[Jinkey] Key 4


Foreword :

Annyeong, fast update nih. selamat membaca ya? ini agak panjang dan mungkin ada yang bisa nebak jalan ceritanya.
seperti yang aku ungkapin di part 1, kalau ni ff terinspirasi dari film anime gosick. so kalo ada cerita yang sama harap maklum.

Cast : Jinkey dkk

Genre : banyak yang bilang fantasy

cek it out

Di stasiun desa Shinee World, tibalah sebuah kereta dari pusat kota sm twon. Dari kereta tersebut, turunlah dua orang namja tampan dan cantik. Yang namja tampan membawa sebuah tas koper berukuran besar dengan sebelah tangan, sedangkan tangan yang satunya menggandeng tangan sang namja cantik yang berada di sebelahnya.

Mereka berjalan menyusuri kegelapan malam yang ada disana. mengingat waktu sudah menunjukkan tengah malam, jadi jarang sekali bus atau kendaraan lain lewat disana. beruntung masih ada satu taksi yang masih beroperasi. Namja tampan dan cantik itu menaiki taksi tersebut menuju penginapan dekat dengan desa gumiho yang letaknya di balik gunung. Namun, saat mereka berdua hendak naik, tiba-tiba seorang namja cantik telah menyerobot memasuki taksi tersebut.

“Mian, aku telah berbuat seenaknya, kalian boleh naik bersamaku, kajja,” ajak namja cantik itu tersenyum ramah.

“Ah, ne,” segera saja Jinki dan Key menaiki taksi tersebut.

“Tolong ke penginapan yang ada di dekat desa gumiho,” kata ketiga penumpang itu secara bersamaan.

Hal tersebut membuat sang supir taksi tersenyum sekaligus kaget akan tujuan mereka. Sedangkan ketiga orang penumpang itu saling memandang satu sama lain.

“Jadi tujuan kita sama ya?” tanya seorang namja imut yang duduk di sebelah Jinki.

“Ne, kurang lebih seperti itu,” jawab Jinki sambil terus menatap Key yang memandang keluar jendela.

“Jinki,” panggil Key tanpa mengalihkan pandangannya dari luar.

“Hmm?” tanggap namja tampan itu.

“Kenapa di luar gelap sekali?” tanya Key polos.

Orang-orang yang berada di dalam taksi itu tertawa mendengar pertanyaan namja cantik bermata indah itu.

“Karena orang-orang telah tidur nyenyak di rumah mereka,” jawab Jinki mencoba menahan tawanya.

“Oh,” sahut Key sambil terus memandang keluar.

Tanpa mereka berdua sadari, namja cantik yang kebetulan satu kendaraan dengan mereka terus mengawasi Key. Sebuah senyum terukir di wajah cantiknya.

“Anak yang malang, diusia mudanya harus kehilangan kebebasan,” gumamnya.

Jinki segera melihat ke arah namja cantik itu dengan bingung.

“Anda bicara sesuatu?” tanya Jinki.

“Aniya, ngomong-ngomong kita belum kenalan, namaku Cho Jino, kau?” kata namja cantik yang ternyata bernama Jino.

“Aku Lee Jinki dan namja cantik ini adalah temanku, Kim Keybum,” Jinki mulai memperkenalkan dirinya dan Key.

“Senang berkenalan dengan kalian,” jawab Jino mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Jinki.

Key yang memperhatikan mereka dari ekor matanya mulai memberenggut tidak suka atas kelakuan Jinki yang selalu ramah pada orang lain. Entahlah, seperti tidak rela kalau namja tampan itu memberikan senyumannya pada orang lain selain dirinya.

“Permisi tuan-tuan sekalian, sebentar lagi akan segera sampai,” tegur si sopir taksi pada ketiga namja yang menjadi penumpangnya.

Benar saja, tak lama kemudian mereka bertiga sampai di sebuah penginapan yang sederhana. Seperti rumah bergaya eropa zaman dulu. Bangunan berlantai dua dengan cat berwarna abu-abu tua dan pintu dari kayu berwarna coklat. Namun, ada yang aneh dengan pintu itu, karena disana telah tergantung seekor burung merpati yang telah mati.

“Apa-apaan penginapan ini, menggantung burung merpati yang sudah mati di depan pintu,” omel Jino tak terima.

“Sudahlah, yang penting ada penginapan disini,” tenang Jinki.

Mereka bertiga turun dari taksi, tak lupa juga membayar ongkos taksi dengan uang mereka.

“Ngomong-ngomong Jino-ssi, untuk apa kau datang jauh-jauh kemari?” tanya Jinki seraya menurunkan koper besar milik Key dan dirinya.

“Aku ingin liburan disini, bosan kalau sering liburan di Jeju, mending yang dekat-dekat saja,” jawab Jino enteng. , mata namja cantik itu tak lepas dari Key yang kini berdiri sambil menggandeng tangan Jinki.

Cklek

Pintu di buka oleh mereka bertiga, tampaklah seorang pria tua dengan kumis di wajahnya yang berdiri di balik meja yang cukup tua juga.

“Selamat datang di penginapan kami,” kata pria tua tersebut membungkukkan badan.

Segera saja Jino dan Jinki mengurus segala sesuatu untuk menginap. Jino memesan satu kamar, sedangkan Jinki memesan dua kamar yang berseberangan.

Setelah semua beres, Jino langsung menuju ke kamarnya. Lalu tinggallang Jinki dan Key yang masih berda di bawah. Ketika hendak menaiki tangga mereka dikagetkan oleh suara jendela yang tiba-tiba terbuka sangat lebar. Segera saja si pria tua itu menutup jendela itu.

“Sepertinya malam ini akan terjadi badai, dan di malam seperti ini, rubah juga keluar,” kata si pria tua tersebut.

“Rubah?” tanya Jinki bingung.

“Ne, seekor rubah. Di balik gunung desa ini ada desa rubah bereekor sembilan. Saat angin kencang, mereka turun gunung untuk memburu manusia. Burung yang digantung itu untuk menjauhkan rubah dari sini. Apa kalian datang kemari juga karena iklan tiga baris?” jelas si pria tua itu memandang ke arah Jinki.

“Jadi masih ada lagi?”

“Ya, mereka bertiga ingin pergi naik gunung dengan mobil, tapi jalan setapaknya terlalu terjal, jadi tidak mungkin,” pria tua itu meruba ekspresinya yang tadi ramah menjadi sangat serius.

“Supaya tidak merasakan kemarahan si rubah bereekor sembilan, kalian harus hati-hati,” lanjut si pria tua tersebut.

“Jogiyo, Apakah di desa itu penduduknya memelihara rubah?” tanya Jinki menatap pria itu bingung.

Si pria tua itu menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan, “Tidak, mereka juga manusia. Mereka berambut pirang ikal, berpipi seperti mawar, tubuh kecil, dan semuanya terlihat mirip satu sama lain.”

Si pria tersebut menatap wajah dingin Key dengan kaget. Matanya terbelalak lebar, tubuh tuanya bergetar setelah melihat mata kucing Key yang tampak tenang.

“N….Ne, mereka seperti namja cantik ini, si rubah yang nampak tenang dan menakutkan itu,” gagap pria tua tersebut seraya berjalan mundur menjauhi mereka berdua.

Jinki yang mendengarnya langsung menatap ke arah Key yang meliriknya tanpa berkata satu katapun.

“Mianhe, bolehkah saya meminta tambahan selimut,” terdengar suara Jino dari tangga lantai dua.

“Ah iya, di malam seperti ini pasti sangat dingin,” sahut si pria tua tersebut menunjukkan sebuah senyum pada namja cantik yang berada di atas tangga.

“Aku bisa merasakannya, ngomong-ngomong, bolehkah saya meminjam telepon? Handphone saya tidak menangkap sinyal, apa boleh?” tanya Jino menghampiri si pria tua yang mulai masuk ke sebuah ruangan yang ada di sebelah meja resepsionis tersebut.

“Tentu,” jawab si pria tua itu menyerah selimut dan menunjuk sebuah telepon yang ada di atas meja.

Jinki hanya memandang namja cantik itu dengan rasa penasaran. Namun, suara langkah kaki Key yang sepertinya kesusahan membawa kopernya tersebut menuju ke arah tangga.

“Sini, biar aku yang membawanya,” Jinki menawari, tapi kata-katanya tidak diindahkan oleh namja cantik yang terus menaiki anak tangga menuju lantai dua.

^_^v

Di malam yang sangat sunyi dan mencekam. Di sebuah kanar sederhana, dimana dalam kamar itu hanya ada satu ranjang tempat tidur, satu meja, dan satu kuris yang diletakkan dekat jendela kayu. Tidurlah seorang namja tampan yang hanya mengenakan sebuah kemeja dan celananya  yang tadi ia kenakan.

Namja tampan itu tidak tenang waktu tidur, terlihat dia selalu mengubah posisi tidurnya setiap detik.

Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari luar. Sontak membuat namja yang tadi tidak bisa tidur tersebut segera bangkit dari tidurnya.

“Apa tadi suara rubah?” tanyanya pada diri sendiri.

Lalu, namja tampan berpipi chubby itu keluar dari kamar. Tanpa di duga, pintu kamar yang ada di seberangnya juga terbuka. Tampaklah seorang namja cantik bertubuh mungil sambil memegang sebuah bantal dan mengucek mata kucingnya yang masih sayu. Namja cantik itu memakai baju tidur yang banyak rendanya, rambut pirangnya ia selipkan di penutup kepala dan menyisakan beberapa helai rambut yang keluar dari penutup kepalanya itu.

“Key, kau mendengar suara itu juga?” tanya si namja tampan itu.

“Kau lihat seekor kelinci keluar dari sebuah topi?” kata namja cantik bernama Key itu sambil mengucek matanya yang sayu.

“Eh, maksudnya?” bingung Jinki menghampiri Key yang masih berdiri di depan kamarnya.

“Tanya pada topinya, cepat sana!” sahut Key memalingkan wajahnya dari hadapan namja tampan itu sambil terus mengucek matanya.

Melihat tingkah namja cantik tersebut, membuatnya tersenyum geli.

“Ngelindur ya? Baguslah, aku tidak usah khawatir,” kata Jinki senang.

Sedetik kemudian Key menatap ke arah Jinki dengan kaget. Lalu melihat ke kanan dan kiri dengan bingung. Tak lama kemudian, wajah putih bersih itu berubah menjadi merah tomat karena malu. Melangkahkan kakinya memasuki kamar. Jinki mengikuti Key, tapi

Brukk

Sebuah bantal telah mendarat di wajah tampannya. Disusul dengan sebuah guci, boneka beruang. Beruntung semua itu berhasil di tangkap oleh Jinki dengan baik.

“Key,” panggil Jinki pada Key yang mulai mengangkat sebuah kursi kayu yang ada di depan meja yang terbuat dari kayu juga.

“Hey tenanglah Key,” Jinki mengambil kursi yang akan dilempar Key padanya.

Jdrerr

Suara petir terdengar dari luar, tak lama kemudian disusul oleh turunnya hujan yang membasahi bumi.

“Biar ku tutup jendelanya,” izin Jinki menutup jendela kamar Key yang terbuka.

Namja cantik itu mulai duduk di atas ranjang yang hanya memuat satu orang saja. Namja cantik itu memandang Jinki tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibir plumnya.

Hening telah menyelimuti suasana kamar yang remang-remang tersebut. Jinki mencuri pandang ke arah namja cantik yang hanya memainkan kalungnya.

“Jinki, kau tahu kenapa aku nekat datang kesini?” Key membuka suaranya tanpa memandang ke arah namja tampan itu dan terus memainkan kalung berwarna keemasan tersebut.

“Untuk membersihkan nama baik ibumu?” tebak Jinki memandang ke arah Key.

“Ada lagi, yaitu untuk menyelesaikan perang antara Heechul dan desa gumiho,” jawab Key memasang wajah serius.

“Perang?” tanya Jinki bingung.

“Sebelum Heechul menang, aku tidak akan kembali,” jelas Key dengan penuh keyakinan.

^_^v

Pagi hari yang berkabut, sebuah kereta kuda telah berjalan di tengah hutan dan menembus kabut yang tiada habisnya ini. Dalam kereta tersebut, ada enam penumpang yang menaiki kereta tersebut.

“Annyeonghaseyo, choneun Leeteuk imnida, sebelah kananku ini Changmin, dan di sebelah kiriku Kyuhyun,” salah satu dari tiga namja tampan yang duduk di depan dua orang namja cantik dan seorang namja tampan yang ada di tengah-tengah mereka, memperkenalkan diri.

“Apa kabar,” sapa namja tampan berpipi chubby itu seraya membungkukkan badannya.

“Apa benar, di balik jalan gunung ini ada desa?” tanya Kyuhyun.

“Ne, katanya begitu,” jawab Jinki sekenanya karena ia memang tidak tahu menahu tentang kota dan desa ini.

Sementara Jinki mengobrol dengan ketiga namja tampan yang baru dikenalnya tersebut, Key terus memandang ke luar jendela. Memperhatikan hutan lebat di luar sana. Sedangkan Jino terus mengawasi Key melalui ekor matanya.

Tak lama kemudian kereta kuda itu berhenti di depan sungai. Sontak mereka berenam langsung turun. Betapa terkejutnya mereka, begitu melihat sebuah tembok raksasa seperti pintu gerbang berada di depan sungai tersebut.

“Akan ku jemput kalian disini besok,” kata si kusir kuda lalu meninggalkan mereka begitu saja.

Tiba-tiba jembatan kayu yang menjadi gerbang masuk dengan bangunan itu turun di depan mereka berenam. Setelah pintu besi di belakang jembatan gerbang itu terbuka. Tampaklah segerombol orang-orang yang menghunuskan pedang ke arah mereka.

“Apa-apaan mereka, menghunuskan pedang seperti itu?” omel Jino sedikit ada nada ketakutan dalam suaranya.

“Anak Heechul.”

“Lihat wajahnya! Bencana.”

Begitulah kata orang-orang yang menghunuskan pedang tersebut. Mereka mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Leeteuk, Kyuhyun, Changmin, Jino, mereka semua mundur. Kecuali Jinki yang maju berusaha untuk melindungi Key yang hanya diam di tempat.

“Tunggu!” seru seseorang dari arah belakang kerumunan.

Segera mereka semua minggir dari tempat itu untuk memberi jalan pada orang yang ada di belakang mereka.

“Kepala desa!” kaget para penduduk tersebut.

“Dia datang karena membaca pesan kita. Dia adalah keturunan kita. Kita tidak perlu mengusirnya. Kebetulan bersamaan dengan hari arona terjauh. Walaupun ibu namja cantik ini adalah Heechul, seorang pembunuh,” jelas sang kepala desa.

Key yang mendengarnya mencoba untuk menahan emosinya agar tidak keluar dengan mengepalkan kedua tangan mungilnya.

^_^v

Akhirnya mereka bereenam di perbolehkan masuk. Meski sedikit ada rasa takut di antara mereka, tapi dengan rasa penasaran atas desa tersebut, mereka memberanikan diri memasuki desa yang sedikit aneh itu.

“Usia desa ini sudah 400 tahun. Selama ini kami menutup diri dari dunia luar dan hidup dengan sumber sendiri. Di hari arona terjauh, kami bertemu dengan para leluhur yang kembali pada musim panas, dan merayakan hal itu. Saat matahari terbit besok, upacaranya dimulai dan berakhir saat matahari terbenam. Sampai saat itu, menetaplah disini,” jelas sang namja tua yang tadi di panggil kepala desa.

Leeteuk, Kyuhyun, dan Changmin terus memperhatikan sekitar desa. Mereka melihat seluruh desa ini dengan kagum. Mulai dari bangunan sederhana sampai bangunan sakral di desa tersebut. Sedangkan Jino, Jinki, dan Key memandang ke depan memerhatikan penjelasan kepala desa desa dengan saksama.

Dor

Dor

Dor

Suara tembakan mengagetkan mereka berenam. Terlihat sang kepala desa telah memegang sebuah pistol dan menembakkannya ke arah gunung.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Leeteuk bingung.

“Rubah, di balik gunung desa ini banyak rubahnya,” jelas sang kepala desa.

“bukankah rubah itu adalah penduduk desa ini?” kata Kyuhyun tersenyum licik ke arah sang kepala desa.

“Bicara apa kau, kami adala manusia,” jawab sang kepala desa kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi.

Key menatap orang tua itu dengan sangat lekat.

^_^v

Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah bangunan megah bergaya eropa abad pertengahan yang ternyata adalah sebuah penginapan di desa tersebut.

“Selamat datang,” sambut seorang yeoja bermbut hitam yang diyakini seorang maid disana.

Tiba-tiba saja maid itu terkejut begitu melihat wajah dingin Key di hadapannya. Ia mendekatkan wajahnya untuk melihat wajah Key dari dekat.

“Sangat mirip dengan Heechul…” gumamnya.

Lalu berteriak histeris di hadapan mereka semua. Berteriak sambil memegang wajahnya seperti orang gila.

“Walaupun waktu itu aku masih kecil, tapi aku benar-benar ingat,” katanya sambil terus menatap mata Key.

Sang kepala desa dan seorang namja berambut pirang di belakangnya memandang ke arah yeoja terebut.

“Kwon Yuri!” panggil sang kepala desa. Namun tidak diindahkan oleh yeoja cantik itu.

“Heechul yang terkutuk, di rumah ini bahkan di desa ini, kutukannya tak kan pernah sirna! Kyaaa,” yeoja itu semakin menjadi.

Key yang mendengarnya berusaha mengendalikan emosi yang sudah mulai keluar. Beruntung Jinki langsung menggenggam tangan namja cantik itu agar emosinya sedikit mereda.

“Kwon Yuri!” bentak sang kepala desa yang berhasil membuat yeoja cantik itu terdiam.

“Maafkan saya,” kata yeoja tersebut melangkah pergi.

Semua yang ada disana memandang heran ke arah Yuri. Apa-apaan yeoja itu? Itulah pertanyaan yang sama di kepala mereka semua. Key hanya menatap kepergian yeoja itu dengan tatapan menyelidik.

^_^v

Disinilah mereka, di ruang makan sederhana. Meja kayu panjang serta kursi yang berjajar di samping meja kayu itu menghiasi ruang makan. Selain itu,di bagian tengah tembok ruang makan ada cerobong asapa yang menghangatkan ruangan tersebut.

Piring, gelas, dan sendok dari perak menghiasi meja makan itu. Banyak sajian yang menggugah selera tersaji di atas meja.

“Bisakah anda menceritakan, bagaimana Heechul dituduh sebagai pembunuh?” tanya Key membuka suara, membuat sang kepala desa menghentikan aktifitas makannya.

“Kejadiannya, terjadi di ruang baca pemilik penginapan ini, namanya Yoochun. Tepat pukul 12 malam, maid kami bicara soal detilnya. Saat itu Heechul berusia 15 tahun. Dia punya kebiasaan mengisi air tengah malam,” jelas sang kepala desa.

Sementara sang kepala desa menjelaskan, para maid termasuk Yuri menghidangkan makanan di atas meja. Jinki memandang Yuri yang meletakkan teh di sampingnya.

“Dan malam itu, tepat pukul 12 tengah malam,” lanjut sang kepala desa.

“Bagaimana anda tahu waktu tepatnya?” tanya Key yang dari tadi mendengarkan penjelasannya dengan saksama.

Jinki dan kepala desa memandang ke arah namja cantik bermata indah tersebut dengan kaget.

“Saat itu, aku bersama beberapa orang lain melihat Heechul membuka kunci dan masuk ke sana. Waktu itu aku sudah memastikan waktunya dengan jam sakuku, tapi entah kenapa orang-orang yang bersamaku menyebutkan waktu yang berbeda. Saat Heechul masuk ruang baca, dia berteriak dan lari keluar,” kepala diam sejenak lalu melanjutkan.

“Karena khawatir aku mengikutinya, tapi Yoochun-ssi sudah tertusuk pisau dan menghembuskan nafas terakhirnya, disana juga banyak uang koin bertebaran di sekitar mayatnya.”

“Uang koin?” heran key.

“Ne, disini membayar dengan emas dilarang. Karena itu, Yoochun mengumpulkannya. Sejak malam itu, Heechul demam tinggi dan dirawat di kamarnya. Kami menunggu demamnya turun. Dan sebagai kepala desa yang baru.”

Key menundukkan kepalanya menatap makan dihadapannya seakan hal itu adalah objek paling menarik.

“Kami mengusir Heechul dari desa ini,” kepala desa terus menjelaskan.

“Diusir?” bingung Jinki menatap ke arah kepala desa.

“Ne, dengan beberapa lembar won dan tas koper.  Aku melihatnya keluar dari desa dan mulai mengangkat jembatan itu. Dia adalah namja cantik biasa yang tidak tahu tentang dunia luar, bahkan aku ragu kalau dia berhasil selamat di luar sana.”

“Tidak adil,” kata Jinki ketus.

“Pendosa harus diadili atau desa ini akan tertimpa kemalangan. Dan sekarang, anak Heechul datang kemari, ckckck, ironis sekali,” kepala desa menatap wajah Key yang mulai mengeluarkan air mata.

^_^v

Setelah makan dan berkemas. Key memutuskan untuk pergi dari penginapan menuju ke suatu tempat.

“Key,” pangil Jinki mengejar langkah Key yang semakin jauh. “Kau mau jalan-jalan? Padahal kita baru saja sampai,” omel Jinki begitu langkahnya sudah sejajar dengan namja cantik itu.

“Annyeong, namaku Baekhyun, aku wakil kepala desa disini,” kata seseorang yang muncul di balik tikungan.

“Ne, Annyeong,” sapa Jinki membungkuk di hadapan namja tampan itu.

“Kalian mau kemana? Biar aku temani,” tawar Baekhyun.

“Ada satu tempat yang ingin kami kunjungi, yaitu kediaman Kim Heechul,” jawab Key dingin.

Baekhyun yang mendengarnya terbelalak kaget. Namun, dia sudah berjanji pada mereka, dan mengantarnya sampai pintu sebuah rumah yang sudah tidak berbentuk, tapi pintunya masih awet.

“Sampai sini saja, aku permisi, Annyeong,” pamit Baekhyun lalu lari tunggang langgang.

“Sudah kuduga, jika aku beritahu sejak awal dia pasti tidak akan memberitahukannya,” gumam Key memandang kepergian namja tersebut.

Jinki dan Key memasuki rumah tersebut. Mereka berdua menyusuri setiap rumah dengan terperinci. Bahkan Jinki sampai memegang dindingnya, siapa tahu menemukan sesuatu yang tersembunyi disana.

Krekk

Tiba-tiba saja kaki Key menginjak sesuatu di lantai rumah tersebut. Segera namja cantik itu menghilangkan debu yang menutupi lantai kayu itu dan mulai menariknya sekuat tenaga.

“Jinki,” panggil Key pada namja tampan yang sibuk sendiri itu.

“Ne?”

“Bantu aku,” pinta Key menatap lantai kayu yang sudah tua itu.

Namja tampan itu berjongkok di samping Key. Memposisikan tangannya ke sela lantai kayu diikuti oleh Key. Lalu mereka berdua berusaha mengangkat balok kayu tersebut sekuat tenaga.

Dan

Brakk

Akhirnya balok lantai kau itu terbuka. Tampaklah sebuah kertas berwarna putih yang sedikit kusam karena sudah lama tersimpan disana.

“Tidak apa-apanya,” gerutu Jinki begitu lantai itu terbuka.

Key mengambil kertas putih itu dan membersihkan debunya. Dibaliknya kertas yang ternyata adalah sebuah foto. Foto Heechul dan Key kecil yang berada dalam pelukannya.

“Itu Heechul-ssi,” Jinki menatap foto tersebut.

“Dan fotoku waktu bayi,” sahut Key melanjutkan kata-kata Jinki.

“Bagaimana bisa?” heran Jinki menatap foto yang ada di tangan Key intens.

“Itu artinya ada orang yang datang 16 tahun lalu dan menukarnya dengan foto Heechul  yang sudah dewasa,” jelas Key memeluk foto itu erat-erat.

Jinki menepuk punggung Key untuk menenangkannya. Dia tidak tega melihat namja cantik ini terus mengeluarkan air matanya.

“Lalu, mau kemana kita sekarang?” tanya Jinki tersenyum menatap Key.

Disinilah mereka, di tempat yang membuat setiap orang memikirkan hal yang tidak-tidak. Kabut menyelimuti mereka dan suana mencekam di sekitar mereka. Di depan gundukan tanah yang di ujung gundukan itu ada batu nisan bertuliskan nama Park Yoochun. Jinki dan Key menatap gundukan tanah itu denan wajah ditekuk.

Tiba-tiba Key maju dan mulai mengais tanah dekat dengan nisan makam tersebut dengan brutalnya.

“Key, tidak baik merusak makam orang,” cegah Jinki namun tidak dihiraukan olehnya.

Gerakan tangan namja cantik itu berhenti begitu mendapati sebuah tulisan yang diukir pada batu nisan tersebut.

“Aku tidak bersalah, H,” Key membaca tulisan tersebut.

“H? Kim Heechul, berarti dia,,,,” kata-kata Jinki terpotong oleh ucapan Key.

“Dia datang kemari dan menulisakan kalimat ini….hiks….umma…..hiks,” tangis Key jatuh terduduk di atas makam.

Kikikikik

Jinki mendengar suara tawa dari balik gunung. Namja tampan itu melihat kesana-sini. Lalu ia menemukan sepasang cahaya berwarna biru yang meyala di tengah kabut.

“Key,” Jinki memegang lengan namja cantik itu, matanya terus waspada pada seitarnya.

“Jinki?” heran Key menatap Jinki bingung.

Segera saja namja tampan berpipi chubby itu menarik Key menjauhi tempat tersebut. Karena mereka telah dikejar segerombol rubah di belakangnya.

“Sudah ku duga, itu bukan suara tawa, tapi suara rubah, mata itu seperti mata Key, berwarna biru muda,” gumam Jinki sambil terus berlari menari Key.

Brakk

Mereka membanting pintu kayu penginapan dengan cukup keras. Nafas mereka terengah-engah karena terlalu lelah berlari. Jinki mengintip keluar lewat jendela kaca yang berada di sebelah pintu.

“Rubah?” tanya Key masih terengah-engah dan dijawab dengan anggukkan oleh namja tampan itu.

Keduanya memutuskan untuk naik ke lantai atas menuju sebuah ruang besar. Disana ada Leeteuk, Kyuhyun, dan Changmin yang bermain kartu.

“Bagaimana teleponnya?” tanya Leeteuk begitu mendengar suara pintu terbuka.

“Ah, ku kira Jino, ternyata kalian,” katanya kecewa mendapati Jinki dan Key berdiri di ambang pintu.

“Waeyo?” tanya Jino yang baru saja datang dari acara meneleponnya.

“Aniya,” sahut Changmin lalu melanjutkan acara main kartunya.

Jino melangkahkan kakinya memasuki ruangan besar tersebut menuju meja untuk mengambil minuman. Jinki dan Key menghampiri namja cantk yang kini mengenakan mantel berwarna biru muda.

“Telepon? Berarti disini ada listrik?” tanya Jinki bingung melihat keadaan sekitar.

“Ne, sepertinya desa ini punya sponsor, kalau tidak salah namanya adalah Choi Siwon, sepuluh tahun lalu orang itu datang kemari untuk memasang listrik disini,” jelas Jino menatap Jinki.

“Oh,” respon Key melangkahkan kaki menuju kamar.

“Chakaman, Key!” Jinki mengikuti namja cantik itu menuju kamarnya.

^_^v

Disinilah mereka berdua. Di sebuah kamar yang cukup luas. Disana terdapat ranjang berukuran king size yang diberi bed cover warna putih bersih. Di sampingnya terdapat dua buah meja nakas yang masing-masing di atasnya terdapat lampu tidur. Tak jauh dari sana, ada sebuah meja rias lengkap dengan kursinya. Di depan ranjang tersebut ada sebuah meja dan kursi kecil dari kayu.

Key duduk di atas kursi sambil terus memutar-mutar liontinnya. Sedangkan Jinki mengambil beberapa pakaian dari koper yang mereka bawa dan merapikan pakaian Key yang berantakan akibat ulahnya.

“Choi Siwon, jika dia datang kemari sepuluh tahun lalu tepat saat perang dengan Korea utara terjadi, mungkin dia punya maksud lain,” Key berkata pada dirinya sendiri.

“Mungkin dia datang kemari untuk mengambil sesuatu,” sahut Jinki acuh.

“Benar juga, dia mungkin mengambil sesuatu di rumah umma lalu menukarnya dengan foto Heechul yang sudah dewasa, tapi benda apa itu?” gumam Key berpikir apa yang dilakukan Siwon disini.

Tok tok tok

Suara ketukan pintu terdengar di luar kamar. Sejenak Jinki menghentikan aktifitasnya membereskan barang. Lalu beranjak menuju pintu untuk membukakan pintu tersebut.

Terlihat pelayan bernama Yuri membawa seember berisi air yang masih mengeluarkan asap yang Jinki yakini itu adalah air hangat.

“Saya membawakan air panas untuk mandi, tapi sebaiknya ditambahkan sedikit air,” jelas Yuri menyerahkan ember tersebut kepada Jinki.

“Jadi aku bisa mandi?” tanya Key ceria.

Segera saja Jinki menyiapkan air mandi untuk namja cantik itu ke dalam bath up yang terdapat di kamar mandi. Setelah semua siap, Key langsung masuk ke kamar mandi dan mendorong Jinki keluar.

“Yak, Key aku juga mau mandi,” kesal Jinki setelah ia berada di luar.

“Tidak boleh, kau berjaga di luar saja,” sahut Key dari dalam.

“Curang,” keluh namja tampan itu kemudian mengambil sapu yang ada di sudut ruangan untuk dijadikan senjata.

Jinki berdiri di depan pintu kamar mandi Key ala seorang pengawal yang siap menjaga tuan putri dari bahaya apapun.

Gubrakk

Terdengar suara benda jatuh dari dalam kamar mandi. Dengan sigap, Jinki membalikkan badannya bersiap untuk menyerang.

“Key!” teriaknya.

“Huahh, aku suka mandi, hangat dan segar, hmm, hmmm,” Key mulai bernyanyi di dalam kamar mandi. Membuat namja tampan yang tadi panik menjadi tenang.

“Ternyata dia sedang bernyanyi, kalau begini, aku bisa tenang,” Jinki berkata pada diri sendiri.

Namja tampan itu berjalan menuju meja yang telah tersedia sebuah air. Namun, di dalam gelas tersebut terdapat sebuah benda berbentuk bola berwarna putih. Belum sempat Jinki melihat benda apa itu, tiba-tiba

Ctik

Lampu yang tadi menyala, kini padam. Ruangan yang tadi sunyi dan damai kini berubah menjadi mencekam.

“Key,” panik Jinki memanggil namja cantik yang tadi bernyanyi mulai diam.

“…” tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi membuat namja tampan bermata bulan sabit itu melebar.

“KEY!” teriak Jinki melempar gelas yang tadi di pegangnya begitu saja.

Ctik

Lampu kembali menyala bersamaan dengan terbukanya pintu kamar mandi yang menunjukkan seorang namja cantik yang memakai piyama warna pinknya. Rambut namja tersebut dikucir menyerupai ekor kuda di belakang.

“Wae geurae? Berisik sekali,” gerutu Key menatap namja tampan yang ada dihadapannya.

“Aniya, aku tadi hanya panik saja,” elak Jinki menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Sejenak mata kucing Key menatp ke arah gelas yang tadi dilempar oleh namja tampan tersebut. Tak jauh dari gelas itu ada sebuah benda berwarna putih yang ternyata bentuknya seperti bola mata berwarna hijau.

“Ini, ada yang mengancam kita dan menyuruh untuk segera meninggalkan desa ini,” kata Key menata bola mata itu lekat-lekat.

“Maka dari itu, kita harus pergi dari tempat ini,” usul Jinki membuat namja berparas cantik itu menatap ke arahnya.

“Bukankah kau akan melindungiku?” tanya Key polos.

“Tentu saja,” jawab Jinki mantap.

“Kalau begitu aku tidak usah khawatir,” seru Key sambil tersenyum manis ke arah Jinki yang mematung melihatnya.

“Aku mandi dulu,” ujar Jinki memasuki kamar mandi dengan cepat karena wajahnya telah memanas jika menatap naja cantik itu lama-lama.

Sementara itu Key menatap Jinki dengan senyum malu. Lalu beranjak menuju ranjang king sizenya dan mulai terlelap disana.

^_^v

Di pagi yang cerah di desa gumiho. Terdengar hiruk pikuk penduduk desa yang mempersiapkan upacara arona terjauh. Banyak penduduk desa yang sudah mulai berjajar di dekat jalan untuk menyaksikan upaca tersebut.

Jinki dan Key juga melihat-lihat sekitar. Mereka melihat tiga buah gerobak yang dihiasi oleh labu berwarna merah menyala seperti lentera. Di masing-masing gerobak tersebut terdapat tiga buah arca kertas yang menyeramkan.

“Ini artinya apa ya?” Jinki mulai menyentuh-nyentuh gerobak itu dengan rasa penasaran.

“Itu adalah ordo musim dingin,” jelas Baekhyun yang tiba-tiba muncul dari belakang mereka.

“Ordo musim dingin?” tanya Key bingung jujur saja upacara seperti ini tidak pernah ia baca pada buku di perpustakaan.

“Ne, atau lebih tepatnya setan musim dingin, kami akan membakar gerobak kayu ini sebagai tanda untuk menyingkirkan arwah roh jahat yang tersisa saat musim dingin, semacam tolak bala,” jelas Baekhyun dibalas Jinki dengan menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu, kami melihat-lihat yang lain ya?” pamit Jinki mulai menarik Key yang sejak tadi melihat gerobak itu dengan takjub.

Suara musik terdengar di festifal. Suara drum yang di pukul oleh beberapa orang yang berjalan di festifal, diiringi oleh suara terompet dari orang-orang yang berbaris rapi. Jinki dan Key melihatnya di bagian paling depan.

“Kalau kalian berniat untuk menghina desa ini labih baik kalian pergi!” teriak Yuri menatap tajam ke arah tiga orang namja yang mulai berjalan mundur.

“Kalau kalian percaya takhayul, berarti desa ini sangat terbelakang,” ejek Leeteuk menatap ke arah dua teman yang ada di belakangnya.

“Hey, sudahlah kalau kita benar diusir bagaimana?” Kyuhyun mulai menasehati.

“Mianhe, orang ini memang sering membuat ulah,” Changmin mulai meminta maaf pada penduduk desa.

“Kami akan beristirahat di kamar saja,” Kyuhyun menarik lengan Leeteuk menjauh dari keramaian diikuti oleh Changmin.

Tiba-tiba Jino datang dari arah belakang JinKey. Namja cantik itu berjalan sambil melipat tangan di depan dadanya.

“Mereka benar-benar pembuat onar, kemarin di gereja, mereka mencelupkan vas ke dalam guci berisi air suci,” jelas Jino memegang kepalanya yang sedikit sakit.

Key seperti mendapat sesuatu seperti kepingan yang perlahan mulai tersususun di otaknya.

Jinki pergi meninggalkan namja cantik itu di depan gereja. Key menatap festifal dengan pandangan kosong. Tak lama kemudian Jinki kembali membawa sekantung penuh berisi kue kering rasa coklat.

“Ini, aku bawakan cemilan untukmu,” Jinki menyodori Key kantung tersebut.

Namja cantik itu menerima kantung yang disodorkan Jinki padanya. Lalu memakan kue yang ada di dalamnya dengan pandangan masih terarah di festifal.

Dalam festifal tersebut. Kini berganti pada yeoja dan namja cantik yang memegang sebuah keranjang kecil. Mereka berhenti sejenak di tengah-tengah jalan. Kemudian melempar sebuah biji yang diambilnya dari dalam keranjang tersebut.

Orang-orang berlindung dari biji-biji yang dilempar itu. Termasuk Jinki yang mulai mendekap Key agar tidak terkena lemparan biji.

“Itu,” Key menunjuk seorang namja berambut pirang dan mengenakan topi juga menutupo kepalanya dari lemparan biji.

“Leeteuk-ssi, ternyata dia juga ingin menikmati festifal juga,” sahut Jinki melihat arah pandang Key.

Tak lama kemudian, gadis-gadis itu berganti dengan beberapa namja tampan yang memakai pakaian para tentara tradisional Korea zaman kerajaan. Mereka dibagi menjadi dua. Kelompok berbaju biru dengan kelompok berbaju ungu. Yang berbaju biru memgang tongkat dan mengayunkannya seolah-olah melawan sang tentara berbaju ungu.

Lalu kelompok berbaju ungu itu pura-pura kalah. Kemudian Baekhyun sang pemimpin kelompok berbaju biru maju memegang sebuah obor.

“Wahai setan musim dingin, menghilanglah dari kobaran apa!” ucap Baekhyun mulai menyalakan api dan membakar ketiga gerobak itu.

Orang-orang bersorak riang begitu gerobak-gerobak itu terbakar. Namun, sesuatu bergerak-gerak di atas salah satu gerobak tersebut. Segera saja Baekhyun mendorong gerobak tersebut sampai jatuh.

Arca kertas yang terbakar itu bergerak-gerak. Terdengar suara teriakan orang kesakitan dibaliknya.

“Air, cepat ambil air!” perintah Baekhyun pada penduduk yang menyaksikan.

Tak lama kemudian teriakan tersebut terhenti seiring beberapa orang yang datang membawa seember air lalu menyiramnya.

Krak

Topeng yang menutupi sosok tersebut mulai pecah. Tampaklah seorang namja tampan berambut pirang. Kaca mata yang ia kenakan, lensanya telah pecah. Wajah namja tampan tersebut telah memerah akibat luka bakar yang menimpanya.

“Leeteuk-ssi,” kaget Jinki begitu mengetahui siapa mayat tersebut.

“Bagaimana ia bisa…padahal tadi…” gumam Baekhyun memperhatikan mayat Leeteuk.

Key hanya menatapnya tanpa ekspresi. Dia tetap mengunyak cemilannya tanpa ada rasa takut sedikitpun. Padahal, dihadapannya kini telah ada seorang mayat.

Jinki menatap namja cantik itu dengan heran. Key, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau tidak takut sama sekali, padahal dihadapannya kini telah ada orang mati.

TBC

Otte? Ni, yang masih penasaran aku kasih lanjutannya, tapi tinggalin jejak disini ne?

CONTINUE READING

 

 

 

9 thoughts on “[Jinkey] Key 4

  1. waduh, kok saya bingung ya???
    itu leeteuk kenapa tiba2 mati?
    terus jino itu sebenarnya siapa ya???
    terus key???
    haduuuhhh, penasaran………………..

  2. wah tadi saya baca ep 5 dulu baru ep 4,,
    dodol banget saya ini…””
    tapi untung masih ngerti jalan ceritanya..^^
    pokoknya harus dilanjut untuk nie ff ..jjang author

  3. Ceritanya bkin gue bingung.Aduh.. otak gue gabisa ngertiin maksudnya nih.. xD
    Eteuk mati? Itu mengerikan sangat.. u.u

  4. Jadi bngung aQ…..
    Knapa Leeteuk ad dGrobak tu……?!?!? Jadi ikut kbakar, mati….😦
    Key misterius dech…..

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s