[Jinkey] Key2


Foreword : Hahaha, sepertinya banyak yang minta lanjut nih. Ok, aku punya lanjutannya. Disini mulai muncul tokoh lainnya. hari ini saya malas bicara, tapi aku mau ngucapin terima kasih sudah mau baca ff abal ini.

 

cek it out

 

Cast : Jinkey dkk

Genre : banyak yang bilang fantasy

Baru pertama kali ini, aku tidak merasa kesal dengan keputusan ayah. Entah kenapa, keputusan yang dibuat ayah, sangat menyenangkan. Keputusan dimana aku harus bersekolah di SM akademi yang penuh dengan misteri. Yah, walaupun disini aku tidak punya teman selain, dia. Si peri emas yang penuh dengan misteri atau dia aku sebut si peri emas yang sangat suka cemilan manis ya? Hahaha.

“Jinki, ada apa?” tanya Taeyeon-songsanim yang sedang mengajar di kelas.

Tunggu, kelas? Apa tadi aku mengucapkan apa yang aku pikirkan? Hah, sudah tidak mendapat teman, aku malah di anggap orang aneh disini. Malangnya nasibku.

“Sekarang malah menghela nafas, kau kenapa Jinki?” tanyanya sekali lagi.

Semua siswa memandangku dengan tatapan aneh. Ingin rasanya aku berteriak kalau aku bukan dewa kematian. Aku ini manusia sama seperti kalian. Aku pandangi mereka satu-persatu dengan tatapan tajam. Lalu aku beralih menatap Taeyeon-songsaenim yang malah tersenyum. Dasar guru aneh.

“Aniya, gwenchana,” kataku, kemudian duduk kembali ke tempatku.

Taeyeon-songsaenim hanya menganggukkan kepala tanda ia mengerti. Kemudian berteriak dengan riangnya.

“Nah, hari ini kita akan kedatangan dua murid baru, ayo-ayo masuklah!” Taeyeon menepuk-nepuk tangannya.

Sontak semua siswa menoleh ke arah pintu. Tak lama kemudian masuklah seorang namja tampan dan seorang namja cantik. Sang namja tampan itu sangat tinggi hingga membuat siswa yang pendek harus mendongak untuk melihatnya, sedangkan yang namja cantik itu sangat cantik bahkan kecantikannya melebihi seorang yeoja.

“Ayo, perkenalkan diri kalian.”

“Annyeonghaseyo, Choi Minho imnida, aku pindahan dari Daegu, aku kesini karena pekerjaan orang tuaku di kota ini,” kata namja tampan yang wajahnya mirip sekali tokoh anime karena matanya yang besar itu.

“Annyeonghaseyo, Lee Taemin imnida, aku pindahan dari Seoul. Aku kesini karena aku i….” kata-katanya terputus karena ucapanku.

“Taemin? Kau sekolah disini?” aku berdiri dan menatapnya.

Mata namja cantik itu melebar karena melihatku, “Jinki-hyung? Aku tidak tahu kalau kau sekolah disini juga,” katanya dengan nada senang.

Aku hanya menganggukkan kepala. Senyum tidak lepas dariku. Akhirnya aku punya teman selain Key, tapi Taemin bukan temanku melainkan dia adalah sepupuku. Hah, dunia ini sempit sekali sih.

“Baiklah, mari kita cari tempat duduk disini,” Taeyeon-songsaenim celingukan kesana-kemari untuk mencari tempat duduk kosong.

“Nah,Minho-ssi, kau bisa duduk di belakang Jinki, dan Taemin-ssi kau bisa duduk di sebelah Jinki,” ujarnya sambil menunjuk dua bangku yang kosong.

Kalau tempat ini penuh, berarti Key memang tidak bisa keluar dari tempat itu. Maaf Key, aku tidak bisa membawamu pergi dari tempat yang membuatmu bosan. Mungkin, aku bisa membawanya jalan-jalan di sekitar akademi ini. Akan aku tunjukkan dunia luar padanya.

Tanpa ku sadari, sedari tadi Taemin memandangku heran. Aku balas menatapnya dan memberikan senyum padanya. Aku yakin, dia pasti bingung kenapa aku melamun dari tadi. Hahaha, biarkan saja yang penting setelah pulang sekolah, aku akan pergi ke kota untuk membelikan Key cemilan supaya dia tidak bosan.

Ting Ting Ting

Akhirnya bel tanda pelajaran usai telah berbunyi. Saatnya pergi ke kota, aku harus cepat sebelum dia marah lagi seperti dulu ketika aku terlambat datang ke tempatnya. Key tidak mau bicara denganku selama dua hari, lalu kami berbaikan karena aku membawakannya banyak sekali cemilan manis. Tanpa terasa aku tersenyum sendiri mengingat betapa lucunya Key saat marah padaku.

“Hyung, gwenchana?” tanya Taemin khawatir.

“Ah, ne Gwenchana, Taemin, apa kau menyukai cerita horor atau hal-hal yang mistis?” tanyaku padanya.

“Ne, aku sangat menyukai cerita seperti itu, aku dengar ada gumiho yang suka memakan nyawa manusia disini, dan istimewanya, gumiho ini bisa berbicara dalam bahasa manusia,” cerita Taemin dengan wajah yang serius.

“Bukankah cerita gumiho itu hanya legenda yang ada di masyarakat Korea? Dan yang aku tahu, gumiho itu adanya di kuil bukan di akademi seperti ini,” sahut Minho yang sedari tadi memainkan ponselnya.

“Inikan Cuma rumor yang aku dengar dari siswa disini hyung >0<,” Taemin mempoutkan pipinya.

Minho dan aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

“Ngomong-ngomong, apa kalian sudah lama seperti ini?” tanyaku bingung dengan ke akraban mereka.

“Kami baru saling mengenal pagi ini ternyata siswa disini memang orang kaya semua, tapi mereka sangat percaya pada cerita mistis seperti itu,” jawab Minho dengan wajah bosan.

“Tapi, Jinki-hyung juga terlibat dalam cerita mistis itu, aku dengar dia dibilang sebagai shinigami yang menemani peri emas,” timpal Taemin.

“Tapi aku tertarik dengan kisah gumiho yang kau bilang tadi, Taemin,” tanggap Minho dengan tangan yang ia letakkan di dagunya. “Gumiho yang menyukai nyawa manusia, menarik sekali.”

“Yang aku tahu adalah gumiho yang sangat menyukai cemilan manis,” sahutku yang membuat kedua orang ini melihat ke arahku dengan bingung.

“Hyung dapat cerita itu darimana?” tanya mereka bersamaan.

“Wah, kalian kompak juga ya?” godaku lalu pergi meninggalkan Taemin dan Minho yang mulai berteriak tidak  jelas.

***

Aku berlari menyusuri anak tangga perpustakaan. Aku membawa sekantung besar berisi cemilan untukku dan Key, sedangkan dipunggungku terdapat tas yang berisi laptop. Kali ini, aku akan menunjukkan sesuatu yang menakjubkan padanya.

Tapi, saat aku tiba di lantai atas tempat Key berada. Aku melihat seseorang yang berdiri menatap Key dengan tajam. Sedangkan sang namja cantik itu hanya menundukkan kepalanya.

“Tidak aku sangka kau ternyata baik-baik saja tinggal disini, apakah kau menyukai tinggal disini, dari pada di tempatmu dulu?” kata si namja tampan dengan rambut nyentrik seperti dinosaurus.

Key tidak menjawab, dia hanya menunduk melihat buku yang terbuka dihadapannya. Ku lihat namja itu mulai geram denngan kelaukuan Key yang sedari tadi hanya diam saja.

“Cih, dasar gumiho yang tidak tahu apa-apa tentang dunia ini, bahkan kau lebih buruk dari orang cacat,” ejeknya memandang rendah Key.

“Jinki, kau sudah datang? Kemarilah, ayo kita baca buku bersama-sama,” Key tidak menjawab ucapan namja itu malah dia menatapku dengan senyum yang dipaksakan.

Aku berjalan ke arahnya. Meletakkan kantung berisi cemilan dihadapannya. Lalu membungkuk ke arah namja berambut nyentrik tersebut.

“Annyeonghaseyo, Lee Jinki imnida,” aku memperkenalkan diri.

“Ne, annyeonghaseyo, Kim Jonghyun imnida, aku adalah kakaknya Key,” sahutnya ikut membungkuk 90 derajat sama sepertiku.

Tunggu, apa katanya tadi? Kakaknya Key? Tapi kenapa beda sekali? Dan kenapa dia berkata kasar pada dongsaengnya sendiri? Dan kenapa dia tidak mau membebaskan Key dari penjara ini?

Seolah mengerti jalan pikiranku, Key menjelaskan, “Dia memang kakakku, tapi ibu kami berbeda, dia adalah pewaris keluarga Kim, sedangkan aku adalah anak yang lahir dari seorang pendosa.”

“Key bukannya tidak bisa keluar dari sini, tapi dia tidak diizinkan oleh ayah untuk pergi dari tempat ini,” timpal Jonghyun seraya menatap iba ke arah Key.

“Bukankah kau kakaknya? Kenapa kau tidak bisa membawanya keluar?” sanggahku.

Jonghyun menatapku sekilas, lalu ia menghela nafas seperti orang yang frustasi.

“Bukannya aku tidak bisa mengajaknya keluar, tapi aku tidak punya waktu untuk mengajaknya keluar dari tempat ini,” ujarnya menatapku dengan wajah melas.

“Hyung, kalau kau tidak keberatan, bolehkah aku membawa Key jalan-jalan bersamaku?” tanyaku menatapnya dengan yakin.

“Akan ku tanyakan pada ayah dulu, kalau boleh, akan aku izinkan. Untuk sementara, aku titipkan rubah kecil terkutuk ini padamu,” kata Jonghyun sambil menepuk bahuku sebelum meninggalkan tempat.

***

Aku menatap kepergian Jonghyun dengan tatapan kosong. Aku terus memerhatikan namja nyentrik itu sampai dia menghilang di lantai bawah.

Kresek Kresek  Kresek

Aku mendengar suara gemerisik di belakangku, aku yakin itu pasti Key yang sedang membongkar isi kantung yang aku bawa tadi. Aku membalikkan badan dan melihatnya telah kebingungan menatap minuman kaleng yang aku bawa.

“Jinki, apa ini?” tanyanya seraya mengocok-ngocok minuman tersebut.

Aku tersenyum melihat wajah polosnya. “Itu minuman kaleng,” jawabku seraya duduk dihadapannya.

“Mwo? Minuman bisa diletakkan pada besi yang tertutup rapat seperti ini?” kagetnya sambil mengacungkan minuman itu ke wajahku.

Aku terkekeh melihat tingkahnya itu. “Ini bukan besi, melainkan aluminium yang khusus untuk minuman,”sanggahku seraya duduk di samping namja cantik itu. Ku pegang tangannya, lalu mengarahkannya pada penutup kaleng. “Kau lihat? Ini ada tutupnya, dan bisa dibuka.”

“Bagaimana cara membukanya?” tanya Key menyentuh-nyentuh tutup kaleng itu.

“Caranya seperti ini,” ku arahkan tangannya supaya memegang tutup kaleng itu, lalu mulai menariknya dengan kuat.

 

 

Tus

 

 

 

 

Byuuur

Isi kaleng keluar mengenai kami berdua. Sepertinya Key terkena wajah dan bajunya hingga ia basah seperti itu, sedangkan aku hanya lenganku yang kena semprotan dari soda yang ada di kaleng itu. Key terdiam sejanak lalu air mata keluar dari mata kucingnya.

“Huwaa, dasar nappeun, kau sengaja melakukannya di depanku ya? Lihat, baju dan wajahku basah dengan air yang keluar dari besi itu,” omelnya sambil menunjuk kaleng yang berada dalam genggamanku.

“Sudah jangan nangis, sini aku bersihkan,” aku menariknya menuju air mancur yang berada di tengah-tengah taman itu.

Mendudukkan Key yang masih sesenggukan di pinggir air mancur, sedangkan aku menuju ke kamarnya untuk mengambil baju ganti dan handuk untuknya.

“Jinki, bawakan aku t-shirt warna pink saja, aku tidak mau pakai kemeja,” teriaknya.

Aku mengangguk meski aku tahu Key tidak akan melihatku karena jarak kami jauh. Aku mengambil t-shirt berwarna pink dengan gambar hello kitty di bagian depannya. Lalu aku berjalan menuju tempat biasa kami menggantung handuk basah. Lalu mengambil handuk berwarna pink. Jangan tanya, kenapa aku bilang kalau aku menyimpan handuk disini. Itu karena aku memilih untuk menemani Key hingga pagi disini. Jadi aku memindahkan sedikit pakaianku disini untuk berganti baju.

Aku berjalan menghampiri Key yang hanya diam menatap kaleng cola yang aku tinggalkan di sampingnya. Aku mengambil kaleng tersebut lalu meminumnya. Key hanya menatapku heran karena aku telah meminum benda yang membuatnya basah.

“Nah, sekarang kau harus mengelap wajahmu yang basah itu,” ku ambil sapu tangan yang ada di saku celanaku, kemudian aku mencelupkannya ke dalam air mancur.

Ku usapkan sapu tangan yang sudah basah itu kewajahnya. Setelah beres, ku buka bajunya yang berenda itu untuk ku ganti dengan t-shirt yang tadi aku ambil.

“Gomawo hyung ^_^” Key tersenyum manis dihadapanku.

“Key,” panggilku.

Dia menatapku, lalu

 

 

Tuk

 

 

Ku sentil dahinya pelan. Mau bagaimana lagi, aku gemas melihatnya tersenyum seperti itu. Tapi, kenapa dengan wajahnya? Wah, gawat sepertinya ia mau menang…..

“Sakit, huks kenapa kau memukulku dengan keras begitu huks, Jinki-nappeun, huwaaaa,” tuh kan, aku bilang apa, dia akan menangis.

Aku hanya tertawa mendengarnya menangis sambil mengusap-usap dahinya yang aku sentil tadi. Sekarang Key mulai menggembungkan pipinya. Hahaha, sepertinya dia marah padaku.

“Mianhe, aku hanya menyentil pelan, tapi kenapa kau menangis begitu?” ujarku padanya.

“Kalau ku bilang sakit ya sakit. Jinki jahat,” teriaknya memunggungiku.

Yah, sepertinya dia marah, “Aku minta maaf karena sudah menyentilmu, untuk permintaan maafku, aku punya sesuatu yang membuatmu senang,” kataku mengalah padanya.

Tak lama kemuadian, Key memandang ke arahku dengan wajah yang berseri-seri. Ku tarik tangannya dan mengajaknya kembali ke tempat dimana kami biasa membaca buku bersama-sama.

Setelah sampai, ku dudukkan Key di lantai, lalu ku ambil sebuah meja kecil yang berada di samping semak-semak dan meletakkannya di depan Key. Kemudian ku ambil laptop warna putihku, dan beberapa DVD yang baru saja aku beli di kota. Ku nyalakan laptopku. Anehnya, Key malah menatap takjub benda yang ada dihadapannya.

“Jinki, apa ini? kenapa bisa bersinar seperti ini? apa ini termasuk handphone yang sering kau bawa?” katanya polos.

“Hahaha, ini bukan handphone, ini namanya laptop. Kau bisa bermain, mencari informasi, mendengarkan musik, melihat video, dan masih banyak lagi kegunaan benda ini,” jelasku sambil menunjukkan aplikasi apa saja di depan Key.

Ku lihat dia tersenyum senang melihat laptop yang ada di depannya. Sepertinya Key belajar dengan cepat. Lihat saja, dia sudah mulai bermain game mencocokkan benda yang ada disana. Sesekali dia bergumam tidak jelas saat dia kalah bermain game.

“Hey sudah, jangan bermain terus, yang mau ku tunjukkan bukan ini, tapi ini,” aku mengambil kaset yang ku letakkan di samping laptop.

“Piring? Kenapa kau membawa piring yang bolong seperti donat begitu?” tanyanya dengan wajah polos.

Aku terkekeh mendengar pertanyaannya. Tanpa menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh gumiho kecil ini, aku mengambil DVD berwarna putih polos. Lalu ku masukkan ke dalam laptop. Tak lama kemudian, tampillah kota SMtwon di layar monitor.

“Apa itu?” tanya Key menunjuk gambar yang ditampilkan di layar monitor.

“Itu suasana kota Smtwon, apa kau tidak tahu?” aku memandang ke arah Key yang menggeleng.

Ternyata dia benar-benar terkurung disini. Walaupun dia cerdas karena selalu membaca. Tapi, dia kesepian dan tidak punya teman untuk di ajak bicara. Jadi selama ini, temannya hanyalah sebuah buku yang memang tahu banyak hal, tapi tidak bisa di ajak bicara. Namun sekarang, sang gumiho yang kesepian ini adalah temanku. Tidak, dia bukan gumiho, melainkan seorang namja cantik biasa yang kesepian.

“Jinki, menurutmu, apakah aku bisa keluar dari sini?” tanyanya menatap ke arahku yang sejak tadi melihatnya.

Sontak aku memalingkan wajahku yang memerah karena malu, walau aku yakin kalau dia tidak memperhatikanku tadi.

“Kalau kau mau, aku bisa membawamu keluar dari perpustakaan ini, tapi aku tidak membawamu keluar dari tempat ini, karena aku takut kena marah kakak dan ayahmu itu” jawabku seraya menunjukkan senyum terbaikku padanya.

“Gwenchana yang penting aku bisa melihat dunia luar, tapi…” dia menunjuk ke arah anak tangga yang sangat banyak di perpustakaan.

“Biar aku yang membukakan pintu untukmu, kau berjalan di belakangku saja,” sahutku.

“Kau memang pelayan yang sangat baik,” katanya dengan nada yang mengejek.

Karena kesal, ku gelitiki pinggangnya. “Apa kau bilang? Pelayan? Rasakan ini, gumiho jelek,” kataku masih menggelitiki seluruh pinggangnya.

Key tertawa keras saat aku gelitiki sampai dia terbaring saking tidak kuatnya. Tanpa ku sadari aku sudah berada di atasnya sambil memegang pinggangnya. Tawa kami terhenti saat menyadari posisi kami yang sesungguhnya. Tanpa mengubah posisiku. Aku memandang wajah cantik Key yang berada di bawahku.

“Yeppoh, walaupun semua orang takut padamu, tapi aku akan terus melindungimu,” janjiku padanya.

“Tapi, aku hanya sebuah alat, alat untuk merebut kekuasaan yang sudah diimpikan oleh ayahku,” sanggahnya seraya meletakkan tangannya di dadaku.

“Tidak, kau bukan alat ataupun gumiho, tapi kau adalah temanku yang sangat berharga, kau berhak untuk bebas dan melakukan semua yang kau suka,” aku meyakinkannya.

Chu~

Dia mencium bibirku. Ku balas ciumannya yang lembut dengan tak kalah lembutnya. Tidak ada jarak di antara kami berdua. Ku angkat tubuh Key dan memperdalam ciuman kami. Rasanya manis, tapi agak sedikit asin karena becampur dengan air mata yang turun dari mata kucingnya.

“Jinki, gomawo kau mau menjadi temanku, jangan pernah meninggalkanku, tetaplah di sisiku,” katanya setelah ciuman kami terlepas.

“Aku janji, jadi sekarang…” aku berdiri dan menggendong Key ala bridal style.

Key yang terkejut atas perlakuanku meletekkan tangannya di leherku. Dia juga menatapku bingung karena aku membawanya turun dari lantai atas perpustakaan dengan tangga. Aku tidak peduli pada laptopku yang menyala, toh disini tidak mungkin ada pencuri.

“Kau mau membawaku kemana?” tanyanya mengeratkan pegangan ini. “Dan kenapa kau mau beban berat ini?” lanjutnya menundukkan kepalanya sedih.

“Aku membawamu makan malam bersama teman-teman yang lain, dan bukanlah beban,” sahutku menatap ke arah Key yang kini tersenyum kecil.

Akhirnya sampai juga di lantai dasar, ku langkahkan kakiku menuju pintu besi perpustakaan. Sebelum ku buka pintu itu, ku turunkan Key terlebih dulu dan mulai membuka pintunya.

Krieeet

Bunyi pintu besi itu. Tampaklah cahaya oranye yang menerangi kami berdua. Sepertinya hari sudah mulai sore. Dan aku tidak terlambat untuk makan malam. Ku rasakan genggaman di tanganku yang ku yakin itu pasti Key.

“Nah, ayo kita keluar dari tempat ini,” ajakku.

Kami berjalan menuruni anak tangga kecil yang ada di depan perpustakaan. Setelah menutup kembali pintu perpustakaan tentunya. Kami menyusuri jalan setapak dari perpustakaan menuju ke asrama. Tepatnya, tempat dimana semua siswa yang bersekolah disana makan malam.

***

Key sangat senang karena ia bisa keluar dari perpustakaan. Lihat saja senyumnya yang lebar itu. Dia menatap takjub ke segala arah. Di tengah-tengah jalan dia berhenti untuk menatap langit jingga yang indah. Aku yakin Key belum pernah keluar sedikit pun.

“Kau menyukai langit sore?” tanyaku padanya.

Key hanya bisa mengangguk tanpa menatap ke arahku. Matanya masih menatap langit sore dengan takjub. Entah ada ide jahil darimana. Tiba-tiba saja tanganku menutup matanya yang terbuka lebar sekali.

“Jinki, aku tidak bisa melihat langit sore itu,” rengeknya berusaha melepas tanganku dari matanya.

“Kau tidak boleh melihat langit jingga itu lama-lama nanti matamu bisa sakit, kalau kau sakit, aku bisa dibunuh oleh Mr Kim,” jelasku masih mempertahankan tanganku untuk menutup matanya.

“Biarkan saja, dia tidak peduli padaku yang hanya sebuah alat untuk kekuasaannya saja,” belanya masih berusaha melepaskan tanganku darinya.

Aku menjauhkan tanganku yang tadi menutup matanya. Ku pandangi Key yang mulai mengeluarkan airmata. Kenapa hari ini dia sering sekali menangis? Sakit rasanya kalau melihatnya menangis seperti itu.

Aku membungkukkan badanku ke hadapannya. Ku pandangi wajah Key yang masih mengeluarkan tetes demi tetes air mata. Ku hapus airmata itu dengan ibu jariku dan berkata

“Pabo, berapa kali aku bilang, kalau kau adalah temanku dan bukanlah sebuah alat, tidak akan aku biarkan ayahmu atau siapapun memperlakukanmu sebagai alat, arraseo?”

Key mengangguk kepalanya. Sedetik kemudian dia tersenyum manis ke arahku. Akupun ikut tersenyum melihat senyumnya itu. Hah, semoga saja Jonghyun bisa mendapat izin untuk mengajak Key jalan-jalan.

Aku mulai berdiri dari posisiku. Kemudian menggandengnya lagi menuju ke asrama. Apa respon teman-teman disana ya? Jika aku bawa seorang peri emas yang mereka takuti? Hahaha, pasti heboh sekali.

Ketika hampir sampai asrama, kami bertemu dengan Shindong-ssi yang membawa makanan di tangannya. Dia terkejut saat melihat kami berada di hadapannya. Wajahnya takut saat melihat Key yang ada di sampingku.

“K….k..k..kau, kenapa membawanya keluar dari menara perpustakaan? Apa kau tidak takut terkena amarah dari Mr Kim?” tanyanya gugup, terlihat dari tangannya yang bergetar.

“Aku sudah mendapatkan izin dari Jonghyun, jadi tidak masalah kalau aku mengajaknya makan malam bersama, lagi pula ini tidak keluar dari akademi kan?” jawabku santai.

Setelah mengendalikan dirinya. Shindong mulai tersenyum dan memberikan makanan yang ada di tangannya padaku.

“Aku mengerti, biar bagaimanapun Key tetaplah seorang manusia, dia pasti kesepian, sekarang ajaklah makan di dalam, kajja kalian masuklah,” katanya membukukan pintu ruang makan.

“Gomawo Shindong-ssi,” ucapku tulus.

Kami memasuki ruang makan dengan tenang. Sebenarnya hanya aku yang tenang, karena Key gemetaran ketika memasuki tempat itu. Terlihat dari tangannya yang bergetar di belakangku.

 

 

Brakk

 

 

 

 

Prang

Karena sibuk mengawasi Key yang gemetar, aku jadi menabrak tiang yang berada di depanku. Semua siswa melihatku dengan tatapan aneh dan takut. Aduh,kenapa aku bodoh sekali sih, bisa-bisanya menabrak tiang. Ku lihat Key menahan tawa melihatku yang jatuh dengan spageti yang berada di rambutku.

“Jinki-hyung, kenapa kau bisa seceroboh ini sih,” kesal Taemin yang berlari ke arahku diikuti Minho di belakangnya.

“Hahaha, Mianhe,” aku malah menertawai kebodohanku sendiri.

Key berjalan ke arahku, dia berjongkok di depanku dan mulai membersihkan mie beserta sausnya di tubuhku dengan sapu tangan berwarna pink. Tak jauh dari kami, Taemin dan Minho berdiri mematung menatap ke arah kami berdua, atau lebih tepatnya ke arah Key yang masih sibuk membersihkanku.

“Kulit putih mulus, pipi tirus yang semerah mawar, mata yang setajam kucing, juga rambut panjang berwarna keemasan,” dekripsi Taemin terhadap Key.

“Tidak salah lagi, itu adalah…..” Minho menambahkan kata-kata Taemin

“Si peri emas,” teriak Taemin membuat semua siswa melihat ke arah kami dengan kaget.

“Si gumiho terkutuk,” kata Minho dingin.

Plak

Taemin menampar wajah namja belo itu dengan keras hingga tertinggal tanda merah berbentuk tangan di pipinya. Sedangkan yang ditampar menatap kaget ke arahnya.

“Hyung, dia itu bukan gumiho terkutuk, dia adalah boneka yang diciptakan oleh tuhan, lihat saja wajahnya cantik sekali,” omel Taemin seraya menjewer telinga Minho.

“Arraseo arraseo, sekarang lepaskan tanganmu dari telingaku Taemin-aah, ini sakit sekali,” sahut Minho berusaha melepaskan tangan Taemin dari telinganya.

Akhirnya Taemin melepaskan tangannya dari telinga Minho. Tapi kenapa tangan yang sedang menyentuh wajahku ini gemetar? Aku mengalihkan perhatianku dari pasangan Taeminho ke arah Key. Matanya terbuka sangat lebar, tangannya bergetar ketakutan. Mungkinkah ini karena perkataan dari tuan Choi itu?

“Tenanglah, kau bukanlah gumiho terkutuk, semua orang terlahir dalam keadaan suci, kau bukanlah orang yang terkutuk itu, hmm?” tenangku memeluk Key.

Mengusap-usap punggungnya yang gemetar. Tanpa sepengetahuannya, aku menatap tajam ke arah Minho yang telah menyakiti Key. Sontak orang yang aku tatap itu langsung mengeluarkan keringat dingin. Hal itu membuat Taemin tertawa melihatnya.

“Jinki,” panggilnya lirih.

“Ne?”

“Badanku lengket karenamu,” ujarnya seraya mencubit pinggangku keras sekali. Sontak ku lepas pelukanku padanya.

“Aigoo, Key neomu appo….” manjaku mengusap pinggang yang tadi dicubit olehnya.

Key sama sekali tidak peduli. Dia hanya memandang t-shirt pinknya itu dengan tatapan jijik. Karena t-shirtnya itu telah ternoda dengan saus spageti yang masih ada di tubuhku. Sontak semua yang ada disana tertawa melihat tingkah kami berdua. Taemin berjalan ke arah Key. Namun, si peri emas itu mundur.

“Jangan takut, dia adalah sepupuku,” tenangku mengusap bahunya.

Key mengangguk dan mulai menatap ke arah Taemin yang tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke arah Key. Dengan ragu, Key menjabat uluran tangan Taemin.

“Annyeong, aku Lee Taemin senang berkenalan denganmu si peri emas yang cantik,” kata Taemin seraya menaik-turunkan tangannya yang menggenggam tangan Key.

“A..annyeong, namaku Kim Keybum, tapi kau bisa memanggilku Key, aku mohon jangan memanggilku peri emas lagi,” sahut Key gugup.

Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Key menatap ke arah Minho dengan bingung. Lalu ia menatapku meminta jawaban. Sedangkan aku hanya menaikkan alis untuk bertanya kenapa?

“Jinki, kenapa ada kodok berkeliaran disini?” tanya Key polos.

Aku dan Taemin tertawa mendengar pertanyaan Key yang polos. Sedangkan Minho menatap tidak suka ke arah kami semua.

“Itu bukan kodok, tapi Choi Minho, dia itu temanku,” jawab Taemin dengan senyum.

“Choi Minho? Jadi kaulah orangnya,” gumam Key menatap ke arah Minho dengan tatapan menyelidik.

Sedangkan Minho menatap jengkel ke arahnya. Namun, yang aku tangkap dari tatapan Minho sepertinya ia membenci keberadaan namja cantik itu disini. Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka?

“Dasar, gumiho terkutk,” geramnya, tapi masih bisa kutangkap dengan telingaku.

Apa hubungan Key dan Minho? Kok sepertinya dia mempunyai dendam pada namja cantik yang ada di hadapanku ini? Hah, Key, kenapa kau bertambah misterius di depanku? Siapa kau sebenarnya?

 

 

 

 

TBC

Hah, Mianhe kalau banyak Wrong Typo-nya. Apakah pertanyaan suunders yang di part 1 udah terjawab? mungkin ada yang belum, tunggu next part aja. Dan untuk para Flamers, next part jangan bunuh saya ya? karena ada kemungkinan next part Minho jadi jahat. *sujud di hadapan flamers*.

50 thoughts on “[Jinkey] Key2

  1. Rada mirip ma seriaL drama Korea “My GirLFriends is Gumiho” yach…. Yg pemainny Lee Sung Gi ma Shin Min Ah….
    Hehehehehehe
    Pi waLau gmnapun uga, ni ff yG paLing seru…..
    Authorny DAEBAK…. Bsa bwt ff fantasi yG seru….. Ni ff manarik bgt bwtQ…..
    Suka dech….. ^-^

  2. Ya! Lanjut dong? Walau my menong menong napyeon jadi jahat T,T kan aslinya enggak :p my napyeon menong menong kayak lagi main drama serial korea disini…. Wkwkwk… Maap, kok jadi bnyk tentang my napyeon ya? Hahaha… Mian, aku reader ayan stadium 10(?) dan reader bru disini… Lanjut ya thor? FIGHTING!

  3. Makin seru adj. . .
    Kayak’ny key ama minho punya dendam kesumat nich…
    Mudah2’n g ada masalah ama Mr. Lee setelah key di bawa keluar penjaranya…

  4. Ah pusying=,= next chapter langsung aja deh.
    Bingung aku un sama ceritanya.tapi bikin penasaran

  5. Duuh..
    Bingung musti ketawa atu miris baca’a..
    Koq lelucon’a banyak sarkatis ya?
    jjong jd hyung’a key koq gx jelas dia d pihak dongsaeng’a atau appa’a?
    Blom terungkap kejanggalan di chapt1, ud nambah lg kejanggalan ama latarbelakang key,,
    Trus apa hubungan’a minho ama key?
    #lanjut!3#

  6. huwaaa… jinki kesemsem dah lengket kaya perangko ? alat ? maksud.a key alat buat apa ? eh, ada apa lagi ama ming kok gak suka amat ma key ? mesteri oh misteri ? next

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s