{JinBoon} Snow Flower / Chapter 3


Jinboon-poster-yua-3 (2)

Main cast : Lee Jinki , Kim Gweboon

Support Cast : Lee Taemin, Choi Minho, Kim Jonghyun 

Words : 5000+ words

Author : Eternalonkey  (@usagi_8991)

Rating : PG 17 

Genre : fluff, comedy, school life,sad romance (?)

CHAPTER 1

CHAPTER 2

Putih….

Ada titik putih diujung sana…

Langkah kaki yang berubah menjadi lari..

Namun semakin ia berlari, cahaya itu semakin redup, semakin menjauh..

Tangannya terjulur kedepan berusaha meraih cahaya itu, seolah cahaya itu bisa dia sentuh bisa dia tarik.

Tidak.. jangan menghilang.

Ia tidak menyukai kegelapan. Ia sangat membencinya.

Ia terduduk di permukaan yang tak terlihat, hanya hitam.

Ia mendongakkan kepalanya keatas, tetap tak terlihat apapun.

Hanya gelap dan… dingin.

Air matanya mengalir sedikit demi sedikit, aliran itu membuatnya tersedak hingga sulit bernafas.

Sakit..kenapa?

Tiba – tiba ia merasakan kilatan cahaya. Ia membuka kelopak matanya yang tertutup lalu menyipitkannya saat ia melihat cahaya yang terlalu terang.

Seseorang tersenyum dan memanggilnya.

“Jinki….? Apa itu kau? Jinki..? aku takut..”

Sosok yang ia panggil Jinki itu hanya tersenyum, tak sedikitpun mengeluarkan suara.

Ia berlari dan mendekatinya. Berlari sekuat tenaga hingga akhirnya ia sampai didepan sosok tampan yang tersenyum dengan sangat lembut. Rasa dingin itu telah hilang sempurna.

Tangannya gemetar berusaha menyentuh wajah Jinki.

Lalu semakin lama tangannya tidak berasa menyentuh apapun. Jinki menjadi kepulan asap putih dan menghilang.

“Tidak!!! Jangan pergi kau idiot! Jinkiiiii………….!”

 

 

 

“Gweboon…”

Tubuhnya masih terbujur lemah dikasur rumah sakit. Wajahnya masih pucat, bibirnya kering.

Tiba  – tiba mata kucingnya mengeluarkan air mata.

“Jinki..jinki….ah…andwae…jangan pergi..”

“Gweboon.. gweboon~ah.. buka matamu..”

SNAP

Gweboon membuka kedua matanya. Menatap langit – langit diatasnya.

Tidak gelap?

Matanya segera bertemu dengan sosok tampan yang selalu menjadi pangerannya.

Choi Minho.

Laki – laki yang menatapnya dengan penuh kecemasan, menggenggam tangannya dengan erat dan mengusap lembut pucuk kepalanya.

Namun entah mengapa rasanya masih dingin.

“M-minho ..?”

“Ne… ini aku Minho.. bagaimana? Apa kau merasa ada yang sakit? Aku panggilkan dokter ya?”

Gweboon tersenyum dan mengangguk lemah. Ia tidak bisa mengeluarkan banyak suara, rasanya tenggorokannya sangat kering dan tubuhnya lelah. Seperti habis berlari jauh.

Jinki? Apa ia baik – baik saja?

Ia tidak tahu kenapa ia justru mengingat laki – laki itu saat ini. Lalu mimpi yang baru saja ia alami. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. Kenapa ia bisa berada di rumah sakit? Tentu saja ia menyadari saat melihat keadaan sekitar yang bernuansa putih. Persis seperti kamar rumah sakit kan?

Gweboon pasrah saat dokter memeriksanya, menyorotkan cahaya senter kecil kearah matanya membuatnya sedikit terkejut.

“Noona Gweboon kelihatannya tidak mengalami luka serius.. hanya perlu sedikit istirahat, besok pagi sudah boleh pulang..”

Suara itu terdengar samar dikupingnya. Minho berulang kali mengucapkan terima kasih pada dokter tua yang tadi memeriksanya.

“Gweboon.. apa kau memiliki hubungan khusus dengan Jinki?”

DEG

Jantung Gweboon terasa mencelos begitu mendengar kata ‘Jinki’. Entah mengapa jantungnya bereaksi seperti itu. Gweboon langsung menatap Minho, terkejut. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Minho tidak mengenal Gweboon selama sehari atau dua hari. Ia tahu jika Gweboon menyimpan sesuatu darinya. Minho bukan tipe pemaksa, hanya saja ia merasa khawatir. Ia tidak bodoh dan menyadari kedekatan Gweboon dengan Jinki belakangan ini. Ia juga curiga kecelakaan ini diakibatkan oleh Jinki. Well mungkin tidak secara langsung, tapi ia menjadi penyebab semua ini.

Minho tahu Jinki adalah sosok yang populer di sekolah mereka. Tidak ada yang tidak mengetahui tentang dirinya. Pewaris Lee Corp.

“Apa.. dia baik – baik saja?”

Gweboon tidak tahu kenapa suaranya terdengar sangat lemah. Sangat putus asa.

Minho menatap Gweboon yang justru menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Mungkin ini belum saatnya Gweboon bercerita padanya. Ia menghela nafas dan memberikan secarik kertas yang dilipat dua bagian pada Gweboon.

“Ini dari dia.. “

Gweboon tidak sadar tangannya gemetar saat meraih kertas itu hingga akhirnya Minho meraih telapak tangannya dan meletakknya tepat diatas telapak tangan Gweboon.

“Aku pergi dulu.. kau istirahatlah. Jika ada apa – apa pencet saja bel disisi ranjangmu maka suster akan segera datang. Arraseo?”

Gweboon belum sempat mengucapkan terima kasih, “Aku sudah bilang ahjumma kalau kau menginap di sekolah karena ada acara sekolah yang mengharuskanmu bermalam di sana, jadi jangan khawatir..”

Gweboon tidak tahu harus berkata apa. Ia benar – benar menyukai Minho.

Benar – benar menyukai?

Gweboon.. aku menyukaimu

Kenapa ia jadi teringat Jinki? Wajah Jinki, bibir Jinki saat mengucapkannya, mata Jinki saat menatapnya.

Minho mengusap lembut pucuk kepala Gweboon dan pamit pergi.

Hey baboon. Jika kau sudah bangun sms aku!

Aku mau libur belajar denganmu selama seminggu! Kau mengerti? Jadi jangan kau berani menginjakkan kaki jelekmu dirumahku selama seminggu. Aku sedang tidak mood belajar!

Dan satu lagi, jika kau bertemu dengan dua orang laki – laki yang mengaku sebagai teman terbaikku, maka kau harus lari! Jangan dekati mereka?!

Aku menulis panjang lebar begini, apa kau mengerti? Otakmu masih bagus kan?

Brengsek!

Gweboon mencibir hampir saja ia merobek kertas itu saat matanya turun kebawah ada tulisan yang lebih kecil dari tulisan diatasnya.

Nah seperti itu, wajah marahmu terlihat seratus kali lebih manis ^^

Gweboon tidak tahu ia harus tersenyum atau menangis.

“Kau tetap brengsek..Jinki..” gumamnya melipat kertas itu dan menyimpannya dibalik bantalnya.

===***===

Jinki menahan rasa sakit yang bertubi – tubi ia rasakan. Bukan hanya penyakit radang lambung yang sudah ia derita selama hampir dua tahun ini, tapi kepalanya terasa sangat sakit. Ia menatap langit – langit dikamarnya dan melirik jarum infus yang sudah tertusuk sempurna ditangan kanannya.

“Hyori noo~~naa?!!!!!” Ia berteriak sekencang mungkin memanggil untuk kesekian kalinya karena tak juga ada jawaban.

“Noona.. noona noona noonaaaaaaaaaa~”

BRUK

“Yah! Kenapa kau berteriak seperti itu pabo!”

Hyori memasuki kamar Jinki setengah berlari dan nafas terengah, tak dipungkiri ia langsung berlari saat mendengar namanya dipanggil dan ia pikir sesuatu terjadi pada Jinki saat itu. Kenapa ia berteriak? Kan ia bisa saja menelponnya.

Jinki terkekeh dan menatap kasihan kakaknya ini yang berlari dari lantai bawah.

“Jinki sebenarnya apa yang salah dengan otakmu? Apakah volumenya semakin berkurang setiap harinya? Bagaimana Gweboon bertahan selama ini? Oh God aku jadi kasihan sekali padanya..”

Gweboon. Begitu mendengar nama itu entah mengapa Jinki merasa jantungnya mencelos.

Apa ia baik – baik saja? Apa ia membaca suratku?

Hyori yang tidak mendapat respon dari Jinki lalu mendekat dan duduk disisi kasur, menterjemahkan  ekspresi Jinki.

Hopeless.

Mungkin ini pertama kalinya Hyori melihat ekspresi sedih yang berbeda dimata adiknya.

“Apa kau baik – baik saja?”

“Apa Gweboon baik – baik saja?”

Oh. My. God.

Hyori menepuk keningnya dan kemudian ia tersadar. Adik kecilnya ini sudah tumbuh dewasa. Hyori menyederkan punggungnya di kursi lalu melipat tangannya didada. Tersenyum penuh arti memicingkan matanya.

“W-wae?”

Jinki tidak pernah bicara dengan terbata.

Plus Jinki tidak pernah khawatir dengan hidup manusia lain, ia hanya peduli pada nasib penguin di kutub utara karena es yang perlahan akan mencair (begitu jawabnya ketika Hyori menanyakan tentang perilakunya yang kurang peduli).

“Shot!”

“Shot what?” Jinki berlagak tidak mengerti.

“Oh baiklah aku akan pergi saja kalau beg-…”

“Aku menyukainya!” Jinki sedikit berteriak dan menundukkan kepalanya. Hyori berbalik saat ia hampir saja pergi dan kini kembali duduk di tepi kasur.

Jinki masih menunduk, dan menunggu respon Hyori hingga akhirnya ia merasakan tangan kakaknya mengelus punggungnya meski ia tahu kakaknya menahan tawa saat ini.

“Kau sudah mengatakan ini padanya?hm?”

Jinki mengangguk.

“Lalu?”

“Ia tidak memberikan jawaban apapun dan pergi..lalu sejak itu menghindar dariku disekolah hingga kejadian ini terjadi..”

Mulut hyori berbentuk ‘o’ dan menghela nafas sambil beberapa kali menepuk punggung Jinki hingga semakin kencang.

“Yah! Itu sakit! Apa kau tidak kasihan pada adikmu satu – satunya ini?”

Hyori tertawa kencang.

Oh my God Jinki, ini pertama kalinya kau mengakui kau adalah adikku? Jinjja??” Hyori mencubit gemas pipi Jinki menambah nada bicara yang dibuat – buat lalu menepuk dadanya, mendramatisir keadaan.

“Aish…noona.. jawab pertanyaanku tadi.. bagaimana keadaannya?”

“Ia baik – baik saja. Tadi aku bertemu dengannya dan menanyakan keadaanmu. Ia juga bilang kau tidak ingin belajar dulu seminggu ini karena kau sedang…  tidak mood? apa kau mulai kehilangan kewarasanmu hah?” Hyori menoyor kening Jinki.

Namun sebenarnya Hyori mengerti. Ia mengerti jika adiknya ini tidak ingin terlihat lemah didepan seseorang yang ia sukai. Gengsi Jinki terlalu besar dan ia tidak ingin Gweboon melihatnya sedang tak berdaya di kasur.

Terlihat lebih menyedihkan karena Jinki selalu diam sendiri dikamar ini seharian dan hanya bisa mengingat Gweboon. Hyori tahu semua itu.

“Ah baguslah.. apa menurutmu aku bisa belajar dengan keadaan seperti ini?” ia menjawab sedikit ketus.

“Kenapa tidak? Ia juga bisa sambil merawatmu kan? Bukankah itu bagus?” mata Hyori menatap mata Jinki yang sedetik terlihat sedih.

Jinki tertawa “Noona.. apa kau gila?”

Jinki kembali menerima toyoran dikepalanya. Ia berpikir apa mungkin noonanya lupa keadaannya yang sekarang sedang sakit.

“Sudahlah.. sekarang kau istirahat dan jangan berteriak atau apapun. Jika membutuhkan sesuatu kau bisa menelpon dan memanggil pelayan kemari! Don’t be such a cry baby!” Hyori menepuk pipi Jinki beberapa kali sebelum memberinya kecupan.

Jinki meringis pelan merasa tepukannya terlalu kuat. Meski ia tahu Hyori tak pernah bermaksud menyakitinya.

“Ne… “

Hyori menepuk pelan pucuk kepala Jinki “anak baik.. jika kau terus seperti ini maka aku akan memberikanmu hadiah..” bisik Hyori lalu pergi secepat kilat meninggalkan Jinki yang heran dengan kalimat kakaknya.

Hadiah? Terkahir kali Hyori mengatakan ia akan memberikan hadiah itu berakhir dengan kurang baik karena yang ia dapat Hyori mencopot ban motornya.

“Yah! Noona jangan kau berani melakukan hal gila dengan barang – barangku?!”

Jinki berteriak lagi tepat Hyori menutup rapat pintu kamarnya sambil tertawa lepas.

===***===

Ini sudah tiga hari Gweboon tidak bertemu dengan Jinki. Tiga hari ia menghabiskan waktunya di taman belakang sekolah sendirian, ia bahkan tidak berminat berbicara dengan Minho lama – lama, well terlalu banyak lalat yang menghinggapi Minho.

Yes, lalat. Gweboon memanggil sekumpulan gadis gila, fans berat Minho – selain dirinya- yang selalu berada disekitar Minho. Gweboon mengingat seorang gadis bernama Yuri bahkan pernah menyembunyikan tasnya dan ia menghabiskan hari untuk mencari tasnya yang ternyata disembunyikan di gedung olahraga, tepatnya didalam kolam renang.

Mengambang.

Gweboon mendesis mengingat kejadian itu, ingin rasanya ia menarik rambut Yuri hingga akarnya.

Bitch!

Gweboon mendesah kesal, terduduk dibangku kayu dan tiba – tiba mengingat dia. Ya dia yang sedikit mengganggu pikirannya beberapa hari ini.

“Apa si idiot itu sudah sembuh? Apa ia…”

Gumamannya berhenti saat ia merasakan ada sesuatu yang menyentuh pundaknya dan menoleh cepat. Didepannya berdiri dua orang laki – laki. Seseorang dengan rambut hitam legam, tatapannya tajam, hidungnya mancung bangir dan kulitnya sangat pucat. Ia kembali ke mata itu, mata yang berwarna biru!

Apa ia keturunan Inggris?

Gweboon sibuk dengan pikirannya dan terkejut saat laki – laki sebelahnya menepuk tangannya dan menyeringai.

Oh No .. not a friendly face!

Rambutnya blond seperti Jinki, ah tidak ia agak sedikit silver .. atau putih? Entahah Gweboon kurang tertarik, but yeah, he is handsome too, and its not like she will admit it anyway.

“Jadi kau yang bernama Kim Gweboon?” Tanya seorang laki – laki berambut hitam padanya. Ia berjalan memutar bangku kayu dan kini berada tepat didepannya.

“Siapa kalian?”

Damn it. Gweboon baru sadar saat melihat seragam mereka yang sedikit berbeda dengannya, dan ia yakin seragam ini tidak asing baginya, tepat seperti seragam Jinki sebelum ia pindah section.

Special section, what the hell they wanna do with me?

“Jonghyun….”

Gweboon mendengar laki – laki berambut hitam ini memanggil temannya. Oh ‘Jonghyun’. Jadi itu namanya?

Mata Gweboon membelalak saat tiba – tiba Jonghyun memegangnya dari belakang.

“Ige mwoya?!Aku tidak ada urusan dengan kalian!yah lepaskan!”Mata Gweboon membelalak terkejut. Apakah laki – laki di special section semuanya bermasalah dengan sikapnya terhadap wanita?

We will see..Kim Gweeboon..”

Laki – laki yang ternyata bernama Taemin ini, – setelah Gweboon membaca name tagnya- tiba – tiba mendekat dan melayangkan tangannya didepan wajah Gweboon.

What?!

Gweboon reflex menendang Taemin namun ia berhasil mengelak. Gweboon menyikut Jonghyun dibelakangnya, sontak membuat laki – laki berambut silver ini meringis kesakitan.

Gweboon menatap laki – laki didepannya dengan tatapan tak percaya? Laki – laki memukul wanita? Oh wait atau mereka sebenarnya wanita? Ah tidak mungkin, buktinya dada mereka rata , pikirnya.

“Well.. ternyata kau memang kuat hm? Boleh juga…Jinki..” Taemin tersenyum. Bukan senyum tulus dan baik, itu senyum paling menyebalkan bagi Gweboon.

Jinki????? Gweboon tersadar….

Dan satu lagi, jika kau bertemu dengan dua orang laki – laki yang mengaku sebagai teman terbaikku, maka kau harus lari! Jangan dekati mereka?!

Let me introduce myself..aku Lee Taemin, the best of Jinki’s friends ever..” ia menawarkan jabatan tangan pada Gweboon yang membuka mulutnya berbentuk ‘o’.

Jonghyun masih meringis sakit dan bersumpah serapah, entahlah Gweboon tidak ingin mendengarkan apa yang ia katakan. Ia masih berusaha mencerna kalimat yang dikeluarkan Taemin, kemudian menepuk tangannya dikeningnya.

Oke, calm down Gweboon. Setidaknya Gweboon tahu kenapa Jinki bisa memiliki sikap yang buruk. Temannya tidak berbeda jauh.

“Aku Jonghyun…. So kau adalah mainan Jinki yang baru? Hm… aku pikir – pikir, jika dilihat dari jarak dekat, kau tidak jelek ya? Tapi tetap saja Jinki mengalami penurunan selera. Tsk tsk….”

Kecuali bokongnya , bisik Jonghyun pelan.

Mainan?

Ada sedikit suara retakan disana. Apa itu suara retakan hatinya?

Come on Gweboon, don’t be such a drama queen.

Gweboon masih terdiam menatap sosok dua laki –laki didepannya, ia bahkan tidak bisa berteriak atau melakukan apapun.

“Seperti yang aku duga, kau bukan gadis biasa… Kim Gweboon, let’s be friends?!” Taemin menyambar tangan Gweboon dan memaksanya bersalaman dengannya.Ia tersenyum.

Lee taemin tersenyum sangat manis, mata birunya terlihat kontras dengan rambutnya yang berwarna hitam pekat.

Teman?

Apakah Kim Gweboon akhirnya memiliki teman?

Setidaknya Gweboon tahu, dua orang ini bukanlah orang yang jahat.

.

.

.

Gweboon menepuk pipinya berkali – kali. Ia tidak tahu mengapa ia sekarang berada didepan kediaman Lee? Ia berjalan mondar – mandir didepan gerbang besar itu. Menghela napas panjang dan mengepal tangan, menyemangati diri sendiri? Beberapa detik kemudian mengantukkan kepalanya digerbang.

Yosh.. aku bisa. Yeah!

“Gweboon? Apa yang kau lakukan didepan sini?kenapa tidak langsung masuk?”

Gweboon perlahan, seperti gerakan slow motion menoleh kebelakang dan melihat Hyori yang berpeluh keringat, beridiri dibelakangnya.

“Unnie…?”

Gweboon tersenyum kaku. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan, sementara Jinki bilang ia tidak ingin belajar dulu dengannya selama seminggu.

“Kebetulan sekali, aku memang ingin bertemu denganmu, ayo masuklah. Jinki sedang tidur dikamarnya, kau tenang saja”

DEG

Gweboon mengangguk, ia tidak bisa menolak permintaan Hyori, walau sebenarnya ia ingin mengambil langkah seribu saat itu juga. Hyori yang seperti bisa membaca pikirannya, segera menarik lengannya dan memasuki rumah.

Tik tok tik tok.

Gweboon hanya mendengar suara detak jam yang memenuhi isi ruangan besar ini. Ia bermain dengan jemarinya dengan gelisah.

Kenapa Hyori unnie ingin menemuiku? Apa yang ingin ia katakan?

Lamunannya terpecah saat suara derit pintu terbuka.

“Gweboon.. apa kau baik – baik saja? Wajahmu sedikit..pucat?”

Hyori menghampiri Gweboon yang duduk di sofa kamarnya dan duduk disebelahnya. Gweboon menggeleng, “Aku tidak apa – apa…” jawabnya pelan.

“Baiklah, karena aku tidak hobi berbasa – basi, Gweboon apa kau menyukai Jinki?”

Shot shot shot . Seperti ada suara tembakan yang menuju persis ke jantungnya.

“M-mwo?” Gweboon tidak tahu harus bereaksi apa saat ia ditanya seperti itu. Yang ia tahu ia sangat membenci Jinki, yang ia tahu laki – laki yang ia sukai hanyalah pangeran masa kecilnya – hingga sekarang- Choi Minho.

Melihat ekspresi Gweboon, gerakan mata yang tiba – tiba menghindar tatapannya, Hyori sudah tahu jawabannya. Ia kemudian tertawa, Gweboon mendongak tidak mengerti.

Apa yang lucu? pikir Gweboon.

Hyori masih terkekeh dan menggenggam tangan Gweboon yang terasa sangat dingin.

“Gweboon, aku tahu Jinki memang laki – laki yang tidak pintar mengungkapkan perasaannya, ia sangat bodoh, egois dan terkadang tidak peduli dengan orang lain. Tapi percayalah padaku, Jinki bukan seseorang yang mudah membuka hatinya untuk orang lain. Sekarang jawab, apa ia membuatmu kesal?”

Gweboon mengangguk, bahkan terlalu cepat.

“Apa ia tidak memanggil namamu dengan benar?”

Gweboon mengangguk lebih cepat.

Hyori tertawa dan menggeleng. “Aigo… Gweboon,kau boleh tidak percaya dengan Jinki, tapi kau harus percaya padaku, dia tidak 100% laki – laki brengsek.. well mungkin 30%?”

Lalu keduanya tertawa terbahak – bahak.

Malam itu Gweboon tahu mengapa Jinki tidak ingin belajar dengannya. Penyakit Jinki, ia mengalami radang lambung akut.

Gweboon merasa terlempar batu, saat ia tersadar kejadian saat Jinki menyuruhnya mengambil air. Ia sadar saat itu Jinki sedang kambuh dan sudah menyembunyikan pil dimulutnya, oleh karena itu ia tidak membuka mulutnya saat Gweboon datang membawa air.

He is so stupid, desah Gweboon.

Kini Gweboon berada didepan pintu kamar Jinki. Rasanya ia ingin memutar balik tubuhnya dan pulang. Tangannya sudah menyentuh knop pintu, Hyori bilang ia boleh menemuinya dan melihat keadaannya. Mungkin sedikit memberinya pelajaran karena berlagak sok kuat didepan Gweboon?

Great, dan Gweboon akan menghancurkan dinding kesombongan Jinki.

Atau mungkin membuka sedikit jendela yang tertutup rapat didalam hatinya sendiri?

Jinki sedang berbaring dikasur menatap langit – langit. Tubuhnya tidak bereaksi apa – apa saat mendengar suara derit pintu yang terbuka. Ia pikir itu hanya ahjumma yang datang untuk menawarinya obat dan makan. Jika dilihat jam di dinding, ini memang waktunya untuk makan bubur yang tidak ada rasanya sama sekali itu.

Jinki hanya menggumam malas ”Letakkan saja di meja ahjumma…”

“Jinki….”

Apa itu? Suara Gweboon?

SNAP

Jinki langsung terduduk dan menatap Gweboon didepannya yang membawa bubur hangat dan segelas air.

Apa ini nyata? Oh tidak, aku pasti bermimpi.

Namun Jinki tidak bermimpi, karena Gweboon kini berada didepannya.

Jinki pernah mengalami trauma dengan api saat ia berumur 8 tahun . Saat itu ia sedang bermain kemah – kemahan dibelakang rumah dan ia pergi menyalakan kayu bakar. Tak lama kemudian api itu semakin membesar dan ia tidak takut sama sekali.  Ia malah menambah kayu bakar. Setelah semakin membesar, ada temannya datang mengajaknya bermain. Kesalahannya hanya satu, ia lupa memadamkan api itu.

Gweboon mengingat setiap kata yang ia dengar dari Hyori, ia menatap lurus Jinki yang melihatnya bingung. Yang Gweboon lihat didepannya adalah laki – laki yang pucat dan sedikit kurus. Bukan Jinki yang kuat dan mata yang meyeringai, mata didepannya terlihat lebih sendu, dan lelah.

Gweboon duduk dikursi tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Ia mengambil mangkuk bubur tadi dan menyendokinya, mengarahkan ke mulut Jinki.

Jinki terdiam tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Gweboon tiba – tiba datang dan menyuapinya? Tanpa berkata apapun. Namun tangan Gweboon gemetar saat memegang sendok dan hendak menyuapi Jinki.

Jinki pergi hanya 30 menit, dan saat ia kembali rumahnya sudah terbakar hangus, semua menjadi abu. Abu yang bercampur dengan abu… umma dan appanya. Jinki berteriak bahkan berlari ingin memasuki rumah yang saat itu masih ada kobaran api yang kuat. Beruntung polisi menahannya dan menggendongnya. Jinki menangis tak berhenti bahkan hingga kobaran api itu sudah usai, airmatanya masih mengalir dan ia tetap berteriak hingga suaranya habis. Untuk anak sekecilnya ia mungkin tidak mampu menanggung perasaan rasa bersalahnya. Saat itu Jinki menjadi anak yatim piatu. Ia kemudian dibawa ke Panti asuhan di Seoul, hingga akhirnya keluarga kami mengangkatnya sebagai anak.

Gweboon tidak tahu jika Jinki menyimpan luka yang begitu dalam. Gweboon tidak pernah tahu jika kisah menyedihkan seperti ini benar – benar terjadi di kehidupan nyata? Yang ia tahu kisah ini sering terjadi di film – film yang ia tonton. Namun saat Gweboon melihat baik –baik keadaan Jinki saat ini, ia baru sadar, ada sayatan yang masih basah dihati Jinki.

Gweboon mungkin tidak sadar ia perlahan telah merobohkan tembok besar yang Jinki untuk melindungi hatinya dibalik tembok itu. Jinki tidak pernah memperlihatkan isi hatinya didepan orang lain, sampai ia bertemu Gweboon.

Jinki tidak tahu apa yang ia rasakan adalah cinta? Atau rasa suka sesaat karena ia baru kali ini menemui gadis yang berbeda. Gadis pertama yang menendangnya.

Mungkin tendangan itu yang juga membuat kerusakan kecil ditembok besar miliknya.

Jinki tumbuh menjadi anak Lee Corp saat itu. Ia dibawa ke Amerika untuk menjalani pengobatan karena shock yang masih ia alami. Jinki kecil yang lemah, perlahan menjadi anak yang terlihat kuat dan dingin namun rapuh didalam. Ia tidak membiarkan seorangpun menyentuh tembok yang ia bangun. Tembok yang semakin meninggi. Perlahan tembok itu runtuh karena kasih sayang dari  umma , appa dan aku. Hari demi hari, bulan dan tahun, ia menyadari bahwa kami benar – benar menyayanginya. Kami menganggapnya hadiah yang dikirimkan Tuhan. Kau tahu? Jinki adalah anak jenius, saat ia berumur 11 tahun ia bahkan bisa memecahkan soal perguruan tinggi.

“Gweboon? Apa yang kau lakukan disini?” Jinki berujar pelan. Ia berdiri kemudian mengambil mangkuk ditangan Gweboon dan meletakkannya di meja. Jinki kembali duduk, berhadapan dengan Gweboon yang menatapnya dengan… aneh?

 Namun tak lama kemudian Jinki remaja semakin kehilangan kasih sayang umma dan appa. Saat itu appa sibuk dengan perusahaannya dan umma juga jarang menemaninya bermain. Sedangkan aku saat itu tinggal di asrama kampus. Saat ulang tahunnya yang ke – 12 umma dan appa ingin memberi surprise dengan membuat pesta ulah tahun besar – besaran dan berencana mengirimkan kado untuk Jinki di Korea (saat itu appa dan umma sedang berada di Amerika). Jinki menolaknya dan ia berkata “aku tidak membutuhkan ratusan kado dan kue yang besar” disebuah surat yang ia kirim untuk mereka di Amerika saat itu. Hal itu membuat appa tersadar bahwa ia perlahan telah menelantarkan Jinki. Umma menangis membaca kalimat selanjutnya “aku membenci kalian”. Jinki kecil yang malang, namun kalimat itu, adalah kalimat terakhir yang ia ucapkan.

 Umma dan Appa meninggal karena kecelakaan pesawat saat pulang ke Korea. Saat itu, Jinki tidak membuka hatinya untuk siapapun. Ia tidak menerima siapapun yang mendekatinya kecuali aku, kakak perempuannya. Perlahan tembok besar itu meninggi, bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Ini tidak membuatnya menjadi anak yang jahat, hanya saja.. ia tidak membuka pintu ditembok miliknya untuk dimasuki siapapun. Hingga akhirnya kau menggedor pintu itu, Gweboon.

Gweboon mendengar Hyori kembali menceritakan masa lalu Jinki yang begitu memilukan baginya, dua kali kehilangan orang yang sangat berarti bukanlah hal yang mudah bukan? Gweboon tersadar dari lamunannya saat Jinki menggucangkan pundaknya.

“Yah! Apa yang kau lakukan disini baboon?!” Jinki membuat Gweboon tersentak.

“A-aku… yah! Kenapa kau berteriak dasar otak udang! Kau sakit hah? Jadi kau bisa sakit? Aku pikir hanya manusia yang bisa sakit?!” Gweboon mendesis.

Apa kau baik – baik saja? Jinki?

“Sana pulang saja, untuk apa kau disini, dan siapa bilang aku sakit?! Aku sehat dan berhenti memasang wajah seperti itu?!”

Wajah seperti itu? Memang wajahku seperti apa? Pikir Gweboon saat itu.

“Sudah diam dan duduk! Sekarang kau harus makan bubur dan minum obat. Kau berisik sekali sih” desis Gweboon berdiri lalu mengambil mangkuk bubur itu. Ia berangsur menyodorkan sendok didepan mulut Jinki.

Jinki yang tidak mengerti mulai sadar saat ia melirik dipintu kamarnya, Hyori melihatnya dan memberikan kepalan tangan, bibirnya berkata “fighting”.

Shit.

Jadi ini yang ia maksud hadiah?

Jinki akhirnya menurut dan membuka mulutnya. Ia memakan bubur itu hingga abis, matanya tak pernah meninggalkan Gweboon didepannya. Rasanya ia ingin memborbardir gadis didepannya dengan pertanyaan yang memenuhi kepalanya, namun Gweboon tidak memberinya kesempatan untuk bicara sedikitpun.

Jinki meminum obat yang Gweboon sodorkan, lalu ia menghela napas.

Aku harus bicara.

“Istirahatlah.. meski kau dan rambut emasmu sangat menyebalkan, aku harap kau lekas sembuh. Jaljayo.”

Gweboon mengambil langkah seribu. Jinki terkejut dengan tingkah Gweboon yang langsung pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun padanya. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Gweboon. Ia mengejar Gweboon dan berhasil menarik kembali Gweboon kedalam kamarnya.

“Uh..”

Gweboon merasa punggungnya terlalu kuat menabrak dinding dibelakangnya. Ia mendongak dan melihat Jinki didepannya yang sudah memenjarakan tubuhnya dengan sempurna. Kedua tangan Jinki disamping bahu Gweboon menempel dinding, membuat Gweboon tidak bisa berlari kemanapun.

“Kau tidak bisa pergi begitu saja Kim Gweboon…”

Kali ini Jinki tidak memanggilnya ‘baboon’. Bahkan sorot matanya berbeda dari biasanya, Gweboon merasa aliran darah memuncak keatas kepalanya, kakinya melemas dan tubuhnya terasa lebih panas hanya karena tatapan Jinki.

“Lalu apa yang kau inginkan?” Gweboon berujar dengan sekuat tenaga, tidak membiarkan Jinki mendengar suaranya yang bergetar, namun sayang itu gagal.

“Kau harus menjawab pertanyaanku..kenapa kau datang kesini..?” nafas Jinki terasa hangat. Gweboon merasakan saat Jinki semakin mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir bersentuhan dengan miliknya.

“Aku hanya bertemu dengan Hyori unnie untuk membicarakan beberapa hal..”

“Beberapa hal…?” Jinki menaikkan alis kanannya tidak mengerti. Jelas ada yang tidak beres dengan ini. Jelas – jelas Gweboon sejak tadi menahan airmatanya mengalir. Jinki bukan laki –laki bodoh untuk tidak menyadarinya. Hanya saja kenapa?

Gweboon tidak menjawab pertanyaannya, yang Jinki tahu sekarang Gweboon memeluknya. Ia mendengar Gweboon berkata “maaf..maafkan aku..”

Jinki tidak tahu, ia tidak mengerti bagaimana menjawabnya. Tangannya terjatuh disisi tubuhnya, tidak membalas pelukan Gweboon.

“Jinki… terima kasih telah menyelamatkanku..dan…maaf…”

Maaf?

Apakah maksudnya maaf karena ia tidak bisa menerima perasaan Jinki? Apakah ia ditolak mentah – mentah?

Gweboon memeluknya namun kenapa ia masih merasa dingin? Jinki melingkarkan tangannya dipinggang Gweboon, erat. Sangat erat, namun masih terasa dingin.

Sesuatu didalam sana… terasa dingin. Membeku.

Gweboon melepas pelukannya, menangkup wajah Jinki dihadapannya. Jinki terlihat bingung, sorot matanya kosong, bibirnya kering. Ia mengelus pipi Jinki, tangan Jinki masih dipinggang Gweboon.

Gweboon menghapus jarak antara kedua bibir itu, membasahi bibir kering Jinki.

Apa ini ?

Jinki belum sempat bereaksi dan Gweboon sudah melepaskannya.

No.. you cant do this Kim Gweboon.

Jinki kembali menarik pinggang Gweboon dan lehernya, menciumnya. Gweboon membiarkan Jinki menciumnya, suara hembusan nafas mereka terdengar jelas. Jinki semakin dalam menyesap bibir Gweboon, tangan kanannya semakin kencang mengerat pinggang Gweboon. Gadis ini melenguh saat Jinki menggigit bibirnya dan memaksa lidahnya masuk.

Gweboon tidak tahu kenapa tubuhnya tidak menolaknya, yang ia tahu ia mengikuti gerakan bibir Jinki. Saling menyesap, mengigit bibir masing – masing.

Setelah beberapa menit, Jinki melepaskan ciumannya. Tanganya kini berpindah, menangkup kedua pipi Gweboon yang sudah dialiri air mata. Ia mengusapnya, mencium mata kucing indah itu.

“Jangan menangis… maaf…maafkan aku…” karena aku rasa aku tidak bisa melepasmu.

Gweboon menangis tersedu – sedu dipelukan Jinki. Ia tidak bisa berkata apa – apa saat ini. Apakah perasaanya pada Jinki? Apa ia hanya kasihan? Gweboon belum memahami perasaannya sendiri, ia hanya membiarkan Jinki melakukan apa saja padanya.

Tanpa ia sadari….. rasa itu sebenarnya perlahan menggerogoti hatinya.

Sesuatu yang tidak pernah seorang Kim Gweboon rasakan.

Rasa takut…… takut yang luar biasa.

Karena…. karena mungkin saja ia sudah jatuh cinta pada lelaki didepannya ini.

===***===

Gweboon berangkat ke sekolah dan hampir telat kalau saja ia tidak berhasil merayu penjaga gerbang didepan. Sampai didepan kelasnya, ia heran kenapa sangat ramai? Apa Jinki sudah masuk? Tiba – tiba saja kakinya berjalan lebih cepat. Ia mengeratkan tas ranselnya.

Namun saat ia berhasil masuk, disana ia tidak melihat rambut emas terang yang biasanya membuatnya langsung mengenali Jinki.

Ia semakin terkejut karena disana, persis disamping bangkunya, dan didepannya ada dua laki – laki itu.

Lee Taemin?? Kim Jonghyun…?

Apa ia salah masuk gedung?Gweboon berbalik memandang siswa – siswi dibelakangnya. Ah tidak, ia mengenal betul wajah teman sekelasnya, not really her friends to be honest.

Taemin menoleh dan melambaikan tangannya.

“Good morning Gweboon…”

Sontak suara dibelakangnya histeris, kali ini bukan hanya teriakan gadis, juga ada teriakan laki – laki.

What the…hell?

Gweboon memberanikan diri maju dan maju kearah bangkunya yang diduduki seseorang berambut coklat..agak abu – abu? Entahlah warna rambutnya membuat Gweboon pusing. Mungkin ini adalah Kwanghee yang biasa menempati tempat duduknya semenjak kemarin? Ia mengetuk mejanya beberapa kali, namun sosok itu masih tertidur, menelusupkan wajahnya disela kedua lengannya.

Tak lama kemudia murid berangsur duduk dan berlari, “Jung songsaenim sudah datang!”

Gweboon dengan sangat jelas mendengar suara Kwanghee, ia menoleh kebelakang dan melihat Jung songsaenim yang akan masuk. Gweboon membuka mulutnya lalu kembali menoleh.

Laki – laki itu sudah mengangkat kepalanya dan …

“Kau?!!!!” gweboon terperanjat.

“Gweboon! Duduk.. “ ia mendengar Jung songsaenin menegurnya.

“ne..” Gweboon terpaksa duduk dibelakang, bangku yang seharusnya ditempati Jinki.

“Ah Lee Jinki ssi.. kau sudah masuk? Syukurlah… nah anak – anak ayo buka buku kalian halaman 23”

“Neee~!”

.

.

.

Jinki mengubah warna rambutnya, well… Gweboon tidak akan pernah mengakui ini..tapi ia terlihat jauh lebih tampan.

Jika biasanya, waktunya makan siang cukup terganggu dengan Jinki, kini ia sangat terganggu. Ya sekarang ia harus makan siang bersama Jinki, Taemin dan Jonghyun.

“Apa yang kalian lakukan disini?” Tanya Gweboon pada kedua laki –laki yang duduk didepannya.

“Makan siang..?” Jonghyun menjawab dengan mulut yang penuh makanan.

“Yucks.. kau jorok sekali hyung!”

Hyung?

Oke Gweboon tidak tahu jika Taemin dua tahun lebih muda dari Jonghyun, dan ia mengikuti kelas percepatan saat masih SMP.

“Bukan itu..maksudku kenapa kalian berada di regular section..?” Tanya Gweboon kesal. Ditambah tatapan mematikan dari berbagai sudut di kantin.

Damn it. Why my life just getting difficult.

“Oh… do you have any problem with it? Princess?” jawab Taemin dingin, menopang dagunya. Ia tak sadar justru gadis dibelakang Gweboon lah yang berteriak dan bahkan beberapa sudah mengeluarkan ponselnya untuk mengambil foto.

“Don’t you dare touch her again… stop messing up with her…Lee Taemin..” desis Jinki, ia bahkan tidak menatap Taemin, ia dengan santai memakan makan siangnya. Namun mereka tahu, suara Jinki sangat dingin saat itu.

“Well…. Okay..”

Gweboon merasa hidupnya semakin berat. Jinki saja sudah membuatnya pusing, ditambah Taemin dan Jonghyun yang TERNYATA idola sekolah.

Apa semua siswa regular section itu digilai wanita? Oh how idiot they are!

Gweboon sudah tidak berselera, ia pergi meninggalkan meja. Tak lama Jinki mengikutinya, Gweboon tidak tahu Jinki mengikutinya dibelakang.

“Minho!”

“Gweboon~~ah.. kau sudah benar – benar sehat uhm?” Minho mengacak rambut Gweboon gemas.

Jinki mendesis kesal.

Don’t touch her you stupid frog.

Gweboon menghampiri duduk disamping Minho. Mereka berbincang dan tertawa karena lelucon yang Minho ucapkan.

Gweboon tersenyum.

Senyum cantik yang tidak pernah ia berikan pada Jinki. Oh! Lihat saja bahkan ia berubah menjadi Kim Gweboon yang manis didepan Minho! Entah apa bagusnya Choi Minho dibandingkan dirinya. Oke badanya atletis, dan tinggi besar. Oh dan dia kapten basket. Plus dia baru – baru ini semakin terkenal karena debutnya sebagai model majalah.

Jinki mengacak rambutnya frustasi.

Ia memutuskan menghampiri Gweboon dan menariknya.

“Yah! Apa yang kau lakukan..!”

Minho terkejut, baru kali ini ia mendengar Gweboonnya yang lembut berteriak.

Aish, apa yang mau ia lakukan! Ia merusak pencitraan yang sudah kubangun semenjak kecil!

Gweboon bersumpah, jika saja disana tidak ada Minho, ia pasti sudah menendang Jinki.

Minho sempat berteriak “Lee Jinki?! Mau kau bawa kemana dia?” dan ia menahan tangan Gweboon.

Gweboon berada diantara Jinki dan Minho.

Apa yang harus ia lakukan??

Minho adalah pangeran kuda putihnya.

Jinki adalah….? Jinki adalah seseorang yang belum ia pahami.

Ia kemudian mengingat kata – kata Jonghyun ‘jadi kau mainan yang baru’.

Tangannya sakit karena Minho dan Jinki menarik kedua tangannya ke sisi berlawanan.

“Lepaskan dia kau idiot!” Jinki berteriak.

“Apa?kau yang tiba – tiba ingin membawanya! Seharusnya kau sadar kau telah membuatnya stress karena berada disekitarmu! Lihat bahkan dia tidak punya teman wanita karena kau selalu menempelinya!”

“Ha! Lalu bagaimana dengan fansmu yang membuat Gweboon dibully?Ia bahkan sudah disiram air berkali – kali gara – gara tingkah fans gilamu?!”

Gweboon merasa pusing dan sangat…..sangat kesal.

Calm down Gweboon. Calm… jangan biarkan emosimu meluap didepan Minho.

Akhirnya Minho melepaskan tangannya dari Gweboon. Jinki langsung menarik Gweboon pergi.

.

.

.

“Apa  – apaan kau ini?!”

“kau! Kim Gweboon! Harus menjauh darinya!”

Gweboon membelalakkan matanya tidak percaya. Minho? Pangerannya?

“Memang kau ini siapa seenaknya mengaturku?!”

“Ak-aku.. ah pokoknya kau harus menurut padaku! Karena aku yakin dia laki – laki yang tidak baik! Instingku mengatakanya sebagai sesama laki –laki?!”

“Oh? Benarkah? Untuk ukuran laki – laki mesum yang merebut ciuman pertamaku dan –“

Ucapan Gweboon terhenti, ia tidak sadar ucapannya terlalu jauh. Pipinya terdapat semburat merah, karena mengingat bagaimana Jinki merebut ciuman pertamanya. Oh bisakah ia mengulang waktu?

Ciuman pertama?

Jadi itu ciuman pertamanya?

Jinki tersenyum jahil, memojokkan Gweboon ke tembok.

“Y-yah..apa yang kau lakukan…jangan…”

Ucapannya tertelan karena Jinki sudah mengunci bibir Gweboon…dengan bibirnya.

TBC

   ??????????????????????

Hahahahaha OTL

Oke maap gaje yak /\ maaf banget lama bener deh! Susah banget ngumpulin moodnya! Huhu dan kemarin minggu pertama sakit, minggu kedua korban banjir, minggu ketiga keempat kumat malesnya HAHAHAHA oke makasih banget yang udah nungguin, ampe nagihin di fb di twit dimana mana OTL

Maaf kalo ada typo ya ^_^ leave comment and like juseyo~ ga komen ga bisa baca part ending pokoknya! Bye! Sampai jumpa di next chapter!

Ps: yang minta sequel my cup of tea.. ntar kalo komen ff itu nembus 100 ya! Ahahahaha 

1005718_547153695332370_795591303_n

151 thoughts on “{JinBoon} Snow Flower / Chapter 3

  1. Au’ ahh! Gk ngrti mo komen ap…
    Slma baca cuma cekikikan doang ama snyum2 gakjel…

    Suka ma hub Jinki ma nonna.ny…
    Suka ma kisseu Jinki ma Gweboonny..
    Suka ma cra Taem ma Jjong temenan(?) ma Gwe..

    Bner2 Almighty dy!! Bru aj bbrp buln dh bikin heboh! Haha…

    Tp q gk suka ma tulisan ni :
    Genre : fluff, comedy, school
    life, SAD ROMANCE (?)
    Jd kecium bau2 gk sedap ah!

    (Suer! Niatny mo komen dikit..)

  2. Kasianbanget yaa jinki masalalunya kaya gitu.
    Gweboon ah~ pilih jinki aja yaaa minho biar sama taemin aja.. Bikin kisah percintaan mereka sendiri. Pasangan yaoi #plakk #fujoshishipper

    Eeehhh btw foto yg terakhir ini beneran gak sihh??? No edit kahh? Uuugghh.. Kalo bener guling2 dehh aku *wink

  3. Wahahahaha udah lah gwe jangan kelamaan, ntar keburu kabur tuh jinki, minho? Lupakan saja *duar
    Udah tau jdi org yg spesial buat jinki, ngga usah kelamaan mikir gwe
    Ck kalian udah terlalu jauh, sampe udah cium2an segala, mana bisa ngga ada hubungan apa2

  4. omg omg omg aky makin tergila-gila, aku yakin gweboon juga sbenarnya makin suka ama jinki tapi knp dia belum mau mengakuinya aiisshh
    tapi ga nyangka ternyata jinki punya kisah hidup sesakit itu, tadi aku nangis bacanya *ga ada yg nanya*
    sakir lambung jinki ga akan bikin dia mati kan? *plaakk
    pokoknya jangan sampai sad ending, jinki hrus sna gweboon *maksa hihi

  5. Ah…masa lalu Jinki ternyata menyesakkan,kehilangan orang tua karna kebakaran,dan dgn umur yg masih kecil,pantas jika Jinki mengalami shock hebat,untung keluarga Hyorin baik dan mengadopsi Jinki,dan juga mengganggap Jinki seperti anak sendiri. Dan dia juga mesti kehilangan orang tua untuk yg kedua kalinya,krna kecelakaan pesawat,wuah!!! pantes Jinki membatsi dengan tembok besar pd orang2.ternyata masa lalunya terlalu pahit ㅠ_ㅠ

    Aku suka sama sikapnya Hyori,haha

  6. Nice nice nice, bacanya jadi maraton bnget gara gara ketagihan 😂😂
    emmm bentar butuh menenangkan diri dulu buat mikir 😷
    jadi sebenernya jinki itu anak angkat tapi orang tuanya udah pada meninggal 😭😭
    duuh blm jelas ini sbenernya gweboon cinta benerannya cuma sama minho apa mulai suka sama jinki
    tapi tenanglaah mau gmana juga prasaan gweboon yakin aja ntar pasti ujung unjungnya sama jinki 😂😂 sayang disini taemin cowok jadi bisa sdikit diramalkan minho bakal berakhir jones wahahhhaa 🙇

♔ Be our lovely Suunders, so leave ur comment in here :). Thank you! ♔

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s