[1s] 2Min – Reach Your Sky


       Cast : Lee Taemin, Choi Minho, Kim Jongin(Kai), Luhan

       Genre : Life, romance, angst(?)

Author : Kei Love Taemin

Foreword:

Yahuuuu HAPPY BIRTHDAY MINHOOOO~~  (ᄑ_ᄑ)ε^;;)

dan kei bawain FF yang ga ada sangkut pautnya sama ultah-mu (┌˘▽˘ )┌ mianhae…

wokelah, langsug aja. And mian kalo ga nyambung ato cerita amburadul.  Tapi kei buatnya sepenuh hati iniii (๑•́ ₃ •̀๑)

       This story is MINE.

       NO PLAGIARISM!

       NO BASHING!

.

.

.

.

77058_451169588262881_26869673_n

           credit pics as tagged

.

.

.

            “Taemin…Taemin, bangun…”

            Tidak ada reaksi dari namja cantik yang tengah tertidur telungkup di meja kelasnya. Tampak sangat lelap.

            “Taemin-ah…babe…ireona…” sedikit mengguncang bahu si pemuda bernama Taemin yang tampaknya enggan melepas mimpi indah yang tengah menemani tidur siangnya.

            “Mmh…” dengan guncangan kesekian kali, barulah namja cantik –Taemin– yang sedari tadi asik dengan dunia mimpinya, terusik dan mulai membuka matanya perlahan. “Hooaahmm… eh, Jongin?” Taemin langsung menegakkan tubuhnya karena terkejut dengan kehadiran namja tampan berkulit tan di hadapannya. Sambil masih menguap sesekali dan mengusap mata kantuknya dengan kedua tangannya.

            “Lagi-lagi semalam suntuk kau sibuk membuat komik, eum?” tanya Jongin sambil mengelus rambut Taemin dengan lembut.

            “Eh…itu…” Taemin tampak salah tingkah berusaha menghindari tatapan tajam dari namja di hadapannya –kekasihnya–, “N-ne…” aku Taemin akhirnya.

            Taemin mendengar decakan dari mulut Jongin atau yang sering disapa Kai oleh teman-temannya (walau Taemin tetap lebih suka memanggil Kai dengan nama asli, Jongin), membuatnya mempoutkan bibirnya imut.

            “Untuk hari ini aku maafkan. Kalau saja Luhan tidak memberi tahuku kalau kau sepanjang pelajaran terakhir tertidur, aku tidak akan marah seperti ini Taemin…”

            “Tapi Jongin, kau tahu kan kalau menggambar itu adalah hobiku?!”

            “Tapi Taemin sayang, kau tahu kan kalau sebentar lagi ujian akhir semester akan segera tiba?”

            Taemin menghembuskan napas berat dan kembali mengalah jika sudah menyangkut dengan masalah pelajaran dan hobinya, “Baiklah… mian…”

            Jongin tersenyum dan mengacak rambut Taemin gemas, “Nah, itu baru my baby.” Jongin membantu Taemin membereskan buku-buku ke dalam tas Taemin dan mengajaknya untuk pulang bersama.

            “Mau mampir ke suatu tempat, atau langsung ke rumahmu?” tanya Jongin sambil menghidupkan mesin mobilnya.

            “Aku mau pulang saja.” Singkat Taemin menyandarkan kepalanya mencari posisi nyaman di kursi penumpang yang ia duduki.

            “Kau sudah makan siang?” tanya Jongin lagi ketika mobil melesat keluar dari pekarangan sekolah. Terlihat seperti kekasih yang sangat protektif, tapi memang begitulah Jongin, sangat concern dengan apa pun yang menyangkut dengan Taemin-nya. Yah…Taemin is his precious…

            “Aku tidak lapar, aku hanya mengantuk jadi biarkan aku tidur, ne..?” ucap Taemin sambil menguap dan mulai memejamkan mata.

            Tiba-tiba Jongin menginjak rem dengan mendadak sehingga membuat mobil berhenti seketika.

            “Jongin! Ada apa?” tanya Taemin terkejut.

            Jongin menghela napas berat dan menoleh ke arah Taemin yang tengah memandangnya marah, mengambil tangan kekasihnya dan menggenggamnya erat. “Kita ke restoran dan kau harus makan. Aku tidak mau kau sakit, arra? Dan ingat Taemin… ujian masuk universitas tinggal 2 bulan lagi dan 3 minggu lagi kita menempuh ujian akhir. Sekarang itu saja yang dipikirkan, oke?! Tidak ada membuat komik hingga larut, Taemin yang tertidur di kelas, sehingga kita tidak bisa masuk universitas yang sama!” entah apa yang membuat Jongin tiba-tiba seperti kehilangan kendali emosinya.

            “Jo-Jongin…” dengan ragu dan sedikit gemetar, Taemin meraih lengan kekar Jongin dan mengusapnya lembut, “Ada apa…?”

            Jongin menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Merasakan kehangatan dari tangan Taemin di lengannya dan tatapan kawatir dari namja cantik yang tampak sedikit takut padanya.

            Namja tampan itu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tampak frustasi(?). “Aku…aku ingin kita masuk ke universitas yang sama, Taemin…kau ingat janjimu kan?”

            Taemin terdiam dan menghentikan usapan tangannya untuk kembali keposisi duduk semula. “Tapi aku ingin melnajutkan ke sekolah komik…” gumamnya menatap ke luar jendela.

            “Aku ingin selalu bersamamu, babe…” Jongin meraih tangan mungil Taemin dan menggenggamnya erat, “Saranghae…” lalu mencium tangan itu dengan sangat lembut.

            Taemin menatap Jongin yang terlihat sangat tulis menyanyanginya, kemudian dia mengangguk sebagai jawaban. Walau di dalam hatinya, sebagian besar dirinya memberontak. Ia ingin mengmbil sekolah komik dan mewujudkan impiannya untuk menjadi komikus terkenal, bukan masuk ke universitas dan menjadi dokter seperti keinginan Jongin.

            Itu bukan mimpiku…..

.

.

.

            “Hhhh……” Taemin mendesah lesu, “Lagi-lagi aku gagal. Komikku belum dimuat juga…apa benar kata Jongin? Sebaiknya aku menyerah dan masuk universitas? Apa aku tidak berbakat??” keluhnya.

            Sore itu Taemin tengah duduk dibangku yang terletak dibawah pohon maple yang tertutup salju, di depan sebuah klinik St. Louise. Dia tidak menyadari bahwa sedari tadi ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari sebuah jendela kamar rawat di klinik itu.

            Di taman itu banyak anak yang sedang asyik bermain salju, dan salah satu dari mereka menghampiri orang yang sedang memperhatikan Taemin itu.

            “Minho hyung, ayo ikut kami main perang salju..?”

            Laki-laki bernama Minho itu hanya tersenyum lembut. Melihat beberapa anak lain juga menghampirinya.

            “Iya Hyung, ayo ikut! Pasti jadi lebih seru!”

            Dan anak-anak itu mulai sedikit merengek memaksa Minho untuk bergabung bermain perang salju.

            “Hmm…tapi hari ini aku harus menemui dokter…” ucap Minho sambil berpikir sejenak.

            “Yaah, kita main sebentar saja tidak bisa?”

            Minho mengalihkan pandangannya kembali pada Taemin yang sedang asyik membaca.

            “Heeyy!” teriak Minho memanggil Taemin. “Mau bergabung tidak?! Kita perang salju!” Minho berteriak sambil melambaikan tangannya dan tersenyum lebar.

            Taemin cukup kaget mendengar teriakan seorang namja –Minho– dan mengangkat wajahnya menatap ke depan sana. Melihat Minho melambaikan tangannya dengan riang, Taemin menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu menunjuk dirinya sendiri. “Aku?” gumamnya.

            Minho mengangguk dan mulai berjalan keluar dari kamarnya.

            Taemin mengerutkan dahinya, “Apa-apaan dia?” batin Taemin.

            Minho sekarang sudah berada di taman itu juga dengan dikelilingi anak-anak tadi yang mengajaknya. Kembali menatap Taemin dan tersenyum begitu Taemin juga menatapnya.

            Taemin melirik jam tangannya, sudah pukul 4 sore. Dan dia sedang tidak berniat untuk main-main. Kegagalan komiknya sudah cukup membuat moodnya menjadi tidak bagus.

            “Maaf ya, aku mau pulang.” Taemin memasukkan bukunya ke dalam tas, lalu berbalik pergi.

            “Noona! Noona tidak mau main bersama kami? Ayolah noona…semakin ramai semakin seru.” Ucap seorang anak yang menghampiri Taemin, mencegahnya pergi.

            “Noona?” Taemin terkejut dirinya dipanggil…noona?

            “Iya, ayo noona. Kita main sama Minho hyung juga…” anak tadi menggandeng tangan Taemin, menuntunnya kembali ke taman menghampiri sekumpulan anak-anak yang akan bermain perang salju.

            “Tapi aku bukan noona…aku laki-laki…” gerutu Taemin yang pasrah dibawa oleh anak tadi.

            Tak lama…

            “Ck, apa yang sedang ku lakukan eoh? Bukan saatnya bermain seperti ini…” pikir Taemin sambil membuat bola-bola salju kecil. Dan…

            PUK

            “Ya! Appo… siapa yang melempar, eoh?!” pekik Taemin yang terkejut karena tiba-tiba punggungnya dilempari sebuah bola salju.

            “Yeiy!! Kena!” Minho berteriak girang.

            Belum sempat Taemin membalas lemparan Minho, dirinya kembali dilempari bola-bola salju. Dan salah satunya mengenai kepalanya dan salju berhamburan turun ke wajahnya. Minho tertawa keras melihat lemparannya yang berhasil mengenai sasaran.

            Taemin mendengus sebal dan menatap Minho dengan death glare-nya, lalu segera membungkuk mengambil bola-bola yang tadi ia buat. Melihat Taemin akan membalasnya, Minho berlari menjauh sambil tertawa, “Ya! Jangan kabur!” teriak Taemin mengejar Minho dan berusaha melemparkan bola saljunya mengenai pria jangkung itu.

            PUK

            Dan dengan lemparan yang kesekian, Minho pun terkena lemparan salju dari Taemin, membuat Taemin sangat puas dan senang. “Wuuu kena! Hahaha!” pekik Taemin tak kalah girang dengan Minho saat tadi ia berhasil mengenainya.

            “Ck, tadi itu aku sengaja. Kau tahu? Se-nga-ja. Aku sudah melihat kau akan menangis tadi karena itu aku pasrah dilempar olehmu. Hahaha…” elak Minho.

            “Cih, alasan.” gerutu Taemin.

            Setelah itu mereka kembali bermain perang salju lagi sampai akhirnya…

            “Minho awas!!” teriak Taemin tapi terlambat, Minho terlebih dulu jatuh karena tersandung gundukan salju yang cukup besar, membuatnya jatuh tersungkur.

            BRUK

            Taemin segera berlari menghampiri Minho yang terdiam dengan posisi jatuhnya, “Ya, gwenchana?” tanya Taemin panik. Perlahan Minho bangun dan duduk sambil bersandar di sebuah tiang yang dekat dari tempatnya jatuh.

            “Tidak…tidak apa-apa.”

            “Syukurlah…”

            “Ngomong-ngomong, tadi kau memangilku Minho?”

            Taemin tampak salah tingkah dan menggigit kecil bibir bawahnya, “Itu…tadi aku mendengar anak-anak memanggilmu Minho hyung, jadi…kurasa namamu Minho. Benar?”

            Minho tersenyum, “Ne, namaku Minho. Kau boleh memanggilku Minho oppa karena kurasa kau lebih muda dariku. Kau masih SMA?” tanya Minho melihat baju seragam yang dikenakan Taemin dibalik mantelnya yang tidak ia kancing.

            “Oppa?! Aku namja, hyung!” protes Taemin merengutkan dahinya dan memajukan bibirnya kesal. Mungkin karena dia menggunakan mantel tebal dan juga syal yang menutupi jakunnya sehingga orang-orang banyak yang salah mengenalinya sebagai perempuan.

            Mata besar Minho semakin membesar begitu Taemin mengatakan bahwa dirinya adalah seorang namja, sama seperti Minho. “Jeongmal?” dengan tampang terkejut Minho kembali bertanya, berusaha meyakinkan bahwa dirinya tidak salah dengar.

            “Neee! Aku namja, apa perlu bukti, eoh?” Taemin melepas syalnya dan mengambil tangan Minho untuk dibawanya ke lehernya. “Ini. Kau bisa rasakan ini, hyung? Aku punya jakun seperti namja lainnya. Lihat! Kau juga pasti punya, kan?!”

            Minho masih terdiam dengan mata besarnya. Menatap wajah Taemin yang sungguh terlihat yeppeo terlebih dari jarak sedekat itu. “Ya! Hyung? Kau masih tidak percaya? Apa perlu bukti….” Taemin hendak membawa tangan Minho kebagian tengah celananya, tapi untungnya saat itu Minho segera tersadar dan buru-buru melepaskan tangan Taemin yang hampir saja membawanya ke daerah terlarang.

            “He-hey, aku percaya. Oke. Cukup tunjukkan jakunmu saja aku sudah percaya.” jawab Minho menghela napasnya.

            Taemin kembali mengalungkan syal ke lehernya untuk meminimalisir udara dingin sore itu. “Tadi kau diam saja waktu kubilang aku namja.” gerutu Taemin mempoutkan bibirnya lucu.

            “Aku…aku hanya berpikir.” Jawab Minho. “Lalu…namamu siapa? Kau belum menyebutkannya tadi. Aku Choi Minho.”

            Taemin kembali menatap Minho dan tersenyum, “Aku Taemin. Lee Taemin.”

            “Boleh kupanggil Taemin saja?”

            Taemin mengangguk sambil tersenyum, namun setelah itu Minho tampak sangat pucat dan seperti menahan sakit di dadanya.

            “Minho hyung… kau kenapa? Gwenchana?” teriak Taemin panik sambil mengguncang bahu Minho yang tengah menunduk kesakitan. “Ya! Hyung! Kau kenapa? Kau tidak bercanda, eoh?!”

            “Minho hyung kenapa, noona?” tanya salah satu anak yang menghampiri.

            “Aku tidak tahu, tiba-tiba saja dia kesakitan!” Taemin sangat panik dan air matanya hampir keluar.

            “Aku akan panggilkan dokter. Noona bisa bantu Minho hyung ke dalam?”

            Taemin mengangguk dan memapah Minho untuk masuk ke dalam klinik.

            A few minutes later….

            “Tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat saja, tidak usah khawatir. Aku hanya terlalu lelah.” ujar Minho bersandar di ujung kepala tempat tidur di salah satu kamar klinik.

            “Ternyata…hyung dirawat di sini, ya?”

            “Tidak usah khawatir. Sakitku ini tidak akan lama lagi….”

            Eoh?!!

            Taemin terkejut mendengarnya. Maksudnya? Minho akan segera sembuh dan keluar dari sana, kan?

            Minho yang menyadari ucapannya telah membuat Taemin bingung, segera menimpali, “Ya! Aku cuma bercanda. Kalau orang yang sudah hampir mati, tidak mungkin bisa bermain perang salju, eoh?”

            Taemin menghela napasnya lega. Entah kenapa mendengar ucapan Minho tadi membuatnya semakin cemas (terlebih karena tadi ia melihat Minho kesakitan), tetapi begitu Minho mengatakan ia tidak apa-apa, Taemin kembali lega, “Ya, hyung! Kau mengagetkanku saja.” Taemin mendorong pelan lengan Minho dan mereka berdua tertawa.

            “Eoh? Itu…teropong bintang yah?” tanya Taemin tertarik menghampirinya

            “Hebatkan…?” tiba-tiba Minho berdiri di samping Taemin, dan membuat namja cantik itu menjadi sedikit kikuk karena keadaan Minho yang begitu dekat bahkan hampir setengah memeluknya.

            “Kau tahu….aku mempunyai sebuah impian..” sambung Minho, pandangannya kosong menatap lurus ke luar jendela, “Bisa meraih harapan dengan teropong bintang itu….kalau kita bisa melihat masa depan sendiri, hebat kan?”

            Taemin menatap namja tampan…yah, Taemin baru menyadari betapa tampannya namja yang berdiri di sampingnya ini. Mata besar yang sangat mempsona, garis wajah yang halus namun tegas, bibir yang sexy(?) dan…

            SNAP!

            Taemin cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke ujung sepatunya sambil tangannya memainkan pinggiran mantel dan memilin-milinnya gugup.

             “Taemin…” panggil Minho, mengangkat dagu lancip namja cantik itu untuk dapat menatap matanya. Taemin menelan ludahnya keras namun seolah mati rasa, ia hanya mampu membalas tatapan Minho tanpa bisa mengalihkannya sedikitpun.

            “Akan kutunjuk satu bintang untukmu…”

            Taemin kembali menelan ludahnya memandang Minho yang tengah meneropong ke angkasa luas, “Tampan….” pikir Taemin.

            “Nah, coba sini lihat!” Minho bergeser sedikit agar Taemin bisa ikut mengintip ke lensa teropongnya, “Itu..kau lihat? Bintang yang paling besar dan terang di sana. Itu kuberi nama Taeminnie. Bintang Taeminnie, cantik, kan?”

            “Woaah…benar-benar cantik…indah sekali, hyung!” Taemin berteriak senang.

            “Jeongmal?”

            Taemin mengangguk, “Jeongmal…”

            “Kau suka?”

            Taemin mengangguk lagi sambil tersenyum lebar, “Suka sekali!”

            “Mulai saat ini, itu adalah bintangmu. Bintang Taeminnie…”

            “Waahh…gomawo hyung! Aku senang sekali…”

            “Benar kau sangat senang? Kalau begitu, lain kali kalau cuaca cerah, datanglah kesini. Nanti akan kutunjukkan cincin saturnus.” Minho segera menutup jendelanya.

            “Jinjja?!” pekik Taemin berbinar.

            “Yes, I promise.”

.

.

.

.

            Di perpustakaan…

            “Semangat sekali?!”

            “Jongin!” Taemin sangat terkejut dan segera membereskan kertas-kertas gambarnya.

            “Babe…kau sudah janji tidak akan membuat komik dulu, kan…?”

            Taemin menunduk menatap sketsa-sketsanya yang hampir selesai, lalu menatap Jongin yang tengah menatapnya sambil bersidekap. Tanda kalau ia sedang marah.

            “Jongin…mereka sebentar lagi selesai. Tidak akan memakan waktu lama, aku janji. Batas pengirimannya tinggal 3 hari lagi saja… bolehkan… please…?” Taemin memohon dengan sedikit mengeluarkan aegyonya.

            Jongin menghela napas dan membuang pandangannya tidak mau menatap mata jenaka di depannya, mata Taemin yang selalu bisa meluluhkan hatinya. Yah, ia pikir saat ini ia tidak boleh kalah dengan mata itu, “Kau tahu, kan? Aku melarangmu membuat komik karena apa, eum?”

            “Tapi Jongin, membuat komik itu hobiku dan kau tahu sejak dulu! Aku sangat menyukai menggambar kenapa kau tidak mau mengerti?!!” protes Taemin.

            “Tapi ini demi kebaikanmu! Masa depanmu menjadi dokter dengan menjadi komikus perbandingannya sangatlah jauh!”

            “Tapi aku senang… tidak kah kau mengerti…”

            “Apa senang saja bisa membuatmu hidup berkecukupan nantinya?”

            “Aku tidak masalah kalau…”

            “Ingat Lee Taemin, kau telah berjanji padaku.”

            Ya…janji masa kecil yang membuatku terikat olehmu…..

            Taemin terdiam sesaat, “Baiklah, aku pulang sekarang.” Ucapnya sambil memasukkan kertas-kertas gambarnya dan beranjak keluar ruangan. Jongin pun mengikuti dari belakang. Ia tahu, ia terlihat memaksakan kehendak…tapi ini adalah yang terbaik untuk Taemin-nya.

            Sepanjang perjalanan di koridor sekolah Taemin hanya terdiam lesu, menatap ujung sepatunya sambil berjalan pelan-pelan.

            Jongin menatap punggung namja cantik yang sangat dicintainya itu, apa dia terlalu egois? Tapi…dulu Taemin sendiri yang telah berjanji akan menjadi dokter bersamanya. Taemin lah yang membuatnya terobsesi untuk menjadi dokter…karena saat itu…cinta pertama Taemin (saat dia berumur 7 tahun) adalah seorang dokter muda tampan yang menjadi dokter pribadinya. Yah, Jongin sangat cemburu. Dari dulu ia tidak ingin Taemin-nya bersama orang lain. Hanya untuknya, itulah yang selalu ditanamkan di pikiran dan hatinya.

            Walau ia tahu, Taemin sama sekali tidak pernah mengingat dokter itu lagi. Hanya sebatas suka sesaat, tapi cinta telah membutakan Jongin. Jongin ingin hanya dia yang dilihat oleh Taemin. Yah…hanya dia…

            “Hari ini…bulan sabit, ya…” Jongin membuka pembicaraan.

            Taemin mengangkat wajahnya dan melihat ke arah jendela, menatap langit gelap dengan bertabur bintang dan bulan yang menghiasinya. “Oh ya, Jongin…apa kau pernah lihat permukaan bulan dan bintang-bintang dilangit?”

            Jongin mengerutkan alisnya bingung, “Musun? Kenapa tiba-tiba…?”

            “Sudah jawab saja…pernah tidak?”

            “Pernah. Di buku dan televisi.”

            “Huuu, maksudku melihat langsung! Jongin pabo.” Taemin memalingkan wajahnya menatap langit, “Angkasa itu sangat cantik…tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata….”

            Jongin menatap Taemin yang tengah menerawang jauh ke langit di luar sana, “Kau…”

            “Aku pernah melihat langsung dengan teropong bintang. Sepertinya terlihat sangat dekat, dan dapat dijangkau dengan tangan…”

            “Yaa…Taemin-ah…kau masih juga melakukan hal-hal tidak berguna seperti itu, eoh?! Kau tidak mau masuk universitas?!”

            “Anii, itu bukan hal sepele, Jongin…”

            “Kau masih saja membuang waktumu melakukan hal yang percuma. Kau tahu kan masuk kedokteran itu sangat susah dan kau hanya main-main saja?! Ck, aku tidak tahu lagi jalan pikirmu.” Jongin melangkah melewati Taemin dan berjalan semakin menjauh.

            “Itu tidak membuang waktu…. itu…. mimpi Minho hyung….” bisik Taemin lesu memandang punggung Jongin yang hampir hilang dari pandangan.

* * *

            At Minho’s place….

            Entah sudah menjadi kebiasaan bagi Taemin, jika sepulang dari sekolah (jika tidak bersama Jongin), ia pasti mampir ke tempat Minho. Seolah kakinya membawanya begitu saja ke tempat itu tanpa di perintah oleh otaknya.

            “Hyung…” panggil Taemin dari depan pintu ruangan Minho yang terbuka.

            Minho yang tengah membaca buku, memalingkan wajahnya menatap sumber suara, “Taemin? Hey…sini masuk.” Minho menutup bukunya dan menghampiri Taemin yang tampak murung.

            “Ada apa? Wajahmu kenapa begitu…?” Minho mencubit pelan pipi Taemin dan membawa Taemin masuk ke kamarnya, lalu duduk di pinggir kasur. “Mau berbagi denganku? Ada apa, eum?” Minho menggenggam kedua tangan Taemin, membuat Taemin mengalihkan pandangannya menatap mata jernih Minho.

            Kenapa kau selalu melakukan hal yang tidak pernah dilakukan Jongin padaku? Kenapa kau selalu membuatku berdebar dan… merasa nyaman….??

            “Jongin….” ucap Taemin membuka suara.

            Minho mengerutkan alisnya bingung, “Jongin? Nugu?”

            Taemin menggigit bibir bawahnya dan menghela napas berat, “Friend—my boyfriend…”

            Mata Minho membulat sempurna setelah mendengar sepenggal kata dari mulut Taemin. Satu kata yang membuat kepalanya serasa terhantam batu, dan dadanya terasa sesak. What’s wrong with you, Minho…?

            “Hyung…aku tidak tahan lagi…Jongin—dia berubah. Aku tidak mengenal lagi Jongin yang pengertian, Jongin yang mau mendengarkanku, Jongin yang…” kata-kata Taemin terputus begitu Minho memeluknya dengan erat. Membawa tubuh kecilnya ke dadanya, dan mengelus punggungnya –memberikan simpati– bahwa ia mengerti apa yang Taemin rasakan. Tidak ingin melihat namja cantik ini –namja yang telah mencuri hatinya sejak pertama ia melihatnya duduk di bangku taman beberapa hari lalu– mengeluarkan air matanya sia-sia.

            “Padahal aku mau masuk ke sekolah komik, bukan menjadi dokter. Aku menyukai hobiku, Minho hyung…tapi…huks…”

           Kalau itu aku…aku tidak akan pernah memenjarakan bidadari cantik sepertimu untuk memilih yang kau sukai. Jika itu aku….Jika aku………….bisakah?

            “Shh…I’m here…uljima…” bisik Minho. Dan ia memilih untuk diam sampai Taemin kembali tenang. Beberapa menit kemudian, tangisan Taemin yang menghiasi ruangan sunyi itu berubah menjadi sebuah isakan-isakan kecil.

            Minho melepaskan pelukannya, membekap kedua pipi chubby Taemin dengan kedua tangannya untuk menghapus sisa-sisa air mata yang mulai mengering. “Uljima, cantik…” ucapnya sambil tersenyum dan mencubit pelan ujung hidung Taemin.

            Taemin ikut tersenyum dan memukul (pelan) tangan Minho yang mencubit hidungnya. “Pabo!” gumam Taemin. Tapi Taemin merasa tenang, setelah menangis beban yang dipikulnya seolah ‘sedikit’ terangkat, karena Minho…

            “Gomawo hyung… ugh, aku pasti terlihat cengeng sekarang.” ucapnya memalingkan wajah malu.

            Minho berdecak pelan, “Dari awal kau itu memang cengeng.” timpal Minho pelan.

            “Musun soriya?!”

            “Ah, anii…” jawab Minho cepat. “Oya, cuaca hari ini cukup cerah. Mungkin bisa terlihat…” ucap Minho lebih kepada dirinya sendiri. Ia beranjak membuka kaca jendela dan mulai asyik meneropong langit luas di atas sana.

            “Mwo yaa…??” ujar Taemin ikut beranjak ke sebelah Minho.

            “Cincin saturnus.” singkat Minho.

            Taemin terdiam melihat keseriusan Minho yang tengah memainkan fokus lensa teropongnya. Berkali-kali menolehkan wajahnya menatap angkasa dan kembali menatap Minho. Entah apa yang membuatnya sangat nyaman berada di dekat namja tampan ini. Padahal mereka baru saja bertemu beberapa hari yang lalu, cukup langka baginya yang termasuk pemalu.

           “Seandainya Jongin juga bisa sepertimu, hyung….” batin Taemin yang membuatnya tiba-tiba kembali murung.

            “Ya ya ya! Sini!” pekik Minho menarik Taemin ke dekatnya. “Lihat!” seru Minho memberikan ruang untuk Taemin bisa melihat ke dalam teropongnya.

            “Eodi…waahh! Bintang berekor?!” ucap Taemin takjub.

            “Itu namanya komet…”

            Taemin mempoutkan bibirnya, “Iya…aku tahu, hyun—eh?? Wah! Itu apa hyung?! Waaahh….yeppeo da…”

            Minho ikut mengintip, membuat kepala mereka bersentuhan, “Nah…itu cincin saturnus yang ku janjikan…”

            “Yeppeo~…”

            “Isn’t it?”

            Taemin mengangguk dengan wajah berbinar senang.

            Tak lama, Minho sadar akan posisinya yang benar-benar dekat dengan Taemin, bahkan dapat dibilang ‘menempel’, cepat-cepat ia menjauh dan menetralkan detak jantungnya. Ia menatap Taemin yang tengah asyik melihat keindahan cincin saturnus di angkasa sana… “Yeppeo, eum…? Bahkan itu tidak lebih cantik darimu, Tae….” bisik Minho dan tanpa sadar ia mengusap pipi kiri Taemin, membetulkan rambut yang menutupinya dan membawanya ke belakang telinga.

            “Eum?” Taemin segera menoleh begitu merasakan sentuhan tangan dingin Minho di kulit wajahnya. “Hyung…?”

            Minho menatap mata Taemin dan seolah menguncinya, mereka pun hanya saling pandang dalam diam untuk waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya Taemin berhasil mengalihkan pandangannya dan mendorong sedikit dada Minho untuk menyadarkannya dari lamunan berkepanjangan. “Hyung? Mworagu?”

            Akhirnya Minho mengedipkan mata besarnya, dan segera menutup kembali jendela yang mulai membuat ruangan menjadi dingin karena hembusan angin malam.

            “Tidak apa-apa. Aku….”

            “Wah, sudah jam segini! Aku pulang dulu, hyung. Besok aku ke sini lagi. Terima kasih cincin saturnusnya…cantik sekali..!” Taemin segera mengambil tasnya dan menyandangkannya di bahu, lalu mengancingkan mantelnya untuk melindunginya dari udara dingin di luar sana. “Aku pulang, anny….”

            GREP

            Tiba-tiba Minho memeluk Taemin sangat erat. Menyandarkan kepalanya di lengkungan leher Taemin, menghirup aroma tubuh yang sangat manis –menurut Minho– itu dalam-dalam.

            “Hyu-…hyung?”

            “Biarkan sebentar…jebal…sebentar…saja…”

            Taemin tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya diam, dan akhirnya mengelus pelan punggung Minho di dekapannya. “Gwenchana….”

.

.

.

.

            “Jongin-ah…gomawo. Tadi filmnya bagus dan seru! Pantas saja teman-teman di kelas ramai membicarakannya.” ucap Taemin ketika mereka (Taemin dan Jongin) keluar dari gedung bioksop sehabis menonton.

            “Benar? Kalau begitu….”

            “Ne?”

            CUP

            Jongin menangkup pipi Taemin dan meraup bibir kissable yang sedari tadi menggoda Jongin untuk mencicipinya. Akhirnya Jongin tidak kuasa menahan hasrat dan godaan dari bibir namja yang dicintainya itu, lalu mulai menyatukan dengan bibirnya.

            Taemin jelas sangat terkejut, terlebih mereka berada di tengah keramaian. Namun Taemin tidak kuasa menolak. Yah, Jongin adalah namjachingu-nya… benar?

            “Mmhh…” Taemin memejamkan matanya dan merasakan dekapan Jongin semakin erat, sebelah tangannya menelusup kedalam syal Taemin dan mengelus lehernya. “Jonghhinh…”

            Jongin akhirnya melepaskan tautan bibir mereka dan mengelap ujung bibir Taemin yang basah, “You are so sweet, babe…like a candy…”

            Taemin mendorong bahu Jongin pelan dan tersenyum kecil, “Ck, aku bukan permen!”

            “Tapi kau seperti permen. Manis, babe…” Jongin mengusap kepala Taemin (yang memang lebih pendek dari dirinya) lalu menautkan jari-jari mereka dan kembali berjalan. “Kau lapar? Kita makan dulu….”

            “Boleh… aku ingin steak!”

            “Kalau begitu, kajja!”

            Taemin tersenyum. Mengeratkan genggaman jari-jari Jongin pada tangannya. Hangat…. Dia rindu dengan Jongin yang seperti ini. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak berkencan karena Jongin selalu saja sibuk belajar, belajar dan belajar.

            Tanpa mereka tahu…. Ada sebuah hati manusia yang merasa sakit melihatnya.

* * *

            “Hai, hyung…” sapa Taemin saat ia masuk ke kamar Minho.

            Minho hanya diam memandang kosong ke arah meja di hadapannya. Rasanya semangat hidupnya semakin menipis begitu mengingat kejadian tadi sore sewktu ia kembali dari mini market 24 jam di dekat taman. Taman yang menyuguhkan pemandangan yang tidak akan pernah ia lupakan. Taemin, namja cantik yang begitu ia cintai, well…katakan dia stupid. Ia tahu Taemin sudah mempunyai kekasih, tetapi…ia baru mengetahuinya setelah hatinya tercuri pergi. Lalu salahkah ia merasakan sakit sekarang? Sakit melihat kedua namja, dengan salah satunya namja cantik yang ia sukai berciuman dengan namja lain yang berstatus ‘kekasih’nya?

            Kenapa seolah takdir mempermainkan hidupnya? Hidupnya yang…terbilang singkat? Kenapa harus bertemu namja cantik ini kalau ia hanya akan merasakan sakit…?

            “Eoh? Hyung-ah…wae? Kenapa diam saja?” Taemin menghampiri Minho dan menaruh bucket bunga yang ia bawa, lalu duduk di sebelah Minho. “Mworagu?”

            Minho hanya diam memandang wajah Taemin yang memerah karena udara dingin. Membuatnya semakin manis di mata Minho. Dan di sisi lain, Taemin sungguh berdebar di tatap oleh mata besar Minho yang sangat…indah. Yah, indah seperti cincin saturnus…

            “Minho…hyun-?”

            CUP

            Minho menangkup pipi Taemin dan menautkan bibir mereka menjadi satu. Membuat tubuh Taemin menegang karena terkejut. Bibir Minho terasa sedikit kasar karena kering dan juga sangat dingin. Benar-benar berbeda dengan bibir Jongin yang ia rasakan sebelumnya. Tapi entah apa yang membuatnya tidak bisa melepaskan tautan itu, untuk beberapa saat.

            “Jongin….” bisik Taemin, membuatnya tersadar dan mendorong tubuh Minho tetapi Minho semakin mendesaknya. “Lepaskan… Mmh …Minho hyung!” Taemin berusaha memberontak dan memukul bahu Minho untuk minta dilepaskan. Tapi seolah tidak mendengar, Minho malah melumat bibir Taemin dan menarik dagu Taemin agar dapat memasukkan lidahnya ke dalam mulut hangat si namja cantik yang jelas membuatnya menjadi gila.

            “Hent…ti…henti..kan!”

            “Saranghae…Tae….”

            PLAK

            Dan Taemin akhirnya berhasil memukul sisi wajah Minho sehingga membuat tautan bibir mereka terlepas, lalu Taemin mendorong tubuh Minho hingga terduduk di pinggir tempat tidur. “Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau lakukan ini?! Eoh?!” Taemin mengusap bibirnya dengan lengan baju yang ia pakai. Dan tidak bisa dipungkiri, Taemin menangis dan hendak beranjak pergi tapi tangan Minho lebih dulu menggapai tangan Taemin untuk menghentikannya.

            “Saranghae.”

            Taemin terdiam, air matanya masih mengalir di pipinya dan ia membiarkannya begitu saja. Otaknya kini dipenuhi dengan tanda tanya. Apa yang baru saja terjadi? Kenapa bisa begini?

            “Hyung….ku pikir kau teman yang baik.”

            “Tae….”

            “Tapi ternyata kau hanya memanfaatkanku! Setelah menciumku lalu apa? Memperkosaku, eoh? Kau pikir aku ini mainan?! Kau tidak memikirkan perasaanku!”

Minho bangun dan memeluk Taemin dari belakang tapi Taemin terus berontak meminta dilepaskan. Ini sangatlah tidak benar…pikir Taemin saat itu.

            “Tolong dengarkan aku kali ini saja….” bisik Minho di telinga Taemin. Minho memeluk Taemin erat dan menaruh dagunya di pundak namja cantik itu.

            Untuk waktuku yang tidak akan lama lagi….

            “Bintang bersinar seperti matamu yang kulihat pertama kali di taman saat itu. Membuatku lupa caranya untuk berkedip karena takut kehilangan pemandangan indah yang tengah kunikmati dengan hatiku yang telah tercuri. Bulan yang setia menemani malam seperti aku yang selalu menunggu kedatanganmu di sini. Udara yang kuhirup, selalu mengingatkanku untuk terus bernapas agar dapat bertemu denganmu. Bahkan malam-malam yang mengerikan selalu menghantuiku di setiap detik hidupku, jika aku memejamkan mata…aku tidak akan bisa lagi membukanya…untuk melihat…orang yang telah membawa pergi hatiku. Salahkah aku memintanya bertanggung jawab? Bisa…kau…kembalikan hatiku…??”

            Taemin hanya diam menyimak perkata yang terucap dari bibir namja tampan yang kini memeluknya erat. Hangat napasnya terasa menggelitik di wajah dan tengkuk Taemin.

            “Kalau kau tidak bisa…biarkan aku…mencintaimu…Taemin-ah…” Hingga disisa akhir napasku aku hanya akan menghembuskan cinta untukmu…..

            “Andwae.”

            Taemin melepaskan tangan Minho yang memeluk tubuhnya secara perlahan, dan berbalik menatap wajah Minho yang terlihat sangat pucat. Bibirnya yang membiru…mungkin karena udara yang dingin malam itu, pikir Taemin.

            “Aku…bersama Jongin.”

            “Tapi dia tidak mengerti dirimu?! Bukankah kau selalu bercerita kalau dia selalu memaksakan dirimu untuk menjadi dokter dan tidak mau mendengar bahwa kau ingin menjadi penulis komik?!”

            “Tidak! Jongin telah kembali, hyung. Jonginku telah kembali. Dan aku…mencintainya. Dia melakukan itu karena itu adalah yang terbaik untukku!”

            DEG

            “Lalu…apa kau akan melepas mimpimu…menjadi seorang penulis komik? Kau akan melepaskannya?”

            “…….” Taemin terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Benarkah ia akan melepaskannya??

            “Kalau itu aku. Aku akan membiarkanmu memilih yang terbaik untuk hidupmu, bahkan jika aku tidak ada di dalam pilihan itu.”

            Diam. Yang bisa Taemin lakukan hanya diam. Kata-kata Minho entah mengapa…sangat menyentuh di relung hatinya.

            “Mimpi bukanlah sesuatu yang harus di lepaskan tetapi harus di raih sekuat tenaga manusia mencoba meraihnya. Aku tahu, mungkin mimpi Jongin adalah ingin bersamamu…tapi ia lupa…ia lupa bahwa kau pun mempunyai mimpi.”

            DEG

            Suasana hening beberapa saat. Hingga Taemin akhirnya mengeluarkan suaranya, dan pergi.

            “Omong kosong.”

            Meninggalkan Minho yang terpaku di ruangannya. Sendiri.

            Dalam hati Taemin berbicara dengan mantap, “Aku tidak mau bertemu denganmu lagi, Minho hyung. Selamat tinggal.”

.

.

.

.

            Hampir dua minggu lamanya Taemin tidak pernah datang ke klinik dimana Minho dirawat. Walau Taemin tidak bisa berbohong, kata-kata Minho masih segar terngiang di otaknya bahkan ia jadi sering melamun. Kalimat yang Minho ucapkan adalah benar adanya. Ia mempunyai mimpinya sendiri, tapi….

            “Hai, babe.” Jongin menghampiri Taemin yang sedang duduk di bangku perpustakaan –tempat favoritnya– dan mencium pipinya.

            Taemin menoleh, “Jongin…”

            “Wae? Kenapa kau sering melamun, eoh? Ujian akhir tinggal 4 hari lagi, sayang…kau ingat?”

            Taemin menghela napas dan mengangguk, “Ne…”

            Untuk saat ini, sebaiknya ia memang harus fokus dengan ujian akhirnya, dan lulus agar dapat masuk ke universitas. Atau…ke sekolah komik?? *sigh*

* * *

            “Yeiy!! Lulus! Kita lulus, Jongin!!” pekik Taemin melompat kepelukan Jongin (yang dengan senang hati menangkap tubuh kecilnya) dengan senyum trekembang di wajahnya.

            “Ne, babe. Chukkae~” Jongin memutar tubuh Taemin lalu mencium kilat bibirnya.

            “Ne, Chukkae~” balas Taemin mengeratkan pelukannya di tubuh Jongin.

            “Hai, Kai…Tae… Chukkae~” ucap Luhan yang datang menghampiri kedua sejoli itu.

            “Luhan, Chukkae~” sahut Taemin riang dan Jongin hanya tersenyum mengacungkan ibu jarinya.

            “Kita karaoke, otte?” usul Luhan, dan akhirnya mereka bertiga pergi merayakan kelulusan mereka.

*  *  *

            A few days later…

            “Jongin, bisa tolong pos-kan komikku? Aku harus ke incheon secepatnya. Hyung-ku akan menikah jadi ada pertemuan keluarga. Dan hari ini hari terakhir pengiriman. Jebal, Jongin-ah…” mohon Taemin ketika menelpon kekasihnya itu.

            “Babe…aku..aku harus ke tempat les sekarang.”

            Semangat Taemin langsung memudar, “Bisakah mampir ke rumahku dan mengambil komikku lalu kau ke tempat les? Tempat les-mu melewati kantor pos, eoh?”

            “Aku…aku sedang di rumah Luhan. Rumah Luhan berbeda arah denganmu, babe. Akan memakan waktu…”

            “Jongin-ah…” ucap Taemin menggigit bibirnya kesal.

            “Mianhae, babe. Aku….”

            Hening beberapa saat, dan akhirnya Jongin menghela napas, “Oke, aku akan ambil ke sana. Taruh saja di tempat biasa.”

            Taemin langsung tersenyum senang, “Benarkah? Kau mau?”

            “Iya sayang….nah, aku akan berangkat sekarang. Hati-hati di jalan, oke?”

            “You too! Hati-hati, Jongin-ah…gomawo.”

            “Ne…”

*  *  *

             “Jongin! Bagaimana…bagaimana bisa, eoh?! That’s my last…my last chance, Jongin… wae..??”

              “Mian…aku…”

              “Huks, wae Jongin?! Huks….”

Jongin menelan ludahnya. Ia tahu ia salah dan semakin merasa bersalah saat melihat namja cantik itu menangis, karenanya.

              “Mian…mungkin lain kali?”

              “Lain kali?! Itu batu loncatan bagus untukku, Jongin. My chance!”

              “Mian, tadi Luhan…”

              “Fine! Terserah apapun alasanmu. Seharusnya dari awal kau bilang tidak bisa jadi aku mungkin bisa mengejar waktu untuk mengirimnya dulu walau kemungkinannya kecil, tapi aku akan mengusahakannya! Tidak sepertimu yang… sama sekali tidak pernah mau menghargai karyaku! Yah…aku baru sadar sekarang. Kau tidak pernah mau mengertiku!”

               Lalu Taemin berlari pergi meninggalkan Jongin. Berlari bersama hatinya yang sakit menuju suatu tempat yang sudah sangat dihapal oleh kakinya.

               Dan disinilah ia…. Klinik St. Louise…

               “Tae…?” gumam Minho dari jendela kamarnya begitu melihat Taemin duduk di bangku taman yang tepat menghadap kamarnya itu.

                Dan tak lama ia melihat seorang namja yang berlari menghampiri Taemin, dan mereka terlihat tengah berbicara serius. Beberapa kali Taemin mendorong tubuh namja tinggi lainnya agar menjauh, dan Minho sadar…Taemin menangis.

                “Anii, Jongin…aku sadar. Sekarang aku tahu.” ucap Taemin di tengah isaknya.

                “Babe…mian, uljima…”

                “Jongin, dengar aku….”

                “Babe…”

                 Taemin membawa jari telunjuknya di depan bibir Jongin, mengisyaratkan namja tampan itu untuk diam. “Kau tahu? Sudah lama aku…merindukan Jongin-ku yang dulu. Jongin yang mau mendengarkanku, Jongin yang mau mengertiku, Jongin yang ada saat aku membutuhkannya…tapi…sekarang Jonginku sudah bukan Jongin yang dulu…”

                “Kau pun….bukan lagi Taeminku yang dulu.”

                 Mata Taemin membesar menatap Jongin tidak mengerti, “Musun?”

                 “Yah, Taeminku yang ceria, Taeminku yang memiliki mimpi.”

                  Keduanya terdiam. Tenggelam dengan pikiran masing-masing sampai akhirnya Taemin memecah keheningan, “Aku memiliki mimpi Jongin…tapi kau terlalu berambisi dengan mimpimu sendiri, dan kau melupakan mimpiku.

                  Jongin menatap Taemin yang kini merebahkan tubuhnya duduk di bangku satu-satunya yang ada di taman itu.

                  “Kau pasti sadar, kan… kita berbeda. Aku mempunyai mimpi, dan kau juga mempunyai mimpi. Maafkan aku karena aku mengikatmu dengan janji masa lalu. Aku saat itu benar-benar tidak berpikir bahwa aku ingin menadi seorang dokter. Aku hanya kagum, dan kemudian aku rasa dokter sangatlah keren. Sehingga aku mengatakan aku ingin jadi dokter, tapi kau tahu? Bahkan perkataanku itu sudah kulupakan keesokkan harinya….”

                  Jongin menarik napas dan duduk bersebelahan dengan Taemin lalu menatap langit, tersenyum. “Neh…aku tahu. Bukan kau yang mengikatmu, tapi aku yang mengikatmu, kan?”

                  Taemin ikut menatap langit, “Tidak Jongin…aku tahu aku salah karena dulu aku sudah berjanji akan bersama dengamu selamanya.”

                  “Ne…tapi kau masih bisa menepatinya, Tae…”

                  “Hm?”

                  “Kau bisa menjadi sahabatku selamanya…”

                   Taemin menatap Jongin yang juga menatapnya sambil tersenyum, “Kita akan bersahabat. Seperti dulu. Selamanya….can we?”

                   Mata Taemin berkaca-kaca menatap wajah tampan Jongin yang tersenyum padanya, “Sure Jongin.” Taemin mengangguk dan memeluk Jongin. “Kita akan terus bersahabat. Seperti dulu…selamanya…”

                   “Selamanya…” dan mereka berpelukan dengan erat sambil tersenyum lega.

                   Mereka memang saling mencintai dan menyayangi, namun mereka sadar, kedekatan mereka lebih terasa ketika mereka menjadi sahabat dari pada setelah mereka menjalin kasih. Sejak awal Jongin tahu itu, karena ia belum pernah mendengar Taemin mengatakan ‘cinta’ padanya.

                   “I love you, Jongin…”

                    Tidak sampai akhirnya mereka kembali menjadi sahabat…..

.

.

.

.

                      Sebulan kemudian, Taemin memantapkan hati untuk mengambil sekolah komik, dan Jongin yakin untuk masuk universitas dan meneruskan mimpinya untuk menjadi dokter. Kini Jongin, atau yang akrab dipanggil Kai mencoba menjalin cinta dengan orang yang ternyata selama ini selalu ada bersamanya tanpa ia sadari, yah…Luhan. Kini ia dan Luhan berpacaran dan Taemin sangat lega melihat kebahagiaan mereka. Yah, Jongin atau Kai adalah sahabatnya selalu…selamanya…

                        Sore itu Taemin sedang duduk di sebuah halte bis menanti bis datang untuk pulang setelah seharian suntuk membuat komik di perpustakaan umum, sampai akhirnya ada dua orang anak kecil yang datang menghampirinya.

                        “Noona…”

                         Eoh?!

                         Taemin menoleh menatap dua anak laki-laki yang hampir menangis dihadapannya.

                         “Noona…kenapa noona tidak pernah datang ke klinik lagi? Kenapa noona tidak menemui Minho hyung lagi?”

                          Taemin mengedipkan matanya bingung, “Dik…aku bukan noona. Aku namja jadi kalian panggil aku hyung, arracchi?”

                          “Huhuhuhu….” Tiba-tiba salah satu dari mereka menangis.

                           “Wa-wae? Dik…kau kenapa?!” panik Taemin, berlutut agar sejajar dengan anak yang berdiri sambil menangis itu.

                            “Hyung cantik… datanglah ke klinik, hyung…” ucap anak yang lain.

                             “Ta-tapi…kenapa tiba-tiba…? Ada apa, eum?”

                             “Minho hyung menunggu kedatangan hyung cantik…” isak anak yang menangis, “Ayo hyung, kita ke klinik…” ajak anak itu sambil meraih tangan Taemin dan mencoba membawa Taemin pergi bersamanya.

                             “Mwo-mwoya…??” Taemin menghentikan langkahnya dan otomatis anak tadi ikut terhenti, “Bisa tolong jelaskan padaku, ada apa sebenarnya?”

                              Anak yang tidak menangis akhirnya mulai bercerita pada Taemin, “Sejak hyung pergi malam itu, Minho hyung tidak pernah main lagi bersama kami, bahkan keluar kamar pun tidak. Keadaanya sudah…” anak itu menggigit bibirnya tampak ragu untuk mengatakan lebih lanjut.

                             Membuat Taemin semakin bingung, dan akhirnya ia mengalah karena tidak tega melihat kedua anak itu sudah mau mencarinya, “Oke…nanti kalau sempat hyung akan mampir ke sana. Kalau sekarang hyung sibuk…banyak tugas yang harus…”

                            “Kalau menunggu terlalu lama nanti bisa-bisa tidak sempat lagi bertemu.” Tiba-tiba anak yang menangis tadi memotong perkataan Taemin.

                            “Tida sempat? Maksudnya…?”

                            “Minho hyung…Minho hyung akan meninggal.”

                            Taemin tersentak kaget, “Meninggal?!”

                            “Ne…waktu itu aku mendengar obrolan umma dengan dokter… katanya umur Minho hyung tidak akan lama lagi karena jantungnya semakin lemah.” Anak yang sedari tadi tegar akhirnya megeluarkan air matanya namun cepat-cepat ia hapus dengan lengan mantelnya.

                           Taemin benar-benar bingung dan juga syok. Ia tidak tahu kalau Minho mengidap sakit yang sangat parah. Yah…ia tidak pernah tahu Minho sakit apa sehingga ia harus dirawat di sana…bahkan Taemin baru sadar. Ia tidak pernah tahu mengenai keadaan Minho, maupun masalahnya.

                           Astaga Taemin! Kau benar-benar….ck, kau sebut dirimu teman, eoh? Bahkan kau sama sekali tidak pernah tahu apa yang tengah Minho rasakan selama ini. Setiap ada masalah Taemin memang selalu datang pada Minho untuk berbagi cerita dengan namja tampan itu, tanpa pernah sekalipun Minho bercerita balik tentang hidupnya….

*  *  *

                            “Minho…hyung?” Taemin membuka pintu kamar rawat Minho.

                            “Tae…min…” Minho tertegun, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mungkin kali ini pun hanya bayangan? Hanya mimpi yang selalu membiaskan Taemin dihadapannya?

                             “Hyung…” Taemin berjalan masuk dan mendekat, berdiri diam di ujung tempat tidur Minho.

                              Merasa bahwa ia tidak bermimpi, Minho bangkit dari posisinya, “Taemin…kau…kenapa tidak datang lagi? Kenapa kau tidak pernah menemuiku lagi? Padahal…aku menunggumu…aku selalu menunggumu, Tae…”

                               Tapi Taemin hanya terdiam menggigit bibir bawahnya. Menatap figure Minho yang sangat kurus, lebih kurus dari terakhir kali ia melihatnya beberapa bulan yang lalu. Taemin baru menyadari betapa pucat namja tampan itu.

                                “Eoh,…teropongnya jatuh?!” pekik Taemin saat melihat teropong itu berada di lantai.

                                “Biar saja.” Cegah Minho.

            “Eh?”

             “Benda itu hanya menyimpan kebohongan! Jadi biar saja dia hancur!” Minho merebutnya dari tangan Taemin dan melemparnya ke dinding hingga hancur. “Kenapa…aku harus percaya keajaiban….? Benar, itu semua omong kosong!” teriak Minho.

               “Hyung…” Taemin terdiam melihat teropong yang hancur tadi, memandang sedih teropong yang Taemin tahu, menyimpan mimpi-mimpi Minho.

                 “Sejak awal, masa depankku memang tidak ada. Teropong itu bohong!” ucap Minho bersandar di pinggiran jendela menatap langit malam itu yang sangat cerah bertabur bintang.

                  “Padahal aku ingin mempercayainya…aku…ingin percaya bahwa aku mempunyai masa depan.” Minho berkata pelan sambil menunduk menatap ujung kakinya yang terasa dingin menyentuh lantai kamar rawatnya.

                  “Hyung….” Taemin bergumam memandang punggung lebar di depannya. Memandang sosok yang selama ini, walau sebentar, selalu mendengar keluh kesahnya, selalu memberikan semangat padanya untuk meraih mimpi hingga ia bisa memutuskan untuk sekolah komik seperti sekarang.

                   Dan diam-diam Taemin keluar dari kamar itu menuju jendela luar.

                  “Hyung! Ayo kita lihat bintang!” Taemin muncul tiba-tiba di luar jendela.

                   Minho terdiam karena sedikit terkejut.

                   “Ayooo…” ajak Taemin lagi.

                    Mereka berdua akhirnya berjalan melihat bintang yang bertebaran di langit malam itu.

                    “Kalau mau melihat bintang, akan kutunjukkan tempat yang bagus.” Ajak Minho menggenggam tangan Taemin dan berjalan menuju belakang klinik yang ternyata sedikit berbukit.

                     Setelah mereka tiba di bukit, Minho merebahkan tubuhnya di tanah bersalju. Walau dingin, tapi ia merasa cukup nyaman. Dan Taemin duduk di sebelahnya.

                      “Hidup itu…indah, ne?” ucap Minho tiba-tiba.

                       Taemin memandang Minho dengan mata berkaca-kaca. Yah, sejak tadi Taemin susah payah menahan airmatanya agar tidak jatuh.

                        “Aku mempunyai mimpi….tapi sayangnya aku tidak mempunyai kesempatan untuk meraihnya…”

                        “Hyung…”

                        “Oleh karena itu, aku sangat kesal pada orang-orang yang dengan mudahnya menyerah padahal ia belum mencobanya. Belum mencoba sekuat tenaga yang ia bisa…”

                         Setitik air mata lolos turun ke pipi Taemin.

                        “Hei, uljima…kenapa menangis, eoh?” Minho bangkit dan menangkup pipi Taemin, menghapus air mata yang membuat wajah Taemin memerah.

                         “Apa yang kau tangisi, eoh? Aku masih di sini, kan? Uljima…” ucap Minho lagi.

                         “Aku…aku malu, hyung. Kau selalu bersemangat dan juga tidak lelah menyemangatiku yang tengah bimbang memilih masa depanku…”

                         Minho kembali merebahkan tubuhnya, “Kau tahu…dulu aku pernah berkata kalau dengan teropong bintang itu, aku bisa melihat masa depanku….sekarang kau mengerti, kan?”

                         “Hyung…hentikan…jangan teruskan…” isak Taemin.

                         Minho menghela napas dalam, “Aku…selama ini berusaha hidup seperti manusia pada umumnya, bersemangat…dan mempunyai mimpi. Tapi terkadang, jika aku teringat akan penyakitku, aku mulai merasakan takut memikirkan masa depanku. Apa aku bisa mencapainya, atau…”

                         “Hyung!”

                         “Satu hari hidupku, kuanggap bonus dari Tuhan untukku…”

                           Taemin menggenggam tangan Minho erat, “Hyung, tetaplah bertahan hidup. Ku mohon….”

                           Minho bangkit dan duduk di sebelah Taemin, “Mianhae…”

                           Taemin semakin terisak dan menggelengkan kepalanya. “Mianhae, Tae…” tiba-tiba Taemin mencium bibir Minho yang sangat pucat. Menciumnya cukup lama, lalu memeluknya dengan sangat erat.

                           Tidak mau kehilangannya…tidak mau…jangan…

                           Yah, mungkin Minho baru bisa meraih mimpinya di kehidupan yang akan datang. Karena malam itu……Minho meninggal di pelukan Taemin.

                          Hyung…bahkan kau belum menceritakan padaku tentang mimpimu…..

.

.

.

.

Mimpi bukanlah sesuatu yang harus di lepaskan tetapi harus di raih sekuat tenaga manusia mencoba meraihnya.

 

Fin.

.

.

.

.

.

.

    [Epilogue]

            5 tahun kemudian…

            “Hai, Tae…” sapa Luhan ketika mereka bertemu di sebuah kafe di Tokyo.

            Semenjak Taemin lulus dari sekolah komik, ia memutuskan untuk meninggalkan Korea, menuju negara yang sangat terkenal dengan komik-komiknya yang mendunia. Dan ia menjadi asisten salah satu manga-ka (penulis komik) terkenal. Walau ia yakin, suatu saat dia akan bisa menerbitkan karya-nya sendiri.

            “Luhan! Astaga…apa kabar? Kau sendiri?”

            Luhan menggeleng, “Bersama teman. Boleh aku duduk di sini?”

            Taemin mengangguk dan membereskan kertas yang sedang ia kerjakan.

            “Sudah lama sekali….” ucap Taemin antusias, “Kau sudah jadi dokter?”

            Luhan tersenyum melihat Taemin kembali ceria. Karena sebelumnya Taemin terlihat sangat terpukul dan menjadi pendiam. “Aku co-ass di sini. Bersama….”

            “Chagii…” panggil suara yang sangat familiar di telinga Taemin. Membuat Taemin menoleh dan membulatkan matanya terkejut.

            “Jongin?!”

            “Taemin??”

            Akhirnya mereka bertiga duduk bersama dan berbagi cerita selama 5 tahun terakhir mereka tidak berjumpa.

            “Kau semakin gendut, Tae.” Goda Jongin.

            “Ya! Aku tidak gendut! Aishh…” Taemin berpura-pura akan memukul Jongin, membuat Luhan tertawa melihat kedua sahabat ini.

            “Kau jahat sekali. 5 tahun tidak memberi kabar pada sahabatmu ini, eoh?” Jongin menarik gemas hidung Taemin membuat namja cantik itu meringis dan cepat-cepat menepisnya.

            “Ck, maaf ya. Aku orang sibuk.” Balas Taemin memerongkan lidahnya sambil mengusap hidungnya yang memerah karena ulah usil Jongin.

            Jongin hanya berdecak sebal, tapi dalam hati ia mensyukuri bahwa Taemin-nya sahabatnya telah kembali seperti Taemin yang ia kenal. Ceria dan juga sedikit cerewet.

            “Chagiiya…temanmu belum datang?” tanya Luhan memecah lamunan Jongin.

            “Oh? Ya…sepertinya sebentar lagi.”

            “Siapa?” tanya Taemin.

            “Maaf, aku telat.” Tiba-tiba seorang namja bertubuh tinggi tegap menghampiri meja mereka. Jongin menoleh dan tersenyum begitu tahu teman yang ia tunggu sedari tadi telah datang.

            “Hey, tidak apa-apa. Minho…kenalkan ini Luhan, pacarku dan…”

            PRAK

            Ice coffe yang tengah Taemin minum, terjatuh ke lantai. Taemin benar-benar terkejut melihat sosok di hadapannya. Sosok yang sangat mirip dengan… “Minho…hyung…?”

.

.

.

.

Aku percaya, di dunia ini, orang yang memiliki nama yang sama, sangatlah mungkin.

Orang yang memiliki wajah yang cukup mirip satu dengan yang lain, adalah mungkin.

Tapi….apa yang membuatku terperangah tidak percaya adalah ketika aku melihat, bahwa di hadapanku kini…berdiri sesosok namja dengan wajah dan nama yang sama dengan namja yang pernah ku kenal di masa lalu……

Choi Minho~

-Lee Taemin

 Reach your sky, if you can dream it…you can make it.

By: Kei Love Taemin  ♥(*¯︶¯*)♥

81 thoughts on “[1s] 2Min – Reach Your Sky

  1. Aku tau nih cerita komiknya…..emang sedih banget sih ni cerita…ngerasa nyesel banget gtu jd pihak si tetem.tpi lmayanlah dgn adanya sekuel diatas, jd tetem bisa melihat sosok si menong lgi, walau blm tau bakal jadi atw ngga sama menong tmn jongin itu#mengapa sekuelmu menggantung bgtuh thor (˘̩̩̩.˘̩ƪ)

  2. Epiloge nya menggantung sekali Kei eonnie… Bikin after storynya dong…. Aku suka ceritanya….

  3. nyesek wehh si minho aduhhh ksian si tetem,bagusnya di tambah lagi thor gimana pas temin ketemuan ama minho.. iya nih kegantung banget T^T yg sabar nehh chagiyaa *bicara sama taemin* haha

  4. Sedih liat mino-nya gitu, andai aja taem-nya cepet2 ninggalin jongin, biar tae bisa ama mino terus kaaaannn huweeee TT____TT
    tapi tapi seneng ada minho kedua (?) ehehe jangan2 mino mati suri yeee? /plak
    Aaaaa semoga choi minho temennya jongin, bisa jatuh cinta ama taem sperti minho di masa lalu kekekeke :3
    nice story kei eonnie ^^

  5. DAEBAAAK APPAAAAA KEI TTT_____________TTT
    NYESEK INI BANGEEEET AMPE SESEGUKAN HUKS HUKS(?)
    MINHOOO TAEEEE

    AKU MAU SEKUEELNYA APPA#Plak

  6. kyyyyaaaa tega amat author c mingnya d buat mati…. skalipun ada minho yng lain kan ttp bda T.T

  7. Wah…. Thor bikin nangis…. T^T….. Tapi diakhir aku gak ngerti… Minhonya… Hidup lagi? Tapi masa kan minho udah meninggal di pelukan taemin….

  8. Huwaaaaaaaa minhokuuuuuuuuuu 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
    Pertamanya sebel ih soalnya taemin pacaran sama jongin!!!
    Mana cinta minho bertepuk sebelah tangan lg -_- ck
    Terus minho meninggal….
    Huwaaaaaaaaa nangis deh aku nangiiiiiiissssss 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
    Butuh sequel ini mah, sumpah!! 😣😣😣😞😞

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s