{JinBoon} Snow Flower / chapter 2


Jinboon-poster-yua-3 (2)

 

 

 

Main cast : Lee Jinki , Kim Gweboon

Support Cast : Lee Taemin, Choi Minho, Kim Jonghyun 

Words : 4000words

Author : Eternalonkey  (@usagi_8991)

Rating : PG 17 (now)

Genre : fluff, comedy, school life,sad romance (?)

 ~chapter 2 Stand by Me~ 

stand by me
look towards me
even though I don’t know love yet
stand by me
guard over me
because I am still clumsy at love

 

 

Gweboon menjalani harinya. Hari ke – 7  di sekolah elit ini. Ia kira akan mudah untuk menjadi seorang lady. Ternyata tidak sama sekali, bahkan mendekatipun tidak, well setidaknya ia berusaha keras bersikap lemah lembut dihadapan Minho.

Byurrr..

Gweboon menggeram kesal, ini sudah ke – 9 kalinya ia dikerjai anak – anak sekolah ini, lebih tepatnya gadis – gadis gila yang membencinya tanpa alasan yang jelas.

Ia disiram air satu ember dari atas, kebetulan ia sedang berada di taman belakang sekolah dan tepat di bawah jendela kelas lantai 2.

Jika fakta mengenai kedekatannya dengan Minho menjadi salah satu alasan? Hei! Ia mengenal Minho lebih dari gadis manapun, maksudnya gadis di sekolah ini.

“Kenapa kau mati – matian menahan emosimu seperti itu? Kau kan bisa saja mencakar mereka satu – persatu huh? Kim Baboon?”

Dia lagi! Kenapa dia selalu ada dimanapun saat aku kena sial?

Gweboon hanya mendengus kesal, memejamkan matanya beberapa detik,berusaha menstabilkan emosi mungkin..?

Ia pergi tanpa berusaha melihat Jinki yang menyandarkan tubuhnya di tembok melihat Gweboon basah kuyup karena siraman air.

Jinki mengikuti kemana Gweboon pergi, entahlah ia hanya ingin tahu apa yang akan dilakukan gadis brutal ini? Mungkin saja ia akan membakar sekolah?

Jinki terkekeh karena pikiran bodohnya.

“Aish! Gadis brengsek! Murid brengsek.. fuck you all.. bitch!”

Gweboon berteriak di depan sungai kecil buatan. Mulut Jinki menganga lebar lalu tertawa keras.

“Apa yang kau tertawakan? Diam kau!” Gweboon berteriak kencang menatap sinis Jinki yang kini terdiam dan melipat kedua tangannya didada.

“Tsk..tsk.. kau tahu? Rasanya aku senang karena hanya aku yang tahu sisi dirimu yang seperti ini, baboon brutal….”

Wajah Gweboon seketika memerah padam, bercampur malu dan marah bersamaan. Rasanya memberitahu laki – laki ini agar tidak memanggilnya baboon sama saja seperti kau mengharapkan hujan uang dari langit.

Impossible.

Gweboon membuka jas sekolahnya yang basah, memeras airnya dan mengibaskannya.

“Kau beritahu ini pada orang lain dan kupastikan kau akan mati..” desisnya menatap tajam laki – laki bermata seperti bulan sabit ini.

Jinki tertawa.

“Yah!”

“Okay.. aku juga tidak tertarik untuk memberitahunya.. tenanglah sedikit..”

Gweboon memberikan senyum termanisnya hanya dalam satu detik.

Dia benar – benar luar biasa.

Jinki mendekati Gweboon, melewatinya lebih tepatnya. Seperti gerakan slowmotion,Gweboon melihat Jinki membuka mulutnya dan berkata dengan sangat pelan… ketika mencapai pendengarannya.

“Nice bra… pink is lovely..”

“…..”

Jinki mempercepat langkah kakinya saat ia mendengar teriakan dibelakangnya, memegang perutnya dan tertawa sepanjang jalan kembali ke kelasnya. Rasanya sudah lama ia tidak tertawa selepas ini. Mungkin terakhir kali saat ia liburan dengan ayah ibunya.

Ya.. saat itu.

“Brengsek kau Lee Jinki.. oh My God kenapa aku pakai bra ini! Asdfgjkdakld”

Gweboon menggerutu kesal didalam kamar mandi wanita. Berhubung ia hanya sendirian disini, ia masih menumpahkan kekesalannya dengan kata sumpah serapah sambil membersihkan dirinya.

Tidak pernah seumur hidupnya ada laki – laki yang berkata begitu ekstrim padanya, laki – laki itu yang telah mencuri ciuman pertamanya. Bagian terburuknya ia menyentuhnya, ah Gweboon menyakar dinding kamar mandi membayangkan seolah ia menyakar laki – laki itu.

I hate him.

Gweboon mendesah lelah, rasanya keputusannya untuk masuk sekolah ini adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

.

.

.

 

“Jinki.. kau terlihat senang belakangan ini, mind to share?”

“No..”

Taemin memutar bola matanya dan mengerucutkan bibirnya kesal. Ya Lee Taemin adalah salah satu teman Jinki. Orang yang tahan berada disampingnya hanya orang yang mengenalnya semenjak sekolah dasar.

“Apa kau punya pacar?”

Kini Jonghyun yang bertanya membuat Jinki semakin malas berada di kelas dan ditatap oleh dua pasang mata yang menuntut penjelasan padanya.

“Jika ya.. kenapa?”

“Tentu saja aku akan merebutnya darimu lalu membuangnya…” balas Taemin sambil melipat tangannya didadanya.

Jinki tertawa terbahak – bahak. Ia hanya membayangkan bagaimana jika mereka tahu Gweboon?

Apa yang akan terjadi?

“Yah! Kenapa kau tertawa?!”

“Sayang sekali aku tidak punya pacar atau apapun yang kau pikirkan saat ini.. Taemin ah~” Jinki menyentil kening Taemin lalu melanjutkan tidurnya, melipat kedua tangannya dimeja dan menyusupkan wajahnya.

Jonghyun melirik Taemin lalu mata mereka bertemu dan tak lama kemudian berubah menjadi senyuman penuh makna.

Im in..”

Taemin mengerti arti tatapan Jonghyun. Jangan sebut dia Kim Jonghyun jika ia tidak mengetahui informasi dengan cepat. Ia telah menyelidiki Jinki beberapa hari ini, bertanya pada beberapa orang bahkan menguntit Jinki saat istirahat atau kapanpun ia menghilang dari pandangannya.

Jinki sempat terlihat berbicara dengan seorang gadis yang bukan berasa dari kalangan mereka, yes Special section.

Ah ya jika kau ingin tahu, ada satu kebiasaan Taemin.

Ia akan mengejar siapapun yang dekat dengan Jinki hingga mereka meninggalkannya lalu tak lama kemudian ia akan membuangnya (memutuskannya begitu saja).

Jangan tanya mengapa ia melakukan hal ini, ia hanya akan jawab “It feels so fun!”

Lalu ia akan tesenyum semanis malaikat.

Jinki, disisi lain mengetahui kebiasaan temannya ini, namun ia tidak terlalu memusingkannya, lagipula selama ini gadis yang ia kencani hanya seperti itu saja.

Means.. Nothing special.

===***===

“Gweboon kau ada waktu sepulang sekolah..?”

“N-ne?”

Oh My God apa akhirnya Minho melihat kecantikan dan keanggunanku? Apa ia akan mengajakku berkencan?

Tiba – tiba Gweboon mengingat sore itu…..

Ia gagal bertemu Minho karena ia baru sadar dompetnya tertinggal dirumah Jinki dan ia terpaksa kembali lagi kerumah laki – laki sialan itu.

Namun saat ia mencarinya ia tak menemukan dompet itu.

“kau mencari ini?”dompet panjang berwarna soft pink terlihat melambai diatas udara, dalam kepalan seseorang.

Of course Jinki the most  nice person.. in the hell.

“Ah ya! Kembali- yah!!”

Jinki tertawa sinis mengangkat dompetnya tinggi diatas kepalanya sehingga Gweboon tidak bisa meraihnya. Gweboon beberapa kali melompat dan berusaha merebut dompet itu, namun sia – sia saja karena Jinki lebih tinggi darinya dan semakin ia berusaha semakin tawa Jinki terdengar.

“Yah! Apa kau ingin mati?!”

“Bersamamu? Boleh juga..”

Gweboon semakin frustasi, jika saja ia tidak ingat didepannya adalah muridnya, didepannya adalah adik laki – laki seorang yang sangat ia hormati, Lee Hyori. Jika saja ia adalah laki – laki biasa mungkin ia akan menendang dan meninjunya sampai babak belur.

Pada akhirnya Gweboon terlambat datang dan tidak jadi bertemu Minho sore itu.

“Bisakah kau temani aku ke mall siang ini?” Minho tersenyum lembut.

Siang? Tapi aku ada jadwal mengajar laki – laki sialan itu, ahh ottohke?

Gweboon berusaha tersenyum namun senyum itu terasa dipaksakan dan ia merasa gugup. Haruskah ia menolaknya dan mengatakan yang sebenarnya?

Ah andwae..

Jika Minho tahu perihal ia mengajar Jinki entah apa yang akan ia katakan. Gweboon sangat paham saat pertama kali Minho mengatakan padanya untuk tidak mendekati area Special section (terlebih Jinki) itu berarti memang hal yang penting.

“Bagaimana kalau malam saja..oppa?” Gweboon tersenyum, lebih tepatnya berusaha tersenyum dengan normal.

Minho mengerutkan alisnya, tidak biasanya Gweboon mengajaknya keluar justru malam hari.

Atau ada yang ia sembunyikan?

Laki – laki yang memiliki mata indah seperti bulan purnama ini mengangguk menyetujui dan mengusap lembut pucuk kepala Gweboon.

“Oke.. jangan terlambat lagi ya…”

“Yes sir!”

===***===

Gweboon menunggu di ruang baca. Sudah 15 menit berlalu tapi Jinki belum juga memperlihatkan batang hidungnya dan ini tidak biasanya.

Apakah ia sakit?

Gweboon membuka handphonenya dan ada pesan singkat disana.

Baboon.. belajar di kamarku saja. Aku sedang malas belajar di ruang baca.

-Jinki-

20 menit yang lalu?

Damn..

Kali ini ia mengutuk dirinya sendiri kenapa ia menyetting handphonenya menjadi getar?! Ia tidak menyadari saat Jinki mengirimnya sms.

Tapi sejak kapan Jinki tahu nomor handphonenya?

Entahlah Gweboon tidak merasa memberikan nomornya.

“Ehm.. ahjumma.. bisa antarkan aku ke kamar Jinki?” Gweboon menyapa ahjumma di dapur. Lagipula bagaimana ia bisa tahu dimana letak kamar Jinki? Laki – laki sialan.

“ah Gweboon.. saya pikir nona sudah berada di kamarnya sejak tadi.. mari saya antarkan. Kamar tuan muda ada di lantai dua..”

Ahjumma mengantar Gweboon sampai di depan kamar Jinki. Setelah melewati tangga melingkar dikedua sisinya. Ditangga yang terbuat dari kayu jati tersebut dialas karpet merah. Gweboon tak hentinya terkagum – kagum atas kemewahan rumah ini. Rasanya ia ingin bermain perosotan di pegangan tangga yang melingkar dari atas kebawah.

Gweboon kau terlalu  banyak menonton film.

“Ini kamar tuan muda.. silahkan masuk. Ia sudah menunggumu sejak tadi nona..”

“N-ne.. kamsahamnida ahjumma..”

Tok tok tok..

“Masuk!”

Gweboon perlahan membuka pintu putih itu dan mencari sumber suara.

Jinki duduk diatas king size bed nya. Ia menyenderkan punggungnya, melipat kedua tangannya didada dan menatap Gweboon yang terlihat gugup memainkan ujung tali tas punggungnya.

Gweboon pikir ia melihat sosok pangeran didepannya. Rambutnya yang blonde dan kaus putih oblong, celana hitam panjang. Kulitnya terlihat jauh lebih putih dan pucat karena kontras dengan rambutnya. Poninya sedikit menutup matanya membuatnya terlihat lebih lembut dari biasanya.

Ah ya di sekolah Jinki tidak pernah menurunkan poninya (spike style).

“Kesini..” suara Jinki agak meninggi dan memerintah.

Gweboon mulai kesal dengan nada suara ini.

“Ppali.. apa aku harus menggendongmu? Kau lamban sekali seperti keong!”

Gweboon menarik ucapannya. He isn’t a prince. Not at all !

Setelah jaraknya lumayan dekat ia baru menyadari Jinki terlihat sedikit..pucat?

“Duduk disana..”

Gweboon masih belum mengeluarkan suara. Ia mengikuti perintah Jinki dan duduk dibangku kayu disisi samping kasur. Sepertinya Jinki sudah mempersiapkannya.

“Bacakan aku sejarah korea..” suara Jinki memelan bahkan sangat pelan dibandingkan dengan tadi.

“Tapi sekarang kita belajar matematika…”

“Aku bilang sejarah!”

Gweboon mendesis kesal. Aish… dasar anak orang kaya! Bertingkah saja semaunya!

“Jika kau tidak membawa bukunya, ambil buku sejarah disana. Di rak buku itu.. barisan nomor dua dari atas buku ke 9 dari kanan..”

Gweboon menoleh kearah yang ditunjuk Jinki dengan telunjuknya.

What?

Apa dia serius?

Gweboon membelalakkan matanya tidak percaya lalu berbalik menatap Jinki yang tersenyum.

Senyuman yang tidak tulus.

Senyuman jahil.

Brengsek! Bagaimana bisa dia menyuruhku mengambil buku di rak setingggi 3 meter dan buku itu tepat diketinggian 2meter lebih?

“Tunggu disini tuan muda..” Gweboon menekan kata ‘tuan muda’ lalu mengeret kursi kayunya. Jika boleh ia ingin sebentar saja melempar kursi kayu ini ke wajah Jinki sekarang yang jelas – jelas tersenyum atau bisa dikatakan menahan tawanya meledak karena melihat ekspresi Gweboon.

Perlahan ia menaiki kursi kayu itu dan mengangkat tangan kanannya meraih buku sejarah yang Jinki katakan tadi.

Sejenak Gweboon terpana melihat deretan buku mahal ini. Buku yang bisa dibilang limited edition. Mungkin isinya sama dengan buku – buku milik Gweboon tapi lihat saja sampulnya. Sampulnya lebih keras dan tebal. Kertasnya juga terlihat lebih bagus meski Gweboon belum membukanya. Didepan wajahnya adalah deretan buku ke – 6 dari atas.

Gweboon menghela napas.

Jinki menutup mulutnya agar tawanya tak terdengar Gweboon.

Gweboon bersumpah serapah dalam hatinya.

“Ppali!” Jinki meninggikan lagi nada suaranya membuat Gweboon terkejut dan menoleh tersenyum lembut.. tidak dengan matanya yang berkata ‘aku ingin membunuhmu’ – look.

Mungkin laki – laki lain akan heran melihat betapa kompleks nya kepribadian Gweboon namun tidak dengan Jinki. Ia sangat menikmatinya. Sangat sangat menikmati hingga ia turun dari kasurnya dan berjalan perlahan mendekati Gweboon.

Gweboon menaiki kaki kanannya perlahan ke rak kayu untuk memanjat.

“wow… nice view here..”

Suara itu terasa terlalu dekat di telinga Gweboon. Ia menoleh kebawah dan buku sejarah itu telah berada di tangannya.

Jinki berada tepat dibelakang bangku kayunya dan mendongak.

Gweboon tersadar ia tidak memakai celana ketat hitamnya sekarang. Ia melepasnya karena ia ingat akan pergi dengan Minho sore ini ia telah melepasnya tadi sepulang sekolah.

Jinki bersiul melihat pemadangan diatasnya. Kaki Gweboon yang jenjang dan putih. Mulus tanpa cela.

Tentu Jinki tidak akan perna memuji Gweboon didepannya. Never.

“Yah!” Gweboon berteriak tidak sadar kakinya belum menyentuh bangku dan..

Brukk

Bangku itu telah digeser Jinki kesamping sedikit tadi. Jinki reflex menangkap tubuh Gweboon diatasnya.

Jinki berada dibawah Gweboon.

Well..

“Kau benar – benar seperti baboon… berat sekali..” Suara Jinki sangat pelan terdengar tepat ditelinga Gweboon bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas Jinki yang hangat.. sangat hangat.

Tangan Jinki melingkar di pinggang Gweboon.

Gweboon lekas berdiri dan berdehem.

“Kau! Beraninya mengintip! Pervert!” Gweboon meninggikan suaranya walaupun Jinki tahu gadis yang sudah berdiri didepannya ini terlihat gugup dan.. merona?

Apa aku tidak salah lihat?

“Bangunkan aku!” Jinki menjulurkan tangannya keatas.

“Mwo? Kau kan bisa bangun sendiri?!”

“Ppali..”

Gweboon mendesis kesal menarik Jinki dengan sekuat tenaga. Pertama kalinya tangannya menyentuh tangan Jinki.

Aduh perut dan pinggangku.

Jinki menahan sakit yang tiba – tiba terasa di pinggangnya. Kalau perutnya itu bukan sakit yang baru ia rasakan. Ia tahu penyakitnya kambuh.

 

Gweboon melepas tangan Jinki dan mengambil buku yang terjatuh di lantai. Jinki mengusap perutnya dan wajahnya memucat.

Tidak.. jangan sekarang.

Jinki baru ingat ia belum makan apa – apa semenjak pagi. Tadi siang ia tidak makan siang dan sekarang perutnya mengingatkannya.

Shit shit shit.

Jinki kembali ke kasurnya dan menyeret bangku kayu tadi disamping kasurnya. Ia duduk seperti awal tadi memasang wajah senormal mungkin dan tidak memperlihatkan wajahnya yang menahan sakit yang semakin jadi.

Jinki tidak mungkin menahannya selama dua jam kedepan.

Think Jinki.. think.

“Gweboon.. ambilkan aku air putih! Ppali!” Jinki memerintah kesekian kalinya.

“Mwo? Kan bisa suruh ahjumma…”

“Aku ingin kau yang ambilkan! Cepat aku haus!”

Gweboon menghela nafasnya lagi.

“Ne! Ne!”

Gweboonpun pergi.

Jinki turun dari kasurnya dan mencari kotak pil miliknya.

Where is it…

Ia segera memasukkan sebuah pil kedalam mulutnya dan duduk lagi menyandar di kepala kasur.

Tak lama kemudian Gweboon masuk membawa segelas air putih. Jelas sekali wajah Gweboon terlihat kesal.

Jinki tidak mengeluarkan suara sedikitpun dan hanya menjulurkan tangannya agar Gweboon segera memberikan gelasnya . Segera meneguk air putih itu dan menelan obat yang diam – diam ia simpan didalam mulutnya semenjak tadi.

Gweboon pikir Jinki memang benar – benar haus karena air itu tersisa sedikit. Ia mengamati baik – baik wajah Jinki didepannya sambil mengambil buku yang berada di meja kecil samping kasur. Perlahan membuka lembar perlembar namun matanya masih melihat wajah Jinki. Entah ini hanya perasaannya saja tapi wajah Jinki terlihat lebih pucat dari pada saat awal ia datang tadi. Jujur saja Gweboon sangat jarang memperhatikan wajah Jinki karena ia kesal sekali dengan wajah laki – laki ini.

“Apa kau sakit?” akhirnya Gweboon bertanya dan mengamati baik – baik ekspresi Jinki.

Jinki mengangkat sebelah alisnya lalu tertawa. Meski tawanya terdengar seperti orang sakit bagi Gweboon.

“Apa kau mengharapkan aku sakit lalu kau bisa pulang dan bersenang – senang?”

Cih!
Mungin Jinki memang sakit. Sakit jiwa lebih tepatnya. Idiot idiot idiooot Gweboon kau jangan pernah mengasihaninya. Jinki bukan manusia dan hanya manusia yang bisa sakit.

Gweboon merutuk dalam hatinya.

Ia berdehem lalu mulai membaca beberapa line lembar awal. Menjelaskan tentang awal terbentuknya tiga kerajaan besar di Korea Selatan.

“Langsung saja ke sejarah kerajaan silla..”

Gweboon baru akan menjawab karena tidak mungkin ia menjelaskan tidak dari awal.

“Aku sudah baca kerjaan Goguryeo..” jawab Jinki pelan lalu menyender dan menutup kedua matanya.

“Baiklah… silla. Kerajaan Silla diketahui sejak tahun 57 Sebelum Masehi sampai 935 Masehi. Seringkali diucapkan ‘Shilla’ merupakan salah satu dari tiga kerajaan Korea. Silla  bermula dari kerajaan kecil di Konfederasi Samhan. Pada tahun 660 Masehi Silla bersekutu dengan Dinasti Tang dan berhasil menaklukan Baekje serta Goguryeo pada tahun 668….”

Gweboon terus membaca buku itu tanpa ia sadari Jinki sudah terlelap dalam tidurnya. Ia pikir Jinki hanya menutup matanya saja namun masih mendengarkannya.

“Jinki…”

Tidak ada respon, Gweboon menutup bukunya dan mendesah.

Apa ia pikir aku membacakannya dongeng sebelum tidur?

Bugh

Gweboon melempar buku tebal itu dan mendarat sempurna di perut Jinki membuat laki – laki ini terkejut dan membuka matanya. Ia menegakkan tubuhnya dan berdehem.

“Apa aku tertidur?  Sejarah itu memang bagus sebagai pengantar tidur” Jinki merentangkan tangannya menggeliat (?).

Gweboon merasa usahanya setengah jam membaca panjang lebar sejarah silla sejak awal terbentuk hingga masa keruntuhannya sia – sia begitu saja.

“Kau! Apa kau tidak mendengarkanku sejak tadi dan tertidur? Kau membuat semuanya sia – sia!” Kini Gweboon berdiri dan memukul Jinki dengan bantal berkali – kali.

“Hey..hey.. jangan marah.. tidak ada yang sia – sia didunia ini kau tahu? Aku mendengarkanmu kok.. kalau tidak percaya kau bisa… test..aku…..” suaranya semakin memelan.

Jinki menarik tangan Gweboon dan membuat jarak wajah mereka lebih dekat dari yang diperlukan.

“Silla memiliki dua buah kasta keturunan.. apa itu..?” Tanya Gweboon kini membalas tatapan Jinki didepannya entahlah meski posisinya kini sedikit tidak nyaman tapi ia tidak bisa kembali duduk karena Jinki memegang tangannya erat.

“Keturunan tulang suci.. dan.. tulang murni…”

Gweboon merasakan hembusan nafas Jinki didepan wajahnya.

Mereka terdiam tenggelam dalam pikirannya masing – masing. Gweboon tidak tahu mengapa jantungnya berdegup sangat kencang saat ini.

Jinki melihat mata kucing itu menatapnya. Lalu ia turun melihat hidung kecil Gweboon, pipinya yang memerah entah ia memakai blush on atau memang memerah? Bibir merah Gweboon seperti buah plum yang manis.

Ia baru sadar gweboon jauh terlihat lebih cantik dengan jarak sedekat ini.

Gweboon juga tenggelam dalam pikirannya. Mata Jinki yang terlihat menyimpan banyak cerita. Tidak.. kali ini matanya tidak terlihat menyebalkan, mata sabit itu menatapnya seperti ingin menelannya hidup – hidup. Hidung bangirnya, ia baru sadar ada belahan kecil di ujung hidung Jinki dan ada tahi lalat kecil di pipi Jinki. Bibirnya yang tebal sedikit terbuka.

Gweboon tidak lagi merasakan tangan Jinki ditangannya, yang ia rasakan tangan Jinki memegang pinggangnya dan satu tangan menarik lehernya.

Ketika bibir dua insan yang tidak menyadari betapa kencangnya detak jantung mereka ini bertemu dalam sapuan yang lembut.

Gweboon lemas.

Mungkin seharusnya ia menarik diri dan menendang Jinki.

Seharusnya ia juga menampar Jinki.

Sayang sekali perintah diotaknya tidak sampai ke tubuhnya. Ia kehilangan tenaganya, see? Bahkan ia menutup matanya. Sampai akhirnya Jinki melepaskan tautan bibirnya Gweboon masih memejamkan kedua matanya.

 

“Gweboon.. aku menyukaimu..”

Mata kucing itu terbuka saat mendengar kata – kata itu. Tidak… seharusnya kata – kata itu dia dapat dari seseorang yang ia sukai. Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya bukan Jinki yang menciumnya.

Seharusnya ia tidak membiarkan ini terjadi.

Handphone Gweboon berbunyi  memecah kesunyian di kamar luas ini.

“Maaf…”

Gweboon mendorong tubuh Jinki dan mengangkat telponnya.

Calling… Minho

“Anyyeonghaseo.. Minho oppa?”

Jinki melirik Gweboon yang duduk dibangku coklat itu kini perlahan berdiri dan menjauh darinya menjawab telpon.. Minho?

“Ah ne ne.. aku akan datang tentu saja! Di cafee biasa? Oke baiklah.. ne..”

Gweboon menutup telponnya dan terkejut saat Jinki berada dibelakangnya hampir saja ia menabraknya.

“Kau ingin pergi? Dengan Minho?”

Gweboon tersenyum dan melewati Jinki mengambil tasnya.

“Ya.. maaf kelihatannya kau lelah jadi kau tidur saja.. aku pulang lebih awal dan kau bisa tidur..”

Gweboon menunduk dan melewati Jinki yang menatapnya sedih.

“Jangan pergi..” Jinki menahan lengan Gweboon. Mereka tidak saling menatap tidak juga saling berhadapan. Mereka berdiri melawan arah bersebelahan.

“Jinki..lepas..” suara Gweboon pelan.

Jinki menghela nafas panjang dan perlahan melepaskan lengan Gweboon.

Gweboon pergi dan menutup rapat pintu kamar Jinki.

Untuk pertama kalinya Jinki merasa kamarnya terlalu besar.

“Kamar ini kenapa terasa jauh lebih besar dari biasanya.. bahkan kasur terasa sangat jauh..”gumamnya.

.

.

.

Gweboon menatap es krim didepannya yang perlahan mencair.

“Gweboon aku menyukaimu..”

Kata – kata itu terus berputar di kepalanya. Kenapa ia membiarkan Jinki menciumnya?

Kenapa?

“Gweboon…”

Kenapa?

“Kim Gweboon…!”

Gweboon tersadar dari lamunannya. Minho yang berada didepannya terlihat cemas dan memegang keningnya.

“Aku sudah memanggil namamu berkali – kali. Ada apa denganmu? Apa kau sakit?”

“A..aniyo..aku tidak apa – apa..” jawab Gweboon lemah.

Come on Gweboon kenapa kau malah memikirkan laki – laki gila itu! Mungkin ia hanya mempermainkan perasaanmu saja! Lihatlah didepanmu Minho… Choi Handsome Minho.. pangeran impianmu sejak kecil.

“Aku tidak apa – apa oppa..” Gweboon sekali lagi meyakinkan Minho.

“hm.. benarkah?”

Minho melihat es krim Gweboon bahkan sudah mencair sempurna. Tidak ia sentuh sama sekali. Jelas saja Gweboon berbohong berkata ia tidak apa – apa. Gweboon tidak pernah membiarkan es krimnya mencair. Ini pertama kalinya.

“Yasudah kita pulang saja..” Minho berdiri dan menarik Gweboon.

“M-mwo? Tapi kan kita belum lihat barang yang ingin kau beli?”

“Tidak jadi tiba – tiba aku ingat ada tugas yang harus aku kerjakan sekarang.. ayo kita pulang..” bohongnya.

Minho tidak akan memaksa Gweboon bercerita. Jika ia tidak ingin bercerita berarti memang itu hal yang sangat pribadi baginya.

Minho mengantar Gweboon dengan motornya. Ninja berwarna hitam.

“Istirahatlah Gweboon.. kau terlihat tidak sehat” ucap Minho saat Gweboon turun dari motor dan memberikan helm kecilnya ke Minho.

“Aku tidak apa – apa.. aigooo kau ini perhatian sekali tidak biasanya..”

Minho tertawa dan mengacak rambut Gweboon.

===***===

 

Keesokannya Gweboon menjalani harinya seperti biasa. Kecuali satu hal. Ia tidak tahu ia bermimpi atau tidak saat ia melihat seseorang yang sangat ia kenal duduk di bangkunya.

“Kau..?”

“Tampan? I know..”

Gweboon memutar bola matanya malas. Jinki? Dikelasnya? Sedang apa? Apa siswa special section bebas berkeliaran di regular section? Oh okay ini sangat dimaklumi.

Ia adalah Lee Jinki, anak laki – laki satu – satunya dari  Lee Corporation.

“Kau menduduki tempatku.. minggir..”

Jinki tertawa.

“Mulai sekarang ini menjadi tempatku.. kau duduk saja ditempat lain.. atau mau disini? Dipangkuanku?” Jinki menepuk pahanya.

Jinki pikir Gweboon akan berteriak dan menarik kupingnya atau apapun tindakan kasarnya.

Apa ini yang ia sebut suka?dengan selalu menggangguku? Dia mungkin dikirimkan Tuhan untuk menguji kesabaranku saja.

Tapi saat Gweboon menghela napas dan melewatinya ia tahu Gweboon berubah. Ia duduk didepannya.

Jinki berusaha mengganggu Gweboon dengan menendang berkali – kali bangkunya namun Gweboon tidak juga bereaksi.

Jinki telah pindah ke regular section. Ini membuat seantero sekolah terkejut dan ramai. Kenapa bisa? Tentu saja karena ia adalah Lee Jinki.

Jinki merobek kertas dan menulis sesuatu. Ia gumpalkan kertas itu dan melemparnya ke depan.

Gweboon membuka kertas itu dan membacanya.

Apa tadi kepalamu terbentur? Kenapa kau diam saja? Yah! Jawab aku atau kau akan mati Kim baboon!

Gweboon membaca kertas itu tanpa ekspresi dan merobek – robeknya. Jinki membuka mulutnya tidak percaya.

Aku rasa aku benar – benar menyukaimu.

.

.

.

 

Jam istirahat, Gweboon masih menghindari Jinki. Ia pergi secepatnya dari kelas, untung saja anak – anak kelas sibuk menghampiri Jinki terutama gadis – gadis yang bagi Gweboon berotak setengah karena mereka menyukai Jinki dan rela berdesak – desakkan untuk melihat Jinki di kelas.

Ia terus berjalan, ia tidak boleh makan di kantin atau ia akan bertemu Jinki lagi. Kali ini ia menyusuri gedung kesenian dan memasuki sebuah ruangan besar. Di ruangan ini ada sebuah piano besar berwarna putih diatas sebuah panggung yang terbuat dari kayu licin yang terlihat berkilauan karena cahaya ruangan yang hanya menyorot ke bagian panggung saja.

“Wah..”

Gweboon terkagum – kagum dengan deretan sofa bertingkat berwarna merah. Seperti bioskop, bangku penonton di ruangan ini bertingkat. Gweboon menuruni anak tangga perlahan hingga mencapai panggung. Menyentuh beberapa tuts piano.

Rasanya sudah lama ia tidak memainkan piano. Semenjak ia SMP dan giat belajar, ia sudah jarang membiarkan jemari cantiknya menari diatas tuts piano.

Ia duduk perlahan menikmati dentingan piano yang terasa indah di telinganya.

Hingga ia tidak menyadari ada kepulan asap dan suara teriakan di luar.

“Kebakaran!!!!”

Siswa – siswi sibuk berlari kesana kemari. Beberapa siswa memilih keluar gedung kesenian. Setelah diselidiki kepulan asap berasal dari dalam ruang pentunjukkan music orchestra.

“Ada seeorang didalam.. ta-tadi aku melihat seorang gadis yang memakai celana ketat hitam didalam roknya..”

Seseorang laki –laki berteriak histeris di dalam kantin membuat semua semakin ramai.

“Dimana..?” Jinki menghampiri laki – laki itu menarik kerahnya.

“Di atas..di lantai dua..”

Jinki melepaskan laki – laki tadi dan langsung berlari. Meski kakinya sangat lemas.

Tidak.. tidak lagi…

Jinki berlari ke atas dan melepas kemeja nya saat memasuki ruangan yang sudah dipenuhi asap dan api di sisi kiri.

“Gweboon!”

Ia melihatnya.

Gweboon tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Semakin mendekat, kaki Jinki semakin lemas. Semakin matanya melihat kobaran api, degup jantungnya  berpacu dua kali lebih cepat.

“Gweboon.. Gweboon bangun…”

Jinki menarik Gweboon dan menggendongnya. Ia terbatuk – batuk karena asap semakin menebal. Ruangan ini tertutup sempurna ditambah api sangat mudah membakar kayu.

Jinki menggendong Gweboon yang setengah tidak sadarkan diri.

Jinki? Jinki menggendongku?…

“Gweboon bertahanlah… “

Mungkin jika Gweboon dalam keadaan sadar ia akan melihat Jinki memohon. Untuk pertama kalinya seorang Jinki memohon dengan mata yang berkaca – kaca. Mungkin Gweboon akan mengatainya bodoh.

Jinki………

“Gweboon jangan tutup matamu..”

.

.

.

 Tbc

 

Oke next chap baru certain masa lalu jinki ya ^^v sekarang sampe sini dulu hoho

Maap ngaret.. jadwal diganti. Post tiap hari sabtu! Hohoo

Makasih yang udah meluangkan waktu baca khayalan saya ini. Banyak yang bilang ini kaya cerita bbf lol maybe ya… hahaha tapi beda kok storyline nya suer wkwk.. gw ga sadar ternyata memang mirip ckck

Baiklah Comments are very welcome dan kritik disertai sarannya terima kasih (dli thanks reviewnya ya lol)

Yang lain juga boleh kritik dan saran yg membangun ^^

Thank you very much dear. maafkan atas typo yang ada u__u

nb : gw baca semua komen kok hahaha lucu thanks ya.oh ya disini ga ada kibum atau taeyon ya ^^

nanti pas part end di protect ya.. langsung pm fb (eternalonkey yua) atau mention n pm twitter ya (@usagi_8991) thanks❤

 

 

168 thoughts on “{JinBoon} Snow Flower / chapter 2

  1. Wuiiih gaspol(?) nih udah bilang suka aja si jinki wkwkwk gadis macem gweboon emang langka xD
    Oho mereka ngga papa kan?
    Oke next chap hihi

  2. aduhh itu pas jinki sama gweboon kisseu trus tiba tiba jinki bilang suka sma gweboon aaaaaaa ga nahan, yg bca aja terpesona ama jinki apalagi gweboon haha

    pangeran jinki menyelamatkan gweboon aiishhh gweboon pasti nambah suka sma jinki tuh, gweboon belum nyadar aja sma perasaannya ke jinki *sotau

  3. hikz hikz jinki oppa so sweet bangett >_<
    sukaaaaa banget sama moment2 onkey
    love it so much
    lanjut baca ya thor hehe ^_^

  4. Wow..
    Image Jinki bner2 daebak!!!
    Pervert dan frontal (?)
    Nyosor2 gweboon gt, trus bilang suka ke gweboon. Tp hebat, momentnya romantis dan tepat bgt timingnya.
    Dan sekarang ia sampai pindah ke regular section biar dket ama gweboon
    Aigooo~

    Knapa tiba2 ad kebakaran?? Trus jinki kelihatan panik bgt pas nyelamatin gweboon

  5. Seru… Itu Jinki punya penyakit apa ya??? Penasaran..

    Maaf ya thor chap1 blom coment,soalnya pas koment katanya ‘wp error’ jadi komen aku gak masuk..:(

  6. Huuuuuaaaa udah makin seru aja ini cerita!!!
    baru pertama nih ngrasa kesian sama jinki hahhha sempet nggk nyangka jinki bakalan ngomong suka sama gweboon secepet ini tp reaksi gweboon beneran bikin patah hati 💔😔
    but but dont worry dont cry trnyata gweboon jg mikirin jinki padahal ada minho disitu yihaaaa 🎉🎉
    eemm curiga jinki punya kenangan buruk soal kebakaran, ohhmeigaaat kan nggk nyangka bnget gitu ya jinki bakal nyelametin gweboon duuh manis deh 😂😂 ciyan jinki smpe lemes lemes gitu 😢 penasaran masa lalunya pasti so sad bnget #duhhsoktau 😋😋

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s