[JinKibum] Road to Me – Part 2


Foreword

Fast Update!! hahahaah ! well baik kan saya? *dilempar dollar*

ini update an nya yaah!! semoga kalian mengerti cerita aneh ini. seperti yang saya bilang ini terinspirasi dari buku OnTaeKey di Barcelona. so! enjoy this guys!

yang nanya masalah Jinki udah pernah ke spanyol apa belum, ini aku jelasin okay ^^

This is so bored! I know my fic is still not good enough but I’ll be thankful if you all read and leaving comment! Hihi~

No Bash

No Plagiarism

This is My Story

sorry for typo  ><

 

Main Cast : Lee Jinki – Kim Kibum

Support Cast : Lee Taemin – Choi Minho – Kim Jonghyun

Genre : Life . Romance.

Pairing : OnKey. Slight!2Min

Rating : PG – NC 17, this time is PG.

Author : Eternalonkey Yua

Chapter 2 – will you be mine?

Hari ke-lima.

Ya .. ini adalah hari ke-lima Jinki berada di Barcelona mencari sang adik, Taemin. Kemarin Minho berkata bahwa ia telah menemukan Taemin dan sempat memegang tangannya lalu hampir saja menyeretnya pulang. Sayang sekali Taemin jauh lebih cerdas, saat itu ia spontan menggigit lengan Minho dan berhasil kabur.

“Aku benar – benar menyesal hyung…” suara Minho memecah keheningan diantara mereka.

Jinki tersenyum tipis dan mengoles roti nya dengan selai coklat..”Aniyo.. setidaknya saat ini aku tahu, Taemin berada disekitar kita dan aku rasa sudah saatnya aku memblokir kartu kreditnya..”.

Minho mengangguk pasrah.

“Ne~ Minho aku belum tahu sebenarnya apa pekerjaanmu disini? Dan kenapa kau tinggal di sini?”Tanya Jinki heran, lalu menggigit rotinya.

Minho menghela nafas pelan, entah sudah berapa orang yang menanyakan hal ini padanya. Well jika dilihat baik – baik Minho memiliki tubuh yang sangat ideal, tinggi, kulit agak kecoklatan, sempurna. Jinki tidak mengerti apa yang Minho lakukan disini dan tinggal di apartemen yang bisa dibilang tidak begitu besar. Ya hanya bisa ditinggali dua orang namun tetap terkesan cozy.

“Aku sudah sejak lulus SMA pergi travelling keliling Eropa, aku menyukai kebebasan, dan selagi kita muda kenapa kita tidak memanfaatkan kesempatan ini, iya kan?” Minho menaikkan bahunya seraya tersenyum.

Jinki mengangguk setuju, membuatnya semakin teringat adiknya, jika dipikir lagi mereka mirip. Sama – sama menyukai kebebasan dan terobsesi keliling dunia.

“Lalu? Apa pekerjaanmu?”

“Aku bisa mengerjakan apa saja hyung… yaah seperti yang kau ketahui aku juga mengambil part time di tempat Jordan. Lalu dengan bantuan Jordan pula aku diberi kesempatan untuk menjadi tour guide di Barcelona.. dan lumayan bukan? Aku mengantar turis asing dan khususnya orang Korea dengan gratis ditambah aku mendapatkan bayaran..” Minho terkekeh.

“Seperti sekarang ?” Jinki menambahkan.

“Yes sir..”

Lalu keduanya tertawa. Jinki merasa Minho adalah namja yang baik dan unik.

“Hyung.. boleh aku bertanya sesuatu?” Minho  memberanikan diri bertanya, ada yang mengganggu pikirannya sejak semalam, ah tidak, sejak ia bertemu Taemin.

“Tentu saja.. katakanlah..” jawab Jinki setelah meneguk susu vanillanya.

“Aku tidak mengerti..mengapa adikmu harus melarikan diri? Apa kalian ada masalah?”

Minho menatap lurus kearah mata Jinki, mencari kebenaran. Entahlah ia merasa ini aneh saja, seorang adik mati – matian lari dari kakak kandungnya bahkan hingga nekad ke Spanyol seorang diri. Jika dipikir lagi secara logika seharusnya ada sesuatu yang terjadi diantara mereka bukan?

“Bagaimana aku harus menjelaskanya ..hmm.. Taemin hanya ingin berlibur saja dan aku tidak ada waktu menemaninya karena aku masih terikat kontrak..”

“Kontrak?”

“Penulis..  aku adalah penulis di Korea. Kau pernah dengan nama Lee Onew? Aku memakai nama pena itu, tidak dengan nama asliku..”jawab Jinki menanggapi wajah penuh Tanya Minho.

Minho tampak berpikir keras, sepertinya ia pernah mendengar nama itu.

Lee Onew.

Hmmm.. sepertinya…

“Omo!! Hyung ! Jadi kau lah yang menulis buku ‘Road to Me’ ?”

Jinki mengangguk pelan. Minho membulatkan bibirnya dan matanya semakin membesar. Ia tidak percaya ia akan bertemu dengan Onew, penulis yang buku favoritnya selama ini. Well, Jinki belum mau memperlihatkan dirinya pada khalayak umum dengan alasan ia tidak menyukai hingar binger kamera. Ia lebih suka ketenangan dan menulis. Baginya dengan menulis dan tulisannya diterima masyarakat itu sudah merupakan kebahagiaan baginya. Rasanya seperti membuka pikiran banyak orang melalu kata – katanya. Jangan heran, karena Jinki adalah lulusan filsafat. Sebelumnya ia banyak menulis cerpen di artikel – artikel surat kabar. Ia juga pernah menulis puisi – puisi romantis yang membuat para pembacanya penasaran dengan sosoknya. Namun saat tak lama ia harus melakukan jumpa fans, ia terpaksa membatalkannya karena kepergian Taemin.

“Ya.. begitulah.. hanya tulisan sederhana…”

“Yah! Hyung… berkat tulisanmu lah aku memberanikan diri pergi ke sini. Tulisanmu memberikanku inspirasi dan keberanian.. lalu kapan buku edisi terakhir akan terbit?”

Jinki menghela nafas pelan, ia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Sebenarnya di buku edisi terakhir ini ia kesulitan. Ia kesulitan karena ia juga belum menemukan jawabannya.

And who knows he will got it.

“Entahhlah Minho.. mungkin beberapa saat lagi, aku masih menulisnya.. terima kasih kau menyukai tulisanku…”

“Tentu saja hyung! Jadi hari ini kita kemana? Apa tempat tujuan yang ingin kau kunjungi? Atau kita mencari Taemin lagi?”

Jinki berfikir, saat ini mungkin Taemin tidak akan keluar apalagi setelah insiden kemarin. Jinki mengigit bibirnya memperkirakan apa yang akan dilakukan Taemin saat ini.

“Tidak, Taemin pasti tidak akan keluar hari ini, ia pasti memilih mencari aman. Hmm Minho, bisa kau antar aku saja ke tempat menarik disini?” Tanya Jinki.

“Hanya mengantar? Kau yakin hyung?”

“Ya.. Minho..aku rasa aku ingin sendiri..”

.

.

.

“Taemin bangun…?!”

“Hummhh..”

Sudah berkali – kali Kibum menarik selimut yang menutup tubuh polos Taemin. Sepertinya sudah kebiasaannya tidur tanpa mengenakan atasan. Sudah dua puluh menit ia melakukan adegan tarik – menarik selimut namun Taemin masih bersikeras memeluk gulingnya.

“Yah! Bangun! Ini sudah hampir siang..! Apa kau tidak ingin pergi? Bagaimana dengan kompetisi itu? Atau kau akan kalah dariku..” ujar Kibum angkuh.

Taemin menaikkan sudut kiri bibirnya dan berdecak,”Percuma saja hyung.. kau harus lebih banyak berlatih,..”

Sial!

Kibum akui hasil potretan Taemin jauh lebih bagus daripada miliknya. Semalam ia melihat koleksi Taemin dan WOW! Ia tidak menyangka anak ini berbakat. Meski hanya pemandangan sederhana, seperti seorang ibu yang sedang menggendong anaknya, namun entah mengapa Kibum merasakan hal lain dalam foto tersebut. Hal yang belum Kibum dapat hingga saat ini.

“Yah! Yasudah cepat bangun dan makan.. kau tidak lapar? Kalau kau ingin dikamar seharian terserah saja..! Aku ingin keluar…”

Taemin tidak bergeming. Well sepertinya Taemin sudah kembali kealam mimpinya saat ini. Untuk kesekian kalinya Kibum menggeram kesal lalu memutuskan meninggalkan Taemin.

“Makanan ada di meja makan..”

BLAM

Kibum menutup pintu agak keras, namun sosok yang sedang tertidur itu hanya tersenyum tipis dan melanjutkan tidurnya.

====***====

“Kau yakin hyung?” Tanya Minho tidak yakin.

“Sure.. why not? Tenanglah Minho, aku bisa pulang naik taksi.. kau istirahatlah.. sepertinya kondisimu kurang baik..” jawab Jinki serapa menepuk – nepuk bahu Minho meyakinkannya untuk meninggalkannya di sini.

“Baiklah.. hubungi aku jika  terjadi sesuatu hyung..”

“Of Course..”

Minho pun menginjak gas mobilnya. Ia pulang ke apartemennya untuk kembali beristirahat. Tiba – tiba saja ia merasa kurang enak badan, mungkin karena kemarin seharian bepergian dan malamnya ia kurang tidur, kini kepalanya terasa berat.

Jinki memandang bangunan didepannya penuh kagum.

Casa Mila.

Jinki menatap penuh kagum bangunan didepannya. Casa Mila, begitulah bangunan ini disebut. Jinki mulai menaiki anak tangga bangunan coklat ini menuju rooftop. Kalau diminta untuk menyebutkan satu karya Gaudi yang wajib dilihat di Barcelona, maka Casa Mila(La Pedrera) lah jawabannya. Tentu saja masih ada Sagrada Familia yang walau sudah dibangun selama seratus tahun, konstruksinya masih saja belum selesai, lalu ada Casa Batllo yang bagian depan bangunannya seperti gelombang di laut dan juga ada taman yang seperti keluar dari buku dongeng, Parc Guell.

Akan tetapi dari semua itu, Jinki sangat tertarik dengan Casa Mila. Ini adalah bangunan apartemen yang dirancang Gaudi atas permintaan pasangan suami istri Milla dan selesai pada tahun 1910. Sekarang, setelah seratus tahun berlalu, para wisatawan bisa melihat kehidupan masyarakat abad ke – 19 yang ditampilkan ulang dengan sempurna apa adanya di satu lantai dan juga perabotan yang langsung dirancang sendiri oleh Gaudi serta barang – barang kerajinan karyanya.

Jinki sempat terpaku saat menatap keindahan arsitektur didepannya. Ia menaiki Casa Mila Rooftop, sekejap kemudian melihat pemandangan menakjubkan yang membuatnya berhenti bernafas. Semua itu dikarenakan oleh ukuran serta bentuk yang tak pernah terpikirkan sama sekali dan cerobong asap serta ventilasi yang disulap menjadi karya seni.

Jinki tertegun akan keindahan disekitarnya, tampak beberapa turis asing maupun local asik mengambil foto. Ah! Jinki tidak ingat membawa kamera digital kecilnya. Tapi siapa peduli? Jinki lebih menyukai saat ia menikmati apa yang ia lihat dengan kedua matanya lalu menyimpannya di memorinya. Ia memejamkan matanya, mengeratkan kedua tangannya di sisi bangunan dan menghadap kearah pemandangan didepannya. Ia memilih menikmatinya sendiri, biar tubuh dan otaknya yang merekam keindahan didepannya. Ia membiarkan angin membelai rambutnya dan tersenyum saat merasa hembusan angin membuatnya geli.

Casa Mila belum pernah sekalipun dihuni oleh manusia. Casa Mila bukanlah sebuah warisan budaya yang tertinggal hanya dalam selembar catatan sejarah, melainkan sebuah apartemen Eropa biasa yang sudah berdiri selama seratus tahun.

Jinki tak habisnya tersenyum dan ia rasa ia harus berterima kasih pada Taemin telah membuatnya kesini. Lamunannya terpecah saat ia mendengar suara seseorang meringis.

“Ah… jinjja… uh..”

Jinki mencari sumber suara lalu ia melihat sosok berambut pirang mengenakan cardigan abu – abu dan kaus hijau membelakanginya. Sosok itu membelakanginya, terduduk di anak tangga dan memegangi pergelangan kakinya.

“Que Pasa..?” (ada apa)

Namja ini menoleh ketika ada suara dibelakangnya.

Deg

Deg

Lalu jantung ini berdesir saat mata mereka kembali bertemu. Terdiam beberapa detik, seolah semua berjalan begitu perlahan, hingga Jinki tersentak.

“Ah.. kau.. kakimu kenapa?” Jinki langsung berpindah kedepan namja cantik yang ternyata adalah Kibum. Ia berlutut lalu menyentuh kaki Kibum.

“Aah!..sa-sakit..” rintih Kibum saat tiba – tiba saja Jinki memencet salah satu titik pergelangan kaki kirinya.

“Tahan sedikit… sakitnya akan sedikit berkurang..”

Crack~

“Arghh!” pekik Kibum lagi. Ia menggigit bibir bawahnya menahan nyeri.

Lalu Jinki menggoyang – goyangkan pergelangan kaki Kibum dan sedikit membuat gerakan memutar. Lama kelamaan Kibum merasa kakinya lebih baik, meskipun masih terasa nyeri.

“Sudah tidak sakit?”

Kibum mengangguk lemah, namun ia jelas masih merasakan sakit meski hanya sedikit.

Jinki mengambil sepatu Kibum lalu perlahan memakaikannya lagi. Sesekali mata mereka bertemu dan Jinki tersenyum. Dalam hatinya ia bersyukur dapat kembali bertemu dengannya, dan kali ini ia tidak akan lupa untuk menanyakan namanya.

“Gomawo..”

Jinki hanya tersenyum dan duduk disebelah Kibum.

“Lee Jinki..” ia menjulurkan tangan kanannya.

“Kim Kibum..” Kibum menyapa tangan Jinki.

Sesaat keduanya terdiam, merasa canggung satu sama lain. Jinki membenarkan posisi topi abu nya dan berdiri. Ia menjulurkan tangan kanannya, Kibum melihat Jinki dengan tatapan heran.

“Jika duduk begini kita tidak dapat melihat keindahan Casa Mila, berdirilah, aku akan membantumu..” jawab Jinki tersenyum lembut.

Kemudian Kibum mengulurkan tangannya dan mencoba berdiri.

“Ah..”

Kibum meringis kecil menahan nyeri yang masih betah berlama – lama di kakinya. Reflek Jinki mengeratkan tangan kirinya dipinggang Kibum. Kibum menoleh dan hampir saja hidung mereka bersentuhan.

Deg

Deg

Dentuman ini lagi. Detak jantung keduanya berpacu sangat cepat, dan keduanya berharap detak jantung mereka tak terdengar. Wajah Kibum seketika memanas lalu ia tersentak dan memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona merah di pipinya. Jinki tersenyum kecil melihat rona merah itu.

“Ma-maaf.. “

“Ah ya..” Jinki sontak melepaskan sanggahan tangannya di pinggang Kibum.

Jinki mengelus tengkuknya canggung dan menunjuk arah atas mengajak Kibum kesana. Kibum tersenyum tidak kalah canggung, masih berusaha menetralkan degup jantungnya. Ia berjalan perlahan menyentuh pinggiran bangunan dan sedikit tertatih.

Grep

“Aku rasa kau memerlukan bantuanku, Kibum..”

Jinki mendekati Kibum, melingkarkan tangannya di pinggang ramping Kibum dan menarik lengan kirinya untuk melingkar dileher Jinki.

Uh. Ini terlalu dekat.

“Maaf merepotkanmu..Jinki..”

Jinki tidak menjawab dan terus memapah Kibum hingga sampai puncak. Lalu keduanya kembali melihat pemandangan didepannya.

“Indah sekali… bangunannya bergelombang…” gumam Kibum.

“Ya.. bangunan Gaudi tampak benar – benar dramatis…” tambah Jinki.

Kibum menoleh dan tersenyum.. “Ya indah sekali bukan..” Ia kembali menatap kedepan membiarkan angin menerpa tubuh mereka. Hangat.

“Bangunan yang terlihat menari ini memberikan perubahan pada jalan yang dipenuhi bangunan megah. Keseluruhan kota terlihat seperti kanvas…” Jinki menambahkan.

“Benar.. akan lebih indah saat matahari terbenam.. karena semua bangunan mendapat pantulan kemerahan, menciptakan sebuah keharmonisan yang menakjubkan…”

“Benarkah? Apa lebih baik kita menunggu hingga matahari terbenam..?”

Ya bisa saja jika tidak ada Taemin di apartemennya, bisa saja ia menghabiskan waktu hingga malam dengan sosok yang baru saja ia kenal ini. Namun ia mengingat Taemin di apartemennya dan tidak bisa meninggalkannya terlalu lama atau anak itu akan membuat kekacauan lain.

Jinki menunggu jawaban Kibum namun ia masih belum mendengar apa – apa.

“Baiklah.. mungkin lain kali..?” Jinki mengerti, mana mungkin Kibum mau menerima permintaannya untuk menemaninya disini hingga matahari terbenam. Mereka baru dua kali bertemu dan ia adalah orang asing bagi Kibum. Stupid Jinki! Sadarlah!

“Ah..? ne.. lain kali aku akan menemanimu .. sepertinya sekarang aku harus segera pulang.. dan..argh..” Kibum merintih kecil saat bermaksud melangkahkan kakinya. Ternyata pergelangan kakinya masih sakit.

Jinki yang melihat Kibum kesakitan, tidak tega. Ia berjongkok didepan Kibum dan menepuk bahunya mengisyaratkan namja cantik ini menaiki pinggungnya.

“Ppali.. naiklah.. kau tidak ingin jatuh dan bergelinding di tangga ini kan? Lalu besok menjadi hot topic di Koran?” ucap Jinki berlebihan membuat Kibum terkekeh geli.

Konyol.

Kibum memutar posisi kamera yang tergantung dilehernya lalu menunduk menaiki punggung namja sipit ini. Tubuh keduanya kini sontak bersentuhan, punggung hangat Jinki dan dada Kibum. Kibum takut jika sewaktu – waktu Jinki merasakan detakan jantung Kibum yang berlebihan.

Hup~!

Jinki berdiri dan menyeimbangkan diri. Ia mengeratkan lengannya diantar kedua kaki jenjang Kibum.

“Dimana kau tinggal?”Jinki bertanya lembut sedikit menoleh dan maya mereka kembali bertemu.

“Umh.. apartemen tidak jauh dari sini..hanya 15 menit dengan taksi..”

“Baiklah..aku akan mengantarmu hingga apartemenmu..”

Kibum menggigit bibir bawahnya ragu harus menjawab apa. Jujur saja ia bukannya tidak mau, dan ia merasakan ketertarikan saat melihat Jinki sejak pertama kali. Mengingatkannya pada masa lalu, namun ia belum benar – benar ingat siapa dan mengapa ia merasa Jinki tidak asing baginya.

“Ba-baiklah… maaf merepotkan…”

.

.

.

“Uh…”

Minho meringis menahan sakit dikepalanya. Sepertinya ia lapar. Ia tertidur lumayan lama semenjak mengantar Jinki ke Casa Mila. Ia memencet ponselnya bermaksud menghubungi Kibum namun percuma! Kibum tidak juga mengangkat telponnya. Minho mengerang kesal, haruskah ia ke apartemen Kibum? Dia sangat lapar dan mungkin ia akan menemukan beberapa cake di kulkas Kibum. Apapun itu asal bisa dimakan, karena ia sedang malas keluar untuk membeli makanan.

Dan ya..ia memutuskan untuk pergi.

Minho dengan langkah gontai dan rambut yang sedikit berantakan, hanya memakai kaos polos hitam dan celana training panjang menyusuri koridor apartemen. Kamar nya dan Kibum hanya berbeda satu belokan. Tentu saja ia mengetahui nomor password kamar Kibum.

Click~

Pintu terbuka membuat namja cantik didalam apartemen Kibum tersentak,”Hyung.. kau sudah pulang?”

Huh?

O_O

“Kau!”

Teriak mereka bersamaan saling menunjuk. Taemin shirtless.

Minho tercekat. Dia… bukankah Taemin? Adik Jinki hyung? Pikirnya saat itu. Buru – buru ia menutup pintu apartemen. Hell! Taemin tidak tahu haruss berbuat apa, ia tidak bisa berkata – kata, juga tidak mungkin bisa lari. Banyak pertanyaan berputar dikepalanya.

Bagaimana bisa dia disini?

Apa yang dia lakukan?

Pertanyaan yang persis sama didalam kepala Minho. Lalu Minho berjalan mendekati Taemin yang juga berjalan mundur hingga tubuh polosnya menyentuh dinding.

“Ah..”

Taemin merasakan dinginnya dinding menyentuh permukaan kulit punggung putihnya. Minho menjilat sudut bibirnya dan memicingkan mata, kedua tangan kekarnya kini memenjarakan tubuh Taemin.

“Mwoya? Mau apa kau? Siapa kau hingga bisa menemukanku disini? Apa kau penguntit?!”

“A-apa? Penguntit? Kau pikir aku tidak ada pekerjaan lain?”

Keduanya bertatapan penuh amarah. Kali ini Minho bersumpah tidak akan melepaskan anak ini! Beraninya ia menggigit tanganku…aish… pikirnya.

“Lalu.. apa maumu? Kau suruhan Jinki Hyung kan? Aku tidak mau pulang! Tidak akan sampai kontes fotrogafi tiba!” teriaknya kesal.

Minho menarik tangan Taemin menuju sofa dan memaksanya duduk.

“Kau..diam disini..”

“Aish…” Taemin meringis pelan, mengusap pergelangan tangannya.

Puk~!

“Ini pakai dulu bajumu…”

Minho memalingkan wajahnya saat tak sengaja menatap intense tubuh putih dan mulus Taemin.

So Flawless and perfect.

“Jadi bagaimana kau bisa disini..?” Tanya Minho saat Taemin sudah selesai memakai kaus nya dan menyandarkan punggungnya malas di sofa, merungut kesal.

“Aku minta kau janji untuk tidak membawaku bersamanya..” ucap Taemin menatap Minho penuh harap. Tidak… setidaknya jangan sekarang.

Taemin mulai menceritakan perihal alasannya ke Barcelona. Ia ingin mengikuti kontes fotografi yang diadakan salah satu galeri terkenal di Barcelona. Ini kontes tingkat dunia! Well tidak ada salahnya kan mencoba? Masalah menang atau tidak bukanlah menjadi tujuan akhirnya. Selain itu ia ingin Jinki juga kembali ke Barcelona. Mengingat masa lalunya yang sempat ia lupakan.

Sejak Taemin berusia 1 tahun hingga 6 tahun ia dan keluarganya tinggal di Barcelona. Saat itu Jinki yang berusia 10 tahun harus mengalami kecelakaan hingga membuatnya melupakan beberapa ingatan. Dirinya yang mengalami shock berat karena kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan maut itu. Beruntunglah saat itu Taemin berada di rumah. Beberapa bulan Jinki tidak banyak bicara, dan yang ia ingat jika mendengar Barcelona adalah orang tuanya dan beberapa ingatan lain yang hingga saat ini Taemin tidak mengerti.

Jinki berubah.

Taemin sempat merasa sangat kesepian. Jinki nya, hyungnya menjadi pendiam. Lalu ia dan Jinki dibawa kembali ke Korea dan dirawat oleh paman mereka hingga dewasa. Namun semenjak Jinki sukses menjadi penulis, mereka memutuskan tinggal berdua dan membeli rumah baru.

Jinki tetap baik, ia tetap hangat padanya namun terkadang Taemin merasa Jinki  belum kembali seutuhnya. Jinki sibuk dengan tulisannya, ia tidak memperhatikan masalah  kekasih dan sebagainya. Terkadang ditengah malam Taemin harus menenangkan Jinki yang terusik saat ingatan itu kembali. Ingatan mengenai kecelakaan maut itu.

Hatinya hancur melihatnya.

Taemin hampir saja meneteskan airmatanya saat ia menceritakan ini semua pada Minho. Tidak, ia tidak akan menangis apalagi didepan orang yang masih asing. Buru – buru ia membuang nafasnya perlahan. Menetralkan kesedihan yang tiba – tiba menyeruak dari dalam dadanya. Minho terdiam dan menatap Taemin dalam.

“Baiklah.. apa yang bisa kubantu?”

“Jangan beri tahu aku dimana, namun tolong yakinkan dia bahwa aku aman danbaik – baik saja, jika ia tidak bersikeras mengembalikanku ke Korea, aku akan menemuinya..” jawab Taemin mantap.

Minho tersenyum. Ia mengerti perasaan Taemin, mungkin ia baru dua kali bertemu namja cantik ini, namun ia bisa melihat kesungguhan dalam mata Taemin.

Mereka bertatapan lama hingga suara pintu terbuka terdengar.

“Ini apartemenmu..?”

Crap~!

Taemin mendengar suara yang tidak asing. Right! That’s Jinki!

Taemin langsung berlari masuk ke kamar dan sebelumnya berbisik “Tolong aku..”

Minho mengangguk dan tersenyum.

“Oh..Minho.. sedang apa kau disini?”

Kibum heran melihat Minho sedang duduk di sofa ditambah ia tidak memegang makanan apapun, ini kejadian langka!pikir Kibum.

Tiba – tiba Kibum teringat Taemin, lalu ia membelalakan matanya dan hampir berkata, “Mana di-“

“Ah Kibum apa terjadi sesuatu dengan kakimu? Biar aku antar kekamar..”

“Biar aku saja..” jawab Jinki tegas, ia merasa tidak suka dengan ini. Untuk apa Minho ada disini? Apakah ia kekasih Kibum? Tapi….

“Ani hyung.. kau pasti lelah, biar aku yang mengantarnya kekamar..”

Kibum tidak tahu harus melakukan apa. Akhirnya ia berkata..”Ani..Jinki tolong turunkan aku disofa saja… aku tidak ingin kekamar..”

Jinki mendekati sofa lalu mendudukan Kibum yang sejak tadi berada di punggungnya.

“Baiklah aku kembali kekamar ku dulu.. Minho aku pergi dulu..”jawab Jinki dingin.

Hey? Ada yang salah? Kenapa raut wajah Jinki yang hangat seolah menghilang begitu saja, dan Minho hanya berdengung mengiyakan dan membantu Kibum membuka sepatunya.

“Kibum.. beristirahatlah…”

“ne~ gomwawo Jinki-ya..”

BLAM

Pintu apartemen tertutup, dan kini Minho dan Kibum saling melemparkan tatapan penuh tanya.

====***====

Jinki mengurut pelipisnya, tiba – tiba sakit itu datang lagi. Rasa sakit di kepalanya ketika ingatan mengenai kecelakaan maut itu seperti kembali terjadi didepan matanya.

“arghhh..!!”

Jinki terduduk dilanta kamarnya, meremas kepalanya yang semakin sakit.

“Jinki!!!”

“Umma!! Appa!!”

“Ji-Jinki.. jaga adikmu..”

“Tolong berikan dia ice cream rasa mint..”

“Jinki….!!”

“Arrgghhh.. pergiii… aaaaah.. shit!”

BRAK

Jinki menjatuhkan semua barang dimeja kamarnya. Membuat suara gaduh hingga Minho terbangun dan menghampiri Jinki di kamarnya.

“OMO!hyung .. gwenchana? Hyuuuung..” Minho mencoba menahan tubuh Jinki yang berguncang, tubuhnya berkeringat dan tampak sangat kesakitan. Jadi ini yang dimaksud Taemin.

Jinki tidak mengingatnya, ia benar – benar melupakan bahwa ia pernah tinggal di Barcelona. Ia memaksa dirinya melupakannya, ia memaksa dirinya menghancurkan semua perasaan luka yang ia rasakan, ia memaksa dirinya melupakan rasa bersalah yang selalu menghantuinya.

Minho kini mengerti, mengerti alasan Taemin. Taemin hanya ingin Jinki menerima akan luka masa lalu, Taemin ingin Jinki tidak lagi berpura – pura dan menderita dalam dunianya sendiri. Dunia yang selalu berkata bahwa ini semua salahnya. Salahnya telah membuat kedua orangtuanya tiada, salahnya telah membuat Taemin kehilangan kasih sayang umma dan appanya.

Tetapi dia salah, Taemin tidak pernah menyalahkan Jinki. Yang Taemin butuhkan saat ini adalah Jinki yang kuat dan menerima kenyataan. Taemin ingin Jinki sembuh dan ia ingin menghancurkan dunia Jinki, dunia yang membuat hatinya hancur.

Minho memeluk Jinki, menenangkannya. Taemin memberitahunya cara menenangkan Jinki dan berhasil. Kini tubuh Jinki berhenti bergetar.

“Hyung… tenanglah…”

Jinki masih diam dengan tatapan kosong.

“Taemin…. Taemin…” gumamnya.

Minho tahu ini saatnya, saatnya ia mengatakannya.

“Aku telah menemukan Taemin, hyung … kau ingin menemuinya..?”

“Mana? Mana Taemin? Temui aku dengannya!”Jinki mulai histeris dan mencengkeram baju Minho.

“Okay.. tenanglah… aku akan membawanya kesini.. tetapi berjanjilah untuk tenang…”

Jinki mengangguk seperti anak kecil. Ya ia kembali seperti saat usianya 10 tahun.

Lalu Minho beranjak menuju kamar Kibum. Jinki melipat kedua kakinya, memeluknya dengan kedua tangannya, terus memanggil nama adiknya.

Tak lama kemudian Taemin datang dengan wajah yang sangat khawatir, dan Kibum juga datang dibelakangnya.

“Taemin..Taemin… maafkan hyung.. Taemin kemarilah… maafkan aku…”

Taemin menggigit bibir bawahnya menahan sesak yang menyeruak, Kibum menutup mulutnya dengan punggung tangannya melihat Jinki tidak percaya. Minho mengelus pundak Taemin dan mengantarnya menuju Jinki yang kini merengek membuka kedua tangannya seolah anak kecil yang merengek dan kesakitan.

“Hyung.. aku disini.. gwenchana… tenanglah…”

Taemin memeluk Jinki erat dan mereka menangis bersama. Taemin mengusap punggung Jinki hingga Jinki terlelap.

====***====

Sret~!

Sinar matahari mengagetkan kedua namja yang masih tertidur ini. Taemin memilih menarik selimutnya dan kembali terlelap, sedangkan namja bermata sabit ini mulai membuka kedua matanya.

“Huh…?”

“Ayo bangun anak – anak!!”

Kibum menaikkan volume suaranya seperti seorang umma, bertolak pinggang lalu menepuk tangannya.

“Kibum…. Kau.. ahh..” Jinki meringis memegang sisi kepalanya yang terasa pusing.

“Ya.. ini aku Jinki… bangunlah.. kita sarapan..” Kibum tersenyum lembut.

“Uh apa yang terjadi padaku..bagaimana kau bisa disini? Dan mana Minho…?”

“Dia masih tertidur, kalian semua sama saja, sangat suka bangun siang…” Kibum menggerutu.

Lalu Jinki menoleh kesebelahnya, dan seperti bermimpi ia melihat Taemin.

“Oh My God.. Taemin… Lee Taemin! Kau disini?!!” Jinki menarik selimut Taemin dan mengguncang bahu Taemin kuat.

Jinki melupakannya.

Tentu saja ia tidak pernah ingat dimana saat ia mengalami malam menyedihkan itu, terkungkung dalam dunianya yang gelap. Saat tersada, maka ia akan benar – benar melupakannya.

“Hummh.. iya hyung.. aku disini.. biarkan aku tidur sebentar lagi..”

Jinki melepaskan pelukannya di tubuh Taemin lalu mengerutkan alisnya heran. Bagaimana bisa Taemin disini? Sebenarnya ada apa? Lalu ada hubungan apa Kibum dengan Minho? Tiba – tiba saja ingatannya mengenai  kejadian tempo malam terlintas. Ada yang salah dengan dirinya? Tapi apa? Ia tidak mengerti meskipun ia berfikir keras.

Jinki mengusap pucuk kepala Taemin lalu beranjak meninggalkan kamar menuju ruang makan bersama Kibum.

“Pagi hyung.. Kibum…”

“Pagi…”jawab Jinki dan Kibum bersamaan.

Minho menarik bangku duduk didepan Jinki, dan Kibum sibuk mengambil piring dan lain – lainnya.Jinki masih diam menunggu penjelasan Minho tentang apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana bisa Taemin berada disampingnya saat ia terbangun.Minho yang nerasa ditatap intens ragu harus bagaimana menjelaskannya. Apakah Jinki lupa? Tentu saja Minho tidak mengerti jika Jinki tidak pernah ingat saat ia merasuki dunia kelamnya, saat tersadar maka ia akan benar – benar melupakannya.

“Uh.. Minho tolong bangunkan Taemin…” Kibum seolah mengerti situasi, ia menyuruh Minho, dan tanpa pikir panjang ia segera membangunkan that sleeping beauty =_=.

“Okay…”

Jinki diam, dan menatap punggung Kibum yang sedang sibuk menunggu roti panggang.

“Kau mau minum susu? Atau jus jeruk?” Tanya Kibum menoleh dan memberikan senyuman hangatnya.

“Jus jeruk saja…” jawab Jinki pelan.

Kibum mengangguk pelan, lalu membuka kulkas dan mencari jus jeruk dan menuangkannya kedalam gelas. Jinki tak pernah melepaskan matanya dari sosok cantik didepannya.  Menopang dagunya dan matanya bergerak sesuai tubuh Kibum yang bergerak kesana kemari.

“Perlu bantuan?” tanyanya pelan.

Ah ya benar juga! Jinki baru teringat dengan kaki Kibum yang kemarin terkilir. Ia langsung berdiri dan menghampiri Kibum.

“Kakimu bagaimana?” Tanya Jinki tiba – tiba berada disamping Kibum dan menepuk bahunya lalu melihat kaki Kibum. Kibum memang masih sulit berjalan, sedikit tertatih jika ia harus berjalan dengan cepat.

“Ah gwenchana Jinki.. sudah sedikit membaik..”

“Benarkah?” Jinki melihat Kibum tidak percaya.

Kibum menghampiri lemari dapur yang agak sedikit tinggi dan bermaksud membukanya dengan berjinjit, namun ia tidak kuat, “Ah..”

Jinki memeluk Kibum dari belakang yang hampir saja terjatuh. “hati – hatilah…” Lalu Jinki membuka lemari diatas kepala mereka..”Ah maaf merepotkan.. tolong selai roti…”Kibum menahan desiran jantungnya lagi dan memalingkan wajahnya tidak ingin terlihat memalukan dengan wajahnya yang kini semerah kepiting rebus.

“Ini? Baiklah sekarang kau duduk dan biar aku yang menyiapkan semuanya….”

“ta-“

“Tidak ada bantahan, setidaknya kasihanilah kakimu..”

Diam.

Kibum duduk dan memperhatikan Jinki yang mulai menyusun makanan dimeja.

Tak lama kemudian Taemin dan Minho datang dan duduk. Namun ada yang salah dengan wajah Taemin, wajahnya tampak sangat kesal dan….merah.

“Taemin.. ada apa dengan wajahmu?” Tanya Kibum heran, lalu melirik Minho bertanya apa yang baru saja terjadi. Minho hanya menggendikan bahunya lalu tersenyum nakal.

Gezzz… Choi Minho.. apa yang kau lakukan padanya? Kibum memicingkan matanya kearah Minho.

“Apa kau sakit Taemin?” Jinki ikut khawatir, menghampiri Taemin dan menyentuh keningnya.

“Ck~! Aniyo.. aku tidak apa – apa!!” jawab Taemin kesal, lalu menyeruput susu didepannya.

Jinki mengerutkan alisnya heran, lalu duduk. Kemudian mereka makan bersama, tanpa sepengetahuan Jinki dan Kibum, Minho menendang kecil kaki Taemin yang berada disampingnya. Taemin geram dan rasanya ingin sekali mencolok  si mata besar disampingnya ini.

Minho terkekeh pelan seolah tidak tahu apa – apa melanjutkan makannya.

“Aku ingin ke pantai!!”

“Mwo?”

.

.

.

“Pantaaaaaaaaaaaiiii!!! Woaaah!!”

Blitz

Taemin melepas sepatunya, membuka celana jinsnya dan tersisa celana pendek biru dan kaus hitamnya. Sibuk memotret apa yang ada didepannya.

Sedangkan tiga orang dibelakangnya hanya menggeleng pasrah melihat Taemin begitu antusias.

Barceloneta.

Ialah pantai dengan pasir yang berkilauan, ombak yang bergulung – gulung, penuh kebebasan. Barceloneta adalah daerah pesisir Barcelona. Sebagian besar wilayah Barcelona bersentuhan langsung dengan Laut Mediterania. Jadi, pesisir pantai yang panjang terhampar di kota kecil yang istimewa ini.

Konon, tempat ini dulu penuh dengan container dan langit pelabuhannya terselimuti asap pabrik. Tapi sebagai tuan rumah penyelenggara Olimpiade 1992, Barcelona memulai perbaikan besar – besaran sehingga seluruh kota mengalami banyak perubahan.

Jinki melihat laut luas didepannya. Indah.

Kibum berjalan kecil menghampiri Taemin dan ikut memotret keadaan sekitar. Pantai ini tidak ada rasa sunyi dan sepi, pelabuhan di dalam kota  dengan perpaduan desain lingkungan yang sangat serasi.

Kibum memakai kaus putih dipadu kemeja soft pink. Kacamata hitamnya ia selipkan dikausnya. Jinki dan Minho melihat keduanya yang sedang asik dalam dunianya sendiri.

“Hyung…kita berenang?”

Jinki terkekeh..”Tidak.. kau saja Minho.. aku ingin duduk saja..”

Jinki lebih menyukai kesunyian. Kibum menyukai keramaian.

Jinki memilih merekam segalanya dalam pikirannya dan menuangkannya dalam tulisannya.

Kibum memilih memotret segalanya dan menjadikannya kenangan.

Sekarang Minho tampak menjahili Taemin, ia menggendong Taemin dibahunya dan membawanya ketengah pantai, Taemin menjerit. Ia tidak bisa berenang, dan Minho tidak tahu akan hal itu.

Jinki menghampiri Kibum yang duduk disisi pantai.

“Kakimu.. sepertinya masih sakit?”

“huh?Tidak.. hanya nyeri sedikit saja…”

“Sungguh? Tidak sebaiknya kedokter?” nada Jinki sedikit khawatir.

“Ah.. kau berlebihan sekali…”

Jinki melihat lagi kedepan, hamparan laut yang luas. Barcelona adalah kota yang hebat, memiliki kota dan pantai sekaligus. Keadaan pantai tidak begitu sepi dan tidak begitu ramai.Kibum duduk disisi yang agak sepi.

“Indah sekali…..” gumam Kibum.

“Ya….”

“Hyuuung!! Aku ingin kita bermalam disini! Please! Sewa hotel kecil saja disini… aku ingin bermalam!”

“Tapi ..Aku tidak bisa..”jawab Kibum.

Jinki menoleh dengan wajah yang sedikit..kecewa? kenapa ?

“Tentu saja bisa Kibum-ah! Aku sudah menelpon Jordan dan mengatakan bahwa kita bisa cuti besok..” jawab Minho tidak peduli. Kibum entah harus marah atau senang. Hei! Itu mengurangi gajinya kan? Sial kau Minho,gumamnya.

.

.

.

“Jadi kapan kau mau pulang Taemin?!” Jinki kesekian kalinya bertanya namun Taemin tak kunjung mengindahkannya.

“Sampai urusanku selesai..!”

“Urusan ap- ah..” Jinki mulai meringis saat kepalanya merasa berat.

“Aku tidak peduli! Aku tidak mau pulang, aku mau disini hingga aku bosan!”

“Taemin!!!”

Taemin pergi meninggalkan Jinki yang kesal. Ia sudah bertanya perihal bagaimana ia bisa kenal Kibum, dan mereka sudah menceritakan segalanya. Kini Kibum yang hanya bisa melenguh pasrah menepuk bahu Jinki agar sedikit bersabar. Kibum menarik Jinki duduk di ruang tamu kecil, sedangkan Minho pergi menghampiri Taemin keluar.

“Aku sungguh tidak mengerti.. aku hanya bertanya kapan ia mau pulang, lalu ia akan sangat marah..” ucap Jinki pelan menutup kedua wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Ia hanya butuh liburan.. dan perihal kontes fotografi itu… aku juga mengikutinya..”

Jinki menoleh menatap Kibum yang kini menggenggam tangannya. Ia merasa tenang jika Kibum disampingnya. Ia merasa mata Kibum tidaklah asing.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Maksudku.. benar – benar dulu…”bisik Jinki.

Kibum terkunci dalam tatapan Jinki dan sebaliknya. Jinki membalas genggaman Kibum, tangan sebelahnya menjulur mengusap pipi kanan Kibum.

Namja cantik ini terdiam, dan lagi – lagi merasakan desiran hangat di dadanya.

Senyum itu? Apakah itu benar dirimu? Gigi kelinciku?

Kenangan masa lalu yang belum terungkap. Kibum diam dan menikmati sentuhaan lembut Jinki yang mengusap pipinya. Bahkan saat wajah Jinki mendekat dan mendekat, ia merasakan darahnya seperti berpacu sangat deras. Panas. Kedua pipinya panas.

Dan hal itu terjadi.

Jinki menghapus jarak diantara mereka. Menempelkan bibirnya pada bibir Kibum. Begitu tidak ada dorongan  dari Kibum, ia melanjutkannya. Menyapukan bibirnya pada bibir cherry Kibum, mengecup, mengulumnya pelan.

Angin pantai berdesir dari jendela dan menyapu mereka, membuat rambut mereka bergoyang mengikuti alunan angin. Kibum memejamkan matanya, begitu pula Jinki. Mereka terhanyut dalam kehangatan, desiran ombak jelas terdengar seperti menjadi alunan music indah.

Tidak ada nafsu dalam ciuman ini. Jinki memperlakukan Kibum sangat lembut seperti barang yang mudah pecah, karena ia sadar  tangan Kibum bergetar dalam genggamannya. Ia tahu bahwa ini adalah first kiss nya.

Ralat… ini adalah Their first kiss.

Jinki menarik tangan Kibum kesisi dada kirinya.

Deg

Deg

Dentuman jantung Jinki sangat kuat. Kibum membuka kedua mata kucingnya, setelah Jinki melepaskan ciumannya.

Nafas keduanya terengah, seperti kehabisan nafas. Wajah Kibum memerah, dan tangannya masih bergetar.

“Apa kau merasakannya?”

Kibum masih diam dan menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia tidak kenal Jinki dengan baik. Ia hanya beberapa kali bertemu Jinki.Tapi jauh dalam sudut hatinya, ia merasa Jinki sangat dekat dengannya.

“Aku tahu mungkin ini terlalu cepat… tapi…Kibum jadilah kekasihku…”

.

.

.

“Lepas!!!”

“Taemin!! Tunggu ! kau mau kemana? Ini sudah hampir gelap! Sudahlah kau harus mengerti keadaan hyungmu..”

“Kenapa? Aku hanya ingin berlibur disini! Dan kenapa dia tidak pernah mengerti aku? Kenapa selalu aku yang harus mengerti?!”

Grep~!

Satu kali gerakan Minho menarik tubuh yang mulai bergetar itu. Bukan, Taemin tidak menangis. Ia hanya kesal, kesal hingga membuat tubuhnya bergetar. Ia hanya kesal dengan dirinya dan mungkin dengan takdirnya?

Minho memeluk Taemin erat, semakin Taemin mendorongnya, semakin Minho mengeratkan pelukannya. Lalu ia berbisik..”Semua akan baik – baik saja…”

.

.

.

TBC

HAHAHAHAHA SO? ONKEY JADIAN… JENG..JENG… 2MIN? LIHAT SAJA KISAH KASIH MEREKA NANTI *plak* kan cuma slight =3=

Makasih komen dan masukan serta kritik. Jadi ini alasan kenapa awal dibilang Jinki ga pernah ke Spanyol Yeah! Dia lupa, dan Jonghyun ngga tahu masa lalu Jinki.

Well ini absurd =3= but masih bisa lah buat di komen T_T thank you so much yang udah suka sama FF saya! Semua credit belong to Sons Of The Sun Book!! Hihi ^^

 ps : siesta

keadaan di mana saat pukul 2.00 PM terjadi sebuah keajaiban (?)

dimana seluruh toko akan tutup, lalu seolah kau menyewa seluruh kota.

sunyi dan senyap.

mereka akan menutup toko, pulang, makan siang dan beristirahat.

meskipun tak banyak orang yang tidur pada jam ini, tetapi makna kata “istirahat” atau “siesta” melindungi apa yang ada di Spanyol sejak abad ke – 21 hingga sekarang.

jadi Siesta adalah moment dimana keadaan sekeliling menjadi sepi, seperti kota tak berpenghuni, seperti sebuah kebiasaan saat jam 2 sore.

Ini menurut yang aku tangkep ya~ selebihnya kalau ada salah mohon maaf dan dikoreksi.

kamsahamnidaaa ^0^

161 thoughts on “[JinKibum] Road to Me – Part 2

  1. Kyaaaa akhirnya tae ketemu sama jinki juga
    Jinki yaaa. Kibum sama mino ngga ada apa apa.
    Oh jadi gitu kejadian masa lalu nya. Yaampun complicated bangetttt.
    Seru tapiiii
    Lanjut

  2. Buku Onew menginspirasi buanget yaaa.
    Minho ngapain Taemin???!!!
    Jinkibum jd sepasang kekasih ^^
    Next..

  3. oh@.@ trnyt appa punya masa llu yg kelam?! pantas tdk ingt umma. dan oh saiah sngguh pnsrn apa yg dtrjd sm 2min dkmr itu

  4. Kereeen thor!! Kamu banyak baca juga ya mengenai barcelona , hahah karena ulasan barcelona lumayan cukup detail hahaha

    aahhh moment manis Onkey lagi , jodoh ga kemana , onkey ketemu lagi , si kibum terkilir terus ada si jinki nolongin deh…
    Haaaah agak miris sama jinkiku disini , dy ngalamin peristiwa yang kelam di masa lalu, akibat ortunya accident kenapa sih? Kog sampe Jinki nyalahin diri sendiri? Ga tega kalo Jinki lagi kumat inget” masa lalu😥

    aaahhh akhirnya jadiaann , ciuman pulaa uwoo ‘O’/ tinggal Kibum mau ga nerima Jinki? Ahhahha iyaa ga usah di ragukan lagi kibum si jinki itu si gigi kelinciMu hahahaha

  5. masa lalu jinki kelam, kasian u.u
    untunglah jinki bisa ketemu taemin

    JINKIBUUUUM!!
    Demi apapun, moment kalian selalu maniiiis😀
    yaampun, belum jadian udah kissing, ah manisnyaaa. Jadi pengen teriak JINKIBUUUUUM!
    Dan dan penasaran sama jawaban kibuuum

    merasa kurang ini karna minus jonghyun u.u

  6. Pingback: Road to Me « JINKIBUM Fanfiction Paradise

  7. Pas baca,tadinya aku mau tanya,di chap ini Jinki waktu kecil sudah pernah ke Spanyol,tapi knp d chap awal Jinki bilang belum pernah,tapi ternyata d akhir Author menjelaskan.ok aku paham,heee
    keren deh Author😀

  8. Akhirnyaaa yah ltmu juga nh lee brother hahahaacie cie ada yang baru jadian nih pj heh pj!!
    Ooh jadi gtu crtanya.. kasian jinki harus kesakitan kaya gtu klo tba inget kjadian keclakaan nya.
    Well lanjut deh heheee
    Ini ff jjang!! Hihiw

  9. Kasian..ternyata masalalu sang penulis begitu memilukan,begitupula Taemin huhuhuhu.u

    ayolah..itu Jinkibum cepet jadian,itu noh udah pada2 suka..iyakan??? JINKIBUM JJANG!!!!!

  10. bner2 menakjub kan., serasa dibarselona juga deh… ada apa dengan masalalu ontae ? kok jinki jadi sakit amat… jinhun curiga ma minho pas bangunin tae jangan2 nyium tae lg… coba bilang ma jinki.a tae kau mau apa biar jin tae gto… asyik onkey jadian . kalo 2min. next

  11. U.u jinki masa lalu nya sedih 😥
    Taemin ttp tmni jinki right? 2min cute bnget, itu minho ngapain taemin pas bangunin?? Lucu,, jgn jgn…. :v
    Eehhhh jinki nembak key?? Huaaaa terima kii mungkin iya jinki itu dya..

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s