[JinKibum] Road to Me – Part 1


 foreword

Annyeong~!

Anyone miss me huh? ;__; *setel lagu ballad*

Yes! Im back!! Alhamdulillah aku udah sidang skripsi*joged salsa*and well sekarang bawa FF baruuuuu..ah FF lama? Okay aku tulis nanti soalnya belom runding sama kei kekeke~

Ini terinspirasi dari buku Sons Of The Sun.. well aku mencontek banyak hal dari sana, karena aku ga bisa deskripsi Barcelona dengan sangat indah, mohon dimaklumi. Pointnya bukan Barcelona kok *plak* jangan heran kalau menemukan beberapa perkataan yang sama persis dari buku keluarga Lee itu yah ^^

thankiss buat ullan posternya❤

This is so bored! I know my fic is still not good enough but I’ll be thankful if you all read and leaving comment! Hihi~

No Bash

No Plagiarism

This is My Story

sorry for typo  ><

 

Main Cast : Lee Jinki – Kim Kibum

Support Cast : Lee Taemin – Choi Minho – Kim Jonghyun

Genre : Life . Romance.

Rating : PG – NC 17, this time is PG.

Author : Eternalonkey Yua

Chapter 1 – when i meet my precious one.

Ini adalah musim panas di Seoul, pada umumnya setiap orang akan memilih untuk berdiam diri dikamar, menonton TV sambil memakan snack dan bersantai. Seorang namja tampan berhidung bangir dan kulit yang sangat lembut, sebut saja dia Jinki. Ia justru saat ini harus keluar dan membiarkan sinar matahari menyentuh kulitnya, bukan.. bukan karena ia ingin tetapi karena ulah sang adik. Ya… Lee Taemin. Adik kandung Lee Jinki ini sedang hilang entah kemana! Sialnya ini sudah yang ke-tiga kalinya adiknya menghilang! Hilang? Bagaimana bisa? Well.. Lee Taemin adalah anak yang manis…sangat manis saat pertama kau melihatnya, wajahnya yang halus, tulang pipinya yang tinggi, dagu yang lancip, bibir yang merekah dan sepasang bola mata coklat yang teduh. Siapapun yang melihatnya pasti akan tersihir oleh senyuman manisnya. Lalu apa sampai situ saja? Big NO! Taemin memang adik yang baik plus keras kepala. Ia adalah anak yang mencintai kebebebasan, ia sangat menyukai travelling dan satu lagi! Fotografi! Oh well dan ini lah yang dikhawatirkan Jinki. Adiknya ini sejak semalam memang sudah memperlihatkan gelagat mencurigakan.

Pertama.

“Hyung… aku pinjam kamar mandi…”

“Apa? Memang kenapa kamar mandi dikamarmu..?”

“Ah.. airnya tidak mau keluar.. sudah hyung keluar sana..aku pinjam kamar juga..”

Kedua.

“Hyung.. kau lelah? Ini minumlah teh hangat..”

“Terima kasih…”

Ketiga.

“Hyung.. aku ingin tidur bersamamu malam ini..”

“Ap-..”

Lalu Taemin menaiki kasur Jinki dan menutup tubuhnya dengan selimut membuat Jinki hanya berdecak pelan lalu membiarkan adiknya tertidur disampingnya.

Jadi apa masalahnya? Masalahnya adalah saat dimana Taemin meminjam kamar mandi Jinki dan lebih tepatnya kamar Jinki, diam – diam sore itu ia mencari kunci mobil Jinki dan menyembunyikannya di kamar mandi. Lalu kedua, ia memberikan Jinki teh hangat alih – alih membuat Jinki cepat tertidur karena sebelumnya ia memberikan beberapa tetes obat tidur, hell yes! Sukses berat karena 15 menit kemudian Jinki merasakan kantuk luar biasa lalu Taemin tiba – tiba meminta untuk tidur dengannya. Well untuk yang ketiga ia hanya ingin untuk malam itu tidur bersama hyungnya karena paginya ia sudah menghilang.

Jinki yang malam itu juga awalnya merasakan keanehan hanya bisa terdiam. Tidak biasanya Taemin meminta ijin untuk memakai barangnya –pada umumnya- lalu memberikannya teh hangat? Apa kepala Taemin habis terbentur hah? Tapi karena saat itu Jinki sedang lelah maka ia tak terlalu memikirkannya.

Jadi sekarang masalahnya adalah Taemin berhasil melarikan diri dengan meninggalkan secarik kertas diatas meja kamarnya. Pagi itu saat Jinki tidak menemukan Taemin disisinya ia langsung mendapat firasat tidak enak dan voila!! Adik cantiknya ini menghilang. Hanya satu yang Jinki pikirkan saat itu,”Lee Taemin…. Please…no..”

Dan yeah! Apa yang Jinki baca di note biru muda yang ditinggalkan adiknya ini menjelaskan semuanya.

Hyung.. bersantailah sedikit. Hidupmu sangat membosankan bukan? Aku sudah katakan sebelumnya aku ingin berlibur! Dan sekarang adalah saat yang tepat! Oh ya terima kasih sebelumnya dan mian aku mengambil uang tabunganmu di laci kamar! ^^ lain kali simpan saja di Bank hyung ^o^ aku akan pulang jika sudah bosan okay. Aku sayang hyung.

Ps : jika ingin mencariku, itu akan sangat percuma! Note it!

L.T

Jinki membaca lagi dan lagi mencari clue jika saja Taemin memberikannya atas tempat yang kali ini ia kunjungi. Namun percuma, tidak ada kata khusus disana dan ia hanya bisa menggeram frustasi. Well Jinki tidak sebodoh itu untuk tidak memahami kelakuan adik satu – satunya ini. Ia bergegas ke kamar Taemin dan ia menemukan sebuah brosus perjalanan. Sepertinya adiknya tidak secerdas itu, membuat Jinki tersenyum penuh bangga melihat kecerobohan adiknya. Lalu ia melihat brosur itu dan membacanya.

Barcelona.

Shit!

Okay.. jika saja itu masih di Korea itu akan lebih mudah! Tapi kali ini apa?? Barcelona? Spanyol? Hey! Bahasa Inggris Jinki bukannya sangat buruk hanya saja Spanyol? Dan wow entah Jinki harus bagaimana bereaksi saat ini, yang jelas butiran keringat sedikit demi sedikit membasahi pelipisnya saat membayangkan dirinya harus pergi kesana.

“Lee Taemin… kau benar – benar…. “

Dalam selipan kemarahannya tersimpan kekhawatiran yang begitu besar. Bagaimana mungkin adiknya ini nekad pergi ke Spanyol sendirian? Hey ia masih 18 tahun! Bahkan ia baru saja lulus SMA. Sejenak Jinki menyesal karena tidak mengabulkan keinginan adiknya untuk menemaninya berlibur ke Eropa. But yeah~ Jinki memutar otaknya, bagaimana caranya ia bisa menemukan adiknya disebuah Negara, bayangkan saja Ne-ga-ra? Lalu Jinki kembali kekamarnya dengan tergesa – gesa hingga membentur beberapa furniture rumah dan meringis seraya bersungut kesal menyebut nama Taemin berkali – kali.

“Shit!”

Ia semakin panic saat ia tahu alasan Taemin kemarin bertingkah aneh. Kunci mobilnya hilang dan kartu kredit serta uang cash di dompetnya juga lenyap. Thanks God, ini adalah pagi yang paling buruk. =_=

.

.

.

‘’Hahaha.. hyung.. lihatlah aku berhasil!”Taemin melebarkan kedua tangannya.

Namja cantik berambut blonde terang ini melepaskan kacamatanya dan meyelipkannya di kerah kaos polo putihnya. Memandang keramaian hiruk pikuk. Yeah! Ia telah tiba di bandara Internasional El Prat, Barcelona,Spanyol. Namja berkulit seputih susu ini melangkahkan kakinya penuh percaya diri dan senyum yang merekah di bibir apelnya. Tak hentinya ia mengaggumi pemandangan disekitarnya. Refleks ia mengeluarkan kamera kesayangannya dan mulai menjepret apapun yang menurutnya indah. Sampai tak lama kemudian ada seorang security yang menghampirinya dan menegurnya. Taemin hanya tersenyum malas lalu menjepret security yang memasang wajah kesal itu tiba – tiba. Security itu sempat terkejut saat blitz kamera mengenai wajahnya. Saat ia ingin berteriak, namja cantik ini sudah berlari meninggalkannya.

“Fiuuuh~…”

Taemin menghembuskan nafasnya lelah. Rasanya seperti dikejar security saat ia kecil dulu yang hobi memencet bel apartemen setiap orang lalu berlari sekuat tenaga, “ini menyenangkan..”gumamnya.  Kenangan itu membuatnya tersenyum tipis lalu kini ia kembali mendongakkan kepalanya melihat sekeliling dan akhirnya ia menghentikan taksi untuk membawanya ke hotel incarannya. Hotel termahal di Barcelona, W Hotel.

====**====

Blitz

Jepretan kamera tak hentinya terdengar. Membuat seseorang namja tampan berambut hitam legam ini menghela napas berkali – kali karena melihat tingkah sahabatnya ini.

“sabarlah kau eating machine!”

“Kibum-ah! Aku lapar! Ppali~!!!”

Namja yang dipanggil Kibum ini hanya mendesis kecil melihat aksi sahabat didepannya ini yang tidak sabar. Ya ia adalah Kim Kibum, namja asli Korea yang kini sedang mencoba peruntungannya di Barcelona. Ia nekad pergi karena ada kontes fotografi disini, selain itu semenjak dulu ia memang sangat ingin kesini. Terhitung sudah sebulan ia disini, dan sebulan lagi kontes itu akan diselenggarakan. Jadi sebulan ini ia banyak berlatih mengambil jepretan, apapun itu, garis bawahi apapun i-tu. Seperti sekarang, sudah 10 menit ia memotret cake buatannya didepannya ini. Sedangkan namja dengan tampang menyedihkan dan menahan air liurnya semenjak tadi hanya bisa menatap penuh harap Kibum akan segera menyelesaikan pemotretan anehnya ini.

“Neh~! Dasar kau Choi si perut karet! Makanlah sesukamu..”

Dengan ganas Minho, si namja bertubuh tegap ini memotong strawberry cheese cake yang sudah lama ia pandangi. Entah kenapa ia mulai kesal dengan tingkah Kibum, tidak tahukah ia menunggu makanan yang lezat didepan mata itu membuatnya sangat menderita sebulan ini?

Minho dan Kibum adalah sahabat. Keduanya berkenalan di Barcelona,mungkin ini adalah takdir dan Kibum sangat bersyukur mengingat bagaimana ia nekad ke Spanyol hanya bermodalkan uang secukupnya dan kamera kesayangannya. Setelah ia menabung selama setahun dari hasil gajinya selama di Seoul, akhirnya ia berhasil pergi ke Barcelona. Ia yang selama ini mencari tahu lokasi dan tempat di Spanyol, akhirnya memutuskan untuk menetap di Barcelona.

“Sudahlah…kyibumm..saau ihuu shuhah hehaat..”

“Minho! Telan dulu makananmu, menjijikkan..” desis Kibum.

“Yah! Sudahlah.. kau itu sudah hebat.. untuk apa kau sampai memotret makanan! Cukup kau memotret keindahan kota Barcelona…” Minho menggeleng seraya melanjutkan gigitan nya dan merasakan lumeran keju dan strawberry dimulutnya. Sangat lezat!

Kibum menarik bangku didepan Minho dan menopang dagunya dengan tangan kanannya menatap temannya yang sudah dianggapnya sahabat meski mereka baru sebulan saling mengenal. Ia menghela nafas lalu menggembungkan pipinya imut.

“Yah..Choi.. aku hanya masih belum menemukan sesuatu yang kuinginkan..kau tahu kan tema kompetisi ini?”

“Precious Moment…” gumam Minho masih mengunyah cake nya.

Kibum mengangguk lemah dan kini menyelipkan kepalanya diantara kedua lipatan tangannya diatas meja. Setiap hari ia memikirkan apa yang dimaksud dengan ‘precious moment’ tersebut. Sudah ratusan bahkan mungkin ribuan hasil jepretannya namun belum ada satupun yang membuatnya merasa puas dan sebanyak itu pula lah Minho berkata bahwa hasil jepretannya sempurna. Mungkin hanya Kibum yang mengerti, karena bagaimanapun juga ia yang merasakannya.

“Sudahlah.. besok ambil cutimu, aku akan menggantikanmu bekerja part time, Jordan pasti mengerti, dan kau pergilah berkeliling karena banyak tempat yang belum kau kunjungi kan?”

Kibum membuka mulutnya lebar, lalu terhenti saat ia ingin mengucapkan terima kasih.

“Tentu saja tidak ada yang gratis… buatkan aku kue lagi dan oh ya aku mau coklat caramel please~”

Kibum mendengus malas, lalu ia kembali tersenyum..”Gomawo Minho..”

.

.

“Yah! Ppali JJong! Aku membutuhkanmu sekarang! Aku sudah berjam – jam mencarinya namun tidak ada..”

“…..”

“Ne! 15 menit okay? Kau harus sampai sini,, dan oh ya tolong pesan tiket pesawat tujuan Spanyol! Jangan banyak bertanya nanti akan kujelaskan, okay?Ne~ annyeong!”

“…..”

Pip

Jinki membuang handphone ke sofa lalu memijat pelipisnya. Entah apa yang dipikirkan Taemin saat melakukan ini. Ia tidak bisa keluar, kunci mobil tidak ada, uang tidak ada bahkan kartu credit pun lenyap. Ia tidak tahu harus berbuat apa sampai ia baru teringat akan manajernya, Jonghyun. Ya.. Jinki adalah seorang novelis terkenal. Saat ini karirnya sedang berada di puncak popularitas karena tulisan – tulisan indahnya dan penuh makna. Terakhir novel nya menjadi novel best seller di Korea. Namun kini ia belum ada ide lain untuk menulis, ia habiskan sebulan ini hanya untuk menulis diary. Biasanya buku harian identik dengan wanita, namun tidak baginya, ia mencintai tulisan,ia suka menulis, karena hanya dengan seperti itu ia bisa menumpahkan semua perasaannya.

15 menit berlalu, dan Jonghyun belum kunjung tiba. Jinki berkali – kali mengintip keluar lewat gorden rumahnya. Lalu tepat Jonghyun datang dengan tergesa – gesa.

“Jjong! Akhirnya kau datang.. kenapa lama sekali! Mana kunci mobilmu dan tiket pesawat?”

“hei! Tenanglah Jinki! Jelaskan dulu sebenarnya apa yang terjadi? Kau ingin berlibur?”

“Taemin…! Kau sekarang mengerti kan?”

“Apa..?!”

Lalu tanpa menunggu lama, Jinki menarik Jjong bersamanya. Sebelumnya ia hanya membawa tas ransel merah karena ia pikir ia tidak akan lama disana. Jonghyun yang juga saat itu terkejut menuruti Jinki dan pergi mengantar Jinki ke bandara.

“Jadi bagaimana bisa kau lengah Jinki?~”

“Aku kan sudah katakan tadi! Aku juga tidak mengerti.. ini salahku juga karena menolak menemaninya ke Spanyol…”
Jonghyun hanya menggeleng pelan dan memperhatikan jalan didepannya saat ia menyetir. Ia juga khawatir dengan Jinki yang memaksa pergi kesana. Hei, bahkan Jinki belum pernah kesana dan bagaimana bisa ia melepaskan penulisnya pergi begitu saja sendirian. Namun, ia juga tidak bisa menemaninya. Kini Jinki pergi bermodalkan peta dan Jonghyun telah menelpon kenalannya disana untuk menjemput Jinki di bandara. Beruntunglah Jonghyun adalah tipe yang mampu memiliki teman yang sangat banyak. Tentu saja karena sifatnya yang ramah dan bersahabat.

Akhirnya mereka tiba di Bandara Incheon. Jinki dan Jonghyun berjalan seraya membicarakan apa saja yang harus Jinki lakukan disana dan bagaimana ia mengenali temannya. Jinki juga meminjam kartu credit Jonghyun sebelum ia dikirimkan kartunya yang baru. Jinki tidak bisa menunggu kartu kreditnya dan berdiam diri di Korea mengkhawatirkan keberadaan adik semata wayangnya sendirian di Barcelona. Membuatnya merasakan marah dan khawatir bersamaan. Ia tidak sangka Taemin akan senekad ini.

“Baiklah.. kau ingat apa saja yang kukatakan tadi kan Jinki?” Namja berwajah tegas ini meyakinkan rekan kerja sekaligus sahabatnya perihal temannya yang akan menjemputnya di bandara.

“Yes sir..”

“Ck`! kau! Jangan sampai tersesat..?!”

Tak lama kemudian terdengar tanda pesawatnya akan segera berangkat dan Jinki sejenak memeluk Jonghyun lalu berjanji akan menghubunginya sesampainya disana.

===***===

Bugh

“aw..”

“Lu siento mucho”

Kesekian kalinya Taemin yang terkagum dengan bangunan didepannya menabrak beberapa bahu orang dan ia hanya bisa mengucapkan maaf. Ya, ia mencari tahu kata – kata umum seperti maaf, iya, tidak, terima kasih. Sisanya ia mengandalakan bahasa Inggris atau mungkin bahasa tubuh. Meski sedikit kesulitan namun ia tidak peduli, Taemin merasakan kebebasan luar biasa disini. Tidak ada yang mengatur, tidak ada yang mengganggu waktunya bersenang – senang dengan kamera kesayangannya menangkap semua panorama indah yang membuatnya berkali – kali tersenyum begitu lebar.

Saat ini ia berada di Rambla del Mar yang berarti “laut Rambla” yaitu jembatan diatas laut yang berada di ujung Las Ramblas, bersebrangan dengan Colombus. Begitu menuruni jembatan kau akan menemukan banyak orang bersantai  disepanjang dek kayu.

Taemin mengangkat kameranya dan mulai menjepret keadaan sekeliling. Matahari sore yang hampir terbenam memantul diatas air laut ditambah manusia – manusia yang tertawa dan saling bergurau di sore hari membuatnya ingin mengabadikannya. Ia terus menjepret dengan perasaan yang meluap saat ada kapal pesiar dari kejauhan seperti menghampirinya. Ia semakin memajukan dirinya dan memotret kapal pesiar besar berwarna putih. Wah! Rasanya ia ingin sekali menaikinya, bukan ide buruk kan? Lagipula ia memiliki kartu credit Jinki saat ini dan ia bebas saja melakukan apapun. Sampai tak lama ia merasakan ada tarikan ditangannya membuatnya hampir saja terjatuh.

BRUSH’

Yah. Ada yang terjatuh, dan itu adalah kamera kesayangannya. Giginya gemeretuk kesal dengan orang yang berani menariknya lalu ia berbalik dan berteriak “Yah!! Pabo! Kameraku terjatuh!! Apa kau ini idiot?!”

Huh ?

Namja yang menariknya ini mengerutkan alisnya bingung dengan sosok didepannya ini yang berbicara dengan bahasa korea.

“Yah! Kau memilih terjatuh ke laut atau kameramu? Lagipula apa kau tidak dengar orang berteriak dari tadi?”

Crap~!

Taemin baru memperhatikan sekelilingnya yang juga menatapnya dengan tatapan heran. Lalu ia kembali menatap sosok yang err~ bisa dikatakan cantik ini pergi dari kerumunan manusia.

“Kau orang korea?”

“Menurutmu?” jawab namja cantik bermata tajam ini kesal.

“Kau harus bertanggung jawab!” lalu Taemin melirik kamera yang dikalungkan namja cantik ini.

“Mwo? Yah! Aku sudah berbaik hati menarikmu, karena kalau tidak hal yang lebih buruk terjadi padamu?! Tidak tahu diuntung!”

Taemin melipat tangannya didada dan berpikir sejenak. Baiklah ia memang salah namun bukan berarti ia bisa begitu saja merelakan kamera kesayangannya kan? Namja didepannya ini pun menatapnya tajam seolah mengerti tatapan Taemin.

“Aku tidak peduli! Kau harus bertanggung jawab!“

“Sayang sekali aku tidak akan bisa menggantikan kamera mahalmu itu meskipun kau memaksa, percuma saja” Kibum mengibaskan tangannya malas.

“Tidak.. kau tidak perlu menggantinya.. kau hanya perlu menjadi penunjuk jalanku selama disini! Bagaimana? Tapi kau tidak boleh meminta bayaran karena ini adalah bentuk ganti rugi!”

“Jika aku tidak mau?” namja cantik bermata kucing ini menolak dengan tegas. Lagipula apa salahnya? Ia kan hanya bermaksud menolongnya dan ia tidak tahu jika namja manis ini akan terkejut dan membuat kamera nya terlempar ke laut.

Taemin menyipitkan matanya menelusuri tubuh namja cantik didepannya ini dari atas hingga bawah. Bisa dikatakan fashionnya bagus, namun Taemin tahu pakaiannya bukanlah dari kalangan atas. Well jangan tanyakan kenapa ia bisa tahu, ia hidup berkecukupan di Korea dan selera fashionnya juga sangat bagus sehingga membuatnya mengerti perihal merek pakaian dunia.

“Kau bisa berbahasa Spanyol?”

“Ya..”

“Kau tahu daerah Barcelona dengan baik…?”

“Tidak terlalu karena aku baru satu bulan disini..”

“Ah! Baiklah aku putuskan kau menjadi penunjuk jalanku saat aku disini dan aku tidak peduli! Ini adalah bentuk tanggung jawabmu karena membuatku kehilangan kameraku, arrasseo?”

Namja cantik ini semakin mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan maksud namja pirang didepannya ini.

“Lee Taemin!” ia menyodorkan tangannya dan tidak mendapatkan respon. Lalu ia menarik tangan namja cantik didepannya memaksanya berjabat tangan.

“Kim Kibum….”jawab Kibum canggung.

====***====

Namja tampan sedari tadi menghela nafasnya kesal karena sudah dua jam ia menunggu namun seseorang yang ia tunggu tak kunjung terlihat.

“Minho, tolong jemput namja ini. Ia adalah orang Korea sepertimu. Tingginya sekitar 178cm, berkulit putih dan bermata sipit. Namanya Lee Jinki”.

Okay. Minho berbaik hati menggantikan hari kerja Kibum dan yang ia dapat saat itu ia disuruh menjemput seseorang yang sepertinya sangat penting hingga ia tidak bisa menolak. Ia diberikan foto namja yang harus ia jemput namun ia tidak melihat siapapun seperti foto yang ia pegang sekarang.

“Mana dia.. ck.. apakah boss sedang memainkan lelucon? Ini mengesalkan sekali..”

Minho terus berjalan tak tentu arah, sesekali membenarkan posisi kacamata hitamnya. Tak jarang turis yang melirik kearahnya, mungkin heran plus diam – diam mengaggumi ketampanannya. Oh well ia hanya memakai t-shirt v-neck berwarna baby blue dan jins hitam tetapi tidak dipungkiri ia terlihat sangat tempan. Akhirnya Minho memutuskan menelpon boss nya.

“Yah! Where is he? What? Yeah I writte that name! Lee Jinki right? You don’t kidding me right??”

“Maaf”

Minho merasa ada tepukan di bahunya lalu ia berbalik.

Crap~!

Ia merasa seperti pernah melihat sosok didepannya ini. Tapi…dimana?

“Apa kau orang korea? Kau menyebut nama ‘Lee Jinki’ tadi?”

“Uhm… yeah…omo!” Minho reflek mematikan sambungan telponnya dan mengabaikan teriakan dari line seberang.

Namja yang menepuk bahu Minho ini mengelus dadanya dan menghela nafas lega.

“Annyeong Haseyo… cho neun Lee Jinki imnida..”

What? Namja ini yang sedari tadi duduk didepannya? What The Hell Choi Minho sedari tadi kau melihatnya dan tidak mengenalinya. Bukan salahnya karena difoto ini namja bernama Jinki ini tidak memakai kacamata, sedangkan sosok didepannya kini sedang memakai kacamata! Dan terlihat lebih kurus dari fotonya. “shit! Boss apa kau memberiku fotonya beberapa tahun yang lalu!” gumam Minho pelan.

“Oh.. mianhamnida.. cho neun Choi Minho imnida..”

Tak lama setelah mereka berjabat tangan dan tersenyum merasa ada aura kecanggungan satu sama lain. Bagaimana mungkin mereka tidak menyadarinya dan Jinki pun tidak menyadari banner yang dibawa Minho bertuliskan namanya, lagipula yang ia dengar seseorang yang akan menjemputnya adalah namja paruh baya bukan seperti yang ia lihat, bahkan Minho terlihat lebih muda darinya. Ck~! Jonghyun apa yang kau lakukan disaat genting seperti ini!

“Baiklah.. sebelumnya aku minta maaf aku tidak tahu jika kau lah yang menjemputku.. aku benar – benar minta maaf telah merepotkan..” Jinki membungkuk berkali – kali. Lalu Minho mengehentikannya dengan menepuk bahunya pelan.

“Anio.. aku yang salah karena tidak mengenalimu.. sudahlah yang penting sekarang lebih baik kau ikut aku.. karena ini sudah malam lebih baik kau kuantarkan ke Hotel sekarang..”

“Ne.. maaf merepotkan..”

Dan kali ini Jinki mengikuti Minho menuju mobil Minho. Mereka berbincang diperjalanan mengenai alasan Jinki ke Spanyol dan membuat Minho terkejut pada awalnya. Lalu saat itu Jinki meminta Minho menjadi tour guide nya selama di Barcelona. Tentu saja Jinki memberikan bayaran untuk Minho dan Minho dengan senang hati tidak menolaknya karena nilai yang ditawarkan Jinki sesuai dan tidak mengganggu waktu kerja part time nya di café.

===***===

“Haaaah~!”

Kibum berkali – kali mendengus kesal karena telponnya tidak kunjung diangkat Minho! Rasanya ia ingin berteriak kesal dan memilih saat itu menolak tawaran Minho menggantikannya bekerja. Seharusnya sejak awal ia tidak menerima tawaran Minho, seharusnya ia pergi bekerja part time di café ! dan seharusnya ia tidak bertemu namja licik itu!! Ahhh mengingat namja bernama Lee Taemin itu membuatnya sakit kepala. Dunia seperti berputar – putar diatas kepalanya.

Lalu tak lama kemudian ponselnya berbunyi dan terlihat nama seseorang yang sedari tadi ia hubungi. “Choi!! You’ll dead!!”gumamnya.

“Yah!! Dari mana saja kau! Kau tahu aku mengalami kesialan karena dirimu! Kau harus bertanggung jawab!”

“Yah! Jangan berteriak bodoh.. aku juga sial! Nanti aku ceritakan sekarang aku lelah!” suara Minho terdengar pelan seperti tidak ingin terdengar seseorang disampingnya.

Kibum hanya mendengus malas lalu memutuskan untuk mengirim sms.

Yah! Apa yang kau lakukan hari ini! Kenapa baru pulang.. aku mengalami kesialan hari ini dan kau harus bertanggung jawab Choi!

Sent

Drrtt…

Ck~ sudahlah Kibum.. aku juga harus menjemput orang korea di bandara dan menunggunya selama dua jam lebih! Ini juga sial.. tapi kabar baiknya aku menjadi tour guide nya selama ia disini dan ia juga tinggal di apartemenku agar memudahkannya. Jadi aku akan mengganti rugi hal yang kau sebut ‘kesialan’ itu okay? Deal? Good night~!

Kibum membelalakkan matanya tidak percaya! Apanya yang sial? Itu justru sangat beruntung well setidaknya Minho mendapatkan bayaran sedangkan dia? Malah sekarang anak sialan itu berada di apartemennya dan memutuskan tinggal bersamanya.

Kita harus bicara Minho.. temui aku besok ditempat biasa.

Sent

Kibum membuang ponselnya asal disudut sofa lalu memijit pelipisnya lelah. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Disini, di apartemennya tinggal seorang namja asing yang bersikeras tinggal ditempatnya. Awalnya ia menolak dan tidak menghiraukannya namun hal itu sia – sia karena hari itu juga Taemin-namja gila- ini terus mengikutinya dan membuatnya tidak konsentrasi memotret. Dengan sangat berat hati ia mengiyakan permintaan Taemin saat itu.

“Apa disini tidak ada makanan enak? Kenapa kulkasmu isinya kue semua? Dimana minuman dingin? Atau wine mungkin?”

Aish!!

Anak ini lagi.. Kibum berdecak kesal melihat sosok yang menyebalkan ini mendekatinya dan duduk disampingnya dengan wajah yang sangat santai seolah mereka adalah teman kecil.

“Kau pikir berapa usiamu? kau lebih cocok minum susu..” jawab Kibum mengejek mengangkat sudut bibirnya.

“Yah! Aku sudah 18 tahun! Dan aku sudah bebas sekarang.. jangan meremehkanku..” jawab Taemin tidak kalah tegas namun terkesan kekanakkan bagi Kibum.

Well Kibum, apa kau mulai merasa Taemin ini lucu dan menggemaskan?

Kibum buru – buru menggelengkan kepalanya menghapus pikiran konyolnya. Namja didepannya ini seperti bermuka dua, bisa sangat lucu dan bisa sangat menyebalkan.

“Sudahlah.. lebih baik kau beristirahat…aku lelah..selamat malam Taemin..”

“Kibum hyung.. ini masih sore.. kenapa kau tidak menemaniku menonton film saja?”

Kibum memilih mengabaikan Taemin yang masih mencari kumpulan dvd dirak TV nya, well lagipula itu adalah kumpulan dvd Minho. Bukan dirinya, karena Minho berkata TV nya rusak lalu ia membawa semua dvd nya ke apartemen Kibum. Entah film apa saja yang Minho bawa ia tidak begitu peduli.

Sementara wajah Taemin kini memerah saat menyetel beberapa dvd yang ternyata adalah film dewasa. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidur. Ia tidak menyangka selera film Kibum seperti ini.

.

.

.

“Hyung.. kau tidur disini tidak apa?”

“Tentu saja Minho.. ini lebih baik daripada aku tertidur di jalanan kan? Maaf merepotkan..aku akan membayar semua ini jika credit card ku sudah tiba..”

Yeah.. ternyata Kim Jonghyun yang cerdas luar biasa itu memberikannya credit card yang sudah limit dan belum melakukan pembayaran. Jinki mengerang kesal saat ia ingin menyewa kamar hotel namun tidak bisa. Akhirnya saat itu Minho menawarkan tinggal ditempatnya untuk sementara waktu.

Ini bukan salahnya karena saat itu Lee Taemin bahkan tidak meninggalkan sepeserpun uang cash di dompetnya dan semua kartu credit beserta ATM pun dibawa. Entah apa maksudnya, sepertinya ia benar – benar ingin Jinki tidak mencarinya.

Jinki semakin kesal saat  ia tahu keberadaan Taemin melalui aktivitas credit cardnya jika adiknya menginap di hotel W, lalu saat ia kesana Taemin sudah check out!

Kini Jinki memilih mengistirahatkan tubuhnya, ia merasa sangat lelah saat ini. Sejenak memandang sekeliling kamarnya, ia mencium aroma manis seolah tempat ini pernah ditempati seseorang sebelumnya.

Tanpa Jinki ketahui, kamar itu adalah tempat dimana Kibum tidur jika ia ingin bermalam di apartemen Minho. Lalu diam – diam Jinki menyukai kamar ini lalu tersenyum sebelum ia tertidur.

===***===

Ini adalah hari pertama Kibum menemani Taemin berjalan dan hari pertama Minho menemani Jinki untuk mencari adiknya yang hilang. Kibum sudah bicara dengan Minho perihal semuanya, perihal masalahnya yang sial merusak kamera seseorang dan harus menemaninya berkeliling Barcelona sebagai ganti rugi. Lalu Minho juga telah menceritakan perihal bagaimana dirinya harus menemani Lee Jinki untuk mencari adiknya yang hilang.

“Hyung!! Temani aku membeli kamera.. kau harus bertanggung jawab karena kau merusak kameraku!” Taemin merengut kesal.

“Baiklah.. ayo kita ke Maremagnum…”

Tak lama kemudian mereka tiba di Maremagnum Shopping Mall. Disini terdapat coffee shop, restauran dan toko – toko berbagai barang merek Spanyol. Setelah beberapa saat Taemin memilih – milih kamera yang ia inginkan akhirnya ia memutuskan membelinya dan menggunakan lagi credit card Jinki. Sebelumnya ia khawatir jika Jinki akan menemukannya jika ia terus tinggal di hotel karena ia baru sadar payment nya bisa dilacak. Bersyukurlah ia bertemu Kibum meski harus merelakan kamera kesayangannya yang saat ini sedang di service. Ia tidak mungkin membuang begitu saja kamera itu, karena itu adalah pemberian Jinki, saat hyungnya itu menerima bayaran pertamanya saat menjadi penulis.

Kibum sudah merasa lelah dan ia ingin ke coffee shop. Namun Taemin bersikeras meminta diantar ke gereja yang sangat terkenal disana, Katedral.

Tak hentinya Kibum mendengus kesal, lalu ia teringat ia juga akan mengambil foto – foto disana. Sepertinya itu bukan ide buruk. Sesekali mereka bertukar pendapat mengenai hasil jepretan masing – masing.

Dilain pihak, Jinki yang baru saja mendapatkan informasi mengenai credit card nya yang baru saja dipakai disalah satu toko kamera langsung pergi ke lokasi tersebut dengan bantuan Minho pastinya. Namun percuma, karena sosok yang ia cari itu sudah pergi entah kemana. Pelayan tersebut menambahkan jika adiknya yang Jinki jelaskan cirri – cirinya tadi memang datang dan ia bersama seseorang. Seketika Jinki merasa cemas. Dengan seseorang? Siapa? Pelayan toko hanya menjelaskan bahwa seseorang tersebut juga tampaknya orang Korea. Ini membuat Jinki semakin bingung.

“Hyung.. gwenchana?” Minho bertanya, menepuk bahu Jinki saat melihat wajah Jinki memucat.

“Ne.. gomawo Minho yah~ maaf aku merepotkanmu..”

Minho hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan.

“Taemin… dimana kau?” Jinki berkata pelan lebih kepada dirinya sendiri.

.

.

.

Ini sudah pukul dua siang. Di Barcelona, kau akan menemukan keajaiban saat waktu menunjukkan pukul dua siang. Orang berkata..”pukul 2.00 sore saat dimulainya keajaiban..”

Kini Jinki merasakannya.  Barcelona adalah kota yang menarik, dinamis, menggairahkan dan beragam. Tidak ada waktu untuk merasa bosan disini. Semenjak Jinki melihat lagi keindahan Barcelona ia selalu berpikir ingin mengajak seseorang yang kelak akan menjadi teman hidupnya. Ah ini mengingatkannya pada anak itu. Yah.. anak manis yang tersenyumcantik saat menerima ice cream rasa mint darinya.

“Dia… apa kabar..”

Jinki menggumam pelan saat ingatan itu berputar dikepalanya sepertinya kaset hidupnya sedang menyetel alur mundur saat ini. Ia tersenyum mengingat senyum anak itu.

“Aku ingin ice cream rasa mint!”

“What are you talking about kid? We don’t understand..where are your mom?”

Namja kecil ini lalu menangis saat pelayan itu tidak juga mengerti maksudnya.

“Im sorry.. can you give him ice cream.. um yeah mint flavor one please..”

Lalu anak manis itu mengusap air matanya kasar saat ia melihat ice cream mint kesukaannya didepan wajahnya dan sosok dibelakang ice cream itu tersenyum dengan sangat lebar memperlihatkan gigi kelincinya dan membuat matanya berbentuk garis tipis.

Jinki belum melupakannya, ya saat itu, saat ia melihat anak manis menangis demi sebuah ice cream dan saat namja manis itu mengucapkan terima kasih dengan wajah yang memerah. Usianya saat itu baru 10 tahun dan ia tidak tahu berapa usia anak kecil didepannya ini. Oh tidak terasa sudah 13 tahun berlalu semenjak pertama kali ia kesini, Barcelona. Namun itu hanya kenangan kecil sebelum keesokannya ia pergi meninggalkan Barcelona. Status sang appa sebagai duta besar Korea saat itu, membuatnya harus berpindah tempat mengikuti lokasi tugas sang appa. Dan ia menyesal mengapa disaat terakhir harinya disana ia baru bertemu namja manis itu. Apakah itu cinta pada pandangan pertama? Jinki tidak mengerti, yang ia tahu ia belum melupakan senyum manis namja itu.

Kini Jinki sedang merasakan yang dinamakan ‘siesta’. Saat dimana warga Barcelona berhenti melakukan aktivitas mereka. Mereka menutup toko dan voila! Rasanya Jinki menyewa seluruh kota saat itu. Ini mengingatkannya juga dimasa lalu saat ia melihat namja manis itu. Saat Toko ice cream itu ingin tutup, namja itu justru bersikeras membeli ice cream ditambah ia tidak bisa menggunakan bahasa Inggris sekalipun.

Sepertinya ia mengalami hal yang dinamakan De Javu.

“Oh please.. give me ice cream! Its not 2.00 PM yet!”

Jinki menoleh kesumber suara, ia melihat sosok namja yang bersikeras memohon ice cream. Jinki tertawa kecil, mengapa ini seperti masa lalunya. Ia menghampiri namja manis itu berdiri yang sedang memohon.

“Permisi.. bisakah kau memberinya ice cream mint sebelum tutup?” Jinki mengucapkannya dalam bahasa Spanyol dan ia tersenyum lebar.

Well, Jinki mengingat kalimat ini karena dulu saat kecil ia pernah mengucapkannya. Lalu tiba – tiba saja itu keluar dari mulutnya. Seperti sebuah keajaiban ia masih mengingatnya.

Dan namja manis itu menoleh menangkap sosok tampan yang membantunya.

Deg’

Mata Jinki dan Kibum terkunci satu sama lain. Seperti kisah yang terulang, seperti dongeng yang kau dengar sebelum tertidur dan seperti omong kosong mengenai…love at the first sight.

Jinki merasa mata cantik didepannya ini tidaklah asing.

Kibum merasa mata sabit dan senyum lebar didepannya ini tidaklah asing.

Kapan? Dimana? Bagaimana?

Keduanya masih melihat satu sama lain. Jinki tercekat memandang namja didepannya, seperti lukisan terindah yang pernah ia lihat. Mata setajam kucing, hidung mancung, bibir yang merah dan kulit yang putih seputih susu. Kibum dilain pihak merasa tersedot kedalam senyuman namja didepannya. Senyum yang mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya saat ia berusia 8 tahun.

Jinki tersadar saat penjual ice cream di toko pinggir jalan itu menyodorkan ice cream dihadapannya. Lalu Jinki mengucapkan terima kasih dan membungkuk sopan. Sang pelayan toko berangsur menutup toko dengan wajah agak kesal dan melirik kearah Kibum yang masih terdiam.

“Here…”

“Ah.. thanks..”Kibum mengambil ice cream cone rasa mint itu dan tersenyum canggung menggaruk tengkuknya.

Jinki untuk kesekian kalinya menganggumi senyum cantik itu. Keadaan sekeliling yang sepi seolah membiarkannya menikmati keindahan sosok didepannya tanpa ada suara bising orang – orang disekitarnya.

“Memalukan sekali..” gumam Kibum dengan bahasa Korea.

Jinki terkejut lalu tersenyum..”Kau orang korea..?”

“Mwo? Yeah.. kau..”

Lalu keduanya tertawa canggung. Akhirnya Kibum mendapatkan teman lain selain Minho yang berwarga Negara Korea. Jinki awalnya ragu karena sosok cantik ini mewarnai rambutnya kuning keemasan. Meskipun raut asianya masih terlihat, namun Jinki tidak tahu jika ia juga warga negara Korea. Kini mereka merasa sedikit rileks. Lalu kini keduanya terduduk disebuah bangku kayu panjang dekat gereja katedral didepannya.

Dentangan lonceng gereja ditengah kesunyian kota saat itu membuat Jinki tersadar.

“Ini sangat menyenangkan bukan? Berjalan – jalan disaat seperti ini?”

“Huh?” Kibum mengerutkan alisnya tidak mengerti.

“Siesta… saat dimana aku seperti menyewa seluruh kota untuk diriku sendiri.. sunyi dan tenang. Bukankah ini sangat luar biasa?” Jinki membuka matanya yang sempat terpejam merasakan dentangan gereja mulai memelan dan sayup – sayup menghilang.

Kibum tersenyum mendengarkan perkataan Jinki dan ia sependapat dengannya.

“Yah.. oleh karena itu aku suka memotret saat – saat seperti ini, saat dimana kota Barcelona hanya ada diriku dan gedung – gedung tua ini, klasik..”

Jinki mengangguk membiarkan Kibum meneruskan perkataannya.

“Ini sangat tenang, tapi aku lebih menyukai saat keadaan ramai.. melihat setiap orang tersenyum bahagia, atau melihat beberapa remaja bermain skate board..rasanya kota ini penuh kebebasan..”

Yeah. Jinki mengerti maksud Kibum. Namun sepertinya ia adalah tipe yang berbanding terbalik dengan Kibum.

Jika Kibum memilih merekam keadaan sekitarnya satu per satu dengan memotretnya, maka bagi Jinki ia cukup merekamnya dalam ingatannya lalu menuliskannya. “Aku menulisnya”, sepertinya ekspresinya tampak begitu bombastis untuk menjelaskannya sebentar, lalu meninggalkannya dalam memo, sedangkan “aku merekamnya”, ekspresinya terlihat biasa saja.

 Jinki adalah seseorang yang analog.

Kibum adalah seseorang yang digital.

Kibum merasa ia harus mengabadikan seluruh momen berharga dengan kameranya. Ia ingin mengabadikannya dan membuat momen itu selalu terasa saat ia melihat fotonya.

Kibum terus berucap, tak sadar membuat Jinki tersenyum kecil melihat sosok didepannya ini sangat aktif menceritakan perihal hobi nya dalam memotret.

Memotret.

Ah!

Ia teringat akan Taemin. Ia tidak menyangka ia melupakan tujuannya kesini beberapa saat. Ia berpencar dengan Minho yang telah memegang foto Taemin. Lalu kini ia justru terduduk santai menikmati saat – saat siesta.

Lalu Jinki menolehkan wajahnya kearah sosok yang duduk disebelahnya untuk undur diri mencari adiknya lagi, mulutnya terhenti saat ia melihat sosok didepannya terlihat…lucu.

“Umh.. itu..”

“Uh?”

Waktu seolah benar – benar terhenti saat Jinki perlahan menjulurkan tangannya kearah wajah Kibum dan mengusap sisa ice cream yang ada disisi bibir Kibum. Mata Jinki tertuju pada bibir Kibum, mengusapnya pelan dengan ibu jari nya. Tubuh Kibum menegang saat merasakan jarak diantara mereka terlalu dekat dan kemudian mata itu bertemu kembali.

Deg

Deg

Deg

Detak jantung siapa itu? Tidak ada yang tahu dan mereka tidak mempedulikannya. Mereka seolah tersedot dalam waktu yang aneh, sayup – sayup terdengar kicauan burung liar seolah mengejek dua sosok yang diam – diam saling mengagumi satu sama lain ini.

Drtt..Drtt

Ponsel Kibum bergetar menyadarkan keduanya dan bergerak canggung. Kibum mengeluarkan ponselnya lau membaca ada pesan dari Taemin.

Kau dimana?! Temui aku disisi kanan Gereja! Aku mendapatkan masalah!

Masalah? Kibum seketika merasakan cemas. Well Barcelona juga bukan merupakan tempat yang aman, banyak pencuri berkeliaran dan juga ada orang yang genap melakukan pelecehan seksual. Ditambah Taemin terlalu cantik sebagai namja, dan orang seperti dirinya banyak diminati lelaki di sini.

Jinki mengamati wajah Kibum yang terlihat seperti cemas dan terburu – buru mengetik pesan.

“Ada apa?”

“Ah.. maaf.. aku harus pergi.. terima kasih untuk ice creamnya..aku harus pergi sekarang..”

“Ah ne.. tu-“

Terlambat.

Kibum melesat pergi mencari Taemin, sedangkan Jinki hanya bisa tertegun menatap punggung Kibum yang semakin menjauh. Ia menyesalinya, ia bahkan belum mengetahui nama sosok cantik yang membuatnya sedikit berdebar itu.

“Mungkin.. kita akan bertemu lagi…” gumam Jinki pelan.

Lalu ia melihat ponselnya dan mengerang kesal saat ia lihat ponselnya mati.

“Sial… “

Jinki memutuskan kembali ke apartemen Minho dan menunggunya pulang.

.

.

.

“kau dari mana saja sih hyung?” Taemin berujar kesal seraya memasukkan kameranya ke tas kecilnya.

“Maaf.. jadi ada apa?”

Taemin menjelaskan mengenai sosok yang tiba – tiba menahannya. Ia lalu menyebut namanya dan menahan Taemin yang tak lama Taemin tahu ia adalah salah seorang suruhan hyungnya untuk membawanya pulang. Dengan berbagai cara ia bisa terlepas dari namja yang well- menurutnya cukup tampan- itu. Ia mulai merasa tidak aman. Bagaimana bisa Jinki Hyung menemukannya?

“Sudahlah Taemin.. lebih baik kau menemui hyungmu..mungkin saja dia benar – benar mengkhawatirkanmu..?” Kibum mencoba menasehati Taemin.

“Jika saja sejak awal ia mau menemaniku.. jika saja ia memberikan waktunya untukku.. kini ia harus merasakan pembalasanku..” jawab Taemin dingin.

Kibum merasakan nada bicara Taemin yang berbeda dari biasanya. Terdengar sedikit.. sedih dan terluka. Ia memilih diam dan menepuk bahu Taemin memberikan semangat. Mungkin Taemin memerlukan waktu untuk menyadari bahwa sesungguhnya hyungnya menyayanginya, bahkan terlalu menyayanginya.

Lalu mereka memutuskan kembali ke apartemen Kibum.

.

.

.

“Apa?!” suara Jinki terdengar sangat terkejut.

“Maaf hyung aku tidak berhasil membawanya, saat itu tiba – tiba saja ia menggigit tanganku dan ia berlari dengan  sangat cepat..” jawab Minho merasa sangat bersalah. Padahal ia sudah menemukan Taemin.

“Ah.. tidak perlu minta maaf Minho..setidaknya kita tahu ia berada disekitar kita.. dan besok kita bisa mencarinya lagi…”

“Ne… jeongmal mianhae..” Minho membungkuk meminta maaf.

Lalu Jinki berjalan menuju kamarnya dengan sangat lemas. Ia benar – benar mengkhawatirkan adiknya saat ini. Atau ia harus melaporkan pada polisi setempat? Sampai kapan ia harus bermain kucing – kucingan dengan Taemin? Jinki terus berfikir jalan terbaik, namun akhirnya ia memutuskan untuk menunggunya beberapa saat lagi.

Kini ia sudah memakai pakaian tidurnya dan berbaring diatas kasur memandang langit – langit kamar. Tiba – tiba bayang – bayang sosok cantik bermata tajam itu menghampirinya. Tanpa sadar ia tersenyum kecil, dan merasa aroma kamar ini persis seperti aroma tubuh namja itu. Ani! Mungkin ini hanya ilusinya. Ini terlalu berlebihan. Jinki merutuki kebodohannya dan berangsur tidur.

Dilain tempat, tepatnya berbeda beberapa pintu apartemen saja, Kibum pun tersenyum mengingat kejadian siang tadi.

“Siesta….dan kau…”

Kibum baru tersadar bahwa ia juga tidak sempat menanyakan nama namja baik hati itu, well setidaknya jika saja suatu saat mereka bertemu lagi, ia tidak canggung.

Bertemu lagi?

Apakah Kibum mengharapkannya?

“Kuharap aku akan bertemu dengannya lagi…” gumam Kibum pelan sebelum terlelap.

 .

.

.

.

.

TBC

gimana? ;;__;; aneh yh? ahh berikan komentar dan kalau ga laku aku ga lanjut deh  *plak* hohoho… silent reader sih boleh aja tapi kamuuu bakal kesusahan nantinya trust me guys *_* 

siap2 save nomor saya *plak* okaay bubyee~~ *lambai2 cantik*

 

161 thoughts on “[JinKibum] Road to Me – Part 1

  1. Huaaaaaa mwoyaaaaaa
    Benci banget sama ka yuaaaaaa!!!
    Kenapa ff nya harus bagus banget kaya gini ㅠㅠ
    Yaampun taeminnnnn bandel banget deh sampe jinki kelimpungan gitu
    Yaampun ternyata dunia sempit banget.
    Walaupun mereka udah beda negara tapi tetep aja………….
    Permainan kucing2an yang sangattttt seru.

    Oh de ja vu? Pasti anak kecil yang waktu itu minta eskrim juga kibum! Yakin!!!!
    Lanjut

  2. Lanjuut ah..

    Gk tw msti komen ap…
    Pnasarn ma cra mreka ketemu nnti..

    Mungkinkh…
    Minho ma Kibum sma2 lelah dg ‘tugas’ mreka lalu mmutuskn untuk brtemu, smbil mmbwa ‘majikn’mereka dan~ Tadaaa.. !!
    “Hyungg..?!?”
    “Taemin..?!”
    *Plak..!Plak..!

  3. seru seru seru!!!
    suka suka suka!!!

    ini- sangat menarik, penasaran gmn jdx dng JinKibum. Taebyy aish… bandel y?!:)

  4. Ide ceritanya menarik , dari buku itu ya SOTS ,, bener deh si Onkeytae kaya liburan keluarga disanaaa , onkey bulan madu anaknya (taemin) diajak jiahahahaha

    Taemin tega banged , licik juga pula masa dikasih minum teh plus obat tidur sih hyungnya, plus uang semua diambil , untung si Jinki kaya hahahaha, bener” deh si Taemin , gasuka ya adek manis kelakuan kamu kaya gitu ! Iyaa oke boleh deh marah gara” ga ditemenin mau liburan ke Eropa ya tapi ga nekat plus ambil semua uangnya gitu juga kaleee huuuu

    aaahh moment manis Onkey tuh , saya suka suka sekaliii \^o^/ oooghh jadi anak kecil manis itu pasti Kibum , jelas deh udah kentara , moment itu keulang lagi , uwaaaa sama” saling mengagumi hahaha and saling sukaaa cieeee

    hahahah padahal ya si Taemin itu ada di apartemen si Kibum yang emang 1 apartemen sama si Minho ..

    Ck! Ciiie jinki bisa nyium aroma ny si kibum , jelas kamar itu tempat nginep si kibum hahahaha

    semoga mereka ketemu biar jadian and si taemin ketemu si jinki jewer sekalian anak nakal itu!

  5. aiiih, suka banget sama ceritanya
    Rangkaian katanya juga bagus dan engga ngebosenin🙂
    jeongmal jeongmal, kayak nonton drama, bukan baca fict. Soalnya feel nya bener bener dapet dan kebayang banget😀
    aih yang pastinya makin tambah cinta sama jinkibum :*

  6. Pingback: Road to Me « JINKIBUM Fanfiction Paradise

  7. pertemuan yg manis, tp iya berasa main kucing2an hahaha Yah, semangat dubu, taemin cuma beberapa pintu dr kamarmu kok, kkkkk

  8. Ah keren,tertarik buat baca chap selanjutnya😀
    Duh,padahal mereka cuma beda beberaoa pintu apartemen ya,haduhhhhh gemes jadinya,kkkk
    Author paling pinter nih,bikn aku gemes,kkkk
    Gemes sama tingkah uri Taemin,hahah
    Tuh anak bener2 keras kepala,kan kasihan Hyungmu Taem,hukz
    Tapi gpp si,kalo pada akhirnya misi pencarianTaem ternyata kebetulan bertemu dgn Kibum,yang justru mereka dulunya dah pernah ketemu,dan pertemuan keduanya samaa lagi.
    ok next lah🙂

  9. Pas awal baca udah ktbak bakalnseru ini ff.
    Itu taemin bandel mya ampunyah. Kasian jinki ampe puyeng nyari mana ga bawa duit wkwkwk.
    Lnjut thoor lanjut hehehe

  10. duh laki aku kurang ajar banget ya (baca:taemin)
    maafin suami aku (baca : taemin) yaa *dihajartaem
    ini bagus ka cerita nya. seru seru seru
    mau k chapter berikutnyaaa ~

  11. Kyaaaaa…suka.suka.sukaaaa…

    Wiiissshhh si Taem nekad bgt sampe keluar negri ckckckXD
    untung ada Kibum,,,dan..dan untungnya lgi Onew sama Minho…dan..dan..jarak apartement Minkey deket bgt..aigoo….geregeet…

  12. huwaaa… mantap boy… onkey bernostalgia . kkk~ tetem… sungguh pertemuan yang tak terduga… pasti.a kalian kan bertemu lg. next jinhun bukan readers slient. -_- #tersungkur

  13. Aaaaa ini bnr2 berbelok2 (?) Wkwkwk
    Onho ber2 dan taekey berdua huaaa mereka dkt padahal.. jd apakah jinkibum punya suatu kejadian dmsa lalu?? Ooo next ^^

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s