[Onkey – Oneshoot] Our love life


hands

Pairing : Onkey – OnewxKey SHINee

Another Cast: Kim Jonghyun , Choi Minho, Lee Taemin, Jino (SMTheBallad)

Genre : Drama, Family, sliceoflife.

Lenght : One-shot SHOUNEN AI

Rate : PG-13

Author : SannKeylicious~

Summary :

“Apa yang mau kau lakukan Jinki-ah … aku sudah mengantuk.”, ucap Kibum mempoutedkan bibirnya, Kibum tidak tahu bahwa pouted di bibirnya itu masih menjadi favorit Jinki dari sekian kebiasaan yang ada pada Kibum.

“Kalau begitu kau bisa tidur disini … “, ucapnya menepuk pundak nya sendiri, mengisyaratkan Kibum untuk menyandarkan kepalanya untuk tidur di bahunya.

“Dasar. Nanti, kalau aku terlelap, siapa yang akan menggendongku? Kau? Apa kau kuat? Hmm?”, ledek Kibum mencolek lengan Jinki yang sudah tidak atletis lagi.

Keningnya mengerut ketika ia buka pintu kamar ia tidak menemukan sosok yang sudah siap berada di atas kasur dan akan bersama-sama terlelap di atas kasur yang empuk. Dengan langkah perlahan ia sapu pandangannya ke seluruh isi kamar yang lumayan luas itu, hanya lampu remang-remang dari sisi meja tempat tidur yang memberikan cahaya dalam ruangan itu, terlihat romantis, jika dulu, ketika kondisi mereka tidak seperti sekarang, lagi pula, suasana kamar seperti itu sudah mereka habiskan hampir 40 tahun bersama.

“Yeobo …”, panggilnya perlahan, tidak ada sautan, ia mencoba mengecek kamar mandi di sisi kamar, namun kamar mandi itu kosong, ia tidak bisa menemukan sosok yang ia cari disana. Kemana seharusnya namja itu ketika malam sudah larut?

“Yeobo … dimana?”, panggilnya, ia taruh segelas air putih dan piring kecil dengan isi tablet berwarna-warni itu di sisi meja tidur, sebelum ia merapatkan pijamanya dan berjalan keluar.

Udara lumayan dingin, meski pemanas ruangan sudah di atur sedemikian rupa sehingga tubuh mereka yang sudah tidak awas lagi dengan cuaca bisa terbiasa. Bulan desember, salju kali ini turun begitu lebat, bahkan badai salju sesekali menerpa prefektur tempat mereka tinggal.

Tangannya merambat pada sisi tembok , merasakan tekstur rumah yang sudah menjadi saksi kehidupan mereka, susah, senang, tangis, tawa, canda, amarah, semua tembok-tembok itu rasanya sudah menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Dan mereka bersyukur, sampai saat ini, mereka masih bisa merasakan hidup dibawah atap yang sama, dan merasakan nostalgia tempat kenangan mereka.

“Yeobo …”, panggilnya lagi. Kali ini ia mendengar suara decitan kursi kayu, suara itu berasal dari ruang keluarga, ruang dimana terdapat banyak buku, beberapa meja dan kursi, tempat perapian, dan sebuah piano tua yang masih bisa berfungsi dengan baik.

“Yeobo?”, kali ini ia melihat sosok yang ia cari duduk di sisi kursi piano, memandangi piano usang disana, memainkan jari jemarinya pada setiap inci piano, tidak menyentuhnya untuk memainkan sebuah musik, sosok itu terkesan hanya merasakan setiap detail ukiran dan bentuk lekuk piano tersebut, sama seperti yang sebelumnya ia lakukan ketika berjalan tadi.

“Kau sedang apa?”, tanyanya lembut menghampiri sosok pria yang terduduk dengan selimut melingkar padat di bahunya, namja bermata teduh itu mendongak, mendapati separuh jiwanya berdiri tepat disisi piano, tersenyum dengan lembut.

“Anio … aku tidak bisa tidur …”, katanya,

“Tapi ini sudah malam, kau harus istirahat, bukankah besok kita akan pergi checkup? Kau lupa janjimu besok, hm?”, ucap nya mengelus pipi pria itu dengan sayang, mengelus pipi chubby yang sudah agak mulai mengerut, pipi yang dulu gembil sekarang sudah tidak lagi, bahkan kulit mulusnya yang seperti tofu itu sudah ada bercak coklat tua menghiasi disana, bukan lagi jerawat masa muda.

Namja itu tersenyum, merasakan jari jemari kekasih hidupnya itu mengelus lembut di pipinya.

“Kibummie …”, bisiknya meraih jari jemari kurus dan ramping itu dari pipinya, ia genggam tangan yang semakin kurus itu, tidak bosan rasanya, meski mungkin tekstur tangannya sudah berubah, tidak lagi kencang, tapi baginya tangan Kibummie nya adalah tangan tercantik yang pernah ia sentuh, ia genggam, ia kecup. “Temani aku sebentar saja …”, ia cium jari jemari kurus itu dan ia tarik secara perlahan sosok Kibummie-nya untuk duduk di sampingnya.

“Apa yang mau kau lakukan Jinki-ah … aku sudah mengantuk.”, ucap Kibum mempoutedkan bibirnya, Kibum tidak tahu bahwa pouted di bibirnya itu masih menjadi favorit Jinki dari sekian kebiasaan yang ada pada Kibum.

“Kalau begitu kau bisa tidur disini … “, ucapnya menepuk pundak nya sendiri, mengisyaratkan Kibum untuk menyandarkan kepalanya untuk tidur di bahunya.

“Dasar. Nanti, kalau aku terlelap, siapa yang akan menggendongku? Kau? Apa kau kuat? Hmm?”, ledek Kibum mencolek lengan Jinki yang sudah tidak atletis lagi, “Bisa?”, mencolek bagian perut Jinki yang kini membuncit. “Bisa tidakkk?”, kali ini menepuk paha Jinki yang sekarang juga tidak sekencang dulu. Kemudian tertawa, Jinki yang diperlakukan seperti itu hanya bisa tertawa dan merangkul pundak Kibum dengan erat.

Tenggelam dalam sunyinya malam yang mereka ciptakan sendiri.

Hanya gerakan Jinki yang menyelimuti sosok Kibum untuk lebih hangat berbagi selimut berdua bersamanya.

“Jinki …”

“Hmm?”

“Apa yang kau pikirkan?”, tanyanya menatap nanar pada perapian yang tidak jauh didepan mereka. Jinki menarik nafasnya, mencari jemari Kibum untuk digenggamnya erat. “Kau mau tahu aku memikirkan apa?”,

“Neh …”,

Tidak ada jawaban dari Jinki untuk beberapa saat, hampir saja matanya terlelap karena kesunyian dan juga hanya deru nafas serta detak jantung Jinki yang teratur untuk mengantarnya tidur.

“Aku sedang berpikir… cepat sekali waktu berlalu, ketika aku duduk seperti ini, dimusim yang sama, menggenggam tanganmu saat itu, disana yang aku lihat bukanlah perapian, melainkan canda tawa anak kecil yang menjadi malaikat penghias rumah kita.”, ucap Jinki tersenyum.

“Yah …”,

“Aku sedang berpikir … ketika kita makan malam tadi, begitu sepi, aku ingat dulu aku bertengkar dengan mereka hanya untuk sebuah potong ayam, kemudian mereka menangis meraung. Akhirnya kuberikan.”

“Kau memang pelit untuk urusan ayam …”, Jinki hanya terkekeh mendengar tanggap Kibum ini.

“Tapi kau lebih pelit ketika kau tidak membelikan mereka gula kapas karena takut giginya rusak. Akhirnya mereka tidak mau makan malam karena itu. Sebelum aku akhirnya membiarkan mereka makan sebanyak-banyaknya tanpa sepengetahuanmu, dan alhasil hari berikutnya gigi mereka sakit sampai harus membawa mereka ke dokter gigi.”

“Itu karena kau dan mereka sama-sama egois, kalau ada maunya harus saat itu juga, mereka dimanja olehmu , maknaya mereka jadi egois sama sepertimu …”

“Kalau begitu kau yang membuatku egois …”

“Loh, kenapa?”, Kibum memicingkan mata, Jinki hanya berdecak dan mencium kening Kibum cepat.

“Kan kau yang memanjakanku , pabo …”

“Kau bilang aku pabo?!”

“Ani, i say i love you …”,

Kibum hanya menatap Jinki sejenak kemudian berdecak sebelum mencium bibir Jinki cepat dan kembali merebahkan kepalanya di pundak Jinki. “Kau beruntung aku sangat mencintaimu …”

“Ya … aku sangat beruntung …” ucap Jinki, “Aku beruntung bertemu kalian …”

Flashback~

“Sebenarnya, bagaimana hubungan kita?”, kali itu ia memberanikan diri menanyakan status hubungan mereka yang sudah berjalan entah akan ada ujungnya atau tidak. Ia mulai merasa ragu, sebenarnya hubungan mereka selama ini apa? Dan akan dibawa kemana nantinya? Mereka hanya bertemu diluar secara random waktu, jalan bersama, bersenang-senang bersama, makan, nonton, semuanya seperti layaknya pasangan sepertinnya mereka lakukan. Hanya saja, perbedaannya, tidak ada pertengkaran dalam hubungan mereka. Kenapa? Buat apa di pertengkarkan, mereka tidak mempunyai hal yang bisa diributkan, karena selama ini, status hubungan mereka pun tidak jelas.

“Bagaimana apanya?”

Ia menarik nafas hanya mendapatkan jawaban itu. “Maksudku … kita ini apa? Kita kekasih? Sahabat? Atau hanya teman?”, tanyanya lagi lebih memperjelas. Sosok di sampingnya yang duduk bersebelahan didalam bis yang sepi itu menoleh.

Ia tidak berani menatap balik mata feline itu, takut kalau disana ada penolakan atas ucapannya yang tiba-tiba. Ia tahu, mereka hanya berteman, namun kedekatan mereka ia sudah anggap lebih dari teman.

Kau mau mengatakan hanya teman jika kalian selalu berada di line telpon setiap 2 jam sampai 4 jam dalam sehari?, mengucapkan selamat malam dengan imbuhan “<3” di setiap akhir pesan?, bertemu di sebuah tempat hanya sekedar untuk makan siang, makan malam, atau menonton bioskop?, datang bersama pada setiap acara jika salah satu dari teman kalian mengundang?, semua orang pasti akan menganggap kalian memang ‘bersama’. Tapi kenyataan … belum tentu sama dengan apa yang orang kira.

“Ya …”, Jinki menoleh akhirnya, bertemu dengan mata feline yang sedang menatapnya lekat.

“Ya? … ya … apa?”, tanyanya bingung. Sang mata feline itu hanya terkekeh dan menggebuk lengan nya kesal.

“Aku pikir kau cukup pintar untuk mengartikannya lebih dari pada aku?”, tanya sosok itu lagi, ia masih tidak mengerti. Sosok itu menarik nafas dan berdecak. “Aku pikir kau seme dalam hubungan kita, jadi aku menunggu mu, tapi kenapa kau malah bertanya padaku?”, tanyanya cemberut. Ia terbelalak mendengar kata-kata itu. Tunggu … jadi …

“Jadi—“

TING!

Ia terkejut ketika sosok itu menekan tombol berhenti pada bis, dengan segera ia menyelak turun dan meninggalkan nya tergopoh mengejar sosok itu turun dari bis. “HEI, Kibum! Tunggu!”, pekiknya berlari dan menarik lengan nya.

“Apa lagi Jinki?”,

“A-aku …”

“Besok Jam 7 malam datang ke rumah ku.” Ucapnya

“O-oke …”, Kibum tersenyum dan melepas genggaman Jinki sebelum ditarik lagi.

“Apa lagi Jinki?”

“U-untuk apa?”, tanya Jinki, Kibum menatap Jinki layaknya manusia alien yang jatuh kebumi kemudian amnesia akut. “Maksudku, datang ke rumah mu, aku … untuk apa?”

Kibum hanya menganga dan menepis lengan Jinki, “Ya Tuhan.”, Kibum meniup poni dirambutnya. “Aku tidak percaya bisa suka padamu dan cinta padamu Lee Jinki! Tidak bisa dipercaya! Terserah kau mau apa besok, aku tidak perduli! Sudahlah!”ucapnya kesal.

Jinki terpaku disana , beberapa detik berlalu sampai Kibum sudah hampir jauh beberapa meter didepannya. “Kau …”, Jinki bergumam masih dalma keadaan shocknya. “KAU BILANG APA TADI?!!”, pekiknya kaget sendiri dengan nada suaranya, membuat sosok Kibum juga terkejut dan berbalik menatap marah pada Jinki karena berisik di lingkungan komplek yang sudah mulai sepi.

“Ya ampun …”, Kibum menutup wajahnya, sebelum ia membukanya lagi dan terkejut Jinki sudah ada didepannya.

“Aku juga mencintaimu!”, ucap Jinki cepat. Kibum memutar bola matanya.

“Terserah … kau katakan itu besok pada Appa dan Ummaku, dan minta pada mereka untuk mengijinkanmu untuk menikah denganku!”, Kibum mengibas tangannya. Namun seketika tangannya ditarik Jinki kepelukannya, jarak pandangan mereka hanya beberapa centi sebelum Jinki mengecup bibir plum Kibum ia berkata.

“Tentu saja! apapun kulakukan!”

“Pabo, ini seperti aku yang memintamu menikah denganku, bukan kau!”, bisik Kibum, sebelum ia menarik Jinki untuk diciumnya lagi.

.

.

“Kita mau kemana?”, tanya Kibum saat itu ketika Jinki menyetir mobilnya di hari jadi pernikahan mereka yang pertama. Tepat sehari sebelum Kibum merayakan ulangtahunnya yang ke 26.

“Surprise!”, ucap Jinki terkekeh.

“Oh, aku benci surprise! Cepat katakan padaku …”

“Kalau begitu namanya bukan surprise kan?”

“Hint-nya saja, itu tidak akan terhitung sebagai bocoran kok … ayolah …”, ucap Kibum mengelus paha Jinki yang sedang menyetir. Jinki hanya tersenyum dan meraih tangan itu kemudian menggenggam nya.

“A-ha, cara mu ini sudah tidak berlaku baby … aku tidak akan beritahumu …”, ucapnya mengerlingkan mata pada Kibum, namja itu kemudian mengecup jemari Kibum dan menggenggamnya erat. “Kau akan suka, aku yakin.”

“Tidak jika kau beritahu lebih dulu.”, Kibum keras kepala, itu salah satu yang Jinki suka darinya.

Kibum semakin penasaran kemana Jinki akan membawanya, bukan restoran romantis yang akan dipersiapkan, bukan mall untuk setidaknya mungkin Jinki akan biarkan Kibum belanja sepuasnya, atau … molla. Mereka hanya melintasi beberapa wilayah bagian Seoul sebelum masuk kedalam wilayah yang lumayan asri, banyak pohon dan perumahan unik disana, sebelum mobil mereka memasuki sebuah wilayah pemukiman padat penduduk.

“Sudah sampai …”, ucap Jinki mematikan mesin mobil dan tersenyum pada Kibum yang menatap kesekeliling. Jinki membukakan seatbelt pada tempat duduk Kibum dan turun dari pintu kemudi sebelum membuka pintu untuk Kibum dan menggandeng tangannya untuk turun.

“Kita dimana ini?”, tanyanya yang hanya bisa melihat satu-satunya rumah yang paling besar disana, suasananya sepi, tidak banyak penduduk berlalu lalang seperti dikota. Rumah itu terlihat begitu megah, bergaya khas korea seperti jaman kerajaan, rumah yang kuno namun tetap indah dan asri.

“Kau akan tahu … kajja!”, Jinki menarik tangannya membuka sebuah pintu besar dan mata Kibum langsung terkejut, didalamnya ternyata membuatnya terpana, sosok luar rumah itu sangatlah menipu, berbeda dengan dalam nya yang terdapat halaman luas, lengkap dengan mainan anak-anak yang luar biasa banyak, dan di tengah sana terdapat bangunan rumah yang megah dengan bagian depan terdapat banyak hiasan di langit-langit, seperti origami atau hiasan yang sengaja di buat berdasarkan kerajinan tangan.

“Kenapa kau bawa aku kesini? Ini TK mu? Bukannya kau tinggal di Seoul selama ini?”, tanya Kibum bingung.

Jinki tidak menjawab, sebelum ia berjalan lebih menuju pintu masuk rumah. Kibum bisa mendengar suara anak kecil dimana-mana, suara tangis, suara riuh tawa canda lugu.

“Oh, Jinki-shi … annyeonghaseyo …”, Kibum menoleh pada sesosok ahjuma yang menyapa mereka dengan ramah.

“Annyeong Bora ahjuma, apa kabar? Perkenalkan , ini Kibum, dia suami ku …”, ucap Jinki tersenyum, Kibum membungkuk dan merasa malu karena jujur saja, Jinki baru kali itu mengenalkan secara formal ia sebagai suaminya kepada orang lain.

“Kalian sudah siap?”,tanya ahjuma itu.

“H-hah? Siap … apa?”, tanya Kibum menarik lengan Jinki. “Kau mau kita mengajar disini? Kau yakin? Jinki, aku kan sudah—“

“Neh, kami siap.”, potong Jinki. “Tenang, kita bukan buat mengajar, well … hanya satu anak sih, kita akan ajarkan ia kehidupan.” Ucap Jinki tersenyum. Kibum hanya menatap Jinki bingung, sepertinya karena menikah dengan Jinki cara berpikirnya jadi melambat juga dan susah mencerna.

“Baiklah, sebelah sini, ia sudah menunggu dari tadi … sampai-sampai tidak mau tidur siang karena ia ingin bertemu kalian …” tawa ahjuma itu. Kibum mengerutkan alisnya.

Mereka berjalan ke sisi ruangan lain, mata Kibum tidak lepas untuk melihat ke setiap ruangan yang mereka lewati, ada ruangan bayi, ruanga batita, ruangan balita, dan …mata Kibum terpaku, ia menoleh meskipun tangannya tetap di tarik oleh Jinki. Disana, ia lihat sepasang kekasih sama seperti mereka sedang menggendong seorang balita dan bersalaman entah dengan siapa, namun umurnya sama dengan ahjuma yang akan membawa mereka entah kemana.

“J-jinki …”

“Hm?”

“Apa kita …”, tanya Kibum. Jinki seperti  tahu jalan pikiran Kibum ia hanya mengangguk dan merangkul Kibum. Kibum hampir saja memekik senang, ia menutup mulutnya untuk menahan pekikannya. Namun ia tidak tahan untuk meneteskan air mata, sepertinya, siapapun malaikat yang akan segera menjadi bagian hidup ia dan Jinki, ia janji ia akan jaga sepenuh hati.

“Ini dia …”

Kibum menatap sosok namja kecil bermain dengan bola itu menoleh padanya, mengerjepkan mata nya berkali-kali pada Jinki dan Kibum. Kibum jika saat itu tidak dipeluk oleh Jinki, mungkin ia akan berlari pada sosok imut itu dan menggendongnya kesana kemari. Kibum menatap Jinki , menunggu jawabannya atas perkiraan di benaknya. Jinki hanya mengangguk. Tanpa tunggu lagi Kibum berjalan perlahan dengan air mata yang ia tahan sebisa mungkin, mengelus malaikat kecil didepannya.

“Annyeong …”, sapanya lembut. Anak itu tersenyum memperlihatkan giginya yang ompong di tengah namun tetap manis.

“Umma!”, pekiknya. Kibum tidak tahu harus berkata apa, ia memeluk namja kecil itu dan menangis.

“Annyeong … ya Aku Ummamu , aku Kibum …”,

“Ki—bumm.. Umma?”, tanyanya, Kibum mengangguk. “Aku Jonghyun!” katanya, Kibum mengangguk. “Apa … Kiiuma orang tuaku? Dan ahjusi gendut itu juga?”, tanyanya menunjuk Jinki, Kibum tertawa , Jinki hanya berdecak.

“Tentu saja …”

“Yey! Minho ah! Umma dan Appa datang!”,Kibum terkejut sedetik kemudian ia melihat Jonghyun menarik anak lain yang entah seumuran atau tidak namun perkembangannya lebih pesat dari pada Jonghyun.

“Umma! Ini Minho, dia adikku!”,

Kibum menatap takjub, ia menoleh pada Jinki meminta penjelasan. “Well … aku lupa bilang sebenarnya ada dua anak …”, ucapnya. Kibum tidak pernah sebahagia itu. Ia memeluk dua malaikat kecil didepannya. Ia sudah janji, akan ajarkan kehidupan dan cinta pada mereka.

Endflashback~

Bunyi suara bisik-bisik membangunkan nya dari tidur lelapnya, ia tidak sadar bahwa ia dan Jinki berakhir tidur di depan perapian. Ia rasakan pelukan Jinki dari belakang tubuhnya membuat tubuhnya lebih hangat, rengkuhan tangan Jinki membuatnya nyaman, dan ia ingin sekali kembali tidur. Ia pandangi api perapian yang sudah padam, dan beberapa album foto yang sudah tersusun rapih di atas meja.

Tunggu …

Semalam ia tidak ingat menaruh album-album foto itu pada tempatnya, dan ia tidak ingat bahwa ia matikan api perapian agar tidak berbahaya?

“Jinki …” bisiknya.

Jinki tidak bergeming, perlahan ia balikan tubuhnya dan menatap sosok yang terlelap itu. “Yeobo … bangun …”, ia mengusap pipi Jinki dengan sayang, sampai sosok didepannya itu bergerak dan perlahan membuka matanya.

“Pagi …”, ucapnya malas, Kibum tersenyum dan mencium bibir Jinki cepat,

“Pagi yeobo … kita tertidur di sini semalaman …”

Jinki hanya tersenyum dan memeluk tubuh Kibum lebih erat, ia malas untuk bangun, meski ia merasa keram di tangannya karena semalaman dijadikan bantalan kepala oleh Kibum, ia tidak perduli, ia merindukan saat-saat seperti itu. Meski di rumah itu mereka memang hanya selalu berdua.

“Kita tidur saja lagi, kita habiskan hari ini bermalas-malasan …”, ucap Jinki dibalik rambut Kibum, rambut yang selalu wangi vanilla dan ia menyukainya.

“Anio … kita harus bangun dan sarapan, kau tidak lapar? Kau bahkan melewatkan minum obat semalam, nanti kau bisa sakit …”, ucap Kibum hendak bangun namun ditahan oleh tangan Jinki yang masih asik memeluknya.

“Sebentar saja—“

Clang.

Kibum dan Jinki saling bertatapan, mereka mendengar suara gaduh dari dalam dapur, ada orang masuk kedalam rumah mereka. Dan mereka bisa dengar suara berisik dari arah yang sama.

“Siapa?”, tanya Kibum mendongak dari balik tubuh Jinki dan balik sofa, melihat ke arah dapur.

“Entah … kurasa bukan pencuri.”

“Aku tidak lupa kunci rumah kok …”, ucap Kibum bangkit perlahan membenarkan bajunya, Jinki ikut berikutnya dan menarik lengan Kibum.

“Aku duluan …”,

“Kau bilang tidak mungkin pencuri, jadi tidak apa kan?”

“Tetap saja, kalau alien dari kutub utara bagaimana? Aku tetap harus melindungimu, aku kan seme dalam hubungan ini.”, ucap Jinki. Kibum hanya berdecak, disaat seperti itu masih saja Jinki mengeluarkan idiomnya yang absurd.

Semakin mereka dekat ke arah ruang makan dan dapur, mereka semakin bisa mendengar suara bisik-bisik dan juga suara anak kecil disana. Jinki dan Kibum tersenyum ketika salah satu dari anak kecil itu berkata ‘Bialkan aku bangunkan kakek Jinki dan Kibummie’ namun suara orang dewasa itu melarang mereka.

“Sepertinya kita kedatangan tamu …”, ucap Jinki merangkul Kibum. Tidak ada yang lebih bahagia bagi Kibum ketika mereka berdua menginjakan kaki diambang ruang makan, melihat semua keluarga kecilnya yang dahulu kembali ke rumah itu, bersama tambahan beberapa anggota keluarga yang membuat keluarga mereka semakin lengkap.

“Oh, kan, semua gara-gara Minkyung dan Hyunsik. Kakek Jinki dan Kibummie jadi bangun …”,

“Kakeeekk!!”, dua anak kecil yang hanya beda 2 tahun itu berlari ke arah Jinki dan Kibum, dengan semangat Kibum meraih si kecil Minkyung dan Jinki meraih Hyunsik kedalam pelukan mereka.

“Annyeong …”, sapa Kibum mencium pipi Minkyung yang terkekeh dipelukannya.

“Kalian sudah bangun. Kami tidak tega membangunkan kalian, tidurnya nyenyak?”, sapa seorang namja tinggi dengan mata besar, meraih Minkyung dari tangan Kibum dan mencium pipi Kibum. “Annyeong Umma, gwencanayo?”, sapanya.

“Minho ah …”, decak Kibum menepuk kepala tinggi Minho dengan sayang.

“Setidaknya aku tidak melihat bekas kotor disekitar karpet ruang keluarga Minho ah, masalahnya tidak baik bagi pemandangan, jika kita masuk yang kita lihat Umma dan Appa hanya dengan berbalut selimut tapi—“

“Yah,jangan bicara kotor pada orang tuamu, haish … ada anak-anak!”, pekik Kibum menjitak namja berambut jabrik lainnya yang mengambil Hyunsik dari tangan Jinki, sebelum memeluk Jinki dan mencium pipi lain Kibum.

“Mianhe, annyeong Umma… semakin cantik saja, tidak heran Appa selalu menelpon ku dan bilang setiap malam Umma terlihat sexy …”,

“Ya! Jonghyun!”, pekik Jinki, “Kurasa kita sepakat itu jadi obrolan rahasia kita?”, bisik Jinki, meski Kibum mendengarnya dan mulai memukul lengan Jinki dan Jonghyun bersamaan.

“Kalian tidak hanya mau berdiri disana dan tidak mulai sarapan kan?”, sapa namja cantik yang berdiri dengan apron disisi meja makan. Minho tersenyum dan mencium pipi namja cantik itu sebelum mencuri kentang di tangan nya.

“Neh, kami sudah masak pagi-pagi disini .. Umma dan Appa harus segera makan…”, namja lain yang berdiri dengan apron didekat kompor tersenyum. “Appa , aku buatkan chicken soup pagi ini …”, tambahnya.

Jinki tersenyum dan menarik Kibum untuk duduk di sisi meja. Keduanya dengan bahagia menatap keluarga didepan mereka.

Minho, anak kedua mereka duduk bersama Taemin, namja cantik yang ia nikahi sekitar 13 tahun lalu, kemudian memutuskan beberapa tahun kebelakang mengadopsi anak bernama Minkyung dari tempat asuhan yang sama dimana Minho dulu berasal.

Sedangkan Jonghyun, anak asuh pertama mereka juga sudah menikah , namun 1 tahun setelah Minho dengan namja yang menjadi partner bisnisnya -Jino, kemudian mereka juga mengadopsi anak dipanti asuhan yang sama bernama Hyunsik.

Tidak ada yang lebih sempurna dari keluarga kecil mereka itu …

Semalam mereka merindukan keluarga kecil mereka untuk makan bersama dimeja makan, berebut makanan bersama mereka seperti dulu. Dan pagi itu terjadi.

Semalam mereka merindukan gelak canda dan tawa menghiasi rumah, dan itu terjadi pada pagi itu.

Semalam mereka hanya bisa menatap semua kenangan itu didalam foto album mereka, foto yang menggambarkan betapa keluarga mereka bahagia.

Dan semua itu bukan hanya gambaran saja yang terlihat didalam foto, karena pagi itu juga kehangatan keluarga yang dulu mereka rasakan terjadi, mereka merekamnya dalam hati dan pikiran mereka, pasti dan selalu, keluarga mereka adalah tempat paling sempurna bagi masa tua mereka.

END

 NO-EDIT!
Annyeong! eotteyo? Mianhe, gue males banget buat edit nya :p ,So sorry many wrong typo neh?! ^^
DONT FORGET LEAVE COMMENT AND LIKE!
GOMAWO!

Sanniiew OUT!^^~

77 thoughts on “[Onkey – Oneshoot] Our love life

  1. ga bercanda ya ternyata kalo ada readers yg ngaku diabetes pas baca ff, abis ini so sweeeeeet banget! daebak~

  2. aigo seru banget tuh keluarga.. smpai jinki dan kibummie sudah tua pun masih diperhatikan, jjong sma minho memang deh anak yg patuh hahahah😄

  3. Duh, gak kebayang Jinki ma Kibum menua, hehe tapi tetep romantis ajeee nii, cie ciee…
    Bikin senyum2 pas baca flashbacknya, kekeke~

  4. Waw! Cerita ini mengisahkan tentang Jinki dan Kibum saat sudah beruban , masaoloh XDD
    duh andai yang ini beneran terjadi , bahagia rasanya hidup ini /hatters gonna die xD/

    ahhahaha jong tulul tau aja kebiasaan mereka beruda suka -bercinta- ga tau tempat zzzz kamu jamong :p

    bruakakakka sekongkol nih anak tampan jinki , lagian plis pervert – tiap malam – kibum – sexy ZZZZZZ

    kata” terakhir sy tersentuh loh , good job😀

  5. saiah terharu dng kebersamaan mereka *nunjuk OnKey* romantis jg manis:-D
    semoga hal ini benar adax, dan bs jd nyata.hhe~

  6. Uwaah kereen..
    So sweetx awet bgd..
    Btw i2 jinki sama ayam gk bisa pisah apa ya??
    Hahaha jjong sama minho sodaraan?
    Lucu bgd deh bayanginx..
    Wah kluarga yg hangat yaa..
    Manis bgd..

  7. jadi kebayang nanti kalo shinee udah tua mereka bakal terus brg2 ga yaaaa….. ah baper deh pagi2. oiya btw awal ceritanya aku suka bgtttt

  8. ini idaman tiap orang.. hubungan harmonis sampe tua..
    ngebayangin Jinki ama Kibum yg sudah menua dan keriput disana-sini… kekeekke😄

    aigooo… jadi Minho ama Jonghyun jadi anak mereka.. hhahah.. lucu.. krna dipikirnya Minho itu lbh tua dri Jonghyun, krna tinggi badannya heum? kekekekeekke…

    so cute.. Jinkibum punya dua anak kaya Jongho gitu..

  9. Ini.. yampun… so sweetnya ga ketulungan 😍😍
    SERIOUSLY, GUE NYESEL BANGET BACA INI 😢😭😭😭😭😭😭
    NYESEL KARENA KENAPA GA DARI DULU AJA GUE BACANYAÀA 😭😭😭😭 YATUHAAANNN…
    FF ini di post tahun 2013, dan gue baru baca di th 2016 ini? Astagaaaa sedih dd kak 😢😢

    Pas baca sempet mikir, kenapa anak onkey kok jongho? Gegara akunya udah ngebayangin kalo mereka bakal adopsi Taemin.. eh ternyataaaaa…..
    Tp lama” inget jg kalo Taemin pasti bakal nikah sama minho 😍😍 and then…. it happened!
    Just like I said :3 uwuwuw

    Keluarga (yang udah gak lagi) kecil bahagia 😊😊
    Ngebayangin gmana senyumnya jinkibum yg liat anak” mereka balik, ngebayangin gmana pecahnya tangis haru kibum pas dia tahu kalo mereka bakal ngadopsi anak :””)))
    Uuuggghhhh.. bikin senyum” sendiri :””))))

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s