SECOND LIFE/2MIN-ONKEY/PART 9 OF?


CAST : LEE TAEMIN, LEE JINKI, CHOI MINHO, KIM KEY

SUPPORT CAST : KIM JONGHYUN

GENRE : Sinetron!!!!!!!

ONTAE-2MIN-ONKEY

AUTHOR : KEIMINNIE – KEI LOVE TAEMIN

Annyeong~ ^^/

Haha kei’s back! Ada yang ingat dengan saia dan ff saia ini? Ada yang nunggu?

Pasti dah pada lupaaaa T_____T

Mianhae, kemaren saia hiatus skripsi dan alhamdulillah saia lulus dengan nilai memuaskan XDD yeyey!!

Oke deh, tadinya ga pede mau ngepos ini. Tapi si Yuri sms mulu ingetin buat pos. haha

Mian yah, yuuurr *sayur kalii* kalo kelamaan hehe

Makasih buat yang masih support saia buat lanjutin ff2 yang pada masih ngegantung kayak jemuran basah. hahaha

Pokonya ini sinetron banget and rada panjang, plus ngebosenin. *tepok tangan

oke dah, met baca and dikomen yaaaaa.

No bash.

No plagiarism.

Ini ff punya Kei Love Taemin = Keiminnie

enjoy guys~ ^^

Previous part >>>

.

.

.

.

SECOND LIFE 9th

 

“Kau harus fokus ! Pilih salah satu, bung ! Basket, atau dia…”

“Tidak bisa ! Keduanya penting bagiku !”

“Pikirkan baik-baik. Taemin mungkin bisa menunggu, tapi beasiswamu tidak.”

“BERISIK!” Minho melempar handuk yang dipegangnya ke depan cermin kamar mandi setelah ia mencuci muka di washtafel. Pikirannya terus berkecamuk. Kembali teringat percakapannya dengan teman se-tim-nya mengenai beasiswa yang akan di dapatnya. Menjalani training selama 2 tahun untuk meraih impiannya berlaga di NBA. Mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah yang membuncah di dadanya.

“Mengapa ini menjadi sulit ??”

.

.

.

Keesokan harinya…

“Taemin ! Taemin-ah ! Kenapa kau menghindariku terus, eoh ?!!” Minho menarik tangan Taemin namun ditepis dengan kasar. “Wae, Minnie ? Jebal ?”

Taemin pun berhenti dan menatap Minho dingin, “Just leave me alone.” Lalu berlalu pergi kembali ke kamarnya.

“Tapi kenapa ?!” teriak Minho sambil melempar kursi kayu yang ada di lorong ke salah satu tembok hingga kursi tersebut hancur.

Taemin terkejut mendengar suara dentuman yang menggema di sepanjang lorong asrama kemudian menoleh kebelakang. Namun sosok Minho sudah tidak lagi terlihat. Hanya seonggok kayu yang tak berbentuk.

“Mianhae……”gumam Taemin penuh dengan rasa bersalah.

Esoknya…

“Ya !” kini Minho mencegat Taemin di depannya.

Sebenarnya Taemin terkejut dan belum siap berhadapan dengan Minho seperti saat ini, tapi keputusannya sudah bulat, ia tidak ingin Minho menyesal. Cukup dia saja, cukup pada hidupnya yang tidak lagi lama. Yah…cukup. Ia cukup melakukan ini dan pastinya akan membuatnya bahagia.

Taemin menghembuskan napasnya perlahan lalu tersenyum menatap Minho. Membalas tatapan bingung tersebut dengan sebuah kejujuran yang membuat hangat.

“Hyung sudah makan siang ? Kita makan bersama, otte ?”

Mata Minho melebar dan kebingungannya semakin bertambah, “Ji -jinjja ?”

“Ne~ kkajaaa~!” jawab Taemin sambil mengalungkan tangannya pada lengan Minho untuk pergi ke kantin.

Selama makan berlangsung, Taemin-nya yang dulu telah kembali seperti semula. Minho menghela napas lega dan mengelus kepala Taemin lembut.

“Kenyaaangg~” sorak Taemin sambil memegang perutnya yang terasa penuh.

Minho terkekeh dibuatnya melihat tingkah lucu Taemin yang terlihat kekanakan namun manis di mata Minho.

Tetapi sedari tadi masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia melihat Taemin dengan pandangan sendu, seperti dapat menerka ada hal lain yang disembunyikan Taemin darinya.

“Taemin, boleh aku bertanya satu hal ?”

Taemin membalasnya dengan anggukan karena ia sedang menyeruput strawberry milkshake-nya.

“Apa… apa ada sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuanku ?” dan Taemin memandang Minho dengan serius sambil mengelap bibirnya dengan ujung cardigan yang ia pakai.

“Maksudnya ?”

“Emm…” Minho menggaruk tengkuknya dengan canggung. Kalau seperti ini ia terlihat seperti tengah mengintrogasi Taemin dan itu membuatnya salah tingkah. Dia tidak ingin Taemin salah paham dan merasa Minho mencurigainya atau tidak percaya padanya.

Taemin masih setia menunggu perkataan Minho dengan ekspresi setenang mungkin. Padahal hatinya benar-benar takut membayangkan apa yang akan dikatakan Minho selanjutnya. Apa namjanya ini telah mengetahui hal yang selama ini….anii, belakangan ini, ia rahasiakan….?

Minho terbatuk sesaat merasakan tenggorokannya yang terasa kering mendadak. Melihat wajah namjanya yang sangat cantik tengah menatapnya, menghela napas perlahan dan mengembalikan keseriusannya, “Beberapa hari ini… kau… yah, kau tahu kita…”

Dan Minho melihat pandangan Taemin mulai sendu dan perlahan menunduk menatap ujung sepatunya.

Sulit untuk Minho melanjutkan perkataannya melihat Taemin yang berubah murung seperti sekarang, tangannya berusaha menggapai pipi Taemin tapi tiba-tiba namja cantik itu mendongak membalas menatapnya, membuat tangannya yang semula akan menyentuh Taemin tetap menggantung di udara.

“Hyung…”

??? Minho kembali menarik tangannya, “Ne ?”

“Sebaiknya kita putus saja.” ucap Taemin kemudian sedikit menundukkan kepalanya kepada Minho dan Taemin beranjak pergi meninggalkan Minho begitu saja.

Minho tidak bisa mencerna ucapan Taemin  barusan dan ia hanya terdiam tanpa melakukan apapun. Lebih tepatnya, ia terlalu syok hingga tidak tahu harus apa. Tiba-tiba ia merasa dunia ini sangat sunyi, tidak ada suara sekecil apapun yang dapat ia dengar. Seolah ia hanya sendirian di dalamnya.

Tenggelam dalam pikiran kosongnya, seperti detik-detik manusia akan meregang nyawa. Hati dan otaknya terus berbicara bahwa yang ia dengar tadi…bukanlah hal yang sebenarnya ?

.

.

.

“Aaakhh… hhahh…hhhh” Taemin tengah mencengkram dada kirinya kuat-kuat, sesekali mengusapnya untuk menetralisir rasa sakit dan nyeri di dalamnya.

Tiba-tiba penyakit jantungnya kembali kambuh. Belakangan ini memang sering sekali ia merasakan hal yang menyiksanya itu. Bahkan ia sering tidak bisa tidur kala malam datang. Rasa sakit diliputi rasa takut tidak lagi bisa membuka matanya keesokan harinya, benar-benar membuatnya gila.

Terlebih sekarang ia kambuh tepat disaat pelajaran tengah berlangsung. “Ini ga…waaatt…”gumam Taemin sambil merogoh laci mejanya mencari obat yang setidaknya dapat menahan sakit tersebut, mengobrak-abrik isi tasnya dan akhirnya menemukan apa yang ia cari. Sekuat tenaga menahan sakitnya dan meminta izin untuk keluar kelas sebentar.

Ketika melewati Key, ia melihat tatapan khawatir dari ummanya itu dan dia hanya tersenyum samar dengan susah payah. Berjalan keluar kelas setelah sebelumnya melirik bangku belakang –bangku Minho – dan melihat namja tampan itu tengah melamun dengan pandangan kosong.

“Mianhae, hyung….mianhae…” gumamnya prihatin melihat keadaan Minho yang seolah seperti seonggok tubuh tak bernyawa.

………….

“Haah…sshh…aaakhh…”Taemin masih meremas dada kirinya, dengan susah payah mencoba membuka botol obatnya dan bahkan botol itu hampir saja terjatuh, tapi tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyambar botol tersebut dan membukakannya.

“Hy..hyung…aakhh..shhh….”

“Ini minumlah.”

. . . . . .

“Bagaimana sekarang ? Mau ku antar ke rumah sakit ?”

Taemin menggeleng pelan, “Anii…tidak perlu. Ini sudah biasa, aku baik-baik saja. Maaf merepotkanmu, hyung.. gomawo.” Jawab Taemin sambil memijit pelan dadanya.

“Ternyata benar kau sakit…”

“Hm ?”

“Kalau boleh jujur, aku juga pernah memergokimu kambuh disini. Kupikir saat melihatmu meminum obat, kau sedang memakai obat-obatan…yah, kau tahu…obat-obatan terlarang. Oleh karenanya lebih baik aku berpura-pura tidak tahu. Tapi ternyata kau sedang kesusahan seperti tadi… maafkan aku…aku sama sekali tidak berpikir kalau kau sakit.” ucap namja yang menolong Taemin barusan -Jonghyun-.

“Gwenchana hyung…” jawab Taemin sambil tersenyum manis. Melihat itu Jonghyun langsung mengacak rambut Taemin.

“Tapi…dengan begini bertambah lagi orang yang tahu penyakitku.”gumam Taemin mempoutkan bibirnya.

“Suatu saat pun aku juga pasti akan tahu. Kau tidak akan bisa menyembunyikannya terus, kan ? Terlebih kalau kau sedang kambuh seperti tadi. Bisa saja orang lain yang mengetahuinya.” ucap Jonghyun sambil mengusap punggung Taemin.

Taemin menghela napasnya dan mengangguk membenarkan perkataan Jong barusan, “Ya, hyung ! Aku mohon jangan kasihani aku dan memperlakukan aku seperti orang sakit, ne ? Lakukan sama seperti sebelum kau mengetahuinya. Anggap kau tidak tahu apa-apa, yaksok ?” Taemin menyodorkan pinky promise-nya yang mungil.

“….” Jong terdiam sesaat dan tidak menyambut jari Taemin yang menyodor padanya, “Taemin, apa Minho tahu?”

Mata Taemin langsung melebar. Minho! Nama tersebut spontan membuat kepanikan mulai melanda dirinya, “Tidak ! Emm… belum…”

“Kau tidak memberitahunya ?”

“Tidak ! Maksudku…tidak perlu. Tolong jangan katakan apa-apa padanya. Ayo berjanjilah, hyung..? Jebal ?”

Jjong memalingkan wajahnya yang ditatap penuh harap oleh Taemin. Rasanya sakit melihat wajah tersebut (yang sekarang ia sadarai semakin pucat sejak terakir ia melihatnya) menatap memohon padanya, “Tapi…kenapa kau menghindarinya ? Jangan kau kira aku tidak tahu yang terjadi antara kau dan Minho.” Ucap Jong tanpa menjawab permintaan Taemin tadi.

Taemin menutup matanya sambil menghirup napas dalam-dalam, meyakinkan bahwa keputusannya memang benar, “Aku sakit, hyung. Dan aku akan mati.”

Skak mat ! Jonghyun langsung terdiam mendengarnya. Pandangannya berubah nanar dan sedih.

“Dari pada dia menderita ketika aku mati, lebih baik dia membenciku ketika aku masih ada.”

“…..”

Dan agar Minho hyung dapat meraih mimpi-mimpinya, pikir Taemin.

.

.

.

Taemin menggembungkan pipinya kesal sambil mengganti-ganti channel TV. Tidak ada satupun acara yang dapat menghilangkan rasa bosan yang tengah hinggap di dirinya sekarang ini.

“Aishh aku bisa mati bosan kalau begini terus..” gumamnya sambil merebahkan diri di sofa dan melempar remot tersebut ke sembarang arah.

“Auw !” teriak seseorang yang tepat terkena lemparan random-nya itu.

“Ha ?! Mian !” Taemin terlonjak kaget mengetahui ada orang lain di kamarnya. Karena Onew hyung sedang keluar. Begitu ia menoleh ke asal suara, dia semakin terkejut lagi. “Mi-…Hyung?”

“Tae…aku ingin bicara.” Minho berjalan menghampiri Taemin, dan tatapan Taemin berubah dingin.

“Soal apa? Kurasa tidak ada hal penting yang harus dibicarakan.”

Melihat Taemin yang seperti itu membuat Minho semakin kesal. Amarahnya yang dipendam belakangan ini seolah meledak begitu saja, “Apa salahku, Taemin ?! Tolong katakanlah…!” bentaknya dan meraih kedua pundak Taemin, menatap lurus ke bola mata coklat itu, mencari kebenaran.

Taemin mengangkat bahunya dan memalingkan wajahnya, “Tidak ada. Dan tolong lepaskan aku Minho hyung.”

Tiba-tiba Minho mendorong tubuh Taemin dan menekannya di sofa.

“Hyu-hyung..??” Taemin memegang tangan Minho yang tengah mencengkram bahunya cukup kuat.

“KENAPA ? KENAPA KAU LAKUKAN INI PADAKU ?!” pekik Minho dan cengkramannya di bahu Taemin semakin kencang dan tanpa sadar ia mengguncangkan tubuh kurus itu dengan kasar.

“Sakit…” ringis Taemin berusaha mendorong Minho, tetapi Minho menekannya cukup kuat hingga gerakannya terkunci, “Lepaskan Hyu-mmphh…”

Tanpa ragu Minho menyambar bibir Taemin dengan bibirnya. Menghisapnya dengan sedikit kasar dan mulai melumat bagian atas dan bawah bergantian. Taemin melebarkan matanya karena syok akan apa yang terjadi sekarang. Kenapa Minho-nya berubah seperti ini ?! Kemana kelembutan yang selalu diberikan Minho padanya ?

“Hentikan, hyung ! Andwae ! Shireo !” Taemin terus berusaha mendorong tubuh Minho agar bisa terbebas, namun apa daya…tenaganya tak cukup kuat bahkan Minho sama sekali bergeming di tempatnya.

“Wae!?” Minho melepaskan ciumannya karena Taemin terus-terusan mencoba mendorongnya, dan ia kembali mengguncangkan tubuh Taemin kasar, “Apa kau sudah menemukan orang lain selain aku, yang lebih dariku ?! Apa benar begitu ?! Jawab aku !!”

Taemin menggeleng. Terpancar ketakutan yang sangat dari kedua bola matanya. Ketika pegangan Minho melonggar, ia mencoba bangun dari posisinya namun lagi-lagi Minho menekannya dan ia kembali mencium Taemin.

Taemin berusaha memukul-mukul punggung Minho, tapi percuma saja. Tenaga mereka tidak sebanding terlebih sekarang ini Minho tengah dilanda emosi. Dia bahkan tidak bisa mendengarkan penolakan Taemin dibawahnya. Minho semakin ganas dan ia mulai membuka kancing kemeja yang Taemin pakai satu per satu sambil terus memainkan bibir ranum yang tengah dilumat oleh bibirnya. Mencium pipi, dagu, leher dan turun ke dadanya, memberikan hickey, menyatakan bahwa Taemin adalah miliknya. Tidak ada yang lain ! Tidak boleh ! Namun begitu ia beralih turun dari leher Taemin menuju pundak dan dadanya yang sudah terekspos, Minho terdiam seolah ditampar oleh penglihatannya yang menyakitkan.

Minho kembali tersadar begitu melihat beberapa bekas jahitan yang masih membekas di kulit putih Taemin yang semula mulus tanpa cela. Ia langsung teringat kembali dengan kejadian beberapa saat lalu ketika Taemin hampir dilecehkan oleh senior mereka. Minho menatap wajah Taemin yang tengah menangis tanpa suara, mata sendunya mengeluarkan cairan bening yang membasahi wajah cantiknya.

“Mianhae…jeongmal mianhae Taemin-ah…mianhae..” sesal Minho dan beranjak bangkit dari atas tubuh Taemin. Mengusap wajahnya dengan kasar, tidak dapat mempercayai perbuatannya barusan yang sangat menyakiti Taemin.

Taemin hanya terdiam. Air matanya masih berlinang, dan tubuhnya gemetaran. Ia takut. Ia teringat kembali dengan kejadian waktu ia dilecehkan dulu. Yang mengakibatkan bekas luka ditubuh dan hatinya.

.

.

.

“Tae, maafkan perbuatanku kemarin… jeongmal mianhae.” Minho kembali mencoba berbicara dengan Taemin setelah sebelumnya Taemin menghindarinya terus. Tidak mebalas sms-nya dan juga mereject telpon darinya.

Taemin hanya diam menatap kosong mata Minho. Ia jelas merasa kecewa dengan perbuatan Minho yang menyakitinya, tetapi dia pun dengan jelas mengerti mengenai alasan mengapa Minho sampai bisa berbuat hal seperti itu.

“Gwenchana. Sudah lupakan saja, hyung. Lagi pula kita sudah putus.”

“!!!”

Lagi-lagi kata-kata Taemin membuat Minho terdiam di tempat. Taemin berlalu begitu saja dan meninggalkan Minho yang syok atas tingkah anehnya ini. Taemin menggigit bibirnya kuat, menahan air mata yang hendak keluar dari matanya. Ia tidak ingin mengatakan hal itu…sama sekali tidak ingin…

Seolah takdir seperti mempermainkan hidupnya…

Minho berjalan cepat menyamai Taemin dan menarik tangannya untuk berhenti. “Siapa yang bilang kita putus ?! Aku sama sekali tidak berkata begitu ! Itu hanya keputusanmu sendiri !”

“Terserah.”sahut Taemin dan ia segera masuk ke kelas. Melihat itu, entah perasaan Minho sudah layaknya benang kusut yang tak mudah diluruskan kembali. Mood-nya untuk kuliah sudah benar-benar menghilang dan ia tidak lagi berniat ke kelas. Kalau harus melihat wajah Taemin saat ini, itu hanya akan membuatnya semakin gila. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk bolos dan pergi keluar lingkungan kampus. Ia merasa sangat kesal dan merasa Taemin sungguh tidak adil padanya.

Andai ia tahu…Bahkan ketidak adilan itu pun tengah bermain-main dengan sosok namja cantik-nya…

Tapi tanpa sengaja, Onew melihat Minho yang tengah berjalan keluar gerbang.

………..

“Minho hyung tidak masuk….” gumam Taemin ketika pelajaran dimulai. “Mianhaeyo~ hyunggie.. hanya ini yang bisa kulakukan agar tak membuatmu menyesal memilihku, yang pada akhirnya akan meninggalkanmu.” Taemin menyeka air matanya yang akan menetes di sudut matanya, “Gwenchana, Taemin. Gwenchana. Semua akan baik pada akhirnya…” bisiknya pada dirinya sendiri.

Saat Taemin tengah memusatkan konsentrasinya pada pelajaran yang berlangsung, Key menoleh padanya, “Dimana Minho ? Tidak masuk ?” tanya Key. Ia tahu kalau Minho dan Taemin sedang tidak saling bicara. Onew pun sama sekali tidak mau memberitahunya meski ia sudah menggunakan berbagai cara dan bahkan mengancam, tapi itu hanya berbuah pertengkaran. Seperti pagi ini, ia dan Onew pun sedang perang dingin.

“Tidak tahu, umma…” jawab Taemin datar sambil mengangkat bahunya.

Ini bukan Taemin yang biasanya, eoh ?? , pikir Key. “Nanti sepulang sekolah temani aku, ne ? Kita refreshing !” ajak Key dengan penuh semangat. Ia hanya merasa harus membantu malaikat kecilnya ini (walau memang bukan anak kandungnya, tapi Key selalu beranggapan Taemin adalah ‘benar-benar’ baby-nya) yang saat ini tengah tersesat. Berusaha menuntunnya menemukan cahayanya kembali walaupun hanya berupa hal kecil.

Jelas sekali, Key ingin Taemin –baby-nya– bahagia…. Salahkah?

Dan Taemin mengangguk menyetujuinya.

.

.

.

“Key ! Taemin !” panggil Jong yang muncul di pintu kelas mereka.

“Hyung ?” sahut keduanya berbarengan.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan, eum ? Kalian sudah selesai, kan ?” ajak Jong sambil menghampiri meja Key.

“Wah, kebetulan sekali ! Aku baru saja mengajak Taemin untuk shopping. Kau ikut saja, hyung ?!” sahut Key riang.

Jjong mengacak rambut Key, “Sepertinya tidak ada hal lain selain belanja di kepalamu ini, eoh ?”

“Geezz, jangan sentuh rambutku !! Kau hanya merusaknya !”

“Mwo ?!”

^&$%&^$%#$#%&*

Kucing betina dan The Dino kini saling mencakar… ==’a

Taemin hanya tersenyum samar, “Taman bermain…”gumamnya. Ia tak bermaksud meminta, hanya berbicara untuk dirinya sendiri, tetapi sepertinya kedua Kim itu mendengarnya.

“Mwo ?” ucap keduanya serentak, membuat Taemin terkejut dibuatnya.

“Err…hmm…maksudku…tidak, “ Taemin gelagapan begitu keduanya menatapnya dengan pandangan heran. Tapi tiba-tiba Key tersenyum dan menepuk bahu Taemin,

“That’s a great idea, baby !” soraknya.

Tetapi Jjong mengerutkan alisnya dan menatap Taemin dengan tatapan –Apa kau yakin ?–

Taemin tersenyum melihat Key yang bersemangat dan ia menjawab tatapan Jjong dengan sebuah anggukan mantap.

.

.

.

“Eiissh !” Minho meremas kaleng soda-nya hingga remuk lalu melemparnya ke tong sampah yang berada cukup jauh darinya, tapi, HUP… masuk dengan mulusnya.

“Nice shoot.” ucap sebuah suara yang tiba-tiba muncul sambil bertepuk tangan.

Minho menoleh cepat ke sumber suara, “Hyung ?”

“Annyeong..” sosok bergigi kelinci itu tengah tersenyum menyapanya riang.

Minho mengangkat alisnya dan akhirnya memalingkan wajahnya kembali menatap ke depan. Hatinya tengah dibakar api kekesalan. Sama sekali tidak berminat untuk beramah tamah, dan sosok itu pun merilekskan tubuhnya di sebelah Minho.

“Kau bolos, eum ? Tadi kulihat kau keluar gerbang kampus saat perjalanan berlangsung. Kenapa ?”

“Tidak apa-apa.”

“Taemin kah ?”

Minho langsung menoleh dan menatap sosok bergigi kelinci tersebut –Onew– dengan tajam.

“Apa dia bercerita sesuatu ?” Minho memalingkan tubuhnya menghadap Onew yang tengah duduk di sebelahnya dengan rasa penasaran yang langsung membuncah begitu mendengar nama ‘Taemin’ disebut.

“Hahahaha….” Onew malah tertawa yang menurut Minho sama sekali tidak lucu. Apa yang membuatnya tertawa eoh ? Meledeknya kah ? Ck,

“Ck, sepertinya kau sudah gila, hyung.”

“Yaah, begitulah. Hidup terlalu serius tidak menyenangkan.” Jawabnya santai.

Minho menarik ujung bibirnya sedikit. “Ck, dasar aneh.” gumamnya kesal.

“Aku akan memberitahumu satu hal penting tentang dongsaengku itu, asal kau bisa menang main basket melawanku.” tantang Onew, “Tapi kalau kau takut, ya tidak usah, hahaha”

What ?? Minho mengedutkan alisnya. Menantangnya main basket itu sama saja seperti memberi daging domba ke singa yang lapar.

“Kau tidak salah bicara, hyung ? Kau tidak tahu berbicara pada siapa ?”

Onew hanya tersenyum lalu beranjak pergi, “Kita main di hall.”

. . . . . . .

“Woaaaahh~” Taemin menatap takjub arena taman bermain yang sangat luas dan ramai.

Jonghyun dan Key saling menatap heran, namun akhirnya mereka tersenyum.

“Kau mau naik sesuatu ?” tanya Key. “Biar Jjong hyung yang menemani, iyakan hyung ?” sambung Key cepat. Karena ia tengah hamil muda, ia tidak bisa menaiki wahana yang ekstrim dan akan membahayakan aegya-nya.

“Eh ? A—aku… tidak usah. Sepertinya mengerikan…aku hanya ingin melihat-lihat saja. Hehe”

Key langsung mengerutkan alisnya mendengar jawaban Taemin yang menurutnya tidak masuk akal. Lalu, untuk apa dia ingin ke taman bermain kalau tidak menikmati permainan, eoh ?

“Yah, benar kata Taemin. sebaiknya kita jalan-jalan atau bermain air saja.” sahut Jjong yang tahu betul alasan Taemin menolak untuk menaiki wahana yang kebanyakan memang memacu adrenalin dan tidak baik untuk jantung yang tidak sehat.

Dan Taemin pun tahu betul tentang kehamilan Key yang membuatnya tidak bisa menaiki wahana-wahana tersebut.

“Baiklah, kalau begitu kita jalan-jalan saja.” putus Key.

Ketiganya pun mengangguk dan mulai mengitari taman bermain yang sangat luas tersebut. Taemin sibuk memotret hal-hal yang menurutnya menarik dan mereka tertawa bersama. Sampai akhirnya mata Taemin menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya.

. . . . . . .

Sementara itu di hall basket kampus.

“Aku pasti akan membuatmu bercerita, hyung !” ucap Minho penuh semangat.

“Hahaha, Oke. Buatlah aku membuka mulutku. ^^” sahut Onew enteng.

Dan… TOS !

Setelah jump ball, permainan pun dimulai. Minho mendapat bola pertama tetapi Onew tidak semudah itu membiarkan Minho melewatinya.

Saat keduanya tengah berhadapan, “Kau tahu mitos basket, hyung ?” Tanya Minho sambil menyunggingkan seksi smirk-nya.

“Yang mendapat bola pertama, dia yang akan menang !” sahut keduanya bersamaan.

“We’ll see.” ucap Onew.

“Lets see.” balas Minho.

Dan pertarungan yang sengit pun terjadi hampir sepuluh menit.  9-9, kedudukan seimbang.

Sekarang adalah game point, tembakan terakir adalah penentu siapa yang menang.

“Cih, hebat juga dia.” gumam Minho –kagum– sementara Onew sudah banjir keringat dan tengah mengatur napasnya yang cukup tersengal hebat.

“Aku semakin tua saja… hahaha” ucap Onew sambil mengelap keringatnya dengan ujung kaosnya.

“Kau lumayan.” Puji Minho.

“Haha..”Onew hanya tertawa mendengarnya lalu permainan kembali dimulai.

Detik penentuan siapa yang menang dan kalah.

Bola ada di tangan Onew sekarang. Minho berusaha merebutnya tapi Onew pintar berkelit dan mempertahankan bola tersebut di tangannya. Mereka masih memperebutkan bola tersebut dengan sengitnya, namun tiba-tiba tangan Onew menjadi kaku dan sama sekali tidak bisa digerakkan sehingga Minho dapat merebutnya dan menembakkan bola tersebut tanpa perlawanan.

Masuk !

Onew masih terbengong di tempat dan wajah tenangnya sedikit berubah panik. Minho juga merasa tadi itu terlalu mudah. Ia percaya seharusnya Onew bisa merebutnya kembali atau paling tidak berusaha menghentikan. Tapi tadi Onew benar-benar hanya diam di tempat.

“Kau kenapa, hyung ? Hilang konsentrasi ?”

Onew sendiri juga merasa bingung ada apa dengannya ? Lalu sedetik kemudian, tangan dan kakinya bisa digerakkan kembali. “Apa aku benar sudah setua itu ? Seperti Key yang selalu menyebutku ‘Old man’ ??” (O.O) pikirnya.

“Hyung ! Kau kalah !”

Onew menghela napasnya dan kembali tersenyum, “Apa jadinya kalau MVP kampus kalah bermain dengan orang biasa, eum ? hahaha”

“Sudah tahu akan begitu kenapa menantangku ?!” sahut Minho sombong.

“Hanya iseng saja. Aku bingung kenapa Taemin sangat ingin bisa bermain. Ternyata memang mengasyikkan.”

Minho mengedutkan alisnya, dan detik berikutnya ia mengingat sesuatu, “Hyung ! Janjimu !”

Onew menghela napas perlahan lalu menatap Minho serius, “Dia sedang berkorban untukmu.”

Mata Minho melebar, “Berkorban ? Maksudnya ?”

“Anak itu memang bodoh. Untuk apa ia mengorbankan perasaannya sendiri, membuatnya menderita, hanya untuk orang sepertimu ?”

Mendengar itu Minho langsung mencengkram kerah baju Onew, “Apa maksudmu ?!”

“Yang jelas dia itu sangat mencintaimu. Jangan pernah ragukan itu.” Onew melepas tangan Minho dari bajunya dan menyentil jidat Minho, “Aku sunbaemu. Sopan sedikit. Haha” lalu ia berjalan pergi.

Kini Minho sedang mencerna perkataan Onew barusan sambil menatap punggung Onew yang tengah berjalan keluar gedung olahraga itu.

“Hei ! Sampai kapan kau mau melamun disitu ?!” Onew berbalik menatap Minho yang masih berdiam di tempatnya berdiri tadi, “Ikut aku !”

“Eoh ?”

.

.

.

Taemin dan Key tengah duduk di sebuah bangku kayu di dekat danau buatan di pinggiran arena taman bermain tersebut. Sedangkan Jjong sedang membeli minuman untuk mereka bertiga dan juga gulali untuk Taemin yang sedari tadi menatap kapas merah jambu itu dengan mata berbinar.

“Kenapa kau tidak mau mencoba salah satu permainan, eoh ? Kupikir kau ingin bermain-main disini.” ucap Key sambil menatap Taemin heran. Tapi Taemin hanya tersenyum membalas Key, lalu yang membuat Key terkejut adalah ketika Taemin tiba-tiba menaruh tangan kecilnya di perut Key.

Eoh ? O.O

“Hihi…” Taemin terkekeh kecil sambil mengusap-usap perut yang kini terisi oleh makhluk hidup mungil lainnya.

“Ta-Tae..k-kau…kenapa ?” Tanya Key panik. Ia ingin menepis tangan Taemin dari perutnya, tapi di lain sisi, ia merasakan kehangatan dari sentuhan lembut itu. Seolah rasa rindunya akan sentuhan sang Appa sedikit terbayar.

“Hihi, perut umma lucu ! Sedikit gembul seperti perut Onew hyung. Jangan tanya aku tahu dari mana, karena aku pernah melihatnya berganti pakaian. Hahaha ^^;;” tawa Taemin riang.

Mendengar itu Key ikut tertawa membenarkan. Dan akhirnya ia membiarkan Taemin mengelus-elus perutnya tanpa ada rasa curiga. Ia yakin bahwa dirinya telah menutup rapat soal aegya yang ia kandung dan tidak ada yang mengetahuinya. Tetapi seolah Tuhan tidak menyetujuinya, Taemin pun ditakdirkan mengetahui hal itu tanpa sepengetahuannya.

Tak lama Jjong pun kembali dengan minuman dan gulali di genggamannya, membuat Taemin kembali berbinar senang.

“Ini untukku ?” ucap Taemin riang.

Jjong tersenyum dan mengusap kepala Taemin sayang, “Tentu manis…haha”

Key malah merinding begitu mendengar Jjong yang sangat cheesy menurutnya dan bergidik geli, “Ingat, dia sudah milik si kodok !” bisik Key.

Jjong hanya tersenyum mengangguk. “Aku tahu Key, dan sebentar lagi…” melihat seseorang yang datang Jjong pun menghentikan kata-katanya.

“Eh ?” tiba-tiba ada sesuatu yang bertengger di kepala Taemin, membuatnya yang tengah asyik mengemut gulali, sedikit tersentak kaget. “Apa ini ? Topi ?” Taemin mengambil topi yang berbentuk jamur tersebut dan berbalik ingin melihat siapa orang yang memasangkan topi lucu itu ke kepalanya, “Hyung !?” pekik Taemin begitu ia tahu siapa sang pelaku.

“Minho ?” ucap Key yang juga terkejut melihat kehadiran makhluk tampan itu di sana.

Tanpa memedulikan Key yang tengah menatapnya, Minho langsung mendekap bahu Taemin, “Bodoh ! Kenapa datang ke sini tidak mengajakku ?”

“Ke—kena…kenapa hyung bisa di sini ?” Tanya Taemin gugup dan tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri mereka dengan membawa balon yang sangat banyak hingga menutupi wajahnya sendiri.

“Balon !” pekik Taemin membuat ketiganya menoleh ke arah balon-balon itu.

“Key… Maafkan aku.” ucap orang itu dan menyodorkan balon-balon tersebut pada Key sehingga wajah dibalik sekumpulan balon tersebut pun tampak dengan jelas tengah tersenyum lebar hingga matanya yang sipit tenggelam oleh pipi chubby-nya yang ikut mengangkat naik.

Taemin masih memandang balon-balon itu dengan mata berbinar –ingin pegang– . Diam-diam Minho memperhatikan ekspresi Taemin dan tersenyum melihatnya. ‘Imut’ pikirnya gemas. Dia benar-benar rindu dengan namja cantiknya itu.

“Jinki ?” ucap Key dengan mata berkaca-kaca.

“Iya sayaang, ini aku.”

Jjong terkekeh, “Kalian… ck, dasar dubu. Mana mempan Key dikasih balon seperti itu….” Belum sempat Jjong menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Key langsung melompat memeluk Onew dan balon-balon yang dipegang Onew terlepas dari genggamannya.

“Balon !” pekik Taemin berusaha menggapainya namun sayang sekali balon tersebut sudah terbang tinggi, namun Minho berhasil menangkap satu buah. Taemin melirik balon yang ada digenggaman Minho kemudian melirik tangannya yang kosong, merasa tidak dapat balon lalu Taemin menggembungkan pipinya sebal. Minho tersenyum geli melihatnya.

“Yeobo ya~ mian~ aku memang terlalu cerewet.” Ucap Key dan dia hampir menangis menatap mata sipit milik Onew-nya. Yah, Onew-nya. Hanya miliknya.

Onew mengelus kepala Key lembut, “ Aku yang salah Key. Bukan maksudnya untuk merahasiakan sesuatu darimu. Tapi saat itu aku benar-benar sedang lelah hingga membentakmu. Mianhae~”

Key menggeleng dan kembali memeluk Onew dengan erat, karena ia merasakan kehangatan yang tersalurkan ke perutnya –aegya mereka–.

“Tapi Key, aku berhasil membawa Minho kesini dan biar dia yang menjelaskan apa yang terjadi antara dia dan Taemin. Sesuai pertanyaanmu padaku kemarin. ^^”

Key melepaskan pelukannya dan langsung menatap Minho dan Taemin bergantian, “Ya ! Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian, eoh ?” todongnya.

Taemin tersentak begitu juga Minho dan mereka berdua tidak sengaja bertemu pandang tapi Taemin buru-buru membuang mukanya.

“Ya ??” ucap Key tidak sabaran.

“Ti..tidak ada, umma…” tapi tiba-tiba Minho menarik dagu Taemin agar dapat menciumnya dan membuat si empunya bibir terkejut kaku begitu juga dengan ketiga hyung-nya yang lain.

“Saranghae…” bisik Minho dan meraih tangan Taemin lalu memberinya balon yang tadi ia tangkap.

“Hyung…?” Taemin tidak percaya dengan perbuatan Minho yang sangat ekstrim karena menciumnya di depan para hyung-nya.

“Haah, irinyaaaaa…” ucap Jjong sambil tersenyum meledek.

“Minho pabo ! Siapa yang mengijinkanmu menciumnya, hah ?!” Onew langsung mengunci leher Minho dengan lengannya, membuat Minho terbungkuk karenanya.

Key dan Jjong sontak tertawa melihat adegan itu, dan Taemin masih terbengong namun akhirnya ia ikut tersenyum senang.

“Mianhae, cantik…” bisik Minho genit, sambil menggandeng tangan Taemin yang terasa sangat kecil dibandingkan dengan tangannya. Membuatnya ingin selalu menjaga malaikat cantik ini selamanya, “Jangan pernah berkorban untukku kalau itu membuatmu sakit dan kita menjadi jauh.”

“Tapi…aku…aku tak mau jadi penghalangmu, hyung.” Ucap Taemin tertunduk pelan.

“Aku bisa bermain basket kapan pun dan dimana pun yang aku mau. Tapi kau hanya ada satu, dan bila aku tidak memilhmu, aku tidak bisa melihatmu bersama orang lain. Kau…hanya milikku, Minnie ah..” Minho mengeratkan genggamannya pada tangan Taemin.

“Tapi kesempatan tidak datang dua kali, hyung.”

“Begitu juga kau, Tae… Mungkin aku akan sedih jika tidak mendapat bneasiswa itu…” ucap Minho, dan Taemin kembali menundukkan kepalanya sendu.

“Tapi, aku akan menyesal dan menjadi gila bila aku memilih untuk melepasmu, Tae..”

Blush !! (O////O) Taemin tersipu malu mendengar ucapan Minho barusan dan sukses membuatnya terdiam dan jika di dalam cerita komik, maka sekarang kepala Taemin mulai mengeluarkan asap.

Jonghyun dan Key dengan susah payah berpura-pura tidak mendengar agar tidak merusak suasana romantis tersebut, tapi si pemilik gigi kelinci tidak sengaja menumpahkan minuman ke bajunya sendiri dan berteriak kaget, membuat Taemin dan Minho sadar bahwa sedari tadi mereka sedang ditonton.

“Ya ! Jinki !” Key memukul lengan Onew yang jelas-jelas membuyarkan adegan seperti di sinetron-sinetron remaja pada umumnya.

Jonghyun terpingkal melihat tingkah Onew yang terkadang clumsy, sedangkan Onew sibuk mengibas-ngibaskan bajunya san akhirnya Key mengeluarkan tisu dan membantu membersihkan.

“Dingin~” ucap Onew.

Minho dan Taemin memperhatikan hyungnya itu lalu mereka saling pandang. Minho mengangkat bahunya sambil tersenyum, Taemin pun ikut tersenyum dan membalas genggaman Minho dengan erat.

”Aku percaya hyung…” mendengar itu Minho langsung menarik tubuh Taemin agar mendekat, dan merangkulnya.

“Jangan pernah mengambil keputusan sendiri apa lagi jika itu menyangkut masalah kita berdua.” Bisik Minho dan mengecup pipi tembam Taemin.

Taemin menatap mata bulat Minho dengan seksama dan hanya ada ‘kejujuran dan cinta’ yang terpancar dari mata indah itu. “Mian hyung…” Taemin merutuki kebodohannya, bagaimana bisa ia meragukan tatapan Minho yang jelas-jelas bersinar penuh cinta untuknya ?

“Na ddo, mian Minnie…” sambil menarik hidung Taemin pelan, lalu mencium pucuknya yang memerah karena ulahnya itu.

“Makanya kalau minum hati-hati, yeobo. Kau minum seperti bayi !”

“I-iya tadi aku kan tidak sengaja…”

Key mempoutkan bibirnya merajuk.

CUP

BLUSH !

“Aku minta maaf, sayaang…” dan Jinki kembali mecium bibir pink milik Key yang membuatnya sangat gemas ingin mengecupnya lagi dan lagi.

“Aiissh cukup, aku malu…”Key mencubit lengan Onew pelan dan Onew tertawa melihat Key yang selalu blushing bila ia melakukan hal-hal seperti ini.

“Hei, sebaiknya kita pulang saja. Ini sudah petang.” Saran Jjong melihat langit yang telah berubah warna menjadi orange kemerahan.

Onew melirik jam tangannya, lalu keempatnya menganggguk setuju. Lalu Onew menyadari Taemin yang terlihat lelah dan pucat, agar tidak kambuh, Onew menyuruhnya untuk tidur. Taemin pun tertidur di punggung lebar Minho yang sangat nyaman. Walau awalnya Minho harus bertengkar dulu dengan Onew mengenai siapa yanga akan menggendong Taemin. Dan tanpa ada yang tahu, Taemin tersenyum di dalam tidurnya…

Tuhan, semoga pilihanku ini tidak salah. Karena aku egois ingin mempertahankannya….

.

.

.

BRUK

“Onew hyung !!!!!”

“Andwae !!!”

.

.

.

.

TBC AGAIN!! ^^

Mau liat berapa banyak yang masih minat ff ini ditamatkan hehe…

Bye, see u again…

My Fav 2min moment hehehe >///<

Ini juga salah satu momen onkey favoritku XDD

80 thoughts on “SECOND LIFE/2MIN-ONKEY/PART 9 OF?

  1. LANJUTKAAANNN!!!!
    JANGAN HIATUSSSS!!!
    ONEW KENAPA T^T
    AKU TEBAK!! ONEW GAGAL GINJAL LAGI?:O
    Wahahaha sotoyyy, ini FF menarik!!
    Lanjutkan!!

  2. Key hamil ???? Onew kenapa ??? Kenapa mendadak kaku ??? Key kapan kau memberi tau Onew ??? Pen baca dari awalll… Pen baca part selanjutnya

  3. Lanjut lanjut lanjut donk ni ff!!!! Bneran seruuuuu!!!!!! Nyunyu knpa???? Key cpet kek kasih tau nyunyu kalo lagi hamil!!
    Ayolah thor lanjutin epepnya!!!! #ngedip2

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s