[SHINee] Umma…


Characters: Lee Jinki , Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, and Lee Taemin
Genre : AU/AOC, mother and son, slice of life, drabble
Rate : G
WC : 2.768 Words
Summary :
This is story about Mother …
With SHINee point of views … with out of character (AU/AOC) stories …
Here is it …

Warning:
None of the materials provided in this fanfic may be used, reproduced or transmitted, in whole or in part, in any form or by any means. No parts of this fanfic are to be copied without permission in writing from the author.


[Key POV]

Hubungan antara ibu dan anaknya beragam, begitu misterius, selalu berubah-ubah dan jalin-menjalin seperti pola yang bersentuhan, menjauhi, dan bersentuhan kembali dalam sebuah kaleidoskop. –Lyn Lifshin

Agaknya ini dimulai pada masa remaja. Misalkan aku memakai celana jin sobek/koyak milikku yang paling bagus dan hendak keluar rumah, maka Umma akan memandangiku dan bertanya dengan nada mengkritik.

“Itu yang mau kau pakai?” Ya.
“Keluar rumah?” Ya.
“Didepan umum?” Ya.
“Terlihat orang?” Ya.

Aku sudah hapal sekali percakapan rutin ini, tetapi tetap saja aku memberikan umpan balik padanya. Kenapa Umma? Umma TIDAK SUKA pakaianku? Caraku berpakaian?

“Tidak –tidak apa-apa …”,katanya …

TIDAK APA kata dia itu MAKSUDNYA …

Kalau kau keluar rumah dengan pakaian seperti itu dan orang melihatmu, mereka pasti berasumsi bahwa kau anak miskin yang baru keluar penjara, dan menyalahkanku secara pribadi untuk itu, karena kau TAHU mereka pasti berpikir begitu … selalu saja SALAH SI UMMA …yah, aku beritahu saja, aku akan MATI saking malu dan aku tidak perlu memberitahumu betapa siksaan ini terasa seperti MATI perlahan berkali-kali …

Namun tetap saja aku berjingkat keluar rumah dengan menggunakan celana sobek itu. Namun secara misterius keesokan harinya aku akan menemukan celana itu ada di tong sampah … menyapaku dengan riang, seakan sobekan dicelana itu sebuah senyum untukku dari tong sampah.

Ketika SMA, aku mulai mengalami masa keraguan dan pencarian jati diri. Aku tidak punya arah dan motivasi. Aku juga sangat perlu disadarkan tentang realitas kehidupan! Aku yakin jika nanti aku lulus, aku dapat menghasilkan uang berton-ton misalnya dengan menjual hasil design bajuku pada sebuah label terkenal atau semacamnya? Atau berkuliah di sekolah design yang biayanya tidak sedikit … aku yakin butuh biaya banyak!

Jadi, ketika saat itu tiba, aku hanya duduk terdiam dan meratapi nasibku … tanpa pekerjaan dan rencana, aku terapung dalam perjalanan lesu untuk mencari diriku. Masa tanpa arah, masa tenggang …

“Baik!”, gelegar Umma, “Aku sudah muak!”, makinya, aku menarik nafas, ia mulai berteriak memekik karena melihat kebiasaan ku, ia mengambil snack ku ketempat sampah dan mematikan MTV yang sedang ku tonton! Aku mengerti, ia murka …

“Ini pilihanmu!”, ia membanting beberapa Koran dan majalah serta setumpuk formulir lamaran pekerjaan, beserta pena hitam (digunakan untuk mengisi formulir itu). “Aku tak akan membiarkan KAU duduk di PANTATMU yang malas! Seharian! Setiap hari! Seperti yang kau lakukan selama ini! Tak melakukan APA-APA SEHARIAN! Dan kalau kau! Hanya akan! Duduk-duduk disini! Menunggu design mu terbit! Kau boleh angkat kaki!”

“Kau bisa setidaknya cari pekerjaan! Atau kuliah …PURNA WAKTU! Tapi kau harus melakukan SESUATU! SEHARIAN! Kau MENGERTI?!”,

Oke, itu kata Umma … MAKSUDNYA …

Sayang, Kibum baby, Umma mencintaimu. Aku ingin jalan hidupmu lebih baik dariku. Aku tidak mau kau harus membanting tulang dan menelan martabat dan harus bekerja di dua atau tiga tempat hanya untuk menjalani hidup. Kau telah diberikan karunia didunia ini, kau pintar, berbakat, lucu. Tolong jangan sia-siakan semua ini. Tolong jangan abaikan peluang yang kau miliki, yang dulu tidak kumiliki. Setidaknya milikilah ijazah itu, meskilun ijazah sarjana bukan segalanya tanpa skill, setidaknya ijazah itu mungkin berguna untukmu. Sebagai sebuah pintu menuju kesuksesan yang lebih dari yang kau harapkan.

Kemudian … aku sekarang memiliki dua gelar diploma di sekolah design dan arsitektur (semua soal gambar) dan 12 jam lagi aku akan mendapatkan gelar sarjana…

“Kau sudah minum vitamin? Kau makan siang apa? Apakah rendah lemak? Rendah kolesterol?”, tanya Umma ditelepon, ditengah-tengah beberapa jam lagi Fashion Week pertama ku dimulai, impianku menjadi designer kontemporer yang dipandang dan dipertimbangkan didunia fashion Korea.

“Kau tahu, Umma tidak bisa memaksamu untuk makan dengan baik, Kibum ah. Kau sudah besar dan kalau kau tidak perduli dengan kesehatanmu, itu bukan urusan Umma!”, katanya lagi, namun aku hanya tersenyum.

Itu kata dia, namun MAKSUDNYA …

Setua apapun dirimu, kau akan selalu menjadi bayiku. Dan aku akan selalu mencintaimu, begitu besar sehingga andai kau sakit dan terjadi sesuatu padamu, aku pasti sedih sekali. Aku tak akan bisa lagi mengajakmu bicara, atau berteman, atau mengingatkanmu tentang vitamin. Dan sungguh, hatiku akan hancur.

“Hai, Umma, apa kabarmu hari ini?” tanyaku sambil mencium pipinya sayang.

“Baik.”, katanya, “Tidak ada yang bisa dikerjakan…”

Aku tersenyum dan mengangkat bahuku, “Ck, itu kan pekerjaan favoritku … tidak melakukan apapun…”, ledekku, dia hanya tersenyum. “Ah, apa Umma makan dengan baik? Mereka merawatmu dengan baik kan? … Umma tampak cantik!.”, KATAku …

Tapi… MAKSUDKU …

Bagaimana ini bisa terjadi pada Umma? Kau tampak begitu rapuh. Suatu hari kau akan tiada dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan tanpamu. Melihatmu seperti ini membuat hatiku sakit. Apakah kau tahu betapa aku mencintaimu, Umma?

Aku merangkak naik ke atas kasurnya, menelusup kebalik selimut tebal dan memeluk tubuhnya yang sudah menua dengan erat. Hangat sekali, seperti nya aku bisa ingat hangat tubuhnya saat dulu ia memelukku ketika ku bayi. Tanpa kusadari aku menangis …

“Jangan menangis Kibummie …, kau malaikat kecilku, Umma menyayangimu…”

Lalu aku berkata, “Tenang saja, aku juga sekarang ada disini, semua akan baik-baik saja…”, ia juga menangis dan kemudian memejamkan matanya, ia bilang ia lelah dan ingin tidur, ia tertidur dengan mimpi indah. Kusadari ada kesamaan maksud kali ini…

MAKSUD Ummaku … “Kau malaikat kecilku, aku menyayangimu …”

MAKSUD Ku … “Umma adalah ummaku, aku juga menyayangimu …”

[Onew POV]

Bunga tumbuh keluar dari masa-masa kelam. –Corita Kent

“Umma adalah umma terburuk didunia, dan Umma minta maaf”,

Aku mendongak dari cereal ku dipagi hari ketika selama 30 tahun Umma membesarkanku dan mengasuhku sampai umurku yang ketiga puluh tahun.

Aku tidak mengerti apa maksudnya… Namun kemudian dalam diamnya aku, ia meminta maaf segala hal buruk yang menurutnya ia lakukan ketika ia membesarkanku.

Kemudian aku sadar bahwa ia merasa sangat bersalah ketika…

Memberlakukan peraturan ketat pada tahun-tahun aku membesarkannya, membuatku sulit untuk main dengan teman-temanku karena aku harus membantunya ditoko daging kami.

Umma menyesal tidak membelikan tuxedo atau jas yang pantas aku pakai untuk prom night ku.

Dia malu karena ia dan Appa tidak membelikan ku sebuah ponsel keren jaman modern sehingga aku bisa lebih berbagi informasi dengan mudah dengan teman-temanku.

Dia malu karena menjatuhkan hukuman berminggu-minggu padaku karena aku enggan membantunya karena aku protes kenapa aku tidak diberikan kesempatan untuk keluar malam.

Dia sedih karena memutuskan dengan siapa atau dengan tidak siapa aku berteman.

Dia sedih ketika ia pernah tidak menerima siapa diriku … tidak menerima bahwa aku mencintai Kibum –istri/ lebih tepat suami ku saat ini … ia sedih karena tidak menerima aku apa adanya…

Untuk hal yang terakhir, aku sangat minta maaf padanya, karena aku memilih jalan yang berbeda, namun Umma tetap menganggap bahwa semua salahnya jika ia tidak menerima anak yang lahir dari kandungannya apa adanya.

Umma ku menangis, aku berpikir saat itu Ummaku adalah Umma tercantik, ekspresi nya yang paling cantik! Aku jadi bertanya-tanya dalam hati mengapa aku dan seluruh keluargaku menyepelekan keberadaanya? Bagaimana caraku mengungkapkan pada Umma makna hidupnya bagiku? Aku ingin mengatakan padanya bahwa hukuman dan peraturan ketat dimasa kecilku itu hanyalah bekas amat kecil dalam kenanganku –bahkan aku sudah lupa sekrang, tapi dibandingkan dengan kenangan aku tidur larut malam hanya untuk makan kue yang kami panggang bersama di malam ulang tahunku itu jauh berbeda.

Aku berdiam diri, tidak mengungkapkan betapa berartinya ia untukku. Ketika upayanya mengumpulkan uang untuk membeli sepatu serta tuxedo terbaik untuk pernikahan ku –bahkan ia membelikannya untuk Kibum.

Aku tidak bisa menghilangkan rasa sesak dihati dan kerongkonganku, betapa banyak tindakannya yang luar biasa membuatku menjadi anak yang istimewa.

Seharusnya semua itu kukatakan padanya, pada hari itu, hari ia menerima Kibum dan diriku, dihari pernikahan kami, bahwa diantara semua orang yang ada, tidak ada seorangpun yang mencintaiku apa adanya dan tanpa pamrih selain Ummaku.

Lima tahun setelah kejadian itu, aku tidak pernah mengatakan padanya bahwa semua kesalahan itu ibarat bukit semua yang kecil, sementara cinta, pengertian, dan perhatiannya ibarat gunung indah dalam kehidupanku. Namun, kukatakan sekarang …

“Terima kasih Umma, terima kasih Tuhan, karena Engkau memberikan Umma terburuk didunia untukku.”

[Taemin POV]

Menghargai amal baik membutuhkan kelapangan jiawa, sama seperti melakukannya. –Seneca

Gerakanku melambat dan limbung kelelahan, menggapai pesawat telepon yang terus bordering. Yoogeun, anak angkat ku yang baru berusia tiga bulan terserang diare, hanya tidur dua jam setiap kali, dan Minho –suamiku sedang tugas keluar kota lagi. Tubuhku yang lelah merasa sangat penat dan letih. Kutemukan pesawat telepon itu dibalik selimut, lalu menjawabnya.

“Bagaimana Yoogeun? Tidurnya sudah mendingan?”, tanya Umma dibalik telepon

“Lumayan.”

“Kau kurang tidur ya?”, suaranya terdengar cemas.

Mataku rasanya perih terbakar, “Memang kurang tidur.”,

“Pasti kau capek sekali ya.”

Leherku pegal sekali. “Ya ampun, Umma. Aku lelaaaaaah sekali! Sudah tidak bisa berpikir apapun lagi.”

“Umma kesana sekarang.”

Diluar jendela kamarku badai salju bulan Desember mengerang dalam kegelapan. Umma nanti harus menyiasati jalanan curam yang penuh dengan es untuk mencapai rumahku. Kataku, “Disini hujan salju lebat Umma, jalanan nanti licin. Umma tidak perlu kesini, aku baik-baik saja …”,

“Umma akan segera kesana!”, tanpa bisa lagi aku bicara, ia menutup teleponnya. Air mata lelah dan lega memburamkan pandangan mataku. Tangisan Yoogeun membuatku frustasi. Aku mengharapkan Umma sebagai batu sandaranku.

Perjalanan 30 menit menjadi 1 jam menuju kerumahku, ketika Umma mengetuk pintu apartemenku dan melihatnya berdiri disana dibalut mantel tebal namun wajahnya memerah, hidung dan pipinya yang memperlihatkan bahwa ia kedinginan. Ketika membuka mantelnya ia langsung meraih Yoogeun kedalam gendongannya dan menyuruhku untuk kembali kekamar dan tidur. Namun aku menggeleng, “Nanti Yoogeun meminta minum lagi nanti malam…”, ucapku.

Umma menggeleng juga dan mendorongku paksa, “Umma tahu cara menghangatkan botol susu, jadi lebih baik kau kembali tidur saja!”, ucapnya tegas, membuatku tidak bisa berkutik apapun dan menyeret kakiku kembali kekamar.

Bantal ku yang lembut dan juga selimut tebal yang hangat melambai-lambai padaku. Aku berbaring ke atas tempat tidur dengan perasaan lega, namun ketika aku merebahkan badanku disana mataku tidak bisa juga terpejam. Masih terasa rasa pening dikepalaku serta mataku yang perih karena memaksa membuka mata setiap 2 jam sekali.

Tidak lama aku mendengar langkah kaki diluar kamarku, dikamar Yoogeun Umma sedang bersenandung menyanyikan lagu untuknya.

Seketika itu aku mengingat ketika dulu Umma selalu duduk disebuah kursi goyang tua milik nenekku ketika aku kecil dan saat itu aku terkena cacar air. Tubuhku penuh dengan bercak merah dileher, badan, tangan, dan kaki, selain itu demamku juga sesekali kambuh. Umma terus menggoyangku seiring ia bersenandung ‘Rock-a-bye my bog-big boy’ sampai aku tertidur dengan nyaman. Setelah itu ia akan membawaku kekasurku, mengompresku dengan kain hangat agar demamku turun. Tidurku gelisah, namun keesokkan harinya demamku turun dan aku merasa baikan.

Lalu kali ini ia lakukan hal yang sama dengan anakku, ia masih menyenandungkan lagu itu untukknya. Suara nya tidak begitu bagus bak diva Korea, namun suaranya cukup membuatku nyaman dan mengantakan aku untuk menutup mataku.

Aku mulai terlelap, karena aku tahu Yoogeun berada di tangan yang terampil, tangan Ummaku.

Keesokan paginya aku akan memeluknya dan mengucapkan terima kasih padanya, karena dengan cintanya ia telah membuai aku dan Yoogeun sampai tidur.

[Jonghyun POV with Sodam Noona]

Siapa saja yang pernah berbuat baik kepada kita, atau membesarkan hati kita dengan sepatah kata saja, telah berperan dalam membentuk sifat kita dan pikiran kita, selain kesuksesan kita. –George Burton Adams

Ummanya adalah segalanya, dalam hidupnya dua wanita yang ia cintai adalah Umma dan juga kakak perempuannya –Sodam. Ia berpikir bahwa semenjak semeninggal Appanya mereka dapat hidup dengan baik, meski ia sempat terpuruk karena ia merasa ia akan menjadi kepala keluarga. Tapi Ummanya yang terhebat, Ummanya yang rajin dan tekun itu dapat menghadapi kejadian itu sangat baik.

Namun semua itu agak berubah dengan kondisi yang ada saat ini. Ketika polisi memberhentikan kendaraan Ummanya ditengah jalan 3 in 1 pagi itu dan mensita SIM-nya, Jonghyun beralih bahwa Ummanya sedang terburu-buru dan lupa bahwa ada peraturan itu. Namun semua itu rasanya agak janggal ketika Ummanya mengamuk di bank karena mengaku rekeningnya yang sudah ditutup masih berlaku. Sampai ketika pihak rumah sakit tempat pemulihan pasien memberikan alasan bahwa Ummanya mengidap alzaimer.

Saat itu ia memutuskan untuk memboyong Umma dan Noonanya pindah ke apartemennya untuk lebih mudah menjaga mereka berdua.

“Jjong.”, Jonghyun menoleh pada Noonanya yang sedang memasak, “Umma seperti tambah pikun. Tadi ia menempel semua partitur lagu mu di tembok.”

Jonghyun hanya diam, makannya terhenti sejenak, partitur lagu … Oh tidak, namun ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya mengangguk dan menarik nafasnya, sebagai anak yang berbakti ia harus mengerti itu, merawat Ummanya dengan baik selayaknya Ummanya membesarkannya dengan baik.

Sesekali bahkan Ummanya melupakan nama ia dan noonanya.

“Umma kau harus berusaha.”, kata Jonghyun ketika mengantarnya tidur dengan suara memelas, berusaha menahan tangisnya sebaik mungkin. “Kau harus berusaha mengingat.”

Semakin memburuk kondisi sang Umma yang sudah tua itu dan juga pengaruh sakitnya. Namun Jonghyun tidak bisa melakukan apapun selain setia mengantarnya terapi dan juga berobat jalan. Jonghyun tidak mengira, dibalik sakitnya itu Ummanya mengidap penyakit lain, kanker paru-paru yang luput dari sepengtahuan ia dan juga Sodam.

Sampai akhirnya tubuhnya yang melemah dan menyerah membawa Ummanya tertidur dalam keabadian tepat dimalam tahun baru yang indah.

Kenangan tempat tidur yang selalu menjadi saksi bisu dimana Ummanya berbaring membuat Jonghyun tidak tahan untuk berbaring disana. Namun ketika hari itu ia memutuskan saatnya mengganti sprei kasur itu dengan yang baru, mencuci sprei itu kemudian dipakai kembali. Ia menemukan sebuah buku tulis berwarna biru laut, buku partitur lagu miliknya yang sudah lama hilang dan berusaha ia cari kemanapun.

Kenapa buku ini ada disini? Pikir Jonghyun ketika menemukan buku itu ada dibalik kasur. Ia membuka buku partitur biru miliknya itu, namun betapa terkejutnya ia ketika membuka sampai pada lembaran kosong yang belum terisi, setiap halaman kosong itu disana tertulis setiap lembarannya…

Jonghyun adalah nama putraku dan Sodam adalah putriku

Jonghyun adalah nama putraku dan Sodam adalah putriku

Jonghyun adalah nama putraku dan Sodam adalah putriku

Jonghyun adalah nama putraku dan Sodam adalah putriku

Jonghyun adalah nama putraku dan Sodam adalah putriku

[Minho POV]

Jika kau menghitung semua hartamu, hasil perhitungan pasti akan menunjukkan laba. –Robert Quillen

Aku tersenyum ketika memasukan semua foto-foto Polaroid yang aku ambil beberapa hari ini kedalam album bayi Yoogeun. Taemin memintaku untuk mengambil banyak foto tentang Yoogeun semasa kecil, agar memiliki kenangan yang dapat selalu kita ingat –katanya.

Semasa kecil aku suka sekali melihat-lihat album bayiku. Aku duduk dipangkuan Ummaku yang nyaman di beranda rumah sementara ia asik membalik-balik album yang berisi foto-foto ku dan Minhyuk Hyung semasa kecil dengan hati-hati. Dia membacakan namu, nama Appa, nama Hyung, nama kakek-nenek. Dia membacakan tanggal dan jam lahirku. Bagian kesukaanku adalah ketika kami membuka halaman terakhir, ada foto berderet tiga dibalik plastic rekat album itu. Salah satu fotonya akan menurun dari sisi sebenarnya, kami akan membenarkan pada posisinya yang benar, sedangkan kertas yang lainnya sobek, seperti enggan menahan foto-foto itu. Kemudian Umma akan mengambil foto yang turun dari tempatnya itu dengan baik, tapi dibalik foto itu pasti ada foto lain, kami sering menyebutnya foto ajaib, sebuah harta tersembunyi tersingkap.

Sekarang aku mungkin bukan seorang Umma, karena aku menikah dengan seorang namja yang tentu saja kami tidak bisa memiliki anak dari hasil hubungan pernikahan kami. Namun aku memiliki seorang anak laki-laki lucu yang kami adopsi bernama Yoogeun, Taemin sangat mencintainya.

Sementara aku menyusun album foto Yoogeun, sesekali aku menoleh pada album bayi ku sendiri yang memang aku bawa serta ketika aku menikah dengan Taemin. Namun, album bayiku tidak seperti dulu lagi. Saat aku memperhatikan foto Umma memandikanku, kuperhatikan ia tampak lelah –seperti yang suka kualami sekarang. Ketika melihat latar foto dengan cermat, kulihat meja dapur dan lantai berantakan, berserakan makanan atau mainan –seperti dapur dan lantaiku sekarang. Kulihat foto itu wajahku yang ceria dan tersenyum senang, tidak menyadari tempat yang berantakan atau wajah lelah Ummaku –persis seperti Yoogeun di foto-foto kami saat ini.

Aku memperhatikan satu perubaha dalam album bayi ku. Selalu ada bagian yang kosong dihalaman tengah, beberapa halaman yang tidak ditulisi. Halaman kosong inilah yang menjadi kekhawatiran ku dan juga Taemin, kami takut ini tidak terisi semua dan tidak ada cukup banyak kenangan yang dapat kami kenang dan isi dalam album itu.

Tetapi ketika aku perhatikan kembali halaman itu kini terisi penuh, entah apa yang Umma ku lakukan dengan album bayiku. Namun ditempat yang dulu kosong bukan lagi fotoku, tetapi foto Umma dan diriku bersamaan yang diambil secara tidak sadar. Ummaku yang sedang membuat makanan bergizi sambil berbicara padaku di bangku bayi. Ummaku yang menyiapkan air hangat untukku mandi. Ummaku yang tersenyum manis sambil menimang ku. Kulihat Ummaku menyelimutiku ditempat tidur. Umma yang membalut lukaku karena aku terluka saat bermain sepak bola. Aku melihat halaman itu penuh cinta.

Aku mempunyai ide …

“Taemin ah, aku tahu apa yang harus kita lakukan untuk mengisi halaman album yang kosong-kosong ini …”

Aku aka nisi dengan foto ku atau Taemin mengurus Yoogeun, bukan karena kami narsis, kami hanya ingin mengenang hari-hari kami bersama Yoogeun, sama seperti Umma …

HAPPY LATE MOTHER’S DAY!!!^^

I Know this is to late! but! Untuk mencintai dan membuat Ibu kita special tidak hanya pada HARI IBU saja, ya kan?
Cerita ini sengaja dibuat sesuai dengan POV SHINee member masing-masing, gue sendir nggak tahu tentang cerita kehidupan mereka -well, siapa yang tahu? kalau kalian tahu, kalian ajaib! hoho … stalker!

So, jadinya konsep FF kali ini AU …
No, no … aku harap Jonghyun Umma selalu sehat selalu dan menjadi Umma yang hebat untuk Jonghyun^^

 

Mari kita berdoa untuk kesehatan Umma kita, semoga mereka selalu dilimpahkan kebahagian yang tiada tara dari Tuhan karena melahirkan anak-anak yang luar biasa seperti kita^^

LEAVE AND COMMENT ^^
Taemkey-san OUT!

NO EDIT, MANY TYPO!

25 thoughts on “[SHINee] Umma…

  1. Terharu terharu terharu. saiah sngt terharu, aplg dbagian crtx jjong ahjussi menyentuh sangat….

    LIKE THIS:)

  2. Nangis masa,,q baca ini jdi inget ummaaa,,hiks q gak bisa brkata” lgi lakh,,q cma bisa nangis skrng…ummmaaaaaaaaa maaaf kan putri mu yg durhaka ini…

  3. Ini menyentuh bgd ya tuhan..
    Baru nemu ff yg kayak gini..
    Mama,maafin smua kesalahan aku yaa😥

  4. Yampun.. tengah malem baca beginian..
    Semakin kemah aja kororo aku ini :””))))

    Umma…. dia memang yg terhebat, yg terbaik. Yg tidak ada duanya 💕💕💞

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s