[Minkey,Jongkey,Onkey – Oneshoot] Past Present Future … Forever


past-present-future

Tittle : Past Present Future … Forever

Pairing : Minkey – MinhoxKey, Jongkey – JonghyunxKey, and Onkey – OnewxKey. Slight! 2min

Another Cast : Jibum (AOC) , and Hyoyeon SNSD

Lenght : Oneshoot

Genre : romance, angst, sliceoflife, fluff, family, friendship

Rate : Pg-13

Author : SannKeylicious~

Present~

“Key …”,

Ia menoleh, dan melihat sosok yang tidak pernah ia lupa sebelumnya berjalan ke arahnya, dulu sampai saat ini masih sama, ia masih bersosok tinggi, hanya saja, saat ini lebih atletis, dan tentu saja, sosoknya masih membuat semua mata yang datang pada reuni itu menuju pada nya, pada mereka berdua, semua orang tahu siapa mereka dulu, dan masih jelas mungkin diingatan mereka siapa Key … dan siapa Minho itu.

“Hai … Minho.”, ia hanya bisa menjawab seceria mungkin, menunjukan senyum terbaiknya, menutup luka lama yang dulu sudah lama sekali terkubur dan terutup rapat jadi terbuka dan mengingatkannya kembali.

Dan disanalah ia hampir saja tidak melihat sosok yang lain yang berjalan di belakangnya, tangan kekarnya masih saja setia menggenggam tangan mungil itu, sosok yang sekarang lebih terlihat lebih tinggi, hampir sama dengan Minho, dan lebih masculin. Namun, ia masih tidak pungkiri, sosok itu masih tetap terlihat cantik sama seperti dulu.

“A-annyeong … Key-Hyung …”, ucapnya menunduk memberikan salam, meski sudah lama ia memaafkan sosok itu, ia tidak bisa memungkiri jika melihatnya lagi membuat emosinya naik, namun ia tahu, ia tidak bisa membawa masalah yang lama sudah lalu kembali lagi, tidak ketika itu sudah berlalu selama 5 tahun lamanya.

“Annyeong … lama tidak bertemu , Minho … Taemin …”, ucapnya tersenyum, tersenyum sebaik mungkin. Dan ia bisa rasakan semua mata teman-teman SMA nya yang memang tidak pernah tahu apapun menatap mereka dengan bingung, dan tidak lama mulai berbisik-bisik tentang mereka.

“Kau apa kabar?”, tanya Minho padanya, ia tersenyum dan berdecak, bersikap layaknya Key yang banyak bicara.

“Baik, kau tidak lihat, kau tidak kenal siapa aku memangnya?”, decak Key, Minho hanya terkekeh dan menarik nafasnya.

“Aku bisa lihat, siapa yang tidak kenal dengan Kim Key , designer muda yang mempunyai lebih dari 15 butik di Seoul, dan bahkan katanya sudah mulai merancah ke dunia luar?”, tanyanya. Key hanya mencibir karena pujian yang berlebihan dan memukul lengan Minho pelan. Sebelum ia dikejutkan dengan suara Taemin yang memotong pembicaraan mereka.

“Mian, aku sepertinya lapar, aku mau berkeliling dulu yah melihat makanan?”, tanya nya pada Minho, Minho tersenyum dan mengelus kepala nya sayang, hal yang jarang dulu Minho lakukan padanya,

“Neh, kau jangan kemana-mana, kalau kau bingung mencariku dimana, hubungi aku saja yah?”, ucapnya mengelus pipi Taemin, pemandangan itu membuat Key menarik nafas dan melihat ke bawah sepatunya.

“Aku bukan anak kecil.”, Taemin mencibir, “Key Hyung … aku tinggal dulu yah?”, tanyanya, Key mendongak dan hanya melambai setelah bilang ia harus berhati-hati. Jujur saja, ada atau tidak ada Taemin tetap saja membuatnya terganggu dengan adanya Minho, apa lagi sekarang mereka tinggal berdua.

“Selamat yah …”,

“Huh?’, Key mendongak dan melihat Minho tersenyum padanya,

“Iya, selamat atas pencapaian karirmu , itu bukannya impianmu dari dulu? Dan akhirnya kau berhasil mewujudkannya …”,ia tersenyum akan ucapan Minho. Benar, sepertinya Minho masih ingat tentang impian-impiannya. Hanya saja, mungkin Minho sudah melupakan mimpinya untuk hidup bersama Minho …

“Kau tahu kan bahwa aku tidak cuma omong kosong? Makanya, seharusnya dulu kau berhenti meledek ku. Jadi, sekarang kau menyesalkan bahwa aku lebih hebat dari mu?”, bukannya ia tidak tahu, Minho sama suksenya dengan dirinya, Minho merupakan salah satu CEO dari sebuah perusahaan otomotif di Korea.

“Mian, sepertinya aku tidak begitu menyesal, karena setidaknya aku juga seorang CEO …”, decaknya, Key hanya mendengus dan membuang mukanya ke arah lain.

Minho memberikan sebuah minuman pada Key dan membawanya berjalan kesisi ruangan yang terdapat kaca besar dan lebih terisolasi dari keramaian. Mereka diam sejenak , meneguk minumannya masing-masing dan menatap keramaian didepannya.

“Aku … aku tidak tahu bahwa aku akan bertemu denganmu akhirnya disini, ketika aku memutuskan untuk akhirnya pergi ke acara ini …”, ucap Minho pelan.

Key menoleh, mencoba menangkap maksud ucapan Minho, ia menatap Minho sejenak dan mengerutkan alisnya. “Key …”, Minho menatap ke arahnya. “Aku minta maaf, aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah kulakuan dulu padamu,saat ini pun, aku masih berharap kau mau memaafkanku …”, ucapnya akhirnya, disanalah titik yang tidak mau Key hadapi, membuka lagi luka lama itu.

Key membuka mulutnya, dan kemudian menutupnya lagi. Apakah ia sudah memaafkan Minho? Benarkah ia benar-benar sudah memaafkan namja itu yang sudah membuat hatinya sakit saat itu? Membuat tingkat kepercayaan dirinya pada sebuah kata cinta berkurang. Membuatnya sulit untuk percaya pada kata-kata manis orang lain yang bersedia memberikan cinta baginya, cinta yang mungkin tulus. Membuat dirinya berpikir, apakah bisa ia percaya pada orang lain lagi untuk memenuhi sebagian hatinya? Setidaknya percaya bahwa ia akhirnya bisa mencintai orang lain lagi.

Dan … apakah ia memang yakin benar-benar bisa memaafkan Minho, ketika ia memutuskan untuk pergi ke acara reuni itu padahal jelas ia tahu bahwa ia akan bertemu dengan Minho, dan mengingat kembali semua kenangan yang mereka lewati masa SMA.

.

.

Past~

“Gwencana?”,

Saat itu sudah kesekian kalinya ia terjatuh dan pada kesempatan yang sama pula ia bertemu dengan namja bersenyum jahil itu. Matanya menatap ke arah Key seperti menggodanya, dan dengan kibasan sedikit poninya yang berada di keningnya membuat Key berpikir bahwa namja itu benar-benar cari perhatian Key.

“Gwencana!”, ucapnya kesal dan mengambil semua belanjaannya yang jatuh dari tangan namja itu dan berdiri siap untuk naik tangga menuju kamar apartemennya.

“Sudah sering bertemu kau masih saja bersikap kasar padaku? Apa kau tidak pernah di ajarkan untuk mengucapkan terima kasih pada orang lain yang selalu menolong mu selama ini?”, tanyanya.

Key menoleh dan menatap kesal ke arah namja yang sudah tersenyum usil itu, Key tidak suka sekali dengan sikap belagunya, dan juga cengiran yang ia berikan pada Key. Bahkan, Key tidak suka bagaimana namja itu bisa sekali membuatnya jengkel, melihat sosoknya yang tidak lebih tinggi dari Key saja membuatnya kesal.

“Sudah selama 2 bulan aku tinggal bersebrangan dengan kamarmu, tapi kita tidak pernah berkenalan secara resmi …”, ia mendekat ke arah Key, mengambil paksa belanjaannya dan menekan tombol lift yang sudah terbuka. “Kau tidak mau masuk? Lebih cepat naik lift, dan kau tidak perlu berat-berat bawa ini kan? aku dan lift ini bersedia mengurangi bebanmu …”, ucapnya tersenyum. Key tahu sebenarnya tidak sopan marah pada orang yang berniat baik padamu. Dan, sepertinya ia tidak punya alasan untuk marah, namja itu hanya mencoba membantu, dan ia tidak bermaksud jahat, jadi, kenapa ia harus merasa terganggu hanya dengan sikapnya yang suka cengar-cengir dan tersenyum jahil itu?

“Hei … mau tidak?”,

Key akhirnya menarik nafas dan masuk kedalam lift yang juga disambut oleh senyum jahil namja itu. “Aku Jonghyun, Kim Jonghyun …”, ucapnya. Key menoleh dan berdeham.

“Aku K—“

“Key … aku tahu, meski namamu di pintu tertulis Kim Kibum, aku tahu kau biasa dipanggil Key …”,

“Kau fans ku yah? Dari mana kau tahu aku dipanggil Key?”, tanya Key mulai merasa takut dengan namja disebelahnya, bagaimana tidak, ia hanya bertemu karena dalam kondisi ketidak sengajaan, dan ia sudah tahu siapa nama panggilannya.

“Ani … aku mencari tahu …”

“Hah?’, membuatnya lebih takut lagi.

“Kau harus mencari tahu apapun itu tentang orang yang kau suka kan?”,

“HAH?”, kali ini Key benar-benar tidak percaya dengan pendengarannya. Namja itu hanya keluar dari lift dan tersenyum padanya.

“Ck, kau tidak cuma galak yah? Ternyata pendengaranmu juga terganggu, aku tidak percaya aku suka padamu dari mananya –Oh, kau cantik, jadi aku suka padamu!”, ucapnya.

“A-apa?”, sebelum ia bisa marah lift tertutup lagi, dan ketika ia membukanya karena terkejut ia terkurung dan belum sempat keluar namja itu sudah tepat berada didepan pintu lift dan dengan cepat mencium bibir Key.

“Aku menyukai mu Key, jadilah pacarku …”, katanya.

Key tahu, menjadikan Jonghyun sebagai pelariannya untuk mengisi kekosongan hatinya atas rasa sakit hati dan ditinggalkan oleh Minho adalah bukan jalan terbaik bagi dirinya, bagi Jonghyun, dan bagi hubungan yang akhirnya ia putuskan untuk bersama Jonghyun. Namun, pemikirannya saat itu adalah, ia hanya ingin memberikan kesempatan pada Jonghyun untuk mengisi hatinya, ia tahu rasanya ketika kau menyukai seseorang tapi kau tidak menerima cintanya yang sama yang kau berikan padanya.

Jonghyun sangat baik, namja itu menyenangkan, selalu membuat Key tertawa dengan segala tingkahnya, ia menemukan sisi dimana Jonghyun sangatlah sama dengannya, hobi , kebiasaan, pemikiran, ia merasa mungkin memang Jonghyun ditakdirkan untuknya. Jonghyun selalu membuatnya bahagia dihari-harinya ketika ia berusaha melupakan Minho, ia namja yang perhatian. Meski terkadang ada beberapa sikapnya yang membuat Key kesal, namun Jonghyun sangat bisa untuk membuatnya untuk tidak marah.

Hanya saja, semua itu membuatnya bertanya-tanya, sebenarnya apakah ia mencintai Jonghyun, sama seperti rasa cinta Jonghyun padanya?

Jawabannya adalah, ia tidak mencintai Jonghyun, dalam arti cinta yang sama seperti Jonghyun mencintainya. Ia suka jika Jonghyun ada di sampingnya, menghiburnya, tertawa bersama, melakukan hal konyol bersama, dan bertengkar atas masalah-masalah kecil. Oleh karena itulah akhirnya ia menyadari satu hal …

“Key!”,

Key mendongak dan tersenyum melihat Jonghyun yang masuk dari pintu cafe dan duduk di sampingnya. Mengacak rambutnya perlahan dan menyeruput minuman Key yang ada dimeja. Kali ini Key membiarkannya, dan bukannya marah meminta Jonghyun sebaiknya memesan minumannya sendiri. Dan sepertinya sikap Key itu cukup membuat Jonghyun bertanya-tanya.

“Hmm … kau tidak marah aku minum minumanmu?”, tanyanya aneh, Key hanya tersenyum dan meraih gelas dari tangan Jonghyun dan menarik nafasnya. “Woah, apakah matahari masih terbit dari timur? Yeobo, kau membuat ku takut, kau seharusnya memakiku …”

“Jjong—“

“Yeobo, aku juga bingung kenapa kau tiba-tiba mengajak ku bertemu diluar? Kitakan satu apartemen, bukannya sebaiknya kita bertemu saja di kamar mu?”

“Jjong—“

“Ohh … aku tahu, kau mau sekali-kali kau yang ajak kencan yah? Woah!jinjja? kalau benar begitu, aku—“ Jonghyun terhenti ketika melihat Key hanya menatapnya datar dan tidak banyak bicara, yang membuatnya kemudian terkejut adalah Key mengeluarkan air mata, perlahan air mata itu jatuh ke pipinya. Key tidak pernah menangis, bahkan ia jarang menangis dalam hubungan mereka, dan saat itu Jonghyun sadar, ada yang salah, ada yang menganggu pikiran Key.

.

.

Future~

Ia membuka mata felinenya , menangkap sinar matahari pagi yang perlahan masuk kedalam kamarnya dan mebias ke wajah putihnya yang mulus tanpa bercak. Kulitnya terlalu mulus untuk ukuran seorang namja, itulah mengapa ia selalu di bilang bahwa ia bak seorang diva yang terkubur dalam tubuh seorang namja, kesempurnaan katanya … baginya kesempurnaan fisik bukanlah apapun, jika kau hidup bahagia dengan orang-orang yang mendukung dan menyayangimu barulah itu kata sempurna.

Deru nafas dan kehangatan sebuah tangan yang melingkar di pinggulnya menyadarkannya akan sesuatu, ia berada pada posisi yang sama lagi. Perlahan tanpa bermaksud membangunkan sosok yang tidur di sisinya itu ia turun dari kasur dan menyambar kemeja putih dilantai dan berlari ke kamar mandi.

Ia nyalakan air panas pada shower, menunggunya sejenak untuk sedikit mendingin, pantulan sosoknya di kaca membuatnya menoleh dan menatap sosok dirinya itu lekat. Rambut blonde dengan higlight pink yang baru saja ia cat tempo hari itu terlihat lusuh dan berantakan, sebenarnya tidak ada yang pernah melihat sosoknya yang seperti ini, ia terlihat buruk dalam rambut seperti itu, untung ia baru bangun tidur, tidak akan pernah ia keluar dengan tatanan rambut seperti itu sepertinya.

Perlahan ia putar tubuhnya menghadap kaca, memandang tubuh itu seksama, kulit putihnya kontras sekali dengan pantulan lampu kamar mandi, kurus namun tidak begitu kurus, masih ada otot kecil yang berada di bahu dan lengannya, ia berdecak, tubuh siapa sebenarnya? Bahkan tubuhnya tidak terlihat seperti namja kebanyakan, itulah hasil dietnya, tapi bagi orang itu tubuhnya yang seperti itu katanya indah, mungkin pikirannya yang pervert jadi mengatakan bahwa tubuhnya indah.

Tentu saja, karena dia pervert, akhirnya bercak kissmark di leher, collarbone, dan juga beberapa di dadanya tidak bisa di pungkiri lagi bahwa itu buah dari otak pervertnya. Ia tidak pernah mau menerima kissmark sebanyak itu , tapi sial, mulut manisnya membuatnya terbuai.

“Ck … seperti aku tidak menikmatinya saja.”, ia berdecak dan mengolok dirinya sendiri. Beranjak dari depan kaca, ia memutuskan mandi dengan cepat dan membilas semua sisa sperma yang menempel di tubuh depannya, dan beberapa yang berada pada selangkangannya. Damn, untuk kesekian kalinya ia biarkan dia mengeluarkannya di dalam. Kadang ia berpikir, jika ia yeoja, mungkin ia sudah hamil sekarang, kemudian ia meminta pertanggung jawaban namja pervert itu untuk bertanggung jawab, kalau perlu menikahinya.

Ia keluar dari kamar mandi, kemudian berjalan ke sisi kamar dimana berada lemari pakaian, membukanya dan men-scannya dengan mata felinenya, ia pernah di minta untuk gunakan apa saja yang ada kan? tentu saja, ia ambil sebuah T-shirt berwarna hijau, dan ia kenakan, baju itu terlalu besar untuk tubuhnya, membuatnya jatuh begitu saja sampi ke batas paha atasnya. Kemudian ia kenakan celana training yang juga kebesaran sebelum ia menutup lemari dan merapihkan penampilannya.

“Dasar, dia yang membuatku kewalahan semalaman, tapi bisa-bisanya ia tertidur pulas seperti itu!”, lirik nya kesal pada sosok yang masih pulas memeluk guling di sisinya dan tenggelam dalam balutan selimut hingga kekepalanya.

Namun ia tersenyum, beranjak ke sisi kasur , memandang lekat pada sosok yang tertidur itu, perlahan ia tarik selimutnya turun, ia lihat wajah yang tidak begitu tampan, namun ia akui wajah itu sangat manis , terlebih saat tertawa, ia kibas rambutnya yang coklat dari keningnya, sebelum ia mendaratkan ciuman dikening itu membuat sosok itu bergerak dalam tidurnya, ia hanya bisa tersenyum dan beranjak dari tempat ia berdiri.

Tidak ada yang bisa ia lakukan di apartemen yang tidak begitu besar itu, semua barang masih berserakan, mereka baru saja memutuskan untuk hidup bersama setelah 2 tahun menjalani hubungan, ani … 1,5 tahun mereka berteman, dan 5 bulan yang lalu mereka baru resmi mengatakan bahwa mereka sepasang kekasih, bukan sepasang teman kencan yang saling mengisi kekosongan hati masing-masing, datang menemui satu sama lain secara bergantian, dan mencoba memecahkan masalah satu sama lain.

Saat memasuki dapur matanya menangkap sebuah benda kertas dengan hiasan pita perak disana. Ia tidak ingat bahwa ia akan menerima kiriman surat atau apapun ke alamat baru mereka.

Wedding Invitation

Mr. & Mrs. Choi mengundang anda untuk hadir pada pernikahan anak mereka:

Choi Minho
dengan
Lee Taemin

Anak kedua dari Mr. & Mrs. Lee

Pada hari Minggu, 27 Agustus 2012 – pukul , 19.00

Di Cherry Tree Paviliun

Ia tidak membacanya lagi, ia hanya memandang nama itu secara seksama, kemudian menatap kedua foto namja itu pada sisi lain dari undangan tersebut, keduanya terlihat sangat bahagia, mereka berfoto pada sebuah taman ilalang, dan memeluk seekor anjing. Perlahan ia tersenyum ketika ia membaca note yang terdapat pada undangan tersebut.

‘Aku tidak keberatan jika kau mau datang denganku … kalau kau tidak mau, juga tidak apa!😀’

Ia terkejut seketika mendengar bunyi bel pada apartemennya, sepertinya pagi harinya dikejutkan banyak hal, dan siapa lagi kali ini?

“Annyeong.”,

Ia terpaku melihat sosok didepannya, tiba-tiba rasa gugup melandanya, perlahan ia buka pintu lebih lebar untuk membiarkan sosok didepannya itu melihat situasi apartemennya. “Boleh aku masuk?”, tanyanya, ia hanya mengangguk dan mempersilahkan yeoja dengan rambut ikal panjang itu masuk kedalam apartemen mereka.

Yeoja itu melihat kesekeliling ruangan, sebelum menangkap sebuah sofa disana dan duduk dengan mata tetap melihat kesana kemari.

“Maaf masih berantakan, aku belum sempat membereskan tempat ini. Kau mau minum apa?”, tanyanya menarik perhatian yeoja itu padanya, yeoja itu terdiam dan menatap balik padanya.

“Tidak usah, aku tidak haus …”, ucapnya datar. Ia hanya mengangguk mengerti.

“Baiklah , aku akan panggilkan—“

“Tidak usah …”, ucap yeoja itu menahan nya pergi untuk kembali kekamar. “Kau duduklah, aku hanya perlu denganmu , itu saja cukup …”,

Ia berusaha bersikap wajar dan sabar menghadapi cara bicara yeoja yang sombong didepannya ini, ia tahu yeoja ini tidak berkata kasar padanya, namun caranya memandang nya saja membuatnya kesal. Yeoja itu mengeluarkan berkas dari dalam tas paperbagnya dan meletakkannya di atas meja.

“Ini …”,

“Kau tidak tahu apa ini?” tanya yeoja itu.

“Ani, tapi kenapa kau berikan ini padaku?”,

Yeoja itu tersenyum dan mengibas rambuntnya perlahan kesamping, “Aku hanya merasa kau perlu tahu saja tentang ini, dan aku ingin meluruskan semuanya didepanmu, jangan kau berpikir ia yang memintanya, tapi … aku rasa aku perlu jelaskannya padamu secara pribadi.”, ucapnya. “Dan … aku ingin kau mendengarkan semua penjelasan dari ku , Key-shi …”,

Key hanya bisa mengangguk dan membuka berkas ditangannya. Ia baca satu persatu semua itu, ia tahu akan hal yang tertulis di kertas itu, tapi ia tidak percaya ia bahkan bisa membacanya dengan mata kepalanya sendiri, dibanding ia harus mendengarkan penjelasan dari mulut ke mulut.

“Jadi kau …”, Key mendongak , menatap yeoja itu tidak mengerti, yeoja itu menyandarkan tubuhnya ke sofa dan tersenyum puas.

“Ya, aku tidak pernah menyesal, karena ini keputusan kami. Jadi, hiduplah dengannya, bahagiakan dia , aku tidak pernah melihat ia sebahagia ini saat bersamaku dulu … dan … kuminta kau jaga bisa menjaga Jibum, sepertinya ia lebih butuh sosoknya dibanding aku. Dan juga … sepertinya Jibum lebih suka bersamamu …”,

Key terperanjat, ia menegakan tubuhnya, mulutnya kelu untuk membuka dan menannyakan tentang alasannya. “T-tunggu, jadi maksudmu? Jibum sekarang …”

“Iya, hak asuh Jibum tidak jatuh pada ku … tapi padanya …”, ucapnya, Key terkejut sekali lagi.

“Tapi kau ibunya … dan kau yang paling berhak atas hak asuh anak, ini tidak mungkin … kau tidak sedih dengan keputusan ini?”

Yeoja itu memandang Key tidak percaya, apa ia bercanda bertanya seperti itu?

“Mian … “, ucap Key, “Tapi!”, Key menarik nafas, “Kau boleh datang kapan saja, kau bahkan boleh membawanya bersamamu sewaktu-waktu , aku yang akan bicara padanya untuk memperbolehkan mu membawa Jibum …”,

Yeoja itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ia berdiri dan membereskan pakaiannya. “Aku akan pergi ke Amerika Key, aku memutuskan untuk memulai hidupku disana, pastikan kau merawat Jibum dan dia dengan baik …”, ucapnya tersenyum,

“Hyoyeon …”,

“Kau tahu, aku senang kau yang datang kedalam hidup kami, aku tidak pernah menyalahkanmu Key, jika kau tidak datang, aku tidak tahu sampai kapan kami akan menyakiti perasaan kami, dan perasaan Jibum. Ini  yang terbaik, kau harus janji padaku rawat Jibum dan dia dengan baik kan? jadi lakukanlah, demi aku …”,

Key hanya diam dan meremas berkas ditangannya, yeoja itu tersenyum menatap Key dan menghampiri Key, menyentuh pipi namja didepannya yang telah ia biarkan masuk kedalam keluarganya, membuat hati mantan suaminya jatuh padanya, dan membiarkan anak satu-satunya hasil dari pernikahannya menyayangi namja didepannya itu.

“Kau namja yang baik, terima kasih karena selalu ada untuk Jibum dan dia jika aku tidak ada, terima masih karena kau sudah gantikan aku untuk menyayangi mereka, bahkan kau lebih baik.”, ucapnya kemudian mencium pipi Key, memberikannya pelukan sejenak dan melepaskannya sebelum keluar dari pintu.

“Hyoyeon … “, yeoja itu menoleh padanya, Key bisa lihat ada air mata yang ia berusaha tahan disana, “Kupastikan Jibum untuk tahu dimana Ummanya, dan kupastikan juga ia mengirimkan surat padamu setiap saat, dan … aku akan bawa ia menemuimu.”,

Hyeyeon hanya tersenyum, “Nah, pastikan dia tumbuh sehat sama seperti Appanya , itu sudah cukup.”, ucapnya, “Oh, dan jangan biarkan ia addict terhadap ayam, itu tidak sehat.”, Key berdecak dan tersenyum,

“Gomawo Hyo … annyeong …”

“Annyeong.”

Forever~

“Umma, kapan kita tulis surat untuk Hyo Umma?”, Key menoleh pada seorang anak berumur 5 tahun di pangkuannya, tangan mungilnya memegang sebotol susu strawberry dan tangan yang lain bermain di kerah baju Key.

“Nanti, saat kita sampai di rumah, kita langsung tulis surat untuk Hyo Umma. “ ucapnya tersenyum, ia menoleh pada namja di sisinya yang sedang asik menyetir mobil. Kedua mata mereka bertemu, dan Key hanya bisa mengangkat bahunya tersenyum ketika namja itu berdecak padanya.

“Jibum … ganti bajumu dulu , Umma akan siapkan makan malam”, pekik Key ketika melihat Jibum berlari masuk kedalam rumah dan menuju kamarnya, ia hanya berdecak dan berjalan menuju dapur menaruh semua belanjaan yang ia beli sepulang dari menjemput Jibum di sekolah.

“Ku lihat kau sudah terbiasa menjadi Umma … “, Key terkesiap ketika sebuah lengan kekar melingkar di pinggangnya , deru nafas di tengkuk dan lehernya membuat tubuh nya bergidik. Key hanya tersenyum mendengar pujian dari mulut namja yang sedang memeluknya itu, namja itu mencium pipi nya dan menelusupkan kepalanya lebih dalam ke leher Key.

Key terhenti dari kegiatan membereskan belanjaannya, dan malah meletakan tangannya di atas punggung tangan namja itu. Ia menarik nafas panjang, dan berusaha relaks di pelukannya. Namja di belakangnya seperti menangkap sikap Key yang berubah itu. Ia membalikan tubuh Key menghadapnya, menyibak poni yang ada disekitar wajahnya dan menarik lembut lengan Key untuk mendekat kepelukannya. Ia bersender di sisi counter dapur seraya ia bawa tangannya melingkari pinggang ramping Key. Key menyukai kedekatan ini, menyukai bau harum maskulin dari tubuh didepannya, dan ia suka kehangatan tubuh namja itu.

“Wae? apa kau tidak puas dengan pujianku barusan?”, ucap namja itu.

Key mendongak, bertemu dengan mata sipit dan pipi chubby yang sangat lucu itu, jauh dari kesan tampan, tapi wajahnya itu yang membuat hari-hari Key bahagia.

“Kau puas dengan hidupmu saat ini?”, tanya Key padanya. Namja itu mengerutkan alisnya, kemudian tersenyum.

“Apa lagi sekarang hm? kau mulai gundah lagi? apa kau perlu bertanya apa aku bahagia jika sekarang aku bisa memelukmu seperti ini?’, tanyanya terkekeh , “Dan mencium mu seperti ini?”, ia cium kening Key, kedua matanya, pipinya, dan bahkan dagunya, kemudian mengecup bibir Key yang di balas oleh Key dengan lumatan lembut.

“Jinki …”, rengeknya memukul bahu Jinki kesal. “Aku selalu serius … tapi kau … aish.”, Key mempoutedkan bibirnya dan mencubit pipi chubby kekasihnya itu. Jinki -namja yang selama ini sudah hidup bersama dengannya hanya bisa terkekeh dan memeluk Key lebih erat.

“Aku bahagia, sangat! aku bahagia bisa hidup bersama mu, hidup bersama Jibum, melihat ia tumbuh setiap hari, terbangun dengan memelukmu di sisiku , dan menjalani kegiatanku dengan ciuman darimu di sini …”, ia tunjuk bibirnya sendiri, “…dan pulang kerja disambut dengan makan malam lezat darimu, belajar bersama Jibum, dan … ketika malam tiba …”,

Key yang semula tersenyum memicingkan matanya, “…apa?!”, tanyanya galak.

“Kalau mau tahu, malam ini juga kau kuberitahu …”,

“YAH!”, Key terkesiap ketika Jinki meremas pantatnya dan menepuknya, Key menganga meski wajahnya memerah dan mendorong Jinki kesal.

“Selalu begitu, kau tidak pernah serius!”, ucap Key kesal. Jinki hanya tertawa.

“Cintaku padamu serius kok …”

“Ya ya ya … aku percaya.”. Key menoleh ketika ia sadar Jinki sudah berada di sisinya, menatapnya lekat. “Aku bilang aku percaya.” tegas Key. Jinki terkekeh.

“Takut aku cium tiba-tiba yah? aku hanya mau ambil minum kok.”, Jinki memerongkan lidahnya dan mengambil mug melewati tubuh Key. Key mendesis, kemudian tersenyum. Key tidak tahu, apakah Jinki cukup bahagia hidup bersamanya? ia tidak pernah dapat jawaban yang pasti dari mulut Jinki.

Ia hanya menjalani hidup bersama Jinki -duda beranak satu, yaitu Jibum. Pertemuan yang unik, saat itu Key hanya menolong Jinki yang tersedak makan ayam di sebuah restoran tempat dimana Key bekerja. Dan saat itu entah kenapa Jinki menganggapnya dewa penolongnya. Kemudian Jinki sering datang kesana, memesan makanan yang sama, duduk di tempat yang sama, dan entah siapa yang mulai mereka terlibat pembicaraan berdua. Jinki meminta sesekali untuk bertemu di luar, terlepas sebagai pelayan dan pembeli. Saling bertukar cerita, hanya sebagai teman yang mencoba mengenal satu sama lain. Sampai dimana mereka jatuh pada situasi tidak bisa bedakan apakah itu hanya rasa perduli, suka, atau cinta yang membawa mereka terlibat lebih jauh dari sekedar lebel teman.

Key tidak pernah tahu, terlepas dari pernikahan Jinki sebelumnya, apakah kali ini Jinki bahagia bersamanya? dulu, pernikahan itu tidak pernah Jinki inginkan, namun bukan berarti ia juga tidak menginginkan buah hasil pernikahannya, yaitu Jibum.

Key tidak pernah tahu … apakah ia dan Jinki akan selamanya berstatus seperti ini? tinggal serumah, sebagai sepasang kekasih, tanpa ikatan apapun … pernikahan, misalnya …

.

.

Ia berusaha menekan tombol yang sama, berharap tombol hijau di ponselnya itu bisa terhubung dengan Jinki. Namun percuma , Jinki tidak juga mengangkatnya. Salju turun sangat lebat, ia merapatkan syalnya dan menyetop taxi yang lewat, berharap cepat sampai rumah dan memasak makan malam sebelum Jibum pulang bersama Jinki.

Key terkesiap ketika ia memasuki lorong apartemennya ia melihat pintu sudah terbuka, dan tidak ada sinar dari dalam ruangan yang menandakan bahwa Jinki atau Jibum sudah duluan sampai rumah. Jantungnya berdegup cepat , apa mungkin ada perampok atau semacamnya masuk ke rumah? tidak mungkin.

Perlahan ia membuka pintu apartemen , gelap … tidak ada cahaya sedikitpun, namun, dari balik pintu kedua pembatas pintu keluar ia bisa lihat ada sebuah sinar dibalik sana, tidak ada sepatu atau apapun yang menandakan bahwa Jinki sudah pulang. Instingnya bergerak untuk mengambil payung di sisi pintu masuk dan membuka pintu kedua secara perlahan, apapun yang akan terjadi, ia akan menyerang siapa saja yang masuk sembarangan kerumah.

Namun, ketika pintu itu terbuka … Key hanya bisa terpaku melihat banyak lilin hias menghiasi lantai apartemennya. Key menutup mulutnya ketika ia melihat Jinki berdiri didepannya, tepat di meja makan yang penuh dengan sajian makanan dan juga lilin yang romantis.

“Oh, my … Jinki, a-apa ini?”, tanya Key tidak percaya, Jinki berdecak, ia berjalan kesisi Key dan menariknya untuk duduk di bangku makan, ia melihat banyak kue dan juga masakan disana.

“Jinki …”, Key menggeleng, “Hari ulang tahun ku sudah lewat kan? dan … apa ini?”, tanya Key membaca pada sebuah kue hias didepannya, wajahnya memerah.

Happy Mother’s Day
Kim Key Umma~❤

“A-apaa?!”, pekik Key kaget. Jinki hanya tertawa.

“Sebenarnya ini ide awal Jibum. Ia bertanya padaku kemarin, jika besok yaitu hari ini adalah hari Ibu, apakah aku harus merayakan hari Ibu untuk Key umma? karena ia Ummaku, dan untuk Hyo Umma aku sudah menulis surat yang akan kukirimkan untuknya nanti …”, jelas Jinki. “Kemudian ia merengek meminta ku menyiapkan semua ini, karena katanya, ia ingin berterima kasih pada Key Umma yang sudah merawatnya selama ini … dan tidak membedakan kasih sayang nya meski kau bukan Umma kandungnya …”

Key menutup mulutnya, ia tidak percaya, anak seumur Jibum bisa berpikiran seperti itu. Betapa mulianya hati anak itu.

Jinki berdecak, ia mengusap air mata Key yang menetes di pipinya. “Sayangnya Jibum sudah tidur karena lelah menyiapkan semua ini …”, ucap Jinki terkekeh. Key hanya berdecak dan tertawa kecil karena kepolosan Jibum.

“Lalu … kau bertanya kan , apa aku bahagia?”, tanya Jinki berdiri dari posisinya, Key terkesiap untuk kesekian kalinya ketika Jinki berlutut tepat di depannya yang duduk di kursi, mengeluarkan kotak berwarna pink dan memperlihatkan cincin bermata berlian berwarna pearl aqua blue, indah … sangat indah …

“Aku tidak baik dalam hal ini.”, ucapnya. “I just wanna say … Happiness isnt about being loved, its about loving someone else. It’s not being in love that makes me happy. It’s being in love with you that makes me happy. So, I love you Key … and will you marry me?”, Key tidak pernah dengar Jinki mengucapkan kata-kata romantis terlebih dalam bahasa inggris sebaik itu. Dan itu membuatnya terkejut. Membuatnya sangat bahagia.

“I love you … Oh, My god, i love you so much Jinki!”, pekik Key memeluk Jinki dan mencium bibirnya.

“Mianhe, took me so long …”,

“Gwencana!”,

The Reason~

In the Present~

“Aku mengerti … saat itu aku sadar, ketika aku tahu bahwa hubungan kita tidak seharusnya di lanjutkan, aku seharusnya mengikuti kata hatiku … dan membiarkanmu pergi. Tapi, aku saat itu egois dan percaya bahwa semuanya bisa kuhadapi, dan kita bisa bersama selamanya Minho. Lalu aku salah … sampai kau pergi mencari yang terbaik lebih dari ku, setidaknya ia terbaik untukmu …”

“Sekarang … aku memaafkanmu Minho …”

“Tapi … maaf, mungkin aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Jadi, bahagiakan Taemin, maka dengan itu aku akan memaafkanmu sepenuhnya … itu janjiku …”

Alasanku memaafkannya adalah, jika ia bisa buktikan padaku bahwa kebahagiaan yang ia cari dan melepaskanku untuk orang lain adalah jalan yang benar.

In the Past~

“Jonghyun … aku minta maaf , aku tidak bisa terus membohongi mu lebih dari ini … aku menyukaimu, aku senang kau berada disisiku. Kau tahu masa lalu ku dan bahkan kau masih mau berada disisiku meski aku yakin kau tahu bahwa aku masih tidak bisa menerimamu sepenuhnya.”

“Jadi … kita sudahi saja sampai disini … bukan karena aku tidak perduli pada perasaanmu, kau boleh salahkan aku karena aku baru mengatakannya sekarang setelah semua yang kita lakukan bersama … “

“Jonghyun, kau teman terbaik ku, dan selamanya akan menjadi teman terbaik ku … “

Alasanku selalu meminta maaf atas semua tindakanku padamu Jonghyun adalah, karena aku terlalu menyayangimu, kau yang membantu ku untuk percaya bahwa hidup begitu singkat, banyak hal yang luar biasa yang kau tunjukan padaku untuk menikmati hidup , dan berhenti mengasihani diriku sendiri karena hanya sebuah sakit hati dan merasa di khianati, karena cinta bisa datang dari mana saja, begitu juga dengan menikmati hidup … tertawa lepas, sama seperti kau ajarkan padaku.

In the Future … forever … and ever …

Jinki … alasan aku memilihnya untuk tetap bertahan menjaga perasaanku padanya, meski aku tahu dia sudah punya keluarga dan seorang anak adalah.

Karena Jinki mengajarkan ku untuk menghadapi hidup. Jinki pernah menuliskan sebuah kalimat yang ia tulisakan dalam secarik kertas ketika ia meninggalkanku di pagi hari setelah kami menghabiskan malam berdua, ia pergi untuk menemui Hyoyeon.

Sometimes waiting and hoping for a miracle only prevents you from moving forward and being happy. Love isn’t supposed to be that hard. God hears you and He answered you, you just don’t like His answer.

Saat itu … aku tahu alasan kenapa ia pergi …

Dan aku tahu sebuah alasan aku untuk bertahan sedikit saja. Maka aku percaya Jinki akan kembali … jika memang harus begitu.

END

Woaaaa~ i made this!!! ;3; i cried ….

Ngga percaya bisa nulis FF ini selama 4 jam Full, entah kenapa pengen comeback! Well, ini FF comeback sementara. Entah kenapa metal gini jadinya. Sorry kalau buat Key di sini jadi melankolis, sekali” ngga apa” yah, namanya juga FF, jadi jangan terlalu di bandingin sama KEY aslinya. LOL

Eotteyo? Good or Fail? its up to you guys! Just leave a comments so i know wht ya think!🙂

Take care and keep healty guys! cuaca lagi buruk! jangan lupa makan dan istirahat, semuanya semangat!!!

Sanniie OUT! annyeong!!

63 thoughts on “[Minkey,Jongkey,Onkey – Oneshoot] Past Present Future … Forever

  1. Waw.. keren.. ini benar2 keren.. walopun alurnya maju mundur chantik tapi tetap gak kahilangan maksud dari cerita..
    Ya hdp itu memang seperti itu.. di sakiti.. menyakiti sampai suatu titik kita akan menemukan orang yang tepat.. selamat 2min onkey akhirnya bahagia.. aku harap jong jg menemukan org yg tepat dan dia hdp bahagia..

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s