{OnKey} Happy Ever After (1/2)


INI BUKAN FF SAYA! INI FF ADIK MANIS SAYA AKA @mayonkey , sebut saja namanya Jan~ hahaha oke gatel banget mau posting ini karena ini SALAH SATU FF TERBAGUS yang pernah gw baca! WORTH IT LAH! 

Happy reading~ <3 

555711_517696194944787_1804574628_n

 

Title : Happy Ever After (1/2)
Pairing : Onkey
Genre : Angst, romance
Rating : PG-15

AUTHOR : @mayonkey / jinkionki93 @aff/LJ

A/N : Written in my mother languange because it’s been so long since the last time i write in Bahasa -so it might be a lil weird-. I might translate it to the english later anw ^^

 

 


Gerhana, batinnya. Sebelum mengerjap dan menahan nafas tak percaya. Bukannya tak mungkin terjadi. Hanya saja tidak seperti ini. Tidak pada pagi. Terlebih paginya.
Ia tahu paginya sudah kehilangan mentari. Tapi baru kali ini Ia melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Mati, Ia mengernyit. Haruskah pagi ikut mati tanpa matahari ?
Kim Kibum mengurai jemari tangan yang entah sudah sejak kapan mencengkram tepi coatnya dan menghembuskan nafas yang sedari tadi ia tahan.
Dua mata kucingnya berlari lagi mengejar sosok gagah yang meneteskan beku di tiap langkah muramnya, dan Kibum menggigil tanpa sebab. Yang jelas bukan karena cuaca, juga bukan karena salju pertama yang baru menjejak tanah.
Ia perlahan melangkah maju, membayangi figur paginya dari kejauhan. Ditemani gemerisik rumput di bawah sepatunya dan suara pecahan embun yang mengkristal sebelum ini.
Ia tahu dimana mereka akan berhenti. Terlalu tahu. Ia mendesah lagi.
Sesungguhnya ia tak pernah terlalu suka berada di tempat seperti ini. Semenyegarkan apapun pemandangan hijau yang belum tertutup hamparan putih di sekitarnya. Anginnya menyiulkan ratapan. Lambaian dedaunannya mengucap salam kematian.
Dan akhirnya lelaki itu berhenti.
Kibum hampir terantuk langkahnya sendiri karena baru menyadari ia sebaiknya jangan terlalu dekat.
Ia melangkah ke balik pohon di dekat sana setelahnya, memilih untuk mengintip dan menelaah dari jarak aman. Menelaah Lee Jinki. Sang pagi.
Sang pagi sendiri sama sekali tak menyadari sepasang mata cantik yang memerhatikannya. Karena seluruh fokusnya hanya ada pada satu dimensi, kala dua bulan sabitnya yang masih juga diliputi gerhana kini menatap nanar ukiran pada nisan di hadapannya.

‘Kim Gwiboon
Sep 23rd 1989-Jan 2nd 2012’

Lee Jinki memejamkan mata, menghayati gemuruh tak tenang yang mengacaukan detak jantungnya. Perlahan ia membawa jemarinya ke atas dada, seakan melantun doa agar dirinya tidak lantas jatuh berserak setelah ini.
Ia menarik nafas panjang sebelum membuka kembali kelopaknya, perlahan berlutut lalu meletakkan buket mawar putih yang ia bawa di atas pusara.
Digapainya batu abu-abu penanda itu dalam diam lalu dipandanginya dalam-dalam. Seakan dengan begitu ia bisa menembus dimensi dimanapun Gwiboon berada sekarang.
Kau tahu hari apa ini, Gwibonnie ? Ia bermonolog dalam hati lalu menelan ludah sendiri.
Pernikahan kita. Ia tercekat. Seharusnya ini hari pernikahan kita. Katanya lagi.
Seharusnya kita berada dalam gereja.
Seharusnya salib ini menjadi saksi bahwa kita boleh melebur jadi satu bukan kau sendiri yang terurai jadi abu.
Tapi setidaknya kau berbalut putih, ya? Jinki menyapu pandangannya pada salju yang mendekap permukaan makam.
Gaun salju. Terdengar ajaib bukan, Gwiboon-ah ? Seperti dongeng-dongeng bodoh bacaanmu.
Jinki mendesah berat lalu menutup matanya yang tiba-tiba terasa menyengat.
Mencoba membuka kelopaknya lagi untuk menghilangkan rasa sakit, tiba-tiba sebulir air mata, tanpa permisi terjun begitu saja dari ekor matanya.
Mengonversi sesak yang coba ia lesak secara paksa dalam hatinya yang sudah tertatih kepayahan sejak remuk pertamanya.
“Sial,” Jinki mengutuk, mencengkram nisan lebih keras untuk menahan guncangan tubuhnya, kala pikirannya mengembara, jatuh bersama kristal yang memutuskan melepaskan diri dari tanggulnya.
Karena pernah diimpikannya melihat Gwiboon menghampirinya di muka altar, meraih jemari yang selama bertahun tahun telah ia genggam dari ayah gadis itu dan mengucap janji sakral yang menyatukan.
Pernah diimpikannya melihat Gwiboon membulat karena mengandung anak mereka. Lee Jinki mungil dalam perutnya. Entitas baru untuk cinta yang akan mereka bagi nanti tak lagi hanya untuk berdua.
Pernah diimpikannya mereka menua bersama,memandangi keriput di wajah cantik Gwiboon, menghitungi penanda tahun-tahun yang telah mereka kalahkan. Dan siapapun yang bertemu mereka akan mengerang iri “Mereka masih bersama ?”
Pernah diimpikannya untuk selalu memiliki Gwiboon dalam kurungan lengannya, dalam tiap detik yang mereka lalui berdua. Tiap kejatuhan, pencapaian, tawa dan air mata.
Pernah diimpikannya bahwa semua yang kini nyata terjadi hanya mimpi.
Karena ternyata ia menyadari ia tak butuh mimpi, jika ia memiliki Gwiboon dalam realitanya.
Kibum menggigit bibir di sisi lain. Melihat Lee Jinki bergulat dalam kepedihannya sendiri entah kenapa turut menoreh luka untuknya.
Memandangi lelaki itu luruh dalam keputusasaan, kala ia sendiri masih berpegang pada apa yang rapat-rapat ia sembunyikan.
Entah apa yang memicunya, tapi Kibum memutuskan untuk melangkah mendekat sambil menghitungi detak jantungnya yang memburu tiba-tiba.
Ia menelan ludah saat ia akhirnya menghentikan derapnya, tepat di seberang Jinki yang belum menyadari.
“Masih meratapinya ?” Kibum bertanya pelan tanpa berpikir panjang.
Sepasang sabit itu membulat saat mendongak, menatap tepat pada dua mata tajam yang menyerupai separuh hatinya. Ia terkesiap.
*
“Lee… Jinki ?”
Pemuda berambut gelap itu mengangkat wajah dari mikroskopnya, lalu melongo saat mendapati siapa yang baru saja mengajaknya bicara.
Seorang gadis dengan postur tubuh bak supermodel, wajah tanpa cela dan sepasang mata kucing yang memesonanya dalam pandang pertama.
Jinki mengerjap dua kali -yang menurut gadis itu lucu sekali-, sedikit bingung.
“K-kau siapa ?” ia tergagap, lalu berusaha menahan diri untuk tidak membenturkan kepala ke meja atas usaha mengajak bicaranya yang agak memalukan.
“Kim Gwiboon,” gadis itu tertawa, tawanya bergemerincing seperti lonceng “Mahasiswi pindahan. Lab partner barumu.”
“Lab partner ?” Jinki mengernyit, masih belum bisa mengoneksikan sel-sel otaknya “Tapi .. Jonghyun ?”
“Hmm ?” Gadis itu mengangkat alisnya yang terbentuk sempurna, sebelum berjalan tanpa segan mengitari meja “Ia sedang izin sakit kan ? Kata Professor Jung.” dan menempatkan diri di sebelah Lee Jinki.
“Tak apa kan aku jadi partnermu sementara ?” Gwiboon bertanya, memandang pemuda di sebelahnya dari balik bulu mata yang terpoles indah.
Jinki menelan ludah dan menggeleng tanpa melihat gadis itu, berusaha memusatkan pikiran kembali pada materi yang sedang ia pelajari, bukannya pada wangi strawberry yang tiba-tiba melayang dan menyeruak memenuhi penciumannya.
Ia meraih kertas petunjuk di meja, tepat ketika jemari lentik Gwiboon hendak menariknya juga.
“Maaf,” kata Jinki, menarik tangannya dari kontak dengan kulit satin Gwiboon. Oh. Ada arus listrik disana.
“Tak apa-apa,” Gwiboon menjawab, tanpa berusaha menyembunyikan senyum yang menarik kedua sisi bibir mungilnya ke atas.
Jinki menelan ludah lagi. Mungkin lebih baik Jjong sakit terus saja, pikirnya.

*
“Butuh tissue ?” Kibum bertanya, memandang lelaki di seberangnya yang kini sudah berdiri, menepuk-nepuk celananya untuk mengusir salju yang menempel.
Lee Jinki mengangkat wajah lalu menggeleng tanpa suara.
“Bukan untuk salju itu. Untuk matamu.”
Lee Jinki mendengus pelan sebelum menjawab setengah hati. “Tidak usah,” lalu memasukkan tangan ke dalam saku untuk menarik keluar sapu tangan dari sana.
Kibum menelan ludah dan membuang pandangannya ke bawah, tahu dari siapa sapu tangan itu.
“Kau.. Kim Kibum kan ?” Jinki membuka mulut “Saudara kembar Gwiboon ?”
Kibum mengangguk. Bahkan kau ragu, telannya pahit.
“Kau .. Bukankah seharusnya di Prague ?” Jinki bertanya lagi.
Kibum kini menggeleng “Sudah libur musim dingin. Jadi aku memutuskan pulang.”
Jinki tertawa, tanpa nyawa “Pelukis bisa libur juga ?”
“Begitulah.” jawabnya kaku.
Jinki mengangguk lalu mulai berjalan meninggalkan makam, tanpa suara mengisyaratkan lelaki lain disana untuk mengikutinya. Toh acara melayat mereka sudah usai juga.
“Kau langsung pulang ke Daegu ?”
Kibum menggeleng, sambil berusaha menyejajarkan langkah “Tidak ada kereta ke sana sampai setidaknya seminggu lagi. Rel utamanya sedang diperbaiki, lagipula salju sedang gila-gilanya. Mungkin pemerintah tak mau ada kereta yang tergelincir. Seperti…” lalu Kibum tersedak saat tahu ia salah bicara.
Jinki menegang di tempat sesaat, sebelum akhirnya mendesah “Sebaiknya begitu.”
Mereka melanjutkan langkah dalam keheningan yang mencekik, sebelum Jinki -sepertinya- berusaha beramah-tamah -yang gagal sama sekali- lagi.
“Jadi kau menetap di Seoul sementara ? Dimana ?”
Itu juga pertanyaan untuknya. Kibum baru sadar, lalu menggumam “Ah.. Uhm.. Aku sedang mencari hostel.. Aku baru tiba dari Prague dan langsung kesini.”
“Kau bisa menginap di tempatku kalau kau mau.” Jinki menawarkan, acuh tak acuh.
“Ya ?” Kibum mengangkat alis tak percaya.
Jinki mengangkat bahu lalu menatap Kibum “Ada satu kamar kosong di tempatku. Tapi aku tak memaksa.”
Tentu. Terlihat jelas di matamu.
Mungkin Kibum sebaiknya menjawab tidak.
“Baiklah,”
Jinki tersenyum sesaat dan Kibum merasa ingin menangis melihat sosok pemuda yang dulu dikenalnya disana, walau hanya samar saja.
Ia masih terdiam di tempat saat Jinki telah melangkah maju lebih dulu, dan mendesah memandangi punggung lelaki itu.
Lee Jinki adalah lagu harapnya yang tak pernah jadi nyata.
*
“KIBUUUUUM !”
Kibum hanya mengangkat alis, tak mengalihkan pandangan dari majalah yang sedang ia baca saat seorang gadis berambut cokelat melompat ke ranjangnya. “Hmm ?”
“Tebak tebak. Siapa partnerku di kelas lab tadi ?”
Kibum mengernyit, lalu akhirnya menoleh untuk memandangi pantulannya sendiri. Walau pantulannya itu sedang nyengir bangga bukan menekuk dahi. “Kau kira aku hapal daftar absensi mahasiswa jurusan kedokteran ?”
Gwiboon mengernyitkan hidungnya kesal lalu mencibir “Ini berita bagus untukmu, tahu.”
“Oh ya ?” Kibum bertanya antusias. Pura-pura.
Gwiboon sudah tersenyum lagi, wajahnya seakan berkata ia menyimpan kejutan terhebat sepanjang sejarah “Partnerku adalah …. LEE JINKI, CINTA MONYETMU !”
Kali ini Kibum benar-benar shock, tergeragap hingga tak mampu menyulam kata “Lee.. Jinki ?”
Gwiboon mengangguk lalu menaik-naikkan alisnya “Terkejut kan ?”
Setelah Kibum akhirnya berhasil menguasai diri dari debar-debar jantungnya yang agak memalukan, ia mendesah “Toh tak ada bedanya untukku.”
“Ada.” Gwiboon berkata, lalu mencubit paha saudara kembarnya “Aku akan menjadi …. cupidmu !”
Kibum mengerutkan kening “Hah ?”
Gwiboon tertawa lalu meletakkan tangannya di kedua pipi Kibum dan memandang saudara kembarnya itu dalam-dalam “Dengar, Kibum-ah. Aku akan mendekatkanmu pada Jinki, bagus kan ?”
Kibum menggeleng, tak menyetujui rencana gila saudarinya.
“Kau ini cuma memendam perasaanmu sendiri saja seperti dalam drama. Takkan ada yang berubah tahu. Lagipula kau selalu memberiku segala macam kan, Kibum. Aku ingin melakukan sesuatu untukmu kali ini.”
Gwiboon tersenyum lalu mengecup pipi Kibum dengan paksa “Pokoknya serahkan padaku,
 brother.”
Setelah itu, ia melompat keluar dari ranjang dan berlari keluar kamar Kibum.
Kibum menggeleng-geleng menahan tawa. Bahkan dia tak tahu apakah Lee Jinki gay atau bukan.
Kibum mendesah. Tapi toh tak ada salahnya juga dicoba.

*
Kamar kosong yang dimaksud Jinki ternyata adalah kamar bekas Gwiboon. Kibum tersenyum miris kala melangkah masuk, mendapati barang-barang gadis kembarannya ternyata belum dipindahkan dari sana.
Jinki meloyor pergi tepat setelah mengantar Kibum ke depan pintu. Dari tebalnya debu yang terkumpul di atas permukaan plastik transparan penutup semua furnitur disana, ia yakin Jinki tak pernah memasuki kamar ini. Tak sanggup mungkin, lebih tepatnya.
Kibum melangkah pelan, memutuskan menyibak penutup kasur dan terbatuk karena debu yang berpusar menyerangnya.
Tak ada seprai, batinnya lalu memutuskan untuk beranjak ke lemari di sudut dan membukanya.
Baju-baju Gwiboon masih tergantung rapi disana dengan pengharum gantung yang tercium hampir pudar. Kibum membungkuk untuk membuka laci terbawah dan tersenyum saat menemukan apa yang ia cari disana.
Ia mengambil seprai berwarna pink pucat bersama pasangan sarung bantal dan gulingnya lalu melangkah lagi mendekati tempat tidur pinjamannya.
Ia sudah terbiasa seperti ini, sendiri mengurusi hidupnya. Ia mendesah. Benar-benar tak pernah terpikir baginya untuk mencari partner. Atau mungkin nanti, ketika ia sudah berhasil mengenyahkan bayangan Lee Jinki.
Selesai merapikan tempat tidur, Kibum memutuskan untuk melakukan inventarisir kecil-kecilan ke sekeliling kamar.
Ia menemukan laptop shocking pink Gwiboon di meja kerja, bersama beberapa buku yang nampaknya belum selesai dibaca, menilik dari pembatas yang menyembul di antara halamannya.
‘366 Dongeng Pengantar Tidur’ Kibum tertawa pelan.
Gwiboon selalu terobsesi menjadi putri. Sama seperti dirinya. Namun hanya Gwiboon yang berhasil nampaknya, selain karena cuma ia yang wanita, hanya ia juga yang berhasil menemukan pangeran berkuda putihnya.
Kibum mendesah saat otaknya mulai memproyeksikan drama rekaannya sendiri. Mungkin .. Gwiboon sering merengek meminta Jinki membacakan dongeng untuknya. Menarik pria itu untuk duduk di tepi ranjang yang akan ditidurinya nanti.
Jinki akan membelai rambut panjang Gwiboon yang berbaring di sampingnya, sambil menyuarakan tokoh-tokoh dalam cerita dengan nada konyol berbeda-beda lalu mereka akan pecah dalam harmonisasi tertawa bersama.
Tsk. Kibum berdecak, ingin meninju dirinya sendiri. Lebih baik tak usah berpikir macam-macam dan menyiksa hatinya lagi.
Ia kembali menutup meja kerja Gwiboon dengan plastik tadi, lalu berpindah ke meja rias di dekatnya.
Cerminnya sudah buram sama sekali, Kibum menggeleng-geleng. Dan masih ada juga beberapa alat komestik disana, jika ia telaah. Baru saja ia mengulurkan tangan hendak menyingkap penutupnya untuk melihat lebih jelas, saat sepotong tangan tiba-tiba menahannya di udara.
“Bisakah kau jangan menyentuh apa-apa selain ranjangnya ?”
Kibum merasa hatinya mencelos mendengar suara dingin yang sama sekali asing untuknya, lalu menoleh untuk melihat kilatan -marahkah ?- di mata lelaki yang entah sejak kapan sudah disana.
“Maaf,” ucap Kibum pelan, meneguk ludah.
Jinki melepas tangannya dari jemari Kibum yang sama lentiknya dengan Gwiboon -dan entah kenapa ia tak menyukai itu- sebelum berkata datar “Ya.” lalu pergi lagi tanpa sepatahpun kata.
Kibum tak tahu harus melakukan apa.
*
Lee Jinki adalah orang biasa. Benar-benar biasa. Ia tidak pernah hidup dalam kutub-kutub radikal sepanjang eksistensinya.
Ia anak tunggal. Tubuhnya cukup proporsional, otaknya juga lumayan.
Ia bukan nerd, namun bukan juga kelompok populer. Sebagai contoh, klub kampus yang diikutinya hanya choir. Tidak berpotensi terus dikerjai dan diejeki seperti klub buku, tidak juga berpotensi untuk mengerjai seperti klub footbal atau basket.
Intinya, hidupnya hampir datar saja.
Sampai Kim Gwiboon datang menendang pintu gerbang hidupnya. Menendang, karena ia masuk begitu saja. Tanpa berkata, terlalu riuh kadang untuknya.
“Jinki ?”
“Ya ?” Jinki mengangkat wajah dari bukunya, tersenyum pada Gwiboon. Ia, akhirnya, berhasil berbicara dan bersikap biasa pada gadis itu. Walau sejujurnya jantungnya tetap berdebar seperti kepakan sayap burung tiap kali ia memandang gadis itu.
Gwiboon terlihat menimbang sebelum bertanya “Apa kau.. kenal Kim Kibum ?”
“Kim.. Kibum ?” Jinki mengernyit, mencari-cari dalam kepalanya lalu menggeleng.
Gwiboon mendadak menarik lengkungan bibirnya ke bawah “Sayang sekali. Dia pemuda yang amat sangat menarik padahal.”
“Oh.. Ya ?” Jinki merasa api di dadanya meredup sesaat. Mempertanyakan kemungkinan apa Gwiboon ternyata tak pernah menyukainya seperti ia menyukai gadis itu selama ini.
“Ya.” Gwiboon menganfkat kepala dan tiba-tiba tersenyum “Dia saudara kembarku.”
“Ah…” Jinki hampir melonjak dari kursi perpustakaan dan meninju udara saking senangnya “Saudara kembar ? Laki-laki ? Menarik sekali…”
“Tentu,” Gwiboon mengangguk-angguk kesenangan “Dia mengambil jurusan seni, disini. Dari awal dia memang sudah kuliah disini, berbeda denganku.”
Jinki mengangguk-angguk “Klub choir ku pernah bekerja sama dengan jurusan seni dan klub drama waktu itu. Kami membuat drama musikal untuk ulang tahun kampus yang ke seratus.”
Tentu, tentu. Gwiboon terkekeh dalam hati. Musikal yang membuat Kibum jatuh cinta tanpa ampun padamu itu. “Apa kau mau kukenalkan pada kakakku ?”
“Ah.. Oh..” Jinki tergeragap. Bertanya-tanya kenapa tiba-tiba ia mau dikenalkan pada anggota keluarga Gwiboon begitu saja “Bo-boleh saja, kupikir.”
Gwiboon tersenyum manis “Berhubung besok akhir pekan, bertemu di luar saja bagaimana ?”
“Oh.. Baiklah..” Jinki menyanggupi.
Gwiboon terkikik lagi lalu kembali berkutat untuk mencari bahan tugas kelompok mereka yang terlantar.
*
To: Kibum

Bummie, kemana kau ? Setengah jam lagi filmnya mulai.

12/06/06    15:30

Gwiboon menghela nafas memandangi ponselnya lalu menggigiti bibirnya. Kemana sih Kibum, rutuknya dalam hati.
“Hei, sudah dapat jawaban ?”
Gwiboon mendongak saat merasakan tepukan di puncak kepalanya lalu menggeleng pada Jinki yang baru saja berdiri di hadapannya.
“Cepat sekali ke kamar mandi.” gumamnya.
“Aku kan bukan wanita.” Jinki terkekeh, sementara Gwiboon menjulurkan lidah.
“Kau ini umur berapa sih ?” sindir Jinki, lalu mencubit pipi Gwiboon keras-keras.
“A… Ah..” Gadis itu meringis lalu menampar punggung tangan Jinki dari wajahnya “Jangan hancurkan wajahku.”
“Wajahmu sudah hancur tahu.” Jinki ganti menjulurkan lidah.
Gwiboon dengan cekatan mencubit perut Jinki dari permukaan kaus dan memuntirnya tanpa ampun dengan wajah gemas.
“A… Ah…” Jinki meringis.
“Terus saja,” tantang Gwiboon, melotot geram.
“Ma-maaf maaf,” pemuda itu berkata lalu meraih tangan Gwiboon untuk menjauh dari perut malangnya.
Gwiboon mengernyitkan hidungnya, sementara Jinki tertawa “Mau beli minum dulu ?” tawarnya.
Gwiboon mengangguk karena menyadari tenggorokannya terasa kering lalu mengikuti Jinki berdiri. Saat itulah ia baru sadar, Jinki belum melepas tautan tangan mereka.
Gwiboon membawa matanya beralih ke punggung figur yang memimpinnya, terkesiap saat menyadari jantungnya seketika berdetak menyalahi aturan. Bergaung sendiri menyambut rasa yang dikiranya takkan pernah ada.
*
“Kibuuuum, kenapa kau tidak datang ?” Gwiboon meringsek masuk kamarnya lagi.
Kibum menoleh lalu mengulurkan tangan untuk menepuk kepala adik selisih tiga menitnya “Aku tadi sedang mengerjakan proyek semester dan lupa waktu lagi. Maaf, Gwiboon-ah.” Ia menarik nafas sebelum tersenyum dan bertanya “Bagaimana filmnya ?”
“Bagus sekali.” Gwiboon tersenyum senang “Kau harus menontonnya nanti. Mungkin bersama Jinki.” Gwiboon menambahkan dengan nada menggoda dan selipan rasa bersalah yang coba ditepisnya.
Kibum tersenyum kecil “Mungkin. Istirahatlah, Gwiboon. Kau pasti mengantuk.”
“Ya ya. Selamat malam, Kibum.” Ia mencondongkan tubuh untuk mengecup pipi saudara lelakinya lagi.
Kibum mengusap kepala Gwiboon sayang, lalu mengikuti gadis itu hingga beranjak dari kamarnya dengan pandangan mata.
Kibum perlahan mengurai senyumnya ketika Gwiboon menghilang di balik pintu dan menggumam “Kau tidak sadar kau masih memakai jaket Jinki ya, Gwiboon-ah ?”
Kibum mendesah dan memandang ke arah kanvas di sudut kamarnya, proyek semester yang tak terjamah karena ia terburu-buru menuju teater walau harus pulang tanpa menyaksikan apa-apa. Kecuali sinema hati lewat dua pasang mata yang terlalu bodoh untuk bergegas mengucap kata yang sama.
Kibum mendadak ingin tidur saja.

*
“Kau lihat bokongnya ? Kau lihat cara berjalannya ? Kau lihat bagaimana ia berpakaian ? Tentu saja ia gay. Faggot.”
Kibum ingin sekali menampar wajah dua pemain footbal yang sedang berdiri di hadapannya, membuat ekspresi melecehkannya.
“Paling tidak aku bukan pecundang seperti kalian.” Ia ganti menyerang, melipat dua tangan di depan dada dan mendengus “Bersembunyi di balik badan besar dan jaket varsity dengan lambang universitas hanya untuk apa yang kalian sebut otoritas.”
Dua pemuda bongsor yang menghadang jalannya terdiam sesaat, terlihat masih mencerna celaan kelewat cerdas Kibum.
“Cih.” Kibum mengangkat sebelah bibirnya menghina “Dungu. Kembangkan dulu sel otak kalian dari fase zigot baru mengajakku bicara.”
Pemuda flamboyan itu lalu melangkah maju dengan kepala terangkat, ia seharusnya bisa lolos dari adegan itu jika saja salah satu pemuda tadi tidak terlalu cepat bereaksi dan mendorongnya hingga membentur loker besi di belakangnya yang kini berderak mengerikan.
Kibum kontan merosot jatuh dari posisi berdiri, merasakan sengatan tajam di bahu dan punggungnya yang pasti memar parah setelah tadi. Ia meringid.
“Tadinya kami tidak mau sampai berbuat begini,
 fag.” Seorang dari pemain football itu meludah pada lantai di hadapannya. “Ini hadiah terakhir kami.”
Tamparan air kotor bekas pengepel lantai membuat Kibum menutup matanya seketika dan menahan nafas saat bau campuran pembersih dan segala macam kotoran menusuk hidungnya.
Setelah didengarnya suara langkah dua pemuda bongsor itu berangsur pudar dan akhirnya hilang dimaakan senyap, Kibum, dengan tangan bergetar dan mata mulai memanas,perlahan meraih ranselnya yang sempat terpelanting untuk mengambil tissue yang selalu dibawanya kemana-mana.
Ia mulai menangis saat bagian belakang tubuhnya berdenyut makin perih. Kibum menghela nafas saat merasakan pipinya terasa panas dialiri air mata. Ia lelah sekali. Badannya sudah terasa remuk setelah berlatih hingga petang untuk musikal kampus sebelum dua pemain football itu menghadangnya. Tidak perlu ditambah ini.
Kibum sedang sibuk menotol-notol pelan ceplakan basah di bajunya saat tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang lembut dan asing mengusap wajahnya.
Kibum mendongak, dan terperanjat mendapati sepasang mata yang menatapnya teduh. Sepasang mata yang pemiliknya sedang dengan tekun menyeka wajahnya dengan sapu tangan.
“Baik-baik saja ?” Tanya pemuda asing itu dengan suara sehalus beledu.
Kibum masih belum bisa menjawab, terpana.
“Ah. Bodoh sekali. Tentu kau tidak baik-baik saja. Aku juga tak pernah baik-baik kalau basah kuyup seperti ini.” Ia menawarkan senyumnya lagi sebelum melepaskan tangan dari wajah porselen Kibum.
“Kelompok populer itu ya ? Pemain football ? Kau melawan ya ?”
Kibum hanya mengangguk.
Pemuda itu balas mengangguk “Bagus juga kau berdiri untuk dirimu sendiri. Tapi mungkin lain kali lebih baik kau diam saja.” Ia menyarankan.
Kibum mendengus sesaat.
Ia tersenyum lagi “Apa kau butuh tumpangan untuk pulang? Aku ke arah distrik sebelah.”
Kibum menggeleng, sedikit kaget juga atas tawaran terlampau baik pemuda itu.
Pemilik mata teduh itu lalu mengangkat bahu dan berdiri dari posisinya, setelah menepuk pundak Kibum lembut “Hati-hati ya,”
Kibum masih terlalu terpana untuk berkata-kata hingga akhirnya, setelah ia tersadar pemuda itu mungkin takkan lagi ia temui, ia memutuskan untuk tidak membuang kesempatan dan berteriak “Hei,”
Pemuda itu berbalik, memandang Kibum lalu mengangkat sebelah alisnya.
“Terimakasih.” ucap Kibum ragu.
Pemuda itu lantas tersenyum, menyembunyikan dua lensa dibalik separuh purnamanya. Dengan sinar lampu kuning yang tertutup figurnya namun sempat mengintip dari puncak kepalanya saat itu, Kibum berfikir pemuda itu mirip sekali momen-momen tenangnya. Pagi.
*
Namanya Lee Jinki. Kibum tercekat saat menyadari Jinki adalah salah satu solois dari choir yang akan mengiringi musikalnya.
Suaranya lembut seperti gumpalan awan. Wajahnya bersemu sendiri.
Ia harus segera memberitahu Gwiboon pulang nanti. Untung saja ia benar menggunakan musikal sebagai sebabnya bertemu pemuda itu.
*

Kibum berjingkat keluar dari kamar huniannya, beursaha tidak bersuara karena ia tidak ingin bertemu Jinki dan dihadiahi tatapan dingin lagi. Ia hanya mendadak haus dan ingin minum.
Lelaki pemilik rumah itu ternyata sedang di ruang tamu, menonton televisi walau pandangannya kosong sama sekali. Kibum hanya diam kali ini.
Ia melangkah perlahan mendekati dapur terbuka yang berada di belakang ruang tamu tanpa sekat apa-apa, lalu membuka kulkas dan mengambil pitcher air dingin di sisi pintu.
Setelah menutup mesin pendingin, ia beranjak lagi untuk mencari gelas di rak.
Ia terdiam sejenak saat melihat tumpukan mangkuk kotor di bak cuci yang penuh noda kuah ramyun dan mengangkat alis tak percaya.
Matanya beralih menyapu kitchenette sebelum akhirnya ia menghela nafas sendiri melihat panci stainless yang menghitam di atas kompor, entah sudah berapa kali dipakai merebus tanpa diturunkan. Begitu pula tumpukan kardus bekas box take away masakan chinese yang menggunung di dekat bak sampah, belum dibuang.
Kibum menggeleng-geleng. Apa Jinki hidup begini selama sebelas bulan ?
Pertanyaan itu langsung terjawab oleh post-it kuning yang baru dilihatnya tertempel di sisi samping kulkas.
‘Jinki-ssi.
Saya mengambil cuti dari minggu kedua desember. Anda tidak lupa kan ?
Jaga kesehatan. Dan jangan hanya memasak mi instan.
– Mi Young.’

Caretaker rumah ini sepertinya. Kibum menyimpulkan sendiri. Lalu akhirnya dengan inisiatif, ia menggulung lengan pullovernya, berjalan menuju bak cuci dan menyalakan keran.
Sambil menggosok pantat panci yang baru diambilnya dari atas kompor, Kibum mendesah lagi.
Lihat apa yang kau lakukan padanya, Gwiboon-ah. Dia kehilangan dirinya.
Kibum menggaruk kepalanya lagi saat selesai memasukkan piring ke mesin pengering dan memasukkan tumpukan box dalam kantong sampah, menyadari seluruh permukaan rumah begitu tak layaknya untuk ditinggali.
Mulai berpikir mungkin ia bisa mempekerjakan diri.
*
Ia harus memegang kata-katanya sendiri. Gwiboon menekadkan diri saat memandang refleksinya dalam cermin. Ia harus terus melanjutkan rencana Jinkibum nya.
Tak peduli soal segala debar-debar di dadanya.
Gwiboon lalu mendengus, bergegas keluar dari kamarnya dan menuju kamar Kibum. Seperti biasa ia masuk tanpa permisi dan mengernyit saat mendapati ruangan itu terlihat lengang.
Mungkin Kibum sedang mandi, pikirnya lalu mengangkat bahu dan berjalan menuju tempat tidur Kibum.
Ia duduk disana lantas tersenyum saat menyadari kamar Kibum jauh bernuansa lebih pink dari kamarnya. Ia tahu kakaknya berbeda, ia tahu tentang ketertarikan Kibum pada sesama jenisnya sejak mereka SMA, tapi Gwiboon tak pernah malu akan hal itu.
Ia sayang Kibum melebihi apapun. Kibum yang lebih cantik darinya, Kibum yang lebih berani darinya, Kibum yang terkadang merelakan segalanya untuknya.
Gwiboon merasa amat melodramatis, tapi rasa itu membakarnya lagi untuk melanjutkan niatnya. Masakah ia tak bisa menyergah perasaannya sendiri untuk yang satu ini ?
Lalu matanya berbinar saat menemukan sesuatu di meja samping tempat tidur Kibum.
Sapu tangan yang sudah Kibum beli dari lama, namun belum diserahkannya juga pada Jinki.
Gwiboon tertawa sendiri saat mengantongi kain kecil itu ke saku blazernya.

*
“Jinki !”
Jinki terlonjak kaget saat seseorang mengendap di belakangnya lalu menjitak kepala Gwiboon tanpa segan saat mendapati gadis itu ternyata oknumnya. “Kau ini !”
Gwiboon meringis, mengusap ubun-ubunnya lalu terkekeh “Masih memantau perkembangan tumbuhannya ya ?” ia bertanya.
Jinki mengangguk, melepas tangannya dari rambut Gwiboon lalu menatapi pot tumbuhan herbal yang ditaruhnya di halaman belakang gedung kampus, ia mendengus “Padahal aku ini mau jadi dokter, bukan apoteker.”
“Salahmu mendapat C di tes Professor Choi.” Gwiboon mencibir.
“Itu karena aku memikirkanmu sepanjang malam, tahu.” ucap Jinki blak-blakan.
Gwiboon menahan nafas dan mengulum bibirnya, pura-pura tidak mendengar.
“Gwiboon, dengar.” Jinki memulai, meraih dagu tirus Gwiboon untuk menatapnya “Aku…”
Gwiboon menunduk mendapati hatinya kembali bertalu dipandangi Jinki. Jika tadi pagi ia begitu yakin akan keputusannya, kini tidak lagi.
“Aku ingin tahu bagaimana kau menganggapku selama ini.” Jinki berkata lalu menurunkan wajah untuk mencapai level mata Gwiboon, yang langsung membuang wajah ke samping. “Kita sudah saling mengenal hampir setengah tahun, Gwiboon-ah.”
Gwiboon menghitung detakan jantungnya sendiri dalam upaya mengacuhkan Jinki lalu merogoh sakunya perlahan, berniat mengalihkan perhatian Jinki yang seakan mencekiknya.
Ia tiba-tiba memandang pemuda di hadapannya lagi, mengacungkan sapu tangan di genggamannya sambil memekik riang “Lihat, aku punya sapu tangan un…”
Kalimatnya tak pernah selesai karena bibir Jinki terlanjur menelan kata dari bibirnya yang terbuka.
Gwiboon tersentak sesaat sebelum alam bawah sadarnya mengambil alih dan ia mengatupkan mata, membiarkan rasa Jinki menempel di bibirnya.
Pemuda itu tersenyum kala menarik diri, mengusap lembut tulang pipi gadis yang masih mencoba mencerna di hadapannya lalu merampas sapu tangan yang terkurung dalam jemarinya.
“Terima kasih sapu tangannya,”
Jinki lalu mengacak rambut Gwiboon yang masih tak tahu apa ia harus tertawa atau menangis setelahnya.
*
Kibum masih mencoba menata kepingan hatinya yang meledak dan berserak saat Gwiboon datang ke kamarnya malam itu dan  memulas senyum ketika menemukan kegalauan berkedip-kedip dari radar saudarinya. Ia tahu kenapa.
“Gwiboon !” pekiknya bersemangat, pura-pura “Dengar dengar. Kau tahu Minho kan ?”
Gwiboon mengerjap, menelengkan kepalanya, bingung kenapa Kibum mendadak cerah ceria setelah malam-malam sebelumnya seperti kehilangan arah.
“Minho ?” ejanya “Sahabat baikmu ?”
Kibum mengangguk lalu menggeleng cepay “Dia sekarang pacarku,”
Gwiboon tersedak dan melotot tak percaya “P-pacarmu ? Bagaimana bisa ? La-lalu Jinki…”
Kibum mengernyit lalu tertawa terbahak-bahak. Pura-puta lagi. “Jinki itu kan cuma cinta monyetku, Gwiboon-ah. Kenapa kau menganggapnya serius sekali.” Ia lalu tersenyum penuh arti dengan mata mengawang “Aku baru sadar ..  Kalau sebenarnya Minho yang selalu ada, untuk kami berdua. Mungkin ini terlambat, tapi daripada tidak sama sekali…” ia menggantung kalimatnya.
“Kau juga.. Sebaiknya jangan terus ragu, Gwiboon-ah. Sesuatu yang kau sia-siakan sendiri, tak akan datang untuk kedua kali.” Kibum tersenyum lagi.
Gwiboon mengatupkan bibirnya yang setengah terbuka, lantas menatap saudara kembarnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kibum, terimakasih.” ucapnya.
Kibum mengernyit, seolah tak mengerti “Untuk apa ?”
“Segalanya.” Jawabnya pelan, menunduk memperhatikan kakinya.
Kibum tertawa, mengacak rambut Gwiboon lagi “Sudah sana. Ada yang harus ditelpon ya ?”
Gwiboon balas tertawa setelah mengangkat wajahnya “Kau juga kan ?”
“Tentuuu. Minhokuuu.” Kibum mengerjap-ngerjap sendiri.
“Malam, Kibum.” kata Gwiboon setelah berhenti terkikik, sebelum pergi diantar tatapan Kibum seperti biasa.
Pemuda itu akhirnya menggigit bibir saat pintunya tertutup tanpa suara, lalu menggapai ponsel di dekatnya dan memencet dial tanpa berpikir.
Kata pertama yang dilontar suara berat Minho saat nada sambung memudar berhasil merobek tampungan air matanya.
“Bodoh.”
*

Kibum berhasil membersihkan tiap inci rumah mungil Jinki -minus kamar lelaki itu dan kamarnya- dalam waktu dua jam, durasi yang sama yang masih dipakai Jinki untuk memandangi televisi.
Apa ia sama sekali tak menyadari dunia masih berputar di sekitarnya ? Kibum tak habis pikir kala ia memandangi profil Jinki dari balik sofa.
“Gwiboon suka acara ini.” Jinki berkata datar, merujuk pada acara komedi yang sedang diputar.
Apa Jinki baru mengajaknya bicara ? “Oh,” jawab Kibum singkat.
“Kau boleh kok duduk disini.” Jinki berkata, seakan tahu Kibum segan mendekatinya.
Kibum berpikir sejenak sebelum akhirnya melangkah dan menghempaskan diri di ujung sofa, sisi lain dimana Jinki berada.
Keheningan yang tak menyenangkan kembali menelan udara yang seakan memadat di sekitar mereka.
Kibum mendesah, lalu tiba-tiba mengerutkan kening saat mendengar dengkuran lembut yang menyapa telinganya.
Ia membesarkan mata dan menoleh ke sebelahnya, melihat Jinki ternyata telah diam-diam jatuh tertidur.
Ia tersenyum kecil lalu berdiri dan pergi ke kamarnya, mengambil selimut dari lemari dan membawanya keluar.
Kibum menaruh selimut di tempatnya duduk tadi lalu melangkah pelan mendekati Jinki.
Ia pasti lelah sekali, pikirnya. Lelah fisik dan mental, bergelut dengan urusan hati.
Kibum menarik perlahan tubuh Jinki dari posisi duduk untuk berbaring di sofa. Berusaha sesedikit mungkin menyentuhnya. Untung saja Jinki yang tak sadarkan diri masih bisa diajak berkooperasi.
Setelah membenahi bantal sofa untuk menunjang kepala Jinki, Kibum membuka selimut tadi dan menariknya menyelubungi tubuh lelaki itu.
Ia terdiam kala melepas tangannya dari tepi selimut yang berhenti di bawah leher Jinki. Harus diakui, Jinki tumbuh menjadi lelaki yang makin matang saja.
Dewasa namun tetap terlihat muda pada umurnya.
Entah sudah berapa kali ia membayangkan hal seperti ini. Sedekat ini, bisa memperhatikan Jinki.
Kibum membiarkan tangannya melayang di atas wajah Jinki, menelusuri anak rambut yang jatuh di dahinya. Ia menggeleng sendiri lalu menarik tangannya lagi, memutuskan kembali ke dapur dan memasak sesuatu untuk makan malam.
Jinki menarik nafas panjang dalam tidurnya.
*
Prague jadi tempatnya melarikan diri. Selepas wisuda, selepas bertarung dengan pergolakan batinnya sendiri selama lebih dari dua tahun.
Dengan channel dari Pamannya, tidak begitu sulit bagi Kibum untuk merintis karir seninya di galeri setempat. Walau Kibum bersikeras ia ingin memulai dari seni jalanan dulu.
Berpikir bahwa ia seharusnya tak menyukai Jinki sebesar itu hingga dengan cara begini saja, ia akan berangsur melupakannya, Kibum perlahan menghela nafas lega.
Ia masih kerap menerima email Gwiboon yang berisi update terbarunya tentang Jinki, tapi kebanyakan Kibum selalu membaca bagian itu sambil lalu. Tak pernah pula ia membuka lampiran fotonya.
Ia pikir selama ini hatinya sudah baik-baik saja hingga sebuah pos tiba di meja apartemennya pagi itu. Setelah dua tahun berselang. Memporak-porandakan apa yang sudah dirapikannya sedemikian rupa.
Tiga buah model undangan berbeda yang berisi sama.

‘You’re cordially invited to the wedding of :
Lee Jinki
&
Kim Gwiboon’

bersama surat bertulis tangan yang ia kenali sebagai tulisan Gwiboon.
“Karena kau tak mau pulang juga, kukirimkan ini untukmu.
Bantu aku memilih. Aku bingung sekali😦
Coba yang mana yang paling bagus dari segi estetika bla bla nya ?
Aku tahu acaranya masih akhir tahun depan. Tapi Umma sudah ribut sekali. Harus mulai mengurusi hal-hal kecil sekarang, katanya. Belum lagi mencari venue yang biasa juga sudah di booking di tanggal tanggal bagus dari tahun sebelumnya.
Aku ingin kau disini, Kibum-ah. Aku rindu sekali. Aku ingin kau membantuku memilih gaun dan segala macam.
Hah. Kenapa aku jadi menulis panjang begini.
Pokoknya email aku setelah kau mendapat posnya.
Yang rindu dan selalu menyayangimu,
Gwiboonnie.”
Kibum merasa mendengar pecahan hati yang telah ditempelkannya pelan-pelan kini berderak lagi.
*
To : Gwiboon <gwiboonkim@mail.co.kr>
From : Kibum <kimkey@mail.com>
Subject : Invitation

Dear Gwiboon,
Aku suka undangan yang berwarna gading, tapi desainnya agak biasa ya.
Di attachment kukirimkan desain yang kubuat sendiri untuk undanganmu ^^
Mungkin bisa kau minta pada pembuat undangannya untuk custom made saja.
Nanti akan ada lapisan translucent berisi lukisan abstrak kalian saat undangan dibuka, sebelum bagian waktu dan tempatnya.
Aku ini masih berguna bukan ? *mendengus bangga*
Kirimkan foto gaunmu padaku ! Tidak boleh memakainya sebelum kuijinkan !
Aku juga rindu padamu.

Ps : Ngomong-ngomong, Kok kau tak meminta restuku dulu ?
—-
To : Kibum <kimkey@mail.com>
From : Gwiboon <gwiboonkim@mail.co.kr>
Subject : Re : Invitation

Dear Kibum,
Gyaaaa ! Aku melompat-lompat di tempat tidur setelah membuka attachmentnya!
Kibumku memang yang paling hebat ><
Lukisannya bagus sekali. Aku suka Jinkinya. Kekeke.
Aku mencoba tiga
 macam gaun loh. Ada satu yang kusuka. Mungkin kau juga akan memilih yang itu.Selera kita kan sama. Besok akan kufoto saat aku mengepas lagi. Pulang ya nanti ! Atau aku akan memusuhimu seumur hidup :p

Ps : Kau pasti merestuiku ^^

Pss : Jinki titip salam untukmu katanya “Terima kasih !” dan ia ingin bertemu denganmu juga ><

Psss : Jangan bekerja terus. Carilah seseorang dan segera menikah. Ini Umma yang mengetik.

—-

To : Gwiboon <gwiboonkim@mail.co.kr>

From : Kibum <kimkey@mail.com>

Subject : Re: Re: Invitation

Kutunggu kiriman fotonya. Tentu aku akan pulang ! Tapi aku harus lihat dulu jadwal pameran tahun depan.

Ps : Tentu saja begitu.

Pss : “Sama-sama”

Psss : Aku ini sibuk, Umma. Dan seleraku terlalu tinggi. Hah *membusungkan dada* Nanti tunggu Gwiboon punya anak dulu saja.

*

Jinki menggeliat pelan dalam tidur sorenya sebelum akhirnya meregangkan tangan dan membuka mata.

Ia menguap lebar, lalu mulai mengendus saat wangi bawang putih dan rempah-rempah yang ditumis menggelitik hidungnya.

Gwiboon ? Ia terkesiap dan seketika menarik diri untuk duduk dan bergegas melongok ke arah dapur dari sofa.

Senyumnya memudar seketika mendapati potongan tubuh tinggi dan rambut pendek yang membelakanginya. Tentu saja bukan Gwiboon, pikirnya getir. Apa yang ia harapkan.

Ia mengalihkan pandangan sejenak ke sekitarnya, menyadari ada yang berbeda. Ia mengernyit. Menilik dari bau pinus dan sirkulasi udara yang membuat nafasnya lebih lega, ia baru sadar rumahnya dibersihkan.

Mengesankan, pikirnya lalu melayangkan pandangan kembali pada Kibum.

Ia tak pernah terlalu mengenal saudara Gwiboon itu. Jinki merasa ia jarang sekali berpapasan dengannya selama di kampus. Pernah sekali bertemu Kibum bersama Gwiboon di cafe dekat sekolah, Kibum pun tak berlama-lama.

Hanya membungkuk menyapa lalu melipir pergi membawa americano di tangannya, berkata ada orang lain yang menantinya.

Tapi kenapa Jinki merasa ia telah mengenal lelaki itu sejak lama ? Apa hanya karena kemiripannya dengan Gwiboon ? Ia juga tak mengerti.

“Jinki ?” panggil Kibum lagi.

“Eh ya ?” Jinki tersentak.

Kibum tersenyum tipis “Aku bertanya apa kau mau makan ?”

Jinki mendengar perutnya sudah berdendang lalu mengangguk.

Tumis tofu dengan kacang kedelai. Dan ayam ginseng. Jinki hampir terpana.

Bukan hanya karena ini makanan rumah pertamanya setelah sekian bulan. Tapi karena juga itu menu yang biasa dimasakkan Gwiboon untuknya.

“Maaf hanya ada bahan itu yang masih bisa dipakai di kulkas,” Kibum berkata. Bersyukur sepertinya sang caretaker sempat menyetok kulkas Jinki dengan bahan mentah.

Jinki sedikit menegang saat menarik kursi untuk duduk dan mengambil sumpit perak yang sudah ada di sisi meja. Ia menyumpit nasi di hadapannya dan mengunyah pelan, lalu perlahan memutuskan mengambil tofunya.

Ketika makanan itu meleleh di lidahnya. Rasa yang sama. Jinki menarik nafas dan mengangkat wajah. Memandang Kibum yang sedang menatapnya juga. Dengan mata kucing yang sama dan senyum miring yang dikenalnya. Satu tangannya dipakai untuk menopang sisi tengkuknya.

Jantungnya kehilangan degupan kala menyadari Kibum bahkan jauh lebih cantik dari bayangan Gwiboon yang mulai tergerus dalam pikirannya.

Ia bergegas meletakkan sumpit kembali di atas mangkok dan berdiri “Aku selesai.”

Kibum menarik lengkungan senyumnya kembali. Kecewa.

*

Kibum lupa ia tidak tahan berada lama-lama dekat debu. Dan betapa higienisnya ia saat ia berbaring di kamar Gwiboon malam itu.

Karena larangan Jinki, ia sudah tak berani menyentuh apa-apa sama sekali. Bahkan hanya untuk sekedar menyibak tirai di sudut.

Ia berguling dan bersin untuk kesekian kali. Sambil menggosok hidungnya yang sudah memerah sejak tadi, Kibum akhirnya memutuskan bangun dari kasur dan berjalan keluar.

Disambut oleh ruang tamu yang gelap, Kibum memicingkan mata. Jinki pasti sudah tidur.

Ia mengangkat bahu lalu beringsut ke sofa dan duduk di sana. Kali pertama duduk disana ia merasa tak bisa menikmatinya karena terlalu tegang akan keberadaan Jinki. Namun kini ia baru bisa merasakan betapa nyamannya sofa itu.

Tubuhnya seakan baru saja diisap oleh si sofa. Pantas saja Jinki bisa jatuh tertidur disitu. Ia tertawa sendiri lalu meraba-raba sofa untuk mencari selimut yang belum ia pindahkan dari sana.

Perlahan ia membaringkan kepalanya di atas bantal, dan menarik sofa dari ujung kakinya mendekati wajah.

Seketika harum Jinki yang tersisa membuatnya sakit kepala. Harumnya tak pernah berubah. Sering ia mencium wangi itu dulu, yang selalu dibawa pulang Gwiboon setiap mereka selesai berkencan.

Kibum mendesah. Kenapa masih saja ia bereaksi pada wanginya. Tak tahulah. Lebih baik ia tidur saja.

Beberapa jam setelahnya Kibum terbangun karena suara berisik dari televisi. Ia menyipit setelah membuka mata, berusaha menyesuaikan lensanya dengan cahaya.

Ia mengernyit memandang ke layar yang nyaris membutakan matanya, berita pagi ternyata, batinnya lalu menguap lebar. Saat ia meregangkan lehernya ke kanan dan kiri lah ia baru menyadari ada sebuah kepala di dekat sofa tempatnya tidur.

Ia mengerjap lalu baru menyadari bahwa Jinki sedang memainkan remote, duduk memeluk lututnya di lantai, tepat di depan sofa.

Ia menganga.

“Kenapa kau disitu ?” tanyanya dengan suara parau.

“Karena ada orang asing berambut pirang yang mengambil alih satu-satunya sofaku.” jawab Jinki tanpa menoleh.

“Ah maaf.” Kibum segera bangkit dari posisi duduknya, menarik diri ke ujung sofa sambil membenahi rambutnya yang mencuat kemana-mana.

“Kau hobi sekali meminta maaf ya. Satu kali lagi pasti dapat nomor undian.” cetus Jinki datar.

Kibum menghela nafas. Setidaknya ia bukan diketusi kali ini.

Jinki pun perlahan bangkit dari posisinya dan meregangkan pinggangnya “Aduh pantatku.” keluhnya.

Kibum seketika tertawa mendengar ucapan Jinki. Sungguh tak cocok keluar dari mulutnya yang biasa kelewat serius itu.

Jinki pun langsung menoleh dan melotot ke arah lelaki lain disana. Kenapa ia ditertawakan, protesnya.

Namun lagi-lagi sesuatu berarak di dalam dadanya. Memerhatikan dua lesung pipit terbentuk di masing-masing pipi Kibum. Tidak. Tidak seperti Gwiboon kali ini. Gwiboon bahkan tak punya lesung pipit.

Lantas ada apa dengan organnya ? Jinki menjilat bibirnya. Gawat.

Disamping otaknya yang ribut sendiri, Jinki tidak sadar ternyata ia masih memasang pelototan di wajahnya.

Kibum mengkeret lagi “Maaf.”

Jinki mengguncang-guncang kepalanya. Berusaha melempar keluar pertanyaan tak penting yang berpusar disana. Tentang kenapa pipi Kibum yang baru saja merona seperti buah persik seakan menaikkan tekanan darahnya.
*

tbc

 

-ps yang ga komen ga dapet pw ya HAHAHAHA hargai authornya yang susah payah lol 

119 thoughts on “{OnKey} Happy Ever After (1/2)

  1. SHOCK ama alur ceritanya.Alur diawal tegang sekaligus menyebalkan *puk puk kibum
    Sakit hati kibum sungguh sangat kuat sehingga aku pun dapat merasakannya *nangis bareng
    Tapi alur akhir bikin ngakak + geli, ada tanda-tanda jinkibum soalnya kkk
    Tapi untungnya dikalimat jinki tak ada persamaan antara key dan gwi yg membuatnya dugeun” saat melihat kibum xD

  2. lagilagi komentku kepotongggg > sedih ketika harus merelakan orang yg dicintai untuk orang yg juga kita sayangi huweee dilemaaa sangatttt T^T
    jinki kog gak lembut banget ma kibum hikss..hiks..
    saputangan itu dari kibum kan?
    omo apa akhirnya kibum bisa bersatu dg jinki? ><

  3. aduuh bingung mau komen apa di epep ini min. epep nyaa daebaaaak..
    suka banget sama cerita si kibum kembarannya gweebon. trus sama sama jatuh cinta pada orang yang sama ne yaitu jinki.

    baca epep ini nyakitin hati yaah min ? nyeseeek banget baca yang si kibun ngerelain orang yg dia cintai sama kembarannya sendiri. padahal dia berpura* tegar kalau didepannya gweboon eh nyatanya hatinya rapuh banget.

    tuh kan si gwee awalny aja mau jadi cupidnya kibum ujung*nya dia yang jadian sama jinki malah. haahh

    si jinki udah kaya zombie aja ditinggal gweboon ne ? saking cintanyaa oeh sampai* kibum mau megang barang gwe aja ga dibolehin -,-

    nah loo baru nyadar ya jinki kalau si kibum jauh lebih manis dan canti daripada si gwe hayooo dipastikan bakalan jatuh cinta dah sama kibum.. kkk

  4. Author bacanyaa aku deg degan sendiri gak tau kenapa ihhh ya ammpunnn. Kayaknya aku jatuh cinta sama penulisnya. Keren bgt. Aku ngerasa kayak ada disana. Ditempat tempat yang ada dalam cerita itu. Menyaksikan sendiri dengan maya kepala aku bagaimana itu terjadi. Ceritanya hidup banget. Keren, sampe lost my words.

  5. ya ammpuunn, ini nyeseek, sampe banget ke atiii,, miris bgt liat kibum, medem prasaan nya, pdhal kan gweboon mo deketin jinki ma kibum, malah gweboon jadian ma jinki,
    kibum pinter bgt pura2, bilangnya jinki cuma cinta monyet nya lah, pcaran ma minho lah,, pdhal sakiiit bangeett itu, krna dy tau jinboon sling nyukaiii,

    yg paling bikin jleb, wktu kibum tidur di sofa, dy nyium wangi jinki,, dy inget dulu ktika gweboon pulang mbawa wangi jinki abis mreka brkencan, miriis bgt,

    sukaa bgt,,

  6. dlu keknya pernah bca ni ff..tp lupa..udah komen pa belom yah??molla

    huuu kesian bgtt kibum…nyessss wehh
    cintanya ia relakan utk sang adik hukss
    jinkinya sinis bgt ma kibum huhu

    kak mnta pwnya gmana???

  7. Ini komenku yg keempat, ketoga komen sebelumnya hangus karna tab nge hang
    Pokoknya ini keren, banget. Bagus, sangat.
    Kebawa cerita, sediiih, kecewa, sakit hati. Ngga bisa bayangin sakitnya kibum. Relain cinta demi saudari kembarnya, padahal dia sendiri sakit huhu kibummie
    Padahal gweboon udah mau ngalah tpi keduluan kibum
    Ngga bisa komen kebanyakan, ntar ini tab nge hang lgi huhu

  8. ahhAhhh ini nyesek banget eh ㅠ_ㅠ
    Kibum selalu mengalah untuk saudara kembarnya,tapi Gweboon??? dia tidak peka,ah entahlah,ko Aku rada sebel sama Gweboon.
    ngena banget de tulisanmu,bener2 ngabisin tissue ini mah ㅠ_________ㅠ

  9. WAAAAH entah kenapa aku suka gwiboon x jinki x kibum tapi lebih ke jinkibumnya hehehe ((ga terlalu suka jinboon._.))
    angst angst kibum😦
    kibum pura pura pacaran sama minho karena dia tau gwiboon suka sama jinki :(( padahal minho juga tahu kibum suka banget sama jinki :(((
    ah sumpah nyesek nyesek nyesek :(((
    jinkibum ftw! hehe

  10. ya ampunnnn aku baru tauuuu ada ff sekeren ini walapun alurnya loncat” tapi tetep kerasa feelnya… aku pengen dong dapet pwnya walapun ketinggalan jauh telatnya gimana caranya ??

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s