarik tangan namja cantik itu dan menuju kesana.

“Hai, Taemin … aku Amber! Jonghyun banyak cerita tentangmu …”, sapa yeoja bernama Amber itu, sekilas memang terlihat seperti namja, namun ia cantik … Taemin terkejut, ternyata yeoja bernama Amber itu adalah salah satu personil F(x) yang baru saja akan debut, Taemin tahu itu karena ia sering baca info tentang berbagai gosip dari agency bakat.

Taemin melihat ke arah Jonghyun yang hanya mengangkat bahunya, “Oh yah? Ia cerita apa saja?”, Taemin melirik ke arah Jonghyun.

“Apa? Aku tidak katakan apapun, well … selain bilang kau ini galak.”, kekehnya dan mengedip ke arah Amber. Taemin hanya meliriknya kesal.

“Jangan khawatir, ia bicara yang baik-baik kok … dia sangat tertarik padamu .. itu yang bsia ku lihat sih …”,

“Aku tidak bicara begitu?’, sangkal Jjong.

“Aha? Ucapkan sendiri pada dirimu itu …”, balas Amber, Taemin hanya berdecak.

“Baiklah Taemin, aku akan kembali ke panggung … nanti kau naik yah?”

“aahh~ shiroo … aku duduk saja …”, tolaknya, Amber hanya terkekeh dan berlalu. Taemin melihat ke arah Jonghyun yang melihat kesana kemari.

“Kau ini pasti banyak omong tentang ku kan?”, tanya Taemin mencubit lengan nya,

“Ouch! Appo ~ tidak kok …”

“Whatever!”

“Tapi aku tidak bohong dengan sifat galakmu kan~~?”

Taemin melirik kesal dan berlalu, mencari spot yang nyaman untuk melihat pertunjukan dari para bakat seni yang ada disana, dengan Jonghyun mengikutinya dibelakang dan menyerahkan minuman padanya.

“Well, kali ini jangan ada yang perotes, ini lagu request … so enjoy this …”, Amber mulai mengambil suara, memulai musik mengalun … dan berputarlah sebuah lagu berjudul ‘Never had a dream come true’ Taemin cukup tahu lagu ini … ini lagu yang sering di putar oleh Jonghyun didalam mobil ketika mereka bersama … ia melirik ke arah Jonghyun yang hanya melihat ke arah depan tidak menoleh padanya sedikit pun.

” I’ve never had a dream come true

Till the day that I found you

Even though I pretend that I’ve moved on

You’ll always be my baby

I never found the words to say

You’re the one I think about each day

And I know no matter where life takes me to

A part of me will always be with you “

“Jjong?’, Taemin menoleh, berharap namja itu akan mendengarnya, namun tidak, tidak ada gerakan sedikit pun yang dilakukan Jonghyun. Rasanya seperti selamanya mendengar Amber menyanyikan lagu itu. Dan tidak ada reaksi apapun dari Jonghyun. Taemin meremas tangannya , menatap kedepan dengan nanar.

“Yah, masih lagu request … mianhe … ini dari 2pm dengan I cant …”, terdengar sorakan tidak terima, “Tenang … memang tidak tepat dengan momentnya, tapi lets enjoy it neh~”, ucap Amber lagi, kali ini ia mundur memegang gitar dan satu namja berdiri didepan sana bernyanyi, Taemin tahu itu siapa … dia Donghae … ia senior di kampus mereka, dan Taemin tidak tahu hubungan Jonghyun dengannya.

” I’ll wait you cuz i can’t forget your love

I think the tears flow when thinking about you

Deepening toward the i can’t stop thinkin about your love

Can’t seem to forget everything you

Can’t seem to believe that if you come back

I can’t forget your love

I’ll wait until i’m forever

I can’t forget your love

I’ll wait forever

Cuz i can’t i can’t forget your love “

‘Jonghyun …” Taemin berbisik, menoleh pada Jonghyun, namja tampan itu menunduk tidak menyaut … ‘Jjong … “, panggil Taemin lagi.

“Ya?”, kali ini ia mendongak, menatap mata Taemin dalam …

“So …”, Taemin mencengkram lengan kanan Jonghyun. “This is your choice … not mine …”, ucapnya,

Jonghyun mengangguk, “Ya … mianhe Taemin … sepertinya kita harus akhiri ini sebelum semuanya tersakiti … maaf, aku lebih baik mundur …”, jelasnya menunduk.

Cengkraman tangan Taemin di tangan Jonghyun terlepas, ia menatap Jonghyun tidak percaya, ia memutuskan hal ini … ia marah, ia kesal, ia kesal dan marah pada dirinya , kenapa ia tidak bisa setegas Jonghyun. Ia berdiri, ia tidak mau Jonghyun melihat air matanya … lebih baik ia pergi dari sana …

.

.

And then …

Is everythink back to normal?

Taemin benar-benar tidak bisa percaya kalau semuanya jadi begini, 2minggu setelah malam itu, Jonghyun benar-benar pegang ucapannya, ia mundur … dan ia sungguh mundur dari kehidupan Taemin. Tidak ada lagi pesan, tidak ada telpon, tidak ada lagi papasan di kantin, meski sepertinya itu terkadang kebetulan … dan semua itu, tidak ada lagi Jonghyun ketika project mereka benar-benar sudah selesai, dan semua kembali ke kegiatan masing-masing.

“Kau tidak pergi? Ini kan malam minggu?”, tanya Key menelusupkan kepalanya, melihat Taemin malah telentang di atas kasur memandang ke langit-langit.

Taemin hanya menggeleng, Key menarik nafas dan masuk kekamar Taemin, duduk di sisi kasurnya.

“Hei , katakan, kau pasti ada masalah … cerita padaku.”,

“Sudahlah Hyung, kau siap-siap saja sana … sebentar lagi Onew Hyung pasti datang.”

“Ck, Onew bisa menunggu … tapi kau tidak bisa menunggu saran dari sang almighty Key kan?”

Taemin melirik kesal ke arah Hyungnya, terkadang PD hyungnya itu berlebihan, tapi memang benar, di dalam otaknya itu ia punya segala hal yang bijak, mungkin juga karena ia pacaran dengan Onew yang terkenal sikap wisenya.

Taemin bangkit, ia mengigit bibirnya, menimbang apakah ia akan katakan itu pada Key. Ia tidak yakin. Namun akhirnya ia katakan semua hal tentang hubungannya dengan Jonghyun, dia dengan Minho, dan bla bla bla … Key mendengarnya dengan seksama, seiring ekspresinya berubah-ubah, terkejut, bengong, shock …

“Serius … kau …” Key mengambangkan kata-katanya, “Aku tidak percaya, aku pikir aku sudah serius dengan Minho, dan aku pikir kau sudah tidak bisa lagi menaruh mata mu itu kesiapapun …”

“Cukup Hyung, aku butuh saran, bukan kata-kata ‘aku tidak percaya’ atau ‘aku tidak menyangka’, aku sudah cukup kenyang dengan kata-kata itu …”, erang Taemin, Key menatap Taemin terkejut, adiknya tidak pernah emosian seperti ini, ia selalu ambil masalah dengan tenang, terlebih, ia tidak pernah melihat Taemin seperti orang linglung seperti ini.

“Kau lebih sayang siapa?”, tanya Key kali ini …

“Ya Tuhan My almighty Key Hyung, aku tidak butuh pertanyaan, aku butuh saran, oke?”, jelasnya melirik Key kesal. Key mendengus, mencubit pipi adiknya itu.

“Listen to me Oke, kau tidak bisa menilai seseroang hanya dalam sikapnya saja, jangan sekilas dari apa yang selama ini kau rasakan, kau juga harus melihatnya kebelakang, bandingkan itu semua. Setiap orang itu punya hal yang unik di masing-masing dirinya. Terkadang apa yang kita lihat tidak sebenar apa yang tidak kita lihat. Jadi … yah, jawabannya ada disini …”, Key menunjuk dada Taemin.

Hatimu. Kalau kau yakin, kau yakin dengan pilihamu, dan kau berani, apapun yang dikatakan hatimu ini, kau akan lakukan apapun itu meski sebesar apapun resikonya.” Jelas Key.

.

.

Masalahnya adalah ada pada EGO Taemin itu sendiri, ia tidak bisa terima semua jadi berbalik padanya, seharusnya ia yang memutuskan, seharusnya ia yang menjauhi Jonghyun, bukan seperti ini. Ia jadi sisi yang ditinggalkan jadinya … tapi , baiknya, hubungan ia dengan Minho, membaik, komunikasi juga tetap berjalan, ia tidak perlu bingung alasan ini itu, tidak perlu buang-buang waktu untuk mengatur waktunya dengan Jonghyun dan Minho. Namun tetap saja, sikap Jonghyun yang menjauhinya jadi bahan pikirannya…

“Hai, sudah lama?”, Taemin terkejut, melihat Minho berlari ke arahnya dengan tersengal dan baju basah.

“Omo, Minho! Lihat badanmu … kau ini, aish …”,Taemin mengeluarkan handuk kering dari tasnya dan menaruh dikepala Minho , mengusap kepalanya sayang. “Kenapa kau basah-basahan? Aku sudah katakan padamu untuk tunggu saja di gedung mu, nanti aku dan Key yang akan kesana …”, ucap Taemin . Minho hanya terkekeh, meraih tangan Taemin dan mengeringkan rambutnya sendiri.

“Tidak apa … kasihan kalau Key harus bolak balik, tidak apakan aku ikut kau? Aku harus jemput Umma di apugjeong.”,

“Ng!”, angguk Taemin. “Tapi keringkan badanmu, nanti kau sakit.”, jelas Taemin meraih tas Minho. Minho terkekeh, mencubit pipi Taemin sayang.

“Pacarku perhatian sekali sih … jadi tambah sayang …”,

“Aish, gombal gombal … “, Taemin menusuk-nusuk dada Minho, sang namja tampan itu hanya tertawa.

“Gomawo Key Hyung … gomawo Taeminnie …’, Minho tersenyum mencubit Taemin dari kursi belakang, Taemin berdecak akan sikap ganjen pacarnya itu. Minho turun setelah mengatakan bahwa ia akan hubungi Taemin nanti jika sudah di rumah.

“Jadi … kau memilih untuk bersama Minho?”, tanya Key ketika mereka mulai menjalankan mobilnya lagi.

“Kau tahu dari mana? Bukan aku yang putuskan, tapi aku tidak mengatakan mu saat itu, bahwa saat itu Jonghyun sudah mengambil keputusan, bukan aku … tapi dia yang memutuskannya.”,

“Oh, benarkah? Tepat sesuai dugaanku …”,

“Hah? Jangan mulai seperti peramal Hyung…”

“Aku serius, aku sudah duga akan seperti ini, aku duga Jonghyun akan seperti ini, dia pasti akan ambil keputusan duluan, dilihat dari sikapnya yang selama ini kau ceritakan padaku …”

“Aku tidak mengerti …’, Taemin mengibaskan tangannya tidak perduli pada Key, Hyungnya itu hanya tertawa. Taemin suka kesal, kadang cara berpikir Key terlalu berat dan tidak di mengerti, sikapnya yang seperti punya indra keenam itu juga mengerikan.

“Ah, aku punya bananamilk tadi.”,

“Jeongmal? Mana??”, Taemin menoleh cepat.

“Di jok belakang …”, decak Key, Taemin menoleh ke belakang, melihat paper bad berwarna biru muda disana.

“Paper bad warna biru yah?”

“Bukan, tas plastik …”

“Lalu ini punya siapa?”, tanya Taemin menunjukkan pada Key, Key meliriknya dan mengangkat bahunya, tepat ia ingin membukanya ia dikejutkan dengan bunyi ponselnya.

From: Minho

Taemin, apa ada paper bag biru tertinggal di mobil mu?

From: Taemin

Neh ada … paper bag warna biru dengan garis-garis kan? ini milikmu? Memang apa isinya?

 

“Ini punya Minho.”, jelas Taemin pada Key, Key hanya mengangguk.

From: Minho

Ah ani, aku sengaja meninggalkan itu untukmu … hope u likey :*

 

Taemin terbelalak, ia dengan cepat membuka paper bag itu, dan ia lihat sebuah syal warna kuning yang hangat dan sebuah amplop, ia buka amplop itu, denagn surat didalamnya.

 

Aku belikan syal untukmu, karena cuaca sedang dingin, aku tidak bisa selalu ada untuk menghangatkanmu teruskan hehe … dan Oh, ada tiket bioskop premier film yang mau kau tonton di bioskop lusa ini. Hope u enjoy my present babe… Love you, Minho.

 

Taemin speechless …Jadi selama ini …

“Key … aku rasa selama ini aku sudah buta, dan aku rasa aku tidak salah pilih, karena aku benar-benar tidak tahu apa yang ada didepanku , bahkan aku pura-pura tidak lihat…”, Taemin akan gunakan ucapan tidak formal tanpa ‘Hyung’ jika ia sedang serius.

“Hah? I dont get it?”, kali ini Key yang tidak mengerti.

.

.

Kai sudah merasa melihat titik terang sekarang, sepertinya Minhosentris Taemin kembali lagi, ia tanpa bertanya ia tahu bahwa Taemin sudah memilih Minho, dan berhenti untuk main api dengan Jonghyun. Seperti saat ini, ketika ia, Lu han, teman dekat Kai yang baru, dan Krystal, sepupu Kai, sedang duduk bersama di ujung selasar kantin. Taemin asik dengan ponselnya, sedangkan ia dan Luhan serta Krystal bermain UNO.

“Kau tidak akan percaya, Minho benar-benar baik akhir-akhir ini … malam ini aku akan menonton Premier Catch if you can … “, jelas Taemin.

Kai menoleh, “Benarkah? Bukannya itu mahal?”, tanya Kai melempar kartunya yang memenangkannya kesekian kali. Luhan cemberut.

“Itu namanya dia sayang padamu …”, ucap Krystal terkekeh, Taemin tersenyum.

“ … atau sebagai tanda bersalah.”, celetuk Luhan, Taemin melirik kesal,

“Yah … maksudnya apa tuh?” tanya Taemin.

Luhan merentangkan tangannya malas dan bermain dengan rubix didepannya, “Well … itu yang di lakukan Tao pada ku ketika ia melakukan kesalahan, ia sangat manis sekali, setelah kuselidiki, ternyata dia berbuat salah padaku … tapi aku lupakan, karena ia sudah baik padaku …”

“Alibi maksudmu?”, tanya Krystal, Luhan hanya mengangguk.

Taemin mengangkat bahunya malas, “Jadi disini kau mengira kalau Minho lakukan ini padaku, karena ia ada rasa bersalah padaku, sama seperti pacarmu Tao itu? Ia begitu maksudmu?”, tanya Taemin menyilangkan dadanya.

“Aku tidak berkata begitu … tidak seratus persen, hanya kemungkinan, kan bisa saja …” jelas Luhan polos.

“Minho tidak seperti itu …”, jelas Taemin cemberut menatap Luhan kesal, Kai mulai sadar akan ada perang …

“Aaaah … sudah sudah , tidak begitu, yah Luhan, jangan begitu …’, relai Kai, Luhan hanya bergumam sorry. Taemin berdecak.

“Well … mungkin Minho bisa berbohong padaku atau apapun itu, tapi yang jelas … Minho ku tidak seperti Tao mu … penjilat …”

Dan saat itu juga Taemin kena jitak dikepalanya oleh Luhan …

.

.

“Kau tidak mau menyapanya?”, tanya Luna yang berdiri disamping Jonghyun, Jonghyun menoleh dan mengernyitkan dahinya. “Jangan pura-pura, kau pikir aku tidak tahu kau sedang memperhatikan Taemin? Ayolah Jjong … kau tidak akan menjauhinya begitu saja karena kau telah memutuskan untuk menyudahi hubungan rahasi kalian kan?”, tanya Luna.

Jonghyun berdecak, “Aku sudah komitmen, dan aku tidak akan menemuinya …”, Jonghyun berlalu, Luna mengejarnya di sampingnya.

“Komitmen? Ahahaha … aku akan tertawa terpingkal-pingkal ini … Kim Jonghyun berkomitmen? Bukannya komitmen itu dibuat untuk di langgar?”, tanya Luna, Jonghyun menoleh, ia berhenti dan melihat keluar jendela gedung kampusnya.

“Aku tidak seperti mu … jangan anggap aku begitu, kau juga sampai kapan mau berkomitmen, tidak-akan-pacaran- dengan Gikwang hanya karena aku tidak suka namja pendek.”, celetuk Jjong.

“Kau juga pendek!”, bentak Luna dengan wajah memerah.

“Tapi aku goodlooking.”, balas Jjong.

“Terserah , kenapa jadi aku? Memang kau melakukan komitmen apa?”, tanya Luna kali ini.

“Komitmen pada diriku sendiri …”

“Sampai kapan?”

“Sampai batas waktu yang tidak ditentukan …”

“Kau tidak butuh nasehat dariku? Kenapa kau tidak berjuang saja, fight for ur love … jangan menyerah sampai sini saja …  aku tidak percaya kau ini lemah Kim Jonghyun…”, ledek Luna, Jonghyun menatap kesal,

“Jangan sok tahu …”,

“Intinya kau tidak mau berjuang?”

Jonghyun tersenyum melihat Taemin dibawah sana berjalan masuk kedalam sebuah mobil sport, dia tahu itu mobil siapa, dan menghilang di balik tikungan jalan kampus.

“Luna … jika kau berjalan, dan kau menemui tembok yang sangat tinggi, besar, dan juga kokoh, kau tidak bisa memanjatnya apalagi menghancurkannya …maka apa yang harus kau lakukan?”,

Luna mengernyitkan dahinya, “ … maka kau harus mengitari jalan yang berbeda …”, ucap Jonghyun kemudian, Luna tidak mengerti akan ucapan Jonghyun. Sampai namja itu pergi , dan beberapa saat Luna berlari mengejarnya.

“Jjong, katakan padaku … apa rencanamu?” tanya Luna.

.

.

Taemin duduk di bangku nya lama sekali, melihat kedalam ponselnya. Ia tatap fotonya dengan Minho kemarin saat mereka baru saja senang-senang bersama, ia sangat menikmati kebersamaan nya dengan Minho. Tapi, lagi-lagi kenapa … kenapa ia merasa ada yang kurang? Ia merasa tidak komplit? Apa sebenarnya yang ia mau?

“…Kalau kau yakin, kau yakin dengan pilihamu, dan kau berani, apapun yang dikatakan hatimu ini, kau akan lakukan apapun itu meski sebesar apapun resikonya.”

Kata-kata Key terngiang terus di pikirannya, masuk kedalam otaknya dengan sempurna, dan merambat ke seluruh saraf pikirannya.

Memang kenyataannya dia memilih Minho dibanding Jonghyun, ia akui ia sayang dengan Minho, sayang sekali, hanya … itu saat belum datang Jonghyun di hidupnya. SHITT. Ia semakin kesal … ini bukan masalah pilih siapa, ini masalah perasaan …

Ia sadar Jonghyun sangat berbeda, ia cuek, suka mencela, apa adanya, dan juga perhatian, sama persis seperti Minho, namun dengan caranya yang berbeda, dan membuat Taemin penasaran, apa lagi kali ini … itu dia masalahnya.

“…kau akan lakukan apapun itu meski sebesar apapun resikonya.”

 

Taemin memejamkan matanya, mencerna kata-kata itu lagi, dan membuka matanya, menatap tajam ke arah luar jendela..

I’ve made my decision … batinnya.

.

.

Meski semuanya berusaha ia kendalikan dengan tenang, ia sadar ia sudah setidaknya memperbaiki hubungannya dengan Minho ditengah kesibukan Minho yang bejibun … tapi Taemin merasa hari-hari kosongnya yang ia penuhi bersama Jonghyun memang tak ada lagi …

“Hah?T-tapi kan hyung … kau sudah janji …”

[Mianhe Taemin ah` aku benar-benar tidak bisa …] lirih Minho. Taemin berdecak.

“Minho, kau bilang rapat hari ini tidak jadi? Lagi pula—“

[aku juga tidak tahu Minnie~] lirih nya, [Aku pikir aku bisa pulang sekarang menyicil semua tugasku, dan esoknya berharap bisa pergi denganmu … tapi … ya kau dengar sendiri barusan alasanku kan…]

“Oh God Minho, kau tahu tidak? Kau sudah banyak bekerja keras selama ini, kau butuh refreshing … kau tidak bisa terus-terusan memforsir otakmu, itu tidak baik … kau bisa koleps nanti …”, bujuk Taemin. Ia menyuruh Kai masuk duluan kedalam kelas, melihat temannya itu bersungut-sungut di telpon Kai mengangguk dan duluan masuk.

[Aku juga tidak bisa apa-apa …] Minho terdengar lesu, Taemin menarik nafas.

“Oke, setelah ini kau ingin kemana?”

[Aku akan pukang, aku ada tugas paper 3 yang belum aku kerjakan, dan itu tidak bisa kutunda … bagaimana kalau kita nontonnya saat weekand saja?]

Kali ini Taemin benar-benar menarik nafas, ia lesu sekali, “Minho … dengar .. aku bukan masalah menonton … ini masalah aku dan kamu… aku ingin bertemu kamu saja, aku merindukanmu Minho …”, ucap Taemin pelan.

[Miss you too baby …] lirih Minho, Taemin memejamkan matanya. Tidak bisa dipaksakan …

“Yasudah … “

[Begini saja, kau mau pulang sekarang? Akan kuantar …]

“Tidak … aku masih ada kuliah sampai jam 5 … aku sudah bolos 3 kali , dan aku tidak mau mengulang semester depan …”

[Baiklah , mainhe sekali lagi neh? Take care … saranghae …]

“Ya, take care … nado …” PIP

.

.

“Aahhh …”, Taemin menendang ban mobilnya dengan kesal, kenapa baru sekali pakai mobil saja sudah kena sial, ia harus mati kesal karena sekarang ia berada diparkiran kampusnya, dengan kondisi ban mobilnya kempes, ia cek jam ditangannya, sudah pukul 6 sore, kampus sudah mulai sepi, ia sudah coba menghubungi Key namun ponselnya tidak diangkat.

“Minhoooo ….’, ia menggeram sambil menempelkan ponselnya di kuping, sudah ke 7 kalinya ia menghubungi Minho namun tidak diangkat juga. “AHH!! SIAL!!’, makinya menendang bannya lagi, namun kali ini ia meringis karena sakit.

DRRT DRRT.

“Minho!! Oh my God! Kemana saja sih?!’, bentak Taemin tiba-tiba.

[Minnie? Mianhe … ponselku di silent, aku ada rapat dengan sponsor  … ada apa?]

Taemin memutar bola matanya, “Kau dimana?”

[Di gangnam. Kenapa?]

“Gangnam? Ergh~ mobil ku bannya kempes … kau tidak bisa kesini? Aku akan menunggumu … please …”

[Mianhe Taemin ah` aku masih ada pertemuan lagi selama 1 jam, paling tidak 1,5 jam lagi aku bisa kesana , kau hubungi derek mobil saja …]

“Kalau bisa kuhubungi aku tidak akan hubungi mu Hyung … Key hyung juga tidak angkat telponku…”

[Minho …]

Taemin mengerutkan alisnya, ia tahu siapa dibalik sana … suara itu. “Itu Junho? Dia bersamamu?” tanya Taemin geram.

[Iya … dia yang memberitahukan ku akan sponsor ini …]

“Kalian berdua saja?”

[Tidak, ada 4 orang, aku bersama Changmin Hyung dan juga – ah, sudah yah, aku harus masuk … mianhe baby … tapi aku akan sms Key hyung …mianhe mianhe … take care oke?]

“A—“ PIP , Taemin menatap layar ponselnya dengan kesal, yang benar saja?

Benar-benar hopeless kali ini, dia tidak habis pikir, tega sekali Minho, dan dia benar-benar sial, ia pandang ban mobilnya itu sekali lagi, menatapnya sinis dan menedangnya berkali-kali , sampai ia rasa kakinya pegal.

“Kalau kau tendang terus itu tidak akan menolong juga kan?”, sapa sebuah suara, Taemin menelan ludah ketika melihat siapa dihadapannya, namja tampan itu tidak menatapnya, melewatinya begitu saja dan berjongkok di depan ban mobilnya. “Sepertinya bannya bocor …”, tukasnya, Taemin melirik kesal dan cemberut

“Aku juga tahu … anak bocah juga akan tahu jika liat ban seperti itu.”, jelas Taemin ketus, ia bisa dengar namja itu berdecak, dan itu cukup membuat jantungnya berdegup, sial …

“Kau sudah hubungi derek mobil?”, tanyanya menoleh, Taemin hanya mengangguk, “Kau punya dongkrak?”, tanyanya lagi, kali ini ia memutar bola matanya.

“Kalau aku punya, sudah aku ganti dari tadi …”, shitt! entah kenapa ia tidak bisa menyembunyikan gugupnya, bukannya berkata ramah, ia malah semakin ingin bicara ketus, itu karena ia gugup setengah mati.

“Kalau begitu kau tidak bisa apa-apa sekarang …” , katanya mengangkat bahunya, Taemin melirik kesal dan memencet nomer di ponselnya, namun Key juga tidak mengangkatnya.

“Kau tunggu disini …”, kata namja itu, Taemin mendongak.

“Hah?”, tanpa bisa Taemin perotes, namja itu sudah berlari ke arah lain.

Taemin ingin memanggilnya, namun akhirnya ia urungkan niatnya itu, ia hanya menatap punggung namja itu menjauh. Ia putuskan untuk menghubungi Key sekali lagi, tapi hasilnya nihil, begitu juga jasa derek mobil, benar-benar sial … ia meurutuk dirinya sendiri. Tidak butuh lama namja itu kembali berlari ke arahnya , melewati nya begitu saja dan menaruh perkakas yang ia bawa kemudian berjongkok di depan ban Taemin.

“Kau … apa yang mau kau lakukan?” tanya Taemin takjub.

“Kau bawa ban serep tidak?”

Taemin masih bingung ketika namja itu mendongkrak mobilnya naik, Taemin mengangguk dan menunjuk ke bagasi belakang mobil. Namja itu tersenyum, menyuruh Taemin membuka bagasinya dan kemudian dengan lihai ia mengangkat ban itu. Taemin tidak bertanya apapun, melihat namja itu dengan senang hati mendongkrak bannnya dan menggantinya dengan bannya yang benar.

“Selesai!”, katanya berdiri dan mengibaskan tangannya yang kotor. Taemin berdiri takjub, yang benar saja … masa dia yang membenarkan bannya?. “Kalau diselesaikan dengan tidak menendangnya bisa selesaikan?”, tanyanya menyindir.

Bukan orang baik! Taemin ingin menjitak kepalanya, namun ia urungkan karena ia rasa ada benarnya namja itu bilang, “Gomawo … Jonghyun.”, katanya, Jonghyun menoleh, tersenyum dan mengambil perkakasnya ,

“Sure!”, balasnya , “Kalau begitu aku duluan … “, katanya setelah lama berdiam. Taemin dengan gugup mengangguk, ia bertengkar dengan hatinya sendiri, seharusnya mereka bisa bicara lebih dari itu.

Taemin membuka mulutnya lagi, namun dengan gugup ia tutup lagi,

“Ah, bisa sesekali kau balas jasaku kali ini dengan traktir burger di kantin .”, jelas Jonghyun menoleh, Taemin mengedipkan matanya bingung, namun ia tidak lama mencernanya, ia tersenyum dan mengangguk pasti.

“Pasti … aku akan hubungi nanti .” jelas Taemin, Jonghyun hanya tersenyum

“Oke, dan … take care …”,

Taemin mengangguk, ia menatap punggung Jonghyun sambil tersenyum, ia lupakan rasa kesalnya beberapa waktu sebelumnya, yang ia ingat sekarang di note otaknya adalah ‘traktir Jonghyun burger sebagai balas jasa …’ atau … malah ada hal lain?

.

.

Wajah Taemin tidak selembut dulu, ia tidak menatap Minho sedikit pun, ia tidak pernah marah dengan Minho, hubungannya dengan Minho meski ada pasang surut, tapi entah kenapa Taemin lebih sensitif akhir-akhir ini.

“Aku pikir kau mengerti Minnie …”, jelas Minho , mereka duduk di taman rumah Taemin malam itu, ‘akhirnya’ mereka bisa bertemu dan bicara berdua saja, setelah 3 hari Taemin bersabar untuk membuat Taemin bertemu dengannya.

Mereka terdiam, Taemin enggan melihat ke arah Minho, Minho menatap lekat namja cantik itu, mereka biasa bertengkar, beradu argumen hingga naik urat sarafnya, namun kali ini wajah Taemin benar-benar gelap, dan Minho memerah karena menahan emosinya.

“Aku pikir kita sudah sama-sama paham akan konsekuensinya, kita sudah bicarakan hal ini dari awal kan Taemin? kau bilang kau mengerti dan mencoba mengerti, aku hanya butuh pengertianmu …”, jelas Minho, Taemin menoleh, menatap namja itu tajam, tidak percaya akan ucapannya.

“Aku mengerti oke?! aku tidak bilang aku tidak mengerti, aku mengerti! kau tahu itu kan?”

“Kalau kau mengerti akan situasi ini, seharusnya kau tidak marah padaku …”, tambah Minho, “Dengar Taemin, aku mengerti saat kau pergi untuk ikut training tari di Busan selama 2 minggu, dan saat itu juga kau tidak bisa dihubungi karena masa karantina, aku tidak marah saat kau sibuk project tari beberapa saat lalu, aku tidak marah saat kau butuh waktu untuk menunggu kita agar bisa jalan bersama sampai kau selesai showcase … aku tidak pernah marah padamu, aku mencoba mengerti semua itu kan?”

“Tapi sekarang, aku hanya minta sedikit saja kesabaran dari mu, pengertian darimu sedikit saja … project ini benar-benar penting buat ku Taemin …”

“Minh–“

“Semua ini penting, sama pentingnya ketika kau menginginkan beasiswa menari ke Amerika. Sama pentingnya ketika kau ingin di pilih dalam audisi solo dance di showcase …”, tambah Minho masih dengan emosi meluap di nada bicaranya.

Taemin terdiam, ia menunduk, dan kemudian mendongak menatap mata Minho. “Kau tahu kenapa aku marah? kau bukan Minho yang kukenal lagi, membatalkan janji mu seenaknya, tanpa memberitahuku aku lelah menunggumu Minho … dimana saat aku membutuhkanmu? bahkan kau seakan tidak bersalah? kau seperti menjauh, kau seperti mengorbankan hubungan kita, kau tahu itu?”

“Kau tahu aku tidak pernah mengorbankan hubungan kita atas hal apapun itu!”, ucap Minho membela, mereka sama-sama keras kepala, Taemin sebenarnya tahu, dengan sifat Minho yang tidak mau kalah rasanya percuma, tapi ia masa bodo, ia hanya ingin mengutarakan kekesalannya.

“Ya benar aku tahu itu , lalu kenapa kau tidak mencoba memperbaikinya??” sindir Taemin. Minho menatap lekat Taemin, menggelengkan kepalanya.

“Aku pikir kau benar-benar mengerti posisiku?”

“Aku harus mengerti apa lagi hah?” , kalau Taemin bisa menarik rambut nya dan melemparnya ke Minho, mungkin itu akan dia lakukan saat itu juga.

“Coba mengerti sedikit lagi, bersabar sebentar lagi …”,

Sebelum Taemin bisa menjawab ponsel di saku Minho berbunyi. Minho membukanya dan kemudian memasukannya lagi kedalam sakunya, “Aku harus pergi.”, Taemin menganga.

“Lagi? apa lagi sekarang? ketemu klien? rapat? atau apa?”, sindir Taemin.

“Bukan, hari ini aku ada kerja kelompok bersama yang lain … kita akan bicarakan ini nanti, aku janji … kita akan selesaikan ini, tapi kumohon, kau bersabarlah sedikit, kita pasti bisa selesaikan masalah ini, aku mohon …”, jelas Minho, Taemin diam saja, Minho menggenggam tangannya, menatap Taemin meminta persetujuan, Taemin hanya menarik nafas dan menarik tangannya.

“Pergilah.”, jawabnya, Minho menarik nafas, mengusap kepala Taemin sayang dan ingin menciumnya, namun Taemin menghindar, meski ia tahu ada rasa kecewa dimata Minho, tapi ia hanya mohon mengertilah sedikit ia sedang dalam emosi. Dan dengan itu Minho menancapkan mobilnya jauh dari rumah Taemin.

.

.

Taemin menguap beberapa kali, ia sama sekali tidak mood ikut rapat untuk showcase berikutnya, perlahan ia melirik Krystal disampingnya dan menyikutnya.

“Pst! Krys!”, Krystal menoleh dan menaikan alisnya, “Bisakah kau beritahu padaku semua detail keputusan rapat? dan berikan aku info apa yang harus dilakukan didivisiku? aku tidak mood, kepalaku pusing, aku mau keluar …”

Krystal berdecak, “Kau sakit?”

“Mungkin, aku mohon … pleaseee …’, ia memasang aegyo sebaik mungkin.

“Jangan pasang wajah begitu, aku geli melihatnya, ya sudah sana …”,

“Ah, gomawo … ingatkan aku untuk mentraktirmu sesekali nanti …”

“Ku pegang ucapanmu.”

Dengan itu Taemin melempar tasnya keluar jendela, melirik ke arah Ketua rapat yaitu Yunho dan mengendap keluar dengan merangkak ke luar pintu.

“Sedang apa kau merangkak begitu, Taemin?”, dammit! ia mendongak, dan seorang namja menatapnya aneh dari atas, Jonghyun.

.

.

Hari itu tiba, hari dimana pameran karya project Minho di tampilkan di event ulang tahun kampus, tidak lupa juga ada hiburan seni dari fakultas Taemin, itu gunanya kenapa ia ikut rapat showcase.

Berdiri di depan stan penyedia minuman isotonik ia tidak hentinya mengipaskan tanganya, melihat beberapa orang terus lalu lalang, acara sukses berat, dan saatnya bertemu dengan Minho, ia berharap segeralah Minho bertemu dengannya.

“Guess what?”, Taemin terkejut ketika sebuah tangan menutupnya dari belakang, Taemin berdecak.

“Minho … aku tahu kau tidak bisa menipuku …”, terdengar tawa renyah Minho di belekangnya, namja itu merangkul pundak Taemin dan mengelap keringat di keninnya.

“Mianhe … lama yah? aku sudah selesai, wuah , aku tidak percaya, banyak yang minat dengan semua hasil kerja keras kami …”

“Good! aku ikut senang, selamat yah … aku juga, setidaknya–“, mata Taemin menatap sosok dikejauhan, Jonghyun, dia bersama temannya sedang berjalan menyusuri setiap stand disisi panggung ini, ia hanya berharap dan berharap, namja itu tidak melihat mereka saat ini , ani, melihatnya dengan … Minho.

“Kau setidaknya kenapa?”, tanya Minho, “Kau melihat siapa?”, Taemin menoleh dan mengibaskan tangannya.

“Ani … anio … setidaknya … ngg … setidaknya acara ini juga sukses dan meriah …”, Minho tersenyum dan mengusap kepala Taemin, namun mata Taemin melihat ke arah lain, membuatnya terkejut adalah namja itu semakin dekat ke arahnya, ia mencari cara agar mereka tidak bertemu.

“Ngg … kita cari cemilan yuk, aku lapa–“

“Taemin … hei Taemin!”, dammit! maki Taemin dalam hati, ia tahu siapa suara itu, dengan berat hati ia berbalik, dan Minho yang disisinya menoleh mendengar nama pacarnya dipanggil.

“Hai Taemin, wuah kau disini rupanya, kau sukses sekali … chukae …” , sapa namja itu tanpa melihat ke arah siapa sosok disamping Taemin, Taemin hanya tersenyum, “Oh! ng … ini siapa Taemin?”, tanya nya, Taemin menatap namja itu lekat dan memperkenalkan pada Minho.

“Oh ini … pacarku, perkenalkan … Jonghyun ini Minho, dan Minho … ini Jonghyun, teman yang pernah kuceritakan padamu …”, Jonghyun menjulurkan tangannya dan disambut oleh Minho yang masih meneliti Jonghyun, itu sih yang di rasa oleh Taemin. Sempat canggung sedikit sampai akhirnya Jonghyun berpamitan.

“Ah, aku masih ada acara … sampai nanti Taemin, aku duluan Minho …”, sapanya, dan pergi, Taemin menelan ludah, musibah.

.

.

Taemin berulang kali membongkar isi lemarinya, setelah beberapa waktu yang lalu ia bongkar isi lemari Key , malam ini ia diundang oleh teman Minho untuk kepesta ulang tahunnya. Sebenarnya masih ada 30 menit lagi untuk bersiap, dan menunggu Minho datang. Namun, Minho … dia tipe on time, kalau Taemin belum bisa memutuskan juga baju mana yang harus ia pakai sebelum Minho datang, itu gawat namanya.

“Taemin? kenapa ini? gempa? sedang apa sih ish~”, Key, penyakitnya kambuh, masuk tiba-tiba tanpa ketuk, melihat isi kamar berantakan, baju Taemin dimana-mana bergelatakan, Key memungutnya begitu saja dan mengecek adiknya yang sibuk menyoba baju didepan cermin.

“Kau belum siap juga? cepatlah … tidak usah rapih-rapih … Minho juga tahu sisi burukmu.”. Taemin melirik kesal.

“Siapa yang suka mengajarkan padaku untuk berpenampilan stylist, ayo katakan?!”, ucap Taemin yang ditanggapi decakan oleh Key.

“Ya kalau Minho belum datang sih aku sarankan pakai yang lebih modis … tapi Minho sudah dibawah …”,

Taemin menoleh terkejut, menganga menatap Key, “Sudah datang? you kidding me Hyung! dia akan datang 30 menit lagi ….”, Key mengangkat bahunya.

“Sebenarnya dia sudah ada 20 menit yang lalu, berbincang denganku … dan sekarang sedang bicara dengan Umma di ruang tamu …”, kekeh Key, Taemin tidak bisa berkata apa-apa, hanya merutuk pelan dan bersiap. Oh Mr.On time Minho membuatnya panik!

.

.

Taemin dan Minho masuk kedalam sebuah rumah yang mungkin besarnya mengalahkan lapangan sepak bola, sungguh besar, tidak menyangka pesta ukang tahun saja sebagus ini. Minho hanya tersenyum melihat pacarnya itu menganga lebar melihat sekitarnya.

“Jangan begitu, nanti ada nyamuk masuk.”, ucap Minho, Taemin melirik kesal dan meninju tangannya sebelum mereka keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah yang sudah ramai dengan tamu undangan.

“Hai 2min couple!”, sapa sebuah suara, Minho menoleh dan berdecak, melihat Victoria -sang punya pesat menyapa mereka dengan sebuatan yang asing di telinga mereka.

“2min?”, tanya mereka bersamaan, namun sang perempuan bermata kucing itu hanya tertawa.

“Btw … saengil chukae noona .”. ucap Minho, Victoria tersenyum dan beralih ke Taemin, mencubit pipi namja cantik itu yang menerima erangan darinya.

“Aku bukan anak kecil noona, please …”, rengek Taemin. Victoria hanya terkekeh. Berbasa-basi sebentar, dan menyapa Nickhun yang juga pacar Victoria, yeoja itu pergi meninggalkan mereka untuk menyapa tamu yang lain.

Minho mengambil cocktail dari meja terdekat, menyerahkannya pada sang namja cantik, melihatnya dengan kagum karena namja itu merasa senang dengan minumannya, ‘Enak sekali’ ucapnya sambil tersenyum lebar, Minho hanya terkekeh dan mengelus kepala namja cantik itu.

Namun sayangnya, ketika namja cantik itu berbalik tubuh kecilnya di tabrak oleh tubuh lain, untung saja minuman di tubuhnya tidak tumpah, dengan sigap Minho menahan tubuh namja cantik itu.

“Oh, ah … mianhe, aku tidak sengaj–Oh, Taemin!”, pekik namja didepannya, Taemin mendongak, melihat sosok yang ia kenal,

“Donghae Hyung!'”, sapanya, Donghae terkekeh, menatap Taemin dengan senang, belum sadar juga ada sosok lain didepannya yang menatapnya dengan intens.

“Hai, kau disini juga … “

“Iya, kau sendiri Hyung … sedang apa disini?”, tanyanya balik.

“Aku sedang menemani Amber, dia mengisi acara disini … aku membantunya saja …” kali ini baru saja Donghae mendongak dan melihat ke arah Minho, menganggukan kepalanya kemudian berbalik kepada Taemin. “Aku harus pergi, Amber pasti mencariku …”

“Oh, neh … “, angguk Taemin,

Namun sebelum ia pergi, ia berbalik lagi dan mengedipkan matanya pada Taemin, “Jonghyun juga disini …”, ucap nya, Taemin speechless, shit shit … kenapa ia harus berbicara begitu di depan Minho? berharap Minho tidak menyadari kerlingan maksud mata itu.

“Aku tahu dia sepertinya …”, suara Minho sedikit berubah, “Dia Donghae Hyung kan? bukannya dia agak … ehmm … playboy? aku tahu dari Changmin Hyung … kau kenal dengannya?”

Taemin tertawa palsu, “Ya … lumayan, dia itu sepupu Jonghyun , kau kenal Jonghyun kan?”, Minho menaikan alisnya, namun kemudian ia mengangguk paham. Taemin bersyukur dalam hatinya sepertinya Minho tidak curiga sama sekali.

“Aku mau ke WC dulu … kau tunggu disini tak apa?”,

“Oh ne~”, Taemin mengangguk dan melihat Minho menjauh. Ia hanya berharap tidak bertemu Jonghyun.

Namun seperti setahun berdiri ditempat asing yang kau tidak kenal siapapun, jenuh juga rasanya, kenapa Minho begitu lama? apa karena mengantri? akhirnya ia putuskan untuk menyusul Minho.

Cukup sulit menemui kamar mandi di rumah sebesar itu, namun ketika sampai di sebuah lorong ia melihat sosok Minho, tapi tunggu dulu … ia melihat seseorang disana. Minho sedang bersama … Junho? kenapa Junho bisa hadir disini juga? ia perhatikan mereka berbincang dan terlihat serius, Taemin menduga apa yang mereka bicarakan … jangan-jangan … tidak … tidak mungkin … mereka pasti bicara tentang project … bukan ‘hal itu’ …

Dengan cepat Taemin beranjak dari sana …

.

.

From : Jonghyun

Kau sudah sampai di rumah ?


Taemin membaca sederetan kata itu di ponselnya , ia mengerutkan alisnya, meski itu pesan pertama semenjak ia dan Jonghyun menjauh, namun tetap saja, itu membuatnya bertanya-tanya, ia ingat saat tadi ia melihat Jonghyun disisi panggung saat Amber tampil, mata mereka bertemu sesaat, menatap lama, meski akhirnya Taemin melihat ke arah lain karena hatinya merasa tidak enak.

“Dari siapa? Kenapa kau langsung matikan ponselnya?”, tanya Minho melirik dari jalan, Taemin menggeleng.

“Ya gitu deh …”

“Hah?”

“Minho kepalaku tiba-tiba pusing … jangan ajak bicara aku dulu neh.”, Minho hanya menatap Taemin bingung namun menurutinya.

.

.

Jonghyun mengangkat semua peralatan musik Amber ke mobil pickup nya. Mukanya menjadi tidak bersemangat dan terlihat lesu, -setelah melihat Taemin berada bersama Minho ditempat yang sama, ia tidak tahu kalau Taemin akan ada disana, ia tidak menyangka akan melihat namja cantik itu ‘lagi’ dan sayangnya bersama monyetnya yang sedari tadi ia lihat mengapit tangan Taemin. Dan itu cukup membuatnya mual …

“Sudah taruh disana saja, nanti aku suruh penjaga yang angkat, Jjong.”, Jonghyun terkesiap mendengar suara yeoja dibelakangnya, Victoria berdiri sambil tersenyum manis, ia hampiri Jonghyun dan memberikannya sekaleng soda.

“Thanks.”,

“Sama-sama … makasih yah kau dan sepupu mu memeriahkan pesta malam ini …” ucap yeoja itu sambil mengajak Jonghyun  duduk di bangku taman.

“Sama-sama … oh, btw, kau kenal dengan Taemin? aku tahu dari Donghae tadi … ‘, Jonghyun merutuk Donghae, ia berharap namja itu tidak bercerita apapun … apapun itu! Jonghyun hanya mengangguk.

“Kok bisa?”

“Dia junior ku … well, aku anak baru, tapi aku sekali pernah kerja project bersamanya.”, Vic hanya mengangguk. “Kau sendiri? kenal dengannya?”

“Oh itu … dia pacar Minho -juniorku dikampus …”,Jonghyun hanya mengangguk, kalau yang satu itu ‘pacar’ dia juga tahu …

Vic melihat ke arah Jonghyun seksama, namja itu gugup, well, dia tidak pungkiri kalau Victoria memang cantik sekali, “Apa?”, tanyanya meneguk coke nya menghilangkan gugup.

Vic tersenyum, “Andai saja kau bukan sepupu Donghae … dan kau juga bukan teman ku dari kecil …”, ia berhenti sejenak, ” … yang sialnya bukan orang yang datang lebih dulu pada saat yang tepat, terlebih … disaat aku tidak lagi single …”, Vic terkekeh, “Mungkin aku akan memilihmu jadi pacarku …”, ucapnya mengelus pipi Jonghyun dan berlalu.

Jonghyun menganga lebar, dengan cepat ia menekan nomer di ponselnya, mendengar kata hallo ia langsung berteriak.

“SHITT! kenapa aku tidak bisa punya privacy dikeluarga ini??!!”, pekiknya pada Donghae diseberang sana . yang hanya membalasnya dengan tawa. Donghae yang bercerita kalau Jonghyun sangat suka pada Victoria, dan ia type idealnya.

.

.

“TIDAK bisa!’, ucap Taemin mengibaskan tangannya ke arah Kai, Kai hanya cemberut,

“Kenapaaa?? memangnya ada acara atau apa? ayolah Taemin …”, rengek Kai sepanjang jalan dari kantin menuju kelas mereka, ia membujuk Taemin menemaninya ke acara Ultah Lu han karena ia tidak berani kesana sendirian dan takut merasa asing.

“Aku bilang tidak bisa Kai … aku sudah ada janji, lagi pula, kenapa juga acara itu tidak malam minggu? kalian bisa party sepuasnya …”, ucap Taemin mengibaskan tangannya tidak berminat.

“Memangnya kenapa tidak bisa … janji dengan siapa?”, tanya Kai mengerang.

“Janji dengan–” ucapan Taemin terhenti ketika melihat dari arah depan sosok Jonghyun dengan beberapa temannya mendekat, ia melihat ke arah Jonghyun, Jonghyun yang menyadari hal itu menoleh dan menangkap tatapan Taemin, Kai yang melihat hal itu bolak-balik menatap Jjong dan Taemin secara bergantian.

Tatapan mata mereka terkunci, Jonghyun tersenyum simpul padanya, ketika ia ingin melewati Taemin, Kai mendengar namja cantik itu berkata.

“—Janji dengan Key Hyung, dia akan melakukan lamaran sederhana dengan Onew hyung di Shining Cafe.”, ucap Taemin menyebutkan sebuah tempat , ia mengangguk ramah pada Jonghyun dan masuk kedalam kelas. Tidak lama Kai menyusulnya duduk di bangku.

“…kenapa juga acara itu tidak malam minggu? kalian bisa party sepuasnya …” ucap Kai, Taemin melirik kesal.

“Menyindirku?”

Kai mengangkat bahu dan tangannya, “Hanya meng copy nya dari mu … aku rasa rencanamu tidak berjalan sesuai rencana … “, ucap Kai asal. Taemin melihat ke arah Kai sinis.

“Apa yang kau tahu?”, ucapnya kesal, ‘Kita lihat siapa nanti yang tertawa paling akhir …”, ucapnya mendorong Kai.

“Kau mengerikan.”

“Aku bukan hantu!”

“Terkadang kau bisa terlihat seperti itu. Tidak pantas dengan wajah imut mu!”

“Aku tidak imut! aku manly! dan aku perintahkan kau diam!”

“Dan sifatmu mirip Key hyung … bossy!”

“Kai!’

“Ok, i get it!”,

Taemin menarik nafas dan kemudian melihat pesan di ponselnya, dan tersenyum.

 TBC~

HEHEHEHEH … makin bingung ada apa ini? banyak teka- tekinya, kayaknya gue kan virus Sherlock, jadi ini akan ada permainan pemikiran sedikit … kekekek~ udah mau tamat kok …

Kalian tebak akhirnya gimana, Jongtae or 2min?

Will see~ kekkekekek

RCL ARE LOVE! GOMAWO!

NEXT PART > CONTINUE READING~

94 thoughts on “[2minjjong] A LIE – part 3 of ?

  1. Jadijadi gara2 itu toh jjong gugup d depan victo , trus2 kenapa bisa suka sama tetem ??
    Ishh jjong tuh sbenernya gimana sih ?? -.-a
    apapula itu si tetem nyebutin tempatnya pas dket jjong , kesannya koq kayak yang ngasih tau ya ‘n brharap si jjong dino itu dateng k sana ..ihh tetem plis deh !!!
    Pokoknya 2min gaboleh pisaaahhhhhh !!!!!!!

  2. Tae kok galau gini sehhhhhh..
    Minho itu uda di depan mata, jangan plih jjong donggg..
    Minho mau dikemanain…
    2min aja.. Bukan jongtae ..
    Lanjuttttttt lagi..

  3. lagi.. lagi, dibikin envy sama taemin dikasih hadiah sama minho ;A; taemin maruk juga maunya ama jjong sama minho .__. gue juga sih…

    maksudnya jjong pake jalan laen apaan nih? nggak enak bener. okee cuss ke next part o(╯□╰)o

  4. jangan berpindah ke jjong taemin..
    tetap pilih minho aja..
    iya nih bnyk teka-teki…
    huweeeeeee…….
    aku semakin penasaran nih… hueweeeeeee
    lanjutttttt

  5. Nah loh. Kenapa lahi ini? Taem mulai lg sama jjong?
    Sebenernya minho ama junho ada apa sih? Penasaean bgt thor.

  6. OPLS semoga jonghyun tetep suka ke vict jadinya engga jadi pho nya 2min mulu n___n
    tp di bagian ini ada kata2 bhs inggris yg ada typo-dtypo dikit hehe tp alurnya udah bagussssss(y)

  7. ahahaha abang Ming yu dkatain monyet sm jjong ahjussi:)
    eh ap abang Ming jg main api?! klo iy, 1 sm donk skorx.hhe~
    seru

  8. Ini kenapa lagi. apa maksudnya Minho.. what are you doing with Junho??
    jangan bilang selingkuh dari Taemin!!!!!!!!!

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s