[2min-Mpreg] Wanna Be Yours PART 2


Tittle ; Wanna be Yours 2 of ?

Pairing : 2min – MinhoxTaemin

Support Cast : For now, The rest of SHINee (Key, Onew, and Jonghyun)

Genre: Romance, drama, yaoi, smutt, mpreg, friendship.

Rate : PG 17 – NC

Author : Taemkey san~ (ganti nama again!^^)

A.n:

Taeheheheh~ annyeong!! Lama yah nunggunya? Nggaklah pasti, maklum saya sibuk, dan berusaha untuk menyempatkan update, janjinya sih seminggu 1x, tp kalau nggak bisa ya mohon maklum yah!^^ biasanya itu krn gak mood, krn sibuk, krn males, krn banyak alasan==”. Thank you so much yang udh komen dan like di part 1 ;D btw … bagi yang nggak komen dr part 1 jangan harap saya kasih PW bagian END *ngancem ceritanya! Ok hope you likey, leave comment dont forget.

WARNED!!!

THIS IS YAOI OR BOYxBOY, SO IF YOU DONT LIKE IT, JUST LEAVE THIS POST OR THIS BLOG. DONT BASH ME, OR ALL CONTENTS IN HERE!
COPY CAT IS HARM ACT, SO DONT COPAS WITTHOUT PERMISSION FROM THE AUTHOR ^^

 

WANNA BE YOURS [2]

<< Previous part

*Cetak miring dan tulisan tebal adalah masa lampau^^

         “Taemin?”,

Namja itu terperanjat ketika pundaknya ditepuk, matanya menangkap sepasang mata sipit yang memandangnya khawatir.

         “Gwecana? Kau terlihat melamun akhir-akhir ini, kalau kau butuh teman bicara aku siap mendengarkan ..”, ucap namja bermata sipit itu, Taemin hanya tersenyum dan menggeleng lemas.

         “Gwencana Jinki Hyung … aku hanya kurang tidur, jadi sepertinya badanku tidak fit.”, ucapnya mengelak, Jinki hanya menepuk pundak Taemin sebagai rasa simpati dan memberikan elusan sayang di pundaknya, Taemin merasa nyaman ketika Jinki lakukan itu, karena Jinki merupakan Hyung yang paling lembut dan bersikap gentle padanya. Meski semua sikap Jinki juga mengingatkannya pada Minho.

         “Hallo!”,

Taemin mendongak, melihat dua hyungnya yang lain datang bergabung di meja makan kantin, menaruh nampan di atas meja dan duduk berhadapan dengannya.

         “Whats up Taetae …”, sapa Jonghyun menyengir lebar dan langsung menyeruput soda di gelasnya, sampai berbunyi ‘slrup’ yang menerima lirikan dari mata Key.

         “Kau kalau minum jangan begitu, tidak sopan!”, tegas Key, “Hallo Taebaby!”, ia berpaling ke arah Taemin dan langsung berubah seketika raut wajahnya.

         “Biopolar…”, gumam Jonghyun mengomentari sikap Key, Key hanya mendesis meminta Jonghyun menutup mulutnya.

Taemin hanya tersenyum menanggapi sapaan kedua Hyungnya itu, tentu saja itu membuat kedua Hyungnya yang baru datang mempunyai seribu tanda tanya besar dikepala. Lee Taemin, magnae mereka yang selalu bersinar dan terlihat indah bak matahari itu sepertinya kali ini sinarnya meredup. Key dan Jonghyun saling berpandangan menatap Taemin , kemudian ke arah Jinki meminta penjelasan. Jinki hanya menggeleng pelan, memberikan tanda bahwa ia juga tidak tahu …

         “Baby, besok ada diskon di Mall, kau mau kesana tidak? Tenang saja, aku yang bayar apa saja yang mau kau beli!”, ucap Key semangat.

         “Wait! Key! Yah! Aku yang mengajakmu duluan kan? kau bilang tidak mau? Dan kenapa sekarang malah kau ajak Taemin, dan kenapa kau mau membayarkannya tapi aku tidak?!”,

Key menoleh singit,

         “FYI yah Kim Jonghyun baby, pertama Taemin is my baby, kedua aku tidak suka belanja denganmu karena kau berisik meminta ku untuk cepat pulang, ketiga kalau kau mau ikut kau yang harus bayar! Eotte?”,

         “MWO?! Kenapa bisa begitu?! Tidak adil—mpfh.”,

         “Kalau kau tidak setuju lebih baik diam! Ok? Sip!”, Key menutup mulut Jonghyun, kemudian beralih ke arah Taemin.

         “Eotteyo Taebaby?”,

         “Mianhe Hyung, tapi sepertinya aku ingin di rumah saja, aku butuh tidur, akhir-akhir ini aku kurang tidur …”, ia berusaha sememelas mungkin untuk menolak Key, ia keluarkan puppy eyes terbaiknya, dan ia tahu Key tidak akan marah jika ia lakukan itu.

         “Erm … b-baiklah! Jinki Hyung! Kalau begitu kau ikut aku!” ucap Key pindah sasaran.

         “Hah? Kenapa aku Key? aku tidak bisa, aku harus bantu Umma di Toko…” Well, meski toko daging Jinki mempunyai banyak pelayan, tapi, sang ahli waris itu sepertinya tidak mau tinggal diam dan menikmati hasil dari jerih payah toko orang tuanya.

         “Aku ingin ikut! Kenapa aku saja yang tidak kau ajak? Aku yang memberitahukan mu lebih dulu kalau ada sale kan?”

         “Aku sudah bilang tidak mau ajak kau kan dino boy?!”, pekik Key, “Hyung… Jinki Hyung, ayolah, Ahjuma dan Ahjusi pasti mengerti, kau harus bersenang-senang selain belajar dan membantu mereka…”, rengek Key.

Jinki hanya berdecak dan tertawa terpaksa, Taemin tersenyum melihat ketiga tingkah Hyungnya itu. Taemin tahu Jinki sebenarnya tidak terlalu suka shopping, bagi Key itu hiburan, bagi Jinki itu petaka, karena Key akan meminta Jinki membawakan semua barang-barangnya.

Taemin juga tahu kalau Jonghyun dan Key punya kesamaan dalam fashion, sama saja, bagi Key itu berkah, bagi Jonghyun itu musibah, karena kesamaan fashion berarti kesamaan selera, dan toko yang dimasuki oleh Jonghyun pasti selera Key, untuk tidak makan waktu lama maka Key akan melimpahkan semua bill nya pada Jonghyun saat ia membayar di kasir.

         “Btw, aku tidak melihat Minho akhir-akhir ini, kemana si mata kodok itu?”,

Taemin sontak terkejut mendengar nama ‘Minho’ keluar dari mulut Jonghyun. Ia menunduk dan menatap salad didepannya yang sudah hampir habis itu. Dengan getir ia mengunyah sisanya dan berusaha untuk tidak ikut menerka dimana Minho, meski ia juga bingung karena tidak melihat Minho lagi semenjak malam itu.

         “Molla, namja itu benar-benar membuat ku kesal, beraninya ia tidak mengangkat telpon dariku!”, bentak Key membanting pelan sendoknya, Taemin semakin membenamkan kepalanya, merasa sepertinya salad itu lebih menarik dibanding pembicaraan yang sedang berngaung di sekitarnya. “Dia – si Choi dammit Minho beraninya tidak mengangkat telepon dari KIM KIBUM?! ALMIGHTY KIM KIBUM?!”,

         “Ow … Oke, Key, calm down, kau mulia mendramatisir …”, ucap Jinki pelan berusaha menenangkan Key yang mulai dengan sifat drama queennya.

         “Ck. Drama Queen.” Celetuk Jonghyun.

Taemin tidak perlu mendongak untuk tahu apa yang sedang terjadi selanjutnya, ia tahu Key sudah melancarkan serangan pada Jonghyun karena ia bisa mendengar suara ‘Ouch, key!’ atau ‘Ouch, ah, sakit!’ dan ‘Ya! Stop it!’ sebelum Jinki ‘Key … berhenti …’ dan Key akan berhenti, diikuti Jonghyun yang merengek pada Jinki.

Taemin sendiri tidak berani menghubungi Minho, karena ia tidak tahu apa yang harus ia katakan …

         “Oh, MINHO!!”,

Taemin terkejut, matanya perlahan menatap sosok yang baru saja memasuki selasar kantin. Mata mereka bertemu, Taemin menelan ludah dengan sangat sulit, namun Minho … ia tersenyum, mengalihkan pandangannya ke arah lain, kepada Hyung-hyung yang ada disamping Taemin.

         “Annyeong!”, sapa Minho dengan santai.

Ia masih bisa bersikap santai …

         “YA! KAU … BOCAH TIDAK TAHU DIRI! KEMANA SAJA! YA! JINJJA! AISH!”, Key memukul lengan Minho berkali-kali disetiap maki-annya, membuat Minho hanya berdecak dan mengelus lengannya yang tidak terasa apapun karena Key tidak memukulnya secara serius.

         “Mianhe … aku ada sedikit masalah yang mengganggu pikiranku, jadi kurasa aku perlu sendiri …”, ucapnya.

Taemin mendongak dan menatap Minho dari sudut matanya, Minho duduk didepannya, tepat di samping Jonghyun. Matanya tidak menatap ke arah Taemin, seakan Taemin tidak ada di depannya.

         “Masalah? Tidak biasanya kau ada masalah berdiam sendiri? Biasanya kau mengajakku bersenang-senang ke club?” tanya Jonghyun berdecak.

         “Tidak kali ini, karena aku sedang tidak mood.”, ucap Minho melirik ke arah Taemin, namun Taemin dengan cepat memandang makanannya lagi dan serius dengan makanannya.

         “Ng, Minho, apa karena kau putus dengan Yuri maka kau seperti ini? Apa kau benar-benar mencintainya sampai kau frustasi? Akhirnya kau menyadari bahwa Yuri adalah yeoja pertama untuk menakhlukan hatimu?”, tanya Jinki kali ini .

Kedua Hyungnya yang lain terperanjat, mereka mencondongkan tubuh ke atas meja dan menatap Minho dengan penasaran.

Apakah benar, Minho sang cold hearted man akhirnya jatuh cinta pada seorang yeoja?

Apakah benar, semua hal yang dilakukan Minho pada Taemin hanya wujud frustasinya? Semua yang ia lakukan hanya sebagai penghapus rasa penat, sebagai pelarian?

Memikirkan hal itu, Taemin merasa geram, ia mencengkram sendok ditangannya dengan kencang, ia ingin dengar … ingin dengar apa yang akan dikatakan oleh Minho…

“HAHAHAHAHAHA ….”,

Tawa … yang dilakukan Minho hanyalah tertawa. Membuat ketiga Hyungnya mengerutkan kening. Taemin menatap Minho tidak percaya , bagaimana bisa ia bersikap biasa saja?

Apa yang sebenarnya ada di pikiran Minho?

         “Anio Taemin ah, aku hanya berpikir, mungkin kau tahu apa yang ada dipikirannya sebenarnya. Kalian kan teman baik.”

Semua ucapan Yuri padanya sepertinya salah besar, karena memang, ia tidak mengerti Minho sama sekali.

         “Sama sekali tidak, aku yang memutuskannya, jadi kenapa harus aku yang frustasi?”

         “Mungkin kau menyesal karena putus dengannya?”, tebak Key.

         “Nope, dia tidak semenarik yang aku kira …”

         “Kalau tidak, lalu kenapa kau mendekatinya? Kemudian memutuskan jalan dengannya?”tanya Jonghyun.

         “Karena ku pikir ia memang menarik, lagi pula dia cantik, oh, dia juga pintar bergaul … aku suka yeoja yang bersifat humble …”

         “Lalu setelah kau merasa ia tidak semenarik yang kau pikir, kau dengan mudah melepaskannya? Itu namanya mempermainkan perasaan kan?” tanya Jinki

         “Aku sudah minta maaf padanya, meski satu tamparan tapi kurasa kami akan baik-baik saja jika—“

BRAK!

Seluruh mata, tidak hanya Minho, dan ketiga Hyungnya yang lain , tapi seluruh mata yang ada di kantin menoleh pada sumber suara.

         “Taemin ah?”, Jinki mendongak, menatap Taemin yang berdiri setelah menggebrak meja didepannya.

         “Jangan keterlaluan …”, ucap Taemin berbisik,

“Sekali saja …”,

“Kau tidak suka aku melakukan ini pada pacar-pacarku kan? kalau kau mau lakukan ini denganku, aku janji akan berhenti …”,

 

         “KAU JANGAN KETERLALUAN?!!”, pekik Taemin kesal menampar Minho dengan kencang. Membuat ketiga Hyungnya terperanjat.

         “T-Taemin ah?”, Minho tergagap, pipinya terasa sangat panas dan sakit, namun hal yang lebih menyakitkan adalah … tamparan itu berasal dari tangan Taemin.

         “Kau benar-benar keterlaluan …”, geram Taemin kemudian berlari keluar kantin.

Tidak perduli teriakan Key yang memanggilnya.

Minho hanya bisa terpaku di tempatnya dan menyentuh pipinya yang terasa panas.

         “Minho!”, Minho melirik ke arah Key yang sudah kembali duduk dikursinya dan menatapnya geram, meminta penjelasan pada Minho.

         “Jelaskan , ada apa sebenarnya?! Jangan kau pikir kau bisa pergi begitu saja sebelum kau jelaskan ada apa antara kau dengan Taemin?!”, bentak Key. “Akhir-akhir ini ia bersikap aneh! Jika aku bertanya dengannya tentangmu, tidak biasanya ia mengalihkan pembicaraan, atau ia bilang ‘tidak tahu’, karena aku yakin, kalian berdua sangatlah dekat. Jadi jelaskan padaku, atau aku tidak akan tinggal diam jika kau terus bersikap seperti ini!”, ancam Key.

         “Key … tenanglah …”, Jinki mengelus punggung Key pelan dan menatap Minho. “Ada sesuatu yang bisa kau jelaskan tentang situasi ini?”,

Minho hanya menarik nafas.

         “Kami … hanya ada sedikit salah paham …”, ucap Minho perlahan.

         “Maksudmu? Kalian berdua bertengkar? Jadi sebelum kalian bertemu disini kalian bertengkar?!”, Jonghyun bertanya dengan perasaan terkejut,

Minho dan Taemin? Mereka? Bertengkar?!

         “Oh, Minho! Kau!”, Key ingin menyerang Minho saat itu juga, ia benar-benar tidak suka ada seseorang yang menyakiti Taemin.

         “Key! Bisakah kau tenang?!”, tegur Jinki tegas, Key menoleh ke arah Jinki, namun tatapan Hyungnya itu menahannya dari emosinya yang bisa saja pecah saat itu juga. Key kembali duduk dengan kesal dan bersidekap, melirik Minho dengan tajam dari sisinya.

         “Minho?”, tanya Jinki lagi menatapnya lekat.

Minho menarik nafas dan memijit keningnya sebentar.

         “Sepertinya aku sudah membuat Taemin kesal karena … “, Minho haruskah menjelaskan itu pada ketiga Hyungnya? Haruskah ia katakan itu? Untuk menutupi kesalahannya?

Minho menatap ketiga Hyungnya yang menatapnya lekat, Key dengan tatapan marah, Jonghyun dengan tatapan tidak-mungkin-kalian bertengkar-kan?, dan Jinki dengan tatapan hanya ingin menyelesaikan masalah.

         “…bisakah aku tidak menceritakannya?”, tanya Minho. Ia bisa melihat Key menatapnya geram, “Bukannya aku tidak mau! Tapi, ini masalah kami berdua, aku ingin menyelesaikannya tanpa harus membawanya dalam masalah pertemanan kita, aku tahu kalian khawatir pada Taemin, aku minta maaf, memang semua salahku, tapi aku janji, aku akan menyelesaikan secepatnya.”, tambah Minho cepat-cepat.

Minho menarik nafas, menatap memohon pengertian ketiga Hyungnya.

         “Secepatnya kau selesaikan masalah ini dude, aku tidak mau kau berbuat sesuatu pada Taemin, dia seperti kecewa sekali padamu tadi. Tapi ingat, jika kau menyakitinya, jangan kira aku tidak akan menghajarmu …”, ucap Jonghyun serius menepuk pundak Minho.

         “Kau harus minta maaf padanya , selesaikan masalah kalian. Apapun itu jika kau memang salah, kau patut minta maaf dan bertanggung jawab.”, tegas Jinki menarik nafas.

Minho mengangguk, hanya Key yang tidak bicara, ia hanya membuang mukanya kesal.

         “Pasti, jadi … aku bisa pergi sekarang? Aku harus mencari Taemin …”, ucap Minho.

Jinki dan Jonghyun hanya mengangguk dan membiarkan Minho pergi meninggalkan mereka yang terdiam dengan situasi yang tidak nyaman. Jika kalian berteman, diantara kalian ada yang bertengkar, dan kalian tidak tahu apa masalah di balik semua selisih paham tersebut, maka kalian akan merasa tidak tenang.

         “Mereka akan baik-baik saja kan Hyung?”, tanya Jonghyun pada Jinki.

         “Kuharap begitu, aku tidak pernah melihat Taemin semarah itu sebelumnya. Dia anak yang sangat ceria selama ini, aku rasa Minho memang sudah ‘keterlaluan’, persis dengan apa yang dikatakan Taemin tadi.”, Jonghyun mengangguk mendengar ucapan Jinki.

         “Kuharap ini bukan karena sebuah masalah yang kuduga selama ini …” gumam Key. Kedua Hyungnya menoleh.

         “Mwo?”, Jinki memutar kepalanya pada Key, Key melirik Jinki kemudian Jonghyun.

         “Aku tidak mengerti … apa? Masalah apa?”, Jonghyun mengerutkan alis.

Key menarik nafas, kemudian ia menceritakan semua peristiwa yang lalu ketika ia dan Taemin bertemu dengan Yuri, menceritakan bahwa Taemin dan Yuri terlibat pembicaraan berdua. Dan semenjak itu jika Key bertanya tentang keberadaan Minho , Taemin terlihat menutupi sesuatu.

         “Jadi, semua ini mungkin ada hubunganya dengan Yuri dan Minho?” tanya Jinki. Key menggeleng tidak tahu.

         “Aku tidak bertanya pada Taemin, karena … kau tahu Hyung, wajahnya jika aku berusaha mengorek sesuatu darinya, ia akan terlihat terganggu dengan pertanyaanku, aku tidak mau memaksanya bercerita jika ia tidak mau bercerita padaku …” tanya Key cemberut.

         “Mungkinkah …”, Key dan Jinki menatap Jonghyun. Jonghyun menganga lebar dan mengeluarkan suara terkejut. “… Jangan-jangan!”, Jonghyun menepuk tangannya sekali dan memasang wajah shock.

Key mulai jengah.

Jinki hanya menatapnya santai.

         “… Taemin menyukai Yuri? Jadinya itulah alasan kenapa ia kesal dengan Minho karena Minho telah mempermainkan perasaan Yuri?”, tebak Jonghyun dengan wajah shock.

Jinki dan Key saling bertatapan dan kemudian menatap Jonghyun. Ketiganya terdiam …

Mungkinkah …?

^^2min^^

         “Taemin ah!”,

Langkahnya terhenti ketika ia mendengar sebuah suara memanggilnya, awalnya ia menduga itu hanya halusinasinya, namun ketika ia mendongak, ia melihat namja itu berdiri tidak jauh didepannya.

Ia menatap mata itu, mata bulat besar yang selalu menatapnya penuh rasa sayang …

Mata itu juga yang selalu membuatnya nyaman ketika berbicara, ketika mereka dulu pertama kali menjadi sahabat.

         “Bisakah kita bicara?”, tanya Minho menghampirinya, sontak ia memundurkan satu langkah dan membuang mukanya, enggan menatap Minho.

         “Apa lagi?”, tanya Taemin dingin.

Minho hanya menatap sosok didepannya itu dengan sabar … apa lagi? Ya benar, apa lagi yang mau ia jelaskan? Apa yang mau ia katakan pada Taemin?

Hai, Taemin maafkan aku karena aku keterlaluan …

Keterlaluan karena apa?

Maaf aku keterlaluan karena aku telah memintamu untuk menghiburku dengan tidur bersamaku …

Ia benar-benar telah keterlaluan …

Kemudian maafkan aku karena terakhir kali kita bertemu, aku mencoba memperkosamu …

Itu? Dia harus berkata semua itu?

Kemudian membiarkan Taemin menamparnya, atau memukulnya, kemudian mereka akan berteman lagi? Apa semudah itu?

         “Aku—“

         “Jangan kau bilang kau mau meminta maaf ..”, Taemin melirik ke arah Minho tajam. “Kau mau meminta maaf untuk yang mana, hah?”, kali ini Taemin menatapnya dengan tatapan sakit hati, air matanya hampir saja keluar, entah kenapa rasanya sakit sekali, ia kesal setengah mati, ia kesal karena ia tidak tahu apa maunya Minho? Apa yang ada dipikirannya? Kenapa ia melakukan semua ini pada Taemin? Apa salahnya? Apa motifnya?

         “… kau mau datang untuk membicarakan apa? Memintaku untuk ‘menghiburmu’ lagi?”, dengus Taemin, Minho terkejut dengan sikap Taemin, ia tidak pernah berbicara dengan nada seperti itu.

         “Tae—“

         “.. oh, atau kau mau meneruskan perbuatanmu yang lalu padaku, dengan alih-alih ‘kau tidak akan melakukannya lagi jika aku mau melakukannya sekali saja denganmu’?!!”, pekik Taemin.

Minho terpaku ditempatnya.

Taemin menggeleng, dan mendengus menatap Minho yang menunduk tidak menatapnya.

         “Kau pikir aku mainanmu?!”, pekik Taemin memukul pundak Minho hingga ia terhuyung kebelakang. Minho hanya diam menatap nya , ia menarik nafas dan menggeleng tidak percaya, manusia apa sebenarnya yang ada di depannya ini?

         “Lebih baik kau pulang … biarkan aku sendiri …”,

         “Aku menyukaimu …”

Langkah Taemin terhenti, seperti langit mengerti bahwa sebuah pengakuan itu adalah hal yang paling mengejutkannya, langit ikut bergemuruh, pertanda bahwa langit malam itu berubah menjadi mendung. “Aku menyukaimu Taemin …”

Perlahan ia rasakan tangan Minho meraih tangannya, menggenggam tangan Taemin dengan erat, dan sosoknya berdiri didepan nya, mencoba meyakinkan semuanya pada Taemin.

Menyukainya?

Taemin menatap Minho dengan tidak percaya, air mata yang susah payah ia tahan akhirnya turun membasahi pipinya.

         “Kalau kau menyukaiku, kenapa kau lakukan ini padaku?”, bisik Taemin menatap geram pada Minho.

Sebelum Minho bisa mengatakan sesuatu, tangan yang ia genggam itu menepisnya, kemudian mendorong tubuhnya menjauh.

         “Pergi!”, ucap Taemin sebelum berlari masuk kedalam lobi apartemennya.

Kalau memang Minho menyukainya, kenapa ia lakukan itu? ia tidak mengerti jalan pikiran Minho, apa Minho pikir dengan tidur dengannya maka semua akan merubah segalanya? Apa dipikiran Minho jika mereka berhubungan seks maka akan menjelaskan segalanya? Sebegitu mudahnya sebuah hubungan Minho jabarkan?

Tapi, meski ia berkali-kali mencoba menyalahkan Minho, membenci namja itu, memaki dan merutuk perbuatannya , ia tidak bisa …

“Hiks … Minho pabo …”,

Ia menangis tepat dibalik pintu apartemennya ketika ia masuk kesana.

Membenci Minho bukanlah hal yang mudah …

Karena entah dari mana ia merasa perasaannya pada Minho tidak bisa hilang begitu saja …

Ia tidak mengerti, menyukai seseorang kenapa sesulit itu?

Menyukai?

… apa ia menyukai Minho sekarang?

^^2min^^

Ringg … Ringg … Ringg …

         “Yoboseyo …” dengan suara kantuk ia mengangkat telpon itu.

         [Taemin baby?!]

Sontak ia menjauhkan ponsel dari telinganya, dan menatap ponsel di tangannya yang hampir saja membuatnya menjadi tuli. Ia lirik jam di dinding kamarnya dan menunjukan pukul 7 pagi?! Untuk apa Key menghubunginya sepagi itu?

         “K-key hyung, waeyoo? Ini baru jam 7 pagi …”,

[I know baby! Aku hanya mengingatkanmu, hari ini kita akan pergi shopping, tidak ada bilang TIDAK! Aku dan Jonghyun sudah memutuskan bahwa hari ini kita akan bersenang-senang!]

Taemin mengerang di telpon itu, “Tidak bisakah kalian berdua saja? aku malas keluar rumah … lagi pula—“

         [APA?! KAU MAU KAMI JEMPUT? BAIKLAH!! KAMI AKAN TIBA DI RUMAHMU JAM 10, KETIKA KAMI DATANG KAU HARUS SUDAH SIAP! KAU TIDAK USAH BERTERIMA KASIH BABY, SAMA-SAMA! ANNYEONG! DONT ARGUE WITH ME! OK, BYE!]

PIP

Taemin menatap ponsel ditangannya dengan kesal, kemudian melemparnya ke sisi kasur yang lain sebelum ia menutupi kepalanya dengan bantal, bersiap untuk tidur lagi. Kepalanya masih terasa pusing, matanya perih, ia ingat ia menangis semalaman hingga tertidur …

Minho …

Apa namja itu pergi ketika ia meninggalkannya begitu saja? ia ingat semalam hujan turun ketika ia masuk kedalam apartemen …

         “AAAARGHHH…MOLLAAA!!”, erangnya melempar bantalnya ke sisi ruangan lain.

Ia tatap kamarnya dengan nanar, menelusuri setiap sudut ruangan dengan matanya.

Flashback

         “Tadaaaaaa~~~”,

Pekik Taemin ketika ia membuka pintu flat apartemen barunya yang sederhana itu, satu dapur kecil disisi kiri pintu masuk, sebuah kamar mandi didekat dapur, kemudian sebuah ruangan sekaligus untuk kamar dan juga ruang tamu kecil yang hanya di pisah oleh tembok, kemudian balcon sederhana.

Flat yang simple, dan muat untuk satu orang. Flat pertama yang ia miliki ketika ia menjajaki kakinya pertama kali di Seoul.

         “Minho! Palli …”, pekik Taemin menoleh ke pintu masuk , kemudian ia tertawa melihat teman terbaik, sahabat, dan Hyung terbaiknya itu susah payah membawa masuk beberapa barang dan koper masuk kedalam flat Taemin.

         “YAH! Bantu aku! Kau pikir aku kurir angkut barang?!”, pekik namja bertubuh tinggi didepannya itu.

Taemin tertawa dengan berkacak pinggang dan mempoutedkan bibirnya.

         “Kan kau sendiri yang bilang akan membantu ku jika aku pindah, kenapa aku harus mengangkatnya juga? palli … taruh barang-barangnya diujung sana sajaa…”, ucapnya mengarahkan pada namja tinggi itu dengan telunjuknya.

Minho, namja tinggi itu meliriknya kesal, namun Taemin malah semakin tertawa dan puas membuat temannya itu susah.

         “Joahe! Neomuuuu joahe! Aku akan betah tinggal disini!”, ucapnya menghirup udara kamar dan melakukan sedikit streching tangan ke atas. “Kau juga berpikir begitu kan? tempat ini sangat nyaman!”,

         “Tidak.”

Taemin menoleh dan bersidekap , menatap Minho yang masih sibuk menaruh barang-barang Taemin ke sisi kamar.

         “Hei … aku kan sudah minta maaf, ayolah, jangan seperti anak kecil, aku juga mau hidup mandiri, makanya aku menyewa apartemen sendiri dan bukan share denganmu …”

Minho menoleh , “Kalau kau bukan anak kecil ya kau angkat saja sendiri semua ini!”, Minho melempar tas ditangannya yang merupakan milik Taemin dan tepat jatuh didepan kaki Taemin. “Lagi pula apartemen ku lebih bagus, lebih luas, lebih nyaman, dan lebih dekat dari kampus!”, ucap Minho.

Taemin berdecak. Ia menendang tas didepan kakinya dan menatap Minho cemberut.

         “Kau!”, Minho kesal dengan tingkah temannya itu, namun ia tidak bisa menahan senyumnya, terkadang temannya bisa bersikap kekanak-kanakan, mandiri apanya?

Taemin hanya mengangkat dagunya sombong dan mengisyaratkan Minho harus meneruskan membantunya.

         “Ayo angkat! Kau tunggu apa lagi? Kalau sudah selesai, kita keluar cari makan!”, ucapnya bertepuk tangan dan meneruskan melihat seluruh isi flat nya yang baru. Minho tidak bisa marah padanya, ia hanya mendengus namun tersenyum ketika melihat Taemin tersenyum senang berdiri didepan balcon flatnya.

         “Ini ditaruh dimana?”,

Taemin berbalik, namun terkejut ketika Minho malah mengangkatnya di pundaknya dan melempar Taemin ke atas kasur.

         “MINHO!!”,

         “Biar kutunjukan siapa bos-nya!”,

         “Aaaaaaaa … Minho …ahahaha..h-hentikan…aaah …geli …”,

         “Siapa bosnya?”, tanya Minho masih mengelitiki sisi pinggang Taemin, meski Taemin berkata ampun dan mengatakan Minho bos-nya, Minho tidak hentikan itu.

Endflashback

Taemin menyentuh sisi kasurnya dan menatap kasur yang ia duduki saat itu … rasanya waktu berlalu begitu cepat … kapan terakhir kali ia bisa bercanda dengan Minho?

Kenapa rasanya sekarang sulit sekali bagi mereka untuk kembali seperti dulu?

^^2min^^

Sudah selama 3 jam mereka mengitari mall yang paling besar di Seoul itu, tidak ada yang akan pernah bisa mengalahkan stamina sang diva shophaholic Kim Kibum. Ketiga namja yang setia mengikutinya kemana saja itu sudah lelah rasanya, persendian kaki mereka sudah linu, mungkin betis mereka sudah kencang karena sama saja berolahraga gerak jalan 4 km.

         “Key … sudahlah, aku lapar …”

Taemin menoleh pada Jinki yang merengek untuk memohon pada Key untuk berhenti dan pergi ke restoran untuk makan.

         “Sebentar lagi, aku harus mencari celana yang cocok untuk bajuku yang sebelumnya ku beli, akh, kenapa semua barang di mall ini semuanya tidak pas denganku sih?”, erangnya.

         “Itu karena kau gendutan Key … “, ucap Jonghyun yang juga sudah kesal karena harus ia yang membawa belanjaan, salah, ia yang paling banyak, “Lagi pula kenapa aku yang  paling banyak bawa belanjaanmu? Jinki Hyung sedikit, Taemin malah tidak membawa apapun!”, protesnya lagi.

Namun Jonghyun berhenti ketika Key sudah ada didepannya.

         “Kau bilang apa padaku sebelumnya?”, tanya Key tajam, matanya layaknya elang ingin menerkam mangsanya. Jonghyun terperanjat, menoleh ke sisi Jinki dan Taemin , berusaha meminta pertolongan setidaknya membantunya mengingat apa yang ia katakan pada Key.

Namun sayang Jinki dan Taemin mundur teratur, ia tidak mau menerima serangan dari Key.

         “Ng … itu …”, Jonghyun melihat ke sisi lain, mencoba kabur. “Kubilang kenapa aku yang bawa belanjaan paling banyak?”, tanyanya.

         “Kurasa sebentar lagi akan ada perang dunia …”, bisik Jinki pada Taemin.

         “Oh ya?”

         “ARGH!!!”,pekik Jonghyun

Jinki dan Taemin menoleh, meringis melihat Jonghyun yang baru saja di pukul kepalanya oleh Key dengan dompet jinjingnya yang tebal itu.

         “Kau bilang gendut sekali lagi, maka say bye bye buat junior mu!”, ancam Key. “Come! Celana ku masih menunggu!”,

         “Urus istrimu itu Hyung!”, maki Jonghyun pada Jinki ketika ia menghampirinya.

         “Honestly, he is not my wife.”, decak Jinki, Taemin hanya tertawa.

^^2min^^

         “Minho sakit?”,

Taemin mendongak ketika Jinki bertanya pada Jonghyun.

         “Yep! Dia mengirimkan pesan padaku kalau ia tidak bisa ikut dengan kita hari ini. Paling hanya alasannya saja!”, decak Jonghyun. “Alasan ia tidak mau jalan dengan kita karena masalah kemarin—ouch!”,

Taemin diam saja, ia tahu Jonghyun keterusan bicara, dan ia tahu Key menendang kakinya karena ia banyak bicara.

         “Taemin ah …”,

Ia mendongak ketika Key memanggilnya. “Neh?”,

         “Apa … kami bertiga bisa membantumu?”

Taemin mengerutkan alisnya. “Untuk?”, ia tidak mengerti.

Key menoleh ke arah Jinki untuk mencoba menjelaskan maksud ucapannya. Akhirnya Jinki sebagai yang tertua diantara mereka, selalu menjadi orang yang meluruskan semuanya.

         “Begini, aku harap kau tidak tersinggung. Kami disini hanya mencoba membantu, dan kami sebagai sahabat mu … dan juga sahabat Minho, kami hanya khawatir dengan kalian berdua.”, jelas Jinki, Taemin mengerti sekarang , ia ingat saat kemarin peristiwa dikantin itu mereka semua sedang bersama-sama.

         “Oh … itu … “, Taemin menarik nafasnya, “Mianhe Hyung membuat kalian semua khawatir …”, Taemin tersenyum menatap ketiga Hyungnya. “Gwencana, aku dan Minho baik-baik saja, hanya masih ada sedikit beberapa masalah yang harus kami luruskan bersama … tapi …”, Taemin memainkan sendok dimakanannya. “Tapi aku rasa kami harus sama-sama menenangkan diri masing-masing sebelum bicara lagi nanti …”, ucapnya.

Jinki, Key, dan Jonghyun mendengarkan secara seksama.

         “Aku janji, semua ini tidak akan membuat persahabatan kita hancur Hyung! Aku dan Minho akan segera menyelesaikan kesalahpahaman ini …” segera …

         “Baiklah, kami percaya pada kalian. Tapi jika butuh bantuan kami, kami bersedia membantu …”, ucap Jinki merangkul pundak Taemin.

         “Iya, jika kau butuh menghajar Minho, aku siap!”, ujar Jonghyun.

         “Tidak main fisik Jong …”, ancam Jinki.

         “Kau ini, di otakmu memang hanya ada hal seperti itu yah? Berfikirlah dewasa, tubuh besarmu ini tolong diseimbangkan dengan volume otakmu…”, ledek Key.

         “Ya! kau tidak usah menceramahiku … nenek bawel!”

         “Apa kau bilang?!”

         “Key … Jonghyun, ini tempat umum …”, lerai Jinki.

Taemin hanya tersenyum dan mengeluarkan ponselnya, menatap ponsel itu, merasa bimbang, haruskah ia menghubungi Minho? Bagaimana kalau namja itu benar sakit?

^^2min^^

Taemin menyapu pandangannya ke seluruh kelas, tidak ia temukan sosok itu juga. Untuk apa ia mencarinya? Bukannya itu yang ia mau? Bukannya ia yang bilang sendiri untuk biarkan ia sendiri dahulu? Lalu kenapa ketika sosok itu tidak terlihat ia malah merasa khawatir?

Sudah 2 hari tidak ada kabar, sejak kapan Minho jadi sering menghilang? Apa semua itu juga salahnya?

Ketika mereka terlibat dalam masalah perasaan mereka masing-masing itu , mereka jadi jarang bertemu, Minho sering tidak terlihat, bersembunyi, namun jika ia ada, Taemin seakan tidak perduli …

Jadi, semua itu juga salahnya kan?

         “Hai, Taemin!”,

Taemin sontak kaget karena Krystal duduk di sebelahnya, menaruh semua bukunya di atas meja dan tersenyum padanya. Taemin menganggukan kepalanya sedikit dan berusaha tersenyum wajar.

         “Bolehkan aku duduk disini?”

         “Silahkan …”

Ia sebenarnya kurang nyaman , tiba-tiba saja Krystal duduk di sampingnya, ia tidak tahu bagaimana ia memulai pembicaraan dan apa yang harus ia katakan.

         “Ng … bagaimana kabarmu?”, tanya Taemin akhirnya. Yeoja itu menoleh dan tersenyum,

         “Baik. Kau? Aku tidak tahu kau juga ikut kelas ini. Kau tidak keberatan kan aku duduk disini? Hanya kau yang aku kenal, jadi …”, ia mengangkat bahunya dan tersenyum, Taemin mengangguk setuju.

         “Aku baik. Aku juga baru mengikutinya hari ini.”,

Krystal tersenyum dan menatap Taemin dengan seksama, Taemin yang di tatap begitu jadi salah tingkah dan menggaruk hidungnya yang tidak gatal. Yeoja itu malah tertawa dan berdecak.

         “W-waeyo?”, Taemin merasa malu dan salah tingkah,

         “Kau tidak berubah yah? Masih sama seperti dulu, pemalu dan mudah blushing.”

         “Mwo?”

         “Aku dulu berpikir kau itu sangatlah manis, kau juga baik, makanya aku suka padamu dan aku menyatakan perasaanku padamu. Aku terkejut kau langsung menerima ku.”, Krystal melirik ke arahnya, Taemin menunduk malu dan tersenyum,

         “Siapa yang akan bilang tidak jika salah satu yeoja populer dan cantik menyatakan suka padamu dan memintanya untuk jadi pacarnya?” Taemin bertanya balik. Krystal malah tertawa dan memukul lengannya dengan manja.

         “Yaaaa… tapi akhirnya kau meminta putus dariku …”, ujarnya, Taemin jadi merasa bersalah, dan ia menunduk menahan rasa bersalahnya. Krsytal yang tahu hal itu langsung berdecak.

         “Hei! Gwecana …  mungkin itulah kenapa aku memaafkanmu.”,

         “Hah?”, Taemin menatap Krystal yang tersenyum padanya.

         “Aku tahu kau sangat baik Taemin, entah hanya perkiraanku, atau memang kau orang yang sangat baik, kau menerima perasaanku saat itu tanpa meminta ku untuk menjadi temanmu lebih dulu, kau bahkan mengenalku hanya sebagai yeoja populer.”, decaknya, “kau dan aku tidak pernah bicara sebelumnya, logikanya, jika ada orang menyatakan perasaannya padamu, tapi kalian belum kenal akrab, kau pasti menolaknya. Tapi kau tidak lakukan itu padaku …”

Taemin tersenyum. “Karena aku juga menyukai mu saat itu.”,

         “Jinjja?”, tanya Krystal. “Karena aku populer dan cantik?”, tambahnya. Taemin tertawa dan menggeleng, yeoja itu ikut tertawa.

         “Tapi, selama aku menjalin hubungan denganmu, aku merasa kita adalah sahabat. Justru aku merasa bersalah padamu karena membebanimu dalam sebuah label lain selain kata ‘teman’.”, ucap Krystal. “Jadi aku kemudian mengerti, kenapa kau tidak mau menggandeng tanganku lebih dulu, memelukku lebih dulu, bahkan mencium ku lebih dulu. Semua itu karena memang rasa suka mu padaku tidak suka yang seperti itu kan?”,

Taemin menatap Krystal seksama.

         “Jangan tanya dari mana aku tahu.”, decaknya, “Ini masalah insting wanita!”, tambahnya , Taemin tersenyum. “Jadi, jika aku cukup percaya diri, maka bisa ku katakan, kau memutuskanku karena kau memang terlalu baik, jadi lebih baik kau akhiri karena kau tidak mau aku disakiti olehmu.”,

Taemin terperanjat, luar biasa, apakah insting wanita sehebat itu? mengerikan!

         “ahahahaha … ada apa dengan wajahmu, ku bilang tidak apa-apa! Ini hanya instingku, yang penting, sekarang kita tetap berteman, ya kan?”, yeoja itu mengerlingkan matanya. Taemin berdecak dan mengangguk.

         “Kau suka sok tahu, dari dulu tidak pernah berubah.”, ucap Taemin, Krystal hanya berdecak.

         “Dan … aku juga ingin minta maaf.”,

Taemin menoleh ketika Krystal meminta maaf padanya, untuk apa?

         “Aku mengatakan ‘ya’ ketika Minho menyatakan perasaannya padaku, aku tahu kau dan dia berteman, aku juga tidak tahu kenapa ia bisa suka padaku?”, ujarnya. “Jujur saja, aku menerimanya karena aku penasaran …”,

Taemin mengerutkan keningnya.

         “Aku penasaran, sebaik dan semenyenangkan apakah Minho? Aku melihat kalian cukup dekat, aku melihat kau bahagia bersama Minho, aku cemburu dengan kedekatan kalian, aku ingin tahu, orang seperti apa Minho yang bisa membuat mu begitu terlihat bahagia ketika bersamanya …”,

Kenapa semua orang berpikir begitu?

         “Tapi kau tahu, aku rasa ia juga sama denganku …”, ucapnya berdecak.

         “Maksudmu?”

Kyrstal menatap Taemin lekat dan tersenyum, “Kau akan tahu sendiri nanti …” ia mengedipkan matanya pada Taemin.

         “Krystal!”,

Keduanya menoleh ke sumber suara, Jongin atau yang dikenal sebagai Kai, namja itu adalah mahasiswa di club dance yang sama dengan Taemin.

         “Oh, my baby sudah datang, aku akan duduk dengannya. Senang berbicara lagi denganmu Tae, aku harap kita akan lebih sering bicara lagi nanti.”,

         “Pasti.”, Krystal tersenyum. “Krys …”, yeoja itu menoleh lagi sebelum berdiri. “Terima kasih…”, ucapnya, yeoja itu menepuk pundak Taemin, namun ia berbalik lagi dan menatap Taemin tersenyum.

         “Tae, aku rasa kau cocok dengan Minho.”, Taemin terkejut mendengar perkataan itu, “Tenang saja, aku open minded untuk hubungan sejenis.”, ia mengedipkan mata lagi kemudian pergi.

Taemin stuck tidak bergerak dan mencerna semua ucapan Krystal barusan … dari mana ia tahu bahwa …

“…aku cemburu dengan kedekatan kalian, aku ingin tahu, orang seperti apa Minho yang bisa membuat mu begitu terlihat bahagia ketika bersamanya …”,

“Tapi kau tahu, aku rasa ia juga sama denganku …”,

 

“Itu .. mantan mu? Siapa namanya tadi? Krys … Krysha?”

“Krystal. Iya, dia mantan ku, orangnya sangat baik, menyenangkan, dan lucu. Bukankah dulu kau pernah kukenalkan dengannya?”

“Hmmm , oh ya? aku tidak ingat …lalu,apa kau masih menyukainya?”

“H-hah? Kau bicara apa? Aku hanya menganggapnya sebagai temanku sekarang Minho …”

“Oh …”

“Waeyo? Tenang saja, aku sudah move on …”

“Anio, kalau dia buatku berarti boleh kan?”

“APA?”

“Hei … katanya kau sudah tidak suka … kenapa kau terkejut sekali? Aku hanya ingin tahu, semenyenangkan apa sih dia sampai kau bangga sekali memiliki mantan sepertinya?”

“Kau gila! Terserah padamu!”

 

Taemin terpaku dibangkunya …

Saat itu …

Tidak mungkin …

Jangan-jangan … semua yang Minho lakukan itu …

         “Andwe!”, Taemin menutup mulutnya , terkejut dengan dugaan yang ia baru saja sadari. “Tidak mungkin …”, ucap nya berbisik tidak percaya dan menggelengkan kepalanya, tapi semuanya terasa masuk di akal.

Semua yang Minho lakukan …

Kenapa ia mendekati kemudian mengencani semua yeoja yang pernah Taemin sukai, dan apa sebuah kebetulan jika yeoja-yeoja yang ia kencani adalah yeoja yang selalu dianggap baik dimata Taemin?

Entah … tapi ia hanya butuh memastikannya sendiri …

Ia harus bertanya pada Minho … Harus!

         “Lee Taemin, kelas belum selesai!”

Ia tidak perdulikan panggilan profesor dari depan kelas karena ia langsung melesat keluar kelas. Ia berusaha untuk tidak percaya, namun sepertinya semua terasa kebutulan namun nyata dan sengaja terjadi …

TBC~

WOAAAAAAA!!! AKHIRNYA PART 2 NYA KELUAR!
HALO SUUNDERS! MISS ME? KEKEKEK~ SEPERTI JANJI KU, UPDATE ONLY WEEKAND, ITU JUGA KALAU SEMPET!

Berarti ini lagi sempet nulis ;D
Tenang masih lanjut kok FF nya, capek yah main emosi, sama … saya juga capek mikirnya, pusing sendiri ini mau bilang ‘SUKA’ aja ribet banget.

TAPI, belum pada tahu kan kenapa Taemin gambling banget sama hubungan dia sama Minho. :p

Next Chap ASAP kalau gue nggak sibuk, mohon dimengerti yah, gue usahain tiap minggu update😉

OH, THANK YOU FOR COMMENT ON PART 1! LOVE YOU LOVE YOU ALL!!

DONT FORGET TO COMMENT AGAIN FOR THIS ONE!^^

TAEMKEY SAN~ OUT! SEE YA!^^

164 thoughts on “[2min-Mpreg] Wanna Be Yours PART 2

  1. suka bangettttttt
    akhirnya taemin menyadari alasan sebenarnya minho, ampe profesor gak dipedulikan, makasih krystal yg udah buka mata taemin,
    kapan ngisinya taemin? heheheh ini belom ada lanjutannya ya?

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s