C’est La Vie [4/?] het!


Part sebelumnya ^^

PART1 PART2 PART3

C’est La Vie ~interlude~

Foreword :

sebuah ketelatan yang sangat keterlaluan-_-“ okay then, this is interlude, hope ya’ll like this –and remember cause 1th I’m forget it–, and sst! I own nothing on this fic, I’m just change name – for a real Hyera and Siwon- to Taemin and Minho. Absolutely Shalof own this fic!

-nyonrinhyon-

 .

.

You think I’m so full of it, full of it
But I think I’m just fed up, baby
You think I can be so arrogant arrogant
But I’m just tryna to keep my head up, baby
You think I’m procrastinate, baby
But I think I’m taking my time
You think you need to leave
But I think I disagree

If you believe, you’ll do best without me
I’ll let it go, girl, it’s over
But before we say goodbye
Let’s give it a try
If you leave, then baby I’ll leave
I’ll let it go, girl, it’s over
But I have no doubt we can work it out

Minho seperti kehilangan sebelah sayapnya. Ia tidak bisa melakukan apapun dengan benar dan seperti seharusnya. Ia terus melakukan kesalahan demi kesalahan karena otaknya sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama. Ia tertatih.

Semenjak memutuskan untuk berkecimpung di dunia bisnis ayahnya setelah menikah, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor daripada lalu lalang di dunia keartisan. Sesekali ia masih memenuhi undangan untuk menjadi MC atau bintang tamu, namun Minho lebih suka menghabiskan waktu senggangnya bersama si buah hati.

Semenjak kepergian istrinya tiga bulan lalu, perhatian Minho lebih terfokus pada Hyotae dan bagaimana membuat malaikat kecil itu kembali bersinar seperti sedia kala karena semenjak hari dia menangis kencang tanpa kendali, Hyotae berubah drastis. Ia bukan lagi anak kecil yang suka bicara, suka tersenyum, ia bahkan tidak pernah lagi menunjukkan emosi apapun.

Hal itu tentu saja membuat Minho cemas. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Berkonsultasi dengan psikolog anak pun tidak banyak membantu karena penyebab Hyotae seperti ini adalah tindakan traumatis yang menimpanya. Satu satunya jalan adalah dengan mengembalikan Taemin, tapi hal itu hampir mustahil untuk dilakukan Taemin tidak bisa ditemukan sekeras apapun Minho mencari.

Dari teman sekolah sampai semua catatan perjalanan Taemin, ia telusuri semuanya demi mencari ibu dari putri semata wayangnya itu. Tapi tak satupun membuahkan hasil. Taemin hilang seperti ditelan bumi, tanpa bekas dan tanpa jejak. Ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya Taemin melakukan itu semua.

Lalu ia teringatpertemuannya dengan ayah mertuanya tiga bulan lalu, tepat di hari di mana Taemin meninggalkan rumah. Kata kata pria tua itu kembali menggema di telinganya.

“Aku bisa membuat Taemin meninggalkanmu, Minho. Jika kau tidak mau melepasnya, lambat laun dia lah yang akan melepaskanmu..”

“Kalau kau pikir kau mengenal dia dengan cukup baik selama empat tahun ini kau menjadi suaminya, kau harus mempertimbangkan aku yang telah hidup dengannya semenjak dua puluh empat tahun lalu. Aku lebih mengenal Taemin..”

“Jadi, tinggalkan dia dalam damai sebelum dia yang meninggalkanmu. Kesepakatan ini kuberikan padamu karena aku sayang pada cucuku..”

Ingatan itu membuat kepalanya sakit. Layaknya ada godam besar yang menghantam tubuhnya, kini Minho luluh lantak. Ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, ia tidak tahu bagaimana menyikapi semua permasalahan ini. Ia selalu mengantisipasi hal buruk yang mungkin terjadi, tapi tidak dengan bencana besar seperti ini.

Ia mencintai Taemin, itulah sebab ia tidak bisa melepaskan gadis itu pergi dari dekapannya. Ia terlalu mencintai gadisnya, memujanya dengan sepenuh hati. Segala tindakan kerasnya belakangan ini pada Taemin adalah respon kekecewaannya karena gadis itu tidak tampak seperti gadis yang dulu mencuri hatinya.

Minho kecewa, tapi semua kekecewaan itu terbelenggu oleh rasa cinta dan rindu yang kini menderanya. Harga dirinya mengatakan untuk menyudahi semua ini, tapi nuraninya berkata lain. Di samping kehadiran Hyotae yang membutuhkan ibunya, Minho juga butuh separuh sayapnya. Ia membutuhkan Taemin.

Kehadiran Soojung mungkin menjadi subtituen Taemin. Ia menjadi sosok keibuan yang mengambil alih peranan Taemin dalam kehidupannya. Ia begitu baik dengan memperhatikan Minho dan Hyotae, menjaga mereka seperti keluarga sendiri. Soojung bahkan pernah menegaskan pada Minho bahwa ia siap menjadi pengganti Taemin. Tapi semua itu terasa berbeda.

Ia tidak bisa, dan tidak akan pernah bisa, membayangkan hidupnya tanpa Taemin.

Namun kini ia terbentur realita yang menyakitkan, bahwa kali ini ia harus melepaskan gadis itu dan hidup dengan separuh sayap yang patah.

I think you’re so fulll of it, full of it
You just dont know when to let up, baby
I think you’re so arrogant arrogant
That you think you’re so much better, better
That I think it aint healthy for me to jugde you by your flaws
And that’s why I know I could criticize
But I put that aside to focus on you and I

If you believe, you’ll do best without me
I’ll let it go, girl, it’s over
But before we say goodbye
Let’s give it a try
If you leave, then baby I’ll leave
I’ll let it go, girl, it’s over
But I have no doubt we can work it out

Dunianya tidak seimbang. Taemin hidup dalam guncangan yang tampaknya takkan pernah berakhir. Ia tidak bisa berdiri tegak karena kini ia tidak punya pegangan untuknya bergantung.

Mudah bagi orang luar yang melihat keadaan rumah tangga Taemin dan Minho dan menilai bahwa semua ini adalah efek keegoisan salah satu pihak. Tapi tidak ada yang pernah tahu bagaimana dalam hati seseorang, bagaimana rasa sakit mendera Taemin dalam hari demi hari menjadi pendamping hidup seorang Choi Minho.

Menikah dengannya, mengikat janji sehidup semati di depan Tuhan dengan pria yang dicintainya, mungkin terdengar seperti impian yang menjadi kenyataan. Siapa yang tidak ingin dinikahi pria yang hampir sempurna? Tapi di dunia ini tidak ada yang sempurna. Semua punya noda tersendiri yang kadang nampak non eksisten di hadapan orang lain. Dan Taemin tahu dirinya tidak hidup dalam dongeng.

Kisah pahitnya itu ia kubur sendiri dalam hati yang dibalut senyum. Ia tidak pernah mengutarakan pada siapapun bagaimana tersiksanya ia setelah resmi menjadi istri seorang Choi Minho. Ia bahkan tidak memberitahukan masalah ini pada sang suami sendiri. Ia menutupi fakta bahwa ia mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari penggemar Minho.

Surat surat tak bernama yang meneriakkan ancaman, bingkisan palsu yang ternyata berisi hadiah hadiah yang menyeramkan, yang beberapa hampir saja membahayakan nyawanya, dipermalukan di depan umum atas sesuatu yangbahkan tak pernah terlintas di pikirannya. Taemin sudah mengalami itu semua. Ia bukan artis, tapi perlakuan para anti-nya lebih menyakitkan dari apapun.

Demi Minho tidak mengkhawatirkannya, Taemin menyimpan rapat rapat semua perlakuan buruk itu untuknya sendiri, ia tidak ingin Minho khawatir atau meledak marah. Ia tidak ingin suaminya khawatir dan melakukan tindakan gegabah. Rasa sakit itu lebih baik ia tanggung sendiri.

Lama kelamaan perlakuan itu berkurang dengan sendirinya, tapi masalah yang dihadapi Taemin tidak menjadi lebih mudah. Taemin bukanlah gadis normal dengan keadaan psikis yang sama seperti gadis lainnya. Rahasia keluarganya bahwa Taemin mengidap anxiety attacks, keadaan di mana si penderita mengalami serangan depresi tanpa sebab di waktu waktu tertentu.

Dan penyakitnya itu menjadi semakin parah.

Ia melampiaskan depresinya dengan merancang pakaian pakaian seperti apa yang disukainya, berharap dengan begitu ia bisa melupakan sedikit depresi tak bersebabnya. Cara itu berhasil, namun berdampak lain. Taemin tidak bisa melepaskan dirinya dari rancangan rancangan tersebut dan malah menjauhkan dirinya dari keluarganya, terutama Minho. Cara melarikan diri yang positif namun negatif secara bersamaan.

Keadaan semakin parah dengan hadirnya Soojung. Bukan sosok gadis itu yang membuat Taemin khawatir, namun nilainya di mata Minholah yang membuat Taemin ketar ketir. Minho selalu menomorsatukan Taemin di atas apapun, membela Taemin seakan gadis itu adalah monumen kebenaran, tapi Soojung berhasil menggeser posisi itu karena di hari Taemin pergi adalah hari di mana untuk pertama kalinya Minho membela orang lain, bukan Taemin.

Dan anxiety attack-nya kembali menyerang. Taemin semakin sering merasa ketakutan atas hal hal yang sebenarnya sama sekali nihil.

Atas bantuan ayahnya, Taemin menjalani pengobatan di San Fransisco dengan terapist kelas satu di dunia, berharap dengan begitu ia akan bisa sedikit kembali pada akal sehatnya. Ia selalu ingin merangkul keluarganya kembali seperti sedia kala, seperti seharusnya. Dan ‘kabur’ sementara seperti ini adalah jalan yang dipilihnya.

Karena ia ingin dunianya kembali seimbang, dengan Minho dan Hyotae di sampingnya.

Now if you wanna go
Baby then I’ll let you go
And even though I’m tryna hold on
I cant let you go

And if you leave me
You’re gonna miss me
And I’m not saying that I’ll be here waiting

Since we’re here right now
(instead of just walking out)
Let’s work to reach the point
That I know we can be

Tapi terkadang sebuah hubungan butuh lebih dari sebuah kata bernama cinta. Pengorbanan dan kesetiaan adalah dua hal yang kadang luput dari pandangan. Kepercayaan dan kesucian kadang melenceng dari kebenaran. Dan di saat itu semua mendera, entah apa yang bisa menyatukan dua hati yang terpisah.

Melepaskan adalah hal yang tersulit yang harus dilakukan manusia. Apa yang sudah digenggam adalah apa yang tak pernah ingin untuk dilepaskan. Tapi tak ada yang abadi di dunia ini. Satu satunya hal yang tak pernah berubah adalah perubahan.

If you believe, you’ll do best without me
I’ll let it go, girl
It’s over
But before we say goodbye
Let’s give it a try
If you leave, then baby I’ll leave

Annyeong!! This is just an interlude, jawaban dari pertanyaan di chapter sebelumnya, yang juga berarti pertengahan cerita. Semoga part ini bisa menjawab rasa penasaran kalian (?) LOL I hope you enjoy this story tho I know this is a bit heartbreaking (or is it just for me? Haha)

And I’m saying sorry, I cant give any tweetnotice [to those readers who had asked me for] for the update through my personal twitter account bcs I’m no longer in twitter. Clicky clik here for the info. Until then, wait for the next update n.n

Ces’t La Vie – Chapter 4

Enough for today, Taemin. We’ll continue our session tomorrow morning,” jelas seorang pria, menutup kembali koper kecil berisi peralatan kedokteran yang biasa dibawanya. Ia melepas kacamata konservatif yang dipakainya dan menatap sang pasien yang tidak bergeming juga walaupun sesi terapi mereka sudah selesai. [Cukup untuk hari ini, Taemin]

“Taemin?” panggilnya sedikit khawatir. Kerutan halus di keningnya menjadi pertanda visual apa yang tidak dimengertinya. Mata biru yang dipagari bulu mata lentik menatap intens Taemin. Di awal pertengahan usia tiga puluhan, dokter muda itu tampak tampan dan mempesona.

Do you have something to tell?” tanyanya lagi begitu Taemin tidak menjawab apapun. [Ada sesuatu yang ingin kau katakan?]

Taemin akhirnya mengangkat kepalanya, berhadapan muka dengan dokter yang telah meratwatnya berapa bulan belakangan ini. “Profesor…”

Yes?”

Sejenak ia tampak ragu. Tapi rasa penasaran di dalam dirinya meraung tidak sabaran, ia harus mengetahui jawaban dari pertanyaan hatinya selama ini. “Is there any… probability…” [Apakah ada…kemungkinan…]

Kalimat Taemin yang menggantung membuat sang dokter gemas sekaligus penasaran. Selama ini Taemin memang mengikuti sesi terapi dengan sangat baik, tapi di luar itu Taemin masih tampak menututp dirinya. “Yes, Taemin? What probability?” [Ya, Taemin? Kemungkinan apa?]

That I….will be fully healed,” sahut Taemin dengan suara lemah. ia duduk terkulai seakan melisankan perkataan barusan menguras seluruh energinya. [Bahwa aku akan sepenuhnya sembuh.]

Berbalik dengan Taemin, dokter muda itu, profesor Karev, tergelak dalam tawa keras. Etika kedokteran memang melarangnya melakukan hal itu, tapi ia tidak bisa menahannya. Bagaimana bisa Taemin melontarkan pertanyaan seperti itu?

Why are you laughing?” Tanya Taemin, sedikit merasa tersinggung dengan tawa renyah dokter yang menanganinya. Ia tahu profesor Karev adalah seseorang yang humoris, tapi menertawakan pasien dalam sesi terapi mereka? Sungguh di luar batas! [Mengapa tertawa?]

Merasakan pandangan sengit nona muda di hadapannya, profesor Karev menghentikan tawanya. Ia membenahi jas putihnya yang sedikit berantakan. Raut wajahnya kembali serius meski tidak menyeramkan. “How can you ask something like that?” [Bagaimana bisa kau bertanya hal seperti itu?]

Do you mean I can’t have my old life back?” Taemin mengerutkan keningnya, air mukanya khawatir. Selama ini yang ditakutkannya hanyalah satu, bahwa pengobatannya di sini tidak akan berefek apapun bagi anxiety attack-nya. [Maksudmu aku tidak akan bisa kembali ke kehidupanku yang lama?]

Profesor Karev berlutut di hadapan Taemin. Ia menggenggam kedua tangan pasiennya itu lalu menatapnya dengan tatapan meyakinkan. Dalam terapinya, ia ingin mengeluarkan segala daya dan usaha yang bisa dilakukannya. Ia ingin pasiennya cepat sembuh dan stabil, kembali normalseperti seharusnya. “No, dear. After all the session we’ve been through, do you think those will be gone to waste?” [Tidak, sayang. Setelah semua sesi yang telah kita jalani, apa kau pikir semuanya akan sia sia?]

You’ll heal,you’ll eventually have your own old life back to you if you keep on struggling.” Ia tertawa sedikit, “you know, butthurt the sessions, like you said.” Perkataannya membuat Taemin menyimpulkan sebuah senyum kecil. Bukan sesuatu yang signifikan, tapi cukup positif untuk keadaan kejiwaannya. [Kau akan sembuh, kau akan mendapatkan hidupmu kembali jika kau mau berusaha. Kau tahu, butthurt session, seperti yang kau bilang..]

So, I can go home?” [Jadi aku bisa pulang?]

Of course,” profesor Karev mengangguk. “But not now, we still need to check on you. Also, your eating behavior.” [Tentu saja, Tapi untuk sekarang kami masih harus memeriksa kondisimu. Juga pola makanmu.]

Taemin tercenung selama beberapa detik, mencerna apa yang dikatakan terapisnya tersebut. Semenjak menjalani pengobatan di sini, pergi dari rumah, Taemin memang mengalami masalah lain selainanxiety attack-nya. Pola makannya yang berantakan mengindikasikannya memiliki eating disorder. Ia menolak makan, kehilangan selera dan bahkan tidak bisa mencerna makanannya sendiri. Dokternya mengatakan kemungkinan besar itu dikarenakan tekanan, efek anxiety attack-nya. Gejala eating disordernya memang mulai berkurang sesuai dengan keadaan jiwanya yang semakin stabil walau belum pulih benar.

Are you saying,” Taemin mengingat ingat kembali memorinya, “if I manage to eat well, my recuperation period will be over anytime soon?” [Jadi maksud anda, jika aku bisa makan dengan teratur, masa pemulihanku akan segera selesai?]

Yes.” Profesor Karev menjawab lugas yang disertai anggukan mantap. Ini membuat senyum kecil Taemin mengembang lebih lebar. Pertama kali setelah berbulan bulan, Taemin kembali bersemangat.

You miss your family, right?” tembak Profesor Karev, Taemin tersenyum penuh arti. Tidak banyak yang bisa digali dari data pasien Taemin, hanya beberapa informasi secara general dan rekap medisnya. Orang tua Taemin, yang mengurus tinggalnya di mental center ini, mengatakan tidak banyak hal yang bisa diceritakan dari Taemin. Mereka hanya memberikan info seperlunya dan jelas itu membuat Profesor Karev merasa ada sesuatu yang aneh. [Kau merindukan keluargamu, ‘kan?]

Lalu ia teringat sesuatu, seseorang lebih tepatnya lagi, yang ia temui sebelum sesinya dengan Taemin dimulai. Mungkin itu menyalahi etika kedokterannya, tapi Profesor Karev lebih menyukai pasiennya segera stabil daripada mengikuti semua peraturan. “Speaking of which, someone’s waiting for you in your room.” [Ngomong ngomong, seseorang sedang menunggumu.]

Taemin menutup pintu kamarnya, menghembuskan nafas berat sambil memejamkan kedua matanya. Satu hari lain telah ia lewati dan ia cukup puas karena semakin lama ia makin bisa mengendalikan dirinya. Ia tidak lagi merasa seperti dunia runtuh di atas kepalanya, perasaannya terasa jauh lebih ringan.

Perlahan ia membuka matanya kembali, berencana untuk masuk ke dalam selimut dan berkutat dengan novel novel yang dipesannya secara online beberapa hari lalu. Tinggal di rehabilitasi seperti ini memberikannya banyak waktu luang untuk melakukann hal yang ia senangi. Baru ia akan melangkah, matanya terpaku pada sesosok pria yang duduk menunggu di sisi tempat tidurnya.

“Minho…”

“Taemin.”

“Apa yang kau…” Taemin kehilangan kata katanya. Ia bingung harus mengatakan apa karena kehadiran pria itu begitu mengejutkannya. Bagaimana Minho bisa ada di sini? Bagaimana Minho bisa tahu Taemin di sini? Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk, emosinya menjadi sedikit terombang ambing. “Bagaimana kau bisa ada di sini?”

“Taemin Choi,” Minho mengangkat sebuah passport yang Taemin kenali sebagai miliknya. Dengan lancang Minho memamerkan senyum meremehkannya. “Aku kira kau benci nama belakangku. Tapi ternyata…”

“Bukan urusanmu!” Taemin mengambil paksa passport itu, tidak menyukai sikap Minho yang tampak di atas awan. Ia benci Minho mengetahui bagaimana caranya kabur dari Korea Selatan tanpa bisa dilacak Minho. Ia menggunakan marital namenya, Choi Taemin.

“Hyotae merindukanmu…” Tatapan mata Minho berubah sendu, begitu banyak kesedihan dan kepedihan dalam sorot mata sayu tersebut. Taemin memperhatikan suaminya itu. Tampan, masih amat sangat tampan. Tapi di saat yang sama ia tampak berbeda.

Matanya cekung dan dikelilingi lingkaran hitam, tampak berantakan dan pucat. Rambutnya mulai panjang namun tidak terurus.

“Aku merindukanmu juga,” sambung Minho. Jelas ini adalah perkataan yang membuat mood Taemin seketika turun. Tatapan matanya berubah emosi dan ia siap meluncurkan semua sisi sarkasme yang dimilikinya.

“Oh, wow. Bagaimana bisa? Aku pikir kau sedang bersenang senang dengan wanitamu itu. Siapa namanya? Jung Seojung? Atau SooJung?” Taemin menumpu tangannya di pinggang, marah.

Minho menghela nafasnya berat. “Jung Soojung, dan dia bukan wanitaku, Taemin. Kaulah wanitaku.”

“Impressing,” decak Taemin dengan senyum lopsided yang terkesan getir. “Pintu keluarnya ada di sebelah kanan kalau kau sudah selesai bicara.” Ia baru akan berbalik ketika ia mengingat sesuatu yang tampak penting ingin disampaikannya pada Minho. “Oh ya, jangan mempermalukanku dengan menggoda suster di sini.”

“Taemin!” Minho berteriak setengah emosi. Susah payah ia menjaga agar ia bisa lebih menjaga sikap, namun Taemin mempersulit usahanya. Seakan Taemin memang tidak menginginkan Minho, bahkan dalam hidupnya lagi.

“Aku tak mau dengar! Jangan bicara padaku!!” sentak Taemin dengan suara yang lebih lantang. Detik berikutnya ia menutup kedua telinga dengan sepasang tangannya, matanya juga ia tutup. Taemin tampak seperti ketakutan dan ini membuat Minho khawatir.

Minho mengerutkan keningnya. Meski begitu, ia mengulurkan tangan kanannya untuk meraih Taemin, berharap istrinya akan menyambut tangannya itu. “Taemin…”

“Jangan bicara, jangan menakutiku! Aku tak mau dengar, aku tak mau dengar!!” Taemin berteriak, masih menutup telinganya histeris. Air mata mulai meluncur turun seiring dengan derai tangis yang semakin jelas terdengar. Perkiraan Minho salah, apa yang dilakukannya malah membuat Taemin semakin histeris.

Minho bingung, ini pertama kalinya ia melihat istrinya seperti ini. Histeris dan tanpa kendali. Jadi inikah hal yang selama ini disembunyikan Taemin? Apakah ini side effect dari gangguan yang diidapnya?

“Taemin…”

“Aku tidak mau dengar, aku tidak mau berdebat!!” Air mata semakin deras membasahi pipi wanita itu. Suaranya semakin parau karena berteriak terlalu kencang. “Hentikan semuanya atau aku akan benar benar gila!!”

“Tae, ini aku. Aku janji kita tidak akan berdebat lagi. Okay?” Minho berjalan mendekat ke arah Taemin, mencoba langkahnya sehalus mungkin agar Taemin tidak merasa takut atau apapun yang dirasakannya sekarang. Jika Taemin menderita dengan kondisinya seperti ini, hati Minho jauh lebih parah. Melihat wanita yang dicintainya histeris, menjerit ketakutan, semua hal itu meremukkan setiap bagian di dalam dirinya sebagai pria. “Jangan takut, aku di sini untukmu.”

Jarak mereka terpapas hanya beberapa sentimeter ketika Minho akhirnya melingkarkan lengan besarnya di sekeliling bahu Taemin. Sebisa mungkin sangat pelan agar Taemin merasa nyaman di dalamnya.

“Aku tidak ingin kehilangan kewarasanku!” teriak Taemin lagi, namun kini suaranya seoktaf lebih rendah dan ia tidak memaksakan suara paraunya lebih lanjut, sepertinya ia mulai lelah. Minho menempelkan kepala Taemin di dadanya, berusaha menenangkannya. Meski awalnya Taemin menolak, meronta lumayan kencang, akhirnya ia tenang dalam dekapan hangat nan protektif Minho.

“Tidak, kau akan sembuh. Aku akan membantumu dan kita akan segera pulang.” Setetes air mata jatuh di pipi Minho. Hatinya hancur melihat keadaan seperti ini, situasi yang tak pernah ia sangka akan terjadi.

“Pulang?” Taemin mengangkat kepalanya dan mendongak menatap Minho. lelehan air mata masih tampak jelas di pipinya namun aliran itu sudah tidak berlanjut. Minho menghela nafas lega.

“Ya, ke rumah kita. Berkumpul bersama Hyotae, kau mau kan?”

“Hyotae?”

Minho tersenyum. “Ya, tenanglah sayang…”

Perlahan Taemin melingkarkan tangannya ke sekeliling pinggang Minho. Ia melesakkan tubuhnya lebih jauh dalam dekapan yang amat dirindukannya itu. “Aku akan bisa pulang? Benarkah?”

“Kau percaya padaku, kan?”

“Minho…” suara lirih itu kembali terdengar, namun tidak sedih. Suara itu hanya terdengar parau karena lelah. Yang membuat Minho sedikit senang adalah dalam suara itu ia bisa mendengar kerinduann di dalamnya.

“Ya, aku Minho, Minhomu. Aku suamimu, milikmu…”

“Aku rindu padamu…” bisik Taemin pelan, meresapi setiap kata yang ia ucapkan. Ia memejamkan matanya, menyesap setiap harum dan mengingat bagaimana menyenangkannya berada dalam pelukan Minho seperti ini.

“Kiss me,” pinta Taemin tiba tiba, tanpa ancang ancang sama sekali yang membuat Minho terkejut. Taemin memintanya menciumnya? Sekarang?

“Uh?”

Namun senyuman manis yang disimpulkan Taemin di bibirnya menjawab segala keraguan Minho. Mungkin butuh waktu, tapi Taemin-nya berangsur kembali seperti sedia kala. Ia mengingatkan dirinya sendiri untuk berterima kasih pada profesor Karev yang bersedia membantunya.

Minho menyeringai, tanpa diminta dua kali ia menempelkan bibirnya di bibir istrinya, menautkan kembali apa yang sempat terpisah. Dalam dan penuh cinta.

-to be continued-

.

.

.

.

.

A very long note, LOL

1. Jadi kenapa selama ini Minho ngga bisa nemuin Taemin adalah karena Minho nyari nama Lee Taemin sedangkan Taemin pake nama Choi Taemin. Pinter kan? XDD

2. Yes, beside anxiety attacks, Taemin suffers from Eating Disorder as well:/ Poor Taemin boo >w<

3. Feel free untuk mengandaikan kalian sebagai Hyera dan Siwon/bias lain sebagai suaminya. Haha. FF ini juga diadaptasi sama temenku jadi FF yaoi 2min -_-;; Haha. Feel free!!

4. I was planning to add some ‘adult-thingy’ in this chapter, tapi karena saya suck masalah begituan, yasud -,–“

But when I was in the middle of doing something, I heard No Other piano version was played. I feel soothed and, somehow, ready to finish this. Thank you, SJ. Of all the madness, you guys keep me sane. I love you.

5. I dont know why it took me sooooo long to update. I’m not really in the mood to write anything

6. And I love my loyal readers, too. /Huggles.

xoxo,
Sasha~

~Post by: keiminnie~

75 thoughts on “C’est La Vie [4/?] het!

  1. ternyata taemin sakit gara-gara si minho ya😦. pertemuan 2min mengharukan + sweet bgt thor :’)

  2. ini ff nya kayanya gakan dilanjut lagi ya? T_T
    padahal bagus banget ini .. bikin penasaran ..
    kasian sumpah ih liat taemin nya .. mskipun aku krang ngerti sma tu penyakit, tapi itu pasti ngeganggu banget buat taemin ..
    dan unutng nya minho bisa nemuin taemin trs taemin nya mulai luluh lagi sma minho ..
    haha semua pertanyaan nya judah kejawab ..
    tinggal nunggu part ending nya .. tpi gatau deh ini ff nklan dterusin atw nggg ya? hukss

  3. Taemin !!
    Aku takut sama taemin , tapi waktu diakhir nya ‘MANIS’ bnget #emangUdahRasa?
    Oia thor , aku sering nemuin password di crita2 yang lain dan itu pasti di part terakhirnya, kash tau cra buka nya dong thor ? #melass
    the next part, aku tunggu ^^

    ~gamsahamnida
    (pertanyaan aku dijawab ya!) *akuMohon

  4. Untung2min trnyata gk brpisah.
    Tpi tunggu itu mksudny tetem kena gangguan jiwa? Apa?! Jgn dong kesiaan😥

  5. sumpah ni ff DAEBAKK..

    TAEMIN jd slama ni dia d.ganggu ma penggemar.x minho dan stlah itu dia jd frustasi brat..
    WOWW… *gemes bgt waktu bc ni ff*

    Yey gx ada kata cerai..

    Ni blm ada lnjutan.x y thor.?

    Ayo lanjutkan..😄

  6. “jdi krna itu taemin jdi brubah,.
    kzhn,dy hrz nanggung semuanya sndri,.
    tpi untng akhrnya minho nemuin taemin,.
    ga rela,taemin sendrian nyembuhin penyakitnya,.
    suka bgian ending,wkwk,.

  7. ah ketemu juga akhirnya minho ma teamin…
    ternyata temin sakit y, kasihan banget sih, mana nama penyakitnya aneh lagi..
    semangat teamin a… kamu pasti sembuh…
    kami selalu mendukungmu…
    tq author, lanjut ke part selanjutnya…….

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s