[JinKibum] I’m in Love With My Best Friend


 Main Cast : Lee Jinki – Kim Kibum

Support Cast : Lee Taemin *figuran lol

Genre : Friendship, smutt. romance, little comedi (?)

Author : @eternalonkey90

Saengil Chukkae uni iin !! XDD hihi ini hadiahnya (?) ah buat yang lain juga deh pupud, sanni, rya,fenni, ini FF basi yg ketanem di laptop wkwkk.. mian yah ini pas aja udah di borong pas ultah uni iin XDD

btw FF ini adalah FF iseng gw lagi setress sama sukip, eh mandangin FF ini kok rasanya mau lanjut lol makasih yang mau baca tulisan ga mutu saya. ini membosankan, ga serius. just joke and for fun yaa ^^

Saya hiatus lagi ah.. dadah~~~

Warning

Its my story

No plagiarism

No bash

Yes critic

Komen and like is love <33

BRAK’

Aish.. Jinki..namja ini kenapa sangat menyebalkan semakin hari huh? Ia selalu mendobrak pintu kamar, membuka sepatunya lalu membuanganya ke sembarang arah. Ia akan langsung berlari dan merebahkan tubuhnya di ranjang.

”Jinki!! kau harus membersihkan tubuhmu dahulu! Kau kan masih kotor!”

Aku menarik kakinya, memaksanya turun dari ranjangnya. Ia mengeratkan tangannya ditepi ranjang menolak perintahku! hah! Aku lelah memiliki sahabat yang sangat keras kepala ini. Lihat saja tingkahnya, ia masih memakai seragam sekolah dan seragamnya kotor. Ya Tuhan dosa apa aku memiliki teman sekamar seperti dirinya.

”Kibum… aku lelah sekali… let me sleep please…”

Yup! Lee Jinki! seperti inilah dia.. selalu memasang wajah imutnya memohon padaku menghentikan aksi brutalku yang masih menarik kakinya. Aku sudah lelah membereskan kamar seharian dan ini balasannya? Ck.. yang benar saja!

”Yah!! tubuhmu kotor.. lihat seragammu bahkan kotor! Sebenarnya apa yang kau lakukan seharian ini? Balap motor liar lagi? Ini sudah larut! Cepat mandi dan makan malam, kau tahu aku sudah menyiapkannya…kyaaaaaaa!”

Aku terjatuh diatas tubuhnya. Maksudku..benar – benar tepat diatas tubuhnya dan yang lebih buruk adalah bibirku….tepat berada diatas bibirnya. Sangat lembut…ah aku tidak bisa berfikir dengan benar, bahkan aku mendengar detak jantung yang sangat kuat. Entahlah detak jantung siapa namun dapat kurasakan tubuh Jinki menegang. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Oh Tuhan!! Ini adalah ciuman pertamaku! apa bisa dikatakan berciuman? Ah… eottohke..

Aku rasakan Jinki menggerakkan tanganya lalu menyentuh bahuku dan mendorong tubuhku pelan. Tapi kenapa aku merasa tangannya sedikit bergetar? Ah mungkin ia kelaparan..ya pasti ia belum makan sejak siang. Jinki selalu seperti ini!

”Kibum… Kau mencuri ciuman pertamaku!”

HAH!!!

Sial sial sial…!! Dia pikir ini bukan ciuman pertamaku huh? Aku mendongak dan menatap matanya tajam, masih berada diatas tubuhnya lalu ..

”Arghhhh…”

Aku mengigit hidungnya! Hahahaha.. rasakan kau Jinki pabo. Hal seperti itu kan tidak bisa dikatakan berciuman! Lagipula siapa yang menciumnya.. tidak itu hanya pertemuan dua bibir yang tidak disengaja. Lagipula kami adalah sahabat selama tiga tahun ini.

”Rasakan! bodoh! mana aku tahu aku akan terjatuh, salahmu kenapa menarik tanganku..”

”Itu karena kau terus menari kakiku!” teriaknya.

Aku beranjak dari atas tubuhnya dan pergi. Cih… terserah… aku tak peduli lagi padanya. Terserah jika ia mau makan atau tidak. Ia mau mandi atau tidak. Aku tidak mau peduli lagi! Lee Jinki menyebalkan! dia tidak mengerti bagaimana aku mengkhawatirkannya hari ini.

”Yah.. Kibum.. kau marah huh?Sudahlah.. anggap saja hal tadi tidak pernah terjadi.. kita sahabat bukan?”

“Whatever.. aku ingin tidur.. jika kau mau makan aku sudah membuatkan bubur abalone..jika kau tidak mau memakannya tolong dibuang saja.. aku lelah..”

Entah mengapa ada yang aneh saat ia mengatakannya.. tidak pernah terjadi katanya? Ah baiklah Kim Kibum sekarang kau menjadi plin – plan.. ciuman itu memang bukan hal besar..sudahlah. Aku menaiki ranjangku yang tepat berada disampingnya. Ranjang kami terpisah oleh meja kecil. Aku menarik selimutku hingga batas dagu lalu berbalik memunggungi nya. Lalu aku tidak mendengar apa – apa namun tak berapa lama mendengar suara air.. well ia menurutiku juga setidaknya ia membersihkan tubuhnya.

Perlahan aku menyentuh bibirku dengan dengan jemariku. Masih terasa lembutnya bibir Jinki saat menempel di bibirku. Lalu dia bilang itu ciuman pertamanya? For God Sake Lee Jinki.. anggap aku tidak waras jika aku mempercayaimu! Ya Tuhan! Apa yang kupikirkan… jantungku sedikit berdebar. Ah mungkin karena lusa aku ada ujian.. Yah.. ujian yang menentukan perpanjangan beasiswaku. Aku berusaha menutup mataku namun tetap tidak bisa tidur. Ck.. haruskah aku bangun dan mengajak Jinki berbincang sebentar?

Ah tidak.. lebih baik aku memaksa mataku tidur.

.

.

.

Kibum jatuh tepat diatas tubuhku? Aku menarik tangannya lalu ia jatuh diatas tubuhku. Dapat kurasakan tubuhnya menempel ditubuhku..dan aroma tubuhnya.. harum seperti biasanya.. Ck ia adalah namja yang tidak sering memakai parfum, apalagi parfum mahal. Harum tubuhnya sangat khas, dan aku menyukainya. Aku mengangkat tanganku yang ah shit! kenapa tanganku bergetar! Kurasakan keheningan diantara aku dan Kibum, mata kami masih saling menatap, dapat kulihat sorot matanya sangat terkejut. Saat bibirnya menyentuh bibirku, sangat lembut. Aku tidak pernah tahu jika bibirnya bisa selembut ini. Demi Tuhan Lee Jinki! Kau harus menahan dirimu.. aku tidak ingin persahabatan yang telah lama kami jalin rusak hanya karena perasaanku padanya. Ya aku menyukainya.. ani aku sangat menyayanginya.. Kibum adalah satu – satunya orang yang paling berharga dalam hidupku.

Aku tersenyum saat ia beranjak dan dapat kulihat dia sangat kesal. Ah Kibum.. kenapa kau menggigit hidungku? T^T

Huh, seragamku kotor, sebenarnya tadi aku terjatuh saat latihan. Yah namun tidak terjadi apa – apa, hanya sedikit lecet di punggung. Aku giat latihan untuk menghadapi balap liar pekan depan. Aku bukanlah orang yang tertarik dengan uang..namun aku membutuhkannya untuk memberikan Kibum hadiah.. well pekan depan ia berulang tahun dan aku yakin ia tidak mengingat hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk dengan pelajarannya.. setiap saat buku tidak pernah lepas dari tangannya, dimanapun dan kapanpun.

Jika kutanya mengapa ia selalu belajar disetiap waktu? Dia hanya menjawab ”Aku hanya bosan..”

Hebat bukan? Bosan? aku memilih tidur seharian atau pergi memacu kecepatan sepeda motorku jika aku sedang bosan, sedangkan dia? Bercengkerama dengan berbagai macam buku, dan perlu dicatat dia sangat mencintai buku – bukunya lebih dari apapun. Bahkan aku pernah dilarang masuk kamar saat aku menghilangkan buku kecilnya. Demi Tuhan bahkan itu adalah note kecil berwarna pink.

Ah banyak hal yang aneh pada dirinya tetapi aku sangat nyaman jika berada disampingnya. Aku seperti mendapatkan semangat baru. Aku tidak ingin kehilangannya, apapun alasannya.

Aku membuka pintu kamar mandi lalu membersihkan diriku. Meringis pelan saat air menyentuh kulitku yang perih. Ah.. semoga Kibum benar – benar tertidur dan tidak mendengarnya. Aku harus mengganti perbanku sebelum tidur dan jujur saja ini sulit karena lukaku ada dipungggung. Sudahlah aku harus menahannya.

Aku keluar kamar mandi lalu melirik kearah Kibum, untung saja ia sudah tertidur. Ck.. Kibum wajahmu saat tertidur sangat manis, terkadang aku selalu ingin menciumnya saat ia terlelap seperti itu.

Setelah aku berpakaian,aku berjalan menuju dapur kecil disudut ruangan lalu melihat panci yang yang diisi bubur abalon. Masih hangat dan baunya sangat enak. Tentu saja, Kibum adalah orang yang pandai memasak. Ia pandai dalam hal apapun..ck.. such a perfect person.

Aku mencari sendok lalu langsung saja memakannya dari panci kecil itu. Sudahlah, tidak ada waktu mencari mangkuk, lagipula perutku sudah sangat lapar. Bubur buatan Kibum sangat lezat.. aku sangat menyukainya. Beraninya ia mengatakan agar aku membuangnya. Dasar bodoh.. Kibum aku tahu kau sangat memperhatikanku. Ckck.. aku akan membalasnya. Tunggulah hadiah dariku meski tidak terlalu berharga namun kuharap kau menyukainya.

Aku mendekatinya, menyingkap poninya. Tidurnya sangat damai. Aku tidak tahu kenapa aku mengusap pipinya dengan punggung tangan kasarku, pipinya sangat lembut dan aku sangat menyukainya. Aku merendahkan kepalaku dan mengecup pipinya. Aku memundurkan tubuhku, astaga apa yang kulakukan? Sepertinya semakin lama aku semakin tidak bisa menahan perasaanku. Tetapi… jika aku mengatakannya, apa ia merasakan hal yang sama? sepertinya tidak… ia hanya menganggapku sahabatnya. Rasanya itu sudah lebih dari cukup dan aku tidak ingin merusak hubungan kami. Yah.. begini jauh lebih baik.

Aku merasa kantuk mendera mataku, haaah.. hari ini benar – benar melelahkan. Besok aku harus latihan lagi. Ya.. aku harus memenangkan hadiah uang tersebut.. harus.

=====***=====

Jinki berjalan santai melewati lorong sekolah, rambutnya berantakan, seragamnya keluar, ia menyampirkan tas ranselnya disatu bahunya. Ia berjalan menuju kelasnya tidak mengindahkan tatapan horor siswa lainnya. Ya ia adalah Lee Jinki, namja yang ditakuti seluruh penjuru sekolah. Ia terkenal serampangan dan prestasinya juga tidak begitu baik. Bukan..ia tidak bodoh..hanya saja ia malas. Jinki menjadi anak pemberontak dan kerap disebut ’bad boy’ semenjak ia masuk sekolah ini. Sekolah ini adalah miliknya, lebih tepatnya milik ayahnya. Ya..ayahnya adalah donatur utama sekolah mewah ini. Sekolah yang memiliki 10 lantai dan 5 lantai bawah tanah. Untuk sekolah disini tentu saja membutuhkan banyak biaya, pilihannya hanya dua.. kau memiliki uang dan memiliki kemampuan intelektual.

Jika Jinki ada dipilihan pertama maka Kim Kibum ada di pilihan kedua. Seantero sekolah mengetahui kedekatan mereka, Jinki selalu duduk disamping Kibum. Mereka berada dalam satu tingkat? Seharusnya tidak. Jinki dua tahun diatas Kibum, namun saat kelas tiga sekolah menengah pertama ia mengalami kecelakaan yang membuatnya tidak bisa ikut ujian. Ia tertinggal satu tahun. Lalu bagaimana ia bisa satu tingkat dengan Kibum? jawabannya mudah, karena Kibum adalah namja dengan otak diatas rata – rata. Ia mendapatkan kesempatan melewati satu tingkat.

Mereka adalah teman sekamar di asrama. Ya..sekolah mewah ini memiliki asrama khusus. Secara acak Jinki dan Kibum menempati kamar yang sama sejak SMA tingkat pertama.

Bruk’

Jinki membenarkan poninya, mendudukkan dirinya disamping namja yang terlihat culun. Ya dia adalah Kibum, namja culun yang menutupi kecantikannya dengan kacamata super tebal dan seragam rapi yang terkancing sempurna. Namja paling pintar di sekolah ini, ia mendapatkan beasiswa penuh atas sekolahnya. Kini mereka ada ditahun terakhir dan akan menghadapi ujian kelulusan. Kibum selalu sibuk dengan bukunya, lihat saja sejak Jinki datang ia sudah membaca buku. Ck.. Jinki melipat kedua tangannya dimeja lalu meletakkan kepalanya yang menoleh kearah Kibum.

Jinki memandang Kibum yang serius membaca buku dan menggerakkan bibirnya imut, beginilah Kibum ia tidak akan mengindahkan apapun jika ia sudah serius membaca. Bahkan siapapun yang ditatap Jinki seintens itu sudah pasti akan pingsan ditempat…setidaknya akan berkeringat. Tapi tidak berlaku untuk Kibum, tentu saja ia sudah sangat bosan dengan wajah Jinki. 24 jam ia melihat wajah Jinki lalu apa bagusnya? Ia menyadari keberadaan Jinki disampingnya namun tetap terdiam. Jinki menarik bukunya lalu menutupnya membuat Kibum menoleh dan menatap Jinki tajam.

”Kenapa kau meninggalkanku?”

”Karena kau tidak mau bangun..”

Kibum menarik buku yang diambil Jinki namun Jinki menariknya. Kibum berusaha merebutnya namun Jinki menyeringai lalu mengangkat buku itu semakin tinggi.

”Jinki… tidak lucu..”

”Jangan tinggalkan aku lagi.. janji?”

”Baiklah…”

Jinki tersenyum lalu mengembalikan buku itu, menarik tangan mungil Kibum dan meletakkannya diatas tangannya. Kibum merasakan sesuatu yang berbeda ketika kulitnya menyentuh kulit Jinki. Hey bukankah ini hal biasa? bukankah setiap saat mereka bertengkar yang mengharuskan mereka kontak fisik? Namun entahlah.. Kibum merasa ada yang lain..ditambah saat insiden semalam.. ah kenapa ia harus mengingatnya.

”Anak- anak! buka buku kalian halaman 120.. dan kumpulkan tugas kalian..”

”Neee!!!”

Jung songsaenim memasuki kelas, ia adalah guru Bahasa Inggris sekolah ini.SeoulInternationalHigh School. Sekolah termahal diSeoul. Kibum membuka tasnya dan tersenyum riang mencari buku tulisnya. Ia sudah menyelesaikan tugasnya bahkan dihari pertama ia diberikan tugas tersebut. Namun wajahnya berubah panik saat ia tidak menemukan buku tersebut. Jinki tahu pasti ada yang tidak beres dengannya, lalu ia mengambil bukunya dan memberikannya pada Kibum.

”Ini.. ambillah.. anak sepertimu tidak boleh tidak mengerjakan tugas kan?”

Kibum mengerutkan alisnya bingung saat Jinki menyodorkan buku bersampul coklat padanya. Jika diteliti sudah jelas buku itu adalah tugas Bahasa Inggris miliknya.

”Lalu kau?”

”Sudahlah.. cepat kumpulkan.. kau lupa siapa aku? Jung songsaenim sangat sensitif padamu, ia bisa saja membuat alasan ini untuk menghentikan beasiswamu..”

Kibum mengigit bibir bawahnya, berpikir keras. Ini adalah tugas yang cukup penting, jika Jinki menyerahkan tugasnya bagaimana dengan dirinya? Kibum menatap Jinki ragu, tapi benar juga perkataannya. Jika ia tidak mengumpulkan tugas maka Jung songsaenim akan mencari alasan untuk mencabut beasiswanya. Ia merutuki dirinya karena telah ceroboh meninggalkan tugasnya dimeja belajarnya. Semalam ia bermaksud membaca ulang namun ia justru lupa mengembalikannya kedalam tas.

”Sudah cepat..  aku jamin kau tidak akan mendapatkan nilai jelek. Bahasa Inggrisku tidak buruk kau tahu itu!”

Kibum mendengus malas, oke baiklah ia akui Jinki memang pernah tinggal lama di USA, hal tersebut membuatnya familiar dengan Bahasa Inggris. Dengan setengah hati ia mengambil buku itu lalu maju kedepan dan mengumpulkannya. Jinki mengikutinya dari belakang dan Kibum tidak mengerti.

”Jung songsaenim.. aku tidak mengerjakan tugas..” ucap Jinki malas didepan namja paruh baya ini. Nada bicaranya sangat santai dan terkesan tidak peduli. Ia menunggu jawaban Jung songsaenim yang ia sangat yakin beberapa detik lagi ia akan disuruh keluar. Jinki justru senang jika itu terjadi, ia masih sangat mengantuk dan sangat ingin merebahkan tubuhnya di ruang kesehatan.

Jung songsaenim menatap Jinki bingung. Disatu sisi Jinki bukanlah orang yang suka tidak mengerjakan tugasnya, apalagi pelajaran ini adalah keahliannya. Disisi lain Jinki adalah anak salah satu donatur terbesar yayasan ini.

”Silahkan keluar Jinki goon…”

YES!!!

Jinki berteriak dalam hati, ia keluar tanpa mendengarkan kalimat selanjutnya dari Jung songsaenim.

Benar – benar anak yang tidak tahu sopan santun. Jung songsaenim menahan amarahnya dan mengepalkan tangannya. Kali ini ia tidak membiarkan Jinki seenaknya keluar jam sekolah dan tidak melakukan apapun. Hukuman harus ada dan itu harus adil. Tidak peduli apa kedudukan Jinki disekolah itu. Absolutely sekolah itu adalah milik ayahnya, meski siswa – siswi tidak mengetahui tentang kebenaran ini.

”Kibum beritahu dia hukuman yang aku katakan tadi…”

”Ba-baik songsaenim…”

Kibum mempercepat langkah kakinya mencari Jinki. Sial kenapa ia begitu cepat menghilang! Kibum berfikir tempat yang mungkin akan dikunjungi Jinki..hmmm ya! Ruang kesehatan! Sudah pasti sleepyhead itu akan mencari tempat untuk tidur.

Kibum perlahan membuka pintu ruangan kesehatan dan ia terkejut dengan pemandangan didepannya. Jinki sedang membuka kemejanya dan ada apa dengan wajahnya? Seperti meringis kesakitan? Kibum terpaku ditempatnya memastikan dirinya tidak membuat suara gaduh yang membuat Jinki meyadari kehadirannya. Ia memundurkan sebagian tubuhnya dan mengintip dari balik pintu. Beruntung Jinki tidak menyadari kedatangannya. Ia menutup mulutnya saat melihat ada luka di punggung Jinki yang terbalut perban. Perban itu tidak tertempel dengan benar, Jinki tampak sedang menepuknya perlahan. Kibum tahu akan seperti ini, firasatnya tidak pernah meleset. Berkali – kali ia menyuruh Jinki berhenti melakukan balapan liar.

Kibum memutar tubuhnya keluar dan memutuskan ia akan menggantikan Jinki melakukan hukumannya. Ia bergegas, mempercepat langkah kakinya lalu memasuki ruangan olahraga. Ya hukumannya adalah membersihkan ruangan olahraga, tepatnya ruangan indoor basket. Kibum membuka beberapa kancingnya lalu melipat kemeja bagian tangannya. Membuka kacamata supertebalnya. Yosh! Semangat Kibum! Kau pasti bisa! Ia mencari kain pel lalu mulai membersihkan ruangan besar ini sendirian.

Dilain tempat Jinki masih berada diruangan kesehatan, beruntung saat ia datang, tak lama kemudian dokter sekolah datang dan membantunya menggantikan perbannya. Lukanya masih basah membuatnya merasakan perih yang luar biasa saat alkohol itu menyentuh kulitnya.

Setelah selesai ia kembali memakai kemejanya. Pada akhirnya ia tidak bisa tidur dan memutuskan keluar. Ia melewati ruangan olahraga dan kakinya terhenti ketika mendengar teriakan. Suara yang sangat familiar di kupingnya. Kibum!!

Ia mempercepat langkahnya memasuki ruangan tersebut dan mendapati Kibum yang sedang terpojok, tubuhnya bergetar hebat jelas tersirat ia sangat ketakutan. Tiga namja berseragam lain dari sekolah ini mengelilinginya dan mengunci pergerakan Kibum.

SHIT!

Kibum melepas kacamatanya dan beberapa kancingnya sudah terbuka. Darah Jinki seperti melesat keatas kepalanya, amarahnya bergejolak hebat.

BUGH

 

Satu tonjokkan berhasil ia layangkan pada salah seorang namja yang tidak diketahui identitasnya. Jinki tidak pernah melihat mereka.

”Yah! Siapa kau? Kau ingin sok jagoan huh?” salah satu teman namja yang terkena tonjokan Jinki bergerak maju menghadap Jinki. Jinki mengeraskan rahangnya ia tidak ingin banyak bicara dan membereskan sampah – sampah ini secepatnya. Ia melirik sekilas kearah Kibum yang masih bergetar dengan hebat dan menatapnya dengan takut. Jinki menggelengkan kepalanya menyuruh Kibum pergi. Namun Kibum masih terdiam ditempatnya, ia tidak mampu bergerak.

”Pegangi dia..”

BUGH

Satu pukulan diperut Jinki

BUGH

Satu pukulan lagi di wajah Jinki. Dua orang memelintir tangannya kebelakang tubuhnya. Sontak ia meringis sakit saat merasa luka dipunggungnya kembali terbuka. Ia menahan teriakan kesakitan karena saat ini Kibum sedang melihatnya.

”Lepaskan! Tidak! Toloooong!!!”

Pada akhirnya Kibum berusaha berteriak, berharap ada yang datang menolong mereka. Sekuat tenaga Kibum beranjak dan berlari mencari bantuan. Ia berteriak sangat kencang dengan air mata yang menetes dipipinya.

”Shit! Ayo kita pergi!”

Ketiga namja ini yang tidak lain adalah siswa dari sekolah lain memutuskan melepas Jinki yang saat ini terkulai tidak berdaya. Jinki berusaha berdiri dan mencari Kibum. Kibum kembali dengan membawa beberapa orang, lalu semuanya gelap..Jinki tidak sadarkan diri.

.

.

.

”Ahh..”

Jinki meringis sakit saat Kibum menyuruhnya dengan paksa membuka kemejanya. Ini saatnya Jinki mengganti perbannya. Setelah insiden kemarin Kibum tidak banyak bicara. Ia masih merasa syok dengan apa yang terjadi, ia hampir saja menjadi korban pelecehan ditambah melihat sahabatnya dipukuli didepannya. Cukup membuatnya frustasi.

”Diamlah.. nanti lukamu tidak kering..”

”Ini perih Kibummie…” jawab Jinki pelan seperti berbisik.

”Jika tidak ingin terluka berhentilah melakukan balapan!”

Suara Kibum semakin bergetar. Ia merasa matanya panas. Melihat Jinki tersiksa seperti ini rasanya hatinya ikut sakit.

Jinki menoleh dan melihat Kibum yang sedang menempelkan perban baru ke bahunya. Jemarinya menyentuh kulit Jinki pelan, membuat gerakan yang sangat lembut saat merawat Jinki. Tidak lama terdengar isakkan kecil dari mulut Kibum. Ia menggigit bibirnya dan tangannya yang bergetar menekan perban di bahu Jinki.

Jinki menghela nafas nya berat. Kibum tidak banyak bicara sejak kemarin dan terlihat sangat sedih. Jinki sudah meminta maaf karena tidak memberitahu perihal lukanya namun terlambat Kibum masih marah padanya. Kibum hanya bicara pada Jinki seperlunya saja.

Jinki kemudian menarik tangan Kibum dan membuatnya terduduk disampingnya. Kibum menunduk memilih melihat lantai dan tetap menutup mulutnya. Jinki menarik dagu Kibum menyuruhnya melihatnya.

”Kibum… maaf…”

Kibum memberanikan dirinya menatap mata Jinki. Ia hanya tidak kuat melihat Jinki sangat menderita dan luka – luka itu? Ia dapatkan dari balapan liar? Memangnya seberapa besar untungnya perlombaan liar itu jika ia menang? Kibum terus bertanya pada dirinya. Namun ia tetap memilih mengunci rapat – rapat mulutnya.

”Kibum…..” lagi dengan suara yang sangat lembut Jinki mengelus pipi Kibum dengan ibubjarinya.

”Hiks..”

Jinki menarik tubuh sahabatnya ini kedalam pelukannya. Kibum sedikit memberontak namun Jinki semakin mengeratkan pelukannya. Jinki merasa lehernya basah oleh airmata Kibum. Ia menaikkan tangan kanannya dan membelai punggung Kibum.

”Jinki… bodoh…” Kibum membalas pelukan Jinki dan semakin terisak dalam pelukan hangat sahabatnya ini.

”Maafkan aku Kibum… lain kali jangan pergi sendiri meski di sekolah kau harus terus berada disampingku.. arrasseo?”

”Hmmm…”

Kibum berdengung pelan menjawab Jinki, ia masih belum bisa mengeluarkan suaranya. Jinki mendorongnya dan melepaskan pelukan hangat itu. Jinki menaikkan tangannya menyentuh pipi Kibum yang memerah. Kibum terdiam, tubuhnya menegang. Jantungnya berdegup sangat cepat saat tiba – tiba Jinki mendekatkan wajahnya. Seolah waktu terhenti, Kibum menahan nafasnya saat wajah Jinki semakin dekat. Bibir itu bertemu, tangan Jinki memegang leher Kibum. Ia memiringkan kepalanya. Kibum meremas baju Jinki dan terdiam tak mampu bereaksi saat dengan lembut Jinki menggerakkan bibirnya.

Dadanya bergemuruh kencang namun bagian dalam dirinya juga tidak menolak. Kibum menutup matanya seperti Jinki mengikuti nalurinya. Ia membiarkan Jinki menciumnya dan terus menciumnya. Memperdalam ciumannya Kibum memundurkan tubuhnya hingga ia terbaring diatas ranjang Jinki. Jinki masih tidak melepas tautan bibir mereka, tangannya membelai leher Kibum, mengusapnya dengan ibu jarinya.

”ahh…”

Kibum membuka mulutnya saat ia merasakan tangan Jinki menelusup kebalik piyamanya. Jinki sudah berada diatas tubuhnya, merasakan tubuh mereka menempel satu sama lain. Jinki menuruni tangannya mengusap paha Kibum membuat namja cantik ini membuka kakinya semakin lebar.

Jinki menerobos mulut Kibum dan mengajak lidah Kibum untuk menari bersamanya. Ciuman yang sangat lembut kini berubah menjadi penuh nafsu. Jinki tak mampu menahan dirinya saat ia membuka matanya melihat wajah Kibum yang memerah dan terlihat sangat cantik.

”Ngghh.. Jinki..berhenti…”

Seperti ada batu memukul kepalanya, Jinki tersadar dengan apa yang ia lakukan. Ia menarik wajahnya, melepaskan tautan bibirnya. Memandang Kibum yang berada dibawahnya. Sejak kapan ini terjadi? Bagaimana bisa? Jinki tidak mengerti dengan dirinya.. pikirannya melayang. Bagaimana jika Kibum marah padanya? Membencinya?

”Maaf…maafkan aku..”

Jinki berdiri lalu keluar kamar, meninggalkan Kibum yang terdiam lalu ia kembali menangis. Menangisi sesuatu yang ia tidak mengerti. Mengapa Jinki seperti itu padanya? Namun mengapa tubuhnya tidak menolak sama sekali? Kibum menekuk lututnya, menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya…. menangis.

=====***=====

Hari ini adalah hari dimana aku akan mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan uang. Bukan berarti aku tidak bisa menghasilkan uang dari cara lain, seperti meminta pada appa. Berapapun jumlah yang kusebut, tidak sampai satu menit jumlah itu akan sampai direkeningku. Namun kali ini berbeda, aku hanya ingin memperoleh uang itu dengan hasil jerih payahku sendiri.

Setelah kejadian malam itu, aku dan Kibum menjadi sangat aneh. Tidak satupun diantara kami yang berani membahasnya. Lalu hal itu berlalu begitu saja seolah tidak pernah terjadi. Meski aku tahu dari sirat mata nya ia marah padaku. Kibum masih membuatkanku makanan saat malam aku pulang, dan dia sudah terlelap. Lalu di pagi hari ia sudah membuatkan sarapan dan ia berangkat lebih pagi. Hubungan kami menjadi aneh dan canggung. Bukan ini yang kuinginkan. Hal yang paling kutakutkan terjadi.. aku kehilangan Kibumku…my best friend.. and unfortunately i’m falling in love with him.

Aku menghidupkan mesin motor ninjaku. Menarik gasnya menimbulkan suara gaduh. Aku mengeratkan helm dan menatap lurus kedepan. Jalan terjal dan belokan yang tajam. Tidak masalah..karena aku telah beratus kali melewati lintasan ini. Aku pasti bisa dan memenangkan hadiahnya. Ya..Kibum setelah ini aku akan mengungkapkan perasaanku.. tidak peduli jika kau akan menolakku. Aku mencintainya…dan akan selalu mencintainya.

.

.

.

Aku berlari sekuat tenaga..semakin kencang ku berlari semakin kuingin menangis. Aku mencari lintasan dimana Jinki akan melakukan hal gila. Ia mengikuti balapan liar lagi. Aku mengetahuinya saat tiba – tiba Taemin mengirim sms ke handphone Jinki yang tertinggal dikamar. Aku tahu apa yang kulakukan salah saat handphone itu mendapat sms aku membukanya. Aku pikir hari ini aku harus bicara padanya tentang perasaanku yang sesungguhnya. Aku tak peduli jika ia hanya ingin mempermainkanku.

Hyung! Jangan pergi! Cuaca hari ini buruk..lintasan akan sangat licin…! ini akan sangat berbahaya..batalkan saja!

 

Aku tidak percaya dengan yang kubaca, jadi ini alasan Jinki? Ia pulang larut malam dan meninggalkan bercak noda di pakaiannya bahkan tidak jarang ada noda darah. Jelas sekali luka itu belum sembuh. Dadaku semakin sesak, aku memberanikan diri menelpon Taemin lalu aku mendapatkan lokasi persis dimana Jinki  melakukan aksi nekadnya.

Sebenarnya apa yang ada dipikiranmu Jinki? Sebenarnya ada apa dibalik balapan itu? Aku terus berlari mencari taksi. Namun tidak ada yang lewat! Shit! Airmataku sudah turun bahkan hanya membayangkan jika sesuatu terjadi padanya. Kakiku gemetar dengan hebat. Jinki ..please…

.

.

.

Aku menarik gasku kencang saat pluit ditiupkan. Tanpa ragu aku menaikkan kecepatanku.. 20…40..60…80…120.. terus melaju meski kurasa jalanan malam ini agak lebih licin. Aku tidak peduli, akuu harus memenangkan pertandingan ini.

Belokan pertama aku mampu melewatinya dengan baik. Aku tersenyum puas karena aku lihat tidak ada satupun yang berhasil menyusulku. Aku semakin mempercepat lajuku saat di lintasan lurus.

Ahh!

Kepalaku tiba – tiba terasa pusing. Tidak.. aku tidak bisa berhenti disini. Aku harus bertahan. Kini tersisa satu putaran lagi dan aku yakin aku mampu melewatinya. Tunggu aku Kibum.. aku akan membawa hadiah itu untukmu. Besok kau ulang tahun kan? Aku ingin melihat senyummu lagi. Senyum yang hanya kau berikan untukku.

.

.

.

Kibum terus berlari, ia pada akhirnya tiba di lokasi dimana Jinki melakukan aksi gilanya. Udara malam yang dingin menusuk tulangnya. Ia berhasil sampai dan menabrak bahu beberapa tubuh manusia yang sedang membicarakan taruhan mereka perihal siapa yang akan menang. Kupingnya jelas mendengar nama Lee Jinki disebutkan sebagai salah satu kandidat kuat sebagai pemenang. Detak jantung Kibum bahkan semakin cepat menanti Jinki di garis finish, tangannya menyetuh dada kirinya seolah menyuruh untuk jantungnya diam namun yang terjadi adalah sebaliknya. Ada kilatan lampu di ujung jalan. Apakah itu Jinki? Apakah ia tidak apa – apa? Kibum melangkahkan kakinya semakin dekat penghujung garis finish.

Secepat angin Jinki mendapatkannya. Ia meraih juara pertama. Decitan kuat aspal dengan roda motornya membuat Kibum memejamkan matanya sejenak lalu membukanya lagi. Sosok itu… turun dari motor ninja merah nya, lalu membuka helmnya dan tersenyum senang. Kibum terus memperhatikan Jinki dan melangkahkan kakinya mendekati tempat Jinki berdiri yang sibuk dipeluk teman – temannya lalu disertai riuh penonton yang memenangkan taruhannya atas Jinki.

Jinki masih dipeluk dan diangkat teman –temannya hingga akhirnya ia menyadari Kibum datang dan kini ada dihadapannya, menatapnya.

Jinki merasa pusing di kepalanya semakin menjadi. Bahkan ia melihat lama Kibum didepannya. Ia melangkah sekuat tenaga lalu tersenyum, matanya tidak lepas menatap namja cantik yang ia cintai ini. Kibumpun melangkah semakin mendekati arah Jinki. Dengan sisa tenaga yang ada Jinki berjalan, teman – temannya hanya diam melihatnya karena mereka tahu apa yang akan Jinki lakukan.

Bugh~

Jinki jatuh dalam pelukan Kibum. Tangannya melingkar dipinggang sahabatnya ini. Kibum merasa aneh, Jinki tidak biasanya terlihat seperti ini jika ia tidak sedang.. SHIT! Kibum memegang kening Jinki, suhu tubuhnya sangat panas. Jinki menopang dagunya di bahu Kibum dan bergumam.

”Selamat ulang tahun..Kibummie….”

Jinki tak sadarkan diri.

=====***=====

 

Kibum terus mengusap peluh yang ada dikening Jinki. Jinki menggigil kedinginan, tubuhnya gemetar. Kibum bingung harus melakukan apa. Hanya satu yang ada dipikirannya. Ia menyibak selimut tidur Jinki lalu berusaha masuk dan memeluk Jinki. Meski saat ini jantungnya berdegup sangat kencang merasakan hembusan nafas Jinki yang panas di lehernya. Ia memeluk Jinki erat hingga akhirnya Jinki berhenti gemetar dan tertidur dengan tenang.

”Eumhh..”

Kibum merasakan silau matahari menusuk matanya membuatnya tersadar. Ia menoleh dan tidak mendapati Jinki disampingnya. Hanya ada note kecil dimeja kecil samping ranjang.

Dear Kibum..

 

Aku keluar sebentar.. kau bersiaplah mandi..aku sudah buatkan roti selai dan susu coklat dimeja. Jangan lupa dimakan..arra?

 

~Jinki~

Kibum membuka mulutnya tidak percaya! Jinki kau sebenarnya otakmu terbuat dari apa? Ia masih panas semalam dan ketika membuka mata Kibum sudah tidak melihatnya. Sebenarnya apa yang ia rencanakan?!

Kibum berjalan lemas dan masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Ck.. masih ada garis hitam dibawah matanya, terang saja semalaman ia terjaga hingga pukul 04.00 pagi dan sekarang baru pukul 07.00 pagi. Bayangkan hanya tidur tiga jam tentu sangat tidak cukupkan? Kibum memutuskan untuk mandi dan bersiap memberikan pelajaran berharga untuk sahabatnya yang bodoh itu sepulangnya nanti. Sudah membuatnya khawatir semalaman, lalu seenaknya ia pergi? Kibum melirik meja kecil yang telah tersedia roti dan susu coklat, tanpa sadar ia tersenyum..”Jinki… bodoh…”

.

.

.

Dengan tubuh  yang masih lemah, Jinki menunggu dengan gusar di dalam sebuah cafe. Ia membuat janji untuk bertemu Taemin, adiknya. Sebelumnya Jinki sudah menyuruh Taemin mengambil uang hadiah hasil balapannya dan membelikan uang tersebut sebuah benda yang Jinki inginkan. Ya.. hadiah untuk Kibum. Ia malas pergi membelinya, lagipula Taemin sangat mengerti dalam hal ’benda’ yang Jinki inginkan. Jinki berulang kali melirik jam tangannya dan memijit pelipisnya, tubuhnya masih lemah dan bibirnya masih pucat. Mengingat bagaimana ia bangun tadi pagi dengan Kibum yang memeluknya dengan erat membuat senyumnya tidak terhenti sejak tadi. Dengan wajah agak pucat dan terkadang tersenyum seperti orang bodoh.. sepertinya itu agak mengerikan.

“Ya! hyung.. berhetilah tersenyum seperti orang bodoh!”

Taemin datang menepuk bahu Jinki yang sedang asik mengingat moment tadi pagi. Ia mencibir pelan saat Taemin malah mentertawakannya dengan nada yang meremehkan. Lalu adiknya yang bisa dikatakan –wow so flawless and beauty face- ini duduk dihadapan Jinki dan memberikan sebuah kotak berisikan benda yang Jinki minta sejak lama.

”Hyung.. itu sudah sejak lama aku membelinya, well.. uang hadiahmu lebih baik kau simpan saja.. kau membutuhkannyakanhyu-

“Tidak Taemin… aku ingin memberikan ini untuknya dengan jerih payahku.. bukan uang appa… ambillah uang itu… dan maaf aku merepotkanmu..”

Taemin menghembuskan nafasnya berat, tidak habis pikir bagaimana bisa hyungnya yang dahulu sangat menyebalkan, egois, dan kekanakkan bisa berubah seperti ini? Apakah sahabatnya yang bernama Kibum itu punya ilmu sihir? Aish… taemin mulai berfikir hal – hal aneh, pengaruh film Harry Potter masih ada di otaknya.

“Tapi hyung… kapan kau pulang ke rumah? bahkan liburan pun kau tidak pulang?Appa menanyakanmu… dan aku juga bosan di rumah sendirian… tidak ada yang bisa aku ganggu..”

“Maksudmu dengan merusak motor ku huh? kau ini adik yang sangat manis namun sayang kau juga sangat gila Taemin-ah..”

Kebiasaan Taemin,iasangat maniak dengan hal otomotif, pernah suatu kali ia penasaran dengan motor Ninja Jinki yang terparkir di garasi rumah. Taemin sangat ingin memodifikasi motor hyungnya itu, awalnya niat nya baik.. namun entah bagaimana saat Taemin membongkar motor itu, ia tak bisa lagi merakitnya. Alhasil motor Jinki dalam waktu 30 menit saja berubah menjadi tumpukan besi..rongsokan. Jinki histeris dan mengejar Taemin hingga dapat saat itu. Bukan..bukan karena motor itru mahal atau keluaran yang terbatas, namun saat itu seharusnya ia ada jadwal balapan. Jinki mengejar Taemin ke penjuru rumah dan berteriak, sedangkan Taemin berlari sekuat tenaga menyelamatkan nyawanya. Jinki akan menjadi sangat buas jika sudah berurusan dengan motor kesayangannya. Well.. itu hanya pertengkaran biasa adik dan kakak, faktanya Jinki tidak pernah bisa benar – benar marah pada Taemin. Meski memang adiknya ini sama gila nya dengan dirinya, tetapi Taemin sejak lahir sudah tidak merasakan kasih sayang sang umma, sehingga Jinki sangat dekat dengannya. Ia berjanji pada mendiang umma nya untuk menjaga adiknya ini.

”Yah! hyung! aku kan sudah minta maaf…” Taemin mendesis kesal. Ck.. apa harus ia mengatakan alasan sebenarnya jika ia merindukan hyungnya ini? No..No.. itu terlihat memalukan baginya.

”Lagipula… jika aku lihat tanda merah di lehermu itu….” Jinki beranjak dan mendekati kepalanya ke wajah Taemin lalu mendelik ke leher putihnya yang tertutup syal.

SHIT!

Wajah Taemin memerah dan merapatkan syalnya dan berdehem menetralkan rasa malunya.

”Bawa kekasihmu itu kehadapanku segera… dan jangan melakukan hal yang lebih dari itu.. atau….. kekasihmu akan berakhir mengenaskan…” bisik Jinki di telinga Taemin. Membuatnya bergidik.

”A-apa maksudmu hyung.. i-ini hanya gigitan nayamuk… ah sudahlah ayo pergi..kuantarkan kau ke asrama, wajahmu seperti alien hyung sangat pucat..”

Taemin berdiri dan menarik hyungnya in ke parkiran mobil. Mengabaikan tatapan menuntut Jinki, ck.. bahkan ia merasakan panas di punggungnya saat Jinki menatapnya dari belakang.

======****=======

Kibum menunggu dan menunggu.. sudah pukul 10 dan Jinki belum juga pulang. Sudah tiga jam ia pergi. Kibum mengingat semalam saat Jinki mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ck.. lalu langsung tak sadarkan diri? benar – benar tidak manis.. tunggu? manis? kenapa harus manis? Ah.. Kibum merutuki dirinya karena pikiran anehnya. Ia dan Jinki hanya sahabat dan tidak lebih. Lagipula Jinki tak pernah berkata apapun semenjak kejadian itu, atau dirinya yang sibuk menghindar dan tidak memberikan kesempatan namja bermata sipit itu menjelaskan alasannya? Atau … ia hanya takut.. Ia takut jika Jinki mengatakan sesuatu yang tidak ia suka. Mengatakan jika itu tidak ada artinya. Bagi Kibum, ciuman Jinki malam itu bukan hal yang bisa ditolerir dalam persahabatan. Meski ia akui ia tidak menolaknya saat itu. Ia menginginkannya.. dan Kibum tersadar ia jatuh cinta.. Ia jatuh cinta pada sahabatnya sendiri..Lee Jinki.

KLEK

Pintu terbuka dan masuklah sosok yang ia tunggu sedari tadi dan tersenyum lebar. Sedangkan Kibum berdiri dan melipat tangannya di depan dada mengerucutkan bibirnya kesal dan menatap tajam Jinki yang kini terlihat kikuk di depannya.

”Ki-Kibum.. kau sudah bangun?”

“Apa aku terlihat sedang sleepwalking?” jawab Kibum kesal.

Bodoh… dibalik nada kesal itu tersimpan rasa khawatir, tentu saja ia sangat khawatir ditambah yang ia lihat sekarang justru menambah kekhawatirannya. Jinki masih terlihat pucat dan bibirnya sangat kering.

Jinki mendekat dan mendekat, langkahnya terhenti tepat di depan Kibum. Jarak yang sangat dekat hingga keduanya bertatapan. Tatapan Jinki sangat lembut dan ia tersenyum. Kibum masih terdiam lalu perlahan menurunkan dekapan tangannya yang ia lipat tadi, berfikir sebenarnya apa yang diinginkan sahabat bodohnya ini.

”Tutup matamu..”

”Untuk apa…?” Kibum menautkan alisnya, heran.

”Lakukan saja….”

Baiklah, daripada ini semakin panjang, Kibum menurutinya dan menutup kedua mata kucingnya. Tak lama kemudian ia merasakan hangat menyelimuti tubuhnya.seseorang memeluknya.. dan itu adalah Jinki. Ia masih bisa merasakan tubuh Jinki yang panas. Rasanya Kibum ingin meneriaki Jinki dan memakinya sampai malam. Namun mulutnya tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dekapan Jinki terasa sangat berbeda kali ini, ia merasakan hembusan hangat nafas Jinki di lehernya. Jinki semakin mengeratkan pelukannya seolah ingin pergi jauh. Kibum menyenderkan dagunya di bahu Jinki lalu membalas pelukan sahabatnya ini melingkarkan tangannya di leher Jinki. Beberapa saat hening, hanya saling merasakan kehangatan tubuh masing – masing. Tentu saja debaran jantung mereka saat ini.

”Selamat ulang tahun …. maafkan aku…. dan tetaplah bersamaku..”

Bisik Jinki lembut, semakin mengeratkan pelukannya di tubuh mungil Kibum. Kibum tak mengerti apa maksud Jinki, ia hanya bisa mengangguk didalam pelukan Jinki.

”Sekarang.. tutup matamu…aku akan melepaskan pelukanku, asal kau berjanji menutup kedua matamu sebentar saja..” bisiknya lemah.

”Ne~..”

Kibum menutup kedua matanya, lalu merasakan kehangatan yang meyelimuti tubuhnya perlahan menghilang dan ia tidak menyukainya. Jinki melepaskan pelukannya dan ia tidak tahu apa maksud Jinki menyuruhnya seperti ini.

Jinki mengarahkan Kibum untuk duduk di lantai didepan meja kecil tempat mereka biasa mengerjakan tugas atau makan. Kibum duduk dan masih memejamkan matanya.

”Jangan membuka matamu sampai kusuruh okay? atau kau akan mendapatkan hukuman..”

Kibum tersenyum malas dan mengangguk. “Asal kau tidak merusak bukuku dan berniat kabur sekarang Jinki…”

Jinki terkekeh mendengar jawaban Kibum. Dasar.. ia tak pernah berubah,, bagaimanapun juga buku – buku tebal itu terasa lebih berharga dari dirinya. Ck..

“Sekarang bukalah matamu…”

Kibum membuka perlahan, dan melihat Jinki didepannya yang masih tersenyum.Lalu ia melihat kue tart kecil dengan dihiasi strawberry diatasnya. Sangat cantik. Kibum tersenyum melihat kue tart itu. Jujur saja ia tak pernah merayakan ulang tahun sepanjang hidupnya, jangankan merayakan meski hanya dengan kue kecil seperti ini, ada yang mengucapkan padanya saja itu sudah membuatnya sangat bahagia.

Panas.

Kibum merasa matanya panas, sepertinya sebentar lagi ia akan menangis. Jinki didepannya menarik sebelah tangannya dan menggenggamnya.

”Ayo make a wish… tiup lilinnya…” ucap Jinki lembut.

Kibum memejamkan matanya beberapa saat lalu meniup lilin itu. Jinki bertepuk tangan heboh..”Yeiiiy…. Kibum.. apa yang kau minta tadi?”

“Rahasia ! bodoh…”

Ya Tuhan… biarkan aku bersama Jinki selamannya..

“Aish.. jinjja.. pelit sekali…”

Kibum menggelengkan kepalanya, mengejek Jinki dengan wajah yang dibuat – buat.

Jinki hanya tertawa melihat sahabatnya ini. Lalu ia mengeluarkan kotak, sebuah kotak yang tidak terlalu besar. Kotak berwarna merah.

”Apa ini..?”

”Hadiah… tentu saja.. apa lagi? bukalah… semoga kau menyukainya…”

Kibum membukanya, dan menutup mulutnya terkejut. Sebuah Notebook berwarna peach. Sangat bagus dan terlihat..mahal.Kibum menatap Jinki dan menyipitkan matanya.

“Dari mana kau mendapatkan uang untuk membeli ini?jangan bilang kau mencuri?atau… omo!”

Kibum baru teringat, Jinki mengikuti balapan itu dan tentu saja mendapatkan hadiah berupa sejumlah uang. Kibum sempat melihat banner yang menuliskan perihal hadiah yang akan di dapatkan pemenang malam itu. Lalu Kibum mengingat lagi kejadian terdahulu, jadi selama ini Jinki pulang larut dengan pakaian yang kotor, dengan luka di tubuhnya, hanya untuk dirinya? untuk membeli benda ini? Kibum menatap Jinki dan menggigit bibir bawahnya, tak mengerti apa yang harus ia katakan. Seharusnya saat ini ia meloncat senang karena ia mendapatkan benda yang sangat ia butuhkan. Apalagi untuk masa kuliahnya nanti. Namun, jika mengingat bagaimana Jinki mendapatkan mini laptop ini untuknya, membuat mata nya memanas lagi sekarang. Ia tidak bisa untuk tidak menyayangi sosok didepannya ini yang hanya tersenyum bodoh memamerkan gigi kelincinya.

”Kenapa? kau tidak suka? a-apa ini jelek? Kibum..?”

Bukannya mendapatkan jawaban, justru Kibum berdiri lalu menghampiri Jinki lalu menarik tangan Jinki, membuat Jinki berdiri, beberapa saat kemudian yang ia rasakan adalah Kibum memeluknya dengan sangat erat. Melingkarkan tangannya di lehernya, dan merasakan basah di lehernya. Kibum menangis, ya ia menangis karena hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang, ia tidak tahu harus berkata apa. Baginya Jinki adalah segalanya, sahabat yang sangat mengerti dirinya dan seseorang yang sangat ia cintai.

Jinki menarik tubuh Kibum, namun Kibum menolak dan semakin mengeratkan pelukannya menggeleng keras, memberi tanda ia tidak ingin melepaskan pelukannya. Jinki mengerti, dan membalas pelukan Kibum, mengusap pelan punggungnya. Tangisan Kibum berhenti, lalu ia melonggarkan pelukannya namun tangannya masih melingkar di leher Jinki. Ia harus mengatakannya, sekarang atau tidak sama sekali. Ia tidak peduli jika mungkin Jinki hanya menganggapnya sahabat, yang ia butuhkan sekarang adalah melepaskan perasaannya.

”Jinki… dengar…aku..aku.. aku menyukaimu…”

Dengan suara bergetar dan jantung yang berpacu sangat cepat Kibum mengatakannya, lalu memejamkan matanya kuat, menunggu jawaban Jinki. Namun ia tidak mendengar apapun, samapai ia merasakan nafas Jinki di depan wajahnya. Tidak ada jarak diantara mereka dan sedetik kemudian Kibum merasakan lagi bibir Jinki menyentuh bibirnya, bergerak pelan. Jinki memiringkan kepalanya, dan mengecup bibir apple itu dengan lembut. Meski bibirnya kering saat ini, dan terasa panas menjulur ke seluruh tubuhnya. Kibum membalasnya. Kibum membuka sedikit bibir nya, sehingga Jinki bisa menyesap bibir bawah Kibum, bergantian…Kibum menyesap bibir Jinki.

Entah siapa yang memulai, mereka berjalan dengan bibir yang masih bertautan dan semakin dalam. Menjatuhkan tubuh mereka di atas ranjang milik Jinki. Jinki berada diatas tubuh Kibum, menautkan kedua tangan mereka di sisi kepala Kibum dan masih melanjutkan ciuman itu. Jinki menyanggah tubuhnya dengan lututnya sehingga berat tubuhnya tidak langsung terasa oleh Kibum. Suara kecapan memenuhi kamar asrama mereka, hingga beberapa saat Jinki melepaskan tautan bibirnya. Ia menatap Kibum tanpa ekspresi.

”Tapi… aku tidak menyukaimu….”

HUH?

Kibum mengerjapkan matanya pelan, mencoba mencerna apa yang dikatakan Jinki, ia bilang uia tidak menyukainya? lalu apa artinya tadi? apa ia bermaksud mempermainkanku? untuk apa ia menciumku? Berbagai pikiran berputar di kepalanya.

Kibum masih terdiam menatap sosok yang berkata tidak menyukainya ini yang masih berada diatas tubuhnya, lalu beberapa saat kemudian ia tersenyum dan mendekati wajahnya lagi dengan senyuman penuh makna. Ck! Kibum benar – benar sudah tidak mengerti!

”Aku.. tidak menyukaimu.. tapi aku… mencintaimu…”

Bisik Jinki di telinga kanan Kibum. dan kini mata mereka terkuci satu sama lain, Kibum tersenyum manis dan menarik tengkuk Jinki, melanjutkan ciuman tadi hingga mereka lelah.

”Kibum…dingin…”

Kibum memegang kening Jinki, dah yeah! Panas luar biasa! bahkan lebih parah dari tadi.Jinki terserang demam lagi. Kibum mendorong tubuh Jinki dan merebahkan tubuhnya di ranjang, menarik selimut, namun Jinki menarik pergelangan tangannya.

“Tidurlah bersamaku… seperti kemarin malam.. aku kedinginan Kibum…”

BLUSH

Pipi Kibum enath sejak kapan memerah, kemarin ia tidak sadar, sehingga ia merasa tidak masalah memeluk Jinki semalaman, namun saat ini Jinki dalam keadaan sadar memintanya tidur bersamanya?

“Yah.. kau harusnya ganti baju dulu… itu kan ko- kyaaa~”

Jinki menarik Kibum yang kini terbaring di sampingnya.

”Aku… tidak ada tenaga… tolong gantikan…”

BLUSH

Jinki sialan.. ia membuat Kibum terdiam.

“Sudahlah.. lebih baik kita tidur langsung saja..”

Jinki tersenyum penuh kemenangan, sudah dipastika Kibum tidak berani membuka bajunya. Lali ia mengeratkan pelukannya di pinggang Kibum. Sesekali Kibum mengusap keringat Jinki. Berkali – kali Kibum ingin beranjak mengambil obat dan kompres, namun Jinki melarangnya dan malah semakin memeluknya hingga ia tertidur bersama.

======***=======

3 tahun kemudian…

Segalanya berubah. Kim Kibum dan Lee Jinki terpisah. Ternyata malam itu, adalah hari terakhir Kibum tidur bersama Jinki, malam terakhir ia merasakan kehangatan tubuh Jinki.

Jinki pergi… ya… ia pergi ke USA. Ia kembali kesana. Jinki bersikeras mengajak Kibum bersamanya, namun Kibum menolak. Ia bukanlah tipe orang yang mau menerima kebaikan orang lain. Orang lain? Jinki adalah separuh jiwamu Kibum… but yeah.. ia tidak bisa meninggalkan keluarganya disini. Neneknya yang merawatnya sejak kecil. Ia akan tetap bertahan di Korea, dan mereka membuat janji suatu saat nanti mereka akan bertemu lagi. Jinki pergi ke USA melanjutkan sekolah disana dan kuliah disana. Saat itu, tiba – tiba saja appa nya terkena serangan jantung. Ia sebagai anak sulung, tidak ada pilihan selain melanjutkan sekolahnya di sana dan demi menuntut ilmu untuk melanjutkan perusahaan appanya.

Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tapi mereka mampu melewatinya. Tiada hari tanpa saling mengirim email, foto bahkan telpon sebelum tidur. Jarak jadi tidak berarti bagi keduanya. Setiap malam Jinki akan menyuruh Kibum untuk tidak melepas kacamata tebalnya dan tetap berpenampilan seperti semasa sekolah. Ck.. tentu saja Jinki khawatir kekasih sekaligus sahabatnya ini akan mencuri perhatian namja lain, atau bahkan buruknya Kibum akan direbut darinya. Kibum hanya tertawa melihat tingkah Jinki yang sangat posesif namun sejujurnya ia sangat menyukainya.

Lalu… belakangan ini ada yang salah. Sudah tiga hari Jinki tidak dapat dihubungi, email tidak dibalas, handphone nya tak dapat dihubungi, semua akses terhambat bahkan ia menelpon kampus Jinki, namun ia tidak mendapatkan jawaban yang pasti.

Ini hari ke empat. Hari ke empat tanpa telpon Jinki, tanpa suara Jinki, tanpa email dan tanpa video call. Kibum merasa ada yang aneh, mood nya hari ini rusak. Sampai – sampai kacamata nya terjatuh tadi dan terinjak. Sekarang ia berjalan tanpa kacamata, dan memperlihatkan kedua mata indahnya yang tajam. Matanya masih bisa melihat dengan baik, setidaknya tidak sampai membuatnya jatuh atau menabrak orang. Hanya saja masalahnya mungkin ia akan kesulitan membaca. Mengingatkannya pada masa lalu nya saat pertama bertemu Jinki.

”Auw..”

KREK~

Pecah.. kacamata itu terinjak. Kibum menatap sosok didepan ruangan yang sama dengannya yang juga melihatnya dengan pandangan aneh.

”Maaf..”

”Ah sial sekali..kacamataku.. aku tidak bisa membaca dengan baik nanti..” Kibum bergumam.

Maaf.. nanti akan ku ganti..aku Jinki..sepertinya kita sekamar..” Jinki mengulurkan tangan kanannya memperkenalkan diri. Yah setidaknya ia tidak berkata kasar pada sosok yang ia akui memiliki mata terindah yang pernah ia lihat selama ini.

 

That beautiful eyes

Make something wrong with my heart

That time.. my heart was stolen by your eyes..

 

 

”Ne.. tidak apa – apa.. aku Kibum..”

 

Pertama kali mereka berkenalan. Awalnya terasa canggung, namun kelamaan Kibum mengetahui kebiasaan Jinki, sifatnya.. temperamennya. Ia mulai mempelajari sifat Jinki dan kebiasaannya. Jinki bukan anak yang ramah, namun ia juga tidak akan menganggu siswa lain jika ia tidak diganggu. Kibum yang memiliki penampilan biasa saja, well tidak seperti siswa siswi lain yang merupakan kalangan atas, membuatnya sulit untuk beradaptasi.

”Apa yang kau lakukan?”

”Uh?”

”Ayo makan bersamaku…”

”Apa?”

”Kau tidak tuli kan?”

 

Ketus dan menyebalkan, namun Kibum tidak mempermasalahkannya, setidaknya Jinki masih mau menegurnya. Sejak saat itu mereka akan makan bersama dan pelang bersama. Semakin lama semakin dekat. Siswa lain sangat heran, namun Jinki dan Kibum tidak mempedulikannya, mereka seperti memiliki dunianya sendiri. Semakin dekat hingga bisa dikatakan mereka adalah soulmate.. sahabat.

Kibum tersenyum manis mengingat bagaimana ia mengenal Jinki dan hingga saat ini. Ia merenung apa yang sedang Jinki lakukan sekarang? Apa ia sudah makan ? apakah kuliahnya lancar? Apakah ia baik – baik saja? atau terjadi sesuatu dengannya sekarang sehingga membuatnya tidak bisa dihubungi beberapa hari ini.

 

Kibum berjalan melewati lorong kampus yang masih sepi, well ini masih terlalu pagi untuk jam masuk kelas. Hingga ia merasa menabrak seseorang.

BUGH~

”Ah mianhamida~….”

Kibum membungkuk meminta maaf, tak berniat melihat siapa yang ia tabrak dan berlalu meninggalkan orang itu tanpa ekspresi.

”Apa kau tidak merindukanku..Kibum?”

huh?

DEG

Kibum merasa mendengar suara familiar dikupingnya. Jinki? Atau ia sedang berkhayal sekarang? Kibum masih terdiam ditempatnya tak berani menoleh, takut jika ia menoleh yang ia temui hanya ilusi. Hanya keinginannya yang begitu besar untuk bertemu Jinki sekarang juga. Namun tak lama kemudian ia merasakan tangan melingkar di pingganganya dari belakang memeluknya. Tubuh Kibum menegang, ia tahu siapa ini. tentu saja aroma tubuh Jinki yang selalu ia ingat dan caranya memeluknya.

Kibum menoleh dan mengangkat tangan kanannya dan meraba pipi sosok yang memeluknya ini.

”Kejutaaan….” bisik Jinki

Mata Kibum terasa sangat panas, Jinki nya pulang dan kini ada dibelakangnya memeluknya. Kibum melepaskan tautan tangan Jinki di perutnya, berbalik lalu menarik Jinki kepelukannya. Mendekapnya erat, dan tersenyum lega. Jinki mengangkat tubuh Kibum dan memutarnya, membuat Kibum semakin mengeratkan pelukannya dan kedua nya tertawa.

”Jinki…. bodoh….”

”Aku juga merindukanmu…”

”Aku tidak berkata seperti itu..”

”Tapi matamu berkata seperti itu Kibummie…”

 

Aish.. apakah sejelas itu? kenapa Jinki selalu mengerti Kibum? mengapa Jinki selalu menyadari apapun yang Kibum rasakan? Mungkin karena Jinki adalah sahabatnya… yang menjadi kekasihnya.

”Jadi.. bisa jelaskan padaku?”

”Huh?” Kibum mengerutkan alisnya bingung, seharusnya itu adalah pertanyaannya kan? kenapa Jinki tidak ada kabar tiga hari ini.

”Kemana kacamata mu?apa kau lupa perkataanku setiap malam?”

Ck…. Kibum hanya mendengus malas dan menundukkan wajahnya. Jinki menarik dagu Kibum menatap matanya. Lalu jemarinya bergerap mengusap pipi Kibum lalu ke bibirnya. Tubuh namja cantik ini menegang, seperti merasakan aliran listrik. Sudah sangat lama Jinki tidak menyentuhnya selembut ini. Belum lagi tatapannya, Kibum tidak akan pernah sanggup membalas tatapan Jinki lebih dari lima detik. Dan Jinki menyukainya, ia sangat menyukai ekspresi malu Kibum.

“Aku sudah katakan.. jangan-pernah – memperlihatkan – mata – indahmu -pada siapapun – selain – diriku…… arra?”

“Iya.. tadi.. kacamataku jatuh dan pecah.. ani! ini salahmu kenapa tidak mengabariku tiga hari ini dan membuatku khawatir lalu ak- hmmpphh..”

Jinki menarik tengkuk Kibum, tidak tahan melihat bibir imut kekasihnya bergerak dan baginya itu sangat imut. Membuatnya ingin terus menciumnya. Kibum terkejut dan mendorong Jinki karena ia sadar ini di kampus. Namun tenaga Jinki lebih kuat dan tangan sebelahnya menarik pinggang Kibum mendekat. Kibum menyerah dan mengikuti permainan Jinki. Bibir lembut itu akhirnya dapat ia rasakan lagi, bibir yang selalu Jinki rindukan setiap malam.

”Kau harus mendapatkan hukuman Kibummie~…”

”mwo? hmpphh….”

.

.

”Jinki… ahh…”

”Hmm…. ”

”A-aku…ahh…”

Jinki membawa Kibum ke asrama Kibum. Ya.. Kibum masih tinggal di asrama, namun kali ini asrama Universitas. Ia berhasil masuk Universitas Seoul. Dengan beasiswa lagi tentunya. Jinki pulang lebih cepat dari jadwal sebelumnya, seharusnya tahun depan, namun ia belajar denga sangat giat, sehingga membuatnya lulus lebih cepat. Ia tidak sanggup lebih lama lagi berpisah dengan Kibum. Ia tentu saja tidak mengatakan ini pada Kibum, agar menjadi surprise.

”Jinki…ahhh aku…”

Kibum terkulai lemas di atas pangkuan Jinki. Ya…. kini mereka sedang melakukannya. Jinki pagi – pagi sekali mendatangi asrama Kibum dan yah.. bisa ditebak berakhir seperti apa. Kibum benar – benar tidak mengerti, tidak ada kata puas bagi Jinki. Pagi ini ia ada ujian, namun Jinki terus memintanya dan menggodanya.

”Jinki.. ke- kenapa kau selalu seperti ini dan apa iniiiiii?!!”

Kibum membereskan pakaiannya, dan menunjuk leher nya yang sudah ada bercak keunguan. Jinki tersenyum bangga, menaikkan sebelah sudut bibirnya seolah bangga dengan hasil karyanya.

”Yasudah pakai ini saja.. mudah kan?” Jinki menyampirkan syal biru muda ke leher Kibum.

”Tapi manusia mana yang memakai syal dan kacamata tebal di musim panas Lee Jinkiiiiiiiiiiii?!!”

”Manusia milik Lee Jinki….” Jawab Jinki enteng dan mencium sekilas bibir Kibum.

Haaaah… Kibum benar –benar tidak habis pikir, Jinki semakin posesif. Ia tahu, Jinki sengaja datang pagi ini dan melakukan hal ini padanya, membuat tanda di lehernya. Hari ini Kibum akan bertemu perwakilan kampus lain untuk membicarakan acara festival di kampusnya. Oh yeah.. asal kalian tahu, perwakilan kampus lain itu yang ternyata sangat tampan dan kaya raya, membuat Jinki sedikit was – was. Seriously.. Jinki terlalu berhati – hati. Ia hanya ingin memberi tanda pada tubuh Kibum, bahwa Kibum hanya miliknya.

Jinki terus tersenyum penuh kemenangan seperti orang gila melihat Kibum yang panik di depan kaca.

”Jinki… kau benar – benar … ahhhh~”

Kini Jinki malah memeluk Kibum dari belakang dan tangan liarnya mengelus pelan ‘milik’ Kibum membuat Kibum mengerang tertahan.

”Aku benar – benar apa huh? aku benar – benar mencintaimu Kim Kibum… jadilah anak manis hari ini dan jangan macam – macam, jangan memberi nomormu pada siapapun..”

 

Kibum hanya mendesah tertahan, menyandarkan kepalanya di bahu Jinki, mendongakkan kepalanya. Sentuhan Jinki selalu membuatnya gila dan kehilangan tenaga. Jinki tersenyum penuh kemenangan menatap pantulan tubuh mereka di depan kaca yang cukup besar didepan mereka yang sedang berdiri. Lalu ia mencium sekilas pipi Kibum.

”yasudah.. pergilah.. hati – hati ne..~? ingat pesanku tadi?”

Kibum mengusap wajahnya frustasi dengan sikap kekasihnya ini.

”Nee~~~”

Lalu Kibum mengecup sekilas bibir Jinki dan berlari kecil keluar pintu. Jinki menepuk bokong Kibum membuat Kibum meneriakinya.

”Jinkiiii… ”

^^v

Jinki tersenyum lalu melihat kekasihnya hilang dibalik pintu. Ia kembali membaringkan tubuhnya di kasur Kibum. Melanjutkan tidurnya yang terganggu, well ini masih jam tujuh pagi, waktu tidurnya masih panjang. Ia cuti hari ini, dan ingin menghabiskan harinya bersama Kibum. Tidak berniat sama sekali untuk pergi ke kantor. Lagi pula ada Taemin yang menggantikannya. Meski Taemin juga masih kuliah namun ternyata anak itu lumayan cerdas meski masih suka membuat masalah.

Sekarang Jinki akan memikirkan bagaimana caranya membawa Kibum ke rumahnya. Ya menikahinya. Ia akan menikahi Kibum sekarang, ia tidak ingin menunggu Kibum lulus, dan yah…. hidupnya terasa sangat sempurna sekarang.

Jinki berdiri melirik frame foto di meja kecil disamping ranjang. Foto dirinya bersama Kibum. Ada tulisan kecil di pinggiran foto itu.

Im in love with my best friend… Lee Jinki

“I love you too…”gumam Jinki

.

.

. END

ahahahaha apa ini? aneh yah? kkk~ iseng aja nyampah di SYF saya -_-v maap yah.. ayooook  ditunggu komenmu looh~ yang SR ntar gue sumpahin bintitan lol

ff lain saya masih utang. maap yak sekali lagi =_=v

semoga ada yang suka FF ini😄 meski ga berisi hihi ^^

Yang komen and like .. i love you~ <– kata onkey

anyyeong~

196 thoughts on “[JinKibum] I’m in Love With My Best Friend

  1. nah! akhirnya ada juga cerita yang bagus dan gak kentang dan asik buat diikutin. good story!!!! ^^

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s