[2min] Chasing You! – part 3


Cast:

Lee Taemin; Choi Minho; Lee Jinki (Onew); Kim Keybum; Kim Jonghyun

Genre:

Romance, fluff, schoollife, friendship

Rate :

General (G) – PG 13

Lenght :

Part 3 – of ?

WARNED!!!

None of the materials provided in this fanfic may be used, reproduced or transmitted, in whole or in part, in any form or by any means. No parts of this fanfic are to be copied without permission in writing from the author.

<< PREV PART

CHASING YOU – PART 3

Minho menggerakan tubuhnya di bangkunya , membungkukkan badannya untuk merenggangkan persendian yang ia rasakan pegal dan lelah, untuk jadi seorang yang sport freak tidak mudah baginya untuk menyeimbangkan antara olahraga dengan sekolah, jujur saja, nilainya tidak begitu bagus, dari sebelum ia pindah kesekolah itupun prestasi sekolahnya tidak baik, terlebih dengan catatan hitam di buku tata tertibnya.

Merasa lelah setelah jam makan siang, ia menelungkupkan kepalanya di atas meja, suara monoton guru didepan kelas tidak lagi terdengar olehnya ketika ia mulai masuk ke alam tidurnya sendiri. Sampai jam pelajaran berakhir berdering berbunyi, ia sontak mendongak dan menatap nanar ke depan kelas, mengerang sejenak sambil mengelus tengkuknya , baru sadar bahwa ia sudah tidur selama jam pelajaran berlangsung. Minho menoleh ke sisi kanan mejanya, melihat Chanyeol sudah mengepack semua buku dan alat tulisnya, kemudian sibuk dengan mp3nya lengkap dengan senyum goffynya.

“Ck, kau tidur selama jam pelajaran Minho ah, kau beruntung songsaenim tidak perduli padamu …”, ucap Chanyeol yang menyadari bahwa Minho akhirnya bangun dari tidurnya.

“Hm .. aku hanya butuh waktu tidur yang lebih panjang …”, ucap nya masih mengantuk,

“… kau sebaiknya rubah sikapmu, sebelum kau melihat huruf D merah di buku laporan nilai semester nanti …”,

Minho berdecak, seperti ia perduli saja, itu sudah biasa menurutnya, “Aku akan berusaha untuk mencari cara berflirting pada songsaenim untuk nilaiku …”, Minho sontak membelalakan mata ketika dari dalam kelas ia liat sosok Taemin lewat dengan tumpukan buku ditangannya.

“Mau pulang bersama? kita bisa mampir –” sebelum Chanyeol selesai bicara ia sudah berdiri dan berteriak sambil keluar kelas.

“Sorry Yeol, aku tiba-tiba ingat ada janji …”, pekiknya, Chanyeol hanya berdecak dan mengangkat bahunya, membiarkan Minho melesat begitu saja.

.

.

Minho tidak tahu bahwa melihat sosok Taemin sekilas saja membuatnya sangat senang dan ingin menghampirinya segera, untuk itulah ia keluar kelas dengan cepat dan menyusuri koridor mencari sosok Taemin. Setelah kemarin bertemu dan membawa Taemin (secara paksa) naik motor bersamanya, ia yakin bahwa Taemin bisa ia dekati, hanya saja sifat Taemin yang terkadang tidak bisa ditebak itu yang membuat Minho kesulitan. Jadi, ia asumsikan, ia harus lebih berhati-hati pada sikapnya didepan Taemin, ia tidak begitu yakin Taemin merasa nyaman atau tidak jika ia terus berusaha mendekatinya.

Matanya berbinar dan tubuhnya merasa sangat semangat ketika akhirnya ia melihat Taemin tidak jauh darinya, sibuk tersenyum dan membalas sapaan beberapa siswa yang lewat, meski ditangannya banyak buku yang ia pegang. Dengan semangat Minho mempercepat langkahnya hendak menghampiri namja cantik itu.

“Tae–“

“TAEMIN AH!”,

Minho terhenti dan melihat dari arah lain Jonghyun datang dan dengan cepat merangkul pundak Taemin, meski namja itu terlihat menolak akan sikap Jonghyun, namun Minho bisa lihat bahwa Taemin menikmati temannya yang clingy itu. Ada rasa kecewa dihatinya ketika melihat itu, berkali-kali ia berusaha tepis rasa iri ketika melihat kedekatan Jonghyun dan Taemin.

“Biar kubantu!”, ucap Jonghyun semangat, ia tidak lihat bahwa Jonghyun sudah keluar kelas lebih dulu darinya dan dengan bersamaan mereka menemui Taemin. “Kasian lengan kurusmu harus bawa beban seberat ini?” ledek namja itu, Minho mengigit bibirnya dan hendak berbalik ketika tidak sengaja ia menabrak sosok didepannya dan membuat sosok itu terpental mundur karena tubuh kekar Minho.

“Ouch!”, pekiknya, Minho hendak meminta maaf namun terurung ketika ia tahu siapa sosok itu. “Yah!”

Dari sekian banyak siswa kenapa ia harus bertemu namja bawel dan menyebalkan ini? “Hai, Kim Key …”, ucap Minho mencoba seramah mungkin. Key menatap Minho dengan sinis sambil memegang keningnya.

“Kau … kau bisa tidak kalau jalan jangan seenaknya?”

“Oh, kenapa aku yang disalahkan? kau saja kenapa jalan tepat di belakangku?”, tanya Minho heran , benar-benar namja aneh dan tidak bisa dipercaya, “Oh, jangan-jangan kau mengikutiku?”,

Key menganga, dan Minho hampir tertawa melihat ekspresi berikutnya yang terlihat seperti dramaqueen. “Oh puh-lease Minho, jangan terlalu percaya diri, kau tahu kenapa aku disini? aku mencoba menghentikan mu untuk mengikuti my baby Taemin!”, ucapnya menaruh kedua tangan di pinggangnya.

Minho menatap datar ke arah Key dan tidak habis pikir akan cara berpikir diva yang satu itu. “Tunggu, jadi maksudmu, kau mengikutiku karena kau pikir aku akan mendekati Taemin? yang benar saja, kau bersikap berlebihan Key …”, ucap Minho berbohong.

Key mendengus, ia maju selangkah dan menuding bahu Minho dengan satu jari. “Dengar ya, aku tidak percaya padamu Minho, meski Taemin bersikap baik padamu, tapi aku tidak akan biarkan kau mempengaruhinya dengan hal tidak baik. Jadi, sebaiknya kau jauhi Taemin …”, ucapnya begitu saja sebelum menabrak bahu Minho dan pergi begitu saja.

Minho menatap lurus kedepan dan menoleh ke arah Key dengan sinis, kalau ia tidak ingat Key adalah teman baik Taemin dan Jonghyun, dan kalau ia tidak ingat bahwa ia janji ia tidak akan cari masalah lagi dengan teman-teman disekitarnya, maka emosinya akan ia luapkan saat itu juga. Key tidak punya hak untuk melarangnya mendekati Taemin, dan ia tidak berhak menjudge dirinya lebih dari yang ia tahu tentang dirinya sendiri. Tidak semua orang berhak menjudge Minho seenaknya.

.

.

“Kudengar  … kau kemarin pulang bersama Minho …”,

Taemin menoleh terkejut, ia berhenti menaruh semua buku di rak perpustakaan dan menatap Jonghyun kaget. Namja disampingnya itu hanya terkekeh dan mengerlingkan mata padanya, Taemin cemberut dan tidak menghiraukan ledekan Jonghyun.

“Ck, kau tahu dari mana? aku tidak pernah tahu kalau kau berubah jadi tukang gosip?”, ucap Taemin kesal, “Oh, aku lupa kalau kau Jongtizen …”, ledek nya, ia bisa rasakan Jonghyun meliriknya sinis, ia tahu sahabatnya itu tidak suka di panggil Jongtizen atau Jonghyun netizen si tukang gosip karena kebiasaannya selalu Online di social media.

“Cukup jawab saja pertanyaanku … benar kau pulang dengannya? “, tanya Jonghyun lagi.

Taemin menarik nafas , “Iya, aku tidak sengaja bertemu dengannya di depan sekolah. Kau mau dengar apa lagi?”, tanya Taemin melihat Jonghyun, ia mengira akan menerima cengiran menyebalkan dari temannya itu atau kata-kata celaan dari mulut Jonghyun, namun tidak. Jonghyun memilih diam dan terlihat bengong.

“Hey!” Taemin menyenggol bahu Jonghyun pelan.

“Hah?”, Taemin mengerutkan alisnya melihat ekspresi Jonghyun yang bengong. “Ah, maaf … aku hanya berpikir sesuatu …”, tambah namja itu, Taemin menatapnya bingung.

“Ada apa? kau berpikir tentang apa?”, Taemin berusaha mencari arti ekspresi Jonghyun. “Kau ada masalah? kau tahu kan kau bisa cerita padaku jika kau ada masalah?”, ucap Taemin menyentuh bahu Jonghyun pelan.

Namun kemudian ia menerima pitingan dileher dari Jonghyun , membuat ia sedikit tercekat dan dengan refleks ia memukul lengan Jonghyun yang mulai mengacak rambutnya. “J-jong … aah , hentikan sakit …aa-aah …”, Jonghyun melepaskan Taemin sambil tertawa.

“Pfh, jangan menatap ku dengan seperti tadi makanya, aku tidak apa! dan kau tidak perlu berisik bertanya ada apa sebenarnya padaku!”

“Aku disini hanya mencoba membantu jika temanku sedang ada masalah, bukannya menerima perlakuan barusan!”, ucap Taemin mempoutedkan bibirnya.

“Mianhe … begitu saja marah.”, ledek Jonghyun mencubit pipi Taemin gemas. Taemin menoleh dan menatap Jonghyun lekat, namja itu menoleh padanya dan mengerutkan alisnya. “Apa?”

“Kau yakin tidak mau mengatakan sesuatu? aku tahu kau Jjong, kau pasti menyembunyikan sesuatu dari ku, katakan saja, aku akan mendengarkannya …”

Jonghyun tersenyum dan mengacak rambut Taemin gemas. “Tidak apa! aku bilang tidak ada apa-apa ya tidak ada apa-apa …”, ucapnya,

“Kau yakin?”

“Positif!”

“Baiklah … kalau memang begitu kau harus janji jika ada sesuatu kau katakan padaku , begitu pertemanan kita kan?”

“Yup!”, Taemin tidak bisa menahan senyumnya, bagaimanapun juga ia tahu Jonghyun , mereka berteman cukup lama, ia tahu jika sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu, hanya saja, ia tidak mau memaksanya lagi untuk mengatakan padanya, jika Jonghyun cukup percaya untuk mengatakan padanya maka ia tahu Jonghyun akan bilang padanya.

“Oh, Taemin.”

“Hm?”,

“Besok aku, Key dan Onew akan berkumpul di cafe biasa, kau mau ikut? habis itu kita mungkin bisa kebioskop atau apalah …”,

Taemin tersenyum, akhirnya, sudah lama mereka tidak hangout bersama karena kesibukan Onew dan Key yang selalu belajar untuk ujian akhir, “Baiklah … jam berapa?”

“Hmm , molla … aku ikut jadwal Onew dan Key. Nanti aku hubungi kau dan kalau perlu ku jemput dirumah.”

“Call!”, sampai kapanpun ia ingin sekali menjaga persahabatan itu dengan Jonghyun.

.

.

Minho mungkin bisa dibilang tidak percaya dengan kata cinta, dia tidak mau dalam situasi yang dikatakan dalam perasaan cinta. Well, beberapa kali ia menjalin hubungan dengan yeoja, namun tidak satupun dari mereka yang ia anggap serius, bahkan kebanyakan dari mereka datang bukan karena Minho mengejarnya. Minho berasumsi ia juga tidak pernah menyukai orang lain sebelumnya. Lalu mengapa dengan kali ini ia merasa berbeda? Kenapa ia merasa ingin dekat dengan Taemin? mengenal lebih jauh sosok itu, sosok yang hanya ia liat dengan sekilas saat pertama kali ia masuk sekolah baru itu? apa yang special dari Taemin di mata Minho? kenapa sosok itu membuat Minho begitu ingin sekali dekat dengannya? itu yang ia tidak mengerti …

“Aargh!”, ia mengacak rambutnya, ia tidak tahu bahwa tertarik pada seseorang begitu membuatnya frustasi. Atau malah ia yang terlalu berlebihan menanggapi semua itu?

“Minho!!”,

Ia menoleh ketika pintu kamarnya terbuka begitu saja dan memperlihatkan sosok yeoja cantik berdiri disana dengan nafas tersengal. “Noona … waeyo?”,

Ia terkesiap ketika yeoja yang ia panggil noona itu menangis didepannya dan menunjuk panik ke arah luar kamar Minho. Sontak Minho berdiri dan meraih noonanya itu kepelukannya. “Sssh … ada apa Noona?”, tanyanya.

“M-minho … p-palli …”, Minho mengerutkan alis dan menatap bingung ke arah Noonanya.

“Ada apa?”

“U-umma … Umma muntah darah, dan sekarang ia pingsan didepan kamar …”. ucap yeoja itu menangis, Minho tidak pikir panjang, ia segera berlari ke arah kamar Ummanya, dan benar, ia melihat Ummanya telungkup pingsan disana, dengan darah yang masih tersisa di bibirnya.

“Noona, cepat panggil ambulan! Cepat!!”, pekiknya, tangannya gemetar menopang tubuh Ummanya , ia tidak tahu ada apa sebenarnya, dan kenapa tiba-tiba Ummanya bisa jatuh pingsan dengan keadaan seperti itu.

“M-minho …”, Minho menatap tubuh Ummanya yang berada dipelukannya, sekuat tenaga ia tidak menangis dan mengelus pipi Ummanya sayang.

“Tenang Umma, Umma akan baik-baik saja, Minjung Noona sudah panggil ambulan, Umma jangan banyak bicara …”, ucapnya pelan, Minjung –noona-nya duduk bersimpuh menangis menggengam tangan Ummanya memohon untuk kekuatan dari Umma mereka. Minho sebagai namja diantara dua yeoja yang ia sayangi itu berusaha kuat dan terus berdoa semoga tidak terjadi apapun sebelum ambulan datang.

“M-minho …c-cari Appa mu …”, lirih Ummanya. Minho mengencangkan rahangnya, giginya gemeletuk ketika ia dengar permintaan Ummanya itu, ia marah sekali jika ia mendengar Ummanya selalu berkata tentang Appanya, bahkan untuk mengingat bahwa ia punya Appa pun ia enggan. Ia mendongak dan bertemu pandang dengan Minjung, noonanya itu mengangguk dengan tatapan sedih.

“Baiklah … nanti aku akan mencarinya, Umma jangan khawatir …”, ucapnya pelan. Demi perempuan yang telah melahirkannya ini ia rela lakukan apapun, meski ia harus bersitegang dengan  Appanya sendiri.

.

.

Minho datang kesekolah dengan wajah letih, sudah 3 hari ia tidak kesekolah karena harus menjaga Ummanya di rumah sakit. Ia pergi pun karena Minjung memaksanya untuk pergi kesekolah, dan melihat kondisi Ummanya yang semakin membaik pula yang membuatnya mau pergi meninggalkan Ummanya sejenak.

“Minho!!”,

Minho terkejut ketika dari arah belakang punggungnya ditepuk oleh Jonghyun yang menyengir lebar, Minho tersenyum dan berhigh five dan memberikan brother hug untuknya.

“Omo Minho, gwencana? Kau terlihat pucat. Kapan terakhir kali kau tidur dan makan?”, tanya namja kekar itu, Minho tidak bisa menahan decakannya, mengenal Jonghyun membuatnya tahu kenapa Taemin selalu bersikap baik dan ramah juga mudah tersenyum, ia mempunyai teman yang menyenangkan, dan Taemin beruntung berteman dengan Jonghyun. Bicara tentang Taemin, ia tiba-tiba ingin bertemu dan melihat senyum namja itu.

“Minho?” ia mendapati Jonghyun menyentuh bahunya dan menatapnya khawatir.

“Oh, sorry Jjong. Gwencana … aku hanya beberapa hari ini kurang sehat.”, ucap nya, Jonghyun terkesiap. Minho berdecak, mungkin sikap Jonghyun satu ini mengingatkannya juga pada Key , apa pertemanan mereka saling mempengaruhi sifat masing-masing? Molla …

“Minho, kau yakin? Kalau kau kurang sehat kenapa kau masuk sekolah? Kau sebaiknya istirahat di ruang kesehatan, aku bisa mengantarmu …”,

“Tenang dude, kau tidak tahu aku ini kuat … aku hanya kurang tidur saja …”

Jonghyun mengangkat bahunya, “Baiklah kalau memang begitu menurutmu …”, ucapnya. “Aku sempat bingung kau tidak masuk selama 3 hari, semua guru bertanya keberadaanmu, tapi karena tidak ada yang tahu jadi apa boleh buat? Aku juga tidak punya nomer ponsel mu, jadi aku tidak bisa mengetahui keberadaanmu …”

Minho tersenyum, “Mian Jjong, membuatmu khawatir …”, kekehnya, “Aku hanya kurang sehat, tapi sekarang tidak apa …”

Jonghyun menepuk pundak Minho pelan, “Kalau kau butuh bantuan , aku bersedia membantumu … kau tidak usah sungkan.”

Minho menoleh dan menatap Jonghyun lekat, membuat Jonghyun menghentikan langkahnya dan menatap Minho dengan puppy eyesnya. “Jjong, tell me honestly …” ucap Minho perlahan.

“W-what? Jangan tatap aku dengan mata besarmu itu, froggy freak!”, ucap Jonghyun mengedipkan mata beberapa kali.

“Jjong …”, Minho maju selangkah, membuat Jonghyun mundur sedikit , “…kenapa kau perhatian dan baik padaku? Jangan-jangan … “, Jonghyun masih menatapnya bingung, Minho menyengir. “Kau suka padaku yah? Lupakan Jjong, kau bukan tipeku!”, ucap Minho tertawa dan meninggalkan Jonghyun yang berdiri menganga lebar.

“YAH! FREAK KERORO! SIAPA YANG—HAISH!”, Minho bisa mendengar Jonghyun memaki dibelakangnya, dan mengejarnya kemudian memukul lengannya kencang. Minho rasanya mengerti kenapa Taemin berteman dengan Jonghyun, dan rasanya ia mulai mengerti kenapa ia mulai senang pergi kesekolah terlepas dengan beban yang ia rasakan tentang Ummanya, karena disekolah ia bisa bertemu dengan teman-teman nya yang menyenangkan, seperti Jonghyun, dan mungkin seperti Taemin.

.

.

Bipbip

From: Jjong dino

Minho! Ini aku Jonghyun! Kau sibuk? Ayo kita bersenang-senang …

Minho membaca pesan itu dengan lekat, ia menatap Ummanya yang sedang tertidur di ranjang rumah sakit dengan tenang. Keadaannya semakin membaik, ia menggengam tangan Ummanya itu dan memberikan elusan disana. Ia mengingat kemarin ia berhasil menemui Appanya. Jika mengingat hal itu , ia ingin sekali marah, namun rasanya tidak mungkin, semuanya percuma, karena semarah apapun ia, ia tidak bisa merubah keadaan.

“Minhoo …”,

Minho menoleh dan mendapati Minjung masuk kedalam ruangan membawa buah di tangan nya dan beberapa kotak bekal.

“Noona… kau sudah datang, bukankah sudah ku bilang kau kembali saja kerumah, malam ini biar aku yang jaga Umma.” Ucap Minho menatap Noonanya yang membereskan semua bawaannya ke atas meja disisi ranjang.

“Gwecana, aku kangen Umma, jadi kuputuskan sepulang kerja aku akan jaga Umma, kau sebaiknya pulang dan istirahat … kau pasti capek harus sekolah dan jaga Umma sejak kemarin.”, ucap Noonanya sambil mengelus kepalanya, ia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil, namun semenjak kejadian itu ia janji ia menerima semua perlakuan apapun dari Noonanya. Sosok dua yeoja dihadapannya inilah malaikat sebenarnya.

Bipbip

From: Jjong dino

MINHO AH! Kau benar-benar keterlaluan, sdh punya nomerku kenapa pesanku tidak kau balas?! Kau sibuk? Yasudah lah … tapi setidaknya balas pesanku!

Minho berdecak membaca pesan Jonghyun yang terkesan memaksa namun tetap bersikap pengertian.

“Siapa? Temanmu? Kau sampai tersenyum begitu.”, ledek Minjung, Minho berdecak.

“Salah satu teman aneh ku …”, ucapnya mengangkat bahu. Ia berpikir sejenak membaca baik-baik pesan itu sebelum ponselnya berbunyi lagi.

Bipbip

From: Jjong dino

Kau butuh refreshing, aku tunggu di cafe Lemonade sekarang …oh, aku bersama Taemin dan yang lain😉

Minho tidak tahu apa maksudnya Jonghyun memberitahukan bahwa ia mengundangnya dan sekaligus mengatakan bahwa disana ada Taemin. Jonghyun tidak tahu bahwa ia sedang berusaha mendekati Taemin kan? lalu kenapa pesannya terkesan bahwa ia tahu sesuatu?. Namun ia tidak bohong, ketika ia membaca pesan itu lagi dan hanya membaca ada kata ‘Taemin’ disana membuatnya ingin sekali pergi, sebegitu berpengaruhnya kah Taemin baginya sekarang? Ia tida tahu dan ia tidak mau pikir panjang.

“Noona …”,

Minjung menoleh dan tersenyum. “Aku tahu … kau mau pergi? Pergilah … aku akan jaga Umma disini, kau butuh refreshing, mungkin bertemu dengan teman-temanmu membuat mu senang ..”, Minho tidak tahu harus berterima kasih apa lagi pada Tuhan mempunyai noona yang sangat perhatian.

“Kau berbicara seakan aku sudah hampir gila karena masalah ini …”, decak Minho.

Minjung tersenyum, dan merangkul lengan Minho. “Kau lupa siapa aku?”, ucap Minjung tersenyum. “Minho, aku tahu masalah ini tidak mudah, dan kumohon padamu untuk bersabar, aku tahu kau sangat membenci Appa, bahkan aku juga merasakannya, kita semua merasakannya, tapi … Umma, Umma butuh dukungan kita, dan kau tahu kan kita tidak boleh gegabah, dan aku percaya kau akan baik-baik saja, kau sudah janji padaku dan Umma …”, bisik Minjung mengeratkan pelukan dilengan Minho.

Minho menatap Ummanya lekat dan mengelus lengan Minjung dilengannya, “Arraso … aku janji …”, ucapnya.

“Good!”, ucap Minjung senang, “Sekarang … pergilah, shoo shoo … bersenang-senanglah sedikit, Umma serahkan padaku!”, Minjung mendorong tubuh Minho sampai keluar kamar , Minho melirik ke arah Ummanya sejenak sebelum mengelus kepala Minjung sayang.

“Aku pergi. Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku.”

“Tidak akan ada apa-apa … kau terlalu khawatir! Sudah sana!”, ucap Minjung tersenyum, Minho membalas senyum itu sebelum ia pergi dan menuju motornya diparkiran sebelum mengirim pesan balik pada Jonghyun

To: Jjong dino

Hei, aku datang, tanyakan pada mereka tidak keberatankan untuk kedatangan satu orang lagi?😀

 

Bipbip

From: Jjong dino

Geez!! GWENCANA! PALLI! Kau tidak akan menyesal bermain denganku! :p

Minho berdecak membaca balasan pesan dari Jonghyun, mungkin mendengarkan kata-kata Minjung dan Jonghyun untuk bersenang-senang sedikit tidak ada salahnya. Terlebih ia akan bertemu dengan Taemin, rasa semangatnya tidak bisa ia pungkiri telah menggebu-gebu.

.

.

Minho tidak tahu ia bisa akan amat gugup hanya ingin bertemu seseorang, rasa antusias dan sekaligus gugup menyerangnya, tentu saja, setelah pertemuan nya yang terakhir kali dengan Taemin saat itu, ia belum mempunyai kesempatan untuk menemui Taemin lagi. Dan sekarang, ia sedang berdiri tepat didepan cafe dimana ia berjanji akan bertemu dengan Jonghyun, ia sedang sibuk dengan hatinya memilih untuk tetap masuk menemui Jonghyun dan juga … Taemin, atau sebaiknya ia kembali menaiki motornya, kembali ke rumah sakit, dan mengirim pesan pada Jonghyun bahwa ia tiba-tiba saja ada urusan sehingga ia tidak bisa datang.

Ia mengerang, kesal pada dirinya sendiri, sejak kapan ia jadi beryali ciut hanya untuk bertemu dengan seseorang, seorang Choi Minho takut untuk bertemu dengan seseorang, dan terlebih hanya seorang Lee Taemin. Ini Lee Taemin, bukan orang yang terkesan membahayakan baginya, atau seorang dari gangster yang siap untuk menghabisinya kapan saja. Lalu apa salahnya? Dengan kemantapan hati, ia menarik nafas berat dan akhirnya menggerakan kakinya menuju pintu masuk cafe.

Ketika ia berhasil masuk kedalam cafe , ia langsung menyapu pandangannya keseluruh penjuru cafe, mencari tanda-tanda keberadaan Jonghyun, mungkin karena hari itu weekand, ia merasa cafe terlihat sangat padat dan penuh dengan pemuda seumuran mereka tertawa serta bersenda gurau riuh pikuk. Tidak butuh waktu lama baginya akhirnya mendengar suata tawa yang sangat khas, ia menoleh pada sisi kanannya, diujung cafe tidak jauh dari tempatnya berdiri, Jonghyun sedang tertawa dengan kencang sambil menepuk tangannya berkali-kali dan kakinya naik hampir ke atas perutnya, ia berdecak melihat tingkah temannya yang satu itu. Kemudian ia tidak butuh waktu lama lagi untuk menangkap sosok lain yang ada disamping Jonghyun, sosok yang juga tertawa dengan tangan menutupi sebagian mulutnya, matanya yang lucu menyipit sedikit dan pipinya yang chubby terangkat dengan lucu, Minho mungkin hampir kehilangan nafasnya ketika ia melihat sosok itu tertawa.

Dan saat itulah , mata indah itu beralih ke arahnya, tepat memandangnya dengan tatapan terkejut, matanya membesar dari ukuran sebelumnya, dan mulutnya membentuk huruf O karena terkejut, sebelum ia bisa melihat sosok itu tersenyum padanya. Minho menggigit bibir dalam nya untuk menahan senyum yang akan terkembang di bibirnya, rasa senang dan juga antusias tidak bisa ia tahan ketika ia lihat sosok itu tersenyum padanya.

Minho tidak ambil pikir panjang lagi sebelum ia langkahkan kaki jenjangnya menuju ke meja dimana Jonghyun dan Taemin ada disana, dan … speaking of the devil, lengkap dengan Key disana, dan juga Onew yang asik mengunyah kremihan ayam ditangannya.

“Hai …”, sapanya memecah suasana disekitar mereka, sempat merasa tidak enak, karena ia takut sebagai perusak suasana dan pengganggu bagi kesenangan mereka.

“MINHO! HAI! FINALLY!!”,

Minho berdecak menerima sambutan semangat dari Jonghyun, namja pendek dan kekar itu sontak berdiri dan merangkulnya, Minho membalas rangkulan Jonghyun dengan tepukan dipunggung tanda persahabatan dan tersenyum padanya. “Sorry Jjong, ada yang perlu ku urus tadi, maaf terlambat,dan …”, Minho menatap ketiga orang didepannya, “Maaf jika aku tiba-tiba datang dan ikut bergabung dengan kalian, Jonghyun meminta ku jika kalian tidak keberatan …”, ucap Minho berusaha bersikap ramah sebagai tamu yang tidak diprediksikan, ini Jonghyun yang mengundang, bukan semuanya, jadi ada rasa cemas jika saja Taemin tidak suka akan kedatangannya.

“Nah, Minho, tenang saja, silahkan duduk, kau tidak usah sungkan …”, ucap Onew semangat dan tersenyum lebar, ia selalu suka Onew yang bersikap ramah pada siapapun, “… kau mau ayam? Kau bisa ambil satu potong sayap ayamku jika kau mau?”, tambahnya dengan ramah, dan ia suka cara Onew menawarkan ayam padanya, sikap Onew itu membuat suasana sedikit mencair, karena Jonghyun mulai berdecak , dan Taemin terkekeh kemudian memukul lengan Onew dengan perlahan karena sikapnya.

“Hai Minho …”, ucap Taemin tersenyum ramah, Minho tersenyum lebar dan ia yakin wajahnya saat itu sudah terlihat sangat bodoh.

“Hai Taemin ah …”, aah … bahkan ia suka dengan caranya mengucapkan nama Taemin dari mulutnya sendiri.

“Aku tidak tahu kau mengundah dia Jjong?”,

Ini dia, Minho tahu cepat atau lambat ucapan sinis akan datang dari mulut sosok yang lain didepannya, Key sedang mengunyah coklat bar dan menatapnya sinis kemudian menoleh ke arah lain. Minho hanya memilih diam, dan suasana kembali tegang.

“A-aah … yah, Key, tidak bisakah kau ramah sedikit? Aku yang mengundang Minho karena ia temanku, lagi pula Onew hyung dan Taemin tidak keberatan kan?”, tanya Jonghyun menepuk pundak Minho seakan memberikan dukungan.

Onew memandang ke arah Minho dengan anggukan semangat, “Tidak sama sekali, semakin banyak semakin bagus, ayolah Key … kita kesini untuk bersenang-senang, bukan untuk bersungut-sungut …”, ucap Onew mencubiti pipi Key yang langsung di tepis oleh namja itu.

“Call! Nah, kau duduklah! Anggap saja rumah mu sendiri.” Ucap Jonghyun mendorong Minho, dan yang membuat Minho panik adalah, Jonghyun mendorongnya untuk duduk disofa tepat dimana Taemin duduk, karena terlalu kencang atau mungkin terlalu bersemangat, Jonghyun mendorongnya hingga membuat tubuhnya menabrak tubuh Taemin, namja kecil itu terdorong hingga ke arah jendela disampingnya.

“Ouch, Sorry Taemin …”, ucap Minho

Taemin bukannya marah malah terkekeh dan mengibaskan tangannya, “Gwencana … seperti kata Jjong, anggap rumah sendiri.”, ucapnya tersenyum, melihat senyuman itu dari jarak sedekat itu membuat jantung Minho berdetak sepersekian detik sebelum ia kembali kekesadarannya dan duduk dengan tenang dihapit oleh Jonghyun yang duduk disisinya.

.

.

Mereka duduk disana cukup lama, memesan makanan dan berbicara tentang apapun, menirukan ekspresi orang lain, mendubbing ucapan orang lain dengan melihat gerak gerik mereka dari jauh, dan bersikap konyol lainnya. Sedikit banyak Minho mengetahui semua cerita tentang pertemanan keempat teman didepannya. Tidak Minho pungkiri bahwa ia iri dengan pertemanan mereka, ia sudah pernah mendengar sebelumnya dari Chanyeol tentang persahabatn keempat temannya ini, namun ia tidak tahu bahwa begitu menyenangkan berada disekitar mereka.

Minho tahu kalau diantara mereka Jonghyun dan Taeminlah yang pertemannya paling lama, dan banyak yang mengira kalau ada hubungan diantara mereka melihat dari cara Jonghyun atau Taemin bersikap satu sama lain, namun ketika mereka menceritakan itu semua, dan dari cara Onew dan Key mengomentari mereka, mereka terlihat sudah terbiasa dan tidak ambil pusing, mereka seperti menikmati apa yang selama ini orang lain katakan tentang mereka. Diam-diam Minho membenarkan semua itu, ia mungkin jika tidak tahu bahwa mereka berteman ia berpikir bahwa Taemin dan Jonghyun menjalin hubungan, namun ia bisa berbuat apa? Sekeras apapun ia berusaha ia rasanya sulit untuk masuk dan bersikap wajah seperti Jonghyun didepan Taemin, dan itu membuatnya merasa tidak percaya diri.

“Minho, kenapa kau diam saja? kau bosan yah? Maaf kami memang begini, terlebih Jonghyun ia memang sulit untuk diam …”, tanya Taemin perlahan, Minho merasa wajahnya memanas karena ia tertangkap sedang memikirkan hal lain dan terlihat melamun.

“A-anio … hanya berpikir sesuatu …”, ucap Minho meneguk coke didepannya kemudian menatap Taemin sejenak dan tersenyum ke arah lain. “Aku hanya berpikir, jika aku mengenal kalian lebih awal aku rasa sekolah begitu menyenangkan untukku …”, ucap Minho asal bicara, dan heck, itu membuat suasana jadi hening, ia merasa semua mata menuju ke arahnya, ia mendongak dan merasa ia salah bicara, ia menggaruk kepalanya dan terkekeh,  ia sudah mengacaukan suasana rasanya, “Ah, mian … aku hanya berpikir apa adanya … aku …”,Minho berhenti bicara ketika ia menerima rangkulan di bahu oleh Jonghyun, ia menoleh pada Jonghyun yang tersenyum padanya dengan lebar.

“Ck, Minho, jadi kau dari tadi merasa canggung karena kau bersama kami? Kau pikir kau tidak bisa berteman dengan baik dengan kami? Jangan khawatir Minho, kau lama-lama akan nyaman , kami janji kami akan bersikap baik padamu, kami tidak gigit!”, ucap Jonghyun menunjukan cengiran dinonya. Minho berdecak.

“Kami tidak keberatan jika kau mulai sekarang ikut bermain bersama kami, ya kan?”, tanya Taemin tersenyum, Jonghyun dan Onew menangguk, hanya Key yang memilih diam dan sibuk dengan ponselnya, namja itu tersadar ketika tangannya disenggol oleh Onew.

“Apa?”, tanyanya malas, Minho memperhatikan ketiga temannya yang lain memandang Key dengan gemas. “Gezz … baiklah baiklah …”, ucap Key melirik kesal pada Minho. “Aku tidak keberatan, asal kau ingat ucapanku …”, ucap Key mengangkat bahu dan menatap Minho penuh arti. Minho memilih diam dan membiarkan Key begitu saja.

“Kau mengatakan apa padanya? Yah! Key, tidak bisakah kau tidak mengancam orang?!” ucap Jonghyun kesal,

“Ish, siapa yang mengancam, kau tanya saja padanya aku bicara apa!”, ucap Key kesal.

“Ah, sudah, Key tidak berkata apapun, ia hanya bilang untuk bersikap baik pada kalian … itu saja.”, ucap Minho menatap Key, Jonghyun tidak begitu saja percaya sepertinya, namun Onew meredakan suasana dengan seketika dengan meminta mereka untuk pergi dari cafe dan memilih untuk pergi ke karoeke, karena terlalu malam bagi mereka jika mereka memilih untuk menonton film bioskop. Mereka semua setuju sebelum kelimanya keluar dari cafe dan menuju parkiran.

Minho memakai helmnya dan tidak jauh darinya Jonghyun naik di atas motornya dengan Taemin disisinya dengan memegang sebuah helm ditangannya, sudah di duga bahwa Taemin akan ikut Jonghyun untuk naik dimotornya. Sedangkan Onew dan Key sudah naik mobil Onew dan bersiap pergi.

“Aku akan ikut mobil Onew dan Key hyung saja …”, ucap Taemin, entah kenapa itu membuat Minho lega. Ia melihat Taemin berlari menuju mobil Onew sebelum ia melirik ke arah Minho dan tersenyum kemudian masuk kedalam mobil. Jonghyun memanggilnya untuk bersiap pergi, tidak butuh lama mereka sudah beriringan pergi dari cafe dan menuju salah satu distrik hiburan di Seoul untuk mencari tempat karoeke yang murah dan juga menyenangkan.

.

.

“Aku mau pesan banana pancake with strawberry syrup and cream!”, ucap Taemin ketika mereka semua duduk di ruangan yang muat 5 orang dan melihat menu desert untuk dipesan di tempat karoeke itu.

“Bukannya kau baru saja makan desertmu yang kedua tadi Tae?”, tanya Jonghyun tidak percaya. Minho hanya diam melihat semua itu, ia juga tahu kalau Taemin adalah eating mechine. Ia bisa melihat cara Taemin makan yang sangat lahap, dilihat dari ukuran tubuhnya yang kecil, ia dengan mengejutkan Minho bisa memakan apapun yang disediakan di atas meja dengan lahap, dan itu membuat Minho merasa Taemin sangatlah cute.

Taemin hanya terkekeh dan bersikukuh meminta Key memperbolehkannya memesan pancake itu. Dengan puppy eyes nya Taemin meminta pada Key dan akhirnya namja yang ia panggil ‘Umma’ itu akhirnya mengijinkannya, hal lain dari Taemin yang berhasil Minho pelajari adalah, puppy eyes Taemin adalah senjata paling ampuh bagi seluruh Hyung dan Jonghyun, entah kenapa Taemin terlihat seperti spoiled bratt ketika ia sudah bersikap seperti itu dan membuat Onew, Key, dan Jonghyun meng-iya-kan semua permintaannya.

Tidak lama setelah semua pesanan minuman dan juga cemilan dan desert besar untuk Taemin datang mereka memulai bernyanyi. Minho tidak tahan untuk tidak tertawa melihat cara Onew bernyanyi dengan sangat menghibur, berkali-kali ia mengganti caranya bernyanyi, dengan suara seriosa, suara fals, suara sopran, suara seperti tikus terjepit pun ada, dan itu membuat Minho merasa kagum dengan caranya menghibur, dari caranya itu ia tahu bahwa semua sikap Onew disebut bahwa itu adalah Onew sangtae.

“Apa itu Onew sangtae?”, tanyanya sambil tertawa dan menepuk tangannya melihat kali ini Jonghyun dan Onew yang beraksi didepannya.

“Onew sangtae itu tingkah Onew Hyung yang suka absurd dan terkesan terkadang tidak lucu, namun cukup menghibur …”,

Minho hampir copot jantungnya ketika Taemin bicara disebelahnya diselingi tawa, ia lupa kalau ia bersama Taemin ditempat itu, dan entah sejak kapan namja itu duduk disebelahnya dan tertawa bersamanya.

“O-oh … haha, aku rasa Onew sangtae benar-benar cocok dengannya.”, ucap Minho menunjuk Onew.

Taemin berdecak, “Kau tidak tahu saja bahwa sebenarnya Onew bisa bernyanyi dengan sangat bagus, dia hanya tidak pernah serius …”, ucap Taemin terkekeh, believe him, suara tawa Taemin mungkin lebih indah?. Tidak lama Minho mendengar Jonghyun dan Onew merubah suara mereka dan bernyanyi lagu ballad dengan duet dan sangat bagus. Minho menganga, ia menunjuk ke arah keduanya dan meminta penjelasan pada Taemin. Taemin hanya mengangkat bahu dan tertawa.

“Aku sudah bilang yah …”, ucapnya menggerakan tangannya kekiri dan kekanan mengikuti alunan musik sambil tersenyum. “Jonghyun juga mempunyai suara bagus, apa aku lupa bilang kalau dia penyanyi di salah satu festival sekolah? Dia ikut kelas seni, dan dia cukup populer.”, decak Taemin. Minho mengangguk, tidak bisa dipercaya, semua namja yang berada bersamanya itu mempunyai banyak bakat terpendam didalam diri mereka, dan Minho merasa iri dengan mereka.

“Kau sendiri?”,

“Hah?”, Minho menoleh pada Taemin,

“Kau sendiri … bisa bernyanyi tidak? Kau tidak untuk duduk disini sepanjang hari hanya untuk jadi penonton kan?”, tanya Taemin terkekeh.

Minho berdecak, “Ah, aku tidak bisa bernyanyi. Well … aku mungkin bisa –sedikit, hanya sedikit … untuk bagian Rap.”, Minho melihat ekspresi Taemin jadi antusias dan menganga,

“Serius Minho? Kau bisa Rapp? Itu bagus! Kau bisa mencobanya sekarang!”, ucap Taemin menarik lengan Minho kedepan, Minho bisa jamin jika ruangan itu tidak remang-remang wajahnya yang saat itu tiba-tiba memerah bisa terlihat oleh Taemin, ia merasa genggaman tangan Taemin begitu lembut, dan ketika namja itu melepaskan genggamannya ia bisa rasakan kecewa dihatinya karena kehilangan kontak fisik dengan sosok itu.

Taemin membisiskan sesuatu pada Onew dan Jonghyun sebelum keduanya menoleh pada Minho dan tersenyum, keduanya memilih lagu Bigbang Tonight untuk Minho dan menyerahkan mic padanya. Minho terlihat gugup didepan menatap panik ke arah Taemin yang sudah tertawa dan bertepuk tangan, Jonghyun dan Onew bersorak menyemangatiya untuk memulai bernyanyi.

“Go Minho Go Minho Go Minho!!”, sorak mereka, Minho menarik nafas, ia tidak bisa membuat senyum diwajah Taemin sia-sia, dengan sebisanya ia mulai bernyanyi. Sebelum akhirnya suara lain mengikutinya, ia melihat Key yang masih duduk ditempatnya memegang mic dan bernyanyi mengambil part lain dari yang Minho nyanyikan, Minho melihat namja itu sepertinya ingin menunjukan bahwa ia juga bisa lakukan hal yang sama seperti Minho. Dan entah mengapa meski hubungan mereka tidak akrab dibanding yang lain, mereka bisa bernyanyi bersama dengan baik, sampai akhirnya Taemin dan yang lain bersorak senang.

“MINHO! YOU JJANG!!”, pekik Taemin melonjak disekitarnya, Minho tidak bisa menahan rasa antusiasnya lagi melihat setiap gerak gerik Taemin, tanpa bisa ia kendalikan lagi ia mengulurkan tangannya dan mengacak rambut Taemin gemas.

“You little punk, berani mengerjaiku!”, ucapnya, Minho bisa melihat Taemin berhenti melonjak layaknya anak kecil dan terkekeh sebelum kembali duduk dan menikmati pancakenya.

“Kau tidak begitu buruk, freak froggy!”, ucap Key dengan mic ditangannya, Minho berdecak, sikap diva Key mau tidak mau sudah jadi biasa dimata Minho.

“Kau juga, Diva Kim Key.”, sindir Minho yang menerima decakan dari Key dan senyuman sinis, namun Minho bisa tahu Key terlihat bisa menerima keberadaannya akhirnya.

“MINHO JJANG! YA YA YA!!”, pekik Onew dan menerima gelak tawa dari cara Onew berteriak tentang Minho. Minho malam itu merasa menemukan kesenangan yang tidak pernah ia rasakan, ia beryukur setidaknya kali ini ia masih diberi kesempatan untuk mendapatkan teman baru yang menyenangkan. Mungkin Minho harus berterima kasih pada Taemin pada awalnya, karena hanya dengan melihat Taemin saat itu, membuatnya ingin mengenal lebih dekat namja itu, kemudian berniat berteman dengan Jonghyun, dan apa yang ia dapat? Ia malah mendapat hole package dari pertemanan Taemin, bukan hanya bisa dekat dengan Taemin, namun ia mempunyai teman-teman yang bisa dibilang menyenangkan.

.

.

“Argh.”,

Minho dan yang lain melihat ke arah Jonghyun, bingung ketika namja itu tiba-tiba berteriak setelah melihat ponselnya.

“Ada apa, Jjong?”, tanya Taemin bingung.

Jonghyun menatap ke arah Taemin dan yang lain dengan lesu, “Sodam Noona, ia memaki ku karena aku lupa harus menjemputnya, aku harus pergi sekarang! Kalau tidak ia bisa membunuhku!Taemin ah, kau pulang bersama Onew dan Key tidak apa kan?”, tanya Jonghyun menatap cemas ke arah Taemin, Taemin berdecak dan terkekeh.

“Ya, tidak apa, sudah sana … aku tidak mau melihat kau jadi beberapa potongan daging keesokan hari.”, kekeh Taemin yang menerima cemberutan dari bibir Jonghyun.

“Onew Hyung , Key … Taemin—“ Jonghyun terdiam , dan Minho melirik ke arah Key yang bersungut pelan di belakang Onew, Minho melihat itu sedikit tertarik, sepertinya Key tidak setuju dengan keputusan itu, namun ia tidak bisa bilang tidak karena Onew sepertinya mau melakukannya, apa jangan-jangan Key mau kalau hanya dia dan Onew …

“Ngg …”, Minho memecahkan suasana, “… Taemin ah, kalau kau tidak keberatan, aku bisa antar kau … itu juga kalau kau mau …”, ucap Minho sedikit gugup akan penolakan dan tawarannya yang tiba-tiba. Jonghyun dan Taemin melihat satu sama lain, dan ia bisa rasakan tatapan Onew dan tatapan tajam Key padanya.

“Oh, baiklah! Sebelumnya aku pernah diantar oleh Minho sampai rumah, dan rumah Minho tidak jauh dari rumah ku, ya kan Minho? Aku harap kau tidak keberatan!”, ucap Taemin tiba-tiba, Minho memasang wajah bingung, namun ia seperti mendapat sinyal dari Taemin, membuatnya mengangguk canggung.

“Benarkah Minho? Aku tidak keberatan mengantarkan Taemin dulu, sebelum aku pergi bersama Key …”, ucap Onew polos.

“Tidak apa Hyung …”, ucap Minho tersenyum meyakinkan.

“Call! Sudah tidak ada waktu, aku harus pergi! Mianhe semuanya!”, ucap Jonghyun dengan cepat menuju motornya.

“Hati-hati dude!”, ucap Minho , Jonghyun tersenyum dan melambai pada yang lain sebelum pergi.

Tinggal mereka berempat disana berdiri canggung, sebelum Onew berbicara. “Well, sorry Tae, kau yakin tidak mau bareng bersamaku? Aku dan Key—“

“Gwencana Hyung, kalian pergilah …”

“Kau tahu kami tidak keberatan mengantarmu kan Taemin? Dari pada kau naik motor dengan …”, Key menambahkan dengan melihat ke arah motor sport Minho dan Minho secara bergantian. Taemin berdecak dan mendorong tubuh Onew dan Key paksa ke arah mobil mereka.

“Gwecana Gwencana! Aku bukan anak kecil lagi … sekarang pergilah sebelum aku mengacaukan kencan lanjutan kalian!”, ucap Taemin tertawa.

“Yah! Kami tidak—“, pekik Key

“Ya ya ya Hyung, palli … bye …”, ucap Taemin mendorong Key masuk dan menutup pintu penumpang, Onew yang masih diluar tersenyum pada Taemin dan pada Minho bergantian.

“Minho, antar dia pulang ya, jangan mengebut, aku akan lakukan sesuatu padamu jika terjadi sesuatu pada dongsaeng ku!”, ancam Onew dengan senyumannya, Minho hanya mengangguk dan tersenyum.

“Gezz Hyung, sudah sana …”, ucap Taemin tidak sabaran, dengan senyuman terakhir Onew masuk kemobil dan menyalakan mesin, Key membuka jendela mobil dan menatap Minho dengan lekat, dan tersenyum ke arah Taemin.

“Hati-hati …”, ucap Key.

“I will~”, balas Taemin melambaikan tangannya, sebelum mobil mereka meninggalkan keduanya berdiri disana.

Tinggallah mereka berdua berdiri disana dengan canggung, Taemin berdeham meredakan suasana, Minho menelan ludahnya dan menatap Taemin dalam diam. “Well, sorry Minho kalau kau tidak keberatan, kau lihat kan … mereka, aku tidak mau mengganggu mereka saja …”, ucap Taemin seperti ingin menjelaskan alasannya. Taemin yang ada didepannya berubah 1800 , tidak seperti Taemin yang masih bersama teman-temannya, Taemin yang saat ini sedang berduanya terlihat sangat malu-malu dan gugup. Apa karena hanya mereka berdua? Jika memang benar, lagi, Minho melihat sikap Taemin itu terlihat cute dimatanya.

Minho tersenyum lebar, hampir sangat lebar menurutnya, “Gwecana … aku malah khawatir kau tidak mau pulang dan memilih naik taxi karena ucapanmu waktu itu … ‘aku tidak mau naik motor lagi, karena aku masih mau hidup dan jadi dancer terkenal’!”, ucap Minho melirik menggoda, Taemin yang merasa tertangkap basah wajahnya memerah dan menunduk menggerutu pelan entah apa, Minho tambah tersenyum lebar. Cute …

“I-itu …”, Taemin menatap Minho kesal, “Itu karena kau membawa ku dengan kecepatan tinggi! Kalau kau lakukan itu lagi nanti, aku minta turun saat itu juga!”, ucap Taemin berusaha memukul lengan Minho dengan kencang, namun yang terjadi malah seperti angin  bagi Minho, dan Minho semakin tertawa karena sikap Taemin itu, namja didepannya menggerutu semakin menjadi dengan gerutuan yang tidak bisa Minho mengerti.

“Kajja … dan berhenti menggerutu …”, ucap Minho berdecak mengacak rambut Taemin, ia mendengar Taemin berkomentar ‘aku bukan anak kecil’ dan itu membuat Minho tersenyum lebih lebar, ya kau bukan anak kecil, tapi kau terlalu imut seperti anak kecil dimataku …

Minho melepaskan jaketnya dan menyerahkannya pada Taemin sebelum ia menaiki motornya, namja cantik itu bingung menerima uluran jaket dari Minho. “Pakailah, udaranya terasa dingin …”, ucap Minho tersenyum. Ia melihat Taemin enggan menerimanya.

“Kau pakai apa? Bukannya kau akan lebih kedinginan? Gwecana aku sudah pakai jak—“ Sebelum Taemin menyelesaikan ucapannya , Minho sudah meletakan jaketnya di bahu Taemin, dan menepuk-nepuknya untuk memberikan kehangatan disana. Ia tersenyum pada Taemin dan mengambil helm ditangan Taemin dan membuat namja cantik itu memakai helmnya, Minho tersenyum puas ketika ia sudah memastikan helm Taemin terpasang dengan aman. Ia menaiki motornya dan menoleh pada Taemin, menepuk kursi belakang motornya.

“Kajja Taemin ah …”, ucap Minho kali ini, Taemin sedikit terlihat tidak yakin, sebelum ia memasukan tangannya kedalam jaket besar Minho yang masih kebesaran meski ia juga sudah memakai jaketnya sendiri, Minho melihat itu begitu senang, karena tubuh Taemin begitu terlihat kecil dijaketnya, terlihat tubuh Taemin sangat fit dengan jaket Minho, membuat ia berpikir, apa rasanya jika ia memeluk tubuh ramping itu … pikirannya tersadar ketika beban di motornya bertambah dan Taemin sudah duduk manis disana dengan mencibirkan bibirnya.

“Motormu berbeda dengan Jonghyun, ini terlalu besar dan tinggi … aku hanya takut jatuh saja.” ucap Taemin enggan menatap mata Minho yang masih melihatnya, Minho tidak bisa berhenti menatap sosoknya. “Ayo! Kau lihat apa? Aku serius bilang jangan mengebut, kalau tidak , aku minta turun saat itu juga!”, ucap Taemin berdecak.

“Oke … pegangan yah ..”, ucap Minho berbalik dan menyalakan mesin, namun ia tidak juga jalan, ia menoleh dan tersenyum jahil. “Taemin, aku tidak tanggung jawab kalau kau jatuh, apa aku harus jadi pacarmu dulu jadi kau mau pegangan saat naik motor?”, tanya Minho asal, ia tahu itu terdengar sembarangan, namun ia tidak bisa berhenti menggoda Taemin yang mudah malu dan terlihat gelagapan oleh ucapannya.

“A-apa? Tidak! Ish!”, Minho menaikan alisnya, ia berbalik dan bersiap memacu gasnya, sebelum ia rasakan genggaman di sisi kedua pinggangnya, pegangan Taemin terasa kaku dan canggung. Minho berdecak, dan katakan ia sengaja, ketika ia tancap gas pertama membuat tubuh Taemin sontak terpentak kebelakang sedikit dan kemudian kedepan, sehingga membuat Taemin yang panik sontak melingkarkan tangannya diperut Minho. Minho tidak bisa menahan senyumnya. Rasanya nyaman merasakan kehangatan tubuh Taemin di punggungnya …

.

.

“Gomawo Minho …”, ucap Taemin ketika ia turun dari motor Minho dan melepas jaket Minho. Minho tersenyum dan mengacak rambut Taemin, jadi sebuah kebiasaan bagi Minho meski menerima perotes dari bibir Taemin.

“Kali ini kau selamat lagi kan …”, ucap Minho bercanda.

“Kau …”, Taemin berdecak dan tidak bisa menahan kekehannya.

“Gomawo …”, ucap Minho, Taemin mendongak dan menatap bingung ke arahnya.

“Untuk ..?”

“Untuk malam ini, aku senang, aku sudah lupa kapan terakhir kalinya aku bersenang-senang sepertinya. Beruntung kau punya teman-teman seperti mereka …” ucap Minho. Taemin tersenyum dan menarik nafasnya.

“Minho …”,

“Hmm?”

“Mungkin aku tidak begitu tahu apa yang terjadi dulu, tapi mendengarmu beberapa kali betapa kau ingin mempunyai teman-teman seperti teman-temanku ini aku berpikir … ng … well, aku tidak keberatan jika kau lebih sering bersama kami Minho … “, Minho merasa ucapannya sebelum nya itu membuat jadi beban pikiran Taemin, dan ia merasa tidak enak akan hal itu. Ia tersenyum dan meraih tangan Taemin digenggamannya, mungkin terlalu berlebihan dan ia takut sikapnya itu membuat Taemin marah, namun ia tidak bisa menolong rasa beruntungnya bertemu dengan Taemin.

“Gomawo …”, ucap Minho tersenyum. Taemin menatap Minho sejenak dan membalas senyumnya sebelum melepas genggaman Minho dari tangannya perlahan.

Minho enggan mengucapkan sampai jumpa pada Taemin dan pergi dari hadapannya, yang tidak Minho tahu, Taemin juga seperti enggan melangkah dari sana dan masuk kedalam rumahnya. Namun kesunyian itu terpecah ketika ponsel Minho berbunyi, dan Minho merutuk akan gangguan yang tidak ia duga itu.

“Mian …”, ucap Minho, Taemin mengisyaratkan tangan untuk mempersilahkan Minho mengangkat ponselnya.

“Yoboseyo …”, ucap Minho ketika ia tidak sempat melihat ID di ponselnya. Dan Taemin janji ia bisa lihat perubahan air wajah di wajah Minho dengan tiba-tiba, ia bisa melihat wajah Minho yang kaku, dan juga bisa melihat rahang Minho yang menegang. Apa terjadi sesuatu? “Baiklah … aku kesana sekarang …”, ucapnya sebelum Minho menutup ponsel.

“Minho—“

“Mianhe Taemin ah, aku harus pergi, sampai jumpa! Dan, gomawo …”, ucap Minho cepat, Taemin hendak mengucapkan kata-kata , namun Minho dengan cepat sudah menyalakan motor dan melesat begitu saja. Taemin menganga, ia melihat ada ekspresi tidak beres pada Minho, dan ia terlihat sangat panik, Taemin berharap semua akan baik-baik saja. Ia melihat jaket Minho ditangannya yang masih belum sempat ia kembalikan. Ia harap tidak terjadi sesuatu pada Minho …

TBC~

NEXT PART >>

Woof!! sorry for late update , Long hiatus saya membuat saya ngga nentu bisa nulis FF atau bukan! LOL

JANGAN TUNGGU UPDATE FF INI, KARENA SAYA AKAN UPDATE RANDOM! KALAU MOOD BAGUS, DAN KALAU ADA WAKTU DOANG!! LOL

sorry kalau FF nya tambah aneh jalan ceritanya , makasih yang udah komen dan like dipart sebelumnya, makasih yang udah nunggu FF ini dengan setia, dan semoga suka untuk part ini!

OH, GUE AKAN UPDATE FF RANDOM! JADI BIAR UPDATE FOLLOW TWITTER SYF AJA NEH~

@syfyaoi

SANNIIEW HIATUS AGAIN! IM OUT! BYE!!

81 thoughts on “[2min] Chasing You! – part 3

  1. ah key jangan galak galak dong ama ming.. ayo ming perjuangkan cintamu demi aku *eh* salah salah, maksudnya demi taeminiee..

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s