{OnKey} Happy Ever After (2/2)


249153_530525840328489_1173827128_n

Title : Happy Ever After (2/2)
Pairing : Onkey
Genre : Angst, romance
Rating : PG-15

AUTHOR : @mayonkey / jinkionki93 @aff/LJ

…….
Kibum jadi terbiasa seperti ini. Menjalani liburan hanya untuk memasak, bebersih dan menemani Jinki. Persis ibu rumah tangga, walau tak ada cinta disana. Di sisi Jinki setidaknya.

Mereka belum sekalipun keluar rumah. Selain tak perlu, cuaca juga masih terlalu dingin. Dari berita pun terlihat bahwa gunungan salju masih menutupi ruas-ruas jalan. Untung saja stok makanan mereka masih ada.

Sore itu, seperti biasa, ia menemani Jinki menonton salah satu serial tv yang lelaki itu sukai. Kibum tak terlalu suka jalan cerita serial itu sebenarnya, tapi berhubung bukan ia yang punya rumah ia ikut saja.

Ia lebih suka memerhatikan wajah Jinki, walau mencuri-curi. Melihat cahaya dari layar terpantul dari lensanya. Dan air muka dari berbagai emosi yang sempat berganti-ganti.

Selama ini ia perhatikan Jinki juga hanya memasang wajah hampa ketika menonton, maka ketika kali ini Jinki bisa memicingkan mata, tersenyum dan menggeleng-geleng tak setuju adalah kejutan untuknya.

Kibum tersenyum sendiri. Sekali lagi ia melirik Jinki, namun kali ini tanpa tedeng aling-aling lelaki itu tiba-tiba memalingkan wajah untuk menumbuk matanya.

Kibum merasa pipinya memanas karena tertangkap basah lalu memfokuskan pandangannya ke depan lagi, mengutuki diri sendiri.

Jinki masih mengangkat alis memperhatikan Kibum bulat-bulat, tidak peduli serialnya sudah selesai dari istirahat komersial. Ia ingin tahu apa Kibum akan memandangnya lagi. Tak perlu diam-diam kali ini.

Kibum menggigit bagian dalam bibirnya lalu menarik nafas, memutuskan untuk menantang mata Jinki saja daripada salah tingkah seperti anak sekolah.

Jinki tersenyum miring melihat Kibum akhirnya terjebak juga. Setelah mengunci pandangan beberapa detik dan menikmati suguhan menarik di hadapannya, Jinki kembali beralih untuk menonton lagi.

Lelaki bermata kucing itu merasa ingin ditelan bumi.

*

Setelah hitungan hari singgahnya merangkak ke angka empat, Kibum baru ingat ia harus mengecek jadwal kereta ke Daegu lagi.

Selesai membereskan meja dari sisa makan malam, Ia akhirnya membawa laptop dari tasnya ke ruang tamu yang sudah kosong lalu mulai berselancar di internet setelah duduk di sofa.

Kibum menggumam sambil menggerakkan kursor. Kereta akan mulai beroperasi tiga hari lagi, batinnya. Ia pun mempertimbangkan jam mana yang akan ia ambil.

Sepertinya ia akan mengambil jam sore karena ia tak bisa membayangkan ia harus bangun pagi dan pontang-panting mencari kendaraan. Ia tak yakin Jinki mau mengantarnya, walau ia juga tak berniat bertanya.

“Jadi pulang ke Daegu ?”

“Ah.” Kibum terkejut lagi melihat Jinki sudah ada di belakangnya “Ya. Sudah janji pada Appa dan Umma.”

Wajah Jinki berubah saat mendengar singgungan orangtua Kibum -dan Gwiboon- “Oh. Tolong sampaikan aku titip salam,”

Kibum mengangguk, memperhatikan Jinki yang berjalan bingung ke dapur.

Ia memejamkan mata sebelum memberanikan diri untuk membuka suara “Jinki ?”

“Hmm ?”

“Bisakah kau berhenti menyalahkan diri sendiri ?”

Jinki hanya menegang di depan rak, tidak menjawab.

Kibum tahu semua cerita itu dari orangtuanya. Tentang kecelakaan yang menimpa Gwiboon, yang sesungguhnya sama sekali bukan kesalahan Jinki.

Jinki berniat menyiapkan kejutan untuk Gwiboon di rumah orangtuanya di Daegu hari itu. Karena judulnya juga kejutan, Jinki pergi diam-diam terlebih dulu kesana untuk mempersiapkan segala sesuatunya dibantu oleh orangtua mereka. Lalu saat semuanya selesai, Appa mereka menelepon Gwiboon untuk mengatakan bahwa Umma mereka tiba-tiba sakit dan meminta Gwiboon menjenguknya.

Berhubung Gwiboon memang sedang mengambil cuti tahunan dan Jinki sedang bertugas ke luar kota –alasan yang lelaki itu berikan-, Ia pun menyanggupi.

Sayang, keteledoran awak kereta yang salah memilih jalur yang -sebenarnya- sedang diperbaiki membawa akhir yang tak siapapun sangka. Tak pernah.

Tak pernah mereka mengira akan menemukan tubuh Gwiboon bersama puluhan penumpang lainnya terlempar di antara bebatuan. Memar dan luka di sekujur tubuhnya. Dan Jinki, setelah melihat tubuh tunangannya masih bergelimang berdarah ketika sampai di rumah sakit beberapa jam berselang, tak pernah bisa berhenti mengutuki dirinya sendiri. Hingga detik itu.

“Gwiboon naik kereta itu bukan salahmu,” Kibum berkata “Bukan salahnya, bukan salah siapa-siapa. Itu sudah takdirnya.”

Jinki membalik badan dari rak gelas yang sedang dihadapinya lalu melempar tatapan tajam pada Kibum dari kejauhan “Apa maksudmu ?”

Kibum berdiri dari sofa, menghela nafas lalu berjalan mendekat ke dapur “Kecelakaan itu bukan salah siapapun. Itu sudah takd…”

“Takdir apa maksudmu ?!” Jinki menyalak marah “Takdir Gwiboon untuk mati ? Takdirku untuk hidup sendiri ?”

Kibum mengernyit tak mengerti, merasakan godam seakan dijatuhkan di atas kepalanya “Aku tak pernah berkata seperti itu.”

“Tutup mulut sajalah. Kau tak tahu apa-apa.” Jinki berkata, menenggak air putihnya dan melempar gelas itu ke tempat cuci lalu berjalan gusar, keluar mengitari dapur.

Kibum merasa amarah sudah membakar ujung jari-jarinya saat Jinki akan berjalan melewatinya “Kau pikir Gwiboon akan tenang melihatmu seperti ini hah ?! Kau pikir dia tak sedih melihatmu begini ?!” Ia berteriak, menghadang Jinki “Kau pikir Gwiboon mau melihat tunangannya hidup seperti mati ?! APA KAU JUGA MAU MATI SAJA ?!”

Jinki melayangkan tangan untuk menampar pipi Kibum, begitu kerasnya hingga pemuda langsing itu terpelanting dan tulang pinggulnya membentur sisi tajam konter dapur.

Kibum seketika mengaduh dan memegangi sisi tubuhnya, sebelum menoleh untuk melihat tatapan Jinki yang sempat sedetik berubah panik lalu membeku lagi. “Jaga ucapanmu kalau tak mau kuusir dari sini.” Cetusnya marah.

Kibum menggigit bibir menahan sakit seraya memandangi lantai, sebelum berusaha menghela nafasnya yang memburu, lalu mengangkat wajah dan menatap Jinki terluka “Aku akan pergi besok pagi.” Ia berkata dengan suara bergetar lalu bergegas berjalan terpincang ke kamar Gwiboon dan membanting pintu.

Lelaki itu otomatis menyandarkan kepalanya ke sisi pintu, memejamkan mata dan melorot ke lantai lagi setelahnya.

Perlahan, ia mengusapi tulang pinggulnya yang berdenyut menyakitkan, berusaha bertahan dengan mata yang sudah dikabuti kekalahan.

Hilang sudah semua kepercayaannya jika Lee Jinki yang dikenalnya masih ada, takkan lagi diharapnya Jinki yang dulu untuk kembali. Tidak lagi.

Karena pagi yang ia kenal menyembuhkannya, bukan menghancurkannya.

Kibum mengusap buliran bening yang kabur dari sudut matanya dan bersiap merapikan barang-barangnya.

*

Jinki mendesah sendiri ketika menempelkan dahi di kaca jendela kamarnya, lalu berdecak dan mengulang kata-kata yang sudah dipikirkannya selama ratusan kali dalam tempo satu jam. Ia benar-benar tidak pernah berniat menyakiti Kibum. Ini semua salah emosinya yang belum stabil. Ia mendesah.

Ia tak tahu apakah ia harus menyalahkan Kibum karena menyulutnya. Walau ia tahu Kibum hanya khawatir padanya. Mungkin memang semua salahnya.

Ia sendiri tak mengerti kenapa ia rela berkubang dalam kehilangannya terus menerus, mengingat apa kata Kibum tadi. Mungkin karena ia belum tahu bagaimana cara membayar semua kesalahannya pada Gwiboon. Mungkin karena selama ini belum ada yang cukup berani untuk menariknya keluar dari kepedihan itu. Atau mungkin karena belum ada kemauan dari Jinki untuk memaafkan dirinya sendiri.

Mengingat lagi luka yang sempat dikilatkan Kibum untuknya, Jinki merasa ingin meninju dirinya sendiri. Ia menyesal kenapa ia bahkan tidak meminta maaf setelah itu. Untuk sakit fisik dan batin yang ia berikan.

Sudah menjadi manusia macam apa sebenarnya dia ini. Hingga mampu menyakiti seseorang yang terlihat lebih rapuh dari porselen seperti itu. Bahkan guci oleh-oleh yang diberikan kliennya saja bisa ia jaga lebih baik dari Kibum.

Tunggu. Jinki membuka mata dan menarik wajahnya dari jendela. Sejak kapan ada terlintas di benaknya untuk menjaga Kibum ? Untuk melihat senyum berlesung pipitnya tiap hari begitu ?

Jinki merasa jantungnya tertinggal di depan pintu. Rasa ingin menyimpan dan menaruh Kibum dalam kotak kaca agar bisa dipandanginya tiap hari saja sudah mengindikasikan sesuatu yang kuat berhasil menjajah kewarasannya. Ia tak pernah lagi merasakan keinginan segila ini.

Dan kenapa ia baru menyadari ? Jinki bergegas keluar dari kamarnya.

*

Tadinya Kibum mau tetap mengurung diri di dalam kamar, tapi karena tidak tahan dengan bersinnya sendiri ia akhirnya memutuskan mengendap-endap keluar.

Persis seperti mata-mata yang sedang mengintai, ia menghela nafas lega saat Jinki tak ditemuinya di manapun sejauh pandangan mata. Baguslah, pikirnya.

Namun Kibum kali ini tidak langsung berbaring di sofa. Entah kenapa ia merasa terlalu lelah bahkan untuk tidur. Maka Ia berakhir menyandarkan diri di sisi perapian yang masih menyala. Jinki memang memasangnya sebagai mesin penghangat tradisional.

Mata Kibum mengembara menembus kobaran api yang menjilat jilat udara, pada kayu yang meretih digerogoti panasnya.

Sakit ya ? Tanyanya, entah pada siapa. Berguling miring sambil memeluk kakinya. Menempelkan sisi tubuhnya yang tidak sakit pada marmer yang suam-suam kuku di kulitnya.

Kibum menghela nafas.

“Kibum..”

Ia mengerjap dan tak menjawab.

“Kibum.. Maafkan aku..”

Bisa ia dengar seseorang duduk di belakangnya. Kibum menatapi arang lagi.

“Kibum..”

Kibum hanya menyergah bahunya, mengusir tangan hangat Jinki dari sana.

“Tak apa-apa. Tak usah peduli.” Jawabnya singkat, dengan nada mati.

“Kibum..” Jinki memanggil lagi, mengulurkan tangan untuk menelusuri sepanjang tangan Kibum yang dipakainya untuk memeluk lutut dan digenggamnya jemari disana.

Kibum mengerutkan dahi pada tautan tangannya dengan Jinki. Mau apa lelaki itu sebenarnya.

Ia bergerak untuk melepas tangannya, yang sia-sia karena Jinki menahannya begitu kuat.

Kibum akhirnya melepas pelukan lututnya dan berbalik memandang Jinki tak mengerti dari balik bahunya.

“Bagus juga kau berdiri untuk dirimu sendiri. Tapi lain kali lebih baik jangan melawan.” bisik Jinki, tepat di telinganya.

Kibum terdiam dan menoleh ke depan lagi, memandang tak mengerti ke dalam kegelapan samar di depannya.

“Sakit ya disini ?” Jinki mendekat, melepas tangannya dari tangan Kibum untuk mengusap tulang pinggul lelaki itu. “Maaf ya.” ucapnya lagi.

Kibum mengerang pelan, merasakan pijatan Jinki mau tak mau mengurangi pedihnya.

Namun tiba-tiba jemari Jinki bergerak lagi, bersama jemari lain untuk melingkari perut Kibum dan menarik lelaki itu ke pangkuannya.

Kibum menegang seketika “Jinki ?” tanyanya “Apa yang kau lakukan ?”

“Aku mau hidup lagi, Kibum.” bisik Jinki, membaui rambut Kibum yang beraroma lemon sambil memejamkan mata.

“Aku mau..” Ia mengulang, menyapu tengkuk Kibum dengan desahan nafasnya “hidup lagi..” bisiknya, lalu perlahan menempelkan bibirnya di sisi leher Kibum, mengecap rasa lagi.

Kibum mendesah dan memejamkan mata, membiarkan Jinki menarik bahu sweaternya ke bawah dan menandai lebih banyak area kulitnya.

Tangan besar dan hangat Jinki sudah menelusup dari bagian bawah sweaternya, meraba setiap inci kulit satinnya yang membuat Kibum mulai mendesah lebih keras.

Ia menggeliat saat sebelah tangan Jinki mengendap ke dalam celana panjangnya, mengusap memar di pinggulnya.

Kibum, akhirnya tak tahan lagi menahan sensasi itu sendiri dan memutar tubuhnya dalam pangkuan Jinki, terbuta-buta menempelkan bibirnya dengan bibir Jinki dan melumatnya.

Tak lama lidah mereka sudah beradu dominasi, bergerak menikmati apa yang belum pernah mereka lakukan dan rasakan sebelumnya.

Tergesa-gesa, mereka mulai melucuti semua yang menghalangi.

Kibum merasa panas dan dingin berganti membakar dan membekukan tubuh telanjangnya bersama.

Dingin punggungnya yang mengontak lantai langsung dan panas kulitnya di tempat-tempat yang disentuh Jinki.

Lelaki bermata sabit itu mencium memarnya lagi, masih berasa bersalah nampaknya. Kibum tak keberatan. Sama sekali. Toh memarnya akan lebih banyak setelah ini. Dan mungkin Jinki bisa mengisap sakitnya lagi.

Kibum memejamkan mata.

Membiarkan mereka berdua jatuh lebih dalam disaksikan kobaran api yang meredup perlahan.

*

Seumur hidup Kibum tak pernah merasa tubuhnya sekaku itu. Walau kelembutan selimut yang mengapit tubuhnya terasa amat melegakan.

Ia menggeliat dan membuka mata, lalu terpana ketika melihat Jinki tersenyum di sebelahnya, menopang wajah malaikatnya dengan sebelah tangan. Ia mengerjap, berusaha mengingat. Apa ini mimpi ?

Kibum terlempar dari alam pikiran ragunya sendiri saat Jinki mengulurkan tangan untuk mengusap wajahnya “Pagi, Tuan Putri.” Ucapnya.

Kibum mengernyit, dan bertanya seperti ornag yang baru belajar bicara “Tuan .. Putri ?”

“Kau..” Jinki mencoba mencari kata yang tepat, tersenyum sambil mengusap rahang Kibum dengan jari gempalnya “Lembut sekali..” Ia berkata, tak tahu mengacu lembut pada segi apa.

“Aku hampir tak berani melakukan apapun terlalu keras. Takut merusakmu ..”

Kibum tersenyum geli ketika sudah bisa menguasai diri “Kau sudah merusakku..”

Jinki mendekat untuk mendaratkan kecupan di bibir Kibum, menyelipkan tangan ke bawah selimut untuk meremas pinggang langsingnya.

Kibum menggumam setelah menarik diri “Ini masih pagi.”

“Dan ini liburan.” Jinki tersenyum usil, mengadu tubuh mereka lagi.

Kibum menahan Jinki, dengan kekalutan yang masih bertahan di matanya, ia menarik nafas “Kenapa kita melakukan ini ? Apa kau.. mencintaiku ?”

“Apa kau mencintaiku ?” balas Jinki.

Kibum tersenyum lemah “Kau tak tahu..”

Jinki menempelkan dahinya ke dahi Kibum, meraih jemari kurus lelaki itu untuk diam di dadanya yang masih bergemuruh “Aku belum tahu apa ini. Mau mengajariku ?”

Kibum mencondongkan tubuh untuk mengecup rahang Jinki “Tentu.”

*

Kibum tentu saja tak jadi pergi dan tetap tinggal di rumah Jinki untuk sementara, sebelum ia pulang ke Daegu.

Jinki akhirnya, dengan rela, mengijinkan Kibum membersihkan kamar Gwiboon. Meski Jinki berkata jahil toh Kibum bisa menetap di kamarnya sampai ia pergi dan melakukamacam-macam yang langsung di sambut oleh tinju keras pada lengannya-.

Kibum dengan telaten membuka plastik-plastik penutup seluruh furnitur di kamar Gwiboon dan melipatnya, lalu menumpuknya di sudut untuk ditaruh di gudang nanti. Ia mengelap, mengepel dan menyapu tiap sudut hingga mengkilap. Hingga mungkin kamar Gwiboon bahkan bisa dipakai untuk syuting drama setelah ini, pikirnya bangga.

Kibum merapikan barang-barang Gwiboon yang berdebu, tak memindahkannya karena Jinki berkata toh barang itu masih bisa dipakai Kibum juga.

Kibum memutuskan membiarkan baju Gwiboon tetap di tempatnya. Berpikir Ia juga tak terlalu membutuhkan lemari itu.

Ia menghabiskan waktu hingga selesai makan malam untuk membereskan kamar sampai ia puas dengan hasilnya.

“Aku terkesan.” kata Jinki, entah sejak kapan berada di ambang pintu.

Kibum tersenyum.

“Mungkin aku bisa mempekerjakanmu sebagai pelayan.”

Kibum segera melempar bantal yang dengan sigap ditangkap Jinki “Bercanda,” kata Jinki sambil tertawa, dengan lensa kembali tertutup dua belah purnama dan cahaya lampu dari arah ruang tamu yang berpendar di sekelilingnya.

Paginya sudah kembali.

Kibum merasa sengatan di matanya lagi.

Jinki berjalan masuk masih sambil memeluki bantal, untung tak menyadari Kibum yang hampir menangis.

Jinki tersenyum pad ‘366 Dongeng Pengantar Tidur’ ang tergeletak di meja, ketika Kibum meletakkan dagu di bahunya “Gwiboon suka sekali dongeng ya ?”

Jinki mengangguk, menoleh untuk mengecup dahi Kibum lalu menawarkan “Mau kubacakan ?”

Kibum mengangguk mengiyakan lalu menarik dagunya dari bahu Jinki, yang kini menarik tangannya menuju tempat tidur.

Kibum membaringkan diri di atas kasur, sementara Jinki bersandar di kepala ranjang, melingkarkan tangan di atas kepalanya untuk mengusap rambutnya.

“Mau kubacakan cerita yang mana ?” tanya Jinki, mulai membuka bukunya.

“Hmm ? Kau ingat terakhir Gwiboon minta dibacakan apa ?”

Jinki mengulum bibirnya untuk berpikir lalu membalik buku bercover tebal itu lagi “Kami sudah menghabiskan buku ini sepertinya. Seingatku, Gwiboon mau mulai dari awal lagi.”

Kibum mengangguk-angguk “Kalau begitu bacakan aku apa saja.” katanya, yang lalu direspon dengan keheningan.

“Jinki ?” panggilnya lagi.

Masih tak ada jawaban.

Kibum akhirnya mendongak, mengangkat alis ketika melihat Jinki sedang terdiam, memandangi sendu sepotong kertas di tangannya. “Jinki ? Ada apa ?” tanyanya cemas.

Jinki mengalihkan pandangan dan tersenyum lemah pada Kibum, menyerahkan kertas itu ke tangannya. “Ini terselip di halamannya,” katanya serak.

Kibum membawa kertas itu ke wajahnya, perlahan menghayati kata demi kata yang ditulis Gwiboon disana, tangannya bergetar ketika menurunkan kertas itu, juga bibirnya, yang langsung ditenangkan oleh lumatan bibir Jinki tak lama setelahnya.

Kibum masih membiarkan jemarinya menggantung di pakaian Jinki saat mereka menjauhkan diri dan bertanya pelan “Kita akan mengabulkannya ya ?”

Jinki menurunkan wajah lagi untuk mengecup dahi Kibum “Tentu.” sanggupnya. Tentu.

*

‘Dongeng ke-367

Suatu hari, Jinki dan Kibum akan menyadari mereka saling mencintai, -bersamaan ketika aku bisa memaafkan diriku sendiri-  dan hidup bahagia selamanya.

Tamat.

– G’

*

Epilog 1

“Aku masih tak percaya kau melamarku begitu.”

“Memang aku ini tak kelihatan romantis ya, Gwiboon ?”

“Kau ceroboh dan gombal. Tak ada yang romantis darimu di kamusku.”

“Uh. Tak akan lagi aku repot-repot menyiapkan kasur mawar putih kalau begitu.”

“Tapi kan aku tetap mencintaimu.”

“Tentu tentu.”

“Jinki ?”

“Ya ?”

“Boleh aku bertanya sesuatu ?”

“Boleh saja.”

“Apa yang membuatmu pertama jatuh cinta padaku ?”

“Boleh aku menulis essay untuk itu ?”

“Tsk. Aku serius.”

“Hahahaha. Maaf. Hmm.. Tunggu sebentar. Yang membuatku jatuh cinta padamu ya..”

“Ya ?”

“Kupikir matamu.”

“Mataku ?”

“Ya. Mata kucingmu. Seakan aku sudah pernah melihat matamu jauh sebelum bertemu denganmu. Seakan aku sudah jatuh cinta pada mata itu lebih dulu. Tapi sayang aku tak bisa mengingatnya.”

“…. Begitu kah ?”

“Ya. Kenapa ?”

“Tak apa. Aku mencintaimu, Jinki.”

“Aku juga, Gwiboon. Aku juga.”

*

Epilog 2

“Kibum …”

“Ya ?”

“Aku masih tak mengerti. Kenapa Gwiboon bisa menulis carikan dongeng tentang kita ?”

“……”

“Kibum ?”

“Aku … tahu dongeng ini. Mau kuceritakan ?”

“He-ehm.”

“Semuanya dimulai dari .. Gerhana ..”

 END

bagus kan? T_____________T comment juseyo~ 

kalo comment banyak besok saya posting ff onkey (saya) lagi deh *wink*

Advertisements

83 thoughts on “{OnKey} Happy Ever After (2/2)

  1. Prasaan terlalu cepet,atau prasaanku saja ya,hmm
    sepertinya lebih ngena baca d chap 1 tuh,udah keombang ambing prasaank,tapi pas endingnya,berasa kurang,perasaanku aja kali ya,hehee

  2. bener2 pas sedih itu justru waktu Kibum duduk di depan perapian sendiri…
    bagusnya ternyata Jinki itu udah ada rasa sama Kibum dari mereka pertama ketemu…. hahhahah… sebenernya di sini, Kibum sama sekali ga pernah coba ngegoda Jinki. tapi justru sebaliknya.. Jinki yang mulai duluan..ahahahahah

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s