{JinBoon} Snow Flower / chapter 1


foreword

Ayo siapa yang suka jinboon? hehehe ini ff pertama gw yang berpairing jinboon😄 semoga ga aneh u_u

ohya ini bakal panjang deh kayanya semoga ampe tamat (?) ya fufu ini terinspirasi dari baca beberapa manga dan sorry ga inget judul manganya u///u yang jelas ga sama2 banget kok ^^v wkwkwk

special thanks for Nora yang udah mau gw ribetin buatin poster kekeke

okay !

enjoy~ <3 

ps : no comment = no pw for ending story part :P mind you.

Jinboon-poster-yua-3 (2)

Main cast : Lee Jinki , Kim Gweboon

Support Cast : Lee Taemin, Choi Minho, Kim Jonghyun 

Words : 5800words

Author : Eternalonkey 

Rating : PG 17 (now)

Genre : fluff, comedy, school life,sad romance (?)

***

~Stranger~

Impian dan cinta. Dua hal yang sedang ia kejar. Meski ia harus berpura – pura, meskipun ia harus belajar dengan giat setiap hari hanya demi memperoleh beasiswa di sekolah Internasional ini. Apapun akan ia lakukan demi seseorang yang ia anggap sebagai pangeran berkuda putihnya semenjak… ya semenjak ia memutuskan hal tersebut.

“Kim Gweboon yang cantik dan ramah, hari ini akhirnya kau dapat masuk ke sekolah yang diimpikan semua gadis! You lucky bitch!”

Ia berujar dengan pantulan gadis didepan cermin. Ya ia adalah Kim Gweboon, menguncir rambutnya seperti buntut kuda dengan ikat rambut berwarna merah muda, sedikit olesan bedak dan lipgloss rasa strawberry.

Perfect.

“Ahjumma aku berangkat…”

Ia berteriak seraya mengambil roti dimeja dan meminum beberapa teguk susu dimeja makan. Wanita paruh baya yang tidak lain adalah bibinya menggelengkan kepalanya melihat Gweboon yang terburu – buru bahkan ia tidak sempat memberitahukan pada Gweboon bahwa ia harus ke ruangan kepala sekolah dahulu pagi ini.

“Sial aku telat..” gadis ini berujar seraya setengah berlari menuruni tangga apartemennya –yang tidak mahal tentunya- dan mengeratkan tas ransel di punggungnya. Secepat kilat ia mengambil sepedanya, ia sudah bersiap dengan memakai celana hitam ketat selutut, karena rok sekolahnya sangat pendek, Gweboon kurang percaya diri memakainya, ditambah ia harus naik sepeda sampai stasiun kereta terdekat lalu apa yang akan terjadi jika celana dalam renda bergambar beruang dan anak – anaknya tersingkap? Oh no no…

Ditambah belakangan ini sering terjadi pemerkosaan dan pembunuhan anak remaja. Memikirkannya saja membuat bulu kuduknya merinding.

Kring

Kring

Kring

Ia terus membunyikan bel sepedanya yang nyaring dan terdengar sangat tidak enak dikuping membuat orang – orang didepannya terpaksa menepi dan beberapa diantaranya berteriak.

“Kau mau mati hey bocah tengik~!”

“Aniyo.. maafkan aku aboeji”

Kakek renta itu menggeleng lalu tersenyum.

Ya beberapa orang disekitar sana sudah mengenal Gweboon dengan sangat baik, karena ia sudah tinggal disini semenjak sekolah dasar.

Jam menunjukkan 7 kurang 15, jelas saja ia terlambat. Jika ia ketinggalan kereta itu akan lebih buruk karena ia harus menunggu kereta selanjutnya selama 15 menit. Ia mempercepat kayuhan sepedanya.

“Ayolah sepeda tua kau harus menolongku kali ini..” ia bergumam dan mengayuhkan sepedanya lebih cepat.

Akhirnya ia sampai di tempat parkir sepeda dekat stasiun lalu berlari kedalam stasiun, tak peduli berapa banyak orang yang ia tabrak, tak peduli berapa sumpah serapah yang ditujukan padanya.

Gweboon berhasil masuk kereta tepat saat hampir saja pintu kereta itu menutup.

Damn it.

Ia tidak bisa bergerak kedalam dan membuatnya terpojok dibalik pintu, didepannya ada seorang wanita yang menghadap kearahnya dan dibelakangnya ada seorang laki – laki yang menelusupkan tangannya kedalam tas wanita itu, ia bisa saja berteriak “Maling!” namun niat itu ia urungkan saat melihat ekpresi gadis itu. Ada sebilah pisau kecil yang menempel dipinggangnya.

Gweboon tidak menyangka ia akan melihat adegan pencopetan yang sering ia lihat di film terjadi tepat didepan matanya.

Ayo berpikir Gweboon… berpikir.

Gweboon menggigit bibirnya lalu ia menatap gadis didepannya berusaha menyampaikan pesan melalui matanya. Mungkin ia mencoba mempraktekkan.. telepati?

Ha!

Gadis didepannya malah menggeleng ketika melihat sorot mata Gweboon seperti ingin membunuh orang. Bagaimana tidak?

Laki – laki bejat itu selain berusaha mencuri ia juga menempelkan kemaluannya dibokong wanita itu. Wanita itu terlalu takut bahkan saat ini tubuhnya terlihat gemetar dan tidak dapat melakukan apa – apa selain pasrah. Setidaknya jangan sampai ia tertusuk, pikirnya.

Tidak dengan Gweboon, meski beberapa laki – laki disekitarnya yang tampak tidak peduli.. oh crap! Mereka sudah pasti komplotan! Gweboon semakin kesal mungkin saja sekarang sudah keluar asap putih dari atas kepalanya.

Pisau itu semakin menempel dan membuat Gweboon tidak bisa bertindak gegabah. Ia menunggu saat yang tepat lalu kembali menatap mata wanita didepannya dan mengangguk seolah memberinya kekuatan untuk bertahan sebentar lagi.

Saat kereta memelan dan pintu dibelakangnya terbuka, laki – laki pencopet dan kedua temannya bersiap – siap turun. Posisi Gweboon yang tepat didepan pintu menguntungkannya, dengan tenaga penuh saat laki – laki si pencopet ini hampir melewatinya ia menarik tangannya dan menendang kemaluannya lalu mendorongnya sampai keluar dan tubuh laki – laki ini tersungkur diluar kereta.

Menimbulkan beberapa teriakan dan kegaduhan. Wanita yang dicopet tadi akhirnya berteriak “Dia melecehkanku dan mencopet dompetku!”

Dengan tubuh yang gemetar ia berteriak lalu Gweboon tidak berhenti sampai situ, ia keluar kereta dan lagi – lagi menendang kemaluannya membuat pencopet ini langsung tak sadarkan diri.

Ia langsung merogoh jaket tebal laki – laki itu dan mengambil dompet wanita tadi. Sedangkan kedua temannya? Sudah lari seperti pecundang, meninggalkan temannya yang sudah pingsan.

Tak lama banyak orang berkerumun dan bertepuk tangan karena keberanian Gweboon, ia tersenyum canggung menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal sama sekali. Sudah lama ia tidak mengeluarkan sisi kelaki – lakiannya.

Tak lama kemudian polisi datang dan mengamankan pencopet itu. Gweboon juga sudah mengembalikan dompet wanita itu ke pemiliknya, wanita itu segera berterima kasih dan membungkuk berkali – kali. Gweboon tersenyum simpul “gwenchana… kau tidak apa – apa kan unnie?” tanyanya lembut.

“Gwenchana… jeongmal gomawo..uhm…..”

“Gweboon…”

“Ah ya Gweboon… kau ingin berangkat sekolah? Apa ini tidak terlambat?” wanita ini spontan melihat jam tangannya.

Holy shit.

Gweboon rasanya ingin berteriak sekeras mungkin, ia sampai lupa kalau ia juga sudah terlambat. Lalu kereta itu sudah pergi meinggalkannya. Ia menepuk keningnya dan menghela napas panjang.

Wanita didepannya ini tersenyum dan mengerti jika gadis SMU yang menyelamatkan dirinya ini terlambat dan kehilangan kereta tadi yang sudah terlanjur pergi. Karena merasa tidak enak hati ia mengeluarkan beberapa lembar lima puluh ribun won dan memberikannya pada gadis ini.

“Ige..mwoya?”Tanya Gweboon dengan polosnya.

“Ini kau pergilah dengan taksi, anggap saja ucapan terima kasihku karena keberanianmu tadi”

“Tapi…” Gweboon menggigit bibirnya ragu, lagipula ia tidak mengharapkan imbalan apapun. Ia ingin menolak tapi ia juga membutuhkannya.

Oh Gweboon kenapa kau sangat rumit!

“Kenapa? Kurang? Ah sekolahmu dimana?Jika dilihat dari seragammu aku kok tidak asing ya..? ini aku tambahkan oke?”

“Ani.. ah bukan kurang hanya saja aku tidak terbiasa menerima uang begitu saja dari orang asing..” balasnya pelan.

Wow

Wanita ini terperanjat lalu tertawa membuat Gweboon heran dan mendongakkan kepalanya melihat wanita ini tertawa renyah.

Gadis ini manis sekali, pikirnya seraya tertawa.

“Gweboon.. ini ambil kartu namaku, jika kau tidak ingin menerima ini dengan cuma – cuma kau datang ke rumahku lalu kita bicarakan cara agar kau tidak merasa tidak enak..”

“Oh.. seperti bekerja untukmu? Part time?”

“Yes smart girl.. “ Wanita yang juga memiliki mata kucing sepertinya mencubit pipi Gweboon gemas, karena baru saja ia melihat gadis ini begitu berani lalu berubah menjadi gadis polos sekarang.

Gweboon tersenyum lebar membuat lesung pipitnya terlihat jelas dan menyimpan kartu nama itu kedalam saku bajunya.

Wanita didepannya juga pamit dan berlalu. Well setidaknya ini tidak terlalu buruk, meski dihari pertama ia terlambat tapi ia mendapat part time.

.

.

.

Gweboon setengah berlari menuju gerbang yang sudah tertutup. Ia berdiri didepan gerbang sekolah lalu tertegun.

Ini sekolah atau istana?

Ia menelan ludahnya, tak sadar ada mobil mewah dibelakangnya yang membunyikan klakson. Lalu pintu gerbang putih yang terdapat pahatan SIS disisi puncaknya saat kedua gerbang menyatu itu perlahan terbuka dan ia tersadar kemudian menyingkir saat ada ahjusshi keamanan sekolah yang menariknya.

“Ah mian…” ia berujar dengan kalimat yang informal lalu sadar akan ucapannya lalu menutup mulutnya.

Mobil itu masuk dan melewatinya.

Gweboon berkali – kali membungkukkan tubuhnya karena ia pikir mobil itu adalah mobil pemilik sekolah karena setahunya tidak mungkin kan anak sekolah membawa mobil semewah itu?

“Yah.. apa kau anak baru disini?”

“Ne..ahjusshi..”

“Kau terlamat dihari pertamamu?” ahjushhi ini menggelengkan kepalanya heran.

Gweboon tersenyum sumringah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Yasudah masuklah.. kau sudah terlambat 30 menit, kalau tidak karena anak pemilik sekolah ini juga baru datang kau tidak mungkin aku biarkan masuk..”

“Ne ahjusshi… kamsahamnida..” Gweboon tersenyum cantik dan membungkuk sopan lalu mengambil langkah seribu.

Hanya saja ia tidak tahu kemana kakinya membawanya.

Sudah 15 menit ia memutari sekolah ini yang tampak tidak ada ujungnya, ia mengandalkan intuisinya.

“Kim gweboon.. kau ini bodoh sekali! Unlucky bitch!”

Ia bergumam, bersumpah serapah saat ia membuka handphonenya dan membaca pesan dari bibinya yang mengatakan bahwa ia harus menghadap kepala sekolah sebelum memasuki kelas dan mengikuti upacara penerimaan siswa baru.

Masalahnya.. dimana ruang kepala sekolah?

Gweboon mendadak menyesali kebodohannya kenapa ia terlambat? Kenapa ia juga tidak bertanya saat tadi bertemu ahjusshi didepan? Ia bahkan tidak bisa kembali kedepan gerbang sekolah.

Pendek kata, ia tersesat.

Good day.

Gweboon menghela napas sekian kalinya, ia frustasi menarik ikatan rambutnya dan mengacak rambutnya, mungkin ia akan dipanggil orang gila jika ada yang melihatnya.

Andwe! Gweboon be calm! Kau dalah gadis baik – baik dengan manner yang baik.

You are the next lady.

You are the next miss Korea.

Oke yang terakhir berlebihan.

Buru – buru ia menepuk pipinya dan berjalan sambil mengikat kembali rambutnya yang panjang, merapihkan poninya.

Ia terus melewati lorong panjang, sedikit mengaggumi arsitektur gedung ini. Tiang penyanggah sekolah sangat tinggi dan kokoh lalu langit – langit yang berada 5 meter diatasnya. Ia mendongak dan semakin terkejut saat langit – langit koridor dihiasi lukisan tiga dimensi hingga ia tak memperhatikan jalan didepannya dan..

Bruk

“aww..”

Gweboon mengelus bokongnya yang mendarat sempurna dilantai marmer yang dingin itu. Ia mendongakkan kepalanya melihat dari kaki hingga mendarat diwajah seseorang didepannya.

Seorang laki – laki.

Tampan.

Mata tajam itu memandangnya sinis dan berdecak.

“Apa kau berjalan sambil tidur? Stupid girl?” ucapnya dingin dan meledek.

Gweboon buru – buru menarik kembali pendapatnya, ia sama sekali tidak tampan karena mulutnya sangat busuk! Apanya yang stupid? Jika ia bodoh ia tidak mungin memperoleh beasiswa dan masuk ke sekolah terbaik di Korea seperti sekarang!

This brat!

Gweboon berdiri sambil menepuk jas sekolahnya dan roknya. Ia berdoa semoga saja tidak semua laki – laki disini seperti laki – laki didepannya.

Tahan emosimu Gweboon.. ingat kau adalah gadis anggun!

Tapi tidak saat ada yang mengataimu bodoh, setidaknya laki –laki ini layak mendapat tendangan diselangkangannya kan?

Gweboon menggeleng keras dan melewati laki – laki yang menatapnya heran. Well karena Gweboon sedang berusaha keras melawan pikiran jahatnya.

Laki – laki didepannya melirik name tag yang berada dilantai dan sepertinya Gweboon tak menyadarinya kalau name tagnya terjatuh.

Gweboon melewatinya dengan sukses dan mengabaikannya. Bagi Gweboon laki – laki ini sudah cukup beruntung karena tidak terkena tendangan mematikannya.

Namun kenyataan berkata lain.

Laki – laki ini menyunggingkan senyum diujung dibibirnya.

Entah sejak kapan punggung Gweboon merapat kedinding dan didepannya laki – laki itu menatapnya sinis, menahan pundak Gweboon menempel pada dinding.

“Kau mau kemana? Bahkan kau tidak maaf? Berani sekali…” kalimat laki – laki ini perlahan memasuki otak Gweboon dan berusaha mencernanya.

Minta maaf?

Bajingan tengik.

Belum sempat Gweboon menjawab, bibir laki – laki itu mendarat dibibirnya, menyumpalnya dengan ciuman yang kasar.

Gweboon  membeku.

Matanya terbelalak kaget hingga ia tidak bisa berekasi apapun sampai ia merasa ada tangan yang menyentuh payudaranya.

WHAT. THE. HELL

Kesadaran Gweboon kembali dan ia mengangkat kakinya kuat tepat mengenai selangkangan laki – laki itu.

Ia tidak puas. Satu tendangan lagi, sempurna menyentuh pipi kiri laki – laki didepannya.

“Ya! Kau laki – laki brengsek! Apa kau ingin mati?!”

Kalimat pertama Gweboon.

The Real Gweboon telah muncul.

Wow hebat juga dia, pikir laki – laki ini.

Laki – laki didepannya meringis mengusap bagian sensitive yang terkena tendangan gadis bermata tajam dan tatapan yang berkata “you touch me again you will be killed” –look.

Menarik.

Baru kali ini ada gadis yang menolaknya mentah – mentah, bahkan memukulnya? Wow

Mungkin Gweboon layak mendapatkan penghargaan Guinness book of record.

“Aku tidak selemah yang kau pikirkan! Jadi jangan cari masalah denganku! You bastard!

Gweboon berteriak sekuat tenaga, beruntung saja dilorong ini tidak ada seorangpun atau misinya menjadi Lady akan sirna dan ia tidak layak mendapatkan pangerannya yang lemah lembut itu, Choi Minho.

Gweboon segera pergi dan berlari meninggalkan laki – laki berambut pirang yang bahkan belum sempat membuka mulutnya.

.

.

.

Setelah 10 menit berlari akhirnya ia sampai didepan lapangan luas dan melihat beberapa siswa sepertinya. Lalu matanya bertemu sosok yang akhirnya bisa membantunya.

“Gweboon?kau kemana saja? Aku tidak melihatmu diupacara penerimaan siswa baru tadi?” Laki – laki bertubuh tinggi dan tegap ini membulatkan matanya.

Ya Pangeran Kim Gweboon semenjak SD.

Choi Minho.

“Aku tersesat…. Hehe..” ia terkekeh dan pipinya memerah karena malu.

Minho terdiam sejenak lalu menghela nafas panjang sebelum kembali bertanya “apa kau keluar dari gedung disana?” telunjuknya menunjuk kearah Gweboon datang tadi.

Gweboon mengangguk pelan, ia tidak mengerti saat raut wajah Minho tiba – tiba menjadi serius saat ia mengangguk.

“Dengar Gweboon, mulai sekarang jauhi gedung itu, itu adalah gedung special section sedangkan kita berada di gedung ini, gedung regular section. Sehingga kita tidak boleh sembarangan kesana, Arrasseo?”Minho menepuk pundak Gweboon berharap agar Gweboon mengerti. Ia sangat khawatir jika Gweboon mendapat perlakuan yang tidak enak disana. Bagaimanapun juga special section adalah area terlarang bagi mereka di regular section.

Setelah dijelaskan lebih detail Gweboon akhirnya mengerti. Bahwa sekolah ini terdiri dari dua section, yaitu special section dan regular section. Special section terdiri dari siswa  – siswi keturunan bangsawan, chaebol, dan beberapa artis terkenal.

Sedangkan mereka yang berada di regular section adalah sekumpulan anak biasa, yang meskipun juga anak orang menengah keatas, seperti anak pegawai kantoran atau beberapa anak cerdas yang mendapatkan beasiswa dari yayasan sekolah ini karena prestasi mereka.

Seperti Kim Gweboon.

Ia mati – matian belajar setiap hari sepulang sekolah semenjak ia menginjak bangku SMP, ia selalu ingin satu sekolah dengan Minho, laki – laki yang ia anggap pangerannya sekaligus sahabatnya.

Begitu mendengar Minho akan masuk sekolah ini, Seoul International School, ia memutuskan tidak ada lagi yang namanya karaoke di hari libur, tidak ada shopping baju bermerk yang sedang diskon. Karena waktunya ia habiskan untuk belajar dan uang sakunya ia habiskan untuk membeli beberapa buku untuk menunjang belajarnya.

Ditambah ia harus mengambil les bahasa Inggris karena untuk masuk sekolah internasional yang memakai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar disekolah mewajibkan siswanya lulus tes Toefl dengan skor minimal 600!

Hari – hari perjuangan itu bagaikan neraka bagi Gweboon, tapi beruntunglah Minho selalu membantunya saat ia hampir putus asa dan menyemangati Gweboon.

Akhirnya Minho mengantarkan Gweboon ke ruangan kepala sekolah dan ia juga bertemu beberapa siswa – siswi yang memperoleh beasiswa sepertinya.

Gweboon menghela nafas kesekian kalinya, memang benar kata orang bermodalkan otak pintar saja masih didiskriminasi dengan siswa – siswi yang mungkin sejak lahir sudah bisa melihat menara Eifell .

Gweboon mendengarkan dengan seksama petunjuk yang diberikan padanya dan mengingat baik – baik ruang kelas pertama yang ia datangi.

Ini adalah sekolah Internasional, tentu saja mengikuti kurikulum seperti di Eropa. Mereka bebas memilih mata pelajaran dan guru yang mereka inginkan, namun di tingkat pertama karena belum begitu banyak mata pelajaran pilihan, maka mereka sudah diberitahu mata pelajaran apa saja yang harus mereka ambil dan juga mereka harus aktif didalam dua buah club.

Kim Gweboon? Tentu saja ia tidak mungkin jauh dari Choi Minho.

Ia memutuskan masuk club basket.

Satu lagi, ada aturan yang bersifat mutlak di sekolah ini yang membuat Gweboon membuka mulutnya tidak percaya saat membaca buku peraturan yang dibagikan pada siswa – siswi baru.

Jika siswa – siswi ketahuan berpacaran disekolah maka mereka akan dikeluarkan.

===***===

“Wah! Kau kenapa? Pipimu..?”

“ah.. diam kau..”

“Jinki wajahmu… daebak… ?! ” timpal salah seorang laki – laki berambut putih terang membuka mulutnya tidak percaya dengan memar yang ada dipipi sahabatnya ini. Ini kejadian langka! Ia segera mengambil handphone dan memoto Jinki dengan kameranya.

“Ya!Kenapa kau memotoku you stupid dino! ”

Laki – laki bernama Jinki ini berteriak kesal dan mengelus pipinya yang terkena tendangan gadis brutal tadi lalu ia mengingat name tag yang ia ambil tadi.

Kim Gweboon.

Ia meringis kesal ”awas saja kau.. babon..”.

Mungkin ini adalah pertama dalam hidupnya, seorang gadis menendangnya dua kali. Bahkan tepat diselangkangannya. Perlahan ia mengelus miliknya yang masih terasa sedikit nyeri.

Bahkan laki –laki manapun belum pernah ada yang sukses mendaratkan seujung jaripun di tubuhnya.

“Sepertinya sesuatu yang tidak biasa terjadi padamu pagi ini? Mind to share?” laki – laki berambut hitam legam namun memiliki garis wajah yang lembut seperti wanita ini bertanya dan menopang dagunya dimeja kelas memandang Jinki.

“Sangat luar biasa.. dan ini ra-ha-sia.. Lee Taemin…” jawabnya memelan saat menyebut nama Lee Taemin.

Laki – laki ini mendengus kesal dan mengerucutkan bibirnya.

Whatever.. aku akan mengetahuinya cepat.. atau lambat..”jawabnya lalu berbalik sambil membalik bangkunya menghadap depan saat terdengar suara gaduh siswa yang memasuki kelas dan suara bel berbunyi.

Jonghyun laki – laki yang disebut dino tadi terkekeh dan melemparkan Jinki beberapa gumpalan kertas.

Do you want to die?”

Jinki berbisik pelan melempar tatapan iblis kearah temannya yang duduk disebelahnya.

Jonghyun menarik kedua jarinya membentuk V-sign dan tersenyum.

“Damai..oke”

Pagi itu Jinki bahkan tidak bisa mendengar apapun yang gurunya katakan didepan kelas. Ia memilih tidur dimejanya.

Jinki adalah anak terakhir dari keluarga Lee. Pemilik yayasan SIS atauu dengan kata lain ia adalah anak pemilik sekolah dengan luas tanah 500 hektar ini.

Sekolah terbaik, lengkap dengan tanah luas untuk berkuda, 10 kolam renang besar, 3 lapangan indoor untuk basket, 5 lapangan sepak bola, 3 lapangan khusus olahraga atletik seperti lompat tinggi, panahan dan lain – lain.

Oh ya bahkan sekolah ini memiliki gedung kesenian khusus untuk club seni, ada gedung serba guna musik khusus konser tunggal untuk piano maupun orkestra, lalu ada ruangan khusus dance ( modern dance atau tari tradisional korea bahkan ballet ) ruangan untuk melukis yang menghadap kaca bening besar kearah belakang gedung sekolah memperlihatkan lapangan hijau dan disampingnya taman sekolah yang besar tempat biasanya siswa duduk santai menikmati waktu istirahat atau siswi yang diam – diam memperhatikan pujaan hatinya bermain sepak bola.

===***===

Gweboon menyusuri jalan di perumahan daerah Gangnam ini sambil terkesima, tidak jarang ia tersandung batu kerikil karena tidak memperhatikan jalan. Ia sibuk menganggumi rumah – rumah besar disisi jalan dan beberapa mobil mewah yang mondar – mandir.

Ia tidak menyangka jika rumah wanita yang kemarin ia tolong berada di perumahan mewah seperti ini?

Lalu kenapa dia naik kereta kemarin? Kenapa tidak naik mobil saja?

Atau jangan – jangan wanita itu penipu dan malah menjebaknya untuk menjualnya ke kakek – kakek mesum yang tinggal di daerah sini?

Gweboon menggeleng keras, tidak tidak.. itu tidak mungkin. Oke walaupun begitu ia harus waspada. Entah apa yang berada didalam pikirannya ia mengambil beberapa kerikil lalu ia masukkan kedalam celana jeans baby bluenya.

Ia melihat lagi kartu nama ditangannya yang ia pegangi sejak tadi.

Lee Hyori.

Gweboon mengingat baik – baik namanya lalu melanjutkan pencarian.

“Nomor 23.. uh ini 21…. 22… ah 23!”

Ia tepat berhenti didepan rumah besar. Pagarnya setinggi 3 meter berwarna hitam. Ia memencet bel dan didepannya ada layar yang tersambung kedalam, didepan layar kecil yang cukup menampung besarnya wajah itu ada kamera kecil.

Uh tipikal rumah mewah yang ada kamera pengintai? Ck.

“Siapa..?” suara wanita yang kedengaran sudah tidak muda lagi mengagetkan lamunan Gweboon.

“Uh… annyeonghaseyo… aku Kim Gweboon..ak-“

“Gweboon? Ah Gweboon masuklah! Ahjumma jemput dia dan bawa keruanganku?!”

Gweboon mendengar suara lain, tidak salah lagi itu Hyori unnie.

“Tunggu sebentar ya nona..” jawab suara lain yang Gweboon yakini adalah kepala pelayan dirumah ini.

Tak sampai 5 menit pintu kecil sebelah gerbang terbuka, pintu khusus masuknya pejalan kaki.

“Masuklah dan ikuti saya nona Gweboon..” wanita paruh baya itu menjulurkan tangannya kearah dalam dan mempersilahkan Gweboon yang tiba – tiba merasa tegang ini masuk.

Matanya menyusuri setiap sudut dihalaman rumah. Taman bunga yang indah, air pancur yang menambah kesegaran lalu ia jalan lebih dalam dan melihat beberapa mobil mewah dengan bermacam merek  terkenal dari mobil local hingga mobil asing. Bahkan disana ada satu mobil yang menarik perhatiannya, mobil Ferrari merah dua pintu.

Gweboon menelan ludahnya, kapan ia bisa memiliki mobil seperti itu?pikirnya.

Hingga sampai pintu masuk utama kerumah ia menyapu pemandangan didepannya dengan mata cantiknya hingga lupa berkedip, nafasnya tercekat. Bahkan langit – langit rumah ini terasa begitu jauh dari lantai, hingga membuat hawa diruangan terasa lebih sejuk.

Ruang tamu dengan sofa yang terlihat elegan lalu ditembok ada foto keluarga dan ia bisa melihat potret  keluarga lengkap. Ayah,Ibu seorang anak perempuan dan seorang anak laki – laki. Figura foto besar ditepinya berukir dan berwarna emas, kontras dengan background foto mereka yang berwarna hitam.

Hanya saja dalam foto keluarga itu tidak ada satupun yang tersenyum.

Bukankah seharusnya mereka tersenyum? Aneh sekali, pikir Gweboon saat itu.

Akhirnya ia sampai masuk kedalam sebuah ruangan yang cukup besar. Ada beberapa layar background untuk fotografi dibelakang dan kamera yang Gweboon bersumpah ia baru kali ini melihat kamera sebesar itu, dengan lensa yang memanjang. Kamera itu terpajang didalam sebuah lemari kaca.

“Daebak.. ” gumamnya.

“Gweboon ah~!”

Ia menengok ke asal suara, mendapati wanita yang kemarin ia tolong menghampirinya dan memeluknya sekilas.

“Kenapa diam saja? Ayo kemari duduk disofa..”

Gweboon memaksa senyumnya, dan ia yakin saat ini senyumnya terlihat sangat bodoh.

Calm Gweboon.. be lady.

“Apa kau lapar?”

“uh.. ti-tidak unnie…” jawab Gweboon sedikit gugup.

Tawa Hyori pecah karena kepolosan gadis didepannya ini. Uh ingin rasanya ia memilik adik perempuan, kalau boleh memilih..daripada adik laki – lakinya itu. Tch that little bastard brother.

“Aigooo Gweboon ah kenapa kau gugup sekali.. santai saja.. oke jadi akhirnya kau datang eoh.. aku ada beberapa tipe part time untukmu..”

“Beberapa tipe?”

“Yup.. begini.. sebelumnya aku ingin minta maaf karena aku telah mencari tahu tentang dirimu..”

Gweboon hanya menatap tidak mengerti lalu tersenyum canggung.

“Oke begini, dengarkan aku baik – baik Gweboon.. aku tahu kau ini anaknya yang pintar dan memperoleh beasiswa di sekolah kami.. dan aku tahu sejak kau menolongku saat itu kau adalah gadis yang sangat baik..”

Sekolah kami?

Gweboon perlahan berusaha memutar otak.

“Jadi aku ingin kau menjadi tutor pribadi adik laki – lakiku atau mejadi modelku?”

Hyori sedikit menekan kalimat akhirnya lebih kepada bertanya, ia tersenyum canggung.

Model? What?

Tentu itu big No ! Gweboon tidak berbakat sama sekali menjadi model dan lebih baik ia mengajar matematika atau sejenisnya, itu terdengar lebih manusiawi baginya.

“Ah.. aku lupa adikku juga satu sekolah denganmu hanya saja ia berada di special section..” tambah Hyori namun belum juga dapat jawaban dari Gweboon.

“Oh ya kau juga akan mendapatkan bayaran tentu saja, aku tahu kau akan membutuhkan uang lebih untuk membantu biaya sehari – harimu atau keperluan club yang akan kau masuki, kau tahu kan setiap gadis di sekolah wajib mengambil dua club, satu club olahraga dan satu lagi club kesenian?”

Gweboon masih membatu, sebenarnya ia cerdas dalam hal pelajaran hanya saja terkadang kemampuannya menerima informasi lebih lama daripada memahami rumus phytagoras.

“Gweboon..? kau dengar aku kan?” nada suara Hyori sedikit khawatir.

“Ah, ne.. aku..aku terima untuk menjadi tutor! Kamsahamnida Hyori unnie..”

Hyori membulatkan matanya lalu berteriak bahagia kemudian memeluk Gweboon yang terkejut.

“Gomawo Gweboon ah~ ! aku memohon bantuanmu, adikku itu sulit sekali diberitahu! Ohya sekali – sekali kau boleh menendang selangkangannya seperti yang telah kau lakukan kemarin jika ia tidak mau mendengarkanmu!” pekiknya tiba – tiba sorot matanya seperti ada kobaran api.

Gweboon tertawa canggung, entah ia harus bereaksi seperti apa.

“Uhm.. mulai besok kau akan mengajarnya sepulang sekolah dari jam 3 sore sampai jam 5 oke?”

“Ne..ah b-besok??”

“Ah ya agar kau tidak telat aku akan mengirim sopir untuk menjemputmu dan mengantarmu kesini, mungkin nanti jika kau sudah akrab kau bisa pulang bersama Jinki..”

“Jinki..?”

“Ah ya aku lupa memberitahumu namanya Jinki.. Lee Jinki..”

“Lee Jinki…” gumamnya pelan mengulang.

Gweboon mengerti sekarang, laki – laki yang bernama Lee Jinki ini adalah anak bungsu dari keluarga Lee dan Hyori adalah kakak perempuannya. Ia tahu keluarga Lee adalah pemillik yayasan sekolahnya. Sekarang ia paham, sungguh ini adalah kebetulan yang membuatnya beruntung! Seperti mendapat lotre! Ia bisa sekolah gratis dan menjadi tutor dengan bayaran yang lumayan.

Hidupmu akan menyenangkan Kim Gweboon,- pikirnya senang.

Setelah berbincang mengenai pekerjaan Hyori sebagai seorang perancang busana dan fotografer professional plus ia memiliki majalah fashion dan memiliki branded pakaian atas namanya. Gweboon benar – benar takjub,, rasanya ia ingin seperti Hyori. Cantik, dan berbakat.

Gweboon pamit pulang karena hari sudah semakin sore. Hyori memaksanya untuk menaiki mobil yang sudah disiapkan dan diantar supir. Gweboon sudah menolak namun semua itu percuma.

“Hati – hati gweboon ah~ hubungi aku jika sudah sampai rumah arrasseo? Di kartu namaku ada nomorku kan?”

“Ne unnie.. kamsamhamnida…” jawabnya formal dan membungkuk.

Benar – benar gadis yang sopan.

Tepat Gweboon menutup pintu dan supir mulai menginjak gas, Jinki pulang dengan mengendarai motor ninjanya berwarna hitam.

“Yah! Jinki!” Hyori berteriak saat melihat adiknya baru pulang sekarang.

“Mwo?”

Jawab Jinki enteng melepas helmnya dan melewati Hyori yang berada didepan pintu.

Bugh

Jinki menerima tendangan dibokongnya membuatnya tersungkur kelantai.

“Ya! Sebenarnya ada apa dengan wanita belakangan ini?! Kenapa sangat kasar!” teriaknya kesal. Mengingat bagaimana gadis bernama Gweboon tadi menendangnya tepat di pipinya membuatnya kembali naik darah.

“Mwo? Ya! Apa kau berkelahi di sekolah? ada apa dengan pipimu? Kenapa biru?! Sudah kukatakan jangan berbuat onar! Apa kau idiot?!”

Hyori memukul kepala Jinki.

“Aw aw… hentikan! Yah!” Jinki berteriak kencang lalu Hyori berhenti.

“Duduk!” Hyori menyuruh adiknya duduk di sofa lalu memanggil bibi untuk mengambil kompres es batu.

Hyori memang galak, terlebih dengan adiknya ini. Saudara tetaplah saudara, mereka menyayangi satu sama lain. Seperti sekarang, Hyori menekan kompres es nya ke pipi Jinki.

“Arghh.. pelan – pelan! Sakit ..”

“Kalau begitu diamlah! Aish…! Kau ini sampai kapan mau bermain – main! Dengar! mulai besok kau akan mendapatkan tutor baru! Dan jangan pernah berpikir untuk membuatnya memundurkan diri lagi seperti yang kau lakukan dulu! Atau aku bersumpah Jinki aku akan membakar motor dan mobil kesayanganmu diluar..”

“Kau tidak serius kan?!”

“Kapan aku tidak serius!” Hyori sengaja menekan es batu itu dan Jinki meringis kesakitan.

“Yah! Arrasseo! Aku mengerti aku akan menjadi anak baik..”

Dalam mimpimu

Hyori menghela nafas panjang dan tersenyum berubah menjadi sosok malaikat dalam waktu satu detik.

“Adik manis.. I love you..” Hyori mengacak rambut blond Jinki dan mengecup pipinya.

“Mengerikan…” gumamnya pelan takut terdengar kakaknya yang sudah beranjak menaiki tangga.

“Aku mendengarmu Jinki… “

Jinki tertawa canggung ”hehe… I love you too~ noona neomu yeppo~..” Jinki menyanyikan bait lagu noona neomu yeppo SHINee dan tersenyum bak malaikat.

Hyori memutar bola matanya malas, sedetik kemudiaan tersenyum membuat mata kucingnya menipis lalu berbalik dan pergi.

Jinki menghela nafas menyenderkan punggungnya di sofa. Hari ini benar – benar sial.

===***===

Kali ini Gweboon tidak terlambat, terima kasih Minho yang telah memberikannya tumpangan dimotornya tadi karena tak sengaja bertemu di jalan.

Kini ia sedang jam olahraga dan berkumpul dilapangan, anak laki – laki tampak bermain sepak bola dan wanita menonton mereka. Gweboon duduk ditepi dan melamun, ia tiba – tiba mengingat apa saja yang terjadi kemarin. Ia tersenyum dan tidak sabar untuk bertemu murid pertamanya walaupun katanya mereka satu sekolah.

Lalu matanya bertemu dengan Minho yang melambaikan tangannya sesaat setelah membuat gol.

Gweboon membalas lambaian tangannya lalu tak lama ia mendengar tatapan sinis dari sebelahnya. Sekumpulan gadis yang sirik padanya, lebih tepatnya.

“Ah Jinki oppa sudah masuk lagi! Apa kalian tahu! Setelah ia pergi ke Amerika akhirnya ia pulang!”

“Ah jinjja?! Aku dengar dia sangat tampan!”

Sekelebat Gweboon mendengar nama yang terasa tidak asing baginya.

Jinki….?

Ah! Aku ingat sekarang. Ternyata ia digilai wanita juga? Cih! Andai saja mereka tahu kalau laki – laki yang mereka bilang tampan itu memiliki kadar otak dibawah rata – rata sampai harus memakai jasa seorang tutor? HA HA HA handsome my ass !

Gweboon tanpa sadar tertawa terbahak – bahak lalu  terdiam saat ia sadar bahwa ia menjadi pusat perhatian saat ini.

Aish!

“Sepertinya dia ..gila..”

Gweboon mendengarnya. Hei ia tidak tuli! Siapa yang gila! Kalian lah yang akan gila jika kalian tahu alasan ia tertawa, ia mentertawakan kebodohan kalian! Ckck..

Gweboon memutuskan untuk pergi dan mencari tempat lebih aman untuk dirinya menyelesaikan tawanya. Ia terus berjalan ke taman belakang.

Taman terlihat sepi, tentu saja ini kan bukan jam istirahat. Ah bagus sekali! Ia bisa bersantai sedikit dan melanjutkan tawanya.

“Heh! Baboon! Ternyata kau ini selain brutal, juga sedikit sinting?”

Suara itu….

Gweboon menutup mulutnya cepat dan berbalik saat melihat sosok yang paling tidak ingin ia temui sekarang.

Laki – laki mesum itu.

“Heh! Apa tendanganku masih kurang? Dan siapa yang kau panggil baboon! Namaku Gweboon!Kim Gweboon! Apa kau tidak lihat name tage- ah.. mana name tage ku?” Gweboon bingung saat ia berusaha menunjuk name tag besi (berbentuk bross persegi panjang) bertuliskan namanya tidak ada di jas seragamnya.

“Kau cari ini? Baboon ?”

Gweboon mendongak dan melihat name tagnya berada ditangan laki – laki mesum itu.

“Kau ingin ini kan?”

Wajah Gweboon mendadak horor, ia tahu ini tidak seperti ia akan menerima bross name tagnya dengan senyuman dan ia akan berkata ‘aku menemukan ini saat terjatuh kemarin, ini ambillah’.

Wajah Gweboon memerah padam, darahnya mencapai kepalanya. Andai saja ada jubah Harry potter ia pasti bisa mengambil name tag itu diam – diam.

“Dengar.. kau pasti mengerti kan aku tidak akan memberikan ini dengan cuma – cuma?”

Tentu saja karena kau bajingan tengik.

Gweboon berpikir keras bagaimana baiknya ia mengambil bross itu?

Laki – laki yang sedang menahan tawanya ini berdiri dan seperti menghampiri mangsa didepannya. Gadis itu tidak mundur selangkahpun. Ia justru balas menatap sinis laki – laki didepannya berharap manusia didepannya ini bisa mati mendadak dengan sorot matanya.

“Kim gweboon.. Kim Baboon.. hmm terdengar sama? Dan tenagamu lebih mirip baboon.. kau tahu kau telah membuat-nya terluka kemarin huh?” Jinki menunjuk bagian depan celana seragamnya namun yang ia lihat adalah wajah merah padam Gweboon saat mengatakannya.

“Itu karena kau kurang aj-

“Gweboon!!!” suara teriakan menghentikan perkataannya lalu mereka berdua menoleh ke sumber suara.

“M-Minho oppa?” suara yang lembut. Terlalu manis.

Jinki melotot.

“Apa yang sedang kau lakukan.. ah kau.. apa kau ada perlu dengannya?” Tanya Minho menatap lurus Jinki.

Jinki berdecak.

“Apa kau pacarnya?”

Gweboon melirik tajam kearah Jinki.

“Bukan.. dia sudah seperti adikku sendiri..”

Hati Gweboon mencelos. Ya benar ia hanya seperti adiknya sendiri. Lagipula tidak mungkin Minho menyukainya kan seorang gadis biasa dari keluarga yang tinggal di desa.

“Oh.. begitu?” Jinki melirik gweboon yang sepersekian detik wajahnya berubah sedih dan Jinki melihatnya. Lalu tiba – tiba ia tersenyum.

Senyum pertama yang ia lihat dari gadis brutal ini.

“Ah oppa.. terima kasih kau menemukanku lagi, aku hampir saja tersesat dan aku sedang bertanya pada laki – laki ini, iya kan?” Gweboon menoleh kearah Jinki sambil tersenyum.

Apa dia gadis yang sama?

“Daebak…” gumamnya menggeleng.

Jinki sering mendengar atau bahkan menonton film dengan tokoh utama yang memiliki kepribadian ganda tapi baru kali ini ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

Gweboon lalu berjalan menuju Minho dan menggandengnya pergi. Melupakan name tag nya yang masih berada ditangan Jinki.

“Gadis gila… sepertinya dia mirip dengan seseorang…”

Jinki melihat punggung Gweboon yang semakin menjauh dan tawa renyahnya yang terdengar dikupingnya, ia baru tahu jika iblis bisa tertawa dengan suara yang..manis?

Apa barusan ia bilang Gweboon manis?

Sepertinya kepalaku sedikit sakit, gumamanya. Ia berbalik dan memutuskan untuk membolos kelas selanjutnya dan tidur di UKS.

===***===

Gweboon begitu gugup.

Ralat, luar biasa gugup!
Berulang kali ia mengambil nafas dan membuang nafas panjang dengan teratur membuat supir didepannya melihatnya dari kaca spion.

“Nona kau tidak apa – apa?” tanyanya dengan nada yang cemas.

“Ye? Ah aku tidak apa – apa.. hehe” jawabnya ceria.

“Tuan muda itu sebenarnya baik, ia tidak mungkin menggigitmu..kau tenang saja nona muda..”

“Ne terima kasih ahjusshi…”

Gweboon merasa gugupnya sedikit berkurang bahkan supir yang ia panggil ahjusshi ini memberitahunya beberapa lelucon dan membuat  tawanya meledak.

“Ahjusshi kau lucu sekali.. kamsahamnida sudah mengantarku..”

“Fighting!” ahjusshi itu mengepalkan tangannya dan tersenyum.

Gweboon mengangguk dan keluar dari mobil. Ia memasuki pintu dan bertemu ahjumma.

“Kemari nona Gweboon..”

“Ahjumma.. panggil saja aku gweboon, tidak perlu pakai nona ..” pintanya lembut.

Ahjumma hanya tersenyum dan mengangguk mengerti hingga akhirnya mereka sampai didepan sebuah pintu.

“Ia sudah menunggumu didalam ruang baca, aku juga sudah meletakkan minuman dan beberapa snack jika kau merasa lapar no- ah Gweboon…”

“Ne.. kamsahamnida ahjumma.. aku masuk dulu..”

Gweboon tersenyum dan ahjumma meninggalkannya kembali ke dapur. Ia perlahan membuka knob pintu dan melihat punggung lebar yang menghadap kearahnya.

“Ehem.. permisi… Lee Jinki?”

Laki – laki ini berdiri lalu menoleh sambil berkata “Kau ini hari pertama sudah terlam- kau?!”

“Kau!!!”

Keduaya berteriak diwaktu bersamaan saat menyebut ‘kau’ dengan nada yang meninggi.

Gweboon tahu bumi itu besar. Tapi kenapa? Kenapa harus dia yang menjadi muridnya?

Jadi Lee Jinki adalah laki – laki kurang ajar itu?

Memang tampan tapi saat ia mengingat kejadian itu rasanya darahnya kembali naik ke ubun – ubun!

“Oh jadi kau yang menjadi tutorku? Not bad..” Jinki bersiul diujung kalimatnya dan menjilat ujung bibirnya, tangannya dimasukkan kedalam saku celananya.

Breath Gweboon. Breath. Inhale.. exhale.. inhale ..exhale..Okay.. relaxe.

Jinki kembali duduk dan menyuruh Gweboon mendekat.

“Apa kau mau berdiri disitu selama dua jam dan menerima gaji buta? Jangan mimpi kau baboon!”

Gweboon mendekat dengan gigi gemeretuk saking kesalnya. Ia melihat kamus bahasa Jepang yang tebal dimeja dan rasanya ingin melemparnya tepat diatas kepalanya.

Gweboon duduk disampingnya dan berusaha menurunkan emosinya. Ia tidak mungkin pergi dan memundurkan diri. Ia sudah janji dengan Hyori unnie plus ia sudah memundurkan diri dari cafee tempatnya bekerja part time.

“Buka halaman pertama..” suara Gweboon lebih rendah dari biasanya. Ia tidak bisa termakan emosi saat ini. Ia harus mengontrolnya.

“Oke baboon..”

“Yah! Namaku Gweboon.. G – w – e – b – o – o –n “ ia mengeja setiap hurufnya dengan nada yang sangat kesal dan wajah memerah padam.

Jinki senang sekali.

Entah mengapa melihat gadis didepannya ini marah – marah, berteriak lalu kembali tenang menahan emosi kemudian beberapa menit kemudian ia membuat gadis itu kesal lagi.

Hingga akhirnya Gweboon lelah dan membiarkan Jinki memanggilnya baboon sesuka hatinya ia tidak peduli.

“Sekarang buat kalimat, cepat! Aku beri waktu 10 menit..”

Jinki berdecak. Baru mengajarkan beberapa pola kalimat saja ia sudah disuruh membuat kalimat.

Gweboon menghela nafas lalu mengecek handphonenya, ternyata ada sms dari Minho yang mengajaknya makan diluar malam ini.

Ia spontan terkekeh dan moodnya mendadak bagus saat membaca pesan Minho, secepat kilat membalas pesan pendeknya.

Jinki menyadarinya saat gadis disebelahnya ini tersenyum dengan lebarnya didepan handphone jadulnya itu.

Sayang sekali Gweboon tidak pernah tersenyum didepannya.

Tch!

“Ini..!” mood Jinki tiba – tiba jelek.

Gweboon kembali memasang wajah serius dengan kacamata baca yang menempel dihidung mancungnya.

Watashi no sensei wa urusai desu

Darah kembali mengalir deras menuju ubun – ubunnya.

Dia bilang aku berisik? Oh Tuhan andai saja membunuh itu tidak dosa, mungkin kepalanya sudah terlepas dari lehernya semenjak kemarin.

Gweboon memilih tenang, ia mengingat janjinya dengan Minho dan kembali tersenyum.

“Kalimatmu benar polanya, tapi akan lebih bagus jika kau tidak menggunakan bahasa asing untuk mengejek orang lain..” jawabnya sederhana.

“Kau ingin dengar lanjutannya?”

“Huh?” Gweboon tidak mengerti.

“Watashi no sensei wa urusai desuga kawai desu..”

Jinki mengucapkannya dengan lafal yang bagus dan wajahnya yang entah apa ini hanya menurut Gweboon saja tetapi kenapa jarak wajah mereka menjadi sedekat ini?

Kali ini wajah Gweboon kembali merah seperti tomat.

Jinki sontak tertawa terbahak – bahak melihat ekspresi Gweboon. Ternyata ia seperti gadis biasa yang normal.

Gweboon sontak melepas kacamatanya dan mencibir.

Ugh.

Ia membereskan beberapa bukunya dan memasukkannya kedalam tas.

“Waktunya sudah habis.. aku pulang.. sampai jumpa besok..”

“Tunggu..”

Jinki menahan pergelangan tangan Gweboon.

“Ini… name tag mu Kim Gweboon…” ucapnya pelan dan meletakkan name tag itu ditelapak tangan Gweboon.

Untuk pertama kalinya Gweboon tersenyum dan mengatakan “terima kasih”.

Jinki menatapnya dingin membuat Gweboon merasa tidak nyaman.

“Aku pulang..”

Gweboon keluar ruangan dengan perasaan tidak menentu. Saat mata Jinki bertemu dengannya dan menyebut namanya dengan benar. Entahlah… mungkin sedikit saja ia akan belajar menyukai muridnya ini.

Jinki tersenyum getir dan membereskan buku – bukunya. Handphone bergetar beberapa kali saat ia membukanya ada pesan singkat dari Hyori.

Jinki kau sudah bertemu Gweboon kan? Bagaimana privatmu?

Jangan macam  – macam padanya! Atau aku sendiri yang akan mematahkan tanganmu.

^__^

Jinki bergidik. Benar – benar siluman!

Ya aku sudah bertemu dan belajar dengannya. Kau tidak usah repot – repot mematahkan tanganku segala oke noona ..cantik!

 

Watashi no sensei wa urusai desuga kawai desu

(Guruku berisik tapi manis)

.

.

.

TBC

hahahah semakin banyak komen semakin cepat update *ditabok*

diusahakan seminggu sekali tapi ga janji *ditabok lagi*

masih banyak misteri, kenapa jinki masih kelas 10?

ah lupa bilang jinki dsini dua tahun lebih tua dari gweboon ya!

okay thanks for comment love ya!❤

1491196_486243108158751_1768125568_nasklsdjslfj ganteng banget o<–< #bias lol

184 thoughts on “{JinBoon} Snow Flower / chapter 1

  1. Wahahhhhaa baru baca ff ini daaaaan ngakak paraaaaahhh 😂😂😂
    dari awal tengah sampe akhir ada aja pokoknya yg bikin ketawa sumpaaah kocak bnget ini ff kak, suka sukaa 😘😘
    Sebenernya ceritanya simple tapi asiik bnget, bikin ketagihan bacanya 😍😍
    duuuh aku pikir di awal itu yg disukai gweboon bakalan jinki eehhh nggk taunya minho ternyata dan jinki si mesum ini 😂 kayanya bakalan jadi manusia yg paling nyebelin 😅😅 curiga bakal complicated bnget nih love storynya, nggk sabar baca lanjutannya yuuhuuuuuu 🙆🙌

  2. Buahahah ini geum jandi versi yg demen shopping..
    Ah, jadi pengeran tampannya choi kodok ?
    Andwae Gwe, jgn berharap terlalu banyak sama mino karena dia itu milik taemin. Forever.
    Dan pengeran mu itu ya yg bikin tekanan darah naik terus

    Tapi, apakah emak jinki nenek lampir juga ?

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s