[2min] Chasing You! – part 5


x3drz5R

Character:
Lee Taemin | Choi Minho | Kim Jonghyun | Kim Kibum aka Key | Lee Jinki aka Onew
Rate : PG 13
Genre : Romance, schoollife, fluff, friendship, drama, yaoi
WC: 5.337 Words
Lenght : Part 5 – ?
Warned: This is yaoi or boyxboy … if you dont like it, please leave! None of the materials provided in this fanfic may be used, reproduced or transmitted, in whole or in part, in any form or by any means. No parts of this fanfic are to be copied without permission in writing from the author.

<< PREV PART

            “Jonghyun ah~~~!!!”, pekik Taemin tepat di telinga Jonghyun, namja yang sekarang berambut pirang itu terkejut dan menoleh kesana kemari. “Jonghyun!”, pekik Taemin lagi menyadarkan sahabatnya itu dari tidurnya.

“Nghh … Taemin ah~~ apa sih berisik sekali…” ucap Jonghyun menguap dan kembali menelungkupkan kepalanya dikedua tangannya.

“Jonghyun!”, guncang Taemin, namun namja itu tidak perduli, “Jjong!”, coba nya lagi. “Kim Jong—“

“Apa, apa, apa?! Haish! Aku masih mengantuk … sebelum bel berbunyi jangan ganggu aku…”, rengeknya kesal, ia terduduk di kursinya namun matanya masih terpejam malas.

Taemin heran, sebenarnya apa maksud Jonghyun datang kesekolah? Apa sekolah hanya untuk sebuah tempat tidur baginya?.

“Kenapa kau ganggu aku? Tumben sekali kau datang kekelasku pagi-pagi begini …”, ujar Jonghyun.

“Aku—“

“AH!”

“Ah, apa?! Kau mengagetkan ku saja…”, Taemin terkejut, dan sebelum ia bisa berkutik Jonghyun berdiri dari kursinya, menariknya keluar kelas dan berjalan menuju tangga darurat.

“Ada apa sih?”, tanya Taemin bingung.

“Yah! Seharusnya aku yang tanya ada apa denganmu. Ani, aku ingin tanya apa kau baik-baik saja?”, tanya Jonghyun pada Taemin. Taemin masih tidak mengerti apa maksud pertanyaan Jonghyun, memangnya ia kenapa?

“Aku tidak mengerti maksudmu? Aku baik-baik saja. Kau lihat kan?”, ucapnya menunjukkan tubuhnya dari atas sampai kaki kemudian belakang tubuhnya.

“Lee Taemin, kau ini …”, Jonghyun menyentil kening Taemin kesal, yang langsung menerima kata ‘ouch’ dari sahabatnya itu. “Kau mau membuat aku, Key yang cerwet itu, dan juga Onew Hyung khawatir yah? Kau tega sekali tidak menghubungiku? Bahkan aku tidak bisa menghubungimu. Kau pergi begitu saja kemarin bersama Minho … kau sadar tidak kalau kau sudah membuat kami khawatir?” umpat Jonghyun kesal.

Taemin cemberut, ia menatap Jonghyun dengan memelas, “Mianhe … ponselku batre nya habis, aku lupa menghubungimu ketika aku sampai rumah. Tapi, tenang saja, tidak terjadi apapun padaku…”,

Namun sebaik apapun Taemin berusaha memperjelas dengan singkat bahwa ia tidak apa-apa, wajah Jonghyun seakan masih tidak percaya. Taemin menarik nafas lebih dalam, “Jjong, aku janji akan ceritakan padamu. Tapi tidak sekarang, kupastikan kemarin tidak terjadi hal apapun dengan aku dan Minho. Well, maksudku, kami hanya meluruskan sesuatu …”,

“Hah? Meluruskan apa?”

“Ku bilang tidak saat ini Jjong …”, ucap Taemin, “Oh, aku mau berikan ini padamu.”, ucap Taemin menyerahkan sebuah tiket pada Jonghyun.

“Apa?”, Jonghyun menatap tiket didepannya. Kemudian dengan terkejut ia menatap Taemin dan memekik. “TAEMIN! INI?! JINJJA?!”, pekiknya. Taemin tertawa dan memberikan tanda peace sign dijarinya.

“Oh, my god! Kau dapat dari mana?! Hell, kau serius?! Kenapa –oh, my! Cubit aku Taemin, aku pasti mimpi … Oh my god…”

Taemin bergidik ngeri, “Jjong, please, kau membuatku takut, jangan mulai berlebihan, itu hanya sebuah tiket konser. Kebetulan Appa membelikannya untukku sebagai hadiah ulang tahun, ia pikir aku suka band ini. Tapi aku ingat kenapa tidak aku pergunakan bersamamu? Mungkin maksud Appaku begitu, agar aku bisa mengajakmu juga…”

Jonghyun tidak percaya pendengarannya, ditangannya ia menggengam sebuah tiket band kesukaannya yang akan konser di akhir minggu. Ia sudah putus asa karena ia tidak punya cukup uang, jika ia meminjam uang pada Key pasti bunganya besar, ia juga tidak bisa meminta pada Sodam Noona dan juga ummanya.

“Taemin gomawoo!!”, pekik Jonghyun memeluk Taemin erat, “Katakan pada Appamu terima kasih dariku!”, ia menatap Taemin dan memeluknya lagi,

“A-ah… jjong, aduh, sesak …”, Taemin terkekeh menepuk punggung sahabatnya itu.

“Apa yang kalian lakukan?”,

Jonghyun dan Taemin menoleh bersamaan kesumber suara, Taemin terbelalak melihat siapa yang berdiri di tangga. Entah kenapa ia langsung mendorong Jonghyun dan berdeham gugup. Jonghyun menatap Taemin terkejut dan menatap Minho bergantian, Minho menatap Taemin sejenak kemudian menundukkan kepalanya.

“Annyeong Minho!”, ucap Jonghyun senang, ia berusaha memecahkan kecanggungan yang entah ia tidak mengerti. “Kau dari mana saja, bahkan kita tidak sempat berbicang ketika kau kembali kemarin?!”, ujar Jonghyun meninju pundak Minho, Minho tersenyum dan meninju pundak Jonghyun bergantian.

“Ah, mian Jjong … kemarin aku ada perlu dengan Taemin. Maaf membawa sahabatmu secara tiba-tiba…”, ucap Minho tersenyum. Jonghyun berdecak mendengarnya.

“Neh, lain kali kalau mau menculik orang lain jangan menimbulkan keributan, seperti drama saja yang kalian lakukan itu kemarin, tahu tidak?!”

“Jjong!”, desis Taemin. “Sudahlah, aku kekelas duluan.”, ucap Taemin masih tidak berani menatap Minho.

“Jangan lupa sampaikan salam ku pada Appamu…”,

“Ng!”, angguk Taemin, “Minho aku duluan …”, ucap Taemin akhirnya dan langsung melesat pergi. Sebelum Minho bisa menjawab, Taemin sudah pergi darinya. Ia hanya menarik nafas dan tersenyum simpul.

“Minho.”

Minho menoleh, “Hm?”

“Apa kau menyukai Taemin?”,

.

.

            Bel berbunyi dan semua siswa keluar menuju kantin sebelum jam berikutnya dimulai.  Taemin dengan perlahan merapihkan buku dan memasukan peralatan tulisnya kedalam tempat pensil sebelum namanya dipanggil oleh songsaenimnya.

“Neh … songsaenim?”

“Bisa tolong saya kembalikan buku ini keperpustakaan? Dan tolong carikan buku ini yah … kalau sudah kau bawa keruang guru berikan padaku, terima kasih…”

“Neh … akan saya lakukan.”, ucap Taemin tersenyum dan membungkuk sopan, ia membawa sekitar 5 buku ditangannya berjalan menuju perpustakaan utama. Ia melewati kantin yang sudah sesak dengan banyak siswa mengantri menu makan siang, Taemin mempercepat jalannya karena ia ingin cepat kembali kekantin dan makan siang. Perutnya sudah mulai bernyanyi…

“Oh, ada yang bisa dibantu? Ini sudah saatnya makan siang … kau bisa kembali lagi nanti.”, ucap pustakawan ketika Taemin masuk kedalam perpustakaan.

“Mianhe, Mrs. Jung, tapi aku harus segera mengembalikan ini. Aku harus pinjam beberapa buku juga, Mr. Kang memintaku segera, karena setelah makan siang ia akan gunakan bukunya. Bisakah kau tunggu sebentar saja?”, ucap Taemin memelas. Mrs. Jung yang memang sangat suka dengan senyum Taemin ia memberikan waktu 10 menit untuknya. Dengan senang ia menaruh buku yang harus ia kembalikan dan berlari ke lorong lain mencari buku yang ia butuhkan.

“Aish!” Ia membuat wajah kesal. Menatap rak buku paling atas, kenapa buku itu harus ada disana?. “Bagaimana caranya aku mengambilnya? Bahkan tidak ada kursi—“ Saat itu juga sebuah tangan menjulur dari belakangnya menggapai buku di rak paling atas itu, ia menoleh terkejut dan langsung berhadapan dengan sebuah dada bidang kekar didepannya, wangi cologne yang sangat harum dan manly, perlahan ia mendongak dan mendapati Minho berdiri dekat sekali dengannya.

“Annyeong!”, ucapnya sangat dekat sekali dengan wajah Taemin, Taemin mendorong tubuh Minho kencang.

“Yah! Apa yang kau lakukan? B-berikan padaku buku itu!”, ucap Taemin menjulurkan tangannya.

Minho menjulurkan buku itu, namun ketika Taemin ingin mengambilnya dengan isengnya Minho mengangkatnya tinggi-tinggi, membuat Taemin tidak dapat menggapainya. “Apa itu yang harus kau katakan pada orang yang sudah menolongmu?”, tanya Minho bercanda, senyum licik itu …

Taemin tidak percaya, apa benar ini seorang Choi Minho yang sama seperti kemarin? Choi Minho yang ini sama seperti Choi Minho yang sering usil dan menggodanya. “Aku tidak meminta mu untuk menolongku! Lagipula kenapa kau ada disini? Kau mengikutiku?!”

Minho terkekeh, “Ya dan tidak … aku hanya kebetulan melihatmu saat aku terbangun dari tidur.”,

Taemin menganga, “Kau tertidur di perpustakaan?”, Minho mengangguk, Taemin mendengus. “Kau bolos dari kelas?” , Minho menggaruk kepalanya dan mengangguk.

Taemin menggeleng tidak percaya, apa sebenarnya yang ada di otak Minho, apa ia tidak tahu betapa sekolah itu penting? Termasuk ikut kedalam jam pelajaran. “Berikan bukunya padaku…”

“Kalau aku tidak mau?”, godanya.

“Minho, ini tidak lucu, aku harus cepat! Perpustakaan akan tutup dan aku harus makan siang!”, umpatnya kesal dan masih berusaha menggapai buku ditangan Minho, namun namja itu semakin menggodanya dengan memundurkan badannya.

“Minho!!”, ucapnya kesal. Sepertinya Minho memang sedang menguji kesabarannya, Taemin merasa bahwa Minho memang menikmati sikap Taemin jika dia menggodanya. “Terserah! Kalau aku tidak bisa membawa buku itu, tinggal ku bilang saja bahwa bukunya diambil oleh Choi Minho dari kelas 2-C!”, ucap Taemin kesal dan berlalu meninggalkan Minho.

Minho tersenyum dan mengikuti Taemin, “Taemin ah~ … Lee Taemin …”, panggil Minho, namun Taemin berjalan saja menuju pintu keluar. “Taeminnie …”, kali ini Taemin berhenti dan wajahnya memerah, ia menatap Minho kesal.

“Y-yah! Kau panggil aku apa barusan?!”, Taemin menatap Minho malu.

Minho tersenyum dan melangkah maju mendekati Taemin, membuat namja cantik itu terpojok di sisi rak buku. “Taeminnie …”, ucapnya pelan, ia meraih tangan Taemin, “Ini bukunya …”, katanya menaruh buku ditangan Taemin dan mengerlingkan matanya. “Ayo kita makan siang…” ucapnya mengacak rambut Taemin gemas. Manis sekali –pikir Minho.

Hap!
Taemin terkejut karena Minho meraih buku ditangannya, “Biar aku yang bawa.”, ucapnya tersenyum manis pada Taemin.

“Aku bisa bawa sendiri.”

“Tapi aku memaksa.”

“Kau memang pemaksa.”, ucap Taemin kesal, namun mereka berjalan beriringan menuju kantin.

Entah kenapa meski tidak ada pembicaraan apapun, namun kesunyian itu membuat Minho merasa nyaman, dari sudut matanya ia bisa melihat wajah Taemin yang sangat cantik –amat cantik. Bagaimana namja bisa terlihat sangat cantik?. Minho memperhatikan rambut Taemin yang coklat dan terlihat fluffy, bola matanya yang besar, hidungnya yang bangir, bibirnya …

“Ada yang aneh di wajahku?”, Minho terkejut ketika Taemin menatapnya heran. Minho berdeham dan menggeleng, ia terkekeh menahan gugupnya.

“Tidak! Hanya saja aku penasaran…”

“Huh? Penasaran … kenapa?”

Minho menarik nafas dan mengacak rambut Taemin gemas, “Penasaran kenapa kau cantik.”, ucap Minho berlalu meninggalkan Taemin yang terkejut ditempatnya.

“Y-yah!”, pekik Taemin merapihkan rambutnya, “Huft, apaan sih … sembarangan, aku ini kan namja!”, ucapnya, ia berusaha marah dan tidak suka dengan ungkapan Minho, namun ia tidak bisa bohong bahwa jantungnya berdebar ketika Minho mengatakan itu…

.

.

            Jonghyun menarik nafasnya beberapa kali, ditangannya ia mendribble bola basket dengan malas. Dia masih merasa sulit untuk percaya dengan apa yang baru saja ia ketahui. Matanya memandang lapangan didepannya, dengan malas ia duduk disana tanpa lakukan apapun dilapangan. Minho dan Taemin? Apakah ini mungkin?

“Apa kau menyukai Taemin?”,

Minho terlihat canggung ketika Jonghyun menanyakan hal itu, Minho berdecak dan menepuk punggung Jonghyun. “Memangnya kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?’

‘Kau jawab saja pertanyaanku. Kau suka atau tidak dengan Taemin?’

‘Baik, apakah menjadi masalah jika aku suka atau tidak dengannya?’

‘Bisakah kau menjawabnya iya atau tidak saja?’

Minho tertawa dan merangkul Jonghyun, ia tersenyum simpul dan mengangguk, ‘Ya, aku rasa aku menyukainya…’

Jonghyun terdiam sesaat dan menatap Minho lekat, ‘benarkah?’

Minho berdecak lagi, ‘Yah~~ makanya tadi aku tanya apa ada masalahnya? Kenapa aku tidak suka dia? Dia baik, manis, menyenangkan, dan dia ramah. Siapa yang tidak akan menyukainya?’

Jonghyun mengernyitkan dahinya, ia menurunkan lengan Minho dari bahunya dan menatap Minho serius. Minho yang merasakan bahwa ada yang berubah dari sikap Jonghyun, ia berhenti menyunggingkan senyum dan menatap Jonghyun bergantian.

‘Suka seperti SUKA sebagai seorang special. Apa kau menyukai Taemin seperti SUKA seperti itu?’, ia melihat Jonghyun sangat serius menanyakan padanya.

Minho menarik nafas. Ia memandang Jonghyun sejenak dan tersenyum.”Aku—“

            “Haish!”, umpat Jonghyun mengacak rambutnya dan membuang bola basket ditangannya, bola itu bergulir dilapangan dan melaju sendiri. “Benar, memangnya kenapa?”, tanya Jonghyun bingung. Entah kenapa ia nekat bertanya tentang hal itu pada Minho, ia hanya penasaran, ia memang mencium ada sesuatu diantara Minho dan Taemin.

“Kenapa kau? Tidak biasanya ekspresimu begitu …”,

Jonghyun menoleh dan mendapati Onew berdiri didekatnya, ia menghampiri Jonghyun dan menyerahkan sekaleng coke padanya.

“Memangnya biasanya seperti apa?”,

Onew memiringkan kepalanya berpikir sejenak, “Seperti ini…”, Jonghyun menoleh dan tertawa melihat Onew tersenyum dengan memperlihatkan gigi-gigi kelincinya, ia berusaha menirukan cara Jonghyun tersenyum dengan semua gigi yang terlihat.

“Katakan, ada apa? Kau tidak mungkin bersikap seperti ini jika tidak ada masalah…”

Jonghyun berdecak dan menatap lapangan didepannya lagi. “Hyung, jika suatu saat kau dijatuhkan pada sebuah pilihan antara sahabat atau pertemanan dengan pacarmu. Maka kau akan memilih yang mana?”

“Hmm.. buat apa ada pilihan tersebut? Siapa yang akan memberikan pilihan seperti itu?”

“Hyung!”, Jonghyun kesal sekali. “Jawab saja pertanyaanku…”, rengeknya.

Onew tertawa dan menepuk punggung Jonghyun, “Tergantung siapa yang akan bertanya padaku. Keduanya sangat penting bagiku, sahabatku selalu ada untukku bahkan sebelum aku bertemu dengan kekasihku nanti, namun kekasihku juga penting, karena ia akan menjadi satu-satunya orang yang akan aku jadikan sebagian dari diriku, akan kujaga, kubahagiakan …”, ucap Onew terhenti. “Namun, bukan masalah siapa yang lebih dulu bertemu, tapi siapa yang lebih bisa kau perlakukan secara adil.”

Jonghyun terdiam, ia masih tidak mengerti.”Tapi, banyak ketika kau memiliki kekasih kau akan lupa dengan temanmu.”

Onew tersenyum, “Jadi kau sudah punya pacar? Dan kau bertanya seperti ini takut karena aku akan cemburu jika kau banyak habiskan waktumu dengannya dibanding bersamaku nanti?”

Damn, Onew memang paling jenius!

“Bukan! Aku tidak sedang tertarik dengan siapapun!”, rengeknya kesal, Onew hanya tertawa. “Aku hanya berpikir, jika nanti aku memiliki kekasih apa aku akan melupakanmu Hyung, melupakan Taemin dan Key. Seperti katamu, apa aku bisa bersikap adil?”

“Bersikap adil hal utama, namun masalahnya adalah jika kau memiliki sahabat serta teman yang baik, maka sahabatmu itu dapat mengerti bahwa memang jika kau sudah memiliki seseorang disisimu, maka kau akan menghabiskan sebagian perhatianmu padanya. Bahkan porsi untuk sahabatmu juga akan kau gunakan untuknya.”

“Lalu …”

“Lalu yang harus teman itu lakukan adalah berlaku adil bagi dirinya sendiri dan juga sahabatnya itu sendiri. Mengerti posisinya …”

“Aku tidak mengerti…”

“Kau akan mengerti …”

Onew tersenyum menatap Jonghyun, ia tahu –mungkin perkiraannya belum benar, namun ia sepertinya tahu apa yang ada dipikiran dongsaengnya itu.

.

.

            Din din!!

Taemin menengok keluar jendela kamarnya, ia melihat Jonghyun sudah duduk manis di atas motornya melambaikan tangan padanya. Taemin melambaikan tangannya semangat dan mengangguk cepat ketika Jonghyun melambaikan tangannya untuk turun dan menujukkan pada jam ditangannya.

Benar, mereka sudah janji akhir minggu ini menonton konser band kesukaan Jonghyun. Namja itu sangat semangat sehingga sudah 4 jam yang lalu berkata bahwa ia ingin segera menuju rumah Taemin, menjemputnya dan mereka pergi ke venue. Namun Taemin yakinkan padanya ia tidak perlu takut tidak dapat tempat baris paling depan, karena tiket yang Taemin berikan padanya adalah tiket VIP, tidak perlu antri, serta dijamin mereka akan dapat spot yang bagus. Thank to his Appa…

            “Umma, Appa, Hyung … aku berangkat!”, pekiknya setelah selesai memakai sepatunya dan menyambar helm serta jaket kulitnya.

            “Taemin ah, palli!”, ucap Jonghyun berloncat-loncat kecil di atas motornya. Taemin berdecak dan mengetuk helm Jonghyun kesal.

            “Yah! Kau seperti anak kecil yang akan bermain ke taman hiburan saja, kita masih punya waktu 2 jam sebelum open gate.”,

            “Ini lebih menyenangkan dari pada taman bermain.”

Taemin berdecak, “Ya, ya, ya … terserah apa katamu baby Jjong …”

Jonghyun terkekeh dan menyalakan mesinnya ketika Taemin sudah naik di boncengan motornya, “Pegangan yah baby Taemin…”

“Diam kau, jangan mengebut, kau tahu aku takut naik motor …” ucap Taemin memegang sisi jaket kulit Jonghyun. Jonghyun menunduk dan berdecak.

“Pegangannya yang kencang. Kalau kau terbang karena badanmu yang terlalu kurus aku tidak tanggung jawab…”

“Aku bilang diam! Menyetir yang benar! Perhatikan rambu, jangan mengebut!”,

“Siap princess…”

“YAH!”,

Mood mereka sedang bagus malam itu, mereka lupa sejak kapan mereka tidak jalan keluar bersenang-senang. Taemin merasa bangga bahwa ia bisa setidaknya menjadikan malam itu menjadi waktu nostalgia mereka, karena memang mereka terbiasa untuk bersenang-senang bersama.

            Jonghyun dan Taemin menatap Venue yang sudah penuh dengan berbagai macam fans, mulai dari yeoja cantik, namja, bahkan ada orang tua. Taemin tidak pernah pergi kekonser music sebelumnya, karena memang ia tidak ada satu band atau penyanyi yang sangat ia ingin tonton. Meski ia fans berat Michael Jackson –sayang, ia tidak bisa menonton konsernya, karena orangnya pun sudah tiada.

“CN Blue memang benar-benar popular. Bahkan orang tua pun banyak yang menonton konser ini.”, ucap Jonghyun masih asik memandangi semua orang didepannya, banyak yeoja berdandan aneh dengan segala atribut yang mereka buat sendiri, membawa berbagai macam banner, memakai berbagai aksesoris tentang CN Blue.

“Kudengar salah satu personilnya ada yang namanya sama denganmu?”, tanya Taemin tertawa.

“Iya, Jonghyun …Lee Jonghyun, dia juga seumuran denganku!”, jawabnya bangga. Taemin tersenyum, sahabatnya itu jika sudah berbicara tentang CN blue dan music yang mereka bawakan akan sangat semangat.

“Kau jangan jauh-jauh dariku, fangirls disana itu semua bahaya, mereka seperti serigala lapar. Jangan sampai kau terpisah karena mereka akan mendorongmu, kau tidak akan percaya bahwa mereka memiliki kekuatan seperti itu.”, ucap Jonghyun merangkul pundak Taemin.

Taemin tertawa, “Jinjja?!”

“Jinjja!”

            “Kau percayakan kenapa aku bilang berkali-kali bahwa mereka itu luar biasa! Kau lihat kan cara Yonghwa bernyanyi? Mereka sangat powerfull, suaranya sangat bagus! Aku suka karakternya! Oh, bahkan mereka semua dapat bernyanyi dengan baik, aku tidak percaya melihat mereka sedekat ini, bahkan kudengar suara CD dan asli nya barusan tidak dapat kubedakan!”, ucap Jonghyun panjang lebar ketika mereka keluar dari dalam gedung konser setelah selama 4 jam mereka disana. “Bahkan si Jonghyun kembaranku itu, saat ia melakukan solo gitar sangat bagus, woah … aku masih tidak bisa menangkap ritme nya…”,

Taemin tersenyum lebar menatap Jonghyun yang masih terus berbicara kesana kemari tentang pengalamannya menonton konser barusan. Ia tahu Jonghyun sangat suka music, bahkan namja ini juga memiliki suara yang sangat bagus, ketika Taemin bilang bagus … well, benar-benar bagus!

Bahkan Ummanya pernah mendengarkan Jonghyun bernyanyi dan Umma nya menjadi fans berat Jonghyun sahabatnya ini. Ummanya bilang jika suatu saat Jonghyun jadi penyanyi terkenal, Ummanya yang akan membuat fansclub untuk Jonghyun. Taemin juga berdoa agar suatu saat ada sebuah management yang akan merekrutnya, karena selain bernyanyi, Jonghyun juga pandai bermain music dan mengarang lagu.

“Oh, sorry Tae … apa aku terlalu banyak bicara?”, tanya Jonghyun dengan wajah memerah. Taemin tertawa dan mengibaskan tangannya didepan wajahnya sendiri

“Ani ani … kau teruskan saja, aku suka mendengarkanmu bersemangat seperti ini… hahahaha…”

Jonghyun berdecak karena malu, “Ck, kau ini … kau benar-benar teman yang baik.”, ucap Jonghyun. “Kalau bukan karena kau dan Appamu, aku tidak akan pernah bisa menonton konser saat ini. Ah.. mungkin aku harus menunggu sampai tabunganku penuh baru bisa menonton mereka. Gomawo Taeminnie …”, Jonghyun mengacak rambut Taemin dan merangkul Taemin dengan erat.

“Ouch! Yah! Haish… kau membuatku merinding, jangan berkata begitu. Seperti bukan kau saja…”

“Yah! Aku berusaha berterima kasih disini … kau ini…”

Taemin hanya tertawa dan melanjutkan jalannya. Jonghyun mengejarnya dan merangkul pundaknya. “Apa yang kau mau?!”

“Huh?”

“Iya … masa kau berulang tahun malah aku yang kau berikan kado?! Ayo sebutkan saja, apa yang kau inginkan?!”, Jonghyun menaik turunkan alisnya, itu membuat Taemin tertawa karena wajah Jonghyun terlihat konyol.

“Baik, teraktir aku makan ramyun!”,

Jonghyun menatap Taemin tidak percaya, “What? Hanya itu? Kau murah sekali …”

“YAH!”, umpat Taemin, Jonghyun hanya tertawa. “Mau apa lagi, aku lapar, kau tanggung jawab … untung saja aku tidak pingsan tadi didalam sana.”,

“Hahahaha … arrasoo … kajja!”,

.

.

            Onew membuka pintu apartemennya dengan terkejut ketika mendapati Key yang setengah tersengal dan  peluh di keningnya berdiri didepan pintu apartemennya. Sebelum Onew mempersilahkan namja itu masuk, serta bertanya apa yang ingin namja itu lakukan di tengah mala mini, Key sudah melesat masuk tanpa permisi.

“Silahkan masuk …”, ucap Onew lemas. Jujur saja, ia baru saja ingin tidur, kenapa Key tiba-tiba datang memencet bel apartemennya dengan brutal? Oh, jangan lupa juga sudah masuk sembarangan.

“Apa kau tahu Taemin kemana?!”, tanya Key.

Onew duduk disofa malasnya dan memandang Key heran, “Dengan Jonghyun, kekonser CN Blue … waeyo?”, tanyanya, setelah Key menerima jawaban itu, Key merasa lega, ia menarik nafasnya dan merebahkan dirinya disamping Onew –sebelum menyingkirkan kaki Onew secara tidak sopan.

“Syukurlah, setidaknya aku tahu bahwa Taemin tidak pergi bersama Minho malam ini.”, ucap Key lega, Onew menoleh bingung.

“Lalu apa hubungannya kau datang kesini bertanya dimana Taemin? Kau kan bisa bertanya langsung ke rumahnya? Lalu, memangnya ada apa jika ia pergi dengan Minho??”

Key menoleh kearah Onew dengan wajah gusar, “Kau harus tahu apa yang baru saja aku ketahui tentang Minho.”, ucap Key. Onew menarik nafas –tidak lagi … “Tunggu, kali ini kau tidak akan berpikir bahwa aku keterlaluan karena ikut campur masalah orang lain. Tapi informasi ini tentunya sangat berguna, informasi ini juga dapat membantu Taemin untuk tidak terlibat dengan Minho …”

Onew menatap Key datar, ia tahu persis Key, meski ia memang biang gosip, ia adalah pencari berita terampuh diantara mereka berempat, semua berita yang Key dapat selalu terpercaya, entah berapa banyak teman serta mata-matanya.

“Dengar, aku mendapat info dari Woohyun, kau kenal kan? Nah, kau juga kenal Min kan? Ternyata mereka satu sekolah dengan Minho sebelum nya, sebelum ia di Dropout dan pindah kesekolah kita…”

Onew mengangguk tanda memperhatikan.

Key menarik nafas, “Onew, Minho itu …”

.

.

            “Jadi begitu…”, Jonghyun mengangguk mengerti setelah Taemin menjelaskan kejadian yang terjadi saat Minho membawanya tiba-tiba saat itu, Taemin ikut mengangguk mengiyakan. “Jadi, benar tidak terjadi apa-apa diantara kalian kemarin itu?”

Taemin cemberut menatap Jonghyun, “Yah! Aku bingung maksudnya terjadi apa-apa itu apa?”

“Well …”, Jonghyun mengangkat bahunya, “Kau pergi kepantai berdua, pasti ada hal yang kau lewati saat kau ceritakan padaku barusan…”

Jonghyun perhatikan wajah Taemin memerah karena malu, namja cantik itu meneguk minumannya karena gugup. “Kau berpikir apa? Tidak ada yang aku lewatkan. Jangan berpikir yang tidak-tidak, kami hanya berteman…”

“Aku tidak bertanya tentang status kalian? Kenapa kau yang memperjelasnya, Tae?”, tanya Jonghyun lagi menggoda Taemin.

“Yah! Aku kan—ah, sudahlah, ayo kita pulang, aku capek sekali…”, ucap Taemin kesal. Jonghyun yang merasa berhasil menggoda Taemin hanya bisa tertawa. Mereka membayar pesanan mereka dan berjalan menuju parkiran bersama.

“Taemin…”

“Hmm?”

“Kalau nanti kau dengan Minho, maksudku … sepertinya Minho suka padamu…”

“A-apa?! Jjong, kau hari ini melantur semua pembicaraannya!”

Jonghyun berdecak, “Anio … aku kan hanya melihat sesuai dengan kenyataan, kalau memang Minho suka padamu memangnya kenapa? Toh, bumonim mu tahu bahwa kau itu…”

“DIAM!”, ancam Taemin, Jonghyun menutup mulutnya dengan tangannya. “Kalau kau bahas itu, aku akan pulang sendiri…”

Jonghyun menunjukan tangannya keatas pertanda ia berjanji tidak akan ungkit itu. “Kuharap kau tidak melupakanku sebagai sahabatmu …”

“Apa? Kau bicara apa Jjong barusan?”, Taemin menoleh dan mengerutkan alisnya, ia seperti mendengar Taemin berkata sesuatu.

“Anio! Aku hanya menggumam, uangku habis karena mentraktir perut karungmu…”

“YAH! Jadi kau tidak rela?!”,

Jonghyun hanya tertawa sedangkan Taemin sesekali memukul belakang kepala Jonghyun.

.

.

            Kelas PE siang itu akan digabung 2 kelas perwaktunya, kali itu giliran kelas 2-A dan juga 2-C, kelas dimana Taemin berasal akan digabung dengan kelas Minho dan Jonghyun. Taemin menghela nafasnya kesal, karena ia sebagai ketua kelas yang baru, selain itu jadwal piket hari itu juga dirinya, maka ia dan kelima temannya yang lain harus mempersiapkan peralatan olahraga yang diperlukan.

            Kali ini mereka akan lompat tinggi, kemudian lari 100m, serta basketball, jadi seluruh peralatan mulai dari papan lompat dan bola harus mereka keluarkan dari dalam gudang olahraga. Namun, entah kenapa kelas 2-C perwakilannya belum juga datang.

“Kemana perwakilan kelas 2-C? Taemin ah, apa kita harus lakukan semua ini? Ini tidak adil…”, keluh Dongho padanya.

Taemin hanya tersenyum malas, “Sudahlah, kita lakukan saja pelan-pelan…”, Taemin sebenarnya cukup kesal juga, tapi ia sebagai ketua kelas tidak bisa bersikap emosi dan membuat keributan. Jadi, lebih baik lakukan sendiri…

“Taemin tolong bawa keranjang bola basketnya yah… kami akan susun ini dilapangan dulu.”, ucap Myungsoo padanya, keempat temannya yang lain menggotong papan loncatan yang harus mereka susun dilapangan. Taemin hanya mengangguk mengerti…

Dengan sekuat tenaga ia menarik sekeranjang penuh bola basket, karena sebelum bertanding mereka harus mengambil nilai free throw, makanya bola-bola itu harus ia keluarkan kelapangan. Namun, apa mau dikata, Taemin mengutuk dirinya sendiri karena badannya yang tidak begitu besar, meski makannya banyak ia tidak tahu kemana larinya, dan ia kesal melakukan ini saja rasanya berat sekali.

“Kalau kau melakukannya seperti itu, bagaimana mau selesai?”,

Taemin menoleh dan melihat Minho terkekeh di depan pintu gudang bersama 3 teman kelasnya yang lain, ketiga teman Minho hanya terkekeh menatap Taemin kesulitasn sendiri. Taemin mendengus dan menyilangkan tangan didepan dadanya…

“Ooh … kita lihat siapa yang berbicara disini, kalian sudah telat tapi hanya bisa menertawakanku, sikap yang bagus heh?”, sindirnya kesal, ia melirik pedas pada Minho. Namja itu yang memulai duluan –dasar urakan!

“Ahh… anio Taemin ah~ kami hanya bercanda … sini kami bantu…”, Chanyeol si periang berjalan melewati Minho berniat untuk membantu Taemin, namun sebelum ia dapat mencapai kearah Taemin, Minho menarik kaos belakangnya dan membuatnya mundur.

“Biar aku saja … kalian kelapangan saja membantu yang lain bersiap untuk papan lompat…”, ucap Minho tersenyum pada ketiga temannya.

“Ah, baiklah…”, ucap Chanyeol senang kemudian berlalu dengan kedua temannya yang lain.

Minho menoleh dan menatap Taemin yang mulai mendorong keranjang bola. “Mau kubantu?”, ledeknya, Taemin mendengus.

“Tidak usah!”, jawab Taemin ketus, Minho malah tertawa senang –Taemin meliriknya kesal, namun namja tinggi itu seperti sudah mempan dengan tatapan membunuh Taemin.

“Baik, aku akan buka pintunya, kau dorong keranjangnya…”,

“Baik! Kau pikir aku tidak bisa?!”, ucap Taemin angkuh

Minho menyembunyikan senyumnya, “Justru itu aku ingin lihat… ayo cepat, mereka pasti sudah menunggu…”, ledek Minho memasukan tangannya kedalam saku dan berjalan ke luar pintu, ia bersender di pintu menahan agar pintu itu tidak tertutup.

Matanya mengawasi Taemin yang mulai mendorong keranjang besar dengan banyak bola itu, memang keranjangnya bergerak, memang keranjangnya tidak terlihat sulit untuk didorong, tapi bagi Minho melihat Taemin seperti itu ia merasa kasian, selain itu gerakannya lamban sekali…

Minho yang tidak sabaran berjalan kearah Taemin dan menyenggol tubuh Taemin dengan pinggulnya. Taemin terdorong kesamping dan ia terkejut karena hal itu.

“Yah! Kau pikir apa yang kau lakukan?!”, umpat Taemin kesal.

Minho menatap Taemin seperti layaknya apa-kau-bodoh-look, “Aku sedang membantu mendorong keranjang bola. Apa kau tidak bisa lihat?”, ucap Minho polos.

“Aku bisa lakukan sendiri—“ Taemin berusaha mendorong minggir tubuh Minho, tapi reflek Minho sangat cepat, dengan cepat tubuh Taemin melayang diudara dan seketika ia ada di atas keranjang bersama bola-bola basket di keranjang itu.

“YAH!”, pekik Taemin, namun ia terkejut ketika Minho berdiri didepannya, jarak mereka sangat dekat, kedua tangan Minho berada di sisi kaki Taemin satu sama lain. “A-apa—“

“Woah, enteng sekali tubuhmu yah…”, ucap Minho tersenyum dan mendorong keranjang bola bersama dengan Taemin di dalamnya keluar dengan mudah. “Lihat, begini seharusnya kau mendorong keranjang…”, ledek Minho padanya, Taemin menatap Minho kesal sekaligus malu setengah mati, wajahnya memerah karena Minho tidak hanya menggodanya, namun ia juga meremehkan Taemin sebagai namja.

“Yak!”,

“Ouch!”, Minho mendesis dan cemberut ketika Taemin memukul lengannya. “Waee…”, rengeknya.

“Turunkan aku! Cepat!”,

“Shiro! Kau turun saja sendiri!”,

“Minho!”

“Apa?”

Taemin menggerutu tidak jelas, ia membuang wajahnya kearah lain dan enggan menatap Minho. Sialan, kenapa ia tidak bisa saja lepas dari keusilan namja didepannya ini.

“Kau manis sekali …”, hanya itu yang Taemin bisa dengar sebelum Minho pergi dari hadapannya. Ketika ia sadari ia sudah berada dilapangan, dan semua teman-temannya menatap Taemin terkejut, beberapa dari mereka berbisik dan yang lain terkekeh.

“Butuh bantuan turun Taemin ah?”, tanya Chanyeol padanya. Taemin mendengus kesal…

            Ketika Minho dikatakan bahwa ia memang pandai dalam olahraga, itu sama sekali bukan lelucon. Karena Minho benar-benar piawai dalam semua olahraga yang mereka lakukan hari itu, bahkan nilainya sempurna –semua temannya kagum pada Minho, tentu saja, badan tinggi dan terlihat atletis itu bukan sebuah candaan saja. Taemin sebenarnya sedikit malu karena ia tidak begitu pandai dalam olahraga, meski sebenarnya ia juga tidak bodoh-bodoh sekali.

“Baiklah, sekarang pertandingan bola basket, pilih 5 orang dari masing-masing kelas namja dan yeoja.”, perintah Mr. Shin pada mereka. Dengan segera semua menentukan siapa yang akan bertanding.

Pertandingan berlangsung yeoja kelas 2A melawan 2C terlebih dahulu –dan kelas 2A memenangkan pertandingan  tersebut. Taemin tersenyum bangga, bagaimanapun juga ia sebagai ketua kelas bangga akan hal itu. Waktunya pertandingan antar namja, sebagai ketua kelas, Taemin menjadi salah satu bagian dari tim. Tentu saja Choi Minho itu ada disana sebagai lawannya, namja itu menatap kearah Taemin dengan senyuman terkembang, ia seperti mengisyaratkan bahwa mereka akan menang.

Pertandingan berlangsung sudah 10 menit, yang mengejutkan adalah kelas 2C sudah mencetak angka 24 sedangkan kelas 2A hanya 6 point. Sepertinya kelas 2C menjadi sangat bagus ketika Minho berada didalamnya, namun kelas Taemin tidak menyerah, termasuk Taemin yang sangat ini sudah mendrible bola dengan baik dan bersiap melakukan penyerangan. Namun ketika sampai di garis three point sebuah tubuh besar menghalaunya, “Hai …”, sapa namja didepannya.

Taemin berdecak, ia tidak akan biarkan bola ditangannya direbut olehnya, dengan lihai ia mendrible bola melewati kakinya, ia bergerak kekiri namun Minho dengan sigap menghadangnya. Taemin memundurkan badannya mencari celah sedikit. Ia melirik kearah teman-temannya yang lain bahwa mereka sulit untuk di pashing bola. Ia memindahkan dribble bola dari tangan kanan ke kiri dan berusaha menipu Minho kearah kanan.

“Ayolah Taemin ah … kau pasti bisa melewatiku…”, ledek Minho. Taemin mendengar temannya berteriak ‘pashing bolanya’ namun ia bersikukuh akan melawan namja didepannya ini.

“Kau tidak mau pash bolanya?”

Taemin diam saja…

“Ooh … jadi kau mau bertanding denganku yah? Ahh… aku senang sekali…”

Taemin menatap Minho kesal.

“TAEMIN!”, Taemin melirik kearah Lay yang kosong dari penjagaan, dengan mudah ia mempash bola itu pada Lay dan berlari melewati Minho –sebenarnya Minho membiarkannya, dengan senyuman senang Minho menyusul Taemin dan berjaga tidak jauh dari belakang tubuhnya. Ketika bola dip ash kembali pada Taemin dan ia akan melakukan lay-up dengan sigap bola itu ditangkap oleh Minho.

“Ups!”, ucap Minho, Taemin terkejut, dengan sekejap kilat Minho melesat, meloloskan diri dari semua penjagaan teman-teman Taemin, dan sekejap mata mereka sudah mencetak point, Minho dengan  mulus melempar three point ke ring Taemin -27 point saat ini kelas 2C unggul.

“Sowwy…”, ucap Minho berlari kearah Taemin dan mengacak rambutnya yang basah karena keringat. Taemin mendengus kesal.

Pritt … tanda pertandingan sudah selesai, semuanya bersorak tidak senang. Semua mulai mengosongkan lapangan untuk berganti pakaian. Minho melihat Taemin berdiri ditengah lapangan menghapus peluh dikeningnya, matanya menatap setiap gerakan Taemin, namja cantik itu mengibaskan tangan mungil dan putihnya yang berkeringat ke lehernya, lidah Taemin menjulur karena kelelahan dan menjilat bibirnya yang kering, Minho menatap semua itu tanpa berkedip –bahkan sosoknya yang saat itu terkena cahaya matahari membuat Minho tidak bergeming. Minho menolehkan wajahnya kearah lain ketika ia melihat apa yang dilakukan Taemin, namja itu mengangkat kaos olahraganya dan mengelap keringatnya dengan baju itu.

Entah karena otak Minho yang sedang rusak namun ia bisa melihat dengan jelas perut rata dan putih Taemin, tidak ada abs disana sepertinya, namun pemandangan itu cukup membuat ia kehilangan akal sehatnya. Kau pasti sudah gila, Minho … pikirnya.

“Minho, Kau mau berdiri disitu saja dan tidak membantu kami lagi bereskan ini semua?”, teriak Taemin dari ujung lapangan.

Minho menoleh dan melihat Taemin cemberut menggerutu tidak jelas sambil membereskan keranjang bola. Minho tersenyum menatap sosoknya, namja yang menarik, ia bisa terlihat pemalu, pemarah, cerewet, namun juga ramah, manis sekali …

“Neh, Taeminnie …”, ucap Minho menghampiri Taemin, namja cantik itu hanya menggerutu tidak jelas, namun Minho bisa melihat bahwa wajah Taemin bersemu merah, cute …

.

.

            Minho menyapu pandangannya kesemua siswa yang mulai meninggalkan sekolah, ia mencari sosok Taemin diantara banyak kerumunan siswa. Ketika ia melihat seorang namja putih dengan rambut coklat mengkilap ia tahu itu Taemin, dengan sigap ia turun dari motornya dan berlari mengejar Taemin yang berjalan bersama dengan namja bernama Key dan juga Onew.

“Taemin!”, panggil Minho menghalau jalan mereka.

“Minho? Ada apa?”, tanyanya bingung.

“Apa kau sibuk? Kau bisa ikut dengan ku?”, tanya Minho tersenyum,

“Tidak bisa!”,

Ucap Key sebelum Taemin bisa menjawab, Minho menatap malas kearah Key yang sudah merangkul lengan Taemin posesif. “Dia mau pergi bersama kami ke café dan kau tidak boleh ikut.”, ucap Key tersenyum sinis.

“Apa? Kenapa?”, tanya Minho bingung.

“Ikut kau kemana?”, tanya Taemin menatap Minho bingung. Minho tersenyum mengalihkan pandangannya dari Key.

“Taemin!”, tegur Key, “Kita sudah janji …”, ucap Key memelas, Onew yang berdiri disana hanya diam memperhatikan kedua temannya bersiteru untuk memutuskan Taemin akan ikut siapa.

Taemin menatap Key dan Onew bergantian, memang ia sudah janji akan pergi dengan mereka sepulang sekolah. Ini mereka lakukan seperti biasa jika mereka sudah tidak lama berkumpul bersama, meskipun begitu entah mengapa ia merasa berat menolak Minho –meski ia harus lakukan itu.

“Sorry Minho, aku sudah ada janji dengan Key hyung dan Onew Hyung. Mungkin lain kali …”, ucap Taemin mengangguk dengan keputusannya. Minho menatap Taemin sejenak dan kemudian tersenyum setuju…

“Baiklah …”

“Ingat kau tidak bisa ikut …”

“hyung …”, ucap Taemin pada Key, Key seperti tidak dengar keluhan dongsaengnya itu.

“Kajja …”, ucap Key menarik Taemin pergi begitu saja.

“Annyeong Minho…”, ucap Taemin dari balik punggungnya. Minho hanya tersenyum dan mengangguk.

“Jangan kau masukan dalam hati ucapan Key, dia memang seperti itu. Sampai besok Minho…”, ucap Onew menepuk pundaknya dan menyusul kedua temannya yang sudah melesat pergi.

Minho hanya bisa menarik nafas dan tersenyum simpul, Mungkin belum saatnya… Pikirnya. Namun sebelum ia menyalan mesin motor ia merasa ponselnya bergetar, ia menerima satu pesan, dengan cepat ia buka dan ketika ia baca pesan itu ia tidak bisa menyembunyikan senyumannya.

From: Taeminnie

Sorry Minho, lain kali aku akan usahakan. Jika kau kerumah sakit, salam untuk Ummamu dariku^^ -Taemin.

Minho mengulum senyumnya dan memasukan ponselnya kedalam sakunya, bahkan pesan nya terlihat sangat manis … pikir Minho, entah apa yang Taemin perbuat dengan hati Minho, namun yang jelas, jika ia membayangkan Taemin sudah cukup membuat hatinya senang.

CUT

Yey, annyeong, finally update 2min … kangen nggak sama 2min? heheheh…
Akhirnya bisa update FF rajin *tebar bunga*
Semakin membingungkan yah 2min disini … push and pull gini hubungannya hahahhaa..
Tapi cinta kan butuh proses gak langsung jadian, jadinya harus ada kisahnya dulu…
Semoga masih setia nunggu FF ini yah~ tahu sendiri authornya angot-angotan nulisnya. Susah cari idenya TT~TT

Btw, kabar baiknya author akan diwisuda 2 Maret nanti … Yey^^ makasih doa dan dukungannya. Doain aku supaya cepet dapet kerja yah~ ntr ditraktir deh (traktir FF maksudnya) hehehe …

Oke, dont forget leave comment neh~
ANNYEONG … LOVE YOU!

-Taemkey san-

NO EDIT, MANY TYPO

43 thoughts on “[2min] Chasing You! – part 5

  1. aaaah masih belum ada clue jelas tentang masa lalu minho
    aku penasaran u,u
    .
    key umma protektif banget ama taem
    tapi seneng minho semakin gencar mendekati taemin

  2. Hosh…hosh…hosh…
    baca maraton dari part 1 smpe part 5.
    Aku penasaran sama masa lalu minho. Trus appanya minho knp? Trus ummanya minho knp bisa sakit ?.
    Pokoknya lanjutannya ditunggu

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s