C’est La Vie [5/?] het!


 

Foreword:

-Nyonrinhyon-

Makasi untuk yang masi inget sama ceritanya dan yang mau komen ^^ jadi terharuuu/plaak

C’est La Vie – Chapter 5

 chap 4

.

.

.

“Hmmm hmmmm hmmm hmmmm,” gumam Taemin, menghirup wangi leher suaminya. Ia menaruh tangan kirinya di atas dada sang suami, menyusuri kulit putih itu sampai ke dagu. Menyentuhkan ujung jarinya di hidung Minho, Taemin tersenyum. Ia menatap mata kecoklatan itu dan menemukan apa yang selama ini tidak ia lihat. Rasa cinta tulus yang dipenuhi kerinduan.

Diperlakukan seperti ini, tiba tiba Minho teringat sesuatu. Memorinya kembali mengulang rekaman adegan beberapa tahun lalu. Tanpa peringatan, Minho tertawa.

Taemin mengerutkan keningnya. “Kenapa tertawa?”

“Tidak.” Minho menggelengkan kepalanya, tawanya berusaha ia tahan namun tak berhasil. Taemin masih bisa merasakan dada pria itu naik turun menahan tawa dan semakin penasaran dengan apa yang ditertawai suaminya itu.

“Kau tidak ingat apapun?” tanya Minho, seringai penuh arti bermain di bibirnya.

“Apa?” Taemin menaikkan alisnya.

Minho menarik wanita itu lebih dalam dalam pelukannya, memapas jarak mereka yang memang sudah tidak terhalang apapun. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Taemin dan berbisik, “hampir lima tahun lalu..”

“OH YA AMPUN!! Jangan ungkit masalah itu!” Taemin mendorong Minho menjauh ketika ia akhirnya mengerti apa yang dimaksud pria itu. Ia menarik selimut lebih tinggi agar menutupi tubuh bagian atasnya. Memeluk tubuhnya sendiri, Taemin membela dirinya dengan pipi yang bersemu merah persis kepiting rebus. “I was a stupid and naive, hormon-controlled girl!”

“And pretty…” Minho menarik kembali sang istri dalam dekapannya. “And tempting…” Taemin menahan nafas ketika Minho mencium perlahan bibir gadis itu. “And damn sexy. Jangan lupakan itu juga,” kata Minho menyudahi perkataannya dengan senyum devil yang membuat Taemin semakin salah tingkah. “Kita dapat Hyotae sebagai hasilnya.”

“Seriously!” Taemin pura pura menggertak.

“Kenapa harus malu? Aku senang kok saat itu. Jangan sangkal kalau kau juga menikmatinya, hey!!” Minho menggelitiki Taemin yang menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut mereka. Ketika menemukkan sepasang mata cokelat gelap itu, Minho menatapnya. “Tidakkah kau pikir Hyotae kesepian selama ini?”

“Hmm? Aku merasa bersalah meninggalkannya,” bisik Taemin dari dalam selimut. Mereka berdua kini saling berbisik di bawah selimut. “Aku akan berusaha keras agar cepat stabil dan bisa kembali ke Seoul.”

“Bukan itu maksudku,” ujar Minho.

“Lalu?” Taemin menaikkan alisnya lagi. “Memangnya kau tidak mau aku cepat kembali ke Seoul?”

“Ha! Bukan seperti itu, tentu saja aku ingin kau kembali ke Seoul.” Minho tersenyum. “Aku hanya berpikir…”

“Ya?”

“Tidakkah sebaiknya Hyotae punya adik?”

“Mak-maksudmu?” Taemin tergagap dalam omongannya. Melihat pandangan seduktif yang diberikan Minho, Taemin melotot. “Hey, just so you know, this is a rehab! No one make a baby here, beside the bed is suck!”

“Screw people!” Minho memutar bola matanya. Ia menyusupkan tangannya di pinggang Taemin, memerangkap wanita itu dalam dekapannya. Dengan nada rendah yang seksi ia berbisik, “I want you.”

.
.
.

Pagi yang cerah. Sinar matahari menerobos masuk ke celah jendela kamar perawatan Taemin. Ia mendesah perlahan, hari baru telah datang dan tampaknya hari ini akan menyenangkan. Sudah lama sekali ia tidak merasakan perasaan seperti ini. Diliriknya jam yang bertengger di meja samping tempat tidurnya. 09.15.

“Oh shit!” sumpah Taemin. Ia menarik selimutnya lepas dan baru saja akan bangkit dari tempat tidur ketika sebuah tangan besar menarik pinggangnya kembali ke tempat tidur.

“Where are you going?” gumaman itu jelas suara Minho, Taemin mengenalnya di luar kepala. Taemin memutar matanya, berusaha melepaskan rangkulan posesif itu dari pinggangnya.

Taemin menatap suaminya yang entah kenapa pagi ini sangat manja. “Err, if you still remember, this is a rehab. I have therapy at 9.30 and I won’t be late.” [Kalau kau ingat, ini adalah rehab. Aku punya jadwal terapi jam 9.30 dan aku tidak akan terlambat.]

“Cancel it,” gumam Minho santai. Ia mencium tengkuk Taemin, menyesap wangi tubuh wanita yang dirindukannya. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia merasa sesenang, setenang, dan sebahagia ini.

“Pardon me, Choi Minho-shhi?”

“Cancel it. You heard me well.” Minho menelungkupkan kedua tangannya di depan muka Taemin, memaksa wanita muda itu menatapnya. “It’s not the therapy that you need, it’s alone time with me that you need.” [Bukan terapi yang kau butuhkan, tapi kau membutuhkan waktu untuk dihabiskan bersamaku.]

“Hey, love, I know that you…” Taemin kikuk, mencari kata yang tepat. Di hadapannya, Minho menyunggingkan senyum penuh arti. Taemin menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan, “your presence here make a big deal for me, we proved it last night. But this session is important, something I cant skip. I want to go back to Seoul, to my family. And the only way to get things work, I need to be mentally healed.”[Kehadiranmu di sini memang penting untukku, buktinya semalam. Tapi sesi terapi hari ini sangat penting dan aku tak bisa melewatkannya. Aku ingin kembali ke Seoul, kembali pada keluargaku. Satu satunya cara agar semuanya bisa terwujud adalah dengan aku sembuh secara mental.]

Minho memandang kekasih hatinya, secercah rasa bangga menelusup kalbunya. Taemin-nya bukan lagi gadis 19 tahun yang waktu itu ia pacari dengan segala kemanjaan dan keegoisannya. Taemin berubah. “You’re maturing.”[kau sudah dewasa]

“Wow, nice appraisal, oh dear husband!” Taemin mengecup singkat sang suami lalu beranjak bangkit dari ranjangnya. [Wow, pujian yang menyenangkan, suamiku sayang]

“Lunch with me?” tanya Minho, masih membaringkan tubuhnya di ranjang sementara Taemin sudah berdiri di depan lemarinya, mencari pakaian tepat yang akan dikenakannya hari ini. “I have a lot to save with you, babe.” [makan siang denganku? banyak yang harus kutebus padamu]

Taemin berbalik dan memandang Minho, sedetik kemudian ia memutar matanya. “Since when did you call me ‘babe’? It’s so teenage!” [Sejak kapan kau memanggilku babe? ABG banget!]

Minho bangkit, melingkarkan selimut tipis itu di sekeliling pinggangnya. Ia berjalan ke arah Taemin lalu melingkarkan tangannya di pinggang wanita yang jauh lebih pendek darinya tanpa high heels itu. “Serius, sayang. Terlalu banyak waktu yang aku buang tanpa dirimu, aku akan menggantinya semampu yang aku bisa.”

Sebuah senyum nakal terplester di bibir Taemin. “Bendel and Saks, is that included?” [Bendel dan Saks termasuk?] (Bendel & Saks: Department store besar yang menaungi banyak merek ternama dunia)

“Anything you want,” bisik Minho dengan suara rendah. Ia mengecup daerah antara leher dan bahu istrinya. “Anything…”

.
.
.

Matahari sudah naik jauh tinggi di langit. Taemin memjamkan matanya, menarik nafasnya panjang lalu kembali membuka kelopak mata yang melindungi sepasang mata berwarna hitamnya. Setelah merasakan ketenangan, ia bangkit dan mengambil mantelnya. “Thank you, Alex.”

“With him here, you’ll heal faster.” Alex, atau yang lebih dikenal dengan nama professor Karev, sang dokter yang terkenal, memandang pasiennya dengan wajah bangga. Sebuah senyum terselip di bibirnya setelah sesi terapi mereka pagi ini selesai. “Miss him much?” [Kehadirannya di sini membantu mempercepat proses penyembuhanmu. Kau begitu merindukannya?]

Pipi Taemin bersemu merah. “You have no idea. We spent the second-best night last night, talking about everything, doing what we’ve been yearning for. He makes me simply happy.” [Kau takkan bisa membayangkannya. Kami menghabiskan malam terbaik kedua semalam, membicarakan dan melakukan segala yang kami inginkan. Ia membuatku bahagia]

“I can see that in your bright smile, reddish cheeks. He should, Taemin. He should make you happy.” Alex memeluk Taemin dan mendaratkan kecupan hangat di pipi wanita itu. Ia menatap bangga, Taemin akhirnya menunjukkan progress yang lumayan besar. Ia sudah bisa mengendalikan diri dan emosinya dengan lebih baik. “And shoo~ You’ve got a date lunch with a hot guy! Dont waste your time here.” [Aku bisa melihatnya dari senyum cerah dan pipi kemerahanmu. Memang sudah seharusnya ia membuatmu senang. Pergilah~ kau ada janji makan siang dengan pria tampan. Jangan buang waktumu di sini lebih lama lagi.]

“Thank you again, Alex. You are the best professor here.” Taemin mengambil tasnya lalu berjalan menuju pintu keluar. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya semenjak ia bangun pagi ini. Ia merasa senang, ringan. Semuanya terasa lebih baik. Ia tahu keadaannya sudah semakin bagus.

“Yes, indeed I am!” seru Alex dari balik pintu. “Have a wonderful date!”

“I will!!”

.
.
.

Genggaman tangan itu tidak pernah lepas. Jemari yang saling bertaut menjadi pengikat kedua insan yang kini menikmati indahnya Central Park di sore hari. Mereka mengayunkan genggaman tangan itu, tersenyum satu sama lain seperti sepasang remaja yang baru merasakan cinta.

“Dingin?” tanya Minho, merasakan genggaman tangan gadis itu dipererat seiring dengan angin yang berhembus halus. Ketika Taemin mengangguk, Minho mengangkat genggaman tangan mereka dan mendekatkannya ke bibirnya. Ia meniup niup tangan itu, membuatnya sedikit lebih hangat.

“Ini menyenangkan, kau tahu itu?” Taemin mengerlingkan matanya. “Ini impian masa remajaku.”

“Bukankah kau sudah mendapatkannya?” Minho menaikkan alisnya. “Impian masa remajamu adalah menikah dengan seorang idol tampan nan mempesona yang membuatmu seperti jelly, kan?”

“Minhooo!!!” Taemin merengek kesal. “Jangan ungkit ungkit masalah jelly!”

Amused, Minho tertawa melihat kelakuan istrinya, mengingat bahwa seringkali wanita itu menggunakan kata ‘jelly’ untuk mendeskripsikan dirinya. “Tapi benar, ‘kan? Kau selalu bilang kalau aku bisa membuatmu lembek dan tanpa daya seperti jelly dengan kharismaku.”

“Itu dulu,” sahut Taemin enteng. Jujur saja, saat ini ia merasa seperti jelly. Sama seperti dulu. Minho masih bisa membuat lututnya lemas. Seperti jelly, kini ia ‘lembek’ dan gampang terombang ambing perkataan dan perlakuan manis dari Minho.

“Lalu sekarang?”

“Hmm…” Ia tampak berpikir sejenak. Merunut pada kejadian sepanjang pernikahan mereka yang tidak bisa dibilang penuh dengan kebahagiaan tanpa ada masalah, Taemin sadar bahwa telah banyak waktu berlalu yang mengubah pribadinya. Ia bukan lagi seorang fangirl berusia 18 tahun. Kini usianya 24 dan ia sudah memiliki seorang suami [yang ia ketahui kini amat sangat mencintainya] dan seorang putri kecil yang haus akan kasih sayangnya. Hidupnya memang tidak sempurna, ia memang masih Taemin yang rapuh, tapi kini ia bisa melihat masalah dalam kacamata yang lebih luas. “Kau membuatku rapuh seperti lampu gantung.”

“Aku selalu ingin berjalan di taman sambil bergandengan tangan dengan pria yang kucintai.” Taemin meneruskan perjalanan mereka di Central Park di mana banyak muda mudi yang menghabiskan sore dengan nongkrong nongkrong sambil menyesap late dari Starbucks terdekat. “Daun daun musim gugur yang indah adalah nilai tambahan yang sempurna untuk acara hari ini. Aku senang akhirnya kau menemukanku dan menyusulku kemari.”

“Jadi… Apakah fifth avenue akan membuat segalanya lebih baik?” tanya Minho, kini ia merangkul wanita itu agar Taemin tidak kedinginan. Musim gugur hampir berakhir dan cuaca semakin mendingin. Ia tidak ingin wanitanya sakit.

“McQueen atau Lanvin terlebih dahulu?” Taemin memberikan dua pilihan yang membuat Minho memutar matanya. Istrinya memang masih si designer handal yang tahu barang bagus.

“I vote Victoria Secret! Woohooo!!” Minho meluncurkan tangannya di udara, seakan sarannya adalah saran terbaik yang pernah ada di muka bumi ini.

Taemin memberikan tatapan tajamnya. “Minho!”

“Kidding!” Ia mengecup cepat cinta dalam hidupnya. Mendekap Taemin dengan tangannya yang besar. Diantara guguran daun maple, Minho tersenyum lembut. “Terserah kau mau ke mana, aku akan berada di sampingmu terus. And I need to tell you that I love you.”

“I know,” sahut Taemin dengan pipi yang bersemu merah. Setelah lebih dari tujuh tahun mengenal Minho, ia masih tidak bisa mengendalikan rona merah itu setiap kali Minho memperlakukannya seintim ini. “And do I need to tell you how much I love you?”

“No, but you need to show me,” ujar Minho sebelum mendekatkan bibirnya pada wanita itu. Menciumnya dalam dengan pemandangan Central Park yang indah.

Memang menyenangkan jatuh cinta, tapi akan lebih menyenangkan untuk menemukan cinta yang hilang setelah sekian lama. Meski pernah terpapas jarak dan waktu, akhirnya Minho dan Taemin menyadari bahwa cinta akan membawa mereka kembali bersama. Jemari yang saling bertaut menghangatkan musim gugur yang menggigil di New York City.

Waktu menjawab segalanya.

But little did they know, the family they just re-build need more than sweet color of painted walls to adjust with the upcoming storm they’ve never thought would come.

.

.

.

.

TBC

 

 -Post by : keiminnie-

63 thoughts on “C’est La Vie [5/?] het!

  1. Oh noooo (≧∇≦) 2min kembali (•̪ -̮ •̪♈̷̴) . Aku seneeeng banget. Akhirnyaaa setelah dulu nangis2, sekarang senyum2. Eh ga nyangka tadi waktu aku baca ada semutnya. Kenapa kagak dijadiin NC sekalian, biar keren kaaan :3 . Waaa lanjuut !

  2. Oh noooo (≧∇≦) 2min kembali (•̪ -̮ •̪♈̷̴) . Aku seneeeng banget. Akhirnyaaa setelah dulu nangis2, sekarang senyum2. Eh ga nyangka tadi waktu aku baca ada semutnya. Kenapa kagak dijadiin NC sekalian, biar keren kaaan :3 . Waaa lanjuut !!!

  3. Pingback: C’est La Vie [6/?] het! « suunSHINee YAOI Fanfics (SYF)

  4. Yeeeeahhhh snangx krn taemin mau mnrima minho kmbli,tnpa ada pertengkaran….
    nh bgtu kan bgus,sm2 bahagia….
    smga aja ga ada mslh lgi buat mrka…

  5. Aaaaaaaa
    tidak tidak tidak
    sya telat bca part yng ini kepksa bca ini dlu bru bca part slnjutnya u,u
    sumpah demi apa disna romantis skli u,u
    next part ah~

  6. suka suka suka banget ma karakternya minho..
    disini ternyata dia bijak banget..
    cinta ternyata bisa mengalahkan apa saja..
    2min daebak..
    author daebak.. ^_^

  7. Qm plagiat y? Aq ud bc nie ff dan cast yg sbner.a to siw0n ma hyera.. Jgn gto d0nk.. Hargai karya orang laen..

    • sebelum berkomentar seperti ini coba kamu baca dulu part 1.. disana sudah di jelaskan jika author yang mempost FF ini sudah memberitahukan jika FF ini memang FF milik orang lain dan hanya dia ganti castnya menjadi cast di atas. authornya telah di berikan izin penuh dari author sebelumnya. jadi jangan berkomentar sebelum anda benar2 yakin jika author disini memplagiat.. kata2 seperti ini bisa menyakiti hati authornya.. tolong hargai juga dengan membaca keseluruhan postan FF ini dari part awal jadi anda tidak membuat state seperti ini..

      terima kasih.. Admin vienasoma

  8. daebakk!! sweet bgt ceritanya ^^ taemin cepet sembuh ya biar bisa kumpul sama keluarganya lg 😀

  9. demi apa ini so sweet bget thor..
    smoga taemin’a cpet smbuh…
    kya’a hyotae bkal pnya adik neh..
    ayo 2min cptan kasih hyotae adik biar hyotae nya ga ksepian

  10. rrrrr.. pendek bgt ini thor ==a
    OMG sweettt bgt sumpah dah ni chapter. itu si 2min beneran buat adek buat hyotae? hahaha kok di sekip thor? hohoho taemin udah mulai ada kemajuan nih ><

  11. akh…. akhirnya ada moment romantisnya…
    suka..suka…suka..
    ini sangat baik, teamin a…. bukan hanya hatimu yang bahagia, tapi aq juga senang baca ff ini karena akhirnya kamu mesra lagi ma minho…
    selamat 2min couple…
    tq buat authornya, lanjut………

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s