[2min] Chasing You! – part 4


Character:
Lee Taemin | Choi Minho | Kim Jonghyun | Kim Kibum aka Key | Lee Jinki aka Onew
Rate : PG 13
Genre : Romance, schoollife, fluff, friendship, drama, yaoi
WC: 3.454 Words
Lenght : Part 4 – ?
Warned: This is yaoi or boyxboy … if you dont like it, please leave! None of the materials provided in this fanfic may be used, reproduced or transmitted, in whole or in part, in any form or by any means. No parts of this fanfic are to be copied without permission in writing from the author.

<< PREV PART

CHASING YOU – Part 4

Terkadang kita tidak pernah tahu kenapa dan bagaimana seseorang bisa selalu ada dipikiran kita, namun kita juga lebih sering untuk mengelak perasaan itu. Sama dengan hal yang dilakukan Taemin, namja itu lebih memilih untuk tidak perduli meski secara tidak langsung tubuh dan pikirannya tidak menolong sama sekali.

Setelah lelah berpura-pura untuk mencuri pandang melihat kedalam kelas 2-C dimana kelas Jonghyun berada –yang merupakan kelas dimana Minho berada. Setelah lelah berpura-pura untuk menghampiri Jonghyun mengajaknya kekantin bahwa hanya ingin melihat apakah ada Minho. Akhirnya siang itu ia memberanikan diri menyuarakan pertanyaan yang ada dibenaknya beberapa hari itu.

“Jjong …”,

Jonghyun sahabatnya itu menoleh dari kegiatannya bermain game di ponselnya. “Neh?”,

Taemin hanya menunduk dan mencoba memikirkan alasan yang tepat atas sesuatu yang akan ia tanyakan.

“Ng … sepertinya akhir-akhir ini aku tidak melihat Minho …”, itu lebih terdengar seperti komentar dibanding pertanyaan, namun Jonghyun orang yang sudah cukup lama mengenal watak Taemin, terutama dengan sikap gengsi Taemin yang tinggi itu, Jonghyun tersenyum simpul mendengar pertanyaan temannya.

“Shh … aku juga tidak tahu, sudah beberapa kali aku menghubunginya, namun ia tidak membalas telpon atau pesanku …”,

Taemin hanya mengangguk, sepertinya sandwich didepannya sudah tidak lagi menambah selera makannya. Ia sangat sibuk dengan dugaan didalam hatinya, wajah Minho yang ia lihat terakhir kali mereka bertemu cukup membuatnya penasaran. Wajahnya begitu panik dan dingin seketika, ia tidak pernah tahu bahwa wajah Minho yang seperti itu membuatnya takut.

“Tunggu! Bukannya kau pulang bersamanya malam itu? Apa kau sudah mencoba menghubunginya?”, tanya Jonghyun kali ini. Taemin menarik nafas dan menggeleng pelan. “Kalau begitu apa ia tidak menghubungimu?”, Taemin masih menggeleng. “Oh, jangan-jangan kau tidak mengetahui nomer ponselnya?” Taemin mengangguk menyayangkan. Jonghyun hanya berdecak melihat reaksi bodoh yang hanya bisa dilakukan sahabatnya itu.

“Ku dengar ia sering seperti ini dahulu …”,

Taemin kali ini menoleh, Jonghyun mematikan game di ponsel dan menatap Taemin sejenak, ia melihat sahabatnya itu menunggu ia meneruskan ceritanya.

“Minho sering tidak masuk sekolah, ia sering sekali bolos dan tidak ada keterangan apapun. Kemudian setelah 1 minggu atau lebih ia akan kembali. Tidak ada yang tahu apa yang ia lakukan, namun rumor mengatakan bahwa ia hanya melakukan hal-hal tidak berguna, berkumpul dengan geng motor, clubbing, bahkan ada yang bilang bahwa ia sering berkelahi.”,

Taemin mengigit bibirnya, “Jadi apa kau berpikir ia juga seperti itu sekarang?”, tanya nya, Jonghyun hanya mengangkat bahunya.

“Ia pernah mengatakan padaku bahwa ia akan berubah …”, jelas Taemin pelan. Jonghyun yang mendengar hal itu menoleh terkejut, ia tidak percaya bahwa sudah sejauh itu hubungan kedekatan Minho dengan sahabatnya.

“Jinjja?”,

Taemin mengangkat bahunya, “Kita tidak akan pernah tahu, karena kita juga tidak cukup lama mengenalnya…”, ucap Taemin mengangguk membenarkan sendiri pemikirannya. Jonghyun hanya berdecak penasaran.

“Sudahlah … jangan terlalu di pikirkan, nanti aku akan coba menghubunginya lagi …”

Jonghyun menepuk pundak Taemin, namun namja cantik itu hanya tersenyum menerima perlakuan temannya, entah mengapa Taemin merasa ia ingin sekali bertemu dengan Minho. Ia penasaran dan ingin memastikan bahwa tidak ada hal-hal bodoh atau hal lain yang diperbuat oleh namja itu.

.

.

Kepulan asap mengebul di udara kemudian terbawa angin begitu saja, esapan demi esapan ia hisap sampai pada batas rokok di tangannya habis. Beberapa kali ponselnya bergetar dan memecah kesunyian, namun ia abaikan begitu saja karena ia tidak ada niat atau bahkan ada keinginan untuk menjawabnya apapun itu.

“Kau disini?”,

Ia menoleh dan melihat seorang yeoja cantik berambut panjang hitam berjalan ke arahnya kemudian mengambil duduk di sampingnya. Yeoja itu dengan cepat mengambil punting rokok yang ada digenggaman dan membuangnya ke tanah.

“Yah!”

“Wae?”, balas yeoja itu ketus, “Kau mau aku menjadi perokok pasif dan punya kanker paru-paru?”, tanya yeoja itu kesal. Ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika yeoja itu sudah mulai marah atau menaikan suara padanya.

“Apa yang kau lakukan disini? Bukankah seharusnya kau pulang ke rumah? “, tanyanya.

“Aku tidak mau, aku mau menunggu keadaan Umma membaik…”

“Umma baik-baik saja, bahkan Umma tidak apa-apa saat ini, jadi kau bisa pulang dan besok kau harus mulai kembali ke sekolah, yakan Minho?”,

Minho menarik nafas dan menatap pemandangan taman kosong didepannya, “Aku tidak akan pergi kesekolah.”. ucapnya dingin, “Aku tidak akan pergi sampai Umma keluar dari rumah sakit … tidak ketika pria tua itu akan kembali lagi kesini dan menunjukkan wajahnya yang sama sekali tidak merasa bersalah.”,

TOK

“Argh!Noona!”, pekiknya mengelus sisi kepalanya yang baru saja di pukul oleh Noonanya itu.

“Yah, pabo! Kau pikir masalah ini akan selesai dengan cara kau tidak pergi kesekolah? Kau harus sekolah …”, ucap noonanya itu menarik nafas, “Aku sudah cukup senang karena semenjak kau pindah kau terlihat sangat bahagia berangkat kesekolah, selama aku menjadi noona mu, baru sekali ini kau semangat dengan namanya pendidikan!”, Minjung berdecak.

“Kau berlebihan …”, ucap Minho dingin.

“Minho ah …”, Minho dapat mendengar noonanya menarik nafas, kemudian noona nya itu meletakan kepalanya di pundak Minho. “Jangan lagi berbuat bodoh, kau sudah berjanji pada Umma akan meneruskan sekolah dengan baik, ya kan?”, kali ini noona nya merangkul lengan Minho dengan erat. “Hanya kau yang kami punya saat ini Minho … hanya kau yang bisa melindungi aku dan Umma saat ini … jadi aku mohon percayalah padaku … semua akan baik-baik saja, Umma akan sembuh, dan  kita akan hidup bahagia lagi setelah semua ini selesai … oleh karena itu, kembali saja bersekolah, kau hanya butuh focus untuk melanjutkan sekolah.”,

Minho berdiam dan menatap sosok noona nya itu, perlahan Minjung mengangkat kepalanya dan menatap Minho dengan tersenyum. “Arraso?”,

Minho menatap Minjung dengan lekat dan mengangguk perlahan, “Arraso …”, ia mengelus kepala noonanya itu sayang dan membiarkan noonanya itu kembali memeluk lengannya dan bersandar di bahunya. Senyum noona nya itu tidak akan pernah Minho lupa, senyum yang menggambarkan kekecewaan dan kekhawatiran, Minho sudah pernah berjanji akan membawa senyum terindah baik bagi Umma dan Noona nya. Jika itu ingin ia capai maka keinginan Umma dan Noona nya yang utamalah yang harus ia lakukan, yaitu melanjutkan sekolah dengan baik.

.

.

Tepat seminggu ketika ia terakhir kali bertemu dengan Minho, entah mengapa sampai saat ini dia masih belum mempunyai keberanian untuk mencari tahu apa yang Minho lakukan dan dimana keberadaan Minho. Bahkan ia berhenti bertanya pada Jonghyun atau berpura-pura melewati kelas Jonghyun hanya untuk mencari tahu apakah Minho sudah kembali.

Apa semua perkataan tentang rumor buruk yang terjadi pada Minho itu benar? Ia tidak tahu.

“Minho datang? Yang benar saja, dari mana saja ia selama ini?”

Taemin menoleh terkejut ketika sebuah berita itu sampai ditelinganya, dengan cepat ia menoleh dan berlari menuju temannya yang baru saja mengatakan hal itu.

“Jakkaman!”, Taemin menghadang kedua namja didepannya yang ia kenal sebagai Henry dan Jino. “Kalian bilang Minho sudah masuk sekolah? Apa ia ada dikelas saat ini?”, tanya nya semangat.

“Ah, neh … dia dikelas … tadi kulihat ia sedang tertidur dikelas …”, jawab Jino bingung,

“Ah, gomawo!”,

Biasanya Taemin tidak sesemangat itu mengetahui kehadiran seseorang, bahkan tidak ketika Jonghyun kembali masuk sekolah karena sakit cacar selama 1 minggu, tidak ketika Key masuk sekolah karena ia berlibur ke Amerika selama 1 minggu, begitu juga tidak ketika Onew kembali ke Jepang karena pertukaran pelajar nya.

Ia berusaha untuk tidak perduli, pikirannya mengatakan bahwa sebaiknya nanti saja ia bertemu dengan Minho. Mungkin saat jam istirahat atau sepulang sekolah. Ia juga berusaha untuk tidak perduli ketika pikirannya mengatakan bahwa seharusnya ia tidak menemui Minho, karena untuk apa? Ia juga tidak terlalu dekat dengan Minho. Yang paling ia tidak habis pikir adalah kenapa ia sangat ingin menemuinya bahwa ia mengetahui bahwa Minho bukanlah orang yang sangat penting baginya … atau ia belum mengetahui bahwa Minho memang penting sekarang bagi hidupnya.

.

.

Taemin terkejut ketika tangannya di tarik oleh Minho ketika ia baru saja keluar kelas, bukan hanya Taemin tapi juga semua mata yang melihat pemandangan tiba-tiba itu terkejut. Karena saat itu Minho sudah menariknya menuju parkiran dan memakaikan helm dikepala Taemin, tanpa bisa berpikir panjang Minho menggendong Taemin dengan mudah dan menempatkannya pada boncengan motornya.

“Pegangan …”, hanya itu ucapan Minho sebelum ia menyalakan mesin, suara menderu menggema diseluruh selasar halaman sekolah.

Sontak lengan Taemin memeluk pinggang Minho dengan erat, ia masih tidak terbiasa untuk naik motor. Taemin ingin sekali protes, namun sikap diam Minho yang tidak seperti biasanya membuatnya enggan dan takut berbicara. Biasanya Minho akan mengeluarkan kata-kata menyebalkan padanya, mengusilinya dengan permainan kata-katanya, namun sikap diam Minho membuat Taemin khawatir.

Entah berapa lama ia memeluk tubuh kekar Minho dan merasakan tubuhnya terayun kesana kemari seiring dengan laju motor yang membawa mereka. Taemin memberanikan diri membuka matanya, betapa terkejutnya ketika ia melihat begitu cepatnya mereka melaju dijalanan. Taemin dapat melihat dengan jelas pemandangan disekitarnya bergenti dengan cepat, kendaraan yang melaju diantara mereka seakan bergerak layaknya siput. Hempasan angin yang sangat kencang menerpa wajahnya menyadarkannya bahwa benar mereka berada pada kecepatan maksimal. Tanpa sadar ia meremas jaket kulit yang Minho kenakan, ia pejamkan matanya erat-erat ketika tiba-tiba mereka melesat diantara bis yang melaju kemudian meliuk kesana kemari menghindari kendaraan lain yang tertinggal dibelakang begitu saja.

Taemin membuka matanya ketika ia tidak lagi merasakan ia duduk di atas motor yang bergerak dan tidak lagi mendengar deru mesin melaju. Jantungnya berdegup sangat cepat, ia melepas pelukannya dari pinggang Minho kemudian melompat turun.

“KAU GILA!!”, pekik Taemin gemetaran, ia buka helm yang ada dikepalanya dan melemparnya ketanah, “KAU!”, deru nafasnya cepat. Ia melihat Minho yang masih duduk di atas motornya menoleh dengan tatapan datar. Taemin menggelengkan kepalanya, entah kenapa air matanya keluar, ia bingung … karena ia tidak tahu, apakah itu rasa takut atau rasa kesal pada Minho karena seenaknya membawanya pergi begitu saja dengan mempertaruhkan nyawanya melaju di atas motor yang begitu cepat.

“Apa-yang-kau-lakukan-bodoh!! Kau mau aku mati, huh?!!”, pekik Taemin meninju dada bidang Minho berkali-kali, entah kenapa ia masih menangis … air mata sialannya itu tidak bisa berhenti. “Kenapa kau diam saja?!”, teriak Taemin kesal.

Minho masih tidak bicara, saat itu matanya tidak lagi menatap Taemin, melainkan menatap kearah lain. “Yah! Aku bicara padamu!”, lagi, Taemin memukul lengan Minho lagi lebih keras, namun sepertinya manusia didepannya ini sudah berubah jadi mayat hidup. “Kau ini kenapa Minho? Apa yang kau pikirkan sebenarnya?! Menghilang begitu saja, kemudian kau kembali dan menyeretku begitu saja?!”, tanyanya lagi, kali ini suaranya melengking kencang, tangannya gemetaran karena lelah memukul Minho yang tidak meresponnya sama sekali.

“MINHO!”, panggil nya, hilang sudah kesabarannya. Taemin menoleh kesana kemari, ia tidak tahu mereka berada dimana, yang bisa ia lihat adalah mereka berada di sebuah tebing pantai. Belakang mereka adalah sebuah hutan lebat dan didepan mereka lautan terbentang luas. “Katakan, ini dimana?!! Bawa aku pulang!”, ucapnya kesal, namun Minho tidak bergeming.

“YAH! MINHO!!”, pekik Taemin kesal kali ini menendang kaki Minho, namun tetap namja itu tidak bergeming. Taemin berdecak kesal, ia menghapus air mata di pipinya dengan kasar sebelum ia berbicara lagi. “Baik, kalau kau tetap tidak mau bicara! Dengar, kalau kau mau mati, jangan kau ajak aku, aku tidak mau mati konyol naik motor mu ini! Kalau kau tidak mau bawa pergi aku keluar dari sini, baik! Aku akan cari jalan pulang sendiri—“

Sebelum Taemin hendak melangkahkan kakinya, tangan Minho menyambar pergelangan tangannya. Ia berusaha berontak melepaskan genggaman itu, namun cengkraman Minho semakin kuat, membuatnya mendesis kesakitan.

“S-sakit …”, desisnya,

Seketika itu mata mereka bertemu, Taemin terdiam dan berhenti dari usahanya berontak dari genggaman Minho. Mata Minho saat itu sangatlah berbeda, mata itu bukanlah mata Minho yang biasanya memandangnya dengan genit atau menyelidiknya dengan seksama. Mata itu tersirat makna lain, mata yang terlihat tidak ada sinar kebahagiaan, Taemin penasaran … ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi?

Sebelum ia bisa bertanya, lagi … ia dikejutkan dengan Minho yang kini menariknya kedalam dekapannya. Taemin terkejut ketika lengan kekar Minho menarik pinggulnya mendekat, terkejut ketika Minho menelusupkan kepalanya diantara pundak dan leher Taemin, terkejut ketika pelukan itu mengencang ditubuhnya. Wangi maskulin ditubuh Minho membuat Taemin merasa nyaman sekaligus bingung …

“Sebentar saja …”, bisik Minho ditelinganya, membuat bulu kuduknya merinding karena deru nafas yang berhembus di daun telinganya.

Alisnya berkerut berusaha mencerna apa yang sedang Minho lakukan sebenarnya? Kenapa tiba-tiba ia bersikap seperti itu? Apa ini salah satu keisengannya?

“Kumohon …”, bisiknya lagi, mengeratkan pelukannya lebih kencang ketika Taemin hendak mendorongnya karena ia tidak mau kekonyolan ini dijadikan alasan Minho untuk melakukan yang tidak sepantasnya.

Taemin hendak mendorong tubuh kekar Minho lagi sebelum ia mendengar Minho terisak. “Minho?”, ia sekali lagi ingin berusaha melihat wajah Minho, ingin mengetahui ada apa sebenarnya? Namun pelukan ditubuhnya mengencang dan ia bisa rasakan degup jantung Minho yang berdetak di tubuhnya.

Taemin hanya diam, tangannya terkulai lemas disisi tubuhnya … namun perlahan ia menggapai punggung Minho dan membalas pelukan itu.

“Gwencana?”, bisiknya. Namun lagi, kekhawatirannya bertambah karena namja usil ini tidak menjawabnya, ia malah semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Taemin.

.

.

“Jjong? Gwencana?”, tanya Onew pada sahabatnya yang sedari tadi hanya menatap minumannya dalam diam.

“Kau mengkhawatirkan Taemin? Apa dia belum juga mengangkat telponnya?”, Key terlihat sangat khawatir, ia sudah mendengar apa yang terjadi saat jam pulang sekolah.

Jonghyun hanya menggeleng dan menarik nafas panjang, “Ponselnya tidak aktif, begitu juga Minho …”, ucapnya resah. “Bukan hanya Taemin, tapi aku juga mengkhawatirkan Minho …”, ia menatap kedua sahabat didepannya itu.

“Apa … akan terjadi sesuatu pada Taemin? Minho bukan orang yang jahat kan, Jjong?”, tanya Onew panik. Jonghyun terdiam sesaat dan menarik nafas …

“Entahlah, aku tidak begitu mengenal dekat sifatnya, namun aku percaya ia tidak akan melakukan hal buruk pada Taemin …”

“Sudah kuduga, aku dari awal tidak suka Taemin dekat dengannya! Aku tahu namja itu akan berdampak buruk pada Taemin! Kalian tahu reputasi dia saat datang kesekolah, kenapa harus Taemin yang ia incar? Apa motif sebenarnya?!”, pekik Key kesal, Jonghyun hanya bisa diam mendengarkan itu, sementara Onew hanya bisa mengelus punggung Key bermaksud agar namja itu lebih sabar dan tenang.

“Kita tidak boleh berpikir buruk pada Minho … aku rasa ada sesuatu diantara mereka berdua. Kalau tidak, mungkin Taemin sudah dari semula berontak ketika ia dibawa paksa oleh Minho.”, jelas Onew.

“Apa kau bilang? Kau pikir Taemin bisa menolak ketika yang menarikmu secara paksa adalah seorang preman?”, umpat Key kali ini pada Onew.

“Key, pelankan suaramu … tidak enak didengar orang lain, Minho itu bukan preman …”, ucap Jonghyun pelan. Key menoleh tidak percaya pada Onew dan Jonghyun, ia meniup poninya kesal dan berdiri dari tempat duduknya.

“Fine, sepertinya kalian tidak mau mendengar pemikiranku tentang namja itu. Kalian membela dia yang jelas-jelas sudah membawa Taemin secara paksa! Dengar, kalau sampai terjadi sesuatu pada Taemin karena Minho, maka aku tidak akan memaafkan kalian karena kalian percaya bahwa Minho tidak akan lakukan ‘apapun’ pada Taemin!”, ucapnya kesal.

“Key, kau mau kemana?”, Onew kali ini menarik lengan Key lembut ketika namja itu hendak melangkahkan kakinya pergi.

“Pulang! Kalau sampai besok pagi Taemin belum kembali, maka akan aku laporkan ke polisi!”, Key menepis tangan Onew dan pergi meninggalkan café begitu saja.

Jonghyun dan Onew hanya menarik nafas, “Ia terlalu berlebihan …”, ucap Jonghyun.

“Ia hanya terlalu khawatir, biarkan saja emosinya reda, nanti aku akan membujuknya …”, ucap Onew, Jonghyun hanya berdecak pelan.

“Jonghyun”

“Hm?”

“Kau yakin Minho tidak akan lakukan apapun pada Taemin?”

“… Iya.”

“Kuharap prasangka kita sama … bahwa Taemin akan baik-baik saja…”,

“Hm.”

Jonghyun berharap bahwa Minho tidak akan melakukan hal bodoh dan menyeret Taemin pada sebuah permasalahan. Jika itu terjadi maka ia tidak akan pernah membolehkan Minho untuk mendekati Taemin sejengkal saja.

.

.

Angin laut menerpa wajahnya dengan kencang, sunset terlihat sangat indah di horizon. Deburan ombak yang perlahan mengalun indah memecahkan kesunyian bagaikan suara alam yang syahdu. Membuat sosok di yang ada didepannya tertidur pulas dipangkuannya, kepala itu bersandar dengan nyaman di pahanya, nafasnya sangat teratur … sesekali rambutnya tersibak karena angin yang bertiup kearah mereka.

Perlahan Taemin menjulurkan tangannya mengelus kepala namja dipangkuannya itu, merasakan lembut setiap helai rambut yang bermain disela jemarinya. Mengingat semua yang baru saja terjadi, mencerna lagi semua kondisi yang baru saja mereka alami. Minho menceritakan semuanya … semuanya, alasan kenapa ia tidak datang kesekolah, ia tidak menghubungi atau menanggapi panggilan Taemin ataupun Jonghyun, alasan kenapa ia terlihat buruk didepan Taemin …

Flashback~

“Kau dari mana saja?”

“Dirumah sakit …”

Taemin menoleh dan menatapnya khawatir, “Anio … bukan aku yang sakit, tapi Umma …”

“Umma-mu? Apa dia baik-baik saja saat ini?”

Minho menarik nafas nya dan menatap deru ombak didepannya, serta burung-burung berterbangan kesana kemari…

“Hm. Keadaannya masih belum stabil …”

Taemin memilin baju seragamnya dan memilih diam, ia bingung apa yang harus ia katakan…

 

“Maaf karena tiba-tiba pergi begitu saja dan membuat kalian khawatir …”, decak Minho, “Aku terkejut karena ada yang perduli ketika aku tidak masuk kesekolah. Itu rasanya ajaib … karena selama ini ada atau tidaknya aku tidak ada yang perduli …”

Taemin menatap Minho kali ini dengan tatapan sendu.

“Minho …”

“Rasanya senang ada yang perduli ketika kau tidak ada …”ucap Minho pelan

 

“Minho …”, perlahan namja itu menoleh padanya, “Apa penyakit Umma mu parah?”,

Kali ini Taemin bisa bilang wajah Minho terlihat sangat menyeramkan, karena tatapan mata Minho sontak mendingin dan membuatnya takut.

“Iya … kanker paru-paru … “,

Taemin hanya diam dan menarik nafas, “Pasti ada kemungkinan akan sembuh …”

“Harus.”,

Taemin menoleh dan melihat ada keyakinan dimata Minho.

“Apapun caranya, umma harus sembuh … ia harus lihat bahwa aku bisa seperti yang ia harapkan …”

Taemin tahu bahwa seorang ibu memang sangatlah berarti bagi seorang anak, mungkin Taemin tidak mengenal baik tentang Minho, seperti apa ia sebelum nya … sehingga ia berkata bahwa ia akan buktikan pada Ummanya bahwa ia akan berubah demi sang Umma.

“Maaf Taemin membawamu pergi sejauh ini hanya untuk seperti ini …”

 

Namun Taemin hanya diam dan membiarkan perlahan namja itu merebahkan kepalanya dipangkuannya.

“Berapa lama kau tidak tidur?”, tanyanya.

Minho hanya diam dan memejamkan matanya, menjadikan paha Taemin sebagai bantalannya.

Taemin ingin percaya bahwa apa yang terjadi pada Minho bukanlah sebuah karangan belaka yang akan membuat dirinya simpati. Entah kenapa sikap Minho terkadang membuatnya bingung dan berhati-hati … ia berpikir, apakah namja ini serius? Namja ini tidak bicara omong kosong?

Perlahan dan tidak mau mengakuinya, Taemin diam-diam mempraktekan apa yang Key katakana padanya bahwa jangan terlalu percaya. Bukan karena Taemin tidak menyukai Minho atau tidak percaya bahwa namja itu bisa berubah, tapi ia berusaha untuk memandang Minho dari sisi lain … dari sisi seorang teman yang butuh sandaran. Bohong, sandiwara, rekayasa, atau apapun itu … Taemin hanya tahu bahwa kejujuran dapat dilihat dari mata.

Ketika mereka bicara beberapa menit lalu Taemin percaya bahwa Minho serius. Minho serius bahwa ia benar-benar butuh Taemin sebagai sandarannya, mendengar ceritanya, setidaknya membantu untuk meringankan beban dihati dan pikirannya.

Ia pandang wajah Minho yang tertidur pulas … berapa lama kau tidak tidur?

Ia pandang sosok Minho yang agak mengurus … berapa lama kau tidak makan secara teratur?

Sebegitu beratkah masalah pribadimu?

Taemin dalam hatinya secara tulus ingin membantu Minho, ia yakin namja itu tidak merekayasa atau apapun. Setiap orang pernah berbuat buruk dimasa hidupnya, Minho salah satunya … namun, tidak salahnya kan Taemin berharap bahwa Minho akan benar-benar menjadi namja yang lebih baik jika gossip itu benar bahwa Minho bukanlah namja yang baik dimasa lalunya …

.

.

Taemin turun dari motor perlahan dan berdiri didepan Minho dan membuka helmnya. Tidak ada kata yang terucap ketika tidak sengaja tangan mereka bersentuhan. Taemin hanya menatap wajah Minho, begitu juga Minho menatap wajahnya lekat … namun suasana berubah ketika sebuah cengiran terukir di bibir Minho.

“Kenapa? Apa wajahku begitu tampannya sampai kau memperhatikanku terus menerus?”, tanya Minho akhirnya. Taemin mengerjapkan matanya dan menatap Minho shock, jangan bilang the usual Minho is comeback …

“Masih kurang puas memandangi ku saat tidur dipangkuanmu tadi?”,

“A-apa?!”, Taemin sangat shock, ia mendengus kesal. “Kau! Haish, kau tidak tidur kan tadi?”, desisnya kesal.

Minho tertawa, “Nah, benar berarti kau memperhatikanku saat tidur. Aku hanya bercanda mengatakan hal itu …”,

“K-kau …”

“Akui saja Lee Taemin bahwa aku ini tampan … yakan?”, Minho mengerlingkan sebelah matanya.

Taemin menatapnya sinis dan mengembalikan –atau lebih tepatnya mendorong paksa helm itu ke tangan Minho dan mengenai perut Minho cukup kencang.

“Terserah!”,

“Tunggu!”, Taemin menoleh ketika lengan kanannya ditarik oleh Minho dan membuat tubuhnya mendekat kea rah namja itu. Taemin enggan membalikkan tubuhnya, karena ia tahu saat itu posisi mereka sedang tidak baik, karena punggungnya sangat dekat dengan dada bidang Minho, ia bahkan bisa merasakan deru nafas Minho ditengkuknya.

Ia pejamkan matanya ketika ia rasakan deru nafas Minho menjalar di sisi lehernya, apa yang akan dia lakukan?

“Taemin ah …”, bisiknya. Taemin semakin ingin pergi namun lengan nya ditahan kuat oleh Minho. “Gomawo …”,

Perlahan Minho melepaskan tangannya, namun ketika ia berbalik, namja itu sudah memakai helmnya dengan baik, hanya mata Minho yang dapat terlihat olehnya. “Jumuseyo … sampai bertemu besok … annyeong …”, sebelum ia bisa menjawab, Minho sudah melesatkan motornya menjauh dari hadapannya.

Tangannya menjalar ke sisi leher kanannya, merasakan hembusan nafas itu masih terasa di tengkuk dan lehernya, wajahnya memerah dan jantungnya berdebar … Minho, apa yang kau lakukan padaku sebenarnya?

TBC~

 Annyeong~ Finally bisa lanjut FF HIATUS ini …
Sorry banyak drama dalam part ini, kekekek~ next part janji bakalan 2min moment dan perjuangan Minho buat dapetin Taemin! LOL
Sorry banget kalau udah pada lupa, silahkan baca FF nya sekali lagi dari awal LOL
Next FF apa dulu yang mau dilanjut? heheheh~^^ Intimate baby? Okeh!

Comment and like are love!^^

Taemkey san~ OUT!
NO EDIT ! MANY TYPO!

NEXT PART >>

54 thoughts on “[2min] Chasing You! – part 4

  1. aaaaaa akhirnya ada juga lanjutannya!!! senanga banget pas nemu uda ada part 4-nya.
    semanga terus nulisnya! ceritanya bagus dan suka banget
    lanjuuuuttt!!!!😀

  2. Hyaaaa
    Si key mah kebiasaan lebay deh
    Orang ming kaga ngapa2in -_-
    Kasian mingg;(
    Taemin suka pasti sama minho yakinnnn

  3. minho udah mulai terbuka sm taemin..
    kyaknya gk lm lg minho bkln ngungkapin perasaannya ke taemin..
    gk sabar nunggunya..

  4. Demi apaaa!! Suka momen pas minho tidur dipangkuan taemin xD perbanyak momen 2min romantisan gitu thor xD love 2min :*
    Si key lebay -,,- gk lapor polisi juga kali, taemin baik aja kok mam ;;)

  5. OMG!!
    Minho masih aj bercanda.. gimana klo Taemin gak mau percaya lg. ..??!!!
    Taemin jd deg2 ser.. Hihihi

  6. Kyaaaa suka banget adegan terakhir lol ,,, akhirmya ming berbagi kesedihannya ke taemin juga,, hadehh emak jangan nuduh ming sembarangan

  7. ciiee yg main culik2an ahahaha ntar sama sama mencuri hati~
    aahh..manis bnget kebersamaan mereka..2min in love !
    yehet :3

  8. Wowwww…
    Minho mengejutkan eoh???

    Dramanya bagus kog thor??!! Pas banget sama ceritanya🙂

    Baca next part

  9. wah akhirnya minho datang sekolah dan pulangnya langsung bawa taemin kabur ke pantai
    gak tahu kenapa aku merasa minho romantis sekali waktu adegan itu
    meskipun dia seperti itu pada taemin karena dia butuh sandaran
    terus suka juga waktu minho tidur di pangkuan taemin
    berasa manis banget hehe

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s